Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll

Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback

Chapter 7

Sepupu

Sunyi senyap, suara gemericik air kolam terdengar menenangkan, semilir angin berhembus lembut seolah bersenandung, wangi mawar yang pekat mencair saat terbang dibawa angin memenuhi seluruh penjuru ruangan dikediaman Uchiha. Sesosok lelaki berbadan besar duduk bersila diruang keluarga yang ditata sederhana, secangkir teh hijau mengepul menemaninya. Sasuke duduk termenung memandang bunga-bunga mawar yang bergoyang-goyang pelan di taman kecil miliknya, senja sudah semakin tua, langit lembayung telah berubah menjadi langit malam, sebentar lagi bintang mungkin akan terlihat tapi putra kesayangannya belum juga pulang.

'Tidak perlu cemas,…panasnya pasti akan segera turun.' Seorang wanita berkata lembut sambil mengelus wajah bocah kecil kesayangan digendongannya.

'Oh…Sasuke…' Setelah mengatakannya wanita itu justru menangis, kekhawatiran tertulis jelas diwajahnya.

"Dia tidak apa-apa Hinata, Itachi itu anak yang kuat." Sasuke berbisik pada angin yang berhembus, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang dilanda cemas. Itachi bukan tipe anak yang tidak ijin sebelum pergi kemanapun juga, bahkan sekedar meninggalkan Sasuke untuk kekamar mandi pun dia akan meminta ijin.

"Aku pulang….." Suara seruan pelan dipintu depan membuat Sasuke meraih teh hijaunya, menghembuskan napas lega lalu menyesapnya perlahan sebelum menggumamkan "Selamat datang".

"Maaf ayah, aku terlambat pulang." Itachi menghempaskan tubuh, ikut bersila disamping ayahnya.

"Darimana saja kau, Itachi?." Tanpa menatapnya Sasuke tahu kalau Itachi sedang meliriknya takut-takut.

"Tadi aku pergi menemui Paman Naruto." Itachi meraih cangkir teh hijau yang baru saja diletakkan ayahnya, meniupnya pelan lalu meneguknya hingga tandas.

"Hehe… biar kubuatkan lagi…." Itachi tersenyum tidak enak pada ayahnya sebelum beranjak menuju dapur untuk membuatkan lagi teh yang di habiskan oleh nya, Itachi kehausan setelah latihan tadi, dia tidak sempat minum air setetes pun, dan Haruko sepertinya bukan orang yang perhatian, Itachi tersenyum mengingat sikap Haruko yang memang kadang terlalu seperti seorang Hyuga yang cuek dan tidak perduli.

"Sudah kukatakan jangan mengganggunya untuk hal yang tidak penting." Sasuke berbicara agak keras agar Itachi mendengarnya.

"Untuk hal penting ko ayah!." Itachi berseru nyaring dari dapur, Sasuke mengernyitkan kening.

"Hal apa?." Sasuke bertanya tenang saat Itachi meletakkan nampan dengan dua cangkir teh yang masih mengepul.

"Hinata Hyuga" Itachi berujar santai sambil duduk menjuntaikan kaki di teras di samping ayahnya. Sasuke yang terkejut bukan main menoleh cepat ke arah Itachi. Menyadari ayahnya melotot padanya Itachi tersenyum.

"Bukankah ayah yang menyuruhku menanyakan langsung pada Paman Naruto tentang hubungannya dengan Hinata Hyuga?. Jadi jangan marah …" Itachi menggoda ayahnya.

"Menurut ayah mungkin itu hal yan tidak penting, tapi itu penting untuk rasa penasaranku…" Itachi mengira ayahnya melotot padanya karena marah oleh kelakuannya yang mengganggu Naruto untuk hal-hal yang tidak perlu, tidak mengetahui kalau ayahnya hampir saja terkena serangan jantung karena kaget. Sasuke masih dengan dada berlomba kembali menyesap teh hijaunya.

"Jadi… apa kau sudah tahu?." Sasuke bertanya tenang, berpikir dia mungkin akan benar-benar terkena serangan jantung suatu hari nanti.

"Ya….emm….sebenarnya ayah, aku pergi menemui paman Naruto untuk menemani Haruko-chan." Itachi memang paling tidak bisa berbohong pada ayahnya.

'Haruko?, Haruko Hyuga?, Putri Hanabi?, Ini tidak boleh, berbahaya Itachi!.' Sasuke gelisah dalam hati.

"Ternyata Hinata Hyuga memang adalah kekasih Paman Naruto, tapi hubungan mereka penuh kerumitan, aku tidak pernah berfikir ternyata yang namanya cinta itu begitu membingungkan ya ayah. Aku mengira kalau sudah mencintai satu orang maka selesai sudah, menikah, kemudian punya anak, hidup bahagia sampai kakek nenek. Tapi ternyata begitu rumit dan membingungkan." Itachi bicara sendiri, sementara Sasuke, pikirannya hanya tertuju pada satu nama yang harus dihindari.

"Jangan terlalu dekat dengan Haruko Hyuga." Sasuke berujar keras membuat Itachi terkejut dan menatap ayahnya.

"Kenapa?." Itachi menatap heran, wajahnya menunjukkan keberatannya atas perkataan ayahnya. Sasuke diam tidak bisa menjawab, tentu saja Itachi tidak boleh tahu alasannya. Selama ini Sasuke tidak pernah perlu memperingatkan Itachi untuk menjaga jarak dengan Hyuga, karena mereka memang menghindari Itachi dan dirinya. Dan anak itu juga tidak pernah terlalu dekat dengan Itachi, dia tahu kalau Hanabi pasti melarangnya, tapi sekarang gadis itu sepertinya sudah mengabaikan perintah ibunya.

"Apa karena dia Hyuga?." Itachi berkata pada ayahnya sambil mengernyit, tidak percaya ayahnya benar-benar melarangnya karena alasan klise 'Hyuga-Uchiha' yang dia pikir selama ini hanya lelucon pintar dari Shikaku.

"Ya…karena dia Hyuga." Sasuke berkata jujur kemudian kembali terdiam.

"Astaga ayah, hanya karena dia Hyuga aku tidak boleh berteman dengannya?. Itu lucu, maksudku.. memangnya kenapa?. Haruko-chan itu teman yang baik ayah."

"Ada kutukan Itachi…" Sasuke berkata ragu-ragu, dia kehabisan alasan, atau lebih tepatnya tidak punya alasan untuk dikatakan pada Itachi. Itachi tersenyum lucu pada ayahnya, menganggapnya tidak serius, tapi melihat kening berkerut ayahnya saat menatap serius padanya, senyumnya pelan-pelan memudar.

"Kutukan apa?." Itachi masih merasa aneh, 'Kutukan?, yang benar saja?.' Itachi bergumam dalam hati. Sasuke kebingungan lagi, dia berpikir keras mencari alasan.

"Sebuah kutukan yang melarang Uchiha dan Hyuga terlalu dekat, Uchiha akan dihukum kalau melanggarnya."

"Haa…ha…. Yang benar saja ayah?, kau percaya akan hal itu?." Itachi tertawa terpingkal, sementara Sasuke mulai geram dengan tingkah putranya.

"Itachi….dengarkan aku…" Sasuke berkata tegas memegangi kedua sisi pundak Itachi untuk membuat putranya itu mengerti kalau ini tidak main-main.

"Kau memiliki sebuah segel yang akan aktif jika terlalu dekat dengan Hyuga. Segel ini bisa saja membuat otakmu meleleh dalam hitugan detik, Itachi." Sasuke menatap mata putranya lekat-lekat, sedikit diketahui Itachi kalau ayahnya ketakutan setengah mati saat ini. Itachi menelan ludah memandang keseriusan ayahnya ketika mengatakannya.

"Segel apa ayah?, aku tidak pernah membacanya di buku clan Uchi…" Itachi masih mengelak tidak ingin percaya, itu benar-benar menakutkan.

"Kau berbeda, kau spesial Itachi." Sasuke tidak ingin mengatakan lebih banyak lagi pada putranya, Itachi sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kalau berani membuat Hanabi marah, bahkan melelehkan otaknya dalam hitungan detik merupakan kebaikan dibandingkan apa yang akan terjadi jika Hanabi memutuskan melepaskan segel itu, entah kekacauan apa yang akan terjadi.

"Apa karena ini juga ayah selalu mendelik pada Hinata Hyuga?, agar dia tidak dekat-dekat dengan ayah?." Mendengar kata-kata Itachi, cengkraman kuat Sasuke pada pundak Itachi terlepas, membuat sang anak menghembuskan napas lega, kemudian melirik wajah terkejut ayahnya.

"Apa yang kau katakan?.", 'dari mana dia tahu?.' Dada Sasuke bergemuruh, Itachi cemberut.

"Ayah…., sayang sekali. Kau membuat bibi Hinata takut padamu, padahal dia hanya ingin berteman dan dekat denganmu. Untuk membuat ikatan yang bisa membuat ayah mencoba bahagia di Konoha dengan orang-orang yang perduli dengan ayah. Waktu itu dia hanya tidak ingin ayah pergi meninggalkan Konoha, sayang sekali ayah malah membuatnya takut." Itachi mengingat cerita Haruko, Sasuke terdiam terpana mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya.

"Dari mana kau tahu semua itu, Itachi?." Sasuke bertanya-tanya.

"Haruko-chan memberitahuku tentang buku harian yang ditulis oleh bibi Hinata nya ayah."

'Ikatan yang bisa membuat ayah mencoba bahagia di Konoha.'

'Dia hanya tidak ingin ayah pergi meninggalkan Konoha.'

Kata-kata Itachi itu seolah berdentuman ditelinga Sasuke, menyadarkannya …

'Pergilah sasuke….pergi ke Konoha, Konoha satu-satunya tempat yang aman…' ditengah hutan lebat dan dibawah guyuran hujan, Hinata terkulai lemah dilengan Sasuke, menggunakan sisa tenaganya untuk menyentuh pipi Sasuke dengan lembut.

Kilasan kata-kata terakhir Hinata kembali merasuki dadanya.

Membuat memori Sasuke menyegarkan dirinya kembali.

"Kenapa kau melahirkannya?." Sasuke menatap wajah Hinata yang pucat, wanita itu tengah duduk bersender di sebuah tempat tidur sempit disebuah gubuk sambil memeluk putranya untuk pertama kalinya. Wajahnya menatap Sasuke dengan tatapan terluka. Sasuke menyadari jika dia ingin, wanita ini bisa saja melenyapkan bayi dipelukannya itu dengan satu sentuhan sederhana saat dia masih berada dalam buaian rahimnya.

"Karena aku jatuh cinta Sasuke…, aku jatuh cinta setengah mati padanya." Hinata mengelus pipi lembut bayinya, menatapnya dengan mata memerah.

"Bayi kecilku, aku harus memaggilmu siapa?." Hinata bertanya pada dirinya sendiri.

"Itachi…..Itachi Uchiha…" Sasuke berujar pelan, membuat wanita itu terkejut, mata amethyst nya mulai berair, tapi bibirnya menyuguhkan senyum kecil.

"Terimakasih." Suara itu terdengar ringan dan lega.

"Halo…Itachi….Itachi…Uchiha…., aku adalah ibumu." Air mata mengalir dipipinya yang tirus, terlihat begitu lega dan bahagia, kata Uchiha ducapkannya dengan bangga pada putranya.

Kilatan kesadaran yang menghantam membuat tubuh Sasuke berguncang hebat…

Guyuran hujan yang semakin deras membuat lumpur dipijakan mereka memercik kekimono yang sangat sederhana yang dikenakan Hinata, bibirnya membiru, darah terus mengucur, membuat wanita itu tidak bisa melihat dengan jelas lagi, dia sekarat.

"Bawa Itachi pulang ke Konoha Sasuke, selamatkan dia, harta kita yang paling berharga. Hiduplah bahagia bersamanya, kumohon…" Hinata memelas dengan napas berat, menyapu darah dan air mata dari pipi Sasuke.

Tangan Sasuke gemetar, meraih wajah Itachi yang menatapnya keheranan, mengelus pipi putranya yang kini sudah berumur 13 tahun itu dengan sayang. Mata onix nya yang biasa mendelik dan memandang rendah orang lain kini digenangi air mata, membuat Itachi kebingungan.

"Aku tidak ingin kau terluka, Itachi…." Air mata tunggal mengalir jatuh, Itachi yang melihat itu jadi ketakutan, apakah dia sudah keterlaluan membangkang ayahnya?. Itachi segera memeluk tubuh ayah nya yang gemetar erat-erat.

"Maafkan aku ayah, aku tidak akan bertanya lagi. Aku akan menjauh dari Haruko-chan dan semua Hyuga." Itachi berkata keras didada ayahnya.

"Jangan terluka Itachi…., jangan…. kau adalah satu-satunya harta berhargaku." Sasuke memeluk Itachi tak kalah eratnya, seolah-olah dia akan kehilangan putranya itu seandainya dia melonggarkannya sedikit saja.

'Kau adalah harta berharga kami, harta berharga yang diberikannya padaku, agar aku bisa bahagia.'

Senyum hangat Hinata membayang dipelupuk mata Sasuke, 'Hinata….Terimakasih…..', Sasuke mengelus lembut rambut panjang putranya yang kini juga mulai menangis dipelukannya.


Hinata mengatupkan kedua telapak tangan didepan wajahnya, menutup mata, khusyuk berdoa dimakam Ibunya. Rambut indigonya melayang diterpa angin pagi yang menyejukkan, mata amethystnya terbuka perlahan, bibir mungilnya tersenyum manis menatap foto mendiang ibunya dinisan.

"Selamat ulang tahun, Ibu…."

"Hanabi dan ayah tidak bisa datang hari ini, mereka sedang menjalani misi penting ke Suna. Tidak apa-apakan?, karena ada aku disini." Hinata berkata lembut, seolah berbicara langsung pada mendiang ibunya itu.

"Ibu kalau begitu, aku pulang dulu ya…., aku ingin menjenguk makam ka Neji dulu." Hinata berdiri dan membungkuk dalam pada makam ibunya, dia meraih keranjang bunga yang masih menyisakan seikat bunga untuk diletakkan dimakam kaka sepupu tersayangnya itu. Berjalan perlahan menyusuri pemakaman menuju tempat peristirahatan terakhir pahlawannya. Dari kejauhan Hinata bisa melihat seorang pemuda berambut raven berdiri memunggunginya, berdiri diam tidak bergerak sedikitpun, seandainya dia tidak memiliki cakra Hinata mungkin akan mengira kalau dia patung.

"Uchiha…Sasuke…" Hinata bergumam pada dirinya sendiri, suara sangat pelan, namun tidak membuat telinga tajam Sasuke melewatkannya, wajah tampannya langsung menoleh kearah Hinata berada, seperti biasanya Sasuke memandang sinis kearah gadis itu kemudian membuang muka lalu beranjak pergi, dalam hitungan detik dia sudah menghilang dari pandangan Hinata.

Hinata membuang napas lelah, sejak misi itu Sasuke sepertinya begitu membencinya. Setiap kali mata mereka bertemu Sasuke selalu mendelik seolah marah padanya, sesekali Hinata memergoki Sasuke memandangnya dengan tatapan jijik. Yah setidaknya itulah yang ditangkap oleh Hinata, senyum yang coba ditawarkan Hinata pada Uchiha terakhir itu pasti selalu dibalas dengan geraman sebelum sang Uchiha membuang muka. Hinata tidak habis pikir apa yang membuat Sasuke begitu membencinya, beberapa kali gadis berambut indigo itu berusaha bertanya langsung pada Sasuke tapi dia hanya akan mendengus kesal kemudian pergi meninggalkannya begitu saja, tidak menghiraukan permintaan maaf dari Hinata yang bahkan Hinata sendiri tidak tahu untuk kesalahan apa maaf itu diutarakannya.

Hinata yang penasaran berjalan mendekat kemakam yang sebelumnya ditatap oleh Sasuke, dia tersenyum lembut ketika menyadari dugaannya benar, itu adalah makam kedua orang tua Sasuke. Hinata berdiri didepan makam yang terlihat bersih dengan rumput teratur rapi pertanda kalau baru saja dibersihkan, namun ada yang kurang menurut Hinata, bunga, tentu saja sang Uchiha yang dingin itu tidak akan mau pergi membeli bunga, dan memetik dari alam juga bukan hal yang akan dilakukannya.

"Kurasa kak Neji tidak akan keberatan untuk membagi bunganya, iyakan kak Neji." Hinata berbicara sendiri, membuat seseorang yang mengamati gerak-geriknya dibalik sebuah pohon memicingkan mata.

Hinata melepas ikatan bunga yang sebelumnya diperuntukkan kepada makam Neji, membagi bunga-bunga kecil berwarna-warni itu menjadi 3 bagian, kemudian meletakkannya di depan makam Fugaku dan Makoto Uchiha. Dia bersimpuh dengan bertumpu pada lututnya, tepat diantara dua makam itu Hinata kembali menutup mata dan mengatupkan kedua telapak tangannya lagi untuk mendoakan kedua orang itu. Setelah diam sejenak, Hinata membuka matanya kemudian membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun menutupnya lagi karena dia tidak tahu ingin menngatakan apa. Hinata punya kebiasaan akan bicara pada makam Neji dan Ibunya setelah dia mendoakannya, sehingga sekarang dia merasa canggung sendiri ketika menatap kedua makam asing dihadapannya itu.

"Uchiha-san, apa kalian tahu apa yang membuat Sasuke-san sangat membenciku?." Gadis itu akhirnya berujar pelan, membuat seorang pengintip menggumamkan 'Gadis Bodoh' kearahnya.

"Aku benar-benar tidak tahu." Hinata menggeleng sambil terus menatap bergantian kedua foto dibatu nisan, gelengan perlahan seolah tidak berdaya.

"Apa karena perkataanku ketika misi itu?. Sudah lama sekali kan…hampir 2 bulan yang lalu. Dan dia masih marah padaku?."

" Padahal aku sudah minta maaf." Hinata cemberut seolah mengadu, membuat ujung bibir pengintip itu naik sedikit.

"Uchiha-san kalau dia mengunjungi kalian lagi, tolong katakan padanya kalau aku bersungguh-sungguh minta maaf dan menyesal karena telah mengatakannya. Tolong suruh dia untuk memaafkanku. Ya…?" Hinata seolah memohon.

"Sebagai gantinya aku akan membawakan kalian bunga setiap kali aku datang berkunjung, bagaimana?" Hinata tertawa pelan oleh perkataannya sendiri.

"Baiklah, kalau begitu kita sepakat." Hinata tersenyum manis sambil berdiri menatap kedua makam itu.

Sosok pengintip bermata onix itu mengulum senyum,kemudian bergumam pelan.

"Kau benar-benar gadis bodoh."


Tawa riang Hinata bergemerincing bak lonceng-lonceng kecil yang digoyang keras-keras ditelinga Sasuke, begitu mengganggu membuat wajah Uchiha terakhir itu tertekuk risih. Siapa pun di dunia ini tidak akan berani menanyakan sebabnya, tidak akan ada orang yang berani bertanya 'lalu kenapa kau duduk di atas pohon yang memang berada di area latihan tim 8?', kalau memang ada yang berani berarti dia memang sudah bosan hidup. Dengan wajah yang masih tertekuk, Sasuke memicingkan mata melihat gerak-gerik Hinata bersama Kiba dan Shino, mereka telah selesai latihan beberapa menit yang lalu dan kini 2 pemuda rekan tim Hinata itu tengah menyantap bento buatan Hinata, kiba terus-terusan memekik keenakan, mendengar puji-pujian dari dua rekannya wajah Hinata terlihat tersenyum cerah dengan pipinya yang bersemu merah, Sasuke menggeram, entah kenapa setiap kali melihat Hinata tersenyum seperti itu perutnya seolah diremas dan diputar-putar membuatnya mual ingin muntah, alhasil wajahnya kini tengah menatap sinis dengan jijik pada Hinata. Sejak misi itu, atau lebih tepatnya kejadian yang Sasuke kategorikan sebagai 'berbahaya' itu, sosok Hinata terus saja mengganggu dan mengusiknya. Tawanya membuat Sasuke jengkel, senyumnya membuat Sasuke mual, lambaian tangannya seolah pertanda agar menjauh untuk Sasuke, namun itu semua tidak membuat mata Sasuke berhenti mengiringi segala gerak-gerik gadis itu. Si pemuda raven sendiri pun tidak mengerti penyebabnya, mungkin hanya tuhan lah yang tahu.

"Hinata, kenapa kau tidak makan?." Kiba menatap Hinata yang kini terlihat malu-malu menenteng bento miliknya.

"Ehmm…itu…" gadis itu kelihatan memerah, Sasuke berdengus kesal, tapi demi tuhan entah siapa yang berani mengatakan padanya 'kalau tidak suka jangan dilihat.'

"Jangan bertanya kalau kau sudah tahu, Kiba." Shino memperingatkan Kiba yang tengah menggoda Hinata.

"Ha…ha…ha.., iya..iya… jangan jadi kakek-kakek pemarah dong Shino." Kiba menyikut Shino yang tengah asik menyantap bento buatan Hinata.

"Hinata, kalau kau memang ada janji makan siang dengan kekasihmu kau tidak perlu menemani kami makan. Pergi saja, sebelum rambut kuning itu memakan kunainya sendiri." Kiba terkekeh, Hinata semakin merona karena kata-kata 'kekasih' yang diucapkan Kiba.

"Kami bukan 'kekasih' Kiba-kun, hanya teman.' Hinata mengelus-elus perut Akamaru, salah tingkah, Kiba dan Shino tersenyum kecil, didalam hati merutuki Naruto yang masih belum juga meminta Hinata untuk jadi kekasihnya.

"Anak itu…., apa perlu kuberitahu dia kalau tidak cepat kau mungkin akan diambil orang. Cih, dasar Naruto…" Kiba berdecih membuat Hinata menggeleng cepat, dia benar-benar malu sekarang.

"Pergilah Hinata, sebelum mulut Kiba tidak bisa berhenti bicara." Shino berkata pelan pada Hinata yang wajahnya sudah semerah tomat mendengar Kiba melapalkan nama-nama teman Shinobinya yang mengagumi Hinata.

Menuruti Shino, Hinata akhirnya beranjak meninggalkan teman-temannya untuk menemui Naruto ditempat mereka berjanji akan makan siang bersama. Sasuke melompat menjauh dari pohon tempatnya duduk, dia tidak ingin memperhatikan interaksi Naruto dan Hinata hal itu selalu membuat kepalanya berdenyut-denyut. Kakinya mendarat disebuah batu besar yang lebar dan rata di tebing tinggi menghadap Konoha, Sasuke duduk bersila kemudian memejamkan mata.

'Aku tidak tahu…..aku memang tidak tahu….maafkan aku…..aku salah….Sasuke…..'

'Aku tidak mengerti…tidak akan pernah bisa mengerti rasa sakitmu….maafkan aku….aku lancang….aku salah….'

'Kami-sama…., rasa sakit seperti apa yang sebenarnya telah kau lalui?.'

kata-kata itu terngiang berulang-ulang, wajah Hinata yang berurai air mata terus memenuhi ingatannya, usapan lembut jari-jarinya seakan masih membayang dikulit Sasuke. Dia tidak bisa melupakannya, dan itu membuat Sasuke merasa geram dan kesal pada Hinata. Meskipun begitu dia tidak memungkiri perasaan puas didadanya, berbeda dengan orang-orang yang terus mengoceh tentang mengerti dan paham akan perasaannya, gadis itu justru mengakui ketidak tahuannya dan meminta maaf padanya karena itu. Ketika orang-orang menyuruhnya berterima kasih karena telah diberikan kesempatan kedua, gadis ini justru memintanya memberikan kesempatan kedua, sedikit, hanya sedikit Sasuke merasa menghargainya. Saat ini dia masih sangat ingin untuk meninggalkan Konoha, tapi meski hanya sedikit sekarang dia merasa ragu, sekali, hanya sekali terlintas dipikirannya untuk tetap tinggal di Konoha dan memberikan kesempatan untuk Konoha, untuk teman-temannya, dan untuk dirinya sendiri seperti yang dikatakan gadis itu padanya.

"Sasuke-san.." seruan lembut dari belakangnya membuat Sasuke terhenyak, suara itu adalah suara gadis itu, seketika Sasuke berbalik dan mendelik padanya. Hinata sedikit terkejut karena Sasuke berbalik tiba-tiba, namun dia mempertemukan mata mereka dengan ringan, kali ini Hinata tidak ingin mundur hanya karena Sasuke melotot seram padanya.

"Apa maumu?." Sasuke berucap kasar ketika menyadari gadis itu tidak berniat pergi meskipun terang-terangan dia menunjukkan ketidak sukaannya.

"Hmm….e….maukah Sasuke-san makan siang bersamaku?." Wajah Hinata merona, kening Sasuke berkerut memandang heran gadis dihadapannya. 'Bukannya dia tadi ingin makan siang dengan Naruto?.' Sasuke bertanya-tanya didalam hati. Seolah menyadari apa yang ada dipikiran Sasuke, Hinata berbisik pelan,

"Naruto-kun sudah makan siang dengan bento buatan Sakura-chan." Hinata sedikit tertunduk ketika mengingat beberapa saat yang lalu, dengan byakugan yang awalnya bermaksud mengecek keberadaan Naruto, malah justu melihat Sakura menyodorkan Bento buatannya untuk Naruto, yang diterima dengan riang dan senyum lebar dari sang calon Hokage. Naruto dan Sakura makan bersama di lapangan latihan tim 7, saling bercanda dan tertawa, membuat Hinata tidak ingin mengganggu mereka, dan saat itu juga dia melihat Sasuke tidak jauh dari tempatnya mengamati. Sasuke melihat sekelumit kekecewaan dimata yang tertunduk menatap tanah.

"Sepertinya Sasuke-san belum makan siang, jadi kupikir dari pada terbuang lebih baik bento ini untuk Sasuke-san….eh, anu maksudku… itu…. karena Sasuke-san…" Hinata kebingungan memilih kata untuk diucapkan pada Sasuke agar dia tidak berakhir menyinggung si lidah tajam.

"Berikan padaku." dengan membuang muka Sasuke berkata cepat, jengkel melihat Hinata yang tergagap, Sasuke memotong perkataan tidak jelas itu. Di dalam hatinya dia juga penasaran dengan rasa masakan Hinata yang membuat kiba seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air, klepek-klepek.

"Eh…?." Hinata kaget, tidak menyangka Sasuke akan mengatakan itu.

"Kubilang,… berikan padaku!." Sasuke menjulurkan tangannya kearah Hinata, sambil masih membuang muka.

Wajah Hinata yang tadi meredup kini kembali cerah memandang kearah Sasuke, mengabaikan tangan Sasuke yang terjulur, Hinata segera naik memanjat batu yang diduduki Sasuke, kemudian duduk bersimpuh disisinya, membuat Sasuke memandang Hinata dengan tatapan 'apa yang kau lakukan?'.

"Makan sendirian itu terlalu sepi, Sasuke-san ayo makan siang bersama." Mengabaikan aura membunuh yang dipancarkan Sasuke Hinata segera membuka bento buatannya kemudian menyerahkannya satu untuk Sasuke. Sasuke tidak menerimanya, dia cemberut melotot pada Hinata, matanya seolah berkata 'aku tidak suka dengan sikapmu'. Hinata juga tidak mau kalah, dia terus saja menyodorkannya pada Sasuke, hingga akhirnya Sasuke kalah dengan hidungnya sendiri, wangi masakan itu memaksa Sasuke untuk segera menerimanya. Dia merebut bento itu dengan kasar dari Hinata, membuat sang gadis tertawa dalam hati. Mereka berdua makan dalam diam, Sasuke menikmati santapannya, mengabaikan Hinata yang tersenyum kecil meliriknya.

'Jangan merasa menang.' Sasuke merutuk dalam hati.

'Apa dia masih berpikir untuk meninggalkan Konoha?.' Hinata membatin. Ada hal yang tidak ingin di akui Hinata jauh didalam hatinya, bahwa keberadaan Sasuke di Konoha membuatnya merasa aman, aman akan kemungkinan Sakura dan Naruto akan bersama. Fakta kalau Naruto ingin Sasuke dan Sakura bahagia bersama membuat Hinata merasa terlindungi dari perasaan takut akan kehilangan pujaan hatinya, terlebih lagi setelah melihat sorot mata Sakura ketika memandang Naruto, Hinata semakin ketakutan, dan ketika dia mengetahui Sasuke ingin pergi dari Konoha yang dengan sukses menambah kengerian, hingga keegoisannya menguasai dirinya saat dimisi itu, tanpa mengindahkan perasaan Sasuke, rasa takut membuat dirinya buta akan perasaan orang lain. Tapi sekarang Hinata menyesalinya, setelah melihat betapa terlukanya Sasuke membuat Hinata ingin berteman dan dekat dengannya, ingin Sasuke menjadi seperti Rookie 12 yang lain, ingin Sasuke berada di Konoha bukan untuk orang lain, tapi untuk kebahagiaan Sasuke sendiri.

"Kenapa kau membenciku Sasuke-san?." Hinata bertanya pelan, Sasuke diam saja.

'Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kau begitu mengusikku.' Sasuke menjawab dalam hati, terus memakan bento yang tidak ingin diakuinya memang enak itu.

"Aku minta maaf, kalau aku membuatmu marah." Hinata mencicit kecil dengan wajah kecewa.

"Apa yang membuatmu marah padaku?." Hinata yang masih tidak mengerti akan sikap Sasuke padanya terus mencecarnya dengan pertanyaan.

"Semuanya." , 'Tawamu, senyummu, matamu,air matamu, wajahmu, jarimu, suaramu, semuanya.'

"Kau sangat mengganggu.", 'bisakah kau tidak masuk kepikiranku semenit saja?.'

Sasuke menyelesaikan makannya, berdiri, dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Hinata yang ternganga oleh jawaban yang diberikannya.

"Kau benar-benar membuatku muak, jangan datang kehadapanku lagi.",'pergi kau dari kepalaku.'

"Dan…jangan pernah lagi membuatku untuk memakan masakan mu yang mengerikan itu.",'Terimakasih.'

Mata Hinata membulat memandang punggung sasuke yang berjalan menjauh, telinganya bergemuruh, dadanya berdegup kencang wajahnya memerah, bukan karena malu tapi karena marah.

"Apa sebenarnya yang kulakukan padamu Uchiha?.."

"Kenapa kau jahat sekali?,….." Hinata geram, kepalanya terasa membesar dan mengecil disaat yang bersamaan.

"Muak katamu?..., sangat mengganggu?" kata-kata yang Sasuke ucapkan membuat telinganya panas.

"Masakan mengerikan?..." tidak pernah seumur hidup Hinata merasa semarah ini, dia mencengkram erat kotak bento sampai ujung jari-jarinya memutih.

"Uchiha…. Kau Kucing… dasar Sasuke… Kelinci….dasar kau Uchiha Sasuke kupu-kupu…..!" Hinata berteriak sekencang-kencangnya pada Konoha dibawah tebing, berusaha menumpahkan kekesalannya. Dengan napas turun naik tidak teratur, dia terdiam, tersadar akan kelakuannya yang berteriak-teriak di tempat umum.

'Sasuke Uchiha….' Hinata menggeram kesal menyalahkan Sasuke, dia segera mengemasi kotak bentonya lalu berlari pergi dari tempat itu. Beberapa meter dari sana Uchiha Sasuke melongo seperti orang bodoh, matanya membulat, mulutnya ternganga menyadari seorang Hinata Hyuga baru saja berteriak-teriak seperti menyumpahinya.

'Apa?...Apa katanya tadi?...' Sasuke kembali berbalik berjalan kearah Hinata, namun gadis itu sudah buru-buru berlari cepat kejalan ramai menuju pusat Konoha.

Dengan langkah panjang-panjang Hinata berjalan cepat menyusuri jalan, ingin segera sampai kekediamannya dan mendinginkan kepala, sesekali membalas senyum beberapa penduduk desa yang berpapasan dengannya. Dia berupaya terus terlihat tenang meskipun kemarahan sedang melandanya, Hinata bukan orang yang mudah marah, dia adalah gadis pemaaf dan pengertian namun entah kenapa mendengar Sasuke menghina masakannya membuat gadis itu merah keubun-ubun. Kemampuannya memasak adalah kebanggaan Hinata sejak kecil, ketika semua orang meremehkannya karena lemah, masakannya lah satu-satunya hal yang bisa membuat Hinata bangga pada dirinya sendiri, karena ayahnya selalu menyantap habis semua hidangan yang dimasaknya. Diam-diam Hinata terus coba mengingat kesalahan apa yang dilakukannya sampai Sasuke begitu membenci bahkan muak padanya, apa yang telah diperbuatnya sampai sasuke menganggapnya begitu mengganggu. Hinata benar-benar jengkel pada Sasuke, dia telah melukai harga dirinya ketika mengatakan masakannya mengerikan. Tidak memungkiri kalau suasana hatinya yang memang sudah tidak enak sejak melihat Naruto dan Sakura tadi mungkin juga salah satu penyebab dia meledak didepan umum. Sejak kecil Hinata sudah diajari untuk bersikap seperti seorang wanita terhormat dan tentu saja berteriak-teriak apalagi menyumpahi seseorang adalah bukan hal yang pernah diajarkan padanya, mengucapkan kata-kata kasar adalah dosa bagi seorang wanita Hyuga. Itulah kenapa ketika sekarang Hinata merasa benar-benar ingin menyumpahi Sasuke, saat ini di dalam hati Hinata sedang menyandingkan nama Sasuke dengan segala jenis hewan lucu yang bisa diingatnya. Belalang, ulat, kodok, panda, anak panda, kucing, kelinci, anak ayam….

Mata Sasuke fokus memandang punggung Hinata yang bergerak cepat menjauh didepannya, dia mendorong beberapa pejalan kaki yang menghalangi pandangannya, membuat orang-orang itu segera menjauh pergi ketakutan melihat seringaian mengerikan diwajah tampan sang Uchiha. Tanpa dikomando oleh otaknya yang memang saat ini seperti sedang tidak berfungsi, Sasuke berlari kecil sampai dia sudah bisa menyusul dan berjalan beberapa meter dibelakang Hinata, mengamati dengan wajah menyeringai seolah lucu.

'Apa?...Uchiha..apa?...Kucing?.'

Seringaiannya semakin lebar, kakinya terus melangkah mengiringi Hinata.

'Sasuke….Kelinci?...'

Dia mulai terkekeh, orang-orang yang berpapasan dengannya mengernyit takut, Uchiha? Terkekeh?, oh…bersiaplah anak-anak, dunia hampir kiamat.

'Uchiha Sasuke apa?...kupu-kupu?.' Ujung bibir Sasuke berkedut-kedut hingga akhirnya dia sudah tidak tahan lagi, dan….

"Huaaaahahahahahahaha…." Sasuke tertawa keras tepat ditengah jalan ramai di Konoha. Membuat pejalan kaki disekitarnya berhenti dan memperhatikannya dengan tatapan heran, beberapa bergumam 'Gila' padanya. Tidak terkecuali Hinata yang berjalan beberapa meter di depannya yang juga berbalik untuk menatap heran pada Sasuke yang tertawa tidak terkendali.

'Ada apa dengannya?. Dasar kecebong…' Hinata terpana menatap Sasuke yang terbahak.

Perlahan-lahan Sasuke mulai bisa menguasai tawanya, kemudian menatap lurus pada Hinata yang berdiri terpaku memandangnya dengan kening berkerut. Tidak menghiraukan tatapan aneh orang-orang disekelilingnya, Sasuke berjalan perlahan sambil masih sedikit terkekeh.

"Ku beri tahu kau Hyuga…..," ia melangkah semakin dekat pada Hinata,

"Orang tidak menggunakan Kupu-kupu untuk menyumpahi orang lain." Sasuke berkata sambil tersenyum simpul ketika berjalan melewati pundak Hinata tanpa memandangnya. Hinata menatap Sasuke lekat-lekat sampai yang bisa dilihatnya hanyalah punggung Sasuke yang berjalan menjauh dibawah tatapan heran para pejalan kaki disekelilingnya. Menyadari maksud perkataan Sasuke, Hinata pelan-pelan juga ikut tersenyum lucu memandang Sasuke.

'Dasar Uchiha kupu-kupu….' Hinata terkikik geli.

"Gadis Bodoh." Sasuke berbisik.

'Setelah melihatku menangis seperti perempuan,'

'Sekarang kau membuatku tertawa seperti orang gila didepan umum.'

'Hinata Hyuga…'

'kau…benar-benar berbahaya.'

.

.

Mereka berdua tidak menyadari sepasang mata biru safir mengamati mereka lekat-lekat dari atas sebuah bangunan tinggi. Wajahnya terlihat tegang dan tidak tenang, mata safirnya memancarkan kegelisahan.

"Uchiha Sasuke…ada apa denganmu?." Dia berbisik bingung.

'Hinata…', hati Naruto memberinya peringatan.


Haruko mengendap-endap melewati pintu ruangan minum teh ibunya, berusaha menjaga langkahnya seringan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi ber'kriet' di lantai kayu itu. Haruko sudah pergi tanpa ijin dari ibunya, alasan latihan pun pasti tidak akan diterima karena dia memang tidak terlihat seperti setelah berlatih, jadi sekarang dia sedang berusaha untuk sampai kekamarnya tanpa menarik perhatian.

"Haruko…." Haruko menegang saat suara ibunya terdengar dari balik pintu geser.

"Iya…Ibu.." Haruko berdiri rapi membungkuk dalam kearah pintu geser yang tertutup.

"Kemari..,masuk lah." Suara Hanabi terdengar tenang namun berat, Haruko meringis kecil, dia paham betul nada suara itu, pertanda kalau dia dalam masalah. Haruko menghembuskan napas lelah sebelum menggeser pintu geser dihadapannya, ibunya sedang duduk membelakangi Haruko menghadap taman kesayangannya, Haruko duduk rapi dibelakang Hanabi, memberikan pandangan bertanya pada pengurus rumah tangga mereka yang menggeleng sambil menatapnya seolah ikut prihatin. Ibunya sepertinya sedang dalam suasana hati yang tidak enak saat ini.

"Kalian boleh pergi…" Hanabi memberikan isyarat pada pelayan-pelayannya untuk meninggalkannya berdua saja dengan putrinya. Haruko meneguk ludah, menatap memelas pada pelayan tua kesayangan ibunya dengan tatapan 'Jangan tinggalkan aku, ku mohon nenek maki…'. Pengurus rumah tangga itu hanya memandang Haruko dengan tatapan tidak berdaya. Bunyi pintu geser yang ditutup pelan seolah membuat dentuman jantungnya semakin keras. Ibunya terlihat tenang, dia menyesap tehnya dalam diam, yang justru membuat Haruko semakin takut, Ibunya adalah tipe orang yang 'diam pertanda badai'.

"Darimana kau Haruko?." Hanabi bertanya.

"Dari kantor Hokage, menemui Naruto-sama."

"Untuk apa kau menemuinya?." Hanabi bertanya tanpa menatap Haruko.

"Untuk…..ehm…" Haruko ragu-ragu.

"Untuk?." Hanabi melirik dari balik bahunya.

"Untuk menyampaikan pesan terakhir dibuku harian bibi Hinata padanya." tahu pesan apa yang dimaksud oleh Haruko, Hanabi berbalik menatap putrinya, dia memang marah akan hal itu, tapi saat ini ada hal yang membuatnya jauh lebih marah lagi.

"Bersama siapa kau menemuinya?." Hanabi menatap Haruko tajam. Telinganya seolah memutar ulang laporan seorang bunke tentang Haruko yang terlihat berjalan berdua dengan Itachi Uchiha. Haruko menatap ibunya takut, dia sudah melanggar larangan keras dari sang ibu. Meskipun dulu dia tidak pernah bertanya-tanya, tapi sekarang Haruko benar-benar sudah lelah dengan aturan yang tidak berdasar itu.

"Dengan Itachi?." Hanabi mendelik geram pada Haruko.

"Sudah kukatakan jangan bicara dan berteman dengannya. Apa kau lupa?."

"Kenapa?." Karena terlalu takut, sekarang tikus kecil yang terjepit mulai menggigit. Haruko terlihat menatap ibunya seolah menantangnya agar memberikan alasan yang jelas.

"Karena aku melarangmu." Suara Hanabi mulai meninggi.

"Aku tidak mau menaatinya, kalau ibu tidak memberikan alasan yang masuk akal." Hanabi kaget akan ulah putrinya yang biasanya penurut itu.

"Apa ini?." Hanabi melemparkan sobekan kertas kehadapan Haruko. Hanabi mengencangkan rahang saat mengingat isi tulisan di kertas itu, kalau saja sekarang Hanabi tidak sedang sangat marah dia pasti bisa menyadari kalau tulisan itu bukan tulisan tangan putrinya. Haruko yang kebingungan meraih sobekan kertas itu, kemudian terbelalak ketika membacanya, itu tulisan dari buku harian Eri yang disobek Chizo tadi siang, Chizo mengancam Eri akan memberikannya pada Itachi untuk menggoda Eri yang tengah muram. Haruko berhasil merebutnya dan menyembunyikannya didalam kantong kunai, tapi lupa mengembalikannya pada Eri. Entah bagaimana ibunya bisa menemukannya. Seandainya tulisan itu tidak berkaitan dengan Itachi mungkin Hanabi akan terkikik geli saat membaca curahan hati seorang anak perempuan berumur 11 tahun yang tengah mengagumi cinta pertamanya.

"Ini… ibu…, ini bukan…" Haruko berusaha menjelaskan pada ibunya, namun kalimatnya terpotong oleh geraman Hanabi.

"Kau tidak boleh menyukainya…Haruko…" Hanabi kalut, Haruko yang dilarang jadi sedikit berontak didalam dadanya, dia tahu Itachi adalah anak yang baik, dia tidak ingin ibunya membenci Itachi, ketika dia bahkan tidak mengenalnya dengan baik.

"Memangnya kenapa?." Hatinya berbisik pelan tapi bibirnya berkata lantang. Jauh didalam hatinya Haruko memang telah menyukai sang Uchiha. Hanabi mendelik lebih seram lagi ketika menyadari Haruko semakin membangkangnya.

"Memangnya kenapa aku tidak boleh menyukainya ibu?." Tanggapan ibunya menggelitik rasa penasaran Haruko, apa yang membuat Hanabi begitu geram seakan dia telah melakukan dosa besar hanya dengan menyukai sang Uchiha.

"Bagaimana kalau aku memang menyukainya?.", Haruko ingin tahu kenapa ibunya selalu bereaksi berlebihan setiap kali menyangkut Uchiha.

"Kau…" Hanabi berusaha meraih putrinya, ketakutan lama yang sangat dia kenali sedang merayapi hatinya.

"Kenapa tidak boleh?." Haruko menjauh dari jangkauan tangan Hanabi yang seolah takut kehilangan dirinya, berusaha mendapatkan jawaban untuk pertanyaan yang selalu membuatnya tidak mengerti.

"Karena kalian sepupu Haruko…, kau tidak boleh mencintai sepupumu sendiri." Hanabi mencengkram kedua pergelangan tangan Haruko sambil menatap mata putrinya itu lekat-lekat. Haruko terdiam, tidak yakin dengan pendengarannya sendiri,' sepupu?, bagaimana mungkin?'.

"Tidak mungkin…" Haruko yang terkejut bukan main, tanpa sadar menggumamkan isi kepalanya.

"Itachi Uchiha adalah putra bibimu, dia putra Hinata Hyuga."

'Kau tidak boleh meninggalkanku dan lebih memilih mereka seperti Hinata, kau tidak boleh.' Ketakutan Hanabi membuatnya tidak lagi bisa menyadari apa yang sudah dikatakannya untuk meyakinkan putrinya. Hanabi selama ini terus saja hidup dalam penyangkalan, hidup dalam cerita yang dia karang sendiri untuk melindungi dirinya dan hatinya. Menyangkal keberadaan Sasuke dan Itachi di dalam hidup Hinata, untuk menghalau rasa sakit karena ditinggalkan oleh Hinata.

"Itachi dan Sasuke menghancurkan hidup Hinata, Itachi membuat Hinata menderita, mereka membuatnya mati." Suara Hanabi lemah dan pilu, tubuhnya gemetar, Haruko tercengang mendengar perkataan ibunya.


"Tunggulah di luar Hanabi,…" Hiashi mendorong tubuh Hanabi menuju pintu kamar Hinata.

"Ada apa dengan Hinata?, ada apa dengannya?." Hanabi berontak tidak ingin diusir, matanya berair melihat tubuh Hinata yang menggelepar kesakitan diatas tempat tidur , tidak ada rintihan, tidak ada suara keluhan, hanya bibir berdarah karena digigit terlalu keras lah yang membuat Hanabi bisa mengira penderitaan Hinata, Shizune terlihat kewalahan.

"Dia akan baik-baik saja, Hanabi… tenanglah.." Hiashi berusaha menenangkan putri bungsunya.

"Segera panggil Tsunade…" Suara seruan Shizune terdengar dari balik punggung ayahnya.

"Pergi…" Hiashi berujar pada Ko yang berdiri siaga dibelakang Hanabi, Ko segera lenyap dalam sekejap.

"Apa karena bayi itu?. Ayah…?, Apa karena bayi itu?." pertanyaan Hanabi dijawab dengan pintu yang ditutup didepan wajahnya.

"Keluarkan dia ….. keluarkan monster itu dari Hinata…. Ayah…. Dia akan membunuhnya…..Hinata…..!." Hanabi menggedor-gedor pintu didepannya sambil berteriak-teriak dan terisak. Seorang wanita paruh baya mendekat dan memeluknya, berusaha menenangkan Hanabi didalam pelukannya.

"Hinata akan mati Maki… , Hinata …. ..huuhuhu.."


Halo….minna…..

Hehe….(nyengir-nyengir gaje)

Chapter kemarin panjang ya…..(belaga bego…)

Chapter ini lumayan kan ya?... lumayan pendek maksudnya…hua..ha..ha..ha..

Reader sekalian chapter kemarin sepanjang itu soalnya tuch chapter sebenernya 2 chapter yang author gabung jadi satu.

Chapter 'Buku Harian Hinata Hyuga' sama Chapter 'Kisah Cinta Bibi Hinata'.

Kenapa author gabung?, soalnya chapter 6 nya (Buku Harian Hinata Hyuga) itu isinya Naruhina doang, Author takut di lakhnat sama reader kalo di fic SasuHina ga ada SasuHina nya, kan gawat itu…. mending author gabung aja dech sama chapter yang sebenarnya maksudnya buat chapter 7.

Jadi kayaknya depan-depannya ga bakalan sepajang itu lagi dech chapter2nya…..

hehe...(apaan lagi cengengesan nich si author).

Ehmmm kan udah 7 chapter nich… jadi …gimana kalo readers panggil author pake Hyuri aja, kalo engga Ein aja, ga pake thor-thor lagi ….( senyum malu-malu…)

Readers#nich author banyak maunya dech….dilemparin kunai baru tahu rasa….

-Syura: Kya….Syura…..baca review kamu sukses bikin author seneng jejingkrakan n semangat buat lanjut … semoga syura masih terus setia ngikuti cerita ini ya….

-Yuuaja : Yuuaja, di chapter ini udah ada flashback sasuhinanya nich, semoga suka ….

: masa keren? Beneran?..( jiah… author labil, senyum hampir nyampe ketelinga aja belaga nanya-nanya lagi, masih untung ada yang mau muji ) hehe… terimakasih udah mau baca cerita ini …

-andri961 : (celingukan nyari-nyari komen dari andri961) komenmu yang selalu ku nanti… hehe… terus ikuti ya….

-Bluerose : pelan-pelan cerita sasuhina bakalan terungkap dech….pasti…..ikuti terus ya….

-Guest : guest-san namanya siapa ya?...author masa manggilnya guest-guest aja sich?... tapi terimakasih udah mau baca n review…..

-Kin Hyuuchi : gomen chapter depan kayanya ga ada yang bakalan sepanjang chapter 6 dech….tapi jangan kapok baca ya…

-Malfoy1409 : sip….dilanjut…..semoga dengan chapter ini Malfoy makin penasaran…

: di chapter ini udah author kasih petunjuk tuch kenapa di rahasiain,….. terus ikuti ya biar tahu…hehe..

-Sana Uchiga : jangan nangis ya….cup…cup..cup… rate T ya?. Ok dech author ganti…, hehe…. Maklum author baru, ga ngerti gimana milih rate yang sesuai sama cerita….terimakasih Sana …ikuti terus ceritanya ya…

-Readers : baik dilanjutkan…hehe…

-Yukori Kazaqi : haha…reviewnya Yuko banget dech….,( komat-kamit doa biar Yuko ga liat Typo di chapter ini )

-Arum Junnie: siap….bos….lanjut lagiii…

-Mufylin : bentar lagi ko, Itachi bakalan tau siapa ibunya ….temenin author terus ya…

-Kertas Biru : Author baru denger istilah SHDL dari kamu,… abis nyari-nyari info di om gugel baru dech ngarti… chapter ini bisa ga kalo author dedikasikan buat SHDL?... hehe boleh ya?... Ok…Happy SasuHina Day Love buat semua SasuHina fans di Indonesia….( Author ini fans yang masih bayi banget ….)

-Kirei-neko : semoga chapter ini menjawab sedikit pertanyan Kirei ya… semoga makin jelas dech alur ceritanya….. eh ngomong-ngomong kamu bisa baca pikiran ku ya?... hehe bcanda….. terus dampingi author ya… ok?...

-Salwakimura : Arigatou…..terus ikuti ceritanya ya….

Kalo ada readers yang komennya ga kebales gomenne….author matanya emang rada jereng kadang-kadang….

Jyaaa….Minna…..Arigatou….

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya…

(perasaan author kebanyakan bilang ' ya….' Dech ya…?)