Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
Chapter 3
Rookie 8
Hari ini adalah hari pertama Itachi menjadi seorang Genin, pagi ini seluruh Genin terpilih akan berkumpul di kantor Hokage untuk mendengarkan pembagian tim. Itachi menyenderkan punggungnya kedinding disebelah pintu masuk sambil menatap ruang pertemuan yang masih kosong didepannya. Itachi menghela napas dalam lalu menghembuskannya dengan keras berusaha tidak terlalu memikirkan rasa malunya karena datang terlalu pagi. Kantor Hokage masih kosong, belum ada satu orangpun yang datang selain nona Shion sekertaris Hokage yang ditemuinya didepan ruangan hokage, lalu mengantarnya keruangan ini untuk menunggu yang lain.
"Aku terlalu bersemangat!." ucap Itachi pada dirinya sendiri sambil tersenyum geli.
Setelah kurang lebih 30 menit, Itachi akhirnya memutuskan untuk menunggu dikoridor, dia mengangkat punggungnya dari dinding dan melangkah kearah pintu. Trak… sebelum Itachi sempat menyentuhnya, gagang pintu didepannya berputar lalu berderit berat bergerak membuka. Dibalik pintu seorang gadis Hyuga berambut coklat telihat terkejut menatap kearah Itachi.
" Itachi Uchiha?." Ucap gadis itu tanpa sadar menyuarakan isi kepalanya.
" Selamat pagi, Haruko-san !." sapa Itachi sambil memberi jalan masuk untuk gadis itu, mereka saling membungkuk kaku lalu berjalan melewati satu sama lain. Haruko Hyuga dan Itachi Uchiha adalah teman satu angkatan di akademi namun entah mengapa mereka selalu merasa canggung satu sama lain. Disatu sisi Itachi merasa kalau gadis itu tidak terlalu menyukainya, padahal sebenarnya meskipun Haruko adalah seorang pewaris clan Hyuga dia adalah gadis yang baik dan ramah pada siapa saja, atau mungkin saja teori Shikaku tentang 'Hyuga-Uchiha krisis' memang benar . Itachi tersenyum geli mengingat tentang teori-teori lucu 'Hyuga-Uchiha krisis' ala Chizo.
" Apa yang lucu ?." diujung koridor 2 orang sahabat Itachi berjalan mendekatinya.
"Tidak ada!." jawab Itachi pada Shikaku Nara yang tengah sibuk menggosok-gosok telinganya ." Chizo, Selamat Pagi!." Itachi menyapa sambil dengan bercanda meninju pelan perut gembul temannya , Chizo tertawa lalu membalas tinjuan dari Itachi. Mereka bertiga berjalan bersisian menuju ruang pertemuan, Itachi Uchiha, Chizo Akamichi, dan Shikaku Nara sudah berteman akrab sejak tahun pertama mereka di akademi.
" Kenapa telingamu Shikaku ?." Itachi bingung melihat Shikaku yang terus saja mengelus-elus cuping telinganya yang tampak memerah.
" Ibuku baru kembali dari misi tadi malam, dan selama dia pergi aku lupa merapikan kamarku, jadi .." Shikaku tidak melanjutkan kalimatnya sambil memberi Itachi tatapan yang seolah berkata ' Yah..Kau tau lah apa yang terjadi selanjutya.'.
" Pagi ini Ino-san berubah menjadi 'Monster Kepiting Berpengeras Suara'!." Chizo tertawa terbahak mengingat apa yang didengarnya pagi ini di kediaman Nara saat menjemput Shikaku.
"Coba katakan itu didepan Ibuku!." balas Shikaku jengkel kearah Chizo yang tengah terpingkal sambil memegangi perutnya. Chizo langsung bergidik " Dia akan mengejarku sampai ke ujung dunia!." cicit Chizo sambil menatap Shikaku ngeri. Itachi tertawa kecil sambil membayangkan seperti apa seorang Ino Yamanaka ketika sedang marah, Shikaku pagi ini pasti mengalami hal yang berat.
" Aku tidak percaya kau masih saja berani melalaikan tugasmu, padahal kau sudah tau seperti apa ibumu kalau dia sedang marah." Itachi menggelengkan kepalanya heran.
" Aku juga tidak percaya kalau kau tidak mengerti apa definisi dari kata 'Lupa!' Itachi!." Shikaku menurunkan tanganya dari cuping telinga yang masih berwarna merah. Bukti kalau beberapa saat yang lalu ada jari telunjuk dan ibu jari yang memelintirnya.
"Aku juga terkadang tidak percaya kalau kau adalah seorang Nara, kau tahu!..." sambung Chizo sambil mengangkat bahunya " Kau salalu saja 'lupa' !." lalu menggelengkan kepalanya juga.
"Coba saja kau punya otak sepertiku!." Shikaku menunjuk dahinya "Otak yang terus berpikir tentang hal-hal seperti kenapa langit berwarna biru, kenapa daun berwarna hijau, ketika kaki melangkah otot apa yang menggerakkanya atau otak bagian mana yang mengatur penglihatan," Shikaku mendengus lelah lalu melanjutkan kata-katanya" dan tidak bisa berhenti memikirkannya sampai mendapatkan jawabannya!."
" Maafkan aku Shikaku, aku lupa kalau kau punya otak yang terlalu aktif." Chizo mengelus punggung Shikaku seolah ikut perihatin.
"Yah…yah…yah…" Shikaku membuka pintu ruang pertemuan dengan wajah masam, Itachi dan Chizo masuk mengikutinya dari belakang sambil menahan tawa. Sudah bisa dipastikan kalau hari ini Shikaku akan uring-uringan seharian. Didalam ruangan Haruko duduk sendirian dikursi deretan paling depan diruangan itu.
"Selamat Pagi…!." Sapa Haruko kerah tiga sekawan yang baru saja memasuki ruangan.
"Haruko-chan…. Selamat pagi!..." Chizo berlari mendekati Haruko sambil tersenyum lebar, tidak menyembunyikan rasa senangnya ketika melihat gadis yang disukainya tersenyum kearah mereka.
" Apa kau sudah lama disini Haruko-chan?." Chizo duduk disamping Haruko sementara Itachi dan Shikaku duduk tepat dibelakang mereka.
"Baru saja." balas Haruko tersenyum kerah Chizo
Sesaat setelah duduk Shikaku langsung menelungkupkan wajahnya diatas meja lalu mendengus pelan, membuat ketiga temannya yang lain berpaling menatapnya.
"Apa kau sakit Shikaku-kun?." Haruko bertanya dengan wajah khawatir.
"Kurang tidur!." Shikaku menjawab pelan.
"Kenapa? Apa monster di bawah tempat tidur menakutimu Shikaku?." Chizo menggoda Shikaku, jengel karena perhatian Haruko teralihkan darinya. Itachi menggeleng kearah Chizo memberi isyarat agar Chizo tidak mengganggu Shikaku lagi.
"Monster di bawah tempat tidur?." Shikaku mengangkat kepalanya lalu mendelik kearah Chizo. " Ada hal yang 100X lebih manakutkan dari pada itu tau!, dan bukan berarti aku menganggap Monster dibawah tempat tidur itu menakutkan."
"Lalu kenapa kau kurang tidur? Apa karena Monster didalam lemari?." Chizo tertawa lagi mengabaikan tatapan peringatan Itachi padanya.
"Tiba-tiba terbangun ditengah malam dan tanpa sengaja bisa mendengar pikiran kedua orang tuamu!." Shikaku menjawab malas.
" Jadi kau sudah bisa membangunkan jutsu pembaca pikiranmu Shikaku?." Itachi bertanya bersemangat.
" Hebat!..." Itachi menepuk pundak Shikaku lalu mendengar 'Hmm' sebagai jawaban.
"Kalian curang!, aku bahkan belum bisa menguasai jutsu Bubun Baika dan Nikudan Sensha-ku dengan sempurna!." Chizo cemberut. Diantara ketiga temannya chizo lah yang paling lambat menguasai kekkai genkai keluarganya. Saat berumur 10 tahun Itachi sudah bisa menguasai Amaterasu dan Chidori, yang sudah tentu tiga tahun berlatih sejak saat itu membuat jutsu Itachi semakin sempurna. Dan Shikaku sudah bisa menguasai jutsu pengendalian bayangan milik clan ayahnya Shikamaru Nara sejak berumur 8 tahun di tambah otaknya yang terlampau genius dan belum lagi kemampuan yang diturunkan oleh ibuya Ino Yamanaka ( yang sepertinya baru saja terbangun ) semakin membuat Chizo merasa menjadi orang yang perkembangannya paling lambat diantara mereka bertiga.
"Hebat….Bagaimana rasanya memiliki kemampuan yang diturunkan dari 2 clan yang berbeda?" Haruko bertanya dengan wajah takjub kearah Shikaku.
" Merepotkan dan kadang-kadang membingungkan!"
"Kau bercanda ya?, itukan keren!" suara nyaring seorang gadis yang entah datang dari mana tiba-tiba terdengar di belakang Shikaku. Itachi mengernyit menjauhkan telinganya dari sumber suara sambil tersenyum lucu kearah si pemilik kebiasaan, sementara Shikaku menoleh sambil menutup telinganya dan sesuai dugannya Eri Yamanaka adalah sumber dari suara nyaring tadi.
"Pelankan suaramu Eri!, Kau mau membuatku tuli ya?" Shikaku medelik pada sepupunya itu, Eri cemberut kearah Shikaku lalu mengabaikannya.
"Pagi semuanya!" Eri menyapa dengan suara nyaring khas andalannya.
" Pagi Eri-chan!" Itachi membalas sapaanya dengan senyum ramah sementara yang lain mengernyit menjauh dari sumber suara. Bahkan Haruko yang adalah sahabat dekat Eri juga mengernyit mendengar suara nyaringnya, meskipun dia sudah terbiasa dengan gaya unik dan suara nyaring Eri tapi kadang-kadang Eri memang terlalu melebih-lebihkan suaranya.
" Kya….Seperti biasa, Itachi-kun selalu tampan ya!." Eri memeluk leher Itachi dari belakang. Itachi terkejut karena pelukan tiba-tiba dari Eri lalu tertawa canggung bingung harus berbuat apa. Meskipun mereka sudah lama saling mengenal tapi Itachi masih belum bisa terbiasa dengan kebiasaan unik Eri yang satu ini, yaitu kebiasaan memeluknya kapanpun ada kesempatan.
" Lepaskan tanganmu Eri!, kau mencekiknya!." Chizo dan Shikaku berusaha melepaskan tangan Eri yang melingkari leher Itachi. Haruko terkikik pelan melihat adengan dihadapannya, Haruko tahu kalau Eri Yamanaka sangat menyukai Itachi Uchiha sejak tahun pertama mereka di akademi. Eri dan Haruko berteman akrab jadi Haruko sudah sering mendengar ocehan panjang dari Eri tentang betapa sempurnanya Uchiha Itachi selama berjam-jam.
"Hah benarkah? Ma..ma'afkan aku Itachi-kun!" Eri melepaskan pelukannya, membuat Chizo dan Shikaku menghembuskan napas lega. Eri menatap Itachi dengan wajah tidak enaknya.
"Aku baik-baik saja Eri-chan, tidak apa-apa! Chizo dan Shikaku terlalu melebih-lebihkan." Itachi berusaha menghibur Eri yang terlihat merasa tidak enak padanya. Menatap Itachi yang tersenyum ramah kearahnya membuat wajah Eri memerah. Kaku bagaikan robot Eri memalingkan wajahnya dari Itachi lalu menarik tangan Haruko menjauh dari tiga sekawan itu. Dia dan Haruko duduk disisi lain ruangan dan sepertinya sudah memulai kebiasaan para gadis-gadis kalau sedang berkumpul. Itachi tertawa pelan melihat tingkah lucu Eri.
"Jangan terlalu baik padanya, dia mungkin akan salah sangka." Shikaku menatap Eri yang tengah berbicara bersemangat kepada Haruko. Meskipun Eri adalah sepupu yang sangat mengganggu tapi dia menyayangi Eri seperti adiknya sendiri. Dia tahu kalau sepupunya itu benar-benar menyukai Itachi, dan Shikaku tahu kalau Itachi hanya menganggap Eri sebagai teman baik, tidak lebih. Itachi memang adalah orang yang selalu baik pada semua orang tapi Eri mungkin saja salah paham dengan sikap baik Itachi, dan pasti akan terluka karenanya.
"Aku harus bagaimana?." kini giliran Itachi yang merasa tidak enak pada Shikaku, Itachi mengerti dengan jelas maksud dari kata-kata Shikaku. Hanya saja dia tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Eri.
"Abaikan dia!." Jawab Shikaku singkat kembali menelungkupkan kepalanya keatas meja. Itachi selalu merasa bingung kalau membahas mengenai masalah ini, Eri adalah gadis yang baik dan selalu menyapanya dengan hangat bagaimana bisa dia mengabaikannya.
" Itachi!..." Seruan yang akrab ditelinga membuat Itachi menoleh kearah datangnya suara.
" Tangkap…..!." sebelum sempat Itachi mengenali pemilik suaranya sebuah kotak melayang tepat kearah wajahnya, beruntung dengan sigap dia berhasil menangkapnya.
"Itu dari paman Kiba untukmu!." seorang bocah Inuzuka berkata kemudian diikuti gonggongan anjing digendongannya.
" Terimakasih Toya!." ucap Itachi sambil menatap kotak coklat ditangannya lalu tersenyum kearah dua orang temanya yang baru datang, Toya Inuzuka dan Rio Aburame adalah keponakan Kiba Inujuka dan Shino Aburame rekan Anbu ayahnya.
"Paman Kiba dan Paman Shino masih belum kembali dari misi, jadi sepertinya minggu ini kita bertiga masih belum bisa meneruskan latihan kita kemarin!." Ucap Toya pada Itachi di ikuti anggukan kepala Rio.
"Baiklah, terimakasih Toya!."
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?." bisik Chizo dileher Itachi dan membuatnya merinding.
"Oh itu, biasanya setiap satu minggu sekali aku,Toya, Rio, Paman Kiba dan Paman Shino akan berlatih bersama.."
"Bukan itu maksudku!." Chizo memotong perkataan Itachi sambil memutar bola matanya, Itachi kebingungan dengan maksud pertanyaan Chizo.
"Maksudku apa yang kau lakukan sehingga banyak sekali orang yang memperhatikanmu?." dengus Chizo sambil merebut kotak coklat dari tangan Itachi. Itachi hanya tertawa kecil melihat wajah cemburu Chizo.
"Kau tau?, Kau punya Paman Kiba-'mu' yang selalu membelikanmu cokat enak ini!." Chizo menekankan kata 'mu' sehingga seolah-olah Kiba adalah benda milik Itachi.
"Kau Punya Paman Hokage-'mu' yang selalu mentraktirmu makan ramen Spesial Kage di kedai Ichiraku!."
"Dan jangan lupa Paman Shino-'mu' yang memberikanmu kumbang raksasa untuk memenangkan taruhan kumbang ketika kau tidak bisa menangkap satu pun!." Ucap Chizo sambil melahap satu potong coklat besar milik Itachi.
"Hey Chizo, jangan marah. Waktu itukan aku sudah minta maaf dan mengaku kalah. Karena kumbang itu adalah pemberian dan bukan hasil tangkapanku sendiri!."
"Bukan itu poinnya!." Chizo geram, " Maksudku beritahu aku bagaimana agar punya banyak paman yang memperhatikanku?."
"Aku tidak tau!." Itachi benar-benar tidak tahu penyebabnya.
"Jadi maksudmu, kau hanya jadi anak biasa yang manis lalu akan ada paman-paman baik hati yang akan menyayangimu, begitu?." Chizo mengernyitkan keningnya pertanda ia tidak percaya. Itachi hanya tersenyum.
"Yah, mungkin kurang lebih begitu!." jawab Itachi ragu. Chizo hanya menganggukkan kepalanya sambil terus melahap coklat Itachi.
"Kau juga punya Paman yang memperhatikanmu kok Chizo!."
"Siapa?." Chizo menatap Itachi penasaran
"Ayahku!, dia sering menanyakan bagaimana keadaaamu!." Itachi menyeringai kearah Chizo, mengetahui kalau Chizo akan senang mendengarnya. Dulu ketika masih kecil, Chizo pernah terjatuh kedalam sumur tua dan terjebak didalamnya, karena sumur itu terdapat ditempat yang jauh dari keramaian tidak ada yang bisa mendengar tangisan minta tolong Chizo, dan Sasuke-lah yang menemukan dan menyelamatkannya ketika dia berkeliling Konoha untuk berpatroli. Sejak saat itu Sasuke Uchiha adalah pahlawan bagi Chizo, dan karenanya ketika di akademi Chizo-lah anak pertama yang menjadi teman Itachi.
"Benarkah?." mata Chizo berkilat-kilat senang
"Tentu saja."
" Selamat Pagi…!." dari pintu terdengar suara lembut yang Itachi paling hapal siapa pemiliknya. Tiba-tiba Shikaku yang sejak tadi tertunduk memalingkan wajahnya kearah datangnya suara lembut itu. Itachi dan Shikaku tanpa sadar menatap gadis itu lekat. Chizo memotar bola matanya melihat tingkah kedua temannya itu.
"Fuyu-chan, sebelah sini!." Toya memanggil Fuyu Hatake sambil menunjuk kursi kosong disampingnya. Fuyu membungkukkan kepalanya pelan kearah Itachi dan Shikaku sebelum berjalan menghampiri Toya dan Rio.
"Kalian berdua, tutup mulut. Sebelum lalat bertelur didalam mulut kalian!." Wajah Itachi dan Shikaku memerah mendengar perkataan Chizo.
" Kalian harus bisa mengalahkan Kakashi Hatake kalau mau mendekati Fuyu-chan!." Chizo bergumam malas.
"Apa semuanya sudah berkumpul?." sebelum sempat Shikaku dan Itachi membahas argument Chizo dari pintu terdengar nona Shion bertanya pada mereka.
"Entahlah?, apa semua yang anda maksud adalah kami berdelapan atau masih ada yang lain?." Toya menjawab sambil mengangkat bahunya.
"Berdelapan ya?…Hmmm…. berarti sudah lengkap!." ucap Nona Shion sambil melihat catatan berkas ditangannya.
" Kalau begitu ayo… Naruto-sama telah menunggu kalian!." Nona Shion memberi isyarat dengan tanganya agar kedelapan anak itu mengikutinya. Mereka semua berajalan beriringan mengikuti nona Shion menuju ruangan Hokage, riuh rendah obrolan kedelapan anak itu mengiringi langkah mereka.
"Aku gugup!." Haruko berbisik kepada Eri
"Aku juga, akhirnya sekarang kita sudah menjadi Kunoichi Haruko-chan!. Aku senang sekali.." Eri mengatupkan kedua tangan didepan dadanya sambil memasang senyum lebar dibibirnya. Kedelapan Genin itu berjalan Sumringah menuju ruangan Hokage.
"Silahkan!." Shion membukakan pintu menuju ruangan Hokage dan mempersilahkan kedelapan anak itu untuk dalam ruangan, Naruto tengah duduk dimeja kebesarannya sambil tersenyum kerah mereka semua. Selain Hokage, disampingnya juga telah berdiri dua orang Sanin yang mereka kenal sebagai Kakashi Hatake dan Gai memegang pelindung kepala berlambang Konoha ditangan mereka. Itachi dan yang lainnya berdiri rapi berjejer menghadap kearah mereka, sejenak ruangan Hokage menjadi sunyi.
" Selamat pagi!..." Naruto menyapa mereka dengan senyum lebarnya.
"Selamat Pagi Hokage-sama!." serempak mereka menjawab dengan penuh semangat. Naruto mengamati satu-persatu generasi baru dihadapannya.
"Baiklah, aku tidak akan berlama-lama ! Langsung saja. Aku mengucapkan selamat kepada klian semua karena telah berhasil melewati ujian kelulusan dengan nilai yang hampir sempurna. Dari seluruh Genin yang yang lulus, kalian berdelapan adalah genin-genin yang lulus dengan nilai terbaik , selain itu juga kalian memiliki kelebihan masing-masing yang luar biasa sehingga kami anggap kalian semua telah memenuhi standar untuk disebut sebagai 'Rookie 8', calon Shinobi-shinobi terkuat dari generasi kalian. Oleh karena itu kalian semua akan dibimbing oleh dua orang guru terbaik yang dimiliki oleh Konoha yaitu Kakashi Sensei dan Gai Sensei." Ucap Naruto sambil mengalihkan pandangannya dari kedelapan anak itu kepada Sensei-sensei disampingnya.
" Yo..!." Kakashi mengangkat tangannya menyapa Rookie 8 sementara Gai mengangkat jempol dan menunjukkan senyum berkilau khasnya.
"Kalian akan dibagi menjadi dua tim beranggotakan 4 orang untuk setiap timnya. Anggota untuk tim Kakashi sensei adalah, Itachi Uchiha, Shikaku Nara,Haruko Hyuga dan Chizo Akamichi. Anggota untuk tim Gai sensei adalah Fuyu Hatake, Eri Yamanaka, Toya Inuzuka dan Rio Aburame." Naruto tersenyum dan mengedipkan matanya kepada Itachi setelah selesai menyebutkan pembagian tim. Itachi tertawa didalam hati melihat Naruto yang terlihat berusaha keras menujukkan wibawa seorang Hokage dihadapan mereka. Kakashi dan Gai segera menghampiri tim mereka masing-masing dan memberikan pelindung kepala ninja kepada mereka. Itachi menerima pelindung kepala itu dengan senyum lebar dan langsung mengenakannya didahinya. Perasaan senang dan bangga membuncah didadanya, akhirnya sekarang dia sudah menjadi seorang Shinobi. Teman-temannya yang lain pun telah melakukan hal yang sama, memakai pelindung kepala mereka dengan bangga.
"Sekarang kalian telah resmi bergabung menjadi Shinobi kebanggaan Konoha. Teruslah berjuang dan jangan pernah menyerah!, Mulai dari sini Kakashi Sensei dan Gai sensei akan memberi tahu misi pertama kalian sebagai seorang Genin. Selamat berjuang!." Naruto menganggukkan kepalanya kepada Kakashi dan Gai mengisyaratkan kalau dia sudah selesai berbasa-basi dengan Rookie 8.
"Nah anak-anak sekarang ikuti kami!." Gai mengisyaratkan kepada Rookie 8 untuk mengikutinya. Rookie 8 mulai berbisik-bisik pada satu dan yang lainnya tentang misi apa kira-kira yang akan diberikan oleh pembimbing mereka dihari pertama mereka menjadi Genin. Satu –persatu Rookie 8 mulai meninggalkan ruangan Hokage mengikuti Gai dan Kakashi. Chizo, Shikaku, dan Itachi adalah yang terakhir meninggalkan ruangan.
"Misi di hari pertama menjadi Genin?. Kupikir kita hari ini hanya akan mendengar pembagian tim." Chizo bergumam pada Shikaku disampingnya.
" Itachi,…." Naruto memanggil Itachi yang sudah berada di ambang pintu, "Kedai Ichiraku, jam 10 malam ini ! Ok..?."
"Ok!." Itachi mengangguk senang kearah Naruto sebelum menutup pintu, Itachi tersenyum mengingat janji Naruto padanya kalau dia akan mentraktirnya kalau dia bisa lulus ujian Genin.
"Misi apa kira-kira?." Itachi menjejalkan tubuhnya diantara kedua temannya.
"Yang pasti berhubungan dengan perpustakaan." Shikaku memberikan isyarat dengan mendongakkan dagunya kearah dihadapan mereka. Diujung lorong Gai telah membuka sebuah pintu besar menuju sebuah ruangan yang didalamnya terihat terdapat jejeran rak-rak buku.
"Jangan bilang misinya adalah membaca buku-buku itu ?." Chizo menatap Shikaku dengan tatapan 'jangan katakan aku benar'.
"Entahlah, kita lihat saja!." Shikaku menyeringai, ia justru terlihat bersemengat.
Didalam ruangan itu Itachi dibuat takjub oleh banyaknya rak-rak buku yang berjejer rapi dan menjulang tinggi kelangit-langit ruangan. Bau kertas yang khas menguar dari rak-rak buku besar itu, sementara Gai dan Kakashi menghilang entah kemana didalam ruangan itu, para Rookie 8 mulai berkeliaran menjelajahi deretan rak-rak mengikuti rasa penasaran mereka. Tidak terkecuali Itachi, ia telah menyusuri susunan buku sebuah rak besar dengan label 'Clan Konoha' hingga matanya berhenti disebuah buku dengan judul ' Clan Uchiha'. Itachi sudah tahu cukup banyak tentang Clan-nya itu, dari cerita yang ayahnya ceritakan padanya. Yang sebenarnya biasanya adalah untuk mengalihkan perhatian Itachi dari pertanyaan yang berkaitan dengan ibunya yang entah apa sebabnya Sasuke menolak untuk menjawabnya . Mulai dari terbentuknya Clan sampai dengan pembantaian seluruh clan oleh Pamannya Itachi Uchiha yang belakangan diketahui alasannya adalah untuk melindungi Konoha. Itachi pernah merasa kalau itu sangat tidak adil dan kejam, namun seiring berjalannya waktu dia akhirnya bisa memerima dan mengerti hal-hal yang sudah berlalu itu dan memutuskan untuk terus melanjutkan masa depan Clan-nya dengan berjuang menjadi Shinobi Uchiha yang kuat dan berguna bagi Konoha. Serta rencana jangka panjangnya, yaitu membangkitkan kembali Clan-nya dengan membentuk keluarga besar dan melanjutkan garis darah kepada keturunannya. Tugas untuk meneruskan keturunan Uchiha saat ini sepertinya memang ada dipundaknya, karena ayahnya sepertinya tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.
Naruto juga pernah menceritakan padanya seperti apa reaksi ayahnya tentang tagedi Itachi Uchiha itu, ia tahu ayahnya pernah menjadi 'Missing Nin' dan criminal sebelum akhirnya kembali memihak Konoha pada saat Perang Dunia Ninja Ke-4. Naruto juga menceritakan bagaimana pasang surut emosi ayahnya ketika pertama kali kembali ke desa seusai perang, hingga suatu hari ayahnya meminta pada Hokage terdahulu untuk mengijinkannya menjadi ninja lepas dan tidak terikat pada Konoha. Dan sejak saat itu Ayahnya pergi meninggalkan Konoha dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya sampai 10 tahun yang lalu ketika ia tiba-tiba jatuh tersungkur di gerbang Konoha dengan tubuh dipenuhi luka menganga dan seorang anak laki-laki berumur 3 tahun di punggungnya.
"Huahaa…haa…haa…!." sebelum sempat Itachi meraih buku itu, tawa nyaring Eri terdengar dari ujung ruangan. Itachi ikut tersenyum mendengar tawa Eri yang seolah menular, ia penasaran apa yang sedang ditertawakan oleh Eri.
"Shh… berhenti tertawa!, Pelankan suaramu!, Demi tuhan Eri, ini adalah perpustakaan!." terdengar suara marah Shikaku berbisik geram.
"Haha..ha.., kau sangat mirip dengan paman Shikamaru ketika dia masih kecil. Lihat-lihat!, wajah malas situ sama persis." Itachi menghampiri Eri dan Shikaku, jari Eri tengah menunjuk-nunjuk sebuah foto besar yang menggantung didinding ruangan yang memang dipenuhi oleh foto-foto berbingkai dipermukaanya.
"Chizo juga sangat mirip dengan ayahnya, hanya saja jauh lebih kurus." Eri mengusap air mata tawa dari ujung matanya. Menunjuk sosok anak gembul yang berdiri bersisian dengan Shikamaru Nara di foto itu. Diatas foto itu ada label yang bertuliskan tulisan 'Rookie12', di foto itu terlihat Rookie 12 yang legendaris ketika masih kecil, mungkin saat itu mereka masih Genin. 12 anak berfoto dengan wajah riang dan 4 orang pembimbing di belakang mereka. Itachi langsung bisa menemukan wajah cemberut ayahnya difoto itu, ia tertawa kecil melihat ekspresi ogah-ogahan ayahnya ketika melihat kekamera. Sedangkan disamping ayahnya berdiri rekan setimnya, Sakura Haruno dan Naruto Uzumaki yang tersenyum lebar kearah kamera.
"Nee, Itachi-kun. Kau juga sangat mirip dengan ayahmu ya!." Eri ikut melihat kearah yang Itachi perhatikan. Sekarang sudah ada delapan kepala yang mengerubungi foto itu.
"Rio, itu tim 8!." Toya menunjuk kebagian lain di foto itu, Itachi juga ikut mengalihkan perhatiannya ke arah itu.
"Kiba Inuzuka,Shino Aburame dan Hinata Hyuga!." Toya menunjuk satu persatu anggota tim delapan yang disebutkannya.
"Eh,…!." Chizo terlihat berwajah heran, " Aku tidak tahu kalau ada Hyuga lain selain Neji Hyuga didalam Rookie 12." Chizo menyuarakan kekagetannya yang juga diamini oleh Shikaku dan Itachi. Itachi pernah mendengar tentang Neji Hyuga yang meninggal sebagai pahlawan perang dunia ninja ke-4 namun Hyuga lain bernama Hinata Hyuga ini, dia sama sekali belum pernah mendengarnya.
"Dia adalah kakak perempuan ibuku, Hinata Hyuga, anggota Rookie 12 yang termuda!." Haruko tersenyum lembut menatap wajah bibinya di foto itu.
"Benarkah?, aku tidak tahu!. Apa dia juga meninggal ketika perang ninja?." Chizo berasumsi mengingat dia tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"Ibuku bilang, dia terbunuh ketika menjalankan misi!" wajah Haruko berubah menjadi sedih.
"Dia salah satu ninja berpengaruh ketika perang dunia ninja ke-4 dan berhasil melewatinya dengan selamat." Toya menambahkan, "Paman Shino dan Paman Kiba sangat menyayanginya, mereka sering menceritakan tentangnya kepada kami!" Rio mengangguk mengiyakan perkataan Toya, Itachi menjadi bingung.
"Teman-teman, sebelah sini!" Fuyu memanggil teman-temanya dari sebelah kiri mereka, teman-temannya pun langsung berlarian menghampirinya. Ternyata itu adalah foto lain Rookie 12, bedanya di foto itu mereka terlihat sudah dewasa.
"Mungkin ini diambil setelah perang" Haruko mengamati foto itu seksama lalu menunjuk Hinata yang tengah memegang foto Neji didadanya, seolah menjelaskan kalau Rookie 12 masih terus mengingatnya meskipun Neji telah tiada. Di foto ini Rookie 12 terlihat santai menggunakan Yukata dan Kimono, mereka semua tersenyum kearah kamera bahkan Sasuke Uchiha pun juga tersenyum kecil. Mereka tidak lagi seolah berkelompok-kelompok seperti pada foto ketika mereka masih Genin, mereka terlihat berbaur dan menyatu satu-sama lain. Namun bukan itu yang menarik perhatian Itachi, didalam foto itu Naruto terlihat merangkul hangat seorang gadis Hyuga berambut panjang yang wajahnya sedikit memerah, gadis itu tidak lain adalah Hinata Hyuga dan mereka berdua sepertinya sangat dekat.
"Heh, sekarang aku tahu kenapa Paman kiba sangat menyukai coklat itu!" kiba menunjuk tangan lain Hinata yang menjinjing tas kecil tansparan yang didalamnya ada kotak coklat kecil dengan merk yang sama seperti yang diberikannya kepada Itachi tadi pagi.
"Sepertinya itu coklat kesukaan bibi Hinata!" Haruko ikut menebak-nebak.
"Yah, akhirnya aku tahu alasan kebiasaan aneh paman Kiba!... Pada tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya paman kiba akan memakan sekotak besar coklat itu diatap, sambil menangis seperti bayi!"
Itachi semakin kebingungan, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan membuatnya heran. Sejak kecil dia sudah sangat akrab dengan Kiba dan Shino namun tidak sekalipun ia pernah mendengar tentang seorang gadis bernama Hinata Hyuga pernah disinggung dihadapannya, hal yang sama juga berlaku untuk Naruto dan itu membuatnya penasaran. Siapa Hinata Hyuga sebenarnya?...
Fiyuuhhhhhh...( gosok jidat ngelap keringat )
Mohon maklumi kekurangan Autor Baru nyemplung ini ya...
Terimakasih banyak buat yang udah review...! ( sujud sukur )
Jangan kapok review lagi ...
