Chapter 3

.

.

.

Hari ini hari Sabtu. Sudah enam hari sejak peristiwa ledakan yang menghancurkan Aka Departement Store, mall milik keluarga Akashi.

Pihak kepolisian yang dibantu para ahli lainnya, menyatakan bahwa ledakan ini disebabkan oleh bom komersial, di antaranya, potasium perklorat dan bom C4, sehubung ditemukannya pecahan ponsel yang masih mengandung bahan-bahan kimia penyebab ledakan itu juga, baik pihak manapun, jangan hitung dengan pelaku pemboman, belum ada yang tahu.

Sayang seribu sayang, tak ada petunjuk serius dari sang pelaku, tokoh utama cerita kita, dan apa maksud mereka meledakkan bangunan yang terletak di pusat kota itu.

Berhubung hari ini adalah hari Sabtu, sekolah hanya beroperasi selama setengah hari. Termasuk SMA Shuutoku yang terkenal sebagai salah satu raja di dunia perbasketan Jepang.

Masih dengan si point guard SMA Shuutoku, Takao Kazunari, yang mengayuh gerobak sepeda mereka di atas jalanan menanjak dengan ketajaman 60 derajat. Sementara itu, Shooting Guard paling ditakuti seantero Jepang, Midorima Shintarou, duduk manis di atas gerobak yang pernah dipipisi anjing berjenis Siberian Husky yang imut.

Alihkan fokus kita ke atas tanjakan.

Di atas tanjakan sana ada salah satu pemain basket dengan posisi yang konon katanya adalah Small Forward tapi dia masih andalan SMA Seirin, bayangan dari sang Ace SMA Seirin, si Kagami Taiga, siapa lagi kalau bukan Kuroko Tetsuya, menunggu di atas sepeda (pinjaman)nya.

"Maaf.. Huffttt.. Kuroko, kami terlambat," Takao berucap lemas sesampainya di atas tanjakan. "Padahal aku bisa saja menang jankenpon lawan Shin-chan,"

Shintarou mendengus. "Peruntungan Scorpio hari ini memang ada di atas Cancer, 'no dayo. Tapi bukan berarti aku akan kalah darimu, soalnya aku memakai lucky item, nano dayo." Shintarou menunjuk topi hitam yang dipakainya.

Takao hanya mendengus.

"Kita mulai rencananya," Shintarou berujar. "168 jam sebelum kembang api dimulai."

.

.

.

Midorima Shintarou, 16 tahun, teroris satu kasus ledakan.

Kazunari Takao, 16 tahun, teroris satu kasus ledakan.

Kuroko Tetsuya, 16 tahun, teroris yang baru akan terlibat satu kasus ledakan.

Jelas, mereka tetap masih bukan siswa SMA biasa.

.

.

.

.

Disclaimer : Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

Warning : Standart Applied

Enjoy!

.

.

.

Aomine Daiki, si polisi gesit namun berkulit remang akibat waktu zaman sekolah itu sering panas-panasan, sedang mengubek-ubek arsip lama di gedung arsip yabg suram, berdebu, dan remang macam kulitnya.

Tak ada masker untuk menutup hidung dari debu, Aomine memilih mengipas-ngipas debu itu bila ada debu akibat berkas yang ditarik.

Nanti kena bengek baru tahu rasa.

"Kise, ketemu nggak datanya?" Aomine berteriak pada sang wakil yang tampan, maklum bekas model dan pemain basket.

- Aku juga mantan pemain basket! -Aomine protes tidak setuju atas narasi di atas.

Maaf Aomine, soal basket, penulis lebih suka si alis ganda. Dia lebih ganteng dan 'bercahaya', maji tenshi pula.

Abaikan deskripsi nggak jelas di atas.

"Belum, Aominecchi-kanshikan," jawab Kise lesu.

Asal tahu aja, Kise udah 3 jam lebih lama dari Aomine di ruangan arsip yang berdebu dan suram ini.

"Oh ya, Aominecchi-kanshikan," Kise, si wakil inspektur yang malang, menghampiri Aomine sambil menaruh setumpuk berkas kebulan di atas meja. "Apa Imayoshi-kaichou menyetujui kalau divisi kita yang mengurus kasus pemboman ini?"

"Tentu saja!" Aomine menjawab sambil gebrak meja sampai menyebabkan debu berterbangan lebih banyak. "Untuk itulah aku setiap hari ikut rapat yang membosankan itu dan berdebat dengan si sipit-kejam dan wakilnya yang cebol-beralis-tebal yang keras kepala itu!"

.

.

.

(Flashback)

.

.

.

Imayoshi Shoichi, dulunya kapten basket di SMA Touou, tempat si Aomine Daiki yang dulunya berposisi sebagai Power Forward di klub basket sekolahnya, kini sudah sukses dengan jabatannya sebagai pimpinan kepolisian di distrik Tokyo. Dia juga memiliki seorang wakil, yang dulunya juga kapten basket di SMA Kaijou, almameter si polisi tampan Kise Ryouta, siapa lagi buka Kasamatsu Yukio yang terkenal atas keganasannya bila menghukum bawahan.

Yah, 11-13-lah sama Imayoshi.

Di kantor mereka yang tenang, meskipun manusia-manusia di sana sibuk dengan berkas-berkas kasus yang tak mau habis, Imayoshi sedang mengetik expert advanced dengan sebelah tangan sementara sebelah tangannya lagi sedang mengaduk kopi hitam tak berkafein.

Sementara wakilnya, sedang sibuk dengan telepon dan interkom yang tiap 2 menit sekali bunyi.

Laporan penculikanlah, pencurianlah, pencabulanlah, teror pembunuhanlah, atau kasus tidak penting tapi menyangkut soal kesehatan jantung seorang nenek yang jantungnya doki-doki suru ala anak muda menyatakan cinta akibat kucingnya manjat pohon dan tak mau turun.

"Baik, Nyonya, jika ada petugas kami kembali, kami akan segera menurunkannya untuk Nyonya," Kasamatsu berucap sabar sementara otaknya sudah kepanasan.

'Tolong, 'ya, Nak. Kucing itu aku beli di Persia seharga 1 juta yen,'

Kasamatsu melongo. Itu gaji kotornya selama 2 bulan!

"Ba-baik, Nyonya. Saya tutup dulu teleponnya, masih ada penelpon lain."

Kasamatsu menaruh gagang telepon ke terminalnya lalu menghela nafas.

Dia mengurut keningnya. Lega.

Sudah empat menit tidak ada panggilan baik dari telepon atau interkom.

"IMAYOSHI-KAICHOU!"

Satu teriakan fantastis merusak ketenangan alam pikiran Kasamatsu. Pelakunya cuma satu, polisi tergelap di seluruh kantor, Inspektur Aomine Daiki.

Imayoshi mengangkat sebelah alisnya dan menatap Aomine lewat mata sipitnya yang berada di belakang lensa bening kacamata minusnya.

"Ada apa, kanshikan?" tanya tenang sambil menghentikan pekerjaannya mengetik.

"Izinkan aku, maksudku, divisiku untuk menangani kasus pemboman yang terjadi di Aka Departement Store!" pinta Aomine nggak ada sopan-sopannya.

Satu ruangan yang awalnya hening, mendadak diliputi riuh tawa anggota-anggota kepolisian yang bekerja di situ.

"DIAM KALIAN SEMUA!" teriak Kasamatsu dan Aomine bersamaan.

Nah, loh, diamuk polisi paling kejam dan paling cepat dalam urusan penyelesaian kasus.

"KAU! JANGAN! MAIN-MAIN!" Kasamatsu menendang Aomine sampai Aomine terpental ke dekat pintu.

"Kasamatsu-han, sudahlah," Imayoshi menghentikan Kasamatsu yang sedang menampari Aomine dengan map kertas. Kasamatsu meremas map itu dan membuangnya ke tempat sampah.

"Nah, Aomine-kanshikan," masih dengan nada tenang mengalun. "Apa yang membuatmu berpikir kalau kau bisa menyelesaikan kasus ini?"

Aomine mengeluarkan ponsel milik Kise yang 'dipinjam'nya dan menunjukkan foto semprotan cat si pemuda misterius bermasker gas.

Di dalam foto itu ada tembok yang dicoreti tulisan bertuliskan, '紅色。中心。人群 00:00'

"Aka.. Iro.. Naka.. Kokoro.. Jin.. " Kasamatsu mengeja satu demi satu potongan kanji di foto itu.

"Ini aksara China tradisional, Kasamatsu-fukukaichou," potong Aomine sarkastik dan Kasamatsu mendengus sebal.

"Jika diartikan, artinya mengacu pada 紅色 (merah), 中心 (pusat) 人群 (keramaian) jam 00.00. Pusat keramaian 'merah' itu mungkin dimaksudkan pada Aka Departement Store. 00.00 mungkin dimaksud sebagai jam ledakan dan mereka semua sesuai, tempat dan waktu ledakannya,"

Imayoshi dan Kasamatsu melihat foto tersebut.

"Darimana kau mendapat foto ini? Kau tidak mengada-ada, 'kan?" tanya Kasamatsu.

"Aku mendapatkan foto ini di taman saat sedang.. tidak sengaja melintas disana,"

Imayoshi dan Kasamatsu menaikkan sebelah alisnya curiga.

"Aku tidak bohong! Ada seorang pemuda bermasker gas yang tingginya beda sedikit denganku!" seru Aomine sambil menggebrak meja Imayoshi.

"Uhm," Imayoshi menaikkan kacamatanya. "Selama ini, divisimu sudah bekerja cukup baik, kerjamu dan wakilmu juga lumayan bagus.. Kau sudah punya satu petunjuk untuk kasus ini dan kurasa profiler juga bisa membantumu. Sehubungan dengan tidak adanya divisi yang mau menangani kasus ini, kau boleh mengambil kasus ini untuk divisimu."

Aomine mengepalkan tangannya dan bersorak dalam hati.

Imayoshi tersenyum penuh maksud. "Tapi ada syaratnya,"

.

.

.

(Flashback end)

.

.

.

"Jadi, apa syarat yang diberikan Imayoshi-kaichou?" tanya Kise setelah mendengar dengan seksama cerita Aomine.

"Ada dua, aku harus mengikuti setiap rapat dan briefing setiap hari, sudah kulakukan, dan jika aku kalah maka aku harus keluar dari instansi ini."

Kise melongo. "AOMINE-KANSHIKAN!"

"A-apa sih?" Aomine menutup telinganya karena teriakan melengking Kise.

"Kenapa harus mempertaruhkan pekerjaanmu, Kanshikan?!"

"Haa?" Aomine memasang wajah bodohnya lagi. "Kau juga akan berhenti jika kalah, Kise. Aku sudah menandatanganinya di atas kertas hitam-putih,"

What?

Kise membatu.

Kise ingin mengakhiri hidupnya.

Kise mengutuk realita.

KISE BENCI SIFAT SEMENA-MENANYA SI AOMINE DAKI!

"Kanshikan," Kise bangkit dari kursi.

Hawa dingin melebihi AC mendadak menyerang Aomine.

Kepala Kise menunduk dan ada petir imajiner di sudut matanya. "100 meter dari sini ada lahan kosong, boleh aku menguburmu?"

CTIK!

Kise masuk ke mode galaknya. Aomine merinding.

"Ka-kalau begitu, ayo kita berjuang sampai kita berhasil memecahkan kasus ini! Kita tidak boleh kalah!"

Aomine gemetaran. Astaga, Kise sangat menyeramkan.

"Kise! Ini bukan kasus main-main! Bukankah ini tujuanmu selama ini?"

"Kita harus mempertaruhkan apa yang sangat penting bagi kita! Dengar? Bukankah kau ingin membalaskan dendam kakakmu?!"

Kise mendongak menatap manik biru gelap Aomine.

"Ba-bagaimana kau tahu so-soal itu?"

Kise teringat soal kedua kakaknya yang saat SMP dulu menceburkannya ke dunia modelling. Kakaknya yang berisik tapi sangat peduli dengan anak,-anak kecil. Kedua kakaknya yang menghilang sehabis berunjuk rasa di depan sebuah gedung instansi swasta setelah dia lulus SMA.

Yah, Kise ingat. Itulah alasan dia menceburkan diri ke dunia penegakan hukum setelah kontraknya dengan majalah habis.

Kise menghela nafas, meredakan emosinya.

Aomine membuang nafas lega. Untung dia nggak jadi digulat sama ikemen yang satu ini. Asal tahu aja, selama pelatihan, Kise paling jago urusan bela diri. Tolong maklumi kemampuan copy-cat sialannya.

Kise menatap Aomine dengan tatapan bersalah. Seolah mengharapkan jawaban dari pertanyaannya, Kise menatap Aomine tambah dalam sampai si dim-light garuk-garuk kepala kikuk.

"Sebelum masuk ke divisiku, Imayoshi memberikan hasil psycho-test dan interviewmu padaku. Yah, cukup membacanya saja aku sudah bisa mengasumsikan bahwa alasanmu masuk ke dunia kepolisian itu untuk membalaskan dendam kakakmu yang jadi aktivis anak-anak,"

Kise menunduk. "Maafkan aku, Aominecchi-kanshikan, aku kelepasan."

Aomine tertawa dan menepuk punggung Kise lumayan keras. "Kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Lagipula, aku nggak mungkin memukulmu. Mukamu, 'kan diasuransikan."

Aomine tertawa dan Kise cemberut. Belum apa-apa sudah dihina lagi.

"Jadi," Aomine mengacungkan tinjunya di depan dada Kise. "Ayo berjuang! Bila kau membuatku kalah maka kau juga yang kena imbasnya."

Kise menyatukan tinjunya dengan milik Aomine sambil mendengus lalu tertawa.

Yah, ketuanya yang satu ini memang malas, jorok, bego, dan sebagainya...

.. Tapi ketuanya ini adalah teman terbaik yang pernah dimilikinya...

"Tunggu, tadi.. kakakmu aktivis anak-anak?"

Aomine mulai merusak suasana lagi.

Kise hanya mengangguk dan Aomine segera berlari menuju rak lain yang paling dalam.

"KISE PERIKSA KASUS 6 TAHUN LALU! CARI SEMUA KASUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENJUALAN ANAK-ANAK!" teriak Aomine sambil mulai mengubek-ubek rak kasus.

"Ha-ha'i!"

Pekerjaan mereka baru saja dimulai.

.

.

.

Akashi Seijuurou.

Siapa yang tak kenal nama itu? Cukup mendengar nama saja, orang-orang akan langsung membayangkan pemuda berambut merah, bermata heterokrom, uhukpendekuhuk, nggak tahu arti kalah, dan beraura menyeramkan.

Kalau di dunia basket, dia dikenal sebagai si pemilik Emperor Eye dengan ankle breaknya yang mematikan, si Point Guard, kapten bernomor punggung 4 di klub basket SMA Rakuzan, dan ratusan panggilan lainnya yang tidak mungkin disebutkan.

Sayang sejuta sayang, si makhluk yang terkenal akan kemutlakannya ini, kalah untuk pertama kalinya saat Winter Cup tahun lalu. Dia kalah oleh solidnya team basket SMA Seirin, dimana Kagami dan Kuroko bersekolah.

Rasain.

Sepulang sekolah, di kamar Akashi yang luasnya melebihi ruang kelasnya, Akashi masih asyik membaca koran 6 tahun lalu yang memuat tentang kasus pembakaran penampungan anak-anak milik perusahaan ayahnya.

Di koran itu, diberitakan ada 10 orang anak yang meninggal. Sementara 90 lainnya kabur.

Dan pelaku pembakaran dan pengancaman 6 tahun lalu itu adalah 2 anak kecil.

Akashi mengambil ponselnya dan menelepon anak buah pribadinya.

"Ini Seijuurou, bisakah kalian memberiku nomor telepon pemilik perusahaan surat kabar Hikari? Kuberi kalian waktu 5 menit untuk mencarinya."

Tersenyum iblis, Akashi baru saja memulai rencananya.

.

.

.

.

Langit sudah bersemu kemerahan saat dia pulang sehabis latihan basket. Sudah hampir malam dan Kuroko merasa merindukan vanilla shake di Maji Burger. Baru saja dia ingin membuka mulut, langkah awal untuk mengajak sang kapten yang belum lengser dan harimau liar untuk menghabiskan sore di restoran cepat saji itu, ponselnya bergetar singkat.

Kuroko mendapat sebuah e-mail.

Siapa lagi kalau bukan dari Takao.

Isinya kurang lebih seperti ini.

'Gunakan kemampuanmu untuk menyusup ke laundry dekat klinik kesehatan dekat kampus.'

"Dari siapa?" tanya Kagami sambil berusaha menengok layar ponsel Kuroko.

Kuroko menutup ponsel flipnya itu dengan satu gerakan jarinya. "Aku harus buru-buru,"

"Udah dapat kerja sambilan?" tanya Kagami.

Kuroko mengangguk dan Kagami percaya saja.

"Aku duluan, Kagami-kun, Hyuuga-senpai. Mata ashita." Kuroko membungkuk sopan lalu berlari menuju halte bisa terdekat.

Sambil menunggu bis yang ditujunya datang 10 menit lagi, Kuroko menelepon Takao.

"Moshimoshi, Takao-kun?" sapa Kuroko.

'Aah, Kuroko! Sudah terima e-mail dariku?' sahut Takao ceria.

"Sudah. Ano, apa yang sebaiknya kuselidiki disana?" tanya Kuroko.

'Kau bukan menyelidiki tapi kau harus mencuri,' Shintarou giliran menjawab.

Kuroko kaget. Demi apapun, mencuri?! Lagipula, apa yang bisa dicuri dari sebuah laudry? Pakaian?

Kuroko jadi pencuri pakaian?

MENCURI?!

Kuroko merasa harus menerima tugas ini sebagai langkah awal untuk menghancurkan Akashi untuk kedua kalinya.

"A-apa yang harus kucuri?" tanya Kuroko sambil menutupi mulutnya, soalnya ada 3 orang siswi SMA di sebelahnya.

'Pakaian.'

JDERR! Suara petir imajiner terdengar di telinga Kuroko. Jantungnya berdebar kencang.

Misi pertamanya (menurut Kuroko) sangat berbahaya.

Demi apapun dia harus mencuri pakaian.

Pakaian macam apa yang harus dicurinya?!

"Pa-pakaian apa, Midorima-kun?" tanya Kuroko lagi masih dengan suara pelan.

'Kau harus mengambil jas dokter dan seragam perawat di sana, 'no dayo. Aku sudah membajak kamera pengawas mereka dan tadi siang ada seorang dokter dan tiga orang perawat yang menitip seragam kerja mereka untuk dicuci disana, 'no dayo.'

"Ba-baik. Aku sedang dalam perjalanan,"

Bis yang dituju Kuroko datang dan berhenti di depannya. Kuroko segera menaikinya dan menunjukkan kartu passnya pada sang kondektur lalu duduk di kursi kosong di sana.

'Kita akan menunggumu di gang sampung klinik, 'no dayo. Kita briefing terlebih dahulu,'

"Ha'i."

Setelah itu, sambungan diputus sepihak oleh Shintarou.

Kuroko menatap layar ponselnya yang menampilkan foto mereka saat memenangkan Winter Cup tahun lalu.

'Aah, jadi begini, 'ya, rasanya jadi penjahat?'

Kuroko bermonolog dalam hati. Menetralisir debar jantungnya, Kuroko menghela nafas sesekali.

.

.

.

Shintarou, Takao, dan Kuroko berkumpul di sebuah gang yang menjadi celah antara klinik dan sebuah ruko yang menjual peralatan kesehatan.

Berusaha untuk terlihat tidak mencurigakan, mereka masih mengenakan seragam sekolah masing-masing, meskipun hari sudah mulai gelap.

"Jadi, akan kujelaskan secara singkat misi kita hari ini," Shintarou membuka percakapan. Dia mengeluarkan laptopnya dan membuka file yang akan dia presentasikan.

"6 hari lagi, kita akan mulai ledakan kedua kita. Tempatnya adalah klinik ini," jelas Shintarou pelan sambil menunjuk klinik di belakangnya.

"Gedung ini adalah aset terpenting nomor dua keluarga Akashi yang berada di Tokyo dan kita perlu merusaknya.

"Kujelaskan apa-apa saja yang harus kita lakukan sepanjang 6 hari ke depan. Pertama, misi ini hanya berlangsung selama 5-10 menit yang itu 'meminjam' pakaian kerja klinik yang ada di sana," Shintarou menunjuk laundry yang ada di sebrang jalan. "Kedua, misi ini berlangsung selama hampir 5 hari yaitu mengamati klinik ini. Ketiga, kita harus bisa memesan bahan kimia yang kemarin kita pakai untuk meratakan mall dan semua itu harus terkumpul di H-2. Keempat, aku butuh 5 buah ponsel sekarang."

Shintarou menjabarkan rencana yang dibuatnya matang-matang selama hampir seminggu.

"Ada pertanyaan?" tanya Shintarou.

Mereka menggeleng. "Selanjutnya akan kujelaskan nanti," Shintarou berdiri setelah sebelumnya memasukkan laptopnya pada tas. "Misi dimulai. Kuroko dan Takao pergi ke laundry, atur rencana kalian sendiri dan aku akan menyusup ke ruang kontrol rumah sakit."

"Ha'i!" Takao dan Kuroko menjawab kompak.

Mereka bertiga berpencar dan mulai melakukan misi masing-masing.

.

.

.

Dari teropongnya di atas atap klinik, Shintarou melihat Takao stand-by 5 meter dari laundry dan Kuroko yang mengawasi situaasi dari pintu belakang laundry.

Setelah memastikan bahwa kondisinya sudah benar-benar aman, Shintarou mengambil alat komunikasi radionya.

[Kalian bisa bergerak sekarang, nano dayo. Ingat waktu kalian tak lebih dari sepuluh menit, 'no dayo.]

Shintarou memerintah Takao dari alat komunikasi radionya dan Takao mendengar perintah itu dari earphonenya yang tertempel dengan receiver kecil yang disakuinya.

Takao tidak membalas apapun dan segera melancarkan perintah Shintarou.

Takao memasuki laundry itu dengan topi hitam yang biasa dia pakai dan kepala menunduk untuk menghindari kamera pengawas.

"Permisi, Nyonya, aku mau mengambil jas milik ayahku," ucap Takao tanpa menatap wanita yang menjadi kasir itu. Takao melirik gantungan di belakang counter. Benar saja, barang yang mereka cari ada di sana.

"Apa ada struknya?"

"A-ada!" Takao berpura-pura mencari struk pembayaran laudry. "Tunggu sebentar,"

Takao mengubek-ubek tasnya bahkan sampai mengeluarkan buku-bukunya dan itu menarik perhatian si wanita kasir.

Di saat yang bersamaan, Takao memberi isyarat pada Kuroko dengan meneleponnya.

Sesuai dengan briefing, Kuroko segera bergerak setelah merasakan ada getaran di saku celananya. Getaran itu akan habis dalam waktu empat menit karena Takao mengaktifkan mode panggil-ulang pada ponselnya.

Wanita itu keluar dari counternya dan membungkuk kecil. "Struknya ketinggalan?" tanyanya lembut.

"A-aku rasa aku menaruhnya disini. Sebentar aku cari dulu,"

Sekarang ganti fokus kita ke Kuroko Tetsuya yang sudah menyusup masuk ke belakang counter setelah sebelumnya melewati ruangan cuci semudah membalikkan tangan dengan hawa keberadaannya yang tipis.

Sementara Takao sedang mengulur-ulur waktu dengan wanita kasir itu, Kuroko menelusup ke balik gantungan supaya tubuhnya ditutupi pakaian-pakaian yang sudah selesai dicuci.

Kuroko mengambil jas dokter dan dua seragam pekerja dengan cepat, dia menggeser-geser pakaian-pakaian lain untuk menutupi pakaian-pakaian yang tadi diambilnya.

Tinggal 10 detik lagi sebelum getaran ponselnya habis, Kuroko segera keluar dengan cepat tanpa menimbulkan suara.

"Sepertinya struknya ketinggalan," putus Takao setelah membereskan kembali barang-barangnya.

10 menit mereka tersisa tiga menit.

"Maaf sudah merepotkan," sesal Takao.

"Tidak apa. Sebenarnya, kau bisa mengambil jasmu tanpa struk itu,"

"Ah, aku bisa kembali lagi nanti. Aku pergi dulu, sampai jumpa!"

Takao keluar dari laundry tersebut.

Saat itu juga, matanya baru menyadari bahwa ada satu kamera pengawas di dekat papan reklame yang berdiri di samping laundry...

... dan ada anak dari target mereka berdiri angkuh di depan klinik yang akan mereka hancurkan.

Akashi Seijuurou berdiri di sana.

Dia berjalan menyebrangi jalan, menghindari Seijuurou sebisa mungkin. Setelah agak jauh, dia kembali menyebrang dan masuk ke gang yang terhubung sampai ke belakuang laundry.

"Kuroko!" panggil Takao pada Kuroko yang sedang bersembunyi di samping bak sampah.

Kuroko menengok ke arah sumber suara dan menghampiri sang pemilik suara.

"Takao-kun," ucap Kuroko sambil menghampiri Takao yang terlihat seperti sedang menghindari sesuatu.

"Kuroko! Tundukkan kepalamu, ada satu CCTV di depanmu! Si Akashi sialan itu juga ada di sana!" desis Takao. Kuroko mengangguk dan dia segera ditarik Takao menjauh dari tempat itu. Takao merasakan bahwa tangan Kuroko basah oleh keringat dingin.

Setelah agak jauh, bahkan mereka sudah sangat dekat dengan kawasan belakang kampus universitas yang sepi, Takao menghentikan lari mereka.

"Bagaimana rasanya.. hosh.. melakukan kejahatan? Sepertinya kau ketakutan sekali, hehe," tanya Takao sambil mengatur nafasnya.

Kuroko menjatuhkan ketiga pakaian yang sudah digulung asal tanpa gantungan dan plastik pembungkusnya di atas sebuah kursi taman yang memang sengaja dipasang di sekitar kampus.

"Menegangkan sekali, Takao-kun. Meskipun aku yakin bahwa aku tidak akan terlihat tapi rasanya menakutkan," Kuroko menjawab setelah berhasil mengatur nafasnya.

Takao tertawa. "Kau akan terbiasa!" Takao menepuk-nepuk punggung Kuroko. "Bahkan kau akan merasakan hal yang lebih seru jika kau ikut 'menyalakan kembang api'!"

Takao mengambil ponselnya dan menelepon Shintarou.

"Kita berhasil, Shin-chan!" ucap Takao setelah sambungannya terhubung.

'Aku juga sudah selesai. Bukannya aku peduli tapi kalian berdua pulanglah, 'no dayo.' sahut Shintarou di seberang sana.

"Oki doki!" Takao segera memutus sambungan telepon sepihak.

Takao mengalihkan pandangannya pada Kuroko. Bersyukur dia memiliki mata setajam rajawali, jadi dia tak perlu khawatir akan kehilangan keberadaan Kuroko.

"Kuroko, pulanglah. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu." ucap Takao sambil menyerahkan satu seragam perawat Klinik Akashi.

Kuroko menerima barang curian itu lalu melipatnya dan memasukkannya ke tas. "Tak apa, Takao-kun. Terima kasih untuk pengalaman hari ini." Kuroko membungkuk sopan yang dibalas bungkuk canggung oleh Takao.

"Mata ashita," pamit Kuroko.

Baru saja, Takao hendak membalas pamitan Kuroko, makhluk berhawa tipis itu sudah menghilang.

Takao meraih jas dokter dan seragam perawat itu. Dia melipatkan asal dan memasukannya ke dalam tas.

Takao tiba-tiba kepikiran soal ucapannya sendiri.

-Bagaimana rasanya melakukan kejahatan?-

Dia sudah meledakkan, bahkan meratakannya dengan tanah, sebuah mall di pusat kota.

Dia juga sudah mencuri ponsel 100 orang tak berdosa.

... Dia...

["Tinggalkan saja mereka! Mereka terlalu lambat!"

Dia berteriak sambil menarik teman sebayanya yang berambut hijau.]

NGINGGG...

Keseimbangannya mulai roboh. Pandangannya menyempit. Suara apa ini?

["Sialan! Dimana dia?!"

Anak berambut hijau itu meronta digenggamannya.]

NGGINGG...

Lehernya seperti dicekik. Dia kesulitan bernafas. Kepalanya sakit..

Perasaan apa ini?

["Naik saja! Ayo!"

Dia menarik anak itu lebih kuat. "Tinggalkan saja! Naiklah! Lupakan dia!"]

NGINGG...

Tanpa sadar, dia menjerit histeris sambil menjambak helaian hitam rambutnya.

... Dia...

... Dia pernah membunuh...

.. Dia pernah membunuh 11 orang anak..

...Dia pernah membunuh adik perempuan Shintarou...

Tangannya terkulai lemas ke sisi tubuhnya.. Dia merasa lemas sekali, seolah tak ada lagi tenaga yang tersisa di tubuhnya.

Ada air mata yang menuruni pipinya bersamaan dengan tewtes keringat dingin dari pori-pori keningnya.

Siksaan mental macam apa ini? Kenapa rasanya.. sakit sekali?

Seseorang mengguncang bahunya. Dengan panggilan bernada khawatir yang dikeluarkan oleh suara feminin tegas.

Detik itu juga dia kembali ke dunia nyata.

Tak ada lagi rasa sakit di kepalanya. Tak ada lagi rasa sesak di dadanya. Pandangannya kembali luas, bahkan mata rajawalinya bisa dia gunakan.

"Kau nggak apa-apa?" tanya seorang gadis berambut coklat pendek dengan poni dijepit ke samping bertanya.

Takao pernah mendengar suara gadis ini.

Takao mengusap wajahnya kasar. "Aku tidak apa-apa,"

"Benarkah, Kazunari-san?".

Takao menatap gadis di depannya. Pantas saja dia merasa kenal, pelatih basket SMA Seirin, Aida Riko, sedang berjongkok di depannya. "Kau yakin? Badanmu dingin soalnya,"

Takao bahkan baru sadar jika tangan Riko menggenggam tangannya. "Kau juga barusan berteriak, Kazunari-san,"

"Haha, nggak apa-apa, kok," Takao menepis halus tangan Riko tapi Riko masih curiga.

"Kenapa bisa ada di sini, Aida-san?"

"Kebetulan lewat, aku habis membeli sesuatu," Riko mengangkat paper bag mungilnya.

"Mau pulang? Aku bisa mengantarmu sampai ujung jalan sana," tawar Takao tanpa maksud apa-apa.

"Tidak apa, aku sudah minta jemput sama Hyuuga-kun,"

Takao berjengit. Daripada cari masalah sama cewek orang...

"Aku duluan, Riko-san. Jaa nee!" Takao berpamitan sambil berlari menjauh.

'Jadi, begini rasanya jadi penjahat. Sakit.'

Takao tersenyum miris untuk dirinya sendiri.

.

.

.

Seijuurou meminta supir pribadinya untuk mengantarnya ke kantor redaksi koran Hikari.

Setelah mendapatkan nomor presiden direktur redaksi koran Hikari, satu-satunya redaksi koran yang menyediakan segudang info tentang pembakaran penampungan anak-anak milik ayahnya, dia bernegosiasi dengan alot-dengan puluhan ancaman main-main tapi serius bagi sang presiden direktur (tolong jangan abaikan keabsolutan Seijuurou)-Seijuurou akhirnya bisa mendapatkan softfile foto anak-anak itu.

Foto anak-anak itu ada pada sebuah CD kapasitas 1 GB dengan label 'TOP SECRET'.

Seijuurou mengamati keping CD itu sambil tersenyum iblis. Dengan CD ini dan bantuan dokter forensik-artis nomor satu di Jepang, Seijuurou bisa mengungkap ledakan di mall itu semudah membalikkan tangan.

"Seijuurou-sama, kita sudah sampai," sang supir berkata setelah menghentikan mobil yang dipakai untuk mengantar Seijuurou.

Mobilnya berhenti di depan sebuah klinik milik ayahnya yang terletak di pusat kota. Klinik itu memiliki satu ruangan khusus, tempat sang dokter forensik kenamaan bekerja.

Seijuurou turun dari mobilnya, dengan amplop besar yang berisi 100 foto anak-anak yang menjadi korban (dua diantaranya pelaku) pembakaran penampungan milik ayahnya.

Seijuurou masuk dan segera berjalan cepat menuju ruangan sang dokter forensik yang lebih mendalami ilmu desain grafis dibandingkan ilmu tanatologi. Dokter forensik itu bukan dokter forensik belaka. Jika saja sang dokter ini masuk ke dalam instansi kepolisian maka julukannya akan bergantu dengan julukan profiler.

Tugas pria ini bukan hanya mengotopsi mayat tapi juga menggambarkan bentuk wajah seseorang yang sudah hancur. Bahkan, merekonstruksinya jika itu memang diperlukan.

Meskipun di tempatkan di instansi yang berbeda seorang dokter forensik-artis dan profiler memiliki dasar pekerjaan yang sama, yaitu menggambar dan memprediksikan secara harfiah.

Kembali ke Tuan Seijuurou.

Membuka pintu tanpa permisi, Seijuurou masuk dan segera menaruh kasar amplop ke sang dokter forensik-artis yang masih asyik menyesap kopinya.

"Lakukan rekonstruksi wajah. Buat visualisasi anak-anak itu untuk enam tahun ke depan. Kuingin dalam lima hari sudah selesai."

Seijuurou meninggalkan ruangan sang dokter tanpa sepatah kata pun.

Masih dengan langkah angkuhnya, Seijuurou keluar dari klinik tempat sang dokter forensik-artis bekerja.

Manik heterokromnya menangkap satu pemandangan ganjil. Seorang pemuda, dengan seragam sekolah lengkap dengan topi baseball hitam keluar dari laundry di depan klinik itu, keluar dengan langkah tergesa setelah melihat ke arahnya. Dia segera menyebrang tanpa ada bertatapan dengan Seijuurou. Dia berjalan menunduk, menghindari tatapan semua orang dan kembali menyebrang lalu masuk ke dalam sebuah gang gelap di antara bangunan toko roti dan toko bunga.

Pemuda itu menghilang.

Tanpa memperdulikan pemuda yang barusan menghilang, Seijuurou memanggil kembali supirnya dengan satu panggilan dan menunggu bawahannya itu kembali dengan mobil sedan hitam milik keluarganya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Author's Note :

YOHOOOOO~ Temennya Kagami balik lagi *plak*

Oke, Goshujin-sama, chapter ini mungkin belum menarik karena ini Chapter 3 Part 1.

Uhuk, kenapa pake part segala? Karena kalo panjang nanti nggak deg-degan.

Tuh, liat, proyek MidoTaka ditambah Kuroko selanjutnya adalah klinik Akashi. Mau ngebayangin mereka jadi dokter-perawat-perawat gadungan? Tunggu di chapter depan *jduash*

Oh ya, maaf updatenya kelamaan m(_ _)m Saya sibuk pindahan soalnya.

OOT nih, ada readers yang tinggal di Pematang Siantar gk? Oke, abaikan.

Mau ngelurusin beberapa hal (lagi) :

1. Tidak akan ada penambahan karakter di sini, paling nanti ada di bagian ohokflashbackohok #spoiler. Jadi, maaf, untuk readers yang ngarepin Himuro atau Mukkun muncul. Maaf banget.

2. Cuma untuk Akashi dan Midorima, penulisan nama karakter di sini menggunakan nama kecil. Alasan? Nanti juga ketahuan *ditabok*

AHHH, MAKASIH YANG UDAH REVIEW! YANG FOLLOW DAN FAVORITE JUGA! SUKI DAYO! Maaf, belum bisa jawab review kalian, entar deh, aku bales via PM (untuk yg login)

.

.

.

SPOILER :

"Aominecchi-kanshikan, kau pasti tidak akan percaya dengan berita ini."

"Takao-kun! Bisa dengar aku?!"

.

.

So, how about this chapter?

.

.

.

Mind to click the review button and submit your REVIEW for this chapter!

.

.

.

Shintarou Arisa, out.