Previous Chapter:

"Sakura, kurasa 'permainan' ini akan segera berakhir. Sekarang, aku tidak yakin siapa yang akan menang. Aku merasa aneh ketika kau tidak ada, dan aku... tidak ingin menyerahkanmu kepada Akasuna, kepada siapapun," bukannya menjawab pertanyaan Sakura seputar Sasori, Sasuke malah mengatakan hal di luar dugaan Sakura. Sakura menatap onyx milik Sasuke dengan intens, mencoba mencari kebohongan dari dalam sana, namun hanya keseriusan yang terlukis di wajahnya.

Sakura tersenyum kecil dan bersandar ke dada bidang Sasuke, mengeratkan pelukannya. "Aku juga tidak begitu yakin lagi," gumamnya.

"Bagaimana jika kita berdua kalah pada saat yang sama? Apakah kita bisa memulai semuanya dari awal?" tanya Sasuke.

"Yeah, Sasuke. Kita lihat saja sampai saat itu tiba. Dan aku akan memikirkannya," balas Sakura, kuapan kecil meluncur dari mulutnya.

Setelah itu, keduanya saling diam. Menatap cakrawala yang luas, menunggu sang matahari kembali ke peraduannya. Sasuke mengecup pipi Sakura dengan lembut, kemudian mengangkat tubuh Sakura ke dalam pelukannya, dan membawanya ke dalam mobil sport merahnya. Sasuke tidak ingin meretakkan kepercayaan yang telah diberikan oleh Gaara padanya. Lagipula, Gaara bisa saja benar-benar menghajarnya jika Sasuke menahan Sakura lebih lama lagi.

Tahukah kau? Keduanya bahkan tidak peduli lagi dengan permainan ini. Mereka benar-benar kalah sekarang.


Let's Start The Game


Genre: Romance

Rated: T+

Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, alur berantakan, dll

Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto

Let's Start The Game©Yara Aresha


Chapter Seven


Keesokan harinya, ketika Sakura keluar dari kediaman Sabaku, ia melihat Sasuke sudah duduk menunggunya di atas sepeda motor besar bewarna merah. Sasuke tersenyum lebar seraya mengulurkan helm kepadanya. Sesuai kesepakatan mereka di Hokkaido kemarin, mulai hari ini, Sasuke akan mengantar dan menjemputnya sekolah―meskipun Sakura harus membujuk Gaara sedikit keras agar mengijinkannya.

"Sepeda motor siapa ini?" Sakura menatap Sasuke dan sepeda motor itu bergantian.

"Ah, ini milik Itachi, kakakku. Mobilku masuk bengkel. Ayo, naiklah," ujar Sasuke seraya mengenakan helm yang sedari tadi di genggaman Sakura ke atas kepala gadis itu.

Sakura mendesah. "Kau harus tahu, bahwa ini pertama kalinya aku naik sepeda motor," katanya ragu.

Sasuke mengerutkan keningnya, lalu tersenyum tipis. "Benarkah? Sepertinya kau sudah banyak mendapatkan pengalaman baru bersamaku. Kalau begitu ini akan menjadi pengalaman baru lagi. Sekarang, naiklah. Percaya padaku?"

Sakura menatap manik onyx milik Sasuke sesaat, lalu perlahan-lahan keraguannya memudar dan ia tersenyum. "Baiklah, Sasuke. Kuharap kau mengendarai sepeda motormu dengan baik, keselamatanku ada ditanganmu."

"Hn, kau sudah siap? Pegang yang erat, tuan putri," balas Sasuke ketika Sakura telah duduk di atas jok belakang. Kemudian menyalakan mesin motornya, menginjak gas dan membuat motornya melaju dengan kencang.

Reflek, Sakura memeluk pinggang Sasuke dengan erat. "BAKA! Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba?" teriaknya.

"Apanya? Aku sudah memberitahumu untuk pegangan, 'kan? Hahaha," balas Sasuke.

"Kau... Menyetirlah dengan benar!"

Tidak memedulikan umpatan dan sumpah serapah yang dilontarkan pengguna jalan lainnya―teriakan Sakura juga tentunya. Sasuke tetap melajukan sepeda motornya membelah jalanan kota Tokyo dengan kecepatan tinggi. Sementara, Sakura hanya bisa menutup matanya seraya melingkarkan tangannya di pinggang Sasuke lebih erat.

Sepoi-sepoi angin meniup, menyertai detakan jantung mereka yang berdegub kencang. Meskipun ini bukan kali pertama mereka dalam jarak dekat, namun tetap saja, keduanya tidak pernah bisa membuang perasaan yang tidak biasa di dalam diri mereka. Tubuh Sakura menghangat, kemudian ia menempatkan ujung dagunya di atas pundak Sasuke. Wangi aroma tubuhnya begitu menusuk indera penciumannya, nyaman dan begitu menenangkan. Sakura sedikit tersentak saat sebelah tangan Sasuke mengusap pergelangan tangannya yang melingkar, sentuhan hangat yang membuat tubuhnya seakan terhempas jauh melayang.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di area parkir Konoha High. Sasuke mematikan mesin sepeda motornya dan membuka helm-nya saat Sakura turun dari jok dan mencoba melepas helmnya. Detik berikutnya, Sakura menyerahkan helm tersebut kepada Sasuke.

.

.

"Yang tadi itu menyenangkan, eh? Lain waktu, aku akan mengajakmu balapan," ujar Sasuke saat ia dan Sakura berjalan di lorong sekolah, hendak menuju kelas mereka.

Alih-alih menjawab pertanyaan dari Sasuke, Sakura berhenti sejenak dan memijit pelipisnya, mengabaikan laki-laki tampan itu.

"Kau kenapa? Sakura, wajahmu pucat. Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, seraya meletakkan punggung tangannya di depan kening Sakura.

Sakura menepisnya dengan halus, matanya menatap tajam laki-laki yang kini ada di depannya. "Diamlah, aku pusing gara-gara ulahmu. Kau harusnya sadar, yang tadi itu berbahaya! Mulai sekarang, berhentilah menyetir dengan kecepatan tinggi, Sasuke-kun no baka!" teriaknya, mengakibatkan beberapa pasang mata tertuju kepada mereka berdua.

Sasuke terkekeh geli. "Tsk, ayolah. Sakura, sayang. Itu hal yang menyenangkan, kau bisa menguji adrenalinmu," balasnya.

Sakura menggelengkan kepalanya, memberi pukulan kecil di depan dada Sasuke. "Aku tidak mau jika sampai kau mati konyol. Ini terakhir kalinya, kau mengerti?" ujarnya. Segera saja ia berlari ke kelasnya saat menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Meninggalkan Sasuke yang masih mematung di lorong sekolah.

"Apakah gadis itu peduli padaku? Rasanya, dia membuatku benar-benar gila," gumam Sasuke sembari tersenyum geli.

Saat Sasuke tiba di kelas 2-A, kelasnya sudah penuh. Sasuke adalah murid terakhir yang datang. Tidak menyangka hari ini teman-temannya rajin sekali datang pagi mendahuluinya. Sasuke segera mendudukkan tubuhnya di kursinya yang berada paling depan di barisan paling kiri. Manik onyx-nya menoleh ke sebelah kanan, menatap Sakura yang kini tengah duduk di kursinya, terlibat sebuah obrolan bersama Karin dan Tayuya. Segaris senyum tipis muncul di wajahnya ketika melihat gadis merah muda itu. Satu-satunya gadis yang bisa membuat dirinya bahagia hanya karena memandang wajahnya.

.

.

"Hey, apa kau sudah mulai tidak waras? Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri? Kau mengerikan, tuan," ujar Suigetsu―teman sebangku Sasuke―beberapa detik setelah bel masuk berbunyi dan pelajaran pertama berlangsung, seraya menepuk pundak Sasuke pelan. Sontak saja, hal itu berhasil mengembalikan sang player dari dunia khayalannya.

"Berisik kau," balas Sasuke, kemudian pandangannya kembali menatap papan tulis di depannya.

"Cih, apa susahnya kau jujur dengan dirimu sendiri? Kalau cinta bilang saja cinta. Bukankah hal yang mudah untuk seorang player sepertimu? Ah, aku lupa. Kau 'kan tidak pernah benar-benar mencintai seseorang," bibir Suigetsu, dan hanya direspon dengan dengusan dari Sasuke.

Cinta, kata-kata itu membuat perut Sasuke tergelitik. Terlalu cepat untuk menyimpulkan perasaannya kepada Sakura adalah cinta. Meskipun Sasuke akui, ia mulai menyukainya lebih dari yang ia pikirkan. Sasuke benar-benar tidak ingin kehilangan Sakura. Dan entah mengapa, Sasuke merasa beruntung mereka tidak pernah mengatur kesepakatan khusus tentang ganjaran apa yang akan mereka terima jika salah satu dari mereka kalah dalam 'permainan' mereka ini.

.

.

Setelah bel tanda usainya kegiatan sekolah berbunyi. Kini Sakura telah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam cheerleader yang bernomor punggung 28, sesuai nomor punggung milik Sasuke di klub sepak bolanya. Beberapa meter dari lokasi Sakura, Sasuke tersenyum lebar saat melihat Sakura berdiri di depan lokernya, Sakura menunggu Sasuke untuk pergi bersama ke lapangan sepak bola untuk berlatih―tim cheerleader dan klub sepak bola mengadakan latihan bersama. Tidak lama kemudian, senyum Sasuke memudar, ia mengerutkan keningnya saat dua orang laki-laki tiba-tiba saja menghampiri Sakura. Bukan Sabaku Gaara, ataupun Akasuna Sasori. Melainkan duo pembuat onar. Player. Yakushi Kabuto dan Kaguya Kimimaro. Sekilas memang tidak jauh berbeda dengan Uchiha Sasuke. Namun, Sasuke tidak pernah berkencan dengan beberapa gadis dalam waktu yang bersamaan. Dan Sasuke begitu menghormati gadis itu, meskipun ia tidak benar-benar tertarik. Ciuman saja tidak pernah, ya Haruno Sakura adalah gadis pertama yang mendapatkan ciumannya. Berbeda dengan Kabuto dan Kimimaro, tidak sedikit gadis-gadis di luar sana menghabiskan malam bersama mereka di sebuah hotel.

Sasuke melangkah dengan cepat, menggertakkan giginya saat Kabuto mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Sakura. Sakura menepisnya dan memberikan tatapan tajam, mencoba untuk melangkah menjauh namun tidak bisa karena Kimimaro berhasil menarik bahunya dan memeluknya.

"Sialan, mereka berani menyentuh gadisku? Tidak akan kumaafkan!" gumam Sasuke.

.

.

"Haruno-san, kau tahu? Kau begitu cantik dan sexy, hanya saja nomor punggung Uchiha membuatmu nampak begitu buruk," Kimimaro berbisik di telinga Sakura.

"Apa yang kalian lakukan?" Sakura berteriak, mendorong Kimimaro, dan berusaha melepaskan pelukan laki-laki tidak tahu diri itu.

Kabuto tertawa licik, dan mulai melancarkan aksinya. Menyentuh lengan mulus Sakura yang terbuka, dan mencium leher jenjangnya. Sontak saja hal ini membuat Sakura menjerit ketakutan, dan memukul mereka berdua sekuat tenaganya. "Tidak, kumohon. Berhentilah! Gaara!"

"Dasar gadis bodoh," desis Kimimaro saat pukulan Sakura mengenai rahangnya.

Sakura menangis, merutuki beberapa orang yang hanya melihatnya, lalu pergi begitu saja tanpa berniat untuk menolongnya, melaporkan kepada guru, atau semacamnya dan menyayangkan mengapa Gaara, Sasori, atau bahkan Sasuke tidak ada di sana.

"Hentikan!" teriakan itu membuat Sakura, Kimimaro dan Kabuto mengalihkan perhatiannya.

"S-Sasuke?!" Sasuke menarik tubuh Sakura dari mereka berdua dan menyuruhnya untuk mundur.

Kimimaro menyeringai. "Ada apa denganmu? Uchiha-san?"

"Seharunya aku yang bertanya pada kalian! Apa yang kalian lakukan, hah? Kalian akan menyesal dengan apa yang kalian lakukan padanya," balas Sasuke geram.

"Oh, aku tidak takut kalau begitu. Kau tahu? Gadis ini memang pantas mendapatkannya," ujar Kabuto dengan seringaiannya.

"Sialan kau!" Sasuke menarik tubuh Kabuto dan melayangkan kepalan tangannya di perut laki-laki berkacamata itu. Sehingga tubuh Kabuto menubruk loker dengan keras.

Kimimaro tidak tinggal diam, maka kali ini ia menarik tubuh Sasuke, pukulannya nyaris mengenai Sasuke jika saja Sasuke tidak segera memukul rahangnya. Kimimaro mundur beberapa langkah, memegang rahangnya yang berdenyut.

Tidak tahukah mereka, bahwa Sasuke sangat marah saat ini. Tidak seharusnya mereka memperlakukan seorang gadis seperti itu, terutama Sakura. Seharusnya mereka memperlakukan Sakura dengan baik. Tidak ada satu orang pun yang boleh memperlakukan gadisnya dengan keji.

Selama beberapa menit, perkelahian tidak imbang itu masih berlangsung. Tidak ada yang bisa Sakura lakukan, ia hanya menjerit dan meminta pertolongan. Namun, bukan hal yang mudah, mengingat hari itu hanya ada beberapa orang saja yang masih tinggal untuk kegiatan klub.

Tangisan Sakura pecah saat ia melihat Gaara muncul, memeluknya dan memberitahunya bahwa Sasuke dalam keadaan genting.

"Sensei!" Gaara memperingatkan dari kejauhan. Sasuke segera menghentikan pukulannya, seolah-olah tidak melakukan apa-apa dan pasrah terkena pukulan dari Kimimaro dan Kabuto. Sasuke membiarkan tubuhnya dipukuli, agar guru melihatnya sebagai pihak korban. Ia tidak mau jika harus terkena hukuman lagi. Tidak berlangsung lama, detik berikutnya Sasori menghampiri Sasuke dan memisahkannya dari Kimimaro dan Kabuto.

Setelah itu Asuma, pelatih sepak bola datang dan Sakura menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Sehingga Sasuke terbebas dari ancaman hukuman.

"Sensei, Sasuke tidak bersalah. Mereka berdua melakukan hal tidak senonoh kepadaku. Sasuke, satu-satunya orang yang menolongku. Mereka berdua yang memukul Sasuke terlebih dahulu," jawab Sakura.

Sasuke menyeringai.

Yeah, itu baru gadisku.

Gaara dan Sasori menyetujui dengan penuturan Sakura yang setengah berbohong itu. Dan dengan ajaibnya, hukuman Sasuke tempo hari dicabut karena berhasil melakukan hal baik dan menumpas tindakan yang bisa mencoreng nama baik sekolah.

Jujur saja. Aku tidak akan repot-repot melakukan hal ini jika bukan demi gadis yang aku cin-maksudku gadis yang aku sukai.

.

.

"Sakura-chan!" Tayuya menghampiri Sakura di area parkir setelah mereka selesai berlatih. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau dalam masalah tadi," sambungnya.

Sakura tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Untunglah ada Sasuke yang menolongku," katanya seraya mengapit lengan Sasuke yang berdiri di sebelahnya.

"Baguslah, aku benar-benar khawatir," balas Tayuya, lalu pandangannya ia alihkan kepada dua orang laki-laki berambut merah yang baru saja memasuki aula. Tayuya bergerak gelisah, menyelipkan sisi rambutnya ke belakang telinga dan memasang senyuman manis. Sakura dan Sasuke mengerutkan keningnya, lalu berbalik melihat objek yang membuat tingkah Tayuya menjadi aneh. Sasuke mendengus, sudah lama ia mengetahui bahwa Tayuya mencintai Gaara.

"H-Hai, Gaara-kun," sapanya saat Gaara dan Sasori mendekat ke arah mereka. Gaara tersenyum padanya dan mengangkat tangan kanannya. Setelah itu, Tayuya merogoh saku roknya dan memberikan selembar kertas yang di bungkus amplop berwarna merah kepada Gaara.

"A-Ano, ini untukmu. Kuharap kau membacanya nanti," ujar Tayuya.

Gaara mengerutkan keningnya, menerima amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas setelah Tayuya berpamitan kepada mereka untuk pulang.

Sebelum Sasuke menaiki sepeda motornya, Gaara mengulurkan tangannya dan meraih bahu Sasuke.

"Sasuke," katanya dengan raut wajah yang serius. "Dengar, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk apa yang telah kau lakukan tadi. Salahku tidak ada di tempat kejadian, aku terlalu asyik dengan si kembar. Jika tidak ada kau, maka Sakura... Yah aku tidak mau membayangkan hal buruk menimpa sepupuku. Aku senang kau ada di sana dan menolongnya. Kau tidak seburuk yang kukira. Aku salah menilaimu, meskipun aku masih tidak menyukai sifat player-mu itu," sambungnya.

"Kuanggap itu pujian. Kau tidak usah khawatir, kupastikan Sakura aman bersamaku," balas Sasuke dengan angkuh.

Gaara menghela napas lelah dan memutar bola matanya. "Akan kupegang ucapanmu. Kita pergi sekarang, Sasori. Dan Sakura, kuharap kau tidak pulang terlalu larut," ujar Gaara.

Sakura tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya. Lalu, Sakura menarik ujung jaket Sasori, sebelum laki-laki itu masuk ke dalam mobil Gaara. Sakura menggigit bibir bawahnya. "Sasori-kun, kuharap kita bisa berteman kembali. Kau tidak keberatan, bukan?" ujarnya ragu.

Sasori tertawa geli dan menepuk puncak kepala Sakura. "Tentu saja, bodoh! Sudahlah, lupakan. Rasanya aku menyerah, sebaiknya kau juga segera menyerah dan ikuti kata hatimu, Sakura-chan. Sampai nanti," Sasori pun pergi bersama Gaara, meninggalkan area parkir, setelah memberikan kecupan singkat di pipi Sakura.

Sakura terbelalak kaget, bukan karena perlakuan Sasori yang seenaknya, melainkan kata-kata laki-laki itulah yang membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku.

"Hn, kau baik-baik saja? Sakura...?" tiba-tiba saja Sasuke membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Sakura terlalu kaget untuk bergerak. Mata Sasuke mengamati wajahnya, lalu laki-laki itu memiringkan kepala sedikit dan bergumam, "wajahmu merah sekali."

Sakura mengerjap dan cepat-cepat mundur selangkah. "Eh? Oh, Sasuke. Wajahmu memar. Apa tidak sakit? Adakah luka lainnya?" tanyanya tergagap, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Merasa bersalah, karena dirinyalah Sasuke kini mendapatkan beberapa luka memar.

Sasuke menegakkan tubuhnya lalu tersenyum. "Tidak sakit dan aku bersyukur tidak ada tulang yang patah. Dikompres sedikit pasti sembuh."

Sakura masih tidak yakin. Mungkin memang Sasuke tidak mengalami patah tulang atau semacamnya, tapi tetap saja...

"Maafkan aku. Kupikir, sebaiknya kau ke dokter," katanya.

Sasuke menggelengkan kepalanya dan terkekeh, lalu menatap langit-langit area parkir berupa kaca transparan, sehingga langit sore nampak kekuningan terlihat begitu jelas. "Hal sekecil ini tidak usah repot-repot ke dokter."

Alis Sakura berkerut samar, mulutnya terbuka, namun tertutup kembali saat Sasuke terlebih dahulu mengeluarkan suaranya.

"Kalau kau masih merasa bersalah, bagaimana jika kau mentraktirku makan? Aku ingin sekali makan yakitori," ujar Sasuke, kembali menoleh kepada Sakura, masih dengan senyum cerah yang sama. "Kita pergi sekarang?" tanyanya.

Sakura pun tanpa ragu mengangguk dan tersenyum. Setidaknya ia bisa membalas budi pada Sasuke yang sudah menolongnya.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 19.35 saat Sasuke sampai di rumahnya. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Sasuke berbaring di atas tempat tidur. Mengerang pelan, dan terbatuk-batuk. Tiba-tiba ponselnya berdering. Kemudian memaksa dirinya bangkit duduk dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur. "Hallo?"Jawabnya dengan suara serak dan kembali terbatuk.

"Ada apa denganmu? Sasuke?"

Walaupun Sasuke merasakan kepalanya berat dan seluruh tubuhnya lemas, namun ia masih bisa tersenyum mendengar suara Sakura di seberang telepon yang bernada cemas. "Entahlah, aku tidak tahu," gumamnya pelan. "Rasanya badanku lemas dan sedikit demam, tenggorokanku gatal dan sakit, lalu kepalaku seperti tertimpa batu. Sudah seperti ini sejak aku selesai mandi," sambung Sasuke mendramatisir.

"Kau masih baik-baik saja beberapa jam yang lalu," kata Sakura. Terdiam sejenak, lalu bertanya lagi. "Apakah gara-gara makanan tadi? Atau gara-gara kau tidak memakai jaket saat pulang tadi?"

Sasuke kembali berbaring dan memejamkan matanya, memijit pelipisnya, berharap rasa pusingnya bisa berkurang. "Hn, mungkin."

"Pergilah ke dokter, aku takut jika itu ada hubungannya dengan perkelahianmu tadi sore. Bisa saja 'kan?"

Sasuke menggeleng, meskipun tahu Sakura tidak bisa melihatnya. "Kurasa tidak ada hubungannya. Mungkin daya tahan tubuhku sedang tidak baik. Aku terlalu lemas untuk pergi ke dokter sendirian. Tidak ada orang di rumahku. Orang tuaku sedang ke luar kota, dan Itachi belum pulang."

Jeda sejenak di seberang sana, kemudian Sakura bertanya dengan ragu. "K-Kau mau aku pergi ke rumahmu dan mengantarmu ke dokter?"

Sasuke tersenyum lebar dan meringis ketika rasa pusing kembali menderanya. "Benarkah? Kau akan datang jika kuminta?" tanyanya.

"Y-Yah, tentu. Jika kau mau," Sakura bahkan tidak berhasil menyingkirkan kegugupan dari suaranya, hal ini membuat Sasuke merasa senang. Lima hari mengenal Sakura sudah cukup membuat Sasuke mengerti gerak-gerik gadis itu. Haruno Sakura tidak pernah bersikap gugup di hadapannya―seperti awal pertemuan mereka. Menurut Itachi, seseorang yang sedang jatuh cinta akan berubah menjadi lebih gugup saat berhadapan dengan orang yang dicintainya. Dan bolehkan Sasuke berasumsi bahwa Sakura mulai mencintainya?

"Terima kasih, tapi itu tidak perlu kurasa," kata Sasuke, ia tahu Sakura pasti akan datang jika Sasuke memintanya dan memaksanya. Tapi, Sasuke tidak ingin memaksanya kali ini. Lagipula ini sudah malam, ia tidak ingin membiarkan Sakura berkeliaran di jalan yang berbahaya. "Aku yakin, Kaa-san menyimpan obat-obatan di rumah. Aku bisa menggunakannya. Kau tenang saja, aku akan sembuh."

Sakura menghela napas panjang. "Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu. Sekarang istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu. Jangan lupa, hubungi aku jika terjadi apa-apa, oke?" ujar Sakura, suaranya masih terdengar cemas.

"Hn, kau orang pertama yang akan aku hubungi, babe."

"Jangan panggil aku, babe!" balas Sakura dengan cepat.

"Oke, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Saku-koi."

"Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku hanya... Yah, a-aku hanya..." Sakura merutuki dirinya sendiri, hanya apa? Bahkan dirinya sendiri tidak tahu dengan lanjutan kata-katanya. Mengapa terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa ia memang mengkhawatirkan laki-laki itu?

"Yeah, aku tahu kau sangat mengkhawatirkanku," jawab Sasuke, kembali terbatuk-batuk dan menggeram.

"Sudahlah, sekarang kau sebaiknya istirahat, minum obat dan tidur," perintah Sakura dengan nada yang lembut.

"Hn, oyasumi. Babe..." Sasuke segera menutup sambungan teleponnya, dan meringkuk di balik selimut tebalnya. Benar-benar menjengkelkan, ia tidak suka dengan keadaan sakit seperti ini. Membuat dirinya terlihat lemah dan tidak berdaya. Sasuke harus segera mencari obat, jika ia tidak menemukannya, maka ia harus pergi ke dokter. Dan ia benci itu.

Sasuke mendesah bosan, memejamkan matanya seraya sesekali memegang kepalanya yang pusing. Meskipun perasaannya sedikit membaik saat Sakura, gadis yang dicintainya menghubungi dan menanyakan keadaannya, tetap saja rasa lemas dan pusing di kepalanya begitu merepotkan.

"T-Tunggu. Apa aku baru saja mengatakan bahwa Sakura adalah gadis yang kucintai? Rasanya, aku benar-benar harus memeriksakan diri ke dokter."

.

.

Di sisi lain. Setelah sambungan teleponnya terputus sepihak, Sakura merenung dengan pandangan lurus ke atas langit-langit kamarnya. Pikirannya berkecamuk, sedari tadi sosok Uchiha Sasuke selalu berlalu-lalang di benaknya. Aroma tubuhnya, senyumannya, seringaiannya, pelukannya, sentuhannya, bahkan ciumannya masih bisa dirasakan dengan jelas oleh Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tahu ini gila. Tapi ia menikmati setiap detik saat-saat dirinya bersama dengan Sasuke.

"Aku menyukainya, maksudku aku... Mencintainya," Sakura tersenyum miris, mengapa dari sekian banyak laki-laki yang ditemuinya dan dikenalnya, harus Uchiha Sasuke? Dalam waktu yang singkat, ia bisa melupakan perasaannya kepada Sasori dan berpaling kepada Sasuke? Sakura merasa dirinya adalah gadis terbodoh. Jatuh cinta pada laki-laki player seperti Sasuke bukanlah keinginannya.

Namun, entah sejak kapan perasaan itu tumbuh di hatinya. Membayangkan wajahnya saja selalu membuat Sakura tersenyum seperti orang bodoh, dan saat melihatnya, selalu membuat ritme jantungnya berdegub dengan kencang. Sasuke seperti memiliki magnet yang membuatnya tidak bisa berpaling ke lain arah.

"Apa, aku harus menyerah? Dan membiarkannya menyakitiku?" gumamnya lirih, kemudian tersenyum tipis. "Tidak akan. Sasuke, kau juga pasti merasakan hal yang sama denganku 'kan? Aku hanya perlu menunggu kau mengakui itu," sambungnya seraya mengetikan pesan teks di ponselnya.

To: Uchiha Sasuke

From: Haruno Sakura

Aku mengkhawatirkanmu. Kuharap keadaanmu segera membaik.

.

.

to be continued


AN: GOMEEEEENNN! Apdatnya lama dan Chapter ini pendek dari chapter sebelumnya dan mungkin tidak memuaskan. (masih ada yang baca ga ya -_-)

Makasih juga buat yang review di chapter sebelumnya ya :)

Tsurugi De Lelouch, lazynit, Neko Darkblue, white moon uchiha, hanazono yuri, Tsuki, LiLo yifan, Ah Rin, Ricchi, shawol21bangs, kiro-aki, Peritwivivi2, furiikuhime, Vermthy,