Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, dll.

Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback

Chapter 15

Mengungkap Kebenaran Part 4

Naruto membungkukkan kepalanya rendah di depan sang pemimpin Hyuuga. Banyak hal yang lalu lalang di benaknya, situasi ini terlalu rumit, Sakura… bagaimana dengan gadis itu? Dia memang selalu bersikap sok kuat untuk menghadapi segalanya, Naruto tidak tahu harus bagaimana? Seharusnya dia menyingkir sejauh-jauhnya dari kehidupan kedua gadis ini agar tidak lagi menimbulkan luka untuk keduanya. Tapi…

"Hiashi-sama…!" Tapi saat ini dia tidak mungkin meninggalkan Hinata, dia tidak sanggup membiarkan Hinata melewati ini sendirian.

'Naruto-kun…!' Suara lembut gadis itu, dia ingin mendengarnya lagi menyuarakan namanya. Atau mungkin… jangan-jangan fakta tidak memiliki Hinata di sisinya lagi lah yang sesungguhnya membuatnya tidak sanggup?

"Ijinkan saya menikahi Hinata….!" Saat ini, dengan semua situasi ini, hanya ada satu hal yang dia tahu dengan pasti, yaitu bahwa ia ingin mendampingi Hinata, berada di sisinya untuk menghadapi semua ini.

Deguman pelan yang di iringi oleh pekikan khawatir Shizune dan Hanabi terdengar seketika dari arah pintu di sampingnya. Naruto mengangkat wajahnya dan menoleh, di ambang pintu hanya beberapa langkah darinya, Hinata terduduk lemas sambil memandangnya dengan wajah dipenuhi kengerian yang membuat Naruto mengernyit. Shizune dan Hanabi sibuk bertanya pada gadis yang pucat itu, Ada apa? Apa ia merasa sakit? Apa yang salah? Namun sang gadis hanya mengabaikan pertanyaan itu, ia terus menatap Naruto, nampak jelas tengah kebingungan, kehilangan kata-kata.

Kerutan di kening Naruto terbentuk dalam ketika pandangannya teralih pada perut Hinata yang membesar, jantungnya seolah berkeriut nyaris runtuh. Sesuatu di dalam dadanya terasa… terasa… hancur? Detik itu ia baru tersadar dan benar-benar membuka mata pada kenyataan bahwa Hinata sedang mengandung.

'Bayi Sasuke!' Benak Naruto bergumam sendu, ingin tidak terima, ingin berteriak, ingin marah, tapi pada siapa? Otot rahang Naruto berkedut, telinganya bergemuruh ketika membayangkan Sasuke menyusuri setiap inci lekuk tubuh Hinata. Menciumnya… membelainya… menandainya… sekujur tubuh Naruto terasa terbakar, gelegak amarah tiba-tiba dirasakannya di setiap inci aliran darahnya.

'Setelah apa yang ku lakukan pada Hinata, apa aku masih berhak cemburu?' Naruto bergumam di dalam benaknya. Tapi Hinata tetap saja adalah kekasihnya kan….! Sasuke kau….

'Racun sialan…!' Naruto meredam amarahnya dengan mencoba berpikir tenang. Ini semua karena racun itu, dan karena dirinya juga, karena kebodohannya sendiri, misi itu… oh.. brengsek.

Hinata menatap Naruto, nyaris pingsan karena bingung, kenapa Naruto ingin menikahinya? Tidakkah suratnya sudah cukup jelas? Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata, ingin bangkit dan menghampiri, namun tubuh Hinata yang seketika menyentak kaget menjauh darinya membuat Naruto membeku di tempat. Mata Hinata membelalak menatapnya seakan-akan dia hantu yang muncul di siang bolong.

"Hinata…" Naruto berbisik lembut dengan kening mengernyit, dadanya berdebam tidak tenang. Gadis ini takut padanya..? membencinya..?

Mata putih keunguan itu melayang ke arah gadis berambut merah muda yang duduk memandang di sisi Tsunade, mata Hinata berair ketika bertemu pandang dengan Sakura. Ada apa ini Sakura-chan? Ada apa dengan kedua orang ini? Hinata kebingungan sambil menatap bergantian Sakura dan Naruto. Dalam sekejap Hiashi menyadari kejanggalan di antara ketiga muda-mudi ini. Tsunade mendengus pasrah, Hinata seperti berada di ambang kehisterisan, oh.. kami-sama…

"Kenapa..?" Suara serak Hinata membuat ngilu sesuatu di dalam dada Naruto, mata Sakura mulai berlinang, gadis itu mendekat pada Hinata.

"Ada apa ini…?" Hinata bertanya memelas, tidak bisa kah seseorang di ruangan ini menjernihkan ketidak masuk akalan yang sedang terjadi?

"Maafkan aku….!" Melihat Hinata yang gemetaran membuat air mata Sakura yang sejak tadi ditahannya mulai tumpah mengalir. Gadis merah muda itu meraih tangan Hinata dan menggenggamnya lembut, dilihat dari dekat Hinata nampak sangat pucat, hal ini membuat Sakura meringis. Ia bertanya-tanya penderitaan macam apa yang telah di akibatkannya pada gadis ini?

"Hinata… selama ini kau telah salah paham…! Semuanya adalah kesalah pahaman…" Sakura berucap ingin memperbaiki situasi, ingin mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Saat kekacauan belum di timbulkannya.

"Kau salah mengerti semuanya… Naruto tidak mencintaiku… dia mencintaimu…!" Sakura menoleh kepada Naruto yang tercekat melihat kedua gadis di depannya. Ia langsung bisa mengerti jalan mana yang ingin di tempuh oleh Sakura, gadis ini ingin didukung dan dibenarkan ia tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu, Naruto hanya bisa menatap Hinata dengan tatapan mengiba.

"Tolong jangan berbohong lagi…!"Hinata menggeleng cepat, air matanya juga mengalir. Kenapa Naruto melamarnya? Bahkan di depan Sakura! Mereka telah menyakiti gadis ini… lagi…

"Hinata…" Sakura berusaha memulai. Keadaan harus ia kembalikan seperti semula.

"Cukup.. ku mohon hentikan semua ini… berhenti di sini…. Sakura-chan… Naruto-kun… aku tahu semuanya…!" Sang nona Hyuuga menutup wajahnya dengan ke dua belah telapak tangannya. Ia takut kalau ayahnya benar-benar akan menerima lamaran Naruto karena kondisinya saat ini. Gelombang kengerian meninggi menguasai ketika dia membayangkan harus melupakan Sasuke dan menjadi pengantin pria lain. Meski itu Naruto, ia tidak ingin bersama siapapun selain sang Uchiha… Hinata sendiri terkejut ketika menyadari betapa cepatnya hatinya bisa berubah, tapi itulah kenyataannya. Dia tidak ingin bersama siapapun selain Sasuke Uchiha.

"Aku sudah tahu semuanya…., tolong jangan di teruskan lagi….!" Hinata mencicit dengan suara bergetar.

'Cukup….!' Benak Naruto berteriak nyaring. Ia akan mengakui semuanya, kesalahannya, ia akan menerima kemarahan Hinata.

"Maafkan aku Hinata….!" Suara bergetar Naruto yang sangat dekat membuat Hinata mendongak. Tubuh kecilnya segera menghilang ke dalam pelukan sang Uzumaki. Hampir terasa menakutkan bagi Hinata ketika dia tidak lagi merasakan getaran apapun di antara mereka berdua. Ini entah bagaimana terasa begitu salah, pelukan ini terasa salah.

Naruto membungkuskan tubuhnya pada Hinata, memeluk gadis itu lebih erat sambil mendesis perih "Aku tidak pernah berniat menyakitimu…!" Naruto menahan gempuran rasa bersalah yang datang ketika dia mengatakan kalimat itu. Perut Hinata yang terasa membayang di pelukannya membuat Naruto mengerang dalam hati, ia ingin mempertanggung jawabkan ini, ia ingin mengakui semua dosa dan mengulang lagi. Ia ingin menerima hukuman dan memulai kembali. Untuk Hinata dan bayi ini…

"Naruto-kun…?!" Hinata mendorong pelan bahu Naruto darinya, kemudian menatapnya lekat-lekat. Redup cahaya di mata Naruto menujukkan kekalutan hatinya.

"Aku yang bersalah Hinata…! Aku yang mencium Naruto lebih dulu…, Naruto tidak.."

"Sakura…." Naruto menegur halus gadis itu, membuat Sakura menghentikan pembelaannya untuk Naruto.

"Maafkan aku… hick..hick… maaf.. Hinata…!" Sakura kembali terisak, menyadari upayanya untuk mengembalikan semuanya tanpa cacat tidak akan mungkin lagi. Luka ini sudah terlanjur tergurat.

Hinata menyadari Naruto tengah memandangi perutnya, ia akhirnya mengerti kalau Naruto dan Sakura menyalahkan diri mereka atas apa yang tengah menimpanya. "Jangan bohong pada hati kalian sendiri lagi… Kalian mencintai satu sama lain kan…!" Hinata tidak ingin itu terjadi, ia tidak ingin Naruto merasa harus bertanggung jawab padanya. Sakura dan Naruto seharusnya bersama…. Kondisinya saat ini tidak ada hubungannya dengan mereka.

"Hinata… aku.. "

"Naruto-kun, Sakura-chan tolong berhentilah meminta maaf!" Naruto belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Hinata buru-buru menyelanya. Sang Hyuuga memelas ke arah kedua orang di hadapannya. Dia menjauh dari Naruto dan kembali meraih tangan gadis merah muda yang tengah menangis itu.

"Aku sudah tahu semuanya jauh sebelum ini semua terjadi. Percayalah padaku, seharusnya aku lah yang meminta maaf karena telah berpura-pura tidak tahu!" Hinata meremas tangan Sakura pelan sambil mengusap air mata gadis berambut merah muda itu perlahan-lahan.

"Seharusnya kalian memang bersama…!" Hinata mengusap air matanya sendiri yang sudah mulai teduh, berhasil mengendalikan diri, ia kemudian menoleh ke arah Naruto lalu tersenyum lembut. Naruto ingin bunuh diri saat itu juga. Merasa terlalu jahat, terlalu hina… ia merasa seperti seonggok kotoran di hadapan Hinata saat ini. Hanabi melotot pada kakaknya, tidak habis pikir, bukankah Hinata sangat mencintai Naruto? Kenapa… Kenapa dia merelakan Naruto untuk gadis perebut ini?

"Tolong jangan merasa tidak enak padaku, aku tidak apa-apa. Aku akan ikut bahagia untuk kalian, percayalah!" Hinata lega… akhirnya bisa mengatakannya langsung, dadanya terasa ringan. Ia meraih tangan Naruto kemudian meletakkannya di atas tangan Sakura di genggamannya.

"Kalian tidak tahu betapa aku sangat ingin mengucapkan ini sejak lama…! Tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain melihat kalian bisa jujur pada hati kalian masing-masing. Naruto-kun, Sakura-chan aku juga akan bahagia jika kalian bahagia!" Hinata tersenyum manis menatap Naruto dan Sakura lembut.

Semua yang berada di ruangan itu terdiam, tidak ada yang bersuara saat menatap wajah Hinata yang tersenyum tulus. Hiashi melirik Tsunade kemudian bertukar anggukan pelan. Shizune ikut tersenyum lembut melihat kejadian di depannya. Hanabi mengepalkan tangannya erat-erat, membenci setiap detiknya saat Sakura dan Naruto bertukar lirikan di depan kakaknya.

'Safir biru hanya milik Hinata….. hanya miliknya…'

00008888000

"Di luar dugaan kami sebelumnya ternyata begitu lah tanggapan Hinata atas keinginan Naruto untuk meminangnya!" dengan kata-kata dari Tsunade itu Itachi menghembuskan napasnya yang tanpa disadarinya telah ia tahan sejak tadi.

"Seandainya kejadian ini terjadi lebih awal, jika saja itu terjadi ketika perut Hinata belum begitu membesar dan kami belum tahu kalau kau setengah Uchiha, mungkin meski ibumu menolak pun kami akan tetap menjadikan pernikahan itu sebagai jalan keluar…" Tsunade melanjutkan ceritanya dengan ringan. Perasaan lega yang teramat besar membuat perasaan terikat dan teremas di dada Itachi pelan-pelan mengendur. Diam-diam dia bersyukur pernikahan itu tidak pernah terjadi.

"Tapi pendamping bukan masalah utamanya lagi ketika itu. Sudah tidak lagi, perut Hinata sudah tidak bisa lagi di sembunyikan, pernikahan pun tidak akan membantu lagi. Saat itu yang terpenting adalah kesehatan ibumu dan bagaimana cara menjaga agar keberadaanmu tetap menjadi rahasia sampai keadaan terkendali…" Tsunade memandang Itachi yang duduk kaku mendengarkan dengan hikmad di depannya, terlihat sekali kalau bocah itu mencoba terlihat tenang. Kalau saja bukan dia yang sedang mengamati saat ini… orang lain pasti akan melihat pemuda ini berada pada kondisi sangat terkendali.

Eri melirik Itachi, pemuda itu berwajah datar sepanjang mendengarkan cerita dari Tsunade. Namun gadis Yamanaka itu tahu kalau sang Uchiha muda ini berjuang keras untuk menjaga wajahnya tetap seperti itu. Beberapa kali Eri bisa merasakan perubahan emosi Itachi dari genggaman tangannya pada jemari miliknya. Genggaman tangan itu pelan-pelan melonggar seiring berjalannya waktu, namun pada satu titik di cerita yang dituturkan Tsunade genggaman itu akan mengerat kembali seketika. Suhu tubuh Itachi pun berubah derastis beberapa kali, ia menegang dan mendingin pada beberapa titik di sepanjang cerita, sebelum berangsur-angsur kembali normal ketika Itachi kembali bisa mengendalikan dirinya. Mereka berdua terus diam mendengarkan tanpa menyela sedikitpun seperti permintaan Tsunade sebelum memulai ceritanya tadi.

"Setelah kejadian itu, pada awalnya kesehatan ibumu semakin membaik. Sepertinya tekanan rasa bersalah pada Sakura dan Naruto berpengaruh besar pada mentalnya. Dengan beban itu telah terangkat sepenuhnya, pelan-pelan dia semakin sehat…, meski dia masih kerap terbangun di tengah malam tapi itu tidak separah sebelumnya." Air muka Itachi berubah cerah lagi meski kata 'pada awalnya' mendengung tidak nyaman di dalam kepalanya. Tsunade tersenyum hambar ketika mengingat bagian terburuknya masih berada di tenggorokannya menunggu giliran untuk di dendangkan.

"Naruto, Sakura, Hanabi, Tenten, Shino dan Kiba diam-diam terus mengunjunginya di persembunyian. Dan hal itu terbukti membawa pengaruh positif untuk Hinata. Dia tersenyum dan tertawa lebar seperti tanpa lelah, aku saja merasa pegal melihatnya terus tersenyum seperti itu. Naruto dan Hiashi sering beradu kencang urat leher tentang hal ini. Bocah itu keras kepala tapi aku bisa mengerti maksud dari tindakan bodohnya itu dan sikap kakekmu sepenuhnya juga bisa kumengerti, dia khawatir rahasia ini akan terbongkar, itulah sebabnya ia bersikap tegas dan ketat. Puncaknya adalah ketika Naruto ketahuan menyeludupkan Kiba, Shino dan Tenten kepersembunyian untuk menemui Hinata, Hiashi marah besar, kupikir hari itu akan terjadi pertempuran dahsyat di antara mereka. Tapi syukurlah itu tidak terjadi…!" Tsunade menggeleng samar mengingat kejadian itu. Itachi tersenyum sangat kecil, Naruto terdengar benar-benar tidak seperti Naruto yang sekarang dia kenal di dalam cerita Tsunade ini. Paman hokagenya itu sekarang sangat taat peraturan dan penuh petimbangan, teliti dan hati-hati, Naruto yang ceroboh dan sembrono di dalam cerita ini tidak terdengar seperti Naruto sang Hokage.

"… karena ibumu pingsan. Dan itu lah yang membuat mereka akhirnya diam…!" Tsunade menghembuskan napas lembut lewat hidungnya, menyiapkan mentalnya untuk kembali bercerita.

"Memasuki usia kandungan ke-8 bulan hal yang selama ini kami takutkan sedikit demi sedikit semakin terlihat." Tsunade bisa melihat otot-otot wajah Itachi kembali menegang.

"Tubuh Hinata pelan-pelan mulai menunjukkan tanda-tanda menolak keberadaan janin di rahimnya. Hinata memuntahkan hampir setiap potong kecil makanan yang berusaha dia telan, alhasil kekurangan darahnya pun kembali seketika. Dari hari ke hari tubuhnya semakin lemah dan kurus. Tapi dia sangat keras kepala, Hinata akan histeris dan menangis tidak berhenti setiap Hiashi memintanya untuk menyerah dan mengugurkan kandungannya." Tsunade memijat pelipisnya ketika mengingat bagaimana kerasnya Hinata menolak. Dan setiap kali hal itu terjadi Hiashi dan dirinya akan bersitegang dalam diam, pada tahap ini diam-diam Tsunade sudah kehilangan kepercayaan dirinya untuk melanjutkan kehamilan Hinata.

"Hiashi berusaha keras membujuk Hinata untuk menggugurkan kandungannya. Shino, Kiba, dan Tenten juga bergantian berusaha membujuknya, tapi Hinata…" Tsunade menatap mata Itachi lekat-lekat, berusaha mencari sedikit saja dampak dari perkataannya ini pada diri sang bocah Uchiha. Dan di sanalah Tsunade melihatnya, duka dan rasa sakit tergambar samar di mata sewarna malam itu.

"...sangat ingin memilikimu… dia bilang dia ingin bisa melihatmu, ia bersikeras ingin melahirkanmu Itachi…!" Tsunade mengakui kalau dirinya bukanlah orang yang bisa menghibur orang lain, itu bukan kebiasaannya, ia tidak tahu bagaimana cara untuk membuat seseorang merasa lebih baik.

"Dia mencintaimu…!" Tapi untuk kali ini dia mencoba, mungkin ini pertama kalinya ia melakukannya…. Bulir air mata tunggal akhirnya lolos dari mata Itachi, dan dengan sigap dia menghapusnya. Ada bayangan kebahagian yang tergambar jelas di sana, Tsunade menemukannya. Namun sayangnya, Tsunade sesungguhnya baru akan memulai bagian terpahit di ceritanya ini.

"Hingga tepat di minggu kedua di bulan ke-9 masa kehamilannya, bertepatan dengan suksesnya para Anbu menemukan dan menyerahkan gulungan yang hilang itu padaku…" ketika mendengar nada berhati-hati di suara Tsunade, Itachi menelan paksa gumpalan di tenggorokannya.

"Mimpi-mimpi buruk… akhirnya benar-benar terjadi…" Tsunade nyaris mengernyit ketika melihat sorot mata Itachi yang menajam, tatapan mata itu hampir… terasa… menakutkan.

"..di saat bersamaan…." Kedut ketegangan di pelipisnya waktu itu seakan masih bisa Tsunade rasakan hari ini, hari yang sungguh melelahkan.

000888000

Mata Tsunade bergerak cepat menyusuri deretan kata-kata yang tertulis rapi di sebuah gulungan yang terbuka lebar di atas mejanya. Matanya melebar seram di beberapa kata yang tertulis di gulungan itu, udara di sekelilingnya terasa semakin menipis ketika ia membaca dan memahami semakin banyak tulisan-tulisan di gulungan itu.

"Sialan….!" Tsunade menggembrak mejanya marah, menyebabkan meja tidak berdosa itu terbelah menjadi potongan-potongan kayu yang berterbangan di hadapannya.

"Tsunade-sama…!" Ko sang pengawal pribadi Hiashi menghambur masuk melewati pintu ruangannya dengan wajah memucat.

"Ada apa?" Siaga seketika, Tsunade bertanya nyaring.

"Hinata-sama… dia tiba-tiba…" Tanpa menunggu Ko menyelesaikan kata-katanya sang Hokage berlari menghilang menuju tempat pengasingan Hinata. Benaknya sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi, ia menyumpahi kebodohannya sendiri.

.

.

Langkah kaki yang menghentak-hentak tidak sabar menggema di sepanjang roka yang sunyi senyap, bahkan bunyi-bunyian malam yang biasanya mengalun pun tidak terdengar sama sekali malam ini. Kesunyian ini membuat Tsunade semakin gusar. Mana teriakannya…? Apakah dia sudah.. Buru-buru Tsunade melenyapkan pikiran itu ketika samar-samar terdengar isak tangis di belokan roka yang seingatnya berada tepat di depan kamar Hinata. Hanabi… itu suara Hanabi yang sedang terisak. Mengitari belokan tajam roka yang disusurinya, Tsunade akhirnya bisa melihat sosok Hanabi yang terduduk menangis di pelukan Maki sang pengurus rumah tangga. Menyadari ada langkah kaki yang bergerak mendekat, kepala Hanabi yang semula tertelungkup di bahu Maki seketika mendongak menatap Tsunade.

"Hinata tidak akan apa-apa kan… Tsunade-sama?" Permohonan dan ketakutan tergambar jelas di pertanyaan itu.

"Iya kan…?" Tsunade mengabaikan Hanabi, berjalan melewatinya dengan tubuhnya sendiri yang sejak tadi kaku khawatir.

"Tolong katakan padaku dia akan baik-baik saja…. Tsunade-sama.. ku mohon…!" Raungan Hanabi terdengar bergetar oleh kemarahan dan keputusasaan.

Pintu tertutup yang terlihat kokoh seketika membuka saat dia berada beberapa langkah jauhnya dari tempat itu. Di balik pintu itu, Hiashi menunjukkan sosoknya yang terlihat 10 tahun lebih tua dari pada Hiashi yang biasanya. Air muka pria paruh baya itu membuat mahkluk tidak beradab yang sejak tadi meremas ketat semakin bersemangat mengaduk-aduk isi perut Tsunade. Tergesa-gesa Tsunade berjalan masuk melewati pintu itu ketika lolongan dan derap langkah kaki Hanabi bergerak mendekat pada mereka.

"Keluarkan bayi itu dari Hinata… dia mons…" Teriakan Hanabi teredam oleh bunyi pintu yang dibanting oleh Hiashi di belakangnya. Dan debaman yang lebih nyaring lagi terjadi di dalam kepala Tsunade ketika melihat Hinata yang tengah menggelepar kesakitan di atas tempat tidurnya. Jemari kurus Hinata yang pucat semakin memutih menggenggam erat alas tempat tidur tempatnya berbaring. Cahaya penyembuh Shizune terlihat berpendar di atas perut sang ibu hamil. Gadis berambut coklat itu berbalik dan memandang Tsuande penuh kelegaan, juga kegelisahan dan ketakutan yang selama ini belum pernah Tsunade lihat sebelumnya bisa di tunjukkan oleh gadis itu.

"Ini sudah berlangsung lama…!" Hiashi berbisik serak, suaranya terdengar seperti orang yang sudah tidak bicara berhari-hari.

Tsunade mengangguk kaku kemudian beringsut mendekat. Ia menatap dan mengelus lembut wajah Hinata yang basah oleh air mata dan keringat. Kening Hinata berkerut tajam, matanya tertutup rapat menahan rasa sakit yang berlangsung terus-menerus di perutnya. Tsunade menyapu lembut bibir Hinata yang berdarah, menyembuhkan luka itu dengan cahaya cakranya. Gadis ini pasti mengigit bibirnya terlalu erat beberapa saat yang lalu, Tsunade menerka pasti di dalam kepalanya. Sekarang rahang Hinata terkatup erat menahan teriakan agar tidak keluar dari penjara rapuh tenggorokannya. Napas gadis ini terhembus dan terhela dengan tarikan-tarikan pendek yang tidak teratur. Hinata berjuang mengatur napasnya di antara ringisan kesakitan yang berhasil lolos dari hidungnya. Jari Tsunade yang ia letakkan di pangkal leher Hinata dipukul-pukul tegas oleh denyut jantung Hinata yang berdebam terlalu keras dan cepat.

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan…! Aku tidak bisa menghentikannya Nona Tsunade..!" Shizune terdengar seperti siap menangis beberapa detik lagi. Ia sejak tadi sudah berusaha bersikap setenang mungkin, menyembunyikan ketakutannya dari Hiashi. Masing-masing dari mereka tahu kalau mereka saling menjadi pegangan untuk satu dan lainnya, jika satu saja dari mereka goyah maka mereka berdua akan runtuh.

"Lakukan sesuatu… Tsunade… apa saja… hentikan semua ini…! Sekarang!" Hiashi berteriak gusar. Akhirnya memiliki seseorang untuk di desaknya, untuk menumpahkan kegelisahannya, untuk menumpukan hidupnya.

"Apa yang terjadi Shizune..?" Tsunade bertanya dengan suara dan sosok penuh ketenangan yang bahkan membuat dirinya sendiri kaget.

"Cakra bayi di rahim Hinata bergejolak tidak terkendali. Sejak tadi saya sudah berusaha untuk menenangkannya tapi tidak berhasil… !" Suara Shizune pecah… dan itu membuat Hiashi kehilangan kesabaran.

"Keluarkan bayi itu sekarang juga…. Keluarkan dia dari putriku…!" mendengar perkataan ayahnya tubuh Hinata seketika menegang kaku, matanya membuka lebar memandang takut pada Tsunade, denyut jantungnya berpacu semakin cepat mencapai kecepatan berbahaya, jika begini terus gadis ini bisa mengalami gagal jantung.

"Kami tidak akan melakukannya Hinata… tenanglah…!" Tsunade mengusap anak rambut yang basah melekat oleh keringat di kening Hinata, berbisik berusaha membuat Hinata tenang tanpa membuat Hiashi geram.

"Seharusnya itu tidak apa-apakan Tsunade-sama! Bayi Hinata seharusnya sudah cukup kuat untuk bisa bertahan di luar tubuh ibunya…!" Shizune yang mendengar bisikan itu berkata pelan setengah ingin mendebat sang Hokage. Dia sudah benar-benar tidak sanggup lagi melihat Hinata kesakitan seperti ini.

'Seharusnya…' sang Hokage bergumam muram di dalam benaknya.

"Shizune jaga detak jantung Hinata agar terkendali, biar aku yang menangani anak nakal ini!" Tsunade meletakkan tangannya yang sudah di aliri cakra ke atas perut Hinata, ia dan Shizune pelan-pelan bertukar tempat.

"Apa yang kalian tunggu lagi..?" Hiashi berteriak-teriak sekarang, ruangan menjadi semakin panas dan tidak nyaman. " Tunggu apa lagi.. cepat keluarkan bayi itu..!" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya lemah dan menangis, berjuang menahan lolongan kesakitan agar tidak lolos terdengar.

"Tidak bisa Hiashi…!" Tsunade mendesis disela-sela giginya. 'Setidaknya tidak bisa saat ini…' ia sebenarnya tidak ingin memberi tahu Hiashi kabar ini pada saat keadaan sedang seperti ini.

"Kenapa…?" Gemeratak rahang Hiashi terdengar menakutkan. Sepertinya Tsunade sudah tidak punya pilihan lain selain menjelaskan semuanya sekarang.

"Bayi ini tidak akan bisa bertahan di luar tubuh ibunya jika belum saatnya ia lahir sesuai waktu alaminya..!" Berkonsentrasi penuh pada pusat cakra di dalam tubuh bayi itu, Tsunade berusaha keras untuk mencapainya tanpa kehilangan konsentrasi pada pelindung cakra yang ia ciptakan untuk menghidarkan cakra bayi yang meletup-letup itu menimbulkan kerusakan di dalam tubuh Hinata.

"Bayi ini tidak seperti bayi normal lain, dia tidak akan bisa berhasil bertahan jika berada di luar tubuh. Pergolakan yang kita lihat sekarang bukanlah letupan biasa, pergolakan cakra ini di akibatkan oleh cakra Byakugan dan Sharinggan yang sedang berusaha mendominasi dan menguasai satu sama lainnya." Perkataan Tsunade membuat kening Hiashi mengernyit, dia tidak bisa berpikir dengan benar saat ini. Apa maksudnya itu?

"Selama ini kita semua telah salah mengira…" Kelalaian patal yang dilakukannya, Tsunade menggigit bibir merutuki kecerobohan, dan menyesali kepercayaan dirinya sendiri.

"Gulungan yang hilang itu akhirnya sudah berhasil di temukan….! Ada sebuah kesalahan besar yang telah ku lakukan Hiashi…" Di punggunggnya Tsunade bisa merasakan aura dingin dan kelam menguar dari sosok Hiashi yang membatu di tempatnya. Gulungan yang dia kira adalah gulungan kelanjutan kasus terdahulu itu ternyata sebenarnya adalah gulungan rahasia hasil penelitian proyek bayi Uchiha-Hyuuga yang dulu ditutup tanpa di ketahui luas alasannya itu. Tsunade tertawa pahit di dalam benaknya, sekarang ia tahu apa alasannya, hanya iblis tak berhati yang akan merealisasikan proyek seperti itu… dan dia adalah perwujudan nyata iblis itu sekarang. Meski dia tidak tahu keadaan akan jadi seperti ini, tapi ini memang adalah salahnya, ia lah yang awalnya menyarankan pada Hiashi untuk mempertahankan bayi ini, meski sesungguhnya ia juga tahu kalau ini bukan sepenuhnya salahnya, tapi tetap saja… oh… Tsunade kalut.

"Bayi yang terbentuk dari pertemuan gen pembawa Byakugan dan gen pembawa Sharinggan sebenarnya tidak akan menghasilkan perpaduan kekkai genkai Byakugan dan Sharinggan melainkan hanya akan menghasilkan salah satunya saja, Byakugan saja atau Sharinggan saja. Dalam hal ini, di dalam rahim sang calon ibu cakra Byakugan dan Sharinggan akan berusaha saling mendominasi dan menguasai, menekan, mendorong, dan menyerang satu sama lain. Rasa sakit dan perasaan terbakar dari dalam merupakan pertanda awal, pada puncak pergerakan, cakra-cakra yang mengamuk tidak terkendali akan secara harfiah menimbulkan luka terbuka di dalam tubuh sang ibu." Tsunade mengatakan persis tulisan yang telah dibacanya beberapa saat yang lalu.

"Bayi yang di keluarkan sebelum waktunya akan mengalami pergolakan cakra yang luar biasa hebat dan hal itu akan membunuhnya seketika…!" Sentakan napas terkejut lolos dari bibir Hinata… ia harus bertahan, ia harus bertahan, bagaimana pun juga ia harus bertahan melewati ini. Meskipun rasa sakit ini rasanya sudah tidak sanggup untuk di tanggungnya lagi, pelan-pelan Hinata bisa merasakan kesadarannya menipis. Tapi dia tidak boleh menyerah, dia harus tetap bertahan agar bayinya aman.

"Ketika detik-detik prosess persalinan nantilah cakra yang lebih dominan akan menjadi titik penentu bayi akan memiliki Byakugan atau akan memiliki Sharinggan..! Dan…" Tsunade berkata terputus, bulir-bulir keringat terbentuk di pelipisnya, 'sedikit lagi…!' benaknya bergumam ketika ia hampir bisa mencapai pusat cakra sang bayi…

'Dapat…!' Tsunade nyaris berteriak senang ketika berhasil mencapai dan menenangkan pusat pergolakan cakra bayi itu. Berangsur-angsur cakra itu menjadi tenang, tubuh Hinata yang sejak tadi kaku menggelepar pun pelan-pelan terbaling lemas tidak bergerak di atas tempat tidur, hembusan napas Hinata adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu untuk beberapa saat.

Gerakan cepat naik-turun dada Hinata adalah satu-satunya hal yang menjadi pusat perhatian ketiga orang di dalam ruangan itu. Setelah memastikan kalau keadaan sudah benar-benar terkendali, Tsunade memindahkan tangannya dari perut Hinata. Tangan pucat yang gemetar pelan-pelan menggantikan tempatnya, sambil memejamkan matanya erat, Hinata mengelus lembut perutnya. Tiga pasang mata mengamatinya terkejut, setelah apa yang dialaminya, Hinata masih bisa mengelus lembut perutnya?

"Kita akan bertahan manis… kita akan bertahan…! Ibu menyayangimu… tetaplah ada di dalam sana sampai waktunya tiba.. ya…!" Kata-kata lirih namun penuh cinta terucap dari bibir Hinata, kemudian ia menangis terisak karena perasaan lega dan takut yang menguasainya bersamaan.

Shizune juga ikut menangis karena emosi yang sama, ia lega, tapi juga ketakutan. Ia belum pernah sebelumnya mengalami hal seperti ini, menghadapi kejadian semenakutkan tadi. Luka berdarah yang menganga, tulang remuk redam, dan daging membusuk terasa lebih bisa dia tangani dari pada kondisi Hinata tadi. Tsunade mundur teratur, menyadari dengan ketakutan bahwa yang sejak awal sedang dia permainkan adalah nyawa manusia, nyawa Hinata dan bayinya. Hiashi menghampiri Hinata dan mengelus kepala putrinya, menatap Hinata lekat-lekat dan berkali-kali menghembuskan napas berat, jantungnya nyaris saja berhenti melihat putrinya seperti tadi.

"Berhenti menangis Hinata… sekarang tidurlah….! Istirahatlah…" Mata Hinata yang tertutup rapat membuka pelan, ia kelelahan, tapi dia tidak ingin tidur. Dia ingin terus bangun untuk menjaga bayinya, ayahnya mungkin saja…

"Aku tidak mengantuk ayah…!" Hinata ingin mengatakannya dengan tegas dan kuat namun ia kecewa ketika mendengar suaranya sendiri yang berbisik terputus, beberapa penggal kata tidak berhasil ia suarakan. Matanya terasa sangat berat, tubuhnya kaku dan sakit, ia sangat lelah. Tapi dia tidak akan tidur…

"Jangan keras kepala… tidurlah…!" prustasi dan khawatir Hiashi mengerang kasar pada putrinya.

Hinata memeluk perutnya kemudian menggeleng, ia ingin berkata 'tidak mau' tapi suaranya sudah tidak bisa keluar lagi. Ia tidak bisa tidur, meski sangat mengantuk ia tidak ingin tidur, karena jika ia hilang kesadaran dan tertidur ayahnya dan Tsunade mungkin saja akan mengangkat bayinya, mengambil pasksa buah hatinya darinya. Tubuh Hinata mengigil tapi pelukannya pada perutnya semakin mengerat. Hiashi meringis, ia tahu apa yang Hinata takutkan.

Otot wajah Hiashi menegang sakit menahan tangis yang ingin pecah, Hiashi menunduk dan berbisik di dekat telinga putrinya. " Tidurlah Hinata… bayimu aman… dia tidak akan apa-apa! Percayalah pada ayah!" Seolah itu adalah mantra penenang, dengan berpegang pada kata-kata itu, kata-kata dari ayahnya yang selalu dia junjung tinggi dan hormati, Hinata akhirnya menyerah dan jatuh tidak sadarkan diri, ia akhirnya menyerah pada tubuhnya yang kelelahan.

Hiashi mengangkat kepalanya kemudian mengelus puncak rambut Hinata dengan lembut, "Dan..?" Hiashi berbisik pada Tsunade tanpa mengalihkan perhatiannya dari putrinya. Ia ingin Tsunade meneruskan penjelasannya yang tadi terputus, sesuatu di dalam dada Hiashi tahu kalau ini pasti adalah sesuatu yang buruk. Shizune mengusap wajah Hinata dengan lap hangat, kemudian merapikan rambut Hinata yang awut-awutan karena gerakan tidak teratur yang dilakukannya tadi.

"Dan…" Tunade menatap Hiashi dari balik punggungnya. Bahu kokoh sang Hyuuga terlihat lemah dan tidak berdaya, sungguh Tsunade tidak ingin mengakatan ini.

"Tidak ada jaminan ibu sang bayi akan selamat ketika menjalani persalinan…." Gerak tangan Shizune terhenti seketika, matanya membelalak dan mulai berair tapi ia segera melanjutkan kegiatannya merapikan kimono Hinata yang sedang tertidur. Hiashi yang masih belum bereaksi membuat Shizune takut untuk menunjukkan reaksi apapun. Tiga bulan bersama Hinata membuatnya sangat menyukai gadis ini, mereka sudah menjadi teman akrab. Kelembutannya, keramahannya, dan ketidak inginannya merepotkan orang lain membuat Shizune menyayangi gadis ini, dan mendengar perkataan Tsunade itu benar-benar membuat hati Shizune mencelos.

"Pergolakan cakra akan mencapai titik terkuatnya ketika persalinan nanti, kemungkinan si ibu bisa bertahan melewatinya hanya….. 10%" Bibir Hiashi mengering seketika mendengar perkataan Tsunade.

"Jika kau memutuskan untuk mengangkat janin itu, sekarang lah waktu yang tepat…" Tsunade berkata lebih nyaring.

"Sekarang lah waktu yang paling tep…"

"Diam…. Berhenti bicara…!" Hiashi berteriak tanpa berpaling.

"Setelah melewati sebuah pergolakan seperti tadi cakra bayi sepenuhnya berada dalam kondisi stabil saat ini, oleh karena itu sekarang lah waktu yang paling aman untuk mengeluarkan bayi itu. Jika menunggu lebih lama lagi akan terlalu beresiko… kita tidak tahu kapan cakra itu akan mengamuk lagi…!" Kepanikan mulai terdengar di suara Tsunade ketika mengatakan ini, perintah Hiashi untuk 'diam' membuatnya prustasi… Jika cakra bayi mengamuk ketika prosess pengangkatan terjadi maka semua ini akan berakhir dengan sangat buruk. Mereka bisa saja akan kehilangan dua-duanya.

"Tidak bisakah kau menutup mulutmu….?!" Kesopanan terbang terabaikan keluar jendela, Hiashi murka. Pada Tsunade, pada dirinya sendiri, pada situasi, pada… pada apa saja…

"Ini kesempatan terakhir kita untuk menghentikan semua ini Hiashi…!" Tsunade mengerang. Saat ini bukan saatnya untuk menunda-nunda.

"Tidak bisakah kau berhenti bicara…?!" Hiashi meringis dan berpaling menatap Tsunade garang. Kedua orang itu saling menatap tajam selama beberapa menit, kemudain saling berpaling memutuskan kontak mata.

"Pikirkanlah baik-baik Hiashi, jika menunda lebih lama lagi akan sangat berbahaya…!" Tsunade melenggang lelah meninggalkan kamar itu, berharap Hiashi akan segera meraung memanggilnya kembali untuk melakukan apa yang seharusnya sudah sejak lama mereka lakukan.

Tapi tidak, Hiashi tidak meraung memanggilnya. Sang ayah itu terdiam sejenak memandang Hinata yang tertidur sekali lagi sebelum juga ikut melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan. Di ambang pintu Hanabi memandang nanar pada Tsunade dan ayahnya yang keluar bergantian melewati pintu, ia menyernyitkan kening memelas pada ayahnya. Ia mendengar semua teriakan-teriakan mereka tadi, dan itu menghancurkan hatinya. Hinata nya juga akan pergi, sama seperti ibunya…

"Kenapa ayah…? Apa lagi yang ayah tunggu?" Hanabi mencicit pada punggung ayahnya yang berjalan menjauh dengan langkah melayang.

"Hinata sedang tidur… aku telah berjanji…." Suara ayahnya pecah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya Hanabi mendengar suara macam itu keluar dari ayahnya. Hiashi tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena dia tidak bisa mempercayai dirinya sendiri, ia tidak percaya kalau dia benar-benar akan melewatkan kesempatan yang mungkin terakhir ini… tapi Hinata sangat menginginkan bayi itu… setidaknya dia ingin menunggu Hinata bangun dulu… setidaknya dia ingin Hinata mengetahui dulu sebelum ia merebut paksa bayi itu dari buaiannya.

Tsunade yang berjalan di depan Hiashi menghembuskan napas panjang… 'Hinata ternyata mewarisi hati lemah itu darimu, Hiashi…!' Batin Tsunade.

"Ada penyusup….!" Belum sempat mereka bernapas dengan benar teriakan memekakkan telinga terdengar bergerak ke arah mereka. Hiashi dan Hanabi berdiri siaga seketika, sementara Tsunade memicingkan mata ke arah sosok-sosok yang berlari berkejaran menuju mereka, sepertinya sosok itu cukup akrab di matanya….

"Tsunade-sama….!" Dan benar saja, sosok pemuda itu memanggil keras kepadanya.

"Apa yang kau lakukan di sini Genma..?" Tsunade menggeram kesal. Genma seharusnya tidak tahu tempat ini bahkan pernah ada…! Demi tuhan apa lagi ini? Hiashi mengangkat tangannya ke arah ninja-ninja penjaga yang memburu Genma, mengisyaratkan mereka untuk berhenti mengejar.

"Tetua meminta anda agar segera hadir di ruang rapat sekarang juga…!" Genma berucap cepat tidak ingin menerima makian sang Hokage yang jika dilihat dari raut wajah itu tentunya sedang berada di ujung lidah.

"Dan anda juga Hiashi-sama…!" Tsunade dan Hiashi segera tahu dengan sendirinya… mimpi buruk mereka akhirnya jadi kenyataan.

.

.

"Apa sebenarnya yang mereka lakukan di dalam sana?" Naruto yang tidak bisa memaksakan dirinya untuk bersabar lebih lama lagi bertanya gusar kepada apa saja yang punya telinga di keremangan hutan itu.

"Ada sesuatu yang terjadi dengan Dewan Persatuan Lima Negara…!" Hanabi menjawab singkat disampingnya, mengaktifkan byakugan untuk mengintip ke dalam ruangan. Mereka berdua bertengger tidak tenang di sebatang pohon tepat di depan jendela kaca ruangan pertemuan di gedung Hokage, rimbun dedaunan membantu menyembunyikan sosok mereka dari orang-orang di dalam ruangan itu.

Dengan bocoran penuh tangis dari Hanabi dan desakan penuh ancaman pada Ko, akhirnya Naruto bisa mengetahui semua informasi yang perlu diketahuinya tentang kondisi dan keadaan Hinata sekarang ini. Naruto mengepalkan erat tangannya, menahan setengah hati keinginan untuk merubuhkan dinding yang berdiri kokoh menghalanginya untuk mengetahui pembicaraan apapun yang terjadi di dalam sana. Takut dan khawatir membuat kesabaran Naruto yang tipis menjadi semakin menipis. Mereka sudah mengurung diri di ruangan itu sejak tengah malam dan sampai sekarang ketika matahari mulai terbenam lagi ruangan itu belum juga terbuka. Apa yang sedang mereka perdebatkan? Apa yang mereka bicarakan, dan yang lebih penting apa yang akan mereka lakukan terhadap Hinata? Naruto tidak bisa duduk tenang dengan adanya pikiran-pikiran menakutkan yang menghantuinya. Belum lagi keadaan Hinata saat ini, apa sebenarnya yang dilakukan nenek Tsunade di dalam sana?! Harusnya sekarang dia sedang menyelamatkan Hinata dari bayi itu…

'Sialan….!' Naruto meringis, seharusnya dia juga ikut membujuk Hinata untuk mengugurkkan bayinya itu sejak awal, sejak tubuh wanita itu mulai memucat dan mengurus, seharusnya sudah sejak lama hal ini di akhiri. 'Hinata…!'

"Mereka sudah berada di sana sepanjang hari! Apa saja yang mereka bicarakan?" Mengapa Tsunade dan Hiashi masih saja menunda di saat-saat genting seperti sekarang? Naruto gelisah.

"Mereka tidak sedang bicara… mereka sedang berteriak-teriak!" Hanabi menjawab dengan wajah sedih. Sedang terjadi sesuatu yang sangat salah di dalam sana.

.

.

"Kenapa kami tidak tahu tentang ini..?" Nenek Koharu bertanya tegas, wanita tua ini menatap tajam ke arah Tsunade setelah mendengar penjelasan runtut dan detail yang baru saja di ungkapkan oleh sang Hokage perihal kehamilan sang Hyuuga. Meski penjelasan itu kerap tersendat oleh geraman dan teriakan marah dari sisi para tetua yang tidak setuju dan kecewa dengan langkah-langkah yang di ambil oleh Tsunade.

"Kenapa kami harus mendengar kabar ini justru dari persatuan dewan lebih dulu dibandingkan dari mulutmu, Tsunade?" Homura bertanya kasar. Tsunade dan Hiashi hanya bisa bungkam sambil mengepalkan telapak tangan mereka erat-erat. Lelah mendebat orang-orang yang jelas tidak ingin mendengar apa yang mereka katakan.

"Kami berdua terlihat seperti keledai bodoh di hadapan Dewan Tetua Persatuan Lima Negara… Bagaimana mungkin kami yang mewakili Konohagakure di persatuan itu bisa tidak mengetahui hal kritis macam ini..? Bayi Hyuuga-Uchiha…?! Oh Tsunade aku tidak percaya kau bisa bertindak seceroboh ini…!" Mitodoka Homura meledak.

"Bayi ini bukan seperti yang mereka pikirkan, bayi ini tidak akan memiliki kekkai genkai baru… dia hanya akan menjadi kerutunan biasa Hyuuga atau Uchiha…!" Tsunade berkata lantang.

"Mereka tidak akan mempercayai itu…!" Koharu menyela tegas dan lugas.

"Keraguan dan ketololan kami ketika menjawab pertanyaan mereka kemarin dianggap sebagai tindak tanduk mencurigakan!" Nenek Utakata Koharu berkata dengan suara yang kembali direndahkan, berharap bisa mengurangi ketegangan yang sedang terjadi. "Kami menyembunyikan, menutup-nutupi…, begitu menurut mereka!"

"Kehadiran anak ini tanpa adanya pembicaraan dan persetujuan lebih dulu oleh dewan persatuan di anggap sebagai ancaman… mereka menuding Konoha mencoba mempersenjatai diri di belakang mereka… hal ini mengganggu keseimbangan perdamaian!" Homura mendelik.

"Ini adalah sebuah kesalah pahaman Koharu-sama, Homura-sama…!" Hiashi berkata menegaskan apa yang sudah sejak tadi dijelaskan oleh Tsunade. Semua kekacauan ini adalah kesalah pahaman, salah mengerti…

"Sayangnya mereka tidak bisa menerima kata kesalah pahaman sebagai jaminan. Kalian tidak tahu berapa banyak kami mengulang mengucapkan kata itu kemarin, Konoha memang berada pada posisi mencurigakan. Kehamilan yang disembunyikan!? Tempat pengasingan!? Mereka menginginkan lebih dari hanya sepatah kata 'kesalah pahaman' Hiashi!" nenek tua itu mendengus lelah.

"Kami mengerti kalian berada pada posisi sulit ketika memutuskan hal ini, tapi seharusnya kami diberi tahu, bukannya mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi dari kami seperti ini! Lihatlah sekarang akibatnya…." Homura bisa mengerti bagian dimana hal ini untuk melindungi clan Hyuuga yang sedang rapuh, tapi kemengertiannya tidak akan berguna untuk melindungi Konoha sekarang. Perang mungkin saja terjadi jika hal ini tidak secepatnya di tangani.

"Situasi kita sekarang sangat sulit. Satu-satunya jalan keluar adalah menghentikan proyek ini…!" mendengar kata-kata itu Hiashi mendongak menatap tajam pada sang tetua. Apa…? Proyek…?

"Ini bukan proyek….!" Hiashi menggeram marah. Kehamilan putrinya bukanlah sebuah percobaan ataupun sebuah program, berani sekali mereka berkata begitu. Sang tetua menyipitkan mata ke arah sang pemimpin Hyuuga, sama sekali tidak ingin kalah.

"Mereka menganggap ini adalah proyek…! Tindakan provokatif…! Ajakan perang…!" Meski kasar dan tidak adil untuk Hinata tapi Homura hanya mengatakan fakta. Hiashi membuat wajahnya membatu tanpa emosi, topeng yang selalu dikenakannya untuk menutupi emosi yang sedang bergemuruh di dadanya. Tetua ini mungkin terdengar kejam, tapi Haishi sendiri pun sebenarnya tahu mereka ini hanya memikirkan keamanan desa, menginginkan yang terbaik untuk Konoha.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Salah seorang Lord Konoha yang sejak tadi hanya diam memperhatikan sambil mengipasi dirinya sendiri akhirnya ikut bicara. Dua orang Lord lain yang duduk disisinya pun ikut mengangguk-angguk anggun menimpali pertanyaan itu.

"Bayi itu terpaksa harus di lenyapkan…!" Tetua tidak boleh memiliki hati, sang nenek Koharu berkata ringan seolah yang ingin dilenyapkan ini hanyalah benda tidak berharga. Sesuatu yang…tidak bernyawa.

Tsunade melirik Hiashi yang memandang hampa kepada dewan yang duduk mengitari meja pertemuan itu satu persatu. Mata itu terlihat sangat dingin dan kelam, serta… kosong. Wajahnya kaku dan mengeras, sisi lembut yang membuat Tsunade terkejut belakangan ini tiba-tiba hilang tertutup dinding tebal ketidak pedulian yang dulu selalu dilihat oleh Tsunade sebelum kehamilan Hinata ini terjadi.

"Saya mengerti….!" Tsunade merinding ketika mendengar kata-kata kaku dan dingin yang dilontarkan oleh Hiashi pada kedua orang tua yang menuntut itu. Mitodoka Homura dan Utakata Koharu serta para Lord Konoha mengangguk puas, jelas sekali senang dengan jawaban dari Hiashi.

"Eksekusi harus disaksikan oleh Dewan Tetua Lima Negara!" Tsunade mendelik mendengar itu, kapan tepatnya hal itu? Apa ini berarti penundaaan pengangkatan janin? Demi tuhan….!

Melihat ketidak senangan di wajah Tsunade Koharu segera menambahkan "Kau tidak mungkin berpikir mereka akan percaya hanya dengan kata-kata kan Tsunade?" Tentu saja mereka ingin bukti nyata, jaminan kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri.

"Jika diberi kabar hari ini mereka akan tiba dalam waktu 5 hari. Jadi luruskanlah apa yang harus diluruskan, jika perlu menenggelamkan seseorang untuk menjaga kapal tidak karam, maka lakukanlah! Pastikan semuanya terkendali."

Otot rahang Hiashi berkedut, Tsunade menggemeratakkan giginya, mereka mengerti maksud kalimat terakhir para tetua dengan jelas. 'Korbankan yang perlu di korbankan'. Tsunade mengulang-ulang geram kalimat itu di dalam benaknya, tapi tidak berdaya untuk melakukan apapun selain merutuk dan menyumpah dibalik gemeratak gigi gerahamnya. Para tetua sialan itu tentu sudah tahu sulit untuk bertahan bagi Hinata jika pengangkatan janin ditunda selama itu… 'Korbankan yang perlu di korbankan' dalam hal ini… Hinata lah orangnya.

Ruangan itu berangsur-angsur lengang, langkah kaki anggun para tetua dan Lord sudah terdengar jauh lamat-lamat. Hiashi dan Tsunade masih duduk bersisian dan membisu, sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana, dan bagaimana. Seolah hari belum cukup buruk, Hiashi dan Tsunade menoleh ke arah pintu bersamaan ketika mendengar pintu ruang pertemuan itu di buka dengan sentakan. Berjalan melewati pintu sambil terseok-seok, Ko menghampiri mereka. Hiashi menutup matanya dan duduk tenang kemudian menghela dan menghembuskan napasnya, bersiap menghadapi badai lain yang bergerak mendekat. Ko membawa berita pergerakan di kediaman Hyuuga. Para pemberontak rupanya tidak ingin melewatkan momen berharga ini begitu saja. Rencana mereka mulai mereka gulirkan. Berisik dan menyenggol, menyuap dan menghasut, mengendap-endap kemudian menusuk, sesuatu harus segera mereka lakukan untuk menghentikannya. Konoha dan Hyuuga sedang berada di ujung tanduk. Dan Tsunade masih melihat wajah batu itu di wajah Hiashi, kokoh dan tidak bisa ditembus, sang Hokage sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala sang Hyuuga.

Tapi setidaknya mereka tahu siapa yang membocorkan semua ini kepada Dewan Tetua Lima Negara. Wajah tampan Ogura Hyuuga ternyata memang berbanding terbalik dengan hatinya.

"Lima hari lagi…. Jika Lima hari lagi menunda pengangkatan janin, berapa kemungkinan Hinata akan selamat melewatinya..?" Pertanyaan tiba-tiba dari Hiashi membuat pikiran Tsunade yang sedang bergelung dengan kerumitan menjadi buyar.

"Aku tidak tahu….!" Tsunade menjawab tanpa berpikir dengan sebuah erangan prustasi.

Setelah diam sejenak untuk mengendalikan diri, ia akhirnya membisikkan keputus asaan pada Hiashi, "Jika pergolakan itu terjadi ketika pengangkatan janin, maka… kita akan kehilangan mereka bedua!" Mata Hiashi semakin kosong di pandangan Tsunade, menerawang, seperti orang yang nyaris gila.

"Seberapa besar Kemungkinan terjadi hal itu?" Beku, dengan nada bicara sedingin es Hiashi menanyakan pertanyan ini.

"90%" Tsunade berkata pahit, akhirnya mengakui kenyataan, Hinata hampir tidak bisa diharapkan akan bertahan. Lima hari adalah waktu yang cukup bagi cakra di dalam tubuh sang bayi untuk menumpuk dan menampung tekanan masing-masing cakra hingga menimbulkan amukan lagi. Cakra penyembuh yang mengusik mereka sudah pasti akan menjadi katalis pergerakan.

"10%" Hiashi mendesiskan sangat pelan sisa kemungkinan putrinya akan bertahan. Pada akhirnya bagaimanapun caranya menggugurkan atau melahirkan, memang hanya sebesar itu lah kemungkinan yang tersisa. Mata putih itu semakin redup, keruh menerawang.

"Bayinya mungkin akan bertahan melewati persalinan….!" Sesunyi malam, kata-kata Tsunade sampai ketelinga Hiashi.

"Kemungkinannya cukup besar…" Tsunade berkata sambil lalu, hanya meracau tanpa berpikir.

"Mari kita luruskan beberapa hal Hiashi…" Tsunade berusaha memulai diskusi panjang mereka, kalimat yang ia katakan sebelumnya seperti tidak pernah ia ucapkan.

"Tolong beri aku waktu sejenak untuk berpikir… " Hiashi ingin melakukan sesuatu… yang ia tahu meski memikirkan beratus-ratus kali pun pada akhirnya ia pasti memang akan melakukannya.

.

.

"Hinata…. Hinata… Bangun…!"

"Ayah….?"

"Hmm…!"

"….."

"….."

"Ada apa ayah…?"

"Apa kau menginginkan bayimu…?"

"Tentu saja ayah… Saya sangat menginginkannya!"

"Meskipun kau mungkin akan kehilangan nyawamu…?"

"…" "Iya ayah….!"

"Apa kau yakin dengan keputusanmu…?"

"Sepenuh hati…!"

"BAIKLAH….. Baiklah… baiklah ….!"

"Ayah…?!"

"…..?"

"Kalau saya tidak bisa bertahan, Ayah akan menjaga dan membesarkannya kan?" Hinata terkejut dan terperangah ketika ayahnya menariknya lembut ke dalam dekapan beliau. Ini adalah ungkapan bersedia dari ayahnya.

"Terimakasih ayah….!" Kelembutan dan kasih sayang bukanlah hal yang bisa di tunjukan oleh seorang Hiashi dengan mudah, selama Hinata bisa mengingat hanya pernah sekali ia di peluk seperti ini oleh ayahnya. Hinata tersenyum lembut di dalam pelukan ayahnya yang begitu erat dan hangat, membuatnya merasa terlindungi dan disayangi. Pelukan ini sama dengan pelukan ayahnya hari itu, hari ketika beliau memeluknya erat-erat diperjalanan pulang ke kediaman mereka setelah berhasil merebutnya kembali dari tangan ninja Kumogakure. Air mata bahagia Hinata mengalir jatuh, karena sama dengan hari itu juga… saat ini… ayahnya mengecup sayang puncak kepalanya dalam diam.

"Tidurlah….!" Tapi berbeda dengan nada kelegaan hari itu…. kata-kata yang sama persis ini dikatakan dengan nada yang jauh berbeda dengan waktu itu.

"Baik ayah…" meski begitu, Hinata tetap menjawab dengan cara yang sama dengan saat itu. Ia mengecup lembut pipi ayahnya, kemudian meringkuk di dalam dekapan hangat itu, ia tertidur tenang di dalam perlindungan kokoh sosok ayahnya. Yang entah mengapa terasa akrab di hatinya, tapi tidak di ingatannya.

'Berjanjilah kau akan membuka mata esok hari…. Putriku….'

.

.

Hiashi Hyuuga sepanjang usianya sudah hidup dalam ekspektasi orang lain, tetua, leluhur, orang tua dan masyarakat. Kata keharusan, kewajiban dan ketaatan adalah hal-hal yang terus menerus dicekokkan ketenggorokannya sejak dia kecil. Harus begini dan harus begitu, jangan seperti ini dan tidak boleh seperti itu. Ketika 'mereka' berkata dia tidak boleh lagi memanggil adiknya 'adik', ia mengangguk patuh. Ketika 'mereka' berkata ia harus menyegel saudara kembarnya, dia menjawab siap. Ketika 'mereka' memintanya menikah, dia melakukan tanpa bertanya. Ketika 'mereka' menuntut kehadiran penerus, ia memberikannya.

Dan hari itu Hiashi tersihir oleh mata besar Hinata yang menatap langsung ke matanya. Wajah kecil seputih salju dengan pipi bulat yang bersemu merah. Tangan kecil mungil itu menggenggam erat-erat ibu jarinya, saat itu mereka menghela napas kecewa di belakang leher Hiashi ketika mngetahui yang di gendongnya adalah seorang 'putri' bukan 'putra'. Dan hari itu juga Hiashi akhirnya tahu apa yang di inginkannya, untuk pertama kalinya dan tentu bukan yang terakhir, Hiashi membentak dan berteriak pada mereka untuk diam. Hari itu Hiashi berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadikan putrinya sebagai penerus yang akan membuat kepala mereka tertunduk patuh padanya.

Dulu… Dulu sekali… Hinata pernah memandangnya dengan tatapan berbinar penuh sayang dan kekaguman yang murni. Seolah dia terbuat dari emas dan permata, seolah sentuhannya senyaman sentuhan bidadari, seolah suaranya seindah senandung surga. Dulu gadis kecilnya pernah berkata…

'Kalau aku besar nanti aku ingin menjadi seperti ayah…' senyum gigi tanggalnya membuat Hiashi menyeringai.

'Aku ingin menjadi hebat dan luar biasa seperti ayah…' nyanyian kecil memujinya selalu mengiringi kalimat ini.

'Jika sudah dewasa nanti aku ingin menikah dengan orang yang seperti ayah….!' tidak ada pujian yang pernah melambungkannya lebih tinggi dari pada kata-kata polos yang meluncur dari bibir mungil itu.

Hinata tumbuh besar dengan beban harapan besar di pundaknya. Tapi dia tidak pernah tumbuh menjadi harapan 'mereka', dia tumbuh menjadi dirinya sendiri. Pemalu seperti kelinci kecil, lembut seperti kelopak mawar, bergerak rapuh seperti kupu-kupu. Hyuuga tidak tersenyum, Hinata tidak mengerti aturan itu. Hyuuga tidak menangis, Hinata tidak bisa menaatinya. Dalam pertarungan tidak ada belas kasihan, Hinata menolak mentah-mentah ketentuan ini. Mereka mulai berbisik dan mencemooh putri kecilnya, meragukan kemahirannya, merendahkan keberadaannya. Hiashi tidak bisa terima. Gelap mata ia menyeret putri kecilnya ke arena tanding dan mengajarinya bagaimana bertarung yang sebenarnya, ingin membuat 'mereka' berhenti menghina Hinata-nya.

Perihnya melihat tatapan terkejut dan ketakutan Hinata ke arahnya masih membekas hingga detik ini di dalam hatinya. Hari itu ia menyadari, hubungan mereka tidak akan perah sama lagi setelah itu. Setelah itu Hinata berlarih keras setiap hari, mencoba memenuhi harapannya yang sebenarnya adalah harapan 'mereka'. Putri manis itu tidak pernah lagi menatap matanya, tidak ada lagi kata-kata manja untuknya, tidak ada lagi gelak tawa. Yang ada hanya…

'Maaf…!'

'Maaf ayah….'

'Maafkan aku ayah….!'

'Aku akan berjuang ayah…! Beri aku kesempatan sekali lagi…!'

'Mohon maafkan aku..'

Isak tangis dan kepala tertunduk hina lah yang selalu di tunjukkan Hinata padanya. Dan Hiashi membenci dirinya yang tidak bisa melakukan apapun. Pelan tapi pasti, Hinata bangkit dan berdiri, bertambah kuat sedikit demi sedikit, mencari jati diri. Hiashi bisa saja berpuas diri, tapi tidak dengan 'mereka', mereka menginginkan lebih. Sepanjang tuntutan dan tekanan itu, putri kecilnya beranjak besar, ia tidak pernah mengeluh, selalu menurut dan mengangguk, senantiasa sopan dan patuh. Lama kelamaan bahkan air mata pun tidak lagi di tunjukkannya, Hinata-nya semakin menjauh darinya, dan ia sendiri pun tidak mengulurkan tangan padanya, terlalu takut pada ego yang terlalu besar. Mereka tidak punya lagi saat-saat itu, tidak punya lagi kehangatan ayah dan anak, mereka hanyalah guru dan murid, pemimpin dan calon penerus. Dan semakin hari Hiashi semakin tahu, dia sudah kehilangan sesuatu yang tidak ternilai di hidupnya, Cinta Hinata.

Tapi tadi malam, setelah sekian lamanya, Hinata menatapnya lagi dengan tatapan itu. Ia rela menukar nyawanya hanya untuk melihat sorot itu lagi di mata putrinya. Tatapan yang memuja dan mengagumi, seolah dia dewa di dalam dunia. Sesuatu di dalam dada Hiashi mati dan hidup di saat bersamaan. Hinata tidak memiliki harapan besar untuk bertahan melewati situasi sekarang ini. Berat hati ia akhirnya mengakui putrinya tidak akan bisa bertahan. Sebagai seorang ayah yang baru saja mendapatkan kepercayaan lagi, Hiashi tidak ingin mengecewakan putrinya untuk kedua kalinya, ia ingin membahagiakan putrinya… yang mungkin… ini adalah untuk terakhir kalinya.

"Aku ingin Hinata melahirkan putranya…!" Jika kedua kemungkinan akan berakhir sama, mengapa dia tidak memilih jalan yang bisa menyenangkan putri sulungnya?

"Perang… akan tercetus Hiashi…! Konoha akan di anggap memberontak…" Tsunade mengernyitkan kening, terkejut luar biasa oleh pengakuan Hiashi.

"Tidak jika ini tidak ada hubungannya dengan Konoha…!" Hiashi berucap dingin.

"Apa yang ayah katakan?" Hanabi memucat.

"Hyuuga dalam masalah jika kau menjadikan ini tanggug jawab clan… Lagi pula saat ini kondisi kalian kan…" Tsunade mencoba menjernihkan situasi dan kepala Hiashi yang sepertinya mulai kehilangan kewarasan.

"Ini juga tidak ada hubungannya dengan clan…!" Hiashi menyela cepat sanggahan Tsunade.

"Maksudmu..?" Tsunade menyipitkan mata bingung.

"Ini hanya akan menjadi tanggung jawabku sendiri, bukan Konoha, bukan Hyuuga. Hanya aku…!" Hiashi berkata mantap. Hanabi, Tsunade dan Ko menahan napas ketika menanti Hiashi melanjutkan kata-katanya.

"Aku akan membawa pergi Hinata diam-diam, tanpa sepengetahuan Hyuuga ataupun Konoha…! Kalian tidak pernah mendengar hal ini." Hiashi menyatakan kalimatnya pada Hanabi dan Tsunade, mengisayaratkan bagaimaa mereka harus bersikap, 'berpura-puralah bodoh dan tutup mata'.

"Bagaimana itu mungkin Hiashi?" Tsunade mengerang tidak mengerti.

"Pertama-tama keadaan clan Hyuuga..!" tanpa mengindahkan tatapan yang diberikan orang-orang diruangan itu Hiashi melanjutkan menjelaskan rencananya. Ia mengeluarkan gulungan kemudian meletakkannya di atas meja kayu yang mereka kitari.

"Kekacauan ini tentu sudah sampai ke telinga para pemberontak itu, mereka saat ini pasti sedang menyusun rencana untuk menyerangku!" Dengan tenang Hiashi membuka gulungan itu perlahan, menujukkan kertas putih yang menampung beberapa nama tetua Hyuuga senior yang masih memerintah maupun yang sudah hengkang dan digantikan oleh keturunannya, lengkap dengan pernyataan dan bubuhan darah yang menyegel pernyataan mereka.

"Gulungan ini adalah gulungan yang memperkuat dan mengakui posisi Hanabi sebagai pemimpin clan yang baru…!" Hanabi harus berada di posisi aman. Hiashi sudah menyiapkannya sedari dulu, untuk berjaga jika terjadi sesuatu yang tidak tertebak seperti sekarang ini. Pilihan paling akhirnya jika kondisi sudah sangat genting. Kelicikan bukan hal yang tidak bisa dia lakukan juga, jika mereka memulai maka dia akan meladeni.

"Apa..? Ayah…?!" Hanabi memekik gemetaran, rencana macam apa yang sudah di susun ayahnya?

"Kau akan menjadi pemimpin Hyuuga, Hanabi.. mulai detik ini…!" Hiashi berucap tegas pada putrinya.

"Aku tidak bisa…." Hanabi menggelengkan kepalanya keras-keras, sekuat tenaga berharap hal itu bisa mengubah takdir dan membuatnya terbangun dari mimpi buruk yang terlalu panjang ini.

"Hanabi…!" Hiashi menyentak putrinya, menatap mata gadis itu dalam-dalam kemudian berkata.

"Ini lah yang harus kau lakukan untuk menolong kakakmu dan juga clan Hyuuga!"

'Tidak' benak Hanabi memekik nyaring, ini tidak akan menyelamatkan kakaknya, Hinata tetap akan mati.

"Kesempatan ini akan mereka gunakan untuk merebut tampuk kepemimpinan. Oleh karena itu, kau harus mengambilnya selagi masih bisa, posisimu masih kuat Hanabi!" Berbeda dengan posisinya yang sekarang melemah, Hanabi punya kesempatan besar.

"Kau adalah putriku yang kuat, kebanggaan Hyuuga dan kebanggaanku. Selama ini kau tidak pernah mengecewakan ayah, juga 'mereka'. Kau adalah segalanya yang 'mereka' inginkan sebagai penerus. Kau akan cukup kuat untuk membuat para memberontak itu menyembah dan memohon ampun di kakimu. Kau lah yang akan membuat mereka membayar penderitaan yang mereka sebabkan ini." Hiashi mengungkapkan isi hatinya yang dia kira tidak akan pernah benar-benar ia utarakan. Hanabi bersungut-sungut dalam nestapa, tapi Hiashi tahu Hanabi sudah menyanggupinya jauh di dalam dirinya.

"Tsunade-sama, kau harus menolongku untuk memastikan hal ini berjalan lancar dengan Hyuuga!" Hiashi menatap Tsunade penuh harap. Sambil menghela napas Tsunade mengangguk pasrah, memangnya mereka punya pilihan lain?

"Hanabi, yakinkan mereka kalau kau tidak ada hubungannya dengan hal ini. Lakukan apa yang merka harapkan kau lakukan, katakan hal-hal yang mereka ingin dengar. Kau harus melakukan itu sampai kau bisa berdiri kokoh dan tidak tergoyahkan di puncak kepemimpinan. Dan jika nanti saatnya tiba kau lah yang akan membuat mereka melakukannya untukmu…!" Bersabar untuk menyerang, Hiashi berharap putrinya ini mengerti apa yang di inginkannya.

"Saat-saat kritis adalah saat ketika kepergianku membawa Hinata nanti sampai ketelinga mereka. Usahakan untuk menunda selama mungkin untuk mengabarkan kepergianku, tapi jangan terlalu mencolok hingga menimbulkan kecurigaan pada kalian. Kalian harus bisa membuat mereka mempercayai kalau kalian tidak ada hubungannya dengan apa yang kulakukan!" Hiashi menatap Hanabi lekat-lekat, putrinya ini akan menghadapi hal yang tidak mudah kelak.

"Besok aku akan pergi dini hari bersama para ninja bayaran, para bunke dan penjaga yang mereka tugaskan akan ku buat tertidur. Setidaknya cobalah untuk mengulur waktu sampai tengah hari, karena pada saat itu kami sudah akan berada pada jarak yang cukup jauh sehingga tidak akan bisa di kejar dengan mudah."

"Tsunade-sama kau pasti mengerti apa yang akan kau lakukan setelah itu…!" Hiashi dan Tsunade bertukar lirikan penuh isyarat.

"Tentu saja!" Tsunade mendengus lelah.

'Menjadikanmu buronan dalam daftar hitam. Pemberontak tidak hanya untuk Konoha tapi seluruh negara. Mengerahkan kekuatan penuh –yang sesungguhnya tidak penuh- untuk memburu dan menangkapmu!' Tsunade berguman dalam benaknya, atau dengan kata lain… "Mencuci tangan lalu melimpahkan seluruhnya ke pundakmu!" Tsunade berkata pelan menegaskan, Hiashi mengangguk puas atas kecepat tanggapan Tsunade.

"Apa yang akan terjadi padamu ayah?" Hanabi membelalak menatap ayahnya khawatir. Setelah keadaan Hinata, Hanabi tidak ingin juga akan kehilangan ayahnya.

"Aku tidak akan tertangkap semudah itu Hanabi!" Hiashi menenangkan putrinya yang nampak panik.

"Oleh karena itu kau harus menjadi pemimpin Hyuuga yang kuat. Berpengaruh dan tak terbantah, karena jika nanti kami kembali kau lah satu-satunya yang bisa memberi perlindungan pada kami…!"

"Ayah dan Hinata akan kembali..?" Mata Hanabi berbinar penuh harap. Meski ia tahu yang di maksud ayahnya dengan 'kami' adalah ayahnya dan putra Hinata, bukan Hinata-nya.

"Hinata mungkin tidak akan bertahan!" Hiashi mengingatkan putrinya sekali lagi, tidak ingin membuat Hanabi mengharapkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Hanabi terisak, lalu apa artinya semua ini jika Hinata tetap akan mati? Demi bayi itu..? Demi clan Hyuuga..? Demi apa…?

"Kau berniat kembali?" Tsunade bertanya setengah mengharap.

Hiashi mengangguk singkat, "Tidak mungkin bersembunyi selamanya…! Jika bayi ini sesuai yang kau katakan maka akan ada kemungkinan dia akan memiliki Byakugan saja… dan jika benar begitu aku akan membawanya pulang ke Konoha. Selama menunggu waktu yang tepat aku akan mengumpulkan bukti-bukti untuk meyakinkan Dewan Persatuan kalau dia tidak berbahaya dan bukan pemilik kekkai genkai baru…!" Hiashi menjelaskan rencananya yang sudah dia perhitungkan matang-matang.

"Itulah mengapa kau harus kuat Hanabi…!" Hiashi berucap. Membuat Hanabi memejamkan matanya, ia ingin berteriak melepaskan ketakutan dan ketidak berdayaannya.

"Dan jika tidak…?" Tsunade melihat kedut dipelipis Hiashi ketika dia mengutarakan kalimat itu.

"Bagaimana jika anak itu mewarisi Sharinggan?" Tsunade memperjelas pertanyaannya.

"Aku akan mencarinya…!" Hiashi menerawang jauh melewati bahu Tsunade dan Hanabi yang duduk di depannya. Mereka tahu siapa yang akan di cari oleh Hiashi… tak lain dan tak bukan yaitu sang Uchiha terakhir, ayah si bayi, Sasuke Uchiha. Hiashi tidak akan bisa mencari bukti sendiri jika menyangkut Sharinggan, ia yang hanya pengguna Byakugan memerlukan bantuan dari seorang pengguna Sharinggan untuk menemukan bukti-bukti yang bisa menguatkan Sharinggan cucunya kelak.

"Ketika kabar pemberontakanmu menyebar pengamanan di pelosok dunia ninja pasti akan di tingkatkan.. bagaimana kau akan bertahan? Juga tenaga medis, apa kau memilikinya?" Hinata bisa mengalami pergolakan kapan saja, lagi pula persalinan ini bukanlah persalinan yag mudah. Tsunade mau tidak mau jadi gelisah.

"Tempat persembunyian yang dulu pernah ku persiapkan masih kusiagakan sampai sekarang, awalnya hanya untuk berjaga-jaga tapi sekarang kesanalah tujuan kami. Selain para ninja bayaran yang sudah kumiliki sekarang aku punya pengawal yang sudah menunggu di sana serta tambahan pasukan yang akan menyusul untuk mengawal kami di perjalanan, mereka sudah bergerak dalam perjalanan ketika kita bicara sekarang." Hiashi merincikan rencananya lebih jelas lagi.

"Dan untuk tenaga medis, aku punya 3 ninja medis terbaik yang bisa ku temukan di luar sana. Aku tidak bisa mendapatkan yang lebih dari pada yang kumiliki saat ini!" Mereka tidak sehandal Shizune dan Tsunade, tetapi mereka adalah yang terbaik yang bisa di upayakan oleh Hiashi. Tidak akan banyak yang ingin ikut ke dalam sebuah ekspedisi, jika yang kau iming-imingkan sebagai imbalan adalah uang dan kemungkinan kematian. Mereka yang dimilikinya saat ini adalah pasukan yang memang berani mati demi uang.

"Ijinkan saya ikut!" Naruto tiba-tiba muncul dari balik pintu geser yang dibukanya dengan kasar.

"Ijinkan saya ikut untuk melindungi Hinata…!" lama mencuri dengar akhirnya Naruto kehabisan kesabaran untuk menunggu.

Hiashi memandang wajah Naruto yang rautnya berubah-ubah tidak bagus, mengernyit, merengut, meringis, anak itu terlihat tertekan. Hanabi dan Tsunade serta Ko menatap Naruto takjub, sejak kapan anak itu ada di sana? Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menyadari keberadaannya.

"Kemari…!" Hiashi berseru memerintah ke arah Naruto. Memandang anak yang selama dua bulan ini jadi bulan-bulanan pelampiasan kegelisahan dan kemarahannya. Anak yang selalu membuatnya kesal karena mengendap-endap masuk ke pengasingan ini untuk menemui putrinya.

"Duduklah…!" Sosok ayah itu menganggukkan kepalanya mengisyaratkan Naruto untuk duduk di dekatnya. Naruto gontai mendekat dan duduk tertunduk di depan sang pemimpin Hyuuga.

"Tegakkan bahumu...!" Hiashi berucap dengan nada yang biasa dia gunakan untuk memerintah Hinata dan Hanabi. Naruto terkejut mendengar kesan hangat samar yang bisa dirasakannya mengalir bersama suara itu. Melirik Hiashi, ia akhirnya menyadari sang pemimpin Hyuuga itu ingin dia menuruti perkataannya. Sedikit bantuan kekuatan yang tersisa Naruto menegakkan bahunya sambil memandang Hiashi dengan wajah yang kebingungan.

"Angkat dagumu…!" Kali ini suara itu keluar dengan nada yang lebih menuntut, seakan menantang Naruto untuk melakukan lebih dari sekedar mengangkat dagu. Naruto menatap Hiashi, Hiashi menatap lekat Naruto. Mereka beradu pandang dalam diam, lumayan lama sampai Hiashi akhirnya membuka suara.

"Aku menghargai keinginanmu yang ingin melindungi putriku!" Sang ayah berucap tulus.

"Tapi bukan itu yang di perlukan Hinata sekarang darimu!" Rahang Naruto mengerat mendengar itu, kedua belah tangannya mengepal di atas lututnya yang duduk rapi. Lalu apa lagi yang bisa di lakukannya untuk Hinata?

"Putriku sangat memandang tinggi padamu, dia menghormati dan mengagumimu. Dan aku sangat yakin kalau…" Hiashi melihat mata biru Naruto memandangnya dalam, gelisah menanti Hiashi menyelesaikan kalimatnya.

"Dia…", 'Aku…' Hiashi membenarkan di dalam benaknya " tidak ingin kau melibatkan diri ke dalam 'hal' ini!" Mendengar itu kerutan kening Naruto menajam. Kenapa…?

"Seperti yang kau lihat sendiri, situasi ini bukan situasi yang gampang. Akan lebih baik untukmu jika kau tidak ikut campur.."

"Aku ingin bersamanya… itu saja… Aku hanya ingin berada di sisinya…!" Naruto menunduk menahan amukan rasa di dadanya. Semua ini karenanya… tidak mungkin dia meninggalkan Hinata sendirian untuk menghadapinya, lagi pula Hinata mungkin akan… ini mungkin adalah kesempatan terakhirnya untuk bersama Hinata.

"Kau akan menjadi Hokage kan..!?" Hiashi berucap sambil terus menatap Naruto. Ia tahu anak ini diliputi rasa bersalah yang mendalam pada putrinya, ia tahu Naruto menganggap apa yang terjadi pada Hinata adalah kesalahannya. Anak ini terus menunjukkan keseriusannya untuk mempertanggung jawabkan apa yang terjadi pada Hinata meski putrinya itu terus menghindar dan mendorong pemuda ini menjauh dari kekacauan yang terjadi. Hiashi sering memergoki Naruto dan Hinata berbagi tatapan memelas satu sama lain, seolah saling berkata 'tolong hentikan…!' dan di jawab dengan 'tidak akan!'. Naruto adalah anak yang bertanggung jawab, tenaga pelindung yang tidak terkalahkan. Tapi anak ini masih punya masa depan yang terang benderang di depannya, anak yang di takdirkan akan merubah dunia.

"Jika kau ingin melindunginya, jadilah seorang Hokage yang disegani! Dengan begitu kelak kau akan bisa melindungi yang disayanginya…!" Hiashi menepuk pundak Naruto kemudian berdiri.

'Bayi Hinata' benak Naruto berucap muram, akan terlambat untuk Hinata tapi tidak untuk bayinya.

"Sekarang pergilah… kalian tidak pernah berada di sini malam ini… apa kalian mengerti!?" Hiashi melenggang pergi ke arah pintu di ikuti oleh Tsunade dan Ko. Mengusir halus Hanabi dan Naruto dari sana, anak-anak ini tidak boleh terlihat ada disini.

"Hinata kalau ini caramu menghukumku… ini keterlaluan…!" Naruto menarik rambut kuningnya yang acak-acakan. Berpisah dengan cara seperti ini terlalu menyakitkan, mereka tidak akan bertemu lagi, tidak akan ada lagi pipi bersemu dan sipu malu gadis itu. Naruto tidak bisa merelakan Hinata secepat ini, dan dengan cara seperti ini. Hanabi yang sejak tadi menangis mendongak menatap Naruto, sedikit kepuasan mengisi hatinya, ya… memang begitu lah kau seharusnya Naruto, kau seharusnya memang menderita seperti ini.

"Jangan berpura-pura….! Hinata akan mati… dan kau bisa bersama Sakura sesuka hatimu…! Kau senangkan sekarang..?!" Hanabi berucap sembari berlari meninggalkan Naruto yang mendadak kaku di tempat duduknya.

'Safir biru untuk Hinata…'

.

.

"Sudah?" Shizune bergegas mendekat ketika melihat Hinata mulai mendorong meja saji makanan dari hadapannya di atas tempat tidur. Hinata tidak bisa meneruskan makannya lagi, perutnya sudah mulai terasa bergolak.

"Iya… maaf…!" Hinata menjawab tidak enak, ia sudah sangat merepotkan Shizune akhir-akhir ini, dan sekarang bahkan harus makan di atas tempat tidur! Hinata menggigit bibir, di dalam hati memohon pada tuhan agar Shizune tidak harus sampai menyuapinya.

"Terimakasih Shizune-san…!" Hinata berkata pada Shizune yang sedang membereskan makanan yang sebenarnya bisa disebut sama sekali tidak tersentuh. Setidaknya malam ini dia berhasil menelan lima suapan makanan tanpa menguras isi perutnya lima detik setelahnya seperti hari-hari kemarin.

"Sama-sama…!" Shizune tersenyum manis menjawab ucapan terimakasih yang disertai nada penyesalan dari Hinata. "Sekarang istirahat lah…! Kau harus kuat untuk bayimu…" Senyum yang lebih dipaksakan sempat ditangkap oleh mata Hinata sebelum perawat baik hati itu menutup pintu kamarnya.

Hinata menghela napas panjang, kemudian berbisik pelan pada ruangan yang kosong "Maaf….!". Semua orang mengkhawatirkannya, mereka semua mengkhawatirkan keselamatannya, mereka semua bersedih untuknya. Hinata meminta maaf untuk itu, tapi dia tidak bisa melakukan lebih dari itu… untuk malaikat kecil ini, dia tidak ingin menyerah. Dia ingin terus berjuang hingga garis akhir, ia tidak takut dan ragu meski ia tahu kematian jelas bersisian dengan garis akhir itu sendiri.

"Cepatlah lahir sayangku…. Ibu ingin bertemu…!" Hinata membelai permukaan perutnya dari balik kimono yang dikenakannya, matanya berair, ia ingin sekali melihat wajah bayinya ini, mendengar tangisnya, menyentuh kulitnya, mengecup pipinya, meski itu hanya sekali.

"Kau akan mirip siapa ya? Ibu..? atau ayah..?" Hinata tersenyum kecil ketika senggolan ia rasakan di dinding perutnya. "Kalau mirip dengan ayah…pasti… sangat manis…" Hinata berbisik dengan senyum sedih.

"Apa yang akan ayah katakan kalau tahu kau ada..?"

'Apa dia akan senang…? Atau… akan marah?' Ketakutan membayang di wajah Hinata, ia bertanya-tanya apa Sasuke kelak akan mau mengakui buah hati mereka atau justru menolaknya?

'Sasuke…' Hinata mengalihkan pandangannya melewati jendela terbuka di sisi kiri tempat tidurnya.

'Kau ada di mana..? Apa kau sudah melupakanku… Sasuke?' Hinata menatap nanar gerbang kediaman ini, berpuluh-puluh kali ia memimpikan sosok sang Uchiha berjalan tegak melewati pintu itu dan berlari kearahnya. Mungkinkah mimpi itu bisa jadi nyata? Atau pemuda itu tidak ingin bertemu dengannya lagi?

'Bisakah aku melihatmu lagi untuk yang terakhir kali?'

Pikiran Hinata buyar seketika saat ia merasakan kehadiran seseorang di ambang pintu, seseorang sedang memandanginya. Hinata menoleh ke pintu di samping kanannya. Hanabi berdiri di sana dengan napas naik turun cepat dan mata dibanjiri air mata. Pelan-pelan Hanabi bergerak mendekat padanya.

"Hanabi?" Hinata memandang khawatir wajah Hanabi.

"Ada apa?" Hanabi menahan napas ketika tangan kurus Hinata terjulur untuk meraihnya, ia menjauh teratur ingin membalas dendam dan menunjukkan kemarahannya pada kakaknya itu.

"Apa kau menyayangiku Hinata?" Hanabi berucap di sela isakannya, merasa tidak berdaya mengingat keadaan yang harus mereka hadapi.

"Tentu saja Hanabi-chan!" Hinata berkata yakin dengan senyum lembut di bibirnya.

"Bohong!..." Hanabi memekik keras membuat Hinata kaget. 'Kalau kau menyayangiku kau tidak akan mati dan meninggalkanku Hinata' Hanabi meraung di dalam hatinya.

"Kau tidak menyayangiku! Kau sama sekali tidak menyayangiku! Kau bohong!" Hanabi mengusap kedua matanya yang terus mengeluarkan air mata. Ia membungkuk menahan nyeri tangis di dadanya.

"Braak!" Suara sesuatu yang jatuh membuat Hanabi mengangkat kepalanya, di atas lantai Hinata sedang terduduk jatuh dengan tangan menggapai-gapai di udara berusaha meraih adiknya yang masih berdiri jauh dari jangkauannya. Matanya memancarkan kekhawatiran, Hanabi segera beringsut mendekat pada Hinata yang langsung disambut Hinata dengan pelukan erat.

"Aku sangat menyayangimu! Tolong jangan pernah meragukannya Hanabi. Aku menyayangimu!" Hinata mengelus lembut rambut panjang adiknya. Hanabi membenamkan wajahnya dibahu kakaknya yang kecil kurus.

"Jangan meninggalkanku! Kumohon jangan mati Hinata!" Hanabi meraung terbungkam.

"Mereka bilang kau akan mati!" Hanabi merengkuh erat kakaknya, tidak ingin dia lepas dari pelukannya. Hinata hanya diam sambil terus mengelus lembut punggung Hanabi, dia tidak bisa mengatakan apapun, menyadari Hanabi cepat atau lambat pasti akan tahu hal itu. Dia menyadari kalau dia sudah membuat Hanabi sedih, tapi untuk sekali ini saja dia ingin bersikap egois.

"Keluarkan saja dia dari tubuhmu! Kumohon!" Hanabi memohon meski tahu itu sia-sia, bagaimanapun juga Hinata tetap akan mati, tapi dia tidak ingin mengakuinya. Tubuh Hinata tiba-tiba menegang, Hanabi bisa merasakan kakaknya itu menggeleng cepat. Hanabi menarik dirinya dari pelukan Hinata untuk menatap wajah Hinata yang terlihat seakan-akan bisa berhenti bernapas kapan saja. Pucat, kurus, kelelahan dan kewalahan.

"Hanabi, kumohon jangan kau juga!" Hinata memelas sedih pada Hanabi. Hingga saat ini hanya Hanabi dan Naruto lah yang belum membujuknya untuk menggugurkan bayinya. Selama ini kedua orang itu masih menahan diri untuk menjaga perasaannya.

"Kau bilang kau akan menyayanginya kan?' Hinata mengingatkan adiknya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi putih gadis itu. Hanabi menggeleng, dia memang mengatakan itu, tapi itu ketika semua masih baik-baik saja, dia tidak tahu ini semua akan terjadi. Kening Hinata bertaut melihat reaksi Hanabi.

"Aku tidak akan! Dia menyakitimu!" Hanabi memandang benci pada perut Hinata yang membuncit berisi bayi, sumber dari penderitaan kakaknya.

"Dia tidak menyakitiku Hanabi, dia hanya seorang bayi kecil!" Hinata mengelus perutnya sayang sambil menatap Hanabi mengiba.

"Putraku, dia darah dagingku Hanabi, bagaimana mungkin aku akan membunuhnya?" Hinata berkata pelan dengan wajah sedih.

'Putra kami!' senyum kecil terbentuk dibibirnya yang mengering, dia ingin melahirkan putra Sasuke, matipun tidak apa, asal bisa menghadirkan malaikat kecil di dalam perutnya ini ke dunia, menghadirkan penyelamat ini ke dalam hidup Sasuke, dia yakin suatu hari nanti Sasuke akan menyadari keberadaan anak ini.

"Tapi kau akan mati!" Hanabi kembali berteriak menarik tangan Hinata yang tengah mengelus lembut perutnya. Bagaimana mungkin Hinata masih bisa menyayangi monster itu padalah dia sendiri akan mati karenanya… Hanabi tidak bisa mengerti.

"Jangan begini, kumohon jangan bersikap seperti ini, Hanabi!" Air mata juga ikut mengalir dari mata Hinata. Melihat itu Hanabi langsung memeluk kakaknya lagi, sosok yang selalu menjadi kakak sekaligus ibu untuknya, seseorang yang selalu jadi teman dan pelindung baginya.

"Jangan membencinya!, Hanya kau yang bisa menjaganya kelak! Kumohon sayangi lah dia, keponakanmu!"

Hanabi tidak menjawab, hanya menangis pelan di pelukan Hinata yang mengiba memohon, dia semakin menyadari kalau kakaknya itu akan benar-benar meninggalkannya. Sama seperti ibunya Hinata juga akan pergi meninggalkannya… Kesadaran bahwa sebentar lagi sosok ini akan menghilang dari hidupnya membuat perasaan Hanabi jumpalitan tidak terkontrol, ia marah, ia sedih, ia takut dan yang paling besar adalah ia meresa tidak berdaya.

"Hanabi… " Di ambang pintu ayahnya memanggil dengan tegas, mengingatkan padanya untuk segera meninggalkan tempat ini. Hanabi membenci ini, semua ini. Setelah ini dia diharuskan duduk manis di antara tetua Hyuuga dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia harus bersikap tidak perduli dan pura-pura tidak tahu menahu. Bersikap seperti dia baik-baik saja ketika kakaknya pergi untuk meregang nyawa, bertingkah seperti dia berbahagia menjadi pemimpin Hyuuga ketika ayahnya secara tidak langsung sudah berada di bawah tiang gantungan.

"Ini…!" Hanabi mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya tergesa-gesa. Dari dalamnya dia mengeluarkan sepasang cincin cantik yang berhiaskan batu safir biru cerah dan jernih. Janjinya pada Hinata yang sungguh disesalinya tidak bisa ia buat jadi kenyataan.

"Jangan pernah menanggalkannya dari jarimu…!" Hanabi bergumam sambil menyematkan salah satu cincin yang ukurannya lebih kecil ke jari manis tangan kiri Hinata.

"Saifr biru…?" Hinata menatap cincin dijarinya kemudian mengernyit tidak mengerti pada Hanabi.

"Safir biru milikmu…! Ini janjiku padamu…" Seketika amethyst Hinata melebar saat mengingat janji Hanabi ketika itu.

"Aku akan memakainya sampai maut menjemputku…!" Hinata berkata lembut pada Hanabi, mengira cincin itu adalah tanda cinta dari adiknya untuknya.

'Bawa keliang lahat jika perlu, dia tidak akan menjadi milik siapapun selain milikmu Hinata…' Hanabi yang nyaris gila mulai menciptakan dunia kecil khayalannya sendiri untuk menjaganya tetap waras menghadapi semua ini.

"Terimakasih Hanabi-chan…! Aku menyayangimu…"

000888000

"Saat itu adalah terakhir kalinya aku melihat ibumu…!" Sembur Tsunade nyaris terdengar lega.

"Anda tidak pernah melihat ibu lagi setelah itu…?" Itachi menyela untuk pertama kalinya sepanjang cerita.

"Ya… " Ucap Tsuande singkat, tidak ingin menambahkan detail apapun yang bisa mengganggu keseimbangan rapuh ini.

"Apa yang terjadi selanjutnya…?" Itachi belum puas.

"Semuanya berjalan sesuai rencana di Konoha… Hanabi menenangkan pergolakan Hyuuga dengan sebuah perjanjian, gadis itu bersedia menikahi Ogura sang pemberontak untuk membuatnya bungkam di saat-saat genting itu. Setelah perdebatan panjang akhirnya Konoha dinyatakan tidak bersalah dengan syarat harus mengerahkan pasukan terbaik untuk memburu Hiashi. Pasukan persatuan lima negara mulai berlarian keberbagai penjuru negeri untuk memburu kakekmu…"

"Apa kakek dan ibu tertangkap..?" Itachi menahan napas.

"Ya… kakekmu tertangkap setelah seminggu bersembunyi. Di pihaknya sepertinya rencana tidak berjalan lancar." Hanya kakeknya..? Bagaimana dengan ibunya..? Itachi sangat ingin mengetahuinya, sampai-sampai menunggu beberapa detikpun terasa terlalu lama.

"Dia tertangkap di sebuah goa batu di perbatasan terluar Negara api dengan Kumogakure. Aku berhasil mendesak pasukan persatuan untuk menggiring Hiashi kembali ke konoha untuk diadili di Konohagakure." Tsunade menjawab segera karena melihat kegelisahan dimata Itachi.

"Bagaimana dengan ibuku..?" Itachi berseru cepat.

"Dia berkata kau dan ibumu tidak bisa bertahan, menurutnya kalian sudah dikebumikannya di suatu tempat yang hanya dia seorang yang mengetahui letak tepatnya. Tentu saja tidak ada yang percaya dengan itu. Introgasi berlangsung alot dan kasar tapi Hiashi menolak mengatakan keberadaan kalian sebenarnya, akhirnya di putuskan menjatuhkan hukuman mati padanya." Mendengar itu Itachi mendingin, satu lagi orang yang meninggal karenanya, Ibunya lalu kakeknya.. keberadaannya ternyata membawa begitu banyak luka. Wajah Itachi yang meredup membuat Tsunade segera melanjutkan kata-katanya.

"Tapi Hanabi berhasil meyakinkan mereka untuk membiarkan Hyuuga yang melakukan peradilan pada seorang Hyuuga yang berkhianat. Bagaimana caranya aku yakin kau tidak akan ingin tahu…!" Tsunade mengernyit samar ketika mengingat kejadian itu.

"Bagaimana?" Takut-takut Itachi bertanya. Ia penasaran bagaimana caranya Hanabi yang saat itu baru berumur 16 tahun bisa meyakinkan dewan tetua lima negara untuk mengambil alih peradilan kakeknya.

"Ia menunjukkan keseriusannya dalam menghukum Hiashi dengan mencongkel kedua bola mata kakekmu dengan tangannya sendiri di depan semua orang… " Itachi dan Eri membelalak ngeri mendengar perkataan Tsunade. Sang mantan Hokage mengakui ketabahan Hanabi dalam menghadapi hal ini. Lebih baik tidak punya bola mata dari pada tidak punya kepala.

"Ia menuntut orang-orang di ruangan itu untuk menghormati clan Hyuuga dalam hal ini. Tetua terkesan dengan ketegasannya sehingga memberikan keleluasaan pada Hanabi untuk menentukan hukuman."

"Jadi kakek masih hidup?" Itachi bertanya penuh harap.

"Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi setelah dia di bawa masuk ke dalam kediaman Hyuuga." Hanabi menyimpan rapat—rapat keberadaan ayahnya dari mata tetua dewan persatuan lima negara. Hingga pada suatu titik di perdebatan, mereka meyakini kalau Hiashi memang sudah di eksekusi mati oleh putrinya sendiri.

"Dengan usia yang masih sangat muda Hanabi memimpin Hyuuga dengan tangan dingin, pelan-pelan Hyuuga kembali kepada kondisi stabil di bawah kepemimpinannya. Hanabi tidak membiarkan tetua menemukan sedikitpun kecacatan dan celah untuk menjatuhkannya. Dia menikahi Ogura sesuai janjinya, kemudian memberikan penerus yang di inginkan tetua ketika dia berusia 18 tahun. Lalu diam-diam dan dengan sangat rapi membereskan clannya dari musuh dalam selimut, ia menjadi janda tepat setelah 3 bulan melahirkan putrinya." Tidak ada lagi Hanabi cengeng yang bergelayutan manja di tangan Hinata dari ingatan Tsunade. Yang ada hanyalah seorang gadis yang terpaksa harus menjadi dewasa sebelum waktunya, ditempa kokoh oleh situasi dan keadaan untuk menjadi besi dingin nan tajam.

Lewat penuturan itu Itachi akhirnya tahu alasan mengapa Hanabi sangat membencinya. Karena dia lah yang sudah menyebabkan bibinya itu mengalami hal-hal tidak menyenangkan serta duka mendalam. Kata 'maaf' sepertinya tidak akan pernah tersanding bersisian dengan namanya di hati Hanabi.

"Keberadaanmu dan ibumu sama sekali tidak terdeteksi dimanapun meski penyisiran terus dilakukan selama dua tahun penuh. Dan 'mereka' mulai berpikir kalau kakekmu mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula sudah cukup banyak waktu, uang dan tenaga yang dicurahkan hingga akhirnya penyisiran besar-besaran itupun dihentikan."

"Tapi pada penghujung tahun ketiga, saat itu aku masih menjadi pendamping Naruto yang baru satu tahun menjabat sebagai Hokage. Tiba-tiba entah datang dari mana, Ayahmu ditemukan tersungkur pingsan di depan gerbang Konoha, kritis nyaris kehabisan darah dengan membawa seorang bocah lelaki yang tertidur pulas akibat genjutsu di punggungnya…!" Tsunade menghela napas lelah.

"Dan ketika Dewan Tetua Persatuan Lima Negara mendengar kabar ini, kerumitan pun dimulai dari awal lagi…"

Cerita dari Tsunade berlanjut sampai membuat kepala Itachi terasa penuh dijejali hal yang membuatnya ingin menulikan telinganya sendiri.

000888000

Semuanya berawal dari sebuah harapan. Harapan kecil Itachi yang sudah di milikinya sejak dia baru mengenal dunia dan kata 'ibu'. Yaitu adalah untuk mengetahui siapa sosok wanita yang telah menghadirkannya ke dunia. Kata asing untuk di suarakan tapi sangat ia rindukan saatnya untuk mengucapkan. Ibu… dulu dia pernah mencoba memanggil bibi Sakura-nya dengan sebutan itu, tapi kemudian semua orang berkata tidak boleh, terutama sang bibi berambur merah muda itu sendiri. Sekarang setelah mendengar cerita dari Tsunade akhirnya Itachi bisa mengerti sorot mata ketakutan Sakura ketika mendengarnya memanggil gadis itu dengan sebutan 'ibu'. Bibi Sakura-nya itu pasti lah tidak ingin menggantikan sosok Hinata dengan sosoknya sendiri, karena ibu-nya itu memang tidak akan bisa tergantikan. Dengan cinta dan pengorbanan yang begitu besar Itachi telah dihadirkan ke dunia oleh ibunya. Wanita paling mencintainya dan Itachi janjikan akan paling dicintainya di dunia. Itachi berandai-andai, jika saja ibunya masih hidup akan seperti apa jalan hidupnya sekarang? Akankah berbeda dari jalan hidup yang di susurinya hari ini? Pelukan seorang ibu akan seperti apa rasanya? Masakannya? Suaranya? Senyumnya?

'Manusia memang tidak pernah puas…' Itachi tersenyum getir sambil terus berjalan dan melamun. Ingin lebih dan lebih lagi, tidak pernah berpuas diri, itu lah manusia. Dia dengan segala ke-tidak tahu terimakasih-an nya sekarang ingin meminta lebih. Itachi ingin memeluk ibunya… Apakah tidak mungkin..?

'Tentu saja.' Itachi menggeleng pelan, menegur dirinya sendiri.

Cerita yang baru terungkap ini membuat sebagian besar hal yang selama ini di benak Itachi terasa ganjil akhirnya bisa menemukan jawaban pasti. Seperti hubungan ayahnya dengan Naruto. Itachi bingung bagaimana cara untuk menggambarkannya, mereka adalah sahabat yang sudah seperti saudara, kesetiaan dan kepedulian mereka terhadap satu sama lain tidak bisa di ragukan lagi, tapi meski samar Itachi selalu bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Juga Kiba dan Shino yang selalu memperlakukannya seperti benda rawan pecah yang harus di perlakukan hati-hati, Itachi sering tertunduk menanggung malu pada Rio dan Toya karena sikap kedua paman yang terlalu belebihan menjaganya. Serta sikap bibi Tenten yang sebelum ini dia kategorikan sebagai unik, mata bibi yang satu itu akan memerah dan berair tanpa sebab di beberapa kesempatan, dan biasanya selalu berakhir dengan pelukan erat penghancur tulang untuknya.

Kemudian Hanabi dan Hyuuga yang selama ini selalu bersikap seolah dia adalah penyakit menular yang menjijikkan. Kebencian Hanabi padanya ternyata bukannya 'tidak beralasan', bibinya itu pastilah sudah melewati hal yang sangat berat hingga membuatnya begitu membencinya seperti sekarang ini. Kehilangan kakak satu-satunya, harus menghukum ayah kandungnya sendiri, dan banyak lagi hal yang mungkin hanya bisa Itachi impikan dalam mimpi buruknya sudah bibi malang itu lewati… Apa mungkin suatu hari nanti Hanabi akan memaafkannya..? Itachi merasa buruk...

"Itachi-kun..?" Suara Eri yang berseru pelan dari sisinya menyadarkan Itachi kalau dia tidak sedang sendirian.

"Apa kau baik-baik saja..?" Eri bertanya khawatir. Sejak meninggalkan pintu kediaman Tsunade tadi Itachi terus diam dengan tatapan menerawang jauh kedepan, hal ini lama kelamaan membuat Eri jadi tidak tenang. Itachi mengangguk pelan sambil tersenyum lembut ke arah sang gadis Yamanaka. Melihat senyum itu mata Eri membulat, sesuatu tiba-tiba melintas di benaknya. Senyum kecil terbentuk di bibir Eri, lekat-lekat ia perhatikan wajah Itachi seperti ia tidak pernah melihat sebelumnya. Itachi ingin berpaling tidak nyaman, ia malu di lihat seperti itu, tapi sesuatu dimata gadis itu membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya.

"Itachi-kun… ternyata benar-benar putra Hinata Hyuuga…" Eri tersenyum hangat, senyum yang sudah tidak terlihat berhari-hari belakangan ini. Itachi tidak tahu kalau dia merindukan senyum ini sampai saat ini, ketika Eri menawarkannya lagi senyum mata berkilat ini setelah sekian lama. Dengan wajah memanas tanpa sebab yang di ketahuinya pasti, Itachi membalas senyum itu dengan senyum malu-malu, setengah tidak mengerti maksud perkataan Eri.

"Kalau dilihat lebih jelas, senyummu sangat mirip dengan senyum Hinata-sama di foto itu…" Haruko sering mengajaknya pergi ke kamar Hinata, dan di sanalah Eri bisa melihat dengan jelas wajah cantik wanita itu yang sedang tersenyum malu-malu di acara ulang tahunnya yang ke-20.

"Benarkah..?" Itachi bertanya dengan mata berbinar.

"Hmm.." Eri mengangguk yakin.

"Semua orang bilang aku adalah salinan ayahku… " Itachi sendiri pun mengakuinya, jika ia berdiri di depan cermin, maka yang ia lihat memandang balik dari dalam cermin adalah seluruhnya milik ayahnya. Matanya.. Rambutnya… Tubuhnya… dan bahkan bentuk jarinya pun adalah salinan dari seorang Uchiha Sasuke.

"Senyummu mirip dengan senyum ibumu Itachi-kun…!" Eri bergerak mendekat pada Itachi. Eri jauh lebih pendek dari pemuda itu, tinggi gadis itu hanya sebatas dagunya, hal ini membuat Itachi harus menunduk untuk bisa menatap Eri, dan Eri tentu harus sedikit mendongak.

"Sama dengan Hinata-sama… ketika kau tersenyum… terbentuk lesung pipit kecil di sini…" Untuk mempertegas kata-katanya, dengan ujung jari Eri menyentuh ringan lesung pipit kecil Itachi yang terbentuk di atas ujung bibir kanannya. Sang Uchiha muda membelalak menatap gadis itu berdiri dekat tepat di depannya.

Ia sering dipeluk Eri, ia sering ditubruk dengan rengkuhan hingga jatuh oleh gadis ini, dan sang Yamanaka ini bahkan juga pernah mencuri cium bibirnya ketika gadis ini berulang tahun yang ke-7, tapi…

"Disini…" Eri menyentuh lagi lesung pipit kecil lain di atas ujung bibir kiri Itachi.

Baru kali ini Itachi merasa…

"Dan ceruk manis terbentuk disini…" Eri menyusuri ceruk tipis memanjang yang terbentuk di sisi dagu kanan Itachi.

Tapi baru kali ini pemuda itu merasa jantungnya berdegum begitu kerasnya ketika menerima perlakuan Eri padanya.

"Sejak dulu aku selalu berpikir kalau senyum Itachi-kun sangat manis, ternyata kau mewarisinya dari ibumu ya… pantas saja…" Wajah Itachi semakin memanas mendengar penuturan Eri.

Sang gadis terkikik pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, "Soalnya… senyummu sama sekali tidak mirip dengan senyum ayahmu…" Rasa senang yang tidak bisa dia putuskan berasal dari mana tepatnya membuat senyum Itachi melebar dan matanya jadi menyipit. Dengan melihat itu untuk beberapa saat Eri melupakan kegelisahannya sendiri.

"Eh.. tapi…" Eri tersenyum miring ketika menelaah lagi kalimat terakhirnya.

"Aku kan memang tidak pernah melihat ayahmu tersenyum Itachi-kun…" tawa kecil meledak di antara mereka, semua orang juga tahu kalau Sasuke tidak tersenyum, yah setidaknya tidak di depan umum.

"Percayalah padaku…" Itachi berkata di sela tawanya, ia kembali melangkah dan Eri juga kembali berjalan di sisinya.

"Senyum ayahku memang tidak mirip dengan senyumku…" Itachi terkekeh geli ketika mengingat tingkah ayahnya yang berkomentar tentang senyumnya.

Ayahnya itu akan terdiam sesaat sambil tersenyum kecil setiap kali Itachi menunjukkan senyum malu-malunya pada ayahnya. Sang Uchiha Sasuke akan menerawang sejenak kemasa lalu, kemudian seperti baru tersadar akan sesuatu tiba-tiba wajahnya berubah jadi tidak enak lalu…bisa dipastikan… selalu… ayahnya akan memegangi pelipisnya sendiri kemudian berguman.

'Astaga… kau seharusnya tidak tersenyum seperti itu…! Kau itu Uchiha Itachi… Ingat ya.. jangan pernah menunjukkan senyum itu pada lawanmu…' kepanikan Sasuke yang lucu selalu membuat Itachi terpingkal.

"Tapi kalau Itachi-kun menyeringai sombong seperti saat-saat ketika kau memenangkan sesuatu dari Shikaku, kau jadi sangat mirip dengan Uchiha-san…!" kekehan Itachi mereda, 'menyeringai?' kapan dia begitu?

"Juga delikan yang biasanya kau berikan pada Chizo-kun… itu juga membuatmu terlihat persis seperti Uchiha-san..!" Eri menajamkan ingatannya sambil terus tertawa.

"Aku tidak mendelik.." Itachi mengernyit, hey kapan dia menyeringai dan mendelik?

"Kau 'mendelik'…! Percayalah…!" Eri terikik kegelian mendengar penyangkalan Itachi.

Itachi mengerucutkan bibirnya, dalam hal ini Itachi lebih suka menyebut itu 'tersenyum puas' kepada Shikaku dan memberikan 'tatapan peringatan' pada Chizo. Tapi dia bersedia melupakan hal itu untuk saat ini.

"Benarkah aku menyeringai dan mendelik..?" Itachi memasang tampang ragu, berniat memperpanjang sesi tawa renyah Eri yang sempat hilang beberapa hari ini.

"Ya…!" Eri melotot yakin sambil terkikik.

"Hari itu kau juga berteriak dan mendelik seram padaku… Oh tuhan… aku gemetaran sampai menggigil…" Eri tertawa lebih keras lagi ketika Itachi menunjukkan wajah tidak percaya dan menyesal yang lucu di saat bersamaan padanya.

Mendelik, berteriak, dan menyeringai… tidak apa-apa dia dikatakan begitu (meskipun sebenarnya memang begitu)... asal dia bisa mendengar lagi tawa renyah menular dari Eri… Itachi tidak terlalu keberatan…

000888000

Naruto duduk di kursi kejayaannya dengan mata membelalak membaca gulungan yang baru saja diantarkan oleh pengatar pesan kehadapannya.

"Apa-apan ini..?" Wajahnya memucat ketika menarik sebuah sketsa potret sosok yang dikirimkan oleh Shikamaru dari desa terpencil di perbatasan Kumogakure padanya.

"Jangan bercanda…" Naruto melepaskan sketsa itu tiba-tiba seolah benda itu membakar tangannya, membiarkan secarik kertas itu melayang jatuh ke atas lantai. Tanpa sadar tangan kanannya seketika menyentuh cincin bertahtakan safir biru yang melingkar di jari manis tangan kirinya.

"Jangan bercanda… Brengsek…!" Naruto berteriak nyaring di ruangan yang kosong itu sambil terus menatap nanar pada sketsa wanita berambut panjang yang tergeletak di atas lantai.

"Shikamaru… apa-apan ini?"

000888000

Itachi bejalan mengendap-endap di belakang ayahnya yang sedang sibuk menggali lubang di tanah di taman kecil mereka. Ia menyembulkan kepala melewati sisi tubuh ayahnya untuk melihat apa tepatnya yang sedang di kerjakan oleh ayahnya. Sasuke melirik dari ujung matanya kemudian menyodorkan tanaman layu ke depan wajah Itachi.

"Buang ini…" Ucapnya singkat pada putranya itu. Itachi meraih tanaman yang mengering itu kemudian membuangnya ketempat sampah di pojok taman.

"Dari mana kau…?" Terdengar pertanyaan singkat dari balik punggung ayahnya.

"Latihan dengan Eri.." Bohong Itachi cepat sambil menepuk-nepukkan kedua belah tangannya untuk menghilangkan tanah yang menempel. Ia mengedarkan pandangan keseluruh taman kecil mereka berusaha menghindari lirikan penuh selidik dari ayahnya.

Sejauh mata memandang hanya ada mawar dimana-mana…berbagai warna.. bertebaran menghiashi setiap sela pojok taman yang bisa di tumbuhi tanaman. Itachi tersenyum lucu, ayahnya suka sekali menanam mawar, dan sepertinya memang hanya bunga itu lah yang bisa di urus oleh ayahnya. Kalau dia katakan pada Eri ayahnya suka menanam bunga, apa ya kira-kira tanggapan gadis itu..? Itachi terkekeh ketika membayangkan seperti apa air muka yang kira-kira akan di tunjukkan oleh sang gadis yamanaka…

"Apa yang sedang kau tertawakan..?" Sasuke menghentikan kegiatannya untuk menatap heran sekaligus aneh pada putranya.

"Tidak ada…!" Buru-buru Itachi menelan tawanya kemudian menatap ayahnya pasti. Kening Sasuke bertaut tidak percaya, ia kemudian mendengus dan kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengganti beberapa tanaman mawar yang sudah layu dengan bibit baru.

"Dari pada memikirkan seorang gadis, lebih baik kau bantu ayah!" Sasuke menyeringai samar ketika mendengar 'ehh' malu dari Itachi.

"AKU TIDAK Sedang Memikirkan seorang gadis..!" Upaya penyangkalan Itachi gagal dengan meyakinkan. Di ucapkan dengan semakin ragu-ragu di setiap katanya, mirip dengan kebiasaan seseorang.

"Hn… ganti itu dengan yang baru…!" Sasuke menunjuk rimbunan bunga yang menguning dan bibit baru yang masih berjejer rapi di sampingnya. Berniat mengalihkan perhatian, tidak ingin malu sendiri karena melihat wajah putra satu-satunya yang memerah seperti tomat matang.

'Uchiha bersemu…? Astaga… Itachi….!' Sasuke menggeleng pasrah. Hinata memilih tempat yang lucu untuk menurunkan gennya pada putra mereka. Itachi yang salah tingkah buru-buru mengambil peralatan yang menganggur di dekat ayahnya, kemudian menghampiri rimbunan mawar yang layu untuk segera mulai bekerja.

'Mawar di sini, Mawar di sana, Mawar dimana-mana.' gumam Itachi di dalam benaknya, berusaha mati-matian mengalihkan perhatian dari rasa malunya. Kalau di ingat-ingat memang sudah lama mereka tidak merapikan bunga-bunga ini karena kesibukan menjadi shinobi. Ayahnya dengan kegiatan Anbu-nya dan Itachi dengan kegiatan Genin-nya.

'Maaf ya… kalian jadi layu begini…!' Itachi berkata dalam hati ketika memandang sedih pada mawar-mawar layu yang segera di lemparkannya ke dalam tempat sampah. Itachi tersenyum lucu ketika melihat deretan bibit baru yang sudah berbunga di samping ayahnya. Uchiha Sasuke bukanlah orang yang sabaran, semua orang juga tahu itu. Melirik ayahnya yang sedang serius menanam bunga Itachi tersenyum lebar, tidak ada yang tahu hal ini selain orang-orang terdekat. Dan anehnya si paman Hokage tidak pernah berkomentar lucu tentang kebiasaan lucu ayahnya yang satu ini. Tapi…. kalau di pikir-pikir lagi sekarang, alasannya sudah jelas.

"Ibu sangat suka mawar ya..?" Itachi bertanya ringan sambil meraih salah satu bibit di samping ayahnya. Benak Itachi melayang kembali pada harum sobekan kertas buku harian ibunya yang di tunjukkan oleh Haruko hari itu, jelas sekali kalau sang pemilik menyukai aroma mawar.

"Satu-satunya yang ku tahu tentang kesukaannya…" Di luar dugaan Itachi, Ayahnya menjawab cepat pertanyaannya barusan, padahal Itachi sudah mempersiapkan diri untuk menunggu lama atau malah di abaikan seperti biasanya. Dengan mata membelalak Itachi menatap pada ayahnya yang masih serius menekan-nekan keras gundukan tanah untuk menimbun bibit barunya.

"Oh…" Itachi berseru singkat sambil tersenyum senang, ini awal yang bagus untuk memulai pembicaraan tetang ibunya.

"Kapan ayah pertama kali bertemu dengan ibu..?" Itachi bertanya santai sambil melebarkan lubang di tanah. Meski sebenarnya ia sedang harap-harap cemas menunggu jawaban ayahnya.

"Kami satu angkatan di akademi…!" Sasuke menjawab tidak kalah santai sembari berdiri dari posisi berjongkoknya. Itachi tersenyum semakin lebar, matanya tidak sepenuhnya fokus pada kegiatan melubangi tanah, sesekali ia melirik senang ke arah ayahnya yang sedang berjalan sedikit menjauh ke arah rimbunan bunga layu lainnya.

"Wow… jadi ayah sudah menyukainya sejak di akademi..?!" Itachi berseru riang dengan nada menggoda. Dari kejauhan lamat-lamat Itachi bisa melihat seringaian kecil menghiasi wajah ayahnya.

"Saat itu bagiku dia bahkan tidak pernah ada…!" Sasuke mengingat sosok gadis kecil pemalu yang suka bersembunyi di belakang sebuah benda.

"Heh… kenapa bisa begitu..?" Itachi mengernyitkan kening kecewa, dengan sedikit malas ia memasukkan bibit bunga ke dalam lubang yang sudah di galinya.

"Jadi sejak kapan ayah mulai menyukainya..?" merasa ayahnya mengabaikannya Itachi kembali bertanya. Dan dia pun diabaikan lagi… lama. Mendengus cemberut, atau dalam hal ini Itachi lebih senang mengatakan dia sedang memasang wajah kecewa, Itachi menumpuk lagi tanah yang digalinya itu ke sekitar bibit yang baru di tanamnya di atas tanah.

"Aku melihatnya lagi saat perang…" Disaat Itachi tidak lagi terlalu mengharapkan, jawaban singkat kembali di dengarnya. Sasuke menjawab sambil terus menunduk tanpa melihat kepada Itachi.

"Rambutnya lebih panjang saat itu… tapi dia masih sama lambannya.." hinaan itu membuat Itachi menoleh dan memberikan tatapan peringatan ke arah ayahnya. Tapi tatapan matanya melembut ketika melihat wajah ayahnya yang terlihat menikmati apa yang dikatakannya.

"Juga masih sama anehnya…"Sasuke tersenyum kecil, raut wajahnya melembut ketika mengatakan kalimat itu. Seketika Itachi tahu kalau ayahnya tidak mengucapkan kalimat itu untuk menghina, ayahnya sedang mengingat ibunya.

Hari itu entah kenapa Sasuke bisa mengingatnya dengan jelas dalam ingatannya, setiap detailnya, setiap detiknya. Parang telah usai, Madara tumbang dengan serangan terakhir yang di lancarkan Naruto setelah Sasuke berhasil mengalihkan perhatian Uchiha Madara. Detik-detik itu mereka semua menahan napas, tidak ada yang bersuara, tidak ada seorangpun yang bergerak dari tempat ataupun postur mereka. Sampai sang Naruto Uzumaki mengangkat tangannya dan berteriak… 'Hidup perdamaian…!' Sorak sorai terdengar bergelora bersamaan menyahut seruan itu. Kelegaan dan kesedihan tergambar dari setiap suara yang menyuarakannya. Perang berakhir, Madara telah berhasil di kalahkan. Sasuke ketika itu juga ikut menghembuskan napas lega dan melemaskan otot-ototnya yang menegang berbahaya. Semua orang berlarian menyongsong Naruto untuk mengelu-elukannya. Dan saat itulah Sasuke merasa seseorang sedang menatapnya dari balik punggungnya.

Ketika ia berbalik disanalah seorang Hinata Hyuuga berdiri kaku dengan mata membulat menatapnya, nampaknya terkejut dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukannya. Beberapa saat kemudian sorot mata putih sang Hyuuga melembut dan senyum kecil terbentuk di bibirnya. 'Terimakasih…' bisikan itu tidak terdengar ditelinganya tapi tertanam di mata dan hatinya bersama gerak bibir sang gadis. Anggukan pelan kepala Hinata membuat Sasuke tersadar kalau dia sedang memandang gadis itu tanpa berkedip, mendengus kesal ia mengalihkan pandangannya dan berlalu pergi meninggalkan mahkluk aneh yang masih tersenyum lembut kearahnya.

"Tapi…" Itachi menajamkan fokusnya pada apa yang akan di katakana oleh ayahnya.

"Aku tidak mengingat sejak kapan aku mulai memikirkannya…" Bagi Sasuke setelah perang Hinata hanyalah seseorang. Seseorang yang berkeliaran, seseorang yang ada disana, sosok lainnya diantara yang lain. Tidak ada yang istimewa, hanya seorang gadis yang ada.

"Aku tidak ingat kapan aku mulai menyukainya…" lalu tiba-tiba Hinata ada dimana-mana, tiba-tiba suaranya lah yang paling jelas terdengar, tiba-tiba sosoknya lah yang paling mencolok di matanya. Tatapan Sasuke yang menewarang serta gerakan tangannya yang seketika terhenti membuat Itachi mengetahui kalau ayahnya sudah larut dalam pembicaraan ini.

"Kenapa ayah menyukai ibu…" Sasuke membisu.. dia juga tidak tahu apa jawaban untuk pertanyaan ini.

"Aku tidak tahu… " Jawabnya ragu. Mereka tidak punya ikatan sebelumnya, tidak punya kesamaan, tidak punya banyak saat kebersamaan, tapi entah dari mana datangnya Sasuke tidak tahu, tiba-tiba ketika dia tersadar keinginan untuk memiliki Hinata sudah menguasai pikirannya, mengendalikan hatinya. Ia tiba-tiba sangat ingin memilikinya. Suatu hari ia terbangun dengan Hinata sudah menduduki penuh hatinya.

"Lalu..? Ehm apa ayah mengungkapkan perasaan ayah..?" Itachi bertanya ragu. Pertanyaan itu membuat Sasuke keluar dari perjalanan benaknya menembus waktu.

"Dia menyukai Naruto…" Sasuke mendengus kesal, "Dan untuk itu aku sempat berharap agar Naruto cepat mati…" Sasuke berucap tanpa sadar, pikirannya melayang pada kejadian di kedai sake bersama Naruto dulu. Itachi seketika tertawa terpingkal mendengar perkataan ayahnya, Sasuke yang baru menyadari apa yang dikatakannya pun ikut terkekeh pelan.

"Rupanya paman Naruto justru jadi panjang umur ya ayah…!" Itachi terkekeh. Tapi wajahnya pelan-pelan menyendu menyadari sesuatu.

"Rupanya ibu yang tidak panjang umur…" Itachi berucap sedih sambil menunduk, gagal mempertahankan suasana hatinya yang sedang bagus.

"Hn" Sasuke menggumam singkat. Tidak tahu harus mengatakan apa pada Itachi. Ayah dan anak itu pun akhirnya terdiam melanjutkan kegiatan mereka.

"Ayah…" Itachi memanggil ragu dari tempatnya.

"Apa…?" Sasuke menyahut pelan sibuk memangkas rumput yang mulai tumbuh terlalu tinggi.

"Kapan ayah tahu kalau… kalau…" Itachi memutar otak memilih kata. " Kalau aku ada..?" Serunya memutuskan.

Itachi bisa mendengar ayahnya menghela napas berat sebelum berbisik " Suatu hari…"

"Kapan..?" Itachi mendesak, tidak puas dengan jawaban seadanya dari Sasuke.

"Dua hari sebelum kau lahir…" Jawab Sasuke akhirnya, "dan dua hari jauhnya perjalanan dari tempat kalian berada.." Sasuke menambahkan.

"Memangnya ayah ada dimana?" Itachi akhirnya menyuarakan pertanyaan yang ada dibenaknya sejak Naruto mengatakan kalau ayahnya tidak tahu tentang keberadaannya dan tidak ada di Konoha tempo hari.

"Di tengah perjalanan untuk menjauh sejauh-jauhnya dari Konoha…" Sasuke menatap mata Itachi yang sejak tadi sibuk dia hindari. Itachi terdiam, kata 'kenapa?' berputar-putar di kepalanya.

"Agar tidak mendengar apa yang tidak ingin ku dengar…" Sasuke menjawab pertanyaan tidak terucap dari Itachi. Pernikahan Hinata dan Naruto… bahkan hanya untuk mendengar kabarnya pun Sasuke tidak ingin.

"Setelah ayah tahu tentangku apa yang ayah lakukan?" Itachi bertanya melembut.

"Berlari…" Sasuke menjawab singkat sambil berjalan mendekat pada Itachi.

"Berlari untuk bertemu dengan mu dan ibumu!" Ia berjongkok di depan Itachi dan mengambil alih pekerjaan terbengkalai dari putranya.

"Apa kau sempat bertemu dengan ibu?" Sasuke jelas bersamanya sekarang, tapi apa dulu ayahnya ini sempat bertemu dengan ibunya? Sebelum… ibunya itu meninggal.

"Beberapa detik sebelum dia menutup matanya…!", 'Sebelum dia hilang kesadaran' Sasuke membenarkan dalam benaknya. Wajah Itachi mengkerut mendengarnya. Sasuke meringis samar ketika mengingat ia harus melepaskan paksa rahang Hinata dari tempatnya untuk membuka mulutnya agar tetap bernapas.

"Lalu aku bertemu denganmu…" Sasuke menatap Itachi yang menangis, kemudian menghapus air mata itu dengan punggung tangannya yang tidak kotor terkena tanah.

"Kecil… " ia kembali mengingat kecilnya tubuh Itachi yang menggeliat-geliat pelan di dalam bungkusan kain hangat ketika pertama kali ia menyentuhnya.

"Merah muda… " Sasuke tersenyum tipis melihat bibir Itachi yang sedikit terangkat ketika mendengar kata itu.

"Dan menangis… sama seperti sekarang.." Sasuke menepuk pipi putranya pelan.

"Kau bukan bayi lagi... berhentilah menangis…" Itachi menghapus air matanya dengan tangannya yang kotor.

"Hinata sangat mencintaimu…" Sasuke mengatakan tulus pada Itachi berharap bisa menyenangkan hatinya.

"Aku tahu…" Itachi tersenyum kecil, "Dan menurutku dia juga mencintai ayah…"

Kata-kata itu membuat Sasuke tercekat, dadanya terasa sakit dan segera rasa sakit itu menjalar ketulang belakang dan keseluruh tubuhnya. Penyesalan, luka dan ketakutannya yang selalu menghantui merayapinya lagi.

"Dia tidak mencintaiku…." Bentaknya kasar tiba-tiba. Sikap Sasuke yang tiba-tiba meledak membuat Itachi kebingungan.

"Menurutku dia mencintai ayah…!" Itachi bersikeras, "Dia tentu harus mencintaimu dulu sebelum mencintaiku…" menurut Itachi pastilah ibunya harus mencintai ayahnya dulu untuk bisa mncintai dan rela berkorban demi dirinya seperti yang dilakukannya. Hinata tidak mungkin mau berkorban sebesar itu untuk benih seseorang yang tidak di cintainya, begitulah pendapat Itachi. Meski Itachi tidak tahu persis seperti apa hubungan ayah dan ibunya ketika itu, tapi iya sangat yakin kalau ibunya pasti mencintai ayahnya.

"Dia tidak… Itachi… Dia tidak mencintai ayah…" Sasuke membuang muka sambil menggumam.

'Hinata tidak mencintaiku…. Dia tidak pernah mencintaiku…' Benak Sasuke terus meyakinkan dirinya. Karena hanya dengan begitulah dia bisa bertahan hidup dengan rasa bersalah ini, karena hanya dengan membenarkan pikiran ini lah hidupnya menjadi lebih bisa dijalani. Dia tidak akan bisa bertahan hidup jika dia mau mengakui kalau Hinata mati hanya karena kebodohannya.

000888000

"Kau ingin mati ya..?" Seorang ninja berbadan kecil berbisik pada rekannya yang berbadan lebih tegap sambil terus melirik waspada pada sosok berjubah hitam yang berjalan di depan mereka.

"Dia akan menebas kepalamu sampai putus sebelum kau menyelesaikan kalimatmu…" Cicitnya ngeri meyakinkan temannya yang tak kian gentar. Sosok berjubah hitam ini terkenal dengan darah dinginnya, sumpah…. ia masih belum ingin berakhir tanpa kepala.

"Diamlah.. kau berisik sekali.." Sosok yang berbadan lebih besar itu mendengus geli pada ketakutan kawannya.

"Berisik katamu…? Hey aku sedang berusaha menyelamatkan nyawamu…" sanggahnya kesal.

"Kalau kau tidak mati karenanya.." cicit si kecil sambil menunjuk Sasuke dengan bibirnya.

"Kau pasti akan mati di bunuh ketua karena terlambat berangkat… Misi ini misi penting dengan bayaran besar apa kau tahu..?"

"Jangan khawatir…! Dia justru akan berterimakasih pada kita karena membawa bantuan hebat untuk pasukan…" si besar tersenyum percaya diri, rupanya yakin sekali akan bisa mengajak Sasuke untuk ikut serta dalam misi pengawalan ini.

"Sudah kubilang dia tidak akan mau…" si pria kecil mengerang prustasi.

"Serahkan padaku…" ujar si pria besar congkak, ia yakin sekali kalau orang di depannya ini akan bersedia ikut meski tanpa uang sepeserpun.

"Kalian…" Sasuke yang sudah merasa terganggu sampai ambang batas akhirnya berbalik menatap mereka garang. Ia luar biasa kesal.

"Benar-benar berisik…" ucap Sasuke sambil pelan-pelan mengeluarkan katana dari sarungnya.

"Eh.. tunggu sebentar.." si pria besar merentangkan telapak tangannya di depan tubuhnya, berusaha menenangkan Sasuke. Sementara si pria kecil sedang memucat beringsut ke balik punggung temannya.

"Aku Gekibou… tempo hari kau menyelamatkanku.. apa kau masih ingat?" Pria besar itu mendekat percaya diri.

Sasuke menyipitkan matanya tidak suka. Ya dia mengingatnya. Dia bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, tapi hari itu Gekibou ini benar-benar kalah dari segi kekuatan dan jumlah. Di samping itu saat itu dia juga sedang sangat perlu menebas seseorang untuk melampiaskan pengingan dari telinganya akibat gadis-gadis yang bergosip terlalu nyaring.

"Aku hanya datang untuk membalas budi… kau tahu kan.. ninja seperti kita paling tidak suka berhutang budi.." Gekibou tersenyum cerah ketika melihat katana Sasuke sudah kembali ke tempatnya semula.

"A-a—aku Gunpei…" ujar si pria berbadan kecil memperkenalkan dirinya takut-takut.

"Ada misi pengawalan yang bayarannya sangat besar… menurutku kau akan tertarik, dengan kekuatanmu itu pastilah pekerjaan ini sangat gampang untukmu.." Wajah dingin yang di tunjukkan Sasuke membuat Gekibou mendengus dalam hati, 'Heh tunggu saja… Apa nanti yang akan kau katakan?' batinnya.

"Aku tidak tertarik…" Ujar Sasuke sambil membalikkan badannya.

"Apa kau yakin…?" Gekibou bertanya lagi masih dengan tingkat kepercayaan diri yang belum menyurut.

"Hentikan.. kau benar-benar bosan hidup ya?" Gunpei mencicit pada Gekibou sambil melirik ngeri pada Sasuke yang terus melangkah tenang menjauh.

"Meskipun ini tentang seseorang dari Konoha yang sedang memerlukan perlindungan…?" Gekibou berkata dengan seringaian penuh arti.

"Aku tidak ada hubungannya dengan Konoha…" Sasuke merutuk benci ketika mengingat kalau Gekibou ini sempat melihat Sharinggannya ketika pertarungan tempo hari.

"Benarkah..?" Gekibou masih terus membuntuti Sasuke tidak ingin menyerah.

"Gekibou….!" Gunpei menegur takut.

"Meskipun ini tentang seorang gadis… mantan penerus Hyuuga…" Langkah kaki Sasuke melambat mendengar Gekibou melambat-lambatkan kata-katanya.

'Mantan penerus Hyuuga…? Apakah… Hinata…?' tapi kata 'mantan penerus' mengganggu proses berpikir Sasuke.

"Yang kabarnya sedang mengandung…" Gekibou tersenyum mengetahui Sasuke akan bereaksi dengan kalimat ini. Benar dugaannya, Sasuke berhenti seketika dengan mata membuka lebar.

"Apa yang kau lakukan…?" Gunpei menjerit ngeri pada rekannya, ia siap kabur saat melihat Sasuke menegang mengerikan.

"…benih seorang Uchiha…" Gekibou tertawa dalam hati sambil menyelesaikan kalimatnya, 'Kena kau…'

Gunpei terduduk gemetar ketika Sasuke membalikkan badannya cepat kemudian memandang mereka tajam dengan mata merah berkilau.

"Dimana..?" Suara menggeram tidak sabar membuat Gekibou sedikit takut. Yap… mereka punya bantuan kekuatan yang besar untuk misi ini. Jadi berterimakasihlah padanya...


Maaf.. Maaf… Maaf…1000X, Mohon maafkan tingkat kesedihan dan kegajean fic ini yang berada di atas ambang batas diperbolehkan penggunaan untuk sebuah cerita… sungguh maaf…. Hick… Hick….

Ada yang bilang fic ini nge angst bgt… Ga tau juga waktu bikin rangka karangannya dulu Hyuri lagi sedih banget atau gimana… jadi ko ceritanya tragis banget gini…! Hick..Hick… Gomen…. Hyuri ga maksud manjang-manjangin atau nunda-nunda pertemuan Hinata sama Sasuke ko di sini suer dech, cuman plot awal cerita yang udah Hyuri bikin (bikinnya waktu depresi kayanya) jalannya mesti ngelewati jalan cerita ini dulu… Gomen reader… Sabar dikit lagi ya… Hyuri Cuma berharap indah pada waktunya nanti sebanding sama air mata yang udah tumpah di chapter awal-awal… (Doa khusyuk komat-kamit!)

Aindri… Yeah…. Hahaha… Twilight tentu saja, ho'oh Ndri… bener… Hina di sini mirip Bella ya… bener…(#baru nyadar) Sudah kukira, sudah kusangka… aku pasti terinspirasi dari mana gitu… eh-eh-eh… ternyata… dari teteh Stephenie rupanya wakakak… (Stephy M. : Hey siape elo panggil2 saya teteh?) #duh malu… ga orgin banget… hehe.. gomen twiheart…(Bungkuk-bungkuk mohon maaf!)

Kenapa updatenya telat banget…? Karena Hyuri lagi galau…. Hehe… Maaf ya… Januari ini Hyuri udah buat keputusan terbesar kedua dalam hidup Hyuri (setelah dulu memutuskan untuk nggak kuliah selepas lulus SMK trus langsung kerja) yaitu… #ngeri juga sich sebenernya# Hyuri memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerjaan Hyuri saat ini#ohmaigot#. Bos sempet minta Hyuri buat mikir-mikir lagi untuk satu bulan ke depan, tapi kayanya keputusan Hyuri udah bulat dech… meski sedih juga bakal pisah sama Mr. Perfect (sebutan dari mba Ayu buat bos baru kami yang gantengnya amit-amit) wakakak…. Udah 3 tahun kerja disana cuman 5 bulan terakhir ini Hyuri ngerasa tertekan… bos baru yang masih muda and masih hijau VS pemain lama yang udah pro akhirnya menunjukkan hasil… Mr. Perfect kecolongan dengan indahnya… karena Hyuri bukan pengadu jadi Hyuri diam aja… mending saya kabur… minggat… enyah…. lenyap… hahaha…. #Saya angkat tangan… ga ikut-ikut ah.. lagi pula Hyuri udah bosan dilabelin 'MUNA' & 'Sok Suci' di kantor… idih.. maleees banggget..

Cuman sekarang Hyuri kaya lagi ngalamin serangan panik di saat-saat terakhir gitu… aduh… mati gue… kata 'pengangguran' mulai jadi kaya momok bergigi taring yang siap membinasakan… ha.. hua….. gimana ini…? gimana ini…? gimana ini…? tolong…..! Semoga Hyuri cepat dapat kerja ya… tolong doakan ya semua… hick..hick… # nebar-nebar lamaran kerja kepenjuru pulau…

Duh… Hyuri banyak omong dech ya….#Payah ah…! Terimakasih udah mau dengerin curcol aneh dari Hyuri… : D

Semuanya… sekali lagi Terimakasih buat dukungan dan masukannya…. Udah di baca aja sebenernya Hyuri bersyukur apa lagi dapat review yang manis-manis dari kalian semua… wuih… seneng gila…

Dan kalo ada yang penasaran, rencana awal Hyuri Fanfic 'Siapa Kau Ibu?' ini bakalan tamat di Chapter 22, tapi itu tergantung panjang penjabaran poin-poin utamanya sich, belum pasti banget. Chapter 'mengungkap kebenaran' ini aja rencananya cuma 1 chapter loe, tapi pas udah mulai d jabarin ko jadinya panjang buanget, Hyuri ndiri ampe kaget. Jadi kalo sesuai rangka karangan, masih ada 7 chapter lagi nich berjejalan saling dorong nunggu giliran diketik di kepala author.

Ampun…dech… tobat saya bikin fic… berasa ngutang banyaaaaak gitu ke reader semua… Beban mengganjel … Terus-terusan kepikiran kalo ga update… bikin makan tak enak ,tidur tak nyenyak (haha… lebay…)

Sampai jumpa di next chap ya….. : D