Previous Chapter:

"Aku menyukainya, maksudku aku... Mencintainya," Sakura tersenyum miris, mengapa dari sekian banyak laki-laki yang ditemuinya dan dikenalnya, harus Uchiha Sasuke? Dalam waktu yang singkat, ia bisa melupakan perasaannya kepada Sasori dan berpaling kepada Sasuke? Sakura merasa dirinya adalah gadis terbodoh. Jatuh cinta pada laki-laki player seperti Sasuke bukanlah keinginannya.

Namun, entah sejak kapan perasaan itu tumbuh di hatinya. Membayangkan wajahnya saja selalu membuat Sakura tersenyum seperti orang bodoh, dan saat melihatnya, selalu membuat ritme jantungnya berdegub dengan kencang. Sasuke seperti memiliki magnet yang membuatnya tidak bisa berpaling ke lain arah.

"Apa, aku harus menyerah? Dan membiarkannya menyakitiku?" gumamnya lirih, kemudian tersenyum tipis. "Tidak akan. Sasuke, kau juga pasti merasakan hal yang sama denganku 'kan? Aku hanya perlu menunggu kau mengakui itu," sambungnya seraya mengetikan pesan teks di ponselnya.

To: Uchiha Sasuke

From: Haruno Sakura

Aku mengkhawatirkanmu. Kuharap keadaanmu segera membaik.


Let's Start The Game


Genre: Romance

Rated: T+

Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, no edit, alur berantakan, dll

Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto

Let's Start The Game©Yara Aresha


Chapter Eight


Sudah empat hari Sasuke terserang demam hebat yang membuat tubuhnya lemas tidak berdaya. Ia hanya bisa berbaring dan melakukan gerakan-gerakan yang terbatas. Sasuke kesal pada dirinya sendiri karena tubuhnya yang lemah dan tidak bisa diajak kompromi. Harusnya ia berada di sekolahnya pagi ini. Ia merasa tubuhnya sudah membaik, tapi ibunya begitu cerewet dan menyuruhnya untuk istirahat sehari lagi. Padahal hari ini adalah hari pertama pertandingan sepakbola antar sekolah sekota Tokyo berlangsung, ditambah ia sudah sangat rindu pada sesosok gadis berambut merah muda―Sakura. Ngomong-ngomong soal gadis itu... Kenapa Sakura tidak menjenguknya? Teman-temannya yang lain beberapa kali sempat datang ke rumahnya, tapi gadis itu tidak pernah ada di antara mereka. Sasuke semakin kesal.

"Kaa-san, apakah seorang gadis berambut aneh... maksudku merah muda, pernah datang ke sini?" tanya Sasuke yang saat itu sedang berbaring di sofa ruang tengah rumahnya seraya membaca majalah olahraga.

Mikoto menghentikan sejenak kegiatan menyapunya, menoleh ke arah Sasuke, lalu meletakan jari telunjuknya di dagu seraya mengingat-ingat teman-teman putera bungsunya yang datang. "Ah, gadis cantik itu? Sakura-chan? Apa dia kekasihmu? Kemarin dia datang menjengukmu. Tapi, sayang... Sasu-chan sedang tidur waktu itu," jawabnya dengan nada lesu.

Alih-alih menjawab pertanyaan Mikoto tentang status Sakura. Sasuke segera bangkit dan duduk. Ia tampak terkejut.

"Kenapa Kaa-san tidak membangunkanku?"

"Kemarin tidurmu sangat nyenyak sekali dan demammu tinggi. Kaa-san bukannya tidak ingin membangunkanmu, Sakura-chan melarang Kaa-san. Katanya, 'tidak apa-apa, jangan dibangunkan. Biarkan saja Sasuke istirahat, agar cepat sembuh'. Ah~ dia begitu perhatian. Kau tahu, Nak? Kaa-san sangat menyukainya, sepertinya dia cocok menjadi menantuku," jawab Mikoto panjang lebar, matanya berbinar-binar.

Sementara Sasuke hanya mendengus. Merasa sangat menyesal tidak melihat Sakura, saat gadis itu menjenguknya. Beberapa hari ini, pikirannya selalu dipenuhi oleh Sakura. Gadis itu sedang apa sekarang? Sasuke mengacak rambut ravennya, rasanya ingin segera sembuh untuk bertemu dengan Sakura―juga berlari dan menggiring bola di lapangan hijau.

.

.

Sakura mulai penat melihat rumus-rumus fisika di hadapannya. Lembaran buku tebal itu sejak tadi hanya dibolak-baliknya. Soal-soal latihan tidak ada satupun yang dikerjakannya, bahkan ia sama sekali tidak menyimak apapun yang sensei-nya terangkan di depan kelas sana. Sakura memang tergolong cerdas, namun bukan berarti ia tidak memiliki kelemahan. Pelajaran fisika contohnya, sejak dulu ia tidak suka pelajaran itu. Terlalu rumit, dan tidak penting―menurutnya.

Ah, fisika... Sakura jadi ingat kepada Sasuke. Sasuke sangat pintar soal fisika, dan pintar semua mata pelajaran tentunya. Sasuke sempat mengajarinya bagaimana cara menghapal dan memahami rumus-rumus fisika dengan cepat dan mudah. Jika ada Sasuke, mungkin soal-soal yang rumit itu bisa cepat diselesaikannya. Tapi, Sasuke masih juga belum masuk sekolah.

Apakah sakitnya semakin parah? Sakura sangat cemas saat mengunjungi rumah Sasuke kemarin. Demamnya tinggi. Bahkan Mikoto bercerita padanya, Sasuke sempat tidak sadarkan diri. Sakura juga sedikit kecewa, karena saat itu Sasuke tertidur, yang akhirnya ia hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan iba dan penuh rasa khawatir. Sesekali ia juga mengompres dahi Sasuke yang mengeluarkan keringat. Sakura menyesal, karena sakit Sasuke ternyata benar gara-gara perkelahiannya dengan duo pembuat onar itu. Menurut penjelasan dokter yang menangani Sasuke, demam yang timbul itu berasal dari luka di dalam tubuhnya, ternyata rusuknya terkena pukulan yang cukup keras waktu itu. Pantas saja, Sasuke sampai terbatuk-batuk. Tapi, syukurlah semuanya bisa diatasi dan tidak terlalu parah.

"Jangan tidur terus, Sakura! Pelajaran sudah selesai, sekarang kita harus bergegas ke lapangan sepakbola. Satu jam lagi pertandingan sepakbola dengan Oto akan dimulai, aku sudah tidak sabar melihat Gaara berlari di lapangan... ." ujar Tayuya penuh antusias.

Sakura mengerjapkan matanya, menegakan badannya, dan mengangkat kepalanya yang semula terbaring di atas meja. Ia menatap Tayuya dengan bingung dan engedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Sudah kosong. Guru fisikanya, Gaara, Sasori, Karin, dan semua temannya pun sudah tidak ada di kelas. Hanya menyisakan ia dan Tayuya. Lalu ia melirik jam dinding yang terpajang di depan, sudah pukul tiga sore. Cepat sekali waktu berlalu.

"Sudah selesai rupanya, aku tidak sadar jika aku tertidur," ucap Sakura seraya membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas mejanya. Sementara Tayuya yang berdiri di depan meja hanya mengangguk-anggukan kepalanya, bahkan Tayuya sudah menganti seragamnya dengan kostum cheer.

"Hah, kau ini. Tertidur dan memimpikan si Ayam? Sampai tidak sadar bel pulang sudah berdering sejak tadi," Tayuya mencibir, kemudian tersenyum jahil.

Sontak saja, Sakura tersipu. "Apa? Salahmu tidak membangunkanku. Dan, jangan menggodaku! Kau sendiri, bagaimana dengan sepupu tercintaku itu, kencan pertamamu lancar 'kan? Ah, ngomong-ngomong, surat cintamu sangat keren," kini giliran Sakura yang menjahili Tayuya, manik hijaunya mengerling pada nomor punggung baju Tayuya. Sudah ganti rupanya, dan sama dengan Gaara

Seketika wajah Tayuya merah padam sama halnya dengan Sakura. Tayuya menahan malu. Bisa-bisanya Sakura menggodanya dengan surat cinta yang ia berikan beberapa hari lalu pada Gaara. Surat cinta yang membawa Gaara kepelukannya. Awalnya, Tayuya tidak yakin dengan pernyataan cintanya. Apakah ditolak, atau diterima. Ternyata, malam harinya Gaara menghubungi ponselnya. Mengajaknya untuk bertemu, dan Gaara mengatakan bahwa ia juga menyukai Tayuya... Oh, betapa bahagianya Tayuya saat itu.

"K-Kau membacanya?" pekik Tayuya kemudian. Tangannya reflek menggebrak meja dengan keras, lalu meringis karena kesakitan. Sementara Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, tubuhnya langsung bergidik melihat Tayuya. Ia mengambil ancang-ancang, dan dengan cepat berlari meninggalkan Tayuya yang berteriak memanggil namanya.

"SAKURAAAA!"

"Tayuya sangat menyeramkan, ya Tuhan," kekeh Sakura seraya terus berlari menuju ruang ganti untuk memakai kostum cheer-nya.

.

.

Saat Sakura sampai di ruang ganti. Ruang ganti itu telah kosong. Segera saja ia memakai baju cheer-nya yang berwarna merah dan rok rample berwarna biru dengan lipitan berwarna merah yang panjangnya tidak sampai mencapai lutut―mungkin ada 15 cm di atas lutut. Ia mematut dirinya di depan cermin, memoles wajahnya dengan riasan ala kadarnya. Mengikat rambut panjang menjuntainya di belakang dengan pita berwarna merah. Sakura memutar tubuhnya, lalu tersenyum kecil saat melihat nomor punggung bajunya yang berlengan pendek itu, 28. Entah kenapa rasanya begitu senang dan sedih di saat bersamaan memakai seragam barunya itu.

Jika Tayuya memakai nomor punggung Gaara, itu karena ke duanya memang pasangan. Berbeda dengannya dan Sasuke. Ya, mereka pasangan... tapi itu hanya permainan. Miris, bukan?

Sakura menghela napas panjang. "Aku tidak boleh menyerah! Uchiha harus tunduk padaku!"

"Ayo cepat, Tuan Putri. Kau lama sekali, tahu!" tiba-tiba saja Tayuya masuk ke dalam ruang ganti tanpa permisi. Matanya berbinar-binar dan segera menarik pergelangan tangan Sakura ke luar, menuju lapangan sepakbola sekolah mereka. Sepanjang perjalanan mengitari gedung sekolah mereka yang luas, tidak satupun pertanyaan dari Sakura yang dijawab oleh Tayuya. Aneh sekali.

Tadi dia marah-marah, sekarang kenapa senyum-senyum seperti orang gila?

"Hei, apa-apan sih? Kita bisa ke lapangan dengan jalan kaki biasa, tidak perlu lari-lari begini, 'kan? Sebenarnya ada apa? Pertandingannya belum dimulai juga. Tayuya, jawab pertanyaanku!" teriak Sakura akhirnya seraya menghentakan tangannya dan menariknya dari genggaman Tayuya. Antara lelah, penasaran, dan kesal. Napas ke duanya bahkan sampai terengah-engah. Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Tayuya malah tertawa geli dan menyeringai.

"Pokoknya, saat melihat ini kau akan sangat bahagia. Sudahlah, ayo cepat. Sebelum pertandingan dimulai, ada baiknya kau memberinya wejangan-wejangan," masih dengan raut wajah kebingungan, Tayuya kembali menarik lengan Sakura.

Ke duanya sampai di lapangan luas itu dua puluh menit kemudian. Tempat itu sudah dipenuhi oleh lautan manusia, di pinggir lapangan dan di kursi penonton. Rupanya, banyak sekali yang ingin menyaksikan pertandingan kali ini. Wajar saja, klub inti sekolah mereka sangat terkenal di mana-mana. Selain karena kehebatan mereka, paras tampan dari tim Konoha High pun merupakan daya tarik bagi siswa-siswi dari sekolah mereka sendiri maupun dari sekolah lain. Yah, ketenaran tim sepakbola Konoha sebanding dengan ketenaran Sekolah yang menaunginya. Suara teriakan dan sorak-sorai dari para penonton menggema di lapangan. Mereka saling menyemangati para idolanya. Beberapa dari mereka membawa bendera sekolah dan poster-poster bertuliskan dukungan.

Sakura mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dari kiri ke kanan, menyapu seluruh area lapangan. Tim sepakbola sekolahnya, tim sepakbola lawan, tim cheerleader-nya, serta tim cheerleader lawan tampak bersiap-siap di lapangan hijau itu, lengkap dengan kostum mereka masing-masing. Sakura berdebar-debar, pertandingan ini sudah ia nanti-nantikan. Ini kesempatan pertamanya menunjukan kemampuan cheer-nya di lapangan. Kemudian fokus matanya menangkap sesosok laki-laki berambut merah di tengah lapang yang sedang melakukan pemanasan tersenyum kepadanya dan Tayuya. Sakura pun membalas senyumnya dan melambaykan tangan ke arah sepupunya itu. Gaara terlihat sangat bersemangat. Angin dingin yang berhembus―tidak terasa sudah mendekati musim dingin―tidak membuat Gaara dan anggota tim sepakbola lain menjadi malas. Lalu, Sakura mengalihkan atensinya ke arah selatan. Di sana tim cheerleader Oto juga tengah melakukan pemanasan.

Sakura meneguk salivanya, ingatannya kembali memikirkan Sasuke. Harusnya Sasuke sekarang ada di tengah lapangan juga. Sayang sekali Sasuke tidak bisa ikut pertandingan ini. Padahal, Sasuke begitu bersemangat. Pertandingan tanpa seorang kapten... benar-benar buruk kedengarannya. Memang, masih ada Sasori sebagai wakil kapten sepakbola mereka. Namun, ini pertama kalinya tim sepakbola Konoha High bertanding tanpa kehadiran seorang kapten. Ditambah ini pertandingan yang sangat penting. Jika dipertandingan ini tim mereka kalah, mereka tidak akan sampai di final. Pertandingan kali ini adalah pertandingan untuk mempertahankan piala bergilir kejuaraan sepakbola antar sekolah tingkat Nasional yang sudah lima kali berturut-turut diraih oleh Konoha High. Entah, bagaimana kecewanya Sasuke sekarang.

Ini salahku.

Sakura menolehkan kepalanya saat dirasakan Tayuya menyenggol lengannya. Lalu, Tayuya menunjuk seseorang yang mengenakan sweater rajut cukup tebal sedang duduk di kursi cadangan.

Sasuke...

Spontan bibir tipis Sakura tersenyum lebar, manik emerald-nya berkaca-kaca, dan jantungnya berdegub dengan kencang. Tayuya yang masih berdiri di sampingnya terkikik. Mengamati ekspresi Sakura yang berubah drastit.

"Kau senang, eh? Dia datang, aku melihatnya lewat saat berganti pakaian," ucap Tayuya.

Sakura hanya menanggapinya dengan anggukan dan langsung berlari menuju arah kursi cadangan. Mengabaikan teriakan pelatih cheer-nya yang memanggil ia dan Tayuya untuk melakukan brifing.

.

.

"Sasuke," sapa Sakura saat ia sampai di tempat tujuannya. Sasuke melihat pelatih Asuma dan beberapa pemain cadangan lainnya duduk di sana.

Sasuke menolehkan kepalanya ke kiri. "Sakura? Duduklah," jawab Sasuke tanpa bisa menghilangkan nada gugupnya.

Ayolah, berhari-hari tidak bertemu dengan gadis semanis permen karet ini, membuat Sasuke salang tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa. Padahal, selama perjalanannya menuju sekolah, otaknya terkontaminasi pikiran-pikiran liar. Seperti langsung memeluknya erat, menciumnya dan... yah, lupakan!

Sakura tersenyum singkat kepada Asuma dan pemain lain yang melihatnya dengan penuh selidik. Kemudian ia duduk di samping Sasuke. Masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum pertandingan dimulai. Jadi, tidak ada salahnya 'kan jika ia mengobrol sebentar bersama Sasuke.

"Kau sudah sembuh?" tanya Sakura.

"Seperti yang kau lihat," jawab Sasuke disertai dengan seringaian khasnya.

Sakura menatapnya tajam. Mengamati Sasuke dari ujung kaki sampai ujung kepala. Benar-benar memprihatinkan. Tapi, rasanya Sakura ingin sekali memakai sweater milik Sasuke itu. Dingin sekali mengenakan kostumnya yang minim dengan udara seperti ini. Salahkan pelatihnya yang memaksa mereka mengenakan kostum musim panas, katanya agar para pemain lebih bersemangat. Lalu, ia mendekatkan tubuhnya kepada Sasuke dan menyentuh dahi Sasuke dengan telapak tangannya.

"Suhu tubuhmu masih panas, bodoh! Kenapa nekat datang ke sini? Kau tidak ikut pertandingan 'kan?"

"Aku ikut pertandingan tentu saja, tapi di babak ke dua. Aku tidak selemah yang kau kira. Dan... kau tahu Sakura? Aku merindukanmu," jawab Sasuke santai. Onyx-nya yang berkilat itu menatap Sakura dalam. Sementara bibirnya yang sensual tersenyum padanya.

Senyum itu.

Sakura tidak bisa mengartikan apa maksud dari senyuman Sasuke padanya. Sebenarnya bagaimana perasaan laki-laki yang percaya dirinya selangit itu? Terkadang, Sakura merasakan bahwa Sasuke benar-benar mencintainya. Namun, ada saat-saat di mana Sasuke seperti mempermainkannya.

Sakura hanya bisa terpaku menatap Sasuke, sampai tangan Sasuke terulur meraih pipinya dan mendaratkan kecupan kecil di sana.

"Pelatihmu menyusulmu, Sakura, pergilah. Aku tidak sabar ingin melihat tubuh sexy-mu berlenggak-lenggok melakukan gerakan cheerleading, dan meneriaki namaku," bisik Sasuke halus di telinganya.

"APA? Sialan, kau! Sebaiknya kau diam saja di rumah!" belum sempat Sakura mendaratkan tangannya untuk meninju bahu Sasuke, pelatih cheerleder datang menghampiri mereka dan menarik lengan Sakura dengan kesal. Sasuke bahkan sempat terkekeh mendengar Sakura mengaduh karena kuku tajam pelatihnya itu menggores kulit mulusnya.

"Sakura itu sedang marah-marah pun masih terlihat cantik, ya? Kau pasti sangat mencintainya," komentar Sai―rekan timnya yang kini duduk di bangku cadangan.

Sasuke tersenyum tipis dan mengangguk. "Tentu, aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku mencintainya."

Eh? Apa aku benar-benar mengatakan bahwa aku mencintainya? Kurasa demamku membuatku melantur.

.

.

Pertandingan sudah sampai pada akhir babak ke dua dan sudah memasuki additional time selama tiga menit. Skor yang terpampang di papan belum menunjukan perubahan sejak babak pertama, masih 0-0. Lapangan yang mulai ditetesi rintik-rintik hujan pun tidak membuat suasana di lapangan menjadi sepi. Para suporter masih bersorak-sorai, beberapa di antarnya sibuk berdoa untuk kemenangan tim jagoannya. Sakura dan tim cheerleder pun berteduh seraya merapalkan doa, berharap ada keajaiban yang terjadi di menit-menit terakhir. Fokus matanya tidak pernah luput dari sesosok laki-laki bernomor punggung 28, ia begitu mengkhawatirkan keadaan laki-laki itu. Demamnya, bagaimana jika tiba-tiba tubuhnya tumbang? Oh, Sakura tidak ingin itu terjadi.

Di tengah lapangan, Sasori menggiring bola hasil operan dari Gaara. Kemudian ia mengopernya kembali kepada Kiba yang ada di depannya. Salah satu pemain lawan menghadangnya dari samping dan membuat langkah laki-laki penggila anjing itu terhenti. Namun, di saat yang genting itu Sai melintas dan memberinya kode kepada Kiba untuk memberikan operan kepadanya. Tanpa pikir panjang, Kiba mengoper bolanya. Dengan cepat, Sai berlari ketika di hadapannya kosong tidak ada hadangan dari tim lawan. Tadinya Sai akan melakukan tendangan dan mencetak gol ke gawang lawan sendirian. Namun, keadaan tidak memungkinkan, karena lagi-lagi di garis depan tim lawan kembali menghadang. Sai mengedarkan pandangannya, mencari timnya yang bebas. Dan ia tersenyum lebar saat melihat Sasuke yang berlari ke arah depan. Sai akhirnya memberi operan itu kepada Sasuke.

Sasuke menerima operan Sai dengan mulus. Menggiring bola itu dengan gerakannya yang lincah. Berlari lebih dekat ke arah gawang, melewati beberapa penghadang, slidding teckle yang dilakukan oleh beck lawan dan menendang keras bola ke arah gawang.

GOOOOL!

Sasuke berhasil mencetak gol di detik-detik terakhir. Bersamaan dengan itu, peluit panjang tanda pertandingan selesai pun berbunyi. Serentak euporia kemenangan terdengar begitu meriah. Mengalahkan suara gemuruh hujan dan kilat yang saling bersahutan. Sementara tim lawan tampak kecewa dan tertunduk lesu. Wajah mereka sedih, namun menerima kekalahan mereka dengan lapang dada.

Tidak mau ketinggalan moment mengembirakan itu, anggota tim cheerleader, para guru dan Sakura berlari ke tengah lapangan untuk menghampiri para jagoan mereka. Sakura pun langsung menghampiri Sasuke. Tidak mempedulikan hujan yang membuat tubuhnya basah kuyub. Sementara Sasuke tersenyum padanya dan memeluk pinggang Sakura dengan erat.

"Kau menang," bisik Sakura. Ia sedikit berjinjit untuk menempelkan dahi mereka. Sementara tangannya melingkar di leher Sasuke.

Sasuke mendengus dan menyeringai. "Maaf, tapi tidak ada kalah dalam kamusku."

Sakura terkikik geli. "Karena kau sudah menang, aku akan memberikan hadiah untukmu. Kau mau apa?" tanyanya.

Sasuke semakin melebarkan seringaiannya. "Cium aku, Nona Haruno," ujar Sasuke yang kini mulai menundukan kepalanya.

Dari jarak sedekat itu, Sasuke bisa merasakan detak jantung Sakura yang berpacu dengan cepat. Tubuh Sakura yang hangat. Poni lembutnya yang menggelitik, juga manik emerald-nya yang membuat ia hanyut. Sakura yang akhir-akhir ini mengacaukan sistem kerja otaknya. Sasuke semakin mempererat pelukannya. Debaran hatinya yang selalu muncul tatkala melihat Sakura semakin nyata. Dulu, saat mereka pertama kali bertemu, mungkin hanya rasa penasaran dan keinginan untuk menaklukan gadis ini. Namun, sekarang rasa itu berubah. Sasuke ingin memiliki Sakura sepenuhnya. Seperti saat ini, merasakan dunia hanya milik berdua.

"Kau benar-benar ingin aku menciummu di tengah lapangan dengan banyak pasang mata yang memandang, eh?" lirih Sakura dengan suara kecil.

"Hn."

Sakura mengangguk dalam diam. Meresapi rasa hangat yang menjalari tubuhnya. Padahal hujan begitu deras, namun ia sama sekali tidak merasakan kedinginan. Ajaib. Aroma tubuh Sasuke yang menyeruak masuk melalui rongga hidungnya pun semakin membuatnya nyaman, tenang, dan tidak ingin melepaskan pelukannya.

"Jika ini bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapanku. Dengan senang hati, aku... ."

Sasuke membungkam bibir Sakura dengan bibirnya sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya. Mengulum bibir tipis Sakura lembut yang dibalas dengan balasan serupa oleh Sakura. Ciuman panjang di tengah-tengah lapangan dengan banyak pasang mata, ciuman di tengah hujan yang membuat Sasuke mengambil keputusan paling berat di hidupnya; ia akan menyerah. Ia akan membiarkan perasaannya terhadap Sakura, tidak akan membohongi dirinya sendiri. Ia tidak akan melepaskan Sakura untuk siapapun.

Dan sebelum Gaara menghampiri ke duanya dengan muka memerah. Sasuke lebih dulu menarik Sakura, berlari menjauhi lapangan sepakbola dan membawanya melesat pergi bersama mobil Audi kesayangannya.

"Cih, mereka kabur?" gumam Gaara frustasi.

"Hahaha... sangat keren, ini kejadian yang langka, untung aku sudah mengabadikannya," sahut Naruto yang muncul dengan payung berwarna oranye disertai cengiran khasnya.

Sasori terkekeh dan menepuk bahu Gaara. "Pasti sepupumu akan menjadi hot news besok."

Gaara menatapnya tajam tidak percaya bahwa Sasori sekarang memperlihatkan gelagat mendukung si bocah tengil itu untuk merebut sepupunya.

"Sudahlah Gaara-kun, kau sendiri juga tahu 'kan? Sasuke tidak memperlakukan Sakura dengan buruk," timpal Tayuya.

Gaara hanya mendesah seraya menarik tubuh Tayuya menjauh dari tengah lapangan untuk segera mengganti pakaian mereka yang basah.

.

.

"Nice job, Kapten," cibir Sakura.

"Hn?" Sasuke hanya merespon seadanya, tanpa mengalihkan atensi dari jalanan. Dengan tenang ia mengemudikan mobilnya.

Sakura menatap Sasuke dengan bosan dan menghela napas lelah. "Kita bahkan tidak menganti pakaian dulu. Kau itu bodoh atau apa? Demammu bisa semakin parah."

Sasuke tersenyum mendengar celotehan Sakura yang tersirat nada kekhawatiran. "Aku sudah sembuh. Tiba-tiba saja demamku hilang, mungkin karena berciuman denganmu," gurauan Sasuke membuat Sakura semakin kesal, sungguh. "Aku sudah bilang belum? Kau sangat cantik dalam keadaan seperti itu. Tapi sayang bukan hanya aku yang melihatnya," sambung Sasuke datar.

"Kau cemburu, eh? Kita hanya sepasang kekasih pura-pura. Kau tidak lupa jika kita sedang dalam sebuah permain?" balas Sakura dengan santai.

Sementara Sasuke menegang di kursi kemudinya. Ia menatap Sakura dengan tajam. "Kau benar, kita memang berpura-pura. Aku tidak pantas cemburu, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau menjadi korban dari orang-orang berengsek yang ingin mencicipi tubuhmu seperti Kabuto lagi―" Sasuke menutup mulutnya saat ia menyadari kesalahan yang diucapkannya.

Bodoh! Apa yang aku katakan?

Wajah Sakura memerah, menahan malu. Apakah Sasuke peduli padanya sekarang? Menelusuk lebih jauh pun, Sakura tidak menemukan kebohongan dari laki-laki yang di cap player itu. Sakura menghela napas panjang dan tersenyum. "Terimakasih, kau menghawatirkanku?" tanyanya.

Sasuke menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat Sakura terkejut dan berteriak. Setelah meminta maaf atas kecerobohannya, Sasuke menepikan mobilnya di pinggir jalan.

"Kenapa berhenti?" tanya Sakura bingung.

Sasuke mengusap tengkuknya dan terlihat gusar. "Aku ingin bicara padamu," katanya.

"Bukankah sejak tadi kita bicara?"

"Yah, tapi ini hal penting dan serius. Mungkin pembicaraan yang akan panjang. Jadi kuharap kau tidak menyelaku selama aku berbicara," Sasuke menatap Sakura dengan cemas, sesekali bola matanya bergerak ke sana-sini, lalu ia menggigit bibir bawahnya seraya menatap ke bawah.

"Apa?" Sakura bertanya-tanya, memikirkan semua hal yang mungkin akan keluar dari mulut Sasuke. Apa hal penting yang bisa membuat Sasuke terlihat bimbang dan gelisah seperti ini? Sasuke tampak seperti anak TK yang sedang dihukum oleh gurunya.

Namun, sekeras apapun Sakura berpikir. Ia tidak mendapatkan titik terang. Yang tidak ia sadari, perkataan Sasuke itu mampu membuatnya terkena serangan jantung mendadak dan kesulitan bernapas.

.

.

Sasuke menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Ini dia. Sasuke tidak percaya saat ini akan tiba juga. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa perasaannya akan meledak-ledak seperti ini. Sasuke bahkan berpikir ia akan mati tanpa Sakura. Memang, ia mengenal Sakura dalam waktu yang singkat. Tapi, dalam waktu yang singkat itu, Sakura mampu mengenalkannya pada perasaan abstrak yang semula tidak ia percayai, perasaan hangat yang menjalar hingga sel-sel darahnya. Sakura adalah alasannya untuk bangun pagi dan menyeret dirinya ke sekolah setiap hari, alasannya untuk berusaha keras dalam segala hal, pekerjaan sekolah, kehidupan sosialnya, sepak bola... Sakura layaknya matahari, bulan, dan bintang-bintang yang berpijar di galaksi itu mengingatkannya pada manik emerald Sakura yang selalu berbinar-binar. Sungguh, segala yang melekat pada diri Sakura begitu membuatnya terpesona.

Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Uchiha Sasuke jatuh cinta. Ya, Sasuke jatuh cinta untuk pertama kalinya.

"Sasuke?" Sakura menatap Sasuke dengan aneh, sementara Sasuke mengerjap dan menelan salivanya yang terasa mengering.

"A-Aku... pertama aku ingin minta maaf karena sudah membawamu ke dalam permainan konyol ini. Dan kedua... aku, aku mencintaimu. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Kau segalanya bagiku. Kau mungkin berpikir jika aku berbohong, tapi sungguh, Sakura. Aku sungguh-sungguh. Kau selalu meracuni pikiranku, bayanganmu selalu mengusiku, pagi, siang, malam, aku selalu memikirkanmu. Aku mencintaimu, aku kalah," Sasuke mengatakannya dalam satu tarikan napas. Akhirnya ia mengatakan hal yang mengganjal di hatinya beberapa hari ini. Rasanya begitu lega dan sedikit was-was.

Sementara di sampingnya, Sakura tercekat.

Sasuke mencintai Sakura? Player itu jatuh cinta? Dilihat dari gelagatnya, Sasuke memang sungguh-sungguh dan tidak berbohong. Sasuke bahkan tidak memberi Sakura yang sedang terpaku kesempatan untuk menjawab. Karena ia mencium Sakura. Sakura memejamkan matanya dan membalas ciuman Sasuke. Membalas ciuman panas Sasuke dengan hati yang berkecamuk. Rasanya semuanya begitu benar dan ia haruslah bahagia. Namun, entah kenapa ia menjadi ragu. Pertanyaannya adalah, apa Sasuke benar-benar mencintainya? Jika Sakura, jangan ditanya lagi. Gadis itu benar-benar mencintai Sasuke dan sudah kalah sejak awal. Seharusnya Sakura yang kalah, tapi ia tidak mau membiarkan Sasuke menang tanpa memberinya sebuah pelajaran.

Sakura tersenyum di sela-sela ciumannya.

Aku harus mencari tahu dulu. Jika Sasuke benar-benar mencintaiku, dia akan mengatakannya setiap hari, meneleponku setiap hari, dan bersikap baik kepadaku. Ya, aku tidak akan memberinya jawaban sebelum semuanya jelas.

.

.

Sakura langsung masuk ke dalam kamarnya begitu Sasuke pulang setelah mengantarnya. Membersihkan tubuhnya yang lengket karena air hujan dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur nyamannya.

"Sakura? Ada apa?" tanya Gaara yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan duduk di samping Sakura. Tampak khawatir dengan keadaan Sakura yang tampak kosong.

Sakura menatap Gaara dan menghela napas. "Uchiha Sasuke jatuh cinta padaku," ujar Sakura santai.

"Dia apa?" Gaara terkejut dan bangkit dari duduknya.

Sakura memutar matanya dan duduk. "Tidak ada siaran ulang. Kau mau membantuku untuk mencari tahu apakah dia benar-benar mencintaiku atau tidak? Kurasa aku menang, Gaara, tapi aku ragu," jawab Sakura.

"Tidak ada yang menang, aku tahu kau juga mencintainya. Aku akan membantumu, tapi jika kutemukan dia tidak serius denganmu. Kau harus berhenti mencintainya, kau mengerti?" jelas Gaara dengan nada dingin.

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Gaara pun ke luar dari kamar Sakura. Meninggalkan Sakura yang semakin gelisah.

"Sasuke... andai saja kau bukan seorang player. Aku pasti akan sangat memercayaimu dan menerima pengakuanmu."

.

.

To be continued


AN: Moshi-moshi minna, maaf untuk apdetan yang lamaaa ini. Dan review yang belum sempat saya balas. Terlalu sibuk dengan kelulusan saya dikampus hehe *sok-sokan* alhamdulillah akhirnya saya lulus juga dan tinggal menunggu wisudaaaa *abaikan curcol ini*. semoga masih ada yang ngikutin ff ini yaaa? *ngarep* dan maaf untuk typoo yang bertebaran serta EYD yang tidak baik -_-"

akhir kata, mind to RnR?

salam hangat,

Yara Aresha.