Chapter 3 Part 2
.
.
.
Takao menatap lembar hasil ujian akhir semester pertamanya di bangku kelas 2 SMA yang masih terlipat sempurna. Ujian yang dilaksanakan dua hari setelah ledakan pertama yang mereka buat, telah dibagikan dan Takao masih enggan membuka lembaran kertas tersebut.
"Bagaimana dengan nilaimu, Takao?" tanya Shintarou sambil menaikkan kacamatanya dengan jari telunjuk tangan kirinya dililit perban.
Shintarou melihat kertas putih berisi nilai ujian yang berada di tangan Takao dan merebutnya.
"Takao jika kau ikut remedial maka rencana kita akan berantakan, nano dayo," ucap Shintarou sebelum membuka kertas tersebut. Takao menelan ludahnya ragu.
Dia hanya menguasai pelajaran bahasa Inggris dengan baik, sementara nilainya yang lain biasanya mentok. Tahun lalu, dia masih beruntung karena dia memakai pensil ajaib Shintarou, tapi sekarang pensil itu sudah dicuri balik oleh sang pemilik dan dikeramatkan, tidak akan pernah dibawa saat ujian lagi.
Shintarou membuka kertas itu dan Takao menempelkan wajahnya ke meja, pasrah.
"Lumayan, 'no dayo. Peringkat 110. Selamat."
Shintarou tersenyum dengan gaya tsunderenya sementara Takao nyaris backflip karena terlalu senang.
"Yeay! Rencana kita tak akan gagal!" soraknya gembira. "5 hari sebelum 'kembang api', aku datang!"
Perhatian seisi kelas tanpa guru itu tertuju pada Takao.
Shintarou mendengus jengkel, takut ada yang curiga dengan kata 'kembang api', lalu memukul pelan kepala si rajawali dengan gulungan bukunya.
.
.
.
Midorima Shintarou, 16 tahun, teroris satu kasus ledakan.
Kazunari Takao, 16 tahun, teroris satu kasus ledakan.
Kuroko Tetsuya, 16 tahun, calon teroris satu kasus ledakan.
Yup, mereka tetap masih bukan siswa SMA biasa.
.
.
.
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Warning : Standart Applied
Enjoy Reading!
.
.
.
Hari ini Kuroko mendapat hari dimana dia tidak usah latihan. Karena pelatih mereka harus buru-buru ke tempat bimbingan belajarnya, maklum anak kelas tiga.
Saat sedang menghabiskan waktu di Maji Burger bersama Kagami, Kuroko mendapat telepon dari Takao.
Waktunya untuk bekerja.
"Kagami-kun," Kuroko mengambil tasnya dan gelas vanilla shake. "Maaf, aku harus pulang terlebih dahulu."
Kagami menatap Kuroko sambil mengunyah burgernya yang entah keberapa.
"Akhir-akhir ini tempat kerja sambilanmu selalu lebih awal menyuruhmu bekerja. Kerja sambilan dimana sih?"
Manik scarlet si harimau liar menatap curiga manik baby blue si invisible man. Entah bermaksud kepo atau Kagami memang mengkhawatirkan Kuroko, Kagami bertanya seolah dia tak rela ditinggal sendirian di restoran cepat saji.
Oh ya, ternyata Kagami cukup peduli dengan bayangannya itu. Ehe.
Kuroko terpojok.
-Aku belum bisa membohongi Kagami-kun.
Memang aneh. Entah kenapa si harimau liar itu selalu bisa melihat kebenaran di balik kebohongan Kuroko.
Tapi, Kuroko cuma punya satu cara untuk lepas dari si harimau liar.
"Aku kerja sambilan di tempat penitipan anak-anak." jawab Kuroko berbohong.
Kuroko menunggu.
Kuroko tidak merubah ekspresi wajahnya (dan memang sulit, sih).
Hening...
Heningg...
Heninggg...
Hening melanda di antara mereka, hanya ada suara kunyahan dan gerakan kerongkongan Kagami yang menelan burger.
"Oh, pantas saja. Pergilah, anak-anak itu menunggu."
Kagami mengizinkan Kuroko pergi.
Kuroko ingin sekali tersenyum karena berhasil menipu Kagami tapi senyum itu ditahannya.
Kuroko membungkuk. "Mata ashita, Kagami-kun."
"Hm," jawab Kagami sambil membuka bungkus burgernya.
Kuroko keluar dari Maji Burger dan mengeluarkan ponselnya setelah agak jauh dari restoran cepat saji itu.
"Moshimoshi, Takao-kun?" sapa Kuroko.
'Kenapa lama sekali angkat teleponnya, Kuroko? Habis latihan basket?' sahut Takao di sebrang sana.
"Tidak kok, Takao-kun. Ada beberapa hal yang harus kulakukan sebelumnya,"
'Hm, sudahlah. Ke klinik, pakai seragam yang waktu kemarin kuberikan. Kita tunggu satu jam lagi di halte dekat klinik.'
TUUTT.. TUUTT
Sambungan diputus sepihak oleh Takao.
Kuroko segera berlari ke menuju rumahnya.
.
.
.
Kise menunggu Aomine kembali sambil meneliti map kasus berisi kasus pembakaran sebuah panti penampungan anak-anak 6 tahun lalu.
Kasus ini memang belum terselesaikan sejak awal. Siapa yang membakar dan tujuan si pelaku membakar tempat anak-anak itu belum ada yang tahu.
Yang jelas, ada 10 orang anak yang meninggal sehubung ditemukannya mayat anak-anak yang sudah 90 persen hangus.
Kise meletakkan map tersebut dan mengusap wajahnya frustasi.
Ayo kita berikan sebuah payung cantik pada Inspektur Aomine Daiki yang sudah membuat polisi detektif tampan kita frustasi.
Berkat Aomine, Kise teringat soal kakaknya lagi. Bukannya dia sister complex atau bagaimana.
Kedua kakaknya adalah orang terpenting dalam hidupnya.
Saat kelas Kise masih dibangku kelas tiga SD, ibu dan ayahnya memutuskan untuk bercerai. Lalu, ibu mereka mengambil hak asuh atas mereka bertiga. Sayang, pada saat sedang berada di bangku kelas enam SD, ibu Kise meninggalkan dia dan kedua kakaknya dengan alasan dia sudah memiliki keluarga baru. Meski wanita itu menghibahkan rumahnya pada mereka, wanita yang pernah mereka anggap sebagai ibu mereka itu tidak pernah memberikan mereka sepeser uang pun pada mereka semenjak saat itu.
Kedua kakaknyalah yang mengurusnya sejak saat itu. Mereka yang mengurus Kise yang trauma dengan yang namanya 'ditinggalkan'. Kakaknya yang tahu jika Kise berpura-pura kuat ditinggal dua kali oleh orang dewasa. Tak peduli bahwa saat itu mereka masih menginjak kelas dua dan tiga SMA, tapi mereka dengan baik hati mengurus Kise, menghilangkan traumanya dengan cara bersenang-senang bersama sebagai kakak dan adik pada umumnya. Bahkan, sampai menceburkannya ke dunia modelling dan basket supaya Kise tidak ingat soal ayah maupun ibunya.
Kakaknya juga sangat menyukai anak kecil dan sangat menentang bila ada orang tua yang menyakitinya anaknya dengan alasan sepele.
Meskipun kakaknya narsis minta ampun dan galak habis, Kise tetap menyayangi mereka.
-Dan tiba-tiba mereka menghilang begitu saja-
Yah, tepat sekali. Kedua kakaknya dikabarkan menghilang sehabis berunjuk rasa sebagai aktivis anak-anak.
Kise yang tidak terima kakaknya menghilang begitu saja, lantas meminta bantuan pada pihak kepolisian dan polisi segera angkat tangan soal ini.
Tidak puas dengan kinerja satuan penegak hukum itu, Kise memutuskan untuk mencari kakaknya lagi jika dia sudah menjadi penegak itu sendiri. Dia akan mengusut balik kasus itu, meskipun dia harus berbohong pada para awak media yang biasa meliputnya bahwa alasan dia masuk kepolisian adalah untuk membalaskan dendam kakaknya yang meninggal.
-Kise sendiri sudah tak yakin kakaknya masih hidup. Dramatisir keadaan tak masalah, 'kan?-
Dan, itulah awal mengapa Kise bisa berada dunia kepolisian seperti sekarang.
-Tapi Kise malah melupakan tujuannya sampai Aomine mengingatkannya.-
GEBRAK!
"Mau sampai kapan bengongnya, hah? Kerjaan kita masih banyak, bodoh!"
Aomine menegur sang anak buah setelah menggebrak meja sementara Kise masih mengelus dada karena kaget.
Aomine sudah kembali dengan sekantung belanjaan berisi makanan ringan dan minuman berbagai jenis.
"Jadi, bagaimana, Kise?" tanya Aomine sambil mendudukkan dirinya di kursi putar di mejanya.
"Bagaimana apanya, kanshikan?" Kise bertanya balik.
Aomine melempar sekaleng soda pada Kise. "Bagaimana kinerja anak-anak buah kita?"
Kise menangkap kaleng soda itu dan membukanya setelah mengucapkan 'terima kasih'. Kise membuka tutup kalengnya lalu menjawab pertanyaan Aomine. "Setelah kita mendapatkan foto seluruh anak-anak itu, mereka mulai mencari di database bahkan ada yang langsung terjun ke lapangan, ssu."
Aomine mengangguk-angguk bijaksana. Dia membuka laptop di depannya yang dalam kondisi sleep. Dia menekan tombol power dan setelah itu muncul dua kolom berisi username yang sudah diisi dalam kolom password yang masih kosong. Aomine mengisi kolom password itu dan interface laptop segera menampilkan wallpaper standar dan dua buah ikon. Satu ikon mesin pencari dan sebuah folder.
"Kau sudah memasukkan foto anak-anak itu, 'kan?" tanya Aomine pada Kise yang lagi-lagi khusyuk dengan map kasusnya.
"Sudah, Aominecchi-kanshikan." jawab Kise tanpa menatap Aomine.
Aomine mengarahkan kursornya pada ikon folder dan setelah loading yang memakan waktu kurang lebih dua detik karena banyaknya data di sana, Aomine segera mengklik folder paling pojok kiri atas yang berlabel 'SECRET'.
Folder berkapasitas 988 megabyte itu dengan cepat menampilkan foto-foto anak yang 6 tahun lalu menjadi anak-anak korban pembakaran penampungan.
10 di antara mereka mati tapi Aomine tak bisa menebak dari 100 foto itu mana saja anak yang meninggal. Aomine memulainya dengan foto anak laki-laki yang berada di pojok kiri atas.
Anak berambut coklat dengan wajah pemalu dan berpakaian kemeja lengan pendek. Di lengan kemeja di kelilingi dua buah strip merah yang bertuliskan sesuatu.
Ada kanji 'Aka' di sana.
Menurut hasil investigasi enam tahun lalu juga, penampungan ini memang milik keluarga Akashi yang kaya raya.
"Aominecchi-kanshikan, bolehkan aku bertanya sesuatu?" Kise bertanya sambil meletakkan map kasusnya.
Kise meraih minuman soda kalengan pemberian Aomine dan menegaknya sekali.
Aomine segera mengalihkan pandangannya pada Kise dan menatapnya seolah-olah bertanya 'apa?'.
"Menurut Aominecchi-kanshikan-"
Aomine mengangkat tangannya, memotong ucapan Kise yang baru mencapai permulaan kalimat.
"Panggil aku Aomine saja. Tidak usah pakai embel-embel 'kanshikan' lagi. Aku jadi pusing mendengarnya," tangkas Aomine.
Kise mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
"Lanjutkan pertanyaanmu," Aomine mempersilahkan Kise melanjutkan pertanyaannya.
"Menurut Aominecchi," Kise menjeda kalimatnya dan segera menggulirkan iris madunya ke arah si detektif redup. "Apa alasan pelaku pembakaran penampungan anak-anak itu?"
Hening. Aomine tidak menjawab, bahkan tidak menatap balik Kise. Dia lebih tertarik pada kaleng kopi dinginnya, pura-pura tidak mendengar pertanyaan Kise.
"Jawab aku, Aominecchi,"
Kise menatap Aomine mengharapkan jawaban. Ekspresinya serius, tidak ada maksud main-main di sana.
Aomine menghela nafas lalu menggeleng sambil mengacak rambut biru tuanya.
"Tidak ada yang tahu soal itu, Kise. Rumah besar yang menjadi penampungan anak-anak itu setelah terbakar hanya dibiarkan begitu saja. Pemiliknya bahkan tidak peduli bagaimana dengan nasib anak-anak yang pernah dirawatnya. Meskipun dia tahu banyak dari anak-anak yang selamat itu kabur, dia tak berniat mengumpulkannya kembali. Kau tahu, bahkan kematian 10 anak-anak itu diurus oleh warga setempat meskipun dananya masih ditanggung oleh sang pemilik penampungan,"
Kise menatap sang atasan yang tiba-tiba kehilangan ekspresi sangarnya. Ekspresi Aomine yang terlihat agak sedih itu, membuat Kise tahu jika Aomine peduli dengan kasus semacam ini.
"Pemilik penampungan itu, keluarga Akashi, 'kan?" tanya Kise ragu.
Aomine mengiyakan dengan anggukan singkat.
"Akashi," Aomine menatap langit-langit dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Entah berapa banyak kekuatan yang mereka punya untuk negeri ini."
Aomine untuk kesekian kalinya menghela nafas dan Kise merasa kalau dirinya sudah membuat kesalahan untuk atasannya ini. Kise sudah lama berteman dengan Aomine, dan ini kali pertama baginya melihat sang pria berkulit tan itu sedih.
Kise hanya bisa memandangi map kasusnya dan menghela nafas. Virus Aomine langsung menular rupanya.
Aomine kembali membuka layar laptopnya dan melakukan seperti yang dia lakukan di awal sampai dia kembali melihat foto anak kecil berseragam itu.
Ah, anak kecil, 'ya?
Jika Kise masuk ke kepolisian untuk membalaskan dendam kakaknya maka Aomine hampir mirip.
Yang membuat dirinya sampai rela masuk ke dunia penegakan hukum adalah adiknya. Adiknya yang mati kecelakaan sepulang sekolah akibat tabrak lari dan pelakunya yang tak pernah ditemukan.
-Ah, kenapa rasanya hari ini berat sekali?
Aomine tersadar jika dia sudah memencet navigasi keyboard terlalu lama.
Ketika melepaskan jarinya dari tombol yang menunjuk ke kanan itu fotonya menampilkan foto seorang berambut hijau.
"Ehe, ternyata bocah itu juga korban." gumam Aomine sambil tertawa kecil.
"Subjek 707," baca Kise sambil menjepit dagunya yang sempurna. Dia seperti pernah melihat anak ini sebelumnya.
"Seperti pernah lihat, ssu," Kise menggumam.
Aomine melirik Kise. "Hah, dimana? Aku saja cuma pernah ketemu sekali!"
Kise mengingat-ingat sambil memejamkan mata lalu semenit kemudian dia menjentikkan jarinya dan mencari sesuatu di antara tumpukan berkas-berkasnya.
Kise menarik sebuah majalah dengan susah payah.
"Mitsuketa, ssu!" Kise berseru sambil mengangkat majalah basket di tangannya. Aomine mengernyitkan dahinya.
"Ha? Apa yang kau lakukan?" tanya Aomine yang kebingungan atas tindakan Kise.
Kise membuka lembar halaman majalah itu dengan kasar.
"Ini!" Kise menunjukkan salah satu halaman majalah. "Mirip, 'kan?!"
Kise mensejajarkan foto salah seorang pemain basket dengan foto anak di layar laptop Aomine.
Aomine menyambar majalah itu dan membalik halaman sebelumnya.
"SMA Shuutoku," gumam Aomine sambil menyeringai. Aomine menyobek halaman majalah itu. "Jika anak ini adalah Midorima Shintarou maka,"
Aomine menscroll layarnya dengan cepat dan berhenti di sebuah foto anak berponi belah tengah.
"Maka anak ini adalah Kazunari Takao."
"Bagus, Kise, setidaknya bisa membuka kasus ini sedikit," puji Aomine sambil menepuk punggung si pirang. "Akashi mungkin tak mau buka mulut soal penampungan ini tapi korban selamat pasti bisa menceritakannya. Sudah enam tahun sejak kejadian itu dan kasus ini akan kita buka kembali untuk kasus bom ini!"
-Aomine tidak menyadari bahwa robekan halaman yang dia pegang juga menyimpan foto satu calon teroris lainnya-
Kise tersenyum bangga. Tapi setelah mendengar deklarasi Aomine, kini dia punya satu pertanyaan lagi.
"Aku mau tanya lagi, Aominecchi. Sebenarnya apa yang membuat Aominecchi berpikir jika kasus pengeboman ini ada hubungannya dengan kasus pembakaran ini?"
Aomine mendesah sambil menyenderkan punggung tegapnya di senderan kursi.
"Dulu, aku pernah dengan bocah-bocah ini," Aomine menunjuk dua foto di halaman yang dia sobek. "Dulu mereka mengaku sebagai subjek 707 dan 3111. Aku yang menemukan mereka nyaris mati kelaparan saat aku masih jadi polisi berseragam. Aku sempat merawat mereka. Saat aku menemukan mereka, mereka bilang, mereka kabur dari sebuah tempat mengerikan,
"Ketika kutanya tempat apa itu mereka menggeleng tidak tahu. Mereka hanya bilang, mereka ingin menyelamatkan teman-teman mereka dari dingin. Aku bilang mereka harus membakar sesuatu untuk menghangatkan diri mereka dan mereka terlihat senang sekali mendapat jawaban seperti itu,"
Aomine menjeda ceritanya.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Kise penasaran.
"Aku merawatnya hanya sehari karena pihak penampungan sudah mencari mereka dan mereka meminta sesuatu,"
"Apa itu?"
"Sebelum mereka dijemput pihak penampungan, tempat yang mereka bilang mengerikan, mereka meminta supaya keadilan ditegakkan,"
"Hheee?"
"Mereka lalu diambil oleh pihak penampungan dan seminggu kemudian, kebakaran itu pun terjadi. Menyisakan satu ancaman yang direkam di sebuah recorder tua, suatu hari nanti, mereka akan menghacurkan Akashi, begitulah kira-kira teriakan anak-anak itu."
Aomine menyudahi ceritanya tapi Kise menunjukkan raut wajah tak paham.
"Aku masih belum paham. Jadi, menurut Aominecchi salah seorang dari anak-anak yang selamat itu atau bahkan beberapa dari anak yang mati dan hidup ini jadi pelaku di balik kasus pengemboman ini? Kenapa Aominecchi berpikiran seperti itu?"
"Aku baru berspekulasi. Salah seorang dari anak-anak itu bisa saja menjadi pelakunya, semua bisa terjadi di zaman seperti ini,"
"Atas dasar apa?"
"Berdasarkan pengamatanku, tidak ada satu pun orang atau instansi yang pernah mengancam keluarga Akashi setelah kejadian pembakaran itu,"
"Mentang-mentang Akashi paling memegang kuasa atas segala hal di negeri ini?"
"Begitulah," Aomine berdiri. "Siapkan mobil. Kita akan SMA Shuutoku untuk mencari anak-anak itu,"
Kise mengangguk dan segera berangkat untuk mempersiapkan mobil.
.
.
.
50 meter sebelum Klinik Akashi, Shintarou, Takao, dan Kuroko berkumpul seragam curian mereka. Shintarou yang mengenakan kemeja putih berlengan dengan dasi biru dan celana bahan berwarna hitam dan ikat pinggang coklat. Sepatu yang semalam dia semir juga dikenakan. Dia membawa sebuah kantung kecil berisi stetoskop milik suami Araki-sensei yang dulunya seorang dokter sebelum meninggal.
Sementara itu, Takao dan Kuroko mengenakan seragam umum perawat pria berwarna putih dengan label 'Akashi Health Clinic' berwarna merah yang dibordir rapi di atas saku di bagian dada kirinya.
Shintarou memberikan Takao dan Kuroko sebuah masker.
"Kita masuk lewat pintu yang berbeda-beda, 'no dayo. Aku dari depan, Takao dari pintu darurat sebelah kanan, Kuroko dari belakang. Mengerti?"
Takao dan Kuroko mengangguk.
"Ayo bergerak, dengarkan setiap perintah yang kuberikan nanti, 'no dayo." Shintarou memulai langkah untuk memimpin.
"Yosh!"
Mereka bertiga mulai bergerak untuk memulai rencana mereka.
.
.
.
Shintarou yang masuk lewat pintu depan berjalan santai dengan kepala sedikit menunduk untuk menghindari kamera.
Shintarou berjalan menuju toilet pria dan masuk ke salah satu bilik.
Dia mengeluarkan jas putih khas dokter dan mengenakannya dengan cepat tak lupa sebuah tanda pengenal palsu dia sematkan di saku dada jasnya. Dia membuka kantung kecil itu dan memindahkan stetoskopnya ke saku jas putihnya.
Setelah bersiap-siap sedikit, dia keluar dari toilet dan mulai bergerak menuju kamar-kamar pasien.
"Shin-chan," seseorang memanggilnya. Shintarou segera memalingkan sedikit wajahnya dan menemukan si rajawali, Takao, yang mengenakan masker untuk menutup setengah wajahnya.
"Kuroko ada di ruang kontrol. Akses akan dibukanya dalam tiga puluh menit." lapor Takao. "Oh ya, semenjak kau keluar dari toillet tadi ada seorang dokter wanita yang membuntutimu diam-diam."
Shintarou menelan ludahnya. Dia baru saja bergerak selama lima menit tapi sudah ada yang curiga?
"Aku mengerti. Berpencar lagi-"
"Kamu Shintarou-kun, 'kan?" seorang dokter wanita mencegat jalan mereka. "Puteranya Midorima Ryuhei-sensei, 'kan?"
Midorima terlonjak kaget.
Siapa gerangan wanita ini? Kenapa dia bisa mengenal dirinya dan ayahnya?
"Kamu lupa? Aku Momoi Satsuki!"
Shintarou sama sekali tak bisa mengingat soal wanita berambut merah muda itu.
.
.
.
"Oh, jadi kamu baru kerja hari ini. Kok, aku ingat kalau aku pernah menyetujui kau masuk ke sini dengan perawat.. Uhm, siapa namamu?" tanya Satsuki sambil melirik Takao.
"Kazuchi Takamichi, Momoi-sensei," jawab Takao.
"Kenapa mengenakan masker?" tanya Satsuki curiga.
"Kemarin saya kena flu, sensei. Tidak mungkin saya langsung izin di hari pertama bekerja,"
"Hhmmhh, kuhargai semangat bekerjamu," Satsuki menepuk-nepuk punggung Takao. "Oh ya, Shintarou-kun, aku tidak tahu kalau kau sudah berusia 25 tahun. Kukira kau masih sepantaran, Satsuko, anak perempuanku, hahaha."
Tawa Satsuki memenuhi koridor kosong klinik lantai tiga.
"Ano, Momoi-sensei," ucap Shintarou. "Apa tidak apa-apa tertawa sekeras itu di sini?"
"Volume tertawaku biasa saja. Tawaku jadi sekeras itu karena lantai tiga sampai lantai lima di atas sana kosong. Pasien lebih menyukai menjalani rawat inap di lantai satu, yah, memang karena ini cuma klinik bukan rumah sakit. Jadi, pasien pun tak pernah lebih dari lima puluh orang dalam sebulan. Minggu ini saja, cuma ada lima orang yang dirawat. Itu pun sebentar lagi akan dipindahkan semua ke rumah sakit pusat karena peralatan di sini belum diperbaharui."
Satsuki memberikan semua informasi yang dibutuhkan oleh kedua teroris yang menyamar jadi dokter dan perawat.
"Di lantai ini juga tidak ada kamera pengawas, eh, kalau tidak salah ada satu di depan ruanganku. Makanya, terkadang aku malas ke ruanganku kalau sudah malam. Sudah tidak ada, gelap, ah, pokoknya bikin merinding!"
Lagi, Satsuki memberikan informasi yang sangat penting.
"Kurasa, aku hanya perlu memperkenalkan bagian-bagian klinik ini sampai sini," Satsuki berdiri di depan Shintarou dan Takao untuk menyudahi touring mereka di seputar klinik. "Oh ya, informasi tambahan ada satu bagian spesial di klinik ini. Di bawah klinik ini ada ruangan otopsi dan kamar jenazah di pojok belakang sebelah kanan. Untuk masuk ke ruang otopsi dan ruang kerja Moriyama-sensei, dokter forensik di klinik ini, kalian harus masuk ke kamar jenazah dulu. Yosh, sekian pengenalan Akashi Health Clinic!"
Ponsel Satsuki berdering cukup keras dan Satsuki panik mencari ponselnya di seluruh saku jas dokternya.
Satsuki merogoh saku rok span selututnya dan segera mengeluarkan ponsel pintar berwarna pinknya. "Ini dia! Shintarou-kun, Takamichi-kun, aku tinggal dulu, 'ya? Sampai nanti."
Satsuki berlari menuju tangga dan terdengar suaranya yang menjawab telepon agak heboh.
Takao melirik kamera pengawas yang di pasang di sudut tembok dekat ruangan Satsuki, satu-satunya ruangan bercahaya terang di lantai tiga, hanya sekedar untuk memastikan jika CCTV itu memang terpasang di sana. Benar saja, di sana ada kamera pengawas.
"Phew, kita mendapatkan banyak informasi," Takao menurunkan maskernya dan bernafas lega. "Kurasa 'kembang api' bisa kita nyalakan lebih cepat dari dugaanmu, Shin-chan."
"Tidak bisa begitu, 'no dayo," Shintarou menaikkan kacamatanya. "'Kembang api' tetap kita nyalakan lima hari lagi."
"Huft, terserahlah,"
Shintarou segera berbalik untuk menghindari kamera pengawas.
Shintarou mendekatkan lengan jasnya yang sudah dipasang microphone kecil yang terhubung dengan sebuah alat komunikasi radio dan memastikan wireless earphonenya telah terpasang dengan benar.
Dia menekan beberapa tombol di alat komunikasi radionya yang ditempelnya di balik jas dan menunggu sambungannya terhubung.
"Kuroko, laporkan hasil kerjamu, 'no dayo." ucap Shintarou di dekat microphone mini dengan berbisik.
'Ah, ha'i, Midorima-kun. Seluruh pekerjaan di ruang kontrol sekarang bisa Midorima-kun kendalikan dari laptop Midorima-kun.'
Shintarou menyeringai, tak menyangka akan semudah itu Kuroko menyusup ke ruangan dan sistem ruang kontrol.
"Apa kau mengalami kesulitan, 'no dayo?" tanya Shintarou lagi.
'Tidak, sejauh ini. Cuma ada satu perawat yang mampir sebentar ke ruang kontrol dan dia tak menyadari keberadaanku.'
"Keluarlah dari sana, kita masuk ke rencana selanjutnya,"
'Ha'i.' jawab Kuroko sebelum sambungan diputus Shintarou.
"Ayo kita lanjutkan rencana selanjutnya, Takamichi." Shintarou berjalan menjauhi Takao dan si rajawali menyeringai di balik maskernya sambil mengekori Shintarou.
.
.
.
Shintarou, Kuroko, dan Takao berkumpul di dekat lobby dan setelah bisik-bisik singkat.
Takao segera berpencar dari mereka berdua.
Shintarou mengedikkan kepalanya pada Kuroko, isyarat untuk segera mengikutinya.
"Takao-kun, mau kemana?" tanya Kuroko pada si hijau lumut yang menyamar menjadi dokter gadungan.
"Ke ruangan dokter forensik, 'no dayo," jawab Shintarou sambil menaikkan kacamatanya. "Menurut pengamatannya, saat pertama kali dia menginjakkan kaki di klinik ini dia melihat seorang dokter pulang,"
"Sou ka."
"Kuroko, periksa setiap kamar berpasien di klinik ini dan laporkan padaku tiap catatan perawat dan dokter di sana," perintah Shintarou setelah mereka menginjak di pertigaan koridor menuju tangga yang berbeda.
"Ha'i!"
Sejurus kemudian, Kuroko hilang dari pandangan Shintarou.
Shintarou meneruskan langkahnya menuju tangga di sebelah kanannya. Menurut papan penunjuk arah yang tertempel di dinding, tepat di sebelah kanan ujung tangga ini, ada sebuah ruangan arsip.
Baru saja, Shintarou menaiki beberapa buah anak tangga, dia mendengar noise rendah di wireless earphonenya.
"Takao?" tanyanya setelah menekan satu tombol receiver dan mendekatkan mini microphonenya dengan mulutnya.
'Shin-chan, kau tidak akan percaya, apa yang telah kutemukan,' Takao di sebrang sana menjawab dengan suara pelan. 'Foto-foto kita semua ada di komputer dokter forensik ini!'
"Bagaimana mungkin?!" Shintarou bertanya lagi dengan nada bicara tak percaya yang tak bisa ditutupinya dengan ketsundereannya.
'Aku tidak tahu, Shin-chan. Di sini ada sebuah CD berkapasitas 1 gigabyte dan kurasa inilah sumber filenya!'
Shintarou mengerang tak percaya.
"A-apa lagi yang ada di sana?" tanya Shintarou lagi setelah mencapai di ujung tangga.
'Aku membuka tab halaman yang ditinggalkan dokter itu pada komputernya,' Takao menjeda kalimatnya. 'Sepertinya dokter ini melakukan semacam rekonstruksi wajah atau hal semacam itulah. Entahlah, di sini aku bisa melihat setengah dari wajah Sakurai versi remajanya,"
Shintarou menggemeletukan giginya. Tak percaya ada orang yang bisa bertindak sejauh ini.
"Keluar dari sana Takao, kau coba korek informasi lain tentang Akashi dengan perawat lain,"
'Aye-aye, Ace-sama!'
Shintarou memutus sambungannya dan memasuki ruang arsip.
.
.
.
Shintarou masih asyik dengan arsip-arsip klinik yang berbagai macam. Tapi, sedari tadi Shintarou dibawa penasaran oleh sebuah kardus di sudut ruangan arsip yang penerangannya seadanya itu.
Shintarou meletakkan folder berat itu dan akhirnya berjalan menuju kardus tua itu.
Shintarou membuka tutup kardus itu dan saat itu juga, debu-debu bergerak liar lalu Shintarou terbatuk karenanya.
Belum selesai Shintarou menahan batuk-batuknya, Shintarou menemukan sesuatu.
"Ini, 'kan?"
NGINGGG...
Shintarou merasa ingin mati karena dengingan maut yang membuka memorinya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's Note :
Halo, ini dia chapter 3 part 2 perjuangan MidoTakaKuro untuk menghancurkan Akashi!
Uhm, memang belum ada ledakan.. tapi sabar aja yak?!
Oh ya, ternyata diluar dugaan aku nambahin satu karakter selewat, Momoi Satsuki!
Udah, ah, nggak mau banyak bacot. Oh ya, MAKASH YANG UDAH REVIEW/FAVORITE/FOLLOW. AKU CINTA KALIAN!? /*dibuang
Oh ya, MIND TO REVIEW?!
.
.
.
Shintaro Arisa, out.
