19th

Chapter 18

By Yuya Matsumoto

"Their True Feeling"

Inspirasi: K-movie, 19

Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).

Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.

.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.

.

.

# Seoul, South Korea #

[Head Officer Office]

.

.

Seorang namja tampan berwibawa sedang melakukan pemeriksaan atas kasus yang sedang ia tangani saat ini. Tangannya terus mengetikkan sesuatu di atas keyboard, mencatat hasil investigasinya. Berulang kali namja itu mencocokkan antara file yang ada di hadapannya dan file yang sedang ia ketik di komputer kerjanya. Ia begitu tekun, sampai-sampai tak mendengar salah satu bawahannya telah masuk ke dalam ruangan pribadinya.

"Komandan, apa Anda tidak makan siang?", tanya seorang bawahannya yang baru saja masuk.

"Tidak. Aku sedang menyelesaikan laporan ini. Kamu makan siang duluan saja. Tolong jangan ganggu aku.", ucap si komandan bernama Choi Seunghyun itu.

"Baiklah, pak!", jawab bawahan Seunghyun, berlalu pergi keluar ruangan namja itu.

Seunghyun atau yang biasa dipanggil TOP, meregangkan kedua tangannya yang terasa kaku dan letih. Ia melirikkan bola matanya ke arah jam dinding di ruangannya. "Ah, jam empat sore? Ya ampun! Sudah waktunya pulang.", gumam TOP membereskan semua barangnya, lalu bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, langit sudah berubah hitam dan malam telah menyambut kepulangannya. Tadi TOP dan Jiyoung sempat makan malam bersama yang lebih didominasi dengan omelan Jiyoung karena kekasihnya—lagi-lagi—melewatkan jam makan siangnya. TOP berjalan ke arah kamarnya. Matanya melirik ke arah pintu kamar Siwon yang telah lama ditinggalkan. "Hah~ Dimana kamu, saeng?", tanya TOP pada dirinya sendiri. Entah ada ide usil darimana, TOP bukannya masuk ke dalam kamarnya, ia justru berjalan ke arah kamar Minho.

Minho—anak bungsu keluarga Choi—sedang asyik mengutak-atik komputernya, bermain game online dan browsing internet. Sebuah berita membuat namja berkarismatik itu penasaran. Berita ini sudah menjadi Hot News di beberapa website berita Korea. Tak menunggu lama Minho segera mencari tahu tentang berita itu. "One Korean Tourist Dies In Seegrotte, Austria", sebait headline yang terdapat di website itu. "Austria itu bagian dari Eropa, kan? Jangan-jangan itu Siwon! Ah, siapa tahu saja?", gumam Minho dengan nada riang.

"MWOOO? SIWON-HYUNG?", teriak Minho kaget saat melihat salah satu berita.

TOP yang baru saja akan mengagetkan sosok adiknya justru kaget terlebih dahulu. "Waeyo?", tanya TOP penasaran.

"Ini bukannya Siwon-hyung?", kata Minho, menunjuk sebuah gambar di dalam komputernya. Gambar itu menunjukkan kerumunan orang yang ditengah-tengahnya terdapat seseorang berparas pucat, sedangkan di sebelah para medis ada seorang namja kekar yang sangat dikenal oleh TOP dan Minho. "Ne, itu Siwon.".

"Ada apa, Minho-ah?", tanya Nyonya Choi karena mendengar lengkingan suara Minho dari dapur. "Jangan berteriak malam-malam!". Kali ini sang Appa memprotes perilaku anaknya.

TOP dan Minho menelan ludah kecut. Mereka menutupi layar komputer dengan tubuh mereka, berharap orangtuanya tidak menemukan berita apapun tentang Siwon saat ini. "Aniya. Aku hanya sedang bercanda dengan hyung, appa.", jawab Minho sedikit tercekat.

"Oh begitu. Cepat kalian tidur. Ini sudah malam.", nasihat nyonya Choi kepada kedua anaknya, sebelum ia menutup kembali pintu kamar Minho.

"Ada yang tidak beres. Aku akan ke Austria secepatnya.", kata TOP, masih memperhatikan gambar itu dengan sesakma. "Aku ikut, hyung!".

.

.

# Berlin, Germany #

[Jung's Coorporation]

.

.

"YA! APA KATAMU?", teriak seorang namja kepada orang lain di seberang sambungan teleponnya. Matanya mendelik marah. Tangannya terkepal. Ia terlihat gusar. "Apa dia selamat? Lalu dimana dia? Cepat temukan dia!", lanjut namja itu, lalu membanting ponsel i-Phone 5 miliknya ke atas meja kaca.

Namja itu mengerutkan dahinya, terlihat sangat frustasi. Namja bernama Jung Yunho itu menopang kepalanya di atas kedua lengannya. Ia menghela napas panjang.

"Kenapa sulit sekali menangkapmu? Aku hanya ingin membalaskan dendamku. Apa kamu tidak merestui tindakanku ini, Minnie-ah! Ya! Lee Sungmin, kali ini kamu akan aku tangkap dengan tanganku sendiri.", kata Yunho sambil memakai jasnya, lalu bergegas pergi keluar ruangan pribadinya.

.

.

# Seoul, South Korea #

[Cho Coorporation, Director's Room]

.

.

"Sajangnim, ada berita buruk!", ujar sekretaris namja paruh baya itu saat ia baru saja memasuki ruangan Direktur. Yeoja cantik itu memberikan sebuah file kepada namja paruh baya yang lebih dikenal dengan Direktur Cho.

"Eh, ada masalah apa?", kata Mr. Cho sambil mengenakan kembali kacamata bacanya. Namja paruh baya itu mengambil beberapa lembar file yang diberikan oleh sekretarisnya. Kalau dilihat file-file itu seperti sebuah berita dari internet.

Mr. Cho membalik beberapa lembar file. Tercetak tulisan besar-besar di hampir setiap halaman itu. 'TRAGEDY IN AUSTRIA'. 'SEEGROTE MENELAN KORBAN, SEORANG WARGA NEGARA KOREA SELATAN'. 'SEEGROTE IS A HORROR TOURISM. ONE IS DEAD.' Berbagai headline terpampang jelas di kertas itu sebagai penunjuk suatu peristiwa besar yang terjadi. Mr. Cho sedikit heran kenapa sekretarisnya memberikan berita-berita ini. Apa hubungan peristiwa ini dengan dirinya?

Dada Mr. Cho berdesir hebat. Rasa khawatir menyeruak masuk ke dalam aliran darahnya. Urat-urat di pelipisnya menegang. Sebuah foto tercetak besar di halaman terakhir. Wajah yang sangat familiar terlihat di dalam foto itu. Kulit pucat dengan bibir membiru, mata terpejam menahan sakit dan beberapa alat medis di sekitar tubuhnya. Mata namja paruh baya itu hanya tertuju pada sang korban yang ia yakini sebagai belahan jiwanya, orang yang paling ia cintai setelah istrinya. Korban itu adalah Cho Kyuhyun, anak kandungnya, anak semata wayangnya.

BRAAAAAK! Mr. Cho menjatuhkan lembaran kertas itu ke atas lantai. Tubuhnya melemas. Ia hampir saja jatuh, jika tubuhnya tidak membentur sisi meja sebagai penompang tubuhnya saat itu. Yeoja cantik—yang usianya hampir sama dengan sang direktur—segera membantu atasannya duduk di atas kursi kebesarannya.

"Apa mau saya ambilkan minum, sajangnim?", tanya yeoja itu menawarkan minuman untuk menenangkan pikiran atasannya yang kalut.

"Tidak perlu. Tolong hubungi Shim Changmin sekarang! Dan jangan beritahu siapapun mengenai berita ini.", titah Mr. Cho kalut. Ia mencoba mengatur napasnya yang sedikit tercekat. Mr. Cho mengendurkan ikatan dasinya, berharap oksigen yang masuk dapat menetralisir otaknya yang kalut.

Tak berapa lama, Mr. Cho mengaktifkan komputer yang biasa dia gunakan untuk bekerja. Ia perlu mencari informasi lebih banyak mengenai kondisi Kyuhyun saat ini. Mr. Cho harus bertindak secara tenang agar istrinya tidak shock mendengar kabar yang belum pasti.

BRAAAAK! Mr. Cho membanting keyboard komputernya dengan keras. Ia merasa kesal saat melihat informasi-informasi yang simpang siur, terutama mengenai kematian turis berkebangsaan Korea di negara Austria itu. "Andwae! Kau pasti masih hidup kan, Kyu! Appa yakin itu!", ucap Mr. Cho sebelum ia kembali mengetikkan sesuatu di dalam komputer kerjanya.

.

.

# International Hospital, Hinterbrühl, Austria #

[SiMin's side]

.

.

Seorang yeoja menunduk di atas sofa. Ia hanya tahu satu hal, penyesalan. Airmatanya terus mengalir tanpa henti, menyebabkan matanya bengkak dan sembab. Pipi chubby-nya terlihat sedikit tirus dengan lelehan jejak airmata yang membekas di kedua sisinya. Tak ada lagi warna merah merona yang tercetak di pipi berisi itu. Wajahnya pucat dan tubuhnya kekurangan beberapa kilogram massa tubuhnya dalam tiga hari ini. Yeoja manis yang sering dipanggil Minnie itu menolak semua asupan nutrisi yang ditawarkan oleh beberapa orang kepadanya. Ia hanya terdiam dalam tangis di atas sofa, tepatnya di depan ranjang rumah sakit.

Di atas ranjang itu ada seorang namja tampan terbaring lemah dibantu berbagai alat medis di tubuhnya. TIIIT! TIIIIT! TIIIT! Suara monitor pendeteksi jantung terus berbunyi seirama dengan degupan kerja jantung namja itu. SSSSHHH! Udara dari tabung oksigen senantiasa membantu pernapasannya yang sedikit tertahan itu. Aromatherapy pun menyeruak memenuhi udara di dalam kamar agar suasana menjadi tenang dan nyaman bagi namja tampan itu. Selang infus dan berbagai alat lainnya melilit di sekujur tubuhnya, menampakkan dirinya bagaikan seorang penjahat yang tak akan bisa lepas dari hukuman badan ini. Siapa pun, yang melihatnya, pasti miris dan ingin segera melepaskan semua alat yang menyiksa itu.

Sejak tiga hari yang lalu—saat tragedi itu terjadi—namja bermarga Cho itu terbaring koma di atas ranjang. Kulitnya semakin pucat seperti sesosok mayat. Matanya tertutup rapat, tak ada lagi kerlingan jahil dari kelopak mata itu. Bibirnya membiru, tak ada seringai dan perkataan pedas keluar dari bibir ranum itu. Tubuh itu terbujur kaku, mengistirahatkan dirinya dari sikap usil yang biasa ia lakukan kepada Sungmin dan Siwon, kedua sahabat barunya.

Miracle! Satu kata itu yang bisa diucapkan oleh semua orang yang tahu tentang tragedi ini. Saat dokter mulai pasrah menangani tubuh membeku itu, tarikan napas teratur dan degup jantung membuat semua orang menatap sosok Cho Kyuhyun dengan takjub. Dokter baru saja akan memvonisnya meninggal, namun entah bagaimana caranya namja itu seakan kembali dari kematian untuk tetap menjalani kehidupan. Sayangnya, yeoja manis yang terus menyalahkan dirinya itu pingsan sebelum berita membahagiakan itu datang dari bibir sang dokter. Tak menunggu lama, dokter dan para medis lainnya segera mengevakuasi Kyuhyun, lalu mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Namja itu harus segera mendapatkan pertolongan yang intensif.

TUUUK! Sebuah buku jatuh di atas pangkuan yeoja manis itu. Lee Sungmin—nama lengkap Minnie—menatap kelu ke atas buku yang kini berada tepat di hadapannya. Sebuah buku yang menjadi awal malapetaka ini. BRAAAK! Sungmin melempar buku itu jauh dari hadapannya, membuat buku itu menghantam lantai kamar rumah sakit. Tangisannya kembali pecah. Sungmin menenggelamkan tubuhnya di atas pahanya yang meringkuk di atas sofa.

"Kenapa kamu melemparnya?", tanya Siwon setelah mengambil buku itu kembali. Siwon duduk di samping yeoja manis itu, mengulurkan kembali buku itu ke depan wajah Sungmin. "Bukalah, lalu lihat apa isi dari buku ini!", pinta Siwon yang lebih mirip perintah.

Sungmin mendorong buku itu dari sisinya. Ia benar-benar jengah dan berharap buku terkutuk itu tidak pernah ada di dunia ini. Bagi Sungmin, buku itu membawa malapetaka, membuat salah satu orang terpenting di hidupnya menjadi seperti ini. Siwon menghela napas panjang saat untuk ke sekian kalinya Sungmin menolak kehadiran buku itu. Kali ini Siwon tak ingin menyerah. Ia membuka buku itu untuk membacakan isinya.

Siwon membuka buku yang terbungkus plastik bening itu dengan pelan—takut merusak penataannya yang sempurna. Kyuhyun memang orang yang apik dalam menjaga barang berharganya. Walau buku ini terjatuh ke dalam danau, buku ini masih terjaga aman karena Kyuhyun telah membungkusnya di dalam plastik. Siwon membuka buku yang sampulnya bertuliskan 'Creations Of Kyu' dengan huruf CK besar di bawahnya. Halaman pertama menunjukkan beberapa sketsa pemandangan gedung di Eropa. Terlihat jelas ini adalah Heidelberg Castle. Halaman-halaman berikutnya berisi sketsa kontemporer, sketsa manusia dan beberapa sketsa pemandangan lainnya. Siwon membalik halaman buku itu hingga sebuah sketsa dengan untaian kata terukir di atas kertas itu.

"Panas adalah kesan pertama pertemuan kami. Perih adalah kesan kedua aku memulai petualangan ini. Kedua kesan itu terpatri kuat di dalam dadaku. Airmatamu meruntuhkan keegoisanku, membuatku ingin selalu memelukmu. Diam-diam bayanganmu selalu menggelitik memoriku, hingga aku selalu bisa memahat ekspresimu ke dalam buku berhargaku.", ucap Siwon membacakan untaian kata itu. Kata-kata itu didasari sebuah sketsa yeoja yang sedang menangis. Yeoja manis berambut panjang dengan bibir berbentuk M, membuat setiap orang ingin memeluk model yang ada di atas kertas itu.

Siwon mengalihkan pandangannya ke halaman di sebelah gambar sebelumnya. Kali ini wajah yeoja itu tersenyum manis. Siwon menyunggingkan senyumannya—tanpa sadar, ketika terpampang jelas sketsa sempurna itu di depan matanya.

"Lee Sungmin… Sungminnie… Minnie… Ah, nama itu terdengar manis seperti dirimu. Kau bagaikan gula-gula yang membuatku adiktif akan rasa manismu. Senyuman renyahmu membuatku berdebar tak menentu. Andaikan kamu tahu kalau aku sangat-sangat menyukai lengkungan di kedua pipimu itu. Begitu chubby dan menggemaskan, membuatku ingin mengecupnya suatu waktu.", kata Siwon membacakan bait demi bait kalimat tulus dari diri seorang Cho Kyuhyun.

Sungmin mengangkat wajahnya, memalingkan pandangannya ke arah buku yang sedang Siwon genggam. Siwon membalas tatapan Sungmin, menyodorkan buku itu kepada orang yang berhak. "Kau terlihat begitu indah di dalam sketsa ini. Hanya orang yang memiliki perasaan tulus dan murni dapat menggoreskan setiap lekuk wajahmu ke dalam lukisan. Kau itu berarti banyak untuknya, Min. Jadi bacalah buku ini. Di setiap halaman hanya namamu dan wajahmu yang tercetak di dalamnya. Kamu pasti akan mengerti.", ujar Siwon, sebelum ia meninggalkan Sungmin yang masih terpaku pada halaman yang baru saja dibaca Siwon.

Sungmin memberanikan diri untuk membuaka lembaran baru pada buku itu. Lembaran-lembaran itu berisi sketsa wajahnya dalam berbagai ekspresi. Kalimat-kalimat manis yang Kyuhyun torehkan mampu membuat hatinya bergetar hebat. Jemari lentik Sungmin meraba halus kertas yang ada di hadapannya. Logika dan perasaannya berperang hebat. Ia belum yakin jika semua ini Kyuhyun tuliskan untuk dirinya. Ini terlalu mustahil.

Siwon menggelengkan kepalanya saat ia melihat Sungmin hanya membelalakkan matanya, tanda ketidakpercayaannya. Siwon memutuskan untuk menghampiri yeoja manis itu lagi, beruntung ia tidak benar-benar meninggalkan Sungmin hanya berdua dengan Kyuhyun. Namja kekar itu—sekali lagi—duduk di samping Sungmin. Ia mengelus surai rambut Sungmin pelan.

"Kamu masih belum yakin dengan perasaan Kyuhyun kepadamu? Bukankah dia sudah menyatakannya?", tanya Siwon tepat sasaran. Sungmin menunduk tak mampu menjawab pertanyaan Siwon. "Kamu butuh bukti apa lagi untuk menghapus keraguanmu itu?".

Sungmin hanya bisa diam. Ia tidak dapat menjawab semua pertanyaan itu. Saat ini pikirannya kacau, otaknya tak dapat berkerja dengan baik. Siwon menghidupkan sebuah camera digital yang ada di dalam genggaman tangannya. "Kau tahu, kita bertiga dibekali sebuah camera digital oleh Kyuhyun. Aku, kamu dan dia memiliki masing-masing satu camera digital untuk menyimpan semua hal yang kita sukai. The blue one is Kyuhyun's. You must see what he likes the best.", ucap Siwon sambil mengarahkan menu camera digital itu ke penyimpanan gambar.

Sebuah potret Sungmin yang tengah berjongkok di sebuah taman bunga, terpampang jelas pada layar camera. Siwon mengganti gambar selanjutnya. Lagi-lagi hanya potret Sungmin. Yeoja manis itu sedang terlelap di atas kursi taman. Siwon tersenyum menatap dalam potret di hadapannya. "It's you. Then it's you. Oh my! It's you again. Again and again.", kata Siwon saat ia terus mengganti berbagai potret yang tersimpan di dalam memory camera itu.

Sungmin—yang semula hanya diam—mengalihkan pandangannya ke layar camera itu. Ia menarik camera yang ada di tangan Siwon, memastikan apa yang dikatakan Siwon bukanlah hal yang mengada-ada. Sungmin menutup bibirnya dengan telapak tangan kirinya, saat semua potret ekspresinya terrekam jelas ke dalam camera itu. Jadi selama ini isi camera ini didominasi oleh sosoknya, walau ada beberapa foto pemandangan atau foto suasana kota Eropa lainnya.

"Bukan hanya itu saja, Min. Lihatlah camera digital-ku. Disini tertangkap bagaimana ekspresi Kyuhyun saat mencuri pandang padamu. Asal kamu tahu, aku ini penggemar setia hubungan kalian berdua. Bahkan aku punya foto saat kalian berciuman di rumah Kangin-ahjussi.", jelas Siwon sambil mengutak-atik camera digital miliknya yang berwarna hitam. Ia menunjukkan kepada Sungmin potret-potret yang berhasil didapatkannya.

Potret Kyuhyun saat memandang Sungmin dari kejauhan, potret Kyuhyun cemberut saat Sungmin sedang bersama Franz, potret Kyuhyun tersenyum saat Sungmin memeluk Kangin dan potret lainnya, termasuk potret saat kedua bibir KyuMin beradu begitu lama di dalam apartment Kangin. Tidak ada yang menyangka namja kekar itu merekam tingkah laku keduanya secara diam-diam. Siwon is KyuMin Shipper, eoh?

Tangis Sungmin kembali pecah. "A-aku… Aku tidak mencintainya, Wonnie. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.", jawab Sungmin terbata-bata pada awalnya, namun cepat di akhir kalimatnya. "Sejak awal aku menyukaimu, a-aku merasa nyaman denganmu dan aku merasa ingin selalu di dekatmu.", jujur Sungmin, menyembunyikan rona di wajahnya.

"Hahahahahahaha!". Tawa Siwon pecah, melupakan dirinya yang berada di dalam ruang rawat rumah sakit. Siwon menepuk kepala Sungmin pelan. "Dasar bodoh! Dari awal aku hanya menganggapmu sebagai seorang dongsaeng. Rasa nyaman yang kamu rasakan adalah rasa nyaman antara oppa dan dongsaengnya. Selama ini kamu hidup sendiri, jadi saat ada orang yang melimpahkan begitu banyak perhatian kepadamu, kamu salah mengartikannya.", jeda Siwon.

"Ingatlah! Siapa yang membuat dadamu bergetar hebat saat bersamanya? Siapa yang membuatmu uring-uringan saat dia bersama yeoja lain? Siapa yang bisa membuatmu terlelap saat kamu merasakan gundah? Siapa yang membuatmu merasa gelisah saat dia tidak bersamamu? Siapa yang membuatmu merasa hampir mati saat sesuatu yang buruk terjadi padanya? Siapa? Hanya kamu yang bisa menjawabnya, Min. Sadarlah sekarang! Buang egomu karena kebahagiaanmu hanya kamu yang bisa menentukannya.", lanjut Siwon sebelum meninggalkan Sungmin. Siwon keluar dari dalam kamar Kyuhyun, berharap Sungmin mampu mencurahkan semua perasaannya.

Sungmin menutup wajahnya yang basah airmata dengan kedua telapak tangannya. Beberapa memori terulang jelas di dalam ingatannya. Ia menemukan satu sosok yang mampu membuat dirinya tak bisa mengontrol diri, merasa gelisah, merasa nyaman dan merasa sangat dicintai. Ia menemukan satu sosok yang baru ia sadari bahwa sosok itu selama ini telah menjadi oksigennya, membuatnya sangat bergantung kepada orang itu. Ya, sosok itu adalah namja yang terbaring di depannya, Cho Kyuhyun.

Sungmin berdiri, lalu menghampiri sosok Kyuhyun yang masih terlelap selama tiga hari ini. Yeoja manis itu duduk di kursi, tepat di samping ranjang Kyuhyun. Sungmin menggenggam telapak tangan Kyuhyun yang berbalut perban dan infus. Ia membawa tangan Kyuhyun agar dapat mengelus pipinya lembut. Baru ia sadari, ia merindukan momen-momen seperti ini.

"Hiks… Mianhae, Kyu. Hiks… Hiks… Mi-mianhae… Selama ini aku terlalu egois. Aku hanya takut, hiks, takut kamu menipuku dengan sikap jahilmu. A-aku… hiks… Aku juga menyukaimu, Kyu. Ah, ani… Aku mencintaimu. Maafkan aku, Kyu. Ireona! Hiks… hiks… hiks… Kyu, Ireona! Jebal…", tangis Sungmin frustasi. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Kyuhyun, berharap namja itu terbangun dari tidurnya. Ia berharap Kyuhyun menyeringai jahil padanya, mengatakan bahwa ini hanya permainannya.

"YA, SUNGMIN! HENTIKAN!". Sebuah teriakan menginterupsi tindakan Sungmin yang masih menggoyangkan tubuh Kyuhyun tanpa henti. Kim Kibum baru saja kembali dari membeli makanan untuk Sungmin saat ia melihat Sungmin melakukan sesuatu yang mungkin dapat membahayakan kondisi Kyuhyun. "Stop it now. You hurt him!", kata Kibum, menarik tubuh Sungmin dari Kyuhyun.

Sungmin memeluk tubuh Kibum. "Aku hanya ingin ia cepat bangun. Aku muak melihat permainannya seperti ini. A-aku…".

Kibum menepuk-nepuk punggung Sungmin pelan. "Sssst… Uljima… Everything's gonna be okay. Just believe it.".

.

.

#Kyuhyun's room, Hinterbrühl Hospital, Austria#

[Day 20, SiBumKyuMin's Side]

.

.

Hari beranjak malam, ini sudah hari kedua setelah Sungmin menyatakan cintanya kepada Kyuhyun. Sungmin sudah tidak menyalahkan dirinya lagi, justru ia semakin intensif menjaga sosok namja paling berharga dalam hidupnya itu. Dokter mengatakan bahwa orang koma masih dapat mendengar dan berinteraksi dengan orang di sekelilingnya, walau tidak dapat merespon apapun dalam bentuk gerakan. Dokter juga menyarankan agar Sungmin dan lainnya lebih sering mengajak Kyuhyun berbicara. Sejak saat itu Sungmin sering bercerita tentang banyak hal kepada Kyuhyun, begitu pula Siwon, Kibum, Hangeng dan Heechul lakukan. Pasangan HanChul menunda acara honeymoon mereka setelah mendengar berita duka itu, jadi keduanya sering mampir untuk menjenguk.

"Minnie, kamu ikut pulang saja malam ini. Biarkan Siwon yang menjaga Kyuhyun. Kamu juga perlu istirahat.", ajak Heechul kepada yeoja kelinci itu.

Sungmin menggelengkan kepala. "Biarkan aku menjaga Kyuhyun sendiri malam ini. Kalian tidak usah menemaniku. Aku ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya saat dia bangun. Tidak usah khawatir. I'll be fine.", ucap Sungmin meyakinkan semua orang di dalam ruangan itu.

"Aku akan menemanimu.", putus Siwon.

"Hahaha! Lihat saja wajahmu, oppa! Sudah seperti mayat hidup. Pulanglah!", tolak Sungmin, mendorong tubuh Siwon keluar kamar Kyuhyun.

"Baik-baik di sini ya, Min. Annyeong!", pamit Hangeng dan Kibum bersamaan, sebelum mereka semua menghilang di koridor rumah sakit.

Sungmin menutup pintu kamar, menyandarkan tubuh lelahnya di pintu. Mata bulatnya memperhatikan Kyuhyun dari tempatnya berdiri. Kyuhyun terlihat begitu tenang dan tak ingin diusik oleh siapa pun. Sungmin melangkah pelan ke ranjang Kyuhyun, lalu mendudukkan dirinya di kursi yang selama dua hari ini setia menemaninya menjaga Kyuhyun. Seperti biasa, Sungmin menggenggam tangan Kyuhyun dan memandang wajah tampannya—walau tertutup sebagian besar oleh masker oksigen. Tak berapa lama yeoja manis itu tertidur.

SREEET! "Hfa-haf… hus…". SREEET! Sebuah suara lirih terdengar di dalam kamar itu. Sungmin sedikit terganggu saat sesuatu menyentuh pipinya yang diletakkannya di atas ranjang. Sungmin membuka matanya, mengintip sosok Kyuhyun dari sela matanya yang sedikit terpejam itu. SREEET! Sebuah jari bergerak di dalam genggaman tangan Sungmin. Yeoja manis itu tersentak bangun, menyadari jari siapa itu.

"Hfa-haf… hus… haaah~ Hfa-haf… hus…", gumam Kyuhyun kesulitan karena mulutnya masih tertutup masker oksigen. Tangan Kyuhyun sedikit terangkat, seakan memberikan tanda kepada Sungmin. "Hfa-haf… hus… haaah~ Hfa-haf… hus…", gumam namja itu berulang-ulang.

"Apa, Kyu? Kamu minta apa?", tanya Sungmin, mendekatkan telinganya ke bibir Kyuhyun.

Kyuhyun menarik napas panjang. "Hauuuuuus.", ucapnya dalam satu hembusan napas yang kemudian diikuti dengan dadanya naik-turun, kesulitan mengambil napas kembali. Kyuhyun masih terlihat lemah dan butuh tenaga ekstra untuk mengucapkan sepatah kata.

Sungmin segera mengambilkan segelas air dengan sedotan, lalu membantu Kyuhyun untuk minum. Namja tampan itu beberapa kali mencoba menghisap air dari dalam sedotan, tapi usahanya selalu gagal, sampai akhirnya Kyuhyun menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia sudah kesal dengan usahanya itu. Kyuhyun menarik masker oksigennya lagi, meletakkannya di atas hidungnya. Sungmin tidak menyerah. Ia mengambil sebuah sendok, berusaha memberikan air kepada Kyuhyun. Ia tahu namja itu sedang sangat kehausan.

"Ayo, Kyu! Kita coba lagi.", tawar Sungmin saat Kyuhyun masih memegang maskernya dengan posesif. Kyuhyun terlihat sedang mengatur napasnya yang tersengal. Tak berapa lama namja itu melepas maskernya. Sungmin langsung memberikan beberapa sendok air kepada Kyuhyun. Tidak semua air itu masuk ke dalam kerongkongan Kyuhyun karena namja itu masih sangat kesulitan mengatur tubuhnya. Beberapa tetes air jatuh ke atas leher Kyuhyun yang sudah ditataki tissue oleh Sungmin.

Saat dirasa kerongkongannya tidak sekering sebelumnya, Kyuhyun menepis tangan Sungmin pelan sebagai tanda ia sudah selesai minum. Kyuhyun kembali tersengal-sengal, memakai masker oksigennya agar ia dapat bernapas secara teratur kembali.

Airmata Sungmin mengalir di kedua sisi pipinya, saat ia melihat begitu lemah dan susahnya Kyuhyun hanya untuk melakukan beberapa gerakan saja. "Akhirnya kamu sadar, Kyu. Aku… Aku sangat merindukanmu.".

"Uhuk… Uhuk…". Kyuhyun terbatuk beberapa kali, saat tubuh berat Sungmin menimpa badannya. Sungmin melepaskan pelukannya. Ia terlalu senang sampai-sampai lupa dengan kondisi Kyuhyun saat ini.

CUP!

Kyuhyun membelalakkan matanya saat bibir pouty itu menyentuh bibirnya. Tak ada lumatan, hanya sentuhan ringan dan sesaat, mengingat Kyuhyun masih membutuhkan oksigennya. Sungmin tersenyum manis dengan wajah yang merona merah.

"Saranghae, Cho Kyuhyun! Awas kalau kamu tidur lagi dan bertindak bodoh seperti itu lagi. Aku tidak segan-segan untuk memarahimu.", ancam Sungmin, masih dengan rona merah di kedua pipinya. Sebenarnya jantungnya berdegup dengan sangat kencang, namun ia tidak ingin menyia-nyiakan moment ini. Ia tidak ingin melepas Cho Kyuhyun-nya lagi. Posessive, eh?

Kyuhyun tidak menjawab apapun. Ia masih saja membelalakkan matanya dengan sempurna. Namja tampan itu merasa ia berada dalam alam mimpi. Sungguh di luar nalar imajinasinya.

"Kenapa kau diam saja, heh? Kau sudah tertangkap basah tuan Cho. Aku tahu semua tindakan kriminalmu. Kamu diam-diam menjadi pengagum rahasiaku, menuliskan kata-kata memuakkan di dalam buku malapetaka itu, lalu memotretku seenaknya. Kamu harus dihukum!", kata Sungmin panjang-lebar dengan mimik wajah kesal.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya beberapa kali, terlihat panik dengan ancaman. "Haah… Miih… Miiaaah… haah… Mianhae.", ucap Kyuhyun lirih, namun masih bisa didengar jelas oleh Sungmin.

Sungmin menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. "Kamu dihukum untuk selalu berada di sampingku, mencintaiku dan menjagaku seumur hidup. Selamanya. Tidak ada bantahan. Apakah kamu mau menjadi kekasihku, Mr. Cho?", tanya Sungmin pelan tepat di samping telinga Kyuhyun. Sungmin mengangkat wajahnya, ingin melihat ekspresi Kyuhyun setelah ia menjabarkan semua perasaannya.

Hening. Tak ada reaksi apapun dari Kyuhyun.

Masih tetap hening. Kyuhyun hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.

"YA! JAWAB AKU!", teriak Sungmin frustasi sambil mencubit pipi tirus Kyuhyun gemas.

SREEEET! Kyuhyun mencengkram tangan Sungmin. Namja itu melepas masker oksigennya, lalu sebuah seringai tercetak jelas di bibirnya. "Yes as you wish!", jawab Kyuhyun lancar, tanpa kesulitan yang berarti.

CUP! Kali ini Kyuhyun merebut bibir ranum Sungmin untuk beradu dengan bibirnya. Kyuhyun melumat bibir Sungmin, seakan ia ingin menghabiskan bibir itu seorang diri. Rasa cinta dan kasih yang selama ini terkukuh di dalam hatinya, lepas begitu saja tersalurkan melalui pagutan-pagutan itu. Setelah beberapa saat, kebutuhan oksigen menyerang keduanya. Kyuhyun melepas ikatan mereka, menjulurkan lidahnya kepada Sungmin—yang terlihat shock atas respon Kyuhyun di luar bayangannya itu. Kyuhyun kembali memakai masker oksigennya.

PLETAAAK! "Ya! Jadi kamu berpura-pura lemah? Aish! Kau menyebalkan!", ambek Sungmin saat ia sadar bahwa Kyuhyun memiliki kekuatan untuk menciumnya lama seperti itu.

"Hehe… Aku tidak tahu. Setelah kamu bilang saranghae, aku mendapatkan energi luar biasa. Minnie, you are my life. Unbelievable!", balas Kyuhyun sedikit tidak jelas karena bibirnya tertutup masker oksigen.

Sungmin hanya mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena dijahili oleh namjachingu barunya. "Haha… Jangan ngambek dong, chagiya! Aku kan masih sakit.", rajuk Kyuhyun.

.

.

# Hinterbrühl Hospital, Austria#

[Day 21, Other's Side]

.

.

"Kamu masuk saja dulu. Aku akan memparkirkan mobil.", kata Siwon kepada Kibum yang sudah turun terlebih dahulu di lobby rumah sakit.

"Ne. Hati-hati.", jawab Kibum, melambaikan tangannya kepada Siwon, lalu masuk ke dalam rumah sakit.

Saat ini sudah pukul sembilan pagi, waktu biasa bagi Kibum dan Siwon untuk kembali menjaga Kyuhyun. Kibum membawa satu tas pakaian ganti untuk Sungmin dan satu tas berisi sarapan dan cemilan untuk Sungmin. Kibum terlalu senang saat yeoja manis itu kembali memiliki selera makannya. Tak sulit bagi Kibum untuk melalui berbagai pintu rumah sakit yang harus dilalui dengan card khusus itu. Denah rumah sakit ini sudah dihapalnya di luar kepala.

"Chogiyo!", panggil seorang namja saat Kibum baru akan masuk ke dalam lift.

"Ne.", jawab Kibum—sedikit heran ketika ada seseorang yang menggunakan bahasa Korea kepadanya. "Ada perlu apa?", tanya Kibum dengan bahasa Korea.

"Hmm… Aku dengar ada seorang namja berkebangsaan Korea yang dirawat di sini. Dia adalah korban tragedi Seegrotte.", jabar namja itu kepada Kibum.

'Siapa namja ini? Kenapa ia menanyakan Kyuhyun?', tanya Kibum dalam hatinya. Yeoja itu memasang wajah datarnya, tidak berniat menjawab apapun.

"Apa kamu mengenalnya? Aku temannya, lebih tepatnya teman Lee Sungmin".

DEG!

'Sungmin-ssi? Wah ada yang tidak beres!', batin Kibum bergejolak.

"Ah, mianhae. Soal itu kamu bisa tanyakan kepada perawat atau recepsionist di sebelah sana.", tunjuk Kibum ke sebuah arah kepada namja itu. Tak menunggu lama Kibum segera menutup lift yang baru saja terbuka untuknya. "Gomawoyo!".

'Sial! Jangan bilang itu namja yang mencari Sungmin! Bagaimana bisa ia menemukan Sungmin di sini? Aish!', pikir Kibum kalut. Ia bergegas menuju kamar Kyuhyun.

Siwon baru saja selesai memarkirkan mobil Kibum pada tempat biasa—khusus untuk keluarga pasien. Siwon baru saja menutup pintu mobil Kibum saat sebuah tangan menjegal tangan Siwon. Namja kekar itu melihat ke arah sang pelaku. Matanya membuka lebar. "Hyung?".

"Ne, Siwon! Syukurlah aku langsung menemukanmu. Ayo pulang! Kamu terlalu banyak membuat masalah.", paksa TOP, menarik Siwon ke arah mobilnya.

Seorang namja turun dari mobil TOP. "Hai, Siwon-hyung!", sapa adik bungsunya dengan senyuman menggoda dan tatapan yang mengejek.

"How can? Kenapa kamu juga ada di sini, Minho?", tanya Siwon kaget. Dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan ditemukan oleh kakaknya terlebih lagi adiknya ikut bersama. TAAK! Siwon melepas cengkraman tangan TOP. "Dengarkan aku, hyung. Aku belum bisa pulang. Sahabatku dalam keadaan kritis di dalam sana. Aku pasti akan segera pulang, tapi bukan sekarang. Tolong mengertilah.".

"Apa kamu bilang? Mengerti? Selama ini kami sudah mentoleransi sikapmu itu beberapa kali, tapi apa? Kamu semakin liar, Choi Siwon. Jika kamu berlama-lama disini, bisa-bisa kamu dianggap melakukan tindakan kriminal bersama temanmu itu.", marah TOP.

CKIIIIIT! Beberapa mobil hitam berhenti di dekat lobby rumah sakit, membuat Siwon mengalihkan perhatiannya. Beberapa namja berpakaian jas hitam keluar dari dalam mobil-mobil itu. Seorang namja dengan kulit kecoklatan keluar dari dalam rumah sakit. Ia telihat sangat marah. "Kalian harus menjaga ketat rumah sakit ini. Aku tidak bisa masuk ke dalam gara-gara sistem keamanan rumah sakit yang berlebihan ini. Aish! Awas jangan sampai mereka mencurigai kita.", titah namja itu, lalu masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang baru saja keluar dari dalam parkiran.

SREEET! "Ya! Tatap aku saat aku bicara denganmu.", ujar TOP semakin kesal karena merasa diacuhkan adiknya.

Siwon tidak mempedulikan kata-kata kakaknya, justru ia berlari masuk ke dalam rumah sakit melalui sebuah pintu di dekat parkiran. TREEEK! Pintu kaca itu terbuka lebar setelah Siwon menunjukkan kartu khusus di mesin scan. Hanya orang-orang yang memiliki kartu itu bisa masuk ke dalam rumah sakit secara leluasa.

DUUUG! DUUUG! DUUUG! TOP menggedor pintu kaca yang telah tertutup dari luar. "Ya! Siwon, berhenti!", teriak TOP semakin murka.

Siwon bergegas masuk ke dalam kamar Kyuhyun, ingin memberitahukan apa yang sedang terjadi. Sungmin, Kibum dan Kyuhyun memandang Siwon dengan rasa takut yang menyelimuti hati mereka. Siwon tersenyum senang. Ia menghampiri ranjang Kyuhyun. "Ah, Kyu! Kau sudah sadar? Syukurlah.", ujar Siwon, melupakan masalah yang membuatnya terengah-engah karena berlari.

Kyuhyun mengangguk. "Ada apa? Kenapa kamu berlari?", tanya Kyuhyun lebih jelas karena masker oksigennya telah berganti dengan selang oksigen di hidungnya.

"Ah iya!". Siwon memukul keningnya. "Aku melihat Yunho dan kawanannya di bawah sana. Kita harus cepat pergi. Mereka telah mengepung rumah sakit ini.", cemas Siwon.

"Ne. Kami tahu. Aku sudah menghubungi eonni agar menjemput kalian di sini. Kita masih punya sedikit waktu sebelum jam berkunjung. Mereka tidak akan bisa masuk tanpa kartu pengenal.", kata Kibum tenang.

"Ta-tapi aku tidak ingin pergi. Kyuhyun baru saja sadar dan aku harus tetap berada di sampingnya.", tolak Sungmin, menggenggam erat tangan Kyuhyun.

"Kita tidak punya pilihan. Sebaiknya kamu bersembunyi sebelum semuanya ini menjadi masalah.", ucap Siwon bijak.

KRIIING! Suara ponsel berdering. "Yoboseyo. Ne, Eonni! Sebentar lagi kami ke sana.", putus Kibum kepada orang di seberang telepon. "Heechul-eonni sudah sampai. Kita harus cepat.", kata Kibum sambil merapikan beberapa baju untuk Sungmin. "Kamu harus menggunakan ini untuk penyamaran.".

SREEET! Kyuhyun memaksakan dirinya untuk duduk di atas ranjang. Ia hendak melepas infus set di tangannya saat tangan besar Siwon menahan tindakan Kyuhyun. "Hei, bodoh! Apa yang kamu lakukan?".

"Aku akan ikut pergi bersama kalian.", jawab Kyuhyun enteng.

"Diam di sini. Kamu hanya akan menyusahkan kami jika memaksakan diri untuk ikut. Aku tidak ingin membawa orang sekarat sepertimu.", tolak Siwon ketus.

"Ta-tapi…".

CUP! "Diamlah, chagi. Kesehatanmu itu yang terpenting. Kita pasti akan kembali. Saranghae. Jaga diri ya!", kata Sungmin setelah mengecup bibir Kyuhyun singkat. Ia sadar bahwa dirinyalah yang dicari oleh kawanan Yunho, bukan Kyuhyun. Namja tampan itu akan tetap aman jika berada di dalam rumah sakit ini.

Kyuhyun tersenyum pasrah. "Kamu tetap cantik dengan kerudung seperti itu. I love you. Hati-hati.", kata Kyuhyun berpamitan pada Sungmin. Kedua orang—yang baru saja menjadi sepasang kekasih beberapa jam lalu itu—berpelukan beberapa saat.

Siwon menarik tangan Sungmin dengan sebuah tas di tangan satunya. "Ayo, pergi!".

"Sungmin!", panggil Kibum sebelum yeoja manis itu keluar kamar. HAP! "Pakailah ponselku itu agar kita masih bisa saling berkomunikasi. Ikuti saja semua perintah kakakku. Mereka buronan yang handal.", jelas Kibum setelah memberikan ponselnya kepada Sungmin. Sungmin hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti.

BRAAAAK! Tiba-tiba pintu kamar Kyuhyun terbuka lebar, setelah Sungmin dan Siwon keluar dari kamar itu beberapa saat yang lalu. Kibum dan Kyuhyun menelan ludah kecut, melihat sosok namja berdiri di ambang pintu kamar Kyuhyun.

"CHO KYUHYUN!".

"Eh, appa?".

.

.

\(^_^")…::TBC::…(# )a

.

Wednesday, September 26, 2012 at 10:14pm