Previous Chapt:
"Dari mana saja, Nona?" Gaara meninggikan suaranya sedikit. "Dan kulihat kau memakai jaket milik Sasuke, kau memiliki jersey-nya juga."
"Aku dan Sasuke melakukan hal-hal menyenangkan, seperti melihat matahari terbenam, kemudian makan takoyaki di taman bermain sekolah dasar. Ah, ya aku memakai jaket Sasuke karena aku kedinginan, aku tidak membawa jaketku. Soal jersey siapa yang aku pilih, itu terserah aku. Gaara, aku harus mengerjakan tugasku sekarang," ujar Sakura santai, ia beranjak ke kamarnya yang berada di lantai atas. Namun, sebelum ia sampai diundakan pertama, Gaara menarik lengannya.
"Aku khawatir! Kau hampir memberiku serangan jantung, Sakura. Ditambah lagi Kaa-san dan Tou-san tidak akan pulang hari ini," Gaara menuntut.
Sakura tersenyum lembut. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, Gaara. Semenjak Tou-san ku meninggal, kau seperti pengganti dirinya. Tapi, aku bisa menjaga diriku sendiri sekarang," Sakura memeluk Gaara dengan erat.
"Aku menyayangimu. Kau itu seperti sosok ayah dan kakak untukku Gaara."
Gaara membalas pelukannya, beberapa menit kemudian pelukan itu terlepas.
"Kau tahu Gaara? Permainan Uchiha Sasuke ternyata memang menyenangkan," ucapan Sakura membuat Gaara mengerutkan keningnya.
"Kau ingat apa kata-kataku?" Gaara mengingatkan.
Sakura tertawa geli. "Ha'i, jika aku jatuh cinta padanya dan aku terluka, maka kau akan menghajarnya. Begitu? Ah, baiklah aku ke atas ya? Aku mau mandi dan mengerjakan tugasku,oyasumi~"
Dan kecupan singkat di pipi Gaara, mampu meredam kekesalan laki-laki itu.
Let's Start The Game
Genre: Romance
Rated: T
Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, alur berantakan, dll
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Let's Start The Game©Yara Aresha
Chapter Five
Di tempat lain pada waktu yang sama, Uchiha Sasuke tengah dilanda gundah yang dahsyat. Sejak 20 menit yang lalu, fokus matanya tidak ia alihkan dari layar ponselnya yang menampakkan potret seorang gadis manis berambut seperti gulali. Kepalanya berputar-putar. Ia berbaring di tempat tidurnya, dan kembali menatap lekat foto Sakura yang ia ambil secara diam-diam sore tadi.
"So damn good! Gadis ini begitu Sempurna. Aku yakin, bocah merah alias Sasori memiliki foto Sakura juga. Dia pasti memasang foto Sakura sebagai wallpaper ponselnya, lalu screensaver komputer atau laptopnya adalah foto dirinya bersama Sakura dan Gaara ketika mereka berlibur di suatu pantai―" jeda sejenak. Sasuke bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk bersila di atas tempat tidurnya.
"―sial! Dia pasti melihat Sakura dengan bikini sexy-nya. Sangat tidak adil! Aku harus mengajaknya pergi ke pantai, sebelum musim panas dan permainan ini berakhir!"
Semakin malam nampaknya membuat pikiran Uchiha bungsu itu semakin liar dan tidak tentu arah. Kemudian Sasuke memerhatikan satu gambar lagi yang ia ambil ketika dirinya dan Sakura berada ditebing. Sakura tidak melihat kamera, tapi ia menatap langit. Sinar matahari jingga memantulkan ilusi warna keemasan pada surai merah mudamilik Sakura. Menakjubkan. Ia tampak seperti bidadari yang turun dari langit, begitu pikiran Sasuke. Bidadari yang akan menjadi nomor 201.
Sasuke tersenyum miris. Ia tahu, masalah terbesarnya saat ini adalah bagaimana cara untuk menghentikan perasaan yang baru saja bersemi di dalam hatinya. Sasuke pikir hal ini tidak akan pernah terjadi, tetapi hanya dalam waktu dua hari, Sakura mampu merubah hatinya. Ya, dia mulai jatuh hati dan tertarik pada targetnya itu.
Sasuke menghela napas panjang ketika ia menyadari bahwa permainannya dengan Sakura ini belum menentukkan batas waktu. Sasuke melirik jam dinding di kamarnya, waktu menunjukkan pukul 20.55. Maka cepat-cepat ia menekan digit angka yang baru berhasil ia hapal di luar kepalanya. Berharap sang pemilik nomor itu masih terjaga dan mengangkat panggilannya.
Tuut Tuut Tuut...
"Mau apa kau?" Jawab suara ketus di seberang sana.
Sasuke mendengus mendengar jawaban dari kekasih pura-puranya itu. "Hei, begitu caramu menjawab telepon dari kekasihmu, Saku-koi?" balas Sasuke yang kini kembali berbaring di atas tempat tidur.
Sasuke bisa mendengar Sakura tertawa hambar disana. "Langsung saja, aku malas basa-basi. Tugasku masih belum selesai, tahu! Cepat katakan apa maumu!" katanya.
Gadis ini, benar-benar... baru saja tadi sore Sakura bersikap baik. Sekarang sifat aslinya muncul lagi. Sial!
"Baiklah―" Sasuke sebenarnya masih ingin menggoda Sakura. Namun ia mengurungkan niatnya, mengingat mood Sakura sedang tidak baik sekarang. "Kita belum menentukan batas dari permainan kita ini, Sakura."
Jeda sejenak, tidak ada interaksi dari keduanya selama beberapa menit, sebelum Sakura membuka suaranya.
"Benar juga. Bagaimana kalau sebulan, aku tidak ingin berlama-lama dekat denganmu," ujar Sakura.
Sebulan? Itu terlalu singkat, girl!
"Tiga bulan dan tidak ada bantahan. Kau harus setuju. Lalu, hari minggu ini kau harus menemaniku ke pantai!" balas Sasuke, ia menyeringai, yah meskipun Sakura tidak bisa melihatnya.
Setelah itu, Sasuke berinisiatif menjauhkan ponselnya dari telinga kirinya, takut-takut jika Sakura akan meneriakinya. Dan benar saja, gadis itu berteriak nyaring di seberang sana.
"UCHIHA! Kau gila! Kau benar-benar tukang pemaksa dan perenggut hak asasiku!" bersamaan dengan kalimat terakhir Sakura, sambungan telepon itu terputus secara sepihak.
Sasuke menahan tawanya. Meskipun kata-kata Sakura seperti itu, namun Sasuke yakin bahwa Sakura tidak bisa menolaknya. Sasuke berharap, Sakura segera mengakui bahwa gadis itu menyukainya, bertekuk lutut di hadapannya. Ia harus bertahan sampai Sakura benar-benar menyerah. Dengan begitu kekalahan bukan terletak pada dirinya. Maka, dengan senang hati, Sasuke akan menerima pernyataan cinta dari Sakura. See? Uchiha Sasuke memang egois.
Gadisku benar-benar menarik. Hn, tapi jangan harap aku akan mengalah. Aku penasaran dan tidak terima gadis itu tidak terpesona padaku. Hanya dia satu-satunya yang tidak tertarik dengan Uchiha Sasuke. Yah, meskipun aku meragukannya, aku yakin dia sebenarnya tertarik padaku, tapi dia terlalu naif dan gengsi. Tunggu saja waktunya saat dia terhipnotis oleh daya pikatku.
.
.
Sakura mencoba menepis pikiran-pikiran aneh akibat kalimat yang Sasuke lontarkan beberapa detik yang lalu dan pesan singkat yang laki-laki itu kirimkan.
From: Uchiha Sasuke
Selamat tidur, princess. Semoga mimpimu indah. I love you.
Sakura menutup ponsel flip-nya, beranjak dari meja belajarnya, berbalik dan duduk di atas tempat tidurnya. Rambut panjangnya yang terurai indah itu sedikit tertepa angin yang berasal dari luar jendela yang sengaja ia buka lebar. Entah mengapa, bibirnya saat ini menyunggingkan senyuman manis serta sorot mata yang berbinar. Suhu tubuhnya menghangat hanya dengan memikirkan Sasuke. Sakura menggeleng cepat dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Tidaaak! Bodoh! Dia hanya akting! Apa yang aku pikirkan, sih? Tidak mungkin aku m-me-menyukai si kepala ayam itu 'kan?" gumamnya ragu.
Sakura menghela napas panjang, dan menghembuskannya secara perlahan. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela. "Lagipula yang aku cintai itu Sasori-kun 'kan? Bukan Sasuke," bahkan Sakura pun meragukan perasaannya sendiri saat ini.
Angin dingin musim panas merengkuh tubuh Sakura yang ramping. Sorot matanya berubah menjadi sayu menatap ke arah balkon kamarnya. Desis udara yang semilir semakin menambah kesepian yang merasuki kalbunya. Tatapannya ia alihkan menatap langit. Tatapannya nanar. Suasana langit begitu gelap gulita tanpa kehadiran benda-benda langit yang meneranginya. Hati Sakura sedikit gusar.
"Sasori-kun. Aku merindukanmu," gumam Sakura.
Ini kali pertamanya Sakura dan Sasori terlibat pertengkaran hebat. Sejak dulu, mereka tidak pernah bertengkar lebih dari hitungan hari. Paling lama hanya tiga sampai lima jam saja. Tiga hari adalah rekor terlama mereka bertengkar. Sasori tidak menampakan batang hidungnya di hadapan Sakura hari ini. Sejak kemarin―ketika Sakura dan Sasori terlibat percakapan sengit di saluran telepon―nomor ponsel Sasori tidak bisa dihubungi kembali. Padahal mereka satu kelas, akan dengan mudah Sakura berbicara padanya dan meminta maaf, tapi ternyata tidak. Salahnya sendiri, saat Sasori menemuinya untuk menyelesaikan masalah, Sakura malah mengabaikannya. Sekarang, giliran Sasori yang mengabaikannya, Sakura menjadi uring-uringan sendiri.
.
.
Pukul 23.56, Sasori menepikan mobilnya di parkiran cafe langganannya yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Cafe yang memiliki arsitektur romawi kuno dengan dominasi kayu sebagai interiornya itu selalu bisa menenangkan kegundahan hati Sasori. Ditambah cafe yang buka 24 jam itu adalah milik saudara jauhnya, sehingga ia bisa sekedar berbincang-bincang ringan di sana untuk meredakan kegamangan hatinya. Selama ini jika ada yang mengganggu pikirannya, Sasori selalu berbagi cerita kepada dua sahabatnya sejak kecil―Gaara dan Sakura. Tapi, saat ini tidak mungkin jika Sasori berbagi cerita dengan objek yang membuatnya seperti kehilangan arah itu.
Sasori keluar dari dalam mobilnya dan menuju salah satu meja bar yang ada di pojokan cafe. Seorang maid menyambutnya dengan hangat. "Konbanwa, Sasori-san. Mau pesan apa?" tanya maid berambut coklat.
Saat itu suasana cafe sangat sepi. Hanya ada Sasori dan beberapa maid lainnya.
Sasori tersenyum tipis. "Ah, nanti saja Ayame-san. Bisa kau panggilkan Deidara?" katanya.
Maid bernama Ayame itu mengangguk dan memberi isyarat untuk Sasori menunggu sebentar. Ayame melesat ke dalam sebuah ruangan yang ada di dekat meja respsionis.
Tidak lama kemudian, sesosok laki-laki berambut pirang panjang keluar dari ruangan yang Ayame masuki tadi. Ia tersenyum lembut kearah Sasori, seraya membawa dua gelas vanilla latte di tangannya.
"Ada apa?" tanya laki-laki pemilik nama Deidara itu. Ia meletakkan dua buah gelas berisikan vanilla latte buatannya sendiri di atas meja bar, satu untuk dirinya dan satunya lagi ia sodorkan kepada Sasori. Lalu, Deidara duduk di salah satu kursi kosong yang ada di depan Sasori.
Sasori menarik napas dan menghembuskannya. "Aku bertengkar dengan Sakura. Ini sudah hampir tiga hari, kau tahu? Gadis itu benar-benar membuatku pusing," katanya.
Deidara mengerutkan keningnya dan bersandar di sandaran kursi.
"Nee, sebenarnya apa yang menyebabkan kalian bertengkar selama itu? Yang aku tahu, kalian tidak pernah bertengkar sampai berhari-hari," ujar Deidara.
Sasori menatap Deidara dengan tatapan yang sangat memprihatinkan. "Ini gara-gara adik Itachi, sahabatmu itu. Uchiha Sasuke tidak pernah berubah. Kau tahu, Deidara? Dia menjadikan Sakura sebagai targetnya. Dan aku marah saat Sakura dengan santainya berkata bahwa dia akan membuat Sasuke jatuh cinta padanya, dia itu bodoh atau apa? Deidara, aku muak dengan bocah tengik itu," emosi Sasori tersulut, ia mengacak rambutnya frustasi dan menggeram.
Deidara hanya menggelengkan kepalanya seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Ia terkekeh geli melihat kondisi sepupunya itu. Remaja yang tengah jatuh cinta memang selalu menjadi objek yang empuk untuk digoda.
"Hey, jangan lupa kalau kau juga masih bocah. Sebaiknya kalian segera berbaikkan. Kau mengalahlah pada Sakura-chan, dan dengarkan penjelasannya. Satu lagi, bisakah kau memanggilku dengan Deidara-nii? Tidak sopan sekali memanggil seseorang yang lebih tua darimu seperti itu."
"Ya, aku akan bicara dengannya nanti. Dan aku tidak mau memanggilmu Deidara-nii," jawab Sasori enteng.
Deidara merubah raut wajahnya menjadi sedatar mungkin. "Aku lebih tua enam tahun darimu, seharusnya kau memanggilku dengan sebutan aniki atau onii-chan sejak dulu!" perintah Deidara seraya menyesap vanilla latte miliknya sampai tidak bersisa.
"Kau ingin sekali kupanggil dengan sebutan Deidara-nii? Kurasa sebutan itu tidak cocok dengan sifatmu yang masih kekanak-kanakan," Sasori menyeringai.
Deidara menatapnya jengah, sialan bocah ini.
"Cepat pulang, sudah hampir tengah malam. Kau besok harus sekolah 'kan? Jika orang tuamu di Prancis tahu kelakuanmu di sini seperti ini, mereka akan menyeretmu ke sana."
Sasori mendengus kecil. "Malam ini aku menginap di sini saja. Aku malas pulang ke apartemenku. Lagipula besok hari Sabtu, kegiatan di sekolah hanya kegiatan ekstra. Jadi aku bisa masuk siang harinya," jeda sejenak, kemudian Sasori membuka mulutnya kembali. "Temani aku mengobrol sampai pagi ya, Dei-niichan," sambungnya.
"Kau tahu, Akasuna Sasori?" Deidara kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya menautkan kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap Sasori yang tengah menyesap vanilla latte-nya dengan bosan, "sifat menyebalkanmu tidak pernah hilang sejak dulu."
Sasori hanya memberinya cengiran seraya mengangkat bahunya.
"Hhh, bocah labil."
Malam itu adalah malam yang paling melelahkan untuk seorang Deidara. Tapi, biarlah demi sepupu tersayangnya ia rela terjaga hingga dini hari dan tidak mendapatkan jatah tidurnya. Meladeni remaja kadangkala memang membutuhkan energi ekstra.
.
.
Sabtu pagi yang cerah di Tokyo. Langit bersih tidak berawan dan sinar mentari pagi menerobos melalui sela-sela jendela, menghangatkan seisi ruangan yang luas itu usai melewati udara malam yang dingin. Uchiha Sasuke membuka matanya yang berat secara perlahan, lalu mendesah pelan. Ia membiarkan dirinya berbaring menikmati tempat tidurnya yang nyaman sedikit lebih lama. Semalam ia nyaris tidak tidur. Sepanjang malam pikirannya selalu tertuju pada gadis pemilik rambut sewarna dengan gulali itu. Sama sekali tidak membiarkannya tertidur dengan tenang.
Sasuke mengulurkan tangannya ke meja nakas di samping tempat tidur dan meraih jam wekernya yang berbunyi nyaring. Jam 08.45. Waktunya untuk bangun. Dengan malas ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolahnya.
Beberapa menit kemudian, Sasuke telah menggunakan celana jeans dan kaus berwarna putih berlengan pendek yang ia padu-padankan dengan jaket klub sepak bola luar favorite-nya―Barcelona―mengingat jaket miliknya ada pada Sakura.
Sasuke mamatut dirinya dicermin, ia biarkan rambutnya yang mencuat berantakan itu. Tidak berniat untuk sekedar menyisirnya, ia menyukai model rambutnya. Menurutnya sangat sempurna, bahkan beberapa perempuan di sekolahnya pun memuji model rambutnya yang sedikit tidak lazim itu.
Setelah memastikan bahwa penampilannya tidak kurang apapun, Sasuke berjalan kearah pintu kamarnya. Begitu ia membuka pintu, aroma green tea yang harum langsung menerjang indera penciumannya, membuat rasa kantuknya menguap tidak berbekas. Aroma green tea yang selalu ibunya siapkan saat sarapan selalu membuat perasaannya tenang dan sekujur tubuhnya terasa hangat. Sasuke memejamkan matanya sejenak untuk menghirup aroma green tea itu.
Sasuke bergegas menghampiri meja makan dan memeluk tubuh ibunya yang tengah menuangkan green tea ke dalam cangkir. Disana hanya ada sang ibu, ayahnya dan Itachi seperti sudah pergi untuk bekerja. Senyuman Mikoto melebar ketika merasakan pelukan Sasuke ditubuhnya. "Selamat pagi, Kaa-san," gumam Sasuke seraya mengecup pipi kiri Mikoto. Mikoto tertawa geli, kadang Sasuke bisa begitu manja padanya jika dirumah hanya ada mereka berdua.
Sasuke melepaskan pelukannya dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Mikoto tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala Sasuke. "Pagi, Sasu-chan. Baru saja Kaa-san akan membangunkanmu untuk sarapan, Kaa-san pikir kau tidak ada kegiatan apa-apa hari Sabtu ini."
Sasuke menyesap green tea-nya yang hangat, lalu menyambar selembar roti sobek dan memakannya. "Aku ada latihan klub, Kaa-san. Minggu depan sekolahku akan bertanding dengan sekolah lain," katanya setelah ia menghabiskan menu sarapannya.
Sasuke melirik jam tangannya dan mendesah pelan. "Kaa-san, aku hampir telat. Aku pergi dulu ya? Kaa-san hati-hati dirumah."
Mikoto tersenyum. "Sasu-chan juga hati-hati di jalan. Jangan mengebut dan patuhi rambu-rambu lalu lintas," katanya.
"Siap, Kaa-san," Sasuke mengangguk dan mengecup kedua pipi ibunya secara bergantian. Setelah itu, Mikoto mengantar Sasuke ke depan halaman rumahnya, mengawasi putera bungsunya sampai mobil Audi hitam Sasuke menghilang di ujung jalan.
.
.
Sasuke sampai di sekolahnya tepat pukul 09.00, untunglah masih ada setengah jam lagi latihannya dimulai. Ia menuju lokernya untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan. Tatapan onyx-nya menajam ketika di sana ia bertemu dengan Sasori. Sasuke menyapukan pandangannya, mencari apakah Sakura dan Gaara datang bersama Sasori. Namun, hasilnya nihil. Kedua sepupu itu tidak ada dimana-mana. Senyuman Sasuke mengembang, ia menyeringai.
Kurasa mereka masih belum berbaikan, baguslah.
Saat kedua iris Sasori dan Sasuke saling bersibobrok, Sasori seakan memberikan tatapan 'jika kau menyakiti Sakura, maka kau akan mati, Uchiha!'
Sasuke mendengus, tidak mungkin ia menyakiti Sakura bukan? Sasuke sangat mencin―
Tidak, aku bercanda. Aku tidak mencintainya, ya anggap saja begitu. Aku tidak boleh kalah.
Sasuke memutuskan untuk menyapa rival-nya itu. "Hey, Akasuna. Semoga latihan hari ini lancar, teman."
"Sejak kapan aku menjadi temanmu? Dengar Uchiha, aku hanya ingin memberitahukan satu hal padamu. Jika kau berani melukai Sakura, aku tidak akan segan-segan menghabisi hidupmu. Aku yang lebih dulu mengenalnya, sedangkan kau? Kau hanya orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya dan membuat kehidupannya menjadi berantakan. Sejak awal Sakura adalah milikku," ujar Sasori, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Sasuke mendecih dan tertawa hambar. "Maaf, kau bilang apa? Sakura itu masih lajang. Siapapun bisa memilikinya. Siapa yang mengenalnya lebih dulu tidak mempengaruhi apapun. Kecuali jika kau telah memiliki hubungan yang pasti dengannya, berpacaran dengannya maksudku. Aku juga tidak akan merebutnya jika Sakura sudah memiliki kekasih. Tapi, kau bukan kekasihnya! Seharusnya sejak awal kau membuat langkah, menyatakan perasaanmu padanya. Kau bilang kau orang pertama yang mengenalnya dan mencintainya, tapi apa buktinya? Sekarang kau sudah terlambat, Akasuna. Aku tidak akan melepaskan Sakura," balas Sasuke, ia kemudian menutup pintu lokernya dengan keras dan berjalan pergi meninggalkan Sasori yang terpaku. Itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah Sasuke lontarkan selama hidupnya.
Baru saja beberapa langkah meninggalkan lokernya, langkah Sasuke terhenti ketika Sasori menarik bahunya dan melayangkan kepalan tangannya ke wajah Sasuke. Sasuke tidak sempat menghindar karena kejadian itu begitu cepat. Pukulan itu kembali mengenai wajah Sasuke, darah segar langsung saja meluncur dari sudut bibirnya.
Shit! Apa-apaan kau setan merah?
Tidak ingin terlihat seperti orang lemah, Sasuke membalas pukulan Sasori. Ia meraih kerah baju Sasori dan memberikan Sasori sebuah pukulan tepat di depan perutnya. Sasuke tidak yakin berapa pukulan yang ia layangkan kepada Sasori, yang jelas Sasori mulai terbatuk-batuk dan terengah. Tubuh Sasori tersungkur menabrak loker, menimbulkan debuman keras. Sasori kemudian bangkit dan membalas pukulan Sasuke. Keduanya saling baku hantam.
Kegiatan keduanya terhenti secara paksa saat keduanya merasakan tarikan di belakang baju mereka. Naruto dan kembarannya Menma yang baru saja tiba disana, berusaha memisahkan Sasuke dan Sasori. Naruto berdecak dan menggelengkan kepalanya dengan jengah ketika melihat keadaan kedua temannya di klub sepak bola itu kini babak belur. Wajah dan tubuh kedua laki-laki tampan itu penuh dengan lebam.
"Astaga! Lihat, ada dua orang laki-laki yang tengah jatuh cinta pada gadis yang sama, dan memperebutkannya dengan saling baku hantam. Benar-benar memalukan. Sulit dipercaya, eh? Naruto-nii?" ujar Menma dengan nada yang begitu menjengkelkan.
Naruto tertawa hambar. "Yeah. Memalukan sekali, Menma. Untung saja murid yang lain belum datang," katanya sarkastis.
Tubuh Sasuke dan Sasori tiba-tiba saja menegang ketika dari arah utara tiga orang guru berjalan ke ruangan loker, bersama dengan kepala sekolah mereka yang terkenal garang, Senju Tsunade.
"Terimakasih, Naruto dan Menma untuk menghentikan kelakuan tidak bermoral ini. Mereka kuberi hukuman karena melakukan tindak kekerasan disekolah. Kurasa hukuman yang adil adalah menempatkan mereka berdua di bangku cadangan untuk pertandingan minggu depan. Dan mereka mendapatkan pelatihan tambahan setiap hari, seusai jam pelajaran sekolah, sampai hari pertandingan dimulai," ucap Tsunade kepada Asuma, pelatih sepak bola di Konoha High.
Asuma menghela napas panjang dan mengangguk pasrah, dua orang terkuat di timnya harus duduk di bangku cadangan. Benar-benar buruk.
Sialan! Sasuke dan Sasori menggerutu dalam hati.
.
.
Siang pun beranjak dengan cepat hari itu. Tidak ada latihan untuk Sasuke dan Sasori hari ini, sebagai gantinya mereka menerima ceramah dari sang pelatih. Benar-benar hari yang sial untuk Sasuke. Ini kejadian langka dalam hidupnya. Semenjak kehadiran gadis pinky itu, hidupnya tidak pernah sama. Selalu merepotkan, namun menyenangkan di waktu yang bersamaan.
Setelah menyelesaikan sesi ceramahnya, kini Sasuke berada di kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Ia menghampiri Naruto dan Menma yang tengah melahap ramen di salah satu meja kantin. Sasuke duduk di samping Naruto dan memakan roti gandumnya dengan sedikit meringis. Bibirnya benar-benar sakit.
"Naruto, kau tahu mengapa Gaara dan Sakura tidak sekolah hari ini?" Tanya Sasuke kepada sahabat pirangnya.
Naruto menepuk punggung Sasuke. "Mereka mengunjungi makam ayah Sakura, hari ini tepat tujuh hari ayahnya meninggal. Mereka mengadakan semacam doa bersama. Itu yang Gaara katakan padaku."
Sasuke tersentak, dengan cepat ia menelan kunyahan terakhirnya. Jantungnya berdenyut ngilu mendengar kabar bahwa ayah Sakura telah meninggal. Banyak hal yang tidak ia ketahui tentang gadis itu, dan hal ini membuatnya semakin ingin tahu.
Tiba-tiba saja, Sasuke merasakan hatinya kosong. Ia ingin bertemu dengan Sakura, ia ingin melihat wajah cantiknya, melihat aksi lincah gadis itu di saat melakukan gerakan cheerleader, dan melihat rok pendeknya yang terbang tertiup angin, oke lupakan yang satu itu.
Sasuke mengacak rambut ravennya, memikirkan pertandingan yang akan berlangsung minggu depan. Apakah timnya akan menang? Dan bagaimana bisa dirinya yang notabene kapten klub sepak bola Konoha High duduk manis di bangku cadangan, sedangkan anggotanya berlari di lapangan?
"Ini semua gara-gara Akasuna sialan itu! Jika saja dia tidak memukulku, aku tidak akan membalasnya dan terkena hukuman ini. Arggh~ aku harus ikut pertandingan itu," Sasuke menggeram kesal.
Menma dan Naruto saling bertukar pandangan dan tersenyum kecil. "Well, saat kau memulai sebuah permainan, kau harus sudah bisa menerima segala konsekuensi dari permainan itu. Menang, kalah, mengikut alur permainan, atau kau melanggar peraturan itu," ujar Menma.
Sasuke mengerutkan keningnya, mencoba mencerna rentetan kalimat yang dilontarkan oleh Menma. Otak jeniusnya bekerja lebih lama dari biasanya.
"Bodoh, aku tidak mengerti maksudmu," katanya.
.
.
to be continued
AN: HALLOOOOOO MINNA! akhirnya saya bisa update fic ini *fyuuh* masih ada yg nungguin gak ya? errr.. -_- ohya, di chapter ini gak ada SasuSakunya yaa T^T chapter depan banyaaak SasuSakunya ko :3 disni mau kasih konflik SasuSaso dulu XD hihihi...okeeyy segitu aja dulu ya, semoga suka :)
Oya satu lagi, makasih buat yang review di chapter sebelumnya yaaa :)
