"Ah, paman penjaga kasir.." Terdengar suara pemuda itu setelah ia bisa melihat orang yang ada di belakang Isashiki. Kini Miyuki tengah menjadi pusat perhatian, kecuali Eri dan Yuuko yang sudah tidak heran lagi dengan kelakuannya. Miyuki sedikit memandang ke arah Kouri. Tapi gadis itu hanya memperlihatkan wajah datarnya. Tapi tanpa disadari semua orang, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis.

-FLASHBACK-

Kemarin, Diamond Café

Kouri biasanya pulang sekolah bersama sahabatnya, Keiko. Tapi hari ini Keiko harus menghadiri rapat club. Sekarang dia tengah berjalan seorang diri menuju stasiun kereta. Jarak antara sekolahnya dengan stasiun itu tidak begitu jauh. Tapi perjalanan dari sekolah menuju stasiun kereta harus melewati tempat itu. Sebenarnya dia malas sekali lewat sana, sebisa mungkin dia ingin menghindari tempat itu. Apalagi ketika sedang sendirian seperti ini. Tapi tidak ada pilihan lain, itu jalan satu-satunya untuk menuju stasiun kereta.

Tempat yang dihindari Kouri sebenarnya bukan tempat berbahaya. Tempat itu ramai dikunjungi banyak orang, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Tempatnya juga bagus, apalagi makanan dan minuman di sana sangat menggugah nafsu makan. Benar sekali, tempat itu adalah Diamond Café milik pamannya. Bukan masalah café-nya yang membuat Kouri enggan melewatinya, tapi itu lebih karena pamannya yang SUPER jail. Siapa lagi? Tentu saja Miyuki Kazuya, adik sepupu ibunya. Kalau pamannya mendapati dia lewat di depan café itu, pasti dia akan direcoki dengan berbagai ulah jailnya. Karena itu dia begitu menghindari tempat itu.

Sebentar lagi Kouri akan tiba di depan café pamannya. Dia sedikit ragu untuk melangkahkan kaki melewati tempat itu. Tapi dia harus segera pulang. Saat ini usia kandungan ibunya sudah mendekati akhir bulan kedelapan, jadi dia yang lebih sering melakukan pekerjaan rumah. Kasihan kalau sampai ibunya kelelahan, dia juga takut itu akan mempengaruhi kesehatan adik kecilnya yang belum lahir.

Akhirnya Kouri memantapkan hati untuk kembali melangkah. Saat dia baru selangkah berjalan, "Kouri-san… Kouri-san, chotto matte!" 'Eh, ada yang memanggilku? Siapa?' Dia kembali berhenti, berbalik, dan mencoba mencari asal suara. 'Lelaki, yang memanggilku adalah seorang lelaki.' Tapi dia yakin itu bukan suara pamannya, jadi dia sedikit lega. Kouri kembali menajamkan penglihatan dan mencoba melihat ke arah kerumuman orang tak jauh dari tempatnya berdiri. 'Itu dia!' Kouri berhasil menemukan seorang pemuda yang terlihat melambai-lambaikan tangan, dia masih berusaha melewati kerumunan orang untuk menuju tempat Kouri. Tak lama kemudian pemuda itu berhasil melewati kerumunan dan berdiri di depan Kouri. "Ah, akhirnya aku berhasil mengejarmu." Pemuda itu tampak tersenyum lega. "Masih ingat aku, kan?" tanya pemuda itu.

"Tentu saja, Ryouta-kun." jawab Kouri kemudian balik bertanya, "Mengejarku? Ada apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan, Kouri-san. Sebentar saja." Pemuda itu menjawab pertanyaan Kouri sambil menyunggingkan senyum lagi, dia adalah teman sekelas Kouri ketika kelas satu dulu. Tapi semenjak naik kelas dua, kelas mereka terpisah dan tidak pernah satu kelas lagi. Kominato Ryouta adalah pemuda yang ramah dan sopan. Banyak teman-teman yang nyaman bersamanya. Meskipun Kouri termasuk anak yang pendiam, namun Ryouta berhasil berteman baik dengannya. Hanya saja memang sudah sifat Kouri tidak banyak bicara, jadi Ryouta-lah yang lebih banyak bicara. Itu pun hanya kalau sedang berkumpul bersama teman-teman yang lain. Mereka tidak pernah benar-benar mengobrol berdua.

"Apa yang ingin kau tanyakan, Ryouta-kun? Aku tak bisa lama-lama, ibuku sedang menunggu di rumah."

"Baiklah, begini…" Ryouta sempat menghentikan kata-katanya, kemudia melihat sekitarnya sebelum melanjutkan, "Oh ya, bagaimana kalau kita masuk ke sana? Di sini panas sekali, Kouri-san. Aku janji ini tidak akan lama, aku hanya ingin memastikan sesuatu. Tapi lihatlah, di luar sini sangat panas." Ryouta menunjuk tempat yang tak jauh dari mereka itu, tempat yang sangat dihindari Kouri, Diamond Café.

Kouri tidak langsung menjawab ajakan Ryouta. Dia melirik tempat itu sekilas, mengamati kehadiran sosok yang paling dihindarinya. Sebenarnya dia ingin menolak, tapi dia tidak bisa menceritakan pada Ryouta alasannya menghindari tempat itu. 'Kouri tidak mau masuk ke sebuah café karena itu adalah milik pamannya sendiri' terdengar sangat konyol, bukan?' Dia malu menceritakannya pada Ryouta. "Kouri-san.. Bagaimana?" tanya Ryouta sekali lagi, menyadarkan Kouri dari pikirannya.

"Baiklah, Ryouta-kun." dengan setengah hari Kouri menerima ajakan Ryouta untuk masuk ke tempat itu. "Ryouta-kun, kita duduk di sana saja." kata Kouri saat mereka baru saja tiba di dalam café. "Tidak masalah." Ryouta langsung menyetujui permintaan Kouri.

Kouri memilih tempat duduk yang berada di pojok. Tempatnya sedikit tersembunyi dan bukan tempat favorit pengunjung. Tujuannya adalah sebisa mungkin menghindari pamannya yang biasanya menjaga meja kasir. Dia tidak mau Miyuki mengganggunya dengan berbagai tingkah jailnya. Saat masuk tadi Kouri tidak melihat Miyuki di sana. 'Syukurlah..' batinnya.

"Kouri-san, ini minumanmu." Tadi Ryouta pergi untuk memesan minuman terlebih dahulu. "Arigatou.." balas Kouri. Sekarang dia sudah kembali ke meja itu. "Langsung saja kalau begitu. Kouri-san, margamu Isashiki, kan?" Ryouta memulai pembicaraan setelah menyeruput minumannya.

"Benar." jawab Kouri setelah meletakkan gelas minumannya.

"Apakah kebetulan ayahmu adalah Isashiki Jun?"

"Iya, itu nama ayahku. Ada apa?" Walaupun berteman baik, tapi mereka tidak terlalu dekat untuk saling mengetahui nama orang tua masing-masing.

"Ah, ternyata benar.. Syukurlah aku menanyakannya pada orang yang tepat. Nama ayahku adalah Kominato Ryousuke. Ayah kita adalah teman satu club saat di SMA dulu." Ryouta menjelaskan hubungan ayah mereka dengan penuh semangat.

"Aku sering mendengar nama itu saat ayah bercerita tentang teman-teman club-nya. Tapi tidak kusangka kau adalah putranya." Kouri juga sedikit terkejut mengetahui hal itu.

"Beberapa hari yang lalu ayahku mendapat kunjungan dari Yuuki Tetsuya-san. Para alumni club baseball angkatan mereka ingin mengadakan reuni. Jadi Yuuki-san datang menitipkan undangan untuk ayahmu, karena dia dengar kalian juga tinggal di kota ini. Dia sendiri harus segera kembali karena rumahnya yang lumayan jauh. Ayah sendiri baru tahu kalau kalian juga tinggal di kota ini. Saat kulihat nama yang tertera di undangan itu adalah Isashiki Jun, aku jadi teringat padamu karena marga kalian sama. Kusampaikan pada ayah tentang hal itu dan kubilang akan kupastikan dulu padamu." Ryouta menceritakan dengan panjang lebar tentang tujuannya menemui Kouri.

"Ah, jadi mereka akan mengadakan reuni.. Baiklah, akan kusampaikan undangannya."

"Arigatou.. Kuambilkan dulu undangannya." Ryouta tersenyum dengan lebar. Kenyataan bahwa teman sekolahnya adalah putri teman lama ayahnya membuat dia begitu bersemangat. Dia terlihat sedang mengaduk-aduk isi tasnya, mencari undangan itu. Sesaat keningnya berkernyit untuk mengingat-ingat sesuatu. Seperti menyadari sesuatu, dia berkata, "Gomen, Kouri-san.. Ternyata aku tidak membawa undangan itu. Aku melupakannya di atas meja belajarku semalam. Padahal waktunya tinggal sebentar lagi." tampak Ryouta menyesali kecerobohannya.

"Kalau begitu bisa kau berikan padaku besok di sekolah." sahut Kouri.

"Begini saja, besok aku akan pergi ke rumahmu. Akan kusampaikan sendiri pada ayahmu, aku juga ingin memperkenalkan diri. Tapi mungkin aku akan tiba di rumahmu agak malam, besok ada kegiatan club. Apa ayahmu akan ada di rumah besok malam?" Ryouta memberikan solusi. Dia memang ingin bertemu dengan ayah Kouri, untuk menyapa teman lama ayahnya itu.

"Iya, sepertinya ayah tidak ada acara di luar rumah. Jadi kau bisa menemui dan menyampaikannya langsung."

"Baiklah, besok malam aku akan ke rumahmu. Waktunya sudah mendesak, ayahmu harus segera tahu tentang hal ini. Akan kupastikan untuk memberikannya pada ayahmu besok." Ryouta berkata sambil menyunggingkan senyum lebarnya.

"Heem." Kouri meng-iya-kan hal itu. "Gomen, aku harus pulang sekarang. Aku tidak memberi tahu orang tuaku kalau aku akan mampir ke suatu tempat sepulang sekolah." Kouri segera berpamitan, karena dia tidak bisa berlama-lama di luar rumah. Ibunya pasti sudah menunggu. Apalagi dia memang tidak ingin terlalu lama di tempat ini, terlalu menyeramkan.

"Hati-hati. Jaa.. " Ryouta memperhatikan Kouri yang segera keluar dari café itu. Minumannya belum habis, jadi dia masih tinggal di sana untuk menghabiskan minumannya.

Tanpa sepengetahuan Kouri dan Ryouta, tidak jauh dari tempat duduk itu seseorang tengah mendengarkan pembicaraan mereka.

‡ ‡ ‡ ‡ ‡

Seperti biasa, Miyuki sedang berada di café hari ini. Waktu makan siang adalah saatnya dia menyiapkan menu makan siang. Setelah dia memberikan catatan kepada koki di dapur, dia segera beranjak ke tempat favoritnya. Jika dia sedang ada di café seperti ini, tempat favoritnya adalah meja kasir. Awalnya pegawai yang menjaga meja kasir heran sekali dengan kelakuan bosnya itu. Tapi lama-lama mereka sudah terbiasa dengan tingkah bosnya yang terkenal tidak biasa.

Miyuki tidak selalu kembali ke perusahaannya setelah jam makan siang usai. Jika seluruh urusannya di sana sudah selesai, dia akan menghabiskan waktunya di café. Itu bisa berarti keberuntungan atau malah menjadi musibah bagi Eri. Dia sering membuat Eri hilang kesabaran dengan tingkahnya yang di luar kewajaran. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi di mata para pegawai. Kadang pengunjung yang datang untuk memesan menu makan siang lebih banyak dari hari biasanya. Kalau sudah begitu Miyuki akan turun tangan sendiri untuk membantu di dapur dan itu berarti sebuah keberuntungan.

Hari ini, setelah segala urusan di perusahaan beres, Miyuki berada di café hingga sore hari. Seperti biasanya, dia sedang membantu di meja kasir. Dia melihat anak-anak SMA mulai ramai memenuhi jalanan. 'Sudah waktunya pulang sekolah. Nikmatilah masa muda kalian. Ah, bicaraku seperti orang tua saja.' Rupanya dia masih berpikir usianya yang menginjak kepala empat itu tergolong masih muda. Tanpa sadar Miyuki tersenyum sendiri melihat pemandangan itu. Seorang pegawai di sebelah Miyuki sempat bergidik ngeri melihatnya, dia takut Miyuki akan berulah lagi.

"Miyuki.. Aku ingin menanyakan sesuatu soal menu baru kita." Suara Kuramochi membuyarkan lamunan Miyuki. Tubuh Kuramochi tampak dari balik tembok yang membatasi area depan dengan area khusus pegawai.

"Baiklah, aku akan menyusul ke belakang." Miyuki kemudian segera beranjak dari meja kasir.

Tidak lama setelah Miyuki meninggalkan meja kasir, tampak dua orang anak muda memasuki café, lelaki dan perempuan. Dari pakainnya mereka adalah siswa SMA di dekat situ. Si perempuan menunjuk tempat duduk yang ada di pojok. Siswa lelaki itu beranjak menuju meja pemesanan. Ya, mereka adalah Isashiki Kouri dan Kominato Ryouta.

Tepat saat Ryouta sedang mengantri, Miyuki sudah kembali ke meja kasir. Miyuki masih memandangi pemuda yang memesan dua minuman dingin itu. Setelah menerima pesanannya, pemuda itu beranjak ke meja kasir untuk membayar. Dia sedikit membungkuk lalu tersenyum pada Miyuki. Kemudian dia menyerahkan selembar uang kertas dan menunggu Miyuki mengambilkan kembalian. Setelah itu, dia sekali lagi sedikit membungkuk dan berjalan menjauhi meja kasir. 'Anak yang sopan' batin Miyuki. Kemudian dia segera disibukkan dengan antrian panjang pengunjung.

Setelah disibukkan dengan panjanganya antrian, kini dia bisa sedikit bersantai. Dia menyapukan pandangan ke seisi café. Sekilas dia menangkap bayangan yang tak asing lagi. Benar, itu keponakannya. Miyuki sedang beranjak menghampiri keponakannya itu, ketika langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia melihat sesuatu yang tidak biasa. Kouri tengah berbincang-bincang dengan seorang pemuda. Miyuki tidak pernah melihat Kouri hanya pergi berdua bersama seorang lelaki. Kemudian dia melirik meja yang ada di samping jendela. Tempat itu kosong. Dia semakin berpikir kelakuan keponakannya sangat aneh hari ini. Kouri selalu meminta meja di dekat jendela jika berkunjung di sini, itu tempat favoritnya. Sebenarnya tidak bisa dibilang selalu, Kouri hanya mampir ke café itu ketika terpaksa tidak bisa menolak ajakan sahabatnya ataupun orang tuanya. Miyuki memutuskan untuk berdiri lebih dekat, tanpa terlihat oleh keduanya tentu saja. Semakin dekat, kini dia bisa melihat wajah pemuda itu. Itu pemuda sopan yang tadi sempat menarik perhatiannya. Dia memutuskan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

† † †

"Begini saja, besok aku akan pergi ke rumahmu. Akan kusampaikan sendiri pada ayahmu, aku juga ingin memperkenalkan diri. Tapi mungkin aku akan tiba di rumahmu agak malam, besok ada kegiatan club. Apa ayahmu akan ada di rumah besok malam?" terdengar suara pemuda itu.

"Iya, sepertinya ayah tidak ada acara di luar rumah. Jadi kau bisa menemui dan menyampaikannya langsung." Kouri kini menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan si pemuda.

"Baiklah, besok malam aku akan ke rumahmu. Waktunya sudah mendesak, ayahmu harus segera tahu tentang hal ini. Akan kupastikan untuk memberikannya pada ayahmu besok." kata pemuda itu lagi.

"Heem. Gomen, aku harus pulang sekarang. Aku tidak memberi tahu orang tuaku kalau aku akan mampir ke suatu tempat sepulang sekolah." terdengar Kouri berpamitan pada pemuda itu.

"Hati-hati. Jaa.. " Lalu terlihat Kouri keluar dari café sedangkan pemuda itu masih tinggal di sana sambil menikmati minumannya.

† † †

'Hemm, Kouri-chan menemui pemuda itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dan pemuda itu ingin berkunjung langsung untuk menemui Jun-san. Apa tadi dia bilang? Ingin menyampaikan sesuatu dan memperkenalkan diri? Ah, jadi sekarang Kouri-chan… Aku penasaran bagaimana reaksi Jun-san saat mengetahui hal ini. Sepertinya akan menarik. Pupupu..'

Begitulah kesimpulan yang didapat Miyuki setelah mendengar percakapan Kouri dan Ryouta tadi. Kini dia sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang akan membuat pertemuan besok lebih menarik (menurutnya). Dia tidak sabar menunggu besok malam.

Satu jam yang lalu, Perjalanan menuju rumah Isashiki Jun

Sebuah mobil sedan merah baru saja berbelok. Ada dua orang di dalam mobil itu, seorang lelaki yang tengah memegang setir dan di sebelahnya duduk sang istri yang tampak lega setelah tadi sempat terkurung di tengah kerumuman manusia. Mereka baru saja menghadiri acara pernikahan anak salah seorang kerabat mereka dan kini mereka dalam perjalanan pulang. Pasangan Kominato Ryousuke dan Megumi. Sebenarnya acara itu belum sepenuhnya usai. Setelah acara untuk tamu umum, masih ada acara khusus untuk kerabat. Tetapi Megumi tidak begitu suka dengan keramaian pesta, keadaan itu membuatnya sesak. Dia sudah berusaha bertahan hingga acara inti selesai agar tidak mengecewakan sang tuan rumah. Akhirnya dia mengajak suaminya untuk berpamitan. Kominato, yang sangat hafal dengan kebiasaan istrinya, sudah tidak heran lagi dan menyetujui ajakannya.

"Wah, sepertinya jalan ini sedang macet. Apa yang terjadi?" suara Kominato memecah keheningan. Megumi yang tadi bersandar sambil memejamkan mata untuk menenangkan diri, kini mencoba melihat apa yang dilihat suaminya. "Kita ambil jalan memutar saja." lanjutnya.

"Terserah, yang penting aku ingin segera sampai di rumah." Setelah menyetujui usulan suaminya, Megumi kini mengamati jalanan yang mereka lewati. "Ryou-kun.. Bukankah jalan ini melewati sekolah Ryou-chan?" Megumi merasa tak asing lagi dengan jalanan yang mereka lewati.

"Sepertinya begitu." Kominato yang menyadari hal itu menjawab singkat.

"Hari ini Ryou-chan ada kegiatan club. Bagaimana kalua kita pulang bersama?"

"Dia anak lelaki. Pulang malam adalah hal yang biasa."

"Kau sama sekali tak mengkhawatirkan putramu, Ryou-kun?"

"Tidak terlalu."

"Apa?!" Betapa kagetnya Megumi mendengar jawaban suaminya. Suaminya tak mengkhawatirkan putra mereka.

Megumi sudah bersiap membuka mulut ketika Kominato mendahuluinya. "Ah.. Dia sudah punya okaasan yang SANGAT sering mengkhawatirkannya." jawab Kominato sambil tetap menatap jalanan di depannya. Jangan lupakan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Senyum yang selalu menyimpan berbagai makna.

"Eh? Jadi sebenarnya kau mengkhawatirkan dia atau tidak?" Megumi dibuat semakin bingung dengan jawaban suaminya.

"…." tidak ada jawaban apa pun dari Kominato. Hanya senyum itu yang dapat dilihat Megumi. "Ryou-kun.. Katakan padaku." Megumi ternyata masih menuntut penjelasan lebih lanjut pada suaminya.

"Sebaiknya hubungi Ryou-chan dan tanyakan apakah kegiatan club-nya sudah selesai."

Megumi melupakan pembicaraan mereka tadi dan segera mengambil ponsel di dalam tas tangannya. Di menyentuh layarnya beberapa kali lalu mendekatkan ponsel itu ke telinga. "Moshi-moshi, Ryou-chan. Apa kau masih di sekolah?"

"Iya, Kaasan. Ada apa?" jawab suara di seberang sana.

"Ah, kalau kegiatan club-mu sudah selesai kita bisa pulang bersama."

"Bukankah kalian pergi ke acara pernikahan?"

"Iya, kami sudah selesai dan sekarang dalam perjalanan pulang. Tapi jalan yang kami lewati sedang macet. Saat mencari jalan memutar ternyata jalan ini searah dengan sekolahmu. Jadi tak ada salahnya kan kalau kami menjemputmu sekalian."

"Ah, begitu rupanya.. Hai', sebentar lagi aku selesai, mungkin sepuluh menit lagi. Tapi aku ingin mampir ke suatu tempat, Kaasan."

"Kau ingin mampir kemana, Ryou-chan?"

"Sebenarnya aku ingin mampir ke rumah Isashiki-san untuk memberikan undangan reuni yang kemarin lupa kutitipkan pada Kouri-san. Bagaimana?"

"Tunggu sebentar, kutanyakan dulu pada Touchan-mu. Ryou-kun, Ryou-chan ingin mengantarkan undangan reuni untuk Isashiki-san. Apakah kita bisa mampir sebentar?"

"Hem, kurasa tidak masalah." Kominato menyetujuinya, suaranya dapat di dengar Ryouta yang ada di seberang sana.

"Kau dengar sendiri, Ryou-chan. Kalau begitu tunggu kami ya.."

"Hai'.. Arigatou, Kaasan.. Jaa.."

"Hem.. Jaa.." Megumi mengakhiri pembicaraan di ponsel itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas tangan.

Di ruang club, Ryouta sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Di sana masih ada beberapa anak yang juga sedang bersiap-siap pulang. "Ryou-kun.. Kau akan pergi ke rumah Isashiki-san? Kau akan menemui temanmu waktu kelas satu itu? Wah, hubungan kalian sudah sejauh itu rupanya. Hhaha.." terdengar suara salah seorang temannya, Rintaro, yang tadi rupanya sempat mendengar obrolannya di telepon.

"Tidak seperti itu. Aku ke sana karena aku ingin menyampaikan sesuatu pada ayahnya, bukan Kouri-san."

"Wah, kau malah akan langsung menemui ayahnya? Apa kau ingin melamar putrinya? Kau berani sekali, Ryou-kun! Aku tahu sebentar lagi kita lulus SMA, tapi tak kusangka kau akan menikah secepat itu." Rintaro berkata sambil menepuk pundak Ryouta untuk menggodanya dalam balutan kekaguman.

Wajah Ryouta sangat terkejut dengan kesimpulan yang dibuat Rintaro. "Menikah?! Kau salah paham! Aku bahkan belum memulai apa-apa dengan Kouri-san. Bagaimana mungkin aku bisa melamarnya? Ini bukan hubungan seperti itu."

"Belum? Kau bilang belum ya.. Berarti kau berencana untuk memulainya, kan? Iya, kan? Hhaha.." Suara tawa Rintaro semakin keras hingga beberapa anak yang ada di situ memandang mereka sekarang.

"Tidak! Pokoknya tidak seperti itu! Kau jangan berpikir macam-macam dan menyebarkan gosip ya." Rintaro suah bersiap melancarkan serangan lagi saat ponsel Ryouta berdering tanda ada pesan masuk. Ryouta segera membuka pesan itu. Ternyata dari ibunya, mereka sudah ada di depan sekolah Ryouta. Setelah membalas pesan itu, Ryouta segera berpamitan, "Aku pulang dulu. Mata ashita.." Ryouta segera berlari menuju gerbang sekolah untuk menemui orang tuanya.

"Ryou-chan.. Masuklah.." suara Megumi menyambut kedatangan putranya. Ryouta segera masuk dan duduk di kursi penumpang belakang. Sesuai rencana, mereka semua menuju rumah Isashiki.

"Jadi dia benar-benar putri Jun-san ya.. Aku heran kau tidak menyadarinya." Kominato memulai obrolan setelah beberapa menit berlalu. Ryouta yang menyadari kepada siapa kalimat itu ditujukan segera merespon, "Benar. Kami hanya pernah sekelas saat tahun pertama saja. Setelah itu tak pernah di kelas yang sama lagi sampai sekarang. Selama tahun pertama pun kami tidak pernah benar-benar mengobrol."

"Benarkah? Kenapa? Kau takut mendekatinya?" Kominato menyunggingkan senyum khasnya.

"Memangnya kenapa?" timpal Megumi yang heran mendengar kata-kata suaminya.

"He? Bukan begitu. Kouri-san sangat pendiam di kelas. Kalau pun aku bertanya padanya, dia hanya akan menjawab singkat-singkat saja. Jika sudah seperti itu, aku bingung apa lagi yang bisa kami obrolkan. Ini bukan masalah aku berani atau tidak." Ryouta berusaha meyakinkan ayahnya.

"Hemm.. Apakah benar begitu? Atau karena jantungmu berdegup kencang, bahkan hanya dengan melihat wajahnya? Sehingga kau tidak sanggup mengeluarkan suara untuk sekedar menyapanya saat dia sedang sendiri." Rupanya serangan Kominato belum berhenti sampai di situ saja. Dia masih melancarkan serangan yang lain.

"Kenapa begitu? Apakah Kouri-chan semenakutkan itu?" Megumi segera menyuarakan keheranannya yang lain.

"Tentu saja itu karena putramu memiliki..." Mendengar pertanyaan istrinya, Kominato segera buka mulut untuk menjawab tapi dipotong oleh suara Ryouta, "Ah, lihat Tousan! Kita harus berbelok ke kanan. Setelah itu ada perempatan di depan dan kita ambil belokan ke kiri. Tousan sebaiknya berkonsentrasi dengan jalan di depan saja. Hhehe.."

"Ah, benar. Sebaiknya perhatikan jalannya. Jalanan di sini agak gelap, hati-hatilah saat di penyeberangan. Jangan sampai menabrak penyeberang jalan ya.." Megumi ikut memperingatkan Kominato dengan senyum tersungging di bibirnya. Begitulah Megumi sangat polos dan mudah dialihkan perhatiannya. 'Kau pintar juga Ryou-chan. Kaasan-mu sampai tak menyadari apa yang sebenarnya kau inginkan.' batin Kominato.

'Arrgh.. Tadi Rintaro dan sekarang Tousan. Kenapa mereka bisa berpikir begitu? Padahal tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kami punya hubungan tertentu. Tapi apa ya yang sebenarnya Kouri-san pikirkan? Jika sedang sendiri, dia selalu memasang headset sambil memandang ke luar jendela atau menulis sesuatu. Apa musik yang sering didengarnya atau siapa penyanyi favoritnya? Apa yang sebenarnya dia lihat di luar jendela? Apa yang dia tulis di bukunya? Mungkinkah itu buku harian? Dia jarang berbicara dengan orang lain, kecuali dengan Keiko-san. Mungkinkah itu caranya meluapkan isi hatinya, melalui buku harian? Mendengarkan musik, menulis, memandang ke luar jendela, apa dia masih melakukan hal itu sampai sekarang? Beruntung sekali dia selalu sekelas dengan Keiko-san. Jika tidak, apakah dia bisa mendapat teman baru yang bisa sedekat Keiko-san? Bagaimana jika tidak? Apakah di kelas dua dan tiga dia tetap pendiam? Atau sekarang dia sudah punya banyak teman? Siapa saja ya yang biasa diajaknya bicara? Eh, apa sekarang dia juga mengobrol dengan lelaki? Bukan berarti dia tak pernah berbicara dengan lelaki, tapi itu sangat jarang terjadi. Adakah lelaki yang tertarik padanya? Atau jangan-jangan dia sudah punya pacar sekarang? Siapa?'

"...ta-chan.. Ryouta-chan.. Kominato Ryouta." Megumi sedikit mengeraskan suaranya hingga berhasil membuyarkan pikiran Ryouta.

"Hai', Kaasan.. Ada apa?" Rupanya sejak tadi dia sibuk memikirkan Kouri. 'Hah, sejak kapan aku mulai memikirkan dia?' Ryouta pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. 'Pasti ini pengaruh Rintaro dan Tousan tadi. Hanya efek sementara, tidak akan mengubah apa pun.'

"Kau tidak mendengarkan ya dari tadi? Kita sudah sampai. Turunlah..." Megumi sedikit kesal karena ternyata apa yang sejak tadi dia bicarakan tidak didengar putranya. Kominato yang melihat hal itu, hanya tersenyum penuh makna. Kini dia lebih yakin dengan dugaannya.

"Gomenasai, Kaasan.. Baiklah, aku turun." Ryouta tampak menyesal. Dia segera membuka pintu mobil dan keluar. Saat akan menutup pintu mobil, dia menyadari mobil itu masih menyala dan ayahnya masih memegang setir. "Tousan tidak ikut turun untuk menyapa Isashiki-san?"

"Lain kali saja. Sebaiknya antarkan saja undangan itu dan kita segera pulang. Kaasan-mu sudah ingin segera sampai di rumah."

"Eh? Kalau kau ingin menyapa Isashiki-san, aku..." Belum sempat Megumi menyelesaikan kalimatnya, Kominato sudah angkat bicara "Ini sudah terlalu larut untuk bertamu. Cepat berikan saja undangan itu ya.." Nada suara yang santai itu menyimpan makna perintah yang tidak ingin dibantah.

"Baiklah, aku akan menyampaikan undangan ini dan segera kembali." Ryouta menutup pintu mobil kemudian berjalan melewati halaman rumah itu. Setelah sampai di depan pintu rumah, dia segera menekan bel.

-END OF FLASHBACK-

Keesokan harinya, Saat makan siang di Diamond Café

"Kelakuanmu masih saja seperti itu. Berhentilah mengganggu orang lain." Eri melakukan kegiatan rutinnya, mengomeli Miyuki.

"Aku tidak mengganggu mereka."

"Yang seperti itu kau bilang tidak mengganggu?!" Eri menjadi lebih geram setelah mendengar jawaban Miyuki tadi. Kemudian dia melanjutkan, "Aku malu pada keluarga Kominato!"

Sambil memegangi kepalanya Miyuki segera menjawab, "Aku tidak tahu dia putra Kominato-san. Aku hanya…"

Miyuki belum sampai menyelesaikan kalimatnya, "Walaupun dia bukan putra Kominato-san, seharusnya kau tidak begitu. Mau sampai kapan kau bertingkah seperti itu?!" Daripada pertanyaan, kalimat tadi lebih bermakna peringatan agar Miyuki menghentikan kebiasaan jailnya.

"Sampai…." sejenak kalimatnya terpotong, tampak berpikir sebelum akhirnya melanjutkan, "selamanya mungkin. hhehe.." Miyuki yang mendengar pertanyaan istrinya hanya menjawab sekenanya saja.

"Apa kau bilang, BAKAZUYA?!" Jawaban Miyuki sukses membuat Eri terkejut dan naik darah.

Plak!

"Arrgh! Apa yang kau lakukan?! Sakit!" Eri yang sudah kehilangan kesabaran, tanpa sadar memukul kepala Miyuki di bagian itu, sasaran amarah Kominato semalam.

Semalam dia mendapat hadiah istimewa dari Kominato. Senyum manis yang selalu diperlihatkan Kominato sering kali menipu. Cukup sadis hukuman yang diberikannya pada Miyuki. Jika itu bisa disebut keberuntungan, untung saja Kominato tidak bisa berlama-lama di rumah Isashiki. Dia dan keluarganya hanya menyapa di depan pintu kediaman Isashiki saja, menurutnya ini sudah terlalu larut untuk bertamu. Jika saja dia tinggal lebih lama, entah apa lagi yang akan terjadi pada Miyuki. Lagipula dia berpikir sudah ada Isashiki di sana. Karena perbuatan Miyuki melibatkan keluarganya, Kominato yakin Isashiki tidak akan sungka-sungkan menghukum Miyuki. Kali ini Kominato akan mewakilkan hukuman darinya pada Isashiki.

Nyatanya Isashiki memang tak tanggung-tanggung. Setelah keluarga Kominato berpamitan, dia menyeret leher Miyuki masuk ke dalam rumah. Setelah di dalam, dia meminta semua orang berkumpul dan meminta penjelasan dari Miyuki. Kouri pun ikut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Mendengar penjelasan dari putrinya, Isashiki langsung memarahi Miyuki habis-habisan. Tidak hanya sampai di situ, Isashiki lalu menyuruh Miyuki memijat tubuhnya. Dengan sengaja dia mencari-cari kesalahan Miyuki agar kegiatan itu tidak segera berakhir. Tidak lupa rentetan kalimat keras Isashiki terus terdengar selama kegiatan itu berlangsung. Tidak ada yang bisa dilakukan Miyuki. Selain itu memang tidak ada yang berniat menolongnya, baik itu Eri, Yuuko, maupun Kouri.

"Ah, gomen.. Masih sakit?" Eri segera minta maaf setelah menyadari Miyuki kesakitan. Meskipun Eri sering dibuat naik darah, tapi dia cepat merasa iba. Hal itulah yang sering dimanfaatkan Miyuki. Begitulah hubungan mereka. Meskipun Eri seringkali dibuat kesal, geram, marah, tapi mereka selalu punya cara untuk segera berdamai kembali. Pelajaran di masa lalu menjadikan mereka untuk selalu berpikir dengan kepala dingin.

- END -

Aaahh.. Begitulah akhirnya.. Miyuki termakan ulah yang dibuatnya sendiri.

Saat ini, saya sedang menulis cerita lain, masih tentang Miyuki dan Eri. Kita akan kembali ke masa SMA. ^^

Review

isashikijun-senpai : imajinasimu selalu di luar dugaan, jun-chan.. hhaha.. terima kasih sudah memberikan masukan selama proses penulisan cerita ini. untuk cerita selanjutnya, mohon bantuannya ya.. XD