Chapter 4 Part I : Regain Memories
.
.
.
Shintarou berlari. Tak peduli bahwa jam sudah menunjukkan waktu dini hari, Shintarou terus berlari.
"Midorima?!"
Shintarou menghentikan langkahnya saat dia melihat satu orang yang dikenal sebagai Juragan Nanas SMA Shuutoku tahun lalu, siapa lagi kalau bukan abangnya Yuuya Miyaji, Kiyoshi Miyaji, yang sekarang sudah duduk di bangku perguruan tinggi.
Ternyata benar, dulu Ootsubo-senpai pernah cerita kalau Miyaji itu lebih dari pada yang lain soal latihan, dan kini Shintarou melihat dengan mata kepala dan kacamatanya sendiri.
"Se-senpai," Shintarou membungkuk canggung.
"Kamu ngapain? Latihan pagi? Ah, kudengar dari Yuuya, kamu jarang latihan, 'ya?"
-Bukan jarang lagi, Miyaji-san, tapi nggak pernah. Lagipula Miyaji-san sendiri ngapain?-
Shintarou menjawab dalam hati.
Miyaji merangkul Shintarou dan Shintarou terpaksa menekuk sedikit lututnya. Dosanya ketinggian.
"Kuberitahu kau sesuatu. Meskipun tahun ini Seirin baru menguasai Interhigh, bukan berarti Shuutoku harus kalah lagi di Winter Cup, paham?"
Mijayi membisiki Shintarou dengan suara iblisnya. Shintarou merinding jadinya.
"Yah," Miyaji melepas rangkulannya dan menaikkan tudung jaket sewarna peach-nya. "Aku akan bilang pada Yuuya kau masih latihan, meskipun nggak bersama klub. Oh ya, ngomong-ngomong Takao dimana?"
Shintarou mengalihkan wajahnya, dalam hati dia cemas karena si rajawali berisik itu.
"Aku tidak mau tahu dimana makhluk itu,"
Shintarou tsundere, ingat itu.
"Ya sudah, aku duluan, 'ya. Jaa~" Miyaji mulai berlari lagi. "Oh ya, kipas MiyuMiyu-ku! Nanti titipkan pada Yuuya saja!"
Shintarou menghela nafas.
'Sial, aku harus buru-buru!'
Shintarou mengikuti langkah Miyaji untuk berlari namun dengan arah yang berlawanan.
.
.
.
Midorima Shintarou, 16 tahun, teroris dua kasus ledakan.
Kazunari Takao, 16 tahun, teroris dua kasus ledakan.
Kuroko Tetsuya, 16 tahun, teroris satu kasus ledakan.
Sayang sekali, sepanjang musim panas ini, mereka belum juga jadi siswa SMA biasa.
.
.
.
Disclaimer : Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Warning : Standart Applied
Enjoy!~
.
.
.
.
Shintarou berlari menuju rumahnya.
Iya, sebuah rumah tiga lantai bercat kuning gading dan putih yang diisi oleh 10 orang anak kecil, dua remaja, dan satu orang dewasa.
Rumah yang di depannya tertulis, 'Panti Asuhan Araki' adalah rumah yang ditempati Shintarou enam tahun terakhir, setelah dia kabur bersama 89 anak lainnya dari penampungan anak milik keluarga Akashi.
Di sini, dia mengenal siapa Takao. Bocah berisik yang membantunya dalam aksi pembakaran penampungan itu, dulu selalu mengaku tak memiliki nama. Dia hanya menyebutkan bahwa dia adalah 3111.
[NGINGG...]
"Akh!" Shintarou menghentikan langkahnya. Dia bukan Kagami yang bisa berlari lalu berhenti mendadak tanpa kehilangan pusat gravitasi pada kakinya. Dia lalu jatuh berlutut begitu serangan sakit kepala akibat mengingat masa lalu datang.
[NGGGIINNNGGG...]
Dengingan itu semakin panjang dan menusuk kepalanya.
Shintarou menjenggut rambutnya dan menahan rintihannya dengan menggigit bibirnya. "Akh!"
Rasa sakit semakin menusuk, membuat Shintarou kehilangan nafas normalnya, membuat mata minusnya semakin rabun.
[NGINGG!]
"ARRRGGHHH!" jeritnya kesakitan.
TESS.. TES... TESS..
Hidungnya meneteskan darah dalam jumlah yang tak sedikit. Shintarou menduga-duga, apa dia akan mati jika dia berhasil mengingat semua ingatannya.
Shintarou berdiri dengan kakinya yang bergetar tapi dia langsung ambruk. Tidak, bahkan dia sudah tak bisa mengontrol dirinya untuk berdiri karena sakit kepala yang melandanya.
Shintarou menggeser dirinya untuk bersandar pada tembok pembatas dan mengatur nafasnya yang berantakan karena sakit kepalanya.
Ponselnya berdering dan suaranya menggema di sepanjang jalan dimana hanya dia sendiri yang berkeliaran di saat dini hari seperti ini.
Shintarou mengeluarkan ponselnya, mengabaikan rasa sakit menusuk-nusuk, malah sekarang rasanya seperti sedang dipukul-pukul oleh palu di belakang kepalanya, dia menekan tombol hijau dan mendekatkan speakerphonenya ke dekat telinganya.
'Shin-chan,'
Itu suara Takao. Syukurlah, dia baik-baik saja.
'Shin-chan, kau baik-baik saja?'
"Hm-mh," jawab Shintarou sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit.
Sayang, pendengaran Shintarou salah.
'Shin-chan,' suara Takao terdengar lemah. Tidak seperti biasanya. 'Aku takut.'
Pendengaran Shintarou memang salah.
Takao sedang tidak baik pada kenyataannya.
Shintarou mejauhkan ponselnya dan mengepalkan tangannya, sampai kuku-kukunya menebus kulit telapak tangannya, untuk menahan sakit yang semakin menjadi-jadi.
Dia mendekatkan kembali ponselnya, berusaha mempertahankan kesadaran yang hampir lepas karena rasa sakit bajingan ini, dan mendengar suara Takao yang lemah di ujung sana.
'Aku mengingat semuanya, Shin-chan. Aku mengingat semua kehidupanku sebelum di penampungan, akh! Hehe, sekarang aku bahkan tak bisa berdiri. Sakit sekali,'
Kenapa? Kenapa Takao masih bisa tertawa di saat-saat seperti ini?
"Ugh," Shintarou menegangkan badannya, akibat rasa sakit itu. "Ja-jangan tertawa, Bakao, ugh, aku juga merasakannya!"
Shintarou terbatuk hebat, sampai dia memuntahkan seluruh isi perutnya yang baru setengah tercerna.
'Shin-chan!' seru Takao panik mendengar Shintarou terbatuk seperti itu. 'Shin-chan, bisa dengar aku?!'
Shintarou menyusut cairan kental di dagunya dan bersandar kembali. Sial, rasa sakitnya belum berkurang dan kesadarannya semakin menipis.
"Aku baik-baik saja, na-nano dayo,"
Shintarou menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk kalimat sederhana itu.
'Shin-chan,' suara Takao yang lemah terdengar lagi. 'Kata mereka, kalau kita mendengar dengingan itu kita-'
Shintarou tak bisa mendengar suara partnernya lagi saat dunia di matanya menjadi lebih gelap.
.
.
.
Kuroko terbangun dan merasakan kepalanya sejuta kali lebih berat dari biasanya.
"Ukh," dia mencoba mengganti posisi tidurnya menjadi duduk sambil menahan sakit di kepalanya.
Ruangan tempatnya gelap. Meskipun ada sebuah ventilasi di pojok atas ruangan, tapi sepertinya hari masih gelap jadi dia belum bisa melihat apapun.
'Aku dimana?' dia bertanya pada dirinya sendiri.
Saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, dia tahu dirinya seperti ada sebuah gudang.
Kuroko berjengit saat dia menyentuh belakang kepalanya dan merasakan bahwa rambut biru pudarnya itu lepek.
'Aku pasti dipukul sangat keras sekali sampai seperti ini,' gumamnya sambil berjengit.
Kuroko mulai mengingat apa yang terjadi sebelum dia berakhir di ruangan misterius ini.
Dia sedang berkeliling klinik dengan enam buah bom rakitannya bersama Takao dan Shintarou, lalu saat diperjalanan dia bertemu dengan seorang dokter. Dia membius dokter itu dan menyeretnya keluar dan tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang.
Kuroko meringis lagi saat luka di belakang kepalanya menyengat dirinya dengan rasa sakit.
-Bagaimana dengan bomnya? Apa mereka berhasil meledakkan klinik itu?
Tiba-tiba matanya diserang oleh cahaya cukup terang, rupanya pintu dihadapannya dibuka oleh seseorang. Dia menyipitkan matanya, belum terbiasa dengan cahaya terang. Dia mengedipkan matanya, mencoba mengadaptasikan matanya lagi.
Saat matanya mulai terbiasa dengan suasana gelap dan terang, Kuroko melihat.
Putera iblis pemilik penampungan..
.. Akashi Seijuurou...
.. berjalan mendekatinya.
Tidak.
"Hai, Kuroko-kun, masih ingat aku?" tangan Seijuurou mengangkat dagu Kuroko, memaksa aquamarine milik Kuroko bertemu dengan iris heterokrom Seijuurou.
Kuroko tak bisa berkata apapun. Dia takut. Entahlah, tapi saat matanya bertemu dengan mata heterokromik yang selalu memancarkan aura mengintimidasi itu, Kuroko tak bisa berbuat apapun.
Tiba-tiba, Seijuurou menjatuhkan kepalanya ke bawah dan menginjak kepalanya. Dengan tindakan seperti itu, Kuroko tak bisa menghindar dan akhirnya hidungnya mencium lantai dan berdarah.
"Kepalamu terlalu tinggi, Kuroko. Bersujudlah padaku," ucapnya dingin.
Kuroko diam. Dia tahu bahwa badannya sudah bergetar, dia terlalu takut. Di saat-saat seperti ini, mungkin jika dia bersama Kagami atau siapapun, dia mungkin tak akan merasa setakut ini. Tapi sekarang dia cuma sendirian. Siapa yang akan menolong kalau begitu?
Seijuurou melepas kakinya dari kepala Kuroko dan mengangkat pemain invisible klub Seirin itu dan medorongnya ketembok.
DUG! Kepala belakangnya menabrak tembok lagi. Kuroko meringis, tidak berani berteriak.
"Aku akan melepaskanmu," ucap Seijuurou dingin.
Manik heterokromik itu menyebarkan teror ke sekujur tubuh Kuroko.
"Dengan syarat, beritahu apa tujuan sebenarnya Shintarou dan Kazunari, atau perlu kusebut 707 dan 3111?"
Bibir Seijuurou mengulas senyum iblis turunan ayahnya.
"A-aku tidak tahu!" jawab Kuroko ketakutan.
"TAPI KAU ADA BERSAMA MEREKA! KAU ADA DI KLINIK KELUARGA KAMI SEBELUM TERJADI LEDAKAN!" teriaknya. "Aku tidak akan menyakitimu, Kuroko-kun. Bukannya ini mudah? Kau hanya perlu menjawab dan aku tidak akan menyakitimu lebih dari ini,"
Ucapan sedingin es kutub utara Seijuurou membuat bulu kuduk Kuroko berdiri.
"Ti-tidak akan," tolak Kuroko.
JDUAGH! BRUK! TRANGG!
Seijuurou mencekik Kuroko dan melemparnya ke tumpukan kardus-kardus tua.
Kuroko meringis, punggungnya sakit sekali.
"Kuberitahu satu hal, Kuroko-kun," Seijuurou memutar tumitnya, berjalan menuju pintu keluar. "Jika benar, mereka menganggapmu teman, mereka akan menyelamatkanmu. Tenang saja, kasus ini tak akan diusut oleh kepolisian. Jadi, bertahanlah sampai ajalmu tiba, Tetsuya."
Pintu tertutup. Seijuurou sudah pergi untuk sementara.
Dia menyandarkan punggungnya yang nyeri ke tembok dan meringis. Punggungnya seperti dibakar rasa sakit. Berdenyut-denyut sampai dia kesulitan bernafas.
Tak lama kemudian, Kuroko kehilangan kesadarannya lagi.
.
.
.
"GAAHHHH!" erang Aomine sekuat tenaga sambil menendang mejanya. "GAH! AKASHI SIALAN!"
Kise menghela nafas. Dia sedang menahan diri untuk nggak melempar folder berat di meja ke wajah Aomine.
"Aominecchi-"
"Diam kau, Kise! Aku stress tau!" potong Aomine menggelegar. Nggak sadar diri kalau di kantor yang jam segini, dini hari maksudnya, cuma dia yang paling ribut.
Aomine sudah ribut-ribut meneriakkan 'Akashi sialan' dan 'GAHH'nya yang seperti erangan kucing besar selama 3 jam terakhir dan itu membuat telinganya sakit. Belum lagi, dia sudah kelelahan. Ayolah, Kise ingin matanya beristirahat. Sudah dua minggu dia tidak bisa tidur dengan normal. Biasanya dia tidur 5-6 jam, untuk menjaga ketampanannya, tentunya. Tapi akhir-akhir ini dia tidur 2-3 jam, malahan sudah beberapa kali dia nggak tidur sama sekali dan lagi dia nggak berani tidur siang waktu jam kerja.
Tolong catat kalau dia bukan Aomine yang bisa tidur seenak udelnya. Mau jam berapapun itu.
Iya sih, kantor ngasih waktu istirahat untuk tidur siang, tapi Kise suka kebablasan kalau tidur siang. Tidur siang satu jam sih kurang, apalagi kalau kecapekan.
Dan Kise nggak mau diamuk sama Kasamatsu. Bisa patah jadi tujuh bagian pinggangnya nanti.
"AKASHI SIALAN!" umpat Aomine lagi.
"Aominecchi, sudahlah," ucap Kise jengkel sambil menggaruk kepalanya frustasi. Rambutnya sekarang lebih acak-acakan lagi. "Sudah jam tiga pagi, ssu."
"Tidak! Aku masih kesal! Coba saja Akashi tidak melayangkan surat penghentian penyelidikan pasti ledakan kedua tidak akan terjadi! Bagaimana kalau ada ledakan ketiga atau keempat atau bahkan kelima?! Kau ingin Tokyo rata dengan tanah?!"
Kise mengusap wajahnya kasar. Frustasi. Stress. Sakit kepala. Migrain. Kepala Kise ingin meledak rasanya!
Aomine menghempaskan dirinya ke kursinya dan menghela nafas.
Sip. Aomine jadi tenang. Kise bersyukur pada Kami-sama dalam hati.
"Aku masih tak mengerti dengan tujuan mereka yang sebenarnya," Aomine berkata dengan tenang sambil mengurut pangkal hidungnya. "Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan?"
Kise melihat atasannya itu iba.
Setelah dipikir-pikir, Aomine itu sangat peduli dengan anak kecil. Selain karena dulu adiknya meninggalkan karena tabrak lari, semenjak dia menjadi anggota satuan penegak hukum dia lebih sering mengurus soal kasus yang melibatkan anak-anak.
Yah, siapa yang sangka kalau hati Aomine bisa lembek?
"Kita belum menyelidiki latar mereka, 'kan? Jika kita berhasil mengumpulkan latar belakang mereka yang masih hidup, mungkin kita bisa mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya," Kise menjawab untuk menghibur Kise.
"Jadi, artinya, kau mau ikut membelot perintah Imayoshi?"
Kise menggaruk pipinya. "Apa boleh buat, 'kan? Aku, 'kan, bawahanmu, ssu."
Aomine tertawa.
"Oke, kita istirahat. Nanti pagi, kita mulai mencari latar belakang mereka," putus Aomine sambil mendorong kursinya menuju sofa lalu dia berbaring di sofa hitam itu.
"Gimana kalau kita melihat klinik itu dulu?" usul Kise sambil menutup laptopnya lalu menguap.
"Masih banyak petugas. Tapi, baiklah, kita akan kesana nanti pagi."
Aomine mendengar suara dengkuran dari mulut Kise sebagai respon.
"Sialan, dia malah tidur."
Aomine mau marah, menggaplok kepala si mantan model, tapi Aomine tahu jika wakilnya itu sudah kelelahan.
Aomine menutup matanya, menyembunyikan manik sewarna berlian biru tuanya, dan beristirahat. Ah, dia benar-benar kelelahan.
.
.
.
Shintarou terbangun dan melihat langit-langit putih dengan mata minus tanpa kacamatanya. Ya, Shintarou tahu, kalau ini kamarnya di panti. Dia sangat ingat stiker bola basket yang sengaja dipasang Takao di setiap sudut langit-langit.
Shintarou mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum dia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dia meraba meja nakasnya dan mendapatkan kacamatanya. Dia langsung mengenakan benda penolong matanya itu.
Ah, sudah berapa lama dia pingsan?
Kepalanya terasa berat, entah kenapa. Dia mengurut pelipisnya dan meringis sebentar.
Pintu kamarnya dibuka, menampilkan wanita bermuka dingin dengan rambut hitam panjangnya yang dikuncir.
"Shintarou-kun," ucapnya lembut.
Araki-sensei menghampiri Shintarou dan memegang keningnya. "Sudah nggak panas lagi. Syukurlah, aku panik sekali melihat kau pingsan di jalan."
Araki-sensei meskipun wajahnya dingin, tapi hati wanita berumur yang hampir menginjak usia 37 tahun itu sangat hangat. Buktinya, sudah puluhan anak pernah diasuhnya di panti asuhan ini.
"Takao dimana?" tanya Shintarou.
Shintarou khawatir. Terakhir kali saat dia mendengar suara Takao, Shintarou tahu jika makhluk yang satu itu sedang tidak baik-baik saja.
"Lho? Bukannya kalian pergi bersama tadi malam?"
Shintarou mendecih lalu sibuk mencari ponselnya.
"Mencari ponselmu?" Araki-sensei merogoh saku apronnya dan mengeluarkan benda persegi panjang berwarna hijau milik Shintarou. Shintarou mengambil ponselnya dan melihat notifikasinya.
Hanya ada satu SMS dari Takao.
[Aku selesai]
Shintarou menggigit bibir bawahnya. Apa maksud SMS Takao? Shintarou semakin khawatir.
Ketika dia berdiri, dia merasakan seperti darahnya seolah turun semua meninggalkan kepalanya, menyebabkan matanya semakin berkunang-kunang, dan keseimbangannya hilang, seolah-olah dia baru saja terkena ankle break Seijuurou. Dia terjatuh ke depan dan berhasil ditahan Araki-sensei.
"Shintarou-kun!" Araki-sensei menahan berat tubuh Shintarou dan pelan-pelan mendudukkannya kembali di tempat tidur.
"Takao, aku harus mencari Takao," Shintarou berusaha berdiri lagi, dan dia berhasil, meskipun keseimbangannya belum sepenuhnya kembali. "Sensei, jika Takao kembali sebelum aku, tolong kabari aku, 'no dayo,"
Belum sempat Araki-sensei menjawab, Shintarou sudah melesat pergi mencari partnernya itu.
.
.
.
Shintarou mengambil sepeda di garasi. Ada satu mobil SUV hitam parkir di depan panti.
Shintarou tidak peduli.
Prioritasnya sekarang mencari Takao.
Setelah dia membuka gerbang, dia segera mengendarai sepedanya menuju daerah sekitar ledakan kemarin. Tapi dia mengambil jalan memutar untuk menghindari petugas-Shintarou takut kalau CCTV jalanan sudah diperiksa- dan mencari Takao ke daerah mereka biasa bertemu Kuroko di halte sepulang sekolah.
Shintarou terus mengayuh sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia takut.
Shintarou ketakutan. Shintarou takut menerima kenyataan yang akan dihadapinya.
Apa maksud 'aku selesai' yang dikirim Takao?
"Kami-sama," desahnya khawatir.
Bu-bukannya apa-apa.
Bukannya Shintarou peduli pada Takao! Tapi Shintarou benci kehilangan. Sudah cukup dia kehilangan orang tuanya dan Shizuko, adik perempuannya, di penampungan. Dia tak mau kehilangan lagi. Seberisik-berisiknya Takao, Shintarou sudah bersamanya lebih dari 6 tahun.
Sepedanya berhenti ketika dia melihat Takao tiduran di bangku halte dekat universitas.
Shintarou melompat dari sepedanya dan segera menghampiri Takao.
"Takao! Takao!" dia menepuk pipi si rajawali. Shintarou semakin panik saat dia menyadari bahwa tubuh Takao dingin.
"Takao!"
"Midorima Shintarou, benar, ssu?"
Suara cempereng-tegas itu memanggil namanya.
Shintarou berbalik dan melihat dua orang pria berkemeja dan bercelana panjang hitam kucel, dengan dasi yang disimpul asal-asalan, dan muka yang nggak kalah kucelnya.
"Siapa kalian, 'no dayo?" tanya Shintarou dingin sambil membentang satu tangannya. Memberi tanda kalau mereka tidak boleh mendekati Takao barang sesenti pun.
Mereka mengeluarkan sebuah lencana yang dibungkus oleh kulit berwarna hitam.
"Kami dari Kepolisian. Aku Inspektur Aomine Daiki."
"Wakil Inspektur Kise Ryouta, ssu."
"Kami kemari untuk menemui kalian berdua. Kalian terlibat dalam kasus ledakan-ledakan ini, 'kan?"
Satu hal yang perlu diingat oleh Shintarou, jangan lihat seseorang dari pakaiannya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Author's Note :
Huweee, maafkan aku yang kelamaan update! Gomennasai, ssu!~
Bukannya apa-apa, akhir-akhir ini aku di duta sibuk banget. Sial, emang, PR-ku numpuk banget.
Nah, AoKise udh ketemu tuh sama MidoTaka. Gimana nasib Kuroko?
Ditunggu aja ya!~
Oh ya, makasih udh review. Beberapa udh kujawab di PM kan? Makasih juga yang udh Favorite sama Follow! MAKASIH BANGET! AKU TANPA KALIAN BAGAIKAN JARINGAN EPITEL!~ SANKYUU~
.
.
.
MIND TO REVIEW? Makin banyak review, makin cepet update (gk janji juga, ding. Yang jelas gk akan berbulan-bulan.)
.
.
.
Shintarou Arisa, out.
