Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll

Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback

Chapter 12

Mengungkap Kebenaran Part 1

'Rumah!' benak Hinata berseru lega kala kakinya melangkah untuk memijak daratan. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga hari tiga malam di tengah lautan yang dirundung duka, akhirnya Hinata bisa juga bernapas lega. Bahkan sekarangpun dermaga Konoha masih terasa seperti kapal yang berayun-ayun, kepala Hinata masih berdenyut-denyut hanyut. Perjalanan pulangnya kali ini benar-benar pengalaman perjalanan lintas perairan yang paling buruk bagi Hinata, ombak tinggi menghempas tanpa ampun sepanjang perjalanan, belum lagi cuaca yang tidak bersahabat, kapal terus-terusan diguyur hujan yang hampir menyerupai badai.

Menghindari sakit kepala yang mengancam segera menyerang... lagi, Hinata segera beranjak meninggalkan hiruk-pikuk kemeriahan dermaga Konoha yang tengah membongkar muatan. Memutuskan untuk beristirahat lebih dahulu Hinata melompat cepat menuju kediaman Hyuuga. Gerbang kediaman Hyuuga segera membuka ketika Hinata berjalan semakin mendekat pada rumahnya itu. Bunke yang bertugas menyapanya hormat, Hinata tersenyum hangat dan mengucapkan terimakasih seperti biasanya. Kediaman Souke terlihat lengang, Hanabi dan Ayahnya tengah pergi untuk latihan, begitu yang dikatakan oleh maki si pengurus rumah tangga tadi ketika menyambutnya di depan gerbang.

Lantai kayu menimbulkan bunyi 'kriet-kriet' ketika Hinata berjalan pelan di atasnya, bunyi lantai kayu di rumahnya ini tidak pernah berubah sejak dia kecil, lantai kayu itu senantiasa menyambutnya dengan decitan selamat datang, mengingatkan pada Hinata kalau dia sekarang sudah berada di rumahnya yang nyaman. Melangkah gontai Hinata bergerak menuju kamarnya, Maki berjalan menyisiinya untuk menanyakan apakah dia ingin makan terlebih dahulu atau jika dia memerlukan sesuatu yang lain.

"Terimakasih Maki-san! Aku belum lapar, mungkin nanti!" Hinata menjawab sopan pada pengurus rumah tangganya.

Segera setelah memasuki kamarnya, Hinata melemparkan tubuh ke atas tempat tidur yang tertata rapi dan bersih, menghela napas senang Hinata berbaring telentang di atas tempat tidurnya sambil memejamkan mata. Seluruh tubuhnya penat dan lelah, ia sangat mengantuk. Tidak bisa mandi dengan layak selama di atas kapal menimbulkan perasaan lengket keringat yang sangat mengganggu, sehingga menghalangi lelap untuk datang menghampiri tubuh Hinata yang kelelahan. Mendengus lembut, Hinata memaksa tubuhnya untuk bangkit, ia duduk diam di tempat tidurnya, berusaha memfokuskan penglihatannya yang masih menunjukkan ilusi seakan kamarnya ini bergoyang-goyang seperti di atas kapal. Mata amethystnya menangkap gambaran sebuah buku bersampul ungu muda, buku hariannya, tergeletak tertutup di atas meja kerjanya. Dengan langkah ringan Hinata berjalan mendekat kemudian meraih dan membuka buku itu tepat di halaman terakhir yang ditulisnya sebelum berangkat pergi untuk menjalankan misi ini.

Mata Hinata menyisir tiap-tiap huruf yang menyusun untaian kata janjinya, atau lebih tepatnya hutang yang harus dilunasinya pada Naruto dan Sakura. Tekadnya sudah bulat, tidak ada keraguan barang sekecil butiran pasir pun yang menaungi hatinya sekarang ini, dia sudah sepenuhnya keluar dari lingkaran yang tidak berujung itu. Dia harus segera menemui Sakura dan Naruto untuk menyampaikan apa yang sangat ingin disampaikannya, maka dengan tekat itu Hinata tergesa menggerakkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia harus secepatnya menemui mereka.

Kamar mandinya menguarkan aroma mawar lembut yang jauh lebih kuat dibandingkan kamar tidurnya, rasa nyaman dan air hangat selalu dijanjikan oleh ruangan yang berdinding ungu ini padanya. Hinata melepaskan seluruh pakaian lusuh yang dikenakannya kemudian ia segera berdiri di bawah pancuran air yang tengah mengucurkan air hangat yang langsung memanjakan kulitnya. Hinata memejamkan mata untuk menikmati guyuran air hangat yang jatuh kokoh di puncak rambutnya, siraman yang lumayan kuat itu mampu meringankan denyutan-denyutan tidak nyaman di kepalanya. Air hangat, udara lembab, basah, dan telanjang, semua hal ini membuat Hinata mau tidak mau mengingat lagi kejadian tiga hari yang lalu. Kejadian yang senantiasa diingatnya, benaknya tidak mampu melupakan, Hinata pun juga tidak ingin melupakan.

"Sasuke!" Hinata mendesiskan pelan nama pemuda yang telah menjadikannya seorang wanita itu.

Wajah Sasuke terus-terusan mengisi benaknya, kecupan bibir pemuda itupun terasa masih segar di ingatan Hinata. Sentuhan, elusan, debaran jantung, helaan napas cepat, kulit yang bersentuhan dengan kulit, decapan dan leguhan, segala sesuatunya terpatri rapi di kalbu wanita Hyuuga ini. Kenangan manis ketika mereka saling memiliki satu sama lain. Tuhan.., Hinata sedikit takut saat mendapati benaknya sudah tidak seputih dulu. Hati Hinata juga menciut kala mengingat konsekuensi yang harus ditanggungnya jika ada yang mengetahui tentang ini, dosa besar ini, jantung Hinata terasa mengecil ketika memikirkannya sebagai dosa. Juga…. , jemari lentik Hinata mengelus perutnya yang rata, keningnya berkerut, sekelumit ketakutan menghantuinya. Bagaimana kalau dia hamil?, apa yang akan terjadi?, dan pertanyaan yang lebih penting lagi adalah, apakah Sasuke akan pulang ke Konoha?, apakah dia akan mencarinya?.

'Dia pasti pulang!' Hinata meyakinkan dirinya, ya… dia pasti akan pulang, iya kan Sasuke?.

"Aku menunggumu Sasuke!, segeralah kembali!" Hinata memohon lirih sambil mencengkram perutnya, yang tanpa disadarinya sesungguhnya tengah memproses sebuah kehidupan baru di dalam sana.

.

.

.

Mata Tsunade memandang terang-terangan sosok gadis berambut indigo yang tengah tertunduk di hadapannya, gadis Hyuga itu tampak tidak nyaman dan terintimidasi. Hinata merasa gelisah, dia takut untuk menatap Tsunade, mata itu seakan bisa mengetahui rahasia terdalam yang disimpannya. Di sisi lain Tsunade justru tengah menangkap gerak-gerik Hinata sebagai pertanda depresi atau kesedihan karena situasi sang gadis dengan Naruto. Sudah cukup lama mereka diam seperti ini, Hinata merasa semakin gelisah seiring dengan semakin nyaringnya dentingan jarum jam yang terdengar di telinganya. Dia ketakutan, apakah Tsunade bisa menyadari perbendaannya?, apa dia menyadari sesuatu?, atau… benaknya tidak bisa berhenti berprasangka, Hinata kelelahan dibuatnya.

"Laporanmu sempurna seperti biasanya!" Tsunade akhirnya membuyarkan prasangka yang berputar-putar di kepala Hinata. Gadis ini memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu, dia selalu khawatir akan ketahuan.

"Terimakasih Hokage-sama!" Hinata menjawab lirih, ia masih takut mengangkat wajahnya.

"Hinata..?" Tsunade memanggil nama gadis itu untuk menarik perhatiannya, sedikit banyak dia jadi khawatir melihat tingkah Hinata yang begitu tidak nyaman.

"Iya..Hokage-sama?" Hinata mengangkat paksa wajahnya untuk melihat ke arah sang pemimpin Konoha, tidak ingin membuat Tsunade curiga.

"Apa kau baik-baik saja?" Kening Tsunade mengernyit ketika mendapati wajah Hinata yang sedikit memucat dan berkeringat.

"I…Iya Tsunade-sama, sa…saya baik-baik saja!" Hinata tergagap gugup. Tsunade mengernyit sedih memandang Hinata, sudah lama dia tidak melihat Hinata segugup ini. Gadis ini lebih percaya diri sejak dia berada di sisi Naruto, wanita yang lebih tua itu menyimpulkan apa yang terjadi di antara mereka lah yang menjadikan Hinata seperti ini lagi.

"Apa yang terjadi di antara kau dan Naruto mungkin bukan urusanku Hinata, tapi aku ingin mengatakan pendapatku tentang ini." Tsunade menatap lekat Hinata yang terlihat tercenung menanggapi kata-katanya.

"Dia sedang terjebak dalam kebingungannya, Hinata, selama ini bocah itu hidup dalam dunia gelap tanpa cinta dan kasih sayang, sehingga kau jangan terkejut ketika mendapati dia sekarang tengah terjebak dalam kebimbangan hatinya!" Tsunade berkata lambat-lambat, berusaha membantu menjelaskan keadaan bocah kesayangannya itu pada Hinata.

"Apa yang kau berikan padanya adalah sesuatu yang baru untuk Naruto, Kebahagiaan dan cinta yang kau tawarkan adalah sesuatu yang sangat luar biasa baginya. Senyumnya begitu lebar ketika dia berada di sisimu, dia sangat bahagia, hanya saja…" Tsunade sedikit ragu untuk meneruskan kata-katanya.

"Naruto-kun masih mencintai Sakura-chan, Tsunade-sama!" Hinata berkata lembut penuh pengertian, dimana membuat Tsunade terperangah memandang gadis manis yang tengah menatapnya dengan kening sedikit berkerut.

"Selamanya akan begitu, tidak akan berubah!" Hinata berkata dengan nada mengungkapkan fakta, Tsunade membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang dia harap bisa mengurangi kerusakan yang terjadi di hati gadis lembut di depannya ini, tapi Hinata kembali berucap.

"Saya mengerti seperti apa perasaan Naruto-kun juga perasan Sakura-chan. Kami bertiga akan selamanya seperti ini jika tidak ada yang berusaha mengakhirinya." Mata putih Hinata berkilat memandang Tsunade dengan keyakinan.

"Dan saya memutuskan untuk mengakhirinya." Getaran kesedihan memang terasa, tapi hanya sedikit, sangat sedikit, Hinata sendiri bahkan terkejut oleh hal ini. Tsunede terdiam, diamatinya setiap gerak bibir tegas Hinata ketika mengatakannya.

" Cinta dan kenyamanan adalah dua hal yang sangat berbeda, perasaan Naruto-kun pada Sakura-chan adalah cinta, sejak awal…., sejak dulu memang begitu. Saya tahu dan mengerti betul hal itu!" Amethys Hinata memandang Tsunade sendu.

"Saya masuk dan menawarkan untuk Naruto-kun sebuah kenyamanan dan kehangatan yang selama ini dia rindukan, sehingga mungkin ini lah yang membuatnya salah mengartikan perasaannya pada saya. Sejujurnya untuk itu saya juga menyadari dan mengerti, namun keegoisan saya membuat saya berpikir kalau mungkin suatu hari, dia akan bisa benar-benar mencintai saya. Padahal sesungguhnya hal itu tidak akan pernah terjadi!" Mata Hinata sedikit menggelap untuk sesaat. Namun mata itu kembali menunjukkan percikan yang lebih terang dari sebelumnya, seolah keyakinan yang jauh lebih besar tiba-tiba datang menghampirinya.

"Tapi sekarang saya sudah bisa melihatnya dengan mata terbuka, saya bisa merelakannya. Saya juga menyadari, kalau sekarang perasaan saya pada Naruto-kun sudah tidak seperti dulu lagi, pelan-pelan justru saya lah yang berubah!" Senyum kecil terukir di bibir Hinata saat wajah Sasuke membayang jelas di pelupuk matanya.

"Naruto-kun dan Sakura-chan berhak bersama dan bahagia, karena mereka saling mencintai satu sama lain." Kali ini giliran Tsunade yang tercenung mendengar penuturan Hinata.

Gadis di depannya ini bukanlah gadis yang tadi memucat gugup gelisah di hadapannya. Gadis ini adalah sosok lain, setiap kata yang diucapkannya meluncur dengan keyakinan, tenang dan tegar. Mata yang sejak tadi menghindari tatapannya kini tengah menatapnya dengan tegas, seolah berharap agar ia bisa menyelami setiap kata yang diucapkannya dari gambaran matanya. Yakin dan tidak ada kata kembali, gadis ini tidak akan mundur dan menarik kata-katanya lagi, kening Tsunade mengkerut ketika mengingat kalau mungkin saja Naruto masih tidak ingin berpisah dengan gadis ini. Bagaimana kalau Naruto setelah merenung justru menyadari kalau Hinata lah yang benar-benar di cintainya, Tsunade mau tidak mau merasa khawatir untuk Naruto.

"Tsunade-sama! Jika boleh saya ingin segera undur diri. Saya ingin segera menyampaikan ini pada Naruto-kun dan Sakura-chan!" Hinata menatap setengah memohon pada Tsunade.

"Mereka tidak ada di Konoha!" Tsunade menyampaikan informasi itu dengan berat hati, Naruto berangkat kesuna 3 Hari yang lalu, dan Sakura ia tugaskan ke Kumogakure beberapa jam yang lalu. Mendengarnya Hinata mengangguk, sedikit kecewa, benaknya menebak mereka mugkin tengah bertugas di luar Konoha.

"Mereka baru akan kembali lima bulan lagi!" Dan itu yang membuat mata Hinata membulat kaget tidak percaya, lima bulan?.

"Dan Hinata, untuk lima bulan kedepan kau tidak akan menerima misi ke luar Konoha!" Tsunade menepati janjinya pada Naruto. Hinata mengernyit bingung memandang Tsunade, kenapa?, benaknya heran.

"Naruto ingin kau selalu aman di Konoha sampai ia kembali nanti!" Hinata terdiam tidak bergerak. Deguman keras seolah terdengar ditelinganya.

"Bocah itu sangat mengkhawatirkanmu!" Hinata mengigit bibir mendengar kata-kata Tsunade, dia lupa kalau hingga saat ini sebenarnya dia masih kekasih Naruto. Tiba-tiba Hinata merasa bersalah, merasa terikat, dan merasa berkhianat, dan dia harus menunggu lima bulan lagi untuk bisa lepas dari perasaan ini. Oh Kami-sama... Hinata menutup matanya meringis. Lima bulan ini akan menjadi waktu yang panjang dan menyiksa untuknya.


Hinata berfirasat, dia berprasangka dan ia ketakutan. Takut-takut Hinata, mengaktifkan byakugannya untuk melihat perutnya, tidak ada apa-apa, kosong, semuanya baik-baik saja. Hinata tidak bisa melihat ada sesuatu apapun yang aneh di tubuhnya. Setiap malam, setiap pagi, setiap ada kesempatan Hinata senantiasa memeriksa keadaan dirinya, benaknya berfirasat sesuatu sedang terjadi padanya, selama seminggu ini dia tidak henti-hentinya ketakutan dan gelisah.

Setiap lirikan seakan menyelidik, setiap bisikan seakan menggunjingkan, setiap seruan seolah mengetahui. Kelelahan, dia tidak bisa menghentikan benaknya untuk berprasangka. Sementara itu tidak ada tanda-tanda Sasuke akan pulang dan memeluknya dalam ketenangan. Hinata pun menangis dalam diam.

.

.

Bercak darah menenangkannya, untuk pertama kalinya dalam dua minggu ini Hinata akhirnya bisa bernapas lega. Lega, seolah beban seluruh dunia telah terangkat dari pundaknya. Tapi dia belum dibiarkan sepenuhnya tenang oleh benaknya, lagu baru mengalun bersenandung, Sasuke belum menunjukkan batang hidungnya, kemana dia?, apa dia tidak ingin menemuinya?.

.

.

Berhenti, bercak merah tidak ada lagi, cepat sekali, terlalu cepat. Baru kemarin malam, dan pagi ini itu tidak ada lagi. Hati Hinata kembali menangis ketakutan. Sasuke…Sasuke…Sasuke benaknya meraung-raung memanggil-manggil pegangan hatinya.

.

.

Terbangun di tengah malam, kram di perutnya membuat Hinata menyadari ketakutannya benar-benar terjadi. Kami-sama…. Oh Sasuke…. Hinata terdiam, tidak bersuara, tidak bergerak, hingga pagi menjelang matanya tidak bisa terpejam lagi.

.

.

Dehaman ayahnya terasa begitu mengagetkan. Langkah kaki Hinata ragu-ragu seperti pencuri yang takut ketahuan. Setitik cakra, setitik cakra ia sembunyikan, takut bahkan sudah tidak lagi bisa dia gunakan untuk menjelaskan keadaannya.

.

.

Setiap malam Hinata duduk terdiam di atas tempat tidurnya mengamati segumpal darah yang pelan-pelan mulai semakin berubah bentuk. Dari hari ke hari semakin berubah, saat ini 'itu' hanya segumpal darah kecil yang rapuh , hanya dengan sedikit sentuhan cakra, 'itu' bisa menghilang tanpa rasa sakit.

'Jangan….! ' Hati Hinata berteriak menciptakan kabut tebal di otaknya.

.

.

Tujuh minggu, bakal matanya mulai membayang, bakal kuping, bakal tangan dan kaki, juga ada bakal wajah yang nampak aneh. Air mata Hinata mengalir, dia mulai terlalu sering menangis. Putus asa, Sasuke tak kunjung tiba. Pada titik ini Hinata berkali-kali mengarahkan cakranya pada makhluk rapuh itu, tapi dia tak sanggup. Benaknya meminta waktu untuk menunda, penundaan yang terus berlanjut tidak mampu ia akhiri. Kebingungan dan kelelahan akan ketakutannya sendiri, Hinata mulai muntah-muntah tidak terkendali. Hinata mengurung diri di kamar, Hanabi dan Hiashi pergi berkunjung ke aliansi Hyuuga, dia aman dari tatapan menghakimi sejauh ini.

.

.

Tubuh kecil itu mulai terlihat bentuknya, tangan kecil, kaki kecil, bakal mata itu terlihat punya kelopak tipis, wajah aneh itupun juga sudah punya mulut juga hidung . Meratap dan meringis, Hinata gelagapan, hatinya menjerit-jerit.

.

.

Telapak tangannya berkilau oleh cakra, di depan perutnya tangan itu bergetar, air mata jatuh menganak sungai di pipinya. Hanya ada satu nama yang terus-terusan dia bisikkan pada angin malam.

"Sasuke….!" Isakan lolos, terdengar amat lirih. Matanya terus menatap lekat calon manusia yang tertanam di rahimnya.

Dua belas minggu, janin itu sudah berbentuk seperti manusia mungil. Kecil dan lemah, cakranya masih berupa titik-titik kecil cahaya yang berkilau. Dekat, semakin dekat, telapak tangan Hinata semakin mendekat pada perutnya. Sampai..

Deg…. deg… deg… deg…

Denyutan-denyutan kecil tiba-tiba terlihat. Hinata tersentak, sontak cakra yang telah ia kumpulkan di telapak tangannya buyar menghilang. Tubuh Hinata bergetar hebat, rasa pilu sekaligus terharu memenuhi relung hatinya. Jantung janinnya berdetak, matanya hanya bisa menangkap sekelabat denyutan kecil. Semakin diperhatikannya, dia semakin bisa melihat gerakan-gerakan kecil dari tangan dan kaki mungil itu.

Hinata menangis di antara takjub dan takut, rasa sesal membuatnya menangis semakin deras, dia hampir saja membunuh makhluk hidup ini, dia hampir saja membunuh darah dagingnya dan Sasuke. Hinata menutup mata, menonaktifkan byakugannya dia meringkuk di atas tempat tidurnya.

"Sasuke…." Hinata mendekap erat bantal empuknya, rasa sesak yang menekan dada terasa sangat menyiksa.

"Aku membutuhkanmu…!" Bisikan serak terdengar pedih, air mata terus merembes keluar dari kelopak matanya yang tertutup.

"Sasuke….Sasuke…Sasuke….!"

"Kami memerlukanmu..! Oh…huuhuuuhuu Sasuke…"

.

.

Lima belas minggu, Hinata tersenyum kecil, laki-laki, bayinya laki-laki. Byakugannya melihat bayi laki-laki yang sehat di dalam rahimnya. Kulitnya terlihat tembus pandang dan berkerut-kerut, wajahnya masih terlihat aneh, kepalanya juga masih terlihat terlalu besar untuk tubuhnya. Jari-jari kecil itu terlihat menggenggam dan membuka pelan, gerakan-gerakan kecil itu membawa keteduhan ke dalam diri Hinata. Hinata mulai tersenyum tulus pada janin rapuh itu ketika ia merasakan gerakan-gerakan pelan dari dalam tubuhnya. Raungan pelan dan isakan tertahan tidak lagi terdengar dari bibir wanita Hyuuga itu. Jemarinya mengelus-elus lembut perutnya yang tidak lagi terlihat terlalu rata, perutnya sudah mulai membesar, meskipun masih belum ada yang bisa menyadari perubahan di tubuhnya.

Kini hati Hinata mulai tenang, dia sudah tidak lagi gelisah, meskipun setiap malam ia masih kerap memandang gerbang Konoha dengan tatapan mendamba dan merindu. Setidaknya kini Hinata sudah tidak lagi merasa sendiri, ada bayinya yang terus menggelitiknya dengan gerakan kecil bak kupu-kupu dari dalam perutnya.

"Ayah akan datang manis!, kita tunggu saja, sebentar lagi dia pasti akan datang!" Hinata berbisik lembut pada bayi mungilnya yang terlihat seperti menguap di dalam sana.

.

.

Empat Bulan, bayinya mulai menendang dan menyikut jelas. Pengalaman yang sangat luar biasa, keajaiban nyata yang bisa dirasakannya. Bayinya sekarang sudah bisa menanggapi suara Hinata, saat dia menangis bayinya akan bergerak-gerak tidak tenang seolah bisa merasakan kesedihan ibunya. Saat Hinata bersenandung, bayinya menyenggol-nyenggol lembut dari dalam perutnya, seolah tengah menikmati suara Hinata. Ketidak beradaan Sasuke di sisinya pelan-pelan tertutupi oleh tingkah polah janinnya. Perlahan namun pasti Hinata mulai jatuh cinta pada bayinya, dan cinta itu membawa kesadaran serta keyakinan baru. Dia tahu saat-saat sulit dan rumit sudah menghadang mereka dimasa depan, tapi Hinata kini sudah siap menghadapinya, untuk bayinya dia harus bisa kuat dan tegar.

Hinata menyadari kalau Sasuke mungkin tidak tahu kalau dia tengah menunggunya di sini, dia mengingat bagaimana Sasuke memintanya untuk tinggal di sisinya namun Hinata justru menghilang tanpa sepatah kata pun dipagi hari. Setelah memikirkannya lagi Hinata sempat takut kalau Sasuke mungkin tidak akan pernah datang untuknya dan bayi mereka. Tapi kemudian ia yakin, cepat atau lambat, Sasuke akan bisa menyadari cakra ini, cakra si kecil yang berbeda, setitik cakra Uchiha di antara lautan cakra Hyuga yang membungkusnya. Cakra yang kadang terasa menyengatnya, namun juga membuatnya senang, mengingatkannya bahwa sebagian diri Sasuke ada bersamanya.

.

.

Perut Hinata semakin membesar seiring semakin bertumbuhnya janin di dalam rahimnya. Hinata semakin menyadari kalau dia tidak bisa lebih lama lagi menyembunyikannya. Selain itu cakra bayinya pun menjadi semakin jelas terlihat, pengguna byakugan bisa dengan segera menyadari keberadaan mahkluk kecil ini. Berada di sebuah kediaman yang dipenuhi oleh mata-mata yang bisa melihat ke dalam dirimu ketika kau sedang berusaha menyembunyikan sesuatu adalah hal yang paling menakutkan yang pernah Hinata alami. Ketakutan itu lah yang membawa kakinya melangkah ketempat itu sekarang ini, dia tidak ingin menyembunyikannya lagi, cukup sudah empat bulan dua minggu ini dia gelisah dan bertanya-tanya serta menebak-nebak hal apa yang akan terjadi kalau ada yang mengetahui perihal kehamilannya ini.

Tok… tok.. tok..

Hinata mengetuk ringan, jantungnya berdebaran tidak terkendali, perutnya terasa mulas teremas, hampir saja Hinata berlari pergi dari sana ketika seruan 'Masuk!' terdengar dari dalam ruangan. Hinata mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku jari memutih pucat di genggamannya. Ia menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya berat, apapun yang akan terjadi nanti dia harus menghadapinya, saat ini yang penting adalah bayinya. Meyakinkan diri, Hinata menggeser Shoji di depannya, di dalam ruangan sepasang mata yang sewarna dengan matanya terlihat memandangnya dalam. Hinata meneguk liur, di perutnya seolah ada sebuah simpul yang menjerat semakin erat ketika dia melangkah masuk membungkuk pada sosok pemimpin Hyuuga yang sekaligus ayahnya itu. Keringat dingin mengucur ketika Hinata duduk bersimpuh di depan Hiashi, debaran jantungnya menggema di telinganya yang nyaris berdenging karena gugup dan takut. Hinata ingin ayahnya menjadi yang pertama mengetahui tentang ini, Hinata tidak bisa yakin akan seperti apa reaksi ayahnya nanti, hanya saja beliaulah satu-satunya yang bisa menyelesaikan segala sesuatunya untuk kebaikan keadaan ini.

Hening…. Hinata menunduk, mempersiapkan diri memulai pembicaraan. Hiashi menatap penuh selidik putri sulungnya yang meminta untuk menemuinya ini. Matanya menangkap setiap gerakan kecil yang dilakukan putrinya, dia merutuk di dalam hati ketika mendapati Hinata masih saja betingkah gugup dan canggung, calon pemimpin Hyuga tidak boleh semudah itu dibaca, calon pemimpin Hyuga harusnya tidak bertingkah lemah seperti itu. Kening Hiashi mengernyit ketika melihat tangan kanan Hinata memeluk perutnya sendiri.

"Ayah…., Sa…saya ingin me…memberitahukan a…ayah sesuatu!" Hinata menggigit lidahnya, memarahi dirinya sendiri karena tergagap, ayahnya tidak pernah suka ketika dia begitu, tergagap adalah pertanda kelemahan. Hiashi hanya diam memandangi Hinata dengan wajah batunya. Melihat ayahnya hanya terdiam, Hinata menjadi semakin gelisah, ia menggumamkan nama Sasuke berkali-kali di benaknya agar bisa mengumpulkan kembali tekadnya yang rontok berjatuhan sesaat setelah dia melangkahkan kaki ke dalam ruangan ini.

"Saya sedang mengandung ayah!" Hinata berkata lirih, seketika Hiashi memejamkan matanya. Hinata meringis melihat wajah kecewa ayahnya. Benaknya mengutuk dirinya sendiri, sekalinya dia bisa melihat ekspresi di wajah batu itu, kenapa harus kekecewaan yang dilihatnya. Air mata Hinata langsung jatuh tidak tertahan, ketakutan, kegelisahan, semuanya, segala emosi yang berkecamuk di dada Hinata membuat calon ibu itu menangis hebat di depan ayahnya yang tengah mengerutkan kening, Hiashi menghela napas lelah, matanya masih tertutup rapat.

Isakan pelan Hinata menusuk hati Hiashi, rahangnya terkatup semakin erat. Dia tidak bisa mengungkapkan betapa kecewanya dia saat ini. Hinatanya, harapannya, tonggak masa depannya, hanya dengan satu kalimat telah meruntuhkan segala mimpi yang selama ini dibangunnya. Mimpi untuk bisa menjadikan putri sulungnya itu sebagai penerus clan, mimpi untuk melihat Hinata bisa membuat kepala semua orang menunduk hormat padanya.

'Uzumaki Naruto!' Nama itu memacu geraman marah datang dari dalam tenggorokan Hiashi. Bocah itu, berani-beraninya dia. Terang-terangan sudah dia ungkapkan padanya pengaturan dan garis batas izin restu yang diberikannya untuk menjalin hubungan dengan putrinya.

"Dimana dia?" Bocah itu, kemana dia?. Uzumaki Naruto…. Bocah sialan dimana kau?.

Masih terisak pelan, Hinata mendongak ketika mendengar ayahnya mengucapkan sesuatu. Hiashi memandang Hinata tajam. Hinata menyapu air matanya yang mengalir, setengah tidak mendengar apa yang tadi dikatakan ayahnya

"Bocah Uzumaki itu, dimana dia?" Hiashi menggeram tidak sabar, berani-beraninya anak itu membuat putrinya mengabarkan kabar 'ini' padanya seorang diri!, sudah bosan hidup rupanya.

Hinata tercekat napasnya ketika mendengar itu, seketika dia merasa begitu hina di depan ayahnya. Tentu saja, tentu saja Hiashi akan mengira dia tengah mengandung benih Naruto, air mata Hinata kembali tumpah. Mengandung benih pria lain ketika dia tengah menjadi kekasih pria lainnya, oh… betapa…memalukannya. Apa yang akan dipikirkan oleh ayahnya tetang dia sekarang?. Perasaan bersalah pada Naruto membuat tubuhnya gemetaran. Hinata menggeleng pada ayahnya, tidak mampu menemukan kata-kata yang terhenti ditenggorokannya. Hiashi mengernyit melihat Hinata.

"Di mana dia Hinata?" Kata-katanya sekarang terdengar lebih nyaring, tidak sabar dan marah besar.

"Bukan…." Hinata menggeleng semakin keras, Hiashi kebingungan dengan reaksi putrinya yang terlihat jauh lebih ketakutan dari pada sesaat yang lalu.

"Bukan Naruto-kun, ayah!" Mata Hiashi membelalak.

"Apa maksudmu Hinata?" Dia membentak putrinya kasar, Hinata tersentak mendengar bentakan ayahnya.

"Ini bukan bayi Naruto-kun!" Hinata memeluk perutnya, meminta semangat dari bayi di dalam rahimnya.

Hiashi menegang, kalau bukan Naruto lalu siapa?, ketakutan dan kekhawatiran seorang ayah mulai menggantikan kemarahannya. Apa yang terjadi pada putrinya, putrinya adalah seorang wanita terhormat, tidak mungkin dia mau menyerahkan kehormatannya pada sembarang orang, pada Naruto mungkin saja, tapi kalau bukan Naruto siapa? Apa hal buruk telah menimpa Hinata? Pemaksaan misalnya? Pemerkosaan? Hiashi merasa tubuhnya mendingin ketika dia memikirkan kemungkinan terakhir.

"Jelaskan dirimu Hinata!" Hiashi berseru dingin, wajahnya kini kembali membatu menyembunyikan kekhawatiran yang menggigitinya dari dalam.

"Ketika misi terakhir…." Hinata terisak, ia meneguk liur hampir tersedak.

"Malam itu… racun… dia sekarat…. saya… saya…." Mata Hinata menujukkan kelinglungannya pada Hiashi, gadis itu panik, setiap kata yang muncul di kepalanya terasa tidak pas untuk dikatakan. Kata 'Misi terakhir', 'racun', dan 'sekarat', membuat benak Hiashi berteriak nyaring dalam ketakutan.

"Apa kau diperkosa, Hinata?" Hiashi akhirnya melontarkan pertanyaan pahit itu. Wajah Hinata memucat, hatinya berteriak menyangkal. Sasuke tidak memperkosanya….

"Tidak ayah, tidak…., maafkan aku ayah…., maafkan aku….!" Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, pesan itu ingin di sampaikan Hinata pada ayahnya, hanya saja dia tidak bisa mengatakannya, tidak pantas rasanya untuk diucapkan, rasanya dia semakin berdosa dan hina jika mengatakannya dengan gamblang. Hiashi menerima pesan itu dengan jelas dan terang, hanya saja dia tidak mengerti, Hinatanya, putri yang dibesarkannya tidak akan melakukan hal seperti itu begitu saja di luar ikatan pernikahan.

"Dia terkena racun ayah, dia sekarat, satu-satunya jalan untuk menenangkan cakra yang menyebarkan racunnya itu hanyalah dengan…. " Hinata tidak sanggup mengatakan hal itu pada ayahnya, dia masih terus terisak. Mendengar itu Hiashi mengerutkan kening, kepalanya terasa sangat sakit, hanya dengan penuturan singkat Hinata sang pemimpin Hyuuga itu sudah mengerti apa yang dimaksud oleh putrinya. 'Dia' ini akan mati jika tidak melakukan 'itu' dengan Hinata. Sekarang ini dia hanya bertanya-tanya pada tuhan, kenapa harus 'Hinatanya?!'. Gadis ini memang berhati lemah, membiarkan seseorang mati begitu saja di depannya adalah sesuatu yang tidak akan pernah sanggup dilakukannya, terkecuali itu musuh yang memang harus dilenyapkan. Pemikiran ini membawa sedikit cahaya terang di kepala Hiashi, setidaknya 'dia' ini bukan musuh.

"Siapa dia?" Hiashi bertanya tidak sabar, membuatnya terlihat menggeram marah ke arah Hinata. Melihat kemarahan ayahnya Hinata jadi bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Sasuke jika ayahnya mengetahui siapa ayah dari bayinya ini. Belum saatnya dia memberi tahukan ini pada ayahnya, saat ini Hiashi tengah marah besar. Hinata tidak ingin mengambil resiko, dia tidak ingin ada sepasukan elit ninja terbaik yang dimiliki Hyuga berlarian meninggalkan Konoha untuk berburu kepala Sasuke Uchiha. Meskipun Sasuke tidak akan tumbang dengan mudah, setidaknya darah tetap akan tumpah dari sisi anggota clannya.

"Saya... tidak tahu ayah…!" Hinata menjawab ragu di sela isak tangisnya.

Hiashi memukul meja dengan kasar ketika mendengarnya, Hinata ingin melindungi seseorang, dia tahu itu. Kepalanya yang terasa mendidih marah membuat Hiashi menyadari dia sudah kalah karena dikuasai amarah. Mendengus kasar Hiashi segera berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, dia perlu udara segar untuk mendinginkan hati dan kepalanya.

"Maaf ayah….! Maaf….! Maaf…!" Hiashi melangkah cepat meninggalkan putrinya yang terisak dan meraung memohon ampun padanya.

Hinata menangis semakin deras ketika memandang punggung ayahnya yang berlalu, dia sudah menyebabkan kekacauan besar, Hinata tahu itu. Banyak hal sulit yang akan dilaluinya kedepan nanti, dewan tetua Hyuga, masyarakat, dan masih banyak lagi. Hinata menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, berusaha meredam isakan yang tidak kunjung berhenti meskipun dia ingin menghentikannya. Langkah kaki ringan di ambang pintu membuat Hinata mendongak, berharap itu adalah ayahnya yang kembali untuk memeluk dan memaafkannya.

Di ambang pintu Hanabi berdiri diam memandang kakaknya, dia mendengar semuanya, dia mengetahui apa yang diihadapi Hinata saat ini. Matanya berair memandang kakak kesayangannya itu tengah dirundung kemalangan. Hinata merentangkan tangannya pada Hanabi, menginginkan dukungan moril dari adiknya itu. Hanabi menabrak tubuh Hinata, memeluknya erat, di usapnya rambut panjang Hinata dengan lembut.

"Shhhh... Berhenti menangis Hinata! Kau cengeng sekali!" Hinata merasa sedikit tenang berada dipelukan Hanabi. Susah payah dia berusaha menelan tangisnya, namun masih gagal, Hinata masih terus terisak.

"Tidak apa-apa Hinata! Aku akan melindungimu!" Hinata tersenyum kecil mendengar perkataan adik 16 tahunnya ini. Perbedaan 4 tahun di antara mereka memang seperti tidak pernah terlihat, Hanabi adalah anak yang kuat dan tenang, Hinata tahu Hanabi selalu bisa diandalkan. Setelah apa yang dialami Hinata, mereka berdua tahu jika kelak tampuk kepemimpinan Hyuuga sudah pasti akan jatuh pada Hanabi. Sejak awal para tetua memang lebih mengunggulkan Hanabi dibandingkan Hinata, hanya saja Hiashi tidak pernah membiarkan itu terjadi, ia bersikeras kalau putri sulungnya lah yang harus melanjutkan kepemimpinannya. Namun dengan situasi sekarang ini tidak akan bisa lagi, tetua sudah mendapat kartu bebas hambatan untuk memilih Hanabi.

"Cengeng! Berhenti menangis!" Hanabi berkata seolah memerintah. Dia memundurkan tubuhnya untuk memandang Hinata.

"Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu!" Hanabi berkata lantang sambil mengusap pipi Hinata yang berair. Hinata menunduk mengusap perutnya yang mulai menyembul di balik kimono yang dikenakannya.

"Bayimu juga, tentu saja!" Hanabi tersenyum lebar, menguatkan Hinata dengan janjinya, sayangnya…. banyak hal yang di luar perkiraan mereka tengah menunggu mereka di depan nanti.


Ada orang pernah mengatakan kalau rasa sakit karena patah hati itu melebihi rasa sakit terkena tusukan seribu kunai, ada juga yang mengatakan perihnya melebihi luka tebasan ratusan katana membara. Dulu Sasuke akan mencibir dan mengejek jika mendengarnya, tapi kini dia hanya bisa bersungut-sungut membenarkan. Jika merasakan cinta bisa begini menyakitkan, Sasuke merasa lebih baik dia dilahirkan tanpa hati saja. Rasa sakitnya seakan benar-benar bisa dirasakannya secara fisik, sakit, panas, perih, sesak, hampir gila rasanya.

Cipratan darah dan potongan-potongan tubuh berhamburan di sekelilingnya, telapak tangan Sasuke menggelinding-gelindingkan bolak balik potongan kepala di samping lututnya yang duduk bersila. Sasuke duduk bersandar di tumpukan tinggi mayat orang-orang yang sudah dihabisinya. Dia duduk diam meresapi rasa puas yang seingatnya dulu selalu bisa membuatnya senang, namun kali ini sama sekali tidak berpengaruh. Hatinya tidak berada di sini, hatinya telah dibawa pergi oleh Hinata, buruknya gadis itu membawanya hanya untuk menyakitinya.

Seorang pria gendut berjalan keluar dari balik pohon, ragu-ragu dia melangkah maju mendekat pada Sasuke ditemani oleh dua orang penjaga bertubuh besar di sisi kanan dan kirinya. Melihat si pembayarnya sudah datang, Sasuke segera melemparkan potongan kepala yang tadi ditimang-timangnya ke arah pria gendut itu. Lelaki gendut itu menghidar, salah seorang pengawalnya menangkap kepala itu untuk menghentikan laju benda itu menuju majikannya. Mengernyit, pria gendut menatap benci potongan kepala yang mengerikan itu, sebelum dia tertawa terbahak tidak terkendali, sangat puas akan pekerjaan Sasuke. Namun hanya perlu beberapa detik sebelum dia malah mulai menangis. Sasuke hanya diam tanpa ekspresi melihat pria gendut itu bertingkah seperti orang gila yang tertawa-tawa di sela tangisnya. Kepala itu adalah kepala pemimpin gerombolan bandit yang sudah merampok dan membunuh putri si pria gendut.

"Apa dia mati dengan kesakitan?" Pria gendut itu bertanya lirih pada Sasuke.

"Dia menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini!" Sasuke tidak berbohong atau melebih-lebihkan, dia memang menyiksanya habis-habisan. Ia melampiaskan sakit hatinya juga, tubuh yang bertebaran ini adalah buktinya, kelompok perampok itu habis tidak bersisa. Pria gendut itu mengangguk-angguk puas, tapi sesungguhnya hal ini masih belum bisa mengobati perih kehilangan seorang putri yang dibunuh sadis dan keji.

"Bayaranmu!" Sekantung besar uang mendarat di hadapan Sasuke.

"Terimakasih!" Setelah mengucapkan itu kepada Sasuke, rombongan pembayarnya itu segera pergi meninggalkan Sasuke sendirian.

Tidak dibayarpun sesungguhnya Sasuke bersedia membabat habis mahkluk-mahkluk kotor ini. Dia juga perlu pelampiasan untuk kegelisahannya sendiri. Kewarasannya seolah sudah benar-benar berada di ujung tanduk, dia semakin gila di setiap harinya. Otaknya di suatu titik bahkan sudah mengatur siasat dan rencana untuk pergi menculik Hinata dari Konoha, baik suka rela maupun dengan pemaksaan, jika Hinata menolak dia akan memaksanya, yah… memaksanya. Bodoh sekali kan?... Gila kan? Rencana itu lenyap secepat datangnya dari kepala Sasuke, si bodoh itu tentu akan menghadangnya dengan pertarungan sampai mati. Mati bukan masalah utamanya, mata biru itulah masalahnya.

"Hinata…. Kenapa kau harus masuk ke dalam hidupku?" Sasuke bertanya sungguh-sungguh pada langit lembayung di atas kepalanya, kenapa dia harus berurusan dengan mahkluk cantik yang satu itu? Namun yang benar-benar disesalinya adalah kenapa harus Naruto? Kenapa Hinata harus mencintai Naruto? Satu-satunya orang yang paling tidak ingin disakitinya di dunia ini. Seandainya itu orang lain, kepala pemuda itu pasti sudah lepas dari tempatnya saat ini. Meski Hinata mengiba, meski Hinata membencinya, meski Hinata mengutuknya, dia akan tutup telinga. Selama dia bisa berada di sisinya, selama dia bisa memilikinya itu bukan masalah, dia bisa menulikan telinga dan membutakan matanya, ya.. begitulah kegilaan cintanya. Namun mata biru itu membuatnya tidak mampu melakukannya.

Mata Sasuke sayu dikelilingi lingkaran Hitam, akibat dari malam-malam yang dilaluinya tanpa tidur karena selalu terbangun ketika memimpikan Hinata yang menangis memanggil namanya. Bibirnya tersenyum sinis ketika mengingat hal itu tidak akan mungkin benar-benar terjadi, bukannya menangis gadis itu pasti justru tengah tersenyum bahagia berada di antara orang-orang yang menyanyanginya, di pelukan Naruto bodoh kekasihnya. Sebutlah dia pengecut, sebutlah dia penakut, Sasuke tidak menyangkal. Karena faktanya dia memang takut untuk menuruti kata hatinya agar menyusul Hinata ke Konoha. Dia takut kalau akan disuguhi pemandangan menyakitkan, takut mendengar penolakan dari bibir lembut itu. Dia mungkin akan hilang kendali dan mengamuk di Konoha, hilang kewarasan karena Hinata, Sasuke benar-benar tidak ingin menambah panjang daftar Uchiha yang menggila karena patah hati.

"Kenapa aku harus mencintaimu?" Sasuke menengadah putus asa memandang langit yang mulai menggelap.

'Kau bodoh Sasuke!'


"Itachi…. Jangan menangis sayang!" Itachi mendengar suara seorang wanita berkata lembut padanya.

Pandangan itachi yang semula gelap mulai terang seakan membuka, sesosok wanita berambut panjang berwarna kebiruan terlihat memenuhi penglihatannya. Ibunya, Hinata Hyuga, Itachi melihat ibunya berlutut di depannya sambil menatapnya sedih.

"Ayah akan segera menjemputmu! Tunggulah disini, jangan bergerak ataupun bersuara, apa kau mengerti sayang?" Ibunya terlihat mengusap air matanya sendiri. Sudut pandang Itachi terlihat bergerak naik turun seolah mengangguk.

"Anak pintar!, Itachi ku memang pintar!" Ibunya terlihat mencium sepasang telapak tangan kecil yang seperti menjulur dari arahnya. Pandangan mata Itachi seolah menutup ketika wajah ibunya mendekat kearahnya, Itachi bisa merasakan kecupan lembut di keningnya, kemudian di kedua kelopak matanya, lalu turun di kedua pipinya, dan yang terakhir di ujung hidungnya.

"Ibu mencintaimu Itachi!" Saat pandangan Itachi menerang kembali, sosok Hinata sudah berdiri beberapa langkah di depannya, wajah ibunya terlihat tersenyum lembut memandangnya, meskipun keningnya terlihat berkerut menahan tangis. Tiba-tiba sesuatu bergerak menutup, Itachi seperti berada disebuah ruangan yang pintunya pelan pelan menutup memisahkannya dari ibunya.

"Ibu sangat mencintaimu!" Air mata yang mengalir di pipi putih ibunya segera menghilang tidak terlihat ketika wajah itu hilang sepenuhnya dari pandangan matanya. Sesaat kemudian Itachi bisa mendengar suara tangis terbekap dari seorang anak kecil. Terdengar sangat dekat, seakan-akan tangis itu keluar dari mulutnya sendiri.

"Itachi….Itachi….!" suara ayahnya sayup-sayup terdengar memanggil namanya. Kening Itachi mengernyit, bahunya terasa digoyang-goyang perlahan.

"Itachi… bangun!" Sasuke menggoyang pelan pundak Itachi di pelukannya, anaknya itu menangis dalam tidur sehingga membuat Sasuke khawatir.

Mata Itachi pelan-pelan terbuka, air mata mengalir dari ujung-ujung matanya, melewati hidung jatuh ke bantal keras yang ditidurinya. Wajah Sasuke yang khawatir menjadi gambaran pertama yang ia tangkap setelah iris matanya mampu menyesuaikan diri dengan cahaya kamar tidur ayahnya. Sasuke mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Itachi, Itachi memandang ayahnya tidak berkedip.

"Jangan menangis lagi!, kau sudah terlalu banyak menangis." Sasuke mengusap pelan rambut di kepala Itachi yang tengah menjadikan pergelangan tangannya sebagai bantal. Itachi tertidur sambil memeluk Sasuke setelah kelelahan karena terlalu banyak menangis. Itachi beringsut memeluk Sasuke lebih erat, mengubur wajah di pelukan hangat ayah tercintanya. Sasuke membalas pelukan Itachi sambil mengelus-elus punggung putranya itu pelan. Mereka diam tanpa bicara sepatah kata pun antara satu sama lain, namun cinta mereka bisa terpancar dari kehangatan dan kenyamanan dekapan mereka.

Itachi bermimpi, dia memimpikan ibunya, senyum kecil terukir di bibir Itachi. Meskipun dia tidak mengerti apa arti mimpi itu, Itachi tetap senang, sangat bahagia ketika mendengar kata cinta dari bibir ibundanya. Setelah sekian lama hidup dengan bayangan sosok ibu tidak berwajah, akhirnya Itachi sekarang bisa membayangkan sesosok wajah ketika mengingat tentang ibu. Itu pun sudah cukup untuk menghangatkan hatinya.

Sasuke di sisi lain tengah sibuk memikirkan apa yang harus di katakannya pada Itachi. Putranya ini sudah mengetahui rahasianya, dia telah mengetahui siapa ibunya. Dia yakin sekali banyak pertanyaan yang tentunya sedang memenuhi pikiran Itachi, tentang ibunya, tentang semuanya, selain apa yang di beri tahu oleh Naruto tadi padanya. Naruto sudah menceritakan pada Sasuke semua yang di katakannya pada Itachi untuk menenangkan anak ini tadi, dan Sasuke berani memastikan kalau sebentar lagi Itachi juga pasti akan melontarkan pertanyaan padanya. Masalahnya sekarang adalah sebanyak apa dia bisa menjawabnya?. Hanabi tidak bisa di anggap remeh, segel di kening Itachi terhubung dengan sang pemimpin Hyuga, kalau Hanabi mau dia bisa saja menguping pembicaraan apapun yang di lakukannya dengan Itachi. Sasuke mengeratkan pelukannya ketika menyadari seberapa dekat putranya itu dengan bahaya.

Itachi bisa merasakannya, kegelisahan Sasuke, Itachi bisa merasakannya dengan jelas. Jutaan pertanyaan sepele hingga berat berada dibenak Itachi saat ini, banyak sekali hal yang ingin diketahuinya. Namun Itachi tahu seperti apa situasi yang dihadapi oleh ayahnya, seperti apa dilemma yang menggelayutinya. Keinginannya untuk melindungi Itachi tentu membebani keinginannya untuk mengungkapkan kebenaran pada Itachi. Dan Itachi tidak ingin mendorong terlalu jauh, dia tidak ingin membuat ayahnya berada di situasi yang akan membebaninya. Tentang ibunya, biar dia sendiri yang berusaha mengungkapnya, tanpa sepengetahuan ayahnya tentu saja, kekhawatiran hanya akan menghentikan langkahnya.

"Ayah...?" Itachi berbisik dengan suara sengau dan mengantuk.

"Hm…!" , 'sekaranglah waktunya' benak Sasuke bersiap sedia. Itachi diam sesaat, dia ingin menanyakan sesuatu yang ringan dan menyenangkan saja.

"Ibu orang yang seperti apa?" Itachi bertanya pelan, sambil sedikit mendongak untuk memandang wajah ayahnya yang menunduk menatapnya. Sasuke tersenyum tipis, kemudian menghela napas dalam seolah bersiap mengatakan sesuatu yang akan bisa membuatnya lupa cara bernapas. Suara Itachi yang tenang dan nyaman ketika menanyakannya membuat Sasuke ingin menikmati prosess menjawab ini.

"Dia… Hinata Hyuuga…!" Itachi diam mendengarkan ayahnya yang kini telah menengadah memandang langit-langit.

"Gadis kikuk yang terlalu pemalu…" Sasuke tersenyum sedikit lebih lebar, sementara Itachi mengernyit membayangkan Hinata sebagai sosok kikuk dan pemalu. Uchiha Sasuke sama sekali tidak bisa dibayangkan akan cocok dengan dua kata itu.

"Dia aneh dan suka memerah! Terlebih kalau di dekat Naruto…" Sasuke sedikit terkekeh mengatakan kalimat terakhir, kekehan yang bercampur dengan kesedihan. Itachi mengingat sesuatu, tentang Hinata dan Naruto yang pernah di dengarnya. Menghembuskan napas berat Sasuke melanjutkan ceritanya,

"Dia adalah kekasih Naruto, Itachi! Ayah…. " suara Sasuke terputus, Itachi menggigit bibir ketika mendengar nada getir di suara ayahnya.

"Ayah telah merenggutnya dari Naruto!" Sasuke terdiam sesaat setelah mengatakannya.

"Apa ayah mencintai ibu?" Itachi bertanya lagi, berusaha mengalihkan ayahnya dari pikiran yang mungkin menyakitinya. Sasuke kembali mengeratkan pelukannya pada Itachi kemudian mengecup keningnya lembut.

"Dia tidak mencintai ayah, Itachi!" Itachi meringis, merasa sedih untuk ayahnya.

"Apakah keberadaanku adalah kesalahan ayah?" Itachi bertanya lemah.

"Bukan… Sama sekali tidak…, Itachi… ayahlah yang telah melakukan kesalahan. Keberadaanmu bukanlah sebuah kesalahan, justru keberadaanmu adalah hadiah paling indah yang pernah kami terima!" Sasuke mengelus pipi dan menatap mata Itachi.

"Bagi kami…. bagi ayah… juga bagi ibumu… kau adalah lentera penerang jiwa kami….!"

"Ayah memang tidak tahu banyak tentang ibumu…!"

"Ayah tidak tahu apa warna kesukaannya…", ' Karena dia akan tersenyum sama lebarnya, warna apapun kimono yang ku bawa pulang untuknya.' Sasuke mengingat wajah berseri Hinata mamandangnya dengan senyum manis.

"Ayah tidak tahu apa makanan kesukaannya…",'Karena dia akan memasak dan memakan apa saja yang sanggup ku bawa pulang dengan lahap dan bersyukur' Sasuke mengingat seruan senang Hinata yang menggendong Itachi menyambut kedatangannya di depan pintu rumah.

"Ayah tidak tahu apapun tentangnya…",'Karena selama kami bersama, hidupnya hanya lah tentang kita berdua, tidak pernah sedetikpun untuk dirinya sendiri.'

"Namun satu hal yang ayah tahu dengan pasti Itachi….! Hinata mencintaimu lebih dari apapun juga di dunia ini." Mata Itachi berair dengan perasaan senang dan bahagia yang meluap dari dalam dadanya, dia mengangguk memandang ayahnya.

"Aku juga… aku juga mencintai ibu dan ayah lebih dari apapun di dunia ini!" Itachi berkata hampir menangis, tapi kali ini bukan air mata duka namun adalah air mata bahagia. Sasuke mengangguk, menatap Itachi dengan senyum lembut yang hanya untuk Itachi seorang.

"Terimakasih Itachi…., Terimakasih…!"

'Apa kau bisa mendengarnya Hinata…?'


Haruko berdiam diri sambil memicingkan mata memandang kakek dari balik jeruji besi, dini hari gadis itu tengah menunggu kakek itu terbangun dari tidurnya. Dalam diam dia memperhatikan lekat-lekat wajah kakek tua di depannya. Meskipun di dalam penjara, kakek ini terlihat bersih dan rapi. Meski di rantai, kakek ini terlihat berwibawa dan mengintimidasi. Tubuh tuanya terlihat kokoh dan bidang, rambutnya yang panjang tergerai berwarna abu-abu di kebanyakan tempat. Tidak salah lagi… dia memang adalah Hiashi Hyuuga, Haruko mengangguk-angguk yakin pada dirinya sendiri.

"Sampai kapan kau akan terus menatapku begitu?" Suara berat yang tiba-tiba terdengar membuat Haruko menggumamkan 'kami-sama' karena kaget.

"Bukankah ini terlalu pagi untuk berkunjung nona muda?" Kakek Hiashi bergerak pelan bangkit dari pembaringan untuk duduk di lantai menghadap lurus pada Haruko.

"Mengingat kondisinya saat ini…, kurasa tidak juga kek!" Haruko berbicara sambil tersenyum, mengingat ibunya mungkin akan murka dengan kelakuannya jika dia tahu, maka Haruko rasa ini memang waktu yang tepat untuk berkunjung.

"Jadi….ehmm… kau kakek Hiashi kan?" Haruko bertanya gamblang, mungkin karena tidak tahu seperti apa dulu bibi dan ibunya ketika menghadapi sosok di depannya ini. Hiashi tersenyum kecil ketika mendengar nada bicara Haruko yang kokoh dan yakin, tidak ragu dan takut bahkan hampir terdengar congkak.

"Apakah menurutmu begitu?" kebanggaan menguar dari hati kecilnya, Haruko adalah calon pemimpin clan yang kuat kelak.

"Kakek tidak bisa menyangkalnya! Aku yakin, sangat yakin!" Haruko bergerak semakin dekat ke jeruji besi yang memisahkannya dari sosok Hiashi Hyuuga. Hiashi hanya diam mendengar Haruko mengoceh tentang kemiripan dan segala macam pertanda lain yang katanya dia selidiki tentangnya.

"Pertanyaannya adalah…." Haruko berhenti sejenak untuk mengambil napas sebelum ia kembali bicara.

"Kenapa kau ada di sini kek!?" Haruko memandang Hiashi penuh harap, berharap segera mendapat jawaban untuk pertanyaannya.

"Pertanyaanku adalah kenapa aku harus menawab pertanyaanmu?" Hiashi bertanya dengan suara tenang, yang seketika membuat Haruko cemberut dan menyidekapkan tangan di depan dadanya. Dia tidak tahu alasan apa yang bisa diajukannya untuk mendapat jawaban dari kakeknya ini. Tapi kemudian senyum kecil terbentuk di bibir Haruko yang semula cemberut.

"Kerana aku adalah cucumu kan! Kakek Hiashi-sama!" Haruko berkata sambil tersenyum.

"Wajar saja kan jika seorang cucu ingin tahu kenapa kakeknya yang seharusnya berada di puncak tertinggi di clan ini bisa berada di tempat seperti ini!" Haruko berkata hati-hari pada sosok Hiashi di depannya.

"Aku hanya ingin tahu kenapa ibu memenjara ayanya sendiri seperti ini!" Haruko bicara dengan nada kecewa dan sedih. Hiashi tersenyum kemudian membuka mulutnya untuk bicara.

"Dia melakukan ini agar aku tidak kehilangan kepala Haruko!" Hiashi menjelaskan, dia tidak ingin Haruko berburuk sangka pada ibunya sendiri.

"Kenapa?... astaga…!" Haruko menggeram pelan pada dirinya sendiri, berapa banyak sebenarnya rahasia yang ada di hidupnya ini? Hiashi kembali tersenyum kecil ketika mendengar Haruko mengerang dan menggeram gemas.

"Bagaimana kabar sepupumu Haruko?" Haruko yang tengah mondar-mandir gerah dengan kata 'rahasia' tiba-tiba terdiam dan memandang Hiashi. Gadis itu menepuk kepalanya sendiri, kenapa dia lupa akan pertanyaan penting yang ingin dia tanyakan pada Hiashi, pertanyaan tentang Hinata dan Itachi, apa kakeknya mengetahui ini? dan sepertinya kakeknya baru saja menanyakan tentang Itachi, jadi kesimpulannya adalah kakeknya tahu!

"Maksud kakek, Itachi?" Haruko beringsut duduk di depan Hiashi di balik jeruji besi.

"Jadi namanya Itachi!?" Hiashi mengangguk-angguk, Hanabi tidak pernah memanggil nama putra Hinata di depannya. Dia lebih sering menyebutnya 'anak itu'.

"Dia baik-baik saja!" ,'Sepertinya!' Haruko ragu, setelah apa yang di katakan ibunya pada Itachi, Haruko tidak bisa menebak akan seperti apa keadaan sepupunya itu.

"Jadi kakek tahu tentang semua itu? Apa yang terjadi sebenarnya pada bibi Hinata, Uchiha-san dan Itachi?" Haruko bertanya tidak sabaran.

'Tentu saja bodoh!, dia itu mantan pemimpin clan Hyuuga!' Kemudian benak Haruko menjawab pertanyaannya sendiri.

"Tolong ceritakan pada ku kek!" Belum sempat Hiashi membuka mulut untuk menjawab pertanyaan pertamanya, Haruko kembali berseru menyuarakan permintaannya. Sikap tidak sabaran Haruko sangat mirip dengan Hanabi, membuat si kakek dingin sedikit terkekeh. Lambat-lambat di renungkannya oleh Hiashi, bolehkah ia bercerita pada Haruko?

Mendapati kakeknya terkesan ragu, kepala Haruko jadi tertunduk lemas, ingin rasanya dia berteriak 'Cukup sudah rahasia-rahasia kalian! Aku muak!' namun itu tentu akan menimbulkan keributan dan berakhir membangunkan ibunya. Haruko bersungut-sungut marah bergumam dengan nada rendah, membuat kening Hiashi mengernyit lucu, setelah beberapa saat akhirnya dia memutuskan.

"Aku akan bercerita kalau kau mau berjanji untuk menuruti permintaanku!" Hiashi berkata memberikan syarat. Haruko segera mengangguk cepat, mengiyakan, lupa kalau kakeknya itu tidak bisa melihat gerakan kepalanya.

"Aku berjanji kek! Tidak usah khawatir aku akan menuruti permintaanmu!" Haruko berucap bersemangat.

"Baiklah kalau begitu..." Hiashi menghembuskan napas panjang.

"Hyuuga Haruko… aku akan menceritakan padamu… duduklah dengan nyaman karena mungkin ini aka menjadi cerita yang panjang!"


Pagi yang cerah di Konoha, hiruk-pikuk kegiatan mulai menggeliat terbangun, riang tawa dan sapaan ramah mengisi setiap sudut kehangatan kota yang hidup dalam kedamaian. Namun duka justru sedang merundung ruangan Hokage mereka.

"Jadi… mereka sudah ditemukan?" Naruto berkata pelan dari balik meja kebesaran Hokage kepada penasehat berwajah malasnya.

"Hmm!" Shikamaru menjawab dengan anggukan lemah, dia berharap ini semua hanyalah sebuah kekeliruan.

"Apa kau yakin itu mereka?" Naruto kembali ingin memastikan.

"Positif!" Shikamaru mendekat dan meletakkan kertas pesan yang diterimanya dari pasukan ANBU pencari jejak kemarin sore di atas meja Naruto.

"Begitu!" Naruto menghela napas berat, kehilangan Shinobi selalu terasa sama menyakitkan entah seberapa seringpun dia mengalaminya. Itu selalu membuat Naruto merasa tidak becus dan tidak bisa melindungi Shinobinya sendiri. Meskipun tingkat kematian Shinobi ketika bertugas dimasa kepemimpinannya ini jauh berada di bawah hokage-hokage terdahulu, Naruto tetap saja merasa gagal setiap kali hal ini terjadi.

"Mereka ditemukan di pinggiran desa terpencil di barat daya Kumogakure!" Shikamaru menjelaskan apa yang tertulis di dalam pesan itu secara langsung pada Naruto. Alih-alih membaca kertas di depannya Naruto justru memandang lekat Shikamaru untuk menjelaskan lebih lanjut padanya.

"Yang mengganggu pikiranku adalah… hutan di mana mereka ditemukan sudah disisir berulang-ulang oleh tim pencari jejak, hutan itu bahkan menjadi jalan lintas mereka pulang pergi selama 3 minggu perburuan jejak ini!" Shikamaru berkata heran memandang Naruto, mengernyit karena benar-benar tidak bisa mengerti akan hal ini.

"Menurutmu apa yang terjadi pada mereka?" Naruto bertanya penasaran.

"Entahlah, selama tiga minggu ini tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar desa itu. Mereka hidup damai dan tenang. Menurutku Shinobi dan pertempuran pun adalah kata yang jarang mereka dengar di sana!" Shikamaru mendengus kebingungan, masih ada satu hal yang mengganggu pikirannya.

"Apa itu Shikamaru?" Naruto berkata seolah bisa membaca pikiran Shikamaru, dia tahu ekspresi wajah yang ditunjukkan Shikamaru saat ini hanya bisa berarti satu hal, Shikamaru punya teka-teki yang masih belum terpecahkan di kepalanya.

"Jasad Souko dan Oda di temukan kering kerontang mengeras seperti mumi, seolah kehidupan mereka terserap habis oleh sesuatu, penduduk desa yang dimintai keterangan lari tunggang-langgang tidak ingin mengatakan sepatah katapun pada ANBU kita!" Kening Shikamaru mengerut ketika memikirkan satu-satunya informasi yang bisa di dapatnya dari mereka, tidak masuk akal, itulah kata yang ada dibenaknya.

"Mereka hanya berkata itu perbuatan siluman!" Shikamaru berkata pelan setengah tidak percaya, meskipun hal itu sebenarnya tidak mustahil. Mengingat mereka punya para monster berekor yang tersebar di penjuru dunia ninja, dan bahkan dia tengah menatap salah satunya saat ini. Legenda-legenda macam itu memang sering didengarnya beredar dimasyarakat awam di berbagai daerah, mereka masing-masing memiliki cerita-cerita setipe namun berbeda di setiap tempatnya. Selain Bijuu mahkluk mitologi seperti siluman dan hantu tidak bisa dipisahkan dari masyarakat mereka, hal itu memang sudah ada sejak jaman dulu kala. Hanya saja, hanya bijuu lah yang selama ini bisa dilihatnya secara langsung sedangkan siluman dan apapun itu mereka memanggilnya Shikamaru tidak pernah melihat bukti kongkrit tentang keberadaan mereka.

"Hokage… ijinkan aku sendiri juga ikut pergi untuk menjemput jasad mereka ke sana!" Shikamaru menatap Naruto tegas, berharap diijinkan. Dia ingin memastikan sendiri kondisi segala sesuatunya.

"Baiklah, Shikamaru tentu saja kau boleh pergi…!" Naruto mengangguk yakin. Kemudian dia teringat sesuatu yang menimbulkan rasa perih di hati kecilnya.

"Apa Eri sudah tahu tentang ini?" Naruto berkata pelan, seolah lebih nyaring sedikit saja sang anak bisa mendengar perkataannya.

"Kami belum memberi tahunya!" Shikamaru memijat kepalanya yang mendadak terasa sakit.

"Rencananya setelah semuaya dipastikan baru kami akan pelan-pelan memberitahu Eri!" Shikamaru menjelaskan. Gadis kecil malang itulah yang justru terkesan menguatkan mereka dengan tingkah tenang dan bersemangatnya, namun meskipun begitu Shikamaru tahu gadis itu sesungguhnya menderita di dalam hatinya.

"Tapi… entah mengapa, ku pikir dia sudah bisa merasakan semua ini!" Shikamaru mendengus lemah.


Eri bisa merasakannya, dia bisa merasakan sesuatu yang tidak benar sedang terjadi kepada orang tuanya. Semua orang di rumah, bibinya, pamannya dan juga Shikaku bertingkah aneh pagi ini. Meski Eri berpura-pura tidak tahu dan membuang jauh-jauh prasangka buruk dari kepalanya tapi tetap saja rasa sedih dan takut itu masih mengganggunya. Sesuatu sudah terjadi, dan saat ini Eri tidak ingin mengetahuinya, dia tidak mau tahu apapun itu. Orang tuanya pasti pulang, karena begitulah janji mereka padanya.

'Kring…' lonceng toko bunga Yamanaka berdenting pertanda ada seorang pelanggan yang baru saja masuk. Eri dan Shikamaru sedang membantu menjaga toko bunga Yamanaka seperti biasanya. Jika sensei mereka sedang menjalankan misi mereka berdua akan selalu membantu Ino untuk menjaga toko bunga, dan setelah Ino selesai membantu di rumah sakit baru lah mereka pergi untuk berlatih sendiri tanpa sensei mereka.

"Selamat datang!" Eri berseru riang, memaksakan dirinya seperti biasanya. Ia bergegas berdiri dari tempat duduknya di balik meja kasir untuk menyuguhkan senyum pada pelanggan yang sedang berdiri di depan pintu toko. Kemudain mata Eri membuka lebar ketika melihat siapa yang tengah berdiri canggung di depan pintu.

"Itachi-kun?" Eri memanggil ragu, benaknya bernapas lega dan bersyukur saat melihat Itachi baik-baik saja di depannya saat ini setelah apa yang terjadi kemarin.

Itachi diam berdiri canggung di depan pintu sambil memandangi Eri, ingin dia mengucapkan maaf nyaring-nyaring ke arah gadis itu. Tapi Itachi masih terpaku diam berusaha menyusun kata-kata permintaan maaf yang paling tepat untuk di ucapkan. Dia kemarin telah bersikap tidak adil pada Eri, berteriak dan membentak, sungguh itu perbuatan yang memalukan untuk dilakukan oleh seorang pemuda pada seorang gadis yang juga lebih muda darinya. Terlebih lagi apa yang diketahuinya tentang orang tua Eri membuat Itachi semakin dicekik rasa bersalah kepada gadis pirang itu.

"Itachi..!? Sedang apa kau di sini?" Shikaku menyembulkan kepalanya dari balik rimbunan bunga yang berusaha ia susun di dalam pas display di etalase toko.

"Selamat Pagi…!" Itachi menyapa dengan senyum kecil ke arah Shikaku, kemudian bergerak mendekat pada temannya itu. Dia belum bisa mengungkapkan maaf pada Eri, tidak bisa sekarang…, dia tidak bisa melakukannya di depan Shikaku. Bisa-bisa Shikaku akan memberondongnya dengan pertanyaan kenapa dia meminta maaf pada sepupu kesayangannya, dan tentunya pertanyaan satu akan diikuti pertanyaan lainnya hingga pada akhirnya semuanya akan terbongkar. Sedangkan Itachi sudah berjanji pada Naruto untuk tidak mengatakannya pada siapapun, bukan kerana dia takut pada Hanabi, atau takut mati, tapi adalah karena dia masih ingin mencari informasi tentang ibu kandungnya tanpa halangan.

"Aku kemari untuk menyampaikan pesan dari paman Hokage!" Itachi mengatakan maksudnya pada Shikaku sambil melirik Eri di ujung matanya, gadis itu kembali duduk dan menundukkan wajahnya di meja kasir.

"Apa…?" Shikaku bertanya, kemudian menepuk dahinya sendiri saat dia mengingat sesuatu.

"Astaga hampir saja lupa!, Hari ini kan adalah jadwal pengiriman bunga dari Naruto-sama kepada Tsunade-sama!" Shikaku langsung meracau dan sibuk sendiri mempersiapkan karangan bunga yang hampir saja di lupakannya.

"Itachi untung saja kau datang, kalau tidak aku pasti akan benar-benar lupa!" Di sela-sela kegiatannya merangkai bunga, Shikaku berkata cepat pada Itachi. Sedangkan Itachi yang di ajak bicara justru terlihat tengah menatap sedih kepada Haruko yang menelungkupkan wajah di lipatan pergelangan tangannya di atas meja. Mengikuti arah pandang Itachi, Shikaku juga ikut menatap sedih sepupunya itu.

"Eri…!" Seru Shikaku nyaring.

"Eh…? Apa?" Eri seketika mengangkat wajah, kaget karena panggilan Shikaku.

"Bantu aku!" Shikaku sebetulnya tidak perlu bantuan, dia hanya ingin menyibukkan sepupunya itu saja.

"Kau tidak perlu teriak-teriakkan Shikaku!" Eri memutar bola matanya pada Shikaku, sambil beranjak mendekat dari tempat duduknya.

Eri tersenyum kecil ketika matanya bertemu tatap dengan Itachi, dan Itachi pun membalas senyum Eri padanya. Eri bernapas lega ketika melihat senyum Itachi, dia tadi sempat mengira kalau pemuda itu masih marah padanya. Senyum Itachi semakin lebar ketika melihat Eri berpura-pura akan memuluk kepala Shikaku dari balik punggung sepupunya itu, seakan menunjukkan kekesalannya pada Shikaku karena diteriak-teriaki.

"Masa begini saja kau tidak bisa sih Shikaku?" Eri mengernyit, lalu menggeleng sambil mengusir Shikaku dari meja penataan, mengambil alih tugas merangkai bunga dari Shikaku.

"Apa kau membawa pesannya Itachi?" Shikaku mengabaikan Eri, kemudian berbalik dan bertanya pada Itachi. Biasanya Naruto akan menuliskan sebuah pesan yang akan disertakan bersama bunga untuk dikirim pada Tsunade. Biasanya berisi pesan-pesan lucu dan ucapan semoga panjang umur dari Hokage berambut kuning itu untuk nenek kesayangannya.

"Iya…!" Itachi menjawab cepat sambil memperlihatkan sebuah kartu ucapan di tangannya. Sebuah kartu yang berisi tulisan tangan Naruto, kartu yang ditemukannya tadi pagi di atas meja di dalam kamarnya.

Untuk Itachi,

Bawa kartu ini ke Toko Bunga Yamanaka, kemudian ikutilah bunganya menuju kebenaran kisah ibumu Itachi.

Hadiah kecil dariku yang menyayangimu.

Pamanmu, Naruto.

Begitulah bunyi pesan di secarik kertas yang tergeletak bersama kartu ucapan untuk Tsunade ini.

"Sudah selesai!" Eri berkata pelan sambil memutar-mutar karangan bunga yang baru saja diselesaikannya di depan wajah Shikaku.

"Baiklah, sekarang tinggal menambahkan ini!" Shikaku merebut kartu ucapan yang berada di tangan Itachi, kemudian menyelipkannya disalah satu sisi bunga yang telah terangkai.

"Jaa… tinggal mengantarnya ke kediaman Tsunade-sama lalu selesailah sudah!" Shikaku berkata pada dirinya sendiri.

"Aku ikut mengantarnya Shikaku!" Itachi berseru nyaring membuat Shikaku kaget. Tapi kemudian dia hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

"Baiklah! Ayo! Eri jaga toko ya, aku ingin mengantar bunga ini dulu!" Shikaku berkata pada Eri.

"Apa Eri-chan tahu dimana tempatnya?" Itachi bertanya pada Shikaku, dia ingin diberi waktu berdua saja dengan Eri, dan juga akan lebih leluasa bertanya nanti jika yang menemaninya adalah orang yang sudah mengetahui tentang apa yang terjadi.

"Tahu." Shikaku mengangguk dan menjawab ragu, sedikit bingung dengan tingkah Itachi.

"Bagaimana kalau aku dan Eri-chan saja yang mengantarnya!?" Eri terkejut mendengar permintaan Itachi, Shikaku memicingkan mata curiga menatap si Uchiha muda, dia mencium sesuatu yang mencurigakan di sini.

"Boleh saja!" Meski begitu dia mengiyakan juga, lagi pula dia memang tidak ingin meninggalkan Eri sendirian menjaga toko di saat-saat seperti ini, mungkin saja bersama dengan Itachi bisa membuat Eri sedikit lebih senang.

"Eri… kau dengar kan?" Shikaku bertanya pada sepupunya yang masih diam membatu menatap Itachi.

"I..iya…!" Eri menjawab terbata. Shikaku menyerahkan karangan bunga itu pada Eri, tapi belum sempat Eri menerimanya tangan Itachi yang panjang sudah terlebih dahulu meraihnya.

"Biar aku saja yang membawanya Shikaku!" Itachi tersenyum pada Eri dan Shikaku.

Dengan itu Eri segera berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu bagi Itachi lewat, mereka berjalan bersisian meninggalkan toko bunga Yamanaka menuju kediaman Tsunade. Setelah menyerahkan tahta kepemimpinannya pada Naruto, Tsunade lebih banyak menghabisakan waktu untuk bepergian dan berkelana menjelajahi dunia ninja, baru beberapa tahun terakhirlah sang mantan Hokage itu kembali dan menetap di Konoha. Dia menulis beberapa buku tentang ilmu ninja di dunia kesehatan, serta kadang-kadang ikut membantu di rumah sakit Konoha untuk mengisi waktunya. Berjalan menyusuri jalan Konoha, Itachi sesekali melirik Eri yang berjalan dalam diam di sampingnya.

"Eri-chan!" Itachi memanggil lembut, Eri seketika menoleh memandang sang Uchiha.

"Aku minta maaf atas perlakuanku kemarin! Aku…" Itachi berujar dengan wajahnya yang menyesal.

"Tidak apa-apa Itachi-kun! Aku mengerti!" Eri memotong kalimat Itachi, Eri tidak ingin membuat Itachi merasa harus menjelaskan apapun padanya, karena memang tidak perlu, bukan haknya untuk mendengar penjelasan apapun juga dari Itachi. Karena sebenarnya dia lah yang dengan tidak sopan mengintip dan mendengarkan lalu seenaknya mengusik saat-saat pribadi Itachi.

"Seharusnya aku lah yang harus meminta maaf padamu karena telah menguping!" Eri menatap Itachi sambil tersenyum tidak enak. Itachi tersenyum lega memandang Eri, lega rasanya tahu kalau Eri tidak marah padanya setelah apa yang dilakukannya pada gadis itu.

"Apa kau baik-baik saja Itachi-kun?" Merasa khawatir pada kondisi Itachi setelah hal buruk yang di dengarnya kemarin, membuat Eri memberanikan diri menanyakan keadaan pujaan hatinya itu.

"Aku baik-baik saja Eri….! Sangat baik! Bahkan aku tidak pernah merasa lebih baik dari sekarang ini!" Sambil terus melangkah ke depan Itachi menatap langit kemudian menghirup napas dalam-dalam, perasaan bahagianya sekarang ini berasal dari bayangan senyum sosok ibu yang sekarang selalu mengiringi langkahnya.

"Terimakasih karena mengkhawatirkanku!" Itachi menunduk dan menatap mata Eri yang hijau kebiruan. Senyum dibibir Itachi pelan-pelan pudar ketika mendapati mata yang bisanya berkelip-kelip dengan semangat itu terlihat hampa dan kosong, senyum Eri yang biasanya selebar cengiran Naruto sekarang hanya berupa senyum kecil di bibir mungil. Seketika kata 'tubuh' yang didengarnya diucapkan Shikamaru kemarin menimbulkan perasaaan tidak nyaman di dalam perut Itachi.

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja!" Eri mengangguk-angguk memalingkan wajahnya dari tatapan Itachi, dia tidak ingin Itachi mengetahui ketakutan yang menjajah hatinya saat ini.

Melihat Eri memalingkan wajahnya, Itachi juga ikut menatap jauh ke depan, keningnya berkerut karena perasaan sedih, Eri telah kehilangan kedua orang tuanya, dan sepertinya mereka masih belum memberi tahu gadis ini kebenarannya. Itachi tahu dengan jelas seperti apa rasanya dibohongi dan dijauhkan dari kebenaran yang sangat ingin diketahuinya, sehingga sekarang ini terasa begitu berat memendam informasi yang begitu penting ini dari Eri. Namun kemudian dia tidak siap untuk mengatakannya langsung, takut akan reaksi Eri jika tiba-tiba saja dia mengatakan kenyataan menyedihkan itu pada gadis ini. Akan seperti apa reaksi Eri nanti, Itachi tidak berani membayangkannya.

"Disana!" Eri berhenti melangkah sambil menunjuk sebuah rumah yang berada di atas bukit kecil, bergaya jepang kuno dan dihiasi oleh pepohonan yang rindang. Dari kejauhan rumah itu nampak lengang dan sunyi.

"Disanalah kediaman Tsunade-sama Itachi-kun!" Eri berucap pelan pada Itachi, ingin menghilangkan kesunyian yang tidak nyaman diantara mereka.

Itachi menatap lekat tempat yang mungkin akan bisa memberikan cahaya terang untuk masa lalu ibunya, masa lalunya. Apapun yang ada di depannya kini Itachi sudah siap untuk mengetahui, pahitkah itu, sedihkah itu, getirkah itu, dia siap mendengar semuanya. Perihal kematian ibunya dan kelahirannya, Itachi sudah siap untuk mengetahuinya.

"Ayo.. Eri-chan!" Itachi melangkah mendekat pada gerbang masa lalunya, melangkah pelan dengan debaran jantung menegas dan perut yang terbelit erat.

'Kebenaran… tolong ceritakanlah padaku kebenaran…!'


Chapter 12…..

Ehmmm… (ga tau mau ngomong apa!)

Buat reader yang masih setia nungguin 'Fic' ini Hyuri berterimakasih banget...! #Hyurigigittisuenangisterharu….

Hyuri juga mohon maaf banget kalo lama baru updatenya, kerjaan Hyuri membunuh sekali belakangan ini. . . .

Kalo udah ada waktu bawaannya pengen guling-guling di kasur aja… males gerak… Hehe…#Authorpemalas…

Jika berkenan silahkan di review…..

See yaa… di next chapter…