Let's Start The Game
Genre: Romance
Rated: T
Warning: AU,overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, alur berantakan, dll
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Let's Start The Game©Yara Aresha
Chapter Three
Setelah kedua sepupu itu terlibat debat dengan Uchiha Sasuke sebagai topik utamanya, mereka memutuskan untuk mengakhiri acara makan siang mereka yang kurang menyenangkan. Sakura meninggalkan kantin dengan langkah yang terburu-buru, berlari kearah Sasori pergi beberapa menit yang lalu. Sedangkan Gaara, ia lebih memilih menenangkan dirinya dan kembali ke kelas.
Tepat saat itu, Sakura melewati tempat Sasuke bersama kedua sahabatnya yang baru saja menghabiskan menu makan siangnya. Sasuke memerhatikan langkah Sakura yang terlihat gusar dengan perasaan yang tidak karuan.
Diliputi rasa penasaran, maka Sasuke memohon diri kepada dua sahabat kembarnya untuk mengejar Sakura, sebelum Sakura pergi lebih jauh lagi dan ia kehilangan jejaknya. Namun, langkah Sasuke terhenti saat Naruto ikut berdiri dan sebelah tangannya menarik kerah kemeja seragam Sasuke, ia menghentak tubuh Sasuke kembali duduk di kursi.
"Teme, kau berniat menghancurkan hidupnya? Tidak bisakah kau memberinya kebebasan? Dia baru saja dua hari di sini, dan kau malah mengusik hidupnya? Demi Tuhan, dia gadis baik-baik, dia tidak pantas kau perlakukan seperti gadis-gadismu yang lain. Lagipula dia sepupu Gaara, teman dekatku," ujar Naruto.
Menma yang ada di samping Naruto hanya menatap keduanya dengan bosan.
"Kau tahu, Dobe? Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, dan aku menginginkannya!" Sasuke menepis tangan Naruto dan kembali berdiri.
"Yeah, aku muak dengan prinsip bodohmu itu, Uchiha. Kupastikan pada akhirnya kau akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatanmu," Menma memberinya peringatan.
Semua orang mengatakan hal yang sama pada Sasuke, tapi sekali lagi Sasuke hanya menanggapi hal itu dengan acuh.
.
.
Sasuke berlari menyusuri koridor, mengedarkan pandangannya, mencari-cari sesosok gadis bersurai merah muda panjang. Sasuke tersenyum saat akhirnya onyx-nya mendapatkan objek yang dicari.
"Sakura!" teriak Sasuke, ia berlari lebih cepat mengejar sosok Sakura yang cukup jauh darinya.
Sakura mengacuhkannya, ia terus berjalan dan mencari Sasori. Dengan geram, Sasuke meraih bahunya dan memutar tubuh Sakura sehingga berhadapan dengannya.
"Kenapa kau mengejar Akasuna? Kau lupa kita sudah membuat kesepakatan? Lagipula, apa yang baik darinya? Dia wakil kapten di klub sepakbola, kuakui kemampuannya memang hebat, meskipun tidak begitu hebat jika dibandingkan dengan diriku, hanya itu, selebihnya tidak ada," ujar Sasuke, onyx miliknya menatap emerald Sakura lurus.
Sakura mengerutkan keningnya. Sombong sekali player muda ini.
"Kita memang membuat kesepakatan, tapi bukan berarti aku tidak bisa menyukai orang lain dan bersama dengan mereka. Selama aku tidak mencintaimu, aku tidak akan kalah, begitu 'kan aturannya?"
Sasuke menyeringai. 'Gadis pintar,' batinnya.
"Yah, tapi kita harus bersikap seperti pasangan kekasih. Jadi, kau tidak bisa seenaknya menyukai orang lain dan pergi bersamanya. Kau akan terlihat buruk Sakura, kau tahu? Meskipun aku seorang player, tapi aku tidak pernah berselingkuh," Sasuke menggerakkan tangannya, menyentuh ujung rambut Sakura dan menatap manik emerald-nya dengan intens.
Sakura menatapnya tajam, menepis tangan Sasuke, kemudian tersenyum meremehkan. "Lalu? Kenapa kau harus peduli? Aku bahkan sudah terlihat buruk di mata kedua orang yang penting untukku. Kau membuat hubunganku dengan Sasori-kun dan Gaara menjadi berantakan! Aku tidak peduli orang lain menganggapku buruk!" ucap Sakura, tangannya mengepal, dengan wajah merona menahan emosinya.
Sasuke mendengus, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kau tinggal bersama Gaara? Apa orang tuamu tidak ikut pindah ke Tokyo? Dan kenapa Gaara atau Sasori tidak tahu kau pindah kesini di hari pertamamu?" Sasuke mengganti topiknya dan tiba-tiba saja menjadi penasaran dengan segala hal yang menyangkut gadis itu.
"Karena, saat aku pindah, Gaara sedang menginap di rumah Sasori-kun... aku tidak sempat memberitahunya... dan kau tidak perlu tahu selebihnya!" Sakura kembali memandang sengit.
"Aku harus tahu," balas Sasuke.
Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa kau harus tahu? Ini tidak ada hubungannya denganmu!"
Ck, sial! Gadis ini benar-benar keras kepala.
"Karena jika kita sepasang kekasih, maka kita harus mengetahui segala hal yang menyangkut pasangan kita. Jika kau memiliki masalah dan aku tidak tahu, maka aku akan terlihat seperti seorang laki-laki brengsek."
Sakura mengerucutkan bibirnya, ia berbalik arah, berjalan menuju lokernya yang berada di sisi kanan aula. Perlahan-lahan ia menyandarkan punggungnya di sana, tubuhnya merosot, tiba-tiba saja ia merasakan perut dan kepalanya berdenyut sakit. Dan untuk pertama kalinya, Uchiha Sasuke merasa khawatir terhadap orang lain.
Sasuke mendekati tubuh Sakura dan berjongkok di depannya. "Kau hanya peduli dengan dirimu sendiri Uchiha, itulah sebabnya mengapa Sasori-kun jauh lebih baik darimu," gumam Sakura tiba-tiba nyaris tidak terdengar.
Sasuke mengabaikannya. "Kau tidak dalam keadaan baik, Sakura. Kau sakit? Perlu kuantar ke ruang UKS?" tawar Sasuke, berusaha agar suaranya terdengar penuh perhatian.
Sakura memandang Sasuke seraya menahan sakit yang menderanya. "T-Tidak perlu. Jangan pura-pura peduli padaku. Kau urusi saja urusanmu yang lain. Aku hanya... Ukh, sepertinya aku... datang bulan," manik onyx Sasuke melebar.
Sakura merutuki kebodohannya, mengapa ia menceritakan hal ini kepada laki-laki asing di depannya? Kemudian ia membenamkan wajahnya di lipatan lengannya. Membungkuk ke depan lututnya. Hal ini membuat Sasuke benar-benar tidak nyaman, ia tidak tahu harus melakukan apa, situasi seperti ini baru pertama kali dalam hidupnya. Maka, yang bisa ia lakukan hanya memandang punggung Sakura.
Di waktu yang tepat, seorang gadis berambut pirang panjang dengan poninya yang menyamping ke luar dari dalam aula, ia melihat Sasuke dan Sakura dengan raut kebingungan, kemudian bergegas untuk ke sisi Sakura.
"Apa yang terjadi?" bisik gadis itu.
"Dia... Sepertinya kesakitan karena datang bulan," Sasuke balas berbisik. Mata gadis itu melebar, lalu mengajaknya untuk berdiri.
"Sakura, kau baik-baik saja? Kita segera ke UKS. Dan, sebaiknya kau jangan berdekatan dengan Uchiha ini, dia sama sekali tidak mengerti dengan perasaan orang lain. Yang bisa dia lakukan hanyalah menghancurkan perasaan orang lain," ujar gadis itu, ia menatap Sasuke sengit, seolah Sasuke adalah orang yang sangat menganggu yang pernah dilihatnya.
Sasuke mengakui bahwa perkataan gadis pirang itu―Yamanaka Ino―sepenuhnya benar. Ia memang tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain. Tapi, kali ini ia sungguh-sungguh peduli, ia peduli pada Sakura. Aneh memang, setelah bertemu dengan Sakura, ia merasakan ada perubahan di dalam dirinya. Ya, semenjak pertemuan pertamanya dan permainan bodoh ini dimulai.
.
.
Setelah Sakura dan Ino meninggalkan Sasuke yang masih terpaku di tempatnya. Mereka pergi ke UKS dan keduanya berbincang-bincang di sana.
"Sakura, kau tahu? Sasuke itu seorang player aku bahkan pernah menjadi korbannya, kalau tidak salah aku itu urutan yang ke-45? Ah, aku tidak yakin. Aku rasa kau harus jauh-jauh darinya, kelihatannya dia tertarik padamu," ujar Ino.
"Ya, aku tahu, meskipun semuanya sudah terlambat sekarang. Jika dia seorang player maka aku adalah raja yang harus ia taklukkan. Tapi menaklukanku tidak akan semudah yang dia kira," Sakura tertawa kecil, dan menjulurkan lidahnya.
"Wow, aku suka itu! Hahaha, aku akan mendukungmu. Tapi, kau harus berhati-hati," balas Ino. "Apa kita bisa menjadi teman?" sambungnya.
Sakura tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Kemudian setelah selesai dengan obrolan kecil bersama teman barunya, Sakura berpamitan kepada Ino, ia teringat bahwa ia masih harus mencari dan menemukan Sasori. Ia tidak tahu, mengapa Sasori tiba-tiba saja meninggalkannya dan Gaara di kantin tadi dengan raut wajah yang menyedihkan. Ini membuat ketenangan Sakura terusik, rasanya seperti cahaya dalam hidupnya meredup, gelap tanpa Sasori.
"Arigatou, Yamanaka-san. Aku harus menemui seseorang sekarang, mungkin lain waktu kita bisa berbincang-bincang lagi?" ujar Sakura
"Jangan sungkan. Aku senang membantumu, emh 'hari pertama' memang merepotkan ya?" Ino terkikik, "dan, cukup panggil aku Ino, Sakura," sambungnya.
Sakura tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Baiklah."
Setelah itu Sakura melambaikan tangannya kepada Ino dan pergi meninggalkan UKS untuk mencari Sasori. Sedangkan Ino, memutuskan untuk mengisi perutnya, berhubung ia belum sempat istirahat, ia segera bergegas karena jam istirahat akan berakhir beberapa menit lagi.
.
.
Mencari Sasori ke berbagai tempat di Konoha High bukanlah hal yang menyenangkan bagi Sakura. Maka, Sakura bersyukur saat ia berhasil menemukan Sasori di lapangan basket. Disana, ia melihat Sasori yang tampak kacau tengah melakukkan shoot dengan asal-asalan dan menggeram frustasi.
Sakura meneguk salivanya gugup dan memberanikan diri untuk menyapa Sasori, yang memunggunginya. "H-Hai..." suara Sakura terdengar begitu pelan, ia memainkan jemarinya, menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa?" tanya Sasori singkat.
"Kenapa apa?" jawab Sakura, ia mendongak menatap Sasori yang kini tengah menatapnya.
"Berhenti bertingkah bodoh! Kau tahu, Sakura? Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu! Bahkan semenjak kita masih menjadi bocah ingusan! Tapi kau sekarang berubah, tidak mematuhi perintah Gaara, bertaruh dengan player itu, apa sikapku belum cukup untuk membuatmu peka?" Sasori berteriak di depannya, melempar bola basket dengan keras ke lantai, bola itu menggelinding dan menabrak rak besi yang berisi bola basket, sehingga menimbulkan bunyi yang gaduh.
Hal ini membuat kuping Sakura berdengung, ia memejamkan matanya, menghela napas lelah. "Kau tidak akan mengerti. Ini bukan hari baik untukku, atau bisa kukatakan aku terjebak. Dan asal kau tahu, Gaara tidak bisa mengatur-ngatur hidupku. Lagipula, aku tidak pernah mendengar sebuah pengakuan terlontar dari mulutmu, Sasori-kun," balas Sakura tenang.
Sasori menggertakkan giginya, Sakura memang benar, ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung pada gadis itu. Ia pikir itu tidak perlu, cukup rasakan saja. Tapi, Sasori salah...
"Oh, malangnya hidupmu Saku-chan. Pindah ke sekolah yang baru dan bertemu dengan seorang player. Kau bahkan baru saja dua hari di Konoha High tapi... semua laki-laki disini sudah bertekuk lutut di hadapanmu. Ditambah lagi, terjebak dalam permainan Uchiha Sasuke. Menyedihkan! Ternyata kau sama saja dengan gadis-gadis yang lain, sekarang aku tidak memiliki alasan untuk menyukaimu lagi!" ujar Sasori.
Sakura menatap laki-laki di hadapannya dengan sayu. "Sasori-kun, kau bilang kau mengenalku dengan baik, kau yang paling mengerti aku, tapi kau tidak! Kau bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk menjelaskan. Uchiha benar, mengapa aku harus menyukai orang sepertimu? Mengapa aku harus peduli padamu? Mengapa aku harus mencarimu sampai kehabisan tenagaku seperti ini? Kau bodoh!" Suara Sakura meninggi, kemudian ia berlari dengan cepat. Berlari tidak tahu arah, kemanapun, asal menjauh dari tempat itu. Meninggalkan Sasori yang tercengang.
"Sial! Aku hanya tidak ingin kau terluka, Sakura."
.
.
"Akasuna Sasori, kau bodoh! Setelah selesai dengan Uchiha Sasuke, tidak bisakah kau menungguku?" gerutu Sakura yang kini tengah meringkukkan tubuhnya. Ia menangis di dalam tempat penyimpanan barang klub sepakbola. Ruangan yang cukup besar, di sana terdapat matras dan barang-barang untuk perlengkapan latihan. Sakura merebahkan dirinya diatas matras yang sedikit berdebu itu. Lalu, dalam hitungan detik, gadis itu terlelap, memejamkan kedua matanya dan berpetualang menuju ke dunia tanpa batasnya.
Setelah 60 menit berlalu, kelopak Sakura masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda ia terusik dalam tidurnya. Namun, betapa terkejutnya gadis itu ketika terdengar suara pintu terbuka dengan suara yang cukup keras. Sakura terduduk kaku, memijat kepalanya yang berdenyut akibat reaksi spontanya.
Sakura mengalihkan pandangannya menuju sumber suara, melihat Gaara, sepupunya kini berdiri di dekat pintu. Saat itu, Gaara mengenakan jersey sepakbolanya. Tujuannya ke sana adalah untuk mengambil peralatan sepakbola.
Gaara tidak kalah terkejutnya dengan Sakura, ketika ia menemukan bahwa gadis itu berada di sana. Rambut merah Gaara tampak kusut dengan napas yang tidak teratur. "Sakura! Jadi kau disini?! Demi Tuhan, apa yang kau pikirkan? Tidak menampakkan dirimu sampai jam pelajaran usai. Dan Sasori, dia benar-benar payah. Dia yang pergi mengejarmu setelah kau lari, tapi dia tidak bisa menemukanmu! Sekarang cepat keluar! Kau akan terlambat untuk tes cheerleaders!" Gaara menarik lengan Sakura untuk berdiri.
Tidak lama kemudian, Sasori muncul dari arah belakang Gaara, ia tidak menyadari bahwa Sakura tengah berada di tempat itu.
"Apa yang membuatmu begitu lama Gaara―?" Sasori tiba-tiba terdiam ketika pandangannya bertemu dengan Sakura.
"Saku..." ujar Sasori, ia mendekati Sakura dan mencoba untuk meraih bahu gadis itu. Namun, Sakura segera mengindar dan berjalan menjauh dari Sasori.
Gaara menyusul Sakura dan berbisik, "kita akan bicara lagi nanti."
Sakura mengangguk dan bergegas menuju ruangan ganti untuk mengikuti tes apakah ia pantas berada di tim cheerleaders Konoha High atau tidak.
"Dia marah padaku," ujar Sasori.
"Ya, dan kuharap kau bisa cepat menyelesaikan masalah kalian," balas Gaara seraya menepuk bahu sahabatnya itu.
.
.
Setelah mengganti seragam sailornya, kini Sakura mengenakan seragam cheers-nya yang dulu saat ia di Hokkaido. Sakura bersama dengan anggota cheerleaders yang lain dalam satu Stunt (yaitu dengan 4 orang Base, 2 orang di bagian Side Base yang bertugas untuk mengangkat Flyer di samping kanan dan kiri, lalu 1 orang di bagian Front Base yang bertugas untuk memegang tangan Side Base , serta 1 orang Back Base yang bertugas untuk mengangkat dan memegang kaki Flyer), melakukan pemanasan terlebih dahulu. Mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali putaran dan melakukan peregangan. Kemudian, pelatih cheerleaders yang diketahui biasa dipanggil Anko-sensei itu menempatkan para anggota cheerleaders pada posisinya masing-masing. Sakura di posisi lamanya, Side Base, dan menyuruh mereka untuk melakukan gerakan-gerakan cheerleaders. Dimulai dari gerakan dasar, gerakan gymnastic, dance, thight stunt, piramida, sampai dengan teknik elevator.
Penilaian yang dilakukan untuk Sakura adalah rasa percaya pada rekan satu timnya, rasa kepercayaan pada kemampuan yang dimiliki dirinya sendiri, kemampuan dan kekuatan tangan serta kakinya, sikap tubuhnya, waktu dan kecepatan, keseimbangan, mengerti cara menangkap Flyer yang baik dan benar, serta perhatiannya atas keselamatan antar anggota dan dirinya, jika seluruh aspek itu terpenuhi, maka ia dinyatakan lolos.
Selang satu jam―kini waktu menunjukan pukul 14.05―tes pun selesai. Sakura telah berusaha menunjukan kemampuan terbaiknya, sekarang tinggal menunggu keputusan diterima dalam tim atau tidak, yang dimana keputusannya itu diambil melalui hasil vote dari para anggota terdahulu serta pelatih. Sakura keluar dari tempat latihan cheerleaders lebih awal dari yang lainnya, sementara mereka melakukan vote untuk dirinya.
Sakura berjalan menuju ruang ganti, mendudukkan bokongnya di sebuah kursi kayu yang ada di sana untuk melemaskan kembali otot-otot tangan dan kakinya, sebelum ia membuka salah satu loker kosong yang akan segera menjadi miliknya untuk mengambil baju ganti.
Tanpa ia sadari, beberapa temannya yang tergabung dalam tim cheerleaders kini menyelinap di belakang punggungnya, kemudian membasahi seluruh tubuhnya dengan sebotol air mineral.
"SELAMAT! SAKURA, kau berhasil!" seru Karin seraya bertepuk tangan seperti teman-temannya yang lain. Gadis beriris rubby itu kemudian memeluk tubuh Sakura.
"Benarkah?" tanya Sakura nyaris tidak percaya.
"Sangat benar! Sekarang kau masuk tim cheer. Kyaaa... senangnya," balas Tayuya riang.
"Omedetto, Haruno-san!"
Senyuman Sakura mengembang saat itu juga, menjadi bagian dari squad member's Konoha High akhirnya terwujud.
"Arigatou, minna."
.
.
Sakura mengganti seragam cheer-nya dengan kaus berlengan pendek dan rok katun berlipit-lipit yang hanya sampai menutupi lututnya, sesaat setelah pesta kecil itu usai. Beberapa temannya yang lain sudah meninggalkan ruang ganti beberapa menit yang lalu. Sedangkan dirinya kini berada di koridor samping aula, untuk membereskan beberapa barangnya yang masih ada di dalam loker miliknya.
Ketika ia membuka lokernya, ia terpaku melihat jersey milik Sasori terlipat rapih di sana, ia menghela napas, lalu mengambilnya. Setelah itu ia mengunci lokernya dan bergegas untuk menuju parkiran sekolah. Gaara sudah menunggunya untuk pulang.
Akhirnya, Sakura sampai di parkiran. Ia melihat Sasori dan Gaara tengah terlibat obrolan kecil. Kemudian Sasori melambaikan tangannya kepada Gaara. Ketika Sasori berbalik menuju Porsche hitamnya, ia sedikit terkejut dengan keberadaan Sakura yang kini berjalan ke arahnya, tersenyum dan dengan cepat ia melemparkan jersey milik Sasori yang akan jatuh jika saja Sasori tidak bertindak cepat. Sasori mengerutkan keningnya.
"Kukembalikan! Sepertinya aku berubah pikiran," ujar Sakura.
Setelah itu, ia melanjutkan langkahnya menuju mobil Gaara dan duduk di kursi penumpang. Lalu melesat pergi meninggalkan area parkiran Konoha High.
Jika saja Sasori tahu kejadiannya akan menjadi begitu rumit. Ia ingin memutar kembali waktu, tidak akan ada pertengkaran dengan Sakura. Ia akan memutuskan untuk tetap membisu, walaupun semuanya terasa menyakitkan. Tapi, sial... emosinya tidak bisa ia kendalikan jika menyangkut Sakura. Sasori mengepalkan tangannya, menarik napas dalam dan masuk kedalam mobilnya saat bunyi klakson yang nyaring memecah lamunannya.
"Aku tidak yakin dia akan menyelesaikan permainan ini dengan Uchiha. Sakura... firasatku mengatakan bahwa mereka malah akan saling jatuh ke dalam pesona lawannya. Shit!"
.
.
"Aku akan menjadi pemenangnya, Gaara. Permainan ini akan sangat menyenangkan," gumam Sakura dengan senyumannya yang mengerikan.
Gaara yang ada di sampingnya hanya menggelengkan kepala. Ia menatap bosan jalan raya yang begitu padat. "Kau benar-benar mengibarkan bendera perangmu dengan Sasuke? Kalau begitu selamat menikmati permainan Sakura-chan. Dan selamat, kau bergabung dengan tim cheerleaders sekarang. Jika saja kau bukan sepupuku, maka aku akan memaksamu memakai jersey milikku!"
Sakura tertawa geli. "Terimakasih, tapi kau bukan tipeku," katanya seraya menjulurkan lidahnya.
.
.
to be continued
AN: A-apa ya ini? -_- gomenna~ kalo chap ini gak memuaskan .a disini jangan harap ada konflik yang gimana... paling konfliknya ya gitu" aja khas remaja -_-" dan konflik di cerita ini naek turun *?* semoga masih bersedia membaca fic geje saya ya X'DDD dan untuk ke-OOC-an chara disini maaf banget ya, tuntutan peran lol *plak* sekian...
