Their Interaction With Him Are Interesting, Don't You Think?
Elemental Master: I Like You The Way You Are
Malam begitu sunyi, bulan purnama memantulkan sinarnya dengan brilian. Velder, kerajaan yang awalnya berada di bawah kendali para demon, kini terlelap. Tidak lagi kota yang berdiri megah itu tertutupi kobaran api. Tidak ada lagi Glitter dan Dark Elf yang berkeliaran. Velder berhasil direbut kembali dan semua penduduknya kini sudah terlelap…well, nyaris semuanya.
Di barak tentara Velder, di sebuah tenda pribadi berwarna merah, seorang prajurit muda tengah duduk di depan sebuah meja. Baju besinya nampak diletakkan di bawah mejanya sementara greatsword miliknya ia sandarkan di dekat kepala tempat tidur yang tidak jauh dari bangku tempat ia duduk sekarang. Ia adalah Elsword Sieghart, Lord Knight dari Velder.
Diterangi cahaya dari lentera di depannya, pemuda ini menulis laporan tentang keadaan tentara yang berada di bawah pimpinannya selama pertarungan untuk Centurion Vanessa. Ia juga menyiapkan sepucuk surat untuk ia berikan kepada Penensio di Hamel. Sekilas, ia bersikap seperti prajurit pada umumnya: disiplin, sopan, dan teratur. Tapi kenyataan yang sebenarnya (yang hanya diketahui oleh Elgang) adalah pada awalnya ia seorang bocah yang tidak memikirkan apapun selain bertarung. Karena itulah, Elsword yang terjaga di malam hari dan repot-repot mengerjakan sesuatu yang bisa ia lakukan esok hari, akan dengan segera menarik perhatian mereka yang dekat dengannya.
Aisha Glendstid, seorang Elemental Master, masih terjaga malam itu. Ia bertugas memeriksa keadaan tentara Velder pasca perjuangan merebut Velder. Shift-nya sudah selesai, jadi ia kembali ke barak yang sudah disediakan Elesis bagi para gadis untuk beristirahat malam ini. Dalam perjalanannya, ia melihat semua tenda sudah gelap kecuali satu: tenda Elsword.
'Apa yang anak itu lakukan selarut ini?' pikir purplenette itu. Rasa penasaran menariknya untuk menghampiri tenda si kepala-merah itu.
Elsword mendengar tendanya dibuka. Tangannya reflek menggenggam gagang pedangnya. Ia siap menyerang namun setelah melihat itu adalah Aisha, ia menghela napas. Ia kemudian menarik sebuah senyum.
"Selamat malam Aisha, apa yang kau lakukan selarut ini? Kau belum istirahat?"
"Aku yang harusnya menanyakan itu," tukas Aisha, keningnya mengkerut kesal, "apa yang KAU lakukan selarut ini dengan kondisi badan seperti itu?"
Elsword mengedipkan kedua matanya bingung. Tak perlu waktu lama, kedua matanya melebar saat ia menyadari maksud Aisha. Pemuda merah jabrik itu mengangkat tangan kanannya yang dibalut perban untuk mengelus bagian belakang kepalanya.
"Ahahaha, ini tidak seburuk yang terlihat kok."
Aisha mendekati Elsword dengan langkah cepat kemudian menggenggam pergelangan tangan pemuda itu, membuat yang bersangkutan meringis kesakitan.
"Ya, tidak buruk, tapi sangat buruk." Tukas Aisha sambil melepaskan kembali genggamannya pada pergelangan tangan Elsword. Pemuda berambut merah itu meringis sambil tersenyum gugup. Aisha menghela napasnya.
"Tidak membalas perkataanku, Els?" tanya Aisha, "ternyata Eldork yang dulu bisa berubah ya?"
"Tentu saja aku berubah," jawab Elsword tersenyum, sama sekali tidak memperdulikan nama ejekan yang Aisha berikan, "sebuah perubahan dibutuhkan untuk membuat kemajuan, Aisha."
Aisha menganggukkan kepalanya dengan senyum kecil diwajahnya, "Ya, kau benar."
Gadis penguasa elemen itu mendorong Elsword untuk menyingkir dari tempat duduknya dan memerintahkan pemuda itu untuk duduk di tempat tidurnya. Gadis itu kemudian menarik bangku tadi mendekati tempat tidur itu dan duduk disana. Ia melepaskan sarung tangannya kemudian mengulurkan salah satu tangannya kearah Elsword, membuat Lord Knight itu kebingungan.
"Tanganmu." Kata Aisha singkat, membuat Elsword segera mengulurkan tangannya yang dibalut perban. Dengan cekatan, gadis mage itu membuka perban tersebut, menampakan tangan Elsword yang dipenuhi goresan. Setelah merapal mantra, ia mulai mengalirkan sihir penyembuhan pada tangan Elsword melalui telapak tangannya.
"Ne, Elsword…kalau kau bisa berubah menjadi dewasa seperti ini," gumam Aisha tiba-tiba, "kenapa kau tidak berhenti membahayakan dirimu demi orang lain?"
Elsword terdiam mendengar pertanyaan Aisha. Suaranya agak melemah dibagian terakhir namun untuk suatu alasan, ia dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Pertanyaan itu keluar dengan nada yang memohon, seakan itu bukanlah pertanyaan melainkan permintaan. Aisha, Elemental Master Elrios, terdengar memohon padanya dan Elsword tidak suka itu. Aisha tidak seharusnya selemah ini. Parahnya, ia tahu bahwa penyebab gadis kuat ini seperti itu adalah karena dirinya.
Segera setelah pasukan Velder mencapai areal istana Velder, para demon yang mereka kira sudah melarikan diri menyergap mereka. Chloe yang memimpin penyergapan itu, dengan Uno Hound dan Spriggan disisinya. Satu-satunya tempat yang aman saat itu adalah dibalik gerbang istana Velder, dimana kekuatan artilerinya dapat memukul mundur para demon dengan mudah. Nyaris semua pasukan perlawanan Velder sudah berada dibalik gerbang, hanya Elsword yang jauh tertinggal di belakang. Para Demon makin mendekat sementara ia masih jauh dari gerbang Velder. Teman-temannya tidak mau menutup gerbang sebelum ia sampai disana. Untung baginya, ia berada di dekat tali penahan gerbang Velder. Ia memutuskan untuk memotong gerbang itu. Keputusan yang sembrono, tapi itu ia lakukan demi teman-temannya. Tapi ia selamat karena Elesis datang tepat pada waktunya.
Keduanya tidak ada yang mengatakan apapun. Mereka menghindari kontak mata.
"Bagaimana rusukmu?" tanya Aisha setelah sekian detik.
"Tendangan Chloe dan pukulan kakakku masih terasa berdenyut sampai sekarang."
Aisha menon-aktifkan sihirnya, "Yang kedua itu pantas kau dapatkan."
Keduanya terdiam lagi. Aisha mengeluarkan segulung perban dan mulai membalut Elsword. entah karena sengaja atau tidak, Aisha menarik perban itu agak kuat. Elsword memutuskan bahwa Aisha sengaja dan ia pantas mendapatkannya, jadi ia hanya duduk diam sambil tersenyum menahan sakit. Tangan Aisha berhenti bekerja saat ia selesai membalut tangannya namun sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan melepaskan tangannya segera. Hal berikutnya yang terjadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh Elsword. Gadis itu menarik Elsword mendekat hingga membuat dahi keduanya bersentuhan, mata Aisha dalam keadaan tertutup.
"Bisakah," perkataan Aisha terpotong, terdengar seperti akan menangis, "bisakah kau berjanji untuk tidak sembrono seperti itu lagi? Aku khawatir…"
Elsword ragu untuk menjawab. Ia tidak mungkin tidak melakukan hal itu lagi. Ia sangat menyayangi teman-temannya dan ia tidak mau mereka berada dalam bahaya. Jadi ia hanya mempunyai satu jawaban untuk permintaan ini.
"Ya, tentu, tapi aku tidak bisa janji."
Aisha tidak menjawab. Ia tidak membuka matanya, tapi Elsword yakin matanya mulai lembab. Gadis itu menarik napas untuk menstabilkan pernapasannya.
"Paling tidak…kurangi Hero complex-mu, idiot."
Elsword tertawa kecil, "Akan kuusahakan."
Menerima respon Elsword yang seperti itu, Aisha meninju bahu Elsword pelan kemudian menghilangkan jarak diantara mereka. Aisha bangkit berdiri dan memasang sarung tangannya.
"Yah, sepertinya akulah yang bodoh karena memintamu melakukan hal yang mustahil. Merubah sifatmu, maksudku." Ucap Aisha sambil berjalan pergi. Elsword disampingnya, mengantarnya ke depan tendanya. Ia sebenarnya bermaksud mengantar Aisha kembali ke baraknya, namun peringatan (dibaca: ancaman) oleh Elesis dan Vanessa tentang privasi perempuan membuatnya cukup gentar untuk pergi mengantar Aisha.
"Yah, itu artinya kau harus terbiasa denganku." Komentar Elsword. Aisha menarik senyum kecil.
"Terserahlah," Aisha membelakangi Elsword, "lagipula, aku suka denganmu yang seperti itu."
Kemudian, gadis itu menghilang.
'Teleport, tentu saja.' Pikir Elsword saat gadis itu menghilang dalam sekejap mata. Jadi dari awal, ia tidak perlu repot-repot mengantarnya kembali.
"Ngomong-ngomong," Elsword bergumam saat ia kembali duduk di depan mejanya, "sebelum pergi tadi, dia bilang apa ya?"
-To Be Continued-
