Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll

Chapter 4

Hinata Hyuga

Derap langkah kaki yang teratur dan tenang menggema disepanjang lorong menuju ruangan Hokage, Hanabi Hyuga dengan segenap kemampuan yang dimilikinya mencoba untuk tetap mempertahankan ekspresi tenang dan dingin diwajahnya, meskipun didalam dadanya amarah sedang bergemuruh menunggu untuk dibebaskan. Dikepalanya Hanabi diam-diam terus mempertanyakan kewarasan Naruto, 'apakah Naruto sekarang sedang mengejeknya ?', 'apakah dia pikir ini semacam permainan?', atau 'apakah dia belum cukup jelas menunjukkan pada Naruto apa yang bisa dilakukannya kepada anak itu kalau mereka berani-berani melintasi dinding yang selama ini telah dibangunnya?'. Hanabi terus mempercepat langkahnya, tidak sabar ingin segera meminta penjelasan kepada Naruto.

"Hanabi-sama, ada yang bisa saya bantu ?." Shion kebingungan menatap pemimpin Clan Hyuga yang terlihat sedang terburu-buru melewati mejanya tanpa menyapa.

"Dimana Naruto?." Hanabi bertanya sambil terus melangkah menuju ruangan Hokage yang sudah terlihat di ujung koridor, Shion berdiri dari mejanya lalu berjalan menyusul Hanabi. Di dalam ruangan, Naruto sedang melakukan pertemuan dengan beberapa Anbu untuk membahas tentang sebuah misi penting yang sangat rahasia yang tentu saja Naruto tidak akan mentoleransi adanya gangguan.

"Hanabi-sama, tolong tunggu sebentar!." Shion bersusah payah menjejeri langkah Hanabi, sementara Hanabi tidak sedikitpun memperlambat langkahnya.

"Saat ini Naruto-sama sedang sibuk, tolong Hanabi-sama menunggu sebentar!." Namun Hanabi sepertinya tidak berniat mendengarkan permintaan sekertaris malang itu. Semakin mendekat jarak menuju pintu ruangan Hokage, Shion semakin panik berusaha menghalangi langkah Hanabi yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

"Hanabi-sama!." Shion berusaha menarik perhatian Hanabi, namun sudah terlambat. Pintu ruangan Hokage sudah melayang terbuka menimbulkan bunyi benturan yang keras menggema kepenjuru ruangan. Tiga pasang mata di dalam ruangan itu langsung berpaling kearah datangnya suara yang telah mengganggu diskusi mereka. Di ambang pintu Hanabi berdiri diam sambil menatap Naruto tepat dimatanya.

"Ada apa ini?." Naruto bertanya dengan suara yang terlalu keras dari yang sebenarnya diperlukan, dia terlihat benar-benar kesal dengan gangguan itu. Dia sudah berkata pada Shion kalau pertemuan ini sangat penting dan dia tidak ingin mereka diganggu terkecuali untuk hal yang berkaitan dengan keadaan darurat menyangkut hidup atau mati.

"Ma…maaf Hokage-sama,.. Hanabi-sama…tidak…" Shion tergagap dan belum sempat dia menjelaskan kepada Naruto, Hanabi kembali melangkah maju mendekati meja Naruto.

"Kita perlu bicara Naruto!." Hanabi berkata lantang masih dengan wajah tenang dan dingin tanpa ekspresi, tidak menunjukkan sedikitpun tanda kalau dia merasa terintimidasi oleh tatapan marah Naruto. Dia berhenti tepat didepan meja Naruto membuat dua orang Anbu menyingkir dari posisi mereka untuk memberikan ruang padanya. Hanabi dan Naruto saling menatap satu sama lain dalam diam berusaha menyelidik apa yang sedang dipikirkan oleh orang yang ada dihadapan mereka. Kemudian disanalah Naruto melihat kemarahan di mata Hanabi, kemarahan yang disertai dengan kepedihan.

"Hanabi-sama, lebih baik…" Shion kembali mencoba menarik perhatian Hanabi.

"Aku perlu bicara denganmu!. Sekarang!." ucap Hanabi memotong perkataan Shion sambil terus menatap mata biru di hadapannya lekat-lekat. Setelah diam sesaat akhirnya Naruto memberikan aba-aba kepada Shion dan kedua Anbu itu untuk meninggalkannya berdua saja dengan Hanabi.

"Apa masalahmu Hanabi?." Naruto berujar keras tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya. Hanabi memejamkan matanya dan menarik napas dalam berusaha mengendalikan rasa marah yang semakin bergemuruh didadanya. Apa masalahnya?, berani sekali Naruto bertanya seperti itu. Seharusnya dia lah yang bertanya begitu pada Naruto, Apa masalah Naruto sehingga berani-beraninya melanggar syarat yang dia sendiri sudah bersumpah untuk menepati. Hanabi perlahan mengeluarkan gulungan dari dalam lengan kimononya lalu meletakkanya perlahan dimeja Naruto tanpa pernah memutuskan kontak mata dengan Naruto.

"Aku ingin kau mengeluarkan Itachi Uchiha dari tim putriku!." Hanabi mengucapkan hal yang sangat ingin dikatakanya sejak tadi. Suaranya terdengar lantang dan tenang menghianati emosi yang sesungguhnya ia rasakan. Naruto akhirnya mengerti apa yang menyebabkan ini terjadi, dia memang menduga kalau Hanabi cepat atau lambat pasti akan menggedor pintunya untuk meminta penjelasan tentang ini. Hanya saja dia tidak menduga akan secepat ini, demi tuhan dia baru saja membacakan pembagian tim pagi ini dan sekarang matahari bahkan belum sepenuhnya tenggelam.

"Dengar Hanabi, pengaturan tim ini bukan hal yang kuputuskan sendiri secara acak. Pengaturan ini berdasarkan keputusan dan pertimbangan para sensei dan penasihat setelah berunding untuk menghasilkan yang terbaik. Haruko dan Itachi sama-sama memiliki kemampuan kekkai gengkai teknik mata sehingga yang terbaik untuk mereka adalah memiliki seorang pembimbing yang tau betul bagaimana cara membantu mereka menguasainya dengan baik, yaitu seorang guru seperti Kakashi sensei."

"Aku tidak perduli Naruto, Itachi Uchiha tidak boleh berada di tim yang sama dengan putriku!." Hanabi tetap pada pendiriannya. Naruto masih tidak bisa mengerti mengapa Hanabi masih belum bisa melupakan kebenciannya pada Itachi dan Sasuke meskipun setelah bertahun-tahun lamanya, apakah hati Hanabi sedingin itu?. Dia masih bisa mengerti kebencian Hanabi pada Sasuke tapi pada Itachi? …Naruto tidak bisa mengerti….

"Dia hanyalah anak kecil Hanabi, dia tidak akan menimbulkan kerusakan apapun!." Naruto menggelengkan kepalanya.

"Kau telah melanggar syarat yang sudah kutentukan Naruto, kau telah melanggar sumpahmu sendiri!. Kau mungkin sudah lupa, jadi aku akan mengingatkanmu kembali, digulungan itu kau telah menyutujui seluruh syarat yang ku ajukan untuk menjauhkan segala apapun yang berkaitan dengan Itachi dan Sasuke Uchiha dari Clan Hyuga dan dari hidupku termasuk dari putriku. Tetesan darahmu bahkan masih merah diatasnya. " Hanabi masih bisa mempertahankan ketenangannya meskipun semakin lama kesabarannya semakin menipis. Naruto menatap gulungan yang sesaat lalu diletakkan Hanabi diatas mejanya. Naruto memang telah menyetujuinya, saat itu dia melakukanya tanpa berpikir panjang, mengingat rumitnya situasi ketika itu. Saat itu yang terpenting adalah keamanan dan keselamatan Itachi dan Sasuke, Naruto tidak punya waktu memikirkan hal-hal lainnya. Naruto memijat pelipis kepalanya yang mulai berdenyut-denyut.

"Hinata pasti akan sedih kalau mengetahui kau memperlakukan Itachi seperti ini. Demi tuhan Hanabi! Dia adalah kepo…."

"Dia atau putriku!. Salah satu dari mereka harus ada yang keluar dari tim!. Atau kau tidak akan menyukai apa yang akan ku lakukan Naruto!." Hanabi tidak ingin mendengar kata-kata yang ingin diucapkan oleh Naruto, berani sekali dia membawa-bawa nama Hinata, membawa-bawa nama kakaknya, Naruto tidak berhak, dia tidak pernah berhak. Merasa pesan yang disampaikannya sudah cukup jelas, Hanabi membalikkan badannya untuk beranjak meninggalkan ruangan itu.

"Apa yang terjadi pada Hinata bukanlah kesalahan Itachi. Dia tidak tahu apapun tentang semua ini Hanabi."

Kurang ajar!, berani-beraninya dia. Naruto sudah benar-benar mengikis kesabaran Hanabi, seketika ia berbalik menghadap Naruto kembali. Wajahnya memerah dengan mata yang berkilat-kilat marah.

"Itu adalah kesalahannya, kesalahan mereka!." Hanabi berteriak marah kearah Naruto sikap tenangnya sudah lenyap yang ada hanyalah kemarahan yang meradang didalam dadanya.

"Itachi dan Sasuke Uchiha, mereka berdualah yang telah mengacaukan hidup Hinata!." Hanabi semakin meninggikan suaranya.

"Itachi hanyalah seorang anak, dan Sasuke, dia sudah menerima hukumannya. Tanganmu sendiri lah yang telah menghukumnya!." Naruto semakin prustasi, dia berdiri dari kursinya.

"Tapi itu tidak membawa Hinata kembali, Hinata tetap mati, sedangkan Sasuke Uchiha masih hidup dan bernapas!." Mata Hanabi digenangi air mata yang siap mengalir kapan saja.

"Mereka telah merenggut Hinata dariku, dan darimu juga!, Kalau hal itu tidak pernah terjadi, dia pasti masih ada disini dan memimpin Hyuga, Hinata pasti masih ada disini Naruto. Disisimu!." Hanabi melancarkan pukulan terakhir tepat kejantung Naruto, kemudian segera meninggalkan Naruto sendirian dengan luka lama yang kembali terbuka.

Naruto mengerang dan menghempaskan tubuhnya kembali kekursi kebesarannya, seketika tubuhnya merasa sangat lelah. Kemudian dia menyadari sesuatu,..

"Keluarlah… Sasuke!." setelah diam beberapa saat merenungkan, akhirnya Naruto memutuskan untuk memanggil Sasuke keluar dari persembuyiannya. Sesosok Shinobi bertopeng masuk dari jendela besar dibelakangnya, tubuh besar dan mengintimidasi yang dimilikinya terlihat kuyu dan tidak bersemangat. Sosok itu melepas topengnya, menampakkan semburat wajah tanpa ekspresi dibaliknya, mata onix menatap punggung Naruto yang tengah bersender dikursinya.

"Sejak kapan kau ada di situ?." Naruto memang baru menyadari keberadaan Sasuke sesaat setelah Hanabi pergi meninggalkan ruangannya, namun bisa saja dia sudah berada disana sepanjang waktu dan mendengar semuanya.

"Beberapa menit!" Sasuke membalikkan badannya menghadap jendela besar yang mengarah kepusat Konoha yang mulai diselimuti oleh malam. Naruto memijat-mijat pelipisnya yang berdenyut semakin keras berharap bisa meringankan sedikit rasa sakit dikepalanya. Naruto dan Sasuke terdiam, tidak ada satu pun dari meraka yang bergerak dari posisinya masing-masing.

"Katakan padaku Naruto!." Setelah berdiam diri cukup lama akhirnya Sasuke tidak bisa lagi menutupinya.

"Apa kau pernah berpikir untuk membunuhku?." Naruto terkejut mendengar pertanyaan Sasuke, saat ini kalau Naruto menjawab 'ya', dengan senang hati Sasuke akan membiarkan Naruto menghajarnya sampai mati. Naruto tersenyum miris, kesulitan dan kerumitan yang telah meraka lalui untuk sampai disini sekarang berkelabat dibenaknya. Hanabi sebenarnya bukanlah orang yang jahat, dia hanyalah seorang gadis yang patah hati dan berduka. Dia telah melewati hal-hal menyedihkan sejak usia yang masih sangat muda, dia hanyalah gadis yang dipaksa untuk terlalu cepat belajar dan menjadi dewasa oleh keadaan. Lebih dari pada itu dia hanyalah seorang adik yang menagisi kepergian kakak yang selalu menyayangi serta melindunginya, dan dia menghadapinya dengan cara yang menurutnya benar.

"Awalnya semuanya baik-baik saja, Sejak kejadian itu sebenarnya tidak banyak yang berubah." Naruto memutar kursi yag didudukinya menghadap kearah yang tengah ditatap oleh Sasuke. Kedua lelaki itu menatap jauh menerawang.

"Justru sebaliknya, senyum tidak pernah meninggalkan wajahnya. Dia… bahagia Sasuke." saat mengatakannya Naruto teringat sosok Hinata yang tersenyum lembut kearahnya sambil mengelus sayang perutnya yang membuncit.

"Namun tiba-tiba semuanya menjadi kacau. Wajahnya menjadi semakin pucat, tubuhnya semakin kurus, saat itu dia bisa berhenti bernapas kapan saja. Council mulai terbagi menjadi dua, mereka berdebat dan berdebat sepanjang hari. Dari 60 turun menjadi 50 lalu menjadi 10 sampai akhirnya tidak ada lagi harapan yang tersisa. Di saat itu lah, aku ingin pergi mencari dan menghajarmu sampai mati!." Mendengar perkataan Naruto, Sasuke menutup mata dan mengerutkan keningnya seolah merasa kesakitan.

"Fakta kalau kau mungkin bahkan tidak mengetahui kekacauan apa yang telah kau sebabkan membuatku sangat marah!" Naruto menghembuskan napasnya keras, berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit didadanya.

"Aku tidak tahu!..., Aku tidak pernah tahu,…!" Sasuke mengusap rambut dari wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang gemetar.

"Seandainya aku tahu semua itu akan terjadi Naruto, saat itu aku akan lebih memilih…."

"Saat ini Itachi membutuhkanmu Sasuke, masih banyak yang harus kau pikirkan selain kematian!" Naruto memotong perkataan Sasuke.

"Lagi pula pada awalnya semuanya adalah kesalahanku, kalau seandainya kesalahpahaman itu tidak pernah terjadi maka Hinata tidak akan pergi untuk misi itu. Dan…" Naruto tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Mereka berdua pun kembali terdiam, mata menerawang jauh, berkutat dengan pikiran dikepala mereka masing-masing.


Didepan sebuah cermin besar, sepasang mata ametis tengah menatap pantulan dirinya sendiri. Rambut coklat panjangnya telah terikat rapi membentuk kunciran ekor kuda, kimono sederhana berwarna biru muda sudah terpasang rapi membalut tubuhnya , sekarang dia sudah siap untuk pergi. Meskipun dia belum yakin apakah ibunya akan mengijinkannya untuk pergi malam ini, tapi Haruko tidak bisa menahan keinginannya untuk pergi memenuhi undangan Itachi untuk datang ke kedai Ichiraku malam ini. Dia tahu kalau segera setelah nama Itachi disebut, ibunya pasti langsung akan mengirimnya kembali kedalam kamar, tapi kalau dia mengatakan yang mengundang adalah Hokage-sama ceritanya pasti berbeda. Haruko bersenandung pelan sambil memutar-mutar tubuhnya didepan cermin, memastikan semuanya telah terpasang dengan rapi dan tanpa cacat. Dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan sosok yang sangat dikaguminya, yaitu sang Hokage berambut kuning.

Tadi siang ketika Itachi mengundangnya untuk datang ke kedai Ichiraku, Haruko sempat kebingungan untuk menjawab apa, dia mengerti kalau Itachi mungkin hanya berbasa-basi mengajaknya kerana dia juga adalah bagian dari tim mereka. Shikaku dan Chizo mencoba meyakinkannya untuk ikut tapi dia masih ragu apa yang akan dikatakan oleh ibunya tentang itu. Sejak kecil Haruko telah diberi tahu kalau dia tidak boleh terlalu dekat atau berbicara dengan Itachi Uchiha, dan meskipun dia tidak tahu apa penyebabnya dia menaatinya tanpa bertanya. Mengira hal seperti itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan, sama seperti ketika kau dilarang untuk memasuki ruangan kerja ibumu, aturan sederhana seperti ketika kau dilarang berlarian dikoridor, atau konsep dasar seperti ketika kau dilarang untuk membungkukkan badan kepada pengurus rumah tangga keluargamu, sesuatu yang Haruko kira sebagai bagian dari tradisi hubungan antar clan Hyuga-Uchiha, yang mungkin sudah sejak jaman dahulu memperlakukan satu sama lain seperti itu. Tapi segera setelah disebutkan kalau Naruto Uzumaki sang Hokage lah yang akan mentraktir mereka, tanpa Haruko sadari kepalanya sudah mengangguk cepat mengiyakan ajakan itu dan tanpa berpikir bibirnya langsung mengatakan akan datang. Setelah puas mematut diri dicermin Haruko beranjak dari kamarnya menuju ruang keluarga dimana jam-jam seperti ini biasanya Hanabi akan berada untuk menikmati waktu minum tehnya. Dia membuka pintu geser menuju ruangan itu namun tidak menemukan ibunya didalamnya. Haruko merasa heran lalu mulai khawatir, ibunya adalah orang yang suka keteraturan dan ketepatan waktu sehingga kalau dia tidak berada disini seperti kebiasaannya, berarti dia sedang ada hal yang sedang dikerjakannya, dan kalau itu terjadi biasanya ibunya akan selalu memberitahunya.

"Ada apa Haruko ?." Hanabi menegur putrinya yang tengah berdiri mematung dengan wajah khawatir di depan pintu. Haruko kaget lalu memutar wajahnya ke arah ibunya, dan menghembuskan napas lega. Di belakang Hanabi, Haruko bisa melihat para pengurus rumah tangga membawa perlengkapan minum teh, itu membuat Haruko mentertawakan dirinya sendiri, kekhawatirannya terlalu berlebihan, rupanya ibunya tidak setepat waktu seperti yang selalu dia pikir kadang-kadang dia juga pernah terlambat. Haruko tesenyum kapada ibunya lalu menyingkir dari pintu untuk memberi jalan pada ibu dan para pelayannya, dia mengikuti ibunya masuk dan duduk disisinya sementara para pelayan sedang mempersiapkan perlengkapan minum teh. Dua orang pelayan membuka pintu geser didepan mereka dan menampakkan taman kecil yang indah dibaliknya. Ruangan itu terbuka menghadap teras yang memiliki sebuah taman yang terawat rapi, wangi bunga-bunga segera menyeruak masuk menyapa hidung seketika setelah pintu terbuka, gemericik air kolam terdengar sayup-sayup menciptakan suasana tenang sekaligus menghibur, Hanabi sangat menyukai ruangan itu. Menurut cerita yang Haruko dengar dari pengurus rumah tangga mereka, taman itu adalah taman pribadi mendiang bibinya, Hinata Hyuga. Dulu ketika dia masih hidup, taman ini diurus dan dirawat olehnya sendiri, bunga-bunga, kolam, serta pohon-pohon ditaman itu tidak pernah di rubah dari tatanan awal ketika Hinata masih mengurusnya dengan tangannya sendiri.

"Ibu!, Aku ingin minta ijin untuk keluar malam ini?!." Haruko akhirnya memberanikan diri mengutarakan keinginannya sebelum acara minum teh dimulai.

"Mau kemana?." Hanabi memperhatikan putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki membuat Haruko merasa gugup.

"Hokage-sama mengundang tim kami untuk makan malam bersama di Kedai Ichiraku!." Mendengar kata 'tim kami' Hanabi segera mendelik kearah Haruko yang sekarang terlihat semakin gelisah ditempat duduknya. Tim berarti, Itachi Uciha juga akan ada disana, maka jangan harap Haruko akan dia ijinkan untuk datang.

"Kau tidak ku ijinkan untuk pergi!." Hanabi berujar lantang kepada Haruko, yang hanya bisa menggigit bibir menatap ke arahya.

"Tapi bu, bukankah itu tidak sopan jika menolak undangan seorang Hokage?." Haruko berusaha keras meyakinkan agar dia di ijinkan pergi, meskipun harus berbohong sekalipun.

"Aku yakin dia akan mengerti!." Hanabi berkata tegas, menunjukan kalau dia tidak ingin dibangkang, Haruko hanya diam mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dia mengerti betul nada bicara itu, dan dia tidak ingin melangkahi garis yang sudah jelas ditunjukkan oleh ibunya.

"Kau boleh kembali ke kamarmu." Hanabi mengalihkan pandangannya ke taman dihadapannya. Ditelinga Haruko kalimat itu sama saja artinya dengan, 'masuk ke kamarmu!, sekarang!'. Haruko bisa merasakan kalau ibunya tidak seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang membuatnya kesal dan hal terakhir yang Haruko inginkan adalah membuatnya bertambah kesal. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Haruko akhirnya beranjak pergi meninggalkan ibunya, pupus sudah harapannya bisa bertemu dengan Naruto-sama. Haruko segera memerintahkan salah seorang pelayannya pergi untuk mengabarkan kepada Itachi dan yang lainnya kalau dia tidak bisa datang memenuhi undangan Itachi karena ada keperluan yang mendesak, dia tidak ingin membuat meraka menghabiskan waktu menunggu lama dirinya yang tidak akan pernah datang.

Berniat ingin kembali ke kamarnya tanpa disadari oleh Haruko langkah kakinya justru membawanya ke ruangan yang selalu didatanginya ketika dia sedang bersedih dan ingin menyendiri. Perlahan Haruko masuk kedalam ruangan itu dan menutup pintu dibelakangnya dengan bunyi 'klik' yang menggema diruangan sunyi itu. Itu adalah kamar mendiang bibinya, kamar ini jauh lebih sempit jika dibandingkan kamar yang ditempati Haruko saat ini. Didalamnya barang-barang masih tertata rapi, persis tidak berubah sejak terakhir kali Hinata menempatinya, kamar ini selalu dijaga tetap bersih dan nyaman seolah masih ada orang yang menempati. Haruko berjalan masuk dan menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur Hinata, membenamkan kepalanya kedalam bantal empuk dan menghirup aromanya dalam-dalam, wangi vanilla dan mawar yang sangat lembut dan samar memenuhi indra penciumannya. Hanabi bersikeras untuk menjaga apapun diruangan itu agar tidak berubah sedikitpun termasuk pewangi yang digunakan untuk mencucinya, meskipun Haruko tidak pernah yakin apakah aroma Hinata benar seperti ini atau tidak, hanya saja menghirup aroma itu dan berada dikamar ini selalu bisa membuatnya merasa nyaman. Memalingkan wajahnya kesisi tempat tidur, dia bisa melihat foto tim 8 Rookie 12 terpajang diatas meja, di foto itu Hinata telihat tersenyum cerah diantara kedua rekan setimnya. Meskipun Haruko tidak pernah bertemu dengannya tapi entah mengapa dia selalu merasa mengenal dan dekat dengan bibinya itu, ia mengenal Hinata hanya dari cerita-cerita yang di dengarnya dari orang disekelilingnya, dari para pelayan, dari para pengurus kebun, dari para penjaga, dari para anggota keluarga lainnya, dari ibunya dan dari buku harian yang ditemukannya dikamar ini ketika dia berumur 5 tahun. Dia mengingat bagaimana dia belajar dengan amat sangat giat agar bisa membaca apa yang ditulis oleh bibinya di buku itu. Menelantangkan tubuhnya, didinding tepat di depan tempat tidur itu tergantung sebuah bingkai yang cukup besar berisi foto yang menurut catatan harian Hinata diambil ketika Hinata merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Ada banyak sekali orang didalam foto itu dan Haruko hanya bisa mengenali sebagian saja, para Rookie 12, ibunya, dan beberapa orang kenalan yang tanpa sengaja ikut terpotret ketika itu, sedangkan fokus utamanya adalah tentu saja bibinya tercinta dan cinta dalam hidupnya, Naruto Uzumaki. Difoto itu bibinya terlihat tertunduk merona dihadapan Naruto yang juga terlihat malu-malu sambil meletakkan tangan kanan dibelakang lehernya tersenyum canggung, sementara orang-orang disekeliling mereka terlihat berusaha mendorong kedua muda-mudi itu untuk mendekat satu sama lain. Semua orang terlihat bergembira, difoto itu Kiba bahkan terlihat membuka mulutnya lebar seolah menyorakkan sesuatu kearah bibinya dan Naruto.

Setelah membaca buku-buku harian itu, Haruko bisa menyimpulkan beberapa hal di hidup Hinata, yaitu menjadi kuat, menjadi pemimpin clan, membuat bangga ayah, berguna untuk teman-teman, menjaga sepupu dan adiknya tersayang, serta mencintai Naruto Uzumaki. Haruko seolah bisa merasakan sendiri ketulusan hati bibinya dalam mencintai orang lain, mungkin pepatah yang mengatakan kalau orang baik akan lebih cepat mati itu memang benar adanya. Menurut Haruko kisah cinta bibinya lebih indah dari novel romansa manapun yang pernah dibacanya, meskipun berakhir pahit namun rasa manis itu selalu ada didalamnya. Di lembar-lembar terakhir halaman buku harian Hinata yang diasumsikan Haruko ditulis sebelum dia pergi menjalani misi maut itu, tertulis sebuah akhir pahit yang datang tiba-tiba, membuat Haruko terperangah ketika membacanya, dia sama sekali tidak bisa melihat kalau hal seperti itu akan terjadi. Kisah cinta yang berakhir saat bahkan belum benar-benar dimulai. Dan yang lebih tidak dimengertinya lagi adalah Hinata memakluminya, merestuinya dan berniat mengatakannya langsung kepada Naruto dan gadis yang dicintainya setelah dia kembali dari misinya kali ini. Namun sayang, sepertinya dia tidak pernah pulang untuk mengatakannya.


Itachi mengintip wajah ayahnya dari balik bulu matanya yang lebat, Uchiha Sasuke sedang menyantap sarapan pagi buatan anaknya dalam diam. Sejak tadi Itachi terus saja menimbang-nimbang didalam kepalanya, apakah ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan hal itu, hal yang sejak kemarin sudah mulai mengganggu pikirannya. Hanya saja melihat situasi saat ini Itachi setengah ingin mengurungkan niatnya, sejak tadi malam ayahnya terlihat begitu suram dan menakutkan, dia takut menanyakan hal ini hanya akan membuat ayahnya marah atau mungkin lebih buruk lagi. Sejak tadi malam di Kedai Ichiraku, Itachi bisa merasakan kalau sepertinya terjadi sesuatu di antara Ayahnya dan Naruto, meskipun mereka terlihat datang bersama-sama dan terlihat akur namun Itachi masih bisa melihat kekakuan yang tidak akan bisa diketahui oleh orang yang tidak mengenal mereka. Apa mereka berdua sedang bertengkar?, Itachi tidak yakin, hanya saja tadi malam meraka berdua terlalu sopan satu sama lain. Sepengetahuan Itachi, Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki adalah tipe orang yang akan saling mengatakan kata-kata kasar satu sama lain, seperti bodoh, idiot atau otak udang, bukan karena mereka saling membenci tapi justru menunjukkan kedakatan mereka. Sehingga, ketika mereka berada disebuah ruangan yang sama selama berjam-jam tanpa terdengar kata-kata seperti itu, meraka justru membuat Itachi khawatir. Selain itu mereka juga dengan sopan saling menumpahkan sake kedalam cawan sake secara bergantian, seolah mereka sedang menghadiri sebuah seremoni sakral dan membawa kekhawatiran Itachi ketingkat yang lebih tinggi lagi.

Tapi bagaimana kalau perkiraannya benar?, dia bisa gila kalau tidak menanyakannya, tapi bagaimana kalau dia salah menduga?, semakin dipikirkan dia semakin pusing. Tadi malam Itachi hampir tidak bisa tidur karena memikirkannya, dia mungkin tidak sepintar Shikaku tapi dia juga tidak bodoh. Jika kau adalah seorang anak yang tidak memiliki ibu, ayahmu entah apa sebabnya merahasiakan siapa ibumu darimu, kemudian suatu hari kau menemukan ada seorang wanita yang keberadaannya didunia ini seolah disembunyikan dari pandangan matamu, kemudian ada 2 orang paman yang sangat dekat dengan wanita ini juga sangat menyayangimu meskipun hubungan kedua paman ini dengan ayahmu terlihat sangat canggung satu sama lain. Apa kira-kira yang akan muncul dalam pikiranmu?. Sejak kemarin otak Itachi terus saja memikirkan segala kemungkinan dan ketidak mungkinan hal ini. Dia senang, takut, dan juga bingung. Dan sekarang dia harus memastikannya sebelum dia gila dibuatnya.

"Ayah, apa aku boleh menanyakan sesuatu?." Itachi akhirnya memberanikan diri.

"Apa?." Sasuke menjawab ringan, otaknya langsung berputar hebat menebak apa yang akan ditanyakan oleh Itachi.

"Tapi kau harus berjanji akan menjawabnya!." Itachi tidak ingin mendengar ayahnya berkata 'aku tidak bisa menjawabnya' sebagai jawaban terlebih untuk pertanyaan ini.

"Kenapa aku harus berjanji?." Sasuke menatap Itachi dengan tatapan menyelidik, didalam dadanya jantungnya berdegup dengan kencang.

"Untuk hadiah kelulusanku, tentu saja!." Itachi tergelak, berusaha mencairkan udara yang terasa padat disekitar mereka. Sasuke menatap Itachi dengan seksama sebelum menyunggingkan senyum lalu mengangguk.

"Baiklah!, 1 pertanyaan!." Sasuke tidak yakin dengan apa yang dilakukannya, dikepalanya dia merutuki keputusannya dan berpikir mungkin dia sudah gila. Sasuke memaksa dirinya untuk santai dan melanjutkan makannya, disisi lain meja Itachi justru gemetaran, dadanya bergemuruh, dia menelan air liur dengan susah payah.

'Apa Ibuku adalah Hinata Hyuga?.' kata-kata itu bergema di dalam kepala Itachi.

"Apa Ibuku ….." tenggorokan Sasuke hampir tercekat,

"Cantik?." Itachi tidak sanggup, mendengar Itachi menyelesaikan pertanyaannya Sasuke merasa jantungnya hampir berhenti.

"Apa Ibuku cantik ayah?." Itachi tidak sanggup bertanya langsung kepada ayahnya, dia takut, dia juga bingung, bagaimana kalau lebih baik dia tidak tahu kebenarannya?. Itachi belum siap. Sasuke hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dia sudah memperkirakan yang terburuk. Setelah menatap sesaat wajah tersenyum Itachi dihadapannya, ia mencondongkan tubuhnya kearah Itachi.

"Bagaimana menurutmu?." Sasuke menopang dagu dengan telapak tangannya, mencoba untuk terlihat santai.

"Menurutku?...Hmm…...Dia pastinya sangat cantik, ia kan ayah!?." Sasuke hanya tersenyum. 'Yah, kau benar, dia memang cantik'.

"Tantu saja dia haruslah sangat cantik agar bisa membuat ayah jatuh cinta setengah mati!." Itachi melanjutkan makannya, menikmati suasana yang kembali santai.

"Apa yang membuatmu berpikir aku 'jatuh cinta setengah mati' padanya?." Sasuke tertawa ringan merasa lucu dengan perkataan Itachi.

"Hmm…., aku bisa melihat kalau ayah 'jatuh cinta setengah mati' padaku, jadi pastinya kau juga 'jatuh cinta setengah mati' pada ibuku , iya kan?." Itachi juga ikut tertawa. Sasuke kembali melanjutkan makannya, sambil tersenyum menatap Itachi. Sasuke bergumam didalam hati,

'Itachi…..,di dunia ini ada seorang ibu yang akan 'jatuh cinta setengah mati' padamu meskipun dia tidak 'jatuh cinta setengah mati' kepada ayahmu.'.

"Mmm…Ayah..?." Itachi masih ingin mencoba mencari sedikit petunjuk dari ayahnya,

"Hm?." sasuke menyahut singkat

"Apa ayah tau siapa Hinata Hyuga?." kalau saja Itachi menanyakan pertanyaan ini tadi, Sasuke yakin kalau dia akan tergagap dan linglung menjawabnya, tapi sekarang Uchiha Sasuke sudah dalam status siaga sehingga dia bisa mempertahankan ekspresinya lalu menjawab santai,

"Tau…, kenapa?."

"Tidak apa-apa, aku tidak tahu kalau dia juga adalah salah satu dari Rookie 12." ekspresi ayahnya tidak sesuai dugaannya, Itachi berpikir 'apa mungkin aku salah menduga?'.

"Paman Shino dan Paman Kiba tidak pernah bercerita tentangnya, padahal mereka adalah rekan satu tim!" Itachi mencoba lagi.

"Memangnya kenapa mereka harus cerita padamu?.", 'apa kau sudah tahu Itachi?', Sasuke diam-diam ketakutan.

'Benar juga!' Itachi merasa ingin mentertawakan dirinya sendiri, memangnya kenapa mereka harus menceritakan tentang Hinata Hyuga padanya, hanya karena mereka tidak cerita bukan berarti mereka menyembunyikannya kan?, wajah santai ayahnya seolah mengkonfirmasi kekeliruannya, rasa keingintahuan tentang siapa ibunya membuat Itachi berpikir kalau dia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.

"Hanya saja….," Itachi memulai namun mengurungkan niatnya, Sasuke hanya diam menatap santai menunggu Itachi menyelesaikan kalimatnya.

"Ku pikir Rookie 12 itu hanya ada 12 orang, ternyata ada 13 ya?. Aku tidak tau!." Itachi mengangkat bahu kearah ayahnya, kemudian tersenyum dan meneruskan makannya. Selama ini yang diketahui oleh Itachi Rookie 12 beranggotakan 12 orang yang hampir semua sudah pernah ditemuinya terkecuali Neji Hyuga yang telah meninggal, yaitu ayahnya, Naruto Uzumaki , Haruno Sakura, Shikamaru Nara, Ino Yamanaka, Chizo Akamichi, Tenten, Rock Lee, Sai, Kiba Inuzuka, dan Shino Aburame.

"Setidaknya sekarang kau sudah tahu kan ?!." Sasuke dengan santai melanjutkan makannya.

Tanpa sepengetahuan Itachi, Sasuke diam-diam menghembuskan napas lega. Dihati kecilnya dia ingin sekali memberi tahu Itachi siapa ibunya, hanya saja dia harus melindungi Itachi, dia tidak boleh tahu, atau nyawanya akan berada dalam bahaya. Sasuke bertanya-tanya di dalam hati apa yang akan Itachi katakan padanya kalau dia tahu yang sebenarnya?, apa dia akan membencinya?, hatinya seolah tercabik hanya dengan membayangkannya.

"Ne…Ayah!, Apa hubungan 'Hinata Hyuga' ini dengan Paman Hokage ?." Itachi masih penasaran.

"Kemarin di perpustakaan kami melihat foto Rookie 12, dan Paman Naruto tengah merangkul pundaknya, sepertinya mereka sengat dekat. Aku penasaran kenapa dia juga tidak pernah menyinggung tentangnya. Maksudku … dia sangat sering bersama kita, tapi aku belum pernah mendengar dia menyebutnya, terlebih lagi kalau mereka dekat pasti paman …"

"Kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri pada Naruto ?." Sasuke memotong racauan Itachi pelan tanpa menatap kearahnya.

"Apa …. kalian bertengkar?" Itachi bertanya, Sasuke mengerutkan kening bingung lalu menatap Itachi.

"Tidak, memangnya kenapa ?"

"Tidak, hehe….hanya…"

"Itachi…..Itachi…!" Suara nyaring Chizo terdengar dari pintu depan, memotong perkataan Itachi..

"Ayah, aku sudah selesai. Aku berangkat dulu, Chizo dan Shikaku sudah menungguku!." Itachi merapikan perlengkapan makannya, Sasuke mengangguk lalu menggumamkan 'hati-hati' kepada Itachi yang sudah menghambur berlari keluar rumah. Sasuke berdiri dan berjalan mendekati jendela yang menghadap kejalan, mengamati punggung Itachi dan 2 orang temannya yang berjalan menjauh dari rumah,

"Dia sudah Genin." Sasuke bergumam pada dirinya sendiri seolah tidak percaya, seakan baru kemarin Itachi belajar berjalan dan sekarang dia sudah menjadi Genin.

"Hinata….." Diingatan Sasuke dia bisa mgelihat senyum Hinata yang tengah menggendong Itachi yang sedang mencelotehkan kata-kata yang tidak jelas,

'Sasuke, apa kau dengar? Dia memanggilmu ayah!...' Hinata tersenyum cerah ke arah Sasuke, 'Ne..Itachi-kun sekarang coba katakan I…bu… I…bu….' Hinata mencontohkan pada Itachi lalu dibalas dengan celotehan kata yang tidak jelas dari Itachi. 'Itachi-kun..itu tidak adil!' Hinata berpura-pura cemberut kemudian tertawa riang sambil memeluk Itachi kecil yang juga terkikik.

Sasuke memejamkan matanya, ditelinganya terngiang suara tawa renyah Hinata ketika Itachi sampai kepelukannya dengan langkah kaki pertama Itachi tanpa bantuan orang lain.

'Itachi-kun ku memang hebat!.' Hinata memeluk erat Itachi lalu menatap wajahnya dan mencium sayang kedua belah pipi cabi Itachi sambil tertawa riang.

"Kalau kau ada disini, apa yang akan kau katakan padanya Hinata?. Dia sekarang sudah Genin." Sasuke bergumam pada dirinya sendiri, mengamati punggung Itachi yang semakin menjauh. Sasuke mengerutkan dahinya menahan rasa pedih didadanya, rasa sakit dan penyesalan menggerogoti hatinya.

"Kalau dulu aku tidak terlalu egois, dan mengikuti permintaanmu sejak awal. Mungkin kau sekarang masih ada disini!" seluruh permukaan wajahnya terasa sakit karena menahan emosi yang mengancam akan pecah. Dipelupuk matanya sosok seorang wanita muda berambut panjang indigo muncul di pintu pagar rumah, wanita itu melambai pada punggung Itachi yang semakin menjauh.

"Maafkan aku Hinata…!" bayangan wanita itu menghilang bersamaan dengan mengalirnya sebutir air mata dari mata Sasuke. "Maafkan aku….".


Author : * mata berkaca-kaca sambil baca Reviews bolak-balik* and Huhuhu….*Burst into tears*

Terimakasih buat : aindri961,Thania D'lavender girl,flowers lavender,Yukori Kazaqi, Mitsuka Sakurai, Arum Junnie, Bee Hachi, Mufylin, Malfoy1409, Jojo, Kaoru mouri, dan Syura yang udah mau baca & Review cerita ini.

Ada beberapa pertanyaan yang Author ga bisa jawab soalnya noh pertanyaan bakalan terjawab seiring berjalannya cerita nanti, jadi sabar ya… Masih banyak kejutan didepan nanti!...

Tapi tolong jangan timpuk author ya…. Soalnya di cerita ini dari awal Hinata nya emang udah meninggal!...Hua…. ( nangis kejer )

Dan pastinya kritik dan saran sangat author nantikan ya….

Terimakasih…..