Let's Start The Game
Genre: Romance
Rated: T+
Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, alur berantakan, dll
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Let's Start The Game©Yara Aresha
Chapter Six
Hokkaido, Saturday 18:30.
Sakura merasa sangat rapuh. Hari ini tepat tujuh hari ayahnya―Haruno Kizashi―menghadap sang pencipta. Sepulang dari acara doa bersama di makam Kizashi, kini ia duduk di atas tempat tidur dan melamun. Tubuhnya gemetar dan tidak bertenaga. Kesedihan dan rasa sakit dihatinya masih belum bisa terobati dengan penuh. Memang, bukan hal yang mudah untuk bangkit dari keterpurukan kehilangan seseorang yang kita cintai. Sulit bagi Sakura untuk menjalani hari-hari tanpa sosok ayah yang humoris itu di kehidupannya.
Gaara menatap Sakura dengan tatapan cemas di balik pintu kamar Sakura ketika melihat mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Tidak lama kemudian, cairan bening mengalir begitu saja menerobos keluar dari pelupuk mata Sakura. Sakura menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan. Tidak memedulikan sedikit darah yang mengalir akibat gigitannya yang cukup keras. Keadaan Sakura begitu buruk. Bahkan bujukkan sang ibu―Mebuki―untuk turun dan makan malam pun tidak dihiraukannya. Maka, di sinilah Gaara sekarang, berusaha membujuk sepupu tercintanya untuk makan malam.
Gaara menghela napas panjang dan memutuskan untuk duduk disamping Sakura. Kemudian membawa tubuh Sakura ke dalam pelukannya, dagunya di letakkan diatas kepala Sakura. Sementara Sakura membenamkan kepalanya ke dalam dada bidang Gaara.
"Ssst, Sakura. Ayahmu sudah berada di tempat yang lebih baik sekarang. Kau bisa melihatnya di surga nanti. Semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, kau punya sepupu yang luar biasa seperti aku," ujar Gaara sedikit memberikan lelucon, mencoba untuk mengalihkan kesedihan Sakura.
Sakura tertawa mendengar penuturan Gaara tersebut. Gaara selalu tahu apa yang harus dilakukannya ketika Sakura tengah dilanda kesedihan. Gaara tersenyum lega, kemudan mengusap punggung dan mengecup puncak kepala Sakura. Bagi Sakura, Gaara adalah seorang laki-laki yang luar biasa yang pernah Sakura kenal. Semua orang akan beruntung memiliki Gaara.
"Kau terlalu percaya diri," ejek Sakura yang masih berada di dalam pelukan Gaara.
Gaara mendengus. "Itu memang kenyataannya."
"Hmm, your wish!" Sakura terkikik geli seraya menyeka air matanya dan melepaskan pelukan Gaara, mendorong tubuh laki-laki itu main-main.
"Hei, kau tahu? Bahkan aku lebih baik dari Sasuke, heran kau mau berkencan dengannya," goda Gaara, matanya mendelik ke arah Sakura.
Sakura memutar bola matanya dengan bosan, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. "Pertama, aku tidak akan pernah tertarik padamu karena kau adalah sepupuku, dan kau bukan tipeku. Kedua, kenyataan membuktikan bahwa Uchiha Sasuke jauh lebih menarik dan menyenangkan daripada dirimu, Gaara," ujarnya diikuti dengan seringaian khasnya.
Kemudian setelah Sakura menyadari apa yang telah dikatakannya, Sakura segera menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.
Tidak, kenapa aku memujinya? Aku tidak tertarik padanya! Aku, Sakura Haruno, menolak untuk kalah dari si kepala ayam itu!
Mata Gaara melebar kaget. "Wah, kau menyukainya?" tanyanya penuh selidik.
"Psstt, TIDAK!"
"Sakura." Gaara memperingatkan Sakura.
"Ya, Gaara?" ujar Sakura, ia kemudian berdiri di samping tempat tidurnya.
"Jika kau jatuh cinta kepadanya, dan dia menyakitimu. Aku akan menghajarnya. Pasti! Aku bersumpah, wajahnya akan kubuat menjadi tidak berbentuk, akan kubuat begitu buruk seperti kaset rusak!"
Hari ini bukanlah hari yang tepat untuk membicarakan hal ini dan saling beradu argumentasi. Maka, Gaara langsung tersadar begitu melihat mimik wajah Sakura yang berubah. Tatapan sengit Gaara melunak, ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan emosi.
"Sakura, aku minta maaf. Tidak seharunya aku membahas hal ini. Aku hanya tidak ingin kau terluka. Kau layak mendapatkan yang lebih baik dari Sasuke, " sambung Gaara.
Sakura memberinya senyum lemah, mengangguk maklum kepada Gaara. Sakura mengerti betapa protective-nya Gaara terhadap dirinya. Sejak dulu Gaara begitu memanjakannya.
Gaara berdiri dengan kaku, kemudian memeluk tubuh Sakura sekali lagi. "Mandilah, setelah itu turun dan makan malam. Jangan membuat ibumu khawatir. Kau tahu? Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan," bisik Gaara.
Setelah itu, Gaara melepaskan pelukannya dan menatap iris emerald Sakura dengan lembut. Sakura membalasnya dengan anggukkan lemah dan segera melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Gaara pun memutuskan untuk turun ke lantai satu dan menunggu Sakura di bawah bersama kedua orangtuanya dan Mebuki.
.
.
Suasana makan malam keluarga Haruno dan Sabaku malam itu berakhir dengan khidmat. Semua menikmati makanan yang dibuat oleh Mebuki dan Karura. Apalagi Sakura yang begitu menyukai makanan ibu dan bibinya itu makan dengan lahapnya.
Setelah selesai menyantap menu makan malamnya yang lezat, Sakura memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sementara ibu, bibi dan pamannya telah masuk ke dalam kamar masing-masing sejak satu jam yang lalu.
Waktu menunjukan pukul sepuluh tepat, pantas saja Sakura merasakan tubuhnya menggigil, mengingat dirinya saat ini hanya menggunakan celana katun pendek dan tank-top. Sakura membuka koper pakaiannya begitu sampai di dalam kamarnya, terdiam sejenak ketika melihat jaket milik Sasuke terlipat rapi di bagian atas. Tanpa pikir panjang, Sakura segera meraih jaket milik sang player dan memakainya untuk menetralisir rasa dingin yang menjalari tubuhnya.
"Kurasa aku harus segera mengembalikannya," gumam Sakura, lalu membuka lemari es yang ada di sudut kamarnya, meraih sekotak besar es krim dari dalam freezer, dan duduk di lantai beralasan karpet beludru seraya menyalakan DVD.
"Sakura, aku tidak tahu sejak kapan kau tergila-gila pada sepak bola," ejek Gaara yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Sakura ketika melihat jaket milik Sasuke melekat di tubuh Sakura. Kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur Sakura, membuat dirinya senyaman mungkin.
"Apa yang sedang kau tonton?" lanjut Gaara.
"Fast & Farious 6," jawab Sakura acuh, kemudian memasukkan sesendok penuh es krim chocolate chip ke dalam mulut mungilnya. Gaara mengulurkan tangan, merebut sendok dan cup es krim, dan mulai memakannya dengan tampang tidak berdosa. Sakura cepat-cepat berdiri, merebut kembali kepemilikkannya atas es krim tersebut. Tapi itu bukanlah hal yang mudah bagi Sakura, tenaga Gaara terlalu kuat.
Akhirnya mereka berguling-guling di atas tempat tidur untuk saling merebut dan mempertahankan hanya untuk sekotak es krim.
"Baiklah, aku menyerah. Aku akan membagi es krim itu denganmu," ujar Sakura kesal dan sedikit terengah ketika Gaara berhasil meloloskan diri.
"Nah, begitu lebih baik. Kau harus berbagi, Sakura," Gaara menjulurkan lidahnya keluar dan kembali menyantap es krim milik Sakura. Kemudian menyerahkannya kepada sang pemilik, Sakura mendelik saat melihat es krim miliknya hanya bersisa seperempat kotak besar.
Baru saja Sakura akan mengomel pada sepupunya, tiba-tiba ponsel Sakura berdering nyaring di atas meja nakas, segera diraih ponselnya, mengabaikan Gaara yang kini duduk manis di atas kursi kayu yang ada di balkon kamar. Senyum Sakura mengembang saat membaca rentetan alfabet yang tertera pada caller ID―Uchiha Sasuke. Rupanya di sana ada tujuh panggilan tidak terjawab lainnya.
"Hallo?" Jawab Sakura acuh, berusaha menetralisir debaran jantungnya yang tidak beraturan.
"Hallo, Saku-koi. Aku tidak melihatmu di sekolah hari ini, dan Naruto bilang kau pulang ke Hokkaido untuk perayaan tujuh hari ayahmu. Maaf aku tidak tahu tentang hal ini. Kapan kau akan kembali ke Tokyo?" suara baritone milik Sasuke terdengar begitu lembut di telinga Sakura.
Sakura menahan napasnya sejenak, tiba-tiba saja aliran darahnya berdesir mendengar suara Sasuke. Tapi, Sakura kembali teringat bahwa mereka masih berada dalam sebuah 'permainan'. Sakura yakin bahwa saat ini pun, Sasuke hanya bersandiwara. Sasuke tidak akan pernah benar-benar peduli. Seperti kata Sasuke, dirinya pintar dalam hal ini.
'Jangan tertipu olehnya, Sakura. Kau harus kuat!' Sakura bergumam dalam hati.
"Aku akan kembali hari Senin," Sakura menjawab singkat. "Dan terimakasih, Sasuke," sambungnya.
"Hn, aku dapat skorsing, aku harus duduk di bangku cadangan untuk pertandingan minggu depan, ditambah latihan ekstra. Dan... aku, emh, khawatir karena kau tidak menjawab panggilanku sebelumnya," Sasuke tertawa gugup di seberang sana. Hal ini membuat Sakura mengerutkan keningnya. Seorang Sasuke bisa gugup? Hati Sakura bergetar, mungkinkah Sasuke benar-benar peduli padanya?
Sakura menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Kau membuat masalah apa sampai-sampai mendapatkan hukuman seperti itu?" Sakura menolehkan kepalanya begitu mendengar ponsel Gaara berdering sebelum Sasuke menjawab pertanyaan Sakura.
Kemudian Sasuke menjawab. "Aku dan Akasuna berkelahi. Yeah, dia yang memulainya, tiba-tiba saja menyerangku," katanya.
"Hah? Apakah Sasori-kun juga mendapatkan hukuman yang sama? Dan apa yang menyebabkan kalian berkelahi seperti itu?" Sakura bertanya-tanya mengapa Akasuna dan Uchiha sekarang menjadi brutal.
"Hn, sama sepertiku. Dan alasan kami berkelahi adalah kau, Haruno Sakura," jawaban Sasuke cukup membuat Sakura terkenan serangan jantung, jika saja Sakura memiliki penyakit jantung. Sakura mengerjap berkali-kali, tubuhnya bergerak tidak tenang dan gelisah.
"Kenapa kau melawan? Aku pikir kau tidak peduli kepadaku, aku ini hanya targetmu yang ke-201. Kau harusnya katakan pada Sasori-kun bahwa aku adalah miliknya saat kita menyelesaikan permainan ini," balas Sakura dengan sedikit kebingungan.
Kenapa Sasuke lebih memilih meladeni Sasori jika Sakura hanyalah sebuah nomor 201 dalam kehidupannya?
"Itulah masalahnya..." Sasuke berhenti sejenak, lalu melanjutkan ucapannya dengan tegas. "Sakura, kurasa aku mulai menyukaimu. Tapi ingat, bukan berarti aku mencintaimu, jadi aku belum kalah. Dan aku tidak suka jika kau berdekatan dengan laki-laki lain, besok aku akan mengunjungimu di sana, dan kau harus menemaniku jalan. Anggap saja aku menghiburmu," sambungnya.
Sakura menjauhkan ponselnya sejenak, memajukan bibir mungilnya dan menunjuk layar ponselnya dengan gemas. "Uchiha, kau memang menyebalkan. Dia bilang mulai menyukaiku? Hell yeah, bilang saja dia mencintaiku, tapi malu untuk mengakui kekalahannya. Lihat saja, pesona seorang Haruno akan menjatuhkanmu," gumamnya dengan suara yang kecil, tentu saja Sasuke tidak bisa mendengarnya.
Lalu Sakura kembali menempelkan ponselnya di telinga. "Hey, tuan. Jangan lupa, kau 'kan sedang menjalani hukuman. Mana bisa kau kabur dari hukumanmu. Aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir."
Sasuke menghela napas kembali. "Masa bodoh, Sakura. Aku tetap akan mengajakmu jalan besok."
Sakura mendengus dan tertawa kecil. "Baiklah aku terima tawaranmu, kau memang pintar memaksa. Tapi jangan salahkan aku jika kau mendapatkan hukuman yang lebih berat. Dan aku hanya punya waktu sampai pukul delapan malam. Jadi kau tidak boleh mengantarku lebih dari waktu yang telah ditentukan," ujar Sakura.
"Yeah, hime-sama. Kurasa kau harus segera tidur, sekarang sudah hampir tengah malam. Selamat malam, Sakura. Jangan lupa kirimkan teks alamat rumahmu," Sasuke mendengus di saluran telepon, dan Sakura bisa menebak bahwa Sasuke tidak cukup puas dengan jawaban Sakura.
"Oke. Sweet dreams, Sasuke," Sakura tersenyum dan menutup sambungan teleponnya.
Sementara Gaara kembali masuk ke dalam kamar Sakura setelah menghabiskan es krim milik Sakura dan mengakhiri obrolannya dengan seseorang di saluran telepon. Tidak lupa menutup pintu balkon. Kuapan lebar membuat matanya menyipit, rasa kantuk tiba-tiba saja menyerangnya.
"Sakura, kau masih saja membuat para laki-laki memperebutkanmu. Kau benar-benar populer. Sasori menceritakannya padaku tadi, dan dia bilang dia minta maaf karena tidak bisa datang ke sini. Dia mendapatkan hukuman," Gaara menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat bosan. Rupanya Gaara mendapatkan panggilan telepon dari Sasori yang menceritakan tentang perkelahiannya dengan Sasuke. Perkelahian memperebutkan sepupu cantiknya. Sakura hanya mengangkat bahunya acuh, situasi konyol seperti itu bukanlah keinginannya.
"Gaara aku ngantuk, kau juga cepat keluar kamarku dan tidur. Nite," Sakura mengecup pipi Gaara secara bergantian sebelum ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang nyaman.
.
.
Minggu pagi di kota Hokkaido begitu nyaman. Udara yang sejuk dan segar tanpa polusi langsung saja terhirup rongga hidung Sasuke. Berbeda dengan Tokyo. Seperti ucapannya kemarin malam, ia akan mengunjungi Sakura. Maka di sinilah sekarang Sasuke berdiri, di depan pintu sebuah rumah dengan gaya tradisional Jepang yang besar. Sasuke mengangkat tangan kanannya dan mengetuk pintu kayu di depannya dengan sedikit keraguan.
Setelah beberapa ketukan, tubuhnya sedikit mundur saat kenop pintu berputar, seseorang membukanya dari dalam. Sasuke harap-harap cemas ia tidak salah rumah. Lututnya sedikit bergetar karena terlalu lama berdiri, mungkin orang-orang di dalam rumah itu masih tertidur pulas, mengingat ini masih menunjukkan pukul enam. Sasuke menelan salivanya yang terasa kering dan menarik napas panjang saat pintu di depannya terbuka menampakkan Gaara dengan rambut berantakan, masih dengan celana boxer-nya dan kaus oblong. Gaara menatap Sasuke dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bersidekap dan bersandar di samping pintu. Tatapannya menajam. "Uchiha Sasuke, sedang apa kau pagi-pagi disini?" katanya.
Sasuke menyentuh lehernya, hal ini selalu ia lakukan ketika dirinya tengah dilanda kegelisahan. "Aku datang untuk mengajak Sakura keluar. Kami sudah membicarakan hal ini semalam lewat saluran telepon. Aku ingin menghibur Sakura atas kepergian ayahnya," jelas Sasuke, seraya tersenyum kecil. Mencoba untuk meyakinkan Gaara bahwa dirinya tidaklah seburuk yang ia kira.
"Sakura," ujar Gaara saat Sakura muncul di belakang Gaara dengan menggunakan celana hot pants-nya dan jaket milik Sasuke. Rambutnya dibiarkan tergerai dan sedikit miring, tapi masih tampak seperti malaikat menurut Sasuke. Sasuke sedikit mengangkat ujung bibirnya melihat Sakura mengenakan jaket miliknya.
Sakura melambaikan tangannya kearah Sasuke dengan senyuman yang sedikit tertahan, langsung saja Sasuke menatapnya dengan sendu. Sakura pasti menangis lagi, lihat saja mascara yang membuat pipi putihnya menjadi penuh bercak hitam, hal itu membuat Sasuke merasakan hatinya sakit.
"Aku tidak menyangka kau akan datang sepagi ini. Gaara, suruh Sasuke masuk! Dan Sasuke, tunggu sebentar ya? Aku harus mandi dan membersihkan tubuhku dulu," ujar Sakura, kemudian kembali ke atas kamarnya dan bergegas mandi.
.
.
Setelah Sakura pergi, kini Sasuke dan Gaara duduk bersisian di atas sebuah sofa panjang yang ada di ruang tamu. Kemudian Gaara mengulurkan tangannya dan meraih kerah baju Sasuke, ia menggeram. "Kau harus menjaganya baik-baik. Aku akan bermurah hati malam ini. Batas waktumu membawanya pulang adalah pukul 20.00. Lebih dari itu kau akan tahu akibatnya. Saat ini dia sedang dalam keadaan terpuruk, jadi lupakanlah permainanmu untuk sementara. Berani menyentuhnya, kau akan menggali makammu sendiri!"
"Tenangkan dirimu, Gaara. Aku bukanlah tipe orang yang tertawa diatas penderitaan orang lain. Dan maaf aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhnya," Sasuke menepis tangan Gaara dan menyeringai.
Wajah Gaara memerah, ia menahan napasnya yang memburu, menahan amarahnya, dan mengepalkan tangannya yang siap ia layangkan tepat di depan wajah sang bungsu Uchiha. Namun Gaara menarik kembali tangannya saat Sakura muncul dengan wajah riangnya. "Aku siap untuk pergi," katanya.
Sasuke menggigit bibir bawahnya ketika melihat Sakura hanya mengenakan kemeja polos berwarna putih gading tanpa lengan dengan hot pants kulit berwarna merah. Jakunnya naik turun. Kemudian Sasuke tersenyum penuh kemenangan, bangkit dari sofa dan menghampiri Sakura. Melingkarkan lengannya di pinggang Sakura. "Aku pergi dulu ya, Gaara. Katakan pada ibu juga, aku tidak melihatnya di kamar. Kurasa ibuku sedang pergi ke pasar dengan ibumu," lanjut Sakura.
Gaara mengangguk dan tersenyum. "Hm, jaga dirimu baik-baik, Sakura," katanya seraya menatap Sasuke yang kini semakin mengeratkan lengannya di pinggang Sakura.
"Tidak usah khawatir, sepupu. Dia aman bersamaku," sambung Sasuke masih dengan seringaiannya.
Setelah itu, Sasuke dan Sakura berjalan pergi meninggalkan Gaara. Sasuke menyempatkan untuk melihat ke belakang dan memberikan senyuman mengejek kepada Gaara, Gaara menatapnya tajam dan mengepalkan tangannya di depan wajahnya seakan mengatakan, 'Kau akan tahu akibatnya jika kau berani menyentuhnya,' kepada Sasuke.
Tapi Sasuke mengabaikan isyarat itu dan terkekeh, bukankah ini yang menyenangkan dari sebuah 'permainan'?
.
.
Pukul 08.15, Sasuke dan Sakura akhirnya sampai ditempat tujuan mereka. Sasuke membawa Sakura ke pantai utara Hokkaido. Sakura berpikir bahwa Sasuke mengajaknya ke pantai-pantai yang sering dikunjungi orang. Namun ternyata Sakura salah besar ketika dirinya menginjakkan kaki di sana, hanya ada mereka berdua. Private beach, itulah yang dikatakan Sasuke padanya. Demi Tuhan, sekaya apa tuan muda Uchiha ini? Sampai ia memiliki pantai pribadi.
"Aku tidak tahu kau punya pantai pribadi di Hokkaido," teriak Sakura, mengingat kini Sasuke telah mendudukkan dirinya dengan nyaman di pinggir pantai. Sasuke menoleh kearah belakang dan hanya tertawa kecil. Tidak lama kemudian, Sasuke berjalan menghampiri Sakura yang masih berdiri diam. Hampir seluruh baju Sasuke basah.
"Ayo, Sakura!" Sasuke menarik lengan Sakura dengan lembut.
"Apa?" balas Sakura tidak mengerti.
"Percuma aku mengajakmu ke sini tapi kita tidak bermain air dan berenang."
"Aku tidak bawa baju ganti. Kau saja―" belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, tangan Sasuke bekerja lebih cepat daripada mulut gadis itu, Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan berlari di atas hamparan pasir putih lembut.
"Sasuke! Lepaskan!" Sakura berusaha untuk memberontak, kakinya ia gerakan ke segala arah. Saat itu ia merasakan sebuah Déjà vu, kejadian di taman bermain terulang kembali.
"Tidak, sampai kau berada di dalam air dan basah, Saku-koi," jawab Sasuke dengan enteng dan tersenyum lebar.
"Sialan kau!"
Dan akhirnya Sakura hanya bisa pasrah, sampai dirasakannya Sasuke menjatuhkan tubuhnya ke dalam air dengan gerakan lembut. Tubuh keduanya kini berada di dalam air.
"Tidak pantas gadis cantik sepertimu berbicara kasar," ujar Sasuke.
"Masa bodoh! Dasar penjahat wanita!" Sakura mendecih dan menggembungkan pipinya.
Sasuke menaikkan alisnya. "Apa kau bilang?"
"Penjahat wanita!" ulang Sakura sekali lagi dengan suara yang lebih keras dan tertawa geli. Sasuke menyeringai dan tidak merespon ucapan gadis dihadapannya, melainkan mulai menciprati tubuh Sakura dengan air.
"SASUKEEEE! Mataku perih tahu! Dasar bodoh!" teriak Sakura saat cipratan-cipratan air dingin menyentuh permuakaan wajahnya. Sasuke hanya tertawa melihat Sakura melindungi dirinya. Berusaha sekeras apapun, toh dirinya akan tetap basah. Sakura tehenyak melihat tawa Sasuke, akhirnya ikut tertawa melihat wajah Sasuke yang biasanya terlihat kaku dan tengil itu kini begitu ceria. Lalu, keduanya saling membalas cipratan-cipratan tersebut.
Meskipun terkesan kekanakkan, namun entah kenapa keduanya terlihat sangat menikmati kegiatan mereka saat ini.
"JANGAN LIHAT KE ARAH SANA BODOH!" Sakura kembali berteriak saat Sasuke menjelajahi lekuk tubuhnya yang telah basah sempurna, dan terhenti di depan dadanya. Kemeja yang dikenakannya begitu tipis, sehingga memperlihatkan bra hitam yang menantang dibaliknya.
"Shit, ketahuan!" gumam Sasuke.
"Kau gila!"
Tidak mampu menahan gejolak hatinya, tangan besar Sasuke terangkat dan berakhir pada pipi tirus Sakura. Menggerakkan ibu jarinya untuk mengelus pipi yang kini berubah warna menjadi rona menggemaskan. Astaga, demi Tuhan. Sasuke tidak bisa menjabarkan betapa cantiknya gadis dihadapannya itu. Beberapa helai rambut panjang Sakura tertiup angin pantai yang berderu dengan halus, menambah pesona alami gadis itu.
Sakura tidak menepis ataupun mengelak. Hanya mampu menegang kaku oleh sentuhan jemari Sasuke yang lembut. Emerald-nya melebar dengan kedipan beberapa kali. Pesona sang Uchiha tidak terbantahkan, Sakura akui itu ketika senyum simpul hadir di bibir sensual Sasuke.
Dengan perlahan, Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura. Kembali, degupan asing yang beberapa hari ini hadir meronta di dalam dada mereka begitu menggila. Hingga kedua kelopak mata indah Sakura menunduk takluk, dan bibir sensual milik Sasuke akhirnya mencapai bibir plum lembab milik Sakura.
Sakura menyerahkan bibirnya untuk dicumbu Sasuke. Keduanya saling memagut dalam gerakan lembut, saling menginginkan. Kemudian kembali Sasuke memimpin dengan menghisap bibir Sakura sedalam-dalamnya.
Manis, lembab, dan membuat gairahnya begitu menggebu-gebu hingga ubun-ubun.
Sakura membuka matanya kembali, menatap sayu wajah Sasuke yang terpejam seakan begitu menikmati pagutannya. Sebelah tangan Sasuke membelai lembut lengan Sakura yang terkulai lemas, meyakinkan bahwa dirinya benar-benar menikmati.
Sakura merasakan kenyamanan yang asing, diperlakukan selembut ini oleh Sasuke membuatnya mabuk kepayang. Debaran jantungnya lepas irama dan napasnya saling berkejaran ketika telinganya mendengar dengan jelas detak jantung milik Sasuke mengalun dengan indahnya.
Sakura kembali memejamkan matanya saat lidah hangat milik Sasuke menerobos rongga mulutnya. Menggetarkan seluruh tubuhnya. Gigitan kecil bahkan Sasuke berikan dibibir bagian bawahnya, sehingga membuat dirinya hilang kendali.
"Enghh," Sakura mendesah halus disela-sela pagutannya, kemudian mendorong tubuh Sasuke menjauh ketika jemari tangan nakal Sasuke menyusup di belakang punggungnya.
"M-Maaf Sakura, aku," Sasuke menyadari kebodohannya, dalam hati mengutuk dirinya yang telah bertindak jauh. Sama sekali tidak menyangka birahinya begitu melonjak. Sasuke menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba meredakan debaran yang menggila.
Tangan besar Sasuke terulur hendak menyentuh lengan Sakura yang terpaku. Namun Sakura segera keluar dari dalam air, membenarkan letak kemeja tipisnya yang tersingkap dan membenarkan letak bra-nya yang sempat merosot jatuh melewati bahunya. Sakura melipat tangannya di depan dada dan menatap Sasuke dengan tajam.
"Aku bisa masuk angin jika terus seperti ini. Sasuke, aku tidak bawa baju ganti," ujar Sakura seraya menendang-nendang kecil pasir pantai dengan ujung kakinya.
Sasuke mengerutkan keningnya. "Sakura, kau tidak marah?" Sasuke menghampiri Sakura dan meraih pergelangan tangan Sakura.
Sakura tertawa geli dan menggeleng. "Tidak. Aku juga sama-sama lepas kendali, mungkin jika aku lupa bahwa hubunganku denganmu tidak lebih dari sebuah permainan, aku... Yah, kau tahu maksudku. Nah, sekarang aku sudah sangat kedinginan. Sasuke..." rengeknya dengan nada manja.
Onyx milik Sasuke melebar dan kemudian ia tersenyum kecil. "Kau bisa memukulku, Sakura. Aku benar-benar minta maaf. Dan, aku selalu menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Kau tidak usah khawatir, aku membawa baju ganti untuk kita, kita bisa mengganti pakaian kita di salah satu bungalow itu," ucap Sasuke seraya menunjuk beberapa deretan bungalow yang berjejer rapi.
Sakura menggelengkan kepalanya dan meraih tangan besar Sasuke dan menggenggamnya. "Lupakan! Aku tidak akan memukulmu. Ayo, aku tidak nyaman dengan pakaian basah dan tubuh lengket seperti ini," katanya.
.
.
Tidak lama kemudian Sasuke dan Sakura telah mengganti pakaian mereka. Sakura dibuat terkejut dengan selera pakaian Sasuke untuknya, benar-benar sesuai dengan Sakura. Kini ia dan Sasuke tengah duduk diatas lantai kayu yang cukup tinggi menghadap kearah pantai. Awan di langit telah berubah menjadi semburat-semburat jingga dan beberapa menit lagi semburat-semburat itu akan digantikan dengan warna biru gelap.
Sakura menolehkan kepalanya saat Sasuke menarik tubuhnya lebih dekat, kemudian melanjutkan 'kegiatan' mereka yang sempat terinterupsi beberapa saat yang lalu.
"Give me more, Saku-koi." Bisik Sasuke sebelum melumat bibir Sakura dengan lembut. Sakura tertawa kecil dan membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah milik Sasuke menekan lidahnya dan memagutnya mesra, mengajaknya saling beradu hingga saliva mereka menyatu.
Namun belum ada lima menit, ponsel milik Sakura berdering nyaring, memaksa keduanya untuk saling melepaskan diri. Sakura memberi tatapan geli kepada Sasuke yang terlihat kecewa, kemudian meraih ponselnya yang ia simpan disaku celananya dan menjawab panggilan itu.
"Hallo?"
"Sakura, akhirnya kau menjawab teleponku!" jawab seseorang di seberang sana dengan nada riang, Sakura melirik layar ponselnya sejenak, sedikit tersentak saat melihat ada sepuluh panggilan tidak terjawab. Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya?
"Ah, Tayuya," balas Sakura
"Ya, Sakura. Karin bersamaku juga sekarang. Bagaimana keadaanmu? Kami rindu padamu, kenapa tidak memberitahu kami 'sih? Semua pesan yang kami kirim tidak pernah kau balas, menyebalkan," Tayuya berceloteh dengan suara nyaringnya, membuat Sakura tertawa.
"Yeah, maaf. Kau tahu 'kan? Aku terlalu malas untuk membalas sebuah pesan teks. Aku baik-baik saja, terimakasih sudah mengkhawatirkanku," ujar Sakura dengan tulus. Tunggu dulu, ia terlalu malas untuk membalas sebuah pesan teks dari sahabat-sahabat barunya? Tapi kenapa ia begitu bersemangat membalas sebuah pesan singkat dari seorang player seperti Sasuke?
"Baguslah. Gaara tadi meneleponku, dia mengatakan dia tidak bisa menemukanmu dimana pun, dia sangat panik! Dimana kau sekarang, bersama siapa? Apakah aku perlu menjemputmu sekarang?" kali ini suara Karin yang satu oktaf lebih tinggi dari Tayuya masuk di indera pendengaran Sakura. Sasuke mendecih, mendengar penuturan dari Karin―Sasuke bisa mendengarnya karena dirinya dan Sakura hanya terpisah beberapa inci saja.
Sakura memutar bola matanya dan tertawa kecil. "Aku di pantai, bersama Sasuke. Gaara terlalu berlebihan. Lagipula sebentar lagi aku juga akan pulang ke rumahku," jawabnya.
"Oh my gosh! Gaara berbohong! Dia itu benar-benar protective. Kalau begitu selamat melanjutkan kencanmu dengan Sasuke. Aku tidak percaya dia menyusulmu ke Hokkaido! Dia berubah akhir-akhir ini. Sakura, kau hebat," ujar Karin panjang lebar dengan suara yang berkoar-koar.
"Ya, ya, bagus bukan jika dia memang berubah?" jawab Sakura. "Sampai besok teman-teman, aku harus bersiap-siap untuk pulang. Bye Tayuya, bye Karin, love you all!"
Sakura menutup sambungan teleponnya. Mengalihkan pandangannya ke samping, tersenyum geli ketika melihat Sasuke memberenggut. Kemudian meraih ponsel Sakura dan memasukkannya langsung ke saku celananya.
Sasuke bersiap untuk menempelkan bibirnya kembali, namun lagi-lagi ponsel Sakura berdering. Sasuke mendengus, menarik ponsel Sakura keluar dari saku celananya. "Sialan, kau sangat populer, eh?"
"Ya, Gaara mengatakan hal yang sama kemarin. Siapa lagi sekarang?" ujar Sakura.
Mengabaikan pertanyaan Sakura, Sasuke segera menekan tombol hijau dan menjawab panggilan tersebut. "Ponsel Haruno Sakura, tapi kau berbicara dengan Uchiha Sasuke sekarang," jawabnya dengan kesal. Namun detik berikutnya Sakura menangkap raut wajah Sasuke berubah menjadi lebih kaku.
"Apa...? Ya, dia ada di sini. Dia baik-baik saja. Tidak, aku tidak akan membiarkannya berbicara denganmu sekarang," ejek Sasuke dengan seringaian khasnya, "kami sedang sibuk. Apa? Aku kalah? Ya, dalam mimpimu! Dengar, aku bahkan tidak ingin melakukan ini lagi! Sialan... Diam kau! Tidak! Dia akan meneleponmu nanti..." Sasuke memutuskan sambungan telepon itu, wajahnya memerah, ia terlihat tidak senang.
Sakura menatapnya heran. "Siapa itu? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Sakura.
Sasuke mendengus. "Hn. Itu hanya Akasuna. Dia ingin berbicara denganmu," Sasuke mendongakan kepalanya menatap langit yang mulai menghitam. Ia tampak menerawang.
"Tentang apa?" Sakura menggeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Sasuke dan memeluk tubuh Sasuke dari samping, menggigit bibir bawahnya, menunggu Sasuke mengalihkan fokus kepadanya, bukan kepada langit. Akhirnya Sasuke menatapnya dan balas memeluk pinggang Sakura, tersenyum lemah.
"Sakura, kurasa 'permainan' ini akan segera berakhir. Sekarang, aku tidak yakin siapa yang akan menang. Aku merasa aneh ketika kau tidak ada, dan aku... tidak ingin menyerahkanmu kepada Akasuna, kepada siapapun," bukannya menjawab pertanyaan Sakura seputar Sasori, Sasuke malah mengatakan hal di luar dugaan Sakura. Sakura menatap onyx milik Sasuke dengan intens, mencoba mencari kebohongan dari dalam sana, namun hanya keseriusan yang terlukis di wajahnya.
Sakura tersenyum kecil dan bersandar ke dada bidang Sasuke, mengeratkan pelukannya. "Aku juga tidak begitu yakin lagi," gumamnya.
"Bagaimana jika kita berdua kalah pada saat yang sama? Apakah kita bisa memulai semuanya dari awal?" tanya Sasuke.
"Yeah, Sasuke. Kita lihat saja sampai saat itu tiba. Dan aku akan memikirkannya," balas Sakura, kuapan kecil meluncur dari mulutnya.
Setelah itu, keduanya saling diam. Menatap cakrawala yang luas, menunggu sang matahari kembali ke peraduannya. Sasuke mengecup pipi Sakura dengan lembut, kemudian mengangkat tubuh Sakura ke dalam pelukannya, dan membawanya ke dalam mobil sport merahnya. Sasuke tidak ingin meretakkan kepercayaan yang telah diberikan oleh Gaara padanya. Lagipula, Gaara bisa saja benar-benar menghajarnya jika Sasuke menahan Sakura lebih lama lagi.
Tahukah kau? Keduanya bahkan tidak peduli lagi dengan permainan ini. Mereka benar-benar kalah sekarang.
.
.
to be continued
Special Thank's buat semua yang udah nyempetin RnR fic ini ya ^^
Maaf kalau apdetnya lama :D hehehe dan chapter ini kurang memuaskan.
