Their Interaction With Him Are Interesting, Don't You Think?
(Referensi dari Eltype! volume 1 chapter 3)
Grand Archer: This Will Be Our Little Secret…Just Kidding~
Bulan meninggalkan langit Elder, matahari dengan malu-malu mulai muncul di ufuk Timur kerajaan itu. Udara yang begitu dingin membuat semuanya meringkuk di dalam selimut mereka, mata masih terlelap. Satu-satunya penduduk Elder yang sudah terjaga adalah Rena, si Grand Archer dari Elrios. Dengan mengenakan sebuah sweater hijau dengan bagian lengan yang kepanjangan untuk melawan dingin, Rena melakukan tugas yang sudah sering ia lakukan untuk Elgang di pagi hari: menyiapkan sarapan.
Bagi si Elf, ini sudah bukan sebuah kewajiban lagi, melainkan sebuah hobi yang dengan senang hati ia kerjakan setiap harinya semenjak Elgang hanya beranggotakan 5 orang. Tapi tidak seperti dulu, Rena kini sudah bisa membuat berbagai macam variasi makanan, dan itu karena suatu sebab. Rena tersenyum saat ia memikirkan hal itu.
'Kira-kira, hari ini dia akan membuat apa lagi ya?' pikir Rena yang saat ini menghidupkan kompor untuk memanaskan air. Ia berdiri agak jauh dari peralatan dapur itu sambil memeluk dirinya sendiri, hawa panas dari kompor itu membantunya sedikit. Ya ampun, pagi ini dingin sekali! Tak lama, telinganya menangkap sebuah suara yang membuat senyum kecil muncul di wajahnya.
"Pagi Rena." Sapa seorang pemuda dengan rambut merah jabrik pada Elf itu. Rena menoleh dan mendapati Elsword memasuki dapur dengan kaos dan celana panjang. Dengan wajah yang masih tersenyum, Rena balas menyapa Elsword.
"Pagi Elsword, tidurmu nyenyak?"
"Lumayanlah," jawab Elsword sambil mengenakan sebuah celemek, "udaranya sangat dingin semalam, tapi tidak terlalu buruk hingga membuatku tidak bisa tidur."
Sang Lord Knight yang kini sudah mengenakan celemek mendekati Rena dan membuka lemari di atas kompor itu, kemudian mengeluarkan sebuah penggorengan. Setelah itu, ia membuka lemari lainnya dan mengeluarkan beberapa telur, tepung, dan susu. Rena memperhatikan Elsword dengan pandangan tertarik.
"Jadi," gumam Rena tersenyum, "apa yang akan kau buat pagi ini, Lord Cheff?"
Elsword tertawa kecil kemudian menjawab, "Ayolah Rena, kau tahu kalau sarapan kita selalu Pancake, bukan?"
"Benar, benar," jawab Rena menganggukan kepalanya, "tapi apa salahnya bertanya, siapa tahu kau membuat sesuatu yang berbeda?"
Setelah mendengar jawaban Rena, Elsword mulai mencampurkan bahan-bahan tadi dengan cekatan. Selama ia melakukan itu, matanya terlihat sangat serius seolah ia berada di dalam sebuah pertarungan atau semacamnya. Gadis Elf itu memperhatikan si rambut merah dan berpikir bahwa ini adalah hal yang lucu. Meski sudah bersama selama 4 tahun, Rena tetap kagum terhadap fakta bahwa Elsword Sieghart, bocah dari Ruben dengan masalah pengendalian emosi, adalah seorang bocah yang ahli memasak. Siapa yang sangka Sang Petarung juga adalah seorang Peracik? Tanpa sadar Rena tersenyum yang segera disadari oleh Elsword.
"Ada apa Rena?"
"Tidak," jawab Rena menggelengkan kepalanya, "aku hanya mulai berpikir kalau kau mulai beralih profesi dari ksatria menjadi koki."
"Dan membiarkan miss Rotten kehilangan pekerjaannya? Aku tidak sekejam itu Rena." jawab Elsword mengedipkan sebelah matanya kemudian menuangkan adonan Pancake yang sudah jadi tadi ke dalam teflon. Rena tertawa kecil.
"Kau tahu Elsword," Rena bergumam sambil mendekati Elsword, "kemampuanmu ini pasti akan membuat yang lainnya kagum, tapi kenapa kau merahasiakannya?"
Setelah menanyakan itu, Rena kembali mengingat 'kekacauan' yang melanda Elgang saat maid mereka, Miss Rotten, mengalami cidera dan tidak bisa mengurusi pekerjaan rumah. Mereka berlima (Elsword, Aisha, Rena, Raven, dan Eve) terpaksa memasak makanan sendiri secara bergantian selama maid mereka dalam masa penyembuhan. Dan hasilnya benar-benar fail. Di mulai dari makanan beraroma aneh dari Aisha hingga makanan hasil daur ulang bahan bekas pakai (baca: sampah) dari Eve. Rena sendiri menyediakan 'padang rumput' untuk makan pagi, siang, hingga malam dan Raven hanya menyediakan dendeng (ditambah pelajaran tentang 'bertahan hidup' ala tentara militer). Hanya Elsword yang menyediakan makanan layak makan dan mengklaim bahwa itu semua adalah hasil buatan Alchemist Elder. Kata kuncinya disini adalah 'mengklaim', karena pada kenyataannya tidak seperti itu. Semua makanan yang tersedia hari itu pada kenyataannya adalah buatan Elsword sendiri. Hidup sendiri setelah ditinggal kakaknya membuat Elsword mau tidak mau harus mengetahui cara menyediakan makanan yang layak makan.
"Yah kalau soal itu," gumam Elsword yang membuat Rena tersadar dari lamunannya, "bukannya ini aneh?"
Rena menaikan salah satu alis matanya, "Apanya?"
"Laki-laki yang mahir memasak," jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya, "tidakkah itu aneh?"
Meski jawaban yang ia berikan bukanlah apa yang diharapkan Rena, gadis elf itu tahu kenapa Elsword merahasiakan kemampuannya hingga membuatnya melepaskan sebuah tawa kecil lagi.
"Laki-laki dan harga diri kalian," ucap Rena sambil menggelengkan kepalanya, "jadi itu alasannya? Karena kau malu?"
Elsword mengangguk pelan, mata dan tangannya terfokus pada kegiatannya saat ini.
"Pantas saja kau panik sekali saat aku mengetahui kemampuanmu," ucap Rena sembari membuka almari tempat penyimpanan cangkir, "jadi kenapa? Apa karena memasak terlalu 'feminim' menurutmu, tuan ksatria?"
Elsword mengangguk, "Seperti itulah." Katanya.
"Disitulah kau salah, Elsword," tukas Rena, "layaknya ilmu berpedang, memasak adalah sebuah kemampuan yang diperlukan dalam medan perang bernama dapur."
Perkataan Rena tadi membuat Elsword menoleh kearahnya. Melihat ia berhasil menarik perhatian pemuda berambut merah itu, Rena melanjutkan perkataannya.
"Bagi kami perempuan, memasak adalah kemampuan yang sangat vital dalam perang untuk memikat hati laki-laki idaman kami, dan jalan termudah menuju hati laki-laki adalah melalui perut," Rena menjelaskan sambil menyusun cangkir-cangkir yang ia ambil tadi di atas meja, "tapi itu bukan artinya kami tidak bermimpi untuk mencicipi masakan laki-laki idaman kami."
Rena kemudian mendekati Elsword lalu menyentuh ujung hidung pemuda itu dengan jari telunjuknya pelan.
"Kau mengerti? Ini saran dariku. Kau bisa mendapatkan gadis yang kau sukai dengan kemampuanmu itu, jadi kau tidak perlu malu, ok?"
Elsword tersenyum hangat kemudian mengangguk mengerti.
"Ah, Pancake-nya selesai." Ucap Elsword tiba-tiba kemudian mengangkat beberapa lapis pancake.
Rena terkejut dan bertanya-tanya, sejak kapan ia membuat pancake sebanyak itu? Sepertinya lamunan dan pembicaraannya dengan Elsword cukup memakan waktu. Tanpa membuang waktu lagi, Rena mulai mengambil beberapa piring. Elsword menyambut piring-piring itu, meletakan pancake di atasnya, kemudian ia kembalikan kepada Rena untuk di susun di atas meja. Selama melakukan itu, Rena memperhatikan detail tiap pancake itu yang berbeda satu sama lain.
Pancake dengan selai blueberry artinya untuk Lu, pancake dengan sirup coklat di atasnya berarti untuk Add, pancake dengan sentuhan oriental berarti untuk Ara. Tiap pancake itu disesuaikan dengan selera yang masing-masing disukai anggota Elgang. Setelah meletakan piring terakhir, sebuah piring tersodor di depan Rena. Sebuah pancake dengan madu.
"Ini milikmu, Rena."
Rena tersenyum kemudian menerima piring itu. Ia mengambil sebuah tempat duduk, bersiap untuk menyantap pancake itu. Lengan sweaternya yang kepanjangan ia gulung sedikit.
"Enak~" komentar Rena, salah satu tangannya menyentuh pipinya, "aku ingin memakan makanan seenak ini selamanya!"
Elsword tertawa mendengarnya. Dengan spontan, ia menjawab komentar Rena dengan jawaban yang cukup polos.
"Kalau begitu, aku akan selalu ada untukmu supaya kau bisa memakan masakanku!"
Wajah Rena memerah mendengar pernyataan Elsword, sementara Lord Knight itu sama sekali tidak menyadari efek perkataannya terhadap Rena. Gadis elf itu mulai memainkan garpunya.
"Y-yah, seperti kataku, perempuan juga memimpikan untuk memakan makanan buatan laki-laki idamannya," ucap Rena dengan suara yang mengecil, "dan saat ini…impian itu sudah terwujud untukku…"
Tepat saat itu, teko yang digunakan Rena untuk memanaskan air mulai mengeluarkan bunyi suara peluit yang sangat keras.
"Apa katamu barusan, Rena?"
Rena menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak, tidak ada apa-apa!"
Elsword menelengkan kepalanya, "Kau yakin?"
"Yup! Aku sangat yakin!"
"Er…baiklah…Ah! Aku telat!" ujar Elsword tiba-tiba, dengan segera melepas celemeknya dan langsung menelan satu pancake utuh sekali suap.
"Lenphand berjanji akan membuatkanku pedang baru kalau aku menemaninya mencari bahannya. Karena itu, sampai jumpa Rena!"
Dan dengan sekejap, Elsword berlari melalui pintu dapur yang langsung mengarah keluar. Tapi tak lama ia kembali lagi,
"Ngomong-ngomong, bilang saja kalau kau yang menyiapkan sarapan, ok?"
Rena mengangguk, "Ini rahasia kecil kita."
Elsword tersenyum puas. Tak butuh waktu lama, pemuda berambut merah itu pergi lagi. Suasana dapur kembali sunyi saat Rena mulai memakan gigitan keduanya pada pancake itu.
"Keluarlah, aku tahu kalian disana." Gumam Rena dengan senyum kecil di wajahnya. Tak lama setelah mengatakan itu, beberapa sosok lain keluar dari 'persembunyian' mereka.
"Huh, kukira dia tidak akan pergi." Komentar Lu kemudian duduk di bangku tepat di depan pancake dengan rasa favoritnya.
"Apa tidak apa-apa makan dengan terburu-buru seperti itu? Apa dia tidak takut makanannya tersangkut?" tanya Ara khawatir sambil menatap arah Elsword pergi.
"Dia Elsword," gumam Aisha yang kini sudah duduk mencicipi pancake-nya, "makanan yang tersangkut tidak akan membunuhnya."
"Tapi hey, makanannya enak seperti biasa!" komentar Elesis lagi setelah menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, "aku masih tidak mengerti kenapa dia merahasiakan hal ini."
"Seperti yang dikatakan Rena, spesies laki-laki dari ras manusia memiliki sesuatu yang disebut 'Harga Diri'," timpal Eve, "itulah yang membuatnya menahan diri."
"Lucunya," Aisha memainkan pancake-nya, "dia masih berpikir bahwa hanya Rena yang mengetahui rahasianya."
Semua – bahkan Eve – tertawa mendengar perkataan Aisha.
"Ya ampun, adikku yang manis itu terlalu polos," kata Elesis setelah mengendalikan tawanya, "jadi bagaimana, ada yang tertarik menjadi miliknya?"
Semua yang ada disitu langsung menghentikan makan mereka mendengar perkataan Elesis. Tidak ada yang menjawab. Elesis menyeringai.
"Oho~ tidak ada yang mau?" Elesis menunjuk Rena dengan garpunya, "kalau kalian tidak buru-buru, Rena bisa merebut Elsword lho~"
"Yah kalau soal itu…" Aisha memulai.
"…aku…" Ara dan Lu menyambung.
"…sudah tentu…" Eve melanjutkan.
""""Tidak akan kalah dari Rena!"""" ujar mereka berempat bersamaan.
"Mengalahkan Rena dalam hal apa?"
"KYAAAAA!"
Berdiri di depan pintu dapur, Elsword menatap rekan-rekannya yang lain dengan wajah bingung dan penasaran.
"Sama sekali bukan urusanmu! Keluar sana!" ujar Aisha mendorong paksa Elsword.
"Eh? Tapi aku – " BLAM! Pintu tertutup tepat di depan wajah Elsword.
"Kau tidak mendengar apapun, mengerti!?" teriak Aisha dari dalam.
"…kenapa mereka pagi-pagi begini?" pikir Elsword kemudian berjalan pergi. Ini artinya ia harus pergi tanpa mengenakan jaket. Elsword menghela napas meratapi nasibnya sambil berjalan kembali ke bengkel Lenphand. Mudah-mudahan ia tidak terserang flu. Udaranya masih dingin!
-To Be Continued-
A/N: Aree~? Dimana Elboys yang lain? XD oh well, setidaknya Add ada disebutin tadi :3 dan soal pancake…saya udah nyoba buat, gak perlu waktu lama, tapi rasanya masih gak jelas :'v (still need so many improvement)
