~(^o^)…Previous on 19th Chapter 18…(^.^)~
"Sungmin!", panggil Kibum sebelum yeoja manis itu keluar kamar. HAP! "Pakailah ponselku itu agar kita masih bisa saling berkomunikasi. Ikuti saja semua perintah kakakku. Mereka buronan yang handal.", jelas Kibum setelah memberikan ponselnya kepada Sungmin. Sungmin hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti.
BRAAAAK! Tiba-tiba pintu kamar Kyuhyun terbuka lebar, setelah Sungmin dan Siwon keluar dari kamar itu beberapa saat yang lalu. Kibum dan Kyuhyun menelan ludah kecut, melihat sosok namja berdiri di ambang pintu kamar Kyuhyun.
"CHO KYUHYUN!".
"Eh, appa?".
19th
Chapter 19
By Yuya Matsumoto
"Kamuflase"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
Siwon dan Sungmin berlari keluar kamar Kyuhyun, menuruni tangga darurat, menuju tempat parkir dimana Heechul dan Hangeng telah menunggu keduanya. Heechul segera menuntun Sungmin dan Siwon ke dalam mobilnya. Saat yang bersamaan TOP melihat Siwon masuk ke dalam mobil. Ia mencegah mobil itu pergi dengan merentangkan kedua tangannya di depan mobil.
CKIIIIT! Hampir saja mobil berwarna hitam itu menabrak tubuh tinggi TOP. Siwon keluar dari dalam mobil, menyeret kakaknya menjauh dari mobil itu.
"YA! HYUNG! Berhentilah bersikap sok heroik di depanku. Dengarkan aku baik-baik. Aku akan segera kembali, hyung. Tapi aku harus menyelamatkan temanku dulu. Kau jangan khawatir. Aku akan segera menghubungi lewat email. Jika aku melakukan kesalahan lagi, kamu boleh membakar seluruh barang berhargaku di dalam kamar, termasuk drum kesayanganku di studio Jiyong-hyung.", jelas Siwon sambil kembali berlari ke dalam mobil.
TOP menghela napas panjang, berusaha meyakinkan dirinya untuk percaya kepada adiknya yang paling nakal itu. Minho menghampiri TOP, menatap bingung ke arah mobil yang baru saja dinaiki oleh Siwon. "Kenapa kau membiarkan Siwon-hyung kabur lagi? Seharusnya kita bisa menyeretnya kepada appa.", tanya Minho sedikit tidak terima dengan keputusan kakak tertuanya itu.
"Aku—". Perkataan TOP terputus oleh suara ponselnya yang berdering beberapa kali. "Yoboseyo!", jawab TOP, tak ingin membuat sang penelepon menunggu lama.
"….."
TOP menelan ludah kecut, sambil menjauhkan ponsel dari telinganya. "Ne. Ne, chagi! Mianhae! Aku sedang terburu-buru.", jawab TOP seadanya.
"…."
"Bukan. Bukan begitu, chagi. Kamu yang terpenting. Aku tidak akan melupakanmu. Mianhae. Aku terpaksa pergi tanpa mengabarkanmu.".
"…"
"Ne. Aku di Eropa, tepatnya di Austria.".
"…"
"Mwo? Andwae! Baiklah aku dan Minho akan segera ke sana. Tunggu kami. Saranghae!", ujar TOP mengakhiri pembicaraannya dengan kekasihnya, Kwon Jiyong.
Minho memukul bahu TOP beberapa kali. "Apa yang Jiyong-hyung katakan?", tanya Minho penasaran, karena sepertinya tadi Jiyong sempat memarahi TOP.
TOP menghela napas panjang. "Jiyong memintaku untuk ke Spanyol, menemaninya bertemu dengan produser musik. Aish! Benar-benar merepotkan!", jelas TOP, mengacak rambutnya frustasi.
"Eh? Spanyol, hyung?", tanya Minho meyakinkan. TOP hanya menggangguk pelan. "Asyiiiik! Aku akan berjalan-jalan ke Spanyol. Yes! Yes! Yes!", teriak Minho ber-euforia.
.
.
#Kamar Kyuhyun, International Hospital, Austria#
[KyuBum's Side]
.
.
"Appa? Kenapa bisa ada di sini?", tanya Kyuhyun shock melihat kedatangan appa-nya.
Namja paruh baya itu masuk ke dalam kamar rawat Kyuhyun, diikuti oleh namja jangkung yang setia menjadi kaki tangan tuan Cho—Shim Changmin. "Berhenti membuat semua orang khawatir, Cho! Dasar kau anak nakal!", marah Mr. Cho menghampiri sisi ranjang anaknya.
"Hai, bro! Ternyata raja iblis bisa terbujur sakit juga, ya?", sindir Changmin, memukul pelan bahu Kyuhyun.
"Diam kau, anak setan!", ledek Kyuhyun susah payah, karena napasnya sedikit tercekat.
"Jangan terlalu banyak bicara, Kyu! Kamu harus banyak istirahat.", kata Mr. Cho khawatir. Ia mengelus rambut anaknya dengan sayang. Jika bukan karena egonya sebagai lelaki, namja paruh baya itu pasti sudah menitikkan airmatanya melihat kondisi anaknya yang lemah.
"Hehehe… Mi—mianhae, appa!", jawab Kyuhyun masih kesulitan. Sebenarnya kondisi Kyuhyun masih kurang baik. Ia sulit bernapas dengan lancar terutama saat berbicara dengan orang lain. Entah bagaimana, kekuatan cintanya kepada Sungmin mampu membuatnya seakan kuat dan berkondisi sangat baik. Mungkin ia hanya tidak ingin Sungmin khawatir.
"Eh? Kibum?", tanya Changmin setelah menyadari keberadaan Kibum yang sedaritadi hanya seperti patung hidup di dalam ruangan itu. Changmin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Dimana Siwon dan Sungmin?".
"Mereka… Mereka kabur, Changmin. Mmm… Sepertinya kita bisa membahas ini lain kali saat kita hanya berdua saja.", jawab Kibum singkat seraya melirik ke arah Mr. Cho, memberi tanda kepada Changmin atas kehadiran namja paruh baya itu.
Changmin menolehkan kepalanya, melihat Mr. Cho yang masih sibuk berbincang dengan Kyuhyun. "Oh, aku mengerti!", balasnya singkat.
Sejak hari itu, Mr. Cho dan Changmin membantu Kibum merawat Kyuhyun. Seluruh perawatan terbaik diberikan kepada Kyuhyun agar namja itu segera pulih dan melakukan rawat jalannya di Korea. Appa Kyuhyun selalu berada di samping namja tampan itu, tak membiarkan satu detik pun untuknya menanyakan kabar Sungmin kepada Kibum. Mr. Cho pun beberapa kali menanyakan perihal kecelakaan yang terjadi pada anak jeniusnya itu. Ia merasa janggal dengan kecelakaan yang memperlihatkan sisi bodoh seorang Cho Kyuhyun.
Saat ini Changmin, Kibum, Mr. Cho dan Kyuhyun berada di dalam kamar rawat Kyuhyun. Namja tampan itu sudah tidak menggunakan selang oksigennya. Ia telah mampu bernapas dengan baik. Kibum membuka ponselnya, membaca sebuah pesan dengan suara lantang.
"Kamu tahu lanjutan cerita drama semalam tidak, Min?", tanya Kibum sambil menyikut lengan Changmin, mengajak namja jangkung itu ke dalam sandiwaranya.
"Eh? Tidak. Bagaimana kelanjutannya?", tanya Changmin seakan ingin tahu.
Mr. Cho sedang menyuapi potongan buah kepada Kyuhyun. Namja tampan itu melirik ke arah duo ChangBum itu, merasa ada yang aneh dengan suara lantang keduanya.
"Kau tahu kan kalau gadis itu meninggalkan kekasihnya yang sakit? Hari kelima perpisahan mereka, sang gadis mengirim kabar untuk kekasihnya itu. Sayangnya itu hanya berupa surat singkat, namun menggambarkan seluruh perasaannya.", jelas Kibum agak sedikit berlebihan.
"Oh ya? Apa itu? Aku penasaran.", tanya Changmin, sesekali melirik ke arah Mr. Cho, berharap namja paruh baya itu tidak curiga dengan pembicaraan mereka.
"Dengarkan aku baik-baik, Shim Changmin. Ehem…", ucap Kibum lebih lantang lagi. "Hai, Hyunnie. Apa kabar? Aku merindukanmu. Aku harap kamu semakin membaik. Tenang saja! Aku di sini baik-baik saja. Saranghae, Hyunnie. I miss u so much!", lanjut Kibum dengan intonasi lambat dan tegas agar Kyuhyun dapat mendengarnya dengan jelas.
"Uhuk! Uhuk!". Kyuhyun tersedak. Ia terlalu senang, sekaligus kaget mendengar pesan Sungmin yang sedikit blak-blakan itu. Mr. Cho panik melihat anaknya yang kewalahan. Ia mengambil segelas air, lalu memberikan anaknya minum. "Pelan-pelan saja, Kyu!", nasihat namja paruh baya itu sambil menepuk pelan punggung Kyuhyun.
"OOOOOH~ SO SWEET!", jerit Changmin menyindir. "Hahaha… Dia salah tingkah, Bum!", bisik Changmin, saat melihat wajah Kyuhyun yang memerah.
"Pasangan baru itu benar-benar membuatku iri.", balas Kibum sambil tersenyum manis.
"Minnie-ah, bogoshippo!", lirih Kyuhyun hampir tak terdengar oleh siapa pun.
.
.
#Rome, Italy#
[Day 29, Monday, SiMin's Side]
.
.
"Lee Sungmin, Palliwa!", teriak Kim Jongwoon atau sering dipanggil Yesung dari arah pintu depan rumah.
"Ne. Chakkaman, oppa!", balas Sungmin sambil memakai sepatunya serabutan. Ia mengencangkan tali tasnya, lalu bergegas menyusul Yesung.
"Hati-hati, Min-ah! Aku akan berangkat bersama tuan Kim nanti siang.", kata Siwon memberi salam perpisahan pagi itu.
Sudah seminggu kedua remaja itu menginap di rumah tuan Kim, ahjussi dari Kim Heechul dan Kim Kibum. Heechul meminta tuan Kim untuk membiarkan Sungmin masuk ke dalam sekolah yang dipimpin olehnya itu. Penampilan Sungmin dirubah. Rambutnya dipotong pendek, dicat hitam dan memakai kacamata besar, seperti orang nerd pada umumnya. Pakaian Sungmin pun berubah total, selain seragam sekolah, Sungmin pun biasa memakai baju panjang tertutup dan kelonggaran. Jauh berbeda dari penampilannya dulu yang terkesan manis dan imut.
"Argh! Lama sekali. Kau kan tahu aku harus menjemput Stella dulu. Aish! Cepat naik ke mobilku!", perintah Yesung yang sebenarnya berusia lebih muda dua tahun dari Sungmin itu.
"Mianhae, oppa! Aku tidak bermaksud.", kata Sungmin penuh penyesalan. Yeoja itu menunduk di kursi belakang, merasa kesal dengan sikapnya yang merepotkan.
Yesung menghela napas panjang, melirik sosok rapuh Sungmin dari kaca spion. "Sudahlah. Besok jangan diulangi lagi ya!", kata Yesung mengalah.
"Annyeong, oppa! Why you are so late?", sapa Stella Jung saat ia masuk ke dalam mobil Yesung. Yeoja berparas cantik dan bernampilan modis itu melirik Sungmin yang duduk tenang di jok belakang. "Hai, Sungmin. Morning!", sapanya ramah pada Sungmin yang hanya dibalas senyum manis dari Sungmin.
"Sorry. Sungmin telat bangun. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah.", jawab Yesung singkat sebelum menjalankan mobilnya.
Setelah setengah jam perjalanan menuju sekolah, mereka bertiga sampai di tempat tujuan. Keadaan sekolah di pagi hari memang selalu ramai, terlebih lagi setelah mobil Yesung masuk ke dalam pekarangan sekolah. Namja keturunan Korea berkebangsaan Italia itu memang memiliki banyak penggemar. Ia dikenal memiliki suara emas yang tiada bandingannya. Siapapun ingin sekali menjadi kekasih Kim Jongwoon, namun sayang hatinya sudah terpaut dengan yeoja bernama Stella Jung—gadis keturunan Italia-Korea yang cukup terkenal di sekolah itu.
Beberapa siswa bergerumul di dekat mobil Yesung, memperhatikan idola mereka dari dekat. Para yeoja cantik berwajah khas Eropa melirik Yesung dan Stella yang baru saja keluar dari dalam mobil. Tatapan kagum terlontar untuk pasangan itu, namun pandangan itu berubah menjadi iri dan kesal saat melihat Lee Sungmin keluar dari mobil Yesung. Siapa pun tidak menyangka yeoja cupu itu bisa dekat dengan namja terpopuler di sekolah itu, terlebih lagi Sungmin tidak bisa bicara bahasa Italia, membuat mereka sulit menanyakan perihal Yesung di rumahnya.
"Eh, Ryeo-ssi! Apa yang kamu lakukan di sini? Memandang ke arah pasangan populer itu?", selidik Sungmin saat melihat temannya berdiri diam di dekat mobil Yesung. Pasangan populer itu sudah meninggalkan parkiran mobil sedaritadi, tanpa peduli dengan Sungmin sama sekali.
Kim Ryeowook atau sering dipanggil Ryeo oleh Sungmin adalah teman terdekat Sungmin di sekolah itu. Sungmin sangat bersyukur karena ia sekelas dengan Ryeowook, terlebih Ryeowook adalah murni orang Korea. Ia tidak bisa membayangkan jika tidak ada Ryeowook, pasti Sungmin akan dikucilkan dan tidak memiliki teman ngobrol dikarenakan kendala bahasa. Ryeowook adalah translator terbaik yang ia miliki saat ini.
Ryeowook menggeleng pelan. "Aniya. Aku hanya menunggumu, Min!", jawab Ryeowook yang sudah dapat dipastikan sebagai kebohongan besar.
Sungmin mengangguk pelan, memberikan tatapan penuh selidik pada yeoja berponi panjang itu. "Ayo kita masuk!", kata Sungmin, merangkul bahu Ryeowook.
.
.
(o^_^o)
.
.
"Good afternoon, guys! I would announce that our school will hold a study tour around Europe. It will also be used to prepare the theater that will hold next month. Prepare yourself well. Theater auditions will be implemented starting this afternoon.", kata Siwon memberikan pengumuman di depan kelas sebelum ia memulai pelajarannya hari ini.
Tuan Kim menjadikan Siwon sebagai asisten guru musik di sekolahnya. Ia lihat kemampuan Siwon dalam mengajar pun sangat baik, sehingga ia mempercayakan pekerjaan ini untuk namja kekar itu. Tidak butuh waktu lama untuk Siwon mendapatkan popularitas di antara para siswa. Caranya mengajar dengan metode pendekatan, membuat semua murid menyukainya, padahal ia baru mengajar tiga hari di sana.
"Ryeo, kamu mau ikut audisi itu?", tanya Sungmin saat mencatat not balok yang Siwon gambar di papan tulis.
Ryeowook mengerutkan dahinya, berpikir keras sambil mengetukkan pensilnya di atas meja beberapa kali. "Sepertinya tidak, Min. Theater seperti itu tidak cocok bagiku. Hehe…", jawab Ryeowook dengan gelengan kepala.
"Ooooh…", balas Sungmin, masih serius dengan buku catatannya. Beberapa kali ia melakukan kesalahan dalam mencatat not balok di papan tulis itu. Yeoja manis itu memang tidak berbakat dalam seni terutama seni musik. "Eh, Ryeo-ssi! Kamu pandai sekali. Ajarkan aku ya!", kata Sungmin iri ketika melihat buku Ryeowook telah terisi penuh.
Ryeowook hanya mengangguk pelan, lalu mencatatkan beberapa not balok untuk Sungmin. Siwon menggelengkan kepalanya beberapa kali saat ia melihat Sungmin sedikit berisik di tempat duduknya. Sungmin menjulurkan lidahnya kepada Siwon. 'Ck! Kenapa bisa ia terlihat sangat imut begitu? Tidak ada yang sadar kalau umurnya sudah sembilan belas tahun.', pikir Siwon.
Pelajaran hari ini berlalu dengan cepat. Sejak kedatangan Sungmin di sekolah ini, Ryeowook tidak pernah sendirian lagi. Ia memang senang sekali menyendiri, terutama karena wajah oriental dan penampilan nerd-nya, membuat siswa yang lain malas bergaul dengannya. Sore ini Sungmin dan Ryeowook akan belajar bersama di rumah Ryeowook. Sebenarnya Sungmin memaksa untuk mengerjakan PR Seni Musik bersama yeoja itu. Sungmin segera berlari ke arah hall sekolah itu, mencari Siwon yang bertugas sebagai salah satu juri audisi.
"Wonnie, aku pergi ke rumah Ryeowook, ya!", izin Sungmin kepada Siwon, tanpa menunggu napasnya berhembus teratur.
Siwon tersentak kaget, mengalihkan pandangannya ke arah yeoja manis yang tersengal di sampingnya. "Mwo? Nanti kamu pulang dengan siapa? Memangnya kamu tahu jalan pulang?", tanya Siwon khawatir.
Sungmin tertawa cengengesan. "Aniya. Mmm… Kamu tuliskan saja alamat rumah tuan Kim. Nanti aku akan bertanya kepada Ryeowook.", ujar Sungmin polos.
"Andwae! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, Min.", tolak Siwon mutlak.
Sungmin menarik-narik baju Siwon, merajuk. "Ayolah, Wonnie. Aku janji bisa pulang dengan selamat. Yakin deh. Nanti aku akan meneleponmu. Jebal!", rayu Sungmin dengan puppy eyes miliknya.
Siwon menghela napas panjang, lalu menuliskan alamat dan nomor telepon di secarik kertas. "Hati-hati. Jangan bertindak ceroboh, Min!", kata Siwon memperingati.
"Gomawo, Siwonnie. Sukses ya!", pamit Sungmin, berlari keluar hall tanpa mempedulikan pandangan beberapa siswa yang memergokinya bersama guru favorit itu.
"Kenapa kamu lama sekali sih, Min?", tanya Ryeowook di depan kamar mandi yeoja.
"Hehe… Mianhae. Tadi ada urusan mendadak.", jawab Sungmin apa adanya.
Akhirnya kedua yeoja itu keluar dari sekolah yang mulai sepi karena sebagian siswanya sudah ada yang pulang dan sebagian yang lain berkumpul di hall untuk mengikuti audisi. Sepanjang perjalanan mereka berdua berbincang dan tertawa riang. Betapa shock dan kagetnya Sungmin saat ia melihat rumah besar di hadapannya saat ini. Ryeowook terlihat sangat sederhana terlebih lagi ia hanya menggunakan angkutan umum sebagai transportasinya ke sekolah. But, see now! She has a big house!
"Kenapa diam saja, Min? Ayo masuk!", ajak Ryeowook menarik tangan Sungmin agar yeoja itu bisa masuk ke dalam rumah megahnya.
Sungmin terperangah dengan pemandangan di hadapannya. Sebuah rumah bernuansa Korea, kental dengan barang-barang etnik unik-elegant di setiap sisinya. Dekorasinya minimalis, modist, tapi tidak meninggalkan unsur tradisional Korea di dalamya. Satu kata; Amazing!
"Duduklah disini. Aku akan mengganti bajuku sebentar, lalu kita mengerjakan tugas di sini ya.", kata Ryeowook sebelum pergi ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.
Sungmin hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia sibuk menelaah semua inchi ruang tamu itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada grand piano berwarna putih yang berada di tengah ruangan. Sungmin mendudukkan dirinya di bangku piano, membuka penutup tuts, lalu iseng menekan beberapa tuts secara asal. Lagu Twinkle Twinkle Little Star mengalun dari jemarinya—hanya lagu itu yang bisa ia mainkan.
PROK! PROK! PROK! Sebuah tepuk tangan mengakhiri konser tunggal Sungmin—yeah konser tunggalnya dengan satu lagu yang dimainkan berulang kali hampir setengah jam. Sungmin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu karena tingkahnya yang sedikit kurang sopan. Ryeowook menghampiri Sungmin, memberikan senyuman terbaik miliknya.
"Kamu suka piano? Mari bermain bersamaku!", ajak Ryeowook, duduk di samping Sungmin.
Yeoja berambut panjang itu memainkan jemarinya di atas tuts piano dengan sangat indah. Sungmin menatap kagum gerakan tangannya yang terlihat seperti menari di udara. Sungmin beranjak dari duduknya dengan perlahan. Ia mengambil ponsel milik Kibum yang sedang dibawanya, lalu merekam permainan indah milik Ryeowook. Sebuah seringai terpatri di kedua sisi pipi chubby-nya. Baru beberapa hari menyandang status kekasih Cho Kyuhyun, sepertinya Sungmin sudah berubah menjadi yeoja evil.
Drrt! Drrt! Drrt! Aksi candid camera Sungmin terganggu oleh sambungan telepon di ponsel itu. Sungmin segera mengangkatnya. "Yoboseyo!".
"Miss me, chagi?", balas suara bass di ujung telepon.
Sungmin mematung. Ia kenal benar siapa pemilik suara bass itu. Rasanya ia ingin menjerit, berjingkrak-jikrak senang seperti seorang anak kecil yang baru mendapatkan mainan kesayangannya.
"Chagiya? Are you there?", tanya Kyuhyun saat kehampaan membalas sapaannya.
Sungmin mengangguk-angguk, seakan lupa bahwa orang di seberang sana tak mampu melihat ekspresinya. "Hiks!". Bukannya kata-kata rindu yang mengalir dari bibir Sungmin, justru sebuah isak tangis yang menggambarkan besarnya rasa rindu yeoja itu kepada Kyuhyun.
"Eh, Minnie-ah! Waeyo? Uljima, chagi. Siapa yang menyakitimu? Kamu kenapa?", cerocos Kyuhyun merasa khawatir dengan yeoja-nya itu.
"Hiks… Aniya! Hiks… Aku hanya terlalu senang mendengar suaramu, Kyu. Apa kabar?", tanya Sungmin basa-basi. Sebenarnya ia sedang berusaha mengatur denyut jantungnya yang berdebar dengan cepat.
Kyuhyun bernapas lega. Jika dia ada di samping Sungmin, mungkin saat ini dia sudah mengelus rambut yeoja kelinci itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Aku sehat, sayang. Mianhae selama ini tidak bisa menghubungimu. Appa selalu berada di sampingku.".
DEG! "Appa? Jadi appa tahu keadaanmu, Kyu?", tanya Sungmin cemas. Ia tidak ingin firasatnya menjadi nyata. Ia takut Kyuhyun kembali ke Korea dan mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
"Bagaimana kabarmu di sana? Italia seindah apa?", tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum jalan-jalan, Kyu. Aku baik-baik saja. Di sini orangnya ramah-ramah kok.", jawab Sungmin singkat. "Kyu, bagaimana kondisimu? Kapan kamu akan keluar dari rumah sakit dan menyusulku ke sini? Aku kangeeeeen~", lanjut Sungmin merajuk.
Kyuhyun tertawa renyah. "Aku juga kangen, sayang. Aku hanya perlu perawatan sedikit lagi. Secepatnya aku akan menjemputmu. Sabar ya.", kata Kyuhyun bijak, berusaha meredam rasa khawatir yang terselip dalam hati Sungmin.
Sungmin mengerucutkan bibirnya. "Tapi kamu tidak akan kembali ke Korea kan, Kyu? Kamu pasti di sini kan?", tanya Sungmin memastikan.
Suara gaduh terdengar dari seberang telepon. "Minnie-chagi, aku harus tutup teleponnya dulu. Appa datang. Annyeong! Saranghae… Mmuuuach!", pamit Kyuhyun tergesa-gesa.
"Nado saranghae, Kyuhyunnie!", balas Sungmin kepada suara sambungan telepon yang terputus. Yeoja itu merebahkan punggungnya di atas sofa. Ia masih sangat merindukan Kyuhyun. Wajar sekali bukan. Di awal pacaran seharusnya mereka lebih banyak berkencan, bukannya terpisahkan seperti ini. Haaaah~ Entah apa rencana Tuhan untuk dua sejoli itu.
"Cieeee~! Siapa itu, Min?", tanya Ryeowook yang ternyata mendengarkan pembicaraan Sungmin dan Kyuhyun sejak dia selesai memainkan pianonya.
"Kekasihku. Namanya Cho Kyuhyun—", jelas Sungmin yang diakhiri dengan curahan hatinya tentang namja itu. Kedua yeoja manis itu bukannya mengerjakan tugas, mereka lebih memilih untuk bercerita tanpa arah, layaknya setiap yeoja lakukan jika sedang berkumpul dengan temannya.
.
.
(o^/^o)a
.
.
Siwon berkacak pinggang di depan kediaman Kim. Seharusnya Sungmin sudah pulang sejam yang lalu, tapi sampai saat ini—pukul delapan malam—ia tidak terlihat sama sekali. Sungmin turun dari mobil Ryeowook dengan rasa cemas. Ia menelan ludah kecut saat sosok Siwon masih setia menunggunya. Ryeowook ikut turun dari mobil, ingin membantu yeoja manis itu menjelaskan alasan keterlambatannya malam ini.
"Eh? Siwon seonsaengnim? Kenapa ada di sini?", gumam Ryeowook bingung.
"Wonnie! Mianhae. Tadi Minnie keasyikan cerita, makanya tugasnya keteteran!", jujur Sungmin di hadapan Siwon.
Siwon masih mendekap kedua tangannya di depan dada. "Hem!", jawabnya singkat. "Masuk ke dalam. Kita bicarakan nanti.", titah Siwon tegas, seperti seorang ayah yang mempergoki anak gadisnya sedang bercumbu dengan kekasihnya.
"Jeosonghamnida, seonsaengnim. Ini kesalahanku. Kami keasyikan mengobrol.", ujar Ryeowook berusaha membantu Sungmin. Sungmin mengedipkan matanya seakan berkata, 'Mianhae, Ryeo. Aku masuk duluan'.
Siwon menghela napas. "Ah, sudahlah. Lebih baik kamu pulang. Aku tidak ingin keluargamu khawatir. Terima kasih sudah mengantar Sungmin pulang.", kata Siwon lembut, lalu berbalik terlebih dahulu ke arah rumah.
Ryeowook hanya bisa diam mendapatkan sikap seperti itu dari gurunya. Ia menunduk merasa bersalah karena mungkin ia akan menjadi biang masalah untuk Sungmin. BRAAAAK! Ryeowook menabrak seseorang ketika ia hendak keluar dari pekarangan rumah itu. "Jeosonghamnida. Aku tidak sengaja.", ucap Ryeowook masih menunduk.
"Ne, cheonmannayo!", balas sebuah suara bariton kepada Ryeowook.
Merasa kenal dengan suara itu, Ryeowook mengangkat wajahnya agar bisa melihat siapa yang ditabraknya. Mata Ryeowook terbelalak sempurna. "Yesung sunbae?", gumamnya kaget.
"Ne. Aku mengenalmu?", tanya Yesung penuh selidik.
WUUUUUZ! BRAAAAK! Bukannya menjawab, Ryeowook berlari ke arah mobilnya, lalu masuk seketika. Mobil itu berjalan pergi meninggalkan Yesung yang mematung di depan pagar rumah. "Nuguseyo?", ujarnya bingung. "Aneh!"
Sementara di dalam rumah tuan Kim, tepatnya di kamar Sungmin, Siwon berkacak pinggang di depan Sungmin yang terduduk lesu di atas ranjang. "Jelaskan padaku! Kemana saja kamu? Aku tidak tahu harus bilang apa kepada Kyuhyun kalau terjadi sesuatu pada dirimu, Min!", marah Siwon dengan tatapan tajamnya.
Sungmin mendongakkan kepalanya saat nama Kyuhyun terlontar dari bibir Siwon. "Ngomong-ngomong soal Kyu, dia sudah membaik. Tadi dia meneleponku. Oh iya, satu lagi. Aku punya sesuatu yang harus kami lihat.", kata Sungmin menarik lengan Siwon agar namja itu duduk di sampingnya.
'Ah, dia pintar sekali mengalihkan pembicaraan.', batin Siwon pasrah, melihat LCD ponsel yang ditunjukkan oleh Sungmin.
"Tolong masukkan dia ke dalam theatre. Aku tahu dia memiliki bakat yang luar biasa.", pinta Sungmin ketika video Ryeowook terpampang di hadapannya dan Siwon.
"Aku akan menanyakan ini kepada dewan guru lainnya, Min.".
.
(-^o^-)…::YuyaLoveSungmin::…(-^o^-)
.
BRAAAAK! "Jung Yunho!", teriak seorang halmoni setelah masuk ke dalam ruangan pribadi Direktur Utama Jung Corp.
Yunho membalikkan kursi besarnya, menghadap halmoninya yang dalam kondisi murka. GLEK! Yunho menelan ludah kecut. Ia dan halmoninya tidak pernah berhubungan lagi, terlebih sejak kecelakaan itu. Yunho sibuk dengan kegiatannya dan halmoni sibuk dengan perjalanannya keliling dunia. Jika sang halmoni tega meninggalkan acara liburannya, itu berarti ada hal sangat penting yang akan ia lakukan kepada pewaris Jung itu.
"Waeyo, halmoni?", tanya Yunho dengan suara bergetar.
SREEEET! Jung halmoni menjewer telinga Yunho dengan sangat keras, sampai namja tampan itu harus merintih kesakitan. "Sibuk apa saja selama ini? Lihat dirimu! Sudah menjadi tua bangka begini, tapi belum memiliki pendamping sama sekali.", omel Jung halmoni, masih setia dengan kegiatan 'mari jewer anak nakal bernama Yunho'.
"Appo, halmoni!", jerit Yunho, berusaha melepaskan tangan halmoni dari telinganya.
Jung halmoni menarik tangan Yunho, membuat namja tampan itu berjalan tertatih, menyamai langkah neneknya. "Ikut halmoni ke Inggris. Kamu harus bertemu dengan tunanganmu di sana.", ucap Jung halmoni yang terdengar seperti bisikan dari neraka di telinga Jung Yunho.
"ANIYAAAAA, HALMONIIIII!".
.
.
Senior Hexe High School
#Rome, Italy#
[Day 32, Thursday, YeWook's Side]
.
.
"Semua orang sibuk dengan audisi theater. Mereka memutuskan aku sebagai pemeran utama, tanpa membiarkan aku menunjukkan kualitas akting dan suaraku. Tidak seru!", keluh Yesung sebal sambil menendang udara kosong.
Beberapa guru dan siswa sekolah itu memang sedang sibuk ikut audisi theater sebelum study tour dilaksanakan esok hari. Hanya tersisa hari ini untuk menyelesaikan seleksi ini, jadi tidak heran jika semua orang terlihat stress dan tegang. Lain halnya dengan Yesung, ia merasa sebal karena dianak-emaskan oleh semua orang. Dia hanya ingin berhasil masuk menjadi pemeran karena kemampuannya bukan karena keistimewaannya.
Yesung melangkahkan kakinya menuju ruang musik. Suara denting piano membuat rasa penasarannya semakin membuncah. Tidak mau menunggu lama, Yesung semakin mempercepat langkahnya. Ia menatap kagum kepada sosok yeoja yang sedang asyik memainkan piano itu dengan sangat khidmat. Sosok itu terbias oleh cahaya matahari terbenam, membuatnya nampak seperti bayangan hitam di mata Yesung. Kaki Yesung melangkah semakin ke dalam. Ia ingin mengetahui siapa yang bisa memainkan musik seindah itu.
JREEEENG! "Aish! Minnie kemana sih? Tadi katanya ingin diajarkan main piano olehku. Sekarang dia kemana? Aku sudah memainkan dua lagu, tapi dia tidak juga datang. Huuuuh!", keluh Ryeowook sambil melempar pandangannya keluar jendela ruang musik itu.
"Chogiyo!", ucap Yesung membuat Ryeowook membatu. "Bolehkah kau memainkan lagu itu lagi? Aku sangat menyukainya.", jujur Yesung memohon kepada Ryeowook.
Ryeowook menelan ludah kecut. Ia membalikkan badannya pelan saat Yesung menepuk bahunya. Sebuah senyum canggung terukir di bibir yeoja manis itu. "NEO?", sentak Yesung kaget. Namja itu masih ingat wajah yeoja yang menabraknya semalam. Itu Ryeowook?
"Hehehe… Annyeong, Sunbae.", ucap Ryeowook cengengesan. Kalau ia bisa memohon kepada Tuhan, ia ingin sekali ditelan bumi saat ini. Bagaimana bisa pujaan hatinya memergokinya di ruangan ini? Terlebih Yesung mengingat dirinya. Inikah yang dinamakan takdir?
.
.
(^/^)…::TBC::…(-*O*-)
.
.
First published on 31/10/12 at WP and 11/11/12 at FB
