~(^o^)…Previous on 19th Chapter 15…(^.^)~

"Ne, saranghae, Minnie-ah!", ucap Kyuhyun sekali lagi dengan tatapan mata teduh dan suara lembut. Siapapun pasti luluh jika mendapatkan pernyataan cinta setulus itu.

Sungmin mendekatkan wajahnya ke arah Kyuhyun yang sedang berdiri. Sedangkan Kyuhyun membungkukkan badannya, agar setara dengan Sungmin yang terduduk di atas ranjang. Keduanya terlarut dalam pandangan mata masing-masing. Jarak keduanya semakin menipis hingga…


19th

Chapter 16

By Yuya Matsumoto

"Beauty of Wina 1"

Inspirasi: K-movie, 19

Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others

Rani Syahcehan as Elisabeth Helena

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).

Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.

.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.


DUAAAAK! Sungmin mengadu keningnya dengan kening Kyuhyun cukup keras. Kyuhyun mundur beberapa langkah, mengelus keningnya yang berdenyut nyeri. Tatapan tajam nan menusuk terlempar ke arah namja yang kesakitan itu.

"Hentikan permainanmu ini, Cho Kyuhyun-ssi! Aku tidak suka dipermainkan. Cukup!", sinis Sungmin sebelum ia meninggalkan Kyuhyun sendiri di dalam kamar itu.

Kyuhyun terduduk, memegang dadanya yang berdetak nyeri. Ia benar-benar merasa sakit hati. Jika ia mampu, ia ingin menenggelamkan dirinya di Samudera Hindia, agar tak mampu lagi merasakan perih di hatinya.

.

.

#In Kibum's Car#

On the way to Austria

[Day 12, WonKyuMin's Side]

.

.

Saat ini Kibum dan Sungmin sedang duduk di bangku depan, dalam mobil kesayangan Kibum. Mereka berencana untuk berjalan-jalan ke rumah kerabat Kibum di Austria. Siwon dan Kyuhyun duduk di bangku belakang. Kyuhyun sibuk memandang suasana di luar kaca pemisah itu. Pandangannya kosong dan berkali-kali mendesah lesu. Tanpa disadari oleh Kyuhyun, Siwon beberapa kali melemparkan pandangan bingung kepada namja tampan itu.

Siwon memegang bahu Kyuhyun, berharap mendapatkan perhatian dari namja itu. Berhasil. Kyuhyun melemparkan tatapannya kepada Siwon. "Hei, neo gwenchana?".

Kyuhyun mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya kepada objek yang sedaritadi menarik perhatiannya di luar sana. Siwon menarik bahu Kyuhyun dengan paksa. Ia harus menanyakan perihal yang mengganjal hatinya sejak siang kemarin. "Kalian ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat depresi dan Sungmin terlihat menjauh darimu?", tanya Siwon pada inti permasalahan.

Kyuhyun menghela napas panjang. Ia melirik ke arah Sungmin yang berada tepat di depan Siwon duduk. Sungmin terlihat asyik berbincang dengan Kibum dan sepertinya ia tidak mendengar pertanyaan Siwon. "Sungmin menolakku.", lirih Kyuhyun pelan, hampir tak terdengar oleh siapapun.

Siwon mendekatkan telinganya kepada Kyuhyun. Tanpa basa-basi, Kyuhyun membekap mulut Siwon. "Aku ditolak Sungmin.", ulangnya tepat di depan telinga Siwon.

Siwon mengangguk pelan. Ia cukup bisa memahami situasi, jadi ia tidak mungkin berteriak di saat-saat seperti ini.

"Jaga Sungmin untukku, Won. Sepertinya dugaanku benar, ia memang mencintaimu.", lanjut Kyuhyun tak kalah pelan dari sebelumnya. Hatinya berdenyut perih saat mengatakan kata-kata yang membohongi perasaannya. Sebenarnya ia tidak ingin Sungmin bersanding dengan Siwon. Ia hanya ingin Sungmin bersamanya, namun apa mau dikata, Sungmin akan jauh lebih bahagia bersama namja kekar itu.

PLETAAAAK! Siwon menjitak kepala Kyuhyun tanpa ampun, sehingga namja tampan itu harus meringis pelan.

"Dasar bodoh! Aku tidak mencintai Sungmin. Aku hanya menganggapnya sebagai saudara. Hei, Babbo! Aku akan membantumu mendapatkannya. Tenang saja! Percayalah padaku.", kata Siwon percaya diri, memukul-mukul pelan dadanya yang menonjol itu.

"Haaah! Baiklah.", balas Kyuhyun tak bersemangat. Ia kembali asyik dengan objek pandangannya yang tadi terlupakan, sedangkan Siwon berkutat dengan ide-ide cemerlang yang ada di otaknya.

Vienna, atau kita kenal dengan Wina, terletak di Timur Austria, berbatasan dengan negara Ceko, Slovakia dan Hungaria. Penduduk lokal kadang menamainya Wien. Penduduknya hanya 1,7 juta, jadi jarang sekali ditemukan macet di sini. Di kota ini juga ada beberapa kantor pusat internasional, misalnya PBB dan OPEC.

Kibum mengendarai mobilnya dari Hungaria menuju Wina, tempat salah satu saudaranya tinggal. Kalau masuk high way tidak ada gardu tol, jadi ada sistem sensor yang akan memotong pulsa dari suatu alat yang dipasang di depan mobil. Pulsanya sistem pra-bayar jadi kalau mau pergi harus isi pulsa dulu. Aturan berkendara pun sangat ketat. Supir hanya diperbolehkan menyetir selama 8 jam. Tiap 4 jam harus berhenti istirahat 15 menit. Bus hanya beroperasi 12 jam, jadi kalau kita berangkat dari hotel jam8 pagi, jam 8 malam sudah harus tiba. Aish, ini agak repot saat kita keluar kota!

Semua orang sangat taat dengan aturan ini, karena kalau ketangkap bisa-bisa SIM-nya dicabut. Sedangkan di Austria, pembuatan driver license butuh sekitar beberapa bulan gaji untuk mendapatkan satu driver license. Hebatnya lagi, para supir tidak bisa sembunyi-sembunyi dari peraturan itu. Ternyata kalau sekali distop polisi, mereka bisa mengambil data dari bus (serupa flash disc) yang memuat data berapa jam beroperasi, berapa jam sekali beristirahat dan berapa lama istirahatnya, berapa kecepatan selama seminggu terakhir. Canggih kan? Untuk pemilik bus juga tidak takut bus diselewengkan supir nakal karena tercatat pemakaian bensin dengan jumlah kilometer. WOW! Fantastic baby!

"Kalau begitu susah juga, ya! Harus benar-benar taat peraturan. Hmm…", kata Sungmin, menanggapi penjelasan Kibum saat mereka sedang beristirahat di salah satu rest area.

Sungmin menyeruput strawberry milkshake miliknya, sesekali melempar pandang ke arah Kyuhyun yang hanya mengaduk-aduk minumannya. Sungmin tahu Kyuhyun sedang tidak dalam mood baiknya. 'Apakah ini karenaku?', batin Sungmin cukup khawatir.

Tanpa Sungmin dan Kyuhyun sadari, Siwon memperhatikan gerak-gerik keduanya dengan sesakma. Duuuk! Siwon menendang pelan kaki Kibum, yang duduk tepat di depannya. "See! They are falling in love with each other!", bisik Siwon pelan, hampir hanya sebuah gerakan mulut saja.

Kibum menggembungkan pipinya. "Apa urusannya denganku?", ucapnya lantang, membuat Kyuhyun dan Sungmin memperhatikan wajah yeoja manis itu. Kibum memalingkan wajahnya, saat mereka memandangnya bersamaan. "Aish! Siwon bodoh!", gumamnya kesal.

Sampailah ke empat remaja itu di Wina, ibukota Austria. Mereka melewati sebuah gereja tua yang menjadi icon kota Wina, Stephans Dome atau St. Stephen Catedral. Ini merupakan gereja gaya gothic yang berada di pusat kota Wina. Paling dikenal akan arsitektur menara selatan sebagai titik tertinggi katedral yang dikonstruksikan selama 65 tahun, dari 1368 sampai 1433.

"Kalau tidak sedang diperbaiki, para pengunjung bisa naik ke tower utara dengan beberapa dolar saja. Kalau beruntung, bisa mampir ke situs pemakaman bawah tanah alias Katakombe yang terletak di bawah gereja itu.", jelas Kibum saat mereka baru saja melewati gereja indah itu.

Siwon menatap kagum katedral yang memiliki menara tertinggi itu. "Ayo! Ayo, kita ke sana, Bummie!", rayu Siwon sambil menarik-narik tangan Kibum, membuat yeoja itu sedikit kesulitan mengatasi pergerakan mobilnya yang oleng.

"DIAM, CHOI! Aku sedang menyetir. Lain kali aku akan meminta saudaraku mengantarkan kita semua.", ujar Kibum cepat sebelum terjadi kecelakaan yang tak terduga karena sikap kekanak-kanakan seorang Choi Siwon.

Kibum mengendarai mobilnya dalam diam. Sepertinya ia memilih untuk tidak menjadi tour guide dadakan lagi, berhubung ia tidak tahu sikap kekanak-kanakan siapa yang akan muncul nanti. Suasana hening tak berlangsung lama, karena Kibum memberhentikan mobilnya tepat di sebuah kompleks hunian yang cukup padat namun tetap terkesan rapi ala Eropa. Kibum berjalan terlebih dahulu ke dalam sebuah flat atau lebih kita kenal sebagai apartment. Ia mengetuk pintunya dengan semangat. Ketiga orang lainnya hanya diam seribu bahasa.

"HUAAAAA~ KIBUMMIEEEE~!", jerit seorang yeoja cantik saat ia membuka pintu flatnya. Yeoja cantik itu memeluk Kibum dengan erat, terlihat sekali kerinduan dari setiap gerakan tubuhnya.

"I'm back, eonni!", ujar Kibum kepada yeoja itu. "Oh iya, perkenalkan ini teman-temanku.", lanjutnya setelah yeoja itu melepas pelukannya.

Yeoja cantik dengan wajah khas Korea, rambut cokelat bergelombang sepunggung, tubuh ramping bak model, dan kulit mulus tak ternoda. Kata yang bisa menggambarkannya hanya cantik natural. Siwon memandang yeoja itu tanpa berkedip, bahkan saat mereka berjabat tangan Siwon nampak ragu melepas kemolekan di hadapannya saat ini.

SREEET! Kibum menepis tangan Siwon dengan kasar, sehingga namja itu melepas jabatannya dari yeoja cantik di depannya. "Ya! Berhenti memandangi Heechul-eonni dengan tatapan mesummu itu. Menjijikkan.", sinis Kibum sambil menarik lengan Heechul—nama yeoja cantik itu—ke dalam flat.

Kibum merebahkan tubuhnya di atas sofa, diikuti oleh Sungmin, Kyuhyun dan Siwon di belakangnya. "Eonni, aku lapaaaaar! Ada makanan apa nih?", tanya Kibum, beranjak dari duduknya, mendatangi Heechul yang sibuk membuatkan minuman untuk para tamunya.

"Eh? Tidak ada, Bummie. Aku tidak memasak apapun. Kau tahulah aku seperti apa. Hehe…", jawab Heechul cengengesan. Ia membawa senampan berisi gelas minuman untuk Kyuhyun, Sungmin dan Siwon di ruang tamu. Kibum mengerucutkan bibirnya sebal. Bagaimana tidak sebal? Ia sudah menyetir hampir enam jam, tanpa digantikan oleh siapapun dan ia telah menahan lapar sejak tadi pagi. Poor, Bummie!

"Ya sudah kalau begitu. Aku akan mencari makanan di Wiener Wald saja!", ujar Kibum, lalu melenggang santai keluar flat itu. "Bye, yeorobun!", ucapnya seakan meledek ke empat orang di sana.

"Mwo? Wiener Wald?", tanya Heechul saat menyadari perkataan yeodongsaengnya barusan. "IKUUUUUT!", teriak Heechul, berlari mengejar Kibum yang sudah ada di luar.

Sungmin, Siwon dan Kyuhyun saling melempar pandang, bingung dengan tingkah kedua yeoja itu. Mereka ini tamu, tidak tahu apa-apa, kenapa ditinggal di tempat asing begini? Ckckck… Tuan rumah yang aneh. Ketiganya terpaksa ikut mengejar para yeoja itu sebelum mereka disangka perampok oleh penghuni lainnya.

.

.

#Wiener Wald Restaurant#

[Wina, Austria]

.

.

"Oppa!", teriak Kibum manja saat masuk ke dalam restoran itu. Ia menerjang seorang namja tampan yang berdiri di belakang meja kasir.

"Kibummie?", tanya namja itu sedikit tak percaya dengan penglihatannya. Namja itu mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Ne, choneun Kibum imnida. Han-gege, miss you!", ucap Kibum, membenamkan kepalanya di dada bidang namja bernama lengkap Tan Hangeng itu.

Hangeng melepas pelukan Kibum dari tubuhnya. Semburat merah muncul di kedua pipinya. Saat ini Hangeng sedang melayani seorang tamu yang akan membayar bill-nya. "Kibum-ah, aku sedang bekerja. Sebaiknya kamu duduk, lalu pesan sesuai keinginanmu. Nanti oppa akan menghampirimu.".

Kibum tersenyum kepada Hangeng, mengikuti titah namja itu. Empat orang lainnya sudah duduk tenang di salah satu meja. Mereka nampak memesan menu. Heechul hanya melempar tatapan garang kepada adiknya itu. "Segitu cemburunya sih? Posesif.", ledek Kibum sambil menjulurkan lidahnya.

Letak restoran ini dekat sekali dari St. Stephen's Catedral. Kibum senang sekali ke restoran ini. Menu ikan crispy, hot coffee latte dan raspberry pudding adalah menu andalan Kibum. Dia tidak akan pernah bosan memakan menu itu setiap ia datang ke restoran ini. Terlebih lagi Kibum memang senang menggoda kekasih kakaknya itu.

Setelah asyik makan dan berbincang-bincang, Hangeng mengajak ketiga teman barunya dan dua orang yang paling dia sayangi untuk berkeliling ke alun-alun kota Wina, Stephanplatz. Wina, banyak dikenal sebagai kota musik. Terbukti adanya beberapa sekolah tinggi musik dan beberapa gedung pertunjukan konser dari komponis Mozart digelar di Wina. Area kota ini sangat ramai tapi tidak terlalu luas. Ada beberapa gedung tua yang memang dibuka untuk pengunjung dan banyak street performer (pengamen jalanan) dari yang melukis, bermain musik hingga sekedar menjadi patung.

Boneka berkepala anjing itu duduk di kursi kecil sambil tangannya bergerak-gerak lincah seolah-olah memencet tuts piano. Dan memang di depannya ada piano mini. Tangan dan kaki serta kepala boneka itu diikat benang yang dihubungkan ke tangan orang yang memainkan. Boneka itu terus bergerak dinamis sesuai irama musik kaset di sebelahnya. Sungguh sebuah atraksi sederhana yang hidup. Utamanya anak-anak kecil mengerubuti dan tak mau beranjak pergi. Tentu saja ibu-ibu mereka harus mengalah kehendak sang anak.

Jika kaleng sumbangan lama tidak dilempari koin, maka tukang pemain boneka itu segera memencet kaset dengan lagu dari ABBA "Money, money, money...!" Pada waktu yang sama sang boneka digerakkan menengok ke kaleng. Tentu saja suruhan tidak langsung itu mengundang tawa, sekaligus mendorong orang-orang untuk melempar koin. Biasanya kalau seorang ibu membawa anaknya, anaknyalah yang disuruh maju menaruh koin di kaleng. Dengan begitu sebuah pelajaran dasar bagi anak untuk berbagi pada sesama telah dimulai. Atau setidaknya berderma pada seniman jalanan. Kaleng kosong di depan boneka itu cepat terisi koin Euro.

Mengingat sendi-sendi tubuh boneka itu lemas dan bisa bergerak lincah, tak urung kedua bola matapun bisa menjulur keluar. Begitu kreatifnya tukang pemain boneka itu, sehingga bola mata yang di dalamnya dihubungkan dengan per bisa melotot sampai jauh. Nah, ini kejadian yang paling menggelikan. Kalau ada gadis berpakaian seksi lewat atau sekadar mendekat, maka boneka itu mengejar dan matanya melotot keluar, sambil diiringi lagunya Tom Jones berjudul "Sex Bomb, Sex Bomb." Mendadak adegan itu menguras cekikikan para penonton. Yang harus diacungi jempol, tak hanya kecerdikan tukang pemain boneka menggerakkan bonekanya, tapi juga pilihan lagu-lagu yang dengan cekatan bisa diganti-ganti sesuai keadaan.

Yang mengharukan, ketika atraksi boneka usai, anak-anak kecil di situ juga akan segera pergi. Mereka maju ke depan menyodorkan tangan ingin berpamitan dengan boneka tadi. Pemain boneka itu cepat tanggap dan menggerakkan tangan boneka dengan posisi menyodorkan tangan. Tangan boneka itu segera diremas ringan oleh anak-anak yang berpamitan. Lagi-lagi penonton tertawa dengan kejadian itu. Maklum dunia anak-anak melihat boneka bergerak dengan musik pengiring, fantasinya melambung seperti boneka hidup sungguhan.

"Ayo, Sungmin. Kita lihat atraksi lainnya.", ajak Siwon saat Sungmin masih setia memegangi boneka anjing itu.

"Ta-tapi ini lucu sekali, Wonnie!". Sungmin terlihat tak mau meninggalkan atraksi pengamen jalanan itu. Ia benar-benar sangat tertarik pada salah satu aksinya. Walau begitu, ia tetap harus rela meninggalkan boneka itu untuk ikut bersama teman-teman lainnya.

Suara clarinet dan beberapa musik lainnya terdengar begitu merdu. Sungmin terlonjak kaget saat ia melihat namja yang ia kenali sedang bersenandung bersama beberapa orang lainnya. Siwon bergegas menuju kerumunan orang itu. Ia meminta salah satu pengamen untuk meminjamkan alat musiknya. Tak selang beberapa waktu duet antara Siwon dan Kyuhyun terjadi. Kyuhyun memainkan clarinet diselingi suara merdu dari bibirnya. Tak ayal lagu sederhana—twinkle twinkle little star—menjadi sangat menarik untuk didengarkan. Kerumunan semakin ramai dan kedua namja itu menjadi bintang besar saat itu.

PROK! PROK! PROK! Tepuk tangan riuh menyambut akhir pertunjukan kecil itu. Sungmin menghampiri kedua sahabatnya, tersenyum sangat tulus. Ia lupa akan rasa kesalnya kepada namja Cho. Semua ini mengalir begitu saja, tanpa ada paksaan atau kepura-puraan.

"Suaramu indah sekali, Kyu! I like it. Kapan-kapan kamu harus bernyanyi untukku ya.", ucap Sungmin penuh keterusterangan. Ia memang mengagumi suara emas itu, merasa iri sekaligus kagum. Kyuhyun menunduk, tersipu malu mendengar pujian Sungmin. Namja itu membenarkan letak kacamatanya, lalu menggaruk rambutnya yang jelas-jelas tidak gatal.

"Your idea's brilliant.", puji Siwon di samping Kibum. Keduanya memperhatikan KyuMin moment dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Kibum bergumam, membersihkan tenggorokannya yang sedikit gatal setelah mendengar ucapan Siwon barusan. "Aku hanya mengikuti usulanmu.", jawab Kibum singkat.

"Kau sudah merestui mereka ya? Atau jangan-jangan kamu merasa putus asa untuk mendapatkan namja Cho itu?", goda Siwon, mencolek pipi Kibum beberapa kali.

Kibum melemparkan pandangan sinis kepada Siwon. "Dasar bodoh!", ucapnya, bergegas pergi setelah memukul pelan kening Siwon.

Siwon tersenyum, menunjukkan kedua lesung pipinya. "Lucu.", ujarnya pelan, mengejar yeoja manis itu. Sedangkan Kyuhyun dan Sungmin asyik berbincang di belakang mereka.

Hangeng dan Heechul asyik bergandengan tangan, memanfaatkan momen jalan-jalan sore sebagai kencan kecil-kecilan bagi mereka. Keduanya melihat-lihat beberapa dagangan yang disuguhkan di pinggir jalan itu dan juga pajangan-pajangan di dalam etalase. Tiba-tiba Hangeng berhenti saat matanya menemukan Siwon sedang berada di salah satu stand. Entahlah sejak kapan Siwon berada di depan sepasang kekasih itu.

Siwon melihat sebuah souvenir yang dijual di pinggir jalan. Bentuknya biasa saja, namun kata-kata yang tertulis di souvenir itu menggelitik rasa ingin tahu Siwon. "No Kangaroos in Austria? Maksudnya?", tanya Siwon kepada Hankyung, yang berdiri paling dekat dengannya.

Hankyung tersenyum simpul, mengambil souvenir yang ada di genggaman Siwon. "Banyak orang sering keliru antara Austria dan Australia dikarenakan sebutannya yang hampir sama. Oleh karena itu, beberapa orang memproduksi souvenir seperti ini sebagai sindiran kepada orang yang menganggap Austria sama dengan Australia.", jelas Hankyung, mengembalikan lagi souvenir itu ke tempatnya semula.

"Ooooh…", respon Siwon, tanda ia baru mengetahui tentang fakta ini. Mereka kembali berjalan mengelilingi pasar. Sebuah pengetahuan baru lagi tentang negara lain di benua Eropa ini.

Ada yang janggal dengan kota Wina ini. Semua toko, restoran, mall dan stasiun kereta api akan tutup setiap pukul enam sampai tujuh malam, bahkan pada hari minggu semua tutup. Kota Wina berubah menjadi kota mati. Katanya sih karena upah atau gaji karyawan sangat mahal, sehingga kalau toko itu ingin tutup jam 8-9 malam, bisa-bisa dia bangkrut membayar upah lembur. Tapi akhir-akhir ini dengan derasnya imigran dari Asia terutama Cina yang notabene rajin, pekerja keras, ada beberapa toko milik mereka yang buka sampai larut malam. Hanya saja hal ini kurang disukai oleh warga setempat karena merasa tersaingi. Kalau restoran dan supermarket tertentu (jarang sekali) ada juga yang buka hari Minggu. Warga Austria senang sekali nonton bola di akhir pekan dan benar-benar menghabiskan hari Minggu di rumah sambil beristirahat setelah penat kerja seminggu. What a life! Sudah tidak ada kemacetan, gaji tinggi, jam kerja fix , stabilitas negara dan ekonomi kuat, semua serba teratur dan aman, mana pemandangan indah pula. Tak heran kualitas hidup warga kota ini paling tinggi di Uni Eropa dan ketiga tertinggi di dunia setelah Zurich dan Vancouver.

Hari sudah menjelang senja. Keenam orang itu bergegas menuju flat Heechul. Mereka memutuskan untuk makan malam di sana. Hangeng akan memasak untuk mereka semuanya. Bagaimana dengan Heechul? Ah, yeoja ini sudah pasti hanya akan menunggu hasil pekerjaan kekasihnya itu dengan santai. Dia tidak mungkin berkutat dengan dapur. Kibum dan Sungmin membantu Hangeng di dapur. Kyuhyun dan Siwon menyiapkan meja makan. Heechul berkutat dengan laporan keuangannya di atas meja kerjanya.

"Hmm… Perhitunganmu salah, noona. Seharusnya bagian ini menjadi Kredit, bukan dimasukan ke dalam Debet. Belum lagi bagian yang ini. Aish! Laporanmu benar-benar kacau.", celetuk Siwon di tengah-tengah rasa depresi yang melanda otak Heechul.

Heechul memalingkan wajah awut-awutannya dari screen laptopnya ke arah kertas laporan yang berada di tangan Siwon. Heechul mengernyitkan dahinya, memandang Siwon dari atas sampai bawah. 'Bagaimana bisa namja berpenampilan urakan seperti ini untuk menyelesaikan laporan keuangan perusahaan Appa? Daritadi saja aku tidak menemukan kesalahanku, tapi kenapa ia bisa melihat kesalahan itu hanya sekali baca? Sulit dipercaya.', batin Heecul kagum bercampur shock karena namja lebih muda di depannya ini ternyata lebih teliti daripada dirinya.

"Eh, jeosonghamnida, noona. Aku nggak bermaksud mengganggu pekerjaanmu.", ucap Siwon tak enak hati saat dirinya menyadari tatapan tajam dari Heechul. Namja tinggi itu hendak beranjak dari meja kerja sebelum tangan Heechul mencekalnya.

"Duduk di sini. Bantu aku!", pinta Heechul penuh perintah.

Akhirnya Siwon melewati malam ini dengan ribuan angka berputar dalam laporan keuangan Heechul. Ia melewatkan makan malamnya, terpaksa membantu Heechul. Yeoja cantik itu melarang Siwon ikut bersama Hangeng ke apartment-nya. Hangeng sepertinya kurang percaya dengan namja-namja kenalan barunya, terutama Siwon yang terlihat paling dekat dengan Heechul. Tapi pada akhirnya Hangeng berhasil menarik paksa kedua namja itu untuk menginap di apartment-nya, membuat Heechul sejauh-jauhnya dari namja kekar bernama Choi Siwon itu.

"Besok aku dan Siwon akan membantumu menyelesaikan laporan itu, bahkan Kibum juga akan membantu. Jadi sekarang tidur dan beristirahatlah. Wo ai ni.", ucap Hangeng sebagai salam perpisahannya kepada Heechul, lalu mengecup kening Heechul penuh rasa sayang.

Heechul tersenyum malu, mengangguk pelan. "Nado saranghae, chagiya.", balasnya tak kalah mesra. Heechul menutup pintu flatnya, menuju kamarnya dimana dua orang yeoja lain sudah masuk ke dalam mimpi mereka.

.

.

#Heechul's Flat, Wina, Austria#

[Day 13, KyuMin's Side]

.

.

Seperti apa kata Hangeng semalam, ia membawa kabur Siwon, Heechul dan Kibum, meninggalkan sepasang yeoja-namja di flat itu. Kenapa mereka tidak juga diikutsertakan? Alasannya Hangeng ingin pekerjaan Heechul cepat selesai. Semakin sedikit orang, semakin baik kerjanya, terlebih mereka semua memang bergerak di bidang bisnis. Sudah pasti mengenal bisnis sampai ke akar-akarnya.

Sungmin mendesah kecewa. Ia memandang langit pagi Wina dari dalam jendela flat. Langit begitu biru dan awan bernari-nari bebas. Sayang sekali jika cuaca seindah ini dilewati dengan mengurung diri di dalam ruangan.

"Minnie, ayo kita jalan-jalan keluar.", ajak Kyuhyun, memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.

Sungmin mengerucutkan bibirnya. "Memangnya kamu tahu wilayah sini?", tanya Sungmin kesal. Sebenarnya ia malas harus berduaan dengan namja di sebelahnya itu.

Kyuhyun menyeringai. "Selama ini bukannya kita menjelajahi negara tanpa tahu dan mengenal siapapun? Kenapa sekarang kamu cemas? Tenang saja. Ayolah! Aku tidak suka berada di dalam sini terus. Kamu mau ikut atau aku tinggal sendiri?", kata Kyuhyun sedikit mengancam.

Sungmin menghela napas panjang, lalu mengambil tas kecilnya di dalam kamar Heechul. "Ayo. Lebih baik kita berpetualang saja!", ucapnya pasrah.

Keduanya berjalan keluar flat, menapaki jalan setapak tanpa arah tujuan. Kyuhyun beberapa kali mengambil gambar dengan camera pocket miliknya. Sungmin menarik tangan Kyuhyun, meminta perhatian dari namja satu itu. "Kita mau kemana?", tanya Sungmin, setelah ia berkutat dengan pikirannya sendiri yang bingung arah tujuan mereka.

"Aku dengar Schloss Schönbrunn Palace cukup menarik untuk dikunjungi.", jawab Kyuhyun mengusulkan.

"Kamu tahu tempatnya?", tanya Sungmin tidak yakin.

"Aku membawa peta, Min. Tenang saja!", jawab Kyuhyun percaya diri. "Kata recepsionist flat lokasinya tidak jauh. Ayo berjalan. Sekalian kita cari warung kebab untuk makan siang.", lanjut Kyuhyun, mengulurkan tangannya agar ia dan Sungmin dapat bergandengtangan. Sungmin menyambut uluran tangan Kyuhyun, membuat namja itu ingin melonjak kegirangan.

KyuMin berjalan kaki melalui Mariahifer Strase menuju ke Schloss Schönbrunn Palace disebelah barat. Kawasan ini adalah tempat utama yang harus dikunjungi jika ke Wina. Istana ini terletak di atas bukit dan berdasarkan peta yang diberikan oleh penjaga flat, lokasinya tidak jauh. Jadi KyuMin memutuskan untuk berjalan kaki sambil mencari restoran kebab untuk makan siang. Tidak seperti Budapest dan Bratislava atau Praha, warung kebab milik keturunan Turki banyak terdapat di Wina. Ini karena, kedatangan pekerja migran dari Turki terjadi pada tahun 1960. Kini Austria memiliki warga Muslim sekitar 6 persen dari total warganya. Selain Turki, warga Muslim terdiri dari bangsa Bosnia-Herzegovina, Pakistan dan Arab. Makanan halal lebih mudah ditemukan di kota Wina.

Sesungguhnya kompleks istana Schönbrunn ini sangat luas dan indah dengan taman-taman yang luas. Memasuki pintu gerbang istana ini jelas terlihat istana besar dengan gaya baroque yang dibangun pada abad ke 18. Arsitekturnya persis Versailles di kota Paris. Pengunjung membutuhkan waktu seharian jika mau melihat keseluruhan tempat ini. Schönbrunn berarti 'beautiful spring' karena dikatakan tempat ini sangat cantik dengan bunga-bunga berkembangan ketika di musim semi. Jadi tidak heran, ia menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan dari dalam dan juga manca negara. Bahkan karena sejarah istana ini yang lama, ia juga telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia Unesco.

Taman di istana ini begitu indah. Berbagai bunga tersedia di sini. Beraneka ragam warna menambah suasana meriah. Ditambah lagi tatanan taman yang begitu rapi dan indah. Sungmin menghampiri beberapa bunga mawar yang berjejer rapi sepanjang jalan di sisi mereka. Sungmin menghirup aroma mawar yang menusuk indera penciumannya. Kedua tangan Sungmin membentang, menikmati kesejukan dan ketenangan yang ditawarkan suasana taman ini. Kyuhyun hanya bisa tersenyum, melihat pujaan hatinya merasa senang. Tanpa Sungmin sadari, Kyuhyun telah mengambil potret dirinya beberapa kali.

Untuk pasangan yang sedang bercinta, suasananya sungguh romantis bahkan lebih romantis dari kota Paris. Berjalan ke bagian dalam ke Schlosspark, Sungmin terlihat kagum dengan taman yang sungguh luas dan ia merasa bisa tersesat didalamnya. Meskipun sudah berjalan lebih 3 km ke istana dan taman itu, kaki mereka masih bersemangat melangkah karena perasaaan takjubnya kepada keindahan taman Schlosspark.

Dipuncak bukit yang sejalan dengan istana pada ketinggian 60 meter, jelas terlihat sebuah gerbang bernama Gloriette yang berarti 'little glory'. Sungmin meronta-ronta senang untuk mendekati gerbang itu meskipun itu tampak sayup dipuncak bukit.

"Ayo, Kyu! CEPATLAAAAH!", teriak Sungmin di anak tangga atas.

Kyuhyun melangkah gontai. Rasa lelah mulai menghinggapi dirinya. Sesak. Kebutuhan akan oksigen mulai meraung-raung di dalam paru-parunya. Kyuhyun hanya bisa mengangguk, menanggapi teriakan Sungmin. Yeoja manis-periang itu menuruni tangga, menarik kedua tangan Kyuhyun.

"Ayo, Kyu! Jangan manja! Kamu ini namja. Sebentar lagi kita sampai!", kata Sungmin menyemangati. Akhirnya keduanya berjalan sambil bergandengan tangan sepanjang anak tangga itu. Bukankah ini nampak romantis? Seperti sepasang kekasih, bukan?

Keduanya terus melangkah menaiki tangga berbentuk zigzag yang dimulai di tugu Neptunebrunnen. Sampai dipuncak bukit mereka duduk di atas rumput yang hijau sambil melihat kebawah dengan taman-taman dan sebagian kota Wina. Memang mangasyikkan dan tanpa tidak disadari matahari semakin hilang diufuk dan langit semakin gelap yang menandakan hari hampir senja. Baru terasa kaki mereka kejang dan semakin lemah melangkah. Akhirnya KyuMin memutuskan balik ke flat dengan naik U-Bahn saja dari stasiun yang terdekat dan melanjutkan petualangan di kota Wina keesokkan hari saja.

.

.

L( ^.^ L)…::TBC::…(#O.o )a

.

.


First PUBLISHED at Lee Yeomin Ha (FB acc)

Monday, September 17, 2012 at 11:45pm

~You can visit this fanfiction on my wordpress: .com~

Thanks for all your reviews!

^.^/