Let's Start The Game
Genre: Romance
Rated: T+
Warning: AU, overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, EYD berantakan, DLDR!
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Let's Start The Game©Yara Aresha
Chapter Nine
Musim panas sudah benar-benar berakhir. Kini giliran musim gugur yang mulai memperlihatkan ronanya, mengubah warna dedaunan yang semula hijau menjadi kuning keemasan, atau kuning kemerahan, untuk kemudian berguguran satu per satu. Menjelang sore hari, udara pun menjadi jauh lebih dingin dari musim sebelumnya, bahkan hujan pun seringkali turun. Cuaca seperti ini membuat beberapa warga Kota Tokyo enggan untuk sekedar beranjak. Tidak sedikit dari mereka yang memilih cepat pulang dan segera bergumul dengan selimut tebalnya. Namun, keadaan demikian tidak lantas membuat aktivitas kota Tokyo terhenti begitu saja, buktinya pusat kota itu masih ramai dengan hiruk-pikuk dan lalu-lalang orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Seperti Sasuke dan Sakura yang masih bertahan di dalam kelas mereka, padahal sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu. Pintu-pintu kelas yang lain sudah tertutup rapat. Guru dan karyawan sekolah pun sudah pulang. di sana hanya ada mereka berdua. Sebenarnya mereka ingin cepat-cepat pulang. Tapi, berhubung hari ini jadwal mereka berdua untuk melaksanakan piket kebersihan, mau tak mau mereka harus tetap tinggal di kelas sampai ruangan itu bersih. Piket yang seharusnya bisa cepat selesai hari ini memakan waktu lama. Hari ini benar-benar hari sial untuk mereka, karena teman-teman anggota piket mereka yang lain memilih untuk pulang. Bukannya membuat pekerjaan jadi ringan, semuanya malah jadi merepotkan. Awalnya, Sasuke juga ingin kabur dari tugasnya. Namun, tentu saja ia tidak tega membiarkan Sakura sendirian membersihkan kelas mereka yang luas itu.
Kini setelah Sasuke dan Sakura selesai membersihkan ruangan kelas. Mereka saling duduk berdampingan di kursi yang terletak di sudut ruangan. Mereka terjebak hujan deras. Tidak bisa pulang karena tidak ada satu pun dari mereka yang membawa payung. Bahkan Sasuke menggerutu dalam hati, mengakui betapa bodoh dirinya yang tidak membawa kendaraan hari ini. Jika saja ia membawa mobil kesayangannya, pastilah ia dan Sakura sudah sampai di rumah.
Ada yang aneh di antara keduanya jika diperhatikan secara seksama. Mereka duduk berdampingan tetapi tidak saling bicara. Entah apa yang mereka berdua pikirkan. Keduanya menjadi canggung dan aneh sejak hari di mana Sasuke memutuskan menyerah dengan permainan yang dibuatnya sendiri. Sudah hampir satu minggu mereka berdua diam sepanjang hari, hanya ada sapaan kecil dan saling melemparkan senyum, tidak ada candaan-candaan atau argumen-argumen yang seringkali mereka debatkan jika sedang berdua. Mereka seperti saling menahan diri. Kesal dengan keadaan yang menyiksanya dan seakan membunuhnya secara perlahan ini, Sasuke mengembuskan napasnya dengan kasar. Kemudian ditolehkan kepalanya ke arah samping kirinya untuk memandangi wajah Sakura―yang sedang terhipnotis oleh tetesan ari hujan di balik jendela kelasnya―dengan tatapan yang sulit diartikan. Sesekali Sakura terlihat menggosok-gosok telapak tangannya.
"Kau harusnya menggunakan jaketmu dengan benar, Sakura," ujar Sasuke pelan, namun cukup membuat Sakura menoleh kepadanya. Lalu dengan cekatan, Sasuke merapikan topi rajut yang Sakura pakai dan menarik resleting jaket Sakura sampai ke leher. Ia tersenyum lembut. "Ini akan membuatmu lebih hangat," lanjutnya.
Sakura mengembuskan napas panjang dan menggigit bibir bawahnya. Berusaha meredakan perasaan menggebu-gebu di dadanya. Sikap Sasuke belakangan ini selalu membuatnya gelisah. Hatinya bergetar hebat. Sentuhan-sentuhan kecil dari Sasuke pun entah kenapa mampu membuat darahnya berdesir tak karuan, lebih dahsyat dari sentuhan-sentuhan sebelumnya. Semuanya terasa berubah sejak Sasuke mengatakan cinta padanya. Sasuke selalu memberinya perhatian yang berlebih. Entah itu sungguhan atau ada sesuatu di balik semuanya. Sakura masih saja meragu. Tapi, jika Sasuke hanya berniat mempermainkan perasaannya, ia tidak akan bertindak seperti ini, bukan?
Mengabaikan segala asumsi-asumsi negatifnya, Sakura tersenyum tipis dan kembali mengalihkan atensinya ke arah jendela setelah mengucapkan terima kasih kepada Sasuke. Sakura tidak ingin berlama-lama menatap manik hitam kelam milik Sasuke yang seakan menusuknya, melihat hujan di balik jendela jauh lebih membuatnya nyaman atau aman? Setidaknya itu bisa membuat debaran di dadanya mereda. Sungguh, Sakura tidak ingin terkena serangan jantung dan mati muda hanya karena menatap laki-laki tampan di sampingnya itu.
Selang beberapa saat, fokus mata Sakura masih mengamati objek pandang yang ada di balik jendela. Lengkungan bibirnya semakin lebar tatkala rintik-rintik hujan membuat kaca jendela kelasnya berembun, membuatnya gemas untuk sekedar memainkan jemarinya merangkai beberapa deretan huruf di sana. Sementara Sasuke yang merasa terabaikan hanya menopang dagunya dan sesekali menggerutu tidak jelas.
"Sasuke, bagaimana jika kita pulang sekarang saja?" ujar Sakura ragu setelah jeda tercipta di antara mereka sejenak seraya menatap Sasuke dengan gelisah.
Sakura cemas melihat langit semakin menggelap, takut jika petir akan datang menyapa. Sepertinya hujan juga tidak menunjukan tanda-tanda akan cepat berhenti. Hujan memang bukan masalah besar bagi Sakura. Ia suka hujan, seperti kecintaannya pada cheerleading. Tidak ada yang lebih menenangkan dan menentramkan jika dibandingkan dengan bau hujan yang menyentuh tanah. Denting tetes air hujan yang jatuh ke atas atap merupakan sebuah harmonisasi indah baginya. Namun, ada satu hal yang sangat dibencinya saat hujan turun. Langit yang menggelap itu memberikan kesan mengerikan untuknya. Terlebih suara petir yang menggelegar terdengar begitu horor di telinganya. Sejak kecil Sakura pengidap astraphobia, ia memiliki ketakutan yang besar terhadap petir.
Sasuke yang sejak tadi memerhatikan Sakura secara diam-diam itu mengerjap. Bukannya tidak mau meng-iya-kan usulan Sakura untuk segera pulang. Namun, jarak sekolah mereka menuju stasiun terdekat tidaklah dekat. Mereka pastilah akan basah kuyub terkena guyuran hujan. Dan Sasuke tidak ingin jika Sakura jatuh sakit.
"Kau yakin? Hujannya masih deras, Sakura," balas Sasuke.
Sakura bersikeras tetap ingin pulang. Semakin menunggu hujan mereda, ia takut petir akan segera muncul. Setidaknya jika di rumah ia bisa meredam suara petir itu di balik selimut atau bantalnya. Tidak bisa dipungkiri, Sakura panik saat ini. Otaknya tidak bisa berpikir jernih dalam keadaan seperti ini. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah segera meninggalkan sekolah, bagaimanapun caranya, basah-basahan sekalipun. Terserang demam juga tidak masalah baginya.
"Kalau kau tidak mau, aku pulang duluan saja," ujar Sakura.
Sasuke mempertimbangkan, ia menghela napas pasrah ketika manik emerald Sakura sudah tampak berkaca-kaca. "Tunggu. Aku tidak mengijinkanmu pulang sendirian. Aku akan mengantarmu pulang," balas Sasuke.
Tanpa membuang waktu, mereka meninggalkan gedung sekolah megah mereka. Menyusuri jalanan beraspal, melintasi kompleks tempat tinggal penduduk yang jaraknya tidak jauh dari gedung sekolah mereka, juga sungai kecil, dan pepohonan yang rindang di tiap sudut jalan. Tinggal dua buah belokan lagi untuk sampai di stasiun. Tas sekolah mereka digunakan sebagai pelindung kepala. Hujan semakin turun dengan deras, jaket dan tas sekolah tidak mampu menghalau terpaan hujan. Dalam sekejab mereka berdua sudah basah kuyub.
Langkah mereka mulai terseok-seok karena jalanan yang semakin licin. Sasuke melirik Sakura yang sedikit menggigil. Ingin rasanya ia merangkul tubuh Sakura dan merapatkannya ketubuhnya. Dan ia melakukannya, sebelah tangan Sasuke merangkul pinggang Sakura lalu menariknya merapat. Sakura tidak menolak, dibiarkannya Sasuke berbuat begitu. Sementara Sasuke mengernyit saat merasakan tubuh Sakura yang sangat dingin.
"Sakura? Kau kedinginan?" tanya Sasuke setengah berbisik.
Sakura mengangguk perlahan, membuat Sasuke iba melihatnya.
"Kita berteduh saja dulu," kata Sasuke seraya matanya menyapu sekeliling mencari-cari tempat yang bisa dipakai untuk berteduh.
"Ya, di mana?" tanya Sakura dengan suara bergetar karena tubuhnya yang gemetar.
Sasuke gusar, sejauh matanya memandang, tidak dilihatnya ada tempat berteduh. Ia melirik Sakura, memastikan keadaannya agar tetap baik-baik saja. Bibir Sakura yang biasanya berwarna merah muda alami, kini terlihat sedikit membiru dan bergetar. Tubuhnya tampak lebih pucat. Baru kali ini Sasuke melihat wajah Sakura sepucat itu, membuatnya semakin khawatir akan keadaan Sakura yang tiba-tiba saja tidak bisa disebut baik.
Kilatan putih terang tiba-tiba saja membelah langit, disertai suara gemuruh, dan disusul dengan suara menggelegar yang memekakan telinga. Membuat mereka berdua terdiam sejenak dan menghentikan langkah mereka. Suara itu mengejutkan Sakura, ia terpekik, lalu dengan gerakan refleks ia memeluk tubuh Sasuke dengan erat. Merapatkan tubuhnya kepada Sasuke, seolah ingin bersembunyi di sana. Genggaman pada tas sekolahnya pun terlepas, sehingga tasnya jatuh begitu saja. Sasuke terhenyak dengan gerakan tiba-tiba Sakura.
"Aku tidak tahu kalau kau takut petir," ucap Sasuke sambil tersenyum tipis.
Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Ia biarkan hangat tubuhnya menjalar ke tubuh Sakura yang kedinginan. Tadinya mereka memutuskan untuk berteduh di bawah pohon, tapi petir masih saja muncul saling bersahutan, akan bahaya jika mereka berteduh di sana saat petir masih bermunculan. Sementara Sakura membenamkan wajahnya ke dada Sasuke, Sasuke tersenyum geli. Sakura, gadis enerjik, sedikit galak, dan juga keras kepala itu, kini terlihat bagaikan seorang Putri lemah yang membutuhkan perlindungan dari Pangeran berkuda putih.
Cukup lama mereka berdiri―saling berpelukan di bawah guyuran hujan. Tubuh keduanya semakin dingin. Tapi Sasuke merasakan tubuh Sakura jauh lebih dingin darinya. Ia menyentuh pipi Sakura, memegangnya dengan kedua telapak tangannya. Mata Sakura terpejam, napasnya sedikit terengah, wajahnya masih pucat, dan bibirnya semakin membiru. Sasuke dilanda kepanikan.
"H-Hey, Sakura? Kau dengar aku? Jangan pingsan di sini," ucap Sasuke cemas seraya mengguncang pelan tubuh Sakura yang tidak berdaya.
Ini sungguh jauh di luar dugaan Sasuke. Jika tahu akan menjadi seperti ini, sejak awal ia tidak akan menyetujui usul Sakura untuk pulang tanpa menunggu hujan reda, meskipun mereka berdua akan terjebak lama di sekolah. Itu akan jauh lebih baik daripada ini.
Sakura masih mampu berdiri tegak dan menganggukan kepalanya pelan, namun tubuhnya menggigil hebat sekarang. Sasuke segera merangkul Sakura erat dan membawanya melangkah perlahan. Secepatnya mereka berdua harus sampai di stasiun, atau tempat berteduh. Mungkin keadaan Sakura memang sedang tidak baik. Sehingga ia bisa menjadi selemah ini. Sasuke tidak tega melihatnya, begitu memprihatinkan. Keadaannya jauh lebih buruk dibandingkan dengan keadaannya ketika sakit tempo hari. Sasuke kembali melirik Sakura, entah mengapa terbesit di otaknya untuk mencium bibir Sakura. Ia berharap itu akan membuat Sakura merasa sedikit lebih hangat. Dan keputusannya untuk mencium Sakura bukanlah sebuah kesalahan. Sakura tersentak bangun, matanya terbuka lebar saat merasakan ada kehangatan di bibirnya yang menjalar sampai ke ubun-ubun kepalanya...
"Dengar, kau harus tetap sadar. Jika kau takut dengan suara petir itu, tutup telingamu, jangan lihat apapun, aku akan menjadi inderamu untuk sementara. Sekarang kita berlari, semakin cepat semakin bagus. Sebentar lagi kita sampai di stasiun. Aku akan melindungimu, percayalah," Sasuke meyakinkan. Ia bertekad untuk menjaga Sakura apapun yang akan terjadi. Pokoknya, Sakura harus baik-baik saja setelah ini.
Sakura menurut tanpa banyak bicara, ia mengangguk dalam diam. Hatinya lagi-lagi berdebar ketika menerima rasa hangat dari tubuh Sasuke. Tidak bisa berkelit lagi sekarang. Perasaannya untuk Sasuke memang nyata. Sasuke selalu bisa membuatnya tenang dalam keadaan apapun. Sasuke pun merasakan hal yang sama. Perasaannya bukanlah kebohongan belaka. Ia benar-benar mencintai gadis yang kini ada di pelukannya itu. Meskipun membutuhkan waktu untuk membuat Sakura benar-benar yakin kepadanya, ia akan tetap berusaha dan memperjuangkan cintanya. Karena ia yakin, bahwa sebentar lagi Sakura akan memberinya jawaban yang memuaskan. Suara detak jantung yanya berpacu cepatlah bukti bahwa Sakura memiliki sebentuk perasaan kepadanya. Percaya diri? Tapi itu memang kenyataannya.
Mereka berdua pun berlari di tengah gemericik suara hujan yang intensitasnya semakin meningkat. Sasuke masih tetap dalam posisi merangkul Sakura. Sebelah tangannya ikut menyumbat telinga Sakura dengan protektif.
.
.
Setelah sempat berdesak-desakan selama 30 menit di dalam kereta listrik bawah tanah dan mendapatkan tatapan tajam dari beberapa orang yang risih karena tubuh basah mereka, akhirnya mereka berdua sampai di depan pagar rumah bergaya minimalis keluarga Sabaku. Sasuke lega telah berhasil mengantar Sakura sampai ke rumah sepupunya dan bersyukur Sakura tidak pingsan. Mereka berdua kehujanan cukup lama, pastilah tubuh Sakura tidak sehat sekarang. Anehnya, Sasuke sama sekali merasa tubuhnya sehat-sehat saja.
"Masuklah, hangatkan tubuhmu. Besok sebaiknya jangan masuk sekolah dulu jika badanmu masih lemas. Tapi, jika kau nekad masuk sekolah, aku akan menjemputmu," ujar Sasuke.
Sepasang manik onyx milik Sasuke mengamati Sakura dengan lekat. Tatapannya begitu sulit untuk dijabarkan. Membuat Sakura sulit untuk mengembuskan napasnya barang sejenak. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Sasuke terasa seperti menghujam jantungnya. Begitu tenang dan penuh nada perhatian. Sakura menyukai cara bicara Sasuke yang seperti ini, jauh lebih menghanyutkan jika dibandingkan dengan Sasuke yang tengil dan penuh dengan pikiran mesum.
"Aku mencintaimu, Sakura," ucap Sasuke akhirnya. "Aku ingin kau memberiku jawaban sekarang. Apapun itu, aku akan menerimanya..."
Di balik pagar besi itu Sakura terdiam. Sesekali sebelah tangannya mengusap wajahnya yang basah akibat air hujan. Pikirannya menyelami dan mencoba mencerna ucapan Sasuke. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu diragukan dari Sasuke. Tidak perlu mencari-cari bukti bahwa perasaan Sasuke memang nyata untuknya. Karena cinta itu tidak bisa didefinisikan, tidak bersyarat, tidak pernah berbohong, dan hanya bisa dirasakan dengan hati. Kini, Sakura bisa merasakan semua itu. Sasuke mencintainya, begitupun sebaliknya.
Sakura memejamkan matanya sejenak. Menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Membuka kelopak matanya dengan mantap, membuka pagar besi yang semula telah tertutup dan terkunci. Dengan gerakan slow motion ia rengkuh tubuh jangkung Sasuke. Sedikit berjinjit, dengan kedua tangannya yang ia gantungkan di leher Sasuke, lalu mengecup pipi Sasuke.
"Aku mencintaimu," tubuh Sasuke menegang ketika sebuah bisikan lembut itu melesak masuk ke dalam indera pendengarannya. "Aku mencintaimu, Sasuke," ulang suara itu. Membuat perasaan Sasuke tiba-tiba saja menghangat.
"Aku juga, aku sangat mencintaimu," Sasuke merunduk, lalu bibir dinginnya bersentuhan dengan milik Sakura. Sekali lagi, keduanya saling berbagi kehangatan di tengah guyuran hujan. Ciuman panjang yang begitu terasa jauh menggairahkan dengan ciuman mereka sebelumnya.
.
.
Setelah mandi dan menyantap menu makan malamnya, kini Sasuke tengah menyamankan tubuhnya pada sofa kecil di sudut ruangan yang ada di dalam kamarnya. Sesekali disesapnya teh hangat dengan ekstra madu dan jeruk nipis buatan sang ibu (Mikoto yang begitu terkejut melihat Sasuke pulang dengan keadaan basah kuyub langsung saja membuatkannya ramuan-ramuan agar anak bungsunya itu tidak jatuh sakit kembali, memang agak berlebihan, tapi Sasuke selalu mencintai sifat protektif ibunya itu). Bibirnya tersenyum mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Rasa bahagia begitu kentara ketika cintanya terbalaskan. Tidak pernah ia bayangkan jika jatuh cinta sebegitu menyenangkannya seperti ini, ia sedikit menyesali mengapa Tuhan baru sekarang mempertemukannya dengan Sakura. Mengapa tidak sejak dulu saja? Sehingga, ia tidak harus menjadi seorang player yang menyebalkan. Ah, tapi mungkin ini cara Tuhan. Jadi, semuanya patut disyukuri. Sasuke berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya, dan akan berusaha untuk membenahi dirinya agar jauh lebih baik dari sebelumnya.
Senyuman Sasuke semakin melebar. Mengingat kalimat terakhir Sakura sebelum gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
"Aku mau jadi kekasihmu, dengan dua syarat. Never leave me. Love me forever."
Dua syarat itu...
Tentu saja Sasuke bisa melakukannya. Mencintai Sakura tidak akan pernah ada habisnya, dan bagaimana bisa ia meninggalkan Sakura? Jika sehari saja tidak melihat gadis itu rasanya seperti kehilangan separuh jiwanya. Bahkan setiap mimpinya pun selalu menghadirkan sesosok gadis berambut merah muda yang tersenyum manis kepadanya. Sakura benar-benar sudah meracuni seluruh sel tubuh dan jaringan otaknya. Lantas, masih beranikah ia meninggalkanya? Tentu tidak, itu sama halnya dengan bunuh diri. Terdengar berlebihan memang, tapi begitulah adanya. Cinta mampu meruntuhkan logika dan akal sehat sekalipun.
Uchiha Sasuke tanpa Haruno Sakura, seperti bumi tanpa adanya sebuah kehidupan. Gersang dan hampa.
"Otouto, kau sudah gila? Senyumanmu mengerikan sekali," suara yang terdengar sumbang di telinga Sasuke itu membuat lamunannya buyar.
Tidak suka dengan interupsi dari sang kakak tercinta, Sasuke melemparkan tatapan mematikan padanya, seakan mengatakan kalimat cepat-pergi-dasar-pengganggu. Namun, Itachi tampaknya tidak terpengaruh dan malah semakin mendekati dirinya, bahkan mengempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Sasuke.
"Kalau melihat dari gelagatmu, sepertinya ada kabar baik. Kau jauh lebih segar dari minggu lalu, aura gelap yang berkumpul di belakang tubuhmu juga menghilang," ucap Itachi dengan tampang inosennya seraya menatap langit-langit kamar Sasuke tidak lupa dengan senyuman jahilnya.
Sasuke yang sebelumnya duduk bersandar kini menegakkan tubuhnya. Keningnya mengerut. "Apa? Aura gelap katamu?"
"Iya, aura gelapmu itu terlihat jelas sampai tadi pagi loh," kekeh Itachi, masih tidak mengalihkan tatapannya kepada Sasuke.
Malas meladeni kakaknya itu, Sasuke beranjak dari sofa dan ikut mengempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Bersampingan dengan Itachi yang tampak kebingungan. Tumben adiknya mau tidur satu ranjang dengannya. Biasanya ia akan langsung menarik, bahkan mendorong tubuh Itachi dan marah-marah tidak jelas. Tapi, sekarang Sasuke tenang-tenang saja. Terserang demam cinta memang sangat mengerikan. Bisa membuat siapapun jauh dari kata normal.
Itachi melirik Sasuke yang kebetulan juga tengah meliriknya dengan seringaian. Oh, seringai itu membuat Itachi bergidik.
"K-Kau kenapa, Otouto? Kau masih normal 'kan?" ucapan Itachi segera memancing reaksi Sasuke.
Masih dengan posisi berbaring, Sasuke memutar bola matanya bosan. Seringaiannya hilang. "Tentu saja aku masih normal!" bantah Sasuke dengan suara yang agak tinggi.
"Kalau kau masih normal, kenapa kau senyum-senyum sendiri, lalu menyeringai, dan tidur di sampingku?" ledek Itachi.
Ingin rasanya memberi hadiah sebuah jitakan di kepala Itachi. Namun sayang, kakaknya berhasil menghindar dan berjalan ke arah jendela kamar Sasuke.
"Aku hanya sedang senang, itu saja," ucap Sasuke.
"Apa yang membuatmu senang? Pernyataan cintamu diterima oleh Sakura? Ah, akhirnya Sakura-chan jadi adik iparku juga. Ingat, jangan berganti-ganti pacar seperti sebelumnya. Itu bukan suatu hal yang patut dibanggakan. Kau tahu 'kan Sasuke?" oceh Itachi.
Sasuke mendengus. Ia selalu panas dengan nasehat-nasehat Itachi. Tapi kali ini memang Itachi ada benarnya juga. Ia sudah menyesali perilakunya di masa lalu yang menyebalkan. Mempermainkan perasaan seseorang bukanlah hal yang patut dibanggakan.
"Akan kuusahakan. Aku berganti-ganti pacar bukannya sengaja. Jangan salahkan aku jika begitu banyak gadis yang tertarik padaku. Kasihan mereka jika kutolak, bukan? Anggap saja aku begitu karena memang belum menemukan yang cocok," sahut Sasuke.
Itachi mencibir. "Dasar playboy. Jangan memakai alasan apapun untuk membenarkan sifat burukmu itu!"
Kali ini Sasuke tidak menyahut lagi. Ia menghela napas panjang dan tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi, Itachi meragukan kenormalan Sasuke.
.
.
Keesokan harinya. Sakura terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar. Ia bersyukur, akibat hujan kemarin tidak membuatnya jatuh sakit. Kini Sakura sedang asyik membaca sebuah buku sejarah di perpustakaan sekolah. Namun kegiatannya terinterupsi ketika tiba-tiba seorang gadis tidak dikenalinya sudah duduk di sampingnya dan menatapnya dengan sengit.
Sakura menoleh kepadanya. "Apa?" Sakura mendengus. Kesal karena kegiatannya terganggu.
Belum sempat Sakura bereaksi lagi, gadis itu dengan lancang telah melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras di pipi kanan Sakura. Membuat Sakura terbelalak dan memegangi pipinya yang panas.
"Apa masalahmu?" teriak Sakura, tidak peduli bahwa dirinya kini sedang ada di perpustakaan dan tidak boleh berisik.
Langsung saja, beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. Berdecak sebal.
"Kau merebut Sasuke-kun dariku!" balas gadis berambut pirang itu sedikit berbisik. Sakura tahu sekarang, gadis itu kalau tidak salah bernama Shion, kelas 2-5. Tayuya pernah menceritakan padanya bahwa Shion sangat tergila-gila pada Sasuke. Ya, hampir semua orang tergila-gila pada Sasuke sih sebenarnya.
"Maaf. Tapi Sasuke sudah memilihku sekarang. Aku tidak merasa merebutnya dari siapapun," Sakura segera menyudahi kegiatan membacanya. Ia bangkit berdiri lalu mengembalikan buku yang dipinjamnya. Tanpa mempedulikan Shion, ia keluar ruang perpustakaan itu. Shion cepat-cepat mengejar langkah Sakura.
"Aku tidak menyangka Sasuke-kun bisa berubah secepat itu, dia bahkan tidak pernah membalas pesanku lagi. Semua karena dirimu, kau pasti sudah menggodanya, iya 'kan?"
Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik. Lagi-lagi satu tamparan mendarat di pipi mulus Sakura dan meninggalkan ruam berwarna merah. Cukup kesabarannya diuji, Sakura tidak suka perkelahian. Tapi, Shion tampaknya benar-benar memancingnya untuk berkelahi. Dan dengan senang hati, Sakura siap meladeninya. Mereka berdua pun akhirnya berkelahi dengan perkelahian ala perempuan. Saling menampar, menarik rambut satu sama lain, mendorong-dorong tubuh lawan, atau beradu kata-kata cercaan yang tidak pantas untuk didengar dan ditiru.
"Kyaaaa! Kau membuat rambut indahku jelek sepertimu! Dasar gadis gila!" teriakan Shion menggema di sepanjang koridor gedung kelas satu itu.
Sakura berdecak, seraya terus menarik rambut Shion dengan gemas. "Apa kau bilang? Bukankah yang tidak waras itu kau, hah? Datang-datang langsung menamparku, apa namanya kalau bukan gila?!" serunya. Kini rambut diikat kudanya tergerai dan berantakan. Tidak jauh berbeda dengan keadaan Shion.
"Hei, hentikan! Kalian bisa saja dihukum, lagipula apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian orang lain?" ujar seorang laki-laki berkacamata tebal yang tiba-tiba saja datang, memberanikan diri untuk melerai perkelahian Sakura dan Shion.
Sakura dan Shion menghentikan kegiatan mereka sejenak. "Kau mau jadi pahlawan kesiangan, eh? Aku tidak peduli dihukum atau apapun itu, gadis ini benar-benar membuatku muak," balas Sakura seraya melihat sekelilingnya. Ia menelan salivanya dengan cepat. Terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang, banyak sekali yang menonton adegan bak drama ini. Tapi, diam-diam ia bersyukur tidak ada yang dikenalnya dengan baik, karena gedung kelasnya cukup jauh dengan tempatnya sekarang.
"B-Bukan begitu, Senpai. Tapi, sebaiknya kalian berdua memberi kami contoh yang baik," balas laki-laki itu sedikit ketakutan.
"Berani sekali menasehati... kyaaa!" Sakura tidak melanjutkan ucapannya karena selanjutnya Shion dengan cekatan telah mencengkram sebelah pahanya. Sehingga ia terguling di lantai. Bagian terburuk adalah kening dan lututnya membentur lantai dengan keras, mengakibatkan darah mulai berceceran. Sakura merasa kepalanya menjadi pusing. Koridor tampak berputar-putar di matanya. Teriakan dari orang-orang di sekitar sana tidak mampu membuat kesadarannya tetap penuh. Sekelilingnya menjadi gelap dan hening. Sementara Shion kini berdiri di samping tubuh Sakura yang terbaring lemah dengan senyum penuh kemenangan.
Sialan gadis pesolek itu.
.
.
Ketika Sakura terbangun. Ia merasa kebingungan. Sekujur tubuhnya terasa begitu ngilu dan perih.
"Dia akan baik-baik saja. Kami akan melakukan pemeriksaan lagi lusa, takut-takut jika dia mengalami gegar otak ringan. Sekarang bebatan di kepalanya sudah cukup untuk membuatnya merasa lebih nyaman, ganti bebatannya dua kali sehari, lakukan hal ini sampai satu minggu," suara berat terdengar di telinga Sakura. Pandangannya sedikit kabur. Tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang ada di ruangan berbau menyengat itu. Satu hal yang disadarinya, ia berada di rumah sakit saat ini.
Sakura memejamkan matanya beberapa detik, lalu membukanya dan mencoba untuk mendapatkan fokus matanya kembali. Berhasil, emerald-nya dapat melihat dengan jelas sekarang. Ia dapat melihat seorang dokter pria keluar dari kamar rawatnya, dan Gaara yang berjalan ke arahnya.
"Sakura? Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya meraih pergelangan tangan Sakura.
Sakura duduk, dan mengangguk, namun tampaknya ia mengangguk terlalu cepat karena detik berikutnya ia mengerang kesakitan. Kepalanya pusing.
"Jangan banyak bergerak dulu," balas Gaara dengan nada cemas.
Sakura tertawa pelan. "Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing."
Gaara menghela napas. "Aku tidak percaya Shion akan membuatmu babak belur seperti ini. Dia pasti iri padamu karena berhasil membuat Sasuke bertekuk lutut," katanya.
"Yeah, ternyata tidak semuanya penghuni Konoha High itu down to earth, jika kau tahu maksudku," kekeh Sakura.
Gaara ikut terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian. Kemudian, Gaara menyelipkan lengannya di bawah lipatan lutut Sakura dan satunya lagi di bawah punggungnya, mengangkat tubuh Sakura.
"Kita pulang. Sasuke minta maaf karena dia tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit, Asuma-sensei melarangnya. Dia hanya mengijinkan aku, katanya lebih baik sepupunya saja yang mengantar. Kau pasti tertawa melihat ekspresi Sasuke, dia benar-benar marah. Shion bisa saja habis di tangannya," oceh Gaara panjang lebar. Sementara Sakura tertawa pelan, membayangkan wajah Sasuke yang memerah karena menahan marah. Sasuke pasti sangat menyesal karena kekasih tersayangnya terluka. Memikirkannya saja mampu membuat wajah Sakura memanas.
Selanjutnya Sakura melingkarkan lengannya ke leher Gaara, memeluknya erat. Ia bersyukur Gaara yang ada di sini sekarang. Bukannya ia tidak mengharapkan kehadiran Sasuke. Tapi, Sakura rasanya sudah lama tidak bermanja-manjaan kepada Gaara seperti ini. Semenjak Gaara sibuk dengan kekasih barunya, dan ia sibuk dengan Sasuke, keduanya jarang mendapatkan moment berdua. Gaara adalah segalanya untuk Sakura. Posisi Gaara di hati Sakura sama pentingnya dengan posisi ibunya dan Sasuke.
Sakura tersenyum geli ketika Gaara dengan susah payah membuka pintu mobil Jaguarnya, sementara Sakura masih berada di dalam gendongannya. "Ayo cepat, aku ingin meringkuk di tempat tidur empukku," ujar Sakura dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin.
Gaara mendecih dan memutar bola matanya.
.
.
Di lain tempat. Sasuke berdiri di depan pintu kelasnya. Menajamkan pandangannya mencari objek yang sejak tadi ia tunggu. Seringaiannya muncul saat ia menemukan objeknya.
"Hei, Shion," Sasuke memanggil gadis berwajah cantik yang kini penuh dengan lebam di pipinya.
"Sasuke-kun? Maafkan aku, aku..." Shion menundukkan kepalanya seraya memainkan ujung jemarinya dengan resah. Takut jika Sasuke marah saat ini karena perbuatannya kepada Sakura.
"Sebenarnya aku malas berhubungan denganmu lagi, tapi ini terakhir kalinya. Jangan ganggu kehidupanku lagi! Terlebih jangan pernah kau menyentuh Sakura dengan ujung jarimu sekalipun. Jika kau menyakitinya lagi seperti ini, aku tidak akan segan-segan meskipun kau seorang perempuan. Kau paham?" ujar Sasuke penuh dengan penekanan di setiap kalimat yang dilontarkannya.
Shion hanya bisa terdiam dan menahan tangisannya ketika Sasuke berjalan dengan santai melewatinya.
"Sasuke sudah berubah. Dia benar-benar mencintai gadis itu, tidak adakah kesempatan untukku?" gumam Shion dengan lirih sambil menapat dengan tatapan kosong punggung Sasuke yang semakin berjalan menjauh.
Menyerah, Nona?
.
.
to be continued
AN: Hallooo akhirnya ff ini bisa diupdate :') setelah sekian lama. Maaf untuk review yang belum sempat terbalaskan *plak* semoga masih bisa diterima ya ceritanya. Kayanya bakalan ada beberapa chapter lagi sebelum mencapai ending. :'D tapi gak akan panjang-panjang ko chapternya.
Mungkin itu aja yang bisa saya sampaikan sekarang.
Salam hangat.
Yara Aresha
