Chapter 5 :

.

.

.

Shintarou melompat dari sepedanya begitu dia sampai di panti Araki-sensei. Panti sudah diacak-acak, kaca-kaca jendela dipecahkan, dan pintu sudah lepas dari engsel-engselnya.

Shintarou berlari menuju gudang tempatnya merakit bom dan mendesah lega karena gudang itu masih baik-baik saja.

"Araki-sensei!"

Dia memanggil sang pemilik panti yang selama ini dianggap sebagai walinya sambil melangkah masuk ke dalam panti lewat pintu belakang.

Araki-sensei muncul dengan mata sembab dan ekspresi paniknya.

"Shintarou-kun!" Araki-sensei berseru lalu memeluk Shintarou. "Anak-anak itu! Shintarou-kun! Mereka semua diculik!"

Shintarou menaruh tangannya pada bahu walinya itu dan mendorongnya pelan untuk meminta sedikit jarak.

Araki-sensei mulai menekan-nekan jarinya gelisah.

"Maafkan aku, Sensei,"

"Ah, ha'i?"

Wanita berambut hitam lurus sepunggung itu memandang Shintarou heran. Untuk apa dia meminta maaf?

"Aku akan mengembalikan anak-anak itu, Sensei. Aku akan membawa kembali Takao, Kuroko, dan anak-anak itu dari tangan Akashi."

Araki-sensei mengerutkan keningnya kebingungan. "A.. kashi? Siapa?"

Shintarou mengepalkan tangannya. "Kurasa, ini semua salahku."

Araki-sensei kehabisan akal. Dia tak mengerti dengan semua jawaban yang diberikan Shintarou.

.

.

.

Disclaimer :

Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

Warning(s) : Standard Applied

Happy Reading!~

.

.

.

.

Mari kembali ke waktu dimana Shintarou, Takao, dan Kuroko menyelinap ke dalam klinik Akashi.

Setelah Shintarou berhasil menghadapi denging menyakitkan yang melanda kepalanya, sambil mengatur napasnya, dia meraih foto itu.

Sebuah foto dimana ada seorang pria berkacamata yang sangat mirip dengan Shintarou mengenakan jas putih kebanggaannya yang menggendong puteranya, Shintarou, sambil tersenyum.

Sementara sang wanita berambut hitam dikuncir menggendong puterinya, adik Shintarou, Shizuko, dan tersenyum ceria bersama ke arah kamera.

'Ini keluargaku?' Shintarou bertanya-tanya, merasa agak tak yakin dengan foto itu.

Dia memasukkan foto itu ke saku jas dokter curiannya dan membaca map itu. Dia berdiri menghadap jendela, agar cahaya dari rembulan dan lampu-lampu di luar sana bisa menerangi isi folder yang akan dibacanya itu.

Ini semua laporan kerja ayahnya, Midorima Ryuuhei, yang dulu, sebelum meninggal dalam kecelakaan mobil bersama ibunya, merupakan seorang dokter spesialis bedah jantung.

Iya, Shintarou sudah ingat, meskipun cuma setengah, tentang keluarganya dan alasan mengapa dia masuk ke 'kandang'.

Orang tuanya meninggal dalam perjalanan pulang ke rumah.

Itu yang didengar Shintarou dari mulut pamannya yang mantan pemain basket level nasional itu.

Shintarou ingat saat Shizuko, adik perempuannya, menangis dipelukannya, begitu melihat jasad kedua orang tuanya yang diselimuti kain putih sebelum proses krematorium.

Shintarou ingat bagaimana dingin dan pucat tangan tangan ayah dan ibunya itu. Dia memang tak bisa melihat wajah ayah dan ibunya, untuk suatu alasan psikologis yang dikatakan bibinya pada mereka.

Berbulan-bulan, Shintarou dan Shizuko dioper-oper dari tangan ke tangan antar famili bak bola basket. Sedih memang, apalagi jika ingat ekspresi-ekspresi tidak senang famili-familinya saat menyambut mereka di depan pintu rumah mereka.

Sampai akhirnya, familinya memutuskan untuk 'menitipkan' Shintarou dan Shizuko di penampungan keluarga Akashi.

Shintarou juga ingat, bagaimana kata-kata pencuci otak petugas-petugas yang mengatakan jika mereka ditakdirkan untuk menjadi budak bagi keluarga Akashi. Petugas-petugas bajingan juga mengatakan jika mereka hanya sekumpulan anak-anak yang tidak diinginkan.

Tangan Shintarou terhenti di bundel terakhir sebuah laporan kerja ayahnya itu.

Untuk pertama kalinya, Midorima Ryuuhei mengalami kegagalan dalam operasinya.

Pasien yang ditanganinya adalah seorang wanita dari keluarga Akashi. Akashi Seina namanya.

Akashi Seina menderita kroarktasio aorta, alias penyempitan aorta, karena cedera akibat trauma. Sejak awal, Akashi Seina memang tak bisa diselamatkan karena pernyempitan pada arteri yang dialaminya sudah sangat parah. Kemungkinan selamat dari operasi juga sangat kecil. Karena aorta yang menyempit sudah sangat panjang, aorta dipotong dan akan dijembatani oleh pencangkokan dakron tapi terjadi pendarahan hebat sampai akhirnya beliau meninggal.

Ayahnya tidak dinyatakan bersalah. Keluarga Akashi sendiri yang memaksa melakukan operasi, dan berjanji tak akan menuntut jika seandainya Akashi Seina meninggal saat operasi berlangsung.

Shintarou membuka folder lain di bundel tersebut. Kali ini pasiennya adalah seorang anak kecil bernama Akashi Seira. Anak yang menurut data itu berumur enam tahun itu sudah meninggal pascaoperasi.

Shintarou berpikir. Dulu dua orang dari anggota Akashi pernah ditangani ayahnya. Dua-duanya juga meninggal saat dan setelah ditangani ayahnya.

Kening Shintarou berkerut.

Dia coba mengingat penjelasan pamannya saat itu. Saat itu pamannya mengatakan jika ayahnya dan ibunya meninggal dalam sebuah tabrak lari dan sampai detik ini, sampai Shintarou sudah sebesar ini, pelakunya tidak ditemukan.

Shintarou ingat, jika dia adalah anak pertama yang masuk penampungan Akashi.

Dia ingat bagaimana penampungan memperlakukan dia dan Shizuko seperti binatang. Seiring waktu berjalan, semakin banyak anak-anak yang masuk, perlakuan seperti binatang itu tak lagi hanya diterima Shintarou dan Shizuko. Anak-anak lain juga menerimanya. Tapi mereka mendapat sedikit perlakuan yang berbeda, perlakuan yang agak lebih kejam.

Shintarou mengerutkan keningnya lebih dalam lagi, menjepit pangkal hidung dengan dua jarinya yang terbelit perban. Tak peduli dengan kacamatanya yang sudah merosot karena menunduk terlalu dalam.

'Apa Akashi punya dendam khusus denganku?' pikirnya.

Jika benar dugaannya tentang dendam khusus Seijuurou padanya, maka bukti-bukti ini sangatlah kuat. Bukti jika ayahnya pernah membuat nyawa dua orang Akashi pergi ke alam sana.

Shintarou membuka tali bundel itu menarik kertas bernamakan Akashi Seina dan Akashi Seira dan mengantonginya bersama foto itu.

.

.

.

Shintarou termangu di atas tempat tidur di kamarnya yang acak-acakan. Laptop di pangkuannya menyala, menampilkan sebuah tab yang sedang menunjukkan proses mengupload.

Ini adalah cara terakhir dirinya untuk memojokkan Akashi dan menariknya keluar menuju permukaan.

Handphone di saku celananya bergetar.

Shintarou menyingkirkan laptopnya dan mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

Sebuah panggilan masuk dari nomor privat.

Shintarou mengusap layar ponselnya dan mendekatkan speakerphone ke telinganya. "Halo?" sapanya.

["Shin-chan!"]

Kalau bukan karena ingin menjaga image cool-nya, ingin rasanya Shintarou berteriak memanggil Takao yang terdengar baik-baik saja itu.

.

.

.

Midorima Shintarou, 16 tahun, siswa SMA. Pelaku aksi peledakan untuk meneror keluarga Akashi.

.

.

.

Takao bergerak untuk memiringkan tubuhnya. Duh, pinggangnya sakit sekali. Sudah semalaman tidur di halte, dipukuli oleh orang-orang suruhan Akashi untuk memastikan dia pingsan dan satu jam pura-pura pingsan dengan tubuh melengkung itu membuat pinggangnya terasa kaku sekaligus menyakitkan.

"Ka-zunari-kun?"

Takao menoleh ke arah Kuroko yang sudah menggulung tubuhnya bak armadillo.

Ah, rupanya Kuroko juga ada disini.

Takao berusaha mendudukkan dirinya dan berhasil setelah ada bunyi 'KRAK' dari pinggangnya.

"Kuroko-kun..." Takao menyeret dirinya mendekati Kuroko. Dia mengguncang tubuh Kuroko yang terhitung kecil untuk seorang pemain basket.

Takao memperbaiki posisi tidur Kuroko dan meringis pelan saat melihat robek tipis di pelipis Kuroko, sebelah matanya yang membengkak, bibirnya robek, dan wajahnya yang babak belur. Rambutnya lepek oleh keringat dingin.

Takao menarik kesimpulan jika si maharaja kemutlakan yang memiliki emperor eye itu bisa menjadi orang yang super kasar.

"Kuroko-kun," Takao mengguncang tubuh Kuroko lagi. Kuroko bergeming.

Takao mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan bantuan hawk eyesnya, mencari keberadaan kamera tersembunyi yang mungkin terpasang di sudut-sudut langit-langit atau diantara tumpukan kardus yang tersusun rapi itu. Tapi Takao menemukan sesuatu yang bagus terpasang pada langit-langit sampai-sampai dia menyeringai sambil meremas saku celananya.

"Hanashite!"

Takao berbalik begitu pintu kembali terbuka diiringi bentakan-bentakan kasar anak-anak buah Akashi dan rontaan serta jeritan anak-anak yang dikenalnya di panti.

"Kazu-nii!" pekik satu bocah perempuan lalu berlari ke arahnya sembari menangis lalu memeluknya. Anak-anak lain mulai mengikuti dan Takao hanya bisa mengusap kepala mereka bergantian sambil menyuruh mereka untuk tenang.

"Diamkan mereka!" titah sang pria berbadan besar sambil membanting pintunya lalu menguncinya.

"Kazu-nii~" rengek bocah-bocah itu.

Setelah 10 menit Takao berjuang untuk menenangkan bocah-bocah yang rata-rata berumur enam atau tujuh tahun itu, akhirnya kesepuluh anak-anak itu bisa diam.

Mereka duduk di depan Takao, masih sesenggukan dan menahan linangan air mata.

"Tenang. Kita akan baik-baik saja," ucap Takao sambil mengusap kepala satu bocah.

"U-ukh..." Kuroko mengerang kesakitan sambil memeluk perutnya. Takao merutuk dalam hati, bisa-bisanya dia melupakan orang yang sedang cedera parah.

Takao mengguncang tubuh itu pelan. "Kuroko-kun, bisa dengar aku?"

Kuroko menjawab dengan anggukan lemah dan lagi-lagi mengerang kesakitan.

Takao memerhatikan sekelilingnya. Ada cukup banyak kardus-kardus yang mungkin berisi barang-barang yang dibutuhkannya. Saat ini dia memprioritaskan untuk mencari kain, sebisa mungkin perban, agar bisa menutup luka-luka di tubuhnya dan Kuroko.

"Hmm, aku punya tugas untuk kalian."

Takao berkata melipat tangan di dada di depan anak-anak itu.

Kesepuluh pasang mata berkaca-kaca itu memandang Takao.

"Misi apa, Nii-san?" tanya satu anak itu.

Takao menunjuk kardus-kardus itu. "Bongkar kardus-kardus itu. Kita butuh banyak peralatan untuk kabur dari sini. Tapi jangan terlalu banyak buat suara, wakatta?"

Tanpa banyak tanya, anak-anak itu segera berpencar dan membongkar satu demi satu kardus lalu mengeluarkan isinya. Mereka mengerjakan tugas itu dengan hati-hati dan tanpa banyak suara.

"Kuroko-kun," Takao menyingkirkan tangan kanan Kuroko yang meremas perut sebelah kirinya. Takao melepaskan kancing kemeja Kuroko dan melihat luka lebam disana.

"Tuan Muda Akashi ternyata cukup kasar juga," gumam Takao dan terkekeh pelan.

Takao berpaling pada pekerjaan anak-anak itu. Mereka sedang membongkar kardus berisi pakaian. Bingo!

"Kazunari-kun..."

Tangan Kuroko yang berlumuran darah kering itu meraih lengan kaus Takao yang baru saja hendak berdiri. "Akashi.." Kuroko melanjutkan dengan lemah.

"Maa," Takao menggaruk kepalanya dan kembali duduk. "Kami sudah tahu. Makanya aku, maksudku, kita bertindak seperti ini. Kita datang untuk mengungkap kasus ini."

Kuroko menggeleng. "Akashi ingin balas dendam pada Midorima-kun..." dia melanjutkan kalimatnya. Kuroko menyandarkan dirinya pada tembok dan berusaha duduk dan Takao segera membantu.

"Balas dendam?" tanya Takao.

Kuroko menggeleng pelan. "Aku tak tahu pasti, Kazunari-kun."

"Kazu-nii! Lihat apa yang kutemukan!"

Seorang bocah berseru sambil mengangkat sebuah kotak berwarna silver.

Takao menghampiri anak itu dan mengambil kotak tersebut. Takao membukanya. Dalam kotak itu satu set ponsel keluaran lama yang nampaknya belum tersentuh sama sekali. Takao menyeringai sambil menepuk kepala bocah itu.

"Kerja bagus! Dengan ini, kita bisa menghubungi Shin-chan!" puji Takao yang membuat anak itu tersipu malu.

Takao mengeluarkan Subscriber Identitu Module alias kartu SIM dari saku celananya (ingat jika Takao sebulan terakhir ini menjadi pencopet ponsel?). Dia lalu memasukkan kartu SIM ke dalam ponsel tersebut lalu menyalakan ponselnya.

Setelah beberapa detik menunggu sambil berharap jika baterai ponsel tersebut masih ada isinya, ponsel tersebut hidup. Takao menekan tombol keypad, mengetikkan sebuah kombinasi sebelas digit angka untuk menghubungi partnernya.

Takao menekan tombol berwarna hijau dan mendengar nada tunggu sambil berharap Shintarou mengangkatnya.

["Halo?"]

Tanpa sadar Takao memekik karena sapaan singkat bernada dingin dari partnernya itu. "Shin-chan!"

Takao lega bukan main. Seingatnya, terakhir kali dia mendengar suara Shintarou sebelum pingsan, Shintarou terdengar sangat tidak baik.

["Takao?! Bukannya aku peduli, tapi bagaimana keadaanmu?"]

Takao terkikik geli mendengar bantahan yang selalu diucapkan di awal kalimat Shintarou jika menanyakan tentang keadaannya.

"Aku baik-baik saja. Cuma lecet-lecet sedikit. Ah, bagaimana keadaanmu dan Kise-san?"

["A-aku baik-baik saja dan Kise-san, entahlah, aku tak sempat melihatnya."]

"Shin-chan," Takao menjeda kalimatnya. "Aku sudah mengingat semuanya."

["Ya, aku juga. Mungkin Kuroko juga sudah. Kejadian ledakan klinik Akashi itu mirip saat penampungan meledak. Kurasa, itu pemicunya."]

"Nee, Shin-chan, sudah tahu makna ucapan dokter gila waktu itu?" Takao menggaruk tengkuknya. "Ucapan dokter gila yang mengatakan kita akan hancur jika berhasil mengingat masa lalu kita."

Takao mendengar helaan napas Shintarou.

["Tapi pada kenyataannya, ingat atau tidak, kita sudah terlebih dahulu merencanakan ini, 'nodayo."]

Takao menggeleng sebagai tindakan refleks. Konyol memang. "Bukan itu. Menurutku, ucapan dokter gila itu bermaksud jika kita berhasil mendapatkan memori kita, memori masa kecil kita, kita akan mengingat masa kecil kita yang mungkin lebih buruk daripada saat di penampungan."

["..."]

Shintarou terdiam.

Takao mengingat memori masa kecilnya yang menyakitkan itu. Membayangkan jika ternyata Shintarou dan adik perempuannya muncul dari keluarga yang bermasalah sama seperti dirinya, membuatnya menggeleng pelan. Shintarou tidak sepertinya dalam urusan masa lalu sebelum masuk penampungan.

["Lupakan soal itu. Apa kau bersama anak-anak? Rasa-rasanya aku mendengar suara Tanaka disitu."]

"Ah, memang anak-anak bersamaku," jawab Takao sambil kembali memeriksa keadaan Kuroko yang mengenaskan. "Kuroko-kun juga bersamaku. Dia terluka. Si Akashi itu sepertinya menyiksa Kuroko cukup parah."

Takao mendengar Shintarou mengerang pelan.

"Shin-chan," Takao berkata sambil menjepit ponselnya dengan bahu sementara tangannya sibuk memeriksa nadi Kuroko. "Rencana 'itu' apa sedang kau lakukan? Tapi mungkin kita butuh rencana C dan aku sudah menyiapkannya."

Takao menjelaskan dan hanya dibalas Shintarou dengan, 'hm', yang singkat.

"NII-SAN!"

Takao segera berpaling ke sumber suara dan mengisyaratkan untuk diam. Anak itu nyengir sambil mengacungkan sepotong kemeja berwarna kekuningan.

"Ah, Shin-chan, kurasa aku harus mengakhiri percakapan kita disini."

["Mengenai rencana C yang kau bilang, kuharap kau mengerti apa yang kau lakukan."]

Dengan nada percaya diri Takao menjawab. "Mochiron, Ace-sama!"

Sambungan terputus dan segera berlari menuju anak itu lalu mengeluarkan baju-baju dari kardus itu. Semuanya kemeja-kemeja bermerk berukuran sedang, mungkin milik Seijuurou atau ayahnya.

Takao melirik pada empat fire detector yang akan menyala dan menyemburkan air jika ada asap atau api. Takao menyeringai.

"Kalian mau tahu rasanya hujan dalam ruangan?"

Anak-anak itu mengalihkan pandangannya pada Takao. "Hujan?"

Melihat tatapan kebingungan anak-anak itu, Takao tersenyum usil.

"Yep. Hujan," ulang Takao sambil mengangguk. "Kalian kumpulkan baju-baju itu ditengah ruangan dan kalian akan melihat kejutan hujan di dalam ruangan."

Anak-anak itu mengangguk dan segera memboyong kain-kain itu ke tengah ruangan.

Takao mengambil salah satu kemeja dan merobeknya menjadi lembaran-lembaran untuk menutup luka di tubuh Kuroko.

"Kuroko-kun," Takao mengguncang tubuh mungil si invisible man. Kuroko bergeming di tempatnya.

Takao menyerah untuk membangunkannya dan segera menutup luka-luka Kuroko sebisanya dengan kain-kain itu.

.

.

.

Seijuurou mengetuk-ngetukkan jarinya pada kaca mobil dengan irama yang tidak jelas sambil berusaha menahan diri agar tak meneriaki supir pribadinya yang tampak tenang padahal situasi sudah sangat rumit.

Mobil terhenti di persimpangan jalan, masih terjadi kemacetan di sekitar area Departement Store keluarganya yang meledak dua minggu yang lalu.

Seijuurou semakin tak sabaran, jika bukan karena wibawa, mungkin Seijuurou sudah memaki-maki supirnya daritadi.

"Tuan Muda," supir yang umurnya sudah mencapai kepala lima itu mengangkat suara, "kemacetannya parah."

Seijuurou menggigit bibirnya. Tidak mungkin turun dari mobil, berlari menuju kantor ayahnya yang terletak di Roppongi. Memanggil taksi pun percuma.

Seijuurou membanting kepalanya ke sandaran kepala joknya dan menggeram kesal.

Jika saja bukan karena Shintarou yang mengunggah sebuah video animasi konyol berisi catatan kejahatan yang dilakukan keluarganya, maksudnya, catatan kejahatan yang pernah dilakukan dirinya atas nama keluarganya ke forum media sosial, Seijuurou tak akan sepusing ini.

Detik ini, atensi seluruh warga Jepang teralih pada keluarganya. Memojokkan keluarganya hingga tak bisa bergerak. Bagaimana rusuhnya rombongan pers dari berbagai media mengerubungi apartemennya, meminta penjelasan padanya, sementara ayahnya sudah mengamuk agar Seijuurou lekas-lekas menemui sang ayahanda ke kantornya di Tokyo. Seijuurou sakit kepala sekarang.

Seijuurou memukul kaca jendela mobil di sampingnya. Manik heterokromik itu beralih pada LED raksasa di toko eletronik yang berdiri kokoh di sebelahnya. Cukup dengan membaca gerak bibir sang presenter berita TV nasional itu, Seijuurou tahu jika yang sedang diberitakan adalah kasus yang menyangkut keluargannya.

Kini kasus pembakaran penampungan diulik lagi. Entah sudah berapa siaran televisi yang menyiarkan debat tentang kasus ini. Mereka juga mengulik kasus tentang hilangnya beberapa mahasiswa aktivis anti kekerasan pada anak yang terjadi enam belas tahun yang lalu. Beberapa acara debat itu juga mengulik latar belakang dua buah gedung milik keluarganya yang kini telah rata dengan tanah.

Seijuurou meninju kaca mobil itu lagi dan menghela napas. Kemacetan belum juga terurai.

Dengan lesu Seijuurou menggugam, 'Matilah aku' dengan putus asa.

Ponselnya berbunyi dan nomor kepala pelayan rumahnya di yang terletak di Shibuya memanggil.

Seijuurou menggusap layar ponselnya dan mendekatkan speakerphone ke telinganya.

["Tu-Tuan Muda,"]

Suara kepala pelayan berumur setengah abad itu bergetar hebat. Awalnya Seijuurou mengira jika kepala pelayannya yang satu itu grogi luar biasa karena pertama kali meneleponnya. Tapi Seijuurou salah.

["Ma-maaf, sandera kabur semua, Tuan. Ju-juga gudang belakang terbakar."]

Seijuurou mengutuk dirinya dalam hati. Dia seharusnya tak boleh lengah pada sepuluh bocah dan dua teroris itu.

.

.

.

Akashi Seijuurou, 16 tahun, siswa SMA. Mendapat hukuman.

.

.

Aomine menunggui Kise yang tengah diobati di dalam UGD. Aomine bukannya kurang kerjaan sampai-sampai rela duduk selama satu jam di ruang tunggu untuk menunggui wakilnya yang mantan model itu.

Dia khawatir. Di tengah jalan, Kise tiba-tiba pingsan. Takut Kise gegar otak yang menyebabkan amnesia atau semacamnya, maka Aomine merelakan waktunya yang berharga untuk menunggu wakilnya itu.

Aomine pusing. Obat sakit kepala tak bisa meredakan rasa berdenyut-denyut di dalam kepalanya. Ulu hatinya juga terasa nyeri. Sejak kasus pemboman ini bermula, Aomine kembali pada kebiasaan makan tidak teraturnya. Sudah hobinya minum soda dan kopi, makan tidak teratur, ditambah stress, tak ayal lambung Aomine menjerit dan menyiksa pemiliknya.

Matanya sesekali melirik televisi yang menampilkan berita tentang pemboman klinik Akashi yang terjadi kemarin.

Aomine mengacak rambutnya dan berdiri dari kursinya. Tujuannya sekarang adalah kantin rumah sakit. Jika terus dibiarkan, Aomine bisa ikutan masuk kamar rumah sakit akibat penyakit maag-nya.

Selagi Aomine berjalan menuju kantin rumah sakit, kakinya terhenti pada figur wanita yang sedang membelakanginya karena sibuk menulis di papan jalan di atas meja jaga. Wanita itu berambut merah muda dikuncir kuda. Dengan rok span hitam, jas putih dan sepatu berhak tiga atau lima senti, wanita itu terlihat manis sekali di mata Aomine.

Wanita itu berbalik lalu tersenyum sangat lebar dan Aomine melongo tidak percaya. Wanita yang dulu, selama hampir tujuh belas tahun lamanya, selalu menempel padanya, sahabat masa kecilnya, yang sudah tahu Aomine luar dalam bagaikan saudara sendiri.

Siapa lagi kalau bukan...

... Momoi Satsuki.

"Dai-chan!" seru Momoi memanggil nama kecil Aomine. Momoi berlari ke arahnya dan memeluknya.

Aomine yang salah tingkah hanya mampu mendorong pelan wanita itu. "Sa-Satsuki!"

Momoi tertawa melihat ekspresi salah tingkah Aomine. Butuh waktu beberapa menit bagi Momoi untuk kembali menguasai dirinya.

"Ohisashiburi," dengan senyum simpul Momoi membungkuk singkat, "Dai-chan."

Aomine merasa stressnya sedikit berkurang. Dengan senyum berwibawa Aomine membalas sapaan Momoi.

"Sudah lama, 'ya, Dai-chan, kita tidak bertemu." ucap Satsuki sambil menggaruk pipinya.

"Empat belas tahun tepatnya. Semenjak lulus SMA kau tidak pernah bertemu denganku." balas Aomine sambil mengangguk.

Momoi tertawa garing. "Maaf, deh, maaf. Perjodohan memang sulit dibantah, hehehe."

Aomine mengangguk maklum.

"Masih sering ketemu sama Ki-chan?" tanya Momoi.

"Bukan sering lagi, tapi kami sudah tak bisa dipisahkan lagi."

Momoi mematung. Pikirannya lari kemana-mana. Untung otak Aomine sedang lancar-lancarnya berpikir dan dia segera menuntaskan kalimat ambigu itu.

"Aku dan Kise bekerja di satu divisi yang sama di kepolisian. Aku atasannya dan dia bawahannya. Jadi, kami tak mungkin terpisah. Ah, satu lagi, Satsuki, aku masih normal."

"O-ohh..."

Momoi menghela napas. Untung Dai-channya belum belok terlalu jauh.

Aomine melirik papan jalan Momoi dan melihat jika ada kertas bertuliskan 'Akashi Health Clinic' disampingnya.

"Akashi Health Clinic?" baca Aomine.

Momoi menyingkirkan kertas itu dan memasukkannya ke saku jasnya. "Bekas tempat kerjaku. Aku mau mengundurkan diri dan bekerja menetap di rumah sakit itu sehubung unit anak di rumah sakit ini sudah kembali beroperasi."

Senyum Aomine berubah jadi seringai. "Satsuki, bisa aku tanyakan sesuatu?"

Momoi menatap bingung teman masa kecilnya itu sambil memiringkan kepalanya. "Ha'i?"

"Ini soal Akashi Health Clinic."

Aomine Daiki, 32 tahun, detektif kepolisian. Mencari lebih banyak data untuk pembuktian.

.

.

.

Takao menyibakkan poninya yang sudah basah akibat semprotan air dari fire detector di seluruh penjuru rumah. Dia dan anak-anak sedang mengatur napas setelah lari sprint dari rumah Akashi yang sudah berasap dibuatnya.

Tak sia-sia dia membawa sisa bubuk potassium dan mancis murah untuk berjaga-jaga saat hendak ingin meledakkan klinik Akashi. Bubuk potassium akan meledak dan terbakar jika direaksikan dengan air. Dengan menaburkan potasium ke tumpukan kain dan ke sebagian permukaan lantai, lalu membakar fire detector untuk mengaktifkan sensor dan menyemburkan air. Potasium bereaksi meledak lalu membakar kain-kain itu, membuat seisi rumah gempar dan mengeluarkan mereka, sehubung mereka adalah sandera 'berharga' bagi Seijuurou. Memanfaatkan situasi itu, Takao yang membopong Kuroko mengarahkan anak-anak untuk kabur dari rumah itu.

Takao sudah berpengalaman dalam urusan kabur-kaburan. Memang siapa yang enam tahun lalu mengarahkan sebanyak nyaris 98 anak keluar dari penampungan sebelum meledak?

Ah, Takao jadi merasa bersalah. Dari 98 anak-anak yang diarahkannya bersama Shintarou dan beberapa anak temannya yang lain, 10 diantaranya meninggal, termasuk Shizuko, adik perempuan Shintarou.

Shizuko terjatuh saat memanjat pagar. Kakinya robek terkena potongan kawat yang mencuat. Dia dan Shintarou kabur belakangan, terpaksa meninggalkan Shizuko dan beberapa anak yang terjebak di penampungan karena panik.

Takao menghela napas. Dia masih menyalahkan dirinya yang saat itu memaksa Shintarou untuk meninggalkan Shizuko dan tepat saat tungkai kurus mereka menginjak tanah kebebasan, penampungan itu meledak. Melemparkan puing-puing yang terbakar, menimpa Shizuko dan anak-anak lainnya, menyebabkan 10 dari antara mereka mati.

Takao juga sangat menyayangkan otak genius si putera mahkota Akashi karena membiarkan dia, Kuroko, dan sepuluh anak kecil tanpa pengawasan dan banyak 'fasilitas'. Sadarkah Seijuurou saat memerintahkan anak buahnya untuk mengurung Takao dan Kuroko yang notabenenya pelaku di balik hancurnya departement store dan klinik keluarganya bersama anak-anak kecil yang gampang dirayu?

Mungkin Seijuurou tak sepandai seperti yang dipaparkan media.

Takao memeriksa keadaan Kuroko yang setengah sadar.

Matahari mulai bersinar terik. Jika terlalu lama berada di luar saat cuaca sedang panas-panasnya begini, anak-anak bisa masuk angin dan jatuh sakit. Mungkin Takao harus cari pertolongan. Tapi bagaimana caranya?

Saat Takao sedang berpikir sambil memutar-mutar ponsel curiannya, matanya melirik pada tiga buah mobil yang melesat dengan kecepatan tinggi di ujung jalan. Takao tidak tahu pasti, tapi rasa-rasanya dia mengenal mobil-mobil itu. Tiga mobil itu berhenti di depan mereka dan orang-orang yang dikenalnya sebagai anak-anak buah Akashi turun dengan wajah garang. Satu dari antara mereka membuat Takao mematung seketika.

Anak-anak mulai meraih tangan Takao dengan ketakutan. Takao juga tak mengerti mengapa dia justru membeku di sini, di bawah terik matahari yang menyengat, di depan Kuroko yang setengah sadar.

[NGGIINGGGG...]

"Kali ini kalian tidak akan bisa kabur," pria dengan paling tinggi dengan rambut hitam berponi tengah mirip Takao itu berkata sambil menarik rambut salah satu anak panti sampai menjerit kesakitan. "Kalian akan habis, kali ini."

Mendengar ancaman seperti itu, anak-anak otomatis berteriak dan segera lari pontang-panting ke segala arah. Pria-pria suruhan Akashi mulai mengejar mereka dan memasukkan mereka ke dalam mobil dengan kasar.

["Matilah kau, anak haram!"]

Takao memegang kepalanya. Memori sialan itu kenapa kembali lagi?!

"Kau tidak bisa meminta bantuan, Kazunari." ucapnya datar sambil dingin.

["Kita kemana, Tou-san?"]

Takao masih memegangi kepalanya, berjuang menepis rasa sakit berdenyut-denyut di kepalanya dan parade pertunjukan masa kecilnya yang menyakitkan di dalam kepalanya.

Pria itu menyingkirkan Takao sampai terjatuh lalu menginjak perutnya. "Kupikir kau sudah mati terbakar enam tahun lalu Kazunari! Kupikir kau sudah mati dengan menyedihkan karena organ-organmu sudah dijual oleh penampungan itu! Tapi aku salah! Wajahmu yang mirip dengan istri tak tahu diri itu justru terpampang di majalah basket! Mempermalukanku!"

Pria itu terus menginjak dan menendang Takao tapi Takao tak bisa membalas. Dia bahkan tak berusaha menghindar atau melindungi tubuh yang menjadi sasaran pijakan dan tendangan kaki pria itu. Tiba-tiba lidahnya mengecap rasa asin di antara rasa darahnya. Eh?

Tapi hanya karena suara itu...

Takao enggan melihat wajah pria itu.

Takao memang sudah melupakan suara itu, tidak, bahkan wajahnya. Takao hanya bisa mengingat tubuh tinggi kurus yang dulu selalu memukulinya, melemparnya ke tembok, dan menguncinya di luar. Takao memang cuma anak dari 'kecelakaan' dan saat ibunya pergi dia menjadi pelampiasan ayahnya setiap pulang bekerja.

Sekarang dia ingat semuanya. Masa kecilnya yang menyakitkan, wajahnya ayahnya, suara ayahnya, bahkan nama aslinya.

Decitan ban yang diputar dengan ekstrem juga deru mesin mobil membuatnya kembali pada realita. Anak-anak itu sudah di bawa mereka, juga Kuroko.

Kerah baju Takao yang basah ditarik pria itu sampai tubuh Takao berdiri. "Kenapa kau tidak pernah melawan, Kazunari?!" bentaknya. "Kenapa kau justru kabur?!"

Takao tak mengerti. Memang apa salahnya jika dia kabur selama ini? Dia hanya ingin mencari kenyataan yang lebih baik, 'kan? Memang salah?

Manik ambernya menatap pria berusia nyaris 40 tahun itu.

"Jawab aku, Takao Kazunari!"

... Namanya yang sebenarnya telah disebutkan. Selama enam tahun terakhir namanya terbalik dan kini Takao merasa senang ketika pria itu menyebutkan namanya yang sesungguhnya. Masa bodoh dengan pipinya yang lebam dan bibirnya yang koyak, Takao tersenyum lebar.

Pria itu menjatuhkan Takao dengan tangan bergetar. Takao terjatuh begitu saja karena sudah terlalu lemas. Sengatan matahari, baju yang basah kutup, memori yang kembali, semuanya telah membuat Takao lemas.

Pria itu jatuh berlutut di depannya sambil menundukkan kepalanya. Dengan suara bergetar, dia bertanya, "Kenapa kau selalu tersenyum? Apa kau bodoh?"

Takao yakin jika telinganya tidak salah mendengar. Ayahnya menanyakan alasannya selama ini selalu tersenyum.

"Ya, mungkin aku bodoh. Aku mungkin tidak bisa bersaing dengan Akashi-san dan Shin-chan," dia berkata sambil mengusap sudut bibirnya.

"Karena bagiku, tidak hal yang bisa membuatku pantas bersedih. Cukup fakta bahwa aku anak dari 'kecelakaan' Kaa-san dan Tou-san yang bisa membuatku sedih. Aku tidak mau menambah kesedihanku," sambung Takao sambil berusaha mendudukkan dirinya. "Karena aku juga tahu Tou-san orangnya nggak tegaan, hahaha!"

Tawa cempereng itu mencubit hati pria itu.

"Aku sudah meninggalkanmu di penampungan dan mengharapkanmu mati disana," tukasnya. Dia menatap pemuda dengan iris amber kelam itu, mengharapkan reaksi marah dari puteranya itu.

Tapi pria itu tidak mendapatkan reaksi yang diinginkannya. "Lalu?" Takao justru balik bertanya, seolah-olah tak peduli.

"Nyatanya, aku keluar dari penampungan sialan itu, 'kan? Aku menyandang nama secara terbalik selama enam tahun. Menertawakan kehebatan orang lain yang tak bisa kulakukan, bermain basket, dan menjadi siswa SMA. Dengan atau tanpa Tou-san, aku bisa menjalani hidupku, 'kan? Tou-san, tangkap aku dan bawa aku ke Akashi-sialan itu."

Hati pria itu tertohok.

"Tou-san anak buahnya, 'kan?"

Reflek, pria itu justru menggeleng.

"Aku cuma anak haram, 'kan?"

"SUDAH CUKUP!"

PLAK!

Telapak tangan itu mendarat di pipi memar Takao lalu sebuah dekapan hangat menyambut tubuhnya.

"Gomennasai."

Dengan suara bergetar, pria itu meminta maaf.

"Gomennasai."

Lagi dan lagi kata permintaan maaf itu dilontarkan sampai Takao menitikkan air matanya tapi sampai detik ini Takao tidak sanggup membalas dekapan itu.

"Ternyata, aku tidak sanggup membiarkanmu mati, Kazunari. Kumohon, maafkan aku. Aku menyesal."

"Aku tidak bisa memaafkan Tou-san," ucap Takao. "Aku akan memaafkan Tou-san jika Tou-san mau memberitahuku kemana anak-anak itu dibawa. Aku tidak mau menambah daftar panjang orang-orang yang sudah kubunuh."

Pria itu melepas pelukannya dan dengan lembut membantu Takao berdiri. "Mereka membawa anak-anak itu bekas penampungan itu. Rencananya akan dijadikan sandera untuk memunculkan orang bernama Midorima Shintarou, eh?"

Sudut bibir Takao yang berdarah tertarik ke atas, mengulas sebuah seringai licik.

"Tou-san, bisa bantu aku?"

.

.

.

Ka, maksudnya, Takao Kazunari, 16 tahun, siswa SMA. Bahagia.

.

.

.

Hari sudah malam ketika Kagami membuka laptopnya untuk melihat sebuah forum internet yang sudah seharian ini dibahas-bahas di berbagai media. Forum tersebut membahas tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan Akashi. Selain penasaran, sejujurnya Kagami juga ingin menjadi salah satu pemberi testimoni kejahatan Akashi.

Dia menscroll layarnya, membaca sederet huruf-huruf kanji yang belum semua dia mengerti. Thread itu menjadi top thread di forum tersebut. Penulis menamakan dirinya sebagai Anony7 juga menambahkan sebuah video animasi yang sudah berkali-kali ditontonnya di televisi.

Tanpa ada niatan menonton video animasi tersebut, Kagami segera menscroll layarnya ke daerah komentar. Komentar yang masuk sudah masuk hitungan ratusan ribu dan apa yang dilihat oleh Kagami rata-rata berisi caci maki netizen pada sang penulis, Anony7. Mereka mengatakan jika tulisan itu cuma sekedar karangan semata, cuma mencari sensasi dan sebagainya.

Ponsel Kagami bergetar. Sebuah pesan baru saja masuk. Kagami membacanya dan manik scarletnya membulat. Dia menelepon pengirim.

"Midorima?! Kau gila?!" bentaknya ketika sambungan telepon terhubung. "Aku bisa saja mengirim potasium sebanyak itu tapi untuk apa?!"

["Menurutmu untuk apa lagi? Aku tidak mungkin menjualnya balik pada orang lain, 'kan?"]

Kagami bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kulkas. "Jadi, apa rencanamu?"

Kagami meraih jus jeruk kotak ukuran satu liternya dan membuka tutupnya.

["Seperti yang kau ketahui, alur permainan akan berpihak pada siapa yang mencetak angka paling pertama, 'kan?"]

"Hm-mh,"

["Sesuai dengan teori itu, aku akan membuat ledakan ketiga, keempat, atau bahkan kelima, 'no dayo."]

BRUUUSHHH!

Kagami tersedak jus jeruknya sampai menyemburkannya.

"KAU GILA?!" semburnya sambil meletakkan jus jeruknya.

["Tidak. Aku waras, 'no dayo."]

Kagami menggeram kesal. Apa-apaan coba jawabannya itu?!

"Haa, baiklah. Besok siang, pesanan Aomine-san juga akan dikirim. Apa ini juga permintaan Aomine-san?"

["Tidak. Aomine-san meminta potasium padamu?"]

"Ng, iya, eh?" jawab Kagami polos. "Sebenarnya dia hanya memintaku untuk menyiapkan."

"Anggap saja permintaanku dengan permintaan Aomine-san sama jadi kuharap tengah malam nanti barangnya tiba. Aku akan memberimu alamatnya sebentar lagi."

Baru saja Kagami hendak menjawab, sambungan telepon sudah diputus Shintarou secara sepihak.

Dia menghubungi nomor ayahnya dan memulai transaksi baru untuk potasium permintaan Shintarou.

.

.

.

Kagami Taiga, 16 tahun, siswa SMA. Bergabung untuk menghancurkan keluarga Akashi.

.

.

.

Kise terbangun dengan kepala sedikit lebih berat dari biasanya. Seingatnya, dia jatuh pingsan di mobil Aomine yang dibuatnya penyok itu.

"Ughh..." ringisnya saat kepalanya dirasa berdenyut kembali.

Pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan detektif kucel dekil yang dikenalinya sebagai sahabat lama sekaligus atasannya. Siapa lagi kalau bukan Aomine Daiki.

"Kau sudah sadar?" tanya Aomine sambil meletakkan keranjang kecil berisi sebuah jeruk dan dua buah apel. Astaga, Aomine pelit sekali.

"Aku baik-baik saja, ssu. Kenapa harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Kise.

"Karena pingsan, bodoh. Kalau ternyata kau gegar otak atau semacamnya lalu amnesia atau semacamnya dan merepotkanku, siapa yang rugi? Aku, 'kan?"

Aomine narsis. Perasaan Aomine selalu merepotkan orang lain ketimbang direpotkan orang lain.

"Ah, Kise, jika kau benar-benar baik saja, aku punya perintah untukmu,"

Aomine menyeringai iblis dan Kise merinding jadinya. Pasti perintahnya Aomine aneh-aneh...

"Malam ini ada rapat yang dipimpin Imayoshi-kaichou dan kau harus menggantikanku karena aku ada urusan."

Tuh, 'kan...

"Sudah, 'ya! Aku pergi dulu! Rapatnya jam delapan, jadi lebih baik kau bersiap dan segera pergi ke sana."

Aomine keluar dan Kise menghela napasnya dalam-dalam.

Atasannya yang satu itu terkadang sangat merepotkan.

.

.

.

Kise Ryouta, 32 tahun, detektif kepolisian. Selalu direpotkan atasan tak tahu diri, Aomine Daiki.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Hollaaa~~ Shintaro Arisa kembali~

Yep. Ini chapter kelima dan chapter selanjutnya adalah endingnya, mwahahahaha~

Kenapa saya update jam segini? Nggak ada alasan, sih. Saya akhir-akhir ini hobi ngalong. Ah, berita tambahan. Saya punya adek kembar. Dua orang imouto sekaligus :v /nggak penting/

Ini kayaknya chapter spesial si Takao deh. Soalnya Takao dapet dua kali part untuk point of viewnya. Bicara soal point of view, ada reader yang mau ngasih pendapat soal tren /plak/ 2nd PoV? Cuma buat bahan diskusi sih.

Yep, yang masih UTS belajar aja dulu /elu juga masih UTS, dodol/

Ah, iya, apa ada Reader-sama yang bersedia menominasikan Fanfic ini ke IFA 2015? /ngarep/ Oke, lupakan, hiks.

Oh ya, reviewnya dibales diending aja yaa~ Kemaren dapet 9 review dan beberapa favorite dan follow membuat saya semangat tapi salahkan materi UTS saya yang bejibun, saya jadi lupa ngetik lanjutannya. Sumimasen~

Akhir kata...

.

.

.

STILL MIND TO REVIEW? SAYA TERIMA BASH/FLAME KOK~ JADI KALO ADA YANG MAU CACI MAKI SAYA YANG UDAH SEENAK UDEL DI AWAL-AWAL NIRU-NIRU PLOT KEK ZnT, SAYA TERIMA KOK~

.

.

.

Shintaro Arisa, out.