Chapter 9 : END
.
.
.
Pagi itu, seorang Midorima Shintarou, pelaku di balik ratanya dua gedung besar milik keluarga Akashi yang awalnya berdiri tegak pusat Negeri Sakura itu, didatangi oleh seorang pemuda dengan rambut bergradasi merah-hitam yang berlagak menjadi pengantar paket agar tidak dicurigai oleh pemilik sekaligus pengurus panti, Araki-sensei.
"Yo, Midorima!" sapanya sambil melepas topi ketika dilihatnya Araki-sensei sudah pergi entah kemana. Yup, pemuda itu siapa lagi kalau bukan Kagami Taiga.
"Hn." Shintarou menggangguk, tidak berniat membalas sapaan Kagami. Shintarou justru lebih tertarik pada kotak-kotak khusus berisi potasium dan bahan kimia lainnya yang berada di belakang Kagami.
"Seharusnya kau berterimakasih padaku, Midorima," ucap Kagami sambil membantu Shintarou mengangkut kotak-kotak kayu berisi bom siap rakit. "Aku bisa mengirimkan pesananmu kurang dari 24 jam sejak pemesanan."
"Hn." jawab Shintarou sekenanya.
Kagami memutar matanya, memang percuma mengajak bicara Pangeran Oha-Asa yang satu ini.
"Jadi, kau akan membuat apa dengan potasium dan bahan-bahan kimia ini? Apa jumlahnya tak terlalu banyak untuk membuat 2-3 buah bom?"
"Aku mau membuat bom asap dan granat untuk jaga-jaga sebelum meledakkan bangunan-bangunan milik Akashi-sialan itu." jawab Shintarou sambil meletakkan kotak lalu membuka laptopnya. Kagami meletakkan kotak itu dan memilih untuk mencari pekerjaannya sendiri.
Shintarou sibuk dengan laptopnya untuk chatting dengan teman Kimura-senpai yang merupakan supplier handphone keluaran lama berbasis Symbian yang sekarang sudah mulai sulit dicari sementara Kagami dipersilahkan memilah-milah kabel buaya yang kusut.
Sesekali manik scarlet si harimau liar ini melirik pada sosok hijau lumut setinggi nyaris dua meter yang sedang sibuk dengan laptopnya itu. Bukannya apa-apa, tapi sudah satu jam mereka di dalam ruangan yang sama dan selama itu pula tak ada percakapan di antara mereka.
Mungkin masih dendam gara-gara pertandingan, pikir Kagami.
Kagami berdeham beberapa kali, berharap si wortel berkacamata setidaknya berbalik dan bertanya apa kebutuhannya.
"Aku penasaran kenapa kabel-kabel ini bisa kusut," ucap Kagami sambil melempar satu kabel buaya yang telah diuraikannya, memulai percakapan trivial untuk melawan bosan. "Beli bekas, 'ya?"
Twitch!
Emangnya kenapa kalau beli bekas, 'no dayo?! Yang penting masih bisa dipakai, bego! Shintarou mengamuk dalam hati. Shintarou hanya mendengus dan kembali bergumul dengan pekerjaannya di laptop.
Kagami mendelik akibat tidak mendapat respon apa-apa dari tiruan wortel raksasa berkacamata itu.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan dengan pota-"
Kalimat Kagami terputus saat pintu gudang tempat mereka bekerja menjeblak terbuka oleh seorang wanita berambut hitam panjang yang dikenali sebagai pemilik panti, Araki Masako-sensei.
"SHINTAROU-KUN! AKASHI! AKASHI KEMBALI!" jeritnya lalu melirik Kagami yang masih kaget. Mata Araki-sensei menatap nyalang Kagami. "Kamu juga bagian dari Akashi?! Kepala merah!"
"Ha?" Kagami menyentuh pucuk kepalanya yang dominan diisi surai warna merah. "I-ini memang dari lahir! Tapi aku bukan bagian dari Akashi-sialan itu!"
"Sensei tenang dulu! Mungkin itu bukan Aka-"
"Ohayou, Shin-chan!~"
Kalimat Shintarou diinterupsi oleh seorang pemilik kepala berhiaskan mahkota hitam yang terbagi dua untuk bagian poninya yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh ramping Araki-sensei.
Shintarou masih sanggup mengontrol diri.
Shintarou masih tsundere.
Shintarou masih kuat untuk tidak melompat drama ke arah Takao, si pemilik mata rajawali itu, dan memeluknya!
Takao kembali!
"Takao," Shintarou mengangkat kacamatanya yang bahkan tidak merosot barang senanometer pun. "Bukannya aku peduli! Darimana saja dan mana yang lain?"
Bibir Takao mengembangkan senyum lebar, satu sisi benar-benar senang karena Shintarou ternyata mengkhawatirkannya dan di satu sisi yang lainnya hanya untuk menutupi kesedihannya karena gagal membawa Kuroko dan yang lainnya kembali. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maafkan aku, Shin-chan. Kuroko dan yang lainnya berhasil diambil kembali oleh mereka."
Midorima mendecih sambil mengepalkan tangannya, mengabaikan tatapan menuntut dari Kagami dan sorot mata sedih dari Araki-sensei.
"Shin-chan," Takao mengepalkan tangannya, "kita harus kembali ke penampungan. Kuroko dan anak-anak di bawa ke sana."
Entah kenapa tiba-tiba Shintarou merasa sesak napas seperti saat Miyaji menyuruhnya lari keliling sekolah 200 kali untuk latihan fisik karena telat latihan.
.
.
.
Disclaimer : Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Warning : Terrorist!AU, NOT YAOI (YEAHHH!), OOC, typo(s), and many more!
.
.
.
[From : Anony07
To : Akashi Seijuurou
Aku kembali memasang kembang api untuk kunikmati jam mulai 10:10 PM. Akui kesalahanmu dan kau aman. Terima kasih atas konfrensi pers yang menyatakan jika kau akan menjadi tersangka seandainya ada lagi peledak di bangunan milik ayahmu.
ANONY07.
Reply This Message]
.
.
.
.
I don't gain any commercial profit from this fanfiction~
Enjoy the last chapter!
.
.
.
Hari sudah menjelang malam saat Shintarou, Takao, dan Kagami menyelesaikan bom rakitan mereka. Masing-masing dari mereka memegang sebuah bom dengan daya ledak sekuat C4.
Iya, mereka merakit masing-masing, bahkan Kagami sempat jadi tenaga pengajar untuk membantu Takao merakit bom dalam wadah berupa kamus Oxford setebal 8 sentimeter milik Araki-sensei yang dicurinya langsung dari kamar wanita itu.
Jangan salah, meskipun dalam otak Kagami 80 persen diisi oleh basket dan makan, tapi setidaknya berkat Kagami adalah putera semata wayang dari pemilik perusahaan jasa demolisi termuka di Negeri Paman Sam, setidaknya, urusan rakit-merakit peledak Kagami sudah terbiasa.
"Kagami, simpan dulu helm-mu, 'no dayo," ucap Shintarou tepat saat Kagami siap untuk balik kanan bubar jalan dengan sepeda motornya. "Sesuai dengan yang kita rencanakan, kali ini kita akan meneror Akashi secara beruntun, 'no dayo."
Kagami meletakkan helmnya lalu berbalik menghadap Shintarou dan Takao dan duduk di atas meja dengan cuek.
Shintarou mengeluarkan peta dan menunjukkan empat buah daerah yang sudah ditandainya dengan lingkaran berwarna merah.
"Lokasi teror kita kali ini tiga bangunan besar milik Akashi yang tersisa di Tokyo," Shintarou memperbaiki letak kacamata di pangkal hidungnya. "Aku akan ke pusat minimarket Akashi, Kagami ke gymnasium milik Akashi, dan Takao ke sekolah swasta milik Akashi. Countdown timer akan kunyalakan dari sini jam 10 malam dan ledakan beruntun akan dimulai dari jam 10.10 sampai 10.30 malam."
Shintarou menunjukkan ponselnya yang hanya menunjukkan [03 : 30 : 02] pada layarnya.
Kagami dan Takao melirik satu sama lain. Waktu mereka tinggal tiga setengah jam lagi. Bagi Shintarou dan Takao mungkin tiga setengah jam adalah sisa waktu mereka menikmati dunia ini dengan tenang. Lewat dari itu, mereka tidak bisa menebak. Matikah? Menderitakah? Bahagiakah? Mereka tidak tahu...
... dan juga tidak mau tahu.
"Jika terjadi sesuatu di luar rencana, hubungi aku dan kita akan langsung diskusi untuk melakukan tindak selanjutnya. Bisa dimengerti?"
Kagami dan Takao mengangguk paham.
"Kau boleh pergi, Kagami."
Kagami mendecakkan lidahnya keki.
Kenapa dia jadi diusir?!
Kagami mengambil helmnya dan kotak bom miliknya.
"Aku hanya ingin Akashi merasakan apa yang aku dan kalian rasakan akibat perbuatan mereka."
Shintarou berpaling sambil menyentuh jembatan kacamatanya.
"Seperti yang Aomine-san bilang, kita hanya akan membawa memaksa mereka untuk berhadapan dengan meja hijau untuk diadili, bukan menghancurkan mereka, 'no dayo."
"Cukup kita saja yang dihancurkan mereka," sambung Takao dengan nada suram yang tak biasa. Tangannya disembunyikan ke dalam saku celananya dan sorot dari bola mata beriris kelabu itu meredup. "Karena nyatanya, dari awal mereka sudah melakukan kesalahan dan mereka harus sadar kalau mereka harus mempertanggungjawabkan kesalahan mereka."
Shintarou melirik partnernya itu. Partnernya yang berisik itu ternyata bisa juga muram.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," Kagami menaiki sepeda motornya dan menyalakan mesin. "Sampai ketemu lagi, eh?"
Detik berikutnya, Kagami sudah melesat bersama sepeda motornya.
Shintarou menghela napas berat sambil memperbaiki letak kacamatanya yang tidak bergeser sama sekali. Takao menepuk bahunya dan mengangguk penuh kepastian.
"Ayo kita lakukan, Shin-chan. Sekarang atau tidak sama sekali." ucap Takao sarat dengan nada putus asa dan Shintarou hanya bisa mengangguk pasrah.
.
.
.
Aomine mengendarai mobilnya menuju panti asuhan tempat dua korban penampungan Akashi yang masih hidup bertempat tinggal. Kise ditinggalkannya untuk berhadapan dengan Imayoshi dan mantan kapten basketnya, Kasamatsu. Setidaknya dengan terjunnya Kise untuk menghadapi Imayoshi dan Kasamatsu, seandainya Kise sudah kelewatan, dia paling hanya akan diskors untuk sementara atau paling parah penurunan jabatan. Tidak sepertinya dirinya yang secara tidak sadar sudah ikut mendukung tindakan tersangka di balik kasus ratanya dua gedung milik Akashi.
Aomine kepalang basah terlibat dengan mereka. Dia sudah tak bisa mundur. Seandainya enam tahun yang lalu Aomine tidak mengusulkan untuk 'membakar' sesuatu, kasus penampungan terbakar dan kaburnya 90 anak juga matinya 10 anak tak akan terjadi.
Jika Aomine harus dipecat, Aomine sudah siap. Itu resiko yang sudah diambilnya sebagai seorang inspektur kepolisian.
Mobilnya berhenti di depan panti asuhan yang kini terlihat kacau balau itu. Dia memandangnya bangunan itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan secara spesifik.
Pada bangunan itu, dua orang otak dibalik kasus pemboman itu tinggal dan dibesarkan di sini. Dua orang remaja yang berkeinginan kuat untuk menghancurkan keluarga Akashi adalah anak-anak yang menghabiskan sisa masa anak-anak dan akhir remajanya pada bangunan itu.
Sebuah motor sport berwarna merah-hitam keluar dari arah belakang panti, dikendarai oleh pemuda yang perawakannya seperti Aomine kenali.
Aomine mengedikkan bahu tidak peduli dan memilih untuk turun dari mobil ketika dilihatnya dua orang pemuda yang berjalan menuju pintu depan.
"Midorima! Kazunari!" teriaknya sambil berlari ke dalam panti.
Shintarou dan Takao menghentikan langkah mereka dan berbalik untuk melihat ke arah Aomine.
"Halo, Aomine-san!" sapa Takao dengan suara yang dibuat-buat ceria, seolah tak terjadi masalah apapun.
Aomine memandang dua pemuda di hadapannya. Mereka adalah versi remaja dari anak-anak bernama 707 dan 3111 yang waktu itu datang ke pos jaganya saat dia masih menjadi polisi berseragam. Sudah enam tahun lamanya sejak kejadian itu dan mereka ingin menuntaskan misi mereka.
"Apa kalian benar-benar akan melakukan sentuhan terakhir kalian itu?" tanyanya dengan nada serius.
Manik permata biru tuanya tak lepas dari manik amber kelabu dan zamrud milik dua pemuda di depannya, meminta jawaban yang pasti atas pertanyaannya yang terkesan retoris itu.
Mereka berdua mengangguk.
"Kami hanya ingin membuktikan jika yang selama ini dipandang masyarakat sebagai korban adalah penjahat yang sebenarnya," jawab Shintarou tegas. "Jika kami kelewatan, kami akan mengambil resikonya."
"Tch, untuk itulah aku ada disini, 'kan?" Aomine mendecih dan menyeringai licik. "Aku dan Kise bisa memenangkanmu di pengadilan jika itu sempat terjadi. Kalian tahu, persiapanku sudah banyak."
Aomine menyeringai dan menepuk dada bidangnya bangga.
Shintarou menghela napas, menatap langit malam musim panas yang mendung. Shintarou berbalik dan melangkah masuk ke dalam panti.
"Aku harap kebohongan Anda benar-benar Anda dan Kise-san lakukan."
"HEE?!" pekik Aomine. "Kalian tak percaya padaku setelah semua yang kulakukan untuk kalian?! Dasar bocah!"
Takao tertawa lepas, menikmati ekspresi tidak keruan Aomine akibat mendengar jawab Shintarou sementara Shintarou mendengus untuk menyembunyikan tawanya yang bahkan jarang terdengar itu.
.
.
.
Aomine mengemudikan mobil dinasnya dengan ekspresi tegang. Di sebelahnya duduk otak dari kasus pembakaran penampungan yang menelan korban 10 orang, Midorima Shintarou, dan asistennya, Takao Kazunari, duduk di belakang bersama ranselnya yang berisi granat dan perlengkapan mereka yang lain. Di tangan kirinya yang terperban, Shintarou memegang sebuah folder berisi hasil riset mereka mengenai kejahatan Akashi.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Menurut pengakuan Shintarou, ledakan beruntun akan dimulai pukul 10.10 PM sampai 10.30 PM. Sekitar 40 menit lagi, mereka harus sudah sampai ke Penampungan. Ketiga bom yang dipasang oleh mereka semuanya bertujuan untuk pengalihan perhatian demi menyelamatkan Kuroko dan anak-anak.
Sayangnya, Shintarou ataupun Takao tidak begitu tahu bagaimana gambaran di sana. Ini cuma rencana dadakan yang dibuat Shintarou kemarin selama satu jam.
Ini pilihannya, bukan, pilihan mereka.
Hidup mati mereka dipertaruhkan disini.
Sudah setengah jam mereka bertiga di dalam mobil yang sama dan tidak ada percakapan sama sekali. Aomine memilih diam, karena tidak tahu apa yang bisa dijadikan topik pembicaraan, sambil sesekali menghisap batang tembakau nikotin berfilter yang terselip di bibirnya. Shintarou dan Takao juga diam, lebih memilih untuk memandangi pemandangan jalanan tol yang lengang dan monoton. Aomine tidak tahu, dua anak muda yang ada di mobilnya itu sedang memikirkan apa.
Aomine menghembuskan asap rokoknya perlahan, menonton setiap asap melayang dan hilangnya dari pandangannya.
"Jadi, boleh kutahu kenapa kalian memutuskan kembali ke penampungan?" Aomine akhir angkat suara, tidak tahan diam-diaman terlalu lama.
"Kuroko dan anak-anak panti disandera di sana oleh Akashi," Shintarou menjawab. "Ayah Takao membelot pada Akashi dan memutuskan untuk berada di pihak kita."
Shintarou melirik Takao yang sedang senyum-senyum sendiri lewat spion bagian dalam karena ayahnya disebut-sebut oleh Shintarou.
Aomine mengangguk sambil mematikan rokoknya di asbak portable di dalam mobil. Manik azurenya melirik spion luar dan spontan alisnya menukik tajam.
"Bicara soal membelot, kalian yakin jika itu mobil ayah Kazunari?"
Shintarou dan Takao otomatis segera berbalik dan melihat dua buah mobil sedan berwarna hitam dengan aksen merah di bagian depan.
Shintarou tidak tahu apa-apa cuma bisa diam sementara Takao berbalik dengan wajah pucat.
"Kita diikuti," ucap Takao dengan nada horor. "Itu bukan mobil yang dipakai ayahku."
"APA?!"
Kedua mobil yang diperkirakan milik keluarga Akashi itu segera tancap gas begitu melihat Aomine menambah kecepatan mobilnya. Kedua mobil itu mengejar, bahkan sudah siap untuk mengapit mobil Aomine.
Aomine melirik speedometer yang sudah menunjukkan angka 100 km/jam dan spion luar bergantian.
Kedua mobil itu semakin dekat, benar-benar ingin menjepit mobil Aomine. Aomine mengeraskan rahangnya dan pegangannya pada roda kemudi.
"Aomine-san!" Shintarou memekik ketika dia melihat mobil yang sebelah kanan sudah tinggal berjarak beberapa senti lagi dengan pintu mobil Aomine.
Aomine mendecih dan meregangkan jari-jari tangan kanannya.
"Pegangan!" Aomine memerintah sambil mengangkat kakinya dari pedal gas dan..
BRAK!
Kedua mobil suruhan Akashi saling menabrak sisi masing-masing. Aomine tidak tinggal diam. Dia segera memutar persneling lalu membanting roda kemudi, berputar dengan putaran berbentuk huruf 'U' yang ekstrem, dan segera tancap gas untuk melawan arus.
Takao mendekap tasnya, ingat detik-detik kecelakaannya saat Kise hendak mengantarnya ke rumah sakit. Shintarou berpegangan pada sabuk pengamannya, belum bisa terbiasa dengan aksi kebut-kebutan yang sarat dengan berbagai pelanggaran lalu lintas. Sementara sang pengemudi, Aomine Daiki, masih berjuang dengan rahang menegang untuk menghindari kedua mobil yang kini sedang mengejar mereka.
"Sial! Minggir, bocah!" umpatnya sambil memukul klakson saat dilihatnya sebuah mobil sipil yang hendak menyelip truk yang sudah ingin menepi karena melihat Aomine dan dua mobil suruhan Akashi.
Aomine terus menekan klakson, membuat keributan di sepanjang tol sampai dia pos penjagaan tol dan masuk ke flyover yang kosong.
Aomine tidak menurunkan kecepatannya bahkan terus menaikkan kecepatannya sampai speedometer menunjukkan angka 120 km/jam.
BRUAK!
Tiba-tiba, kepala Shintarou dan Takao menabrak kaca mobil. Mobil Aomine berhasil dijepit ke pembatas flyover sebelah kiri secara tiba-tiba. Jika terus dibiarkan, pembatas flyover akan sobek dan mereka akan jatuh. Terlihat percikan-percikan api akibat panas gesekan badan mobil dan besi pembatas. Aomine banting setir ke kanan sekuat tenaga, pedal gas terus diinjaknya.
"SIALAN!"
Lagi-lagi Aomine mengumpat sambil membantingkan roda kemudi ke kanan.
Aomine berhasil keluar dari jepitan mobil tersebut dan menambah kecepatan, menciptakan sedikit jarak untuk aksinya yang selanjutnya.
"Kazunari! Granat!" perintahnya sambil mengulurkan sebelah tangannya ke kanan. Manik biru tuanya masih mengawasi kedua mobil Akashi dari kaca spion.
Takao memberikan sebuah granat pada Aomine. Dengan tangan kanannya, dia membukakan kaca jendela dengan cepat. Dia menarik pengaman granat dengan giginya.
Shintarou melotot tak percaya.
"Aomine-san!" Shintarou lagi-lagi berseru sambil dan menunjuk mobil Akashi di sebelah kanan yang berhasil menyamakan kecepatan mobilnya dengan mobil Aomine. Aomine melempar granat kaca mobil Akashi yang berhasil mengejarnya. Kaca mobil itu pecah dan granatnya masuk ke dalam mobil. Aomine menyeringai iblis.
"Diam dan pegangan!" balas Aomine sambil mencengkram roda kemudi dengan erat dan menginjak pedal gas lebih dalam lagi.
DUAR! BLARRR!
Mobil meledak, menghantam pembatas jalan dan terbakar.
Seringai Aomine semakin lebar. Segera ia memutar roda kemudi kembali ke jalan yang sebelumnya tanpa melepaskan kaki dari pedal gas.
Dilewatinya satu mobil yang kini hancur dan mengeluarkan asap juga api dari bagian dalamnya.
Persetan dengan pengemudinya yang sekilas dilihat Shintarou tergeletak duduk tak berdaya terjepit di belakang roda kemudi, Aomine sedang tertawa-tawa iblis dengan bahagianya.
Lagi-lagi, Aomine berbelok dengan tajam kembali masuk ke dalam tol. Kecepatannya sudah menurun menjadi 80 km/jam.
Shintarou masih belum bisa bernapas lega, sekitar 30 menit lagi ledakan pertama akan dimulai.
Jangan tanya Takao, Takao sudah mual-mual di belakang.
"Berapa menit lagi, Midorima?" tanya Aomine sambil mengawasi daerah belakang mobil dari kaca spion.
"Sekitar 30 menit lagi." jawab Shintarou.
"Tch, kita tidak akan sempat untuk melakukan negosiasi," Aomine mendecih. "Kuharap teman-teman kalian bisa selamat."
Shintarou dan Takao bertukar pandangan via spion dalam.
Mereka sudah tahu resikonya.
.
.
.
"Seijuurou, kau masih memegang kata-katamu, 'kan?"
Seijuurou berbalik, kembali menatap Akashi Masaomi, sang ayahanda tercinta, dengan tatapan tak senang.
"Soal jika aku kalah aku akan bunuh diri? Tentu saja aku tidak akan lupa."
"Seijuurou, kau tentu tahu bahwa sekarang umurmu sudah hampir menginjak tujuh belas tahun. Maka dari itu, jika setelah kasus ini-"
"Iya, aku tahu. Aku akan bunuh diri sesuai janjiku. Lagipula, aku sudah tak tahan lagi."
Seijuurou pergi, menghiraukan Akashi Masaomi yang bahkan belum menyelesaikan kalimatnya. Yang jelas, terngiang di kepala Seijuurou bahwa jika ada lagi bangunan milik ayahnya yang meledak atau ada lagi orang yang meninggal karena kelakuannya, Seijuurou benar-benar harus melakukan harakiri di depan ayahnya.
Dia masuk ke ruangan miliknya dan duduk di kursi kebanggaannya. Seijuurou memijat keningnya frustasi.
Seluruh kejahatan keluarganya sudah terkuak di berbagai media. Mulai dari kasus tabrak lari sampai kasus penampungan anak-anak sudah terbahas semua. Sejauh ini, pihak penegak hukum yang di'sewa'nya sudah berusaha mati-matian membantah berita-berita itu, bahkan Seijuurou sudah 'meminta' pada ayahnya untuk membekukan stasiun-stasiun televisi yang memberitakan tentang kejahatan selamanya ini.
Seijuurou memukul mejanya. Laptop yang masih menampilkan foto bocah berkode 707 yang kini memiliki nama Midorima Shintarou itulah pelakunya. Dia yang membakar penampungan anak-anak yang dijadikan ayahnya sebagai wadah untuk menampung anak-anak yang dibuang keluarganya.
Tidak, anak-anak di Penampungan itu tidak hanya dipelihara untuk dibesarkan begitu saja. Mereka itu seperti hewan. Mereka akan dijual atau untuk diambil-ambil organ-organnya.
Ha? Kalian tak suka?
Kalian pikir darimana kekayaan Akashi tak habis-habis itu?
Sekarang, ayo berpaling sebentar melihat masa kecil sang sang Akashi muda.
Penampungan itu adalah terbesar keinginan saat Seijuurou masih kecil. Iya, semua orang yang menyandang marga Akashi mengetahui hal itu secara jelas.
Seijuurou yang tidak terima begitu saja ibunya meninggal di tangan dokter bedah sialan bernama Midorima Ryuuhei ingin melakukan balas dendam.
Akashi Seina adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang menyayangi Seijuurou seperti manusia, tidak seperti ayahnya yang selalu memaksa melakukan A sampai Z tetek bengek tentang disiplin juga bisnis dan memperlakukannya bak robot.
Seingatnya, ibunya hanya tidak memiliki penyakit apa-apa. Meski kulit ibunya seputih salju nan pucat, Seijuurou yakin ibunya tak memiliki penyakit serius yang bisa merengut nyawanya dalam sekejap mata.
Tetapi, waktu itu, saat supir keluarganya menjemputnya dari sekolah dan mengatakan jika Akashi Seina meninggal saat operasi, Seijuurou merasakan jika dunianya baru saja runtuh dan berubah gelap.
Tak ada lagi Akashi Seina yang menyayanginya. Yang tersisa cuma adiknya yang penyakitan dan ayahnya yang tak punya perasaan.
Ada rasa sakit menyerang dada Seijuurou saat itu. Ada rasa kalah di sana. Dia merasa kalah pada takdirnya yang menyedihkan. Jika saya dia bisa menang, ibunya tak akan meninggal.
Ada rasa kesal pula pada hatinya.
Siapa dokter brengsek yang seenaknya mengambil nyawa ibunya?!
Setelah perjuangan bertanya pada ayahnya yang dingin, Seijuurou tahu jika dokter yang menangani ibunya adalah seorang dokter bedah spesialis jantung bernama Midorima Ryuuhei.
Sebulan berselang, adiknya yang penyakitan akhirnya dibawa ke meja operasi. Penyakit transposisi aorta yang dialami adiknya akhirnya dioperasi untuk kedua kalinya.
Lagi-lagi, bagian dari keluarga Seijuurou pergi meninggalkannya selama-lamanya. Dokter yang mengoperasi masihlah sama, dokter Midorima Ryuuhei.
Seijuurou bertanya dalam hati, iblis macam apa dia yang telah merebut dua orang keluarganya?
Dan setelah pemakaman adiknya, Seijuurou meminta pada sang ayahanda tercinta untuk menghabisi Midorima Ryuuhei dan keluarganya atau dia berhenti mengikuti semua keinginan ayahnya.
Akashi Masaomi, sang ayah, hanya bisa mengangguki permintaan putranya itu pasrah.
Keinginan Seijuurou pun terkabul. Di televisi dia melihat, Midorima Ryuuhei dan istrinya meninggal akibat kecelakaan hebat di pusat kota.
Bahagia. Seijuurou bahagia.
Hari itu, senyum lebar selalu terpatri di wajahnya. Tapi dendamnya belum semua terbalas. Masih ada putera dan puteri Midorima Ryuuhei yang kini tinggal tanpa orang tua.
Bulan Mei, untuk pertama kalinya Seijuurou tidak merayakan hari ibu. Ini semua karena dokter sialan yang kini sudah meninggal itu.
Pada hari yang sama, Seijuurou mendengar fakta bahwa di dunia ini ada anak-anak yang tidak menginginkan ibunya ataupun sebaliknya.
Tercetus sebuah ide di kepala kecil Seijuurou.
Kenapa anak-anak tidak tahu diri dan dibuang itu tidak ditampung di satu tempat?
Lagi dan lagi, Seijuurou 'meminta' pada ayahnya untuk mengumpulkan anak-anak itu untuk dibina supaya bisa menghargai orang tua masing-masing apapun kejadiannya.
Ayahnya mengabulkannya. Dibuatnya sebuah sebuah bangunan dua tingkat dan menamai penampungan tersebut dengan nama embel-embel panti asuhan.
Satu demi satu anak dikumpulkan. Anak pertama yang mereka ambil adalah anak pasangan Midorima Ryuuhei dan istrinya, Midorima Shintarou dan Midorima Shizuko.
Seijuurou yang mengetahui jika Shintarou dan Shizuko ternyata tipe anak yang masuk penampungan karena dibuang pihak keluarganya, ingin menuntaskan dendamnya. Seijuurou mengubah peraturan yang dibuatnya. Seijuurou menyuruh semua petugas untuk khusus memperlakukan Shintarou dan adiknya seperti binatang. Tujuan awal yang ingin menjadikan penampungan sebagai tempat binaan kini berubah menjadi kandang penyiksaan.
Memanfaatkan situasi, Akashi Masaomi juga menjadikan penampungan sebagai ladang penghasil uang. Anak-anak itu satu demi satu dijual dan dibedah untuk diambil organ-organnya.
Seijuurou menghela napas. Cukup kilas balik masa kecilnya yang diisi dendam itu.
Seijuurou membuka tab yang menunjukkan sebuah e-mail dari seseorang yang mengaku sebagai Anony07.
Seseorang dengan akun Anony07 itu meminta Seijuurou untuk datang ke penampungan dan menemuinya.
Seijuurou sudah tahu, tanpa harus melacaknya sekalipun, siapa pemilik akun Anony07 itu. Seijuurou tahu jika pesan eletronik itu berasal dari Shintarou.
Seijuurou menggeram frustrasi sambil menutup laptopnya kasar. Meja ditendang dan dibalikkan, tidak peduli dengan file-file kini terserak dan laptopnya yang sudah tidak jelas kondisinya.
Seijuurou kembali duduk dan mengurut keningnya. Dia harus tenang. Meskipun sudah ada membelot pada perintahnya, Seijuurou harus memikirkan cara baru.
"Seijuurou-sama!"
Pintu di hadapannya terbuka. Anak buahnya masuk dengan tergesa-gesa.
"Lapor, Seijuurou-sama, mobil yang membuntuti target kita lepas dan mobil target sekarang mengarahnya menuju tempat penyanderaan."
"APA?!" Seijuurou memekik lupa harga diri.
Tidak! Siapa lagi yang membelot kepadanya? Haruskah seisi dunia ini melawan padanya?
"Siapkan mobil. Bawa aku Penampungan!"
Seijuurou tidak ingin kalah lagi.
.
.
.
.
Saat Kuroko terbangun, hal pertama yang ia lihat adalah wajah anak-anak yang memandangnya dengan tatapan khawatir.
"Uhh..." ringis Kuroko sambil memegang perutnya.
"Kuro-nii, nggak apa-apa?" tanya salah seorang anak. Kuroko mendudukkan dirinya dan mengangguk.
Disapukan pandangannya ke seisi ruangan.
Meja besi, kursi putar, rak-rak besi yang sudah berkarat.
Cukup, Kuroko tahu dimana tempat ia berada sekarang.
Kuroko ingat jika ini adalah bunker rahasia di Penampungan. Tempat dulu mengurung anak-anak sebelum di eksekusi.
"Onii-san," anak tadi menarik lengan baju Kuroko. Kuroko berpaling dan menatap anak itu. "Apa kita bisa keluar di sini?"
Ahh, benar. Apa kami bisa keluar dari sini? Kuroko berpikir.
Kuroko mendesah dan mengusap matanya. "Aku tidak tahu," jawab Kuroko putus asa. "Kuharap kita bisa keluar."
Kuroko tidak tahu lagi. Jika dia harus mati di sini, maka terjadilah.
NGINGGGG...
Kuroko mencengkram kepalanya.
Dia tahu.
Dia ingat.
Dia ingat bagaimana menyakitkan kehidupannya di penampungan. Bagaimana langkah kaki kecilnya yang tergesa-gesa ketika kabur dari bunker setelah mendengar alarm kebakaran berbunyi. Hari itu, seharusnya hari dimana nyawa dan hatinya diambil demi kepentingan manusia beruntung di luar sana.
Iya, alasan Kuroko memilih untuk mengikut Shintarou dan Takao selain untuk menghancurkan Akashi adalah untuk berterima kasih pada mereka. Jika bukan karena mereka, Kuroko tak akan pernah merasakan hangat dan berwarnanya dunia luar. Berkat Shintarou dan Takao, dia bisa bertemu orang sejenis Kagami, cahaya barunya. Orang yang bahkan sudah mengubah pola pikirnya. Kuroko tak akan pernah tahu, bagaimana decit sepatu dan bola basket di lapangan dan kejamnya latihan yang diberikan Aida Riko atau lucunya pertengkaran kaptennya, Hyuuga Junpei, dan pendiri klub basket Seirin, Kiyoshi Teppei. Kuroko tak akan pernah tahu bagaimana euforia kemenangannya bersama teman-temannya saat memenangkan pertandingan Winter Cup atau bagaimana sedihnya dia kalah saat di Interhigh.
Itu semua karena Shintarou dan Takao.
"Akh!"
Dunia memang mungkin akan tetap menyenangkan jika saja memori itu tak kembali.
"AKHHH!"
Kuroko menjerit seiring kembalinya kegelapan menyelimuti dunianya.
.
.
.
Aomine mengumpat di sepanjang jalan menuju penampungan. Waktu mereka kurang dari lima belas menit lagi. Aomine sebisa mungkin menghindari ledakan ketiga, keempat, dan kelima itu. Yah, Shintarou dan Takao berjanji tak akan meledakkan apapun jika Kuroko dan anak-anak panti dibebaskan juga kalau pihak Akashi bersedia untuk mempertanggungjawabkan seluruh kejahatannya selama ini.
Detonator ada di tangan Shintarou. Rentetan ledakan akan dimulai lima belas menit lagi. Memang benar, ketiga gedung yang akan dibom semuanya adalah bangunan hasil eksekusi keluarga Akashi terhadap korban-korbannya secara tidak adil.
"CHIKUSOO!" umpat Aomine lagi sambil memukul klakson untuk membuka jalan untuk mobilnya yang berkecepatan 100 km/jam di jalan umum.
Takao sudah lemas di belakang, menderita mual-mual. Teknik mengemudi Aomine lebih mengerikan daripada teknik mengemudi Kise. Shintarou tidak begitu memedulikan protes Takao yang meminta Aomine untuk menurunkan sedikit kecepatannya dan justru sibuk memerhatikan layar ponselnya yang kini menunjukkan [00 : 14 : 29].
"Midorima, bisakah kau menonaktifkan countdown timernya?" bujuk Aomine sambil memukul klakson ketika mobilnya disalip mobil orang lain. "Begini saja, kau bisa mengaktifkan bomnya seandainya negosiasinya gagal. Kau sebenarnya tidak ingin meledakkan apapun, 'kan?"
"Aku tidak akan menonaktifkan countdown timernya." Keputusan Shintarou sudah bulat. Dia tidak ingin dibantah. "Aku akan menonaktifkannya jika Akashi memenuhi semua permintaanku, 'no dayo."
Aomine mendelik seiring tangannya bergerak memutar setir masuk ke daerah perbukitan tua yang ditinggalkan.
Shintarou mendengar denging di telinganya tapi sakit kepalanya sudah tidak terasa lagi. Bukan. Ini bukan sakit telinga akibat perbedaan tekanan tapi sepertinya denging di telinganya saat ini hanya seperti ingin mengingatkan sisa ingatan Shintarou.
Akhirnya, setelah 30 menit perjalanan yang memualkan, mobil Aomine berhenti di sebuah pagar tinggi yang karatan.
"Kita sudah sampai." ucap Aomine sambil mematikan mesin mobilnya. Shintarou turun, diikuti Takao dan Aomine.
Bangunan di depan mereka, tempat tinggal yang pernah ditinggali Shintarou selama empat tahun lamanya, kini tinggal puing-puingnya saja. Tidak ada lagi bangunan dengan warna dominan putih gading itu.
Shintarou mendorong pagar itu, membuat pagar itu menderit karena engselnya sudah berkarat. Dia melangkah kaki jenjangnya masuk dengan ragu.
Sejujurnya, dia tak ingin menginjakkan kakinya lagi di atas tanah yang pernah menjadi saksi bisu atas penderitaan dia dan ratusan anak lainnya sejak sepuluh tahun yang lalu.
Tapi jika dipikir-dipikir, apa lagi yang harus dia takutkan?
Tidak ada lagi petugas-petugas berseragam yang bisa menyuruh ini-itu padanya.
Tidak ada lagi petugas yang akan memukulnya jika dia membantah.
Tidak ada lagi petugas yang akan membuat dirinya menderita.
Tidak ada lagi! Mereka semua sudah pergi!
"Shin-chan," Takao membuyarkan lamunan Shintarou. Tangan si rajawali menepuk bahunya dan kepalanya mengangguk.
Tak usah dijelaskan pun, Shintarou mengerti maksud tepukan bahu Takao.
Benar. Sudah enam tahun berlalu dan Shintarou tidak bisa terus terjebak di masa lalu bersama sakit dan dendamnya. Dia akan menuntaskannya malam ini juga.
Layar ponsel Shintarou kini menunjukkan [00 : 05 : 15]. Tinggal lima menit tersisa. Jika Seijuurou tidak datang maka tamatlah sudah semua bangunan milik keluarganya di Tokyo.
Kenapa keluarga Akashi sangat keras kepala dan egois? Shintarou tidak tahu.
Kaki jenjang Shintarou menapaki pagar tempatnya kabur saat itu. Tempat dimana adiknya Shizuko meregang nyawa tertimpa puing bangunan yang terlempar akibat ledakan.
Shintarou menyentuh teralis berlapis kawat duri yang kini berkarat itu. Terkenang dalam memorinya, teriakan-teriakan dirinya dan Takao mengatur anak-anak untuk kabur, ketegangan detik-detik terakhir sebelum peledakan, euforia ingin merasakan kebebasan, dan sakit melihat anak-anak yang gagal kabur dan terjebak, dimakan si jago merah.
Shintarou melirik layar ponselnya lagi. Waktu Seijuurou tinggal satu menit lagi. Ada senyum di bibir Shintarou, dia puas. Seijuurou tidak akan datang. Terlalu rendah bagi Seijuurou untuk mengakui kesalahan.
Ini kemenangan. Kehancuran Seijuurou sudah dimulai. Kejahatan Seijuurou dan keluarganya sudah tersebar.
Ini adalah akhir keluarga Akashi.
"707. Midorima Shintarou."
Suara itu...
Shintarou berbalik dan mendapati sosok dengan tinggi seadanya, berambut merah bermata heterokromik.
"Akashi Seijuurou." Shintarou berkata dengan nada datar sambil memperbaiki kacamata di hidungnya.
Senyum iblis Seijuurou mengembang sempurna. Kakinya melangkah angkuh menghadap Shintarou.
"AKASHI!" Takao datang menginterupsi. Langkah Seijuurou terhenti dan kepalanya berpaling pada Takao.
"3111. Kazunari Takao." ucapnya. Mata Takao berkilat marah, tidak terima namanya diucapkan secara terbalik.
Takao berniat untuk menerjang Seijuurou tapi anak-anak buah Seijuurou menghalanginya. Aomine melawan, tetapi naas nasibnya. Baru satu pukulan dilayangkan, dia segera dilumpuhkan dengan stun gun. Takao protes dan sebuah pistol mengancam kepalanya.
Takao tak boleh mendekati Seijuurou dan Shintarou barang sesenti pun.
"Waktumu tinggal 30 detik, Akashi," Shintarou berkata to the point sambil menunjukkan layar ponselnya. "Mengaku atau countdown timer akan menyala dan menghancurkan semua bangunan milikmu."
"Matikan atau kubunuh mereka." tukas Seijuurou balas mengancam sambil mengeluarkan sebuah detonator di tangan.
Shintarou menyeringai, sudah tidak peduli dengan image coolnya. "Sisa waktumu cuma lima belas detik, Akashi."
"Aku bisa menekan tombol ini kurang dari satu detik." balas Seijuurou tidak mau kalah.
Shintarou tidak gentar. Dia tidak akan kalah dan tunduk pada Seijuurou seperti di pertandingan basket.
"10 detik."
Seijuurou meremas detonator di tangannya.
Dia tidak tahu kalau Shintarou akan seserius ini menghadapinya. Dia tak menyangka, ada orang yang akan menghancurkannya separah ini. Jika tahu begini akhirnya, dia mungkin benar-benar akan mempersiapkan mesin pembunuh untuk Kuroko dan anak-anak itu.
Jika saja dia tahu Shintarou tak bermain-main dengan ancamannya setelah melihat konfrensi pers yang menyatakan bahwa dia akan bunuh diri bila ditemukan kembali peledak atau bahkan ledakan di bangunan keluarganya, Seijuurou tak akan membawa detonator mainan yang dirakitnya semasa sekolah dasar.
Konyol memang. Seijuurou terlalu meremehkan orang lain selama ini.
Apa jika dia bunuh diri Shintarou akan merasa bersalah?
Dia tidak bisa memilih lagi.
"Tujuh. Mengakulah, Akashi."
Seijuurou masih teguh dengan pendiriannya, dia tidak akan mengakui kesalahannya. Persetan dengan kehancuran gedung-gedung milik keluarganya.
Dia sudah kalah dari awal. Tidak bisa menggertak lagi. Dia harus menepati sumpahnya.
Dengan seulas seringai penuh kemenangan, Shintarou menghitung mundur sisa waktu milik Seijuurou.
"Lima.. Empat.. Tiga.. Dua.. Satu."
Layar ponsel Shintarou kini menampilkan tulisan 'Calling' dengan tiga buah nomor telepon di bawahnya.
"Kau kalah, Akashi." tandas Shintarou penuh kemenangan.
Seijuurou mendongakkan kepalanya dan memeluk perutnya. Sudut bibirnya terangkat dan tawa iblis Seijuurou kembali terdengar.
"Ha... haha.. ha.."
BLAARR!
Petir menyambar, membelah langit yang diselimuti kelamnya gulita malam dengan kilat cahayanya.
Satu demi satu tetes air hujan turun menghantam bumi, semakin keras jatuhnya seiring detik bergulir.
Tawa Seijuurou masih terdengar, malah semakin kencang dan menyeramkan.
Penglihatan Shintarou kacau karena kacamatanya terkena air hujan.
"SHIN-CHAN! AWAS! DI SEBELAH KANANMU!"
Takao berteriak dan Shintarou berkelit dengan cepat. Tiba-tiba ada rasa perih di bagian samping tubuhnya.
Shintarou mengusap lensa kacamatanya. Meskipun kabur, Shintarou yakin ada benda keperakan yang memantulkan sinar lampu jalan yang dipegang Seijuurou. Shintarou memegang perutnya dan meringis.
"APA TIDAK CUKUP BAGIMU MENGAMBIL IBU DAN ADIK PEREMPUANKU?!" Seijuurou berteriak sambil melayangkan pisaunya lagi ke arah Shintarou. Shintarou berhasil menghindar dari serangan pisau Seijuurou.
"Aku tidak mengambil ibu dan adik perempuanmu!" balas Shintarou lalu meringis. Sepertinya serangan pertama Seijuurou melukai perutnya cukup parah.
Tangan Seijuurou mengarahkan pisaunya lagi, kini tepat ke dada kiri Shintarou. Shintarou lagi-lagi berkelit. Namun, dewi fortuna tidak berpihak padanya. Seijuurou berhasil menggores dada sampai lengan atasnya. Seijuurou belum berhenti, dia masih gencar mengarahkan pisaunya ke bagian-bagian vital Shintarou.
Takao tidak bisa cuma diam dan menonton. Nyawa Shintarou dalam bahaya.
Pria yang menodong Takao melihat pergerakan manik kelabu tahanannya.
"Mau kemana kau?" pria yang masih setia menodongkan senjata ke arah kepalanya itu bertanya meremehkan.
Takao tersenyum dan secepat kilat dia menarik tangan si pria yang memegang senjata lalu menyikut tepat di jantungnya sekuat tenaga.
Napas pria itu langsung tersendat. Takao cukup yakin pukulannya tadi bisa membuat kantung perikardium pria itu segera meradang.
Senjata di tangan pria itu terjatuh dan tangan kiri Takao kebas tak bisa digerakkan. Takao meraih senjata pria itu dan baru sadar jika benda yang beratnya dua setengah kali lipat lebih berat dari bola basket itu tidak berisi amunisi. Terlihat dari magasin pistol yang kosong melompong.
Takao tertipu.
DOR!
"ARGHH!"
Sensasi terbakar dan perih yang menggigit syaraf-syaraf perasa menyerangnya tiba-tiba. Refleks, Takao memegang tangannya dan melolong kesakitan. Dia baru saja ditembak oleh anak buah Seijuurou yang menangani Aomine.
DOR!
Lagi-lagi sebuah tembakan dimuntahkan. Tapi Takao tak merasakan tambahan sakit apapun. Justru pria yang menahan Aomine tumbang tak berdaya, jatuh menghantam tanah yang sudah basah diguyur hujan. Dari balik kegelapan muncul pria tinggi yang dikenal Takao sebagai ayahnya.
"Teman-temanmu ada bunker!" Ayah Takao berteriak, setengah suaranya diredam oleh derasnya hujan tapi Takao bisa mendengarnya.
Bunker? Tempat apa itu?
Selagi Takao berpikir apa tempat di penampungan yang disebut sebagai bunker, Takao mengeluarkan satu-satunya granat kejut miliknya dan menunggu timing yang pas untuk menarik pemicunya dan melemparnya.
Di sisi lain, Seijuurou belum putus semangat untuk menusuk Shintarou. Tak diberinya kesempatan bagi Shintarou untuk bicara.
Jika dia harus mati maka kedua pemuda ini juga harus mati.
Pisau di tangan Seijuurou diarahkan ke leher Shintarou, lagi dan lagi, Shintarou bisa berkelit meskipun kacamatanya sudah terlempar entah kemana.
Gagal ke leher, Seijuurou mengarahkan pisaunya ke perut samping kanan Shintarou. Shintarou tergelincir jatuh dan telat untuk menghindar lalu pisau itu berhasil melukis sebuah garis lagi di perut Shintarou.
"Lihat? Kau yang pertama kali kalah." ucap Seijuurou dingin sambil mendudukkan dirinya di atas perut Shintarou. Mata pisau sudah terarah di atas perut Shintarou, siap menusuk kapan saja Seijuurou mau.
"Bom sudah tak bisa dihentikan. Kau yang kalah, Akashi," Shintarou menyahuti, tidak ingin diam begitu saja. Seijuurou menggeram. Tangannya yang memegang pisau diangkat ke langit. "Ibu dan adik perempuanmu meninggal bukan karena kesalahan ayahku!"
"TUTUP MULUTMU!" bentak Akashi, tangannya yang memegang pisau bergetar.
"Ayahmu yang meminta ayahku untuk mengoperasi ibumu meskipun kemungkinan selamat di meja operasi cuma sepuluh persen. Begitu juga adikmu. Ayahmu mengirimkan kedua orang yang kau cintai untuk dioperasi ketika kemungkinan selamatnya sudah dibawah 20 persen, 'no dayo. Jika ada orang yang ingin kau salahkan, salahkan ayahmu. Bukan aku atau Takao atau Kuroko atau anak-anak panti itu!" Shintarou menaikkan volume suaranya untuk menekan kata-kata terakhirnya.
"KAU TIDAK TAHU APA-APA!"
Seijuurou menghunuskan pisaunya tapi pisaunya tersangkut terlebih dahulu, entah menusuk apa.
Seijuurou mencabut pisaunya dan berbalik, mendapati polisi berambut biru tua sedang menahan sakit di tangan kirinya yang ditusuk Seijuurou.
CKREK!
"Satu-satunya orang yang tak tahu apa-apa ada kau, Akashi Seijuurou." Aomine berkata sambil meringis tapi tangannya yang satunya lagi masih menondongkan senjata pada Seijuurou.
Seijuurou mencelos. Aomine benar, dialah yang tak tahu apa-apa. Selama ini dia bertindak seolah-olah menjadi korban. Dia menuntut agar keadilan berpihak padanya.
Tapi dia salah...
Jadi, aku sudah kalah?
Tangannya bergetar hebat dan pisau berlumurkan darah Aomine terjatuh. Luapan emosi di dalam raganya sudah meluap-lupa. Kecewa, marah, sedih, hancur, semua menjadi satu!
Dalam satu pukulan secepat kilat, Seijuurou berhasil dijatuhkan. Seijuurou dibekuk Aomine dengan sedikit pemaksaan.
Shintarou tidak begitu bisa melihat apa yang sedang terjadi di samping tapi yang jelas dia tahu betul jika itu Aomine Daiki, si detektif.
Takao datang menghampiri Shintarou dan merangkulnya untuk sedikit menjauh dari Seijuurou. Kini biarkan Aomine yang menindak Seijuurou.
Granat kejut yang di tangan Takao batal dilepas pemicunya dan si rajawali mendesah kecewa dan meringis kesakitan berkat luka tembaknya di saat yang bersamaan.
"Kau kenapa?" Shintarou bertanya sambil memegang lengannya.
"Ha? Shin-chan mengkhawatirkanku?" Takao tertawa. Shintarou mendelik bosan. "Jangan tertawa dulu, 'no dayo! Aku-"
"Kau tidak mau ini menjadi saat terakhir kita, 'kan?" Takao memotong sambil mengibaskan poninya yang basah diguyur hujan. "Aku pun tak mau Shin-chan."
Takao mendesah dan melihat ke arah Seijuurou dan Aomine yang saling memandang dengan tatapan pembunuh.
"Kau tidak bisa menodongkan senjata kepada warga sipil tak bersalah." Seijuurou berkata dan bangkit berdiri tapi moncong pistol Aomine masih menempel di kepalanya.
"Kau bilang kau tidak bersalah? Mau kusebutkan satu demi satu kesalahanmu dan keluargamu?" tanya Aomine menantang. "Setelah kuteliti, ternyata kalian tak lebih dari sekelompok manusia yang dengan bangganya menyandang marga Akashi dan menanggung dosa yang tak terhitung lagi banyaknya."
Aku sudah kalah.
"Kau-"
"AKASHI SEIJUUROU! KAU DITANGKAP ATAS PERCOBAAN PEMBUNUHAN TERHADAP 10 ANAK!" seru Aomine lantang, mengalahkan derasnya rintik air hujan menghantam tanah. Moncong pistolnya mengarah ke tanah tempat Seijuurou berpijak.
Ya, mereka semua benar. Aku sudah kalah.
Seijuurou berbalik dan mengambil pisaunya. Dia mengelus pisau itu dan mengarahkan mata pisaunya ke tepat ke lehernya. Iris heterokromik yang biasa memancarkan sorot egois tak mau dibantah kini terlihat redup.
"Aku sudah kalah," ucap Seijuurou, "dan aku harus menepati sumpahku."
Seijuurou terjatuh di atas kedua lututnya. Bibir tipis yang biasa menunjukkan seringai kejam itu membentuk melengkung ke atas, tersenyum manis.
"Selamat tinggal, Shintarou."
Seijuurou mengangkat kedua tangannya yang memegang pisau ke langit dan menghunuskannya ke arah tempat dimana saluran napasnya berada dengan sekuat tenaga.
"KEPOLISIAN PUSAT TOKYO! ANGKAT TANGAN!"
"AKASHI!"
JLEB!
.
.
.
.
Diiringi rintik hujan, deru sirene mobil polisi yang datang bergerombol, dan teriakan Sersan Kasamatsu Yukio, Seijuurou tumbang dengan pisau menancap di leher.
.
.
.
.
[29 Agustus 20xx]
.
.
.
Setelah berbagai pemeriksaan dan penyelidikan juga deretan acara pertemuan tertutup di pengadilan yang dilakukan selama tiga hari penuh, secara sah Akashi Masaomi, selaku pemilik sekaligus pemimpin Akashi Corp., dan beberapa kaki tangannya, dinyatakan bersalah untuk kasus hilangnya mahasiswa aktivis anak-anak enam belas tahun lalu, penjualan organ tubuh ilegal, penyiksaan anak, dan sederet kasus lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan.
Akashi Corp. ditutup untuk sementara. Ditahannya Akashi Masaomi dan beberapa orang lainnya yang terseret menyebabkan perusahaan itu kehilangan pemimpin sekaligus staf-stafnya. Akashi Corp. akan kembali beroperasi saat adik laki-laki Akashi Masaomi kembali dari Amerika.
Sementara Shintarou dan Takao hanya ditanyai sebagai saksi. Berikan tepuk tangan meriah pada Inspektur Aomine Daiki dan Wakil Inspektur Kise Ryouta yang sudah membuat Shintarou, Takao, Kuroko, bahkan Kagami bersih dari tuntutan apapun. Sampai kini masyarakat dan pihak penegak hukum masih belum mengetahui siapa pelaku di balik ratanya dua bangunan besar milik keluarga Akashi dan siapa pelaku di balik pemasangan bom di tiga bangunan lainnya yang juga masih milik keluarga Akashi.
Dan sekarang disinilah Akashi Masaomi berdiri menatap langit musim panas yang sudah dipenghujung waktunya,di depan sebuah rumah duka, tidak diizinkan petugas berlama-lama menatap puteranya satu-satunya yang kini sudah terbujur kaku di dalam sebuah peti mati dan beberapa jam lagi akan dikremasikan.
Akashi Seijuurou, putera semata wayang yang selama ini selalu ditekan olehnya, sudah pergi meninggalkan dunia ini selama-lamanya demi menepati sumpah sebulan dan tiga hari yang lalu.
Kedua petugas itu menepuk bahunya, mengajaknya untuk naik ke mobil tahanan dan melanjutkan perjalanan mereka. Masaomi meminta sedikit waktu lagi pada petugas yang usianya lebih muda darinya itu, dan kedua petugas itu mengangguk maklum.
Masaomi terduduk di undakan tangga rumah duka, menatap sedih pada kedua tangannya dan ibu jarinya yang kini dikekang oleh dua buah besi lingkaran yang dihubungkan dengan seutas rantai pendek yang kita kenal sebagai borgol. Benda ini akan mengekang kebebasannya selama dua puluh tahun lebih ke depannya bersama kokohnya pagar di bui dan absolutnya petugas sipir di dalam hotel prodeo.
"Kami turut berdukacita atas perginya putera Anda, Akashi Masaomi-san."
Masaomi mendongak dan melihat dua sosok pemuda dengan perbedaan tinggi yang agak kentara itu.
"Siapa kalian?" Masaomi bertanya sambil bangkit berdiri, tidak ingin seperti sedang direndahkan.
"Saya subjek 707, Midorima Shintarou." Shintarou menjawab, memperkenalkan diri dengan tidak ragu-ragu bahkan menyebutkan kodenya saat di penampungan.
"Saya subjek 3111, Takao- SHIN-CHAN!"
Ucapan Takao terpotong begitu saja karena Masaomi memukul Shintarou dengan kedua tangannya yang diborgol. Shintarou jatuh dan kedua petugas yang awalnya cuma berdiri di belakang Masaomi langsung menarik Masaomi menuju mobil tahanan.
Masaomi meronta tak keruan. "KAU! KAU SUDAH MEMBUNUH SEIJUUROU!"
Shintarou meringis ketika jari tangan kirinya yang diperban itu menyentuh pelipisnya yang berdarah. Takao membantu Shintarou berdiri dan memberikan sapu tangan yang sebelum berangkat diberikan Shintarou sebagai lucky item untuk scorpio.
"KALIAN MEMBUNUH SEIJUUROU! SEANDAINYA.. SEANDAINYA," kalimat Masaomi terputus. Bahunya bergetar, kepalanya menunduk, dan kedua tangannya menutupi wajahnya. Sosok berwibawa, tegas, dan absolut dalam diri Masaomi telah musnah. Dia sekarang tak lebih dari seorang pria yang wajahnya telah coreng-moreng oleh tindakannya sendiri.
Masaomi tidak mengerti kenapa dia menangis. "Seandainya.. saja kalian tidak mengangkat kasus itu, Seijuurou tidak akan mati..."
Petugas-petugas itu menggiringnya dan membawanya kembali ke mobil tahanan.
Mobil itu berputar dan melesat pergi, membawa Masaomi menuju tempat hukumannya untuk dua puluh tahun ke depan.
Tangan Takao menepuk bahu Shintarou, menyadarkan si three-point shooter dari dunia khayalnya. Takao tidak tahu, akhir-akhir ini Shintarou sering melamun.
"Shin-chan," Takao memanggil nama partnernya itu. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Shintarou menaikkan kacamatanya dan memalingkan wajahnya. "Tidak ada, 'no dayo."
"Bohong. Shin-chan bohong." Takao menyahuti, terdengar merajuk. Shintarou mendengus dan memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Aku sedang berpikir, 'no dayo. Apa alasan Akashi bunuh diri saat itu. Apa mental Akashi sebegitu lemahnya?"
Takao mengedikkan bahunya lalu menghela napas. "Aku justru ingin tahu bagaimana reaksi Akashi-kun melihat kalau ketiga bom yang kita pasang semuanya sudah dijinakkan bahkan sebelum countdown timer menyala. Ternyata persiapan Aomine-san dan Kise-san memang luar biasa. Mereka bahkan sampai membuat laporan palsu pada atasannya untuk melakukan penjinakan bom dan bertindak di depan kita seolah-olah tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah bom-bom itu meledak. Yah, jika saja Akashi-kun masih hidup, hahaha." jawab Takao lalu tertawa paksa.
Hening.
Atmosfer di sekitar mereka berdua semakin terasa berat sampai Takao kehilangan mood untuk tertawa (meskipun dipaksakan).
"Kalian tidak ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Akashi-kun?"
Shintarou dan Takao terlonjak karena kemunculan pemuda pucat pemilik surai baby blue itu. Siapa lagi kalau bukan Kuroko Tetsuya.
Kuroko membungkuk, tidak peduli jika dia baru saja membuat jantung Shintarou dan Takao hampir melompat keluar dari tempatnya.
"Kuroko!" Shintarou protes sambil memperbaiki letak kacamatanya yang miring.
Kuroko Tetsuya, tiga hari yang lalu, ditemukan pingsan karena dehidrasi dan demam tinggi di dalam bunker yang terletak di belakang penampungan bersama sepuluh anak-anak panti lainnya. Tapi jika dilihat sekarang, sepertinya Kuroko sudah baik-baik saja.
Kuroko mengedikkan bahunya cuek, menghiraukan protes Shintarou, dan memilih untuk memutar tubuhnya untuk menghadapi pemuda unik pemilik sepasang alis bercabang dan rambutnya bergradasi hitam-merah.
"Kuroko! Jangan menghilang tiba-tiba lagi!" Kagami mengomel sambil mengacak rambut acak-acakan Kuroko emosi. Kuroko protes dengan cara menyikut perut Kagami dan Takao tertawa terbahak-bahak.
"Sshh, sakit sekali, Kuroko!" ringis Kagami sambil menjitak kepala Kuroko. Kuroko mengaduh dan mengusap kepalanya tapi ekspresinya tetap datar-datar saja, Takao tambah kencang tertawa.
"Sudah selesai bertengkarnya, 'no dayo?"
Shintarou bertanya dan ketiganya terdiam.
"..."
Hening kembali melanda. Hanya angin musim panas yang menggoyang ranting pohon, membuat daun bergesekan dengan suara merdu.
"Jadi, kalian sudah ke dalam?" Takao bertanya sambil mengusap setitik air mata palsu di ekor matanya.
"Belum, Kazunari-kun. Tadi Kagami-kun bilang dia nggak mau melihat jenazah Akashi-kun." jawab Kuroko dan Kagami langsung memekik protes. Kuroko menghiraukan protes Kagami dan mengajak teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah duka. "Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam."
Mereka berempat masuk ke dalam rumah duka dan melihat orang yang berlalu-lalang mengucapkan bela sungkawa pada paman dan bibi Seijuurou dari pihak sang ibu yang menjadi perwakilan keluarga.
Keempatnya bergantian membakar dupa di altar megah dengan nuansa putih untuk mengenang Seijuurou.
Takao membakar dupa untuk Seijuurou dan berdoa dalam hati.
"Hei, Akashi-kun, kau tahu, warna putih sangat tidak cocok denganmu. Kalau saja aku menggantinya dengan warna merah, aku pasti akan menggantikannya untukmu," Takao berkata saat dilihat asap pembakaran dupanya mulai membumbung ke langit dan bersatu dengan udara. "Iya, 'kan, Shin-chan?"
Saat Takao berpaling, Takao melihat partnernya yang tsundere itu sedang mengatupkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya.
Dalam hati, saat Shintarou membakar dupa untuk penghormatan terakhir pada Seijuurou, Shintarou berbisik dengan sangat pelan.
"Selamat tinggal, Akashi Seijuurou."
Dan asap bakaran dupa Shintarou mengapung, bersatu dengan udara, dan hilang.
.
.
.
The End
.
.
.
Author's Bacot Section :
/PS : CHAPTER INI DIEDIT KARENA KEBANYAKAN CACATNYA/
HOREEE! *acungin N**ca** French Vanilla* Kanpai! Kanpai! Kanpai!
Yup, Terror berakhir disini. Gimana? Gimana? Ada yang mau ngasih reaksi?
Aku ngaku deh.. Tadinya mau MidoTaka yang kebunuh bahkan tiga-tiganya mau kubunuh. Tapi nggak seru gitu, nggak drama /heh/ Akhirnya saya memutuskan untuk membunuh Sei saja (author : *dicekik Akashi FC*)
Ah, ya, maaf lama banget updatenya. Maaffff banget. Saya cuma bisa ngetik jam-jam sepuluh ke atas dan selalu berakhir ketiduran dan terkadang hasil ketikan saya nggak kesave *dor*
Oke, aku bales review yakk~ Chapter yang masuk sejak chapter 8 dipublish aja , yaa~
1. Anita (guest) : Haha, sama-sama. Sekarang semangat buat UAS yaa~
2. Kojima Miharu : Eehhh? I have a different point of view? Ugh *blushing* Thanks for review! Enjoy the final touch and stay review!~ *bow
3. chae121 : Haha, iya. Ini semacam fussion KnB sama Zankyou. Perlukah saya nyantumin disclaimernya Zankyou no Terror by MAPPA? /heh/ Duh, ini sih nggak ada apa-apanya, serius. Bagi saya ketegangannya bahkan belum bisa membekas. Dakedo saa, makasih udah review! Enjoy the last chapter and stay review :3
4. Freyja Lawliet : Tuh, Kak. Sesuai harapan, Akashi hancur, mwahahahahaha~ /tos/ *ditembak pake dominator* Mereka itu disekap di kediaman lain punya Akashi yang udah lama ditinggal. Jadi, itu rumah lamanya Sei (lupa nggak diceritain dan malas edit) Yup! Makasih udah review dan selamat menikmati chapter terakhirnya! Review lagi yaa kak!
5. Sayounara Watashi : Makasih. Hehe, imouto saya bikin updatenya jadi ngaret, huehue. Yup! Makasih udah ngikutin semua ceritanya dan atas semua review-reviewnya! Enjoy the last chapter and stay review, no desuu~
6. Yoruno Aozora : Saya juga nggak terima ini chapter terakhir. Pengen menulis lebih banyak tapiii saya juga lagi garap proyek baru dan nggak ini terabaikan *peluk Shin* Makasih udah review! Enjoy the last chapter and stay review, darou!
7. chae121 : Nggak. Aku nggak akan ngebiarin ada misteri saat karya ini berakhir. Semoga chapter penutup ini cukup untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang membekas di kepala chae-san! Enjoy the fic! Review, onegaishimasu!
8. Kynha-Chan : Tuh!Tuh! Sesuai harapan Kynha-chan Akashi sudah hancur! Makasih udah review! Nikmati chapter terakhir dan tetep review ya!~
9. siucchi : Cuma terinspirasi Zankyou no Terror kok, Kak *bow* Yup, ini udah chapter terakhir, so, dinikmati yaa~
10-19. Zhang Fei sama elkyouya : *udah PM-an panjang lebar jadi balasan review sudah diberikan* /dor/
Wuaahh~ Saya dapet banyak review kali ini. Semoga fic ini bisa tembus 100 /heh/
Oh ya, SIAPA YANG NOMINASIIN TERROR KE IFA UNTUK GENRE CRIME/MYSTERY? Ya ampun, saya terharu sekali. Meskipun ada diranking 35 dari 53 karya, saya merasa terharu dan itu meningkatkan saya untuk membuat fanfiksi dengan crime lebih banyak lagi.
MOHON BANTUANNYA!
Oh ya bicara tentang lebih banyak fanfiksi, saya lagi garap fanfic crime dengan pair AoMomo :3 Publishnya nanti sihh.. Kalo bisa setelah UAS :V
Udah ah, saya nanti nangis. Ini karya pertama saya menurut saya sukses besar *sungkem*
SAMPAI KETEMU DI KARYA SAYA YANG LAIN YAAA!~
.
.
.
OH YA, JANGAN LUPA REVIEW ATAU KRITIK DAN SARANNYA!
.
.
.
ShintaroArisa, out! ^w^)7
