19th
Chapter 15
By Yuya Matsumoto
"Mystery"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
Duuuk! Duuuk! Duuuk! Namja berkulit putih pucat itu menggedor pintu dengan membabi buta. Keringat membanjiri pelipisnya. Sepanjang perjalanannya tadi, namja ini terus saja nampak gusar. Berkali-kali ia memohon kepada supir taksi untuk mempercepat jalannya. Rasa panik dan cemas bersatu baur dalam pikirannya, bahkan ia rela menaiki tangga dari lantai dasar ke lantai lima hotel ini. Ia sudah tidak sabar menunggu lift. Wajar sekali jika napasnya tersengal-sengal di depan kamar 1012 itu.
Cklek! Pintu kamar terbuka. Seorang namja kekar menyambut namja itu. Kyuhyun—namja berkulit pucat—menggeser tubuh Siwon—namja kekar—dari jalannya. Ia menerobos masuk ke dalam kamar, mencari ke sekelilingnya. "Minnie? Minnie? Kamu dimana?", teriak Kyuhyun berkeliling sudut kamar itu.
Siwon memandang bingung ke arah Kyuhyun. "Kyu, what's happen?".
Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Siwon. Ia mencengkram bahu Siwon, melemparkan pandangan menuntut. "Dimana Lee Sungmin?", tanya Kyuhyun seperti seorang penjahat yang sedang mencari korbannya.
Siwon megernyitkan dahinya. "Dia pergi bersama Kibum. Sebentar lagi pasti pulang.", jawab Siwon pelan, merasa sedikit terancam dengan pandangan evil dari Kyuhyun.
Kyuhyun melepas cengkramannya. Ia mengambil beberapa barang milik mereka, lalu meletakkannya ke dalam tas Sungmin dan Siwon. "Kita harus cepat-cepat pergi dari hotel ini. Orang itu sudah menemukan Sungmin di sini.", jelas Kyuhyun, menjawab pertanyaan yang membayangi otak Siwon.
Cklek! Pintu depan kamar terbuka, membuat kedua namja itu mematung di tempatnya. "Kyuhyuuuun!", jerit Kibum riang. Yeoja itu segera menghampiri Kyuhyun yang masih asyik merapikan barang-barang mereka. Sungmin terpaku, meyakini dirinya bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Kyu?", lirihnya.
Kyuhyun menghiraukan panggilan Kibum. Ia menghampiri Sungmin yang masih terdiam. "Kita harus cepat pergi dari sini. Mereka menemukanmu, Minnie.", ucap Kyuhyun sambil mengelus pipi Sungmin. Belum satu hari namja itu sudah sangat merindukan gadisnya. Sungmin hanya bisa memejamkan mata, menikmati setiap belaian sayang dari Kyuhyun.
Ting! Tong! Bel kamar berbunyi, menghentikan nuansa romantis yang terkuar di dalam ruangan itu. Empat orang namja berpakaian casual menyambangi kamar itu, menuntut penghuni kamar untuk segera membukakan pintu. Ting! Tong! Bel kembali dibunyikan, lebih ganas dari sebelumnya. Cklek! Pintu pun dibuka, menampilkan sosok Kibum di depannya.
Bruuuk! Salah satu namja itu menyingkirkan Kibum dari depan pintu. Mereka masuk ke dalam kamar tanpa izin sang penghuni kamar. "Hei! Apa mau kalian?", teriak Kibum tak terima dengan penggeledahan ini.
"Diam kau! Kami mencari Lee Sungmin. Dimana dia? Cepat katakan!", tanya salah seorang namja sambil meraup wajah Kibum dengan satu tangannya.
"A-aku ti-tidak ta-tahu, tuan!", jawab Kibum terbata-bata karena merasa sakit pada lehernya.
"Kalian siapa? Kenapa bisa ada di kamar kami?", tanya Siwon yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia mengusap rambutnya beberapa kali dengan handuk. Tubuh atasnya terekspos, menunjukkan otot perutnya yang sempurna. "Lepaskan istriku atau kalian akan kulaporkan pada pihak berwenang.", ancam Siwon, menarik lengan namja yang mencekik Kibum.
Tiga namja lainnya sibuk mengobrak-abrik isi kamar itu. Balkon kamar, kosong. Kolong tempat tidur, kosong. Lemari pakaian, kosong. Kamar mandi, kosong. Tak ada tanda-tanda mencurigakan di kamar ini. Lee Sungmin tidak ditemukan.
"Tidak ada dimana pun.", bisik seorang namja kepada namja itu.
Namja itu mengangguk. "Maaf sepertinya kami salah kamar. Sekali lagi maaf mengganggu. Silakan lanjutkan urusan kalian.", kata namja itu berpamitan. Keempat orang itu keluar dari kamar, meninggalkan Siwon dan Kibum yang bernapas lega.
"Are you okay?", tanya Siwon cemas. Ia menghampiri Kibum yang sedang memegang lehernya dengan wajah kesakitan.
"Ya, I'm fine. Thanks.", jawab Kibum singkat, lalu ia membuka cermin besar yang ada di sisi dinding kamar itu.
SREEEET! Dua sosok saling berpelukan di dalam gelapnya ruangan itu, terpampang jelas di hadapan Kibum. Ia tersenyum miris. Kyuhyun tersenyum ke arah Kibum, lalu mengelus lembut rambut Sungmin. Yeoja itu masih memeluknya dengan erat. Tubuhnya bergetar, menunjukkan rasa takutnya.
"Minnie, mereka sudah pergi.", kata Kyuhyun lembut di telinga Sungmin.
Sungmin medongakkan kepalanya pelan, memandang wajah Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa centi dengannya. Sungmin terdiam, menyelami obisidian cokelat itu. Greeeep! Sungmin memeluk lagi tubuh tinggi di hadapannya itu. Tangisannya pecah. "Hiks... Aku takut, Kyu! Aku... Hiks... Aku takut.".
Kyuhyun membalas pelukan yeoja manis itu, menyesap aroma tubuhnya. "Uljima, Minnie-ah. Tenang. Ada aku di sini.", kata Kyuhyun menenangkan.
Sungmin menggelengkan kepalanya berkali-kali, tidak terima dengan ucapan Kyuhyun. "Kamu bohong. Kamu pasti akan pergi meninggalkanku kan, Kyu? Aku pasti akan sendiri lagi. Shirreo. Aku takut.", gumamnya pelan, namun masih bisa didengar oleh ketiga orang di dalam kamar itu.
Kyuhyun mengerti sekali dengan perasaan Sungmin. Yeoja ini telah hidup dalam trauma berkepanjangan, minim kasih sayang orang di sekitarnya. Apalagi sekarang ia menjadi buronan para rentenir. Kyuhyun mengerti kenapa yeoja ini sangat bergantung kepadanya dan Siwon. Hal ini juga yang membuatnya berat meninggalkan yeoja manis ini.
Perlahan Kyuhyun menarik keluar tubuhnya dan Sungmin dari dalam lemari pakaian itu. Beruntung kamar mereka memiliki lemari pakaian tersembunyi. Jika tidak teliti, maka lemari ini hanya terlihat seperti sebuah kaca besar di dinding. Kibum masih sempat menyamarkan gagang pintu lemari dengan menggantung sweater di sana sehingga orang-orang itu tidak curiga.
Kyuhyun duduk di atas ranjang, masih dipeluk oleh Sungmin. Siwon sudah memakai pakaiannya. Sandiwaranya begitu natural, seakan mereka suami-istri yang baru saja memesan kamar di sana. Kibum menepuk bahu Sungmin, mencoba ikut menenangkan yeoja itu.
"Min, ada kami semua bersamamu. Jangan cemas. Hentikan tangisanmu. Cepat pergi dari sini, sebelum mereka menyadari sandiwara kita.", kata Kibum rasional.
Sungmin melepas pelukannya, menelan tangisannya. Ia menghapus jejak airmatanya, berusaha bersikap tegar. "Ne. Ayo kita cepat pergi.", balas Sungmin, mengambil tas ransel miliknya.
.
(#.#)...::YuyaLoveSungmin::...(O.o)
.
Keempat remaja itu telah sampai di apartment Kibum. Mereka memutuskan untuk menginap di sana, sebelum melanjutkan perjalanan. Kibum sempat mencemaskan luka Siwon yang belum sembuh benar. Sepertinya yeoja itu cukup memperhatikan kondisi Siwon, karena ia sadar Siwon menahan perih beberapa luka di tubuhnya.
"Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa sepertinya hidup kalian sesulit ini?", tanya Kibum bingung. Ia meletakkan teh hijau untuk ketiganya.
"Hahaha… Kami hanya remaja biasa kok. Hanya sedang asyik menjelajahi Eropa.", jawab Siwon jujur. Ia tidak merasa ada yang istimewa atau aneh diantara mereka bertiga.
"Lalu, kenapa Sungmin dikejar-kejar seperti itu? Apa kesalahannya?", tanya Kibum penasaran.
Cklek! Kyuhyun melangkah ke ruang tamu itu. Ia meletakkan telunjuk pada bibirnya. "Minnie baru saja tidur. Soal pertanyaanmu biar aku saja yang menjawabnya.", kata Kyuhyun, sambil mencari posisi enak di sofa itu.
"Appa Sungmin meninggalkan banyak hutang kepadanya dan ibunya. Appa-nya kabur, meninggalkan traumatis pada ibu Sungmin. Yeoja itu harus membiayai hidupnya, rumah sakit dan melunasi hutang appa-nya. Salah satu rentenir itu pernah menculik Sungmin ke Eropa. Sekarang ia menjadi buronan mereka.", cerita Kyuhyun menyimpulkan.
Kibum mengangguk-angguk, menyesap teh hijau miliknya. "Kenapa appa Sungmin bisa sejahat itu kepadanya? Seharusnya seorang appa itu menjaga anaknya, bukan seperti itu."
Kyuhyun menyeringai. "Karena dia bukan appa kandung Sungmin. Itu pun menurut analisaku.".
"MWOOOO?", teriak Kibum dan Siwon bersamaan, hampir membuat Kyuhyun tersedak.
"YA! Jangan berteriak! Sungmin sedang tidur.", kata Kyuhyun dengan nada tinggi. Ia tidak ingin yeoja itu terbangun lagi. Kyuhyun tidak tahu alasan apa lagi yang bisa ia berikan untuk membuat yeoja itu tidur nanti.
.
.
#Seoul, South Korea#
[Yunho's POV]
.
.
'Lee Sungmin, kau membuatku pusing. Aku juga tak mengerti dengan perasaanku ini. Dekat denganmu beberapa hari lalu, membuatku sedikit mengenal kepribadianmu. Haruskah aku menyakitimu?'.
Aku merebahkan tubuhku di atas kursi kerjaku yang empuk. Sejam yang lalu pesawatku baru saja mendarat di Korea. Lelah sekali rasanya. Aku memijat pangkal hidungku, merelaksasikan mataku yang lelah. Kenapa terasa sulit sekali bagiku untuk menangkap yeoja itu? Seandainya bukan rapat mendadak, aku pasti sudah bisa mendapatkannya.
Aku melirik pigura foto yang ada di atas meja kantorku itu. Aku mengelus wajah yeoja manis yang terpampang di sana. Ah, Minnie! Aku benar-benar merindukanmu. Pandanganku teralihkan kepada sosok namja yang berdiri di sampingku. Hmmm… Apa yang sedang ia lakukan saat ini ya?
Aku mengambil ponselku, mengetikkan sebuah nomor yang sudah kuhapal di luar kepala ini. Butuh waktu lama, menunggu orang di seberang sana menjawab teleponku.
KLIK! "Yoboseyo.", jawab seorang namja yang suaranya sudah sangat lama tak pernah aku dengar itu. Suara berisik menjadi backsound perbincangan ini. Ia meminta orang-orang di sekitarnya untuk menghentikan kegiatan mereka dengan bahasa asing.
"Yoboseyo, tuan muda.", sindirku kepada namdongsaeng-ku itu.
"YA! Tumben sekali kamu meneleponku, hyung. Sudah ingat punya adik ya?", sindirnya balik dengan suara datarnya. Ah, dia memang selalu bersikap dingin kepadaku.
Aku sedikit tercekat mendengar kata-katanya. Ia benar. Aku memang tidak pernah mempedulikannya selama ini. "Ne, bogoshippo, saeng.", jawabku singkat.
"Kau sakit ya, hyung? Atau sudah gila?".
Aku tertawa miris. Sejak kepergian mereka, hubunganku dan Little Jung ini tidak sehangat dahulu. Aku terkesan melupakannya, begitu pun dia. Keluarga kami menjadi sedingin kutub selatan. Sedih juga menyadari kenyataan ini.
"Sedang apa? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sehat kan? Sibuk apa?", tanyaku bertubi-tubi. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa serindu ini kepadanya.
"Sejak kapan kamu cerewet seperti eomma?".
"Eomma.", ucapku lirih. Kelopak mataku memanas. Dadaku terasa nyeri mendengar sebutan itu. Sebuah kata yang sudah bertahun-tahun tak pernah terucap dari bibir kami.
"Eh, mianhae, hyung!", katanya gusar. "Aku tidak sengaja, hyung. Mianhae. Tolong, jangan terlarut dengan kesedihanmu lagi. Minnie tidak akan suka melihat hyung seperti ini. Ah, sudah ya. Aku ada urusan. Annyeong!", kata namja di seberang telepon terburu-buru.
KLIK! Aku menutup sambungan telepon dari namdongsaeng-ku. Mataku menatap sebuah bingkai foto. Aku, dia, Minnie, Eomma dan Appa sedang tersenyum riang di dalam foto itu. Foto masa kecil kami. Aku sungguh merindukan momen-momen yang tak akan pernah kembali lagi. Aku menyesal telah menyia-nyiakan kebersamaan kami.
Tanganku mengepal. "Sungmin, aku akan segera menemukanmu. Aku sudah lelah mencarimu untuk menghapus rasa kehilanganku terhadap Minnie. Setidaknya 'ia' harus merasakan rasa sakit yang sampai kini masih bernanah di hatiku.", kataku sebelum melangkah ke ruang rapat.
.
.
[Yunho's POV END]
.
.
Saat ini Sungmin dan Kibum berkutat di dalam dapur apartment Kibum, membuat makan siang untuk ke empatnya. Seharian ini mereka sibuk bermain di dalam apartment yang bisa dikatakan cukup luas itu. Kibum melarang ketiganya untuk melarikan diri lagi, karena kemungkinan besar penjahat itu menunggu mereka di stasiun kereta ataupun tempat umum lainnya. Dimana para namja? Mereka sedang asyik bermain PS3 di sudut ruang santai.
"Ya! Kibummie gantikan aku bermain dengan Siwon sebentar!", pinta Kyuhyun dengan nada memerintahnya yang khas.
"Mwo? Aku sedang memasak, Kyu!", jawab Kibum masih asyik membersihkan potongan daging sapi di tangannya.
Sungmin menyentuh bahu Kibum, memberikan senyuman termanisnya. "Sudahlah, Bummie. Ikuti saja perkataan Kyuhyun. Mungkin ia sedang sibuk sekarang.", rayu Sungmin, tak ingin ada perdebatan siang ini. Yeoja manis ini terlalu lelah menanggapi semua perdebatan yang ada beberapa waktu lalu.
Kibum menghela napas. "Baiklah. Mohon bantuanmu, ya Minnie.", kata Kibum sebelum meninggalkan Sungmin untuk mempersiapkan makan siang mereka yang baru terealisasikan sekitar 30 % itu.
Kibum menghampiri Siwon yang sedang menguap, menunggu rival selanjutnya. Sebenarnya namja itu sudah lelah dikalahkan oleh Kyuhyun. Saat tahu Kibum yang menggantikan Kyuhyun, hatinya bersemi senang. Selain karena Kibum selalu berhasil membuat jantungnya tak karuan, ia juga memiliki harapan untuk mengalahkan rivalnya kali ini.
Keadaan apartment itu begitu tenang, layaknya apartment pada umumnya. Siwon dan Kibum asyik berteriak-teriak, menyoraki permainan mereka. Sungmin bersenandung riang sambil menyulap semua bahan makanan di hadapannya. Sedangkan Kyuhyun berbincang seru dengan seseorang di seberang sambungan ponselnya.
Berbincang? Di ponsel? Bukankah Cho Kyuhyun sudah memutuskan untuk mematikan sambungan teleponnya?
"Ne, eomma. Anggap saja ini liburan Kyu, ya. Eomma jangan cemas. Kyuhyun pasti jadi anak baik kok. SARANGHAE EOMMA!", jerit namja bermarga Cho itu sebelum menutup sambungan teleponnya.
"Eomma?", lirih Sungmin pelan, mendengar teriakan Kyuhyun dari dalam kamar yang menelusuk pendengarannya. SREEET! "OUCH!".
Kali ini giliran Sungmin yang menjerit keras, membuat tiga orang yang baru saja berkumpul di ruang santai itu bergegas menghampirinya. Mata ketiganya terbelalak sempurna saat melihat darah menetes ke atas lantai. Sungmin meringis, menekan jari tengahnya yang teriris cukup dalam.
"Sungmin, gwenchana?", tanya Kibum dan Siwon berbarengan. Sungmin hanya mengangguk pelan seraya menahan perih pada ujung jarinya.
"Ommo! Lukamu parah sekali.", ujar Kibum saat melihat ujung jari Sungmin teriris hampir putus, membuat darah mengalir sangat deras.
SREEEET! Tangan Sungmin ditarik sampai yeoja manis itu tertatih mengikuti orang yang menariknya. Mereka berada di dalam kamar sekarang. Sungmin terduduk di pinggir ranjang. Kyuhyun sibuk merapikan peralatan P3K miliknya di samping Sungmin.
Suasana hening tak ada yang bicara. Sungmin sedikit risih dengan suasana seperti ini. "Mianhae, Kyu.", ucap Sungmin merasa bersalah karena ia tahu jika Kyuhyun terdiam seperti ini tanda bahwa namja ini marah.
"Hmm…", gumam Kyuhyun pelan. Kyuhyun dengan cekatan membersihkan luka Sungmin. Ia menyiramkan luka Sungmin dengan cairan Herbal Aloe Concentrate.
"KYAAAAA~ PERIIIIIH, KYU!", jerit Sungmin saat cairan itu mengenai lukanya.
Bukannya berhenti, Kyuhyun semakin banyak menyiram luka Sungmin dengan cairan itu. "Memang sangat perih, tapi ini akan cepat menutup lukamu. Betadhine tidak akan menutup lukamu secepat cairan ini. Sabarlah.", ucap Kyuhyun dingin.
Sungmin mengalihkan pandangan matanya dari mata Kyuhyun yang seakan ingin membunuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang membakar ujung jarinya. Kyuhyun membasahi kassa steril dengan cairan aloe, lalu menutup luka Sungmin. Ia merapikan peralatannya kembali.
"Ada masalah apa, Min? Kenapa kamu melamun? Itu sangat berbahaya, tahu!", kata Kyuhyun dengan nada suara dingin. Namja ini berusaha mati-matian menahan amarahnya kepada Sungmin. Sebenarnya ia kesal pada dirinya sendiri, ia tahu Sungmin pasti memikirkan eomma-nya. Kyuhyun menyalahkan dirinya sendiri.
"A-aku hanya merindukan eomma.", jawab Sungmin pelan, tetap memegang pergelangan tangannya. Yeoja ini bersugesti dengan memegang pergelangan tangannya, rasa sakit itu akan berkurang.
Kyuhyun mengacak rambut Sungmin. "Kamu mau bicara dengan eomma-mu? Bukannya kamu bisa menelepon ke Rumah Sakit untuk menanyakan kabarnya?", usul Kyuhyun, membuat Sungmin berbinar-binar.
"Jinjja? Eum… Aku mau!", jawab Sungmin antusias.
"Biarkan mereka berdua, Bummie.", ajak Siwon sambil menarik tubuh Kibum dari depan kamarnya. Namja itu hanya ingin memberikan privacy time pada keduanya. Lagipula ia juga ingin berduaan dengan yeoja cantik itu kan. Sebuah ide yang bagus, Siwon-ssi!
"Ta-tapi aku mau menemani Sungmin juga.", tolak Kibum halus. Ia mencengkram pinggiran pintu dengan keras, tak ingin pergi dari posisinya.
Siwon menarik Kibum semakin kuat. "Sudahlah, biarkan mereka. Hanya Kyuhyun yang bisa menenangkan Sungmin. Ayo kita selesaikan masakan di dapur.".
Kyuhyun memberikan ponselnya kepada Sungmin setelah sambungan internasional ke Seoul Hospital berhasil. "Yoboseyo. Bisa saya bicara dengan penghuni kamar 104B?", tanya Sungmin pada seseorang di seberang telepon itu. Biasanya ia akan menghubungi telepon rumah sakit ditambah nomor kamar ibunya sehingga ia bisa menelepon ibunya langsung.
"Jeosonghamnida, agassi. Anda ingin bicara dengan pasien siapa?".
"Lee Hyori.", jawab Sungmin singkat. Jantungnya berdegup kencang. Perasaan buruk menggelitik nuraninya. Sungmin berharap feelingnya meleset kali ini.
Lama jeda tak terdengar dari seberang sambungan telepon itu. "Hmm… Agassi? Mianhae. Nyonya Lee sudah dipulangkan sejak kemarin malam. Keluarga sudah menjemputnya dan mengatakan akan melakukan perawatan di rumah.".
DEG!
"TIDAK MUNGKIN! Keluarga siapa? Aku saja belum bertemu eomma. Tolong jangan bohong, ahjumma!", jerit Sungmin frustasi.
"Maaf, agassi. Memang itu kenyataannya. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, kami akan menutup teleponnya.".
KLIK! TUUUUT! TUUUUT!
Sambungan telepon tertutup. Sungmin terdiam. Ia memberikan ponsel itu dengan tangan gemetar. Airmatanya mengalir. Kyuhyun menarik kepala Sungmin, sehingga yeoja itu mendekap ke dalam dadanya. Isak tangis Sungmin tak terbendung lagi. Kyuhyun tak peduli bajunya basah oleh tangisan Sungmin. Ia merasa rapuh, karena tidak bisa mengurangi perasaan yeoja yang dicintainya itu.
Namja tampan itu membelai surai Sungmin lembut. "Uljima, Minnie. Aku mohon. Aku sedih melihatmu seperti ini.", pinta Kyuhyun, menahan rasa nyeri yang menusuk hatinya.
"Eomma, Kyu. Eomma… Eomma menghilang. A-aku anak yang bodoh, ya, Kyu? Aku membiarkan mereka mengambil eomma. Aku takut, Kyu. Mereka pasti menyiksa eomma. Aku… Aku takut.", jelas Sungmin cepat dengan sedikit terbata-bata. Rasa nyeri di hatinya lebih besar daripada rasa sakit yang baru saja ia rasakan di ujung jarinya. Sungmin tak habis pikir kenapa takdir begitu menyiksa dirinya.
Kyuhyun mengelus punggung Sungmin. "Jangan cemas, Minnie. Kita akan cari tahu dimana ibumu. Kalau bisa, kita akan pulang ke Seoul secepatnya.", kata Kyuhyun menenangkan Sungmin.
"Ta-tapi itu akan menyulitkanmu, Kyu. Aku tak ingin kamu terperangkap dalam masalahku. Aku…".
"Ssst… Diamlah. Jangan banyak memikirkan hal tak penting. Aku akan melakukan apapun untukmu. Jika perlu aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu. Kita pasti bisa menemukan eomma-mu, Min!", kata Kyuhyun pelan, namun dapat didengar jelas oleh Sungmin. Namja itu merutuki dirinya sendiri, karena bisa-bisanya mengeluarkan kalimat gombal di saat seperti ini. 'Bodoh kau, Kyu! Belajar darimana kata-kata seperti itu?', rutuk Kyuhyun dalam hati.
Sebenarnya yeoja itu hanya bisa menelaah kalimat terakhir Kyuhyun. Otaknya kosong saat ini. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain ibunya. Satu hal yang ia tahu sekarang adalah ia merasa nyaman di dekat Kyuhyun. Sungmin menarik tangannya untuk dapat memeluk tubuh kurus namja di depannya itu.
"Ke-kenapa, Kyu? Ke-kenapa ka-kamu perhatian sekali padaku?", kata Sungmin terbata-bata, sambil mengatur isakannya.
Kyuhyun menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh perasaannya. "Karena aku menyukaimu. Ah, aniya! Aku mencintaimu, Lee Sungmin.", aku Kyuhyun dengan seluruh keberanian yang entah ia dapatkan dimana.
Sungmin melepaskan pelukannya. Ia mendongakkan kepalanya. Matanya mengerjap berkali-kali seakan tak percaya dengan inderanya. Sungmin menatap obsidian jernih Kyuhyun—yang terhalangi lensa kacamatanya, mencari kebenaran atas pernyataan yang baru ia dengar.
"Ne, saranghae, Minnie-ah!", ucap Kyuhyun sekali lagi dengan tatapan mata teduh dan suara lembut. Siapapun pasti luluh jika mendapatkan pernyataan cinta setulus itu.
Sungmin mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun yang sedang berdiri. Sedangkan Kyuhyun membungkukkan badannya, agar setara dengan Sungmin yang terduduk di atas ranjang. Keduanya terlarut dalam pandangan mata masing-masing. Jarak keduanya semakin menipis hingga…
.
.
#Dublin, Irlandia#
[Someone's side]
.
.
Seorang yeoja paruh baya tertidur di atas ranjang dengan nyaman. Selang-selang menghiasi tubuhnya yang rapuh. Napasnya dibantu oleh masker oksigen. Kamar mewah itu sudah disulap menjadi kamar perawatan. Wajahnya menggoreskan rasa lelah atas kehidupan yang selama ini telah ia lewati. Beberapa waktu yang lalu kondisinya melemah, membuat dirinya harus mendapatkan perawatan ekstra.
Hatiku terenyuh perih saat melihat goresan kesakitan yang terukir di setiap kerutan kulitnya. Aku menggenggam telapak tangannya yang bebas dari jarum infus. Apakah terlalu lama menerima penderitaan ini, eomma? Ah! Pantaskah aku memanggilmu eomma, sedangkan kamu belum mengenal diriku? Aku begitu merindukan sosok eomma dan aku berharap engkau sosok yang selama ini aku impikan. Aku tersenyum, mengingat pertama kali saat aku mengetahui kebenaran tentang eomma dan noona.
.
Flashback
.
Aku tersenyum riang, menjinjing sekotak strawberry cake yang akan aku makan bersama appa. Sejak kecil aku memang dekat dengan appa. Dia adalah hartaku satu-satunya setelah eomma meninggal karena melahirkanku. Appa tidak pernah menyalahkanku karena merenggut nyawa eomma. Ia benar-benar menyayangiku dan tak pernah melarangku untuk mengejar impianku sebagai dancer dan entertainer. Oh I love Appa so much!
Hal ini berbanding terbalik dengan sikap halmoni kepadaku. Ia adalah perempuan kolot yang selalu mengekang dan mengatur kehidupanku. Sejak kecil halmoni selalu memintaku menjadi penerus perusahaan dan memintaku mengikuti les ini-itu. Huft! Kalau bukan karena appa, aku pasti sudah kabur dari rumah. Walau appa sangat sibuk dengan urusan kantor, ia pasti bisa menenangkanku dan mengalihkanku dari rasa kesalku kepada halmoni—Kim Yeong Ok. Coba perhatikan nama belakang Nyonya besar Lee. Apanya yang Ok? Semua hal salah di mata halmoni. Hanya ia yang benar. Huh!
"Selamat pagi, Tuan muda Lee!", sapa karyawan di perusahaan Appa. "Good morning, Mr. Lee!", sapa karyawan lainnya yang didominasi warga Eropa.
Aku hanya tersenyum menanggapi sikap ramah mereka. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk mengunjungi appa di kantornya, hanya sekedar untuk berbincang atau mengganggunya bekerja. Hehe… Aku ini satu-satunya anak laki-laki appa yang paling disayang.
Aku segera membuka pintu ruangan kerja appa tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aku tertegun saat bola mataku bertemu pandang pada sosok appa yang sedang menangis di atas sofa. "APPA!", teriakku panik, menghampirinya yang kini menghapus jejak airmatanya dengan canggung. Ia terlihat salah tingkah. "What's wrong?", tanyaku khawatir, mendudukkan diriku di sampingnya.
"Nothing, son! I'm okay.", jawab appa, menegakkan duduknya.
"Don't lie, daddy. Just tell me the truth! I'm your son and I must know everything.", paksaku. Aku tahu sekali appa sedang berbohong. Ia tak pernah bisa menyembunyikan perasaannya lewat bola mata jernihnya itu. Benar kata orang, mata adalah jendela hati.
Appa menarik napas panjang, merebahkan punggungnya yang kaku ke atas sandaran sofa. Ia menatap langit-langit ruangannya cukup lama. "Kau tahu kan appa sedang pusing memikirkan rival kita dari Jung Corp.?", tanya appa memulai curahan hatinya.
Aku mengangguk pasti. Beberapa waktu ini memang perusahaan Jung itu sangat mengganggu perekonomian perusahaan Lee. Mereka telah menjadi saingan terberat kami beberapa tahun ini. Aku tahu pasti appa sangat berjuang mempertahankan perusahaan ini dari keterpurukan, walau sudah dipastikan perusahaan Lee akan tetap berdiri tegak tanpa harus tersaingi perusahaan mana pun. Sebenarnya appa tidak perlu khawatir dengan persaingan ini. Hal ini wajar di kalangan pebisnis. Sayangnya halmoni terlalu sibuk memikirkan nama besar Lee dan berbagai hal yang tidak penting, sehingga mendesak appa untuk tak tertandingi.
Appa menepuk bahuku, membuat lamunanku buyar seketika. "Jae, kamu mendengarkanku tidak?", tanya appa dengan suara sinisnya. Jae? Kalau appa sudah memanggilku seperti itu berarti ia merasa tersinggung.
"Mianhae, appa. Ne. Aku mendengarkan kok.", jawabku merasa bersalah.
Appa mengurut pelipisnya pelan. Sepertinya masalah ini memang sangat berdampak pada konsentrasinya. "Saat aku sibuk mengurus perusahaan ini agar tak pernah tertandingi oleh siapa pun, eomma mengatakan hal tak terduga. Ia bilang aku memiliki istri dan seorang anak perempuan.".
"MWO? APPA SELINGKUH?", jeritku tak percaya. Bagaimana bisa appa yang sebaik ini berselingkuh di belakang eomma? Aigoo! Appa, kau jahat sekali pada mendiang eomma.
PLAAAK! Appa menjitak kepalaku. "Aish! Aku tidak tahu, Jae! Semua ini begitu mendadak. Aku hanya ingat memiliki seorang istri dan anak, yaitu eomma-mu dan kamu. Ini terlalu aneh.", ujar appa tampak kebingungan.
Aku mengelus tempurung otakku yang berdenyut nyeri. "Lalu mereka siapa, appa? Apa yang halmoni bilang?", tanyaku ingin tahu.
"Eomma bilang itu istri pertamaku dan noona-mu. Jujur, aku tidak tahu apa-apa. Aku saja tidak mengerti.". Appa menenggelamkan wajahnya ke atas kedua telapak tangannya. Ia terlihat sangat frustasi.
Aku saja shock mendengar kenyataan ini, tapi apakah semua ini benar? Semua ini terdengar seperti kisah-kisah dalam drama fiksi. Aku tidak bisa mencerna cerita ini dari segi nalar logikaku. Eomma? Noona? Hmm… Kedengarannya tidak buruk. Selama ini aku hidup sendiri, tanpa kasih sayang ibu dan saudara. Aku hanya dikelilingi pengasuh, fasilitas mewah dan kesunyian di dalam rumah megah kami. Aku harus tahu siapa anggota keluargaku itu.
.
Flashback End
.
Aku masih setia mengelus jari-jemari yeoja paruh baya di hadapanku ini. "Eomma, cepatlah sembuh! Aku ingin memelukmu dan memintamu untuk menjadi eomma-ku.", mohonku kepadanya, yang hanya dijawab oleh suara mesin monitor di sampingnya.
Kemarin aku membawamu paksa dari rumah sakit. Untung saja mereka percaya dan tidak mempersulit kepindahanmu. Maafkan aku, eomma. Aku telah membawamu pergi jauh dari Korea ke Irlandia. Appa sangat merindukanmu. Aku percaya sebentar lagi noona akan bergabung bersama kita. Sabar, ya, eomma! Aku akan membahagiakan kalian.
KRIEEET! Pintu kamar terbuka, menampilkan sesosok namja paruh baya yang masih nampak tampan pada usianya. Namja itu—Appa—berjalan pelan, menghampiri ranjang di depannya. Appa melangkah pelan, seakan tidak percaya dengan indera penglihatannya. Kerutan di dahinya menunjukkan bahwa memori masa lalunya sekelebat mengganggu pikirannya. Ah, appa! Apakah sesulit ini kehidupan asmaramu?
Aku berdiri, membungkukkan badanku seraya memberi hormat kepada appa. Aku memberikan kursiku kepada appa, lalu berdiri di sampingnya.
Appa menggenggam tangan kiri eomma, mengelusnya lembut. "Hyori, bogoshippo.", ucap appa pelan, meletakkan telapak tangan lemah itu di sisi pipinya.
Monitor berbunyi semakin nyaring, seiring dengan grafik denyut jantung eomma yang menguat. Aku sedikit panik melihat perubahan kondisi eomma, takut keadaannya kembali melemah. Aku segera menghubungi dokter pribadi keluarga.
Eomma mengerang pelan. Kepalanya bergerak ke kanan-kiri, seakan menahan mimpi buruk dan sakit yang menyerangnya. Pelan tapi pasti, aku melihat eomma sedikit demi sedikit membuka matanya. "Lee… Donggun?", lirih eomma, memandang appa tak percaya.
"Ne, Hyori. Bogoshippo.", jawab appa tak kalah pelannya. Mata appa berkaca-kaca. Sepasang kekasih ini sudah terlalu lama berpisah. Aku rasa tatapan mata mereka cukup menggambarkan jutaan kata rindu yang ingin mereka sampaikan.
Aku tersenyum, melangkah keluar dari kamar ini. "Sungmin-ah, sebentar lagi kita sekeluarga akan bersatu. Tunggu aku!", ucapku pelan, menutup pintu kamar pelan.
.
.
L( )…::TBC::…(#^.^)a
.
.
Masih ada yg ingat FF ini?
*Iseng2 publish FF, lagi
FF ini sdh smpe chap 20 di FB, liat Profile ya!
Buang atau LANJUT?
