Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll

Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback

Chapter 14

Mengungkap Kebenaran Part 3

"Hinata pergi untuk menjalankan misi 'Sangat Rahasia tingkat S' hingga waktu yang belum bisa dipastikan!" Kebohongan ini terdengar benar-benar seperti kebohongan yang menyedihkan bahkan ditelinganya sendiri, Tsunade mengatakan kalimat itu setengah hati meski tetap memperlihatkan ketegasan dan ketenangan yang tidak tercela.

Wajah Naruto menegang, kemudian memucat seketika, lalu memerah menahan amarah namun berangsur-angsur menyendu putus asa, mata birunya keruh memandang Tsunade tidak percaya, bibirnya bergerak-gerak kacau namun membisu. Tsunade merasa ingin memukul wajahnya sendiri karena menyebabkan Naruto jadi seperti ini, bocah berkulit coklat ini terlihat seperti sedang meregang napas di depannya.

"Aku tidak percaya kau melakukan ini padaku nenek!" kata-kata bernada getir kekecewaan membuat nyeri sekujur tubuh Tsunade.

Naruto membuang muka, berbalik cepat lalu menabrak terbuka pintu ruangan Hokage hingga membuat pintu itu hancur berkeping-keping ketika menghantam dinding. Tanpa melirik sedikitpun, Naruto berjalan kaku meninggalkan Tsunade yang berdiri tegak dari mejanya karena terkejut oleh tindakan si Uzumaki. Tidak bisa marah akan kelakuan Naruto, Tsunade hanya menggeram gemas. Setidaknya ada juga untungnya membuat Naruto jadi berang, Uzumaki itu terlalu marah sampai-sampai sudah tidak punya minat lagi bahkan hanya untuk sekedar merengek meminta informasi lebih darinya.

"Kau bebas untuk kali ini, begundal!" Tsunade ingin meneriakkan kenyataan pada Naruto, tapi.. yah.. banyak sekali tapi yang berlapis-lapis untuk hal itu.

Menyerupai banteng liar yang tidak memiliki mata, Naruto menabrak hampir semua orang di sepanjang koridor yang mengarah ke pintu keluar kantor Hokage. Kata maaf yang tidak berirama diucapkannya berkali-kali tanpa sampai ke dalam hati. Prustasi, kesal dan putus asa, Naruto menghambur keluar menuju cahaya matahari hangat yang biasanya membawa semangat untuknya. Murung dan mendung, wajah Naruto sangat tidak sesuai dengan warna pakaian yang dikenakannya. Bergerak berdasarkan kebiasaan tubuhnya berjalan tanpa arahan dari otaknya.

Benaknya kembali menyiksa dirinya sendiri. Memperlihatkan wajah memerah Hinata ketika menyuguhkan senyuman manis yang dalam sekejap berubah menjadi Hinata yang mengucurkan air mata duka. Ingatan akan rentangan tangan malu-malu sang gadis berubah menjadi bayangan dinginnya punggung yang berlari menjauh darinya. Riang tawa yang terdengar mengalun merdu di rekaman tergantikan oleh senggukan kata 'maaf' yang seperti tercekat di kerongkongan. Gadis itu melihatnya… melihatnya mencium Sakura. Awalnya ia memang menolak, namun kemudian sisi hatinya yang dimabuk cinta pada Sakura mulai mengambil alih kesadarannya. Naruto dengan pahit mengakui kalau dia memang menginginkan ciuman dari Sakura, hanyut dalam debaran jantungnya sendiri dan mamagut kasih yang sempat dikiranya tak sampai itu. Letupan rasa senang kala mendengar ungkapan cinta dari Sakura mengaburkan akal sehatnya.

Sesaat dia lupa akan cinta dipelukannya, lupa akan gadis yang mencintai dan menemaninya hampir setahun terakhir. Dia tidak bermaksud menyakiti atau mempermainkan Hinata, dia serius dalam mencintai dan menyayanginya. Kerusakan ini, kecacatan ini tidak pernah terbayang akan dilakukannya pada Hinata. Entah apa yang bisa dilakukannya untuk menebus luka yang di sebabkannya pada gadis itu. Naruto berhenti absurb ketika mendapati dirinya berdiri di depan kedai ramen kegemarannya, mau apa dia kesini? Dia sama sekali tidak sedang merasa lapar, bahkan dengan gumpalan yang terasa mengganjal tenggorokannya ini, sepertinya dia akan kenyang untuk berhari-hari ke depan.

'Nee… ehm… Naruto-kun… menurutku… sebaiknya… ehm… bagaimana kalau kau lebih mengurangi kebiasaanmu makan ramen?' Suara Hinata yang takut dan ragu ketika mengingatkannya akan kebiasaannya yang terlalu sering makan ramen terputar di ingatan Naruto.

'Sebagai gantinya… aku akan membuatkan makanan yang gizinya lebih seimbang untukmu…! Eh… itu bukan maksudku Naruto-kun tidak boleh makan ramen lagi…!" Naruto menyeringai sedih saat mengingat wajah ketakutan Hinata ketika dia berusaha menjelaskan maksudnya secara halus. Menutup wajah dengan kedua belah telapak tangannya, Naruto mengerang sakit.

"Naruto… kau sudah kembali!?" Seruan akrab mengalihkan Naruto dari ratapannya.

"Shikamaru..!" Naruto menyapa sahabatnya yang bergerak mendekat kearahnya.

"Kapan kau tiba?" Shikamaru bertanya penasaran.

"Baru saja! Beberapa menit yang lalu!" Naruto menjawab dengan senyum dan ketertarikan seadanya. Shikamaru mengernyit, apa pemuda ini begitu lelahnya sampai terlihat begini tidak bertenaga? Hei… bukankah dia Naruto Uzumaki?

"Ada apa?" Shikamaru bertanya ingin tahu. Naruto menyungingkan senyum tipis, ingin menyangkal masalah namun gagal. Kemudian Naruto mengingat sesuatu, dia merogoh kantong celananya untuk mencari bingkisan milik Shikamaru yang berada padanya.

"Ini cincinmu!" Naruto menyerahkan kotak perhiasan yang berisi cincin titipan Shikamaru. Sebagai bentuk rasa cintanya pada Ino, Shikamaru sengaja memesan sebuah cincin jauh-jauh ke pengrajin perhiasan yang tersohor dari Suna. Dan pemuda itu meminta Naruto yang kebetulan akan menjalankan misi di sana untuk mengambilkan pesanannya diperjalanan pulang ke Konoha. Shikamaru membuka kotak cincin itu, menunjukkan sebingkai cincin indah bertahtakan batu safir biru yang berkilau jernih, warna mata Ino. Sempurna… Ino pasti senang.

"Terimakasih!" Shikamaru memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam sakunya, setengah membayangkan pelukan senang dari istri tercinta yang sepertinya akan segera diterimanya. Naruto hanya mengangguk-angguk tidak bertenaga.

"Apa kau baik-baik saja?" Shikamaru benar-benar khawatir melihat tingkah Naruto yang tidak seperti biasanya.

"Tidak!" Naruto menjawab jujur dengan sebuah geraman, sorot matanya berpaling memandang apapun di kejauhan. Otak Shikamaru yang cerdas segera menemukan kejadian yang sepertinya sangat berelasi dengan kondisi Naruto saat ini. Beberapa hari yang lalu setelah dia resmi menjadi seorang ayah, Hinata dan yang lainnya datang menjenguk Ino di rumah sakit. Gadis Hyuuga itu berpamitan untuk pergi menjalankan misi yang lama keberlangsungannya masih tidak bisa dipastikan.

"Kepergian Hinata ini… apa…." Shikamaru berucap lambat-lambat sambil memperhatikan ekspresi Naruto yang semakin muram, benaknya segera membenarkan perkiraannya.

"…kau tidak tahu?!" Menilik kondisi pemuda yang terlihat kacau di depannya ini, Shikamaru berasumsi kalau Naruto sepertinya tidak tahu menahu tentang kepergian Hinata ini.

Naruto membuang napas dengan sebuah tiupan besar udara dari mulutnya, berusaha melonggarkan dadanya yang terasa sesak. Sesak di jejali rasa bersalah, rasa sakit, rasa menyesal, dan keinginan memperbaiki kerusakan, yang mana membuatnya sangat tersiksa menanti untuk bertemu Hinata. Dan sekarang Hinata justru pergi lagi, menghilang lagi tanpa bisa dicari untuk waktu hanya tuhan lah yang tahu berapa lama. Jawaban 'tidak' tersampaikan pada Shikamaru, dan ayah genius itu pun tidak punya apapun yang bisa dikatakannya untuk menghibur Naruto, yeah… ini memang berat... Hinata bisa saja akan menghilang selama… 1 tahun? 2 tahun? Atau bahkan… 10 tahun?… Siapa tahu?

"Dua hari yang lalu Hinata mengunjungi kami untuk berpamitan!" Naruto menoleh cepat kepada Shikamaru ketika mendengar kata 'dua hari' yang baru saja di ucapkan oleh rekannya itu. Dua hari..? dia hanya terlambat dua hari!? Kami-sama… sepertinya tuhan benar-benar ingin menghukumnya.

"Apa dia baik-baik saja? Apa dia sehat-sehat saja?" Tidak ada pertanyaan yang lebih penting dari pada dua pertanyaan itu di benak Naruto.

"Dia kelihatan sehat meski sedikit pucat!",'dan sedikit bertambah gemuk' Shikamaru menambahkan catatan di dalam benaknya.

'Perasanku saja atau Hinata benar-benar bertambah gemuk ya?' Kata-kata Ino ketika Hinata dan yang lainnya telah pulang hari itu kembali muncul di ingatan Shikamaru.

'Karena melahirkan, aku sepertinya mengalami kemunduran dalam membaca kondisi seseorang!' Shikamaru kala itu tersenyum lucu mendengar Ino mengoceh pada dirinya sendiri.

'Iya kan… sayang…?!' Ino membuat wajah lucu dan bertanya dengan nada suara gembira pada Shikaku yang baru berumur 3 hari di pelukannya.

'Masa ibu sempat berpikir kalau bibi Hinata hamil…!? Itu kan tidak mungkin..!' Ino melirik Shikamaru diujung matanya.

'Paman Naruto kan orangnya sabar, tidak seperti ayahmu!' Ino berucap sinis, tujuan sebenarnya adalah pada Shikamaru bukan Shikaku. Shikamaru waktu itu bersungut-sungut mengatakan kalau itu bukan salahnya sendiri, kalau tidak berdua kan tidak akan mungkin jadi. Ino selalu merengek menyalahkan Shikamaru atas kecelakaan yang mereka sebabkan sehinga membuat Ino menjadi ibu pertama di antara Rookie 12 yang lain, padahalkan sama saja, Shikamaru juga harus menjadi ayah pertama di antara Rookie 12. Shikamaru maklum saja dengan keantikan istri tercintanya itu, wanita yang baru saja dinikahinya 3 bulan yang lalu dan sudah menjadi ibu dari putranya.

"Syukurlah!" Nada lega yang lelah dari bibir Naruto menyadarkan Shikamaru dari pikirannya. Wajah Naruto terlihat tertekan, Shikamaru memaklumi kondisi ini, jika seandainya yang pergi adalah Ino dia pun pasti akan bereaksi tidak jauh berbeda dari reaksi Naruto saat ini.

"Oh…ya… Shikamaru selamat atas Pernikahanmu!" Naruto mengucapkan selamat kepada sahabat yang pernikahannya tidak sempat ia hadiri itu. Meski dia tidak sedang berada pada suasana hati yang bagus, tapi sangat kasar rasanya jika mengabaikan fakta ini dan tidak mengucapkan selamat pada Shikamaru.

"Yeah… kau harusnya mengucapkan dua selamat untukku! Sekarang aku sudah jadi seorang ayah!" Shikamaru mendengus lucu pada Naruto. Hidupnya memang melawati dua fase ini dalam waktu yang lumayan singkat.

"Bayimu sudah lahir?" Wajah Naruto sedikit tertarik. Shikamaru mengangguk dengan wajah sumringah, sesaat lupa kalau harusnya dia sekarang memasang tampang prihatin untuk Naruto. Tapi mau bagaimana lagi? Ia bahkan tidak pernah bisa memasang wajah malas ketika membahas tentang jagoan kecilnya itu, senyum dengan sendirinya akan terbentuk.

"Namanya Shikaku! Dia baru berumur 5 hari!" Kebahagian menguar tidak bisa ditutupi dari Shikamaru.

"Kau menamainya dengan nama ayahmu..?" Naruto terenyum kecil bertanya pada Shikamaru yang terlihat berbinar.

Menatap Shikamaru yang ujung matanya menyipit karena senyum, Naruto pun akhirnya menyadari kalau mereka semua sudah berbeda, masa kecil dan remaja mereka sudah berlalu, sekarang mereka telah bersiap melompati masa baru berlabel kedewasaan. Masa dewasa yang diiringi oleh tanggung jawab yang dewasa juga. Naruto mempertanyakan pada dirinya sendiri seberapa dewasanya dia saat ini?

"Aku pulang dulu Shikamaru!" karena rasa lelah fisik dan mental yang dirasakannya, Naruto enggan berbasa-basi lebih lama. Anggukan ringan Shikamaru mengijinkan kaki Naruto melangkah gontai menuju apartementnya.

"Kalau ingin bicara… kau tahu di mana harus mencariku kan Naruto?" Shikamaru berseru ke punggung tegap Naruto yang kuyu menjauh, menawarkan bahu untuk menangis jika perlu. Naruto terlihat mengangkat tangan kanannya tinggi dan melambai pelan tanpa berpaling, anak itu sepertinya ingin menyendiri dulu.

.

.

.

Langkah kaki pelan Naruto berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat tua yang terlihat berat. Di bukanya pintu itu perlahan, jantungnya terasa melompat keluar ketika mendapati sepasang alas kaki feminine di pintu rumahnya.

'Hinata…!?' Benaknya berteriak memanggil, berharap itu kenyataan. Ungkapan penyesalan dan permintaan maaf terasa sudah berada di ujung lidah, mendamba dan menunggu untuk dicurahkan, namun bibirnya terbungkam tidak bisa berkata-kata. Tanpa berpikir kakinya melangkah cepat mengabaikan alas kaki berdebu yang dilangkahkannya ke dalam rumah.

"Aku….!" Merasa tiba-tiba ingin menangis ketika mengingat kondisi mereka saat ini, Naruto berkata terputus ketika mengitari pembatas dinding menuju ruang duduk kediamannya.

"Pulang….!" Matanya membelalak saat dia menyelesaikan kalimatnya, karena bersamaan dengan itu ia menyadari siapa yang berdiri di dalam rumahnya. Bukan sosok gadis berambut indigo yang ia dapati melainkan sosok gadis berambut pendek berwarna merah muda lah yang tengah berdiri mengerutkan kening ke arahnya.

"Selamat datang..!" sambutan yang diiringi isakan menyambangi telinga Naruto, mata berwarna amerald itu terlihat sayu tenggelam dalam lautan air mata. Naruto ternganga bingung, sementara Sakura semakin sesenggukan di hadapannya. Tangan gadis itu terlihat meremas kertas putih ke dadanya erat-erat, gadis itu kesakitan, sakit di hatinya membuatnya hampir tidak mampu bernapas.

"Selamat datang Naruto…!" Sakura mengulangi lagi kalimat itu, kalimat yang diminta Hinata untuk dia ucapkan pada Naruto. Rasa sakit karena merasa bersalah membuat Sakura tidak bisa menganggkat wajah untuk menatap Naruto lebih lama. Dia membungkukkan badannya yang terisak sambil memegangi hatinya yang terasa berdenyut-denyut sakit.

.

.

Untuk Sakura-chan

Sebelumnya aku ingin meminta maaf tidak bisa menyampaikan ini secara langsung pada Sakura-chan, karena aku harus pergi ke suatu tempat. Nee… Sakura-chan tolong jangan marah padaku ya untuk apa yang akan aku katakan ini. Tolong berjanjilah….

Sakura-chan….. apa kau tahu…?

Naruto-kun sangat mencintaimu…. Dia selalu mencintaimu… Dan akan selalu mencintaimu…

Mohon maafkan aku karena selama ini diam saja. Aku egois ingin memilikinya tanpa mempertimbangkan perasaan Sakura-chan juga perasaan Naruto-kun. Tapi pada akhirnya kebenaran tentu akan terungkap meski bagaimanapun kita menyimpannya. Selama ini aku telah memaksakan diri untuk masuk ke dalam hidup Naruto-kun, mengisi hari-harinya dengan keberadaanku sampai dia merasa nyaman bersamaku hingga membuat dia berpikir dia jatuh cinta padaku. Tapi itu hanya pikirannya bukan kata hatinya. Bisakah Sakura-chan mengerti maksudku…?

Kunci ini… adalah kunci apartement Naruto-kun. Sakura-chan belum pernah berkunjung kan sejak kami resmi berhubungan..? Jika Sakura-chan memperhatikan, Sakura-chan pasti akan menemukan seberapa menggambarkan dirimunya rumah itu. Susunan pengaturannya, letak tempat duduknya, pemilihan hiasannya, seketika memasuki rumah itu entah mengapa yang tergambar adalah kelembuatan sekaligus kekuatan seorang Haruno Sakura. Mungkin Naruto-kun sendiri pun tidak menyadarinya… bagaimana dinding rumah itu menguarkan wangi Sakura dari catnya, bagaimana tirai-tirainya melambaikan warna hijaunya matamu, bagaimana dindingnya dihiasi lukisan bunga merah muda yang melambangkan dirimu, juga bagaimana bunga lili menghiasi pas bunga di dekat setiap jendela di tempat tinggal ini. Bunga Lili adalah kesukaan Sakura-chan bukan..?

Naruto-kun yang memilih semuanya, mengatur semuanya, dia bilang pengaturan rumah seperti ini lah yang paling nyaman untuknya. Benarkan…. Haruno Sakura lah yang membuatnya nyaman pada akhirnya... Bahkan di alam bawah sadarnya pun Sakura-chan lah yang diinginkannya… bukan aku... tapi kamu…

Bagaimana denganku..? Tidak perlu khawatir… aku baik-baik saja… Sakura-chan jangan mengkhawatirkanku….

Aku bahagia untuk kalian, aku akan tersenyum jika kalian tersenyum, aku akan bergembira jika kalian bergembira…

Aku justru akan sedih jika kalian terus seperti ini, memendam dan menahan perasaan kalian sendiri untukku… Aku menderita jika kalian begitu… Tolong dengarkanlah aku untuk kali ini saja….. Jujurlah pada hati kalian sendiri…. Kalian ditakdirkan untuk bersama….

Dan Sakura-chan… mungkin kau juga sudah tahu tentang ini ya… saat Naruto-kun pulang ke rumah setelah menjalankan misi, dia akan sangat senang jika ada yang menyambut kedatangannya. Biasanya byakugan yang memberitahuku kalau dia sedang mendekat… kalau Sakura-chan mungkin 'ikatan' akan memberi tahu iya kan..? Karena setiap Naruto-kun kembali dari misi aku bisa melihat Sakura-chan menengok dari balik jendela menara rumah sakit, helaan napas lega ketika dia kembali dengan selamat terhembus bersamaan dari bibir kita berdua. Ajaibkan…!?

Jadi Sakura-chan… ucapkan lah 'Selamat Datang..!' untuknya kali ini… untuk besoknya juga… lusanya… seterusnya.. hingga seterusnya…

Aku menitipkan Naruto-kun padamu… Tolong bahagiakan dia…

Salam sayang…

Hinata

.

.

.

Naruto-kun…

Apa kau baik-baik saja…? Apa kau sehat-sehat saja..?Apa Suna masih panas seperti biasanya…? Kau tidak membuat Kazekage kerepotan lagi seperti terakhir kali kan…?

Aku berharap semua jawaban dari pertanyaanku adalah ya…

Naruto-kun maafkan aku… Aku pergi… tolong jangan salahkan Tsunade-sama untuk kepergianku ini, aku memang harus pergi, hal ini tidak bisa dihindari. Tsunade-sama menepati janjinya untuk menahanku di Konoha selama Naruto-kun berada di Suna, dia bahkan menderita sakit kepala berat ketika terpaksa harus membuatku pergi kali ini.

Naruto-kun… Karena kita tidak sempat bertemu, melalui surat ini aku ingin menyampaikan terimakasih juga permohonan maaf padamu….

Terimakasih untuk semua yang telah Naruto-kun lakukan untukku selama ini, terimakasih karena telah memberiku kesempatan masuk ke dalam hidupmu... Menerima kasih sayangmu sungguh adalah kebahagian yang luar biasa… Aku bersyukur sempat merasakannya…

Selama ini aku telah meminjam banyak hal darimu… Semangatmu… Kekuatanmu… Senyummu... Tekatmu… Jalan ninjamu… Kau bahkan juga sudah meminjamkan padaku Cintamu…

Naruto-kun…. Terimakasih banyak…

Mohon maafkan aku atas keegoisanku… Keegoisanku yang telah membuat Naruto-kun dan Sakura-chan menderita… Selama ini aku tahu kalau Sakura-chan sangat mencintai Naruto-kun tapi aku diam saja… Aku juga tahu cinta Naruto-kun yang sebenarnya memang hanya untuk Sakura-chan seorang… Bukan untuk siapapun selain dia… Tolong maafkanlah aku karena telah menjadi penengah di antara kalian…

Hati Naruto-kun dan Sakura-chan akhirnya bertemu kan…? Aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkan betapa leganya perasaanku saat ini, ketika menulis surat ini… Meski tidak bisa menyampaikan secara langsung… ku harap dengan surat ini Naruto-kun bisa mengerti isi hatiku yang menginginkan dengan sangat kebahagiaan kalian…

Yang saling mencintai memang harus bersama kan Naruto-kun…! Berbahagialah… Untukku juga… Untuk menebus rasa bersalahku ini… tolong berbahagialah bersama Sakura-chan...

Kau akan selamanya menjadi panutan dan pahlawan untukku Naruto-kun…

Pengagummu…

Hinata

.

.

.

Sakura duduk termenung di sofa empuk berwarna hijau senada tirai dan matanya. Mata hijau itu tertunduk menatap pangkuannya sendiri dalam keheningan ruangan yang terasa membusuk. Hatinya bertanya-tanya sebanyak apa rasa sakit yang dialami Hinata selama ini. Surat untuknya yang di genggam erat-erat oleh Naruto saat ini memang tidak menunjukkan tanda-tanda bersedih ataupun tersakiti, namun sebagai seorang gadis dia mengerti kalau Hinata pasti lah terluka. Sakura tidak pernah mengira kalau Hinata ternyata juga mengalaminya, dia kira selama ini hanya dia lah sendiri yang bersedih ketika melihat Naruto berada di sisi Hinata, dia selalu menganggap dia lah yang menderita dan Hinata yang bahagia. Melihat Hinata bersama Naruto selalu membuat hatinya sakit, penyesalan dan kekecewaan terhadap dirinya sendiri selalu dirasakannya. Karena dia dulu menolak Naruto, karena dia dulu mengabaikan pemuda itu, sehingga dia tidak berani untuk menyalahkan siapapun atas itu selain dirinya sendiri.

Tidak pernah terlintas dalam benak Sakura untuk merubah pengaturan yang sudah terbentuk, Hinata dan Naruto bahagia, lalu dia sendiri akan bersedih dan mencoba bergerak pergi, meskipun ternyata sangat sulit. Tidak pernah terlintas untuk mengucapkan kata cinta pada Naruto dan mengganggu keseimbangan yang telah terjaga. Tidak pernah, setidaknya sampai ketika dia melihat Naruto bersimbah darah datang kehadapannya. Kepanikan dan ketakutan akan kehilangan membuatnya menyadari hidup ini hanyalah sementara dan bisa berakhir kapan saja, bisa saja dia atau Naruto tiba-tiba menutup mata dan pergi tanpa pernah akan kembali lagi. Sungguh sayang rasanya jika hidup yang fana ini dilalui dengan kepura-puraan dan kebohongan, terlebih jika yang ia bohongi adalah dirinya sendiri. Ia mencium Naruto hari itu adalah murni spontanitas yang tidak bisa dibendung, niatnya hanyalah mengungkapkan dan mendengar jawaban pasti yang bisa ia jadikan pijakan untuk memulai langkah pergi. Tidak pernah terlintas keinginan untuk merebut posisi Hinata, sungguh… demi tuhan…

Kini duduk di ruangan ini, ia merasa senang sekaligus sedih. Sesuai penuturan Hinata, ruangan ini memang teramat menggambarkan dirinya, tidak ada yang bisa diucapkan untuk menggambarkannya hanya saja segala sesuatunya di ruangan ini seolah meneriakkan namanya keras-keras. Memposisikan dirinya sebagai Hinata, hati Sakura menjerit ketakutan, bahkan ia tidak berani membayangkannya. Memberanikan diri, Sakura melirik ke arah Naruto yang berdiri kaku di dekat jendela terbuka yang meniupkan udara yang terasa terlalu dingin. Mata Naruto memandang sekeliling, berulang-ulang, terus-menerus, wajahnya semakin memucat di setiap putaran jelajah matanya berakhir. Kedua belah tangannya menggenggam dua lembar kertas berisi tulisan tangan Hinata dengan sangat erat, seolah ia menggantungkan hidupnya pada genggaman itu.

Dia akhirnya menyadari, Naruto akhirnya bisa mengerti… percikan terkesiap di mata Hinata ketika pertama kali dia membawanya memasuki ruangan ini, akhirnya dia mengerti… mengapa gerakan tangan Hinata selalu terhenti sebentar setiap kali ia ingin mengganti air di vas bunga itu, akhirnya dia tahu kenapa Hinata kerap berdiri tercenung di depan jendela sambil melihat tirai hijau yang melambai itu bukannya pemandangan di baliknya. Akhirnya… akhirnya… akhirnya dia menyadari betapa brengseknya dirinya ini, wajah Naruto mengerut sedih menahan tangis, napasnya ia loloskan lewat rintihan dari bibirnya, hingga matanya bertemu dengan mata Sakura yang menatapnya sendu, juga dengan tatapan sedih dan menderita.

"Aku juga menyakitimu kan… Iya kan Sakura-chan..!?" Naruto mengernyitkan kening, dia merasa sakit luar biasa. Sakura juga pasti tersakiti oleh semua ini, semua perlakuannya yang ragu-ragu terhadap kedua gadis ini. Sakura tidak tahu harus menjawab apa, akhinya dia hanya diam saja.

"Hinata bilang dia ingin kita bahagia…!" Naruto berkata pilu, mengatakan dan memikirkan itu membuatnya merasa seperti monster tak berhati.

"Tapi aku… aku tidak bisa…!" Perkataan Naruto di tanggapi dengan pembenaran diam oleh Sakura. Dia pun tidak akan bisa, dia akan terus mengingat Hinata setiap berada di sisi Naruto, wajah Hinata tidak akan bisa dia enyahkan dari ingatannya. Hubungan ini tidak akan pernah bisa berhasil, sungguh… tidak akan.

"Aku mencintaimu Sakura-chan… tapi aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak mencintai Hinata juga!" Naruto teramat kecewa pada dirinya sendiri. Hingga saat ini dia masih tidak tahu apa kata hatinya. Saat ini bersama Sakura, yang ada di kepalanya hanyalah Hinata seorang, dia tidak menginginkan siapapun selain gadis berambut indigonya. Namun seandainya yang berada di sini saat ini adalah Hinata dia tidak akan berani memastikan kalau dia tidak akan memikirkan Sakura juga. Pecundang egois yang tengah kebimbangan itulah dirinya, kami-sama mohon ampuni dirinya, Naruto berdoa bergumam.

"Aku tidak pantas untuk berada di sisi kalian berdua, tidak pantas menerima cinta kalian… Aku tidak pantas...!" cukup sudah kerusakan yang ditimbulkannya kepada dua gadis ini, dia tidak ingin memperburuknya lagi. Ia akan menerima dengan senang hati rasa sakit untuk merelakan mereka berdua.

"Tolong maafkan aku Sakura-chan….!"

'Maafkan aku Hinata….'


Diikuti oleh Shizune, Hinata berjalan pelan menyusuri roka menuju ruangan di mana Tsunade menunggunya untuk memantau keadaannya. Seminggu sekali, sang Hokage akan datang untuk memastikan keadaannya di pengasingan ini. Tsunade berdiri tenang menunggu langkah pelan Hinata sampai ke tempatnya. Dari jendela besar yang terbuka lebar mengarah ke taman di tengah-tengah kediaman, diperhatikannya langkah hati-hati Hinata juga senyum gadis itu yang sepertinya tidak pernah pudar dari bibirnya. Senyum manis dan anggukan kepala ringannya disambut dengan anggukan bahagia dari semua ninja bayaran yang berjaga di sepanjang roka, Tsunade bisa memastikan kalau gadis ini memiliki kemampuan istimewa yang bisa membuat semua orang menyayanginya hanya dalam waktu singkat. Karena ini pula Hiashi dan Tsunade diam-diam bersyukur, mereka tidak harus menambah lagi daftar panjang kekhawatiran mereka dengan kemungkinan ninja-ninja bayaran itu akan membongkar keadaan hanya untuk bayaran yang lebih tinggi. Bisa mereka lihat sendiri kalau para ninja berwajah sangar ini 'memuja' Hinata.

"Selamat sore Hokage-sama!" Suara sapaan ramah Hinata mengiringi langkah kakinya yang semakin mendekat. Wajah Tsunade berubah masam ketika melihat Hinata dari jarak yang cukup dekat, gadis ini semakin pucat dan sedikit lebih kurus dibanding seminggu yang lalu. Apa Shizune tidak memberikannya pil penambah darah?

"Selamat sore Hinata, Bagaimana keadaanmu?" Tsunade beranjak dari jendela untuk duduk di depan sebuah meja kayu yang bertengger di tengah-tengah ruangan.

"Saya sangat baik, Tsunade-sama!" Hinata berkata sambil berusaha duduk manis di depan Tsunade, perutnya yang semakin membesar membuatnya kesulitan untuk duduk dan berdiri tanpa bantuan orang lain. Shizune hati-hati membantu ibu hamil itu untuk duduk.

Tsunade tanpa membuang-buang waktu lagi segera mengulurkan tangannya untuk memeriksa denyut nadi Hinata juga bayinya, kemudian beralih menyentuh perut membuncit itu dengan tangan cakranya. Selain kepucatan yang semakin bertambah, Hinata dan bayinya berada dalam kondisi baik, ia mengangguk-angguk tidak bisa menyembunyikan kelegaannya. Wajah Hinata berseri-seri menyadari kondisinya sendiri yang luar biasa bugar hari ini, menganggap perasaan melayang ketika bangun tiba-tiba di pagi hari sebagai sesuatu yang tidak mengganggu dan tidak berbahaya.

"Kau dan bayimu stabil, hanya saja… kau 'masih' mengalami kurang darah!" Tsunade berkata pada Hinata menekankan kata 'masih' dua kali lebih tegas dari pada kata lainnya.

"Apa kau tidak memberinya pil penambah darah Shizune?" Tsunade bertanya memicingkan mata pada gadis berambut coklat itu.

"Saya mengonsumsinya rutin Tsunade-sama… Shizune-san merawat saya dengan baik!" Hinata yang merasa tidak enak menjawab untuk Shizune, sambil melirik Shizune yang seperti sedang menahan diri untuk mengatakan sesuatu pada Tsunade.

"Lalu kenapa kau masih terlihat seputih kertas?" Tsunade bertanya mendelik, lelah sendiri ketika mengingat tanggapan seperti apa yang akan diterimanya dari Hiashi jika dia mengabarkan kondisi kekurangan darah Hinata yang semakin memburuk.

"Hinata mengalami sulit tidur dimalam hari nona Tsunade! Kami sudah mengusahakan berbagai hal untuk menghentikannya namun…" Shizune berhenti bicara dan melirik prihatin pada wajah pucat gadis yang sedang menggigit bibir. Lingkaran hitam di bawah mata Hinata terlihat berbanding terbalik dengan keputihan kulitnya.

Hinata sedikit menunduk ketika Tsunade memandanginya tajam, takut kalau wanita yang lebih tua itu bisa menelaah hatinya. Dia tidak bisa tidur dan terus saja terbangun dimalam hari karena kerinduan konstan pada sosok Sasuke. Kerinduan yang berlimpah ruah tidak wajar, sangat ingin bertemu sampai-sampai perasaan itu terasa sangat menyiksa. Sangat ingin bertemu Sasuke… demi kami-sama… dia sangat merindukan ayah dari bayinya itu. Tsunade menyelidik, berusaha mencari celah untuk bisa membaca apa yang mengganggu gadis ini, hal ini tidak boleh berlangsung lebih lama lagi. Kurang darah yang dibiarkan berlarut-larut bisa merusak organ-organ penting juga membebani kerja jantung.

"Apa yang mengganggumu Hinata?" Tsunade bertanya lembut, menyadari nada memerintah tidak akan membuahkan hasil ketika menghadapi Hinata, yang akhirnya baru disadarinya ternyata memiliki sifat keras kepala di balik sosok lembutnya, terlebih jika itu menyangkut bayinya.

"Tidak ada… sungguh!" Hinata berusaha meyakinkan. Sebenarnya selain kerinduannya pada Sasuke, pada malam-malam itu cakra bayinya menunjukkan sedikit pergolakan, hanya sedikit, dia bisa mengatasinya. Kalau dua orang ini sampai tahu pasti akan terjadi kegemparan. Dia tidak memerlukan itu saat ini, saat di mana ayahnya hanya perlu satu kata dari Tsunade untuk memutuskan melenyapkan bayinya tanpa berpikir dua kali. Hinata tidak ingin itu terjadi.

Gugup menunggu tanggapan Tsunade, Hinata menggigit bagian dalam pipinya takut, dua orang ini begitu mendukungnya namun di saat bersamaan juga terasa mengintimidasinya, sedikit saja ada celah yang ditunjukkannya maka mereka akan memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan panjang lebar. Bahkan ringisan kesakitan yang teramat pelan pun tidak bisa luput dari pendengaran Shizune, Hinata tahu kalau mereka begitu untuk kebaikannya juga, tapi Hinata tidak ingin kehilangan bayinya.

"Apa kau ingin bertemu dengan Naruto?!" Tanpa di sangka-sangka oleh Hinata justru kalimat itu lah yang meluncur dari bibir Tsunade. Tsunade memikirkan hal ini sepanjang minggu, Naruto uring-uringan. Misi-misi singkat dilaksanakan pemuda Uzumaki itu dalam sekejap, kemudian terus-menerus menuntutnya untuk memberikan padanya misi lagi dan lagi. Terlihat sekali kalau dia juga mengalami hal yang sama dengan Hinata, lingkaran hitam di mata anak itu hampir menyaingi milik gara.

"Jika kau ingin bertemu dengannya aku bisa bicara pada ayahmu!" Sang Hokage tidak tega melihat Naruto lebih lama lagi seperti itu.

Hinata mengerutkan kening, Tsunade pasti berpikir kalau dia tidak bisa tidur karena memikirkan Naruto. Dia memang mengkhawatirkan keadaan sang pahlawan Konoha itu, tapi tidak pernah sebesar perasaannya merindukan Sasuke, entah mengapa ini membuat Hinata merasa bersalah lagi pada Naruto. Lagi pula… Hinata menunduk dan mengelus perutnya, 6 bulan, sekarang perutnya sudah benar-benar menyembul nampak. Meski enggan mengakuinya, sebenarnya Hinata takut akan reaksi Naruto ketika mengetahui kehamilannya, apa dia akan marah..? Kecewa…? Atau terluka..? mau bagaimanapun juga Hinata masih menjadi kekasih Naruto ketika hal itu terjadi, di tambah lagi bayi ini adalah anak sahabatnya sendiri. Hinata bergidik tidak ingin mengingat rasa bersalah itu lagi. Benaknya cepat-cepat menenangkan dengan mengingatkan padanya kalau hubungan mereka sudah berakhir dengan baik-baik, surat yang dititipkannya pada orang tua Sakura pasti sudah lama sampai dan dibaca oleh Naruto juga Sakura. Mereka pasti sudah bahagia sekarang, hati Hinata bergumam.

"Anak itu pingsan di tengah jalan pagi ini!" kata-kata Tsunade membuat Hinata tersentak karena kaget, Shizune pun ikut ternganga ketika mendengar penuturan Tsunade. Apa yang anda maksud tadi benar Naruto Uzumaki? Yang benar saja…?!

"Apa Naruto-kun baik-baik saja?" Hinata menggigit bibir gelisah.

"Dia tumbang karena memaksakan diri. Hanya kelelahan, tidak perlu khawatir. Saat aku pergi meninggalkannya untuk datang ke sini, dia masih tertidur pulas seperti orang mati. Tck.. anak itu.. aku tidak tahu sudah berapa hari dia tidak tidur.." Merasa bertanggung jawab penuh atas kondisi menyedihkan pemuda itu, Sang Hokage sendiri kelimpungan berlari tunggang langgang menuju rumah sakit ketika mendengar kabar bocah kesayangannya itu tumbang kehabisan tenaga di tengah jalan.

"Apa yang terjadi pada Naruto-kun?" Ada apa..? Bukankah seharusnya sekarang Naruto-kun dan Sakura-chan sudah bahagia. Ini di luar scenario 'perpisahan membahagiakan semua pihak' yang Hinata inginkan. Hinata kebingungan.. apakah dia menuliskan sesuatu yang salah di suratnya?

"Satu bulan ini anak itu terus mengambil misi tanpa beristirahat. Kalau aku menolak memberikannya misi, dia akan menghancurkan pintuku untuk kesekian kalinya..!" Tsunade menghela napas lelah, sebenarnya lebih buruk.. bocah itu berteriak-teriak marah memaksanya memberi tahu keberadaan Hinata jika dia menolak memberikan misi.

'Jangan menyiksaku begini… berikan aku misi nenek..! Kalau tidak, beri tahu aku dimana Hinata…! Sialan..!' Naruto menyumpah dengan kosa kata kotor baru setiap harinya, juga jangan lupa dengan tingkat kegeramannya yang terus meningkat di setiap kali perdebatan mereka terjadi, Tsunade lelah menghadapi bocah itu.

"Dia tersiksa karena sangat ingin bertemu dan bicara denganmu…!" Tsunade mengakui ia telah salah memperhitungkan 'arti Hinata' di dalam hidup Naruto, terang sekali wanita ini bernilai lebih dari yang mungkin dibayangkan oleh Naruto sendiri.

Hinata menangis sekarang, hormone kehamilan tidak membantu kondisinya sama sekali. Rasa rindu pada Sasuke yang teramat besar, yang juga membuat rasa bersalahnya pada Naruto terasa semakin mencekik leher, lalu rasa mual ingin muntah yang tiba-tiba mucul ditrimester yang salah membuat Hinata merasa kewalahan. Dia sangat mudah sedih dan menangis, segala sesuatu di sekitarnya selalu ditanggapi sang nona Hyuuga dengan ekstrim beberapa hari terakhir ini. Shizune langsung panik, ia segera mencoba menenangkan si ibu hamil yang sesenggukan hampir tidak sempat bernapas itu.

"Hinata… tenanglah..! Tarik napas perlahan…." Shizune dan Tsunade bertukar lirikan sambil berusaha menenangkan perasaan sensitif Hinata. Sama-sama menyimpulkan seenaknya penyebab kehisterisan ini tanpa bertanya.

"Buang pelan-pelan…!" Beberapa kali mengulangi itu, Hinata kembali bisa bernapas tanpa tersedak oleh sesenggukan tangisnya sendiri. Tapi tidak berselang lama, ia kembali mengingat perasaan jahat dan berkhianat pada Naruto, Hinata akhirnya menangis lagi. Tsunade menggeram kesal pada dirinya sendiri ketika melihat Hiashi menatapnya tajam menunggu penjelasan di ambang pintu. Oh… astaga… tidak kah ada seseorang yang tahu kalau dia sudah melewati hari yang cukup berat sebelum sampai di sini..? Brengsek… Hiashi terlihat seperti berniat mencekiknya sekarang.

.

.

.

"Bagaimana kondisi putriku?" Hiashi bertanya kaku pada Tsunade setelah berhasil membuat Hinata tenang dan tertidur. Dia dan Tsunade saat ini tengah duduk di teras menghadap taman di kediaman persembunyian ini. Kue dan teh hijau di hidangan Maki untuk mereka, sang pengurus rumah tangga itu ikut serta menemani Hinata tanpa perlu menarik perhatian siapapun di kediaman utama.

"Dia stabil, hanya saja masih mengalami kurang darah. Mungkin karena kurang tidur, aku dan Shizune akan berusaha lebih keras untuk menghentikannya!" Hiashi menatap tidak berkedip. Tsunade bertingkah seolah ini bukan masalah besar, yah… setidaknya dia harap begitu.

"Tadi.." Hiashi memulai, matanya menyipit curiga pada sang Hokage.

"Suasana hati yang berayun-ayun membuatnya histeris, dia akan melewati fase ini segera…!" tukas Tsunade, menarik segera umpan yang dilempar ke perairan berbahaya. Dia tidak tahu ikan jenis apa yang akan memakan umpan dan menyeretnya tenggelam, dia tidak mau ambil resiko.

"Apa ini benar-benar tidak apa-apa untuk diteruskan?" Hiashi yang masih di rundung keraguan bertanya pelan. Apa benar tidak akan apa-apa kalau Hinata terus mengandung bayi itu?

"Dari apa yang kubaca di catatan medis kasus terdahulu.. hmm entahlah Hiashi.. aku tidak bisa tahu, kondisi Hinata saat ini sama sekali berbeda. Dia tidak kesakitan, cakra bayinya pun begitu stabil dan tenang. Tidak ada tanda-tanda pergolakan ataupun apapun juga yang bisa ku deteksi." Hiashi menatap Tsunade yang terlihat keheranan namun lega.

"Catatan terdahulu kasus ini menuliskan rasa sakit tiba-tiba menyerang ketika kandungan memasuki usia 3 bulan. Rasa sakit itu berasal dari dalam rahim yang di akibatkan oleh gejolak cakra bayi yang tidak biasa. Mengamuk dan melukai sang ibu dari dalam tubuhnya!" Tsunade bisa melihat kernyitan tidak nyaman di kening Hiashi ketika mendengar ini.

"Dan catatan itu juga masih hilang setengahnya. Penghancuran desa oleh Pain waktu itu membuat kami kesulitan melacak keberadaan sisa gulugan itu. Entah terlempar kemana benda itu…!" Tsunade berdecak kesal, sudah mati pun si manusia tindik itu masih bisa membuatnya geram.

"Aku tidak akan mengatakan kehamilan ini tidak beresiko Hiashi, hanya saja kondisi saat ini menunjukkan kalau Hinata dan bayinya sangat baik-baik saja!" Sepanjang cerita Tsunade, Hiashi hanya diam mendengarkan, pria paruh baya itu terlihat berpikir keras menimbang-nimbang kembali keadaan ini.

Hiashi merasakan firasat mengganggu yang tidak bisa di enyahkan, bisikan itu mengatakan kalau semua akan memburuk sebentar lagi. Tapi perasaan ingin menyenangkan Hinata berseru lebih keras dari di dalam dirinya, membuat Hiashi terpaksa nekat bergelantungan tidak pasti di sehelai benang tipis yang transparan. Pegangannya pun tidak kokoh dan bergetar, kadang erat, kadang melonggar. Senyum di bibir putri manisnya lah satu-satunya penenang kegelisahan Hiashi, meski dia tidak menunjukkannya secara terang-terangan di depan semua orang, Hiashi sesungguhnya sangat menyayangi anak-anaknya. Hanabi dan Hinata adalah arti hidupnya.

"Tapi jika terjadi sesuatu, meski sekecil apapun tanda itu. Aku akan segera memberitahumu Hiashi!" Ya ini lah… 'Sebuah Janji'… itu yang dibutuhkan hiashi… dia memerlukannya untuk terus bertahan.

"Terimakasih Hokage-sama..!" Tsunade mengernyit terkejut ketika melihat Hiashi tiba-tiba membungkukkan kepala sangat rendah di depannya. Pria ini benar-benar berniat membagi beban dengannya… oh.. Tsunade menghela napas lelah yang entah mengapa terkesan putus asa. Hiashi mengangkat kepalanya tiba-tiba, dengan gerakan cepat ia menoleh lantas memandang tajam ke sisi gelap yang mulai terbentuk di taman karena matahari yang mulai beranjak pergi.

"Hanabi…! Apa yang kau lakukan disini?" Hiashi berkata tegas. Tsunade yang tidak menyadari kehadiran Hanabi sebelumnya pun jadi terkejut, anak ini menyembunyikan cakranya dengan sangat baik. Perlahan-lahan Hanabi muncul dari kegelapan, menunjukkan sosoknya yang terlihat takut pada tatapan ayahnya.

"Saya ingin mengunjungi Hinata!" Hanabi menjawab dan berjalan semakin mendekat pada kedua orang yang memandangnya dengan tatapan tidak setuju. Dia merindukan Hinata, ini sudah satu bulan lamanya sejak terakhir kali dia melihat kakanya itu.

"Apa kau sadar kalau kau sudah bertindak tidak hati-hati Hanabi? Seseorang bisa saja mengikutimu!" Seorang penerus sudah pasti menjadi pusat perhatian segala tingkah polah dan kegiatannya. Hiashi geram oleh kecerobohan putri bungsunya ini.

"Saya sudah berhati-hati ayah.. Saya yakin tidak ada yang mengikuti!" Dia sudah memastikan semuanya aman, tidak mungkin dia ingin membahayakan Hinata. Hanabi gelisah karena mengkhawatirkan kakaknya, dan apa yang didengarnya barusan sama sekali tidak membantu untuk menenangkan hatinya. Bayi ini mungkin akan menyakiti Hinata…? Oh kami-sama… mohon jangan lakukan itu.

"Berkunjung sesekali kurasa boleh saja.. asal terus berhati-hati dan waspada!" Tsunade yang akhirnya mengingat kalau dia sendiri pun juga ingin menghadirkan seseorang kekediaman ini berucap membela Hanabi. Kalau Hanabi boleh maka Naruto mungkin juga tidak apa-apa kan..? Meraih gelas teh hijaunya, Tsunade melirik Hiashi yang masih melotot pada Hanabi.

Setelah bertarung lewat tatapan mata cukup lama dengan Hanabi, Hiashi akhirnya menyerah, "Pergi… temuilah kakakmu!" Hanabi tidak perlu di beri tahu dua kali, secepat kilat ia berlari menghilang ke balik pintu shoji yang diam-diam dia lirik sejak tadi.

"Itu terlalu beresiko…!" Hiashi menerawang jauh setelah kepergian Hanabi. Tsunade meletakkan lagi gelasnya setelah menyesap teh hangat itu ringan.

"Tetua Konoha mulai curiga padamu.!" Hiashi berpaling menatap Tsunade yang sedang menatapnya dengan tatapan serius.

"Apa..?" bingung dan terkejut, Hiashi bertanya sambil memandangi sang Hokage. Curiga..?

"Kau sering menghilang tanpa jejak dan kabar selama berhari-hari akhir-akhir ini! Dan pemberontak clan mu itu bertindak lebih berani dari yang kita prediksi. Mereka menghembuskan berita miring tentangmu ke dewan tetua Konoha. Kau dituding sedang berusaha merancanakan sesuatu yang bisa mengganggu kedaulatan Konoha oleh mereka." Yah… mereka pintar… buruknya. Hiashi menggeram marah, kepala mereka harusnya segera dilayangkan dari tempatnya sekarang juga.

"Dewan tetua menolak memberi tahuku dari siapa mereka mendapat kabar itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk membelamu… tidak mungkin kan aku mengatakan keadaanmu yang sebenarnya, setidaknya sampai pemberontak-pemberontak itu bisa kau bereskan." Tsunade berkata malas, ia merasa lelah ketika mengingat lagi adu argument yang dilakukannya dengan dewan tetua.

"Penyelidikanku mengarah pada Ogura Hyuuga! Tapi aku belum bisa menemukan bukti kuat mengenai ini, juga belum menemukan cara yang paling baik untuk menyelesaikannya. Sekarang aku masih belum bisa berbuat apa-apa…!" Hiashi mengeram di dalam dadanya, mengutuk Ogura penjilat menjijikkan itu. Di depannya orang itu seperti bersedia menjilat telapak kakinya meski dipenuh lumpur dan kotoran, sungguh penjilat sejati.

"Entah bagaimana dia melakukannya aku tidak tahu…, tapi para bunke sangat menyukainya…!" Hiashi menunjukkan wajah sedih disertai kecewa. Apakah selama ini kepemimpinannya begitu membuat para bunke tidak senang..?

"Kata-kata manis, iming-iming magis, dan senyum indah dari hati busuk nan licik…! Semua hal yang tidak kau lakukan!" Tsunade mengatakan santai. Hiashi untuk sesaat tidak bisa membedakan itu sebuah pujian ataukah justru sebuah hinaan untuknya.

"Aku berani menjamin dengan kepalaku, jika seandainya kau memang bisa di tumbangkan…" Tsunade berandai-andai, sambil melirik Hiashi.

"Alih-alih menepati janjinya untuk melaksanakan pemilihan pemimpin clan yang demokrasi, dia pasti akan merapalkan jutsu segel Hyuuga kepada semua anggota clan selain kepala kosongnya sendiri… tepat lima detik setelah dia mempelajarinya!" Tsunade berkata yakin dan percaya diri. Hiashi membenarkan dalam hati.

"Mulai sekarang kau harus semakin berhati-hati lagi Hiashi…!" Kata Tsunade di tanggapi dengan anggukan tegas dan pasti dari Hiashi.

Setelah beberapa kali berganti subjek pembicaraan ke masalah yang lebih ringan, Tsunade akhirnya berani membawa subjek tentang keadaan Naruto pada Hiashi. Sosok ayah itu terlihat mengernyit berpikir lagi, mempertimbangkan alasan-alasan yang di utarakan oleh Tsunade. Dengan sebuah anggukan menyerah, dia berucap mengabulkan dengan sebuah syarat.

"Pastikan Hinata menginginkan pertemuan ini dan bisa menghadapinya tanpa histeris seperti tadi lagi!"

'Aku berani bertaruh, jika ada yang akan histeris pasti bukan Hinata orangnya…!' Tsunade bersungut-sungut di dalam hati.

.

.

"Dia tidur.." Hanabi berbisik pada Shizune sambil memandang wajah tenang Hinata yang masih terlelap dari sisi tempat tidur.

"Apa terjadi sesuatu…?" Hanabi mengusap air mata yang meleleh dari ujung mata Hinata yang tertutup. Hinata menangis dalam tidur, ada apa?

"Dia sepertinya merindukan seseorang…!" Shizune balas berbisik lembut pada Hanabi. Setiap malam Shizune mendengar gadis ini tersentak bangun dari tidurnya, kemudian menangis sambil bergumam 'Aku ingin bertemu denganmu…, Aku merindukanmu…'

"Naruto?" Hanabi menebak… tentu saja.. benaknya berasumsi pasti.

'Hinata untuk ulang tahunmu kali ini aku akan memberikanmu hadiah mahal… cincin manis bertahtakan amethyes terindah yang pernah ada…!' Hanabi teringat janji yang pernah di katakannya pada Hinata bertahun-tahun yang lalu.

'Safir biru saja… Safir biru juga bagus...' Hinata tersenyum malu-malu dengan wajah bersemu ketika itu, dan Hanabi tahu betul alasannya…

'Yah Safir biru.. Hinata… akan ku pastikan kau mendapatkan safir terindah itu, jadi tolong jangan menangis lagi. Aku akan menepati janjiku!' Hanabi membulatkan tekadnya. Apapun akan di lakukannya.

.

.

Naruto berbaring telentang menatap langit-langit kamar rumah sakit tempatnya diminta beristirahat. Nenek menyebalkan itu sangat berlebihan menurutnya, Anbu bertopeng terlihat berjaga siaga di pintu dan jendela ruangan ini. Mati-matian mencoba pun matanya tidak bisa lagi dia perintah untuk melanjutkan tidur, jika sudah terjaga dia tidak akan bisa lagi menutup mata. Uhhkkk…. Naruto benci ini… ia benci ketika diam begini. Banyangan Hinata yang tertusuk kunai… terkena jutsu… tergeletak tak bernyawa… firasat-firasat buruknya yang membunuhnya pelan-pelan. Bagaimana kalau Hinata tidak bisa kembali lagi? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya? Bagaimana kalau dia tidak sempat mengatakan permohonan maafnya? Bagaimana kalau dia tidak bisa lagi melihat senyum manis itu?

"Matilah aku!" Naruto berteriak prustasi sambil mencengkram erat rambut kuning jabriknya. Anbu yang berjaga menegang menengok pada Naruto melalui jendela kaca di pintu. Mereka hanya pajangan, penegasan dari sang Hokage pada anak itu kalau dia diharapkan tetap diam dan beristirahat di dalam sana. Jauh dilubuk hati, mereka semua menyadari, jika pemuda itu benar-benar ingin kabur seujung rambut pun mereka tidak akan bisa menahannya.

"Mati kau Naruto…!" Naruto bangun dan duduk mengerang dia atas tempat tidur rawatnya. Sekarang ini Naruto baru benar-benar menyadari sudah berapa jauh Hinata di hadirkannya ke dalam hidupnya. Hampir di setiap sudut di kediamannya mengingatkannya akan keberadaan gadis itu di sana, hampir di setiap kebiasaan kecil yang dilakukannya ia bisa mengingat suara lembut Hinata memujinya, menenangkannya, menyemangatinya, mengucapkan sesuatu padanya. Bahkan melihat nasi saja dia akan teringat pada gadis itu.

'Nasi sangat enak di santap selagi hangat Naruto-kun..! Silahkan…!' Naruto tertunduk terdiam, kekacauan apa yang sudah disebabkannya sekarang? Lihatlah… semua ini adalah kekacauan. Ada dua gadis, dua hati, lalu sekarang juga ada dua luka, dan seorang pecundang sepertinya.

'Kita sama-sama bersalah… kita semua… kau, aku bahkan Hinata…! Kita semua telah bertindak egois, kau dengan kebimbanganmu, Hinata dengan kediamannya, dan aku dengan pernyataan cintaku...' kata-kata Sakura beberapa saat yang lalu terdengar lagi di telinganya.

'Tidak ada di antara kita yang sepenuhnya salah, atau sepenuhnya benar. Hati manusia memang begini, itu tidak bisa di pungkiri. Hinata ingin kita bahagia, itu artinya dia telah merelakanmu Naruto. Dia ingin kau bahagia, begitu juga denganku. Jika kau tidak bisa bersamaku aku mengerti, ini memang berat untuk kita semua. Aku menghormati keputusanmu… Aku berharap kita semua masih bisa kembali seperti dulu, seperti sebelum cinta aneh ini mulai merubah semuanya…!' Kata-kata Sakura yang terdengar tenang dan dewasa membuat rasa bersalah Naruto sedikit terangkat.

'Kita berdua berhutang maaf pada Hinata… Jadi berhentilah bersikap seperti ini… Hinata akan baik-baik saja, dia kuat, bukankah kau percaya padanya?' Naruto mengangguk, menjawab pertanyaan Sakura yang telah berlalu berjam-jam lamanya.

"Aku percaya padamu Hinata…!" Naruto berbisik rendah, yang sesungguhnya tidak dia percayai adalah hatinya sendiri.

Trak… pintu ruangan terbuka lebar menampakkan Tsunade yang terlihat kusut lelah di ambang pintu dengan Sakura yang tersenyum kecil di sisinya.

"Kau sudah bangun!? Bagaimana tidurmu?" Tsunade bertanya sambil bergerak mendekat.

'Mimpi buruk!' Naruto menjawab di dalam hati, Hinata terlihat memeluk Sasuke tadi. Demi tuhan… apa-apaan…? Tidak mungkin…! Iya kan..? Benarkan..? Tidak mungkin.

"Tidurku nyenyak…! Sekarang biarkan aku keluar dari sini sekarang juga!" Naruto melompat turun dari tempat tidur segera beranjak menuju pintu.

"Silahkan…!" Tsunade berucap malas.

"Kalau begitu hanya kau saja yang akan ku pertemukan dengan Hinata, Sakura!" Kata-kata Tsunade ini berhasil membuat telinga Naruto berdiri tinggi.

"Benarkah…? Nenek cepat beri tahu aku dimana Hinata!" Sejak kapan Naruto jadi secepat ini, Tsunade takjub mamandangi Naruto yang sudah berdiri di depannya dalam sekejap. Sakura pun ikut tersenyum lega, semangat terlihat kembali berkobar lagi di mata biru pujaan hatinya. Diam-diam dia berpikir, apa benar Naruto masih mencintainya?

"Tenang lah sebentar!" Tsunade menepuk pundak Naruto yang terlihat bergetar karena bersemangat.

"Sebelum kalian bisa menemuinya…" Tsunade memberikan isyarat pada Anbu yang berjaga untuk menutup pintu. "Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui terlebih dahulu!" sambung Tsunade sambil menatap Sakura dan Naruto bergantian.

"Tentang apa?" Naruto bertanya tidak sabar.

"Tentang kondisi Hinata…!" Tsunade mengambil sebuah kursi dan mendudukinya santai, hari ini merupakan hari yang lumayan melelahkan untuknya. Bicara sambil berdiri? Oh… jangan kau berani-berani memintanya.

"Apa Hinata baik-baik saja..?" Sakura bertanya khawatir, sementara Naruto tiba-tiba bisu ketakutan.

"Dia baik-baik saja… Jangan khawatir, dia sehat, tidak kurang suatu apapun!", 'Justru bertambah!' Tsunade menambahkan di dalam kepalanya. Naruto dan Sakura menghembuskan napas lega bersamaan.

"Sebulan ini… Hinata sebenarnya tidak sedang menjalankan misi di luar Konoha.. Itu misi fiktif dan tidak pernah ada! Selama ini dia masih ada di Konoha..!" Naruto dan Sakura memandang Tsunade aneh, seolah ia berbicara dengan bahasa dari dunia lain yang tidak mereka mengerti.

"Dengar… " Tsunade memijat pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, bertanya pada dirinya sendiri apakah dia sudah benar-benar siap..? Dari mana dia harus memulainya…? oh… bagaimana kalau yang terburuk lebih dulu..? Tahu pepatah…'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian' kan..?

"Hinata tengah mengandung…!" Sekarang kedua anak itu memandangnya seakan dia menumbuhkan mulut kedua di wajahnya. Kemudian Sakura menoleh pada Naruto dengan kecepatan yang hampir membuat lehernya terkilir, sedangkan Naruto membatu memucat seketika.

"Bayi milik…." Tsunade… bersiaplah… selanjutnya akan lebih buruk lagi.

"Sasuke Uchiha….!" Naruto dan Sakura pasti berpikir dia gila sekarang ini.

"Apa….!?"

.

.

Langkah kaki Naruto bergetar-getar seperti orang kelaparan, wajahnya hampir seperti orang yang sudah menahan napas lebih dari tiga puluh menit, membiru kehijauan. Sakura mengernyit sepanjang jalan, perutnya terasa mual luar biasa. Dua kepala itu sama-sama menggumamkan pemikiran yang sama, 'ini semua salah ku!' Tanpa sepatah katapun kedua anak yang terguncang itu berlari teratur mengiringi Tsunade yang memimpin jalan. Sesekali bisikan untuk tetap waspada dihantarkan darinya oleh angin ke telinga Naruto dan Sakura, situasi rumit ini membuat kepala berambut merah muda dan kuning itu berdenyut-denyut sangat tidak nyaman. Misi itu adalah awalnya, dan awal misi itu adalah mereka, Sakura mengigit bibir agar tidak menangis, sementara Naruto terus berlari tanpa berpikir, otaknya beku.. percayailah itu. Mereka melompat tinggi melewati sebuah segel transparan, kemudian mendarat di depan sebuah kediaman yang terlihat elok nan rupawan. Di bawah cahaya bulan, rumah itu terlihat tenang dan nyaman, menguarkan hangatnya suasana 'rumah' yang menjanjikan perlindungan. Ya… perlindungan sungguhan, mengingat banyaknya mata yang menyorot mereka dari berbagai penjuru di kediaman itu.

"Hinata sudah tidur lelap sekarang…! Jangan berharap untuk menemuinya malam ini, Hiashi mungkin akan memenggal kepala kalian jika kalian berani-berani memintanya!" Tsunade terdengar menggeram kesal dari balik punggungnya. Anak-anak keras kepala ini bersikeras untuk segera pergi menemui Hinata, sudah tidak mampu lagi untuk menunggu esok hari, karena jika menunggu sampai besok, mereka harus menunggu sang Hokage menyelesaikan tugasnya dulu sebelum bisa mengantarkan mereka ke sini. Sosok Hiashi terlihat muncul dari balik pintu depan rumah itu, wajahnya menunjukkan ekspresi terganggu yang sangat jelas.

"Ada apa ini Tsunade-sama?" Dan dia juga tidak repot-repot menyembunyikan nada kesal di kalimatnya ini.

"Apa kau punya tiga kamar kosong lagi, Hiashi..? Kami harus menginap!" Mendengus halus, Hiashi mengangguk pelan dan berbalik masuk. Sepenuhnya juga menyadari nada kesal di kata-kata Tsunade yang jelas kelelahan ini.

"Silahkan…!" Gumamnya memimpin jalan memasuki rumah itu.

Sakura dan Naruto sejak tadi tidak bersuara sedikitpun, tegang dan kaku, tidak sekalipun menatap wajah satu-sama lain. Berjalan menyusuri roka menuju kamar yang disediakan Hiashi secara kilat untuk mereka, meski mereka tahu persis kalau malam ini mereka tidak akan bisa tidur.

.

.

"Ini semua salahku Naruto… maafkan aku…!" Hanabi mengernyit ketika mendengar suara yang lumayan akrab di telinganya dari ujung lorong. Mungkin dia akan mengurungkan niatnya untuk menyelinap ke kamar Hinata, dia penasaran dengan percakapan itu, lagi pula tadi sepertinya suara wanita ini menyebutkan nama 'Naruto', mati pun dia harus dengar ini tentang apa. Suasana malam yang hening membuat acara menguping Hanabi menjadi lebih gampang untuk di lakukan.

Dengan berjingkat-jingkat Hanabi mendekat ke arah datangnya suara mereka. Dan di sanalah, di tepi roka menghadap taman tepat di depan kamar Hinata, Naruto terlihat berdiri mematung memandang pintu yang tertutup bersama seorang gadis berambut merah muda di sisinya.

"Naruto dan Sakura..? sedang apa mereka di sini..?" Hanabi berbisik pelan pada dirinya sendiri, lagi pula kemana penjaga-penjaga itu? wah.. besok sepertinya dia punya alasan agar bisa berlama-lama di sini, untuk memarahi para penjaga tidak becus itu, tentu saja.

Naruto menggelengkan kepalanya tegas "Ini adalah salahku… akulah yang membuat ini semua terjadi…!" Naruto terdengar mencicit lirih, sambil menatap pintu itu seolah berharap tatapan matanya bisa melubanginya.

"Bukan… kalau saja waktu itu aku tidak menyatakan cinta padamu, jika saja aku tidak menciummu hari itu… Hinata tidak akan pergi menjalankan misi itu dan dia tidak akan bertemu dengan Sasuke…! Kami-sama…. Maafkan aku…!" Mata Hanabi membulat menyeramkan mendengar perkataan Sakura.

"Kalau saja hal itu tidak pernah terjadi, kekacauan ini tidak akan menimpa Hinata…!" Sakura sesenggukan. Naruto berbalik dan mengusap lembut sisi bahu Sakura, berusaha menenangkan si gadis, meskipun hatinya juga dilanda perasaan yang sama.

"Shh… jangan menangis, kita berdua tahu… aku lah sumber petakanya…!" Naruto memeluk ringan tubuh Sakura yang bergetar hebat, pelukan dukungan untuk satu sama lain, berharap bisa meringankan rasa sakit penyesalan yang mereka rasakan.

"Kalian… menjijikkan…!" Hanabi berteriak geram melihat pemandangan di depannya. Matanya berkilat-kilat di bawah cahaya bulan, antara sangat ingin menangis dan mengamuk. Dua orang ini, bisa-bisanya berpelukan begitu erat ketika kakaknya saat ini mungkin saja sedang menangis merindukan salah satu dari mereka. Dan bahkan… di depan kamarnya…. Oh tuhan dia nyaris muntah. Naruto dan Sakura tersentak dan melepaskan pelukan mereka ketika mendengar teriakan Hanabi.

"Tidak tahu malu…. Kalin berdua… apa kalian tidak punya hati..?" Hanabi semakin geram ketika melihat Sakura dan Naruto saling menjauh salah tingkah.

"Hinata sedang menderita, sedangkan kalian berdua justru bermesra-mesraan di depan kamarnya… demi apapun di dunia ini… apa kalian tidak punya otak?" Hanabi mendesis benci, akhirnya mengingat kemungkinan Hinata akan terbangun dan melihat semua ini.

"Hinata sedang hamil... Apa kalian tahu bayi siapa? Huh?" Hanabi melotot tajam menatap Sakura dan Naruto yang membisu menatapnya.

"Bayi Uchiha Sasuke…! Kalian tentu tahu siapa dia… !" Hanabi menumpahkan segala kekesalannya, ingin menyalahkan siapa saja yang sepertinya bersalah.

"Ya… dia… si rekan kesayangan kalian itu. Menurut kalian kenapa Hinata mau berkorban untuk menolongnya…?" Hanabi memaki pelan, baru menyadari apa yang dikatakannya mungkin saja benar, karena dua orang inilah kakanya mau menolong si Uchiha pembawa sial itu.

"Pikirkan saja sendiri…!" Hanabi mengerang kesal, terlalu marah, dia berbalik pergi meninggalkan Naruto dan Sakura yang terlihat semakin hancur.

"Dan kau Naruto…!" Hanabi berkata dari balik bahunya, Naruto menatap punggung Hanabi dengan kernyitan dalam di dahinya.

"Tega-teganya kau pada Hinata! Padahal, dia menangis setiap malam karena merindukanmu….!" Safir birumu Hinata, akan kupastikan dia menjadi milikmu.

Apa yang baru saja dikatakan Hanabi mengirimkan jutaan sengatan perih ke dalam hati Naruto, Hinata merindukannya...? Gadis itu menangis setiap malam..?

Sakura dan Naruto tercekat terpana memandang Hanabi yang menghilang di tikungan roka. Sakura menutup mulutnya, berusaha menahan isakan agar tidak lolos. Hanabi benar, semua yang di katakannya memang benar. Gadis berambut pink itu mengalihkan pandangannya pada Naruto yang matanya terbuka sangat lebar menatap ke arah kepergian Hanabi. Saat menulis surat itu, Hinata pasti tahu kalau dia sudah hamil, rasa sakit terasa merayapi tulang belakang Sakura ketika membayangkan sang gadis Hyuga itu menulis surat dengan berurai air mata, menulis sebuah pembebasan dan pembenaran untuk perpisahan yang mungkin menghancurkan hatinya berkeping-keping.

"Saat ini Hinata sangat membutuhkanmu Naruto!"Gadis itu menginginkan mereka bersama, padahal dirinya sendirilah yang paling memerlukan Naruto saat ini.

"Lebih dari kapanpun juga, lebih dari siapapun juga..!" Sakura berbisik dengan mata yang berurai air mata, 'Dia membutuhkanmu lebih dari pada aku, Naruto!'

Naruto tercenung ketika menyadarinya, Hinata tengah mengandung dan tanpa pendamping disisinya, 'ya… Hinata memerlukannya di sisnya saat ini… lebih dari kapanpun juga!' benaknya membenarkan.

.

.

"Na-Naruto-kun dan Sakura-chan ada di sini?" Wajah Hinata berbinar karena alasan yang jauh berbeda dengan alasan yang ada di kepala dua orang yang tengah menatapnya.

"Benarkah?" Hinata bertanya bersemangat dengan senyum mengembang. Hanabi tersenyum kecut, dia bersumpah akan membunuh Naruto kalau hari ini dia melihat air mata menggantikan senyum itu. Sementara Shizune tersenyum manis sambil menyerahkan pil penambah darah dan segelas air pada Hinata.

"Iya… sekarang ini mereka sedang menunggumu di ruang duduk bersama Nona Tsunade dan ayahmu!"

Hanabi mengernyit was-was ketika Hinata dengan wajah sumringah menghambur keluar ruangan dengan bersemangat. Setengah khawatir, setengah lega, Hinata merasa gugup, dia akan menjelaskan semuanya pada Sakura dan Naruto, agar mereka benar-benar mengerti perasaannya, surat sepertinya terlalu meragukan kalau di pikir-pikir lagi. Melintasi beberapa roka yang berbelok-belok rumit, akhirnya sekarang mereka semua berdiri di depan sebuah pintu geser kertas yang tertutup rapat. Hinata dengan antusias menggeser pintu itu dan… membeku… senyum pelan-pelan pudar dari bibirnya.

"Hiashi-sama….!" Naruto membungkuk rendah di depan ayahnya dengan kesopanan tingkat menakutkan yang membuat Hinata kehilangan kata-kata. Tolong jangan katakan…

"Ijinkan saya menikahi Hinata….!"


Huah… hedeh… tepar saya… pusing tujuh keliling…

Hyuri keseringan nyumpah dech ya di fic ini… gomen… jangan ditiru ya adek-adek… #berasa paling tua

Ini pelampiasan, soalnya ga mungkin kan Hyuri yang 'cewek kalem'(idih!) ini teriak WTH nyaring-nyaring… ato WTF… ato yang sekerabat sekeluarganya mereka itu di dunia nyata… bisa-bisa bunda saya kena serangan jantung… hahaha…

Reader yang baik hati, rajin review dan tidak sombong…. Hehe.. Hyuri cinta banget sama kalian semua #Reader pada muntah# karna udah mau review dan baca fic ini. Hyuri bersyukur sekali…. Hick…hick… Ini fic pertama Hyuri loe… sumpah dech… Banyak yang bilang awalnya ga tertarik baca soalnya judulnya berkesan ga meyakinkan… haha… sejujurnya Hyuri sendiri juga ngerasa gitu loe… Wakakak…. Semoga ceritanya ga sepayah judulnya ya… :D

Eh oh ya… fic ini diterjemahin loe sama Miwa03-chan yang baik hati ke bahasa Inggris! Judulnya "Who Are You, Mother?" Oh… dear honey… thankz a lot ya…

Ada yang nanya FB Hyuri juga,.. Hyuri ga punya FB say… aduh gimana ya..? kalo kata mba Ayu sich Hyuri ini manusia terkudet abad ini… hehe… Hyuri biar jadi author misterius aja dech ya.. yang diam-diam rupanya eh ternyata adalah tetangga kamu… atau teman kamu… atau juga adek maupun kakakmu sendiri…. (Korban novel detective#abaikan…)

Terimakasih banyak semua… Jangan lupa review ya…. : )

Pesan chapter ini, Jangan seenaknya berasumsi tanpa adanya konfirmasi yang jelas dari yang bersangkutan, oke…!? Reader juga jangan suka berasumsi ya…! #Wink

Semoga masih pada sudi ketemu Hyuri lagi di Chapter 15?