Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
Chapter 8
Mustahil
"Masuklah!" Tsunade menyahut kearah pintu ruangannya yang diketuk lembut.
"Selamat Pagi Tsunade-sama!" Hinata muncul dari balik pintu dan menyapa dengan sopan.
"Selamat pagi Hinata!" Tsunade menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Hinata untuk mendekat masuk.
"Tsunade-sama, saya datang untuk menyerahkan laporan misi tim 8 di desa awan kemarin!" tanpa basa-basi Hinata langsung menyerahkan gulungan yang dipegangnya pada sang Hokage. Dia tahu Tsunade sepertinya sedang repot mengurusi segala macam gulungan yang terlihat menggunung di mejanya. Setelah perang berakhir, kelima negara besar memang menjadi lebih sibuk, banyak acara diselenggarakan untuk mempererat tali perdamaian, banyak pertukaran dan kerjasama yang dijalin. Dari mulai segi ekonomi, segi kesehatan, hingga segi pertahanan, kelima negara besar ini dengan gencar mengakrabkan diri. Tidak ayal sekarang ini Tsunade tengah kerepotan untuk membagi ninja-ninjanya agar bisa memenuhi semua undangan maupun permintaan tolong dari desa lain tanpa membuat Konoha kekurangan pasukan pengaman di dalam desa.
"Baiklah Hinata, tunggulah sebentar biar kubaca dulu laporanmu!" Tsunade membuka dan segera membaca laporan Hinata, dia tidak ingin menambah lagi gulungan dengan label 'Menunggu Tindakan' yang sudah menggunung di atas mejanya. Setidaknya yang satu ini mungkin sudah tidak perlu di koreksi lagi sehingga bisa langsung melemparkannya ketumpukan yang berlabel 'Misi Selesai' ke dalam lemari di pojok ruangan. Kalau sang pembuat laporan masih ada di sini dia bisa langsung memintanya memperbaikinya jika ada kesalahan, tanpa menumpuk lagi laporan-laporan yang berlabel 'Perlu Perbaikan' di sisi lain mejanya yang tidak kalah menggunung, akibat ulah para Shinobi yang menulis laporan dengan malas-malasan, ditulis sembarangan dan acak-acakan sehingga tidak layak dijadikan catatan data.
"Baik Tsunade-sama!" Hinata menyahut lembut, dia berdiri diam di depan meja Hokage menunggu Tsunade yang tengah memeriksa laporannya.
"Tok..tok..tok.." ketukan pelan terdengar di pintu.
"Masuk!" Tsunade berseru tanpa mengangkat kepalanya dari laporan Hinata, segera setelah itu, bunyi kriet pintu dibuka membuat Hinata memalingkan wajahnya ke arah pintu, ingin tahu siapa yang datang. Mata amethyst bertemu dengan mata onix, Sasuke menatap mata Hinata lekat, mereka beradu pandang beberapa saat sampai Hinata memalingkan wajahnya salah tingkah. Sasuke masuk mendekat, dia berdiri tidak jauh dari Hinata di depan Tsunade, menunggu sang Hokage mengangkat wajahnya.
"Ada apa Sasuke?" Tsunade berkata masih tidak mengangkat wajahnya dari laporan Hinata.
"Laporan misi!" Sasuke meletakkan laporannya begitu saja di depan Tsunade, kemudian berbalik ingin pergi.
"Tunggu dulu!, jangan pergi sampai aku mengijinkanmu!" Tsunade menatap garang punggung Sasuke, geram dengan sikap tidak sopan si Uchiha. Sasuke berbalik menatap Tsunade dengan tatapan jengkel, kemudian mendengus kesal setelah melihat wajah sang Hokage, kalau Sasuke tidak ingin telinganya panas setelah ini, lebih baik dia menurut saja. Tsunade mengisyaratkan Sasuke untuk berdiri di samping Hinata, dia tidak berhenti menatapnya sangar sampai Sasuke berdiri diam di tempat yang diinginkannya.
"Kalian berdua tunggulah sebentar!" Tsunade berucap tegas, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hinata melirik Sasuke di ujung matanya, pemuda itu terlihat memasang tampang kesal, wajahnya berpaling ke sisi lain ruangan, sepertinya tidak ingin melihat ke arah Hinata. Hinata menghela napas panjang lalu menunduk memperhatikan jari-jarinya yan saling diremaskan satu sama lain.
'Apa berada di ruangan yang sama denganku saja bisa membuatnya begitu kesal?' Hinata membatin.
Mendengar Hinata menghela napas panjang Sasuke berpaling menatapnya, rambut panjang gadis itu bergerai membingkai wajahnya yang menunduk, dia terlihat menggigit bibir sambil meremas-remas tangannya, gadis itu gugup entah kenapa. Disaat yang bersamaan Hinata melirik kearah Sasuke hingga mata mereka bertemu sekali lagi, kedua anak manusia itu segera saling membuang muka, mereka merasa malu sendiri. Tanpa mereka sadari saat ini Tsunade tengah memperhatikan gerak-gerik mereka penuh curiga, bibirnya menahan senyum, matanya memicing geli, dagunya ditopangkan di atas tautan jemarinya yang panjang. Wajah Hinata yang tertunduk terlihat mulai memerah, gadis itu berdiri tidak nyaman sementara Sasuke dengan tangan bersidekap di depan dadanya membuang muka kearah berlawanan.
"Kalian.." Tsunade berucap pelan sambil tersenyum, membuat kedua muda-mudi salah tingkah itu menatap kearahnya. Tsunade hanya diam tidak melanjutkan kata-katanya,dia terus menatap Sasuke dan Hinata bergantian.
"Apa?" Sasuke bertanya ketus, tidak suka dengan tatapan yang diberikan oleh Tsunade.
"Kalau diperhatikan, ternyata…. kalian serasi juga!" Tsunade tergelak oleh kata-katanya sendiri.
"Cih…..!" Sasuke membuang muka sekali lagi, wajahnya terasa memanas, di sisi lain Hinata sekarang ini terlihat seperti orang yang sedang demam, dia memerah bagaikan tomat matang, membuat Tsunade semakin geli saja.
"Hahaha….,baiklah. Laporan kalian sudah kuterima, tidak ada yang kurang. Tapi aku ingin minta bantuan pada kalian!" Tsunade berujar sambil tersenyum lebar. Sasuke dan Hinata tidak menyahut, mereka hanya memandang Tsunade, menunggu, bantuan apa yang diminta oleh sang Hokage.
"Ini bukan misi, hanya kegiatan suka rela jika kalian bersedia membantu. Di selatan Konoha di dekat kuil Uzumaki ada sebuah rumah yang dihuni oleh 3 orang tua yang memerlukan bantuan. Biasanya Genma yang datang setiap 2 minggu sekali untuk membantu mereka, tapi berhubung Genma sedang bertugas sekarang jadi dia terpaksa memintaku untuk mencarikan orang yang bersedia meluangkan waktu," Tsunade menerangkan.
"Baiklah saya bersedia!" Hinata segera menyahut, Tsunade tersenyum mengangguk, kemudian memberikan tatapan bertanya pada Sasuke.
"Hn.." setelah menggumamkan kata itu, dia segera berbalik beranjak dari sana. Baik Hinata maupun Tsunade, tidak ada yang mengerti apakah bocah itu bersedia atau tidak untuk membantu. Tsunade hanya menghela napas menanggapinya.
"Baiklah Tsunade-sama, saya permisi dulu!" Hinata undur diri dengan sopan, segera beranjak meninggalkan ruangan itu.
Hinata melangkah mengiringi Sasuke beberapa langkah di belakangnya, dia sempat mengira Sasuke tidak ingin ikut membantu tapi ternyata pemuda itu juga berjalan kearah yang Hinata tuju. Dalam diam Hinata berjalan sambil memandang punggung Sasuke, tubuhnya besar dan tinggi, berjalan tegap dengan dagu terangkat, dia melangkah penuh percaya diri dan arogan, sesuatu yang tidak akan pernah bisa Hinata lakukan. Meski terlihat begitu kuat, sekarang Hinata bisa melihat sisi rapuh didiri Sasuke, Hinata merasa kalau Sasuke saat ini hanya bergantung disehelai benang tipis yang bisa putus kapan saja, dia takut kalau sewaktu-waktu pemuda ini tiba-tiba akan kembali berpaling dan terjatuh kekegelapan. Hinata tidak tahu dari mana datangnya perasaan ketakutan itu, hanya saja dia merasa takut kalau itu terjadi, takut kalau pria itu kembali berdiri jauh tidak terjangkau. Hinata selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada dikepala sang Uchiha, seperti sekarang ini kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh sosok Sasuke di depannya, apa dia sedang menikmati udara pagi, apakah dia sedang senang?, sedang marah?, atau justru sedang sedih?. Dia tidak bisa menebak.
Setelah berjalan beberapa menit sekarang Sasuke dan Hinata berdiri di depan sebuah rumah besar yang terkesan tua namun bersih dan terawat. Taman di depan rumah itu terlihat terawat dan tertata rapi hanya saja banyak daun-daun pohon yang jatuh berserakan di mana-mana, Hinata celingukan melihat-lihat dari balik pagar sepinggang yang menghalangi mereka untuk mendekat lebih jauh.
"Permisi…!" Hinata berseru keras-keras, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah.
"Permisi….!" Kali ini Hinata berteriak lebih keras lagi, sementara Sasuke hanya berdiri diam di sampingnya.
Tidak lama kemudian seorang wanita tua datang mendekat dengan membawa sapu di tangannya, dia menatap heran kepada Sasuke dan Hinata.
"Ada apa?" nenek itu mengernyitkan kening kearah Hinata.
"Selamat pagi Nek!" Hinata menawarkan senyum kepada nenek yang sedang berdiri di pintu pagar di depannya, tapi yang didapatnya sebagai balasan adalah tatapan penuh curiga.
"Saya Hinata Hyuga dan ini Sasuke Uchiha!" Hinata memperkenalkan dirinya dengan sopan, nenek itu menatap Hinata dan Sasuke lekat-lekat.
"Kami datang kemari untuk berkunjung dan kalau ada yang bisa kami bantu kami akan sangat senang untuk melakukannya!" Hinata berkata lagi, berusaha meyakinkan agar nenek itu percaya kalau mereka berdua datang dengan niat baik.
"Biasanya Genma yang akan datang membantu!, Kalian pulang saja!" nenek itu mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Sasuke dan Hinata. Sasuke mendengus bosan, sementara Hinata berusaha menahan nenek yang sedang beranjak pergi meninggalkan mereka.
"Genma-san sedang tidak bisa datang nek, dia sedang menjalankan misi untuk Hokage-sama." Hinata berkata pelan-pelan pada nenek itu.
"Siapa mereka Soi-chan!?" Seorang nenek yang wajahnya lebih ramah datang mendekat kearah mereka.
"Mereka bilang mereka datang untuk membantu!" Nenek yang di panggil Soi berujar pada temannya yang baru datang.
"Selamat pagi!, Saya Hinata Hyuga dan ini teman saya Sasuke Uchiha. Kami datang atas permintaan Genma-san. Genma-san tidak bisa datang karena sedang menjalankan misi," Hinata tersenyum pada nenek yang baru datang, dan kali ini senyumnya dibalas.
"Begitu ya?, kalau begitu silahkan masuk!" Nenek yang baru datang itu membukakan pintu pagar untuk Hinata dan Sasuke, nenek Soi memandang mereka tajam kemudian berbalik meninggalkan mereka masuk kedalam rumah.
"Maafkan dia, dia memang selalu begitu pada orang asing. Namaku Chiyo. Kalian bisa memanggilku nenek Chiyo kalau mau." Nenek Chiyo mengisyaratkan Sasuke dan Hinata untuk mengikutinya.
"Apa yang bisa kami bantu?" Sasuke berucap langsung pada intinya dengan cuek dan terlihat malas. Nenek Chiyo memandang bocah tidak sopan di depannya dengan tatapan tidak suka, Hinata tersenyum menyesal memandang nenek Chiyo. Melihat tatapan minta maaf dari Hinata, nenek Chiyo tersenyum kemudian berpikir.
"Coba ku ingat dulu ya…..!, Ada beberapa pintu yang harus diganti kertasnya karena sudah bolong, Atap yang bocor di beberapa tempat dan perlu ditambal, taman yang sudah 2 minggu belum disapu dari daun-daun kering, koridor rumah yang perlu dipel, lalu langit-lagit rumah yang dipenuhi sarang laba-laba, kemudian di belakang ada pohon apel yang buahnya siap dipetik. Kurasa cuma itu," Nenek Chiyo tersenyum kearah Sasuke yang terlihat terkejut mendengar daftar tugas yang harus dikerjakannya.
"Tidak perlu terburu-buru, ayo masuk dulu!" Nenek Chiyo menarik lembut tangan Hinata, Sasuke memutar bola matanya tapi juga terpaksa ikut masuk mengekor Hinata.
Hinata dan Sasuke digiring masuk keruang tamu di rumah tua itu, semuanya terlihat rapi dan bersih, wangi segar khas jeruk tercium di seluruh penjuru ruangan. Hinata jadi kebingungan langit-langit mana yang perlu dibersihkan?, munkin bukan ruangan ini.
"Dirumah ini kami tinggal bertiga. Aku, Soi dan Aya, karena kami bertiga sudah tua jadi ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa kami lakukan sendiri, biasanya Genma datang untuk membantu" Nenek Chiyo tersenyum ke arah Hinata dan mengabaikan Sasuke, dan Sasuke pun juga mengabaikannya.
"Nenek Soi yang tadi kan?, kalau nenek aya?" Hinata bertanya penasaran.
"Ada, sebentar ku panggilkan. Aya-chan….!" Chiyo berteriak lembut kearah Shoji yang tertutup di belakangnya.
"Aya agak sedikit pikun, jadi tolong kalian maklumi ya…" Chiyo berujar pelan. Membuat Sasuke mengernyitkan kening, pikun macam apa tepatnya?. Pintu Shoji bergeser pelan, seorang nenek lain mengintip dari celah sempit yang dibuatnya.
"Aya-chan.. mereka adalah anak-anak baik hati yang akan membantu kita hari ini. Jadi tolong jangan mengganggu mereka ya!" Nenek Chiyo berkata dengan nada membujuk, Hinata dan Sasuke bertukar lirikan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan ruangan Hokage. Diam-diam mereka merasa takut juga, apa yang dimaksudkan 'mengganggu' ini?, mengganggu yang seperti apa sebenarnya?. Pintu Shoji digeser lebih lebar menunjukkan sosok nenek Aya dengan lebih jelas. 'Nenek cantik' itu lah yang pertama kali terlintas di kepala Hinata ketika melihat nenek Aya, kulitnya bersih dan putih, keriput tidak menutupi jejak kecantikan dari masa kejayaannya.
"Selamat pagi Nek Aya, Saya Hinata Hyuga!" Hinata menekuk sedikit lututnya agar bisa menatap sejajar mata nenek Aya yang lebih pendek darinya, Nenek Aya tersenyum kecil kearahnya, dia mengangguk pelan sebelum matanya melirik kearah Sasuke yang berdiri tinggi di belakang Hinata.
"Dia Sasuke Uchiha!" menyadari arah pandangan nenek Aya, Hinata memperkenalkan Sasuke karena menyadari Sasuke tidak akan mau berbasa-basi. Nenek Aya menyipitkan mata pada Sasuke yang berdiri diam tidak bergerak, tangannya bersidekap, wajahnya terlihat seperti orang malas. Mendengus, nenek Aya langsung membanting menutup pintu Shoji di depan wajah Hinata. Nenek Chiyo menghela napas lelah. Setelah itu Hinata dan Sasuke diajak ke tempat penyimpanan alat bersih-bersih oleh nenek Chiyo, Hinata memutuskan kalau hal pertama yang akan dilakukannya adalah menyapu halaman dari daun-daun kering, sedangkan Sasuke akan menambal beberapa bagian atap yang bocor.
Daun kering di taman sangat banyak, perlu waktu 15 menit bagi Hinata untuk menyapunya menjadi satu tumpukan daun yang menganak gunung, bersama dengan nenek Chiyo Hinata membakar tumpukan daun-daun itu. Sementara itu Sasuke juga sudah selesai menambal atap, dan sekarang dia sudah mengerjakan tugasnya selanjutnya, mengganti kertas pintu Shoji, yang katanya beberapa itu ternyata hanya satu buah. Hinata yang tengah selesai membersihkan daun beringsut duduk mendekat pada Sasuke, dia takjub melihat sang Uchiha dengan terampil dan cekatan mengganti kertas pintu itu.
Hinata memperhatikan wajah Sasuke yang tengah serius, bulu matanya lentik dan tebal, hidungnya mancung lancip, kulitnya putih, bulir keringat menetes dari pelipisnya mengalir menjalari garis rahangnya yang kokoh sampai ke ujung dagu kemudian mengalir jatuh melewati lehernya yang jenjang menuju…, Hinata buru-buru mengalihkan pandangannya. Wajahnya memerah, dia merutuki kelakuannya yang menatap sang Uchiha, meskipun dalam diam mengakui betapa tampannya Sasuke. Sasuke melirik Hinata heran, dia tidak mengerti kenapa gadis ini tiba-tiba memerah tanpa ada alasan jelas.
"Sudah selesai!, Apa selanjutnya?" Sasuke berucap tidak sabar setelah selesai memasang pintu yang sudah diperbaikinya itu ketempatnya semula.
"Nenek Chiyo minta tolong kita untuk membersihkan Roka ( lorong kayu di sisi luar rumah seperti teras )!"
"Hnn" Sasuke bangkit lalu menyusul Hinata yang sudah lebih dulu berjalan keluar ruangan. Sekarang mereka diam menatap Roka rumah ini, yang panjangnya sangat panjang itu. Tanpa berlama-lama Hinata segera turun menuju sumur yang ditunjukkan oleh nenek Chiyo tadi, dia membawa sebuah tempat air besar untuk menampung air yang akan digunakan untuk mengepel.
"Biar aku!" Tanpa peringatan Sasuke merebut tempat air yang dipegang Hinata.
"Kau tunggu saja di sini, biar aku yang mengambil air!" Sasuke berkata tanpa melihat kearah Hinata, gadis itu kaget namun kemudian tersenyum kecil. Hinata akhirnya pelan-pelan menyadari kalau Sasuke Uchiha juga punya sisi lembut yang manis di dalam dirinya.
Hinata dan Sasuke mengepel dalam diam, menggunakan sebuah lap, mereka bolak-balik mengepel lantai itu hingga mengkilap. Hinata dan Sasuke terduduk kelelahan bersandar di diding, namun tiba-tiba nenek Aya muncul berjalan di lorong dengan santainya. Hinata dan Sasuke membelalakkan mata ketika Nenek aya berjalan melewati mereka, disetiap langkah yang nenek Aya tinggalkan terdapat jejak kaki berlumpur, tidak cukup sampai disitu saja setelah sampai di ujung lorong nenek itu kembali berbalik dan berjalan lagi melewati Sasuke dan Hinata yang memasang tampang bego menatapnya. Sasuke mengeratkan rahangnya, kesal.
"Heh…Nenek tua!,apa yang kau lakukan?" Sasuke berteriak marah kearah nenek Aya, Hinata segera beranjak ke sisi Sasuke yang terlihat sangat geram.
"Apa kau bilang?" Suara nenek Aya terdengar menyelengit nyaring.
"Apa yang kau pikir kau lakukan heh?. Dasar nenek tua!" Sasuke mendengus kesal memijit pelipisnya, menyadari tidak ada gunanya marah pada orang tua yang pikun itu.
"Nenek tua?" Nenek Aya menggeram marah. Sasuke mengernyitkan kening kearahnya.
"Kau memang sudah tua kan nenek?"
"Sudah Sasuke-san!, Maaf nenek Aya, Sasuke-san hanya…" Hinata berusaha menengahi, namun terlambat.
"Zaaaash…..!" Air kotor bekas mencuci lap yang digunakan mengepel lantai sudah mengguyur Sasuke hingga basah kuyup. Mulut Hinata ternganga melihat Sasuke yang kuyup, kemudian dia menatap nenek Aya dengan takjub, tidak percaya kalau sang nenek bisa menganggkat dan mengguyurkan air pada Sasuke.
"Aaaaarggghhhh!" Sasuke mengerang kesal mendelik seram pada nenek Aya yang berdiri cuek bak tidak berdosa di depannya.
"Rasakan!...Dasar bocah tidak sopan! Huh….." Nenek Aya berbalik dengan santainya meninggalkan Sasuke dan Hinata. Sasuke mengeram jengkel, Hinata duduk di depan Sasuke untuk menghalangi pandangan Sasuke yang menetap nenek Aya dengan sengit, meskipun tidak mungkin Hinata takut kalau-kalau Sasuke akan melakukan sesuatu, seperti memukul mungkin?, tapi tidak mungkin.
"Sasuke-san!" Hinata berusaha menarik perhatian Sasuke, dengan gigi bergemelatuk geram Sasuke membuang muka, menyabari dirinya sendiri. Setelah dia bersusah payah membantu mereka, jadi begini balasannya?, diguyur air kotor?, heh… jangan harap akan ada kebaikan hati ke dua. Sasuke menyeka air yang mengalir kewajahnya.
"Sialan!..." tubuh bagian atas Sasuke benar-benar kuyup.
"Tunggu sebentar Sasuke-san!, biar ku ambilkan handuk!" Hinata segera berlari masuk ketempat nenek Chiyo meletakkan handuk yang katanya untuk mengelap keringat mereka tadi. Setelah menemukan handuk yang tergeletak di lantai Hinata langsung menyambarnya lalu berlari menuju Sasuke. Tidak mau membuat Uchiha yang sedang marah terlalu lama menunggu.
"Sasuke-san! Ini handuk untuk mengeringkan diri!" Hinata kembali bersimpuh di depan Sasuke sambil menyodorkan handuk kearahnya yang masih duduk dengan wajah tertekuk. Hinata menggigit bibir ketika dia juga menjadi sasaran delikan seram dari Sasuke, Sasuke meraih handuk yang diberikan Hinata padanya kemudian segera mengusap wajahnya yang basah. Setelah mengusap kering wajah dan rambutnya, Sasuke mengembalikan handuk itu pada Hinata, sang gadis menerimanya dengan heran.
'apa dia sudah selesai mengeringkan diri?' Hinata heran.
Tanpa ba bi bu dengan satu tarikan mudah Sasuke memololoskan bajunya yang basah melewati kepalanya, menampakkan dada telanjangnya di depan mata perawan Hinata. Hinata terbelalak menatap dada bidang Sasuke yang basah, dada itu terlihat berkilat-kilat dimatanya. Satu detik, dua detik,..dan..
"Kya….!" Hinata memekik sambil menutup wajahnya yang memerah dengan handuk ditangannya.
"Ada apa denganmu?" Sasuke bertanya heran tidak sadar akan kelakuannya, merasa basah dan dingin dia segera menarik handuk yang dipegang Hinata. Sang gadis membuang muka, berusaha untuk tidak melihat kearah Sasuke. Sasuke mengernyit masih tidak mengerti, dia segera menyeka air yang membasahi tubuhnya sambil terus menatap aneh kearah Hinata.
"Sasuke-san!, Tidak sopan kalau kau melepas pakaianmu begitu saja di depan orang lain!" wajah Hinata semakin memerah ketika dia mengucapkan itu. Mendengar itu Sasuke menyunggingkan senyum miring, melihat tingkah Hinata dia jadi ingin menggodanya.
"Kenapa?, apa kau takut tergoda?" Sasuke berucap masih dengan senyum miringnya, suaranya terdengar merayu.
Ingin menyangkal, reflek Hinata langsung menatap Sasuke, dan detik kemudian dia langsung menyesalinya. Sasuke sedang menatapnya dengan tatapan sensual, dagu terangkat arogan menyadari betapa mempesonanya dirinya saat ini. Tubuhnya bersandar kebelakang ditopang oleh kedua belah tangannya sehingga membuat otot-otot di dada telanjangnya semakin menonjol, perut rata berotot miliknya tidak ingin ketinggalan menggoda mata Hinata yang baru pertama kali melihat tubuh telanjang lelaki itu. Wajah Hinata memerah sampai taraf tidak masuk akal, namun meski ingin dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sasuke, gambaran sosok itu sepertinya saat ini sedang mematri dirinya sendiri di dalam ingatan gadis malang itu. Lidahnya kelu, yang bisa dilakukan oleh Hinata adalah mengeraut kebelakang menjauh dari Sasuke. Namun Sasuke masih belum selesai, dengan seringaian yang semakin lebar dia merangkak dengan kedua tangan dan lututnya mendekat kearah Hinata. Seperti serigala yang sedang memojokkan seekor kelinci.
"Kau menyukai apa yang kau lihat…. Hyuga?" wajah Sasuke hanya berjarak beberapa inci dari wajah Hinata, sang gadis membelalak menatap wajah Sasuke yang terlalu dekat. Namun dia sudah terpojok, sudah tidak bisa lagi mundur, karena pintu shoji yang tertutup rapat di belakangnya.
"Sasuke-san….!" Hinata berujar lirih.
"Braakk…" Pintu Shoji tiba-tiba terbuka, membuat Hinata terjengkal kebelakang, mereka berada pada posisi yang mencurigakan bagi orang yang melihatnya. Hinata dan Sasuke mendongak memandang kearah pintu yang tiba-tiba terbuka.
"Bletak…!" gagang sapu melayang menghantam dahi Sasuke.
"Aaaarrrhhhh!" Sasuke segera menjauh, dia memegangi dahinya yang terasa berdenyut.
"Apa yang kau lakukan?" Nenek Chiyo membelalak menatap Sasuke yang kesakitan sambil meraih Hinata yang memerah kedalam pelukannya. Sang gadis menggumamkan sesuatu namun tidak terdengar, wajahnya terasa panas, dadanya bergemuruh, matanya tidak bisa dialihkan dari pemuda yang meringis kesakitan tidak jauh di depannya. Dan sang pemuda sangat menyadarinya, senyum kemenangan menghiasi wajah tampannya.
"Rupanya… kau memang tergoda Hyuga!" bisiknya pelan namun masih bisa didengar oleh Hinata.
"Oh….. Kami-sama….! Ampuni aku….!" Meyadari kelakuannya Hinata bergumam pelan sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sasuke menyeringai tipis, dia terkekeh pelan.
"Bletak….!"
"Sialan!"
.
.
.
Kelelahan dengan kepala benjol berdenyut-denyut Sasuke duduk diam di bawah pohon apel yang baru saja dia panen buahnya beberapa saat yang lalu. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana Genma bisa mengerjakan tugas-tugas itu sendirian di tambah lagi harus menghadapi ketiga nenek menyebalkan itu, bahkan dengan bantuan Hinata saja dia masih kewalahan. Jangan harap dia akan mau lagi membantu mereka, tidak akan pernah!, meski dunia akan kiamat jika dia tidak melakukannya.
"Sepertinya Nenek Chiyo memukulmu terlalu keras!" Cicitan pelan terdengar dari sampingnya.
"Hn" Sasuke bergumam malas. Hinata duduk diam sambil memperhatikan benjolan merah di dahi Sasuke.
"Salahmu sendiri!" Hinata bergumam pelan, sedikit kesal Sasuke mengerjainya. Mendengar itu Sasuke berpaling menatapnya.
"Kau bilang apa?" Mata Sasuke menyipit.
"Ti…tidak ada!" Hinata tergagap. Namun Sasuke masih menatapnya, seringaian kembali terbentuk dibibirnya yang tipis. Baiklah, meskipun dia enggan mengakuinya bersama Hinata saat ini sedikit banyak membuatnya merasa nyaman dan senang, ditambah lagi bisa mengerjainya seperti tadi, Sasuke benar-benar menyukainya. Ditatap oleh Sasuke sukses membuat dada Hinata kembali berdentuman tidak tentu, Hinata menundukkan wajahnya gugup, Sasuke tersenyum kecil. Mereka berdua kembali duduk terdiam memandang hamparan luas rumut hijau yang bergoyang-goyang ditiup angin di pekarangan belakang kediaman ketiga nenek. Meski canggung dan gugup Hinata masih saja terus ingin berada dekat-dekat dengan si Uchiha terakhir, dia tidak tahu mengapa.
"Apa…Sasuke-san masih berpikir untuk meninggalkan Konoha?" Hinata bertanya pelan. Sasuke diam tidak menjawab, tapi hatinya bergumam.
'Saat ini, detik ini, duduk disisimu, aku tidak ingin pergi kemanapun'.
Melihat Sasuke yang membisu dengan tatapan menerawang jauh Hinata menghela napas perlahan.
"Apa yang akan Sasuke-san lakukan jika pergi dari Konoha?" Hinata menyuarakan rasa penasaannya.
"Apa kau akan menjadi ninja bayaran?, atau…"
"Aku akan jadi Petani…", 'mungkin.' Sasuke sesungguhnya tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya kelak jika dia pergi meninggalkan Konoha. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak akan ingin menjadi ninja bayaran yang rela disuruh-suruh orang kaya lemah yang bodoh hanya untuk uang. Dia lebih rela menjadi petani miskin yang hidup bebas sesuai kemauannya sendiri. Mendengar itu Hinata tersenyum lucu, pikirannya mengingat seonggok tanaman kering di dalam pot di kediaman Sasuke.
"Kau bahkan tidak bisa merawat Kaktus!, bagaimana mungkin menjadi petani?" Hinata terkikik pelan. Sasuke mengernyitkan kening.
"Bagaimana kau tahu kalau aku punya Kaktus?" Sasuke bergumam heran, mengingat kaktus hadiah dari Ino Yamanaka yang dia biarkan mengering tidak tersiram.
"Eh…?" Hinata baru sadar dengan apa yang dikatakannya. Sasuke menatapnya curiga, matanya menyipit memperhatikan wajah Hinata yang kembali merona.
"Apa kau diam-diam mengintipku Hyuga?"
"Ti..ti…" Hinata tergagap bingung ingin menjawab apa.
"Terkadang aku berpikir, mungkin Byakugan punya keuntungan lain yang bisa digunakan di luar arena tanding. Seperti ….'mengintip orang lain' misalnya!?". Sasuke tersenyum mengejek kearah Hinata, mengabaikan perasaan aneh di dadanya ketika memikirkan Hinata diam-diam mengintipnya.
"Itu tidak benar!, Hyuga tidak pernah menggunakan Byakugan untuk sesuatu seperti itu!" Hinata berujar lantang dengan wajahnya yang masih merona.
"Lalu kenapa kau bisa tahu kalau aku punya kaktus?, padahal kau tidak pernah datang ke kediamanku kan Hyuga?!" Sasuke menatap Hinata semakin lekat.
"Itu…aku…. Karena…."
"Karena kau mengintipku?"
"Bukan!... Karena kaktus itu ada di jendelamu, makanya aku bisa melihatnya!"
"Jadi kau memperhatikan jendelaku?" Sasuke masih ingin terus menggoda Hinata yang sedang gelisah meremas-remas ujung jaketnya salah tingkah. Hinata menggigit bibir.
"I..iya…!" Hinata merutuki kegagapan yang tiba-tiba kembali menyerangnya setelah bertahun-tahun tidak pernah muncul. Hinata melirik Sasuke takut-takut dari balik bulu mata lentiknya, Sasuke terdiam mendengar jawaban jujur dari Hinata.
"Aku..memang suka memperhatikan jendelamu Sasuke-san!" Hinata mencicit pelan, menyembunyikan wajahnya dari pandangan Sasuke. Sasuke terdiam, seringaiannya pelan-pelan pudar, perasaan ingin menggoda Hinata tiba-tiba menguap habis, perlahan namun pasti detak jantungnya semakin cepat tiap detakan.
"Setiap hari, saat aku melewati kediamanmu. Aku selalu bertanya-tanya apa kau masih ada di Konoha?, ataukah sudah pergi jauh dari Konoha?" Pelan-pelan Hinata mengangkat wajahnya yang tertunduk, dia menatap Sasuke lembut.
"Apa kau masih bisa kulihat di Konoha?, ataukah sudah menghilang pergi entah kemana?, setiap hari aku terus bertanya-tanya. Dan dari jendelamu lah aku bisa mendapat jawabannya" Hinata kembali menundukkan wajah menatap tangannya yang terkatup gugup di pangkuannya.
"Maafkan aku Sasuke-san!...Aku tidak bermaksud mengintipmu!" Hinata berbisik pelan, menyadari hal itu sama saja dengan mengintip. Sasuke membuang muka dengan wajah memanas hebat, dia berani bertaruh kalau saat ini dia sedang merona. Kesunyian kembali menyergap mereka, masing-masing sibuk mendengarkan debaran di dada mereka.
"Apa kau pernah berpikir untuk pergi dari Konoha?" Sasuke membuyarkan diam di sela debaran jantungnya yang semakin cepat. Hinata mendongak menatap Sasuke yang melihat kearah lain.
"Apa kau pernah bertanya-tanya seperti apa kehidupan di luar sana selain menjadi seorang kuniochi?"
"Apa kau pernah ingin tahu seperti apa rasanya hidup untuk dirimu sendiri?, bukan untuk clan, bukan untuk desa, tapi untuk keingianmu sendiri?" Sasuke berpaling menatap lekat Hinata tepat dimatanya.
Hinata terdiam, baru kali ini dia pernah mendengar Uchiha Sasuke bicara panjang lebar. Hinata tersenyum lembut, kemudian mengangguk pelan masih terus menatap Sasuke.
"Pernah!... mungkin akan menyenangkan ya? hidup lepas seperti itu?" Hinata memalingkan wajah memandang cakrawala, sekali dua kali dia memang pernah memimpikan hal itu, hidup bebas untuk kemauannya sendiri, tanpa aturan, tanpa tetua, tanpa beban, hanya ada keinginannya sendiri.
"Ikutlah denganku!" Sasuke berujar dengan wajah dinginnya, menyembunyikan gemuruh didadanya. Entah darimana datangnya kalimat itu, Sasuke tidak tahu.
"Kalau kau ingin mencobanya, ikutlah denganku!" Hinata menatap kaget kearah Sasuke yang sedang memandangnya dengan tatapan yang membuat Hinata lupa cara bernapas untuk beberapa saat.
"Tidak bisa!" Hinata menggeleng, dia tahu Sasuke tidak serius, tapi entah kenapa sebagian hatinya menghangat mendengar ajakan itu. Sasuke berpaling memandang langit, mentertawakan kebodohannya sendiri di dalam hati.
"Aku tidak bisa pergi meninggalkan Konoha, meski ingin aku tidak bisa. Di sinilah rumahku Sasuke-san, di sini lah orang-orang yang kusayangi berada" .
'Yah…benar…lupakan saja… aku memang bodoh!' Sasuke bergumam di dalam hati mengingat senyum bodoh seorang pemuda berambut kuning.
"Oleh karena itu, aku juga tidak ingin kau pergi dari Konoha!" Hinata menautkan jemarinya. Sasuke kembali menatap Hinata.
"Karena kau juga orang yang ku sayangi, seorang rekan yang berharga,"
"Teruslah ada di sini Sasuke-san, hidup bersisian, saling melindungi dan menjaga, mempercayakan punggung satu sama lain ketika pertarungan, berbagi bahu ketika menghadapi kesedihan, saling merangkul satu sama lain bukan dalam aturan, tapi dalam keluarga besar yang kita sebut sebagai desa".
"Kita mungkin akan melakukan kesalahan, bertengkar tapi kemudian berbaikan, saling diam tapi kemudian bersenda gurau, mungkin akan banyak hal yang tidak kau sukai, tapi percayalah pelan-pelan semuanya akan baik-baik saja, selama kita semua memiliki satu sama lain, rekan, teman, semuanya akan merangkulmu dengan tangan terbuka. Kalau kau mengijinkan, kami semua akan merangkulmu dan menggandengmu erat-erat,"
"Jangan terus hidup dalam masa lalu, hiduplah untuk masa depan Sasuke-san!" Hinata berkata lembut menyelesaikan kalimatnya dengan senyum hangat yang berhasil menyihir Sasuke. Kata-kata Hinata pelan-pelan memaksa masuk kedalam hatinya yang tertutup rapat, berdayu dan merayu di dalam dadanya hingga membuatnya terus menatap lekat si empunya kata.
'Jangan pergi terlalu jauh dari pandanganku'.
"Huuuft…" Sakura menghembuskan napasnya kasar, berusaha menghilangkan rasa kesal kepada si kepala kuning.
"Si Bodoh itu….." Sakura berbisik disela gigi yang bergemeratak di dalam mulutnya.
Disuasana ruangan beraroma Sakura yang diterangi cahaya temaram 2 buah lilin merah, Sakura tengah duduk menghadap sebuah meja makan yang ditata elegan dan indah. Alas meja merah hati menampung dua buah piring putih berisi steak beraroma kelezatan yang lembut, di sisi-sisi piring peralatan makan perak ditata rapi siap digunakan, dua gelas anggur merah yang terisi setengah menjulang di sisi kedua piring siap untuk disesap isinya, bunga mawar merah yang dirangkai sederhana namun mewah bertengger di tengah-tengah meja bundar yang lumayan kecil itu, meski bearada di tengah bunga itu dipangkas pendek hingga tidak menghalangi padangan dari kedua sisi meja, terang sekali siapapun yang telah mempersiapkan semua ini pasti bermaksud untuk memberikan suasana yang romantis dan intim bagi siapa saja yang duduk dikedua sisi meja. Alunan music classic yang samar dan mendayu-dayu membuat Sakura memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut, saat ini dia benar-benar ingin melemparkan Naruto Uzumaki si otak dangkal ke langit ke tujuh dengan tinju dahsyatnya.
"Jadi … apa yang akan kita lakukan sekarang?" Sakura bertanya pada sosok pemuda tampan yang duduk disisi lain meja di hadapannya, pemuda bermata Onix itu terlihat begitu bosan, dia melipat kedua belah tangan di depan dadanya sambil menatap Sakura.
"Kita bisa menghancurkan pintu itu dan pergi mencari Naruto lalu menghajarnya," Sasuke berkata santai sambil mengisayaratkan pandangannya pada pintu kamar yang terkunci dari luar.
"Atau menghancurkan Kaca itu dan pergi mencari Naruto lalu menghajarnya hingga sekarat" pandangan Sasuke beralih ke jendela kaca besar yang mengarah tepat ke laut Konoha berhiaskan bulan penuh yang seperti mengambang di atas laut.
"Dan menarik perhatian yang tidak perlu… Sasuke jangan bercanda…!" Sakura berdengus kesal meskipun di dalam hati membenarkan solusi yang diberikan oleh sang Uchiha.
Tapi mereka saat ini sedang berada di sebuah kamar hotel mewah yang baru saja diresmikan di Konoha beberapa minggu yang lalu, letak hotel yang strategis dan indah ditambah fasilitas hiburan dan fasilitas bersantainya yang lengkap membuat hotel ini menarik banyak pengunjung baik dari luar maupun dalam Konoha atau dengan kata lain hotel ini sekarang sedang sesak dengan pengunjung. Segala jenis, bentuk dan ukuran, mulai dari para shinobi yang sedang cuti sampai dengan rakyat biasa mungkin sedang tidur memenuhi seluruh kamar yang ada di hotel ini. Kalau mereka bersikeras merusak pintu atau pun jendela hotel baru ini, maka Sakura tidak berani membayangkan perhatian jenis apa yang akan mereka dapatkan dari orang-orang itu, terlebih lagi entah berita apa yang akan tersebar keseluruh penjuru dunia ninja kalau ada yang mengetahui dia dan Sasuke berada di sebuah kamar hotel berdua saja dengan suasana makan malam romantis seperti sekarang ini. Baiklah sekali lagi ucapkan terimakasih kepada Naruto yang berbaik hati memberikan mereka kesempatan untuk masuk ke dalam situasi bermasalah ini.
"Kalau begitu kita nikmati saja, sambil menunggu Naruto mendapat kembali kewarasannya dan mengeluarkan kita dari sini" Sasuke menguraikan dekapannya lalu bersiap menyantap hidangan yang tersedia di atas meja. Dia sedang dalam suasana hati yang baik sekarang ini, sehingga tidak terlampau marah pada si Uzumaki yang sudah menjebaknya hingga terkunci di kamar ini.
"Huuuh…" Sakura kembali menghembuskan napas lelah lalu juga menyantap hidangan di hadapannya, dari pada terbuang percuma kan lebih baik dimakan.
Sasuke dan Sakura terjebak di sebuah kamar yang telah ditata sedemikian rupa oleh si pria baik hati bernama Uzumaki Naruto yang sebagai ungkapan rasa terimakasih saat ini mereka sangat ingin mencekiknya hingga tewas. Naruto mencoba untuk menolong memperbaiki hubungan canggung Sasuke dan Sakura semenjak kembalinya Sasuke ke Konoha, yang mungkin menurut si otak dangkal dengan mengurung dan mengunci mereka di sebuah kamar yang remang ditemani hidangan dan musik romantis bisa membuat lekang kecanggungan diantara dua umat manusia ini, dengan tulus berharap agar Sakura yang sepengetahuannya tergila-gila pada Sasuke mungkin akan senang dan berterimakasih, tanpa mengetahui gadis yang di pujanya itu pelan-pelan justru telah jatuh padanya. Dan untuk Sasuke, Naruto berharap dengan ini sang Uchiha itu bisa mengenal dan mengerti lebih lagi tentang gadis manis berambut merah muda itu, dan berharap Sasuke mungkin akan bisa menumbuhkan rasa untuknya. Sejak Sang Uchiha kembali Naruto dengan sangat gencar berusaha mendekatkan kedua rekan kesayangannya itu, menerima dengan lapang dada kalau Sakura-chan tersayangnya memang untuk Sasuke dan melewatkan segala apapun perubahan yang telah terjadi diantara keduanya.
"Harusnya aku sudah tahu…." Sakura mengunyah makanannya dengan gemas, tidak menduga hal ini akan menimpanya, Naruto belum pernah bertindak seekstrim ini ketika menjodoh-jodohkan dia dan Sasuke, entah apa yang terjadi dengan otak si Uzumaki itu. Sakura mungkin tidak tahu kalau hal ini berkaitan erat dengan seorang Uciha yang tertawa terpingkal di tengah jalan ramai di Konoha beberapa minggu yang lalu. Sasuke yang juga sama sekali tidak terpikir tentang hal itu, sekarang ini hanya melirik Sakura dari balik bulu matanya yang tebal, senyum miring tersungging di bibirnya, di benaknya dia mengakui Sakura yang sudah semakin dewasa, kalau saja saat ini yang ada di hadapannya adalah Sakura yang dulu maka mungkin sekarang Sasuke sudah lari terbirit-birit meninggalkan kamar ini, entah itu dengan menghancurkan jendela, pintu atau bahkan dinding sekalipun.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau ini semua adalah rencana Naruto, dasar bocah itu!…. Hinata juga, mau-maunya membantunya, kupikir sekarang adalah waktunya untuk gadis-gadis berkumpul bersama, tahu-tahu sekarang malah kita berdua yang terkunci di sini," Sakura bergumam geram, mendengar itu Sasuke yang tadinya tersenyum lucu melihat kekesalan Sakura jadi terdiam, pelan-pelan senyumnya berubah jadi wajah dingin yang menakutkan, Sakura yang tidak menyadari hal ini terus saja mengoceh tentang Hinata yang telah menghianatinya untuk membantu Naruto.
"Hinata benar-benar sudah ketularan Naruto, dia juga terkena sindrom menjodohkan dari bocah itu, awas saja kau Naruto… Setelah aku keluar dari sini kau akan tahu akibatnya!" Sakura mancak-mancak saking kesalnya, tidak menyadari aura suram yang mulai menguar dari Uchiha terakhir. Pikiran tentang Hinata yang ikut menjodohkannya dengan Sakura entah kenapa membuatnya marah, rasa marah yang bergitu mengganggu dan membuatnya merasa tidak berdaya, dan Sasuke sangat membenci perasaan itu, tidak berdaya bukan gayanya. Tiba-tiba Sasuke membanting alat makannya lalu berdiri dan melangkah kearah pintu, melihat itu Sakura jadi kaget.
"Sasuke, kau mau apa?" Sakura juga ikut berdiri waspada, naluri ninja memerintahnya untuk segera siaga.
"Menghancurkan pintu ini, lalu keluar dari kamar sialan ini!" perubahan emosi Sasuke yang derastis membuat Sakura menduga kalau Sasuke memang benar-benar pengidap bipolar disorder akut.
"Tunggu Sasuke…. Kau sudah gila ya?" Sakura segera berlari dan menghalangi Sasuke, gadis bermata amerald itu menatap garang kerah Sasuke yang kelihatan kesal.
"Coba pikirkan gosip macam apa yang akan tersebar tentang kita berdua!?" Sakura berusaha membujuk Sasuke yang entah apa sebabnya terlihat seperti sedang merajuk itu.
Sasuke tidak peduli dengan gossip, saat ini yang benar-benar dipedulikannya adalah rasa marah yang tiba-tiba menyerangnya, membuatnya ingin segera mencari sosok gadis berambut panjang indigo itu, lalu kemudian…., kemudian….,kemudian… entahlah dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah itu, yang pasti sekarang dia sangat ingin menemuinya.
.
.
.
"Sialan Naruto….!" Sakura yang tidak biasanya mengumpat kini berteriak nyaring menyumpahi Naruto, bagaimana tidak, mereka terkurung hampir 8 jam di dalam kamar itu sebelum beberapa saat yang lalu seorang pengurus kebersihan yang sepertinya memang sudah diperintah Naruto datang dan membukakan pintu untuk mereka. Dan belum lagi dia harus terus membujuk Sasuke sepanjang malam untuk tidak menghancurkan satu pun diantara pintu, jendela dan dinding di kamar itu, membuat Sakura semakin kesal pada Naruto . Sementara Sasuke, saat ini wajahnya sudah terlihat sangat mengerikan karena menahan kesal sepanjang malam.
"Kau cari dia ke Utara dan Timur, aku mencarinya di Barat dan Selatan!" Sakura yang sudah tidak sabar ingin memberi Naruto pelajaran segera menghilang dari sisi Sasuke. Dengan anggukan pelan Sasuke juga lansung melompat tinggi berusaha mencari keberadaan Naruto, Sakura berhasil meyakinkannya untuk menyiksa Naruto sampai tumbang, yah setidaknya dia tahu apa yang akan dilakukannya pada Naruto dibandingkan apa yang akan dilakukannya pada gadis Hyuga itu, dia bahkan sama sekali tidak mengerti bagaimana menyalurkan rasa kesalnya pada gadis itu.
Sasuke mencari kesana dan kemari, melihat kesini dan kesitu, mencari Naruto dengan serius, namun sampai matahari berada tepat di atas kepala dia masih belum bisa menemukannya. Sedikit yang Sasuke tahu kalau yang bersangkutan justru sedang membuntutinya dengan hati-hati, menggunakan istilah 'tempat yang paling aman adalah sarang musuh' sebagai acuannya. Naruto terus mengikuti Sasuke sambil ketakutan, bertanya-tanya sampai kapan kedua rekan setimnya itu akan memburunya, dia sedang menunggu-nunggu saat Sasuke dan Sakura reda marah mereka, kemudian pelan-pelan minta maaf, meskipun dia merasa sebenarnya tidak perlu minta maaf, toh niatnya kan baik, iya kan?.
'Sasuke dengan Sakura kan adalah pasangan serasi' Naruto berkilah, menolak alasan sebenarnya yang sedikit demi sedikit merayapi jantungnya hingga meremasnya erat, tidak mengakui rasa takut yang menghantui tidurnya tanpa ampun.
Sasuke berhenti berlari, berdiri tinggi disebuah batang pohon. Naruto jadi tegang, takut kalau Sasuke telah menyadari keberadaannya, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Namun Naruto mengernyitkan kening ketika menyadari Sasuke meyandarkan tubuhnya santai di batang pohon itu sambil menatap lekat kearah jalan setapak di bawahnya, tidak hanya sampai di situ yang membuat Naruto semakin keheranan adalah senyum kecil kini menghiasi bibir sang Uchiha. Naruto memberanikan diri melangkah lebih dekat agar bisa melihat apa tepatnya yang menarik perhatian Sasuke, melangkah pelan dan hati-hati, dia mendekat.
Bagai disambar petir, dalam sekejap darah Naruto seakan naik seluruhnya ke kepalanya. Membuat tubuhnya mendingin, di ujung sana di dekat semak belukar di sisi jalan seorang gadis tengah berjongkok memetik tanaman sambil bersenandung pelan, gadis itu menenteng sebuah keranjang yang sudah terisi dengan berbagai daun berwarna-warni yang kelak akan dijadikannya bahan untuk membuat obat luka rahasia clan Hyuga. Naruto kembali memandang kearah Sasuke untuk menyadari dia sama sekali tidak menyukai ekspresi yang ditunjukkan oleh sahabanya itu, ingin sekali dia menarik pergi Hinata dari pandangan Sasuke. Yah…dan itulah yang akan dilakukannya, dengan rahang terkatup erat Naruto melangkah ingin menghampiri Hinata, namun dalam sekejap Sasuke telah berdiri tegap di belakang gadis itu. Menyadari seseorang berdiri di belakangnya Hinata segera berdiri berbalik dengan postur siaga.
"Sasuke-san?!" mengetahui siapa orang yang mengagetkannya, Hinata menghembuskan napas lega dan menyantaikan tubuhnya kembali.
"Ada apa?" Hinata bertanya bingung menyadari kalau Sasuke tengah menatapnya lekat dengan ekspresi yang tidak bisa dia baca.
"Apa yang kau pikir kau lakukan?" Sasuke menatap tajam kearah Hinata sambil melangkah maju semakin dekat membuat Hinata mundur teratur menjauh dari Sasuke.
"Apa yang ku lakukan?" Hinata bingung. Punggungnya menyentuh pohon, dengan cepat kedua tangan kokoh Sasuke segera mengurungnya disana. Hinata meneguk ludah susah payah.
"Jadi sekarang kau suka mengurung orang huh?" Hinata terkesiap mendengarnya, jadi Sasuke marah karena itu. Hinata mengigit bibir merasa bersalah karena membantu Naruto. Caranya mungkin aneh, tapi Hinata tahu kalau Naruto punya maksud baik untuk mereka, meskipun sebenarnya Hinata mengabaikan perasaan terganggu dan tidak nyaman ketika membayangkan Sasuke akan terkurung berdua dengan Sakura di kamar itu.
"Jawab aku Hyuga!" Sasuke menggeram rendah membuat perut Hinata terasa seperti diremas-remas. Hinata hanya diam sambil menggigit bibirnya lebih erat lagi membuatnya merah sewarna darah, dia tidak punya pembelaan apapun untuk ini.
Sasuke memandang lekat Hinata, matanya yang membulat terlihat memantulkan bayangan dirinya, bulu mata yang lentik membayang di kulit wajahnya yang putih, pipinya mulai merah merona, hidungnya kecil mungil mancung menantang, dan bibirnya ….
"Maaf!" Hinata berbisik pelan sambil menundukkan wajahnya, saat ini jantungnya seolah sudah berada ditenggorokan, berlonjak-lonjak tidak terkendali.
"Jadi kau mengakui kesalahanmu?" Sasuke mengangkat wajah Hinata dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Sentuhan sederhana itu membuat Sasuke dan Hinata merinding, Sasuke mengeratkan rahang, kini dia dengan terang-terangan memandangi bibir mungil Hinata yang memerah, tatapannya membuat Hinata gemetar sampai ke sum-sum tulang. Dada Sasuke mulai membuncah dengan rasa ingin.
"Aku tidak suka!" Suaranya parau dan berat.
"Jangan pernah lagi… kau… menjodoh-jodohkanku dengan siapapun!" Suara Sasuke semakin pelan, wajahnya semakin mendekat. Hembusan napas Sasuke menyapu wajah Hinata, wangi jantan khas pria menyihir gadis itu.
"Hinata…." Untuk pertama kalinya Sasuke mengucapkan nama depan gadis itu, mata Sasuke perlahan menutup bersamaan dengan semakin mendekatnya jarak di antara mereka. Hinata terbelalak bingung, gemuruh di dadanya menghalanginya untuk berpikir jernih, dia ingin, dia juga ingin, tapi ada perasaan salah yang mengganggunya, dia merasa seakan menghianati Naruto saat ini, fakta bahwa dia juga sangat ingin.
'oh Sasuke apa yang kau lakukan padaku?'
'Tidak apa-apa, kau tidak menghianati siapapaun. Kau bukan milik Naruto, kalian hanya teman' suara kecil terdengar dari dasar hatinya.
Dengan itu Hinata menutup matanya rapat-rapat, menahan napas, menunggu keinginan mereka bertemu. Sasuke berhenti tiba-tiba ketika menyadari tidak ada lagi hembusan napas Hinata yang mendera wajahnya, segera dia membuka matanya untuk menatap gadis itu. Wajah memerah, mata terpejam, napas ditahan, Sasuke tersenyum lucu memandangi Hinata.
"Bernapas….. Hinata!" Suara parau Sasuke membuat Hinata membuka matanya kembali, menatap bingung kearah sang pemuda. Mata Sasuke memancarkan rasa ingin yang tengah di tahannya di dalam dada, ujung Ibu jarinya perlahan menyentuh garis bibir bawah Hinata, menyusuri garis itu sampai keujung kemudian kembali lagi keujung yang lain. Manatapnya sayu penuh damba, sebelum pandangannya berpindah kemata Hinata, Sasuke terseyum tipis.
"Kalau kau melakukan itu lagi, kau akan menerima hukumanmu!" Sasuke berujar lirih, mengabaikan teriakan rasa ingin yang berontak minta dibebaskan, dia beranjak meninggalkan Hinata berdiri diam terpaku menatap punggungnya yang berlalu.
'Tenangkan dirimu bocah!' Suara berat kurama berdenging di telinga Naruto. Si rubah itu merasa terganggu dengan kemarahan Naruto yang meluap-luap mempengaruhinya.
'Diam!...' Naruto berucap dengan suara tidak kalah beratnya, kemarahan seakan tidak kuasa dia bendung lagi saat ini, melihat Hinata menyentuh bibirnya dengan tangan gemetar. Dia marah pada Sasuke, geram pada Hinata, pertunjukan yang disaksikannya tadi membuat Naruto merasa ingin mencincang Sasuke saat ini juga.
'Apa yang sebenarnya membuatmu marah?' Kurama berdecih ketika kemarahan semakin menguasai Naruto.
'Gadis itu bukan milikmu!, apa kau sadar?' Kata-kata Kurama seakan menusuk tepat ke jantungnya menemukan tempat paling lemah didadanya. Enggan mengakui kalau Kurama benar, Naruto hanya berdiam diri sambil memandangi Hinata yang masih belum bergerak dari tempatnya berdiri.
"Kau milikku Hinata, aku akan menjadikanmu milikku!" Naruto bergumam berjanji pada dirinya sendiri.
"Kau tidak akan kubagi dengan siapa pun!"
"Tidak lagi…"
"Oue…..Teme…!" sebuah teriakan memekakkan telinga terdengar dari pintu masuk kedai sake terkenal di Konoha. Sasuke yang dipanggil mengerutkan kening mentap kesal kearah sahabat kuningnya, kemudian mengabaikannya bagai angin lalu, dia kembali menatap botol sakenya yang ke 3, menuangkan dirinya secawan lagi cairan memabukkan itu, lalu menandaskannya dalam sekali teguk. Naruto berjalan cepat menghampiri meja tempat Sasuke berada dengan wajah di penuhi seriangaian bodoh namun menawan. Sesekali si pahlawan desa itu membungkuk sopan pada penduduk yang menyapanya dari meja mereka.
"Teme, apa yang kau lakukan di sini?" Naruto mendudukkan dirinya di seberang Sasuke yang menatapnya sengit.
"Minum" Sasuke menjawab singkat, Naruto mengernyit, Sasuke bukan tipe orang yang suka minum-minum sebelumnya, tapi sepertinya hal itu telah berubah, tepatnya beberapa minggu belakangan Sasuke jadi sering minum sendirian di kedai ini.
"Heh…Aku tahu kau minum teme, maksudku kenapa kau minum sendirian?, kenapa tidak mengajakku?" Naruto menuangkan sake kecawan Sasuke kemudian menyerahkan botol yang tadi di pegangnya pada Sasuke, mengisyaratkan agar Sasuke juga menuangkan sake ke cawannya.
"Bukannya kau tidak suka minum, bodoh?" Sasuke bertanya sambil menuangkan Sake ke cawan Naruto. Naruto menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal sambil terkekeh pelan.
"Kalau untukmu, apa sih yang tidak akan aku lakukan?" Naruto tertawa sambil menatap Sasuke genit, berniat menggodanya. Sasuke tersenyum tipis, senyum yang hanya akan di tunjukkannya pada Naruto seorang.
"Kau terdengar seperti perempuan yang berusaha merayuku tahu?!, dasar bodoh." Sasuke menenggak habis lagi Sakenya, sementara Naruto taku-takut menyesap Sake di cawannya, kemudian segera terbatuk-batuk tidak terkendali ketika sensasi asing sampai ketenggorokannya yang tidak biasa, Sasuke tertawa pelan melihatnya.
"Mereka bisa mengira kau itu tidak normal, Dasar Banci" Menyindir Naruto sambil menyeringai lebih lebar.
"Heh…yang benar saja?. Kau yang tidak normal dasar Teme….!" Naruto berujar nyaring pada Sasuke setelah reda dari batuknya, kemudian menatap cawan sake nya seolah benda itu adalah benda paling mengerikan di dunia, meletakkannya jauh-jauh dari hadapannya, di dalam batin dia bertanya-tanya apa yang membuat Sasuke sangat menyukai minuman yang rasanya begitu mengerikan itu. Melihat reaksi yang ditunjukkan Naruto pada sake membuat Sasuke menujukkan wajah mengejek kearah calon Hokage itu, sang Uchiha itu kembali meraih botol sake yang masih berisi setengah itu, namun tangannya di hentikan oleh tangan berkulit terbakar matahari.
"Hei..hei… kau sudah terlalu banyak minum Sasuke" Naruto melirik dua botol kosong sake di sisi meja, dengan malas Sasuke menarik tangannya dari genggaman Naruto, kemudian meraih botol itu dan menenggaknya langsung tanpa pikir pajang, sebelum akhirnya menatap Naruto dengan tatapan 'kenapa?, tidak suka?'.
"Dasar…Teme…" Naruto mendengus kesal kearah Sasuke, Sasuke hanya tersenyum penuh kemenangan sambil menatap sahabat baiknya itu. Kalau saja Naruto tahu alasanya menenggak minuman itu, pasti saat ini dia akan menyodorkan puluhan botol yang terisi penuh dengan Sake untuk Sasuke tenggak. Sasuke perlu Sake, sangat banyak Sake untuk mengalihkan perhatiannya dari seorang gadis bermata rembulan yang tidak mengijinkan Sasuke untuk melupakannya barang sedetik. Hanya dengan Sake Sasuke bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, Sasuke hampir menyesali sikap tehormatnya tempo hari pada Hinata, seandainya dia cium saja gadis itu saat itu mungkin saat ini dia tidak akan semenderita ini. Bibirnya terasa menggelanyar mendamba bibir merah itu, demi tuhan!.
"Hinata tadi mencarimu!" Naruto berujar santai, meskipun kata-kata itu terasa pahit dilidahnya. Sasuke mendongak menatap Naruto.
"Dia ingin memberikan manisan apel untukmu!" Sasuke mengernyitkan kening, tidak tahu harus merespon bagaimana.
"Dia bilang itu ungkapan terimakasih sekaligus permintaan maaf dari nenek Chiyo padamu. Tadi aku menemaninya ke rumahmu, tapi kau tidak ada di sana jadi kami tinggalkan saja di depan pintumu." Naruto menjelaskan panjang lebar semantara Sasuke hanya diam mendengarkan. Setelah mengucapkan itu Naruto juga terdiam, saat ini ingatannya tengah memutar kembali kejadian yang membuatnya geram itu. Masing-masing dari mereka menyadari ada udara pekat di sekeliling mereka sesaat setelah nama Hinata disebut. Naruto melirik Sasuke yang memainkan botol Sake di tangannya. Naruto sudah tidak bisa lagi menahannya, rasa cemburu ini begitu menyiksa.
"Akhir-akhir ini kau cukup dekat dengan Hinata ya … Sasuke ?" Tangan Sasuke terhenti seketika, Naruto menggeram di dalam dadanya.
"Kau…."
"Tidak bermaksud merebutnya dariku kan Sasuke?" Naruto memaksakan nada bercanda yang tidak pas, terdengar begitu sumbang dan ragu.
"Kau sudah gila rupanya!" Sasuke mendelik, berujar keras menyangkal, merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap tangan sedang mencuri.
"Huahahaha..ha..ha..!" Naruto tertawa nyaring membebaskan rasa menekan di dadanya, memang jawaban seperti itulah yang ingin didengarnya dari mulut Sasuke. Namun rasa lega itu lenyap secepat ketika dia datang, menyadari Sasuke mengencangkan rahangnya erat sambil menggenggam botol Sake yang seolah ingin diremukannya hingga berkeping-keping. Berangsur-angsur tawa Naruto mereda, wajahnya yang menyeringai pelan-pelan berubah serius. Setelah keheningan yang begitu mencekam akhirnya Naruto kembali memulai,
"Caramu menatapnya membuatku takut," Sasuke membuang muka. Membuat Naruto menatap kearah lain juga, berusaha mendorong rasa takut di dadanya. Sikap Sasuke menakutinya, dia lebih suka kalau Sasuke mengatainya atau bahkan menghajarnya sekalian, mengatakannya bodoh dan idiot seperti biasanya ketika dia mengatakan sesuatu yang bodoh dan tidak masuk akal.
"Aku merasa seperti dikuliti hidup-hidup saat merelakan Sakura-chan mencintai dan memilihmu".
"Tapi kali ini… kalau hal bodoh terjadi…" Sasuke masih diam tidak bergeming.
'kalau hal bodoh benar-benar terjadi…' Naruto mengerutkan kening menunduk menatap cawan Sake yang tadi diabaikannya.
"Meskipun dia berlari menjauh, aku tidak akan pernah melepaskannya pergi!" Naruto berkata lantang pada Sasuke.
'Tidak akan Sasuke…tidak kali ini!'
"Aku sudah selesai!" Sasuke meletakkan uang di atas meja kemudian segera beranjak meninggalkan Naruto, di pergi menjauh tidak ingin memandang wajah itu berlama-lama, dia tidak bisa. Rasa kesal dan marah yang dirasakannya seakan tersulut berkobar, membuatnya ingin mematahkan dan menghancurkan sesuatu.
Naruto meraih cawan Sake miliknya kemudian menenggaknya habis, mengabaikan rasa terbakar ditenggorokannya, dia meringis dalam diam.
"Aku sudah memikirkannya!, aku memutuskan pergi dari Konoha!" Kata-kata Sasuke membuat Tsunade memijat pelipisnya.
"Apa kau yakin?" Tsunade ingin memastikan sekali lagi, meskipun dari wajah itu dia tahu kalau keputusan Sasuke sepertinya sudah bulat.
Suara tawa yang akrab ditelinga terdengar renyah dari jendela Hokage yang terbuka, Tsunade menengok ingin mengetahui apa yang sedang ditertawakan oleh bocah kesukaannya. Sasuke pun begerak mendekat, mamandangi Naruto yang tertawa nyaring di bawah sana.
.
.
.
Naruto tergelak mendengar lelucon dari Lee, Kiba dan Shino pun terkekeh disampingnya. Sejak Neji meninggal Lee berubah menjadi pelawak untuk semua orang, berusaha menghibur sebisanya. Hinata dan Tenten terkikik geli sambil terus berjalan di depan keempat pemuda itu. Kemudian tanpa sengaja pandangan mata Naruto bertemu dengan pandangan Sasuke di dalam menara kantor Hokage. Saat itu juga sekelilingnya seakan menggelap, hanya ada dia dan Sasuke saling menatap satu sama lain, hingga kemudian sosok Hinata pelan-pelan muncul, bergerak mendekat menyongsong Sasuke. Rasa sakit dan tidak rela memenuhi rongga dadanya.
"Hinata!..." Naruto berteriak nyaring memanggil Hinata.
Semua orang dijalan itu berhenti untuk menatap heran kearah Naruto, Hinata pun berbalik menatapnya bingung, disampingnya Tenten memiringkan kepalanya mengeryit tidak mengerti.
"Oi..oi…kenapa teriak-teriak Naruto?" Kiba menyumpal kedua telinganya dengan jari telunjuk, dia memang berdiri paling dekat dengan Naruto saat ini. Naruto tidak menggubris kata-kata Kiba, ia hanya menatap lekat Hinata di depannya.
"Ada apa Naruto-kun?" Hinata berkata pelan, merasa malu karena diperhatikan semua orang.
"Hinata…. Aku…!" Naruto bergerak mendekat, mendekap Hinata kedalam pelukannya, waktu berhenti, semua orang melongo memandang kaget kegiatan kedua muda-mudi itu di tengah keramaian.
"Na…Naruto-kun?"
"Aku mencintaimu Hinata! Jadilah milikku!"
Tenten menutup mulut terkejut, senyum lebar menghiasi bibirnya. Siulan jahil terdengar dari kiba, Shino berdiri kaku tidak bergerak, sementara Lee menangis terharu mendengar pengakuan lantang dari Naruto. Pemuda itu memperdengarkan isi hatinya kepada semua telinga terbuka yang bersedia mendengarkan pengakuannya, sekaligus memperingatkan dengan jelas maksudnya pada siapa saja yang ingin mengganggu gadisnya. Khususnya pada mata hitam di atas sana, yang tengah memandang dingin kearahnya. Semua orang tahu kalau sang putri Hyuga itu sudah sejak dulu mencintai Naruto, sehingga penduduk desa riuh rendah berseru, ikut senang untuk pasangan muda itu.
"Akhirnya kau punya nyali juga Naruto!" Kiba memandang senang kearah kedua rekannya yang tengah jadi pusat perhatian.
Hinata terdiam kaku, wajahnya memucat, terkejut, tidak percaya, dia ragu dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia tidak yakin dengan cinta Naruto. Hinata meringis dalam hati ketika bayangan sosok Sasuke justru memenuhi ingatannya, pikirannya tidak bisa fokus, seperti melayang-layang mempermainkannya, berputar acak tidak bisa ditenangkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya saat ini Hinata meragukan cintanya pada Naruto. Menyadari sang gadis hanya terdiam dipelukannya Naruto bergumam pelan di telinga Hinata.
"Hinata maukah kau jadi kekasihku?" mendengar suara itu memelas di telinganya, Hinata luluh, bagaikan mimpi yang jadi nyata.
'Apa lagi yang kau pikirkan Hinata?, apa lagi yang kau tunggu?, bukankah ini mimpimu?, bukan kah ini yang selama ini kau inginkan?' Hinata berusaha mengingatkan dirinya sendiri, mengabaikan bisikan keraguan yang berujar lirih dari hati kecilnya.
Tangan Hinata yang sejak tadi terbujur kaku di sisi tubuhnya bergerak perlahan membalas memeluk Naruto, dia mengangguk perlahan menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Naruto. Naruto tertawa pelan menanggapi sikap malu-malu Hinata.
.
.
.
Tsunade tersenyum kecil melihat kejadian itu, kemudian tiba-tiba dia menyadari sesuatu, dia teringat dengan muda-mudi salah tingkah di ruangannya beberapa waktu yang lalu.
'Tidak mungkin kan?' Tsunade berujar dalam hati, berpaling menatap Sasuke yang menatap dingin pemandangan di bawahnya. Sasuke berbalik perlahan beranjak meninggalkan ruangan Tsunade.
"Aku akan pergi, tidak perduli apa yang akan kau katakan!"
'Pada akhirnya, bertahan di Konoha ketika kau masih mencintainya, ternyata memang 'Mustahil'… Hinata!'
"Sasuke!" Naruto berteriak berusaha mengejar Sasuke yang berlari cepat menuju gerbang Konoha.
"Sasuke tunggu!" Sasuke mendengus kesal, dia terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau ingin pergi?" Naruto berujar sambil mengeratkan genggaman tangan disisi tubuhnya.
"Aku sudah muak berada disini!"
"Tapi bagamana dengan Sakura?, tidak bisakah kau bertahan untuknya?" Naruto mengeratkan rahang, tidak ingin menyinggung hal yang mungkin sebenarnya adalah alasan di balik semua ini.
"Aku tidak perduli"
"Dia mencintaimu Sasuke…, tidak bisakah kau melihatnya?, dia akan terluka kalau kau pergi."
"Kau buta atau bodoh Naruto?, Sakura tidak mencintaiku!, dia mencintaimu!," Sasuke geram.
"Bukankah kau juga mencintainya?, kenapa tidak kau saja yang membahagiakannya?" Sasuke mencoba.
"Itu tidak mungkin, aku memang mencintainya tapi dia mencintaimu."
"Jadi kau masih mencintai Sakura, Naruto?, bagaimana dengan Hinata?" Sasuke berbalik menatap kearah Naruto dengan sharinggan berkilau karena kilatan emosi. Naruto tertawa getir.
"Ternyata memang itu alasanmu pergi!" Naruto menatap Sasuke dengan kening berkerut.
"Apa kau juga menginginkannya Sasuke?, apa kau juga ingin merebutnya dariku?" Naruto berujar lirih, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang, dia tidak ingin Sasuke pergi, tapi dia juga tidak ingin merelakan Hinata untuk Sasuke. Merasa terjebak, Sasuke kembali berbalik memunggungi Naruto.
"Kalau kau tidak ingin itu terjadi, jangan menghalangiku!"
'Aku harus pergi, sebelum aku menginginkan lebih dari sekedar menatapnya!'
Buat teman-teman semua yang udah ngebaca, ngefav, ngefollow, ngereview, dan ngehargai karya amatir Hyuri ini, Hyuri mengucapkan terimakasih yang banyak-banyak-banyak-banyak banget.
Buat semuanya yang udah ngasih masukan juga makasih ya, Hyuri menghargai banget itu, jadi nanti-nanti bagi siapapun yang mau ngasih pengetahuan lagi buat Hyuri dari segi penulisan ataupun kata-kata yang rada ga enak dibaca jangan sungkan-sungkan deh buat ngomong ya!. Biar fic ini makin enak dibacanya untuk kebaikan kita bersama, hehe…
Dan juga jangan lupa review ya….! ….haha…. soalnya cuma review dari temen-temen semua yang bisa bikin Hyuri semangat lanjut nulis cerita ini di tengah rasa kecewa yang mendera#Cie ile bahasa ku ya…kya….lebai banget…. wkakkakakakak
Sampai jumpa di chapter berikutnya!.. bye…. : )
