~(^o^)…Previous on 19th Chapter 19…(^.^)~
JREEEENG! "Aish! Minnie kemana sih? Tadi katanya ingin diajarkan main piano olehku. Sekarang dia kemana? Aku sudah memainkan dua lagu, tapi dia tidak juga datang. Huuuuh!", keluh Ryeowook sambil melempar pandangannya keluar jendela ruang musik itu.
"Chogiyo!", ucap Yesung membuat Ryeowook membatu. "Bolehkah kau memainkan lagu itu lagi? Aku sangat menyukainya.", jujur Yesung memohon kepada Ryeowook.
Ryeowook menelan ludah kecut. Ia membalikkan badannya pelan saat Yesung menepuk bahunya. Sebuah senyum canggung terukir di bibir yeoja manis itu. "NEO?", sentak Yesung kaget. Namja itu masih ingat wajah yeoja yang menabraknya semalam. Itu Ryeowook?
"Hehehe… Annyeong, Sunbae.", ucap Ryeowook cengengesan. Kalau ia bisa memohon kepada Tuhan, ia ingin sekali ditelan bumi saat ini. Bagaimana bisa pujaan hatinya memergokinya di ruangan ini? Terlebih Yesung mengingat dirinya. Inikah yang dinamakan takdir?
19th
Chapter 20
By Yuya Matsumoto
"Study Tour Love in Venice"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
"Ya! Minnie!", lengking Ryeowook menghambur ke pelukan Sungmin.
Sungmin hampir saja terjungkal karena respon mendadak dari Ryeowook ketika yeoja mungil itu masuk ke dalam ruang musik. Ryeowook memeluk tubuhnya dengan sangat erat, menyebabkan pasokan oksigen Sungmin berkurang. "Se-sesak, Ryeo!", lirih Sungmin berusaha melepas dekapan Ryeowook.
"Eh, mianhae!", ujar Ryeowook merasa bersalah. Ryeowook melepas pelukannya dari tubuh Sungmin, menatap Sungmin dengan mata berbinar-binar.
Sungmin memiringkan kepalanya, bingung. "Waeyo? Kenapa terlihat senang?".
Ryeowook diam, menundukkan kepalanya. "Euuung~!", gumam Ryeowook sambil memutar-mutar telapak kaki kananya di lantai, seperti sebuah permainan baru yang mengalihkan perhatiannya.
Sungmin menangkup kedua pipi Ryeowook, lalu memaksa yeoja manis itu untuk menatap wajahnya. "Ada apa? Katakan!", titah Sungmin penasaran.
BLUUUSH! Wajah Ryeowook memerah. Ia memalingkan wajahnya ke kiri, masih takut menatap Sungmin. "Ta-tadi Yesung sunbae…", ucap Ryeowook terbata-bata. Kemudian ia menunduk lagi. "Tadi kami bermain piano dan bernyanyi bersama. Kyaaaaa~ Minnie! Aku sangat senang!", lanjut Ryeowook sambil berjingkrak-jingkrak senang.
"Huaaaa! Chukkae! Chukkae!", jerit Sungmin ikut berjingkrak seiring gerakan Ryeowook. "Akhirnya kamu jujur juga kepadaku. Aku sudah tahu kamu memang menyukai Yesung-oppa dari dulu. Gotcha!", goda Sungmin dengan seringainya.
Ryeowook memukul bahu Sungmin. "Ssst… Jadikan ini rahasia kita berdua ya, Minnie!", ujar Ryeowook mengarahkan kelingkingnya untuk membuat pinky promise dengan Sungmin.
Sungmin mengkaitkan kelingkingnya dengan kelingking Ryeowook. "Oke deh! Oh, ya! Jadi nggak nih latihan pianonya?". Sebenarnya tadi Sungmin melihat semua adegan YeWook couple itu dari luar ruang musik. Ia sengaja mengintip karena tidak ingin mengganggu momen-momen yang jarang terjadi itu. 'Semoga Ryeowook mendapatkan kebahagiaannya.', batin Sungmin berdoa.
"Ayo! Ayo! Aku akan mengajarkanmu sampai kamu mahir!", seru Ryeowook menarik lengan Sungmin ke sisi piano. Keduanya tertawa lepas seiring dentingan merdu piano di hadapan mereka.
.
.
Leonardo da Vinci International
#Rome's Airport, Italy#
[Day 32, Thursday, YeWook's Side]
.
.
"Good morning.Starting todaywewill hold aStudy Tourfor one week. We,the teachers, have dividedyou allinto groups. The group wasselected based onthe roleyouwould probablyget in thedramalater.We hopeyoucan buildchemistrywith allyourfriends. Have a nicetrip!", kata Mr. Kim mengumumkan kepada semua muridnya di parkiran bandara, sebelum mereka semua masuk untuk check in.
Beberapa guru membagikan tiket pesawat kepada setiap murid sesuai dengan kelompok mereka. Setiap kelompok akan memiliki rute perjalanan yang berbeda, baik itu kelas satu, dua, atau pun tiga. Dalam satu kelompok akan memiliki murid dari setiap angkatan. Study tour ini benar-benar dipikirkan oleh dewan guru dengan mempertimbangkan sifat, sikap dan karakteristik para muridnya. Sekolah ini memang mementingkan kualitas para muridnya sehingga mereka mempersiapkan theater ini secara sempurna.
"Kita satu kelompok, Min?", tanya Ryeowook, mengintip lembar tiket milik Sungmin.
Sungmin mengerucutkan bibirnya, membuat ekspresi sedih kepada Ryeowook. "Lihat saja.", jawabnya singkat.
Ryeowook mengambil tiket Sungmin, lalu mencocokkan tiketnya dengan Sungmin. "Huaaaa~ Sama! Asyiiiiiik!", jerit Ryeowook senang, seperti beberapa murid lainnya yang berjingkrak senang saat tahu mereka sekelompok dengan sahabat mereka.
'Tentu saja aku bersamamu. Aku memohon kepada tuan Kim agar menyatukan kita berdua. Aku tak bisa membayangkan berkeliling Italia tanpa kamu, Ryeowook-ah!', batin Sungmin sambil melempar senyuman tipis kepada Ryeowook yang terlihat sangat senang dengan keberuntungan 'disengaja' itu.
Sesampainya di kabin pesawat, kedua yeoja mungil itu mencari tempat duduk mereka sesuai dengan nomor seat yang tertera di tiket mereka. Sungmin mengerucut sebal saat tahu ia duduk terpisah dengan Ryeowook dan harus duduk di sebelah namja kekar yang bersikap over protektif kepadanya akhir-akhir ini—Choi Siwon. "Hai, Min!", sapa Siwon dengan senyuman prince charming miliknya yang langsung mendapatkan cemberut dari Sungmin.
"Boleh aku duduk di sini?", tanya seseorang kepada Ryeowook yang asyik memandang keluar jendela pesawat.
"Silakan sa-saja.", jawab Ryeowook menelan ludah kecut saat kedua mata indahnya bertemu dengan wajah tampan namja di depannya—Kim Jongwoon atau sering dipanggil Yesung, namja pujaan hatinya.
Kelompok Satu sampai di Malpensa International Airport Milan pada pukul tujuh pagi. Sepanjang perjalanan ke kota itu, Ryeowook berusaha mengatur degup jantungnya yang tidak beraturan sambil memandang keluar jendela pesawat. Senyum manis tersungging di kedua pipi yeoja mungil itu saat melihat Milan pagi itu agak berkabut dan dingin. Semua rombongan kelompok satu keluar bandara, lalu melakukan pengabsenan agar tidak ada satu orang pun yang tertinggal.
Milan adalah kota utama di sebelah utara Italia, dan terletak di hamparan Lombardia, wilayah paling maju di Italia. Milan mempunyai sekitar 1,3 juta penduduk (2004); jika beserta wilayah sekitarnya angka ini meningkat menjadi melebihi 4,5 juta dan seluruh Daerah Metropolitan Milan berjumlah sekitar 9,5 juta penduduk (2004). Milan adalah ibu kota wilayah Lombardia dan pusat ekonomi dan keuangan Italia. Selama berabad-abad lamanya ia juga dipanggil Mailand, yang masih merupakan nama Milan dalam bahasa Jerman.
Tujuan pertama mereka pagi ini adalah La Scala Opera House. Kelompok Satu yang dibimbing langsung oleh Guru Musik sekolah itu, mendapat giliran paling awal untuk melihat keindahan gedung opera megah di Milan itu. Teatro alla Scala, atau disebut juga Teater La Scala, adalah gedung opera paling bersejarah di Italia. Untuk bisa menikmati opera di gedung ini harus memesan tempat beberapa bulan sebelum pertunjukan dimulai, terlebih lagi untuk bangku-bangku VIP yang terletak beberapa lantai di samping kanan-kiri panggung.
"AAAAAAA!", teriak salah satu murid di kelompok satu saat mereka diperbolehkan untuk berjalan di atas panggung megah gedung opera ini. Suara menggema bersahut-sahut, membuat murid lainnya tertawa senang.
"Coba kamu bernyanyi, Ryeo-ssi! Pasti sangat indah!", usul Sungmin sambil menyenggol bahu Ryeowook beberapa kali.
BLUSH! Semburat merah menjalar ke pipi Ryeowook, membuat yeoja ini terlihat semakin manis. Penampilan Ryeowook saat ini berbeda sekali dengan penampilannya di sekolah. Ryeowook memakai softlens berwarna cokelat. Rambutnya ia gerai, tanpa riasan apapun. Long dress berenda mempercantik tubuh moleknya. Sederhan, namun terlihat sangat cantik natural.
"May we use the piano for a duet performance of our students?", tanya Siwon kepada tour guide setelah mendengar usulan Sungmin.
"It's okay, but only one song.", jawab tour guide memberi izin.
Namja kekar itu melemparkan seringai ke arah Sungmin, yang direspon dengan senyuman cerah oleh Sungmin. Yeoja manis itu mendorong Ryeowook ke arah grand piano yang ada di atas panggung. Ryeowook berusaha menahan tubuhnya dari dorongan Sungmin. Ia tidak mengerti dengan pemikiran sahabatnya itu. "Apa-apaan sih, Min?", tanya Ryeowook bingung.
Sekarang giliran Siwon mendorong Yesung untuk bernyanyi diiringi permainan piano Ryeowook. Sungmin dan Siwon memang memiliki rencana untuk mempersatukan kedua orang itu di dalam drama theater sekolah dan di kehidupan asmara keduanya. "Ya! Apa sih, hyung?", tolak Yesung, merasa malu jika melakukan duet tanpa persiapan itu.
"Sing! Sing! Sing!", teriak beberapa murid dan guru lainnya di kelompok satu. Mereka mengharapkan sebuah penampilan luar biasa dari kedua orang itu.
Ryeowook terpaksa duduk di bangku piano setelah Sungmin membisikkan beberapa patah kata kepada yeoja mungil itu. Ryeowook menarik napasnya, memejamkan mata, berusaha meredam grogi dalam dirinya.
TREEEEENG! Ryeowook mulai memainkan piano.
"Sajinul bodaga han chogul chijosso jigum urichorom han chogul chijosso
na namjadabge gurohge nol idgo shiphoso sajinul chijoboryosso.". Ryeowook menyenandungkan lagu Looking At A Picture (Sajinul Bodaga).
Yesung tersentak mendengar lagu ini. Sebuah memori berputar di dalam otaknya. 'Mungkinkah dia?', tebak Yesung dalam hati. "Pyonjirul bodaga banchogul chijosso gourul bodaga nunmuri bichwoso hanchamul urosso nan nunmullo nol idgo shiphoso gure idgo shiphoso pyonjirul chijosso.", lanjut Yesung bersenandung. Yesung dan Ryeowook saling melempar pandang. Keduanya tersenyum.
Semua orang di dalam gedung opera itu menatap kagum kepada pasangan itu. Duet yang sangat manis, menggetarkan hati dan membuat semua orang tertawa senang. Setelah YeWook berduet, mereka melanjutkan perjalanan menuju museum yang ada di dalam gedung opera ini. Museum La Scala menyimpan berbagai macam instrumen musik, gambar dan patung para seniman. Tidak jarang dari semua murid mencatat dan mengabadikan gambar, karena sudah bisa dipastikan materi di museum ini akan menjadi tugas seusai study tour.
"Jadi kamu ini Wookie? Yeoja yang bernyanyi bersamaku kemarin?", tanya Yesung sudah entah ke berapa kali. Ia masih tidak percaya dengan penglihatannya. Yang ia tahu Ryeowook itu yeoja cupu, sama persis dengan Sungmin di sekolah.
Sungmin mendelik ke arah Yesung. "Ya! Oppa jahat sekali! Ini Ryeo, sahabatku. Orang yang sama dengan yeoja di ruang musik itu!", kesal Sungmin karena Yesung masih menanyakan pertanyaan tak penting menurutnya.
"AAAWW! Sopan sedikit! Aku ini oppa-mu tahu!", jerit Yesung mengelus kepalanya yang baru saja mendapat jitakan 'sayang' dari Sungmin.
Sungmin menjulurkan lidahnya. "Wajahmu saja yang tua, otakmu masih kosong.", cibir Sungmin tak mau kalah. Sejujurnya ia mau bilang kalau ia jauh lebih dewasa dibandingkan Yesung, tapi ia tidak ingin penyamaran terbongkar.
Yesung mencubit kedua pipi Sungmin tanpa belas kasih. "Dasar! Menyebalkan!".
Saat ini semua murid sudah duduk di kursi mereka masing-masing di dalam bus. Yesung dan Siwon duduk di depan Sungmin dan Ryeowook. Siwon tertawa pelan melihat interaksi YeMin, sedangkan Ryeowook memalingkan pandangannya keluar jendela, menutupi wajahnya yang memerah. Murid lainnya sedikit bingung melihat keakraban YeMin. Mereka tidak tahu kalau Sungmin tinggal bersama Yesung. Yeoja di dalam bus itu hanya memandang iri kepada Sungmin dan Ryeowook yang dikelilingi namja tampan populer. Mereka kesal karena tidak bisa menerka pembicaraan apa yang ke empatnya bicarakan dengan bahasa Korea.
Perjalanan pagi itu dilanjutkan ke Pinacoteca di Brera. Galeri lukisan Brera adalah museum seni terbaik di Milan. Di dalamnya terdapat lebih dari enam ratus karya dari abad ke-14 hingga abad ke-20. Raphael, Pireo della Francesca dan Bellini adalah seniman-seniman yang karyanya dipamerkan di sana.
"Yesung, bukannya ini salah satu lukisan yang disukai Stella, kekasihmu?", tanya Siwon saat mereka sedang mengamati barang-barang seni yang dipamerkan di museum itu.
Mimik wajah Yesung berubah. Urat-urat wajahnya menurun, menunjukkan kesedihan dalam matanya. "Ne.", jawab Yesung singkat, sebelum berlalu ke lukisan lainnya.
Tujuan selanjutnya merupakan objek wisata yang paling Siwon sukai. Mereka pergi ke Biara Santa Maria della Grazie (Biara ini dibangun pada abad ke-15. Terdapat lukisan asli pelukis Leonardo Da Vinci yang berjudul "The Last Supper". Walau bangunan ini pernah terkena bom pada tahun 1943, namun lukisan Da Vinci dapat diselamatkan dan masih bisa disaksikan sampai saat ini.), Basilica Sant'Ambrogio (Bangunan ini adalah salah satu gereja tertua kota Milan yang dibangun abad ke-11. Gereja ini memiliki arsitektur bergaya Roman. Di dalamnya terdapat banyak patung, dan mozaik menarik yang dibuat oleh para seniman masa itu. Ada sebuah altar emas di dalam gereja ini, yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan), dan Milan's Duomo (Disebut juga Katedral Milan, adalah katedral gotik terbesar di dunia yang dibangun pada tahun 1386. Katedral ini memiliki 135 puncak menara dan 3200 patung, dengan waktu pembuatan selama 500 tahun. Tak hanya melihat dari jauh, bahkan bisa menaiki elevator yang disediakan untuk naik ke puncak menara dan menyaksikan panorama Milan dari ketinggian.)
"Aaaaah~ Sudah siang. Lapar!", rengek Sungmin sambil mengelus perutnya yang minta diisi.
Siwon tersenyum melihat kelakuan Sungmin dan beberapa orang muridnya. Hampir seluruh anggota kelompok satu merasa kelelahan dan juga lapar, seperti Sungmin. Akhirnya para guru memutuskan untuk makan siang di Galleria Vittorio Emanuele II.
Galleria Vittorio Emanuele II yang dibangun pada tahun 1867 ini adalah sebuah tempat elegan yang dipenuhi berbagai macam toko, restaurant, dan café. Galeri ini dinamakan sesuai Raja Vittorio Emanuele II yang saat itu berkuasa. Nama lainnya adalah Il Salotto di Milano (Ruang Tamu Milan). Terletak di bagian utara Piazza Del Duomo. Dengan langit-langit gedung dari kaca, awalnya bangunan ini dimaksudkan untuk menjadi kumpulan café dan toko-toko kecil.
Sungmin, Siwon, Yesung dan Ryeowook memisahkan diri dari rombongan mereka, karena siang ini merupakan jadwal kegiatan bebas mereka. Keempatnya memutuskan untuk makan di salah satu restaurant di Galeri ini. Jangan berharap ada restaurant murah di sini, karena Galeri adalah salah satu tempat hang out termewah yang ada di Milan.
Setelah menyantap menu makan siang yang sangat Italia itu, keempat remaja itu memutuskan untuk berpisah. Siwon hanya ingin Ryeowook dan Yesung memiliki chemistry yang mungkin akan bermanfaat di drama theater mereka. Awalnya Ryeowook dan Yesung menolak, namun Sungmin mengerahkan jurus andalannya (berakting sedih dan mellow) sehingga kedua orang itu tak dapat menolak lagi. Entah sihir apa yang dimiliki Sungmin, sudah sangat pasti aktingnya itu sangat tidak natural.
Ryeowook dan Yesung berjalan canggung, menyusuri deretan toko bermerk di samping mereka. Sesekali Ryeowook menatap kagum pada penampilan pengunjung di Galeri. Mereka terlihat tampan dan cantik serta berpakaian modis dan mahal. Pikiran Yesung entah menerawang kemana. Ia hanya mengikuti pergerakan Ryeowook, hingga akhirnya…
"Oppa duduk di sini dulu ya! Tunggu sebentar!", kata Ryewook memberi perintah. Jarang-jarang mendapatkan kesempatan untuk memerintah sunbae, bukan?
Yesung hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Ryeowook. Ia mendesah pelan beberapa kali, merutuki nasibnya yang malang. Sebenarnya ada apa dengan Yesung?
"TADAAAA!", teriak Ryeowook dengan dua cup ice cream di tangannya. Ryeowook menyodorkan ice cream vanilla kepada Yesung, yang langsung ditanggapi dengan tatapan bingung. "Ambil, sunbae! Ice cream bisa menenangkan hatimu yang kalut.".
Deg!
'Bagaimana dia bisa tahu hatiku sedang kalut?', batin Yesung melontarkan pertanyaan bodoh. Siapapun pasti sadar dengan perubahan sikapnya yang drastis, bukan hanya Ryeowook, tapi semua anggota dalam kelompok satu. "Gomawo.", balas Yesung dengan senyuman canggung, sambil mengambil ice cream vanilla yang mulai mencair.
Ryeowook menjilat ice cream strawberry-nya dengan antusias. Ia memandang ke sekelilingnya yang dipenuhi oleh para pengunjung. "Sunbae, pandanglah ke sekelilingmu. Lihat ekspresi pada setiap wajah mereka. Senang dan bahagia. Dua hal itu yang bisa aku simpulkan. Apa itu artinya mereka tidak memiliki masalah hidup, sunbae?", tanya Ryeowook memancing Yesung mengungkapkan isi pikirannya.
Yesung berhenti menjilat ice creamnya yang hampir habis. Dahinya mengerut. "Aniya. Setiap manusia hidup pasti memiliki masalah.", jawab Yesung singkat. Ia mulai mengikuti alur pembicaraan Ryeowook.
"Bingo. Lalu kenapa mereka semua terlihat senang, sunbae? Padahal mereka harus membuang uang mereka untuk membeli barang-barang yang mungkin akan mereka sesali di kemudian hari karena harganya yang selangit.", ujar Ryeowook kembali menjilat ice creamnya.
Yesung menoleh ke arah Ryeowook, tidak mengerti dengan maksud pembicaraan ini. "Mollayo.", jawab Yesung menyerah. Ia tidak ingin menghabiskan kinerja otaknya pada pertanyaan aneh, menurutnya.
"Karena ini saatnya mereka melepas penat dari seluruh masalah kehidupan mereka. Milan adalah tempat yang indah untuk berwisata. Untuk apa berjalan-jalan, tapi tetap menunjukkan wajah murung? Hal ini akan terasa sia-sia.", jelas Ryeowook. Yeoja mungil itu menepuk bahu Yesung pelan.
"Sunbae, aku tidak tahu masalah apa yang kamu hadapi. Aku harap sunbae bisa melupakan itu sejenak, menikmati keindahan alam dan keunikan yang disuguhkan oleh kota Milan. Sunbae tidak pernah sendiri. Sunbae memiliki keluarga, teman-teman dan orang terdekat yang bisa sunbae minta bantuannya. Kita hidup bersosial. Hidup itu berisi masalah. Masalah satu selesai, maka akan muncul masalah lainnya. Seperti itu seterusnya. Manusia hanya bisa menjalaninya dengan sepenuh hati, menjadikan masalah yang telah usai sebagai pengalaman berharga. Aku percaya tidak ada masalah yang tak dapat dipecahkan. Biarkan waktu yang menjawabnya, sunbae. Tersenyumlah. Hadapi semua masalah dengan kekuatan tangguh dalam dirimu!", ucap Ryeowook memberikan semangat kepada Yesung.
Yesung menatap wajah Ryeowook secara intens, membuat pipi Ryeowook merona merah. Yeoja mungil itu baru sadar kalau ia berdakwah di siang bolong. Huh, sok tua sekali. Yesung tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Ryeowook. Namja itu memiringkan kepalanya. "Sebenarnya aku tidak mengerti kau bicara apa, Wookie?", tanya Yesung polos.
Ryeowook hampir saja terjatuh dari kursinya saat mendengar pertanyaan Yesung itu. Ia ingin sekali memukul kepala besar Yesung. Tak tahukah namja di depannya itu bahwa Ryeowook menahan debaran jantungnya hanya untuk memberikan semangat kepada namja itu? Aish! Malu rasanya.
"Ah sudahlah! Jangan dipikirkan, Sunbae. Sekarang sunbae tersenyum.", paksa Ryeowook sambil mencubi kedua pipi Yesung. Bukannya tersenyum Yesung meringis pelan. "Ayo kita jalan-jalan lagi!", ajak Ryeowook saat merasa suasana di antara mereka kembali canggung.
Sungmin duduk di hamparan padang rumput luas di salah satu taman kota terdekat dari Galeri. "Aku lelah.", ujarnya, menghempaskan tubuhnya ke atas rumput, berbaring terlentang.
Siwon asyik memandangi kegiatan yang terjadi di taman itu. Ada keluarga kecil yang asyik bermain, anak-anak remaja tertawa riang dan beberapa pasangan yang sedang bermesraan. "Milan itu indah ya! Aku tidak pernah menyangka bisa berjalan-jalan keliling Eropa seperti ini, terlebih lagi bertemu dengan kau dan Kyuhyun.", ujar Siwon mengenang momen kebersamaan mereka.
SREEEEET! Sungmin terbangun, kembali terduduk. "Kyuhyun.", lirihnya pelan. Ia memandang cemburu ke arah para pasangan itu. Seharusnya ia bisa berduaan bersama Kyuhyun di sini. "Ya! Siwonnie! Minta ponsel.", bentak Sungmin tak sabaran.
Siwon tertawa pelan. "Hahahaha… Sabar! Sabar! Sebegitu rindunya kamu dengan namja kurus itu. Hahahaha!", cekikik Siwon sambil merogoh kantung celananya.
Setelah mendapatkan yang ia mau, Sungmin menekan tombol yang sudah ia hapal di luar kepala itu. "Yoboseyo!", ucap Sungmin saat sambungan telepon terdengar.
"Yoboseyo, Minnie-ah! I miss you so much! How are you?", tanya seseorang di seberang sana dengan nada gembira.
"Berikan ponselnya kepada Kyuhyun. SEKARANG!", titah Sungmin kasar. Ommo! Ternyata yeoja manis ini sangat merindukan kekasihnya.
"Siapa?", tanya orang lain, terdengar di ponsel Sungmin.
"Sungmin.".
"Mwo? Minnie? Cepat berikan padaku.".
"Yoboseyo, chagiya! Miss me?", goda Kyuhyun setelah mendapatkan ponsel dari Kibum.
Sungmin mengangguk beberapa kali. "He-eeeeh!", jawabnya merajuk. Benar-benar sangat manja.
Siwon hanya tertawa pelan mendengar nada suara Sungmin. 'Seandainya aku punya pacar', batin Siwon menyesal.
"Lagi apa, sayang?", tanya Kyuhyun K.E.P.O (Knowing Each Particular Object).
Sungmin mengerucutkan bibirnya yang sayangnya tidak bisa dilihat oleh Kyuhyun. Seandainya Kyuhyun melihatnya, sudah dapat dipastikan bibir Sungmin akan membengkak merah setelahnya. "Aku sedang di Milan. Nggak seru kalau nggak ada, Kyunnie. Semua orang berpacaran, sedangkan aku? Berpacaran dengan ponsel. Kyunnie cepat ke sini ya.".
Hening. Tak ada jawaban.
"Kyunnie, masih di sana?", tanya Sungmin sedikit khawatir.
"Eh? Ne. Aku di sini.", jawab Kyuhyun terbata-bata.
"Kyunnie sudah sehat, bukan? Kapan keluar rumah sakit?".
Hening kembali.
"Kyunnie? Ya! Kyunnie? Ada apa? Kyunnie akan kemari kan? Kyunnie menyusul ke Italia, kan?", tanya Sungmin beberapa kali saat prasangka buruk merasuki hatinya.
Kyuhyun terdiam. Bingung harus menjawab apa.
"Kyuhyun! Sedang apa kau? Palliwa! Pesawatmu ke Korea akan segera berangkat. Jangan sampai terlambat!", teriak seseorang di tempat Kyuhyun berada.
DEG! Ketakutan Sungmin menjadi nyata.
"Kyunnie! Jawablah!", teriak Sungmin frustasi.
"Mianhae, Minnie. Aku harus kembali ke Korea, tapi aku pasti akan menyusulmu secepatnya. Baik-baiklah dengan Siwon. I love you!".
TUUUT! TUUUUT! TUUUUT!
Suara sambungan telepon yang terputus menyambung perkataan terakhir dari Kyuhyun. Tangisan Sungmin tumpah begitu saja, membuat Siwon bingung. Namja kekar itu segera memeluk Sungmin, berharap bisa menenangkan yeoja itu.
"Hiks! Hiks! Kyu! Kyuhyun meninggalkanku, Siwonnie! Huaaaaaa~~", jerit Sungmin dalam pelukan Siwon.
Siwon melotot tak percaya dengan perkataan Sungmin. Haruskah mereka berdua kehilangan namja itu di saat seperti ini? Sepertinya perjalanan mereka akan menjadi sangat berat di kemudian hari.
.
\(OwO)/~ Happy Reading ~\(O.o)a
.
First published on 05/11/12 at WP and 11/11/12 at FB
