Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll

Chapter 5

Latihan Tanding

"Selamat Pagi!." Itachi merangkul kedua temannya yang berjalan didepannya, sedikit terengah karena berlari mengejar kedua temannya itu.

"Kau mencekikku!." Chizo terkejut lalu mengeluh berusaha melepaskan lehernya dari lengan Itachi, Itachi hanya terkikik lalu meminta maaf sambil melepaskan rangkulannya. Sambil terus melangkah maju, Chizo mendelik kearah Itachi lalu bercanda melayangkan tinju tepat menuju wajah Itachi . Itachi pun segera menghindar lalu membalas perlakuan Chizo meninjunya perlahan ditempat-tempat yang bisa mengelitiknya. Begitulah cara mereka bercanda, meninju satu sama lain disepanjang jalan sambil tertawa-tawa sedangkan Shikaku dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya berjalan malas disisi mereka, santai tidak terpengaruh oleh kelakuan kedua temannya yang kekanak-kanakan. Lelah bercanda akhirnya Itachi dan Chizo berjalan santai disisi Shikaku, mereka berjalan bersisian menuju tempat latihan yang diberitahu Kakashi kemarin, Itachi menghirup napas dalam-dalam, berusaha mengisi sebanyak-banyaknya udara segar pagi itu kedalam paru-parunya, hari ini cuaca sangat cerah angin berhembus sepoi-sepoi menyapu lembut wajahnya. Kakashi mengatakan mereka akan berkumpul hari ini untuk memulai latihan mereka ketingkat yang lebih tinggi, dan itu membuat Itachi sangat bersemangat. Sudah 1 bulan berlalu sejak latihan perdana mereka, Kakashi sensei sudah mengajari mereka tentang banyak hal, seperti pengendalian cakra, pertahanan dasar, penyerangan dasar serta teknik-teknik dasar lainnya dan sekarang adalah saatnya bagi mereka untuk berlatih bertarung secara langsung.

"Nee, hari ini kita akan latihan tanding kan?." Chizo menyetukan kedua telapak tangan dibelakang kepalanya sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan khawatir. Hari ini akan diadakan latihan tanding antara tim Kakashi dan Tim Gai untuk menilai perkembangan latihan mereka selama 1 bulan ini, dan sepertinya hal ini sangat mengganggu Chizo.

"Iya. Tapi jangan khawatir Chizo!, Kau pasti bisa mengalahkan semua lawanmu nanti!." Itachi menepuk-nepuk pelan punggung Chizo berusaha menenangkan wajah kalut temannya itu.

"Bukan itu masalahnya!." Chizo cemberut "Bagaimana kalau lawanku nanti adalah Haruko-chan?." Chizo menunjukkan wajah ngeri, "Bagaimana mungkin aku bisa menyerang Haruko-chan ku?." Chizo berujar lirih mendramatisir keadaan, " Ini semua tidak perlu terjadi kalau seandainya Haruko-chan tidak pindah dari tim kita!." Chizo mendongakkan wajah kelangit seolah berkata pada tuhan.

Shikaku mendengus malas, sedangkan Itachi tertawa kecil melihat kelakuan Chizo. Dia teringat wajah sedih dan tidak percaya Chizo ketika Kakashi-sensei di hari pertama mereka latihan mengumumkan bahwa Haruko dan Fuyu akan bertukar tempat. Sampai saat ini mereka semua tidak tahu penyebab pertukaran itu, Chizo mungkin berduka tapi Itachi dan Shikaku jelas bergembira dengan pertukaran itu, bukan berarti mereka tidak menyukai Haruko hanya saja dengan adanya Fuyu di tim mereka membuat mereka semakin bersemangat.

"Jangan berlebihan!, ini hanya latihan. Lagi pula, mungkin kau bahkan tidak akan bisa menyakitinya meskipun kau ingin." Shikaku berkata santai membuat Chizo mendelik jengkel kearahnya merasa direndahkan.

Chizo tidak bisa menyangkal, Haruko memang kuat dan hebat kemampuannya memang diatas rata-rata ditambah dengan Byakugannya Chizo memang tidak ada apa-apanya. Namun tetap saja Chizo tidak bisa membayangkan dirinya harus menyerang Haruko-chan tersayangnya secara langsung dan sebenarnya yang lebih tidak dia inginkan lagi adalah jika dia harus menahan malu dikalahkan oleh gadis pujaannya sendiri. Hal itu lah juga yang selama ini membuat Chizo berlatih sangat tekun agar bisa menjadi kuat dan menandingi Haruko-chan serta bisa menunjukkan padanya kalau dia adalah orang yang bisa di andalkan. Chizo memasang tampang cemberut kearah Shikaku yang hanya mengabaikannya, didalam hati sebenarnya Shikaku juga merasa tidak enak pada Chizo hanya saja dia harus berkata jujur pada Chizo agar dia tidak terluka kelak. Chizo dan mimpinya itu tidak bisa diterima oleh akalnya, Haruko adalah seorang calon pewaris clan Hyuga, dia dan Chizo sama sekali tidak memiliki kesempatan, semakin di pikirkan Shikaku semakin khawatir kepada Chizo. Sama halnya dengan sepupunya Eri, Eri dan mimpinya tentang Itachi Uchiha yang tidak kalah mengkhawatirkan, Eri bahkan telah mempersiapkan nama untuk anak-anaknya dengan Itachi Kelak, tidak hanya nama, warna rambut,warna mata dan jenis kelamin mereka pun sudah dikhayalkan oleh Eri. Tidak peduli sekeras apapun Shikaku memperingatkan Eri, dia sama sekali tidak digubrisnya dia justru mendapatkan uluran lidah mengejek dari Eri, dia berkata sekeras-kerasnya pada sepupunya itu kalau Itachi tidak menyukainya seterang-terangnya dan sekasar-kasarnya agar sepupu tersayangnya itu tidak bermimpi terlalu jauh dan berakhir menyakiti dirinya sendiri. Shikaku menyadari kalau mereka memang masih kecil dan terlalu dini untuk mikirkan hal yang terlalu jauh didepan, hanya saja dua orang ini membuatnya khawatir. Dia teringat percakapannya dengan Eri,

'Kenapa kau menyukai Itachi?.'

'Apa kau harus bertanya Shikaku?.' Eri memutar bola matanya, seolah Shikaku mengetahui jawabannya sejelas dia mengetahui warna daun.

'Dia tidak menyukaimu, dia menyukai Fuyu-chan.'

'Aku tau.' Eri berujar santai.

'Kenapa kau masih menyukainya?.' Shikaku mengernyitkan kening tidak mengerti.

'Aku tidak tau!.' Eri mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, Shikaku menghembus napas lelah.

"Kalian enak!." kata-kata Chizo menyadarkan kembali Shikaku dari pikirannya. Chizo menyikut kedua sahabatnya disisi kanan dan kirinya sambil memberi isyarat dengan bibirnya kearah seorang gadis berambut perak panjang yang sedang mendekat kearah mereka.

"Kalian tidak usah khawatir akan melawan gadis pujaan kalian!." Chizo melanjutkan cemberutnya. Fuyu Hatake berlari kecil mendekat pada rekan-rekan satu timnya.

Rambut panjang peraknya yang seperti salju terurai melayang-layang di terpa angin, kulit putih mulusnya terlihat bercahaya dibawah terpaan matahari pagi, senyum dari bibirnya yang manis menghiasi setiap langkahnya, dengan kata lain Fuyu Hatake adalah gadis yang cantik dan menawan. Tidak hanya cantik, dia juga adalah gadis yang sangat ramah, baik, pandai memasak, dan masih banyak kelebihan-kelebihannya yang lain, tidak heran banyak anak laki-laki di akademi menyukainya termasuk Shikaku dan Itachi. Shikaku pada kasus ini juga mengkhawatirkan dirinya sendiri, dia memperhatikan gadis itu mendekat dan mengucapkan salam pagi kepada mereka semua sebelum semua perhatiannya terarah pada Itachi Uchiha. Mata Fuyu terlihat begitu tertarik dengan obrolan mereka, meskipun yang mereka bahas hanyalah cuaca pagi ini, pada akhirnya dia sama saja dengan Chizo dan Eri hanya saja bedanya dia bisa membedakan yang mana mimpi dan realita, yah setidaknya dengan kemampuannya menalar perasaannya dia tidak akan tersesat terlalu jauh.

"Oh ya…ini untuk kalian!." Fuyu merogoh keranjang kecil yang dibawanya kemudian mengeluarkan Cup cake coklat lalu menyodorkannya kearah teman-temannya.

"Untuk Itachi…,untuk Shikaku….,dan untuk Chizo…!." Fuyu memberikan satu persatu kue itu kepada teman-temannya.

"Terimakasih Fuyu-chan." Itachi tersenyum sambil menerimanya, meskipun dia sudah sarapan dengan ayahnya, dia akan memastikan kalau Cup Cake buatan Fuyu-chan pasti habis dia lahap.

"Terimakasih." Shikaku menerimanya dengan anggukan pelan dan senyum kecil kearah Fuyu.

"Huaah….Fuyu-chan…terimakasih!." Chizo benar-benar terlihat senang, bukan sesuatu yang dibuat-buat dia memang sangat menyukai makanan manis.

"Kita memang beruntung!, setidaknya Haruko-chan tidak bertukar tempat dengan Eri." Dengan senyum jahil Chizo melahap segera kue yang diberikan padanya.

"Chizo!, kau tidak boleh berkata seperti itu." Itachi menegur Chizo, dia tahu kalau Chizo hanya bercanda tapi kalau sampai Eri mendengarnya dia pasti akan sedih. Fuyu mengiyakan kata-kata Itachi, dia merasa tidak enak pada Eri, meskipun orang yang sedang dibicarakan sedang tidak ada didekat meraka tapi tetap saja dia merasa kalau mereka melakukan sesuatu yang jahat padanya.

"Hey…hey… jangan marah begitu!, aku kan hanya bercanda!." Chizo tergelak kearah dua temannya yang tengah menatapnya serius. Shikaku hanya mengabaikannya, dia tahu betul Chizo dan Eri sebenarnya sangat dekat, meraka sangat mirip satu sama lain, mereka sama-sama tidak bisa diam, selalu saja aktif dan bersemangat sehingga mungkin itulah yang membuat mereka berdua justru sering kurang akur. Meraka berdua bahkan pernah tidak saling bicara selama berhari-hari hanya karena meributkan tentang yang mana yang lebih dahulu diciptakan didunia ini, telur ayam atau ayam, benar-benar konyol.

"Lagi pula,…Sepertinya Eri benar-benar cocok dengan timnya." Chizo melanjutkan memakan kuenya sambil memandang sesuatu didepannya. Itachi dan Fuyu mengukuti arah pandangan Chizo, lumayan jauh dari tempat mereka sekarang Eri terlihat berjalan bersisian dengan Rio Aburame. Eri berjalan menyamping menghadap Rio sambil berbicara, terlihat menggerak-gerakkan tangannya bersemangat ketika dia bicara, Eri adalah termasuk orang yang menggunakan bahasa tubuhnya untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Itachi tersenyum kecil melihat tingkah Eri yang tidak bisa diam disatu sisi Rio saja, dia berjalan berputar-putar mengitari si bocah serangga itu sambil terus bicara tanpa henti dan sepertinya Rio juga tidak keberatan akan tingkah Eri, sesekali anak pendiam itu mengangguk dan tertawa kerah Eri. Eri berjalan mundur sambil menghadap Rio, lalu tanpa sengaja matanya melihat kebalik bahu Rio dan bertemu pandang dengan Itachi. Itachi tersenyum kearahnya sambil melambai, Eri disisi lain mulai melompat-lompat riang membalas lambaian tangan Itachi.

"Selamat Pagi…!." Eri berteriak nyaring membuat Rio membalikkan badan dan menatap kearah belakangnya, menyadari Tim Kakashi sedang berjalan dibelakang mereka Rio membungkukkan pelan kepalanya, bagaimana pun juga suaranya tidak akan terdengar dari jarak sejauh itu, tentu saja berbeda dengan suara Eri.

"Eri-chan selalu bersemangat ya." Fuyu berkata sambil tertawa pelan, diantara seluruh Rookie 8 Eri adalah gadis yang paling riang dan selalu bersemangat serta mudah dekat dengan siapa saja. Itachi mengangguk-angguk mengiyakan sambil terus menatap Eri yang tersenyum sumringah kearahnya. Diam-diam Itachi mempersiapkan diri dengan apa yang sepertinya akan segera datang, sebentar lagi seperti biasanya Eri pasti akan berlari menghampirinya untuk memeluknya. Tapi yang selanjutnya terjadi tidak hanya mengejutkan Itachi tapi juga Chizo dan Shikaku, Eri berbalik kembali kearah Rio ketika Rio menyentuh pelan tangannya, dan dengan santai kembali berjalan disisinya sambil sepertinya melanjutkan perbincangan mereka yang entah apa. Itachi sedikit terkejut namun hanya menyunggingkan senyum lucu dibibirnya.

"Wah….wah…wah…, sepertinya kau kehilangan seorang Fans Itachi!." Chizo membelalak takjub sambil tertawa, Itachi dan Shikaku mengerti yang dimaksud Chizo adalah tingkah Eri yang tidak seperti biasanya itu.

"Apa kau kecewa?, ha..ha..ha..!, Jangan khawatir kau masih punya banyak!." Chizo menggoda, yang hanya ditanggapi dengan tawa pelan dari Itachi.

'Yah, setidaknya Eri sudah mulai sembuh dari mimpinya!, sepertinya..' Shikaku bergumam didalam hati.

"Yah,…sedikit…" Itachi menjawab pelan pada dirinya sendiri ketika mendengar tawa nyaring Eri yang selalu menular. Eri terlihat tertawa terbahak menatap Rio dengan mata membulat, entah lelucon apa yang di ceritakan Rio padanya, Itachi tersenyum lagi melihat tingkah Eri, gadis itu selalu bisa membuat orang tertawa jika berada didekatnya, tingkah polahnya selalu bisa menghibur Itachi.

Setelah berjalan beberapa menit mereka akhirnya sampai ketempat latihan di garis terluar hutan Konoha, dibawah sebuah pohon besar ditepi lapangan tanding Haruko dan Toya terlihat juga sedang asik berbincang sebelum akhirnya menyadari kehadiran mereka lalu melambai kearah teman-temannya yang baru datang.

"Haruko-chan!." Eri segera menghambur kesisi Haruko didekat Toya, mengaitkan tangannya ketangan Haruko seolah meraka telah terpisah selama berabad-abad.

"Selamat pagi…!." Haruko menyapa semua orang sambil terkikik pada Eri, Chizo menatap Eri sengit, Eri membalas tatapan Chizo dengan tatapan yang seolah berkata 'Kenapa?... Iri?...'.

"Apa kalian sudah lama ?." Shikaku bertanya pada Toya Aburame yang terlihat tengah menyapa Rio, Itachi dan Fuyu.

"Yah,…lumayan., sepertinya para sensei akan terlambat!." Toya menjawab sambil mengelus kepala Sura, anjing kesayangannya.

"Hampir di setiap halaman di Jurnalku aku sudah menulis 'Lelah sebelum latihan karena menunggu Sensei yang terlambat datang' sebagai tulisan pembukanya!." Chizo berujar lucu mengingat jurnal yang diberikan oleh Kakashi diperpustakaan ketika hari petama mereka menjadi Genin. Misi pertama mereka adalah mengisi Jurnal perkembangan latihan dan menyerahkannya kepada sensei mereka masing-masing setiap minggunya selama 3 bulan pertama latihan mereka, sebelum nanti mereka akan melangkah ketahap berikutnya yakni melaksanakan misi untuk Konoha, dari jurnal-jurnal inilah sensei mereka akan melihat bagaimana perkembangan dan seperti apa kesulitan yang mereka hadapi selama latihan.

"Dan sepertinya hari ini tidak akan berbeda!." Chizo menatap Fuyu yang menatapnya sambil tersenyum malu karena kelakuan ayahnya yang selalu terlambat datang latihan. Itachi dan Shikaku hanya tertawa pelan mendegar perkataan Chizo, mereka sudah hafal betul tabiat sensei mereka itu.

Rookie 8 duduk bersama-sama di bawah pohon besar itu, berbincang santai sambil menunggu kedatangan kedua sensei mereka. Udara pagi itu terasa sangat sejuk dan nyaman membuat para Rookie 8 sangat menikmati waktu menunggu mereka, Fuyu membagikan kue yang dibuatnya kepada semua Rookie 8 dan menerima pujian karena kelejatan kue-kuenya, Chizo dan Eri mulai beradu argumen lagi sedangkan Haruko terlihat kerepotan menengahi mereka, Toya dan Rio disisi lain lapangan terlihat bermain lempar tongkat dengan sora, sementara Itachi dan Shikaku orang-orang yang memang pendiam hanya berdiam diri mengamati tingkah polah yang lainnya. Lelah berargumen Eri berjalan meninggalkan Chizo dan Haruko, mendekat pada Shikaku dan Itachi, mengetahui itulah yang Chizo inginkan sejak tadi.

"Sensei lama sekali!." Eri mendudukkan dirinya disebelah Shikaku, yang membuat Shikaku mengeryitkan kening lalu memalingkan wajahnya kearah Eri, ia menatap heran.

"Apa?..." Eri yang menerima tatapan itu bertanya ketus kearah Shikaku, Shikaku meletakkan tangannya didahi sepupunya itu untuk mengecek suhu tubuhnya,'apa dia sakit?' Shikaku bergumam pada dirinya sendiri.

"Apa sih?." Eri menjauhkan tangan Shikaku dari dahinya, menatap sengit Shikaku. Sejak pagi ini Eri sudah bertingkah aneh, pertama melewatkan pelukan pagi untuk Itachi dan sekarang mengabaikan kesempatan untuk duduk disisi Itachi lalu malah duduk disisinya yang jauh dari Itachi, Eri yang biasanya tidak akan melewatkan kesempatan untuk bergelayutan manja pada Itachi.

'Yah, dia tidak sakit!, berarti aku sudah berhasil membuatnya berpikir!.' Shikaku mengangguk-angguk lalu melepaskan tatapannya dari Eri, disisi lain Itachi bingung dengan tingkah kedua sepupu ini. Mereka duduk diam sambil menonton Sora yang berlarian dilapangan tanding sambil mengigit tongkat yang dilempar Rio padanya. Itachi mencuri pandang kepada Eri disisi Shikaku, heran, apa yang menyebabkan gadis itu diam tidak seperti biasanya, Eri terlihat memeluk lutut rapat kedada dan meletakan dagunya diatas lututnya, rambut pirang lurus sebahunya tergerai membingkai wajahnya, dengan mata biru kehijauan bergerak-gerak mengiringi tingkah sora yang berlarian.

"Eri kenapa?." Itachi berbisik pelan pada Shikaku, shikaku hanya mengangkat pelan bahunya sambil menggeleng kearah Itachi, dia sendiri juga tidak tahu kenapa gadis ribut ini tiba-tiba jadi pendiam. Dari belakang Fuyu datang mendekat berusaha menjauh dari Chizo yang sedang melucu untuk Haruko dibelakang mereka, dia berjalan pelan lalu duduk disamping Itachi membuat Itachi menengok kearahnya sambil tersenyum. Mereka berdua mulai berbincang santai membuat Eri melirik diam dari tempat duduknya, melihat Fuyu dan Itachi tengah saling tertawa-tawa dia menghembuskan napas keras-keras lalu menelungkupkan wajahnya di antara dada dan lututnya, melihat tingkah Eri Shikaku menepuk-bepuk pelan punggung Eri. Seketika wajah Eri mendongak untuk menatapnya, Eri menyipitkan matanya kearah Shikaku namun Shikaku hanya tersenyum, bukan senyum mengasihani atau senyum mengejek, senyum itu adalah senyum pengertian seolah berkata 'aku mengerti perasaanmu'. Melihat itu, Eri jadi tersenyum geli lalu juga ikut menepuk-nepuk punggung Shikaku perlahan ia mulai terkikik lucu, Shikaku pun juga mulai ikut larut dalam tawa Eri, kedua sepupu itu saling mengasihani satu sama lain sambil tertawa, hal ini membuat Itachi dan Fuyu berpaling menatap mereka heran.

"Apa yang lucu?." Haruko dan Chizo tiba-tiba datang dan duduk disisi Eri, mereka berenam sekarang duduk berjejer menghadap lapangan tanding. Masih sambil terkikik Eri mengibas-ngibaskan tangannya kearah Haruko.

"Bukan apa-apa." Shikaku yang mulai reda dari tawanya menjawab sambil menggeleng menatap Eri yang mengusap air mata dari ujung matanya, Shikaku tidak bisa tahu itu air mata tawa ataukah Eri memang sedang menangis.

"Kalian berdua terkadang membuatku takut!." Itachi menatap heran Eri dan Shikaku sambil mengerutkan kening.

"Ne…apa kalian berdua sedang menceritakan lelucon satu sama lain lewat pikiran?." Fuyu berusaha menebak-nebak, mungkin saja dua orang Yamanaka ini tengah berlatih membaca pikiran masing-masing, iya kan?.

"Yeah, bisa dibilang begitu." Shikaku menatap Eri penuh arti, Eri mengerutkan hidungnya kearah Shikaku lalu tersenyum.

"Maaf kami terlambat!." Tiba-tiba dihadapan mereka mendarat dua sosok sensei yang sudah mereka tunggu sejak tadi, Kakashi dan Gai terlihat berdiri santai setelah melompat dari langit kehadapan mereka. Rookie 8 segera berdiri diatas kaki mereka lalu memisahkan diri sesuai tim mereka menghadap sensei masing-masing.

"Tidak berlama-lama, sebaiknya segera kita mulai….. latihan tanding Rookie 8. Apa kalian sudah siap?" Gai menatap Rookie 8 satu persatu.

"Siap…" Mereka semua menjawab serempak.

"Baiklah, aku akan menjelaskan perarutannya. Latihan tanding kali ini adalah latihan satu lawan satu, masing-masing petarung akan diberikan sebuah lonceng yang boleh diletakkan dimanapun kalian mau asal bukan ditempat yang terlalu tersembunyi, seseorang dianggap menang kalau dia bisa merebut lonceng milik lawannya. Setiap pertandingan diberi waktu 30 menit, jika seandainya dalam waktu yang sudah ditentukan kalian belum bisa merebut lonceng lawan masing-masing maka kedua petarung dinyatakan kalah. Apakah ini bisa dimengerti?." Kakashi menjelaskan panjang lebar.

"Kalian boleh menggunakan cara apapun untuk merebut lonceng ini, 'apapun'!." cara Gai mengatakan kata 'apapun' membuat kedelapan anak itu meneguk air liur mereka dengan susah payah.

"Kita punya medic nin hebat yang siap sedia dirumah sakit, jadi jangan khawatir!." perkataan Kakashi yang niatnya bercanda justru membuat mereka semakin gugup dan khawatir. Mereka saling melirik satu sama lain dan mengira-ngira siapa yang akan menjadi lawan mereka.

"Yang pertama bertanding adalah Itachi Uchiha dan Haruko Hyuga."

Itachi membelalak kaget, bagaimana dia bisa melawan Haruko?. Tentu saja dia tahu kalau Haruko bukanlah lawan yang lemah namun tetap saja dia adalah seorang gadis, Itachi mengernyit ngeri membayangkan dia harus melayangkan pukulan kepada Haruko. Perlahan Itachi melirik kearah Haruko dan mendapati kalau Haruko juga sedang menatapnya, kekhawatiran juga nampak diwajahnya. Melihat kekhawatiran kedua anak ini Kakashi akhirnya membuka mulut,

"Sebagai seorang Shinobi tentu saja kalian akan bertemu dengan banyak tipe lawan, baik laki-laki maupun perempuan. Kalian harus belajar untuk menghadapinya dengan bijaksana dan tidak meremehkan kekuatan lawan."

Itachi dan Haruko mengangguk pelan, Kakashi dan Gai diam-diam bersemangat mengantisipasi pertarungan ini, Uchiha melawan Hyuga pastinya akan menjadi pertarungan yang menarik. Itachi dan Haruko sepakat untuk sama-sama mengalungkan lonceng di leher mereka. Kakashi menggiring Itachi menuju bagian lain lapangan, disisi lain Gai juga melakukan hal yang sama. Itachi telah siap berdiri diposisinya menatap jauh kedepan kepada Haruko, dia masih sedikit khawatir, Kakashi mengucapkan kata 'bersedia' membuat Haruko sekarang berdiri dengan postur siap bertarung, Itachi pun mengikuti memasang kuda-kuda andalannya.

"Mulai!..." Kakashi dan Gai berseru bersamaan

"Byakugan!." Haruko segera mengaktifkan kekkai genkai nya, kemudian berlari maju menuju Itachi, siap melancarkan serangan.

Itachi mempersiapkan dirinya sambil menatap Haruko yang berlari mendekat , Haruko sepertinya tidak ingin membuang-buang waktu dan langsung menyerang Itachi dengan pukulan-pukulan taijutsu tanpa melibatkan cakranya. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan, semua pukulan yang diarahkan Haruko kepada Itachi bisa di tangkisnya dengan mudah, Haruko terus melancarkan serangan-serangan pukulan dan tendangan tanpa henti, Haruko mengarahkan pukulan telapak tangannya kebahu kiri, Itachi dengan sigap menghindar kearah kanan, Haruko menendang dari arah kanan Itachi dengan mudah menghindarinya keudara, hal ini membuat Haruko prustasi, dia terus saja menyerang meskipun hingga hampir tidak sempat bernapas, hingga pada satu titik dia bisa melihat celah kecil dipertahanan kokoh Itachi dan bermaksud memanfaatkannya langsung meraih lonceng dileher Itachi, namun belum sempat Haruko meraihnya dia merasakan pukulan diperutnya yang langsung membuat tubuhnya terpental jauh kebelakang, susah payah Haruko berusaha mendarat dikakinya.

'Apa?...' Haruko terkejut mendapati dirinya terpental jauh dari Itachi hanya dengan satu pukulan.

Haruko kembali berdiri mantap dikakinya menatap Itachi lekat-lekat dengan Byakugan nya, Itachi berdiri tegap dikakinya dengan aliran cakra yang sangat tenang dan teratur, serangan yang dilancarkannya tadi seolah tidak berpengaruh padanya. Haruko geram karena menyadari dirinya saat ini justru tengah terengah-engah berusaha mengatur napasnya yang berat, merutuki ketidak mampuannya menyerang Itachi, serangan-serangan yang dia lancarkan tidak satupun yang mengenai Itachi namun si Uchiha ini hanya dengan satu pukulan sudah bisa membuatnya terbang kesisi lain lapangan, dan dia bahkan belum mengaktifkan Sharinggan nya!, demi tuhan apa-apan?. Wajah Itachi terlihat takut-takut, khawatir dia telah memukul Haruko terlalu keras, padahal dia sudah menahan dirinya. Merasa diremehkan dan marah pada dirinya sendiri, Haruko kini ingin bertarung serius. Haruko kembali berlari mendekat, dia mengarahkan konsentrasi cakra ketelapak tangannya.

"Jyuken!." Haruko kembali menghujani Itachi dengan pukulan telapak tangannya, namun sama saja.

Itachi menghindar dengan mudah, dia bahkan tidak sekalipun melancarkan serangannya pada Haruko, membuat Haruko semakin gencar menyerangnya.

'Jangan meremehkanku, Itachi!' Haruko menggeram dalam hati, dia kesal.

"Hakke Sanjuni Sho!." Haruko mengerahkan kemampuannya, dua pukulan, empat pukulan, delapan pukulan, enam belas pukulan, tiga puluh dua pukulan. Itachi terhuyung kebelakang setelah menerima pukulan beruntun dari Haruko, namun dia hanya mundur beberapa langkah dan masih berdiri tegak diatas kakinya. Haruko bisa melihat cakra Itachi yang bergejolak tidak teratur setelah menerima pukulan-pukulannya namun dia kembali kecewa dengan betapa cepatnya cakra itu kembali normal. Disisi lain Itachi justru memiliki puluhan kesempatan untuk menembus pertahanan Haruko yang justru melemah ketika dia mulai menyerang, puluhan kali dia bisa saja langsung merebut lonceng itu dari leher Haruko.

"Hakke Kusho!." tidak memberi jeda, Haruko bermaksud menutup aliran cakra dikedua tangan Itachi, pukulan pertamanya mengenai bahu kiri Itachi, namun bukannya menutup aliran cakra tapi tangannya justru terasa terbakar dan tertusuk-tusuk, seolah ada Cakra Hakke Kusho dari dalam tubuh Itachi yang menghalanginya. Merasakan rasa sakit dibahu kirinya, Itachi reflek menyerang Haruko untuk menjauhkan tangannya dari bahunya, Haruko kembali terpental jauh menghantam pohon disisi lain lapangan. Semua orang disisi lapangan terkesiap melihat dahsyatnya pukulan Itachi, Kakashi dan Gai bertukar lirikan mata, Shikaku tanpa sadar tengah menahan napas, Eri bergelayut khawatir dibahu Chizo yang tengah memucat. Itachi mengerang merasakan panas dibahunya, wajah tertunduknya terangkat mencari-cari Haruko, tanpa disadarinya matanya telah berubah menjadi mata Sharinggan. Haruko kembali berdiri diatas kakinya, menatap heran kearah Itachi yang tengah menatapnya khawatir.

"Bagaimana mungkin?." Haruko berujar kerkejut melihat Itachi yang masih dengan leluasa bisa menggerakkan tangan kirinya meskipun dia seharusnya sudah berhasil menutup titik cakranya.

Merasa benar-benar mengalami kemunduran Haruko menggigit bibirnya geram, apa yang akan dikatakan oleh ibunya jika mengetahui kalau dia telah gagal membuat seorang Uchiha meneteskan keringat meskipun dia telah mengerahkan hampir seluruh kemampuan jutsu yang dimilikinya. Ibunya akan kecewa tentu saja, dia mengabaikan rasa nyeri dipunggungnya, baginya nyeri itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan cidera yang dialaminya ketika berlatih dengan ibunya.

Kedua tangan Haruko dialiri cakra dalam jumlah besar membentuk kepala singa, semua orang terkejut melihatnya. Kakashi dan Gai kini saling bertukar anggukan kepala menandakan kalau Haruko tidak mengalami cidera serius.

"Sudah lama sekali tidak melihat seorang Hyuga bisa menguasai jurus ini!." Kakashi berujar rendah kearah Gai.

"Dia hanya mempelajarinya dari catatan yang Hinata tinggalkan. Hebatkan?!." Gai bangga pada muridnya.

Haruko kembali berlari kearah Itachi, cakra di tangannya semakin membesar. Pada titik ini Gai dan Kakashi mulai khawatir, kalau cakra itu bisa mengenai Itachi maka habislah sudah.

"Juho Soshiken!." Belum sempat Kakashi dan Gai bereaksi Haruko sudah melontarkan kedua cakranya itu kearah Itachi, kedua cakra itu bergabung menjadi satu diudara, semakin besar dan melaju kencang menuju Itachi.

"Chidori!." Sebuah kilatan cahaya petir biru berbentuk bola melaju tidak kalah kencang dari arah Itachi, Chidori Itachi dan Juho Soshiken Haruko bertemu diudara menimbulkan bunyi benturan yang sangat nyaring seperti guntur dahsyat dengan kilatan cahaya yang membutakan penglihatan sesaat. Juho Soshiken Haruko tidak mampu menandingi Chidori Itachi hingga akhirnya lenyap, namun Chidori Itachi masih melesat hebat kearah Haruko. Tubuh Haruko kaku, keringat dinginnya mengucur ketika Chidori Itachi berkelabat lewat disisinya hingga bunyi ledakan hebat terdengar dari arah belakangnya. Semua orang diam terpana, Kakashi dan Gai membelalak ternganga , sementara sisa Rookie 8 memucat mematung. Hati Itachi mencelos, bibirnya mengering ketika menyadari apa yang dilakukannya, hampir saja, sedikit saja bergeser maka Haruko akan terkena Chidorinya dan dia bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Haruko kalau hal itu benar-benar terjadi. Dia tidak bermaksud untuk mencelakai Haruko tapi dia tidak sempat mengatur kekuatan serangannya karena harus cepat menghindari serangan dari gadis Hyuga itu.

Haruko yang masih syok melirik kearah jam pasir yang diletakkan Kakashi dan Gai diatas batu disisi lapangan sebagai penanda waktu bertarung mereka. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa untuk memenangkan pertandingan ini, dia tidak boleh kalah, terlebih dari Itachi, apa yang akan dikatakan oleh ibunya?. Dia harus bisa menang.

"Jarum cakra!." tindakan Haruko membuat yang lain terkejut, dia baru saja hampir celaka dan sekarang langsung menyerang lagi. Jarum-jarum cakra yang tidak terhitung jumlahnya mengancam menghujani Itachi dengan kecepatan penuh, Haruko bermaksud mengenai titik-titik penting cakra Itachi untuk mengendalikannya. Itachi yang tidak sempat berikir panjang langsung melancarkan jurus untuk melindungi dirinya.

"Amaterasu!." Itachi menyemburkan api hitam dari mulutnya, api itu terlihat besar dan berwarna biru kehitaman menunjukkan betapa panasnya dia. Api itu segera melahap jarum-jarum cakra Haruko dan memusnahkannya, namun api itu tidak berhenti disitu, dia terus menjalar membesar menuju Haruko. Menyadari itu Itachi berusaha menghentikan jurusnya namun pecuma, api itu terlalu besar untuk bisa ditarik begitu saja.

"Shugohakke Rokujuyon Sho!." Haruko terdengar menciptakan jurus sebelum dia terkurung lenyap dalam api hitam Itachi.

"Haruko!." Itachi berteriak ketakutan berlari kearah Haruko, mengutuk dirinya sendiri, Gai dan Kakashi pun segera berlari mendekat.

Api masih berkobar ganas mengurung Haruko, namun dengan sangat cepat mulai mereda lalu menampakkan Haruko yang tengah berada didalam cakra biru berputar yang melindunginya dari api itu. Setelah beberapa saat putaran Haruko mulai melambat hingga berhenti dan menunjukkan Haruko yang tengah menatap kedua belah telapak tangannya yang gemetar dan memerah terbakar. Telapak tangan Haruko terbakar parah dan berwarna merah, wajah Haruko mengernyit nyeri menunjukkan betapa perihnya luka itu, membuat Itachi mengernyit menyesal menghampiri Haruko. Rookie 8 masih berdiri mematung disisi lapangan seolah tidak percaya dengan hal yang baru saja mereka lihat, setelah ini pasti tidak akan ada yang mau lagi jadi lawan tanding Itachi.

"Haruko-san maafkan aku! Maaf!, Maaf!." Itachi menghambur kesisi Haruko lalu memegang pergelangan tangan Haruko yang tidak terbakar dan langsung meniup-niup luka bakar Haruko berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Wajah Itachi yang terlihat begitu menderita dan merasa bersalah membuat Haruko merasa bersalah juga, dibelakang Itachi Kakashi dan Gai berlari menghampiri mereka. Mata Haruko kembali melirik jam pasir dan menyadari masih ada waktu yang tersisa, maka tanpa pikir panjang dia mengulurkan tangannya yang terbakar itu untuk meraih lonceng Itachi yang menggantung dilehernya. Gai sensei bilang 'Apapun kan?'.

"Dapat!." Haruko tersenyum riang kearah Itachi yang terlihat terkejut dan bingung, Haruko tersenyum sambil menenteng lonceng Itachi di sisi wajahnya menunjukkannya pada Itachi dan sensei mereka.

"Nee…Itachi-san… kau lupa peraturan Shinobi No.10." Haruko menyeringai kearah Itachi, berusaha membuat suasana yang terlalu tegang saat itu sedikit mencair.

"Jangan terlalu dekat dengan musuhmu tanpa adanya pertahanan diri." Haruko tersenyum sambil menggoyang-goyangkan loncengnya kearah Itachi yang masih ternganga bingung. Itachi sedang sangat khawatir saat ini sampai-sampai dia tidak bisa berkata apa-apa. Kakashi dan Gai menghembuskan napas lega mereka saat melihat senyum Haruko, Gai segera menghambur kesisi muridnya. Gai mengulurkan tangannya kewajah Haruko, Haruko menyerahkan loceng yang dipegangnya ketangan Gai. Gai cemberut kearah Haruko, dia benar-benar ketakutan kalau terjadi apa-apa padanya, dia benar-benar menyesal telah terlalu memotifasi anak yang memang anti kalah ini.

"Itachi kalah gara-gara lupa peraturan!." Toya berusaha memecah keheningan sambil tertawa canggung, yang perlahan-lahan diikuti oleh Rookie 8 lainnya masih dalam kecanggungan yang kentara. Mendengar itu Haruko juga ikut tertawa pelan kearah Itachi, berusaha menunjukkan bahwa dia memang baik-baik saja. Gai mengambil perlahan pergelangan tangan Haruko yang masih digenggaman Itachi lalu menggenggam perlahan tangan yang tadi dipakai Haruko memegang lonceng, jari-jarinya yang terbakar terlihat berdarah karena menarik tali lonceng itu, Gai mengamati luka Haruko, 'dasar Hyuga, kau benar-benar mirip dengan ibumu' Gai mendelik pada Haruko.

"Maafkan aku sensei!." Itachi tertunduk merasa bersalah, kalau saja Haruko bukan seorang Hyuga bisa saja dia akan terpanggang habis saat ini dan Itachi menyadari itu, dia menyesal karena masih belum sepenuhnya mampu mengendalikan kekuatannya sehingga menyebabkan kekacauan.

"Ini bukan salah Itachi-san, kita kan sedang bertarung. Jadi wajar saja kan?" Haruko menyadari ini juga adalah salahnya sehingga memaksa Itachi menggunakan jurusnya.

"Dasar!. Kau ini benar-benar!, kau terlalu gencar menyerang tahu!." Gai menatap Haruko memperingatkan, Haruko menggumamkan 'maaf' kerah gurunya yang terlihat khawatir.

"Haruko benar, ini bukan salahmu Itachi. Kau terdesak dan berusaha melindungi dirimu. Kau hanya belum bisa mengendalikan kekuatanmu itu saja!." Kakashi menepuk perlahan pundak Itachi yang tertunduk.

"Dan berarti mulai sekarang kau harus lebih giat berlatih untuk menguasai kekuatanmu, mengerti?." Kakashi berusaha menghibur Itachi yang terlihat sangat merasa bersalah, Itachi mengangguk perlahan.

Kakashi dan Gai bertukar pandang kemudian saling mengangguk satu sama lain, sepertinya mereka telah salah menduga kekuatan Itachi, Itachi benar-benar bukan tandingan Haruko. Kakashi memang menyadari kalau Itachi memiliki cakra Uchiha yang sangat kuat namun dia tidak pernah menduga akan sekuat itu. Selain itu Kakashi juga bisa melihat cakra yang selama ini belum pernah dilihatnya ada didalam diri Itachi, meskipun terlihat lemah tapi cakra itu ada disana dan melengkapi Itachi, cakra Hyuga yang melawan jurus Hanabi ketika dia bermaksud memutus aliran cakra dibahu kiri Itachi dan ketika jarum cakra Haruko mengancam menghujaninya Kakashi bisa melihat gejolak cakra itu, tanpa disadari oleh Itachi dialam bawah sadarnya cakra itu juga telah membuat benang-benang cakra yang menjalin menciptakan perisai kasat mata disekelilingnya untuk melindunginya dari serangan dan tanpa mengetahui kalau dia sudah terlindungi Itachi menggunakan Amaterasu untuk melindungi dirinya. Mungkin hanya dia dan Gai yang menyadari itu.

"Baiklah, pemenangnya adalah Haruko Hyuga!." Kakashi berujar lantang sambil menunjuk kearah Haruko, Rookie 8 terlihat masih terdiam. Mereka menciut melihat pertandingan tadi.

"Tidak ada yang terluka parah, Haruko hanya mengalami luka bakar ringan. Sedikit perawatan dirumah sakit, maka dia akan baik-baik saja" Kakashi berujar menjelaskan berusaha menenangkan Rookie 8. Mereka mulai lega mengetahui tidak ada yang terluka serius.

"Dan kau nona muda!, sekarang ikut denganku ke rumah sakit!." Gai berkata kearah Haruko yang tersenyum, merasa tidak enak pada Gai.

"Biar saya yang mengantarnya sensei!." Itachi menyela, masih dengan wajah bersalahnya.

"Biar Itachi yang mengantarnya Gai!, kita masih punya 3 pertandingan yang menunggu!." Kakashi berkata pada Gai, setelah diam sejenak Gai mengangguk mengiyakan.

Tanpa menunggu lama Itachi yang sudah gelisah sedari tadi segera menggendong Haruko didepan tubuhnya, Haruko memekik terkejut atas perlakuan Itachi, sekarang pipinya tengah bersender didada bidang Itachi membuat wajahnya merona hebat, Itachi segera melompat berlari menuju rumah sakit tanpa melirik sedikitpun kebelakang lagi. Haruko ingin berontak dan ingin meminta diturunkan, dia kan masih bisa berjalan sendiri, apa-apan Itachi ini?. Namun ketika mendongak menatap wajah Itachi diatasnya Haruko terpana, matanya bertemu dengan rahang kokoh Itachi lalu menjalar menjelajah wajah Itachi yang terlihat mengerutkan kening karena khawatir, kemudian padangannya menyusuri rambut panjang Itachi, ikatan rambutnya yang longgar karena pertarungan tadi membuat rambut bagian depannya terlepas dan melayang-layang tertiup membingkai wajahnya disemilir angin. Itachi terlihat sangat tampan, dan sikapnya yang sangat mencemaskan keadaanya membuat Haruko merona lebih merah lagi. Menyadari kalau dia sedang terperangah memandangi Itachi terang-terangan membuat Haruko meringis lirih sambil menundukkan kepalanya, itu sama sekali bukan sikap seorang gadis terhormat, sangat lancang dan tidak sopan, Haruko merutuki dirinya sendiri.

"Kau baik-baik saja?. Dimana yang sakit?." mendengar suara khawatir Itachi, Haruko mendongakan wajahnya kearah datangnya suara, sekarang Haruko bisa melihat sorot mata onix Itachi yang khawatir menatap lekat kearahnya, telapak tangannya memang terasa perih dan panas namun saat memandangi mata itu Haruko hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Maafkan aku Haruko-san!, Aku tidak bermaksud menyakitimu!." Itachi bersungguh-sungguh minta maaf.

"Itachi-san aku lah yang seharusnya minta maaf karena terus mendesakmu!. Tolong berhentilah minta maaf. Lagi pula kita kan sedang latihan, jadi wajar saja kalau ada yang terluka. Iya kan?." Haruko berusaha menenangkan Itachi sambil tersenyum. Itachi menghembuskan napas lega dan membalas senyum Haruko. Sebuah senyuman lembut yang membuat jantung Haruko berdegub dengan kencang.

"Sebentar lagi kita sampai!." Itachi terus berlari secepat mungkin menuju rumah sakit.

Sesaat kemudian Itachi sudah berlari dilorong rumah sakit sambil menggendong Haruko, Haruko berusaha menyembunyikan wajahnya karena malu, sejak sampai di depan pintu rumah sakit Haruko sudah meminta Itachi untuk menurunkannya namun sama sekali tidak didengar. Rumah sakit Konoha terlihat sepi dan lengang sejak berakhirnya perang jumlah pasien dirumah sakit memang berangsur-angsur berkurang, tidak ada lagi penduduk yang datang karena terluka parah akibat serangan dari musuh hanya ada mereka yang sakit ringan atau mereka yang memang terserang penyakit parah, sangat jarang sekali ada shinobi yang kembali dari misi dalam keadaan sekarat atau terluka parah. Mata Itachi mencari-cari Medic Nin yang bisa dimintai tolong, sampai matanya menangkap sosok familiar yang berjalan memunggunginya. Itachi tersenyum lebar lalu berlari kearah seorang wanita berambur merah muda yang berjalan membelakanginya.

"Bibi Sakura!." Itachi berseru memanggil untuk mendapatkan perhatian si empunya nama, oh betapa ia lega melihat bibi kesayangannya itu ada di saat yang benar-benar tepat. Sakura segera berbalik mengetahui dengan jelas siapa yang memanggil namanya.

"Itachi!." Sakura tersenyum cerah kerah bocah berambut Raven itu. Saat melihat senyum Sakura, semua beban dan rasa takut didada Itachi terasa langsung terangkat, Sakura adalah satu-satunya wanita yang mendampingi Itachi bertumbuh besar, Sakura sebagai teman dekat ayahnya dan Naruto selalu menyayangi Itachi. Sejak kecil dibenak Itachi selama ada bibi Sakura semuanya pasti akan baik-baik saja, rasa sakit karena terluka akan segera hilang, rasa panas karena demam pasti akan segera mendingin, rasa sedih karena ayah dan paman Naruto tidak bisa menemani datang ke festival pasti akan segera hilang karena bibi Sakura pasti akan menyeret mereka datang, suka atau tidak. Namun senyum Sakura segera pudar saat melihat Itachi tengah mengendong seorang gadis yang terlihat memerah.

"Ada apa?" Sakura segera menghampiri mereka.

"Kami sedang berlatih tanding dan aku melukainya bibi Sakura!. Tolong obati lukanya!." Itachi berbicara cepat menjelaskan pada Sakura. Mengangguk paham, Sakura segera menggiring kedua remaja itu kedalam ruangannya, dia menyuruh Itachi untuk mendudukkan Haruko di ranjang periksa miliknya. Itachi mendudukkan hati-hati Haruko yang memerah karena malu diatas ranjang putih itu, lalu menyingkir kesisi lain ruangan membiarkan Sakura bekerja. Sakura sedikit kaget ketika menyadari gadis itu adalah Haruko Hyuga putri Hanabi, ia menatap Itachi lalu menatap Haruko lagi seolah ingin memastikan kebenaran apa yang dilihatnya, namun dia segera kembali fokus saat melihat luka terbakar diseluruh telapak tangan Haruko.

"Nah..Haruko-chan, kemarikan tanganmu!." Sakura berkata lembut sambil mengulurkan kedua telapak tangannya kedepan Haruko. Haruko tersenyum lucu ketika mendengar nada bicara Sakura yang seolah tengah membujuk seorang anak kecil yang tengah merajuk, 'Sakura-san aku sudah 11 tahun' Haruko bergumam didalam hati, merasa dirinya sudah terlalu besar untuk mendapat nada bicara seperti itu. Perlahan Haruko meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Sakura, mengernyit perih ketika kulitnya yang terluka bersentuhan dengan kulit telapak tangan Sakura.

"Tahan sebentar ya." Haruko mengangguk perlahan, sesaat kemudian tangan Sakura dialiri cakra berwarna hijau yang membesar perlahan-lahan menutupi seluruh permukaan tangan mereka. Itachi yang berdiri disisi ruangan akhirnya menghembuskan napas lega, semuanya akan baik-baik saja sekarang.

Haruko merasakan udara hangat dan lembut yang terasa mengelus lukanya perlahan, pelan tapi pasti rasa sakit, rasa perih dan panas yang sejak tadi dirasakannya mulai memudar. Haruko menatap wajah Sakura yang tengah menatap lembut kearah tangan mereka yang dialiri cakra. Haruko mengagumi kecantikan wanita didepannya, mata berwarna emeraldnya memantulkan cahaya cakra sehingga terlihat seperti berkelip-kelip, rambut merah mudanya terbando rapi dengan pelindung kepala ninja terlihat begitu lembut selembut gula kapas dan wajah tersenyumnya terlihat sangat menawan.

'Sakura-san sangat cantik, tidak heran Naruto-sama mencintainya.' Haruko bergumam didalam hati, dan dia tersenyum miris. Wanita ini dulu adalah wanita yang sangat dibencinya ketika dia masih kecil, disaat dia baru bisa mencerna setengahnya dari maksud tulisan dibuku harian bibinya, ketika dia masih menganggap wanita ini sebagai orang ketiga dikisah cinta bibinya dan Naruto. Namun sekarang Haruko bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia membenci wanita ini?, wanita yang baik hati dan penyayang ini?. Kenapa mungkin dia membenci wanita ini hanya karena dia dan bibinya mencintai orang yang sama?, bagaimana dia akan mampu membencinya ketika dia bisa melihat penyesalan dan luka terpancar di mata wanita ini ketika dia menerima sikap dingin dari ibunya setiap kali mereka bertemu?, wanita ini tidak seharusnya menerimanya, dia sama sekali tidak bersalah. Kerucut kecil disudut mata Sakura ketika dia tersenyum membuat Haruko terus berpikir, apa yang menyebabkan gadis secantik Sakura terus melajang hingga sekarang?, dia hampir mencapai puncak usia kejayaannya. Apakah dia masih terus menunggu Naruto?, apakah mereka tidak bisa bersama sampai sekarang karena bibinya?, apakah mereka tidak bisa bersama karena perasaan bersalah kepada bibi Hinata nya?, akankah mereka bisa bersama seandainya mereka tahu kalau bibinya merestui mereka?, akankah Sakura dan Naruto bisa bahagia seandainya bibinya bisa kembali dari misi itu dan menyampaikan restunya?, pertanyan-pertanyaan itu berputar-putar dikepala Haruko. Hatinya terus saja berdebat, dan bukankah sekarang hanya dia yang bisa menyampaikan restu itu?, karena memang hanya dia yang tahu, haruskah dia memberi tahu mereka? apakah itu yang diinginkan mendiang bibinya?.

"Selesai!." Seruan pelan Sakura membuyarkan pikiran Haruko, cakra hijau telah menghilang dari tangan mereka. Haruko mengangkat tangannya yang sudah sembuh total kembali seperti sebelum terluka, bahkan seperti tidak pernah terluka sama sekali.

"Terimakasih!." Haruko tersenyum manis kearah Sakura dan dibalas anggukan pelan Sakura sambil tersenyum.

"Terimakasih Bibi Sakura!." Itachi berucap setelah melihat tangan Haruko yang telah sembuh tanpa bekas.

"Sama-sama Haruko-chan, Itachi-kun!." Sakura mengacak lembut rambut kedua bocah yang tengah tersenyum menatapnya. Itachi melirik Haruko yang sedang tersenyum kearah Sakura, dia masih sedikit khawatir kalau-kalau gadis itu masih memiliki cidera lain selain luka bakar ditangannya, bagaimanapun juga sepertinya tadi gadis itu menerima pukulan yang cukup keras darinya.

"Ehm…Bibi Sakura?. Apa bibi bisa memeriksa Haruko-san lagi?. Aku takut mungkin aku memukulnya terlalu keras tadi." Itachi berujar membuat Haruko terkejut dan menggeleng-geleng tidak setuju, wajah Haruko memerah karena malu akan sikap Itachi yang terlalu khawatir.

"Aku tidak apa-apa, sungguh Itachi-san!." Haruko menggeleng cepat kearah Itachi kemudian menatap Sakura dengan tatapan yang seolah berkata 'Dia terlalu melebih-lebihkan'. Sakura tertawa melihat tingkah mereka berdua, kemudian mengangguk-angguk mengerti kearah Haruko. Itachi meskipun merasa sedikit ragu akhirnya mengiyakan juga.

"Bibi Sakura kapan kembali ke Konoha?" Itachi bertanya kearah bibi berambut merah mudanya itu, sepengetahuan Itachi sejak 3 bulan yang lalu Sakura berada di Suna untuk membantu mengajar medic nin disana, itulah mengapa dia sangat terkejut sekaligus senang ketika melihat Sakura ada disini.

"Tadi malam Itachi, bagaimana kabarmu?" Sakura menanyakan hal yang sejak tadi sangat ingin dia tanyakan.

"Aku baik-baik saja. Jadi tugas bibi disana sudah selesai?" Itachi bertanya bersemangat, namun pertanyaan itu dijawab Sakura dengan gelengan kepala. Wajah Itachi berubah cemberut, Sakura menatapnya dengan wajah menyesal.

"Lusa bibi harus kembali lagi ke Suna, tugas bibi disana masih belum selesai. Bibi pulang ke Konoha hanya untuk mengambil beberapa perlengkapan yang bibi perlukan selama disana." Sakura menjawab sambil sedikit membungkukkan badannya untuk menatap wajah cemberut Itachi, Haruko yang melihat itu tertawa dalam hati dia tidak menyangka kalau seorang Uchiha Itachi juga bisa bermanja-manja dan merajuk.

"Lusa?, cepat sekali?" kening Itachi mulai mengerut, mengingatkan Sakura pada ekspresi Itachi di gerbang Konoha ketika mengantar kepergiannya ke Suna 3 bulan yang lalu.

"Ya, begitulah. Kau bertambah tinggi ya Itachi?." Sakura menepuk pelan puncak kepala Itachi.

"Kapan bibi akan pulang ke Konoha lagi?" Itachi mengabaikan pertanyaan Sakura.

"Bibi belum tahu," Sakura menghembuskan napas lelah, dia sendiri juga kecewa kerana harus jauh dari rumah.

"Malam ini bagaimana kalau kita makan malam bersama?, kau, bibi, Paman Naruto dan ayahmu, bagaimana?" Sakura menyarankan, tahu kalau Itachi akan menyukainya.

"Baiklah,…" Itachi bergumam pelan, dengan senyum pengertiannya. Merasa mengganggu reuni mereka dengan canggung Haruko bergerak perlahan turun dari tempat tidur.

"Hmm…Sakura-san, terimakasih atas bantuannya." Haruko membungkuk sopan namun canggung pada Sakura, berniat segera undur diri untuk kembali ke tempat latihan, dia ingin meninggalkan mereka berdua saja dan pergi untuk menyemangati teman-temannya yang saat ini mungkin sedang bertanding.

"Ne.. bibi Sakura kalau begitu kami akan kembali ke tempat latihan, sensei mungkin menghawatirkan kami." Itachi menatap Haruko yang tengah berdiri canggung menatap mereka.

"Apa kau yakin kau baik-baik saja Haruko-chan?, tidak ada yang sakit?" Sakura bertanya untuk memastikan.

"Iya Sakura-san. Tidak ada yang sakit, saya baik-baik saja, terimakasih." Haruko menjawab yakin.

"Bagaimana dengan mu, Itachi?. Kau tidak apa-apa?, tidak ada yang sakit?." Sakura berpaling menatap Itachi.

"Tidak ada yang sakit, aku baik-baik saja." Itachi berujar mantap.

"Baiklah kalau begitu, kalian boleh pergi!" Sakura tersenyum menatap kedua anak itu.


Itachi menendang-nendang sebuah batu kecil di sepanjang jalan Konoha dalam perjalanan kembali ke lapangan tanding dari rumah sakit, berusaha mengikis rasa canggung saat berjalan bersisian dengan Haruko. Mereka berjalan bersisian dalam diam, tak ada satu pun yang berusaha memecah keheningan, Itachi dan Haruko baru menyadari kalau mereka sebenarnya belum pernah benar-benar berbicara langsung satu sama lain selama ini, biasanya mereka hanya akan ikut dalam pembicaraan berkelompok dengan teman-teman mereka, itulah mengapa saat ini benar-benar terasa sangat canggung. Itachi melirik Haruko diujung matanya, Haruko berjalan sambil terus menatap kedepan dengan kecanggungan yang kentara ketika dia meremas-remas tangannya seolah cemas, didalam hati Haruko berusaha keras mencari bahan pembicaraan untuk dibicarakan dengan Itachi. Cuaca? jangan terlalu kaku, pertandingan tadi? Jangan terlalu mengganggu untuk saat ini, tentang Eri? tapi apa?, berterimakasih? sudah sangat sering Itachi sudah bosan, jadi apa?. Haruko menghembuskan napas kebingungan.

"Ne…Haruko-san?." Itachi memutuskan untuk memecah keheningan.

"Hmm…?." Haruko berpaling untuk menatap Itachi dan seketika itu juga dia menyesalinya, Itachi tengah menatap kerahnya sangat lekat membuat jantung Haruko berdetak sangat cepat didalam dadanya.

"Apa kau …. hmm…. membenciku?." Itachi bertanya ragu-ragu, entah kenapa Itachi selalu merasa kalau Haruko menjauhinya dan dia berpikir hal itu mungkin dikarenakan Haruko tidak menyukainya. Jadi saat ini dia memutuskan untuk menanyakannya langsung dan berhenti menebak-nebak.

"Eh…?." Haruko kaget, "Ti…tidak…, aku tidak membencimu Itachi-san. Kenapa kau berpikir begitu?." Haruko mungkin dilarang berbicara dengan Itachi oleh ibunya tapi dia sama sekali tidak membencinya justru entah kenapa Haruko selalu merasa bersalah padanya karena hal itu. Terlebih lagi setelah kejadian tadi, mana mungkin Haruko membenci Itachi, dia begitu baik hati dan….. tampan, wajah Haruko langsung memerah memikirkan hal itu.

"Tidak… hanya saja….kupikir kau tidak menyukaiku. Syukurlah kalau itu tidak benar!. " Itachi tersenyum lega kearah Haruko. Senyum yang sangat manis membuat Haruko kembali merona, selama ini dia tidak pernah terlalu memerhatikan Itachi tapi sekarang matanya seolah baru terbuka oleh kebaikan dan keramahan Itachi.

"Kita kan teman Itachi-san, bagaimana mungkin aku membencimu?." Haruko membalas senyum Itachi, Itachi mengangguk mengiyakan.

"Kalau begitu panggil aku Itachi saja, tidak perlu Itachi-san, bagaimana?, selama ini menurutku kita terlalu canggung satu sama lain." Itachi tertawa pelan, akhirnya dia bisa juga mengucapkannya dengan lugas, Haruko sedikit terpana dengan kelugasan Itachi yang mengakui kecanggungan mereka, biasanya saat canggung orang tidak akan mengatakan kalau mereka canggung kan?, iya kan?. Haruko mengangguk dan ikut tertawa pelan, dia tentu saja juga menyadari kecanggungan diantara mereka, dan mulai saat ini dia sudah memutuskan untuk mengabaikan perintah ibunya untuk tidak berteman terlalu akrab dengan Itachi, mulai saat ini dia akan memperlakukan Itachi seperti teman-temannya yang lain.

"Benar!." Haruko terkikik pelan " Baiklah Itachi-kun, mulai sekarang panggil aku Haruko saja ya…"

"Sepakat, Haruko-chan!." Itachi tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi, Haruko kembali terpana.

"Haruko-chaaan, Itachi…!." terdengar teriakan nyaring Eri dan Chizo dari pinggir lapangan, Haruko dan Itachi tidak menyadari kalau mereka sudah hampir sampai ketempat tujuan mereka. Merekapun segera mempercepat langkah menghampiri Rookie 8 dan sensei mereka yang terlihat sedang duduk melingkar di tepi lapangan.

"Haruko-chan…, Itachi-kun sensei mentraktir kita makan siang!." Eri melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan tempat kosong disisinya dan Chizo.

"Bagaimana lukamu Haruko?." Gai segera bertanya saat Haruko menghampirinya.

"Sudah sembuh sensei!." Haruko merentangkan telapak tangannya didepan semua orang, Gai, Kakashi dan Rookie 8 selain Chizo mengangguk paham dan melanjutkan makan mereka.

"Sakura-san yang merawatnya." Haruko berkata sambil tersenyum dan duduk disisi Eri sedangkan Itachi duduk disisi Chizo, membuat mereka berdua duduk bersisian.

"Apa kubilang, itu bukan luka serius!." Eri berkata pada Chizo yang tengah memberikan bento pada Itachi dan Haruko, berusaha membela Itachi.

"Iya kan Haruko-chan?." Eri menatap Haruko meminta pembenaran, Haruko mengangguk dan tersenyum.

"Ini bukan luka serius." Haruko membalik-balik tangannya yang sudah sembuh total itu didepan Chizo.

"Tetap saja, Itachi kau seharusnya tidak terlalu keras padanya!." Wajah Chizo cemberut pada sahabat disampingnya.

"Maaf Chizo!." Itachi merasa bersalah lagi, membuat Haruko dan Eri panik.

"Itu bukan salah Itachi-kun, Chizo-kun. Kita kan sedang latihan tanding, jadi wajar saja." Kata-kata 'kun' dibelakang nama Itachi yang di ucapkan Haruko membuat Chizo dan Eri terperangah.

"Sejak kapan Itachi-san berubah jadi Itachi-kun?" Chizo membelalak kaget menatap Haruko, Chizo takut kalau-kalau dia akan punya saingan, dan kalau sampai saingannya adalah Itachi maka pupus sudah harapannya. Disisi lain Haruko memerah tanpa alasan yang jelas, entah kenapa pertanyaan Chizo membuat wajahnya terasa panas. Eri terdiam melihat reaksi Haruko, 'ada apa Haruko-chan?'. Itachi geli melihat wajah cemburu Chizo dan dia bermaksud menggodanya.

"Sejak tadi, iya kan Haruko-'chan'?" Itachi tersenyum kearah Haruko membuat wajah Haruko bertambah panas. Melihat hal itu Chizo langsung beranjak dan menjejalkan tubuhnya diantara Haruko dan Itachi berusaha duduk diantara mereka. Itachi dan yang lainnya tertawa melihat aksi Chizo yang cemburu, tidak menyadari kalau Haruko sekarang benar-benar berdebar.

'Kami-sama, ada apa denganku?' Haruko berkata dalam hati, Eri menatapnya diam kemudian ikut tersenyum tipis.

"Haruko-chan….. kau tidak boleh jatuh cinta pada Itachi, mengerti!" Chizo berkata seolah memerintah sebelum bergelayut manja dilengan Haruko. Membuat yang lain semakin mentertawakannya.

"Chizo-kun…" Haruko berusaha melonggarkan pelukan Chizo dilengannya namun gagal.

"Kalian berdua mengingatkanku pada Naruto dan Sakura ketika mereka masih Genin." Kakashi tertawa kearah Chizo yang bergelayutan menolak melepaskan Haruko.

"Hanya akulah laki-laki yang paling cocok untukmu Haruko-chan!" Chizo bergumam sambil cemberut.

"Iya benar…ha…ha..ha.." Gai ikut tertawa menimpali perkataan Kakashi.

Mendengar itu Haruko jadi terdiam sambil menatap Chizo, membayangkan Naruto yang tengah bergelayut pada Sakura. 'Benarkah?', 'apa dulu Naruto-sama lebih dulu menyukai Sakura-san?', 'sejak kecil?'. Haruko teringat sepenggal tulisan dibuku harian bibinya,

'Seharusnya sejak dulu aku sudah tahu, kalau mereka memang ditakdirkan untuk bersama.'

'Seharusnya aku tidak boleh menjadi penengah diantara mereka'

'Seharusnya Naruto-kun memang bersama Sakura-chan'

'Memang sudah seharusnya kalian bahagia bersama'

'Kau pantas bahagia Naruto-kun'


*Bersimpuh dikaki reader* Author mohon ampun atas segala kekurangan yang telah author perbuat *nunjuk2 chapter diatas* terutama bagian jutsu-jutsunya hehe…..semoga masih dalam batas toleransi ya…

-Mufylin : *membungkuk 90 derajad* terus ikuti ceritanya ya… dan semoga makin penasaran! Hehe…

-Bee Hachi : Bee…..semoga chapter ini udah lumayan panjang ya…..author udah berusaha keras buat bikin chapter sepanjang-panjangnya nich… tapi apa daya kata tak sampai…. Semoga Bee masih mau baca lanjutannya ….

-Kaoru Mouri : Baiklah akan saya jelaskan ….hehe…tapi di chapter-chapter berikutnya….. kaoru-san terimakasih udah mau baca….

-Kensuchan : penasaran? ikuti terus ya ceritanya ….. maaf karena author telah membuat Hinata meninggal hick…hick… ( gantung diri dipojokan )

-aindri961 : aindri-san ceritanya nanti emang bakalan banyak flashbacknya ( author udah ga sabar buat nulis bagian itu….). Dan ceritanya tetap masih sasuhina kok, yakin deh author sumpah! Hehe…( tersenyum penuh arti ). Kalo masalah Sakura-chan emang ga banyak author bahas di cerita ini (gomen). And kenapa shion-chan yang jadi asisten?, author pengen aja! Ha…ha..ha… Ikuti terus ceritanya ya….

-Yukori Kazaki : Yukori-san udah dibenerin tuh chapter 4 nya, hehe… di tunggu koreksi selanjutnya….

-Ageha haruna : siap….lanjut…..

-Mitsuka sakurai : hmmm…hmm….( angguk-angguk sambil angkat2 kening penuh arti ) ha…ha..ha… di tunggu aja ya bagian yang *** nya….. temenin author terus ya….

-alyazarqa : terimakasih atas pujiannya ( berasa melayang ke awan ) author janji bakalan menuntaskan cerita ini!... terus di support ya…biar semangat author ga kendor… hehe..

-rajabmaulan : rajab-san mohon ampun seribu ampun …. Author ga bisa bikin Hinatanya hidup lagi….ntar jadi ga konsisten dong ceritanya….. gomen….. tolong ikuti terus petualangan Itachi ya….

-Aisanoyuri : salam kenal juga… terimakasih udah mau ngikuti cerita ini…..

-lavenderaven: maaf ya…udah bikin sasu-kun menderita….tapi coba aja sasu mau ngingat sedikit ke masa lalunya pasti ga bakalan terlalu menderita deh dia….. percaya deh sama author, : ) ….tolong supportnya …. Hehe..

-pitalica : gomen… jangan bunuh author ya… Sakura-chan bakalan rada sedih juga dicerita ini….

Terimakasih semuanya…..

Sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya….. ( melambai-lambai girang ) *reader pada mencibir* : )