Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
Keterangan : 'kalimat' ( Bold +'….') adalah catatan dibuku harian Hinata & Kalimat ( miring ) adalah Flashback (kusus buat reader, karakter dalam cerita yang tidak mengalami langsung tidak tahu menahu ya… )
Chapter 6
Kisah Cinta Bibi Hinata
Buku harian Hinata Hyuga,
'Siapa yang sebenarnya berusaha ku bohongi ?.'
Gemerasak dedaunan pohon terdengar diseluruh penjuru hutan lebat diperbatasan terluar Konoha, dalam keheningan ini Hinata mengigit bibirnya keras, berkonsentrasi lebih lagi pada Byakugan nya berusaha semakin gencar mencari musuh yang bersembunyi dengan sangat rapi. Mengedarkan pandangan keseluruh penjuru hutan untuk mencari keberadaan para pemberontak yang begitu meresahkan itu, beberapa Missing Nin yang berhasil lolos dari penjara desa tetangga. Dari tempatnya bersembunyi Hinata bisa melihat Sakura yang bersembunyi disemak-semak diam tidak bergerak, di arah tenggara Naruto berdiri siaga dibalik sebuah pohon besar, di arah belakangnya dia bisa melihat Kiba berusaha mengendus sambil terus bersembunyi, disetiap inci penglihatannya dia bisa melihat adanya serangga pengintai milik Shino bertebaran dan berterbangan sementara sang empunya berdiam protektif disisinya, dan jauh didepan diatas sebuah pohon dia bisa merasakan cakra Sasuke menguar tanpa berusaha ditutupi oleh si pemilik. Dia bisa melihat semua orang dengan sangat jelas, tetapi dia tidak bisa menemukan satu pun dari ketiga missing nin yang mereka cari. Para missing nin ini dikatakan memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam bersembunyi dan menyatu dengan lingkungan sekelilingnya, sehingga menjadi sangat sulit untuk ditemukan.
"Disana!." Sakura berteriak dari arah berlawanan dengan arah pandangan Hinata, dalam sekejap puluhan kunai berdesing membelah udara, suara itu terdengar mengarah ke tempat dimana Sakura berada. Begitu cepat sampai-sampai Hinata belum sempat mengedipkan mata, sebuah teriakan pilu memecah kesunyian.
"Naruto…" Sakura terdengar beteriak ketakutan.
"Disana, cepat kejar…" Sasuke berteriak dari kejauhan, berkat kunai yang mereka lemparkan kearah Sakura akhirnya para missing nin itu berhasil diketahui tempat persembunyiannya. Shino, Kiba, dan Sasuke segera beranjak tidak membiarkan mereka lolos. Hinata segera berlari menuju arah suara Sakura, dadanya bergemuruh khawatir. Napasnya tercekat ketika melihat Naruto terbaring dilantai hutan dengan puluhan kunai menancap diseluruh tubuhnya.
"Dasar bodoh!,…Kau bodoh ….!" Sakura berkata terisak sambil terus memompakan cakranya keluka berdarah Naruto.
"Itu cepat sekali, aku bahkan belum sempat berkedip." terdengar tawa Naruto. Hinata berjalan perlahan mendekat dengan wajah khawatir.
"Dasar bodoh!,kunai ini hampir mengenai jantungmu tahu!." Sakura geram sambil terus menekan luka berdarah didada Naruto.
"Jangan Khawatir Sakura-chan, aku tidak akan mati hanya kerena kunai-kunai kecil ini!, cepat sembuhkan lukaku agar aku bisa segera menghajar pemberontak sialan itu." Naruto menatap lembut wajah Sakura yang memerah karena menahan tangis, Sakura kaget dan khawatir karena Naruto melompat menjadi tameng untuknya.
"Dasar bodoh!." Sakura berujar lembut menatap mata Naruto dalam-dalam sambil tersenyum kecil, Naruto membalas senyum dan tatapan itu tak kalah lembutnya, mata mereka tidak bisa berbohong.
Hinata seketika langsung berbalik beranjak meninggalkan tempat itu, segera berlari sekuat tenaga berusaha menyusul kawan-kawannya yang mengejar para missing nin didepannya.
'Ketika semuanya terlihat jelas dimata mereka.'
'Apa yang sebenarnya terus saja ku sangkal?'
"Sasuke, tunggu!" bibir Naruto terlihat bergerak mengucapkan, Hinata sedang duduk dikamarnya dengan Byakugan aktif menatap ke arah gerbang Konoha, mengikuti gerak-gerik Naruto yang tengah mengejar Sasuke, Hinata tidak bisa mendengar suaranya tapi dia bisa membaca gerak bibir Naruto. Sasuke yang di panggil berhenti berjalan namun tidak berbalik sehingga Hinata tidak bisa membaca apa yang dikatakannya.
"Kenapa kau ingin pergi?" Naruto terlihat kembali berujar sambil mengeratkan genggaman tangan disisi tubuhnya.
Jeda sejenak
"Tapi bagamana dengan Sakura?, tidak bisakah kau bertahan untuknya?"
Jeda
"Dia mencintaimu Sasuke…, tidak bisakah kau melihatnya?, dia akan terluka kalau kau pergi." Ada jeda sedikit lebih lama dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, sebelum akhirnya bibir Naruto kembali bergerak.
"Itu tidak mungkin, aku memang mencintainya tapi dia mencintaimu."
Seketika Hinata langsung menutup matanya rapat-rapat, beringsut menghilang kedalam selimut hangat ditempat tidurnya.
'Ketika aku tahu dengan jelas kebenarannya.'
'Tapi… aku bisa….'
"Sakura, kau harus mengatakannya pada Naruto." Suara Ino bergema dikepala Hinata, dia semakin menempelkan punggungnya berusaha bersembunyi dari pandangan kedua sahabat yang tengah berbincang dibalik dinding.
"Bagaimana dengan Hinata?, mereka sudah sangat dekat, aku tidak ingin mengganggunya." Suara Sakura terdengar mencicit lemah.
"Kau akan menyesal!, Cintamu harusnya kau ungkapkan Sakura, tidak perduli apa yang akan dikatakan Naruto dan Hinata. Kalau kau tidak mengatakannya, kau tidak akan pernah bisa tidur nyenyak seumur hidupmu."
'Aku bisa terus menutup mata dan telinga, selama….'
Hinata dan Shino tertawa kecil mendengar lelucon kiba, mereka berjalan bersisian menuju festival kembang api ditepi sungai Konoha.
"Hinata…." Hinata berbalik kearah datangnya suara sang pujaan hati, dia tersenyum sambil melambai kepada Naruto dan Sakura yang tengah berlari mendekat.
"Kalian cepat sekali!." Naruto berkata setelah sampai kehadapan Hinata.
"Tentu saja, kita sudah hampir terlambat tahu, acara kembang apinya hampir dimulai." Kiba kembali berbalik berjalan. Hinata tersenyum kecil, ia juga berbalik berusaha menjejeri Kiba dan Shino yang sudah mulai berjalan.
Namun langkahnya terhenti, ketika sebuah tangan yang hangat menggenggam tangannya erat. Hinata berbalik kaget dan menatap Naruto yang tengah menatapnya lekat, Naruto mengeratkan genggaman tangannya lebih erat lagi.
"Tunggu aku Hinata" Naruto tersenyum kearahnya.
'Selama tangan itu masih berada di genggaman'
Naruto berjalan menjejerinya sambil terus menggenggam tangan Hinata. Hinata menatap genggaman tangan mereka lekat-lekat, kemudian mendongak menatap Naruto. Naruto tersenyum kearahnya, senyuman yang dulu membuat Hinata jatuh cinta padanya.
'Selama senyuman itu masih berada di pandangan'
Hinata mengalihkan pandangan pada Sakura yang berjalan disisi Naruto, menyadari Hinata menatapnya, gadis itu berpaling dan menyuguhkan senyum manis seorang sahabat yang tengah menggoda pada Hinata.
'Maka aku juga…'
Hinata memantapkan hati, dia membalas senyum Sakura dengan senyum tertulus yang bisa dia ulaskan dibibir mungilnya, kemudian menatap Naruto hangat sambil meremas tangan tan yang berada digenggamannya.
'Aku juga akan terus berlakon dalam sandiwara yang mereka ciptakan'
'Apa aku jahat?.'
'Apa ini salah?, berdiam diri dan berpura-pura tidak tahu?.'
'Terkadang aku berpikir kalau aku ini benar-benar egois.'
'Bolehkah aku hanya diam dan hanyut dalam ilusi ini?.'
'Dan ini terasa begitu menyakitkan, apakah mereka juga kesakitan?.'
'Mereka begitu kokoh dan tangguh, sementara aku sudah hampir sampai ketitik lebur.'
'Ini sangat menyakitkan, demi tuhan.'
'Aku bertanya-tanya bagaimana reaksi Naruto kalau dia tahu Sakura membalas cintanya?.'
'Bagaimana reaksi Sakura jika dia tahu kalau Naruto masih mencintainya?.'
'Aku tidak tahu kalau begitu menakutkan untuk menyembunyikan sesuatu.'
'Ketakutan akan terbongkar, ketakutan akan ketahuan.'
'Ketakutan akan kehilangan.'
'Ini menyiksa dan melelahkan.'
'Terkadang juga merasa begitu berdosa, karena semua ini.'
'Aku takut akan sisi gelap di hatiku yang mulai mengancam untuk mengambil alih.'
'Kebencian dan rasa marah ini, terasa begitu menakutkan namun juga terasa menenangkan.'
'Aku semakin terlarut dalam permainan menyalahkan.'
'Ini karena kalian yang saling diam dan berpura-pura.'
'Ini karena kalian berdua berbohong.'
'Kepada ku dan kepada diri kalian sendiri.'
'Tolong ijinkan aku lepas dari lingkaran ini.'
'Sebelum benci mengganti cintaku'
'Sebelum marah merusak hormatku'
'Sebelum keegoisan menutup mata hatiku.'
'Sebelum dengkiku benar-benar merenggut cinta kalian.'
'Tidak bisakah kalian mengijinkan diri kalian sendiri bahagia?.'
Hinata berdiri diam mematung diambang pintu kamar rumah sakit tempat Naruto dirawat, setengah dari dirinya ingin lari dan bersembunyi, setengahnya lagi ingin segera mengakhiri semuanya. Setengah dari hatinya terasa pilu karena mengetahui sebentar lagi semuanya akan berakhir, namun setengahnya lagi merasa begitu lega dan ringan.
"Sakura-chan?." terdengar suara terkejut Naruto.
"Aku bersungguh-sungguh Naruto, aku mencintaimu." Suara Sakura bergetar namun lantang.
Hinata tahu hanya masalah waktu hal ini akan terjadi, namun hal itu tetap tidak membuatnya bisa menghadapinya dengan kepala terangkat.
"Sakura-chan aku….aku mencintai Hinata." Naruto berujar lemah.
'Bohong!.' Hati Hinata berteriak, air matanya berurai tapi bibirnya tersenyum, ini terasa begitu manis namun juga pahit.
"Bisakah kau menatap mataku dan mengatakannya dengan lantang?" Sakura mencicit pada Naruto.
'Dia tidak akan bisa Sakura-chan, karena dia berbohong!.' Hinata ingin berteriak sekeras-kerasnya.
"Aku….." cup
Hinata mengintip melalui jendela kaca dipintu ruangan itu, ingin mengetahui kenapa Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya, dia membelalak kaget melihat Sakura mencium Naruto tepat dibibirnya. Hinata hampir berpikir dia akan gila, ketika sekali lagi hatinya seolah terbagi dua, satu sisi menangis namun satu sisi lagi berseru riang. Matanya, menyaksikan bagaimana awalnya Naruto berusaha menolak Sakura namun akhirnya hanyut dalam pelukan gadis itu. Ada rasa sakit didadanya, mungkin itu karena bagaimanapun juga dia adalah manusia yang memiliki hati, meskipun sudah lama dia tahu tapi tetap saja ini masih terasa menyakitkan, kemudian pikiran itu muncul, keinginan menghukum mereka karena telah membuatnya melalui semua ini, karena telah menyeretnya kedalam semua rasa sakit ini.
"Trak…" Hinata membuka pintu itu dan menampakkan dirinya. Seketika dua insan didalam ruangan itu menatap kearahnya, dia pun menatap mereka dengan tatapan seolah terkejut. Hinata menikmati ekspresi yang mereka tunjukkan, wajah memucat, bingung, takut, dan rasa bersalah berkelabat dimata mereka. Hati Hinata merasa sedikit senang melihatnya, tapi tanpa disadarinya mata yang susah payah tadi dia buat kering, sekarang basah dengan aliran air mata tak tertahan. Semua diluar kendalinya, semua diluar rencananya, dia tidak bermaksud menangis, dia tidak bermaksud membuat mereka merasa bersalah lebih lama dari 5 detik, dia ingin mengatakan pada mereka kalau dia tahu dan sudah lama tahu, dia ingin berkata,…
"Maaf!" tapi bukan begini….., dia ingin mengatakannya sambil tersenyum bukan sambil menangis.
"Hinata…!" Naruto memanggilnya sambil bergerak mendekat, mendorong Sakura dari sisinya.
Bukan begini, ini salah, seharusnya dia berkata,
'Maaf karena selama ini telah berada diantara kalian, seharusnya kalian bahagia bersama. Akhirnya kalian bisa jujur pada hati kalian masing-masing, aku berharap Naruto-kun dan Sakura-chan bahagia bersama.'
Seharusnya itu diucapkan sambil tersenyum, kata-kata yang sudah dia hafal dan persiapkan ketika saat seperti ini tiba. Melihat Naruto semakin mendekat, seketika Hinata langsung menjadi takut dan panik, takut kalau Naruto akan bisa meraihnya. Maka Hinata melakukan satu-satunya jalan keluar yang diajukan oleh otaknya, lari, dengan dada bergemuruh dan telinga berdenging hebat, ia berlari cepat meninggalkan ruangan itu, berlari sekencang-kencangnya, seolah itu menyangkut hidup dan matinya. Dia harus bersembunyi, dia tidak ingin Naruto bisa meraihnya, kalau hal itu terjadi mungkin dia akan tersesat lagi, dan demi tuhan, kalau kali ini itu terjadi mungkin dia tidak akan pernah bisa keluar lagi. Hinata berlari kecang mengabaikan tatapan heran orang-orang disekelilingnya, dia terus saja berlari sampai kakinya terasa sakit dan berontak memohon untuk diijinkan beristirahat. Hinata bersandar dibawah sebuah pohon besar didekat sungai Konoha, sambil terisak Hinata mengusap pipinya yang berair dengan lengan bajunya, berusaha dengan sangat keras untuk mengatur napasnya. Beberapa anak yang tengah bermain dipadang rumput di tepi sungai menghentikan permainan mereka untuk menatap bingung kearah Hinata yang sedang menangis tidak terkendali. Hinata menyenderkan kepalanya dibatang pohon itu sambil membiarkan tubuhnya merosot jatuh ke tanah ketika kaki lelahnya sudah tidak mampu lagi menopang beratnya, ia membiarkan isakan lirih lolos dari mulutnya yang sedikit membuka untuk mengatur napas. Kumpulan rasa pilu didadanya seolah menemukan pintu untuk mendobrak keluar.
"Maaf… maaf….", 'Maaf Naruto-kun, Sakura-chan, aku tidak bermaksud begini.' Apa yang akan dikatakan oleh kedua orang itu, mereka saat ini pasti merasa sangat bersalah pada Hinata, padahal itu tidak perlu, karena Hinata sudah tahu dan diam saja. Diam saja ketika kedua orang itu berjuang untuk menyembunyikan perasaan mereka masing-masing demi dirinya, demi Hinata. Rasa bersalah yang harusnya sekarang sudah bisa dia tanggalkan dari dadanya saat ini justru dia buat semakin besar.
"Tolong…., nona apa kau bisa mendengarku?." Hinata terkesiap ketika mendengar bisikan lemah dari arah belakang pohon yang disenderinya. Dalam kekalutan, tubuh Hinata seolah bergerak tanpa diperintah menuju arah datangnya suara lirih minta tolong itu.
Hinata mengeraut perlahan mendekat kesisi lain pohon, dibalik pohon itu sosok seorang pemuda mengenakan pakaian Shinobi yang siap bertugas juga sedang menyenderkan tubuhnya, Hinata segera menghapus air matanya ketika menyadari pemuda itu sedang meringis kesakitan.
"Apa anda baik-baik saja?."
"Perutku….perutku… sangat sakit…" Pemuda itu berujar lirih dan sangat pelan, Hinata hampir tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya. Pemuda itu memegang perutnya sambil mengaduh membuat Hinata Khawatir.
"Apa anda perlu kerumah sakit?." Hinata menggigit bibir, rumah sakit adalah tempat yang paling tidak ingin dia datangi saat ini.
"Tidak….tolong….bawa aku ke kantor Hokage." Pemuda itu memohon dengan wajah memelas, kemanapun selain rumah sakit Hinata pasti mengantarkan. Hinata tidak tahu dari mana datangnya kekuatan ketika dia mulai memapah pemuda itu dengan gampangnya, mungkin itu karena adrenalin yang masih bekerja ditubuhnya yang sedikit gemetar itu. Hinata berjuang memapah pemuda itu menuju kantor Hokage, dengan tertatih-tatih Hinata berusaha menyeimbangkan tubuh pemuda itu, dia menggunakan cakranya untuk berjalan cepat menuju kantor Hokage.
"Langsung saja, panjat gedung ini. Kita harus cepat." Pemuda Shinobi itu berujar pelan sambil mendongak keatas bangunan kantor Hokage ketika Hinata ingin memasuki pintu depan gedung itu. Menggigit bibir Hinata kebingungan, bagaimana kalau Naruto mencarinya?, saat ini Hinata benar-benar belum bisa untuk menghadapinya. Memanjat gedung ini sama saja artinya dengan menunjukkan keberadaanya.
"Tolonglah, kita harus cepat." Mendengar cicitan lirih dari pemuda disampingnya, Hinata akhirnya mulai melangkahkan kakinya dengan cepat memanjat gedung itu. Dia harus cepat sebelum terlihat.
"Tok-tok-tok-tok.", Pemuda itu mengetuk tidak sabar dikaca jendela ruangan Hokage sesaat setelah kaca jendela itu terlihat.
"Hokage-sama….buka jendelanya." Pemuda itu berujar sedikit keras kearah punggung wanita pirang didalam ruangan.
'Kumohon cepat buka!.' Hinata memohon dalam hati.
Wanita berambut pirang didalam ruangan itu berbalik mendelik kearah datangnya ketukan, kemudian wajahnya berubah menjadi mengerikan saat melihat Hinata dan Shinobi itu di jendelanya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini Kobuki?." sesaat setelah membuka jendela kaca itu, Hokage berambut pirang mendelik menatap pemuda yang bernama Kobuki yang sedang dipapah oleh Hinata. Tanpa menunggu di ijinkan, Hinata segera membawa masuk pemuda itu kedalam ruangan Tsunade.
"Hokage-sama, maafkan saya. Saya sepertinya keracunan makanan, saya tidak bisa menyelesaikan misi ini." Kobuki berkata cepat dengan sekali sentakan napas, pemuda malang itu terlihat begitu ketakutan menatap Tsunade.
"Apa?, yang benar saja ?, Kobuki kapal itu akan segera berangkat!." Tsunade menggeram gemas, Hinata hanya terdiam mendengarkan, tidak tahu kedua orang ini meributkan tentang apa.
"Maafkan saya Hokage-sama!." Kobuki berujar pelan sambil menunduk, tidak berani menatap langsung kearah sang Hokage. Melihat pemuda itu begitu kesakitan Shizune yang sejak tadi berdiri disamping Tsunade berjalan mendekat kesisi pemuda itu lalu menggiring Hinata mendudukkan Kobuki di bangku didepan meja Hokage.
"Ada apa dengannya Hinata?." Shizune bertanya pada Hinata, gadis bermata sembab itu hanya menggeleng.
"Saya menemukannya kesakitan di tepi sungai." Hinata menerangkan dengan suara sengau, Shizune sedikit heran tapi perhatiannya segera teralihkan ketika mendengar teriakan nyaring dari Tsunade.
"Kapal itu akan berangkat 15 menit lagi, sekarang aku harus mencari ulang lagi shinobi yang bisa ditugaskan untuk misi ini?, kalau melewatkan kapal ini maka kapal selanjutnya menuju kesana hanya akan ada 7 hari lagi!." Tsunade berteriak prustasi.
"Sialan kau Kobuki, gulungan ini harus sampai kepada Lord Fujin dalam 3 hari, kalau sampai tertunda mereka tidak akan mengirim pasokan bahan bakar untuk Konoha, dan menurutmu apa yang akan terjadi kalau itu tejadi?." Tsunade murka.
"Dengan jalur yang hampir membeku, mereka akan menunda pengiriman ini ke periode pengiriman berikutnya, enam bulan lagi. Kalau sampai itu terjadi semua adalah tanggung jawabmu kalau Konoha membeku selama musim dingin tahun ini karena tidak ada listrik."
Mata Hinata membulat ngeri mendengar itu, dia menatap kasihan pada pemuda yang terlihat hampir menangis disisinya itu. Diantara geraman dan erangan marah Tsunade, Hinata tersadar kalau misi ini sangat cocok untuknya, saat ini dia ingin berada jauh dari Konoha untuk menenangkan diri serta menjernihkan pikiran, dan itu juga harus dilakukan dengan cepat sebelum Naruto bisa menemukannya.
"Saya saja yang menggantikannya!." tanpa berpikir dua kali kalimat itu meluncur dari bibir Hinata, Tsunade merasa ingin menepuk kepalanya sendiri, kenapa itu tidak terpikirkan olehnya, padahal ada shinobi didepan matanya saat ini, dia malah sibuk mencari-cari berkas Shinobi yang tengah siap bertugas sambil berteriak-teriak. Namun Tsunade segera tersadar ketika melihat baju ninja lusuh yang dikenakan Hinata, alasanya adalah kerana dia tahu kalau Hinata baru saja kembali dari misi bersama Shino dan Kiba beberapa saat yang lalu.
"Kau baru saja…." Tsunade mengibaskan tangannya kearah Hinata, tapi sebelum sempat dia menyelesaikan kalimatnya gadis itu menyela.
"Saya akan berkemas dan segera siap dalam 15 menit." Hinata berujar saat menyadari penolakan Tsunade, Hokage itu terlihat ragu.
"Tidak, 10 menit. Saya akan siap dalam 10 menit." Hinata berusaha keras meyakinkan Tsunade, hal ini membuat Hokage pirang itu memicingkan mata curiga kearah Hinata, ada yang tidak beres dengan gadis ini, tapi pikirannya itu segera ditepisnya karena dia tidak punya waktu.
"Baiklah, bawa ini dan segera berkemas." Tsunade menyerahkan 2 gulungan yang diambilnya dari tas pinggang Kobuki. Kobuki yang terlihat mulai lega dipapah pergi ke rumah sakit oleh anbu yang diperintah Shizune.
"Gulungan berwarna hitam berisi rincian lengkap misi ini, kemana kau harus pergi dan siapa yang harus kau temui. Dan gulungan berwarna emas adalah gulungan yang harus kau serahkan pada Lord Fujin."
"Segera bergegas rincian misi nanti saja kau baca, dalam waktu 15 menit kau sudah harus berada di dalam kapal itu." Tsunade menunjuk ke arah dermaga Konoha, peluit terdengar berat mendengung, yang menandakan kapal itu akan segera berlayar.
"Gunakanlah pakaian hangat, disana musim dingin datang lebih cepat dari pada di Konoha."
"Baik saya mengerti." Dengan mengucapkan itu, Hinata segera melompat dari jendela, berlari kencang menuju kediamannya.
"Apa dia akan baik-baik saja?." Shizune menatap punggung Hinata yang semakin mengecil dengan wajah khawatir.
" Dia baru saja kembali dari misi." Shizune mengernyit, gadis itu bahkan belum sempat menghapus corengan hitam debu dipipinya.
"Dia seorang Konoichi Shizune, jangan khawatir. Lagi pula ini hanya misi sederhana, hal terburuk yang bisa terjadi paling-paling adalah dia kelelahan selama perjalanan. Dan jangan lupakan kalau dia adalah Hinata Hyuga, dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri sekarang." Tsunade menepuk-nepuk pundak Shizune, mengingatkan Shizune kalau Hinata sekarang sudah punya bekal sedikit keterampilan medic nin bersamanya.
Sesungguhnya tidak hanya itu yang mengganggu pikiran Shizune, mata sembab, suara sengau , jejak air mata yang disapu terlihat jelas diwajah berdebu Hinata, dan belum lagi fakta kalau Hinata beberapa saat yang lalu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Naruto yang tengah terluka sepulang dari misi menghadapi pemberontak di Suna, dia bahkan bersikeras untuk segera kerumah sakit dan menemui Naruto sedetik setelah Shizune memberitahunya berita itu tanpa memperdulikan tampilan dirinya sendiri yang compang-camping. Dan sekarang gadis itu justru tengah berlari seperti orang kesetanan untuk meninggalkan Konoha, benar-benar tidak masuk akal.
Satu menit, 5 menit, 10 menit, 12 menit, Shizune terus saja menerawang menatap kepulan asap kapal yang semakin tebal, disisinya Tsunade yang tengah kembali berkutat dengan gulungan-gulungan tugasnya mengangkat kepala dan menatap Shizune.
"Jangan khawatir, dia pasti sampai dikapal itu tepat waktu." Tsunade berujar lebih untuk dirinya sendiri dari pada untuk menenangkan Shizune.
"Brak….." pintu ruangan Hokage terbuka lebar menampakkan Naruto Uzumaki yang dipenuhi keringat.
" Hinata!?...," teriakan Naruto terdengar bergetar.
"Apa-apan kau Naruto?" Tsunade mendelik mengerikan.
"Dimana dia?, dimana Hinata?. Shikamaru bilang Hinata ada disini?." mata biru itu menyapu seluruh penjuru ruangan dengan napas tersengal berusaha mencari sosok gadis dengan rambut indigonya.
"Naruto apa yang kau lakukan disini?. Kau harusnya ada dirumah sakit, kau sedang terluka, kan?" Shizune berjalan mendekati Naruto, sudah dia duga ada yang tidak beres disini.
"Dimana Hinata?." Naruto berteriak tidak sabar, hatinya sedang tidak karuan, yang benar-benar ingin dia dengar sekarang hanyalah suara Hinata.
Bunyi peluit panjang terdengar lamat-lamat dari arah dermaga, menandakan kalau kapal sudah berangkat berlayar meninggalkan semuanya dibelakangnya. Tsunade yang menyadari ekspresi Shizune dan Naruto mulai menata puzzle dipikirannya, wajah kalut Naruto, wajah khawatir Shizune, dan tekat kuat Hinata untuk segera pergi dari Konoha akhirnya menemukan tempat yang pas. Tsunade berdiri dari mejanya dan berbalik menatap kepulan asap kapal yang berlayar menjauh dari Konoha.
"Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, saat ini gadis itu sedang berada di kapal itu, Naruto." Tsunade menunjuk kepulan asap yang membumbung kelangit diatas laut Konoha. Mata Naruto membelalak seketika, giginya bergemelatuk didalam rahangnya karena dikatupkan terlalu erat.
"Sial…Sial…Sial…." Naruto merutuk, nada suaranya semakin tinggi disetiap kata, kalau saja dia tidak sedang terluka dia pasti bisa berlari dengan lebih cepat untuk mengejar Hinata.
'Sialan.' Naruto tertunduk mengutuk dirinya sendiri ketika wajah berurai air mata Hinata kembali memenuhi ingatannya.
"Jangan bertingkah seperti orang depresi Naruto, dia akan kembali dalam waktu 7 hari, jangan khawatir."
'7 hari?' Naruto meringis membayangkan harus menunggu Hinata selama itu untuk bisa menjelaskan semuanya.
'Mereka pasti sedang bertengkar.' Tsunade bergumam didalam hati, meskipun dia kaget pasangan paling akur se Konohagakure ini ternyata bisa juga bertengkar. Tsunade ingin tertawa melihat wajah tidak berdaya Naruto saat ini, dasar anak muda suka melebih-lebihkan masalah kecil.
"Hinata,.." sosok murid kesayangan Tsunade berambut pink menghambur masuk kedalam ruangan, matanya juga menyapu seluruh penjuru ruangan, mencari Hinata. Menyadari orang yang dia cari tidak ada disana gadis itu menatap Naruto yang tertunduk kemudian dengan mata yang kembali mulai berair dia beralih menatap wajah Tsunade dengan tatapan seolah bertanya.
"Dia sudah pergi." Shizune menjawab pelan.
"Naruto…maafkan aku….aku….aku tidak bermaksud…" Sakura terisak.
Dan sekarang Tsunade menyadari kalau masalah ini sepertinya bukan masalah kecil yang dibesar-besarkan.
Dikapal besar yang berderu berat membelah samudra, Hinata duduk termenung di buritan kapal, rambutnya bergerak liar disisi wajahnya, terombang-ambing oleh angin yang berderu deras. Pikirannya melayang entah kemana meningalkan tubuhnya teronggok diam, saat ini dia hanya ingin melupakan sejenak Konoha, melupakan sejenak Naruto dan Sakura, setidaknya sampai dia kembali nanti, 7 hari lagi. Dia berdoa dengan sunggung-sungguh semoga ketika saat itu tiba dia sudah siap dan mantap untuk menatap mata kedua sejoli itu, dan berkata sambil tersenyum pada mereka apa yang sudah selama hampir 1 tahun ini sangat ingin di katakannya. Pikirannya melayang pada buku ungu muda yang ditinggalkannya terbuka diatas meja, berisi tulisan singkat terburu-buru, tepat di halaman akhir buku itu, sebuah janji yang dia tulis pada dirinya sendiri sebagai patokan dan pengingat ketika dia kembali nanti.
Guratan terburu-buru yang berbunyi,
'Aku tidak lari, hanya sedang menata diri.'
'Hanya sebentar, sebentar saja.'
'Saat aku kembali, akan aku katakan semuanya.'
'Seharusnya sejak dulu aku sudah tahu, kalau mereka memang ditakdirkan untuk bersama.'
'Seharusnya aku tidak boleh menjadi penengah diantara mereka'
'Seharusnya Naruto-kun memang bersama Sakura-chan'
'Memang sudah seharusnya kalian bahagia bersama'
'Kau pantas bahagia Naruto-kun'
" Kau pantas bahagia Naruto-kun" bibir Haruko bergerak ringan membaca tulisan yang tidak rapi dibuku harian bibinya, entah sudah berapa ratus kali tulisan itu dibacanya hingga akhirnya dia hapal diluar kepala apa isinya. Jari halusnya membelai tulisan itu perlahan, matanya berkilat karena genangan air mata haru.
"Apa itu yang kau inginkan bi?, Apa benar begitu?." Haruko menutup buku itu lalu meletakkannya diatas dadanya. Karena kemalangan yang dialami bibinya sekarang ada dua orang umat manusia yang saling mencinta namun tidak bisa bersama. Mereka mungkin masih terkurung dalam kepura-puraan yang terlanjur menjadi nyata, tertutup dan terkunci bersama kematian Hinata Hyuga. Beberapa tahun yang lalu Haruko tersenyum dan mensyukuri fakta kalau Naruto dan Sakura tidak bersama sampai sekarang, namun sekarang dia sudah semakin mengerti makna dari tulisan bibinya, kalau dia merasa menderita karena merahasiakannya, merasa berdosa karena menutupinya dan sangat ingin mengatakan restunya pada Naruto dan Sakura.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu mengatakannya." Haruko tersenyum manis seolah berkata langsung pada Hinata.
"Sekarang kau bisa tenang kan?." Haruko bangga pada dirinya sendiri, didalam kepalanya dia bisa membayangkan senyum Hinata yang ditujukan padanya.
"Serahkan saja padaku, bibi Hinata"
'Itachi Uchiha' hanya satu nama itu yang terlintas dibenak Haruko ketika dia memikirkan tentang bagaimana cara agar dia bisa bertemu dengan Naruto Uzumaki sang Hokage. Hari sudah menjelang senja, Haruko berjalan pelan menyusuri hutan lebat Konoha, berjalan semakin kedalam ketempat matanya mengarahkannya. Sayup-sayup dikejauhan dia bisa mendengar suara seseorang sedang berlatih, Byakugannya bisa menangkap sesosok cakra Uchiha Itachi yang tengah memburu namun teratur. Dia merasa seperti seorang penguntit saat ini, mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi untuk menemui Uchiha Itachi ketika dia tengah sendirian ditengah hutan. Dia benar-benar merasa malu, tapi ini harus dilakukannya demi memenuhi keinginan bibinya tersayang. Haruko tidak ingin mengambil resiko menarik perhatian teman-temannya yang lain karena meminta Itachi untuk berdiskusi berdua saja dengannya. Haruko tidak ingin teman-temannya tahu tentang tujuannya yang sebenarnya, karena hal ini memang bukan untuk konsumsi orang banyak. Disamping itu Haruko juga tidak ingin Eri dan Chizo semakin salah paham padanya, insiden 'gendongan' kemarin sudah cukup untuk membuat kedua orang itu memandang curiga kearahnya. Chizo terus saja bergelayutan manja padanya setiap Itachi ada didekatnya sedangkan Eri bertingkah semakin aneh saja sejak kejadian itu, dia mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti,
'Apa kau menyukai Itachi-kun, Haruko-chan?, tidak apa-apa jujur saja padaku.'
'Dia keren kan, bagaimana menurutmu?.'
'Kau tahu?, kalau kau menyukainya aku akan rela kalau dia bersamamu, kalian sangat serasi.'
'Menurutku hanya kau orang yang bisa menandingi Fuyu-chan.'
Eri mulai meracau tentang melupakan dan mengikhlaskan, Haruko tahu temannya itu sebenarnya tidak senang dengan kedua hal itu, tapi Eri adalah tipe orang yang lebih mementingkan sahabat dibanding hatinya sendiri. Haruko memang terpesona dengan kebaikan Itachi tapi tetap saja dia tidak mungkin menyukai orang yang disukai oleh sahabatnya sendiri, Haruko hanya berharap Itachi bisa menjadi perantaranya untuk bertemu dengan Naruto Uzumaki agar dia bisa melaksanakan tugas yang kini diembannya, seperti yang diketahui semua orang kalau Itachi adalah 'kesayangan Hokage' maka pastinya hal itu bukanlah perkara sulit untuk berbicara santai dengan Hokage ketika Itachi yang mengantarkannya.
"Siapa disana?" terdengar suara waspada Itachi.
"Aku. Haruko, Itachi-kun." Haruko berteriak sambil mempercepat langkahnya agar bisa cepat menampakkan dirinya didepan Itachi, setelah latihan tanding kemarin, menurut Haruko, membuat seorang Uchiha Itachi mengira kau adalah musuh pasti akan berakhir mengerikan. Itachi kebingungan mendapati Haruko berada ditengah hutan begini, sepengetahuan Itachi gadis itu punya lapangan berlatih pribadi dirumahnya yang besar itu, jadi sedang apa dia disini.
"Apa yang kau lakukan disini Haruko-chan?" Itachi tidak sabar menyuarakan keingintahuannya.
"Aku disini karena ingin menemuimu, Itachi-kun." Haruko kini berada didepan Itachi.
"Menemuiku?, ada apa?." Seingat Itachi mereka Rookie 8 baru beberapa jam yang lalu mengucapkan selamat tinggal satu sama lain termasuk dia dan Haruko, jadi Itachi sedikit tidak mengerti kenapa Haruko ingin menemuinya sekarang.
"Hmm….. aku ingin meminta bantuan padamu." Haruko berujar ragu-ragu.
"Bantuan apa?" Itachi kini makin penasaran.
"Bantu aku agar bisa bertemu dan bicara dengan Naruto-sama secara pribadi." Haruko berujar pelan-pelan agar jelas. Itachi terdiam, dia menebak-nebak apa yang ingin dibicarakan Haruko dengan Naruto, tapi tetap saja tidak ada satu jawaban pun yang bisa dia temukan diotaknya. Sebenarnya Itachi agak sedikit terganggu dengan permintaan Haruko yang menurutnya terkesan memerintah itu. Meskipun dia adalah 'Kesayangan Hokage' selama ini Itachi tidak pernah pergi menemui Naruto seenaknya dan mengganggunya tanpa adanya alasan yang jelas dan penting.
"Kalau boleh aku tahu, ini tentang apa?." Itachi memperdekat jarak diantara dia dan Haruko.
"Aku ingin menyampaikan pesan, pesan dari bibiku untuk Naruto-sama."
"Bibimu?" Itachi mengernyit
"Ya, bibiku. Hinata Hyuga." Mendengar nama itu disebut daun teling Itachi langsung terbuka lebar, sampai hari ini nama itu terus menghantui tidurnya, hati Itachi seolah memutuskan lebih dulu kalau wanita itu memang adalah ibunya tanpa perlu adanya bukti apapun juga, meskipun otaknya terus saja menyangkal hal itu karena memang terlalu tidak mungkin, 'kalau memang Hinata adalah ibunya kenapa semua orang merahasiakannya dari Itachi?' pertanyaan itulah yang tidak bisa dia temukan jawabannya yang masuk akal sampai sekarang, tapi itu tidak membuatnya bisa berhenti memikirkannya.
"Pesan apa?" Itachi berkata pelan, mencoba mengorek informasi.
"Pesan yang ingin disampaikannya sebelum dia meninggal."
Itachi berpikir sejenak, menurut dugaannya Naruto dan Hinata memang sepertinya sangat dekat dan dia sangat amat ingin mengetahui hubungan seperti apa yang mereka miliki, Itachi sangat penasaran kenapa Naruto tidak pernah menyinggung tetangnya selama ini. Meskipun itu berarti mematahkan teorinya tentang Hinata adalah ibunya, karena sangat tidak mungkin kan ayahnya merebut kekasih sahabatnya sendiri, iya kan?. Melihat Itachi hanya terdiam menatapnya, Haruko menarik kesimpulan kalau Itachi menunggunya untuk menjelaskan semuanya padanya.
"Ne…Itachi kun, apa kau tahu seperti apa hubungan Sakura-san dan Naruto-sama?."
"Tentu saja, mereka adalah sahabat baik sudah seperti saudara. Memangnya kenapa?" Itachi terheran-heran dengan pertanyaan Haruko, memangnya apa hubungannya itu dengan permintaan nya tadi?. Haruko mengedarkan pandangan kesekelilingnya, mencari tempat yang enak untuk duduk dan bicara, karena sepertinya ini akan lama. Haruko berjalan melewati Itachi menuju sebuah pohon yang sepertinya baru saja di tumbangkan oleh Itachi, dia duduk diatasnya menjuntaikan kaki, melihat Itachi hanya terdiam memperhatikan gerak-geriknya Haruko sedikit memerah lalu menepuk-nepuk tidak sabar batang pohon yang didudukinya mengisyaratkan Itachi untuk duduk disampingnya. Tersenyum kecil, Itachi mentertawakan kebiasaan Haruko yang suka memerintah orang lain tanpa disadarinya. Itachi menuruti kemauan Haruko, duduk disampingnya lalu menatap, menunggu. Haruko mengeluarkan sebuah amplop ungu dari saku bajunya, dengan sangat pelahan-lahan Haruko membukanya lalu mengeluarkan sobekan kertas dari dalamnya.
'Apa itu surat?' Itachi bergumam dalam hati sambil memperhatikan Haruko membuka perlahan lipatan kertas-kertas itu, dia sangat hati-hati seolah sedang memegang benda pusaka. Dia akhirnya menyodorkan 3 lembar kertas kearah Itachi, Itachi menjulurkan tangan bermaksud menerima kertas-kertas itu. Sebelum sempat Itachi menerimanya Haruko kembali menarik kertas itu sambil menatap ngeri tangan Itachi. Itachi bingung dengan reaksi Haruko, sampai ia akhirnya sadar kalau tangannya sangat kotor dipenuhi debu, sambil tertawa Itachi menyapukan tangan kotornya kebajunya sendiri berusaha membersihkan.
"Maaf,…" Haruko terlihat menyesal dengan reaksinya sendiri.
"Ini adalah tulisan tangan bibi Hinata sendiri, aku merobeknya dari buku hariannya." Haruko berusaha menjelaskan penyebab kehati-hatiannya. Buku itu sangat berarti baginya, jadi dia berusaha untuk menjaga kenangan milik bibinya itu. Itachi mengangguk paham kemudian menjulurkan tangannya yang sudah bersih kearah Haruko, dia menerima kertas-kertas itu dengan hati-hati juga, menyadari betapa pentingnya benda itu untuk gadis disampingnya. Itachi perlahan mulai membaca lembaran pertama kertas itu, tulisan tangan yang sangat rapi dan indah, wangi mawar yang samar menguar dari kertas itu.
'Sandiwara apa?, siapa yang bersandiwara?.' Itachi bingung dengan maksud dari tulisan ditangannya itu. Menyadari kebingungan Itachi, Haruko segera mengambil kertas yang baru saja dibaca oleh Itachi sehingga menampakkan kertas lain dibawahnya, Itachi pun langsung membaca tulisan di kertas kedua itu. Kening Itachi semakin mengkerut, dia semakin bingung. Haruko sedikit senang menyadari Itachi tidak mampu mengerti makna tulisan itu sama seperti dirinya ketika pertama kali membacanya. Itachi menatap Haruko seolah meminta penjelasan. Satu-satunya yang ditangkap Itachi adalah Naruto mencintai Sakura dan Sakura juga mencintai Naruto tapi mereka membohongi diri mereka sendiri dan si penulis yaitu Hinata Hyuga, selebihnya Itachi bingung.
"Ne..apa kau paham?." Itachi menggeleng, Haruko berpura-pura membuang napas lelah. Padahal sesungguhnya dia sedang merasa senang dan bangga pada dirinya sendiri akan kemampuannya menganalisis keadaaan, melupakan fakta kalau dia perlu bertahun-tahun dan membaca keseluruhan buku harian bibinya berpuluh-puluh kali untuk bisa mengerti.
"Ne..Itachi-kun biar ku jelaskan. Dari mana memulainya ya?." Haruko bingung sendiri, Itachi hanya diam sambil tersenyum lucu pada Haruko.
"Baiklah, pertama-tama apa kau tahu kalau ada cinta segi tiga di dalam tim ayahmu?." Itachi membelalak kaget, dia sama sekali belum pernah mendengarnya. Sepengetahuannya Tim 7 memang memiliki hubungan yang sangat dekat sudah seperti saudara kandung satu sama lain, tapi cinta segi tiga?, apa-apaan?.
"Tidak." Itachi menjawab singkat, tidak sabar menanti penjelasan Haruko.
"Ok, begini. Jadi Naruto-sama jatuh cinta pada Sakura-san, sedangkan Sakura-san justru menyukai ayahmu padahal ayahmu tidak menyukai Sakura-san." Haruko menerangkan sambil menggambar denah dibatang pohon dengan menggunakan kunai milik Itachi yang tadi tertancap disana. Dia menggambar 3 titik kecil yang disebutkannya sebagai titik Naruto, Sakura dan Sasuke, kemudian menggambar panah lurus sesuai perasaan mereka, Naruto panah Sakura panah Sasuke.
'lalu apa hubungannya dengan Hinata Hyuga kalau begitu?' Itachi memicingkan mata, bergumam dalam hati.
"Lalu ada bibiku, Hinata Hyuga, yang mencintai Naruto-sama, sehingga terciptalah sebuah cinta segi empat." Haruko kembali menggambar titik dan panah didenahnya, kemudian dia terdiam memandang denah yang digambarnya sendiri.
"Atau mungkin lebih tepatnya cinta garis lurus." Haruko mengoreksi dirinya sendiri ketika menyadari yang di gambarnya bukan sebuah segi empat tapi rangka segi empat yang tidak bertemu di titik Sasuke dan Hinata.
"Karena ayahmu tidak menyukai bibiku." Haruko berujar pada dirinya sendiri sambil menggambar ulang denahnya membentuk garis lurus bukan titik empat sudut.
"Sampai disini apa kau paham?." Haruko bak seorang guru yang mengajari muridnya, Itachi hanya mengangguk tidak sabar, kata-kata pelan Haruko 'ayahmu tidak menyukai bibiku' justru yang paling menangkap perhatiannya, itu semakin mengikis teorinya tentang Hinata.
"Bibi Hinata sangat mencintai Naruto-sama, dia sudah melakukan banyak hal untuknya, sehingga mungkin itulah yang membuat Naruto-sama ingin membalas perasaannya dan berusaha melupakan cintanya pada Sakura-san. Tapi di sisi lain Sakura-san juga sudah membalas perasaan Naruto-sama. Kedua orang ini sepertinya saling memendam perasaan masing-masing tanpa mengungkapkannya, Naruto-sama berpikir kalau Sakura-san masih mencintai ayahmu sedangkan Sakura-san diam saja karena tidak ingin mengganggu hubungan Naruto-sama dan bibi Hinata. Dan bibiku, entah bagaimana caranya mengetahui itu, tapi dia diam saja karena dia menginginkan Naruto-sama bersamanya, jadi dia juga berpura-pura tidak tahu. " Haruko menjelaskan perlahan-lahan sambil menggambar lebih banyak lagi garis di denahnya yang sekarang terlihat tidak karuan, Itachi melongo mendengarkan, berusaha mencerna informasi yang baru saja didengarnya, sekarang dia sudah mengerti maksud dari sandiwara yang membuatnya bingung tadi.
"Tapi pelan-pelan bibi Hinata justru malah merasa sedih dan sakit hati, dia merasa bersalah dan berdosa karena diam saja. Dia tidak penah yakin kalau Naruto-sama mencintainya dengan tulus dan tidak dibuat-buat, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengakhirinya, dia ingin mengatakan semua kebenaran yang diketahuinya." Haruko meraih kertas kedua yang dipegang Itachi menyisakan lembar terakhir dihadapan Itachi. Tulisan dikertas itu terlihat ditulis oleh orang yang sama, hanya saja terlihat tidak rapi, seperti ditulis dalam keadaan terburu-buru namun masih tetap bisa dibaca.
"Ibuku bilang bibi Hinata pergi menjalankan sebuah misi dalam keadaan terburu-buru setelah menulis lembar terakhir itu. Dan sepertinya dia tidak penah kembali untuk bisa mengatakan apa yang ingin disampaikannya pada Sakura-san dan Naruto-sama." Haruko menjelaskan ketika Itachi membaca lembar terakhir itu.
"Sepertinya?." Itachi mengernyit, 'kenapa gadis ini tidak yakin?'.
"Ya, aku tidak tahu dengan pasti. Ibuku selalu mengatakan kalau bibi Hinata terbunuh ketika menjalankan sebuah misi, jadi ku asumsikan kalau dia meninggaal ketika melaksanakan misi itu, memangnya apa lagi yang bisa menghalanginya untuk mengatakan yang sebenarnnya pada Naruto-sama dan Sakura-chan, ketika dia sudah benar-benar yakin akan memberi tahu mereka ketika dia pulang dari menjalankan misi. Apa lagi sampai sekarang Naruto-sama dan Sakura-san masih melajang, jadi ku pikir mereka tidak pernah tahu fakta itu sampai sekarang, dan meskipun mereka tahu mungkin mereka tidak ingin bersama karena mereka akan merasa bersalah pada bibiku kalau itu terjadi. Seandainya mereka tahu bibiku mengharapkan mereka bahagia bersama mungkin saat ini situasinya akan berbeda." Haruko berwajah sedih.
"Bibi Hinata adalah orang yang tulus dan baik, dia tidak pernah mengingikan orang lain menderita karena dia. Jadi sekarang ini aku ingin membantu bibi Hinata untuk mengatakan kepada Naruto-sama, kalau bibi Hinata ingin dia bahagia, meskipun tidak bersamanya, dia ingin Naruto-sama bahagia." Haruko menyelesaikan ceritanya lalu berpaling menatap Itachi.
"Jadi Itachi-kun, apa kau mau membantuku?."
Itachi menatap lekat Haruko, Itachi sedikit kecewa ketika dia berpikir, jelas sudah kalau Hinata memang bukan ibunya karena Hinata jelas-jelas mencintai Naruto dan belum lagi mungkin wanita itu sudah meninggal bahkan sebelum Itachi dilahirkan. Tapi bagaimana pun juga Itachi masih terus saja penasaran tentang kisah wanita ini.
"Baiklah." Itachi tersenyum kearah Haruko yang tengah menatapnya penuh harap.
.
.
.
Naruto terdiam menatap bosan gulungan-gulungan tugas yang harus diselesaikannya, setelah bekerja hampir seharian tanpa istirahat akhirnya gulungan-gulungan yang belum selesai tinggal sedikit lagi, ada 5 gulungan yang masih tergeletak menunggu tindakan di atas mejanya. Memutuskan untuk melanjutkannya esok hari Naruto beranjak dari tempat duduknya, dia meregangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk sambil menatap hangat kearah Desa Konoha nya tercinta yang sekarang sedang dihiasi warna lembayung senja. Tidak terasa sudah hampir 11 tahun dia memimpin desa ini, pahit dan manisnya posisi Hokage sudah dikecapnya, pandangan-pandangan tidak yakin dari para tetua pernah diterimanya ketika dia menjabat diusia yang masih sangat muda. Dia sudah banyak menumpahkan darah, air mata dan keringat untuk desa ini, tempat tinggalnya, rumahnya, dia sudah memutuskan untuk mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Konoha.
"Tok…tok..tok…", suara ketukan dipintu membuyarkan lamunan Naruto.
"Naruto-sama, Itachi dan Haruko-sama ingin menemui anda, apa anda punya waktu?." Shion menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Naruto terdiam sejenak, bertanya-tanya didalam hati apa yang diinginkan kedua anak ini, dan kenapa mereka bisa berdua saja, kalau sampai Hanabi tahu maka akan gawat.
"Ijikan mereka masuk." Naruto berseru , sebelum otaknya membuatnya berspekulasi macam-macam.
Naruto diam berdiri di depan mejanya menunggu kedua anak itu sampai di ruangannya, pikirannya tidak henti-hentinya memperkirakan kemungkinan apa saja yang membuat mereka ingin menemuinya.
'Apa Haruko tahu sesuatu tentang rahasia mereka?,
'Apa Hanabi memberitahu Haruko?',
'Apa Haruko memberi tahu Itachi sesuatu?',
'Apa dia sudah tahu tentang Ibunya?'.
Pikiran-pikiran itu membuatnya tidak bisa berdiri tenang dan menunggu, bayangan tentang apa yang akan dilakukan Hanabi kalau dia mengetahuinya membuat Naruto semakin gelisah. Beberapa saat setelah Shion menghilang, sekarang dua kepala sedang mengintip dari balik pintu, seandainya sekarang Naruto tidak sedang tegang mungkin dia akan menjahili kedua anak yang terlihat takut-takut mengintip kedalam ruangannya.
"Itachi, Haruko, masuklah." Naruto berucap nyaring agar kedua anak itu bisa mendengarnya.
Perlahan-lahan Itachi mulai menunjukkan wajahnya pada Naruto diikuti oleh Haruko di belakangnya. Itachi terlihat tidak enak karena mengganggunya sedangkan Haruko terlihat canggung, Naruto mengamati gerak-gerik mereka, Itachi dan Haruko bertukar pandang.
"Selamat sore paman Naruto!." Itachi menyapanya sambil menutup pintu di belakangnya, sedangkan Haruko membungkuk sopan kearahnya.
"Sore Itachi, Haruko-chan." Naruto tersenyum manis kearah Itachi lalu mengedipkan mata pada Haruko, membuat Haruko tersenyum geli. Naruto berjalan dan duduk di sofa tamu di ruangannya, kemudian mengisyaratkan kedua anak itu untuk duduk di sampingnya, Itachi langsung berjalan dan duduk di sisi Naruto tanpa canggung, Naruto mengacak-acak sayang rambut Itachi sambil tertawa, sudah hampir seminggu sejak terakhir kali dia bertemu dengan putra sahabatnya itu.
"Ada apa?." Naruto bertanya pada Itachi. Itachi menatap Haruko yang masih berdiri canggung di depan pintu.
"Haruko ingin mengatakan sesuatu pada paman." Itachi berkata sambil memberi isyarat pada Haruko untuk duduk di sofa bersamanya dan Naruto.
"Ne… apa yang bisa ku bantu Haruko-chan?." Naruto menatap Haruko yang tengah berjalan mendekat kearahnya, Itachi memberikan ruang untuknya agar bisa duduk di sebelah Naruto.
"Hmm… apa kami mengganggumu Naruto-sama?." Haruko berkata sopan pada Naruto.
"Tidak,… tugasku sudah selesai beberapa menit yang lalu." Naruto menerangkan, meskipun belum benar-benar selesai tapi dia sudah menganggapnya selesai untuk hari ini.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan, hmm?." Naruto berujar penasaran, kegelisahan masih menggelayuti hatinya.
"Sebenarnya saya datang untuk bertanya." Haruko memulai.
"Bertanya tentang apa?." Naruto memandang Haruko dan Itachi bergantian.
"Tantang bibiku Naruto-sama, tentang Hinata Hyuga." Haruko berkata sambil menatap lekat mata Naruto, dadanya berdegub kencang sekali mendenggar ucapan Haruko, dia langsung menatap wajah Itachi. Namun Itachi tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia tegang ataupun gugup yang mana pasti akan dialaminya jika ini memang tentang hal yang ditakutkan oleh Naruto, Naruto terus mencoba bersikap tenang karena sejauh ini Itachi tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Sementara itu Haruko terus memperhatikan wajah terkejut Naruto dalam diam, dan Itachi juga diam memperhatikan dua orang di sisinya, tidak menyadari keterkejutan Naruto.
"Apa yang ingin kau tanyakan tentang Hinata?." Setelah berdiam diri cukup lama Naruto akhirnya memberanikan diri untuk menjawab.
"Ne.. Naruto-sama menurutmu bibiku orang yang seperti apa?." Mendengar nada bicara Haruko dan wajah tersenyum Itachi yang seolah menggodanya, akhirnya Naruto menyadari kalau ini mungkin bukanlah tentang hal yang ditakutkannya. Perlahan senyum mulai terbentuk di bibirnya, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa membuat dirinya santai, dengan mata yang seolah menerawang dia memulai kalimatnya,
"Dia adalah seorang gadis yang memiliki senyum yang indah…." Naruto mengingat senyum hangat Hinata yang ditujukan padanya.
"Seorang gadis kuat yang berhati lembut, baik hati dan menyayangi semua orang, dia adalah seorang gadis yang luar biasa." Kemudian dia terdiam, terhanyut dalam kenangan-kenangan masa lalu bersama Hinata, sebelum kemudian wajahnya berubah menjadi sedih, Haruko yang menyadari hal itu buru-buru menyelanya.
"Saya tahu kalau dia adalah seorang wanita yang luar biasa. Lalu?." Mendengar itu Naruto tersenyum lebar, mengetahui tebakannya mengenai kemana maksud percakapan ini ternyata benar. Ini semua memang benar bukan tentang rahasia besar yang disembunyikan dari Itachi.
"Kalau ku katakan wanita luar biasa ini jatuh cinta padaku apa kau percaya?." Naruto berkata sambil tertawa, dia bercanda seolah berbangga diri pada Haruko, kemudian melirik Itachi yang hanya tersenyum diam mendengarkan.
"Aku percaya," Haruko mengangguk yakin, kemudian tersenyum pada Naruto. Sekarang Naruto benar-benar paham kalau ini semua adalah tentang seorang keponakan yang penasaran pada kisah cinta bibi yang disayanginya. Dia mengangguk perlahan, kemudian kembali masuk kedalam kenangannya.
"Hinata melakukan sangat banyak hal untukku, dia selalu tersenyum dan memberi semangat. Kata-kata penyemangat yang diucapkannya selalu bisa membuatku kembali berdiri mantap di atas kakiku lalu melangkah maju. Dan dia bahkan tidak berpikir dua kali untuk mengorbankan nyawanya demi hidupku." Naruto berkata sambil menatap langit-langit ruangan seolah kilas balik masa lalunya sedang diputar di sana.
"Tapi aku adalah seorang laki-laki bodoh dan tidak peka," Naruto tertawa miris ke arah Itachi dan Haruko, setelah diam sejenak Naruto kembali melanjutkan ceritanya.
"Hubunganku dan Hinata berjalan sangat perlahan, setelah perang berakhir kami jarang bertemu karena kami semua sibuk, terkadang kami bahkan hanya bisa tersenyum satu sama lain dari seberang jalan ketika kami berpapasan. Seiring berjalannya waktu hubungan kami mulai mendekat sebagai seorang sahabat, kami berusaha mengenal satu sama lain lebih dalam lagi dengan perlahan-lahan. Hinata adalah gadis berhati hangat, bersamanya pasti bisa membuat siapa saja merasa nyaman dan diterima apa adanya, tidak peduli kau hitam atau putih, tinggi atau pendek, tampan atau jelek, dia tidak perduli kau itu apa, dia membuatmu merasa diterima dengan hanya siapa dirimu."
"Sikapnya itu lah yang membuat dia sangat disukai, meskipun dia adalah seorang calon pemimpin Hyuga tapi dia selalu bersikap ramah pada siapa saja. Hinata adalah seorang gadis yang kuat, namun sikapnya yang lembut dan terkesan rapuh membuat banyak laki-laki berlomba untuk ingin menjadi pelindungnya. Kalian tahu, itu membuatku kesal…" Naruto tertawa pelan, Itachi dan Haruko diam mendengarkan. Mendengar penuturan itu Itachi ragu kalau Naruto tidak mencintai Hinata, saat ini dia seakan mendengar seorang kekasih yang sedang bercerita tentang kekasih yang sangat dicintainya. Disisi lain Haruko sedang menggigit bibir, tapi bibi Hinatanya tidak mungkin salah kan?.
"Banyak sekali Shinobi laki-laki yang berusaha mendekatinya, dan hal itu membuatku tersadar kalau aku tidak ingin dia diambil orang lain. Senyumnya yang hangat itu, kasih sayangnya, keramahannya, aku ingin memiliki semuanya hanya untuku." Naruto mencurahkan isi hatinya lupa kalau saat ini dia sedang bercerita pada anak berumur 11 dan 13 tahun.
"Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padanya, kami begitu bahagia bersama." Naruto tersenyum lebar sebelum wajahnya tiba-tiba berubah muram.
"Sampai, ketika dia …", Naruto melanjutkan kalimatnya di dalam hati 'melihat semua itu'. Naruto terdiam dengan kening berkerut seolah menahan rasa sakit.
"Ketika bibi Hinata pergi terburu-buru untuk menjalankan sebuah misi? Dan… tidak pernah kembali?, sampai ketika bibi Hinata …. meninggal dalam misi itu?." Haruko bertanya namun justru terdengar seperti dia menyatakannya pada Naruto.
'Jadi itu yang dikatakan Hanabi pada Haruko tentang kematian Hinata.' Naruto bergumam di dalam hati sambil menatap Haruko dan Itachi, Naruto mengangguk mengiyakan tidak ingin merusak cerita Hanabi.
"Ketika dia pergi dan tidak pernah kembali." Naruto berkata sambil memandang menerawang melewati jendela kaca besar kearah dermaga Konoha, dia tidak sepenuhnya berbohong, meskipun Hinata kembali ke Konoha dengan selamat dari misi itu, namun dia memang tidak pernah kembali ke sisinya. Melihat wajah sedih Naruto, Itachi juga jadi ikut merasa sedih, sekarang dia paham kenapa Naruto tidak pernah menyinggung tentang Hinata selama ini, karena sepertinya mengingat tentang ini membuatnya merasa sedih.
"Apa anda mencintai bibi Hinata?." Haruko sekarang tidak yakin dengan apa yang dipercayainya selama ini.
"Ya…aku mencintainya." Naruto berkata yakin, sambil tersenyum sedih kearah Haruko.
"Tapi bagaimana dengan Sakura-san?, Anda mencintanya kan Naruto-sama!." Haruko sekarang kebingungan sendiri. Naruto terdiam kaget mendengar kata-kata Haruko, dari mana dia tahu tentang itu, Naruto tidak tahu harus berkata apa. Haruko dengan wajah kebingungannya mengeluarkan amplop ungu berisi catatan harian Hinata lalu menyerahkannya pada Naruto yang masih terdiam kaget.
"Itu adalah catatan dari buku harian bibi Hinta, saya ingin anda membacanya." Setelah Naruto menyambut amplop itu Haruko segera berdiri dan membungkuk.
"Kalau begitu saya undur diri Naruto-sama." kemudian beranjak kearah pintu. Itachi pun juga segera undur diri pada Naruto untuk menyusul Haruko, dia ingin memberi waktu sendiri untuk Paman kesayangannya itu. Tapi sebelum Haruko membuka pintu dia berhenti lalu berbalik menatap Naruto lagi.
"Bibi Hinata ingin anda bahagia Naruto-sama." Setelah mengucapkan itu Haruko segera pergi diikuti oleh Itachi.
Didalam ruangan Naruto masih terdiam sendirian, dia menatap lekat amplop di dalam genggamannya. Terdiam sambil perlahan membuka amplop dan membaca isinya. Setiap untaian kata yang tertulis disana seolah menggali lagi luka lama yang selama ini berusaha ditimbunnya, rasa bersalah, penyeselan, dan rasa sakit karena kehilangan kembali menyeruak kepermukaan. Meskipun dia sudah mendengar sendiri kata maaf dari bibir Hinata ketika itu, tidak membuat hatinya terasa nyaman ketika membaca tulisan itu, dia tidak menyadari kalau dulu Hinata ternyata begitu terluka.
'Naruto-kun, Sakura-chan tolong berhentilah meminta maaf, aku sudah tahu semuanya jauh sebelum ini semua terjadi. Percayalah padaku, seharusnya aku lah yang meminta maaf karena telah berpura-pura tidak tahu. Seharusnya kalian memang bersama, tolong jangan merasa tidak enak padaku, aku tidak apa-apa. Aku akan ikut bahagia untuk kalian, percayalah.' Hinata mengatakannya sambil tersenyum lembut kearah Sakura dan Naruto yang hanya terdiam menatap wajah manis gadis itu.
Segala kekacauan yang terjadi dihidup Hinata setelah itu membuat Naruto dan Sakura tidak bisa lagi menatap wajah masing-masing, rasa bersalah menggelayuti mereka berdua. Sedangkan Hinata terus saja menghindar dan menjauh dari Naruto, tidak ingin ikut menyeret calon Hokage itu dalam kekacauan dihidupnya. Jika seseorang bertanya pada Naruto apakah dia mencintai Sakura, maka dia kan menjawab dengan lantang dan tegas kalau dia memang mencintai Sakura dengan segenap serat ditubuhnya. Tapi dia juga sangat mencintai dan menyayangi Hinata, cintanya untuk Sakura berbeda dengan cintanya untuk Hinata, cintanya pada Sakura sangat dalam dan teguh, dia rela melepaskan Sakura untuk orang lain jika itu bisa membuatnya bahagia, dia akan ikut bahagia asal Sakura bahagia. Sedangkan perasaannya pada Hinata begitu mentah dan lugas, dia ingin memilikinya untuk dirinya sendiri, senyum itu, wajah itu, suara itu, kasih sayang itu, kilatan dimatanya, segala sesuatunya dia tidak akan bisa merelakan untuk orang lain. Tapi jika dia diminta untuk memilih salah satunya, yang mana yang lebih dia cintai maka dia akan lebih senang untuk membunuh dirinya sendiri.
.
.
.
Haruko dan Itachi berjalan bersisian diperjalanan pulang dari Kantor Hokage, suara air mengalir berderu lembut dari arah sungai disisi kiri jalan yang mereka lintasi. Setelah berjalan dalam diam untuk beberapa saat, Itachi melirik Haruko yang berjalan tertunduk di sisinya, Haruko yang sedari tadi tertunduk memalingkan wajahnya sehingga pandangan mereka bertemu, Itachi tersenyum kearah Haruko yang wajahnya terlihat khawatir.
"Itachi-kun?. Apa selama ini bibi Hinata ternyata salah menduga?." Dia terlihat benar-benar perlu dukungan saat ini, keyakinannya akan keyakinan Hinata selama ini seolah terpatahkan ketika dia menemui Naruto tadi. Naruto tidak nampak seperti seseorang yang tengah bersandiwara ketika dia bercerita tentang Hinata, keyakinannya ketika mengatakan dia mencintai Hinata juga tidak kalah pasti.
"Bagaimana kalau selama ini bibi Hinata hanya salah menduga?, bagaimana kalau semua ini ternyata adalah sebuah kesalahpahaman besar?"
"Berarti bibi Hinata bersedih untuk hal yang tidak benar. Padahal Naruto-sama memang mencintainya." Haruko berujar lirih hampir menangis. Hal itu membuat Itachi panik.
"Apa kau mau mendengar pendapatku Haruko-chan?." Itachi berucap pelan pada Haruko, Haruko mendongak kemudian mengangguk. Saat ini dia memerlukan pikiran logis apapun yang bisa membuatnya tenang.
"Menurutku Hinata-san tidak salah menduga, dan kau tidak salah menganalisis."
"Paman Naruto mungkin telah jatuh cinta pada 2 orang gadis, 2 orang gadis yang sangat berarti dihidupnya. Menurutku kenapa sampai saat ini Paman Naruto masih tidak bersama dengan bibi Sakura adalalah karena sampai saat ini dia masih belum bisa memilih salah satunya."
"Tapi bibi Hinata kan sudah meninggal?."
"Dia memang sudah meninggal tapi belum tentu cinta Paman Naruto untuknya juga mati kan?."
"Menurutku itu hanyalah rasa bersalah bukan cinta." Haruko bersikeras, meskipun dihatinya dia ingin diyakinkan.
"Mungkin itu memang keduanya, cinta dan rasa bersalah. Jadi menurutku kau sudah melakukan hal yang benar." Itachi tersenyum meyakinkan Haruko, gadis itu terpana lagi melihat senyum itu, dia memalingkan wajahnya yang pelan-pelan memerah dari wajah Itachi.
"Terimakasih Itachi-kun." Cicitnya pelan.
"Bukan apa-apa, aku senang bisa mengetahui semua ini. Sejujurnya aku sangat penasaran dengan bibi Hinata mu ini." Itachi berucap jujur, dia senang bisa mengetahui kisah tentang hidup wanita ini, entah mengapa dia merasa dekat dengannya.
"Kenapa?." Haruko memicingkan mata.
"Entahlah, mungkin sekarang aku adalah penggemarnya!." Itachi terkekeh dengan kata-katanya sendiri, Haruko jadi ikut tersenyum juga.
"Heh, padahal kau hanya membaca 3 lembar buku hariannya saja. Seandainya kau membaca semua buku hariannya, aku yakin kau akan benar-benar menjadi penggemar beratnya Itachi-kun." Haruko juga ikut tertawa pelan.
"Bibimu juga Rookie 12 kan?." Itachi memulai, dijawab oleh anggukan oleh Haruko.
"Jadi…. dia juga kenal dengan ayahku kan?. Apa dia pernah menulis… hmm…. sesuatu tentangnya?." Itachi bertanya ragu-ragu, semuanya memang mungkin sudah jelas kalau dugaannya salah, tapi tetap saja dia penasaran.
"Hmmmm…..iya…pernah," Haruko mengingat-ingat.
"Tapi tidak terlalu sering, tidak seperti Rookie 12 lainnya. Kupikir mereka tidak terlalu dekat Itachi-kun." Haruko berujar dengan tatapan seolah tidak enak, Itachi yang mendengar itu hanya mengangguk-angguk entah kenapa dia sedikit kecewa mendengarnya.
"Mereka sepertinya hanya sebatas menyapa dan berbasa-basi satu sama lain, terlebih lagi setelah mereka menjalankan misi bersama waktu itu." Haruko menggigit bibir seolah menyesal mengatakan kalimat terakhirnya, Itachi yang melihat itu jadi penasaran.
"Kenapa?, memangnya apa yang terjadi ketika misi itu?." Itachi mencecar Haruko dengan pertanyaan, Haruko tersenyum tidak enak.
"Bibi Hinata tidak menulis detail kejadian dimisi itu, tapi dia menulis Uchiha-san membuatnya merasa tertekan dan terintimidasi sepanjang misi. Setelah misi itu bibi Hinata merasa kalau Uchiha-san membencinya , bibi Hinata merasa kalau dia sudah mengatakan sesuatu yang membuat ayahmu marah padanya, jadi bibi Hinata sangat ingin minta maaf , tapi… tidak berani."
"Kenapa tidak berani?." Itachi berucap kecewa dengan senyum pahit, hal ini membuatnya benar-benar mengubur dalam-dalam teorinya tentang Hinata adalah ibunya.
"Karena Uchiha-san selalu mendelik pada bibi Hinata tiap kali bibi Hinata melihat kearahnya." Haruko benar-benar merasa tidak enak mengatakan ini pada Itachi, dia seperti sedang mengadukan kelakuan buruk seorang ayah pada anaknya. Kening Itachi mengernyit, sesaat kemudian dia malah tertawa, dia merasa lucu setelah mendengar kalau Hinata takut pada ayahnya karena ayahnya terus saja mendelik pada wanita malang itu. Mendengar tawa Itachi, Haruko juga jadi bisa melihat kelucuan dari hal itu.
"Ne.. Haruko-chan sepertinya aku harus minta maaf pada bibimu karena perbuatan ayahku." Itachi masih terkekeh, dia tahu betul sifat ayahnya yang dingin pada semua orang.
"Dia memang seperti itu…" Itachi menambahkan.
"Bibi Hinata tidak marah padanya." Haruko menggeleng.
"Hmm….. apa kau tahu kalau ayahmu pernah meninggalkan Konoha?." Haruko bertanya takut-takut.
"Tahu…" Itachi mengangguk, bukan hanya sekali, dia bahkan meninggalkan Konoha sebanyak dua kali, Itachi tahu itu. Tapi sepertinya yang dimaksud oleh Haruko saat ini adalah kepergiannya yang kedua mengingat tidak ada kata Missing nin dan criminal mengikuti dibelakangnya.
"Di buku hariannya bibi Hinata menulis kalau dia menyayangkan hal itu, menurutnya dibalik sikap ayahmu yang dingin pada semua orang dia sebenarnya adalah seseorang yang kesepian. Semua rasa sakit yang dilewatinya membuatnya tidak bisa lagi mempercayai Konoha, membuatnya tidak ingin lagi mempercayai dan membuat ikatan dengan orang lain." Haruko berkata lancar tanpa memperdulikan wajah Itachi yang terkejut mendengar penuturannya.
"Ikatan yang dimilikinya dengan Naruto-sama dan Sakura-san kuat dan rapuh di saat yang bersamaan, mereka ingin menerima Uchiha-san seperti sedia kala namun dinding yang seolah dibuat ayahmu di sekitarnya membuat mereka sedikit ragu. Bibi Hinata berpikir seandainya saja Uchiha-san mau mencoba untuk memaafkan Konoha dan membuat ikatan dengan orang lain, serta mencoba memberikan kebahagiaan kepada dirinya sendiri, bukan malah mendorong pergi semua orang yang mencoba meruntuhkan dinding yang dia buat dan memilih untuk memendam kesedihan dan perasaannya sendirian. Menurutnya meninggalkan Konoha justru membuat Uchiha-san kehilangan ikatan terakhir yang dimilikinya. Bibi Hinata mencoba mengatakan itu pada ayahmu tapi dia justru menerima kemarahan darinya, Uchiha-san terus saja mendelik padanya setiap kali ada kesem….." Haruko tiba-tiba terdiam seolah baru sadar dengan apa yang telah dikatakannya, dia menggigit bibirnya sambil merutuk didalam hati, dia menyesali semua yang dikatakannya pada Itachi, dia benar-benar sudah lancang dan tidak sopan, tanpa sadar mungkin dia sudah menyinggung Itachi, bagaimana ini?, perlahan Haruko memalingkan wajahnya untuk melihat reaksi Itachi, betapa terkejutnya dia ketika melihat Itachi justru tengah tersenyum kecil kearahnya, sepertinya menunggu Haruko menyelesaikan ceritanya.
"Tapi seandainya bibi Hinata sekarang ada disini, dia pasti terkejut ketika mengetahui ayahmu sekarang sudah kembali ke Konoha. Dia bahkan memiliki ikatan yang sangat baik dan kuat dengan orang-orang di sekelilingnya, terlebih lagi menurutku ayahmu sudah memiliki kebahagiaan, karena dia sudah memilikimu di sisinya, sekarang dia tidak lagi sendirian. Iya kan Itachi-kun?." Haruko menawarkan senyum manisnya kepada Itachi. Itachi mengangguk sambil tersenyum lebar kearah Haruko, hatinya terasa hangat saat mendengarnya, Hinata Hyuga adalah seorang wanita yang bisa membaca perasaan orang lain dengan sangat baik, benar-benar tipe orang yang diinginkan Itachi sebagai ibunya.
Dikejauhan seorang gadis Yamanaka berambut pirang memperhatikan dengan seksama Itachi dan Haruko yang tengah berjalan sambil berbicara antusias satu sama lain.
'Mereka serasi…' dia berujar dalam hati.
"Eri…" Shikamaru Nara menegur keponakan istrinya yang tengah tertegun disisinya.
"Apa kau baik-baik saja?." Shikamaru bertanya khawatir.
"Iya…aku baik-baik saja paman." Eri mendongak menatap pamannya itu dengan senyum lebar, Shikamaru yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
"Karena malam ini aku menginap dirumah paman, maka aku akan mengganggu Shikaku terus, dia tidak akan kubiarkan tenang." Eri tertawa, tapi Shikamaru tahu kalau gadis ini tidak sedang baik-baik saja. Shikamaru baru saja menerima kabar terbaru tentang kedua orang tua Eri yang menghilang tanpa jejak ketika menjalankan misi mereka. Sampai sekarang setelah 3 minggu, pencarian masih belum menunjukkan hasil dan beberapa saat yang lalu Shikamaru memutuskan untuk tidak menutup-nutupinya lagi dari Eri, gadis 11 tahun itu dia paksa untuk menerima kenyataan terburuk kalau orang tuanya mungkin sudah tidak bisa lagi diharapkan akan ditemukan dalam keadaan selamat. Diluar dugaannya Eri tidak menangis, dia hanya diam dan mengangguk. Saat Shikamaru meminta Eri mengemasi barang-barangnya untuk tinggal bersama denganya , Eri menggeleng hebat, kemudian bekata,
'Aku akan menunggu mereka paman, meskipun paman bilang sudah hampir tidak ada lagi harapan, tapi itu kan masih hampir, berarti masih ada sedikit lagi harapan yang tersisa iya kan?, selama pencarian masih dilakukan aku akan terus menunggu mereka.' Haruko berujar mantap.
'Lagi pula ibu akan marah kalau saat dia kembali nanti rumah berdebu dan tidak terurus. Aku tidak mau dimarahi ibu.' Haruko bergidik ngeri sambil tersenyum tapi air matanya mengalir perlahan.
'Aku tidak mau… paman.'
Seorang gadis bermata amethyst duduk diam bersandar istirahat dibawah sebatang pohon rindang, beristirahat sejenak setelah berjam-jam berlari melintasi hutan lebat di perbatasan antara Negara Api dan Negara Air, tidak jauh dari tempatnya duduk seorang pemuda juga tengah bersandar disebatang pohon, pemuda itu menutup matanya seakan tidur sambil memeluk Katana dihadapannya, meskipun tampilannya sangat tenang dan santai tapi sebenarnya dia siap bertarung kapan saja, seseorang yang berani mengagetkannya saat in pasti akan kehilangan kepala. Hinata Hyuga dan Sasuke Uchiha saat ini sedang menjalankan sebuah misi untuk menangkap perampok berbahaya yang beroperasi diperbatasan kedua negara besar, Negara Api dan Negara Air. Mizukage Negara Air meminta bantuan Konoha untuk ikut mengatasi masalah ini, menurut apa yang dituturkan sang Mizukage disuratnya perampok-perampok ini adalah missing nin pengguna genjutsu, beberapa korban mereka yang berhasil lolos kembali dalam keadaan sekarat dan gila, Mizukage belum bisa mengetahui jenis genjutsu apa yang mereka gunakan karena sampai saat ini mereka belum bisa mendeteksi keberadaan para penjahat ini yang nampaknya bersembunyi dan mengamati dengan sangat lihai. Itulah mengapa seorang Hyuga dari Konoha sangat diperlukan untuk melacak keberadaan para missing nin ini, dan tentunya siapa lagi yang lebih cocok untuk menghadapi misi ini selain seorang pengguna genjutsu seperti Sasuke Uchiha, mereka berdua dinilai menjadi yang paling cocok untuk menuntaskan misi ini.
Hinata meregangkan kakinya yang lelah sambil terus siaga mengamati hutan disekelilingnya, perjalanannya selama hampir 8 jam berlari dilewati dalam diam, tenggorokannya terasa kering kerana tidak digunakan sejak meninggalkan Konoha. Satu-satunya pembicaraan mereka selama 8 jam ini adalah ketika Sasuke mengatakan agar mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan dan satu-satunya yang Hinata lakukan adalah mengangguk mengiyakan, itu bahkan tidak bisa disebut sebagai pembicaraan. Sasuke bukan tipe orang yang akan membuka pembicaran dan begitu juga dengan Hinata. Sasuke sama sekali tidak keberatan akan kediaman yang menyelimuti mereka, dia bahkan senang tidak perlu mendengar ocehan membosankan dari rekannya, disisi lain, kediaman ini justru membuat Hinata merasa ingin memulai pembicaraan dengan sang Uchiha. Hinata melirik kearah Sasuke, memperhatikan wajah diam pemuda itu, mata rembulannya memendam kekhawatiran, pembicaraan Sasuke dan Tsunade yang tidak sengaja didengarnya tadi pagi terus saja mengganggu pikirannya. Tanpa sengaja dia telah mendengar permintaan Sasuke untuk pergi meninggalkan Konoha,
Flashback on Flashback
'Aku ingin pergi dari Konoha.' Langkah Hinata menuju ruang Hokage terhenti ketika mendengar suara khas sang Uchiha.
'Rupanya kau masih belum bosan dengan pembicaraan ini bocah.' Tsunade terdengar berujar bosan, seolah dia sudah lelah membahas masalah ini dengan Sasuke.
'Aku sudah menuruti semua kemauan kalian.', Sasuke terdengar menghela napas berat.
'Aku mengijinkan kalian mengurungku seperti binatang, aku juga sudah mengijinkan kalian menyegel keningku agar kalian merasa aman, aku juga sudah menjalankan semua misi yang kalian berikan padaku. Tidak bisakah kalian membebaskanku?. Aku muak berada disini.' Kata-kata itu terdengar diucapkan dengan tenang namun penuh kebencian.
'Segel dikeningmu sudah dilepaskan, apa kau sadar apa artinya itu?. Itu artinya kau sudah memperoleh kembali kepercayaan, apa kau tahu?.' Suara Tsunade terdengar tenang dan yakin.
'Persetan dengan kepercayaan. Yang ku inginkan hanyalah kebebasan.' Sasuke terdengar mendengus kesal.
'Sasuke,…. Berpikirlah sekali lagi apa benar ini yang kau inginkan. Aku memohon padamu demi Naruto dan Sakura, pikirkan lagi matang-matang permintaanmu ini.'
Tidak ada jawaban hanya kesunyian yang menegangkan.
'Setelah kau sudah benar-benar berpikir, baru kau datang lagi padaku. Aku akan memikirkannya setelah itu.'
End Flashback on Flashback
Hinata memutuskan mengetuk pintu sesaat setelah tidak lagi terdengar suara perbincangan di ruangan itu. Dia berusaha besikap seolah dia tidak pernah mendengar hal itu. Namun hal itu terus saja mengganggu pikirannya, bagaimana reaksi Naruto dan Sakura kalau mengetahui Sasuke ingin pergi lagi dari Konoha?. Sakura pasti sedih, sedangkan Naruto, Hinata tidak bisa membayangkan seperti apa kekecewaan yang akan dirasakan oleh Naruto kalau itu benar-benar terjadi. Selama ini Naruto adalah orang yang paling senang dengan kembalinya Sasuke ke desa, senyum bodoh tidak pernah meninggalkan wajahnya, dia merasa lengkap dan bahagia saat Sasuke kembali dan bersama lagi dengannya, dia berusaha keras membangun kembali ikatan dengan sahabat tersayangnya itu meskipun kerap berakhir dengan luka lebam disana-sini, dia bahkan rela menjadikan kepalanya sendiri sebagai jaminan atas prilaku Sasuke, Hinata tidak habis pikir apa lagi yang diinginkan oleh Uchiha ini. Tidak bisa kah dia melihat pengorbanan teman-temannya selama ini untuknya?.
Hinata terkejut hebat ketika mata Onix itu membuka seketika menatap tepat ke matanya, dia tertangkap basah. Mata itu menatapnya dengat tatapan tajam seolah menantangnya, jantung Hinata berdegup kencang, takut dan malu adalah sedikit dari perasaan yang saat ini dia rasakan.
"Kenapa?." Tanpa dia inginkan sebelumnya, tiba-tiba kata-kata itulah yang meluncur dari bibir Hinata saat menatap wajah dingin dihadapannya. Wajah tampan lawan bicaranya terlihat menampakkan kebingungan yang samar.
"Kenapa kau ingin meninggalkan Konoha?." Hinata tidak tahu dari mana datangnya keberanian itu, ini sama sekali tidak seperti Hinata yang biasanya. Mendengar itu tatapan Sasuke semakin tajam kepada Hinata.
"Bukan urusanmu." Sasuke berucap kasar sambil membuang muka, tapi Hinata tidak mau tinggal diam, dia kembali meracau.
"Sasuke-san, harusnya kau menghargai semua pengorbanan yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang menyayangimu, harusnya kau bersyukur karena telah diberikan kesempatan kedua, Konoha sudah memberikanmu kesepatan untuk menata kembali hidu…."
"Hentikan omong kosongmu sebelum aku mematahkan lehermu Hyuga,…." Sasuke menggeram marah kearah Hinata, mata onixnya kini berkilat merah memandang marah pada Hinata, Hinata menggigit bibir ketakutan.
"Aku sudah muak mendengar kesempatan kedua sialan itu….. Aku tidak ingin mendengar hal itu terlebih lagi dari orang sepertimu." Mulut Hinata terbuka dengan mata membelalak seolah kehabisan napas ketika mendengar nada bicara marah Sasuke. Dia sudah benar-benar melintasi batas, itu lah yang dipikirkan Hinata saat ini, dia menyesal kerana telah menyinggung sang Uchiha, dia ingin menarik kembali kata-katanya namun apa daya cacat sudah terbentuk, Hinata hampir saja menangis, namun indranya mendeteksi adanya pergerakan. Seketika Hinata mengaktifkan Byakugan nya, memandang sekeliling sampai akhirnya dia menemukan sumber pergerakan, melihat itu Sasuke juga ikut waspada, mengesampingkan rasa marah dan geramnya pada gadis itu.
"Dua orang, cakra mereka stabil dan cukup besar, di arah jam dua, mereka berpencar." Hinata berbisik pada Sasuke yang hanya mengangguk ringan, tidak menatap Hinata sedikitpun, kini perhatiannya tertuju kearah yang juga ditatap Hinata, setelah memfokuskan diri akhirnya dia juga bisa merasakan cakra yang dimaksud oleh Hinata.
"Kita juga berpencar, aku kearah kanan dan kau yang kiri." Tidak memberikan kesempatan Hinata untuk bereaksi, Sasuke sudah lenyap menghilang menyongsong lawannya. Tanpa pikir panjang Hinata juga langsung bergerak menuju arah lawannya, setelah dia perhatikan cakra lawan yang dia kejar itu jauh lebih kecil dari cakra yang dikejar Sasuke, kini Hinata benar-benar merasa bersalah pada pemuda itu, sejak kapan dia berubah menjadi gadis yang suka menghakimi orang lain?, Hinata menyesal.
Tanpa dia sadari, seseorang tengah menatap Hinata sambil menyeringai mengerikan dari balik pohon yang baru saja Hinata lewati.
"Kena kau anak manis." Sosok itu tertawa pelan.
Hinata terus berlari kearah cakra yang menguar jauh didepannya, tapi tiba-tiba cakra itu lenyap tanpa jejak. Hinata kaget dan diam terpukau, berdiri diatas sebuah dahan pohon, dengan waspada mengamati sekeliling.
"Kemana dia pergi?." Hinata berkonsentrasi penuh pada byakugan nya.
"Hinata…." Suara yang sangat akrab , menyapa telinganya.
"Hanabi?." Mata Hinata langsung bergerak menuju arah datangnya suara itu, hingga matanya tertuju pada sosok adik tercintanya yang sedang berdiri di bawah pohon yang sedang dia jadikan pijakan itu, Hanabi mendongak kearahnya sambil melambai-lambaikan tangannya menyuruh Hinata untuk turun mendekat padanya.
"Sedang apa kau disini?." Hinata bergegas melompat turun menghampiri sosok Hanabi.
"Ada yang ingin kuperlihatkan padamu,.." Hanabi yang tadi dilihatnya sekarang menggandeng tangannya lalu membimbingnye berjalan kearah semak, Hinata merasa aneh dan bingung, tapi dia tidak bisa berpikir rasional, semakin melangkah Hanabi yang menggandeng tangan di depannya semakin mengecil menjadi sosok Hanabi yang lebih muda hingga tanpa Hinata sadari saat ini dia sedang menggendong Hanabi yang masih bayi dan menangis ditangannya.
"Hinata…" belum sempat Hinata berpikir, panggilan lain menyapanya, suara yang selama ini sangat ia rindukan.
"Ibu…." Hinata kaget melihat sosok ibunda tercintanya tergeletak di atas lantai hutan, Hinata yang linglung langsung menghambur kearahnya.
"Ibu…." Hinata beringsut mendekat kearah wanita yang paling dirindukannya itu.
"Tolong ibu Hinata!." Wanita itu berkata perlahan, kemudian dari perutnya darah mengalir keluar, semakin banyak tiap detiknya, Hinata langsung berusaha menutupi luka menganga yang ada diperut ibunya dengan tangannya.
"Apa yang terjadi?." Hinata yang linglung mulai menangis.
"Ini semua karena kau, kau lah penyebab semua ini,…" Hinata kaget mendengar kata-kata itu, ia kembali menatap wajah ibunya yang kini berurai air mata.
"Kalau kau terlahir kuat aku tidak perlu menderita lagi,…aku tidak perlu… mati …." Air mata yang mengalir dipipi mulus ibunya berubah menjadi darah.
"Seharusnya aku tidak pernah melahirkanmu, seharusnya hanya Hanabi saja yang ku lahirkan. Kau adalah kekeliruan…" wanita yang disebut Hinata ibu itu memekik pilu, darah segar keluar dari mulutnya. Hati Hinata terasa begitu sakit, dia melepaskan tangannya dari wanita itu, terduduk, ia mengeraut berusaha menjauh, dia merasa begitu tidak berdaya, isak tangis terus keluar dari bibirnya.
"Hinata….." Hinata langsung berbalik ketika mendengar suara yang tidak kalah akrabnya.
"Ayah?..." Mata Hinata membulat ketika melihat sosok tubuh tinggi ayahnya berdiri dibelakangnya.
"Kau adalah kekeliruan, seharusnya kau tidak pernah lahir…, mati saja kau…" sebuah pedang menghunus deras kearahnya, Hinata dengan sigap menghindarinya, dia berdiri terpana, kemudian berlari berusaha menghilangkan bayangan kedua orang yang memandangnya dengan tatapan kecewa itu. Ketika ia berlari banyak wajah muncul disekitarnya menatap dengan tatapan kecewa dan mengejek, suara-suara itu terdengar ribut mengatakan segala kelemahannya. Dia cengeng, dia lemah, dia tidak hebat, dia kecil, dia tidak pantas menjadi Hyuga. Wajah-wajah council Hyuga berkelabatan di hadapannya, menatapnya tajam, merendahkan dengan kata-kata. Hinata terisak hebat, luka-luka lama kini kembali menyeruak.
"Hinata…."
"Neji…." Hinata tanpa berpikir kembali, langsung berlari kepelukan pemuda yang tengah merentangkan tangan padanya. Menangis terisak dipelukan itu sambil memeluknya erat, sampai akhirnya sosok Neji itu mendorong pundak Hinata perlahan menjauhkannya, Hinata mendongak menatap Neji, Neji terlihat mengangkat tangannya menunjuk kearah kanannya, Hinata mengikuti arah tangan Neji, kemudian ternganga ketika melihat sesosok tubuh tergantung bergoyang disebatang pohon , wajah itu….segel itu,…
"Paman Hizashi…."
"Dia mati karena mu Hinata, ayahku mati karenamu….," Hinata terkesiap kembali menatap Neji yang masih dipeluknya, Hinata yang bingung menjauhkan tubuhnya dari Neji. Perlahan mulut Neji mengeluarkan darah.
"Begitu juga denganku,…aku juga mati karenamu…" Hinata memekik nyaring ketika melihat sebuah lubang pelan-pelan terbentuk diperut Neji, darah mengalir deras dari dalamnya.
"Aku mati karena kau lemah ….." Wajah Neji terlihat kecewa, Hinata menutup mulutnya yang terbuka mengeluarkan isakan pilu, dadanya terasa sesak, kepalanya sakit, kesedihan menguasai dirinya, kemudian dia berbalik lari menjauh dari Neji, tidak ingin melihat pemandangan menyakitkan itu. Tangisnya pecah, tenggorokannya terasa sakit. Tapi tiba-tiba tubuhnya kembali berada di dalam pelukan, dia mendongak untuk melihat orang yang telah memeluknya.
"Naruto…" wajah itu menatapnya hangat, jari-jari berwarna coklat menghapus lembut air mata yag mengalir dari matanya. Tapi itu justru membuat Hinata semakin menangis.
"Hinata…., kau begitu lemah….. begitu merepotkan,…..begitu tidak berguna…lebih baik kau mati saja…" kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu bertentangan dengan ekspresi yang dibuatnya.
"Hinata kumohon, matilah saja ….. " sosok Naruto menyerahkan kunai kearahnya,
"Hujamkan tepat kejantungmu….. maka kau akan berhenti menderita…."
"Kau akan berhenti membuatku menderita…." wajah itu terlihat memelas.
Hinata menatap lekat mata Naruto, perlahan dia mulai meraih kunai dari tangan tan itu. Isakan kembali terdengar dari mulutnya yang terbuka, dia menggenggam kunai itu erat-erat mengarahkan kejantungnya.
"Hinata….Hinata….Hinata….Hinata…" wajah-wajah riang Naruto yang menyapanya berkelabatan diingatannya, kemudian Hinata tersadar. Dia menatap Naruto yang ada didepannya, kemudian dengan yakin menusukkan kunai yang tadi digenggamnya ke jantung sosok Naruto itu. Teriakan kesakitan terdengar menggelegar di telinga Hinata, dia menutup telinganya kesakitan. Didepan matanya sosok Naruto rubuh dengan berlinangan darah, tapi dia bukan Naruto, dia sosok pria paruh baya yang sedang mengucapkan sumpah serapah pada Hinata dipenghujung hembusan napasnya. Pria itu menatap benci pada Hinata sebelum akhirnya menutup matanya untuk selama-lamanya.
Hinata tersengal, dia kebingungan, dia mengedarkan pandangan kesekeliling hutan, akhirnya dia menyadarinya. Dia telah masuk kedalam genjutsu pria itu, pria itu telah memanfaatkan ketakutan terdalam di dalam hati Hinata, kenangan-kenangan terburuk. Dengan tangan gemetar Hinata mengusap air mata dipipinya, mengatur napasnya kembali, sambil terus menatap tubuh tidak bernyawa di hadapannya.
"Aaaaaarrrrhhhhh…" teriakan kesakitan membuat Hinata tersentak.
"Sasuke-san." Tanpa berpikir panjang Hinata berlari kearah datangnya suara teriakan Sasuke.
Langkah kaki Hinata terhenti ketika melihat sosok Sasuke yang bertumpu dilututnya sambil menghujamkan katana berulang-ulang ke tubuh yang sudah tidak bernyawa didepannya. Mata Sharinggan nya terbakar amarah, aura membunuh dan liar menguar disekelilingnya, tubuhnya gemetar hebat, sosoknya nampak begitu beringas, percikan darah segar terciprat ke seluruh tubuhnya.
"Mati kau bangsat…." Sasuke menggeram bagai kesetanan.
"Sasuke…" Hinata memberanikan diri menarik perhatiannya, tidak sanggup melihat tubuh yang sudah hancur itu dicabik-cabik oleh Sasuke. Sasuke mengangkat wajahnya, mendelik kearah Hinata, Hinata menelan ludah, Sasuke berdiri dengan bertumpu pada katana yang bemandikan darah, dia maju mendekat pada Hinata sambil menyeret katana yang dipegangnya seolah dia tidak mampu lagi mengangkat benda itu dari tanah.
Hinata mundur menjauh dari Sasuke, dia ketakutan menatap wajah mengerikan itu. Sasuke melangkah gontai kearah Hinata, tubuhnya terhuyung-huyung, hingga akhirnya jatuh tersungkur dengan wajah menabrak tanah yang tergenang darah. Melihat itu Hinata langsung lari menghampiri, menggulingkan Sasuke, kemudian meletakkan kepala Sasuke diatas pangkuannya, wajah sasuke dipenuhi darah dan lumpur, matanya terpejam, keningnya berkerut tajam.
"Kalian tidak mengerti….." Sasuke berujar lirih , dengan panik Hinata membersihkan darah dan lumpur dari wajah Sasuke dengan telapak tangannya, dia mengusap kotoran yang menempel dengan tangannya yang gemetar.
"Kalian tidak tahu…." Sasuke berkata pedih…. Hinata mulai menangis menatap wajah menderita Sasuke sambil terus mengusap pipi Sasuke perlahan-lahan. Hatinya terasa teriris saat menyadari kalau Sasuke mungkin saja juga sama sepertinya, dipaksa mengalami lagi luka, dipaksa memutar kembali kenangan sakit yang berusaha dikuburnya, bahkan dengan kilasan yang jauh lebih menyakitkan dan jauh lebih terang-terangan dari kejadian sebenarnya. Kemudian dirinya sendiri terisak lebih keras lagi ketika menyadari isakan pilu lolos dari bibir Sasuke, mata pemuda itu tertutup rapat tidak membuka.
"Kau tidak tahu…seperti apa sakitnya…" Sasuke berbisik pelan.
"Maaf…..maaf….maaf….." air mata Hinata tertitik jatuh dikelopak mata Sasuke yang tertutup, mata Sasuke terbuka seketika menatap mata berair Hinata, Hinata tertunduk menatap Sasuke sambil menangis, jari-jari kecilnya terus-terusan mengusap air mata yang meleleh dari ujung mata Sasuke.
"Aku tidak tahu…..aku memang tidak tahu….maafkan aku…..aku salah….Sasuke….."
"Aku tidak mengerti…tidak akan pernah bisa mengerti rasa sakitmu….maafkan aku….aku lancang….aku salah…." Hinata berucap disela-sela tangisnya, kedua belah telapak tangannya menangkup wajah Sasuke, mengelusnya perlahan seolah berusaha mengurangi rasa sakit yang dirasakan Sasuke. Sasuke meringis, dia membenamkan wajahnya diperut Hinata, memeluk pinggang Hinata erat-erat seolah hanya itulah pegangannya agar tidak jatuh lebih dalam lagi kedalam kegelapan. Hinata juga memeluk kepala Sasuke, dia mengelus lembut rambut ravennya yang basah oleh darah, menyesali setiap kata yang sudah diucapkannya pada Sasuke saat beristirahat tadi, menyesali setiap pikiran buruknya tentang Sasuke.
"Kami-sama…., rasa sakit seperti apa yang sebenarnya telah kau lalui?." Hinata berujar sedih, tidak bisa membayangkan apa yang dialami oleh pemuda yang tengah gemetar dipelukannya itu.
Suara tangisan Sasuke terbungkam oleh pelukannya pada Hinata, dia runtuh dihadapan gadis ini, menumpahkan semua kesedihannya dipelukan Hinata, membiarkan wanita bodoh ini melihatnya begitu hancur dan menyedihkan. Dia tidak suka begini, tapi emosinya seakan tidak bisa lagi dia bendung, luka dan kepedihan menguasainya, mahkluk nista yang membuatnya mengalami itu sudah dia hancurkan, tapi tetap saja dia tidak merasa puas, dia sudah membuatnya mati perlahan-lahan dan menyakitkan tapi tetap tidak membawa ketenangan dihatinya. Saat ini dia hanya ingin membiarkan dirinya merintih sakit dipelukan gadis ini, ingin berbagi duka dengannya, bersama gadis yang ikut menangisi dirinya.
.
.
.
Udara dingin membelai wajah Hinata, membuat sang gadis bergerak-gerak tidak nyaman, matanya tertutup dalam tidur. Suara letupan-letupan api dari api unggun memaksa Hinata membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit malam yang bermandikan cahaya bulan , kepalanya terasa berat, tenggorokannya terasa sakit, mungkin karena terlalu banyak menangis. Dia tidak ingat bagaimana dia tertidur, hal terakhir yang diingatnya adalah memeluk Sasuke sampai tangisnya reda dan tertidur dipangkuannya, kemudian Hinata langsung terduduk tegak mencari-cari Sasuke yang baru disadarinya tidak berada di pangkuannya. Matanya berhenti mencari ketika menangkap sosok pemuda itu duduk didepan api unggun tidak jauh dari tempatnya tidur, Hinata mengamati wajah pemuda yang tadi menangis dipelukannya itu.
'Dia sudah kembali.' Hinata bergumam di dalam hati, menyadari Sasuke sudah kembali memasang wajah dingin dan tenang. Sekarang dia terlihat begitu kuat dan mengintimidasi sama seperti sebelumnya, sangat berbeda dengan sosok yang dipeluknya tadi. Selama ini Hinata tidak pernah tahu kalau Sasuke ternyata begitu menderita dan terluka dibalik wajah dingin dan sosok kasar itu. Selama ini yang dia pikirkan hanya perasaan Naruto dan Sakura, tidak pernah sekalipun memikirkan perasaan Sasuke, tanpa disadarinya dia sebenarnya hanya menganggap Sasuke sebagai pelengkap kebahagiaan Naruto semata. Tidak tahu kalau dibalik sosok menyebalkan itu ada seorang pemuda kesepian yang berjuang melawan rasa sakitnya, tidak pernah menduga kalau Konoha mungkin saja menambah rasa menyiksa di dalam dadanya. Harus melindungi sebuah desa yang membunuh habis orang-orang yang dia sayangi, Hinata tidak bisa membayangkan apa yang akan dirasakannya kalau itu adalah dia. Perlahan dia beranjak mendekat dan duduk didepan api unggun diseberang Sasuke, pemuda Uchiha itu terus saja menatap api dihadapannya tidak menghiraukan kedatangan Hinata. Kesunyian menyelimuti mereka berdua,
"Maafkan aku…" Hinata ingin sekali lagi memastikan Sasuke mendengar permintaan maafnya, namun Sasuke hanya mendengus.
"Sekarang giliranmu berjaga, aku ingin tidur." Sasuke beranjak meninggalkan tempat duduknya, berjalan melewati bahu Hinata.
"Jangan pergi dari Konoha!." Hinata menggigit bibirnya, takut akan reaksi Sasuke, tapi dia juga tidak ingin diam saja. Sasuke menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik begitu juga Hinata, dia terus saja menatap api yang berkobar didepannya.
"Jangan pergi,…. berikanlah kesempatan kedua pada Konoha…., kepada kami…, pada dirimu sendiri…."
"Mustahil….." Sasuke tertawa sinis.
"Kenapa?..." Sekarang Hinata berbalik menatap punggung Sasuke, Sasuke menghembuskan napas lelah dengan keras.
"Bagaimana kalau aku memintamu berhenti mencintai Naruto?." Pertanyaan Sasuke membuat Hinata terdiam sambil terus menatap punggung Sasuke bingung.
"Kenapa kau diam?." Sasuke berbalik menatap Hinata.
"Apakah itu mustahil untuk kau lakukan?." Sasuke tersenyum sinis seolah mengejek.
"Aku tetap bertahan di Konoha. Kau berhenti mencintai Naruto. Kedua hal itu sama mustahilnya."
Kya…akhirnya selesai juga….
Terimakasih sedalam-dalamnya kembali author sampaikan buat temen-temen yang udah Review cerita ini.
Author enjoy banget nulis chapter ini, semoga reader juga enjoy bacanya ya….
Jika berkenan mohon tinggal kan sidik jari….hehe… maksud author Review….
Sampai ketemu lagi di chapter depan…
