Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback
Chapter 9
Awal Kebenaran
"Kelinci kecil…..!" Suara lembut seorang wanita terdengar menggaung terpantul ke penjuru hutan terbawa dinginnya udara malam, membuat pasangan suami Istri yang tengah bersembunyi di balik sebuah batu besar meringkuk gemetar saling memeluk satu sama lain.
"Bersembunyi lah yang rapi… Aku bisa melihat telingamu yang gemetaran!" suara kikikan mengiringi setelahnya.
"Oda…!" Seorang wanita muda terdengar meringis takut memeluk suaminya, tubuhnya bergetar ketakutan.
"Souko!, Aku akan berusaha mengalihkan perhatiannya, dan kau segera lah lari!" Sang suami berujar pelan di telinga istrinya, berharap didengarkan.
"Tidak mau, Oda… aku tidak mau berpisah denganmu!" Sang Istri menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Lagi pula, kau juga tidak punya cukup cakra untuk melawannya Oda!. Mungkin kalau kita berdua kita akan bisa…."
"Jangan bodoh Souko, kita berdua sudah sama-sama kehabisan cakra!, kalau terus begini kita berdua akan mati ditangannya!" Sang suami merengkuh erat bahu istrinya, berusaha membujuk agar sang istri mau menurutinya.
"Kalau begitu biarkan saja, kita mati berdua untuk melawannya!. Dengan begitu kita berdua bisa mati terhormat sebagai seorang Shinobi!" Souko mengencangkan pegangannya di pergelangan tangan suaminya sambil menatapnya lekat.
"Souko, kita masih punya Eri!. Bagaimana dengan putri kita? Dia membutuhkan orang yang bisa menjaganya Souko, kau tidak boleh mati!" Oda berkata lembut pada istrinya, bayangan seorang gadis bermata hijau kebiruan memenuhi ingatan mereka.
"Moooou…ayah dan ibu kenapa harus pergi sih?, sebentar lagi kan ulang tahunku!" Eri menggembungkan pipi cemberut menatap orang tuanya yang tengah bersiap di depan pintu kediaman mereka.
"Ini tugas Eri, kami harus menjalankannya!" Oda menepuk lembut puncak kepala putrinya.
"Jangan manja Eri kau kan sudah genin!, lagi pula kami mungkin sudah akan pulang saat ulang tahunmu nanti!" Souko mengingatkan sambil merapikan kaos Eri yang dikenakan asal. Cemberut Eri pelan-pelan mengurai.
"Benar ya..janji?" Gadis kecil itu berucap nyaring kearah kedua orang tuanya.
"Yah…yah…!" Ibunya menjawab malas, Oda tersenyum pada tingkah putrinya yang menuntut.
"Baiklah kalau begitu, kalian boleh pergi!. Sana…sana…hush…hush….!" Eri memburu kedua orang tuanya sambil tersenyum.
"Cepat pergi!, supaya kalin cepat juga kembalinya!" Oda tertawa , Souko mencibir pada Eri. Souko dan Oda segera melompat meninggalkan Eri sendirian di depan pintu kediaman mereka.
"Ayah…Ibu…. Hati-hati ya….!. Ingat janji kalian!" Teriakan Eri yang menggelegar membuat pasangan suami istri itu tergelak.
Air mata mengalir dipipi Souko yang pucat, hatinya terasa sakit ketika menyadari kalau mungkin saja mereka tidak akan bisa lagi mendengar gelegar nyaring suara putri mereka itu. Tiga minggu mereka seperti terkurung dan tersesat di dalam hutan ini, sejauh apapun mereka melangkah mereka seperti kembali lagi ketitik semula, seperti berputar-putar di tempat yang itu-itu saja. Selama tiga minggu hanya makan buah-buahan yang semakin lama semakin menipis, dan hanya meminum air hujan yang jatuh adalah penyebabnya cakra mereka pelan-pelan menipis dan melemah seperti sekarang ini. Dan kemudian datang perempuan itu, menyuruh mereka lari untuk hidup mereka, mereka berusaha melawannya namun apa daya kekuatan mereka yang sudah kelelahan itu tidak bisa dipakai untuk melawannya.
"Kelinci kecil…..bersembunyilah yang rapi…! Hihihihihi….. ini menyenangkan!" Seorang wanita cantik berjalan mendekat menuju batu tempat pasangan suami istri Yamanaka bersembunyi. Bibir merah mungilnya membentuk senyum yang semakin lebar ketika dia dapat merasakan aura ketakutan yang menguar dari balik batu.
"Souko, sekarang!...kumohon!" Oda memelas pada istrinya. Souko menangis semakin deras, tapi dia mulai bersiap untuk lari, demi Eri, dia harus tetap hidup.
"Tolong katakan pada Eri, aku menyayanginya!" Oda berujar lirih, dia tersenyum sedih. Dengan itu Souko segera berlari secepat yang dia bisa, memacu kakinya menuju arah utara dimana terdapat jalan keluar yang dikatakan oleh wanita itu.
"Hei…hei… mau lari kemana?" wanita berkimono itu terkikik saat melihat Souko berlari menjauh darinya, dia semakin senang saja dengan permainan ini. Sesaat kemudian, pandangan mata emasnya terhalang oleh lelaki muda yang berdiri siap bertarung di depannya. Senyum semakin melebar menghiasi wajahnya yang cantik mulus tanpa cela itu, dia menyadari niat manusia-manusia di depannya ini.
"Kya….manisnya!" Sang wanita menangkup pipi dengan kedua telapak tangannya sambil berteriak gemas akan tingkah kedua manusia yang menurutnya manis itu. Tapi tentu saja itu semakin membuat nafsu makannya meningkat.
"Lawan aku!" Oda berucap lantang, setelah bertarung dengannya beberapa kali beberapa saat yang lalu dia sudah paham betul tabiat wanita ini. Wanita di depannya ini terlihat begitu anggun, cantik, kulitnya mulus putih, terlihat seperti wanita muda berumur 25 tahunan, rambut indigo panjangnya bergerai berkilau di bawah cahaya bulan, dari tampilannya tidak akan pernah ada yang mengira kalau wanita ini begitu mengerikan. Dia menyerang mereka dan melukai mereka di tempat-tempat yang bisa menyakiti namun tidak akan membunuh, menikmati jeritan kesakitan dan rasa takut mereka. Sejak tadi wanita ini terus saja mempermainkan hidup pasangan suami istri itu, menganggapnya seperti permainan yang menyenangkan. Wanita yang dibalut kimono perak itu tersenyum manis memiringkan kepalanya kearah Oda, matanya memancarkan rasa senang, bahasa tubuhnya menunjukkan kemanjaan seorang wanita yang tengah menggoda, dia ingin bermain-main lagi, Oda meringis, dia tahu ini pasti akan menyakitkan. Namun tiba-tiba wanita itu cemberut ketika menyadari Souko sudah mendekati ujung lorong batas hutan bermantra yang dia ciptakan.
"Hitsuji!" Dia memekik keras memanggil seseorang dengan kesal.
"Huh?, Apa?, kau sudah selesai bermain-main?" Seorang pemuda tampan berambut coklat pendek tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Kau kemana saja?" Wanita itu marah dengan suara lembutnya.
"Aku bosan menungguimu bermain-main!" Pemuda itu mendengus, menjawab dengan malas.
"Kau ini mau makan atau tidak sebenarnya?" Sang Wanita mendelik pada Hitsuji.
"Tentu saja!" Hitsuji berseru prustasi, kesal pada wanita cantik di depannya yang sejak tadi melarangnya memakan makanannya karena wanita itu ingin bermain-main dengan mereka. Sementara itu Oda terus berdoa dalam hati agar hal ini bisa terus berlangsung lebih lama agar Souko bisa keluar dengan selamat.
"Kalau begitu makan dia!" Wanita cantik itu menunjuk ringan pada Oda, seolah dia hanya semangkuk nasi yang siap disantap.
"Aku akan makan istrinya!, hihihi…" wanita cantik itu lenyap dalam sekejap. Oda jadi panik, dia berusaha berbalik menuju Souko berada namun geraknya terhalang oleh tubuh tegap Hitsuji.
"Dia selalu saja dapat yang lebih enak!, Dasar curang…" Hitsuji merutuk kemudian menatap lekat mata Oda, tubuh Oda tiba-tiba kaku tidak bisa bergerak, keringat dinginnya mengucur.
"Baiklah, maafkan tingkah kakakku ya!. Aku akan segera mengakhiri penderitaanmu!" .
.
.
.
Souko berlari kencang sambil menangis tanpa sekalipun berbalik kebelakang, dia tidak ingin melihat suaminya diapa-apakan oleh siluman itu. Nama putrinya terus diucapkannya di dalam benaknya, sebagai mantra penyelamat, sebagai penyemangat agar kakinya terus bergerak. Namun dalam satu kedipan mata, wanita siluman itu berdiri tidak jauh di depannya membuat Souko berhenti berlari dan terduduk di lantai hutan.
"Mau lari kemana?" Wanita itu bertanya lemah lembut, Souko bergidik ngeri.
"Tolong jangan bunuh aku!, kumohon!" Souko terisak memohon, saat ini dia hanya memikirkan putrinya.
"Hitsu!...Namaku Hitsu!" Wanita itu berdiri anggun sambil merapikan lengan kimononya yang berkibar-kibar, perak putih berkilat-kilat bercahaya memantulkan cahaya rembulan, membuat tampilannya sangat menawan.
"Panggil namaku lalu katakan kenapa aku harus membebaskanmu?!" Hitsu tersenyum manis menatap Souko.
"Hitsu-sama!, tolong kasihani aku!. Aku punya seorang putri yang sedang menungguku pulang!" Souko menangis deras, terluka harga dirinya karena harus memohon pada mahkluk nista itu , tapi demi Eri apapun bisa dilakukannya.
'Kumohon bebaskan dia!, kali ini saja!' Suara isakan lirih terdengar dalam diri Hitsu. Membuat Hitsu merengut tidak suka.
'Kau ini selalu saja seperti ini kalau aku mau makan!, menyebalkan!' Hitsu membalas suara itu dengan geram.
'Kali ini saja, kumohon! Kasihanilah dia!' suara lembut itu semakin terisak.
'Tidak mau!, Memangnya kau mau ya kalau tubuhmu ini membusuk? Huh?'.
'Biarkan saja membusuk!, aku lebih senang begitu dari pada seperti ini!' Suara itu terdengar marah dan bergetar.
'Dasar berisik, awas saja kalau aku dapat tubuh yang lebih cantik dari tubuhmu ini, kau benar-benar akan ku tinggalkan membusuk!' Hitsu berteriak nyaring dalam benaknya sendiri, hanya ada isakan yang di dengarnya setelah itu. Souko terdiam memandang wajah Hitsu yang ekspresinya berubah-rubah seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kemari!" Hitsu akhirnya berkata pada Souko, tubuh Souko tiba-tiba bergerak sendiri tanpa diperintah menuju Hitsu.
"Maaf ya sayang!, tapi aku harus makan!" Hitsu tersenyum manis pada Souko, mata Souko membelalak ngeri. Kemudian mulutnya terbuka lebar mengeluarkan cahaya kebiruan yang keluar menuju mulut Hitsu yang juga terbuka di depannya. Hal itu terus berlanjut sampai pelan-pelan tubuh Souko mengering menua, hingga akhirnya kering kerontang tidak bernyawa. Hitsu yang puas dan kenyang melepaskan jatuh tubuh itu begitu saja, dia menghela napas puas sambil mulai bersenandung meninggalkan tubuh Souko. Cermin kecil muncul di telapak tangannya, ditatapnya wajah yang tengah tersenyum puas memandangnya dari dalam cermin. Sedikit kerutan sekecil benang diujung matanya memudar hilang, Hitsu tersenyum semakin lebar, sambil terus melangkah dia bersenandung lembut.
'Sampai kapan kau akan terus melakukan ini?' Suara sedih kembali terdengar dibenak Hitsu, Hitsu memutar bola mata, oh astaga…dia sudah benar-benar bosan.
'Selamanya!. Aku tidak akan pernah berhenti!' Hitsu membalas suara itu sambil terkikik menang. Rambut indigonya berkibar bebas ketika hembusan angin mendera seiring dengan dilepaskannya mantra yang mengelilingi hutan itu. Suara isakan lirih terus terdengar didalam benaknya.
'Tolong bebaskan aku! Kumohon, Hitsu….'.
'Kau seharusnya membenci Itachi!, Karena Itachi lah yang telah membuat bibimu meninggal!'.
'Untuk melindungi nama baik bibimu, semua ini harus dirahasiakan!'.
'Kau tidak boleh meninggalkan kamarmu sebelum kau bersumpah untuk tidak menyampaikan rahasia ini pada siapapun!. Apa kau mengerti Haruko!?'.
Haruko menggelengkan kepalanya cepat, terduduk bersandar di pintu kamarnya, kata-kata ibunya terus bergema tidak pernah sirna dari kepalanya. Dia kebingungan, semuanya terasa tidak pas, semuanya tidak sesuai dengan cerita yang dia yakini selama ini. Apa semua ini?.
"Karena kalian sepupu Haruko…, kau tidak boleh mencintai sepupumu sendiri."
"Itachi Uchiha adalah putra bibimu, dia putra Hinata Hyuga."
Haruko memang mengakui kalau selama ini dia tidak pernah tahu siapa ibu Itachi, dan itu memang tidak penting untuk diketahui olehnya karena memang bukan urusannya. Tapi hal seperti ini benar-benar diluar bayangannya, Hinata Hyuga adalah ibu dari Itachi Uchiha, bagaimana mungkin?, bukankah Hinata adalah kekasih Naruto bukannya Sasuke?, apa yang sebenarnya terjadi?. Haruko mengernyitkan kening ketika mengingat ibunya menolak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam buku harian bibinya tidak ada sedikitpun menyinggung hal seperti ini. Apakah ibunya berbohong?, tidak mungkin.
"Apa maksudnya?, Itachi membuat bibi meninggal?, melindungi nama baik bibi?" Haruko semakin bingung, kepalanya terasa berputar-putar.
'Apa bibi meninggal ketika melahirkan?, melindungi nama baik bibi?, apa hal ini adalah aib?. Astaga…..!' Haruko terbelalak ketika pikirannya mulai mencoba mencari jawaban.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Kenapa Naruto-sama berbohong?" Haruko mengingat kata-kata Naruto padanya beberapa saat yang lalu.
"Apa yang mereka rahasiakan!?, kenapa mereka merahasiakannya?"
"Itachi-kun ada apa ini?"
"Kita adalah sepupu!, Apa kau tahu?"
Kemudian Haruko meyadari sesuatu, jangan-jangan buku harian itu masih ada kelanjutannya. Haruko segera bergegas berdiri kemudian membuka pintu kamarnya ingin segera pergi ke kamar Hinata untuk mencari kelanjutan buku harian bibinya yang mungkin masih tersembunyi di sana. Namun dua bunke berbadan besar berdiri siaga di depannya.
"Haruko-sama!, anda tidak di izinkan untuk meninggalkan kamar!" Salah seorang bunke berujar hormat padanya meskipun dia sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri menghalangi Haruko. Haruko mendelik geram pada mereka, kemudian kembali masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu. Percuma melawan mereka, Ibunya adalah kuncinya. Haruko mengaktifkan Byakugannya kearah kamar Hinata, meskipun menggunakan Byakugan di dalam rumah untuk situasi yang tidak genting itu dilarang, Haruko tidak peduli, dia tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya. Matanya bergerak cepat menyisir bagian-bagian kamar Hinata, mencari sesuatu yang tersembunyi, namun tidak ada yang mencurigakan. Haruko menghela napas lelah.
"Apa kau tahu siapa ibumu Itachi-kun?" Haruko bergumam pelan, dia bertanya-tanya.
"Aku rindu Haruko-chan!" Chizo merengek manja pada Eri di sampingnya, Eri mengangguk menanggapinya.
"Aku juga!" Eri berkata pelan, dia ingin pelukan Haruko saat ini juga. Chizo mulai jengkel dengan sikap Eri.
"Kau kenapa sih?, sudah dua hari ini kau bersikap seperti orang yang tidak makan!" Chizo cemberut menatap Eri.
"Kenapa urusan clan lama sekali?... Aku rindu padamu Haruko-chan!" Eri berteriak nyaring mengabaikan pertanyaan Chizo, berharap Chizo tidak rewel lagi bertanya-tanya padanya. Dia tidak ingin kebobolan menangis di depan Chizo saat ini. Dia harus kuat agar tidak membuat khawatir semua orang, paman Shikamaru, bibi Ino dan si menyebalkan Shikaku, untuk mereka dia harus tetap tenang dan kuat.
'Lagi pula, ayah dan ibu pasti pulang kan?!. Mereka kan sudah berjanji!' Eri terus menggumamkan itu setiap saat untuk menghibur dirinya sendiri, meskipun keyakinan itu terus menipis setiap detiknya.
"Dia baru tidak masuk latihan 2 hari, Kalian bertingkah seolah dia sudah pergi bertahun-tahun!' Toya menghampiri kedua temannya yang terlihat kusut karena ketidak hadiran Haruko itu.
Toya duduk di sisi Eri, mereka bertiga duduk di pinggir lapangan memperhatikan teman-teman mereka berlatih. Itachi sedang bertanding melawan Rio sedangkan Fuyu melawan Shikaku. Sora datang meringguk ke pangkuan Eri, Eri tersenyum kecil, anjing Toya itu sekarang sudah sangat akrab dengannya, entah kenapa Eri merasa Sora bisa merasakan kepedihan hatinya saat ini, ketika anjing kecil itu meringkik sedih mendangnya dengan kepala disandarkan dipahanya. Eri mengusap-usap kepala Sora dengan lembut, membelainya sayang sambil menatapnya diam. Toya dan Chizo saling bertukar pandangan mata, Toya menaikkan alis berusaha bertanya pada Chizo, Chizo hanya menggeleng menjawab tidak tahu. Toya menatap khawatir pada rekan satu timnya yang biasanya sangat bersemangat itu, dia takut kalau-kalau Eri sakit.
"Eri…..!" Chizo memanggil Eri lembut.
"Hmm?" Eri menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sora yang tengah menjilat-jilat telapak tangannya.
"Kau tidak sedang mencoba untuk meniru Fuyu-chan kan?" Chizo berkata setengah ingin bercanda, biasanya Eri pasti akan bereaksi kalau dia sudah menyinggung masalah ini. Namun Eri hanya menatapnya bingung seolah tidak mengerti, Chizo tidak tahu kalau saat ini kepala Eri sedang disibukkan dengan pemikiran tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi kepada kedua orang tuanya. Merasa tidak berhasil membuat Eri mancak-mancak seperti biasanya Chizo yang tidak tahu menahu apa yang sedang dihadapi Eri kembali berulah.
"Lupakan saja! Kau tidak akan bisa menjadi seperti Fuyu-chan!"
"Eh… apanya yang sepertiku?" Fuyu yang baru saja selesai berlatih mendekat sambil keheranan mendengar perkataan Chizo. Toya melemparkan botol air minum pada Fuyu dan Shikaku, mereka menangkapnya dengan sigap.
"Meskipun bisa, Itachi tetap tidak akan menyukaimu!" Chizo tergelak, bermaksud membuat Eri kesal lalu seperti biasa, Eri akan mengejarnya geram sepanjang lapangan. Namun apa yang didapat Chizo hanyalah kening bertaut dan senyum kecil dibibir Eri, gadis itu hanya mengangguk-angguk mengerti, Chizo segera kembali menelan tawanya.
"Buuk!"
"Aduuuuuhhhhhh!" Chizo mengerang mengusap-usap dahinya yang dilempar botol air minum dari arah depannya, ingin marah Chizo mendelik kearah datangnya benda itu. Shikaku berdiri dengan wajah mengerikan memandangnya marah, sejak kapan Shikaku jadi kakak sepupu yang protektif?.
"Kau kenapa Shikaku?. Sakit tahu!" Chizo merengek masih tidak mengerti, Shikaku hanya mendengus.
"Tanganku berkeringat!, tidak sengaja, maaf!".
"Kau tidak lucu!" Chizo berteriak pada Shikaku, Eri tertawa pelan berusaha menunjukkan pada Shikaku kalau dia baik-baik saja.
"Aku sudah hapal, sekarang sudah tidak mempan lagi!" Eri menjulurkan lidah pada Chizo kemudian tertawa, tawanya terdengar renyah riang, Shikaku mengernyitkan kening.
'Dasar sok kuat!' Shikaku bergumam dalam hati sambil mendekat lalu duduk di depan Eri memunggunginya, memandang Rio dan Itachi yang masih berlatih.
"Fuyu-chan lihat nih kepalaku benjol!" Chizo berujar pada Fuyu yang duduk di sampingnya. Fuyu mengusap-usap kepala Chizo bagai ibu yang sedang merawat anaknya, Toya mengejek Chizo yang manja sementara Eri tertawa geli melihatnya. Beberapa saat kemudian Itachi dan Rio selesai berlatih, mereka berdua terlihat bermandikan keringat, Rio kewalahan menghadapi Itachi sementara Itachi kewalahan oleh kekuatannya sendiri. Mereka berdua berjalan mendekat menuju rekan-rekannya yang tengah duduk beristirahat ditepi lapangan.
"Chizo….. Aku kehausan!" Itachi berujar pada Chizo, berharap Chizo memberikannya air minum. Fuyu dan Eri mengacungkan botol minum pada Itachi disaat yang bersamaan. Membuat semua orang terdiam, Itachi berdiri diam kebingungan, botol mana yang akan dia ambil?. Shikaku menunduk sambil memijat pangkal hidungnya yang mancung, berharap hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi disaat-saat yang rapuh seperti sekarang ini. Itachi masih berdiri diam, memandang Fuyu dan Eri bergantian, dia merasa serba salah. Sebuah tangan menjulur meraih botol milik Eri.
"Kau…!" Rio memukul pelan puncak kepala Eri dengan botol minum yang diraihnya dari tangan gadis itu.
"Harusnya merawat rekan setim mu!" Rio berkata santai kemudian menenggak air minum dengan penuh dahaga. Eri menepuk kepalanya sendiri, kemudian tertawa pelan.
"Heh…Maaf!, Aku lupa Rio-kun! Jangan marah ya….!" Eri berkata pada Rio dengan nada membujuk, Rio hanya memutar bola matanya menunjukan sikap kesal. Shikaku menghembuskan napas lega, di dalam hati berterimakasih pada Rio yang tengah menyelamatkan hati sepupunya dari situasi yang berbahaya tadi. Itachi menatap mereka, dia seharusnya juga merasa lega namun dia malah merasa …. Entahlah, yang pasti bukan lega.
"Itachi-kun?" Fuyu berusaha menarik perhatian Itachi yang terdiam menatap Eri dan Rio.
"Oh.. Maaf!" Itachi tersontak kaget, dia tersenyum pada Fuyu kemudian menerima botol yang disodorkan olehnya.
"Jadi ?" Rio bertanya pada Eri. Eri mengangguk pelan kearahnya sambil berdiri dan berjalan mendekat pada Rio.
"Mau kemana?" Shikaku bertanya pada Eri.
"Kencan!" Rio menjawab sekenanya, kemudian tersenyum simpul ketika melihat ekspresi teman-temannya yang lain. Itachi tersedak air yang diminumnya, Fuyu yang berada di dekatnya menepuk-nepuk pundak Itachi yang tengah terbatuk-batuk.
"Apa?" Chizo berteriak tidak percaya sementara Toya tertawa terbahak mendengarnya, dia tahu kalau Rio berbohong.
"Kencan?" Shikaku memandang Eri meminta penjelasan. Eri sendiri tengah memandang Rio dengan wajah terkejut, kemudian seringaian lucu nampak di wajahnya.
"Kau bilang ini rahasia kan?" Eri membujurkan jari telunjuknya di depan bibirnya, dia ingin menggoda Shikaku yang terlalu mengkhawatirkannya sejak tahu berita mengenai kedua orang tuanya.
Shikaku mengernyit, 'apa-apaan? Kencan?. Heh…kalian masih kecil!'. Shikaku cemberut menatap Eri, Eri tertawa lepas melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Shikaku.
"Kau ikut Toya?" Rio berujar pada Toya yang masih terkekeh melihat wajah bodoh teman-temannya yang lain.
"Tidak, ada yang harus kulakukan setelah ini!. Lagi pula aku tidak ingin mengganggu kencan kalian!" Toya ikut dalam permainan kedua rekan setimnya itu, kemudian kembali terpingkal ketika melihat Chizo membelalak kearahnya.
"Mereka benar-benar kencan?" Chizo bertanya tidak percaya pada Toya, Toya hanya menaikkan alis menjawab ambigu.
"Dah!..." Eri melambai sambil melangkah ke samping Rio yang sudah berjalan lebih dulu.
"Oui Eri… kau berpaling dari Itachi ya?" Chizo berteriak kearah Eri. Eri hanya menyeringai dari ujung sana.
"Itachi….! Lihat tuh… Eri selingkuh!" Chizo terkekeh, berkata pada Itachi dengan nada mengadu. Itachi meringis, merasa sakit dihidungnya karena air yang diminumnya salah masuk.
"Jangan menangis begitu!, kau kan masih punya Fuyu-chan!. Jangan serakah!" Chizo tertawa. Itachi memberikan tatapan peringatan pada Chizo, dia kesal dan dia tidak tahu sebabnya.
.
.
.
Rio dan Eri berjalan bersisian menuju kediaman Hyuga, Rio menemani Eri yang bersikeras ingin segera bertemu dengan Haruko. Meskipun telah disampaikan kalau saat ini Haruko tengah mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan Clan untuk waktu yang masih belum bisa dipastikan.
"Apa aku bau?" Rio mengendus-endus tubuhnya sendiri, setelah berkeringat seperti tadi sekarang ini dia pasti bau.
"Tidak!" Suara sengau datang dari Eri, Eri berkata sambil memencet hidungnya rapat-rapat, tersenyum dan menggeleng pada Rio.
"Kau ini!" Rio memukul pelan kepala Eri.
"Heh…kenapa kau suka sekali sih memukul kepalaku?" Eri menutupi puncak kepalanya dengan kedua telapak tangannya, menatap Rio dengan cemberut.
"Kalau aku jadi bodoh bagaimana?".
"Kau kan memang bodoh!" Rio berucap ringan membuat Eri mendengus padanya.
"Katanya mau berhenti menyukai Itachi, tapi malah masih memperhatikannya seperti tadi!. Dasar!" Rio berkata santai.
"Hehe…aku lupa Rio-kun!, Nanti-nanti tidak akan lagi deh!" Eri tersenyum malu, meyakinkan. Rio mengangguk meskipun tidak yakin.
"Kita sudah sampai!" Rio dan Eri berdiri di depan gerbang tinggi kediaman Hyuga. Rio mengetuk keras pintu besar itu agar terdengar dari seberang sana. Tidak lama setelahnya, pintu itu bergerak membuka diiringi oleh suara berat. Seorang bunke terlihat berdiri didepan celah kecil pintu gerbang itu, sepertinya tidak berniat membukanya lebar-lebar untuk membiarkan mereka masuk.
"Selamat Siang!..." Eri berkata sopan.
"Ada yang bisa saya bantu Nona Eri?" Sang bunke mengenal Eri karena gadis ini memang sudah sangat sering datang berkunjung kekediaman Hyuga. Eri mengernyit, biasanya kalau sudah tahu kalau itu dirinya pintu pasti langsung akan dibuka.
"Ehmmm… apa saya bisa menemui Haruko-chan?" Eri bertanya.
"Saat ini Haruko-sama sedang menghadiri pertemuan dengan para tetua jadi dia sedang tidak bisa di ganggu Nona Eri, maaf!" Dengan itu sang bunke segera menutup rapat pintu itu. Dengan kecewa Eri mengangguk-angguk menyerah.
"Jadi apa sekarang?" Rio berkata sambil melirik Eri yang terlihat lesu.
"Kau sakit?" Rio bertanya khawatir.
"Tidak!" Eri menggeleng tidak ingin membuat temannya khawatir.
"Kita pulang saja yuk, Rio-kun juga harus mandi kan?!" Rio mengiyakan.
"Ayo… biar kuantar kau pulang!" Rio melangkah lebih dulu kearah rumah Eri berada.
"Tidak usah Rio-kun!, aku bisa pulang sendiri. Kau pulang saja, lagi pula kau bau tahu!" Eri berucap sambil memencet rapat hidungnya seolah ingin menghalangi bau yang akan masuk, dia punya rencana dan sebaiknya Rio tidak perlu tahu.
"Baiklah!, kalau begitu aku pulang ya!" Rio mendengus berjalan menjauh setelah menepuk pundak Eri.
"Ya…dah!" Eri melambai cepat sambil tersenyum kearah punggung Rio. Setelah Rio menghilang dari pandangan matanya senyum Eri pelan-pelan memudar, dia kelelahan karena harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Saat ini dia sangat ingin memeluk Haruko dan bercerita semua padanya.
Eri segera melangkah pergi menuju ke tempat yang bisa membawanya bertemu dengan Haruko. Ketika mereka masih kecil secara tidak sengaja Eri dan Haruko menemukan lorong rahasia dikediaman Hyuga, lorong itu bermula di pojok taman kamar Haruko dan berakhir di tepi hutan dibelakang kediaman Hyuga, mereka sepakat kalau akan merahasaiakan hal ini dari siapapun, dulu Haruko sering mengendap keluar melewatinya untuk pergi bermain bersama Eri di malam hari mencari kunang-kunang, namun hal itu tidak pernah lagi mereka lakukan karena ada babi hutan yang bersarang tidak jauh dari mulut lorong ditepi hutan. Tapi kali ini meskipun ada babi hutan, Eri tidak akan gentar, dia benar-benar memerlukan Haruko sekarang. Meski Haruko sedang sibuk saat ini, dia akan menunggu Haruko di dalam kamarnya sampai dia selesai nanti.
Eri berjalan pelan menyusuri jalan menuju lorong itu, bertahun-tahun tidak mengunjungi tempat itu tidak membuat Eri lupa akan arah yang ditujunya. Di tepi hutan di belakang kediaman Hyuga, di balik susunan batu-batu besar di sisi sebuah kolam kecil ada sebatang pohon besar yang tinggi dan berdaun rindang, tepat disalah satu sela akar pohon yang berdinding itu ada sebuah mulut lorong yang mengarah kekediaman Hyuga. Takut-takut Eri mengintip dari balik semak tidak jauh dari mulut lorong, Eri ingin memastikan apakah lorong itu aman ataukah mungkin masih ada babi hutan yang bersarang di sana?, meskipun sudah 4 tahun berlalu tapi siapa tahu babi hutan itu masih setia membangun sarang di sana. Eri duduk diam sambil memperhatikan dengan seksama, di dalam benaknya menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia segera mendekat ataukah menunggu sebentar lagi, disaat seperti ini dia benar-benar berharap memiliki Byakugan seperti Haruko agar bisa melihat sekeliling.
Gemerasak daun menyinggahi telinga Eri, membuatnya menegang takut. Daun yang tumbuh tinggi menutupi mulut lorong pelan-pelan tersibak terbuka, Eri menahan napas diam tidak bergerak, benaknya memekik takut mengingat dengusan napas babi hutan yang dulu pernah mengejarnya dan Haruko. Masa masih ada babinya sih?.
.
.
.
Haruko mengeraut dengan susah payah melewati lorong sempit yang membuatnya sesak napas, seingatnya lorong ini dulu tidak sesempit ini. Saat ini kimononya pasti sudah kotor semua karena bergesekan erat dengan dinding lorong, Haruko mengernyitkan hidungnya ketika tangannya terus saja menapaki tanah lembab dan bau di bawahnya. Setelah kurang lebih 10 menit merangkak tidak berhenti akhirnya Haruko bisa melihat cahaya di ujung sana, Haruko dengan bersemangat mempercepat lajunya berharap segera bisa menghirup udara segar, dia tercekik saat ini. Sampai di ujung lorong Haruko masih harus menyingkirkan rumput yang tebal dan tajam yang menghalangi jalannya, menggunakan tangan kosong disibaknya rumput itu dan dengan segera Haruko melemparkan tubuhnya keluar dari lubang sempit yang menyiksanya. Dia terengah, menarik napas dalam-dalam mengisi paru-parunya yang seperti digenggam erat.
Tanpa berdiam diri lebih lama Haruko segera bangkit berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu, hanya masalah waktu sampai para penjaga dan ibunya menyadari kalau Haruko yang sedang ada di dalam kamar itu hanyalah bunshin. Yang ada dipikiran Haruko saat ini hanyalah dimana dia bisa menemukan Itachi?, dia tidak sempat berpikir tentang hal lain. Dua hari menunggu dengan rasa penasaran dan kebingungan yang menyiksa membuatnya hampir gila. Kaki Haruko terus berlari kencang menuju satu-satunya tempat yang terlintas di benaknya, dia bergerak seperti dikejar setan, tidak memperdulikan sekeliling hanya berlari kedepan tanpa memperdulikan apapun lagi. Hanya ada satu hal dibenaknya, yaitu menemui Itachi.
.
.
.
Itachi tersengal terbaring di lantai hutan yang menguarkan bau tanah basah, dia mengusap keringat yang berbulir di garis rambut didahinya, kemudian memejamkan mata. Latihan biasanya selalu bisa membuatnya tenang, namun dua hari ini sepertinya latihan sama sekali tidak bisa menenangkannya. Hyuga-Uchiha selalu saja mengganggu benaknya, segel, kutukan, larangan, hukuman, semuanya terasa tidak masuk akal. Melihat kekhawatiran dan kesedihan di wajah ayahnya saat itu membuat Itachi bertanya-tanya ada apa sebenarnya, ayahnya bukan tipe orang yang gampang takut pada apapun, dia angkuh dan tidak memperduli, apa yang membuat ayahnya begitu segan pada Hyuga. Dan dia bahkan menangis memintanya untuk menjauh dari Haruko, Itachi benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mau tidak mau otaknya yang memang sejak awal sudah dipenuhi oleh Hyuga Hinata kembali menghubung-hubungkan hal ini. Namun Itachi segera mengusir pikiran-pikiran yang tidak berdasar itu, dia mentertawakan dirinya sendiri.
Mata Itachi yang tertutup mendadak terbuka, dia berdiri siaga menyadari ada cakra yang tengah bergerak cepat mendekat kearahnya. Keningnya berkerut ketika menyadari cakra ini sangat dikenalnya, Haruko dan Eri?. Itachi terdiam menunggu, kebingungan antara tetap diam disana atau pergi saja, bagaimanapun juga ayahnya sudah melarangnya untuk terlalu dekat dengan Haruko. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya Itachi memutuskan untuk pergi menjauh, dia membalikkan tubuh.
"Itachi-kun… tunggu!" Suara seruan Haruko membuat langkahnya terhenti, jauh di dasar hatinya dia penasaran apa yang membuat Haruko datang padanya kali ini, jika terakhir kali adalah tentang bibinya, apa kira-kira kali ini?. Itachi berbalik melihat kearah datangnya suara Haruko. Tidak jauh darinya Haruko berdiri membungkuk bertopang tangan pada lututnya, kelihatan tersengal berjuang mengatur napas.
"Jangan pergi…ha…ha….tung…tunggu!" Haruko tersengal sambil menatap Itachi, dia masih membungkuk menenangkan napasnya yang memburu.
"Ada apa Haruko-chan?" Itachi bertanya heran, matanya mencari-cari Eri yang dia kira datang bersama Haruko, namun matanya tidak bisa menemukan sosok gadis berambut pirang itu dimanapun, tapi dia bisa merasakan cakranya tidak jauh dari sana.
Haruko yang sudah mulai bisa mengendalikan detak jantungnya yang berpacu pelan-pelan berdiri tegak sambil memandang Itachi, diamatinya Itachi dari ujung kepala hingga ujung kaki membuat pemuda itu mengernyitkan kening tidak nyaman. Haruko mengamati adakah bagian didiri Itachi yang mungkin mirip dengan bibinya, kalau benar Itachi adalah putra Hinata Hyuga maka pasti akan ada sedikit kemiripan kan?. Namun yang didapatinya hanyalah salinan sosok Uchiha Sasuke yang terlihat jelas dari segala bagian pada Itachi.
"Apa kau memiliki Byakugan?" tanpa basa-basi Haruko segera bertanya pada Itachi yang masih berdiri diam. Kalau benar mereka sepupu maka bisa dipastikan kalau Itachi akan punya Byakugan, iya kan?.
"Huh?" kerutan di dahi Itachi semakin menajam, dia keheranan dengan pertanyaan Haruko.
"Aku bertanya apa kau punya Byakugan Itachi-kun?" Haruko kembali bertanya gemas, dia perlu jawaban sekarang juga.
"Apa maksudmu?" Mana mungkin dia punya Byakugan, dia itu Uchiha!. Astaga ada apa dengan gadis ini. Haruko terdiam sesaat, menyadari mungkin Itachi benar-benar tidak tahu apa-apa. Haruko mengigit bibir mendadak merasa gugup dengan pertanyaan yang akan segera di ajukannya pada Itachi.
"Si….siapa ibumu Itachi-kun?" Haruko tergagap ketika mengutarakan pertanyaannya pada Itachi. Itachi terdiam memandang Haruko, tiba-tiba jantungnya berdegub dengan kencang, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas tanpa adanya alasan rasional yang bisa dikatakan oleh otaknya. Bersemangat dan ketakutan disaat yang bersamaan. Sesuatu memanggil-manggil dari otaknya, tapi dia tidak bisa mengartikannya menjadi informasi, atau mungkin menolak berasumsi.
"Apa kau tahu siapa ibumu Itachi-kun?" Haruko berjalan perlahan mendekat pada Itachi.
"Aku tidak tahu!" Itachi berucap, dia terkejut mendengar suaranya yang bergetar. Jantungnya seolah berdetak di telinga saat ini. Haruko menatap Itachi lekat mencari-cari sesuatu di mata hitam itu.
"Ibuku bilang kita adalah sepupu!" Haruko berdiri di jarak beberapa langkah dari Itachi yang menatapnya terbelalak. Itachi kehabisan kata-kata, dadanya bergemuruh, tubuhnya seperti tidak lagi memiliki tulang, otaknya seakan kaku tidak bisa mencerna informasi.
"Ibuku bilang kau adalah putra bibiku!" Haruko menatap mata Itachi yang sejak tadi tidak berkedip memandangnya.
"Kau….adalah putra Hinata Hyuga!" seperti ada kembang api yang meledak di kepalanya, Itachi buta sesaat, linglung dan limbung. Dia gemetaran, bingung dan senang, sebagian dirinya meragukannya tapi sebagian yang lain terasa hangat. Benarkah?, jadi dugaannya selama ini benar?, tapi bukankah… banyak pertanyaan yang muncul seketika dibenaknya membuat Itachi mendadak merasa seperti akan pingsan.
"Itachi-kun?" Haruko menyentuh pergelangan Itachi, khawatir melihat wajah Itachi yang tiba-tiba memucat seakan tidak ada darah yang mengalirinya.
"Apa…yang kau katakan tadi?" Itachi ingin memastikan sekali lagi meskipun dia takut kalau-kalau ini semua hanya khayalannya yang sebentar lagi akan segera sirna. Kalau ini mimpi dia tidak ingin bangun, dia sudah tahu siapa ibunya. Ibu…. Ibunya…. Hinata Hyuga adalah ibunya…. Ledakan emosi di dalam dadanya membuat Itachi lemas tidak berdaya, jantungnya berdetak terlalu cepat, membuatnya hampir tidak bisa menarik napas.
"Apa kau benar-benar tidak tahu?, apa yang dikatakan ayahmu Itachi?, beritahu aku!" Haruko tidak bisa membendung rasa penasarannya sendiri.
"Tolong katakan sekali lagi!" Itachi ingin mendengarnya lagi, sekali lagi, ingin memastikan kalau ini bukan mimpi. Haruko gemas memandang Itachi, kemudain tiba-tiba dia terdiam ketika mendapati wajah Itachi dipenuhi oleh emosi yang berkilat-kilat jelas dimatanya yang berair. Seketika itu Haruko menyadari, ini bukan hanya sekedar rasa penasaran bagi pemuda dihadapannya, untuk Itachi ini adalah sesuatu yang sangat berharga.
"Tolong sekali lagi Haruko-chan!, Aku ingin mendengarnya!" Air mata mengalir dari pelupuk mata pemuda itu, dia segera mengusapnya namun percuma, jutaan lainnya menyusul jatuh. Air mata saling susul menyusul membuat pandangan Itachi buram, tubuhnya yang gemetar pelan-pelan terduduk ditanah.
"Kau sepupuku!, Kau putra Hinata Hyuga!" Mata Haruko juga mulai berair, dia berjongkok di depan Itachi yang terduduk sibuk mengusap air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Melihat Itachi seperti itu membuatnya marah pada dirinya sendiri, dia sama sekali tidak tahu Itachi akan seperti ini.
"Hinata Hyuga adalah ibumu!" Beratus-ratus kalipun dia akan terus mengucapkannya jika Itachi menginginkannya.
"Benarkah?" Itachi berucap pelan disela isak tangisnya, berdoa agar tidak pernah mendengar kata 'bohong' sebagai jawaban.
"Ibuku bilang kau adalah putra bibiku!" Haruko berucap lantang mengusap air mata yang pelan-pelan juga ikut mengalir dipipinya, dia seakan tertular rasa senang dan sedih dari Itachi.
"Apa yang terjadi Itachi-kun? Apa kau tidak tahu?, Apa yang dikatakan ayahmu tentang ibumu?" Meski begitu, Haruko adalah Haruko, rasa penasarannya harus selalu terjawab. Itachi menggeleng.
"Dia tidak pernah memberitahu siapa ibuku. Ayah selalu merahasiakannya!".
"Hyuga Haruko!..." Suara teriakan geram terdengar dari arah belakang mereka. Tubuh Haruko mendingin seketika mendengar suara ibunya menggelegar menusuk telinganya, nada suara itu, dia benar-benar dalam masalah, ibunya sedang marah besar.
'Kami-sama tolong aku!' Haruko berdoa dalam hati.
Hanabi melangkah mendekat, dia segera meraih pergelagan tangan Haruko dengan keras tidak memperdulikan Itachi yang menatapnya dengan linangan air mata. Hati kecilnya terasa perih, dia sangat membenci anak ini. Tapi langkah mereka tertahan ketika Itachi menggenggam tangan Haruko, dia ingin memastikan semuanya.
"Apa benar Hinata Hyuga adalah Ibuku?" Telinga Hanabi seakan berdenging, dia menggeram marah menatap Haruko.
"Ibuku adalah Hinata Hyuga?" Itachi bertanya sambil memandang mata Hanabi lekat-lekat, hati Hanabi tidak terima.
"Jangan kau berani-berani memanggil kakaku ibumu!" Hanabi berteriak marah.
"Kau adalah anak si brengsek Uchiha itu, bukan putra kakakku!" penyangkalan kembali meluncur dari bibir Hanabi. Itachi merasakan amarah yang tiba-tiba datang ketika mendengar ucapan Hanabi tentang ayahnya.
"Anda tidak berhak mengatakan ayahku seperti itu!" Meski marah Itachi masih mempertahankan sopan santunnya. Sikap Itachi yang tidak terima membuat Hanabi semakin geram, Haruko yang mengerti betul kalau ibunya adalah tipe pemarah yang meledak-ledak tanpa berpikir, akhirnya menarik tangannya dari genggaman Itachi yang melemah, kemudian segera manarik tangan ibunya agar segera menjauh. Haruko terus bertanya-tanya kenapa ibunya sekarang menyangkal kata-katanya sendiri?.
"Apa kau bilang?" Hanabi berdiri tidak tergeming oleh tarikan Haruko ditangannya.
"Aku berhak!. Asal kau tahu saja, membunuhnya pun aku berhak!" Mata Hanabi, mendelik tajam pada Itachi yang masih terduduk.
"Kalau kau sekali lagi berani mengatakan kakakku adalah ibumu!, Ayahmu akan merasakan akibatnya!" Hanabi mengancam sambil membalikkan badan menyeret Haruko bersamanya.
"Kenapa anda begitu?, kenapa anda jahat sekali?" Itachi kembali menangis, dia ingin terus mengucapkan kalau dia adalah putra Hinata. Hanabi ingin mengabaikannya tapi sesuatu didalam sana menolak.
'Jadi sekarang aku yang jahat?' benaknya tidak terima.
"Ayahmu lah yang jahat! Dia telah menghancurkan hidup Hinata!" Hanabi kembali berbalik memandang Itachi semakin marah.
"Dia telah memperkosa kakakku!" Hanabi mendesis perih, Itachi ternganga, dia terperangah, ayahnya?, tidak mungkin!.
"Dan kau!" Hanabi menunjuk Itachi dengan wajah benci.
"Mengandungmu membuatnya menderita!, kau menyakitinya!" dada Itachi terasa sakit bagai dihantam dengan keras.
"Dan melahirkanmu membuatnya kehilangan nyawa!" Hanabi menangis, kepalanya sakit dan berdenyut-denyut.
"Kalian lah!, kalian lah yang jahat!" Sekarang dia meringis sakit, terlihat begitu lepas dan tidak terkendali.
"Kalian telah menghancurkan hidupnya, cintanya, segalanya, kalian telah merenggut semuanya dengan paksa dari Hinata!"
Eri yang menyaksikan semuanya menutup mulutnya rapat-rapat, dia sangat terkejut dengan semua informasi yang baru saja didengarnya. Haruko menatap ibunya tidak percaya, genggaman ibunya terasa gemetar ditangannya. Itachi terdiam kaku, wajahnya pucat, bibirnya bergetar terbuka namun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari sana. Air mata yang mengalirpun tidak kunjung teduh, dia terus menatap Hanabi yang menangis menatapnya benci. Dia ingin menganggapnya bohong, namun Hanabi yang terlihat seperti itu membuatnya menelan kepahitan dengan paksa. Itachi sudah tidak sanggup lagi meliat sorot mata itu, dia berdiri dengan susah payah kemudian berlari pergi dari sana, Eri yang melihat itu segera mengejar Itachi, gadis itu khawatir pada Itachi setelah apa yang didengarnya tadi, hal itu terasa begitu menyakitkan bahkan untuknya, apa lagi bagi Itachi.
'Benarkah begitu?' Itachi berlari sambil menangis, rasa bahagianya sesaat yang lalu berubah menjadi nelangsa.
Tib-tiba semua kerahasiaan ayahnya mejadi masuk akal, tiba-tiba kutukan dan hukuman menjadi bisa diterima. Hinata Hyuga, ibunya meninggal karena melahirkannya, ibunya menderita karena mengandungnya, hidup ibunya hancur karena dia dan ayahnya, semua itu terasa tidak sanggup dia hadapi. Hatinya terasa sakit, perih, wajah Hinata yang hanya dia tahu dari gambar kini menghiasai benaknya, dia seakan ingin mati saja ketika membayangkan wajah itu menangis dan menatapnya benci seperti cara Hanabi memandangnya tadi.
'Ibu….'
'Apa kau membenciku?' Itachi sesenggukan.
Hanabi jatuh terduduk dikakinya, tangannya gemerat menutupi mulutnya. Sedikit rasa bersalah menggelayuti hatinya. Namun perasaan itu kembali sirna saat dia kembali mengingat kebenciannya pada Sasuke yang dia anggap sudah merenggut kakaknya darinya. Melihat ibunya terlihat begitu lemah dan hancur membuat Haruko menangis, tidak pernah dilihatnya ibunya semenyedihkan ini. Wajah yang biasanya terlihat dingin sekarang menunjukkan ketidak berdayaan, ibunya terisak jatuh menanggalkan kewibawaan yang selalu ditunjukkannya padanya.
"Hinata…."
"Kenapa kau lebih memilih mereka dibandingkan aku?"
"Kau bilang kau menyanyangiku!, Kau bilang kau sayang padaku!"
"Kenapa?...Kenapa?" Hanabi berbisik pelan, membiarkan dirinya dikuasai rasa sedih dan amarah.
'Kau akan menyayanginya kan Hanabi-chan?' Suara lembut Hinata terdengar di dalam relung hatinya.
"Tentu saja!, aku akan menyayangi dan menjaganya dengan segala yang kumiliki Hinata!" Suaranya sendiri yang berucap lantang terngiang dimemorinya.
"Aku tidak bisa Hinata!... Aku tidak sanggup untuk menerimanya!" Hanabi berujar lirih.
"Hanabi?" Hinata memandang khawatir wajah Hanabi yang berurai air mata.
"Ada apa?" Dia berusaha meraih adiknya dengan tangannya yang kurus dan lemah, namun Hanabi mundur menjauh dari sisi tempat tidur dimana Hinata duduk menyandarkan dirinya, dia menjauh agar kakaknya itu tidak bisa meraihnya. Hinata mengerutkan kening semakin khawatir melihat Hanabi yang terus menangis, ingin dia segera mendekat dan memeluk adiknya itu, tapi tubuhnya begitu lemah, dia sudah tidak bisa lagi berdiri di atas kakinya sendiri.
"Apa kau menyayangiku Hinata?" Hanabi berucap disela isakannya, dia tidak berdaya.
"Tentu saja Hanabi-chan!" Hinata berkata yakin dengan senyum lembut dibibirnya.
"Bohong!..." Hanabi memekik keras membuat Hinata kaget.
"Kau tidak menyayangiku!, kau sama sekali tidak menyayangiku!. Kau bohong!" Hanabi mengusap kedua mataya yang terus mengeluarkan air mata.
"Braak!" Suara sesuatu yang jatuh membuat Hanabi mengangkat kepalanya, dilantai Hinata sedang terduduk jatuh dengan tangan menggapai-gapai diudara berusaha meraih adiknya yang masih berdiri jauh dari jangkauannya. Matanya memancarkan kekhawatiran, Hanabi segere beringsut mendekat pada Hinata yang langsung disambut Hinata dengan pelukan erat.
"Aku sangat menyayangimu!, tolong jangan pernah meragukannya Hanabi. Aku menyayangimu!" Hinata mengelus lembut rambut panjang adiknya. Hanabi membenamkan wajahnya dibahu kakaknya yang kecil kurus.
"Jangan meninggalkanku!, kumohon jangan mati Hinata!" Hanabi meraung terbungkam.
"Mereka bilang kau akan mati!" Hanabi merengkuh erat kakaknya, tidak ingin dia lepas dari pelukannya. Hinata hanya diam sambil terus mengelus lembut punggung Hanabi, dia tidak bisa mengatakan apapun, menyadari Hanabi cepat atau lambat pasti akan tahu hal itu. Dia menyadari kalau dia sudah membuat Hanabi sedih, tapi untuk sekali ini saja dia ingin bersikap egois.
"Keluarkan saja dia dari tubuhmu!, kumohon!" Hanabi memohon meski tahu itu sia-sia. Tubuh Hinata tiba-tiba menegang, Hanabi bisa merasakan kakaknya itu menggeleng cepat. Hanabi menarik dirinya dari pelukan Hinata untuk menatap wajah Hinata yang terlihat seakan-akan bisa berhenti bernapas kapan saja. Pucat, kurus, kelelahan dan kewalahan.
"Hanabi, kumohon jangan kau juga!" Hinata memelas sedih pada Hanabi.
"Kau bilang kau akan menyayanginya kan?' Hinata mengingatkan adiknya sambil mengusap air mata yang mengalir dipipi putih gadis itu. Hanabi menggeleng, dia memang mengatakan itu, tapi itu ketika semua masih baik-baik saja, dia tidak tahu ini semua akan terjadi. Kening Hinata bertaut melihat reaksi Hanabi.
"Aku tidak akan! Dia menyakitimu!" Hanabi memandang benci pada perut Hinata yang membuncit berisi bayi, sumber dari penderitaan kakaknya.
"Dia tidak menyakitiku Hanabi, dia hanya seorang bayi kecil!" Hinata mengelus perutnya sayang sambil menatap Hanabi mengiba.
"Putraku, dia darah dagingku Hanabi, bagaimana mungkin aku akan membunuhnya?" Hinata berkata pelan dengan wajah sedih.
'Putra kami!' senyum kecil terbentuk dibibirnya yang mengering, dia ingin melahirkan putra Sasuke, matipun tidak apa, asal bisa menghadirkan malaikat kecil di dalam perutnya ini ke dunia, menghadirkan penyelamat ini ke dalam hidup Sasuke, dia yakin suatu hari nanti Sasuke akan menyadari keberadaan anak ini.
"Tapi kau akan mati!" Hanabi kembali berteriak menarik tangan Hinata yang tengah mengelus lembut perutnya.
"Jangan begini, kumohon jangan bersikap seperti ini, Hanabi!" Air mata juga ikut mengalir dari mata Hinata. Melihat itu Hanabi langsung memeluk kakaknya lagi, sosok yang selalu menjadi kakak sekaligus ibu untuknya, seseorang yang selalu jadi teman dan pelindung baginya.
"Jangan membencinya!, Hanya kau yang bisa menjaganya kelak! Kumohon sayangi lah dia, keponakanmu!"
Hanabi tidak menjawab, hanya menangis pelan di pelukan Hinata yang mengiba memohon, dia semakin menyadari kalau kakaknya itu akan benar-benar meninggalkannya.
"Hua….Panas….Panas….! Sasuke Panas!" Naruto berteriak-teriak mengibas-ngibaskan tangannya yang terkena percikan minyak panas dari penggorengan.
"Berhenti berteriak Naruto!" Sasuke mengerang kesal dari tempat duduknya sambil memutar bola mata pada Naruto.
"Astaga!... Kenapa memercik-mercik begini sih?" Naruto mengeluh sambil berusaha memasukan tempura udang yang siap digoreng ke penggorengan yang sedang memercik-mercikkan minyak di dalamnya ke segala arah.
"Biar aku saja yang menggorengnya!" Sasuke beranjak dari tempat duduknya mendekat pada Naruto yang tengah memporak-porandakan dapurnya. Dia yakin bukannya senang, setelah ini Itachi justru akan kerepotan.
"Kembali kau ke kursimu!" Naruto berteriak memerintah menggunakan suara khas Hokage miliknya. Sasuke kembali menggeram kesal, Naruto suka sekali memerintah, dengan mendengus Sasuke kembali duduk sambil memicingkan mata pada Naruto.
'Kalau saja kau bukan Hokage yang harus kulindungi habis lah kau Naruto!' Sasuke mengomel kesal dalam hati, diperhatikannya Naruto yang masih berteriak dan mengibas-ngibaskan tangannya, dia sudah benar-benar lelah mendengar teriakan dan keluhan Naruto.
'Demi tuhan Naruto kau hanya sedang membuat tempura!' Sasuke ingin berteriak keras-keras.
"Tidak akan ku biarkan kau!. Nanti akan ku katakan pada Itachi kalau tempura ini buatanku sendiri!. Dan 'tanpa bantuanmu!'" Naruto tersenyum bangga pada dirinya sendiri, Sasuke menghela napas lelah, bosan akan kelakuan Naruto.
"Ku dengar kau melarang Itachi untuk berkunjung kekantorku ya?!" Naruto mendelik pada Sasuke yang hanya menatapnya bosan sebagai balasan.
"Heh… jadi kau sekarang ingin memonopolinya untuk mu sendiri?, aduh panas!" Naruto kembali melompat mundur menjauh dari penggorengan yang kembali memercikinya.
"Aku hanya tidak ingin dia mengganggumu!" Sasuke menjawab ringan.
"Huh? Apa-apan itu? dia tidak pernah menggangguku Sasuke!"
"Hn…!" Sasuke hanya bergumam menyahut, dia mengingat Naruto yang mengabaikan tugasnya untuk bermain dengan Itachi ketika putranya itu masih kecil.
'Yah… dia tidak pernah mengganggumu, dia hanya membuatmu melupakan tugasmu itu saja!' Pikir Sasuke sarkastik. Dia mengakui kalau mereka berdua sangat memanjakan Itachi ketika dia kecil, beruntung Sakura menengahi dan mengimbanginya dengan didikan agar putranya itu tidak tumbuh menjadi anak yang manja dan cengeng. Sakura dan Naruto sangat membantunya dalam membesarkan Itachi, Sasuke sangat bersyukur untuk itu.
"Selesai!" Naruto berseru nyaring sambil meletakkan sepiring besar tempura udang ke meja makan di hadapan Sasuke.
"Kelihatannya enak kan Sasuke? Itachi pasti suka!" Naruto terkekeh senang hanya dengan membayangkan tanggapan Itachi. Naruto duduk diseberang Sasuke sambil terus menunjukkan cengirannya, dia sudah tidak sabar untuk menunggu Itachi pulang. Sasuke hanya menatapnya sambil tersenyum lucu. Naruto mengambil dua potong tempura yang masih panas itu dari dalam piring, menyerahkannya satu pada Sasuke dan melahap yang lain.
"Ku kira kau membuatnya untuk Itachi!?" Sasuke menyindir sambil menerima tempura yang disodorkan padanya.
"Cicipi dulu!, kalau kita berdua keracunan jangan berikan pada Itachi!" Naruto berucap membuat Sasuke tertawa pelan.
"Kau saja yang cicipi!, Ini kan buatanmu!" Sasuke menggeleng pada Naruto sambil meletakkan kembali tempura yang tadi diberikan Naruto.
'Dia sendiri saja tidak yakin, masih menyuruhku memakannya juga! Dasar Naruto!' Sasuke bergumam dalam hati.
"Aneh!" Naruto berkata heran, dia terlihat memikirkan sesuatu.
"Apanya?" Sasuke bertanya penasaran, 'Masa benar-benar beracun?' di dalam kepalanya Sasuke mulai menyiapkan rute tercepat menuju rumah sakit Konoha, berjaga kalau-kalau sang Hokage benar-benar keracunan. Kan tidak lucu kalau seorang Hokage mati ketika berada dalam perlindungannya hanya karena tempura.
"Padahal aku sudah menuruti semua langkah-langkah seperti resepnya, tapi kenapa rasanya masih belum mirip dengan tempura buatan Hinata?" Naruto berujar tanpa sadar. Seketika kedua lelaki itu terdiam.
Sasuke menatap tempura di dalam piring buatan Naruto, benaknya membanding-bandingkan tempura itu dengan tempura buatan Hinata di ingatannya. Terang sekali kalau kedua masakan itu sangat berbeda, senyum yang sangat kecil terbentuk di bibir Sasuke.
"Apa kau tahu seperti apa rasanya tempura buatan Hinata?" Naruto bertanya sambil menatap tempura buatannya.
"Itu adalah tempura paling enak yang pernah kumakan!" Senyum sedih terlukis di bibir Naruto.
"Kau mungkin tidak tahu ya… seperti apa rasanya!" Suara Naruto seakan ingin menunjukkan kalau dia lebih beruntung dibandingkan Sasuke, Sasuke hanya tersenyum pahit, dia tahu Naruto sangat menyayanginya sebagai seorang sahabat, Hokage itu bahkan akan rela mengorbankan nyawanya untuk Sasuke jika memang diperlukan. Namun untuk urusan Hinata entah mengapa Sasuke selalu merasa Naruto sering sekali membalas dendam padanya dengan hal-hal kecil seperti sekarang ini.
Naruto tidak tahu kalau dia tahu rasanya, seperti apa rasa sup miso buatan Hinata, seperti apa rasa tempura buatannya, dia sudah mencicipi hampir seluruh masakan yang bisa dibuat Hinata ketika mereka hampir 3 tahun hidup bersama diluar Konoha membesarkan Itachi bersama. Namun dia akan diam saja, membiarkan Naruto merasa menang, agar sang Hokage bisa sedikit mengobati sakit hati padanya. Biarlah mereka hanya tahu kalau Hinata meninggal ketika melahirkan bukan karena hal sebenarnya yang terasa justru lebih menyakitkan. Biarlah mereka berpikir begitu, terlebih lagi Hanabi yang mungkin akan semakin murka padanya dan Itachi jika mengetahui kebenaran kematian Hinata, dia tidak ingin Itachi ikut menanggung kemarahan untuk kesalahan kedua yang telah dilakukannya.
"Maaf!" Naruto berujar pelan, menyadari apa yang sudah dilakukannya. Sasuke hanya diam sambil mengangguk pelan.
"Braak!" pintu belakang kediaman Uchiha terlempar terbuka menunjukkan sosok bocah yang mereka tunggu sejak tadi, namun ada yang salah, Itachi terlihat berurai air mata.
"Itachi ada apa?" Sasuke yang terkejut segera bergerak mendekat pada putranya, matanya menjelajah setiap lekuk tubuh Itachi mencari-cari, takut kalau putranya terluka. Naruto mengekor segera dibelakang Sasuke, juga dengan wajah khawatir.
"Apa benar ayah?" Itachi berkata setengah berteriak pada ayahnya. Sasuke dan Naruto mengernyit kebingungan.
"Apa benar ibuku adalah Hinata Hyuga?" Itachi berkata pelan membuat napas Sasuke tercekat ditenggorokannya.
"Apa benar kalau ayah telah memperkosa ibu hingga memilikiku?" Itachi berkata lirih sambil menatap lekat mata ayahnya yang membelalak terbuka.
"Apa benar kita telah menghancurkan hidupnya?" Itachi terisak.
"Apa benar aku telah menyiksanya?" Itachi terus memberondong ayahnya dengan pertanyaan.
"Apa karena aku ibu menderita?" pertanyaan terakhir berhasil membuat Sasuke jatuh ke atas lututnya. Benaknya berontak, dialah penyebab penderitaan Hinata bukan Itachi.
"Akulah yang telah menghancurkan hidupnya Itachi!, Akulah yang membuatnya menderita! Akulah orangnya!" Sasuke tidak sempat berpikir, dia mendekat meraih putranya, namun Itachi mundur menghindar menatap ayahnya dengan tatapan kecewa, satu kalimat itu mejawab semua pertanyaannya.
"Itachi!, itu semua tidak benar!" Suara Naruto yang lebih bisa berpikir rasional terdengar berkata pelan berusaha membujuk menenangkan Itachi. Itachi menolak mendengarkan, rasa sakit di dadanya terlalu besar untuk bisa dihentikan semudah itu. Tatapan mata terluka Itachi membuat Sasuke membeku di tempatnya, ketakutannya terbukti, sekarang Itachi membencinya. Itachi berjalan mundur semakin menjauh membuat jantung Sasuke terasa semakin mengecil disetiap langkah yang diambil putranya. Lidahnya kelu tidak bisa berkata apapun untuk membenarkan dirinya yang memang bersalah.
"Itachi, dengarkan dulu!" Naruto berjalan kearah Itachi melewati pundak Sasuke yang masih terdiam kaku. Naruto tahu kalau Sasuke saat ini sedang terguncang. Tapi Itachi tidak mendengarkan, dia segera berbalik lari meninggalkan ayah dan pamannya yang meraung memanggil namanya.
"Itachi..!" Sasuke dan Naruto berteriak bersamaan.
"Tenangkanlah dirimu Sasuke!, biar aku yang mengejarnya!" Naruto berkata pada Sasuke sambil meremas pundak Sasuke yang bergetar sebelum dia segera melompat berlari menyongsong Itachi.
"Itachi…maafkan ayah!".
'Hinata, Itachi membenciku!' Sasuke mengadu sedih.
"Ayah…! Dia sudah tahu!, Anak itu sudah tahu!" Suara tangisan Hanabi bergema di lorong gelap penjara bawah tanah di kediaman Hyuga. Usahanya untuk menjaga nama baik kakaknya hancur sudah.
"Dia memang seharusnya tahu Hanabi!" Suara berat seorang pria tua terdengar tenang menyahut dari balik jeruji besi.
"Aku akan mengaktifkan segelnya!" Hanabi hanya ingin mengatakan itu untuk meluapkan emosinya, meskupun sesungguhnya hati terdalamnya tidak akan pernah melakukannya.
"Jangan!. Hanabi dia adalah keponakanmu!" Suara pria itu terdengar tidak tenang.
"Dia adalah satu-satunya peninggalan Hinata untuk kita!"
Haruko terdiam berdiri disalah satu sudut ruangan yang terlindung tidak terlihat dari tempat ibunya berada.
'Ayah?, Ibu memanggilnya ayah?' Haruko bergumam bertanya-tanya.
"Kakek?" bisiknya pelan tidak percaya, sepengetahuannya kakeknya sudah meninggal sebelum dia lahir.
'Apa lagi ini?, sebanyak apa kau menyimpan rahasia ibu?'
Whaaat?... Sasuke m*mp*rk*s* Hinata?...Well itu kan kata Hanabi…do'i kan emang NHL di fic ini.
Double Whaaat?...Sasuke juga ho'oh-ho'oh aja?...well do'i kan emang rada melanco kalo udah menyangkut Hina.
Biar ga bingung mending liat kejadian sebenarnya aja deh ya di chapter depan... ( mungkin rubah rate ya kayaknya?, Hyuri bingung!, tolong kasih solusi… saya gila mikirin bagian ini…. Soft lemon ratenya apaan ya? T kah? M kah?)
Sama satu lagi nich, karena banyak yang minta jadinya Hyuri memutuskan untuk mengubah sesuatu di fic ini, reader pasti dah pada bisa nebak donk ya….. Hyuri cuma berharap semoga ga pada bingung aja dech…..hehe…
Setelah ngacak-ngacak rangka karangan, tambah disana, poles disini, tambal sana-sini akhirnya jadi dech rangka karangan yang baru!. Fyuh!... Akhirnya bisa juga bikin 'sesuatu' itu rada masuk akal dan tetap ga terlalu banyak merubah cerita awal yang udah Hyuri bikin.
#Readerspadasweatdrop,Hyurigigitjarikhawatir, semoga readers suka sama chapter ini ya….
Terimakasih banyak buat semuanya yang udah mau baca dan review…..
Sampai jumpa di chapter berikutnya…. Bye : )
