Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback
Chapter 13
Mengungkap Kebenaran Part 2
'Saatnya Mengungkap Kebenaran Baa-chan!'
Tsunade memicingkan mata melirik ke balik kartu ucapan yang dia pampangkan di depan wajahnya. 'Bocah Sialan!' benaknya memaki Naruto sang pahlawan Konoha karena kebodohannya. Hanya dengan satu kalimat itu, memangnya bocah itu kira dia bisa membaca pikiran atau bertelepati? Kebenaran yang mana? Mungkin untuk pertanyaan yang ini dia bisa menebak dengan jitu, mengingat keberadaan seorang bocah Uchiha setengah Hyuuga di depannya sekarang. Tapi bagaimana kondisinya? Situasinya? Sampai sejauh mana? Dasar Bocah bodoh! Tsunade tidak habis pikir, apa Naruto benar-benar sama sekali tidak mempertimbangkan akan seperti apa kebingungan yang dialaminya saat ini? Ketika kini dia kembali dipaksa untuk menghadapi kebenaran yang seharusnya telah ia limpahkan kepada Naruto sepenuhnya, sekarang justru kembali dilempar ke depan wajahnya tanpa dia tahu situasi dan kondisi yang mungkin dia hadapi jika ia mungkin melanggar batas tertentu.
'Oh… berhentilah berpikir seperti seorang Hokage, Tsunade!' Tsunade menggeram pada dirinya sendiri memotong pikirannya yang berlari cepat mencoba menarik kesimpulan dan memperhitungkan akibat dan konsekuensi akan tindakannya. Kebisaan buruknya atau mungkin justru sebenarnya adalah kebiasaan baiknya? Yang di kebanyakan kesempatan malah berakhir membuatnya mengalami sakit kepala berat. Sehingga karna itulah lebih seringnya lagi dibanding mengikutinya dia lebih memilih untuk mengabaikannya, dan hasilnya… tentu saja… berjudi sampai bangkrut.
Menghela napas panjang, Itachi sudah melakukannya tiga kali dalam 3 menit berdiri di depan seorang mantan Hokage yang terlihat kesal ini . Eri menatapnya dengan senyum yang sangat kecil terbentuk di ujung bibirnya, Eri mungkin sudah sangat akrab dengan sosok nenek ini, atau mungkin bibi? Itachi tidak tahu, dia bingung, sosok di depannya kini terlihat masih sangat muda dan cantik, kenapa paman Naruto memanggilnya nenek? Dia lebih cocok di panggil 'Bibi' dari pada 'Nenek'. Wajah di depannya ini masih sama dengan pahatan wajah di gunung monumen Hokage, tidak terlihat bertambah tua atapun bertambah apapun juga, masih sama persis. Bukankah sekarang beliau seharusnya bertambah tua? Itachi memang tidak pernah bertatap muka langsung dengan sang mantan Hokage ini sebelumnya.
Eri melirik Tsunade dan Itachi bergantian, dia tahu ada yang sedang terjadi di antara mereka. Kedua manusia berbeda usia ini tengah memandang dalam satu sama lain. Eri menduga ini ada kaitannya dengan kartu ucapan dari Naruto yang masih senantiasa di pegang Tsunade di depan wajahnya meskipun dia jelas sudah tidak membacanya lagi. Tidak ingin menyela dan mengganggu mereka, akhirnya Eri hanya diam berdiri menunggu kemana arah selanjutnya kontes saling tatap ini.
"Jadi…?" Tsunade buka suara sambil menautkan jemarinya usai meletakkan kartu ucapan tidak jelas dari Naruto. Sok efisien kata yang berakhir membingungkan orang lain, Naruto memang sebaiknya banyak bicara karena begitulah seharusnya.
"Apa yang bisa kubantu Uchiha muda?" Tsunade berkata setengah menebak, pandangannya tidak pernah lepas dari Itachi yang berdiri diam menatapnya lekat. Itachi meneguk liur, bersiap, ia menoleh pada Eri, senyum kecil dan anggukan ringan dari gadis di sampingnya membuat Itachi menyatukan tekadnya.
"Tsunade-sama… saya ingin memohon pada anda agar anda bisa menceritakan kisah sebenarnya tentang kelahiran saya!" Tsunade menyunggingkan senyum miring. Kelugasan dan ketidak inginan membuang waktu bocah ini persis seperti tingkah Sasuke dan kesopanan yang mengiringi kelugasannya itu sangat seperti Hinata. Yah… dia tidak bisa menyangkal, kolaborasi yang lumayan bagus.
"Katakan sebanyak apa yang sudah kau ketahui!" Tsunade mengisyaratkan Itachi dan Eri agar duduk mendekat padanya yang tengah duduk santai di atas tatami sambil bertopang siku di atas meja kayu di hadapannya. Kalau Naruto sudah memberi lampu Hijau maka Tsunade tidak merasa perlu lagi untuk ragu bercerita, jika ada resiko yang mengiringi biar bocah Jyunchuriki itu yang menangungnya.
"Juga dari mana kau mengetahuinya!" Seingatnya telah disepakati oleh Naruto, Sasuke dan Hanabi kalau segala sesuatunya akan mereka rahasiakan dari anak ini. Itachi dan Eri kini telah duduk rapi dan sopan di seberang meja.
"Saya sudah tahu kalau Hinata Hyuga adalah ibu saya! Dan… saya mengetahuinya dari Hanabi-sama!" Itachi bertutur pelan, membiarkan kata-katanya masuk sedikit demi sedikit ke kepala Tsunade. Tsunade mengernyit kaget, bukankah Hanabi yang menginginkan semua ini di rahasiakan? Kenapa justru anak itu yang membeberkannya?
"Itu mungkin diluar keinginan Hanabi-sama! Dia mengatakannya begitu saja!" Arah pandang Itachi sedikit menunduk. Setidaknya begitulah menurutnya, secara tidak langsung Hanabi memang mengatakannya, meskipun dengan cara yang cukup menyakitkan untuk didengar dan diingat.
"Begitu?" Tsunade mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti. Jika Itachi sudah tahu siapa ibunya, apa lagi yang ingin diketahui oleh anak ini?
"Apa yang ingin kau ketahui dariku?" Tsunade bertanya lantang, ingin berusaha mengerti apa keinginan bocah dihadapannya ini.
"Semuanya!" Itachi berucap tegas, dia ingin tahu semuanya. Eri menggigit bibirnya, apa dia boleh mendengarnya? Masa lalu Itachi…. apa dia boleh mendengarnya juga?
"Semuanya ya?" Wajah Tsunade berubah serius, apa anak ini mengerti apa yang dimaksudnya dengan 'semuanya' ini.
"Apa kau yakin? Semuanya?" Itachi menegang, tekadnya tengah maju mundur di dalam hatinya.
"Kebenaran yang kau maksud ini..tidak 'semuanya' indah bocah! Sebagian besar akan terasa pahit, bahkan mungkin sangat pahit…." Tsunade mengamati bagaimana garis rahang Itachi mengerat ketika dia menyelesaikan kalimatnya. Jika anak ini menginginkan 'semuanya' maka dia akan menceritakan semua yang dia ketahui tanpa pandang bulu, pahit pun, kejam pun, sedih pun akan dia ungkap semua. Sekarang yang dia lakukan adalah memastikan anak di depannya ini benar-benar bisa menghadapinya.
"Apa kau yakin ingin mengetahui 'semuanya', Itachi…?" Keringat dingin mengucur dari pelipis Itachi ketika mendengarnya, apakah seburuk itu? mau tidak mau Itachi jadi sedikit takut. Di sisi lain Eri merasa semakin tidak nyaman dan salah tempat, dia merasa tidak berhak untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Tsunade. Eri sudah merasa terlalu banyak tahu dan sebenarnya ia bukan lah tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain jika dia memang tidak diperlukan.
"Itachi-kun… sebaiknya aku menunggu di luar saja!" Eri berbisik pelan pada Itachi, namun bukan jawaban yang dia dengar tapi justru rengkuhan tangan dingin dan berkeringat Itachi lah yang didapatkannya. Tangan Itachi yang biasanya hangat sekarang mendingin menggenggam tangannya erat. Eri yang terkejut mengangkat wajah untuk menatap Itachi. Sorot mata Itachi menatap lurus ke depan memandang Tsunade, perlahan tapi pasti di balik meja genggaman tangannya pada tangan Eri dia angkat dan letakkan di atas lututnya yang sedang duduk rapi, seolah ingin berkata…
'Tetaplah tinggal, temani aku Eri…!'
Meski Itachi duduk tegak, kini Eri bisa melihat dia tengah gemetaran di dalam dirinya. Meski wajahnya tenang, kini Eri bisa merasakan kalau Itachi sedang menahan tangis di dalam hatinya. Meski terlihat begitu tegar dan yakin, saat ini Eri tahu kalau sebenarnya Itachi sangat ragu dan takut, dia perlu penopang dan pegangan, penyemangat dan penenang. Seorang teman, Itachi saat ini sangat membutuhkan seorang teman di sisinya. Dan tentu saja, dengan senang hati Eri akan selalu setia menemaninya. Eri meremas ringan jemari Itachi, ingin berkata 'Tenang saja aku ada di sini, tidak akan pergi kemanapun'.
"Saya yakin.. Tsunade-sama!" Itachi menjawab yakin. Untuk beberapa detik Tsunade berdiam diri, menyelidik memandang Itachi tanpa bersuara.
"Baiklah kalau itu maumu!" Tsunade tahu tekat anak ini sudah bulat, kilatan keyakinan itu dulu juga pernah dilihatnya di mata seorang Uchiha yang lain. Di mata seorang Uchiha Sasuke.
"Jangan menyela dan dengarkanlah baik-baik!" Tapi kegugupan dan ketakutan Itachi masih bisa dia lihat dengan mata tuanya. Terlihat lebih seperti manusia dibandingkan batu ataupun sebongkah es. Berbeda dengan si manusia dingin Sasuke, anak ini memang benar-benar putra Hinata, Hyuuga yang gampang di terka.
"Karena aku tidak akan mengulangnya untuk yang kedua kali…." Mata Itachi memandang penuh penantian, berharap bisa segera mendengar kisah ibunya.
"Cerita dariku ini… dengarkanlah baik-baik..!"
'Aku akan menceritakan semua yang kutahu padamu, Uchiha Itachi!'
'Dengarkan cerita dari sudut pandangku!'
"Hiashi apa yang bisa ku bantu?" Tsunade bergerak tergesa melewati daun pintu mendekat pada seorang Hyuuga yang tengah duduk tenang menunggunya di ruang pertemuan besar di gedung Hokage. Waktu sudah berlalu sekitar 30 menit sejak Shizune mengabarkan kehadiran pemimpin Hyuuga yang sedang menunggu kehadirannya di ruangan ini. Tsunade merasa tidak enak hati karena membuat Hiashi menunggu begitu lama, tapi apa daya tugas masih setia merantai kakinya hingga beberapa detik yang lalu.
"Tsunade-sama!" Hiashi berdiri dari bangkunya untuk menyapa sopan sang Hokage.
"Duduklah Hiashi! Maaf membuatmu lama menunggu!" Tsunade mengisyaratkan Hiashi untuk kembali duduk ketika ia juga mendudukkan dirinya sendiri di ujung meja panjang tempat dia biasanya memimpin pertemuan, Shizune yang sejak tadi mengekornya berdiri di sisi kiri Tsunade.
"Ada apa Hiashi!?" Tsunade berucap tidak sabaran. Terakhir kali Hiashi mengunjunginya, yang di bawa oleh pria paruh baya ini adalah sebuah kabar kekacauan. Tidak bisa di hindari, sang Hokage buru-buru berspekulasi kalau kedatangannya kali ini pun juga berkaitan dengan kabar adanya percobaan pemberontakan di dalam tubuh clan Hyuuga. Beberapa anggota dewan tetua –yang belum diketahui tepatnya siapa ini- dikatakan menghimpun dukungan di kubu bunke untuk berusaha menggulingkan kepemimpinan Hiashi dan menjanjikan kepemimpinan yang demokrasi sebagai iming-iming. Tsunade hanya berharap agar kabar kali ini sedikit lebih baik dari pada yang dia dengar terakhir kali. Hiashi menatap pasti ke arah Tsunade, mata dingin yang dimilikinya terlihat hampa dalam kekalutan yang sekarang sedang di alaminya.
"Saya kemari karena ingin menanyakan perihal rincian misi terakhir yang dijalankan oleh putri saya!" Hiashi terdengar berujar dari sisi kanan meja Tsunade. Banyak hal yang ingin disampaikan oleh Hiashi pada pemimpin Konoha ini, namun apa yang tengah dihadapi oleh putrinya sekarang berada di puncak teratas permasalahannya saat ini.
'Misi terakhir?' Tsunade hampir mengernyit mendengarnya, seingatnya Hiashi bukanlah ayah yang suka mengecek raport keberhasilan misi kedua putrinya. Kenapa tiba-tiba sekarang Hiashi repot-repot dan bahkan menunggu begitu lama hanya untuk menanyakan rincian misi putrinya?
"Hinata atau Hanabi?" Tsunade kembali bertanya untuk memastikan Shinobinya yang mana yang dimaksud oleh Hiashi.
"Putri sulung saya, Hinata!" Sudah hidup cukup lama dan beribu-ribu kali mendengar nada bicara datar Hiashi Hyuuga ketika bebicara, tentu tidak akan sulit bagi seorang Tsunade untuk menyadari sedikit nada sumbang ketika Hiashi mengatakan nama Hinata.
'Apa yang terjadi pada Hinata? Apa gadis itu baik-baik saja?' kecemasan datang tiba-tiba memasuki Tsunade.
"Misi terakhir Hinata adalah misi sederhana mengantar gulungan penting pada Lord Fujin. Tidak ada hambatan yang berarti, hanya faktor cuaca yang menjadi momok utama di misi itu!" Ada yang tidak beres, Tsunade mengetahuinya lewat dengusan halus yang lolos dari hidung sang Hyuuga ketika dia menyelesaikan kalimatnya.
Dengan itu Hiashi tahu berarti putrinya sama sekali tidak menuliskan tentang penyerangan apapun di laporan misinya, yang mana sebenarnya sudah dia duga. Keheningan yang tercipta membuat Shizune merasa tidak nyaman berada di ruangan itu, entah mengapa suasananya terasa menegangkan.
"Hinata sedang mengandung!" Bagai suara kaca yang hancur terbanting dan terinjak Hiashi mengatakannya, tidak sabar ia ingin membagi bebannya pada Tsunade. Sang Hokage ternganga oleh perkataan Hiashi, sebuah nama muncul seketika di benaknya. Shizune terang-terangan tersentak sambil menutup mulutnya.
"Astaga!" wanita berambut coklat itu geli, Ino sebentar lagi akan melahirkan dan sekarang akan ada bayi lagi yang akan menyusul datang. 'Konoha benar-benar diberkati!' Shizune tersenyum kecil, jelas dia belum tahu hal apa yang dibawa oleh bayi kecil yang satu ini.
"Hiashi… sebagai wali Naruto aku mengucapkan permintaan maaf terdalam padamu!" Tsunade membungkukan kepalanya di depan Hiashi. Mengambil alih tanggung jawab untuk memohon maaf atas 'kelalaian' yang dia kira di sebabkan oleh pahlwan favoritnya, Naruto Uzumaki.
'Demi tuhan… Naruto… ini adalah pertama kalinya aku membungkuk pada orang lain selain ayah dan kakekku!' Tsunade menggeram gemas pada bocah kuning kesayangannya itu, tidak pernah terpikirkan oleh Tsunade sebelumnya kalau Naruto dan Hinata akan bertindak 'sejauh' ini.
"Tsunade-sama anda tidak perlu meminta maaf! Tolong angkat kepala anda!" Hiashi merasa tidak nyaman melihat Tsunade membungkukkan kepala rendah ke arahnya. Sama seperti dirinya sendiri, wanita ini tentu juga telah salah menerka.
"Benar… sekarang bukan waktunya untuk meminta maaf!" Tsunade mengangkat kepalanya tiba-tiba. Banyak yang harus dilakukannya saat ini selain membungkukkan kepala.
"Berapa minggu usia kandungan Hinata, Hiashi?" Tsunade bertanya cepat tanpa sempat menarik napasnya terlebih dahulu.
"19 minggu! Tapi Tsunade-sama..." Hiashi mencoba untuk menjelaskan kesalah pahaman Tsunade, namun sang Hokage mengabaikannya.
'Sudah lumayan besar!' Tsunade melakukan perhitungan cepat di kepalanya. Tsunade diam-diam merutuk di antara pikirannya yang menggila sedang menyusun jalan keluar situasi ini, kenapa dia sama sekali tidak bisa menyadari kehamilan Hinata? Gadis ini memang selalu menggunakan jaket kebesarannya itu setiap saat. Tidak heran dua bulan yang lalu Tsunade tidak bisa memperhatikan perubahan fisik Hinata secara detail ketika ia menyampaikan penugasan gadis itu untuk membantu mengurus Panti Asuhan Konoha sebagai misinya selama menunggu kedatangan Naruto.
"Satu minggu lagi Naruto akan kembali dari Suna!" Tsunade kembali berucap memotong apapun yang ingin dilontarkan oleh Hiashi. Minggu depan, sesuai rencana Naruto akan kembali ke Konoha. Tsunade tidak suka kata 'tapi' yang di dengarnya, namun dia mengabaikannya, di benaknya saat ini ia hanya bisa menghitung berapa minggu lagi sampai perut Hinata benar-benar akan membuncit hingga tidak bisa lagi di sembunyikan. Hasil perhitungannya adalah… pernikahan harus benar-benar cepat digelar, untuk menjaga nama baik Hinata dan Naruto juga.
"Tidak… ", 'menunggu satu minggu lagi itu terlalu lama' benak Tsunade berteriak mengingatkan.
"Akan kupastikan, Hiashi… besok kau akan sudah bisa melihat wajah bajingan tengik itu di depanmu!" Tsunade berkata sambil memberi isyarat untuk mendekat pada Shizune yang berdiri siaga di sisinya. Tsunade tidak ingin membuang-buang waktu.
"Shizune segera kirim surat ke Suna! Perintahkan Naruto untuk kembali ke Konoha hari ini juga!" Shizune mengangguk cepat, segera gadis itu beranjak untuk menuntaskan tugasnya.
"Itu tidak perlu Tsunade-sama! Jangan mengganggu Naruto…!" Kata-kata nyaring dari Hiashi menghentikan langkah Shizune, kedua wanita itu menatap bingung ke arah Hiashi yang wajahnya masih terlihat dingin tanpa cacat.
"Apa yang kau katakan Hiashi?" Tsunade merengut tidak suka ketika Hiashi kembali menghela napas panjang di depannya.
"Pernikahan harus segera di gelar! Itu untuk melindungi nama baik putrimu dan juga dirimu sendiri!" Tsunade berkata setengah membentak. Kekhawatiran kecil mengganggu Tsunade, pria di depannya ini memang dikabarkan tidak terlalu menyetujui hubungan Naruto dan Hinata selama ini. Hiashi katanya tidak ingin Hinata menikah dengan orang dari luar clan Hyuuga untuk menjaga kemurnian garis darah juga garis… entahlah apapun itu Tsunade tidak perduli. Kalau sudah begini bagaimana mungkin tidak direstui? Hiashi jangan keras kepala! Tsunade mendecakkan lidah gemas. Kalau sudah begini dia terpaksa harus mengatasinya terlebih dahulu tanpa memberi kesempatan kepada Hiashi untuk bisa membantah…
" Segera setelah Naruto kembali dari Suna, aku akan menyelesaikan segala sesuatunya. Pernikahan dan segala urusannya serahkan padaku, yang perlu kau lakukan hanyalah menjaga agar dewan Hyuuga tidak perlu mengetahui ini semua, setidaknya sampai upacara pernikahan dilangsungkan. Sehingga hal ini tidak perlu mengganggu apapun juga di dalam clanmu yang sedang rapuh ini!" Hiashi benar-benar meringis pelan ketika kalimat terakhir yang diucapkan Tsunade menyinggung hal yang beberapa hari ini memang mengganggu tidurnya.
"Saat ini para pemberontak itu tentu sedang mencari celah-celah kecil seperti ini untuk menggulingkan kepemimpinanmu dan juga penerus-penerusmu!" Tsunade menyadari kehamilan Hinata bisa berdampak besar pada posisinya sebagai penerus clan, terlebih disituasi clan Hyuuga yang tengah digonjang-ganjing adanya isu pemberontakan ini.
Fakta terakhir yang dikatakan Tsunade membuat Hiashi mengernyitkan kening. Setelah penuturan Tsunade yang menggambarkan betapa hanya dengan menyandingkan Naruto dan Hinata di depan pendeta akan bisa menjernihkan situasi ini dengan mudah, Hiashi benar-benar berharap kalau semua itu benar adanya. Mungkin kedengarannya akan lucu, tapi Hiashi menyesal karena sempat tidak merestui Hinata dan Naruto, ia bahkan pernah berencana akan menolak lamaran Naruto kalau bocah itu datang padanya untuk meminta putrinya. Tapi sekarang Hiashi berpikir akan sangat mudah dihadapi jika seandainya Naruto memang adalah ayah dari bayi Hinata. Jika saja Naruto lah calon menantunya.
"Bayi yang dikandung Hinata bukan milik Naruto!" Ingin dia berkata sebaliknya, tapi Hiashi tidak bisa. Itulah kenyataannya, Naruto sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini.
Tsunade menarik mundur kepalanya terkejut, seakan-akan dengan begitu dia bisa melihat dan mendengar Hiashi dengan lebih jelas lagi. Sang Hokage wanita membuka dan menutup mulutnya tidak bersuara, dia kebingungan hingga tidak bisa berkata-kata. Shizune perlahan namun pasti menutup kembali rapat-rapat pintu yang tadi sempat dibukanya, berharap tidak ada telinga tambahan yang sempat mencuri dengar apa yang baru saja dikatakan oleh Hiashi.
"Hinata tidak sedang mengandung bayi Naruto!" Hiashi mendengus lelah setelah mengulang apa yang dikatakannya sesaat tadi, memastikan Tsunade yang terlihat tercenung ini benar-benar mendengar apa yang dikatakannya.
"Apa maksudmu Hiashi?" Tsunade membuka matanya lebar-lebar untuk menatap Hiashi yang sedikit menunduk dan menutup matanya rapat-rapat. Kalau bukan Naruto lalu siapa? Tapi tidak mungkin orang lain! Tsunade kehabisan kemungkinan.
"Di misi terakhirnya! Hinata berkata 'hal itu' terjadi ketika dia menjalankan misi terakhirnya di luar Konoha!" Dengan sebuah helaan napas besar, Hiashi mengangkat kepalanya agar bertemu tatap dengan Tsunade, ingin mengajak sang pemimpin desa untuk berdiskusi tentang hal ini.
"Apa?" Tsunade berteriak tidak percaya. Berharap dia bermimpi, atau paling tidak dia pasti salah dengar.
"Apa Hinata tidak menyebutkan tentang penyerangan di laporan misinya?" Hiashi bertanya tenang, seolah pertanyaan itu tidak mempengaruhinya sama sekali. Tsunade menelaah kembali ingatannya tentang laporan misi Hinata, tapi nihil… tidak ada, Hinata sama sekali tidak menyinggung tentang rintangan apapun di misinya kali ini.
"Tidak ada!" Tsunade mengamati Hiashi, jadi maksud pria ini putrinya mengandung setelah 'sesuatu' yang terjadi ketika gadis itu menjalankan misi yang ditugaskannya itu? Oh.. tuhan… ini bencana... bencana besar.
"Siapa rekan Hinata ketika menjalankan misi ini?" Hiashi kembali bertanya, kemungkinan apapun harus ia pertimbangkan saat ini.
"Tidak ada… Misi ini adalah misi solo!" Tsunade menjawab pelan, segera mengerti kemana arah pembicaraan Hiashi.
"Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan padaku Hiashi? Apa menurutmu Hinata di serang ketika menjalankan misi itu?" Tsunade bertanya memburu sambil memandang Hiashi yang menatapnya tidak bergeming, seorang ayah yang sedang menyorotnya dengan tatapan yang berkata 'Harusnya kau lebih tahu dariku! Kau lah Hokagenya di sini!'.
"Apa maksudmu Hinata telah diperkosa?" mengabaikan kekesalan yang kentara jelas di mata Hiashi, Tsunade kembali bertanya. Pertanyaan Tsunade membuat Shizune menggigit bibir ketakutan, benaknya bertanya-tanya apa yang sebenarnya dialami oleh Hinata.
"Hinata menolak mengatakan itu pemerkosaan!" Kata-kata Hiashi membuat Tsunade dan Shizune mengernyit semakin bingung.
"Seseorang datang padanya dalam keadaan sekarat akibat pengaruh Risin dan perangsang!" Kedua wanita diruangan itu tidak terkejut ketika mendengar penuturan Hiashi, kolaborasi dua hal itu memang umum dipakai diluar sana, meski negara-negara ninja tidak pernah menggunakannya namun sudah menjadi rahasia umum kalau para ninja lepas sering menggunakannya untuk meningkatkan kinerja risin yang tergolong lambat dalam penyebarannya. Yang membuat mereka tersentak adalah fakta yang diakibatkan oleh kedua hal itu terhadap Hinata.
"Siapa 'seseorang' ini Hiashi?" Tsunade benar-benar sudah tidak bisa lagi bersabar.
"Hinata menolak memberi tahuku!" Menemui Hinata setelah berhasil mendinginkan kepala beberapa saat yang lalu masih belum membuahkan hasil untuk Hiashi.
"Sepertinya 'dia' ini adalah orang yang di kenal oleh Hinata!" Tsunade kembali memungsikan otaknya yang sempat membeku sesaat.
Hiashi mengangguk setuju, mereka sepenuhnya menyadari, sebagai seorang kunoichi Hinata lebih dari pada mampu untuk membela dirinya. Terlebih lagi sebagai seorang Hyuuga pertarungan jarak dekat merupakan kelebihan mereka, jika ada yang bermaksud 'menyentuh' Hinata dengan paksa tentunya gadis ini bisa mempertahankan dirinya dengan kokoh, satu jantung bisa dipastikan akan berhenti hanya dengan sebuah pukulan lembut. Pasti orang ini adalah orang yang dikenal oleh Hinata, seseorang yang gadis itu tidak sanggup untuk membiarkannya mati begitu saja di depannya. Dan Hinata terang sedang berusaha menutupi siapa orangnya, masuk akal untuk Hiashi dan Tsunade, orang ini dalam masalah besar jika mereka tahu siapa dia.
Penjara Konoha tengah menunggunya untuk kelalaian yang berakibat merugikan orang lain dan belum lagi hukuman dari clan Hyuuga yang menyakitkan sudah pasti akan di hadapi oleh si ayah jabang bayi. Jika itu Naruto maka mereka bisa menutupinya dengan pernikahan mengingat mereka memang sepasang kekasih. Tapi jika orang lain? Apa yang bisa mereka lakukan untuk mengatasinya? Pernikahan sudah pasti akan menimbulkan kecurigaan, dan belum tentu dewan tetua Hyuuga akan menyetujuinya. Belum lagi situasi ini mungkin akan di manfaatkan oleh para pemberontak untuk semakin mudah melancarkan intrik-intrik licik mereka lainnya, keadaan ini akan mereka jadikan sebagai penyulut api agar berkobar hingga besar itu lah tujuan mereka. Bergelung dalam pikiran mereka masing-masing, Tsunade dan Hiashi diam tidak bersuara. Mereka berdua sibuk memikirkan jalan keluar yang bisa di ambil untuk situasi ini.
"Kita bisa 'membereskan' bayinya!" Merasa jahat memang ketika mengucapkannya, tapi Tsunade sudah tidak punya solusi lain lagi. Hiashi tersenyum miris, dia menggeleng putus asa, ini Hinata yang sedang mereka bicarakan sekarang.
"Hinata tidak akan mau mengugurkan bayinya!" sebagai seorang ayah Hiashi mengenal betul seperti apa sifat anaknya, dia yakin Hinata mungkin akan meminta dibunuh saja dari pada harus menggugurkan bayinya. Bagaimana lembutnya gerakan tangan Hinata ketika mengelus perutnya adalah jawaban tanpa kata untuk Hiashi.
"Apa rencanamu?" Tsunade yang merasa frustasi bertanya ketus pada Hiashi, dia merasa jahat sendiri karena mengajukan saran untuk membereskan bayi Hinata.
Solusi yang paling baik memang adalah menikahkan Hinata, tapi dengan siapa? Naruto? Hiashi tidak ingin menyeret anak itu ke dalam masalah ini, lagi pula itu tindakan tidak terhormat dan memalukan untuk dilakukan. Jadi Hiashi mencoret solusi ini dari kepalanya.
Solusi kedua adalah memaksa Hinata untuk mengatakan siapa ayah dari bayinya, kemudian membuat pria ini bertanggung jawab pada putrinya. Tapi kalau bukan Naruto mungkin Hinata tidak akan mau, lagi pula jalan buntu tentu akan dihadapi dengan dewan tetua Hyuuga, dan belum lagi para pemberontak itu. Solusi ini juga berakhir cacat, bukannya menyesaikan masalah jangan-jangan solusi ini justru akan membuat Hinata tertekan.
Solusi yang mungkin bisa berhasil memang hanya tinggal satu, meski berat memang jalan inilah yang sepertinya harus di ambil Hiashi. Telah mengambil keputusan, Hiashi mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam kantung Yukata yang dikenakannya. Tsunade memperhatikan dengan seksama ketika Hiashi menyodorkan gulungan itu ke arahnya. Penasaran, Tsunade menyambar kemudian membuka gulungan itu dan segera membaca isinya.
"Apa ini?" Tsunade berseru nyaring setelah membaca cepat isi gulungan itu.
"Kau melengserkan Hinata dan memilih Hanabi sebagai penerus clan?" Tsunade menatap Hiashi tidak percaya.
"Itu jalan satu-satunya!" Hiashi mengangguk tenang. Tsunade bersabar menanti penjelasan.
"Hanabi merupakan pilihan utama 'calon penerus' para tetua sejak awal, mereka akan senang dengan hal ini! Gejolak pemberontakan mungkin dapat ditenangkan dengan tindakan ini, tetua yang mendukung Hanabi lebih besar jumlahnya dibanding tetua yang berencana memberontak. Selain itu hal ini akan membuat Hinata terhindar dari perhatian dewan tetua. Dengan begitu sementara waktu Hinata bisa saya sembunyikan sampai dia melahirkan!" Hiashi memandang Tsunade yang terlihat sudah mulai mengerti maksud Hiashi.
"Tentunya hal ini akan memerlukan bantuan anda Tsunade-sama! Misi berbulan-bulan di luar Konoha sepertinya akan anda berikan pada Hinata!" Kalimat terakhir adalah sebuah permintaan, bukan sebuah pernyataan. Dewan tetua tidak akan curiga jika Hinata pergi lama untuk menjalankan misi.
"Lalu setelah Hinata melahirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Hinata dan bayinya?" Tsunade bertanya gencar, ingin tahu keseluruhan rencana Hiashi.
"Hinata bisa kembali ke Konoha setelah itu…, dan bayinya…" Hiashi berpikir sejenak, kemudian kembali berucap.
"Meski kemungkinannya sangat kecil bayi itu mungkin saja tidak mewarisi byakugan!" Jika berayah bukan Hyuuga maka memang mungkin saja bayi itu tidak akan mewarisi byakugan. Hiashi berharap hal ini terjadi, agar putrinya bisa melenggang bebas setelah melahirkan bayi itu. Meski Hinata tidak akan setuju, tapi jika dia tidak tahu pasti akan lain ceritanya. Bayinya kan munkin saja tidak bisa bertahan... mungkin saja kan… bayinya kehilangan nyawa sesaat setelah dilahirkan.
"Hinata harus merelakan anaknya di urus keluarga lain!" Hiashi berencana untuk membiarkan bayi Hinata untuk di adopsi oleh keluarga yang menginginkan bayi di Konoha, agar dia masih bisa terus memantau perkembangan anak itu tanpa mengganggu ketenangan clan Hyuuga dan tanpa sepengetahuan Hinata. Semuanya akan berjalan lancar karena Hinata hanya tahu bayinya tidak bisa bertahan. Rencana sadis yang telah disusunnya sempurna, meski merasa tidak berharkat dengan melakukan itu tapi demi masa depan Hinata apapun bisa dia lakukan.
"Dan jika bayinya mewarisi Byakugan?" Tsunade bertanya mengusut.
"Hinata mungkin tidak akan bisa kembali ke Konoha sebelum pergolakan di dalam clan bisa teratasi! Hanabi saat itu sudah harus berada di posisi tidak tergulingkan dari kursi kepemimpinan!" Hiashi di dalam hatinya tengah diliputi kekecewaan kepada dirinya sendiri.
"Posisi Hanabi haruslah sudah cukup kuat sehingga kehadiaran Hinata dengan membawa bayinya kelak tidak lagi menjadi ancaman bagi posisinya!" Hiashi kecewa karena tidak bisa memenuhi hak Hinata sebagai putri sulung. Tapi saat ini jika bersikeras untuk mempertahankan Hinata sebagai penerus maka dia beresiko akan digulingkan dari tahta kepemimpinan, kondisi Hinata saat ini bisa dimanfaat oleh pemberontak untuk menjatuhkannya. Dan sebagai efek dominonya Hinata dan Hanabi otomatis akan terlempar jauh dari kepemimpinan Hyuuga. Setidaknya dengan menyerahkan posisi penerus clan pada Hanabi dia masih bisa melindungi tradisi leluhur yang telah dijaga selama berabad-abad, yaitu hanya darah souke-lah yang boleh memimpin Hyuuga. Sebagai pemimpin clan, Hiashi bisa saja dengan mudah mengeksekusi para pemberontak itu dengan dingin. Hanya saja itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah, mungkin justru hal itu akan memicu pemberontakan lain yang lebih besar dikemudian hari.
"Begitu…!" Tsunade mengangguk mengerti, dia sendiri tidak bisa memungkiri kalau jalan itu memang yang paling masuk akal untuk di ambil.
"Jika anda setuju Tsunade-sama! Tolong bubuhkan darah dan stempel anda di gulungan itu, untuk mengesahkan Hanabi sebagai calon penerus pemimpin clan yang baru!" Hiashi ingin segera mengumumkan pertukaran posisi ini pada dewan tetua. Segala sesuatunya harus dilaksanakan dengan cepat sebelum ada yang mengetahui kondisi Hinata. Tanpa berlama-lama Tsunade pun melakukan persis seperti permintaan Haishi.
"Tsunade-sama, untuk selanjutnya mari kita rundingkan besok di kediaman saya! Karena setelah ini saya harus segera melaksanakan pertemuan dengan para tetua untuk mengumumkan pertukaran penerus ini!" Hiashi kembali memasukkan gulungan yang sudah tergulung rapi itu ke dalam keamanan kantong Yukatanya.
"Hmm… baiklah!" Tsunade mengiyakan setuju. Mungkin ini sebenarnya adalah urusan dalam clan, tapi jelas sekali Tsunade bisa melihat kalau Hiashi juga meminta pertanggung jawaban darinya karena hal ini adalah akibat dari penugasan darinya juga.
"Bagaimana keadaan Hinata?" Tsunade bertanya lagi saat Hiashi beranjak dari tempat duduknya.
"Dia baik-baik saja! Hanya terlihat sedikit pucat... " Hiashi menjawab ragu, sesungguhnya dia sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan Hinata, hanya saja dia tidak bisa leluasa memeriksaan putrinya yang mengandung itu pada sembarang medic nin mengingat situasinya saat ini. Salah-salah rahasianya bisa terbongkar.
"Besok Shizune akan datang bersamaku untuk memeriksa keadaanya!" Tsunade yang mengerti kondisinya segera memberikan solusi.
"Baik.. Terimakasih atas bantuannya Tsunade-sama! Saya undur diri…" Hiashi berdiri dan segera berlalu pergi menghilang ke balik pintu ruangan pertemuan, meninggalkan Tsunade dan Shizune yang membisu menatap pintu yang berdebam pelan di belakangnya.
"Apa….." Shizune berkata menggantung, kerumitan situasi Hinata membuat kepalanya juga ikut sakit memikirkannya.
"Naruto perlu kita beritahu mengenai hal ini?" Shizune melirik Tsunade di ujung matanya ketika menyelesaikan pertanyaannya. Sebuah palu tidak terlihat seakan memukul keras tepat ke dahi Tsunade ketika dia mendengar pertanyaan itu.
"Aaaarrrrrhhh….. aku tidak tahu…!" Tsunade mengerang nyaring, dia tidak ingin menambah lagi pikirannya yang sedang penuh ini… Tapi wajah Naruto sejak tadi memang membayang di pelupuk matanya. Akan seperti apa tanggapan Naruto tentang ini? Naruto mungkin akan sangat murka kalau Tsunade benar-benar mengatakan Hinata dia tugaskan menjalankan misi ke antah berantah dan tidak akan kembali sampai satu tahun ke depan. Kalau Naruto mengetahui kondisi Hinata yang sebenarnya pun juga akan bagaimana reaksinya? Urat-urat dikepala Tsunade bermunculan, menunjukkan pada dunia kalau kepalanya sedang sangat sakit sekarang ini.
"Shizune… Sake…. Aku perlu SAAKEEEEEE….!" Tsunade berteriak meminta penenangnya pada Shizune.
Hinata menahan napas ketika salah seorang tetua memperhatikannya tajam dari seberang ruangan. Hinata heran kenapa dewan tetua yang satu ini sibuk memperhatikannya sejak tadi padahal semua orang justru sedang hikmad menyaksikan Hanabi yang tengah menerima penganugerahan posisi sebagai calon penerus clan Hyuuga yang baru. Hinata membungkuk dan tersenyum kecil pada sang tetua yang seingatnya benama Ogura Hyuuga itu, berharap pria itu mengerti ketidak nyamanannya. Mendapat perlakuan itu Ogura pun mengalihkan pandangannya dari Hinata, membuat wanita bermata putih itu akhirnya bisa bernapas lega. Hinata sedikit menunduk untuk menatap perutnya saat dibalik kimono yang dikenakannya bayinya terasa menendangnya pelan. Ingin Hinata mengelus perutnya saat itu juga, tapi itu pasti akan menarik perhatian, sehingga sang calon ibu hanya bisa tersenyum kecil sambil memalingkan wajahnya kembali menatap Hanabi di sisi lain ruangan. Benaknya bergumam merayu bayinya untuk bersabar, meyakinkan si kecil kalau tinggal sebentar lagi dia akan terbebas dari ketatnya ikatan obi yang menyesakkannya di dalam sana.
Seruan aba-aba untuk saling membungkuk hormat pertanda berakhirnya upacara menggema dari mulut ayahnya, semua orang membungkuk hormat serentak. Hinata mengangkat kepalanya lebih cepat dari pada siapapun di dalam ruangan itu karena perutnya terasa sangat tidak nyaman ketika ditekuk, beruntung tidak ada yang menyadari ketidak sopanannya ini.
"Apa kau baik-baik saja Hinata?" Shizune yang duduk disamping Hinata berbisik pelan, wajah Hinata terlihat memucat dan napasnya pun tersengal seperti orang yang sesak napas.
"Hai… Shizune-san… Saya baik-baik saja!" Hinata tersenyum kecil, Hiashi sudah memberi tahunya kalau Shizune akan datang hari ini untuk memeriksa keadaannya. Shizune datang bersama Tsunade sebagai tamu kehormatan untuk menghadiri upacara ini, tidak hanya mereka, beberapa petinggi clan lain pun juga ikut datang sebagai bentuk dukungan solidaritas sesama clan Konoha. Para lelaki berwajah serius terlihat sudah berlalu pergi meninggalkan ruangan, meski ada beberapa masih bercengkrama ringan dengan ayahnya, Hanabi dan Tsunade di dekat pintu keluar. Sepertinya mereka terjabak dalam kegiatan basa-basi undur diri yang terlanjur menjadi panjang.
Ruangan yang mendadak lengang membuat Hinata merasa tubuhnya ringan, oh betapa dia merasa tidak nyaman berada di dalam ruangan ini tadi, tegang dan tidak tenang. Mata-mata itu kapan saja bisa menembusnya dan mengetahui rahasianya, kami-sama… Hinata bersorak lega mengetahui seremoni ini sudah berakhir. Dengan bantuan Shizune, Hinata berdiri dari tatami yang membuat kakinya kesemutan dan mati rasa.
"Terimakasih…!" Hinata berkata memerah pias, dia malu, Shizune pasti bisa merasakan tubuhnya yang bertambah berat ini ketika dia membantunya berdiri tadi.
Pipi Hinata memang terlihat semakin gembul, gadis ini terlihat lebih berisi dari pada terakhir kali Shizune melihatnya dua bulan yang lalu. Shizune tertawa pelan sambil menepuk ringan punggung Hinata. Mereka berdua berjalan bersisian menuju pintu, di kejauhan Hiashi dan Tsunade terlihat mengangguk ke arah mereka, memberikan tanda kalau mereka diijikan segera meninggalkan ruangan ini tanpa perlu berbasa-basi lagi. Kesempatan untuk bisa segera lolos dari ikatan obi ketat ini tentu tidak akan disia-siakan oleh Hinata. Tanpa membuang-buang waktu Hinata segera membimbing Shizune untuk segera meninggalkan ruangan bergegas menuju kamarnya. Tapi sebelum meninggalkan ruangan Hinata menyempatkan tersenyum cerah pada Hanabi yang berdiri bosan di antara Tsunade dan Hiashi yang sedang berbincang seru dengan sekelompok pria berwajah serius. Dan sebuah kerlingan nakal Hanabi padanya membuat Hinata terkikik kecil ketika berjalan melewati pintu.
Betapa Hinata merasa bersalah membuat adiknya itu terpaksa mengemban tugas yang seharusnya berada di pundaknya. Sejak dulu Hanabi memang tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi penerus dan didikte oleh 'dewan cerewet' begitu lah cara Hanabi memanggil dewan tetua Hyuuga. Gadis itu dulu sering mencibir kala Hinata main-main menawarinya untuk bertukar posisi sebagai penerus.
'Maaf saja ya… Biar kau sendiri saja yang menderita mati kebosanan mendengar ocehan mereka! Terimakasih Hinata! Aku tidak mau!' Dengan kalimat itu Hanabi melambai-lambaikan tangannya tidak tertarik. Tapi sekarang dia terpaksa mau menerimanya untuk membantu kakaknya yang tengah dalam situasi sulit, Hinata sangat bersyukur memiliki Hanabi dalam hidupnya.
'Terimakasih Hanabi-chan…!' Hinata berucap penuh sayang dalam benaknya. Adik kecilnya yang selalu kuat sekarang berdiri kokoh untuk melindunginya.
"Silahkan.. Shizune-san!" Hinata berkata lembut pada Shizune, sambil membuka pintu kamarnya mempersilahkan Shizune untuk masuk. Setelah Shizune memasuki kamarnya, Hinata segera menyusul dan menutup pintu itu perlahan.
"Mau ku bantu untuk melonggarkan obi mu?" Shizune menawarkan sesaat setelah pintu ditutup, sejak tadi dia perhatikan Hinata sangat tidak nyaman karena kain itu.
"Tentu… terimakasih!" Hinata memutar tubuhnya mengarahkan simpul Obi kimononya pada Shizune.
"Bagaimana…? Lebih baik?" Shizune berkata setelah dia berhasil melonggarkan ikatan obi itu. Obi Hinata memang di ikat terlalu ketat, Shizune menebak itu disengaja untuk menyamarkan perut Hinata yang memang sudah mulai membesar.
"Lebih baik! Jauh lebih baik!" Hinata berpaling menatap Shizune dengan senyum penuh rasa syukur, tangannya mengelus perutnya yang menyembul dengan gerakan lembut. Shizune menatap perut Hinata dengan senyum kecil, benaknya membenarkan perkataan Hiashi kemarin, gadis ini tidak akan mau menggugurkan kandungannya meski seperti apapun situasi yang dihadapinya. Menyadari arah pandang Shijune Hinata berkata pelan,
"Dia terus menendang tidak nyaman sepanjang upacara! Sepertinya merasa sesak!" Hinata ikut menatap perutnya sendiri, sekarang terasa lebih lega, dia bisa merasakan putranya menggeliat nyaman di dalam perutnya.
"Apa kau sudah tahu jenis klaminnya?" Shizune bertanya ramah sambil mendudukkan Hinata di tempat tidur, kemudian segera mengecek denyut nadi si ibu hamil. Shizune yakin ibu Hyuuga ini tentu bisa melihat janinnya di dalam sana.
"Bayinya laki-laki!" pipi Hinata bersemu tipis karena malu dan senang, senyum di bibir Hinata terlihat sangat manis. Kemarin ayahnya datang untuk menghentikan tangisnya, dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Sepenuh hati Hinata mempercayainya, dia yakin semuanya pasti akan baik-baik saja, ayahnya pasti akan memastikan semuanya terkendali.
"Jadi ayah sudah menceritakan semuanya?" Shizune mengangguk menjawab pertanyaan Hinata, Hinata tersenyum lega, setidaknya dia tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman itu lagi.
"Apa kau sering pusing dan hilang keseimbangan ketika berdiri tiba-tiba?" Shizune memperhatikan seksama telapak tangan dan wajah Hinata yang terlihat sedikit pucat. Hinata mengangguk pelan
"Apa kau juga sering merasa berdebar Hinata?" Sang medic nin bertanya untuk membuat diagnosa. Beberapa minggu ini Hinata memang sering merasa berdebar tiba-tiba.
"Iya… Shizune-san! Apa itu berbahaya?" Hinata bertanya sedikit takut, apa hal itu bisa membahayakan bayinya?
"Tidak jika ini ditangani segera! Kau mengalami kurang darah, tapi masih ringan, ini segera bisa diatasi!" Shizune mengelus lembut pergelangan tangan Hinata untuk membuatnya tenang.
"Besok aku akan membawakan obat penambah zat besi untukmu, tidak usah khawatir!" kepercayaan Tsunade itu berkata sambil mengarahkan tangannya keperut Hinata, berniat mengecek keadaan si bayi mungil. Rasa hangat dari cakra di tangan Shizune membuat sang jabang bayi bergerak lincah.
"Dia aktif sekali ya.. Hinata!" Shizune tertawa pelan ketika merasakan senggolan sambutan ditelapak tangannya, Hinata tersenyum lebar. Lewat tangannya Shizune mengecek dengan teliti bayi Hinata.
"Jantungnya normal!" Shizune merasakan detak jantung bayi yang berdenyut normal dan teratur.
"Organ-organ dalam pentingnya juga dalam keadaan stabil!" Shizune berkata sambil melirik Hinata yang terlihat sangat bahagia mendengarnya. Meski dia bisa melihat sendiri, mendengar dari orang lain bisa membuat Hinata semakin yakin.
"Dia sangat bugar dan sehat!" Hinata jelas memberikan asupan gizi yang cukup pada calon anaknya ini.
Lalu cakranya, cakra Hyuuga yang tenang dan… tunggu dulu…. Kening Shizune berkerut ketika menyadari sesuatu, ada sesuatu yang tidak normal dengan cakra bayi ini. Tidak ingin tergesa-gesa menarik kesimpulan, Shizune sekali lagi memastikan apa yang baru saja dirasakannya.
"Ada apa Shizune-san?" Hinata berkata khawatir ketika melihat kening berkerut itu, dia takut ada sesuatu yang terjadi pada bayinya? Shizune menghayati lebih seksama lagi, cakra ini bukan milik Hyuuga, pasti milik ayah sang bayi, tapi… cakra ini kan… mungkinkah….? Oh… Kami-sama….
"Apa kau pernah merasa seperti disengat atau pun merasa panas seperti terbakar di rahimmu Hinata?" nada suara Shizune yang semula lembut terdengar mengeras kaku ketika mengucapkan pertanyaan ini. Ia berharap Hinata berkata 'tidak' senyaring-nyaringnya… tapi… Hinata menjawab dengan mengigit bibir sambil mengangguk ragu, Shizune menyumpah dalam hati.
Shizune berdiri tiba-tiba, kemudian menatap Hinata dengan tatapan kebingungan yang tercermin jelas dari matanya. Bagaimana mungkin…? Benaknya tidak percaya… Menyadari Hinata hampir menangis karena melihat gelagatnya yang tidak professional, Shizune segera kembali bergerak mendekat dan mengelus lembut pundak Hinata.
"Ada apa..?" Hinata yang hampir terisak bertanya memelas , apa bayinya baik-baik saja? Hinata memang pernah mengalaminya, perutnya beberapa kali dikejut oleh rasa sakit seperti tusukan-tusukan jarum, juga panas membara yang terasa membakarnya dari dalam, seperti demam tinggi yang dialaminya hanya di area perut. Itu cakra bayinya, cakra Uchiha yang sesekali menggeliat seperti memberontak di dalam sana. Setiap kali itu terjadi Hinata selalu mengerahkan cakranya untuk menenangkan pergerakkan itu, biasanya Hinata tidak perlu waktu banyak untuk menenangkannya, jadi Hinata kira hal itu bisa dikendalikannya sepenuhnya. Rasa sakit itu cepat reda dan hanya datang ketika bayinya terlalu aktif bergerak. Hal ini pasti tidak apa-apa kan?
"Tunggu sebentar Hinata… Nona Tsunade harus tahu hal ini!" Tanpa memberi jawaban pada Hinata, Shizune bergegas berlari meninggalkan ruangan untuk mencari medic nin yang lebih piawai darinya itu.
Ditinggalkan seperti itu Hinata merasa hampir tenggelam kehabisan napas karena tercekik rasa khawatir.
.
.
"Saya undur diri ayah!" Hanabi berkata saat membungkuk pada ayahnya dan Tsunade yang sekarang hanya tinggal berdua diruangan besar itu, anak gadis itu tidak sabar ingin mengeluh pada kakaknya atas kebosanan tingkat mematikan yang dialaminya. Hiashi dan Tsunade mengabulkan cepat permohonan Hanabi, mereka memang perlu banyak berdiskusi saat ini, dan telinga Hanabi memang tidak perlu ikut menyerapnya.
"Jadi… apa selanjutnya?" Tsunade berkata sesaat setelah bayangan Hanabi menghilang dari ruangan itu.
"Lusa kami akan berangkat!" Dalam dua hari terakhir Hiashi telah menyisir setiap pelosok tempat di dunia ninja ini dengan bantuan bunke-bunke kepercayaannya. Hingga akhirnya dia bisa menemukkan sebuah persembunyian yang paling pas dan aman untuk digunakan Hinata beristirahat sementara waktu hingga melahirkan dan siap kembali ke Konoha. Tempatnya terpencil dan cukup jauh dari Konoha maupun negara-negara lain, dengan kata lain tempat ini terisolasi.
"Bergantian… tentu saja!" Hiashi buru-buru menambahkan, berangkat bersama-sama tentu akan memicu kecurigaan.
"Sesuai 'misi' dari anda!" Hiashi berkata menekankan kata 'misi' sambil menatap Tsunade penuh arti.
"Hinata akan berangkat besok pagi, kemudian menungguku di perbatasan. Lalu lusa saya akan menyusulnya untuk berangkat bersama ke tempat itu!" Hiashi menjelaskan rencana perjalanannya pada Tsunade.
"Apa Hinata sudah tahu mengenai rencanamu ini? Maksudku… keseluruhan 'rencanamu' ini!" Tsunade bertanya ingin tahu.
"Sebagian!" Hiashi menjawab singkat, enggan menjabarkan pada Tsunade kalau putrinya itu tidak mengetahui rencananya untuk… kasarnya 'membuang' calon cucunya kepada orang lain jika bayi itu tidak memiliki byakugan. Hinata hanya tahu kalau mereka akan pergi sampai situasi memungkinkan kembali ke Konoha.
"Nona Tsunade!" Shizune menghambur masuk mendekat pada Hokagenya.
"Ada apa Shizune?" Tsunade heran melihat Shizune yang mendekat gugup seperti baru saja melihat Jiraia bangkit dari kubur.
"Bayi Hinata….cakranya…!" Shizune melirik Hiashi, kalau dia mengatakkannya langsung sekarang kira-kira akan bagaimana kondisi ruangan ini nanti?
"Sebaiknya anda melihatnya secara langsung Nona Tsunade!" Enggan dia mengatakan perkiraannya, takut kalau itu ternyata keliru. Dan sebenarnya dalam hal ini lebih baik kalau dia memang benar-benar salah.
.
.
"Hinata ada apa?" Hanabi memeluk Hinata yang berkaca-kaca gemetaran duduk di atas tempat tidurnya. Namun Hinata bungkam tidak ingin membuka mulutnya.
"Katakan padaku ada apa Hinata? Hmm… apa kau sakit? Bagian mana yang terasa sakit?" meluncur kata-kata yang dulu justru Hinata lah yang sering menanyakannya padanya. Bukannya menjawab Hinata malah memeluknya sangat erat, dia takut… takut kalau-kalau sesuatu yang buruk akan menimpa bayinya.
Tidak berselang beberapa lama, Hiashi, Shizune dan Tsunade terlihat beriringan memasuki kamarnya, hati Hinata mengkerut. Tanpa sepatah kata, Tsunade berjalan mendekat padanya dengan wajah kaku dan tegang, Hanabi terpaksa melepaskan pelukannya pada Hinata dan berdiri menjauh untuk memberikan Tsunade ruang. Meminta ijin lewat lirikan, Tsunade meletakkan tangannya di atas perut Hinata yang menyembul membesar mungil. Hinata menahan napas ketika melihat kerutan serupa dengan kerutan kening Shizune juga berada kening Tsunade. Tsunade mendadak mengangkat kepala melotot pada Hinata dengan wajah yang terlihat memutih sekejap, segala macam warna yang penah ada seperti direnggut paksa dari wajah itu.
"Hinata… Siapa ayah dari bayimu!?" Tsunade berkata hampir berteriak. Kalau dugaannya benar… yang sebenarnya sudah 90% dia yakin benar, Hinata mungkin akan berada dalam bahaya. Hinata menggeleng gemetar seperti selembar daun yang didera hembusan badai.
"Katakan Hinata…! Siapa?" Tanpa sadar Tsunade berteriak membentak calon ibu yang nyaris pingsan itu. Tsunade sendiri sesungguhnya juga tidak mengerti mengapa dia berteriak-teriak seperti ini pada Hinata, sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Atau mungkin saat ini dia sebenarnya hanya ingin mendengar penyangkalan dari Hinata? Meskipun Hinata menyangkal memangnya apa gunanya? Tsunade merinding selagi menunggu tanggapan gadis itu. Hiashi berjalan mendekat pada Tsunade, ingin menuntut penjelasan atas perlakuan kasar wanita ini pada putrinya.
"Uchi.." Hinata bersuara sangat pelan, ragu untuk mengatakannya, kalau dia mengatakannya apa yang akan terjadi pada Sasuke? Juga pada bayinya…? Kenapa Tsunade terlihat begitu… marah? Hinata tidak tahu kalau sesungguhnya Tsunade bukannya sedang marah tapi dia justru tengah ketakutan.
"Uchiha….?" Tidak sabar menunggu Hinata menyelesaikan kata-katanya, Tsunade berucap mendahului.
"Uchiha Sasuke?" Memangnya bisa Uchiha mana lagi? Tentu saja Uchiha tengik terakhir itu, Tsunade mengerang.
Semua orang di ruangan itu terpaksa menerimanya ketika air mata Hinata menjawab pertanyaan itu, gadis itu khawatir dan ketakutan. Hal buruk apa yang bisa menimpa Sasuke? Dalam ketakutan Hinata melirik ayahnya yang berdiri membeku seketika. Wajah ayahnya pias, mata itu terlihat menggelap menakutkan, sosoknya mendadak menjadi kasar dan garang, gemetaran, terlihat luar biasa murka tapi juga seperti ketakutan. Shizune beringsut mendekat untuk mengelus punggung Hinata yang gemetaran dan menangis.
Hanabi berdiri membelalak, 'Sasuke Uchiha bangsat… terkutuklah kau!'
"Ini tidak boleh terjadi!" Tsunade berkata hampa, tapi ini memang sudah terjadi. Tsunade berdiri dan membalikkan badannya untuk memandang Hiashi.
"Sasuke tidak bersalah ayah! Dia tidak bermaksud melakukan ini! Dia… kami terpaksa melakukannya ayah…!" Hinata putus asa,"Tolong jangan sakiti Sasuke!"
Tanpa berucap apapun, Hiashi dan Tsunade tahu apa yang berada di dalam kepala satu sama lain. Hal ini sudah berubah arah menjadi tidak tertebak, semakin rumit dan berbahaya, terutama untuk Hinata. Miris rasanya mendengar Hinata mengiba untuk orang yang telah membuatnya berada di situsi berbahaya ini. Tanpa diskusi apapun lagi kedua orang dewasa yang lebih tahu itu memutuskan sebuah kesepakatan.
"Kau harus menggugurkan kandunganmu Hinata!" Ini bukan permintaan, tapi perintah tak terbantah yang bergema nyaring dari bibir Hiashi. Bagai disambar petir, tubuh Hinata mendingin, wajahnya pucat hampir menyerupai mayat.
"Tidak!" Hinata berteriak menolak. Ini pertama kalinya Hiashi mendengar Hinata meninggikan suara padanya. Air mata yang mengalir di kedua pipi putrinya membuat hatinya perih.
"Aku tidak mau ayah! Jangan lakukan ini padaku, kumohon!" Hinata meraung memohon-mohon sambil memeluk perutnya erat-erat. Dia tidak ingin kehilangan bayinya, darah dagingnya dan Sasuke. Hanabi yang akhirnya bisa mengendalikan dirinya duduk di sisi lain Hinata, membuat sang kakak berduduk terapit sanggahan tangannya dan Shizune. Tsunade tidak tega melihat gadis itu begitu sedih, tapi ini demi kebaikan Hinata juga.
"Hinata..!" Tsunade duduk berlutut di depan Hinata, mengurai pelukan kedua belah tangan Hinata yang melingkari perutnya kemudian meremasnya pelan di genggaman hangat miliknya.
"Bayi ini berbahaya untukmu!" Tsunade berkata lembut, menatap mata Hinata lekat-lekat berharap wanita muda di depannya ini mengerti maksud baiknya. Tapi Hinata tidak bisa mengerti.
"Dia tidak berbahaya! Dia bayiku… Tsunade-sama!" Hinata menggeleng menyangkal. Tsunade menghela napas lelah, ini akan sulit.
"Dia tidak akan memberikan apapun untukmu selain rasa sakit!" Tsunade mencoba membujuk.
"Dia tidak menyakitiku!" Hinata menangis, ia berbohong, tapi dia tidak perduli, bayinya tidak boleh di bunuh.
"Jangan membohongiku! Kau sudah mengatakannya pada Shizune tadi! Iya..kan?" Hinata merutuki dirinya sendiri ketika mendengar Tsunade, seharusnya tadi dia diam saja dan tidak mengiayakan pertanyaan Shizune.
"Rasa sakit yang kau rasakan itu, awalnya akan hanya terasa seperti tusukan jarum, kemudian berubah menjadi rasa panas yang semakin panas setiap harinya, lalu akan semakin buruk lagi seiring berjalannya waktu!" Seorang wanita yang dulu mengalami ini bahkan menjadi gila dan merobek perutnya sendiri karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, tapi Tsunade tidak akan mengatakan hal mengerikan itu langsung pada Hinata, setidaknya tidak sekarang.
"Hinata…" Hiashi bergerak ingin ikut membujuk putrinya, namun..
"Rasa sakit itu tidak seberapa! Hanya sebentar, lagi pula Shizune bilang aku dan bayiku sehat!" Hinata bersikeras. Tsunade dan Haishi mengernyit mendengar 'tidak seberapa' dan 'hanya sebentar', di kasus terakhir kali tidak pernah ada kedua kata itu, yang ada hanyalah rasa sakit tanpa henti yang meluas dan memburuk setiap bertambahnya waktu. Saling menoleh dan bertukar pandang Hiashi dan Tsunade memutuskan untuk mendengarkan terlebih dahulu.
"Rasa sakit itu hanya pernah kurasakan dua kali! Ketika kandunganku berumur 16 minggu kemarin dan dua minggu yang lalu! Lagi pula rasa sakitnya tidak bertambah parah, juga hanya sebentar!"
"Dari skala 1 sampai 10 rasa sakitnya berada di angka berapa? 1 untuk yang paling rendah dan 10 yang tertinggi!" Tsunade bertanya menyelidik. Hinata yang mulai merasa punya kesempatan menghapus air matanya dan menatap Tsunade.
"5!" mungkin sedikit lebih banyak sebenarnya, tapi tidak apa-apa, dia bisa menahannya, dengan pikiran itu Hinata berucap lantang dan yakin pada Tsunade. Kening wanita yang lebih tua itu mengernyit tidak percaya. Sekali lagi Tsunade mengarahkan tangannya keperut Hinata, mengamati lagi kondisi bayi dan ibunya. Keduanya memang berada pada kondisi sehat saat ini, selain anemia ringan yang dialami oleh Hinata tidak ada yang berbahaya, pergerakan cakra Uchiha itu pun tenang dan terkendali, Tsunade bisa melihat bagaimana cakra Hinata menenangkan cakra itu.
"Apa kau yakin?" Hinata mengangguk menjawab, "Jangan membohongiku!" Tsunade masih belum percaya.
"Itu yang sesungguhnya Tsunade-sama!" Meski belum percaya sepenuhnya Tsunade berdiri dan bergerak mendekat pada Hiashi yang masih menatap putrinya tidak berkedip.
"Kita perlu membicarakan sesuatu Hiashi!" Seluruh wajah Hiashi terasa sakit, dia tidak ingin mengambil resiko apapun untuk menunda ini. Putrinya dalam bahaya... bayi itu harus segera di gugurkan.
"Ayah… aku menginginkan bayiku! Aku ingin melahirkannya!" Hinata melingkarkan kedua belah tangannya untuk memeluk perutnya posesif sekali lagi. Melihat wajah Hinata memelas memohon padanya, Hiashi menoleh dan mengangguk mengiyakan permintaan Tsunade.
"Shizune.. kau juga ikut kami!" Tsunade berjalan dibelakang Hiashi meninggalkan kamar Hinata sambil memanggil Shizune untuk mengikuti mereka.
"Hanabi…!" Hinata meringis memeluk Hanabi, dia tidak ingin menggugurkan bayinya, matipun tidak akan.
"Tenanglah Hinata! Semuanya akan baik-baik saja!" Hanabi berucap sekenanya, ragu dan bimbang sendiri. Apa benar tidak akan apa-apa? Ayahnya dan Tsunade tadi terlihat begitu ketakutan, memangnya kenapa kalau ayah bayi Hinata adalah Uchiha? Si pantat ayam itu memang brengsek karena menyebabkan kakaknya jadi begini, tapi selain itu memangnya kenapa? Hanabi tidak keberatan keponakannya setengah Uchiha, asal Hinata berhenti menangis dan semakin memucat seperti ini di pelukannya.
"Kau lebih cengeng dari pada bayi! Bayimu mungkin sekarang sedang menertawakanmu tahu!" Hanabi berusaha meringankan ketakutan Hinata, ingin menghiburnya sebisanya.
"Bagaimana kalau ayah memaksaku untuk menggugurkan bayiku?" Hinata sesenggukan.
"Lebih baik aku mati saja!" Hinata putus asa dan kecewa.
"Hush.. Apa sih yang kau bicarakan?" Hanabi memang sensitif jika membicarakan kematian, cukup ibunya saja yang pergi dari sisinya. Mendengar Hinata mengatakan tentang kematian membuat Hanabi ketakutan.
"Ayah harus membunuhku dulu, jika dia ingin mengugurkan bayimu!" Hinata tidak boleh meninggalkannya juga. Mendengar perkataan Hanabi, Hinata akhirnya menyadari betapa egois tingkahnya saat ini tapi Hinata tidak bisa menghindarinya. Dia tidak ingin kehilangan bayinya. Hinata mengelus lembut pipi Hanabi, kemudian mencium sayang pipi itu.
"Terimakasih Hanabi-chan! Semua yang telah kau lakukan untukku! Terimakasih….!" Mata Hanabi berkaca-kaca dibuatnya.
"Aku sangat menyayangimu apa kau tahu itu?" Hinata berkata tulus, entah kenapa saat ini dia sangat ingin mengatakannya pada Hanabi. Pipi Hanabi bersemu merah, matanya semakin berkaca-kaca.
Hanabi tersenyum, kemudian ikut mengelus lembut perut Hinata, mengalihkan perhatiaan agar tidak ikut menangis juga.
"Kau akan menyayanginya kan Hanabi-chan?" Hinata bertanya sambil mengelus ringan puncak kepala Hanabi.
"Tentu saja! Aku akan menyayangi dan menjaganya dengan segala yang kumiliki Hinata!" Hanabi berkata lantang membuat Hinata tersenyum lembut, dia sangat senang mendengar itu.
"Astaga…..! Malah menangis lagi!" Hanabi mengerang ketika Hinata kembali menangis dan memeluknya.
"Terimakasih…..!"
.
.
.
Uchiha-Hyuuga, dua clan tertua kebanggaan Konoha di masa jayanya. Sebagai negara berkembang di era perang dulu tentu Konoha pernah punya pemikiran untuk menciptakan kekuatan baru sebagai penunjang kekokohan dan keamanan desa. Bayi Uchiha-Hyuuga dulu merupakan dambaan Konoha, berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui kemungkinan hal ini. Namun secara tiba-tiba penelitian dihentikan dan ditutup rapat-rapat, tanpa ada yang tahu sebab dan alasannya, rencana menciptakan kekkai genkai baru pun lenyap sebelum benar-benar dicoba. Tidak pernah ada yang menyinggung ataupun mengungkitnya lagi, sampai suatu ketika ada sepasang anak manusia yang jatuh cinta melintasi batasan clan. Seorang wanita Hyuuga dan seorang lelaki Uchiha menjalin cinta terlarang hingga akhirnya membuahkan benih cinta. Kegemparan sekaligus kesenangan menyelubungi Konoha, cinta kedua anak manusia itu diresmikan dalam sebuah seremoni sakral yang disaksikan oleh kedua clan dalam kegelisahan.
Kehamilan wanita Hyuuga itu diagungkan dan dijaga dengan teliti oleh Konoha, setiap pergerakan, setiap perubahan dicatat rinci di dalam sebuah buku rapi teratur yang indah. Hingga pada suatu ketika jeritan nelangsa memecah ketentraman malam Konoha, jeritan yang berlanjut sampai malam-malam lainnya. Wanita Hyuuga yang dipenuhi cinta perlahan-lahan berubah menjadi wanita gila pembenci. Ia membenci cintanya, membenci pujaan hatinya, hingga membenci bayinya, dia meraung dan mengiba meminta di bebaskan dari siksaan rasa sakit yang abadi dirahimnya. Konoha melakukan segala upaya agar rasa sakit wanita itu berakhir tanpa Konoha harus kehilangan harta berharga.
Dan pada suatu malam, teriakan tak terdengar lagi. Dua jantung yang awalnya berdetak akhirnya kewalahan dan berhenti, menyisakan isakan pilu seorang pemuda yang menyesali dirinya, menyesali cintanya, menyesali tindakannya, berharap tuhan bisa memutar waktu dan mengubah segalanya. Sejak saat itu, Uchiha dan Hyuuga membuat kesepakatan yang tidak bersurat dan tidak berbunyi. Tersampaikan lewat lirikan dan tertanam dengan anggukan, beranak dan bercucu hingga menjadi sebuah aturan mendarah daging di antara keturunan mereka. Mereka mempercayai hubungan Uchiha-Hyuuga tidak akan membawa apapun selain rasa sakit dan penderitaan.
Hiashi mengingat jelas bagaimana dulu dia diwanti-wanti tentang aturan itu, kemudian suatu hari kekhwatiran Hyuuga berhenti disampaikan, bersamaan dengan beredarnya berita pembantaian habis seluruh clan Uchiha. Meskipun masih menyisakan seorang bocah lelaki, Hiashi tidak pernah merasa khawatir, lagi pula putrinya sepertinya tidak tertarik pada anak itu. Putrinya lebih sering dipergokinya melirik seorang bocah pirang dari pada berteriak-teriak disekeliling sang bocah Uchiha. Menurutnya putrinya aman sepenuhnya dari aturan itu, jadi untuk apa repot-repot melarang hal yang tidak mungkin terjadi, jika mungkin saja larangan itu justru akan menimbulkan ketertarikan.
Tidak pernah bahkan dalam mimpi terburuknya sekalipun Hiashi mengira hal seperti ini akan terjadi pada putrinya. Dosa besar apa yang dilakukannya sebenarnya hingga harus menerima semua ini? Apa justru ini adalah laknat leluhur akibat kelalaiannya sendiri dalam menyampaikan aturan turun-temurun itu? Hiashi melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya dengan langkah mengambang, dia seolah melayang di awang-awang, tidak sepenuhnya sadar, juga tidak sepenuhnya hilang akal.
"Bayi itu harus segera dikeluarkan dari putriku!" Belum sempat dia mencapai pintu ruang kerjanya bibir Hiashi tanpa sepenuhnya menyadari mulai berkata pelan. Koh sang pengawal pribadi Hiashi terlihat panik mengamati sekeliling, memastikan tidak ada pendengar tidak diundang yang ikut mengutip.
"Hiashi-sama!" Menegur halus, bunke kepercayaan Hiashi itu membukakan pintu ruang kerja yang sejak tadi di tungguinya, mengisyaratkan Hiashi dan yang lainnya untuk masuk ketempat yang lebih aman untuk berdiskusi.
"Jangan buru-buru Hiashi!" Tsunade bersuara bersamaan dengan debaman pelan pintu yang menutup rapat dibelakangnya. Mereka semua berdiri diam sesaat, menunggu Hiashi kembali sepenuhnya kedunia nyata. Memunggungi semua orang Hiashi berjuang untuk kembali mengumpulkan akal pikirannya yang terbang berhamburan.
"Tidak ada yang perlu ditunggu lagi!" Berbalik tiba-tiba dan mengagetkan semua orang, Hiashi berteriak nyaring, geram tanpa ada siapa pun tujuan yang ia gerami.
"Tenanglah, mari kita bicarakan dulu!" Tsunade duduk di ujung salah satu meja di ruangan itu, bertindak bagai tuan rumah dia mengisyaratkan Hiashi agar duduk di depannya. Koh masih setia mengawasi sekeliling dengan byakugannya, siaga berdiri di depan pintu di dalam ruangan, disaat seperti ini, bahkan dinding pun bisa punya telinga. Shizune bergerak ragu melewati Hiashi untuk mendekat pada Tsunade yang memanggilnya.
"Bagaimana menurutmu?" Tsunade berbisik agar hanya Shizune saja yang bisa mendengarnya.
Shizune berpikir sebelum menjawab,"Kondisi Hinata dan bayinya sangat stabil, tidak ada tanda-tanda kelainan apapun! Tapi… saya tidak berani memastikan Tsunade sama!" Shizune menjawab juga dengan berbisik. Sebagai medic nin terbaik Konoha, mereka berdua pernah membaca dan mempelajari catatan-catatan medis rahasia yang ditinggalkan oleh pendahulu mereka. Selain itu Tsunade dulu dimasa awal pembelajarannya sebagai medic juga sempat mendengar secara langsung diskusi guru dan seniornya ketika membahas kondisi pekembangan si wanita Hyuuga yang malang.
"Usia kandungan Hinata sudah menginjak 5 bulan! Tapi Hinata tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan maupun kesakitan, yang mana jika kita mengacu pada kejadian terdahulu saat ini Hinata seharusnya sudah gila karena kesakitan!" Hiashi mendelik memandang Tsunade, mendengar Hinata mungkin saja gila karena kesakitan sangat mengganggu gendang telinganya.
"Ini mungkin sebuah pertanda baik Hiashi!" Ini mungkin saja kasus berbeda, Tsunade bersemangat dan yakin, namun juga sedikit ragu dan takut. Bayi Uchiha-Hyuuga mungkin saja tidak mustahil, sekarang ini secara tidak langsung hal itu sudah ada di depan wajahnya, tinggal selangkah lagi menuju kenyataan.
"Aku tidak bisa menggunakan kata mungkin untuk putriku sendiri!" Tidak ada kata 'mungkin' untuk hal yang berkaitan dengan nyawa Hinata, Hiashi tidak ingin memungkin-mungkinkan hal ini sama sekali. Namun ingatannya akan wajah Hinata yang memelas dan memeluk perutnya sendiri membuat Hiashi sakit kepala.
'Lebih baik aku mati saja!' Perkataan Hinata yang sempat didengarnya tadi terngiang berulang di kepala Hiashi.
"Cakra Uchiha bayi itu tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan, Cakra Hinata yang tenang dan stabil terlihat mengambil kendali sepenuhnya!" Tsunade hanya menyuarakan apa yang diketahuinya, dia tidak akan menghalangi jika Hiashi memutuskan untuk menggugurkan bayi itu, setidaknya dia sudah menyampaikan apa yang dia tahu.
"Di kasus terdahulu, pada usia kandungan 5 bulan wanita itu sudah berada pada kondisi kritis!" Sesungguhnya wanita itu menghembuskan napas terakhir ketika usia kandungannya tepat 5 bulan, dia merobek terbuka perutnya sendiri dengan sebuah kunai yang direbutnya dari suaminya.
"Sedangkan sekarang Hinata sangat sehat! Meski mengalami kekurangan darah ringan, Hinata bisa dikatakan sangat sehat Hiashi!" Hiashi membenarkan dalam diam, tapi siapa yang bisa menjamin itu tidak akan berubah?
"Tapi keputusan berada padamu!" Tsunade melihat gelagat kebingungan di diri Hiashi. Kepala Hiashi terasa semakin berat saat menyadari, segala sesuatunya kini berada ditangannya.
"Kita tetap bisa melakukan prosedur pengangkatan janin meski harus memasung Hinata!" Tsunade menyuguhkan solusi pada Hiashi, setengah ingin mempengaruhi. Fakta… Hinata tidak akan dengan suka rela membiarkan bayinya di ambil darinya. Membayangkan harus memasung Hinata membuat Hiashi sudah bisa melihat tatapan benci Hinata padanya, demi tuhan… selama ini saja Hiashi hampir tidak bisa hidup dengan tatapan takut Hinata padanya, apa lagi kebencian..? Lenyaplah saja dia dari muka bumi ini kalau itu terjadi.
"Apa kau yakin ini akan berbeda?" Hiashi perlu pegangan, apapun juga, meski dia tahu apapun itu sesungguhnya semu belaka.
"Aku tidak berani memastikan Hiashi! Tapi kita akan memperhatikan kondisi Hinata kedepannya, jika ada sesuatu yang mencurigakan, prosedur penyelamatan bisa segera kita lakukan!" Tsunade menyesali kata-kata yang keluar dari mulutnya, karena terdengar begitu bersemangat dan egois.
"Berapa kemungkinan Hinata tidak akan mengalaminya?" Hiashi bertanya lagi dengan suara pelan, nyaris mencicit.
Tsunade mempertimbangkan sebentar pertanyaan ini, sebelum menjawab "50 persen!"
Hiashi menutup mata, mungkin kemungkinan ini layak dicoba, dari pada harus hidup dengan kebencian Hinata disepanjang sisa hidupnya di dunia ini.
"Apa yang harus kulakukan? Hinata harus berangkat ke tempat persembunyian besok pagi!" Rencana yang sudah diaturnya berserakan tidak cocok dengan kondisi Hinata sekarang.
"Hinata tidak boleh berada jauh dariku Hiashi! Hinata harus berada di bawah pengawasan medic nin setiap saat!" Tsunade mengingatkan.
"Tapi Hinata tidak bisa tetap berada di Konoha!" Hiashi mengernyit kebingungan karena keadaan yang semakin kacau. Tsunade berpikir keras mencoba membantu mencari jalan keluar untuk situasi ini.
"Mengenai itu, kau tidak perlu khawatir Hiashi! Aku bisa menyediakan tempat persembunyian di Konoha ini untuk Hinata!" Setelah mengingat-ingat Tsunade akhirnya menemukan tempat yang cocok di ingatannya. Hiashi memicingkan mata ragu, Hyuuga punya mata yang bisa menembus dinding, apa Tsunade lupa akan fakta yang satu itu? Jika tetap berada di Konoha, Hinata pasti akan ketahuan oleh para Hyuuga.
"Aku punya tempat yang aman dan bahkan tidak akan bisa di tembus oleh Byakugan!" Tsunade yang mengerti keraguan Hiashi segera menambahkan. Mengangguk kalah, Hiashi terpaksa menyetujuinya, kepalanya sudah penuh dijejali berbagai macam hal yang membuatnya hampir sudah tidak bisa berpikir lagi.
"Shizune akan kusiagakan di sisi Hinata, untuk memastikan segalanya terkendali!" Tsunade memandang Shizune di sampingnya meminta tanggapan atas perkataannya, Shizune disisi lain tersenyum kecil dan mengangguk siap.
"Besok mereka akan berangkat untuk memenuhi misi rahasia Rank-S selama waktu yang belum ditentukan! Paling lama hingga 1 tahun kedepan!" Tsunade mengungkapkan misi fiktif yang akan diketahui semua orang nanti tentang kepergian Hinata dan Shizune.
"Dimana tepatnya tempat ini?" Hiashi penasaran, tidak mungkin dia membiarkan putrinya pergi ke antah berantah yang tidak ia ketahui.
"Masih di dalam wilayah Konoha! Bisa pulang dan pergi hanya dalam 30 menit kecepatan tempuh seorang ninja, tidak perlu khawatir kau bisa mengunjungi putrimu kapanpun kau mau!" Tsunade meyakinkan.
"Bagaimana dengan pengamanan?" Hiashi bertanya.
"Bagaimana menurutmu? Seberapa banyak orang yang boleh tahu hal ini?" Menugaskan pasukan pengamanan berarti menambah jumlah kepala yang mengetahui semua ini.
"Aku punya beberapa bunke kepercayaan dan sekelompok ninja bayaran yang bisa diandalkan!" Semakin sedikit yang tahu, maka semakin sedikit juga kemungkinan untuk terbongkar. Dengan begitu diputuskan sudah pengamanan yang akan digunakan.
"Lalu… apa yang akan kita lakukan dengan Uchiha Sasuke?" Apa Hiashi ingin mencari dan meminta pertanggung jawaban pada bocah itu? Tsunade penasaran. Setidaknya bayi itu adalah bayinya juga kan!?
"Biarkan bocah itu sendiri!" Hiashi mendengus, enggan menambah beban pikirannya.
"Kehadirannya hanya akan menambah persoalan! Jika dia tidak tahu, biarkan tetap begitu sampai akhir hayatnya" Hiashi berkata sambil menggemeratakkan gigi. Pergerakkannya sekarang ini terpasung oleh keadaan clan yang sedang rapuh, seandainya tidak sekarang ini dia tidak akan berpangku tangan seperti ini, pelosok dunia ninja pasti akan di jamahnya untuk menemukan si Uchiha terakhir itu.
"Bayinya…?" Tsunade ingin tahu apa rencana Hiashi untuk bayi Hinata ini, bayi Uchiha-Hyuuga ini, bayi yang dulu sempat digadang-gadang akan memiliki kekkai genkai baru terkuat yang pernah ada. Tapi Tsunade tidak ingin ikut campur, apapun yang akan terjadi pada bayi itu, itu murni hak Hiashi untuk memutuskan sebagai ayah Hinata.
Hiashi merasa ingin mengamuk ketika kepalanya semakin berdenyut-denyut tidak karuan. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya kelak dengan bayi itu. Mungkin dia akan membiarkan Hinata untuk memeluknya beberapa saat... atau mungkin juga tidak… Dia akan memutuskannya nanti…
"Apa… Naruto boleh mengetahui ini Hiashi?" Tsunade teringat akan wajah putus asa Naruto yang merong-rongnya atas keterlambatan kembalinya Hinata ke Konoha.
"Menurutku dia tidak perlu tahu, Tsunade-sama!" Lebih baik membiarkan ini menjadi rahasia sampai waktu yang cocok untuk putrinya bisa menghadapi masalah yang satu ini.
'Heh? Apa...? Setelah pulang dari Suna...? Itu 5 bulan lagi nenek Tsunade! Mati saja aku kalau harus menunggu 5 bulan lagi! Lalu apa lagi…? setelah lima bulan, apa kau akan berkata padaku kalau Hinata pergi menjalankan sebuah misi keantah berantah dan tidak akan kembali sampai 1 tahun ke depan? Cih, jangan harap aku mau!' Tsunade mendesis ngeri ketika kata-kata Naruto sebelum pergi ke suna terngiang. Yah… sepertinya itu akan di jadikannya bebannya sendiri, mengingat kondisi Hiashi sudah terlihat seperti bom yang menunggu detik-detik peledakan saat ini.
Jari-jari lentik berkuku merah mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan tidak sabar. Berulang kali dia melirik pintu masuk kedai Sake itu, menunggu kedatangan kawan-kawannya yang tidak bisa menepati waktu. Mata coklat memutar malas ketika masih tidak ada tanda-tanda teman-temannya di ambang pintu. Sejujurnya, kedai Sake ini mulai terasa menakutkan baginya, meskipun dia adalah seorang kunoichi tapi tetap saja menjadi satu-satunya wanita di sebuah tempat remang-remang seperti ini membuatnya gelisah tidak tenang. Kedai itu tidak terlalu penuh, tamunya lumayan lengang untuk ukuran kedai sebesar ini. Hanya beberapa meja yang terisi, di sisi kirinya yang merapat tembok berjarak 1 meja darinya sekelompok lelaki berbadan besar dan berwajah sangar terdengar terbahak asik menenggak sake. Tepat di belakangnya sekelompok pria tua berwajah serius terdengar berbisik-bisik dengan suara rendah, yang mana justru membuat bulu kuduknya kadang merinding, bisikan-bisikan tidak jelas itu seperti berasal dari dunia lain, hiii.. Dan yang paling menakutkan adalah seorang ehm.. sepertinya laki-laki, menggunakan jubah hitam bertudung kepala menutupi sosoknya sama sekali, terlihat seperti malaikat pencabut nyawa dicerita-cerita ibunya, tengah duduk diam seperti patung di meja berjarak 2 meja di depannya.
"Kyoko…!" Seruan nyaring dari ambang pintu membuatnya merasa lega hampir berlutut bersyukur.
"Kalian lama sekali…!" Rengek Kyoko yang gembira melihat kedua sahabatnya berjalan cepat menghampiri mejanya.
"Hehe… maaf-maaf! Megu jalannya lambat!" Gadis berambut emas beralasan sambil duduk di seberangnya, Kyoko bernapas lega akhirnya ada yang menghalangi pandangannya dari punggung si malaikat pencabut nyawa.
"Kenapa aku? Kau yang sibuk berdandan sejak tadi! Dasar Yame…!" Megu cemberut tidak terima di salahkan, duduk disisi kirinya menghalangi pandangannya dari pria-pria sangar menakutkan.
"Lain kali jangan buat janji ditempat seperti ini ya…!" Kyoko berbisik memperingatkan.
"Kenapa..? kau takut?" Yame menggoda Kyoko sambil melambai memanggil pelayan untuk memesan Sake.
"Tidak… hanya ngeri..!" Megu terkikik mendengar jawaban Kyoko. Ketiga gadis itu pun sibuk bercerita tanpa memperdulikan sekeliling lagi.
"Semua…..!" Seorang gadis berbadan mungil memanggil dari ambang pintu…! Sosok itu berlari kecil menghampiri gadis-gadis yang tengah berkumpul bersenda gurau.
"Ai…!" Ketiga gadis berseru bersamaan menyapa yang baru datang. Sekarang semua tamu diruangan itu lah yang dibuat ngeri dengan pekikan nyaring mereka. Gadis-gadis memang paling menakutkan kalau sedang berkumpul.
"Kapan kau kembali dari Suna?" Kyoko bertanya penasaran.
"Beberapa saat yang lalu… Sebenarnya aku baru saja menuju rumah tadi, tapi aku melihat kalian di dalam sini jadinya mampir deh!" Ai berkata dan mendudukkan dirinya, ikut bergabung dengan teman-temannya.
"Ne... apa kau bertemu Kazekage yang tampan itu?" Megu bertanya memerah, ketampanan dan kewibawaan sang Sabaku membuat dia mempunyai penggemar wanita dipenjuru dunia ninja.
"Bukan hanya bertemu! Aku juga berkesempatan menjabat tangannya!" Ai memekik girang sambil menggenggam tangannya yang sempat dijabat Gara.
"Kya…. Iri!" Serempak gadis-gadis muda itu berteriak membuat pengunjung lain mengernyitkan kening.
"Tebak siapa lagi yang ku lihat di Suna?" Ai menunjukkan seyum bangga yang penuh rahasia.
"Siapa?" Yame dan Kyoko bertanya serempak.
"Na..Ru..To.. Uzumaki… sang pahlawan perang!" Pekikan tidak setuju mengiringi setelahnya.
"Astaga… kau curang!" Kyoko yang pengagum Naruto menggerutu tidak rela.
"Aku bertemu dengannya di toko perhisan Thasio sensei..!" Ai kembali bercongkak ria.
"Tebak apa yang dibelinya?" Gadis lain menahan napas menunggu informasi dari Ai, bergosip memang paling baik untuk meredakan stress.
"Cincin…..!" Ai berteriak gembira seperti orang yang baru saja mendapat anugerah terindah.
"Cincin…? Aku berani bertaruh pasti untuk Hinata Hyuuga!" Kyoko berkata kecewa setengah senang, hubungan sang pahlawan perang dari Konoha ini dengan sang penerus Hyuuga memang telah menyebar kepelosok negeri berkat penggemar yang mengabarkannya dari mulut kemulut.
"Memangnya siapa lagi!?" Ai mengangguk-angguk yakin.
"Pasti bertahtakan Amethys!" Megu mengatakan dengan wajah iri.
"Bukan, kau salah. Cincin itu sangat indah dipenuhi ukiran bunga-bunga yang cantik di sepanjang bingkainya lalu berakhir dengan sebuah batu safir biru jernih dipuncaknya!" Ai mengingat-ngingat bentuk cincin yang hanya dia lihat sekilas itu.
"Safir biru bukannya warna matanya sendiri? Kenapa Naruto-kun tidak memberikan Amethys saja ya..? Sesuai warna mata si putri Hyuuga?" Yame mengernyit bingung.
"Mungkin dia ingin Hinata-chan hanya mengingatnya saja setiap saat! Seperti ingin mengucapkan…'Kau milikku!' dan 'Aku memperhatikanmu setiap saat!' iya kan?" Megu berkata meniru gaya bicara lelaki. Kemudian seruan iri kembali terdengar dari bibir mereka.
"Hyuuga Hinata sangat beruntung! Naruto-kun sepertinya berniat melamarnya!" Kyoko kembali berwajah tidak rela. Ai dan yang lainnya tertawa pelan.
"Pastinya begitu… dia berteriak 'Konoha aku pulang!' nyaring sekali di depan toko itu! Menurutku sebenarnya yang ingin dia teriakan itu adalah… 'Hinata sayang aku pulang!' hihihi…! Manis sekali!" Ai masih belum selesai bercerita.
"Untuk memastikan, aku bertanya pada Thasio sensei mengenai cincin itu setelah Naruto-kun pergi.. dan Binggo… katanya cincin itu memang dipesan melalui surat dari Konoha, permintaan seorang pemuda yang ingin mengungkapkan cinta terbesar pada wanitanya dan memintanya untuk mendampingi hidupnya sampai akhir hayat… Kata-kata cinta dipahat disetiap ukiran kelopak bunga kecil di cincin itu.. Romantis sekali kan..?!" Para gadis berlonjak-lonjak gemas.
"Tidak lama lagi Konoha pasti akan meriah dengan acara pernikahan mereka! Kya…. Semegah apa ya pernikahannya nanti…? Aku pasti aka…..!"
Praankkk…..
Sunyi….. keempat gadis itu terdiam seketika, mata mereka memandang ngeri kearah bunyi keras pecahan kaca tadi. Kyoko ternganga ketika menyadari si malaikat pencabut nyawa baru saja melempar sebuah botol sake ke dinding ruangan. Bahu sosok itu terlihat naik turun berat, badannya terlihat bergetar samar. Sekelompok pria bermuka beringas terlihat tegang memandang benci pada sosok si malaikat pencabut nyawa. Menyadari menjadi pusat perhatian sosok pemuda berjubah hitam itu beranjak setelah meninggalkan uang yang lebih dari cukup untuk membayar minumannya dan mengganti kerusakan yang sudah di sebabkannya.
"Kau bajingan tengik… ingin menantang kami huh?!" Kelompok pria berbadan besar mulai bergerak mendekat menghadangi langkah si pria berjubah. Tersinggung dengan sikap pemuda yang melempar botol sake hampir mengenai mereka.
"Minggir..!" Suara serak yang dingin terdengar menjawab dari balik tudung hitam.
Berang bukan kepalang seorang pria besar melemparkan dirinya menyerang si pria bertudung, hanya untuk terlempar melayang ke sisi lain ruangan. Yang lain datang mengiringi pun bernasib tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, hingga akhirnya pria terakhir yang tersisa tergantung tidak menapak tanah ketika sosok bertudung itu mencengkram erat leher bajunya sambil memandang ganas ke arahnya.
"Kubilang minggir!" Pria yang bergantung itu memucat memandang mata berkilau yang seolah melubangi jiwanya, Kyoko dan yang lainnya terdiam membisu tidak begerak ketika melihat wajah ketakutan pria besar yang seperti sudah melihat neraka di depan wajahnya. Dengan itu si pria bertudung melepaskan pegangannya hingga membuat pria yang semula menggantung meringkuk ketakutan dikakinya. Tanpa bicara sepatah katapun sosok hitam itu berjalan ringan namun tegang menuju pintu keluar, kali ini tidak ada seorang pun yang berani menghalanginya.
"Bukankah dia…," Yame yang berhasil kembali dari keadaan terkejut bertanya terputus menunggu teman-temannya yang lain menatap ke arahnya.
"Sasuke Uchiha..?" Keempat gadis berseru serempak. Sungguh! tidak akan ada yang bisa melupakan wajah tampan dari garis terdepan di medan perang!
.
.
Sosok pria berjubah hitam berjalan pergi semakin menjauh dari tujuan awalnya. Dengan hati yang patah lebih dari kapanpun juga, dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah, ke Konoha.
Fyuh… gubrak…..#langsungtewasabisselesaingetik….
For all my lovely reader… Hyuri mengucapkan terimakasih banyak yang banyak-banyak banget…
Hyuuri bahagia banget baca review kalian semua… huhuhu… #nangisterharu….
Untuk semua pertanyaannya… ehmm… sabar ya… bakal terjawab ko satu-satu…
Kritik dan saran selalu Hyuri nanti… Author amatir ini masih mengharapkan belas kasihan koreksi dari reader semua…
Juga Hyuri minta maaf ya updatenya rada lama… ada satu dan lain hal yang menghambat Hyuri….
Semoga masih pada sudi nungguin ya…
(^_^)please review if you don't mind… Bye…bye…. Ketemu di chapter depan?
