Chapter 4 Part II : Truth

.

.

.

Aomine menggeliat tak nyaman di sofa ruang kerjanya. Dia menutup kupingnya dengan kedua tangannya tapi dering ponselnya tak mau lenyap.

'Konspirasi macam apa ini?! Apa dunia sudah tak mengizinkanku untuk tidur barang semenit?!' jeritnya dalam hati nggak nyambung. Entahlah, otak Aomine jarang sinkron secara otomatis.

Lagipula, Aomine sudah tidur selama satu jam. Setidaknya, dunia sudah mengizinkanmu untuk selama 60 menit, Aomine.

Dia melompat ke mejanya dan mengambil ponselnya. Layar ponselnya menampilkan nama kontak 'Wakamatsu-san'.

Aomine mengangkat panggilan itu.

"Halo..." sapanya malas-malasan sambil menguap.

["Kupikir kau akan mengangkat teleponku sesaat setelah aku mengirimimu e-mail berisi foto majalah pornomu yang kubakar,"]

Aomine mendengus geli menanggapi candaan kejam Wakamatsu. Entah sudah berapa majalah yang sudah dibakar Wakamatsu sepanjang dia mengenal pria itu. "Kau pikir kita masih SMA? Kau bahkan sudah berkeluarga,"

["Hahahaha, lalu kau sendiri kapan akan berkeluarga? Menjadi jomblo lapuk selamanya? Aku heran mengapa pecinta porno sepertimu justru belum menikah. Jangan-jangan-"]

"Aku lebih heran lagi mengapa kau selalu mengangkat topik ini untuk mengalahkanku dalam adu mulut," potong Aomine sengit. Demi apapun, dia tidak mau masalah cintanya dibahas. "Lagipula, aku sudah tobat dengan majalah porno, aku sibuk. Tak sempat lagi aku baca majalah itu dan satu hal lagi Wakamatsu-san, aku tidak mengalami disorientasi seksual,"

Wakamatsu tertawa iblis di sebrang sana.

Dia teringat saat dia melihat Aomine membaca novel dewasa saat dia di rumah sakit (saat itu Aomine dirawat akibat menderita luka tusuk di perut saat menangkap tersangka kasus mutilasi anak-anak yang bersembunyi di Kanagawa) dan Wakamatsu mengira Jepang akan menjadi negara tropis karena itu.

Tawanya Wakamatsu pun semakin liar menghina Aomine (secara tidak langsung). Dari sekedar 'hahahaha' menjadi 'mwahahabwahahaha' yang amat kejam.

"Jadi, sebenarnya ada apa? Rasanya aneh jika kau tiba-tiba meneleponku di pagi buta begini hanya untuk menyindir masalah cintaku," Aomine menjatuhkan diri ke kursinya dan bersandar sesantai mungkin. Uwaahhh, bahkan sekarang kursinya itu sangat nyaman dipakai tidur.

Tapi Wakamatsu tertawa lebih keras, entah apa yang lucu, membuat Aomine tak bisa memejamkan matanya. Wakamatsu terus tertawa sampai Aomine sudah mengerutkan keningnya, nyaris menautkan alisnya.

["Hahaha, maafkan aku, Aomine. Entah kenapa rasanya lucu mendengar kau berucap sopan pada orang yang lebih tua. Asal kau tahu dulu aku sempat membencimu karena sifat seenak udel dan keras kepalamu itu, hahahaha,"]

Dia menghela napas.

Jarinya sudah siap sedia di tombol 'end call' tapi Wakamatsu memotongnya cepat dengan nada serius.

["Bisa kalian ke TKP?"]

Aomine menggaruk kepalanya. "Maksudnya, lokasi ledakan kedua itu?"

["Yap. Kami menemukan sesuatu di sini. Tapi kudengar kalian tidak diizinkan mengusutkan kasus ini lagi, bukan?"]

"Kami akan ke sana." tandas Aomine sambil menekan tombol 'end call' tanpa sadar.

Dia mengguncang tubuh Kise yang masih nyenyak tidur di meja kerjanya dengan brutal sampai si polisi yang dulunya adalah model itu terperanjat dan jatuh dari kursinya.

"Mou, Aominecchi..." rengeknya. Matanya berkaca-kaca, mungkin akibat rasa sakit mendadak di bokongnya.

"Kita berangkat," perintah Aomine sambil menarik jaketnya. Kise melirik jam tangannya, baru jam empat pagi.

"Tapi, masih jam empat," Kise berdiri menepuk celana, protes level 1.

Aomine berbalik dan mengulurkan tangannya dengan wajah galak. "Wakamatsu-san menemukan sesuatu di TKP. Kalau kau tak mau pergi, aku sendiri pun tak masalah. Berikan kunci mobilnya."

Kise merengut. "Bukannya tidak mau," ucapnya sambil memakai jaket dan mendahului Aomine keluar dari ruang kerja mereka. "Ayo berangkat, kanshikan."

Aomine menyeringai memukul kepala belakang Kise sambil tertawa.

"Aomine-san, Kise-san,"

Salah seorang bawahan mereka memanggil mereka sambil berlari tergopoh-gopoh. Tangannya dipenuhi folder-folder dan amplop.

"Su-sumimasen, Aomine-san, i-ini hasil pe-pencarian kami,"

Petugas bernama Sakurai Ryo itu menyerahkan folder-foldernya kepada Aomine dan Aomine segera memindahkan semuanya ke tangan Kise.

Kise menerima sambil dalam hati menjerit atas sikap Aomine yang menganggapnya pembantu.

Aomine membuka salah satu folder secara acak dan melihat foto anak kecil yang berambut coklat dan terlihat sedih.

/Subjek 0101 : Sakurai Ryuuto (meninggal)/

Aomine membandingkan wajah di foto itu dengan wajah Sakurai di depannya.

"Apa dia adikmu?" tanya Aomine sambil menunjuk-nunjuk foto itu.

Sakurai menggeleng pelan. Dia memalingkan wajahnya dan dia mengepalkan tangannya. "Dia kakak kembarku."

Aomine bahkan baru tahu jika Sakurai adalah anak kembar dan kakaknya sudah meninggal mengenaskan di penampungan.

"Ryo, adikmu, kenapa bisa ke penampungan?"

Sakurai mengangkat wajahnya, menatap iris biru gelap Aomine dengan tajam. Wow, Aomine bahkan baru tahu jika petugas paling malu-malu di markasnya itu bisa melakukan tindakan mengerikan seperti itu.

"Dia ke penampungan karena dia bodoh. Su-sumimasen, aku harus kembali."

Mungkin suatu dendam khusus yang membuat Sakurai terus meminta maaf.

Aomine mengedikkan bahunya sambil menggeleng. "Ayo, Kise, kita berangkat."

.

.

Aomine Daiki, 32 tahun, single, detektif.

Kise Ryouta, 32 tahun, single, detektif.

Mereka bergerak mengungkap kasus berantai ini.

.

.

.

Disclaimer : Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

Warning : Standart Applied (tambahan, mungkin chapter ini banyak karakter yang tambah super OOC)

Happy /apanya yang happy, BakArisa?!/ Reading!

.

.

.

Shintarou menatap tajam kedua aparat penegak hukum di depannya. Tak ada todongan senjata atau semacamnya. Mobil yang mereka gunakan adalah SUV yang tadi dilihatnya parkir di depan panti.

"Apa aku harus mengangkat tanganku ke udara seperti penjahat yang tertangkap basah, Aomine-kanshikan?" tanya Shintarou tajam.

Aomine tertawa sampai memeluk perutnya. Kise sampai sweatdrop dibuatnya dan Shintarou menatapnya tambah dingin, Shintarou beranggapan jika dia baru saja dihina.

'Apa yang lucu, 'no dayo/ssu?!'

Kira-kira begitulah isi pikiran Shintarou dan Kise.

"Apa kami terlihat seperti ingin menangkapmu?" tanya Aomine setelah bisa menghentikan tawanya. Mata Shintarou menyipit, memandang curiga pada Aomine.

"Bisa saja, 'no dayo," Shintarou menaikkan kacamatanya sambil mengalihkan pandangannya dari Aomine.

"Kise, bawa Kazunari-kun ke rumah sakit," Aomine mengeluarkan titah untuk Kise.

Baru Kise hendak mendekati Takao, Shintarou sudah berdiri di depan partnernya tersebut, seolah-olah dia adalah tembok untuk melindungi Takao.

"Jika kalian akan menangkap Takao dengan alibi ingin membawanya ke rumah sakit, aku harus ikut." Shintarou berkata tegas dan tajam.

"Dia hanya akan membawa temanmu itu ke rumah sakit, oke? Kau bisa ikut dengannya setelah menjawab beberapa pertanyaanku," bujuk Aomine sambil menarik Shintarou menjauh.

Kise membopong Takao menuju mobilnya dan tak lama kemudian, setelah Takao dipastikan aman di bangku belakang (tolong ingat bagaimana teknik menyetir Kise yang berbahaya ketika situasi sedang gawat darurat), mobil tersebut melesat menuju rumah sakit.

"Bangunan yang kau hancurkan hanya berjarak 800 meter dari sini, kau nggak takut?" Aomine memulai pembicaraan dengan berwibawa. Yah, daripada bertindak seenak udel dengan membawa bahasa-bahasa gaul yang nggak jelas.

"Saya melakukan tindakan yang benar. Itu yang saya tahu," jawab Shintarou sambil membetulkan letak kacamatanya lagi.

Aomine terkekeh. "Tidak penting orang yang bersalah. Yang tidak bersalah yang penting. Itu, 'kan, maksudmu?"

Shintarou mendengus geli. "Kurasa Anda sama sekali tak paham soal itu,"

Tingkat pengetahuan Aomine baru saja dilecehkan oleh Shintarou.

"Kata siapa? Aku pernah membaca kutipan ini dari sebuah novel abad 20. Karangannya The Queen of Mystery, Agatha Christie, betul, 'kan?"

Tawa Shintarou terlepas. "Maaf, tapi, saya benar-benar salah tentang Anda,"

"Kau entah orang ke berapa yang mengatakan hal itu," Aomine berkata sambil menggaruk kepalanya. "Setahuku di sini ada lapangan basket. Mau one-on-one? Aku mantan pemain basket, jadi jangan sombong,"

Aomine memimpin jalan menuju lapangan streetball itu. Tak ada yang bicara. Aomine bersiul dengan nada tak menentu sementara Shintarou memapah sepedanya dan masih melirik-lirik curiga pada Aomine dan lingkungan sekitarnya.

Lapangan itu terlihat kotor dan tua. Daerah sekitarnya memang sangat sepi, seolah daerah ini tak pernah disentuh manusia lagi. Apalagi ringnya cuma tinggal satu, itu juga sudah karatan dan agak bengkok.

Sesampainya di lapangan tersebut, Shintarou menyandarkan sepedanya pada teralis selagi Aomine berlari kegirangan menuju bola basket tanpa pemilik itu.

Aomine lupa usia.

Aomine mendribble bola yang warnanya sudah memudar itu sementara Shintarou berjaga di depannya.

Aomine mengingat masa SMA-nya dulu, saat isi kepalanya hanya basket, tidur, basket, makan, basket, majalah porno, basket, polisi, basket, dan basket. Dulu memang kepalanya mayoritas diisi oleh segala sesuatu yang berbau basket.

Dia mengirim bola tersebut menuju ring dengan sebuah dunk, menciptakan bunyi 'KRIEETT' akibat ring tersebut sudah tua dan karatan. Untung saja ringnya nggak patah.

Shintarou melakukan rebound dan segera menggiring si bundar menuju tengah lapang dan menembak bola tersebut menuju ring dengan shoot yang tak mungkin bisa dicegah.

Bola itu menciptakan garis parabola yang tinggi, sampai Aomine terdiam melihatnya, sebelum akhirnya masuk ke ring dengan mulus.

"Aku harus mengakui, mungkin kau memang three-pointers terbaik se-Jepang, bocah." Aomine mengambil bola tersebut.

Shintarou menaikkan kacamatanya lagi, padahal kacamatanya tidak merosot sama sekali dari pangkal hidungnya. Iya, sebenarnya itu tindakan defensif Shintarou untuk mempertahankan ketsundereannya "Tidak usah memuji, 'no dayo,"

Aomine tertawa dan mendribble bola itu lagi, tapi Shintarou sudah kehilangan mood-nya untuk bermain. Tiba-tiba bola itu melesat ke arahnya, menuju wajahnya, tapi beruntung Shintarou memiliki refleks yang cepat maka Shintarou bisa menangkap bola tersebut dan menembaknya menuju ring. Bola itu mencium bibir ring dan memantul keluar.

Aomine mengambil bola tersebut dan melakukan lay-up sederhana. "Aku minta one-on-one tapi kau sudah tidak tertarik,"

Aomine melempar bola tersebut pada Shintarou dan Shintarou hanya menangkapnya tanpa ada minat untuk memainkannya lagi. Dia malas bermain basket kali ini. Entah memang malas atau kangen main dengan Takao dan senpaitachi juga kouhai barunya.

"Mengapa Anda bisa tahu jika kami dalang di balik kasus ini?" ucap Shintarou tanpa memandang Aomine. "Apa CCTV di jalan tersebut sudah kalian analisa sampai-sampai bisa menemukan kami?"

Aomine menghela napas dan berjalan menuju bench karatan di pinggir lapang. "CCTV kota tidak menunjukkan keberadaan kalian. Aku menemukan kalian atas usahaku dan divisi kami,"

Aomine duduk dan menatap langit musim panas yang mendung.

"Anda belum menjawab pertanyaan saya yang pertama,"

Aomine tersenyum dan mengacak rambutnya. "Sederhana saja. Kalian dulu pernah meninggalkan ancaman untuk keluarga Akashi saat kasus kebakaran penampungan itu terjadi. Kalian bilang, suatu saat nanti kalian akan melakukan sesuatu untuk menghancurkan keluarga Akashi, 'kan?"

Shintarou tersenyum samar lalu mengambil langkah mundur sampai ke tengah lapang dan menembak bola basket itu lagi. Bola itu memantul beberapa kali sebelum akhirnya menggelinding menuju kaki Shintarou.

"Sejauh ini juga, tidak ada orang atau instansi manapun yang mencoba untuk mengalahkan Akashi, mengancam Akashi pun tidak ada. Menurutmu, adakah orang yang berani mengecam kepemimpinan mereka? Akashi adalah segalanya di Jepang ini. Dengan begitu, pencarian kami semakin sempit dan kami langsung mengindikasikan kalian sebagai pelakunya, sebagai satu-satunya kelompok yang berani mengecam Akashi."

Akashi adalah segalanya di Jepang ini.

Hanya mereka yang pernah mengecam kemutlakan Akashi.

Itu fakta-fakta yang tak terbantahkan.

Shintarou mengambil tempat duduk di sebelah Aomine dan bertanya, "Lalu?"

"Ada satu fakta lagi, dari 90 anak yang kabur dari penampungan, yang dinyatakan masih hidup hanya kalian bertiga. Kau, Kazunari Takao, dan Kuroko Tetsuya. Kalian bertiga merupakan bintang-bintang basket SMA baru tahun kemarin. Jadi, mudah bagiku menemukan kalian begitupun dengan identitas kalian. Aku cukup mengunjungi sekolahmu, meminta biodatamu dan Kazunari-kun, dan mengunjungi panti yang selama ini merawatmu lalu aku menemukan kalian."

"Aku bodoh, 'ya?" Shintarou melepas kacamatanya. Aomine menaikkan sebelah alisnya. "Menampakkan diriku ke permukaan dengan bermain basket, bukankah itu bodoh?"

"Tujuanmu hanya ingin menghancurkan keluarga Akashi, pihak yang tak bersalah,"

Shintarou merinding mendegarnya, tidak menyangka Aomine sudah mencapai kebenaran dari dua peristiwa ledakan itu.

"'Bukan yang bersalah yang penting, tapi yang tidak bersalah yang penting'. Kalian bertindak kalau selama ini seolah-olah kalianlah yang bersalah untuk menyudutkan Akashi yang tidak bersalah muncul ke permukaan dan bergerak. Karena yang sesungguhnya bersalah itu seseorang yang terlihat tidak bersalah. Luar biasa! Tak kusangka kau bisa selicik itu,"

Shintarou diam. Kebenaran telah terungkap.

Aomine mengeluarkan kertas-kertas hasil penyelidikan dirinya dan Kise dan memberikannya pada Shintarou.

"Kalian menghancurkan bangunan-bangunan milik Akashi yang selama ini dialihfungsikan. Misalnya, bangunan mall yang dulunya rumah sakit anak-anak yang

dimiliki yayasan peduli anak-anak setempat. Atau klinik Akashi yang dulunya adalah panti asuhan itu. Kalian menghancurkannya karena kalian tahu jika sebenarnya bangunan-bangunan itu dialihfungsikan dan kalian ingin mengembalikannnya ke fungsinya yang sebenarnya, 'kan?

Jika bangunan itu dihancurkan maka masyarakat akan kembali ingat tentang rumah sakit anak-anak yang bankrut tanpa sebab dan panti asuhan yang tiba-tiba terlibat keracunan massal. Pers mungkin akan mengorek kedua kasus itu dan mungkin perhatian masyarakat akan teralih pada Akashi dan mempertanyakan 'kenapa ini bisa terjadi?' dan itu akan menyudutkan Akashi yang merupakan 'pihak tidak bersalah'."

Shintarou berdiri, memakai kembali kacamatanya lalu memasukkan tangannya ke saku celana dan memandang Aomine. "Aku sudah ketahuan, 'ya? Jadi, apa aku akan ditangkap?"

Aomine mendengus geli lalu menyeringai. "Sayangnya, cita-citamu masuk ke penjara harus batal, bocah."

Shintarou melongo dengan tsudere-nya. Siapa juga yang mau masuk penjara?!

"Aku butuh bantuanmu untuk menguak semua kasus ini," ucap Aomine tegas sambil menaruh tangannya di bahu Shintarou.

Shintarou mengernyitkan alisnya. "Semua?"

Aomine mengepalkan tangannya. Dia tiba-tiba teringat truk merah yang menggilas adiknya. Truk yang mengangkut bahan bangunan dengan kanji 'Aka' di baknya.

"Semua kasus ini berhubungan. Kasus meninggalnya adikku, hilangnya kedua kakak Kise, kasus hilangnya anak-anak, penampungan, alih fungsi bangunan, semuanya!" Aomine berkata penuh emosi. "SEMUA PELAKU KASUS-KASUS INI ADALAH AKASHI!"

"Midorima,"

Perhatian Aomine dan Shintarou teralih pada seseorang yang di luar lapangan.

Manusia dengan aura harimau liar dengan tinggi 190 centi dengan alis ganda, Kagami Taiga.

"Kagami?!" pekik Shintarou OOC.

"Aku ke sini mencari Kuroko tapi aku justru menemukan klien ayahku,"

Kagami dan Aomine menatap Shintarou.

"Ayahku adalah bandar bahan kimia untuk perusahaan jasa demolisi dan dia bilang akhir-akhir ini ada orang Jepang yang memesan padanya meskipun jumlahnya kecil. Aku masih menduga, tapi kurasa kau pelakunya karena akhir-akhir ini ada dua kasus pengeboman milik si Akashi-sialan itu,"

"Kau sudah menguping sejak kapan?" tanya Shintarou.

"Cukup lama," Kagami melangkah masuk ke dalam lapang dan mengambil bola. "Sampai aku bisa menarik kesimpulan, jika kita semua memang terikat dengan kemutlakan si Akashi itu, dan kau sudah membuat langkah besar untuk mengalahkannya secara sungguh-sungguh."

"Ayahku pernah dibuat bankrut oleh makhluk itu," ucap Kagami sambil mendribble bola tersebut dengan santai. "Aku ingin sekali balas dendam, tapi aku tak tahu caranya. Tapi, Tatsuya bilang kalau putera mahkota keluarga Akashi seumuran denganku dan dia juga seorang pemain basket legendaris di sini. Maka dari itu, dua tahun lalu, aku memutuskan kembali ke Jepang untuk mengalahkan Akashi yang terkenal akan kemenangan mutlaknya itu dan berkat Kuroko dan senpaitachi, aku berhasil mengalahkannya di Winter Cup tahun lalu,"

BRUKK! Kagami melompat dan memasukkan bola dengan cara dunk yang normal.

"Dan itu belum cukup," ucapnya sesaat setelah mendarat. "Aku ingin gabung dengan kalian."

Aomine melongo.

Tu-tunggu!

Apa dia baru saja merancang sebuah korps untuk menghancurkan, maksudnya, mengadili Akashi?

"Be-begini, oke?" Aomine berkata sambil menggaruk kepalanya. Duh, dia merasa serba salah. "Kita bukan bermaksud menghancurkan Akashi, membuat menderita atau semacamnya tapi kita hanya akan mengadilinya, oke? Kita akan buat mereka mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Itu saja."

"Aku tahu, 'no dayo," Shintarou berucap setelah diam beberapa saat dan Kagami mengangguki.

"Tapi, Aomine-kanshikan-,"

Aomine mengangkatnya, memotong ucapan Shintarou.

"Cukup panggil aku Aomine." tambahnya.

"Baiklah. Tapi, Aomine-san, bukankah ini berarti kau membelot pada instansimu?"

Aomine mengerang sambil mengorek kupingnya. "Sekali-kali mengambil resiko itu nggak masalah, bocah. Siapa tahu aku beruntung dan bisa naik pangkat, kenapa nggak ngambil resiko? Bukannya, itu menguntungkan?"

Shintarou mengangguk paham.

"Ah, Midorima, kau tahu dimana Kuroko?" Kagami mengangkat topik pembicaraan baru.

Shintarou baru teringat soal makhluk dengan hawa keberadaan tipis itu.

Kapan terakhir dia berhubungan dengan anak itu?

Ah, Kuroko terakhir laporan untuk membius dokter forensik bernama Moriyama itu, 'kan?!

Jangan-jangan-

Shintarou mengambil ponselnya dan menelepon Kuroko. Nomornya tidak aktif.

Shintarou terus menghubunginya dan hasil selalu sama.

Kagami mendorong bahunya. "Dimana Kuroko?"

"Aku tidak tahu, 'no dayo. Dia sudah keluar sebelum ledakan itu terjadi." Shintarou berusaha menjawab dengan tenang. Di dalam kepala Shintarou, Shintarou sudah membayangkan jika sebenarnya Kuroko mungkin tertimbun di reruntuhan atau kejadian buruk lainnya.

Kagami menggertakkan giginya, menahan emosi.

Ponsel Shintarou berdering. Di layar ponselnya menampilkan nama 'Araki-sensei' dan fotonya saat sedang tersenyum manis. Iya, momen langka.

["Shintarou-kun!"]

Suara Araki-sensei begitu panik dan bergetar menyebut namanya.

"Doushita no, sensei?" tanya Shintarou masih berusaha tenang.

["Tolong! Tolong sensei, Shintarou-kun! Anak-anak, Shintarou-kun! Anak-anak panti, Shintarou-kun!"]

Sahut Araki-sensei tambah panik, malah sambil menangis.

"Sensei, bicara pelan-pelan," ucap Shintarou lembut sampai membuat Kagami memandang Shintarou tak percaya.

Terjadi keheningan sesaat. Hanya ada suara sesenggukan Araki-sensei yang berusaha menenangkan diri.

["Ta-tadi, a-ada se-segerombolan orang ya-yang me-mengaku dari bi-biro keamanan da-datang menemuiku. Me-mereka bilang mereka ingin mencarimu. Karena me-mereka mencurigakan, aku tak mengakui jika kau tinggal di sini lalu mereka memukulku sampai pingsan dan mengambil anak-anak itu. A-apa yang harus kulakukan, Shintarou-kun? Hiks, aku tidak mengenali mereka."]

Araki-sensei sudah menangis kembali.

"Sensei, bisa beritahu aku apa mereka punya ciri-ciri khusus, entah misalnya mereka jas atau membawa apa," Shintarou berkata dengan nada yang agak tegas.

["Ka-kalau tidak salah me-mereka pakai pin kanji 'Aka' pada pakaian mereka."]

'Akashi,' desis Shintarou geram. Tangan terkepal sampai bergetar. "Sensei, aku akan kembali beberapa saat lagi. Sensei tenangkan diri dan tunggu aku, 'ya?"

["Ha-ha'i. Hati-hati, Shintarou-kun.]

Begitu Shintarou memutus sambungan teleponnya terdengar suara menggelegar Aomine yang berteriak.

"BODOH KAU, KISE! IDIOT! SUDAH KUDUGA JIKA TEKNIK MENGENDARAMU YANG IDIOT ITU AKAN MEMBAWA BENCANA! BAGAIMANA CARANYA KAU BISA PINGSAN DAN KEHILANGAN KAZUNARI-KUN?! KEMBALI KE SINI DAN AKU AKAN MEMBERIKAN PELAJARAN ATAS KETOLOLANMU ITU!"

Aomine menekan tombol 'end call'nya dengan kasar sampai layar ponsel touchscreen itu retak seperti sarang laba-laba kecil.

AomineDangerZone : ON.

Peringatan bahaya status waspada, harap jangan dekat-dekat Aomine.

"Tadi pagi, loker kami di gym punya Riko-senpai diacak-acak dan tiap loker kami ditinggali kertas ini," Kagami berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan topik lagi.

Tolong salahkan tingkat kepolosan, entah ketidakpekaan, Kagami yang kadang-kadang nggak ngerti baca situasi, akhirnya dia dikirimi deathglare oleh Aomine.

'Kenapa aku?!' pikir Kagami sambil mundur selangkah. Aomine mengerikan.

Shintarou mengambil kertas itu dan membacanya. Ada dua buah kanji di sana. Aka dan Kuro.

Shintarou meremas kertas itu. Dia menggertakkan giginya lebih kejam lagi.

Emosinya sudah meluap-luap tapi dia tidak akan bertingkat sok antagonis dengan berteriak dan mengamuk. Entah untuk menjaga image kalem dan kerennya atau berkat ketsundereannya, dia tak tahu.

"Apa yang terjadi pada Takao?" tanya Shintarou setelah menunggu Aomine menurunkan tegang di wajahnya.

Aomine menghela nafas saat tatapan penasaran dari dua pemuda di depannya itu sudah tak sanggup ditahannya. "Kise ditabrak dan Kazunari-kun dilarikan seseorang. Maaf,"

Aomine menundukkan kepalanya, bentuk rasa sesal dirinya. Nggak Aomine banget pokoknya.

"Akashi," desis Shintarou, "sudah keterlaluan."

Shintarou berlari keluar dan menaiki sepedanya lalu meluncur entah kemana, meninggalkan Aomine dan Kagami yang sibuk dengan emosi masing-masing.

.

.

.

Kuroko meringkuk, menggulung tubuhnya seperti bola akibat rasa nyeri di perutnya. Entah sudah berapa kali tendangan Seijuurou mengenai perutnya. Entah sudah berapa kali pula, Kuroko memuntahkan darahnya sendiri dari mulutnya.

Matanya hanya terbuka sebelah, sebelah matanya lagi sudah membengkak dan tak bisa dibuka berkat tinjuan Seijuurou.

Pandangannya sudah memburam tapi rasa sakit itu membuatnya terus terjaga. Jika disuruh memilih menderita sakit menusuk-nusuk atau mati, Kuroko pasti akan memilih mati tapi dunia belum mengizinkannya.

"Coba kau bilang siapa otak dari kejadian ini dari awal, mungkin kau akan baik-baik saja," ucap Akashi dingin sambil mengangkat wajah Kuroko lalu melemparnya ke lantai kembali.

DUUKKK! Lagi satu tendangan meluncur mulus untuk perut Kuroko. Kuroko lagi-lagi memuntahkan darahnya dan menggulung tubuhnya makin rapat. Napasnya sulit dan terasa menyakitkan.

"Kumohon... hentikan," Kuroko berkata dengan lemah. Tenaganya sudah habis terkuras.

Akashi tertawa. Kuroko semakin ketakutan, tawa iblis Seijuurou sangatlah menakutkan.

"Manusia memang lemah, iya 'kan, Tetsuya? Aku cukup memukulimu sampai sekarat dan akhirnya kau akan menjawab dengan lantang apa kutanyakan. Hahaha, manusia sangatlah lemah."

"Ja-jangan sakiti mereka," Kuroko menggigit bibirnya. "Mereka tidak bersalah."

"Tidak bersalah? Lucu sekali. Merekalah yang salah. Semua kasus ini mereka yang bersalah."

Ucapan Seijuurou membuat Kuroko kesal. Dia sudah tahu seluruh fakta sesungguhnya soal semua kasus ini. "Tidak." bantahnya tegas. "Bukan yang bersalah yang penting tapi yang tidak bersalah yang penting."

Kuroko sangat hafal kalimat itu. Kutipan percakapan seorang gadis karangan The Queen of Mystery pada salah satu novelnya.

Kuroko membuka mulutnya bersiap membalas kalimat Akashi tapi denging mematikan itu menyerang kepalanya.

NGGIINNGGG...

NGGIINNGGG...

["Tetsu, kamu diam di sini, oke? Okaa-san, akan kembali."]

["Kaa-san, mau kemana?]

NGINNNGG..

["Kaa-san akan menghadapi orang-orang itu,"]

"Akh!" jeritnya sambil mencengkram kepalanya. Saking sakitnya, sekarang sebelah mata Kuroko yang bengkak sekarang bisa terbuka.

["Terlalu banyak bicara, Nyonya Kuroko. Tutup mulutmu dan berikan puteramu,"

Seorang pria berambut merah dengan senjata di tangannya mengancam Kaa-san dan aku hanya diam di pelukannya.

"Tidak! KUMOHON! JANGGGANNN!"

Apa yang kurasakan setelahnya hanyalah tetesan hangat dari kepala Kaa-san yang hancur dan seseorang mematikan lampu untukku.

Kaa-san mati.]

"UWWWAAAAA!" teriaknya tanpa sadar.

Iya, dia ingat. Alasan mengapa dia ada di penampungan. Memori itu kembali dan dia tahu jawabannya.

Mendengar teriakan kesakitan Kuroko yang mungkin akan menarik perhatian, Seijuurou mengangkat kakinya untuk menginjak Kuroko lagi.

"Akashi-kun,"

Suara Kuroko yang terdengar bulat dan mengancam membuat Seijuurou kaget sampai-sampai menghentikan kakinya untuk menginjak Kuroko.

Untuk pertama kalinya, Seijuurou merasa takut.

Dengan berani, mengabaikan rasa sakit yang mendera tubuhnya, Kuroko menatap iris heterokromik Seijuurou. "Kepalaku sudah serendah ini, sejajar dengan kakimu. Perlukah aku mengubur kepalaku di tanah seperti burung unta agar kau puas dengan sikap keagunganmu ini?"

Kuroko berkata dengan tajam, rahangnya mengeras. Wajah expressionless itu hilang. Kuroko benar-benar marah.

"Kau bukan segalanya, Akashi-kun. Kau manusia dan pantas kalah. Kau. Bukan Dewa."

Seijuurou mengepalkan tangannya, menarik leher Kuroko dan mengangkatnya sambil mencekiknya ke tembok.

"Berhentilah bertindak sok berani, Tetsuya," ujarnya dengan suara rendah yang berbahaya. "Aku bisa membunuh semudah aku menggeser bidak shogi. Jangan macam-macam, Tetsuya. Kau masih kujadikan sandera yang berharga. Aku tidak akan mengotori tanganku untuk membunuh orang yang tak ingin kubunuh."

"Ha?" Kuroko tertawa sinis. Dia tidak gentar, dia ingin mengalahkan keluarga pemuda ini. Keluarga Seijuuroulah yang sudah membunuh ibu kandungnya. "Bukankah mudah bagimu menghapus kejahatan yang kau lakukan? Semudah kau mengangkat bidak shogi,"

Pintu terbuka dan anak buah keluarga Akashi yang berbadan besar masuk dengan menyeret satu pemuda berambut hitam. Kepalanya tertunduk dan dia terlihat tak sadarkan diri.

"Aku akan mengambil semua yang berharga bagi Shintarou dan tak akan kusisakan sedikit pun untuknya. Tidak sedikit pun." Seijuurou melepaskan cekikannya dan berjalan meninggalkan ruangan. Tangannya bergerak, mengisyaratkan sesuatu untuk sang anak buah.

Pria berbadan besar itu melempar pemuda berambut hitam itu dan ikut keluar bersama Seijuurou setelah dia mengunci pintu.

Kuroko menyentuh perutnya dan meringis. Dia menyeret dirinya menuju sang pemuda sekuat tenaga. Dia sudah tak sanggup bernapas. Dadanya sakit luar biasa. Dunia mulai berputar-putar di kepalanya begitu dia kehilangan tenaga di tangannya. Tak ayal, kepala Kuroko segera berhantaman dengan lantai karena dia sudah tak sanggup untuk melakukan apapun.

Pemuda itu bergerak lalu memiringkan tubuhnya. Kuroko bisa melihat wajahnya.

"Ka-zunari-kun?" bisiknya lemah.

Partner setia Shintarou babak belur karenanya. Kuroko merasa sangat bersalah. Dia memang hanya melihat kedekatan mereka sebagai partner basket di lapangan, tapi Kuroko tahu hanya dengan mengamatinya saja. Takao adalah orang penting bagi Shintarou.

"Gomen, Midorima-kun,"

Sesaat kemudian, dunia berubah gelap di matanya.

.

.

.

Setelah menyuruh Kagami pulang, Aomine kembali ke halte itu menunggu datangnya Kise.

Dia juga sudah meminta Kagami untuk mengumpulkan bahan-bahan kimia yang biasa dipakai Shintarou membuat bom dari ayahnya. Dia baru saja menyiapkan sebuah rencana.

Tak berapa lama kemudian, mobil SUV yang sudah lama mereka pakai untuk bepergian kemana-mana, muncul dengan kondisi ringsek. Kaca belakangnya retak dan mesinnya berasap.

Niat Aomine adalah ingin menghajar Kise dengan gaya Kasamatsu. Memang sih, pelaku sebenarnya mungkin adalah orang-orang suruhan Akashi tapi khusus untuk Kise entah kenapa bawaan Aomine selalu ingin memarahi dan menghajarnya. Tapi begitu melihat wakilnya turun dari mobil dengan kondisi berdarah-darah begitu, Aomine membatalkan niatannya itu.

"Aominecchi, maafkan aku," sesal Kise sambil menunduk. Satu per satu darah yang bersumber dari kepalanya itu jatuh ke aspal.

Aomine menggaruk di kepalanya sambil menghela nafas. Dia masuk ke mobil dan menstarter mobilnya.

"Lekas naik, bodoh. Kalau kau mati, aku juga yang repot." ucap Aomine salah tingkah.

Kise terhura, eh, terharu maksudnya. Dia nggak menyangka Aomine bisa sepeduli itu. Padahal di jalan tadi dia sudah membayangkan kepalanya benjol-benjol seperti jeruk atau pinggangnya patah. Duh, Kise jadi pengen nangis deh.

Kise masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman.

"Apa Jepang akan menjadi negara tropis gara-gara Aominecchi tiba-tiba jadi baik?" canda Kise dan Aomine menanggapinya dengan dengusan tak senang. Kise tertawa dan tawanya terhenti karena Aomine memutar mobil dengan binal.

"Aominecchi bilang-bilang kek kalau muter mobil dengan cara seperti itu!" protesnya sambil mengelus kepalanya. Kise tambah pusing sekarang.

"Ketahuilah, Kise, kalau di dunia ini mengenal sistem balas dendam." Aomine lalu tersenyum tipis.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Author's Note :

.

.

.

URYYYAAA, SHINTARO ARISA KEMBALI!~

Hehe, entah kenapa aku semangat gini! Nggak, bukan karena spoiler-spoiler KuroBas Cup itu (readers : itu mah bikin baper, dodol!) atau karena tinggal beberapa minggu lagi sebelum anime favoritku muncul season duanya atau karena ujian mid semester yang bentar lagi terlaksana (readers : kalo ini sih bikin stress, aho! *author ditendang*) Entahlah, aku sangat bersemangat!

Kebenarannya udah terungkap. Cepet ya? Kenapa? Karena mereka punya misi baru lagi.

Oke, aku minta maaf karena udah bikin Aomine, Akashi, Shintarou, Kagami, jadi OOC gitu :v Entahlah, imajinasiku benar-benar gila :v Tapi menurutku keren, lho, kalau Police!Aomine jadi pinter gitu. Nambah kesan seksi, nyaann~ Oh ya, soal Akashi, mungkin dia ada di mode Harsh!Bokushi, entahlah, aku pun nggak begitu yakin. Mana yang lebih serem Oreshi atau Bokushi? Kalau menurutku sih Bokushi, makanya sampe kutaro dia jadi Harsh!Bokushi.

Oh ya, karakter-karakter sebangsa /plak/ Momoi, Wakamatsu, Sakurai, Tatsuya, sama Moriyama, itu cuma selewat. Nanti juga bakal tambah banyak yang kek begitu. Yang jelas ini masalah Shitarou sama Seijuurou #uhuk.

Jadi, apa yang selanjutnya akan mereka lakukan?

Tunggu chapter selanjutnya!

.

.

Reviews Reply Time!

OKE, UNTUK PERTAMA KALINYA AKU BALES REVIEW DISINI!

CUMA YANG CHAPTER SEBELUMNYA AJA, EHE /jduesh/

1. Yoruno Aozora : Jawaban kondisi TakaKuro sudah dijawab di sini dan jawabannya mereka nggak baik. Yosh! Chapter selanjutnya tetep ditunggu yaa~ Thanks udah review!~

2. Anita (guest) : Apa yang terjadi sama Takao? Sama kek yang dialami Shintarou sama Kuroko. Memorinya balik tapi mungkin kapan-kapan bakal dijelasin. Thanks udah review! Tetep review untuk chapter ini sampai chapter terakhir yaa~ /nggak maksa sih/

3. Kurotori Rei (guest) : Wow, tumben Kurotori-san gk login. Iya, Akashi emang jahat dan Kuroko diduga maso /plak/ Namanya antagonis, wajib jahat dunkz /dibakar/ Apa yang bakal terjadi? Mungkin nggak akan sama kek Nine sama Twelve yang ujung-ujungnya mati, tapi nggak menutup kemungkinan juga sih *smirk* Tim AoKise memang selalu merusak suasana :v Yosh, thanks udah review! Tetep review yaaa~

4. Anita (guest) : Duh, terharu. Makasih udah selalu nungguin dan thanks udah review. Tetep review supaya fic ini terus lanjut tanpa ada kemacetan berarti *usap air mata*

5. Freyja Lawliet : Hajar Seijuurou, Freyja-san. Dia emang kurang asem udah hajar Kurokocchi! Yosh, thanks udah review! Tetep review yaa Li, ups, Freyja-san!~

6. Sayounara Watashi : Kelamaan update ya? Sumimasen deshita *bow* Udah cepetkah ini updatenya? Dakedo sa, thanks udah review! Tetep review untuk more fast update, nggak janji sih, liat kesibukan di duta dulu :v

Yosh! Udah kejawab semua, 'kan, yang review kemarin? Makasih yaa! Aku cinta kalian semua! Muach! /jduesh/

.

.

.

MIND TO REVIEW!

.

.

.

Shintaro Arisa, out!