Chapter 3 Part 3
.
.
.
Shintarou dan Takao pulang bersama setelah menyelediki Akashi Health Clinic. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan jalanan sangat sepi sekali. Mereka masih mengenakan seragam klinik curian mereka.
Masa bodoh soal waktu, besok juga mereka mulai libur.
"Nee, Shin-chan," Takao memecah keheningan.
"Hm?" sahut Shintarou sambil melepas sebelah pin earphone-nya.
"Kau lihat belahan dadanya Momoi-sensei, nggak? Hebat, 'ya! Seketurunan berdada besar semua!" Takao berseru nggak tahu malu.
"Damare, Bakao!"
Pukulan maut tak terhindarkan dari kipas bertuliskan 'Ganbatte', lucky item Shintarou hari ini, mencium belakang kepala Takao.
.
.
Midorima Shintarou, 16 tahun, teroris satu kasus ledakan.
Kazunari Takao, 16 tahun, teroris satu ledakan.
Kuroko Tetsuya, 16 tahun, calon teroris satu ledakan.
Mereka tetap masih bukan siswa SMA biasa.
.
.
.
Shintarou dan Takao masuk ke dalam kamar mereka di panti diam-diam supaya tidak kena amukan Araki-sensei yang benci yang namanya pulang telat.
"Tadaima~" ucap mereka dengan volume suara yang suangat kecil. Mereka melepas sepatu mereka dan segera memakai sandal rumah berukuran lebih besar di antara sendal rumah yang berukuran kecil-kecil.
Shintarou dan Takao mengendap-endap sampai ke ruang tengah yang lampunya sudah dimatikan.
Mereka menunggu beberapa menit.. Sip, nggak ada yang nyalain saklar lampu dan berteriak.
Mereka meneruskan langkah mengendap-endap sampai ke kamarnya dengan selamat.
Huft, untunglah, Araki-sensei sudah tidur pulas. Mungkin karena lelah bekerja di hari sepanas ini sampai mereka berdua terlupakan.
Shintarou dan Takao segera berganti baju dengan baju rumahan mereka. Shintarou segera mencuci muka sementara Takao segera mengecek trading card miliknya yang suka dicuri anak-anak panti.
Saat sedang berjalan menuju kamar mandi di kamar mereka, Takao menemukan sebuah foto di dekat lemari baju Shintarou.
"Shin-chan, ini foto punya siapa?" tanya Takao sambil mengutip foto yang terjatuh di lantai.
"Huh?" Shintarou yang masih sikat gigi menyembulkan sebagian kepalanya dan begitu dia melihat foto itu, dengan mata yang sangat menyipit sampai tinggal garis seperti mata si setan pembaca hati berkacamata yang kini jadi polisi, dia segera kembali menyikat giginya. "Simpan di mejaku, Takao."
Takao mengedikkan bahunya dan menyimpan foto itu di meja.
Beberapa menit kemudian, Shintarou keluar dengan handuk kecil tersampir di lehernya, dia sudah kembali dengan kacamatanya, dan Takao segera ambil giliran untuk bersih-bersih badan. Pemuda tinggi nyaris dua meter itu segera menuju mejanya dan membuka laptopnya.
Shintarou sedang mengecek sudah sejauh mana bahan bom mereka dikirim. Pemesanan online semacam ini biasanya memakan waktu lebih dari 2 hari.
Setelah berkirim pesan dengan sang penjual via e-mail, penjual itu memastikan jika besok bahan kimia mereka pesan akan segera sampai di toko kimia terdekat dan mereka bisa mengambilnya.
Shintarou mengambil sebuah figura berwarna hijau yang dipojoknya ada sebuah gambar katak hijau dari kotak berisi lucky itemnya. Dia membuka bagian belakang figura itu dan menyelipkan foto yang dia dapat di klinik.
Setelah fotonya dipasang di baik, Shintarou menutup bagian belakang figura dan memajang fotonya di meja belajar.
"Jadi, itu foto siapa? Apa itu Shin-chan dan Shizu-chan?" Takao bertanya sambil menghempaskan dirinya ke tempat tidur berantakannya. Dia menarik selimutnya dan beberapa buku tulis berjatuhan.
Shintarou menutup laptopnya dan memerhatikan foto itu sejenak sebelum dia pergi ke tempat tidurnya.
Takao masih menunggu jawaban Shintarou.
"Cuma foto keluargaku, 'no dayo," Shintarou menjawab sambil melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja nakas. Dia berbaring dan menutup matanya, langkah pertama untuk beristirahat.
Takao mendengus dan tersenyum pahit. Manik amber kebiruannya meredup.
"Aku iri denganmu, Shin-chan," Takao berkata dengan suara amat pelan.
-Iri?-
Shintarou yang kaget ungkapan aneh Takao itu segera membuka matanya.
"K-Kau bilang apa barusan?!" Shintarou segera mengganti posisinya menghadap Takao yang ada di sebrangnya.
Takao segera mengalihkan pandangannya dari Shintarou. "Bukan apa-apa,"
Shintarou memincingkan matanya pada Takao, menatap si rajawali itu dengan tatapan curiga. Takao cuma garuk-garuk perut cuek.
"Dapat darimana, Shin-chan?"
"Waktu menggeledah gudang arsip Akashi Clinic, aku menemukan sebuah folder berisi foto keluarga dan catatan tentang pekerjaan ayahku. Kurasa, Ayah sempat menjadi salah satu dokter spesialis penyakit dalam disana,"
Manik zamrud Shintarou berbinar saat dia menerawang balik saat dia masih kecil, setahun sebelum dia masuk ke 'kandang'.
Jujur saja, Takao jadi tambah iri.
[NGINGG...]
["Kau bukan bagian keluarga ini!"]
Berbalik memunggungi Shintarou, menutupi wajahnya yang pasti terlihat sangat kesakitan, Takao meredam sakit kepalanya dengan mengcengkram bantalnya dan berkata, "Oyasumi, Shin-chan."
Bingung dengan tingkah Takao yang tidak biasa, Shintarou mematikan lampu dan ikut memunggungi Takao. "Bu-bukannya aku peduli... O... oyasumi, Bakao."
.
.
.
.
Aomine mengipasi dirinya di ruang kerja yang hanya saat ini cuma diisi oleh dirinya dan Kise.
"Astaga.. hari ini panas sekali, ssu," keluh Kise sambil mengipasi dirinya dengan folder plastik kosong. Dasinya dilonggarkan dan tiga kancing kemejanya tidak dikaitkan, menyebabkan dada putih bidangnya terekspos kemana-mana. Untung nggak ada petugas wanita jam segini.
Aomine yang cuma mengenakan kaus berwarna putih yang terlalu kontras dengan kulitnya cuma bisa mendesah, "Hngg,", untuk menyahuti Kise.
Aomine membaringkan dirinya di sofa, masih lanjut kipas-kipas. Salahkan pendingin ruangan yang tiba-tiba rusak tanpa sebab sore tadi.
Ah.. ngomong-ngomong soal sore..
Tiba-tiba Aomine teringat soal kasus yang ditanganinya.
"Kise, jadi cuma tiga orang yang bisa kita lacak sejauh ini?" tanya Aomine sambil menariki leher kausnya untuk menyuplai udara ke daerah dada dan perut kotak-kotaknya.
"Begitulah, hanya ada tiga orang terlacak," Kise mengeluarkan buku catatan di saku celanananya. "Midorima Shintarou, Kazunari Takao, dan Kuroko Tetsuya. Tiga-tiganya pemain basket."
"Setidaknya, besok kita harus berhasil menemui tiga bocah itu,"
"Aku mengerti, ssu. Oh ya, Aominecchi, mengingat soal ledakan di mall itu, aku jadi berpikir, kenapa di ledakan sebesar itu tidak ada korban jiwa? Aku kira ini bukan ledakan untuk mencelakai seseorang, tapi lebih mirip ke arah sebuah.. gertakan?"
Aomine pun sempat berpikir demikian. Aomine hanya mengangguki pernyataan Kise.
"Kise, berikan aku data tentang mall itu," pinta Aomine sambil menjulurkan tangannya, dia tidak berniat bergerak dari kursinya.
Kise memberikan sekumpulan kertas yang dijepit dengan paper clip pada Aomine dan si detektif berkulit redup itu segera membacanya.
Setelah sekian menit membacanya, Aomine hanya bisa menangkap beberapa info. Entah jumlah informasi di bundelan kertas itu memang sedikit atau Aomine yang malas mencari informasi.
Yang pertama, gedung Aka Department Store dibangun setelah keluarga Akashi menghancurkan sebuah rumah sakit anak.
Aomine mengernyitkan alisnya.
-Tu-tunggu!
"Ki-Kise coba cari bangunan mana saja yang dimiliki keluarga Akashi yang berada di seputaran Tokyo,"
Kise memalingkan wajahnya malas pada Aomine. "Untuk apa, ssu?"
"CEPAT CARI! JANGAN BANYAK TANYA!" Aomine berteriak.
"Ha-ha'i!" Kise dengan sigap segera bergelut dengan laptop dan mesin pencari.
Aomine mengetuk-ngetukkan jarinya di mejanya, menunggu, berharap jika Akashi hanya memiliki sedikit bangunan di Tokyo.
"Aominecchi, aku sudah menemukan seluruh bangunan dengan kepemilikian Akashi!" seru Kise sambil menarik lengan kemeja Aomine yang tergelung.
Aomine menggeser kursi milik Kise lalu menggeser kursinya.
"Selain department store itu, mereka punya sebuah klinik, sebuah gymnasium, satu buah sekolah swasta khusus untuk putra, dan 5 buah minimarket," jelas Kise.
Aomine mengepalkan tangannya. "Kita harus bisa menghubungi Akashi secepatnya, agar kita bisa memasang pengamanan di semua bangunan miliknya!"
"Tapi kita bahkan belum mulai mencari korban-korban selamat lainnya untuk dimintai keterangan!" jawab Kise seolah menolak pemikiran Aomine.
"Kita bisa meminta bantuan divisi lain untuk menjaga bangunan-bangunan itu!" Aomine masih bersikukuh dengan keinginannya.
"Aominecchi!~ Bukankah Aominecchi bilang jika kasus ini hanya akan ditangani oleh kita, ssu?"
"KAU MENENTANGKU, HAH?!" Aomine menarik kerah kemeja Kise dan mengangkatnya. Sebelah tangannya teracung, mengepalkan tinju.
Tiba-tiba pintu ruangan mereka terbuka. Pria berumur 34 tahun bermata sipit di balik kacamata lensa beningnya masuk ke ruangan kerja divisi tiga yang dikomandoi oleh Aomine.
Siapa lagi kalau bukan Imayoshi Souichi.
"Aomine-han, hentikan," ucapnya dengan logat Kansai yang masih kental. "Kise-han, kau boleh menghajar Aomine-han sesekali jika dia mengamuk. Aku menginzinkannya," ucap Imayoshi sambil menepuk keras punggung Aomine.
Aomine terjengkang ke depan akibat pukulan maut Imayoshi.
"IMAYOSHI-KAICHOU!" amuk Aomine. "Hmph!"
Belum mulai Aomine mengamuk, Imayoshi sudah membekapnya.
"Aomine-han, sudah malam, jangan berisik," Imayoshi berkata dengan nada kalem. Aomine menepis tangan Imayoshi dari depan mulutnya.
"Imayoshi-kaichou, tumben kemari. Ada apa?" tanya Kise mengganti topik sebelum Aomine meneruskan amukannya.
"Ah, iya, aku cuma mau menyampaikan pesan dari keluarga Akashi," Imayoshi menaruh kertas yang tadi dibawanya. "Mereka meminta kalian untuk berhenti menyelidiki soal kasus pemboman itu,"
Aomine dan Kise terdiam, mematung. Mereka bahkan nyaris tak bernafas.
"Sudah, aku hanya ingin menyampaikan itu. Kutinggal dulu, 'ya? Jaa~"
Imayoshi langsung memutar tumit dan melangkah untuk mulai meninggalkan ruangan.
Mata Aomine terasa panas. Dia berkedip dan baru sadar jika dia perlu bernafas. Aomine mendapatkan nafasnya kembali dan menepuk punggung Kise untuk menyadarkan dia untuk kembali bernafas.
"U-ugh! Imayoshi-kaichou!" Kise mengejar Imayoshi setelah dipunggung Aomine. Imayoshi menghentikan langkahnya. "Perjanjian yang dibuat Aominecchi bagaimana? Apa kami akan dipecat?"
Imayoshi tersenyum sambil mengangkat kacamatanya.
"Tentu saja tidak, Kise-han. Kalian diminta berhenti, bukannya gagal. Sudah, 'ya?" Imayoshi melambaikan tangannya sambil melangkah pergi.
Kise menghela nafas lega.
Ketika dia kembali ke ruangannya, ditemukannya Aomine yang sudah mengepalkan tangan dengan wajah mengeras, gigi yang bergemeletukan, aura yang lebih menyeramkan daripada saat dia memasuki zone, dan suara geraman khas kucing besar.
"Aominecchi?" Kise memanggil nama Aomine ragu. Salah-salah dia bisa mental ke luar jendela yang sedang terbuka itu.
"AKU AKAN MENYELESAIKAN KASUS INI! MESKIPUN AKU HARUS DIPECAT!" Aomine berdeklarasi dengan cara berteriak. "KAU, KISE, KAU TETAP HARUS MENGIKUTI JALANKU! KITA AKAN DIPECAT BERSAMA-SAMA! BUKTIKANLAH KALAU KITA MEMANG TEMAN SEJATI!"
Kise ingin sekali berteriak sambil menendang Aomine dengan tendangan khas Kasamatsu yang disalinnya dengan sengaja tapi Aomine sudah menggila. Aomine tak akan pernah menarik kata-katanya kembali dan melawan Aomine sama dengan mati.
-Bunuh aku-
Kise jatuh berlutut. Dia menggaruk pintu kaca di dekatnya dan memasang muka paling tersakiti di dunia. "Kami-sama, cabut nyawaku sekarang."
Kise pingsan buaya setelahnya.
.
.
.
Akashi Seijuurou, mendribble bola basket di tangannya. Di saat orang lain memutuskan untuk diam di dalam rumah sambil memakan semangka dingin dan berair yang melegakan tenggorokan, Akashi memilih untuk melepas penat dengan bermain basket sendirian.
Tinggal sendirian di sebuah apartemen di pusat Tokyo membuatnya jenuh. Dia sudah bosan bermain shogi sendirian, dia juga bosan menunggu hasil rekonstruksi wajah yang dilakukan oleh Moriyama-sensei.
Dua hari lagi.
Dua hari lagi, maka dia bisa memulai untuk mengungkap kasus penginjak-injakkan harga diri keluarganya.
Akashi memasukkan bola basketnya dengan sebuah lay-up sederhana lalu meninggalkan bola begitu saja. Dia berjalan menuju bench dan mengambil botol air minumnya.
Dia mengambil handuk di tasnya dan menyadari ada sesuatu yang bergetar di sana. Merogoh tasnya, ternyata ada sebuah e-mail masuk.
Dia membaca pesan elektronik tersebut dan sejurus kemudian dia menyeringai iblis.
.
.
.
Tinggal 2 hari lagi sebelum ledakan, Shintarou, Takao, dan Kuroko mulai sibuk dengan tugas masing-masing.
Takao dan Kuroko bergantian mematai-matai klinik dan Shintarou sibuk mengurusi 'kembang api' mereka.
Shintarou mengayuh sepedanya dengan satu tas ransel hitam besar berisi bahan kimia yang ditaruhnya di keranjang sepedanya. Shintarou mengenakan pakaian casual musim panasnya dan mengenakan sepatu kets berwarna kuning, oke, itu lucky itemnya hari ini, menyusuri jalan pengguna sepeda dengan aman.
Hmm, sudah lama dia tak naik sepeda. Biasanya, 'kan, dia dibonceng Takao kemana-mana dengan gerobak.
Jika kalian tanya kemana Takao, Takao sedang nyopet seperti biasa untuk bahan membuat 'kembang api'.
"Shin-chan! Oi, SHIN-CHAN!"
Shintarou menghentikan laju sepedanya dan melempar tatapan sinis pada makhluk berisik berponi tengah bermata rajawali yang sedang lari-lari dramatis sepert gadis di komik shoujo yang ketinggalan bis.
-Oke, lebay emang.
Yup. Yang memanggil Shintarou barusan adalah Takao.
Takao berlari ke arahnya dan berhenti tepat di samping sepedanya.
"Shin-chan!" ucap Takao sambil mengatur napasnya.
"Apa, 'no dayo?" tanya Shintarou dingin.
"Ih, jangan kasar gitu, Shin-chan," Takao menepuk-nepuk punggung Shintarou, tak peduli dengan tatapan dingin Shintarou. "Ayo, pulang. Aku sudah mendapatkan ponselnya."
Takao membuka tasnya dan menunjukkan isinya. 5 buah ponsel keluaran terbaru semua.
Shintarou cengo dengan ketsundereannya. Kenapa semua sasaran Takao rata-rata ponsel-ponsel mahal?
"Ayo pulang!" seru Takao sambil melompat duduk di boncengan sepeda dengan posisi memunggungi Shintarou.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ, 'no dayo?" tanya Shintarou dan Takao nyengir tanpa dosa.
"Ayolah, Shin-chan, kali-kali kau yang bonceng aku~ Kutraktir sup kacang merah deh~"
Rayu Takao nggak modal.
Shintarou mendengus dan meletakkan kakinya di pedal sepeda.
Dan anehnya, Shintarou menerima rayuan tak bermodal itu.
"Jangan menyandarkan kepalamu di punggungku, Bakao." titah Shintarou.
Takao tertawa kecil dan menegakkan kepalanya.
Untuk pertama kalinya, Shintarou membonceng Takao tanpa banyak protes atau adu jankenpon.
.
.
.
Hari sudah mulai gelap, Kuroko berjalan tenang di depan lobby klinik, sama sekali tidak diperhatikan siapapun karena hawa keberadaannya yang tipis.
Setelah agak jauh, Kuroko memasuki sebuah gang sempit dan segera mengganti baju atasannya tanpa takut diperhatikan orang lain.
Dia lalu keluar dengan ponsel di tangan. Dia segera memanggil Shintarou, ketua atas semua operasi ini.
'Bagaimana hasil penyelidikanmu, 'no dayo?' tanya Shintarou di sebrang sana.
"Belum ada pasien yang masuk hari ini, jadi klinik tutup lebih cepat." jawab Kuroko.
'Bukannya aku peduli tapi segera kembalilah dengan cepat. Bantu kami mengurus bomnya,'
"Ha'i."
Sambungan kemudian terputus.
Kuroko menyimpan ponselnya dan menunggu bis menuju markas Shintarou.
.
.
.
Shintarou menuliskan sebuah pesan di ponsel curian Takao lalu memasukkannya ke dalam sebuah kantung kecil berwarna merah.
Mendesah lega, Shintarou menyandarkan punggung tegapnya di kursi yang didudukinya.
Kali ini Shintarou memang tidak merencanakan akan menghancurkan klinik Akashi sampai rata dengan tanah seperti yang dilakukannya pada mall milik keluarga Akashi itu. Bagaimana pun juga, klinik itu sangat dekat dengan toko-toko lain yang tak berdosa.
Shintarou melirik Takao yang sedang mengerjakan bom bersama dengan Kuroko.
Shintarou berdiri dari kursinya dan menghampiri tempat Takao dan Kuroko bekerja.
Shintarou mengambil salah satu kotak berisi bahan bom dan merangkainya sedemikian rupa bersama dengan ponsel itu.
"Bukannya aku peduli, Takao, tapi kau kenapa?" Shintarou angkat suara.
Takao tersentak dan segera tersenyum lebar kepada Shintarou. "Huh, memangnya aku kenapa?"
Shintarou mengalihkan pandangannya. "Bukan apa-apa. Lupakan,"
Takao kembali menekuni pekerjaan dengan ekspresi berbeda. Dia seperti memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Kuroko menyatukan kabel di tangannya dengan sebuah selotip dan menata bomnya ke dalam sebuah kotak kecil.
"Bomnya sudah selesai," ucap Kuroko sambil melepas sarung tangannya. "Boleh aku pulang?"
Takao meletakkan kotaknya di atas tumpukan kotak hasil rangkaian Kuroko. "Apa tak apa kau pulang tengah malam begini?" tanya Takao.
Kuroko mengangguk. "Aku pulang duluan. Mata ashita."
Kuroko membungkuk sopan dan meninggalkan gudang yang menjadi markas Shintarou dan Takao untuk membuat bom.
Shintarou berdiri dan mengejar Kuroko, dibelakangnya Takao mengikuti.
"Kuroko," panggil Shintarou. "Kemarilah ada yang ingin kubicarakan padamu."
Kuroko memutar langkahnya kembali untuk menghampiri Shintarou.
"Kuroko, kau yakin akan mengikuti jalan kami? Maksudku, kau sudah punya orang tua angkat, 'no dayo," Shintarou menaikkan kacamatanya canggung.
Kuroko menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak. Karena apa yang kalian lakukan adalah benar,"
Shintarou dan Takao mematung.
Atas alasan apa Kuroko menyebut tindakan pengeboman ini adalah benar?
"A-alasannya?" Takao bertanya.
"Kalian menghancurkan bangunan Akashi yang dibangun di atas lahan milik panti asuhan yang digusur paksa oleh mereka, 'kan? Delapan tahun lalu, pemilik panti asuhan dan semua stafnya meninggal secara misterius lalu seminggu kemudian panti asuhan itu dihancurkan dan diganti oleh sebuah klinik. Aku tak sebodoh itu untuk tidak menyadari bahwa lahan itu direbut paksa oleh Akashi. Hal itu pun berlaku atas mall Akashi. Jadi, bagiku tindakan kalian tidak salah."
Kuroko menjelaskan alasannya panjang lebar. Shintarou menaikkan kacamatanya canggung hanya untuk menutupi kalau dia tersenyum mendengar alasan Kuroko dan Takao menepuk bahu Kuroko senang.
"Aku tidak menyangka kalau kau akan membalas seperti itu,"
Kuroko tersenyum. "Karena kita akan menghancurkan Akashi bersama-sama, iya, 'kan?"
Shintarou menyeringai sambil mengulurkan tinjunya. "Tak cuma akan, tapi harus jadi."
Mereka menyatukan tinju mereka dan mengangguk bersamaan.
.
.
.
(SKIP TIME)
[20 minutes before explosion]
.
.
.
Ketika hanya rembulan musim panas di tengah gelapnya langit malam, Shintarou sudah siaga di salah satu game center kosong yang jaraknya 250 meter dari klinik. Di telinganya terpasang earphone yang terhubung dengan alat komunikasi radio yang menghubungkan dia dengan Takao.
Laptop di pangkuannya menyala, menampilkan sembilan kotak berisi video hitam-putih yang merupakan rekaman langsung kamera pengawas Akashi Clinic.
Menekan satu tombol di alat komunikasi radionya, Shintarou menghubungi Kuroko.
"Kuroko, masuk, kau bisa mendengarku?"
'Roger, aku bisa mendengarmu, Midorima-kun,'
"Dengar, Kuroko, berjalanlah sampai lurus sampai kau menemukan pertigaan menuju ruang otopsi lalu letakkan dua kotak di bawah tangga,"
'Ha'i,'
Shintarou menekan tombol lain untuk menghubungi Takao.
Selang beberapa detik terdengar bunyi 'DRZT' singkat dan suara Takao yang bertanya 'Masuk, Shin-chan,' terdengar.
"Bagaimana keadaan lantai satu dan dua?" tanya Shintarou.
'Bersih, Ace-sama,'
Shintarou berdehem malu sambil melihat layar laptopnya. "Mundur 15 langkah," perintah Shintarou.
Di layar, terlihat Takao yang berjalan mundur sampai ke satu pilar besar.
"Tempelkan bomnya disitu," perintah Shintarou lagi.
Takao meletakkan dua buah kotak ke lantai dan mengeluarkan lakban. Dia merekatkan bom itu dengan lakban dengan cepat lalu berlari turun menuju lantai dasar.
Tanpa menutup sambungannya dengan Takao, Shintarou menghubungi Kuroko lagi.
"Ke ruang otopsi, Kuroko," Shintarou memberi perintah begitu sambungan terhubung.
Kuroko berlari cepat menuju ruang otopsi.
Kuroko berhenti berlari saat melihat satu pria berpakaian khas komputer melintas dengan satu buah tablet di tangannya.
'Aku mendapat masalah, Midorima-kun,' ucap Kuroko.
Shintarou mengalihkan kamera pengawas dengan satu gerakan jari di laptopnya.
"Bius dia segera,"
Kuroko masih tidak disadari keberadaannya. Mengikuti langkah dokter yang baru saja melewatinya, Kuroko mengeluarkan suntikan berisi obat bius dan dengan cepat Kuroko membius dokter yang kebetulan lewat itu.
Dokter itu ambruk dengan wajah terlebih dahulu mencium lantai dan Kuroko tanpa perasaan menyeretnya menjauh dari klinik lewat pintu belakang. Kuroko terus menyeret dokter itu sampai ke gang di sebelah toko laundry yang berada di sebrang.
"Midorima-kun," ucap Kuroko sambil mengatur napasnya yang tersenggal. "Dokter itu sudah aman, kami ada di sebrang sekarang."
'Kau diam saja di situ a-'
Earphone-nya terlempar jauh, Kuroko tak bisa mendengar kelanjutan kalimat Shintarou karena tiba-tiba dia merasakan kepala belakangnya seperti meledak. Dia membuka matanya sambil menahan sakit. Ada cairan hangat yang mengalir di belakang kepalanya.
"Kau akan berakhir disini,"
[NGINGG...]
Kuroko berusaha mempertahankan kesadarannya, meski didera sakit kepala luar biasa dan dengingan menyakitkan tapi rasa sakit itu menguasai Kuroko terlalu banyak.
... suara itu...
"Kuroko Tetsuya."
... suara iblis.
.
.
.
Takao berlari menuju ruang kontrol yang berada di lantai dasar dengan cepat dengan satu kotak hitam berisi bom di tangannya.
Sesampainya di sana, dia meletakkan bom itu di bawah sebuah meja dan menyambungkan satu kabel ke katodanya. Sejurus kemudian, layar berwarna kuning menyala dengan timer countdown yang bergerak menghitung mundur.
[04 : 59 : 55]
Takao keluar secepat kilat sambil menghubungi Kuroko dan Shintarou.
"Empat menit! Kuroko-kun, Shin-chan keluar! Sekarang!" teriaknya sambil menerobos pintu samping lalu berlari menuju jalan raya.
Sekitar satu menit kemudian, Shintarou juga keluar dari jalan yang sama dengan tas ranselnya.
Mereka harus sembunyi secepatnya, bagaimana pun juga, CCTV kota masih menyala.
"Kuroko-kun ada dimana?" tanya Takao.
"Sudah keluar terlebih dahulu," jawab Shintarou.
Mereka menghentikan lari mereka ketika melihat satu buah limusin memblokir jalan mereka.
Pintu limusin itu terbuka dan selang beberapa detik kemudian, sebuah kepala berambut merah muncul.
"Akashi..." gumam Shintarou sambil melangkah mundur.
"Ohisashiburi, da ne, Shintarou-kun?" ucap Seijuurou berdiri di depan mereka dengan angkuh.
Takao dan Shintarou mengangguk bersamaan lalu berlari ke arah depan dengan cepat.
"KEJAR MEREKA!" teriak Seijuurou dan sekelompok pria berpakaian hitam-hitam berbadan kekar meyeramkan keluar dari mobil di sebrangnya.
Shintarou dan Takao bersamaan melompat dan menjadikan tangan mereka sebuah tumpuan untuk melentingkan diri keluar dari blokiran limusin Seijuurou. Mereka berdua lalu berlari ke arah yang berbeda. Pasukan bodyguard Seijuurou juga ikut berpencar untuk mengejar mereka.
BUUUMMMM!
Bom itu meledak. Bagian tengah gedung milik keluarga Akashi mulai bergetar dan hancur dengan runtuhan batu dan beton.
Seijuurou yang berada sangat dekat dengan klinik milik keluarganya itu melompat kaget karena suara ledakan itu. Dia berusaha melindungi kepala dari reruntuhan sambil berlari menuju ujung gang tapi belum sempat dia melompati limusinnya, kakinya terkena satu potongan beton dan dia tak dapat bergerak.
Dia berusaha menarik kakinya sebelum lebih banyak lagi reruntuhan yang mengenainya. Dengan perjuangan keras, Seijuurou berhasil menarik kakinya lalu dia menyeret langkahnya untuk berjalan agak jauh dari sana.
BUUMMM! BUMMMM! BBLLLLAAARRRRR!
Dua ledakan menyusul dan kini Seijuurou hanya bisa melihat klinik kebanggaan keluarganya rubuh sebagian.
Seijuurou mengepalkan tangannya geram.
Menghiraukan debu reruntuhan yang menutupi pandangannya, Seijuurou tanpa sadar meneteskan air matanya.
... Aku tak bisa melakukan apapun.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's Note :
Yahooo, ada yang menantikan fic nista ini?
Oke, aku minta maaf karena ini lama update. Maklum, mulai sibuk dengan dunia sekolah. Gomen, ne?
Huft, nggak bisa bacot nih. MAKASIH UDAH REVIEW/FAV/FOLLOW! AKU MENCINTAI KALIAN MELEBIHI CINTAKU PADA KAGAMI YANG BARU ULANG TAHUN 2 HARI LALU!
.
.
.
MIND TO REVIEW?!
.
.
.
Shintaro Arisa, out!
