Let's Start The Game


Genre: Romance

Rated: T

Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, alur berantakan, dll

Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto

Let's Start The Game©Yara Aresha


Chapter Four


Keesokan harinya, Uchiha Sasuke datang ke sekolah sedikit lebih pagi dari biasanya, angin pagi yang sejuk begitu ramah membelai punggungnya. Tampaknya hampir sampai di penghujung musim panas, karena pagi ini udara tidak terlalu panas di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Langit hari ini juga biru, terlihat lebih biru dari biasanya. Sasuke berdiri tegak di depan lokernya, membenahi buku-buku pelajarannya untuk hari ini.

Setelah selesai memasukkan buku-bukunya dan mengunci lokernya, ia melihat Gaara dan Sakura berjalan beriringan menuju loker, ada yang ganjil dalam pandangannya. Akasuna Sasori tidak bersama mereka hari ini. Yah, setidaknya Sasuke berhasil mengusir laki-laki merah itu dari sisi Sakura. Dan ini merupakan hal yang baik untuk Sasuke.

Ia melihat Sakura menuju lokernya yang berjarak tidak terlalu jauh dengan miliknya. Sakura berdiri di depan lokernya, memutar kunci, dan membuka lokernya, sementara Gaara berjalan ke arah loker miliknya di sisi yang lain, suara gemerincing kunci jaguar hitamnya mengalun di sepanjang koridor.

Mengabaikan bunyi yang sedikit mengganggu itu, Sasuke kemudian berjalan menuju loker Sakura.

"Ohayou, Saku-koi," Sasuke berbisik di telinga Sakura, menunggu Sakura untuk berbalik.

Tidak menunggu waktu lama, Sakura pun membalikkan tubuhnya, seringai sombong terbentuk di bibir mungilnya. Dia menarik leher Sasuke dengan kedua tangannya, membuat Sasuke sedikit kesulitan bernapas karena sesak, tapi kemudian rasa sesak itu hilang saat Sakura membelai leher pemuda itu dengan gerakan yang eksotis, perlahan-lahan Sakura menarik turun kepala Sasuke.

Yang mengejutkan Sasuke, ketika ia merasakan bibir lembut Sakura menyentuh bibirnya. Sakura menciumnya. Langsung saja Sasuke membalas ciuman itu, ini adalah hal yang selalu ia inginkan sejak awal pertemuannya dengan Sakura.

Keduanya berdiri di depan loker dengan bibir yang bersentuhan dan lidah yang saling berpagutan. Merasa kehabisan napas, dengan cemas Sasuke menarik diri beberapa detik kemudian. Sasuke merasakan bibirnya tergelitik, dan ia tahu ia menginginkan lebih. Aneh. Ini tidak pernah terjadi dengan perempuan lain sebelumnya.

Beruntunglah mereka, sekitar loker mereka sepi saat itu.

Bulu-bulu halus di tangan Sasuke meremang, ia kembali menyentuh pinggang kecil Sakura untuk menarik tubuh gadis itu lebih dekat kepadanya. Onyx dan emerald saling bertatapan selama satu atau dua detik, keduanya saling terpesona, tepat sebelum Sasuke mencondongkan wajahnya untuk menyesap kembali rasa manis di bibir Sakura, Sakura melepaskan dirinya.

"Kau sudah menyerah belum?" Sakura tertawa mengejek.

Dia melakukan permainan ini dengan baik rupanya.

Sasuke mendengus, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tidak akan," Sasuke menyeringai, berusaha menyembunyikan fakta bahwa perlahan-lahan hatinya goyah ketika melihat Sakura, bahkan saat pertama kali pertemuan mereka.

Sakura mencibir, berbalik kembali menghadap ke lokernya, sedangkan Sasuke memutuskan untuk memeluknya dari belakang, diselingi obrolan-obrolan kecil. Ia menanyakan apa saja yang Sakura lakukan di rumah Gaara kemarin malam, apa saja yang ia dan Gaara bicarakan, dan bagaimana hubungannya dengan Akasuna Sasori.

Tunggu... Sejak kapan Sasuke peduli perasaan seseorang? Atau memiliki minat pada apa yang dibicarakan gadis itu kecuali tentang kehebatan dirinya?

"Yeah, aku menangis semalaman karena bertengkar lagi dengan Sasori-kun," entah kenapa Sakura menceritakannya pada Sasuke. Sasuke bisa mendengar suara Sakura sedikit bergetar.

"Sakura, jangan menangis di sini. Jika kau menangis, akan terlihat seperti kau baru saja kuputuskan," Sasuke berbisik di telinganya, menyelipkan helaian rambut merah muda Sakura ke belakang telinga gadis itu.

Sakura berbalik menghadap Sasuke, melepaskan pelukan Sasuke setelah ia menutup dan mengunci lokernya, lalu bersandar di lokernya dengan kedua tangannya yang di silangkan. "Kau tahu kalau kita tidak benar-benar pacaran, 'kan?" ucapnya dengan santai.

Sasuke tertawa. "Tentu saja aku tahu itu, tapi meskipun kita berpura-pura, kita harus menjadi aktor yang baik di kenyataanya. Ini kita lakukan jika kita ingin menjalankan kesepakatan kita dengan cara yang benar. Jadi kau tidak bisa menghindari semua ini," ujar Sasuke.

"Hhh. Baiklah, apa sebaiknya kita pergi ke suatu tempat dan saling mengenal pribadi masing-masing? Agar kau dengan cepat menyerah dan bertekuk lutut dihadapanku, bagaimana?" balas Sakura.

Sasuke memutar bola matanya. "Apapun untukmu, Sayang. Bagaimana jika hari ini setelah aku latihan sepakbola, kau juga harus latihan cheer 'kan? Aku dengar kau lolos dalam audisi kemarin. Lalu, kita pergi ke suatu tempat, tentu saja aku akan mengantarmu pulang. Dan kau harus menerima jersey milikku, aku melihatmu memberikan kembali jersey milik Akasuna kemarin."

Sakura tampak mepertimbangkan ajakan Sasuke. Ia pikir Sasuke tidak akan langsung menyetujui rencananya. Ia perlu bersiap-siap, bukan? Sakura gelisah.

"Uh, tentu. Tapi bisakah kau memberiku waktu untuk pulang dan mengganti pakaianku nanti? Apa tidak apa-apa berkeliaran menggunakan seragam seperti ini?"

Sasuke menghela nafas. "Sakura, ini Tokyo. Tidak akan ada yang melarangmu mengenakan pakaian apapun, selain itu kita hanya akan berjalan-jalan saja. Jika kau kedinginan, aku akan meminjamkan jaket milikku, kulihat kau tidak memakainya hari ini," Sasuke menyeringai. "Selain itu, seragammu terlalu tipis dan pendek."

Wajah Sakura merona, ia memalingkan wajahnya ke sisi kiri.

"Ayo, kita ke kelas," ujar Sasuke, ia memberikan kecupan singkat di bibir Sakura sebelum berjalan menuju kelas. Dan ketika Sasuke menoleh ke belakang, Sakura hanya berdiri di sana. Terpaku.

Sasuke menyentuh bibirnya sendiri dengan jemarinya. Ia tersenyum kelewat lebar. Bibir Sakura adalah bibir terbaik yang pernah Sasuke rasakan. Sasuke berasumsi bahwa Sakura akan jatuh hati padanya dalam waktu dekat ini, gadis itu akan merengek dan menangis, meminta Sasuke untuk berbalik mencintainya. Begitulah pemikiran arogan Sasuke. Padahal ia tidak menyadari, bahwa lambat laun gadis itu akan menjadi candu baginya.

.

.

Sakura membanting pensil mekaniknya ke atas sebuah buku tebal bertuliskan Fisika di sampul depannya. Saat ini ia sedang berada di tengah-tengah pelajaran Fisika. Ia menghela nafas panjang, lalu mengacak-acak rambutnya pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Wajahnya ia tengadahkan ke atas, emerald-nya menerawang ke langit-langit salah satu kelas elite di Konoha High itu. Otaknya mencoba mengingat-ingat kejadian apa saja yang telah ia lewati selama ia menginjakan kakinya di Konoha High. Mengabaikan suara keras gurunya yang tengah menjelaskan materi di depan kelas.

Mengetahui bahwa teman sebangkunya bertingkah aneh, Tayuya menepuk bahu Sakura. Tayuya tertawa kecil saat Sakura terkejut dengan tepukan pelan yang ia berikan.

"Kau kenapa?" bisik Tayuya.

Sakura membenarkan posisi duduknya, ia menghela napas kembali. "Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa menjadi perempuan terbodoh di dunia."

Tayuya mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"

"Aku kepikiran si kepala ayam," kata Sakura yang kini meletakan kepalanya di atas meja. Tayuya tercekat dan menutup mulutnya.

"Sasuke maksudmu? Kau memikirkannya? Jangan bilang kau suka padanya," Sakura memandang Tayuya dengan bosan.

"Bodoh, tentu saja tidak. Aku hanya berpikir apakah aku terlalu berani? Apa aku memang harus bersikap agresif seperti itu? Ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehku agar dia jatuh hati padaku."

Mereka masih saling berbisik, takut jika guru killer di depan sana mendengar suara mereka berdua. Tayuya yang tidak mengerti dengan apa yang Sakura bicarakan menyanggah dagunya dengan tangan kanannya. Ia memiringkan kepalanya, menatap Sakura dengan penuh tanya.

"Aku tidak mengerti maksudmu, aku tahu kau dan Sasuke taruhan, tapi aku tidak mengerti apanya yang agresif itu?"

Sakura menghela napas untuk yang kesekian kalinya. "Tadi pagi aku menyerang Uchiha Sasuke di koridor loker, aku menciumnya duluan."

Tayuya mengerjapkan kedua matanya. "Kau apa?" tanyanya lagi, tidak yakin dengan pendengarannya.

Sakura mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas bibir merahnya.

"APA? KAU MENCIUM SASUKE?" teriak Tayuya, mengejutkan Sakura dan seisi kelas 2-A.

Shit!

"Kenapa kau teriak sih?" ucap Sakura seraya membekap mulut Tayuya.

"Sakura, Tayuya! Kalian tahu? Tidak ada obrolan saat pelajaran berlangsung. Kalian di hukum! Sekarang, berdiri di luar kelas, angkat satu kaki kalian sampai pelajaran selesai! Jangan kira aku tidak memerhatikan kalian, jadi laksanakan hukuman ini dengan baik!" hardik guru fisika itu, menatap tajam keduanya.

Secepat kilat Sakura dan Tayuya keluar dari kelas untuk menjalankan hukuman.

Tanpa Sakura sadari, Uchiha Sasuke menyunggingkan senyuman dan terkekeh pelan.

"Bodoh."

.

.

Waktu menunjukkan pukul 16.00, kegiatan ekstra pun di bubarkan. Saat ini Sakura tengah berada di depan lokernya, terdiam di sana. Pikirannya kembali berlayar. Apa yang harus ia lakukan nanti bersama Sasuke? Apa yang akan ia katakan, dan bagaimana ia harus bereaksi terhadap perlakuan Sasuke nanti. Sakura tidak ingin menjadi nomor 201, jadi ia harus bergerak lebih cepat daripada Sasuke, bergerak satu langkah lebih depan dari Sasuke atau ia menjadi pihak yang kalah.

Sakura menghela napas panjang. Kemudian ia berjalan di sekitar koridor, bertemu dengan Gaara, dan memberinya pelukan singkat. Sakura berpamitan kepadanya dan menyuruh Gaara untuk memberitahu kedua orangtuanya, bahwa Sakura akan pulang sekitar jam tujuh atau delapan malam nanti.

"Ponselku tidak akan kumatikan, jadi kalau kau butuh sesuatu, hubungi saja nomorku, ya?"

"Kau pergi dengan siapa?" tanya Gaara penuh selidik.

Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali, lalu ia berujar ragu. "Umm, Sasuke. Tapi tenang saja, aku hanya jalan-jalan dengannya. Kau tahu? Ini semacam observasi, yaa sekedar mencari tahu kelemahannya, begitu. Nah, dia sudah menungguku, aku pergi ya, daah~" sebelum sempat Gaara membuka mulutnya, Sakura sudah melenggang pergi.

"Tck, Sakura," perempatan siku muncul di dahi Gaara.

.

.

Sakura bergegas menuju tempat parkiran sekolahnya, menghampiri Sasuke yang tengah menunggu dirinya di sebelah mobil Audi hitam. Sasuke menyilangkan tangannya, dan menatap Sakura.

"Sore, Sayang. Bagaimana latihanmu dan hukumanmu?" Sasuke menyeringai. "Ah, maaf karena jadwal latihan kita bentrok, aku jadi tidak bisa melihatmu," sambungnya, masih dengan seringaian misteriusnya.

Sakura mengabaikan ejekan Sasuke dan tersenyum ramah, dengan cepat gadis itu memeluk tubuh Sasuke erat, lalu mengecup pipi Sasuke, sebelum Sakura menceritakan tentang latihan cheer-nya. Sakura membuat semua orang tercengang, ketika mereka mengetahui Karin bukanlah satu-satunya anggota cheerleaders yang bisa melakukan Arabian style.

Dan Sasuke menceritakan tentang sepak terjangnya di lapangan. Sasuke mengatakan ia bisa menendang bola sampai jarak 15 meter. Saat itu Sakura tidak begitu memberi perhatian pada cerita Sasuke, tiba-tiba saja pikirannya dipenuhi oleh Sasori lagi. Untuk beberapa alasan ia merasa sangat buruk, sepertinya Sakura memang harus memaafkannya. Mungkin Sakura memang salah.

"Ayo, aku ingin menunjukkan suatu tempat kepadamu," ucapan Sasuke membuyarkan lamunan Sakura, kemudian Sasuke membuka pintu mobilnya, menyuruh Sakura untuk masuk.

Sakura pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Sakura mengamati isi mobil Sasuke, di kursi belakangnya berserakan buku-buku olahraga, tidak hanya tentang sepakbola. Setelah itu, Sasuke segera duduk di kursi kemudi, menempatkan kunci kontak, menyalakan starter sehingga mesin mobil pun hidup.

"Kau akan membawaku kemana?" Sakura bertanya dengan suara manis, ia mengabaikan seatbelt-nya.

Sasuke menyadarinya, ia segera menarik seatbelt Sakura dan memasangkan untuk gadis itu. Sasuke kembali ke tempat duduknya dan berujar lemas. "Saku-koi, kau tidak boleh melupakan seatbelt-mu sebelum pergi, kau bisa celaka. Kau akan tahu nanti aku membawamu kemana," ujarnya misterus.

Sakura menghela nafas.

.

.

Sakura menurunkan kaca jendela mobil, satu lengannya bersandar di sisi jendela, membiarkan angin bertiup menerpa wajah dan menggoyankan rambut merah mudanya. Udara sejuk langsung saja menyelimuti tubuh gadis itu. Matahari menggantung rendah di langit. Saat itu sekitar pukul 16.30.

Sasuke melirik kearah Sakura. Ia tersenyum kecil. Kemudian mengulurkan tangan kanannya dan meraih tangan Sakura yang tidak bertumpu pada sisi jendela. Ia menautkan jari-jemari mereka. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari luar jendela, Sakura membalas genggaman Sasuke.

Tangan Sasuke begitu besar dan hangat, Sakura merasa bahwa ini adalah hal yang benar. Namun, tiba-tiba saja Sakura kembali teringat Sasori, dan untuk beberapa alasan, pikirannya menjadi kacau, hatinya gelisah.

"Sakura, kita sudah sampai," ujar Sasuke, ia melepaskan tangan Sakura dari genggamannya. Entah mengapa Sakura merasakan kekosongan dan tangannya menjadi lebih dingin.

Sakura dan Sasuke keluar dari mobil. Sakura melihat sekelilingnya, sebenarnya selama 45 menit ini Sasuke membawanya kemana? Dan ketika Sakura menginjakan kakinya di luar, ia terkagum-kagum dibuatnya. Pemandangan di depannya begitu indah.

Rasa kagumnya teralihkan saat Sakura merasa tubuhnya menggigil. Langit menampakan semburat merah muda dan jingga, matahari telah kembali ke peraduannya. Sakura kini berada di atas tebing, di bawahnya terhampar lautan berwarna biru yang berkilauan. Di sekeliling tebing itu menjulang pohon-pohon tinggi, menambah keindahan alam disana. Sakura tersenyum senang, ia menghirup udara segar di tempat itu dalam-dalam.

"Suka? Aku selalu datang ke sini ketika aku banyak pikiran. Ini adalah tempat yang menenangkan," Sasuke berdiri di belakang Sakura, memeluk Sakura dari belakang.

Gigi Sakura bergemeletuk, reaksi alami tubuhnya, ketika ia kedinginan. Tubuhnya semakin menggigil dan bergerak resah di dalam pelukan Sasuke.

"Pakailah!" Sasuke melepaskan pelukannya dan memberikan jaket hitamnya kepada Sakura.

Di belakang jaket itu tertulis nama 'Uchiha Sasuke' dan di bagian dada depan jaket itu tertulis nama sekolah mereka, Konoha High dan nomor 28. Sakura baru menyadari bahwa nomor punggung Sasuke sama seperti tanggal lahirnya.

"Kau yakin?" tanya Sakura dan segera meraih jaket yang disodorkan oleh Sasuke. Sasuke mengangguk. Dengan segera Sakura memakai jaket itu dan menarik tudung jaket Sasuke menutupi kepalanya.

"Terima kasih," Sakura bergumam, ia menyandarkan tubuhnya kepada dada bidang Sasuke. Sasuke segera melingkarkan tangannya di pinggang Sakura, dan Sakura meletakkan tangannya diatas tangan Sasuke. Ketika Sasuke menyandarkan dagunya di atas kepala Sakura, Sakura akui bahwa ini adalah saat yang paling sempurna. Semuanya terasa begitu benar, dan waktu terasa berhenti saat itu juga. Keduanya saling menikmati moment yang tengah terjadi itu. Enggan menarik diri.

Kemudian keduanya tersadar saat matahari semakin tenggelam dan langit menjadi lebih gelap. Sasuke mengecup bagian atas kepala Sakura, dan berbisik. "Kau mau makan malam?"

Sakura menarik nafasnya dan tersenyum. "Hm, tentu."

Lalu keduanya saling melepaskan diri. Sasuke menarik lengan Sakura lembut dan mereka berjalan ke arah mobil Sasuke.

.

.

"Aku ingin ke sini lagi," Sakura bergumam saat ia kembali duduk di kursi penumpang.

"Hn, kapan saja kau inginkan. Sekarang, aku kelaparan. Kau mau makan apa?" tanya Sasuke dengan senyuman yang aneh, hal ini membuat Sakura tertawa geli.

"Um, aku ingin jajanan di pinggir jalan, bagaimana kalau takoyaki? Kau tidak keberatan?" jawab Sakura, setelah tawanya reda.

"Tentu saja. Aku pasti akan selalu memenuhi permintaanmu, Saku-koi," balas Sasuke dengan senyuman anehnya.

"Bodoh," Sakura memberinya pukulan kecil dan tertawa kecil.

Lagi. Perasaan abstrak itu kembali menyelimuti Sasuke. Tiba-tiba saja, tubuhnya menghangat, senyuman Sakura terasa begitu menyenangkan untuknya.

Setelah itu, Sasuke menyalakan mobilnya, dan mereka berdua saling melemparkan ejekan-ejakan tidak berkelas selama perjalanan menuju kedai takoyaki yang terletak di pinggir stasiun kereta.

Lima belas menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan.

"Makan di sini atau dibawa pulang, Tuan?" wanita penjual takoyaki itu bertanya seraya mengedipkan sebelah matanya kepada Sasuke, berusaha menggodanya.

"Di bawa pulang," ujar Sasuke dingin, tidak menanggapi perlakuan sang penjual takoyaki.

Kemudian wanita itu menulis nomor ponselnya di atas kertas kecil, memberikannya kepada Sasuke. Namun, Sasuke merobeknya dan segera menyambar bungkusan takoyakinya. Dengan tangannya yang memeluk pinggang Sakura, Sasuke membawa Sakura keluar kedai takoyaki.

"Maaf, aku sudah punya pacar," ujarnya.

Sakura tersenyum penuh kemenangan, ia menjulurkan lidahnya, senang Sasuke tidak menunjukkan sikap player-nya kali ini.

.

.

Sekali lagi, mobil Audi hitam milik Sasuke menembus padatnya jalan raya. Kali ini tujuan mereka adalah sebuah taman bermain yang berada di halaman sebuah sekolah dasar. Mereka berdua kemudian duduk di atas jembatan kecil, bersila dan saling berhadapan. Menyantap takoyaki mereka, sementara Sasuke menceritakan beberapa cerita lucu tentang bagaimana dirinya dan Sasori berakhir di rumah sakit saat pertandingan sepak bola tahun kemarin. Hal ini membuat Sakura tidak bisa menahan tawanya, tidak peduli seberapa buruk cedera yang Sasuke dan Sasori dapatkan. Toh, tidak ada yang fatal atau mengancam kehidupan mereka, sehingga Sakura tidak salah untuk tertawa, bukan? Bahkan Sasuke ikut tertawa juga dengan kekonyolannya sendiri.

Setelah mereka memakan seperempat takoyaki mereka, Sakura merasa ia sudah tidak lapar lagi, maka ia dengan pelan melemparkan sisa bungkusan takoyakinya kepada Sasuke, cengiran khas terlihat di wajah cantik Sakura. Mata Sasuke melebar atas tindakan Sakura, Sasuke tersenyum nakal dan berdiri.

Seakan mengetahui isi pikiran Sasuke, Sakura segera berlari, melompat turun dari jembatan kecil itu menuju lapangan sepak bola mini. Namun, dengan cepat Sasuke berhasil menangkapnya, ia meraih pinggang Sakura dan mengangkat tubuhnya, memutarnya di udara.

Sakura tertawa renyah. "Kyaaaa~ turunkan aku Sasuke!"

Sasuke kemudian menurunkan Sakura, laki-laki raven itu tertawa terbahak-bahak.

Mereka mengatur napas terengah mereka, dan tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Tidak ada yang memulai untuk memecah keheningan itu. Karena entah mengapa, keheningan itu bukan menciptakan sebuah kecanggungan diantara mereka, melainkan rasa nyaman dan hangat.

Tanpa komando, Sasuke mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura. Dengan nalurinya, Sakura sedikit berjinjit, ia mengalungkan lengannya melingkari leher Sasuke, sedangkan Sasuke memeluk pinggang Sakura menariknya untuk lebih dekat. Jarak di antara mereka pun lenyap, bibir keduanya bersentuhan lembut. Mereka bercumbu di tengah lapangan sepakbola mini itu.

.

.

Kedua sejoli itu nampaknya masih akan melanjutkan 'kegiatan' mereka, jika saja lampu jalan tidak menyala. Dengan enggan, keduanya saling melepaskan diri, saling melemparkan senyum, kemudian Sasuke kembali ke atas jembatan untuk menghabiskan sisa takoyakinya―dan Sakura. Sakura melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, ia menghela napas, waktu menunjukan pukul 19.57.

"Sasuke, aku harus pulang. Terima kasih untuk hari ini dan takoyakinya," ujar Sakura tersenyum manis.

"Anytime," balas Sasuke dengan mulutnya yang penuh.

"Pig," Sakura terkikik.

"Kau akan mencintaiku," kata Sasuke percaya diri.

"Mimpimu!" balas Sakura.

"Yeah, bahkan dalam mimpimu sekalipun, kau akan mencintaiku," Sasuke menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.

Keduanya terlihat menikmati argumen mereka.

"Hm, tentu saja! Itu terjadi dalam mimpi burukku, Sasuke-koi~"

Argumen diantara keduanya berakhir saat mereka memutuskan untuk kembali ke dalam mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, Sasuke mencondongkan badannya ke sisi kiri Sakura, mengecup bibir ranum Sakura sekali lagi.

"Aku akan menjadi pemenang," bisiknya.

.

.

Rupanya Sakura sampai di kediaman Sabaku sedikit terlambat dari waktu yang ia janjikan, pukul 20.30. Disana Sakura melihat Gaara mondar-mandir di ruang tamu dengan gelisah. Melipat kedua tangannya di depan dada ketika Sakura menampakkan dirinya.

"Dari mana saja, Nona?" Gaara meninggikan suaranya sedikit. "Dan kulihat kau memakai jaket milik Sasuke, kau memiliki jersey-nya juga."

"Aku dan Sasuke melakukan hal-hal menyenangkan, seperti melihat matahari terbenam, kemudian makan takoyaki di taman bermain sekolah dasar. Ah, ya aku memakai jaket Sasuke karena aku kedinginan, aku tidak membawa jaketku. Soal jersey siapa yang aku pilih, itu terserah aku. Gaara, aku harus mengerjakan tugasku sekarang," ujar Sakura santai, ia beranjak ke kamarnya yang berada di lantai atas. Namun, sebelum ia sampai diundakan pertama, Gaara menarik lengannya.

"Aku khawatir! Kau hampir memberiku serangan jantung, Sakura. Ditambah lagi Kaa-san dan Tou-san tidak akan pulang hari ini," Gaara menuntut.

Sakura tersenyum lembut. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, Gaara. Semenjak Tou-san ku meninggal, kau seperti pengganti dirinya. Tapi, aku bisa menjaga diriku sendiri sekarang," Sakura memeluk Gaara dengan erat.

"Aku menyayangimu. Kau itu seperti sosok ayah dan kakak untukku Gaara."

Gaara membalas pelukannya, beberapa menit kemudian pelukan itu terlepas.

"Kau tahu Gaara? Permainan Uchiha Sasuke ternyata memang menyenangkan," ucapan Sakura membuat Gaara mengerutkan keningnya.

"Kau ingat apa kata-kataku?" Gaara mengingatkan.

Sakura tertawa geli. "Ha'i, jika aku jatuh cinta padanya dan aku terluka, maka kau akan menghajarnya. Begitu? Ah, baiklah aku ke atas ya? Aku mau mandi dan mengerjakan tugasku, oyasumi~"

Dan kecupan singkat di pipi Gaara, mampu meredam kekesalan laki-laki itu.

.

.

to be continued