It's a sin, yes dear darling it's a sweet sin.

It's forbidden, yet you can't run away from me.

I'll chain you with me, I'll bind you tightly.

I'll kill you softly, I'll drag you with me.

In this sinful love.

You'll drown with me.

Oh Sehun adalah tawa, senyum, dan keriangan.

Ia adalah kebahagiaan.

Luhan mengetahui semua itu, ia menyadarinya bahkan sejak pertama kali mereka berjumpa. Bahwa Oh Sehun adalah seorang anak yang memiliki kepribadian sehangat matahari, dia adalah tipe orang yang disukai siapapun di sekelilingnya. Ia bisa melihat semua itu dari senyumnya.

Bagaimana mata anak itu ikut bercahaya ketika bibirnya terangkat membentuk lengkungan yang sempurna. Luhan meyakini ketulusan senyum anak itu. Karena kehangatan senyumannya sampai hingga ke matanya. Terpancar jelas, membiarkan semua orang merasakan ketulusannya. Membuat Luhan menjatuhkan seluruh pertahanannya.

Namun ada alasan mengapa ia melakukan hal itu. Senyum anak itu mengingatkannya pada adiknya yang telah tiada.

Mereka tersenyum dengan cara yang sama.

Dan itu membuat Luhan bernostalgia.

Ia ingat hari itu, di awal musim panas tahun ini, hari di mana Oh Sehun masuk dalam kehidupannya. Seorang lelaki bertubuh ramping, dengan rambut hitam lurusnya yang begitu kontras dengan kaos putih yang ia kenakan saat itu. Kulitnya begitu pucat, keseluruhan anak itu tampak tak terlalu sehat, nalurinya sebagai seorang dokter langsung membuatnya mengkhawatirkan keadaan anak itu.

Namun anak itu mengikuti staff rumah sakit yang berjalan di depannya dengan wajah polos dan cengiran lebar. Mengangguk terhadap apa yang wanita tua itu katakan padanya, dan sesekali tertawa pada lelucon garing yang wanita itu lontarkan padanya. Ia terlihat baik-baik saja, ia terlihat riang dan ceria. Sedikit lebih ceria dan kekanak-anakan dari remaja seusianya, namun hal itu menunjukkan bahwa anak itu hidup di lingkungan yang baik. Luhan percaya anak itu pastilah memilki keluarga yang bahagia.

"Dokter Luhan!" Panggil wanita itu ketika melihatnya berjalan melintasi lorong rumah sakit dari balik ruangan yang berdindingkan kaca. Membuat Luhan menghentikan langkahnya untuk tersenyum dan menyapa salah satu suster senior yang bekerja di rumah sakit tersebut.

"Nah, itu dia dokter yang akan membimbingmu. Namanya Dokter Lu Han." Ucap wanita tua itu pada Sehun dengan senyum ramah di bibirnya, ketika Luhan membuka pintu dan memasuki ruangan tersebut.

"D-Dokter Lu Han, senang berkenalan dengan mu! Namaku Oh Sehun, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik hingga beberapa minggu kedepan!" Anak itu membungkukkan tubuhnya dan memperkenalkan diri dengan suara yang nyaris berteriak. Ia terlihat begitu kaku, anak itu juga mengucapkan kata-katanya dengan begitu cepat, seolah-olah ia telah menghapalkan dialog tersebut dan melatihnya berulang-ulang hanya untuk memperkenalkan dirinya kepada Luhan.

"Hahaha." Suster itu tergelak sambil menggelengkan kepalanya. "Sungguh anak yang manis."

Luhan ikut menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tak apa, kau tak perlu sesopan itu kepadaku. Santai saja." Sehun mengangkat kepalanya sedikit untuk mengintip mereka, membuat mereka berdua kembali tertawa kecil melihat tingkahnya.

Mendengarnya barulah Sehun kembali menegakkan tubuhnya dengan kikuk, ia terlihat begitu kaku—ia terlihat canggung. Seolah-olah tengah bingung tak tau harus berbuat apa di hadapan Luhan. "Umm…"

"Dokter Luhan itu sangat baik dan ramah, kau tak perlu takut." Kata wanita tua itu sambil menepuk pundak anak itu untuk menenangkannya. "Ia juga masih muda, jadi kau tak perlu merasa canggung untuk berbicara dengannya." Tambah wanita itu lagi dengan senyum ramah. "Kau bahkan bisa memanggilnya 'Hyung', haha." Katanya dengan nada bercanda.

"Benarkah?" Tanya Sehun dengan wajah polos, kedua bibirnya membelah membentuk lingkaran.

Luhan menghela napas seraya tertawa kecil. "Kau tak perlu merasa canggung di dekatku. Jadi bersikaplah biasa saja." Ucap Luhan seraya tersenyum ramah kepada Sehun.

Sedetik kemudian, wajah kaku dan canggung anak itu berubah seketika. Ekspresi wajahnya melonggar menjadi lebih tenang, bahunya yang kaku kini terlihat lebih santai. Anak itu kembali menjadi dirinya yang ceria dan riang, seperti anak yang ia lihat beberapa menit yang lalu, sebelum ia masuk ke ruangan itu.

Sudut bibir anak itu terangkat, wajahnya yang polos mencerah, dan pupil matanya melebar—ia tersenyum. Senyum yang begitu tulus, begitu tak berdosa—innocent. Ia bisa merasakannya, terpancar jelas dari sepasang bola mata hitamnya—kehangatan. Dan itu membuat Luhan membeku, tak bisa berbuat apa-apa, kecuali terpaku pada senyum cerah anak itu.

"Baik, Hyung!" ucap anak itu dengan nada riang dan bersemangat.

Membuat Luhan terkejut, tak bisa mengelak kecuali membalas senyuman anak itu dengan senyuman kakunya.

Karena saat itu, di mata Luhan, yang tengah berdiri di hadapannya bukanlah hanya Oh Sehun, namun juga siluet keluarganya yang telah lama tiada. Melebur menjadi satu—bersama ketidak berdosaan, kehangatan dan ketulusan senyuman anak itu.

Dan saat itu juga, tanpa ia sadari, Oh Sehun telah meruntuhkan seluruh pertahanannya.

Tentu, Oh Sehun adalah tawa, senyum, dan keriangan. Ia adalah banyak hal.

Naught, mischief, innocent…

Ia benar-benar merupakan kebahagiaan.

Namun yang tak Luhan sadari adalah, bahwa diri Oh Sehun yang sesungguhnya lebih dari semua itu. Ia lebih dari sekadar tawa, senyum dan keriangan. Ia lebih dari sekedar kebahagiaan.

He is more than meets the eye…

Karena dibalik keriangan, antusiasme, serta tawa anak itu, tersimpan sesuatu yang dilewatkan oleh orang-orang. Sesuatu yang terkubur jauh di dalam jiwanya, sesutau yang ia coba sembunyikan dari siapapun di dunia ini, bahkan dari Luhan sekalipun—sisi gelapnya.

Karena walau bagaimanapun, Oh Sehun tetaplah seorang manusia.

Dan setiap manusia di dunia yang kejam ini memakai berbagai macam topeng untuk mempercantik kepribadian mereka. Memperdaya orang lain untuk percaya betapa sucinya mereka. Menutupi sisi kelam mereka—memanipulasi. Karena tak seorangpun di dunia ini yang terlahir tanpa cela, tanpa kegelapan dalam dirinya—bahkan Oh Sehun sekalipun.

Dan walau bagaimanapun, cepat atau lambat, Luhan akan segera mempelajarinya.

Ooo00ooO

Lethal Love

Disclaimer © Celestial Requiem (ByunRene)

Rate: M

Pairing: HunHan

Length: Chaptered

Warning: HunHan, Rate M, Yaoi, BL, NC-21, Suspense, Thriller, swearing, Hard sex (In the future), Pedo, BDSM, Psychotic Lover.

Ooo00ooO

Chapter 2: Tasting the Water.

"Kau…mencintaiku, kan…Hyung…?

Luhan bisa merasakan napas Sehun yang memburu membakar wajahnya ketika lelaki itu berbisik padanya. Suara lelaki itu mengirimkan rasa dingin ke tulang belakangnya terus hingga mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Ia merasakan rasa takut yang tak biasa, nyaris mengalahkan seluruh rasa takut yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Otaknya meneriakinya untuk memberontak dan lari menyelamatkan diri. Namun bagaimanapun ia melawan, bagaimanapun ia mencoba untuk melepaskan diri, apapun yang ia lakukan terus berakhir sia-sia. Membuatnya putus asa, tak berdaya, memberinya rasa takut yang luar biasa. Rasa takut serupa yang dialami oleh buruan di bawah cakar predator—rasa takut seekor mangsa.

Sehun menatapnya lurus dengan tatapan tajam, membuat Luhan merinding hingga ke tulang. Mata itu…begitu tajam, begitu dingin, menusuk—haus darah. Ia bisa melihat kesungguhan di dalamnya. Dan bagaimana seringai twisted yang terbentuk di sudut bibir Sehun, juga cara lelaki itu mencengkram erat pergelangan tangannya seolah-olah ingin mematahkannya, Luhan tau lelaki itu tak sedang bermain-main.

Namun yang membuatnya tak mengerti adalah perkataan yang diucapkan oleh Sehun, ia…mengungkapkan perasaannya? Luhan tak mengerti bagaimana bisa anak itu menyimpan perasaan seperti itu terhadapnya. Ini salah, ini tak wajar, ini abnormal. Sehun tak boleh memiliki perasaan seperti itu terhadapnya! Karena bagi Luhan, Sehun hanyalah seorang anak baik yang periang, ia bagai seorang adik kecil yang mengikutinya ke mana saja. Luhan tak pernah berpikir lebih tentangnya selain hubungan profesionalitas, apalagi membayangkan untuk memiliki hubungan seperti itu dengan Sehun.

Karena sesungguhnya bagi Luhan—berani ia katakan—Sehun hanyalah seorang figur pengganti bagi sosok adiknya yang telah lama tiada.

Tak lebih.

Dan Luhan tak berencana untuk merubah hal itu. Tidak sekarang, esok, atau bahkan selamanya.

Luhan meletakkan tangan kirinya di dada Sehun, ia mengumpulkan seluruh tenaga yang ia punya dan mendorong tubuh Sehun menjauh dari dirinya. Tubuh lelaki itu terdorong beberapa inchi ke belakang, sebelum ia kembali menghujamkan dirinya ke Luhan. Tubuh Luhan kembali membentur permukaan tembok dengan keras, membuatnya mengerang kuat. Kepalanya berdenyut-denyut dan pengelihatannya berkabut, ia nyaris mati rasa. Yang ia bisa rasakan hanyalah rasa sakit di punggung dan belakang kepalanya, serta pergelangan tangannya yang nyaris patah. Tubuhnya yang basah bersimbah keringat dingin terbakar di bawah hangatnya lekuk tubuh Sehun yang terus menghimpitnya.

Darah naik ke kepalanya, membuat gendang telinganya tak bisa mendengar apapun kecuali napas mereka yang memburu, serta jantungnya yang berdetak hebat seolah-olah nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. Namun semua itu tak menghentikkannya untuk terus mencoba lepas dari kekangan Sehun. "Se-Sehun, lepaskan aku!"

"Tak akan, Hyung! Tidak, sampai kau menjawab pertanyaanku!" Sehun berteriak di depan wajahnya. Teriakan lelaki itu seolah mengirimkan pukulan hebat terhadap kepalanya. Ia bahkan tak memperdulikan bagaimana bibir lelaki itu nyaris bersentuhan dengan hidungnya. Ia hanya memejamkan matanya dan berharap semua rasa sakit itu akan menghilang.

Namun apa yang dilakukannya hanya semakin menambah kesenangan Sehun. Lelaki itu melebarkan seringainya, ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan yang tak berdaya. Mendekatkan bibirnya ke bibir Luhan hingga nyaris bersentuhan. Membiarkan udara panas yang keluar dari mulutnya menyapu bibir Luhan saat ia membisikkan kata-katanya. "Kau mencintaiku, kan…Hyung?"

Luhan tak bergeming. Ia hanya diam, memejamkan matanya menahan rasa sakit. Pasrah, berpikir akan beginilah akhir dari hidupnya. Berdiri gemetaran dengan napas memburu karena panik. Begitu takut untuk membuka matanya dan bertemu dengan sorot liar lelaki itu.

"Kau mencintaiku, kan. Hyung?" Sehun mengatakannya lagi, kali ini ia membawa kepalanya ke telinga kiri Luhan dan berbisik pelan. Luhan merasakan tubuhnya merinding hingga ke tulang saat napas memburu Sehun menyapu daun telinga kirinya, membuat rongga dadanya seolah akan patah akibat jantungnya yang berpacu kencang.

"JAWAB AKU! KAU MENCINTAIKU, KAN! HYUNG?!" Sehun berteriak mengulangi pertanyaannya. Jantung Luhan berhenti berdetak beberapa detik, tubuhnya membeku. Teriakan Sehun membuatnya membuka mata karena refleks. Dan hal pertama kali yang dilihatnya adalah kepalan tangan kiri Sehun yang melayang kearahnya, dan mendarat tepat di dinding tempatnya bersandar—nyaris mengenainya. Menimbulkan bunyi berdentam yang menggema di lorong rumah sakit yang sepi, hanya berjarak beberapa senti dari kepalanya.

Tangan kirinya yang sedari tadi mencoba mendorong Sehun merosot perlahan hingga terkulai lemah di sisi tubuhnya. Matanya bertemu dengan sosok lelaki itu, dan yang dilihatnya bukanlah Oh Sehun, namun orang lain. Seseorang yang tak dikenalnya, seseorang yang tak ia ketahui—orang asing. Ia bisa melihat bagaimana cara kedua sudut bibir lelaki itu terangkat membentuk seringai geram yang kejam. Ia juga bisa melihat bagaimana sorot liar lelaki itu tak lepas mengamati gerak-geriknya.

Dia—lelaki yang berada di hadapannya itu—bukanlah Oh Sehun. Dia adalah iblis, orang gila—seorang maniak.

Dan Luhan bisa melihat bagaimana hidupnya akan berakhir di tangan maniak itu saat lelaki itu mengangkat tangan kirinya ke leher Luhan.

"Kalau begitu…selamat tinggal…Hyung."

Lelaki itu kembali memasang tampang tak berdosanya kepada Luhan sebelum kembali menyeringai dengan keji. Ia membawa tangan kirinya ke leher Luhan dan mulai mencekiknya dengan erat. Luhan mulai berteriak, namun suaranya tercekat di lehernya. Ia bisa merasakan kerongkongannya terbakar, napasnya sesak, dan kepalanya yang berdenyut-denyut semakin hilang kendali karena kurangnya oksigen. Ia mencoab menyingkirkan tangan Sehun dari lehernya dengan kedua tangannya yang kini telah terbebas. Namun tangan kanannya terlalu lemah, pergelangan tangannya terlalu nyeri untuk digerakkan.

Seluruh usahanya sia-sia, ia tak bisa menyelamatkan dirinya dari sang predator. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri pasrah melihat bagaimana hidupnya yang akan segera berakhir terpantul dengan jelas di bola mata berkabut lelaki itu.

Di saat Luhan nyaris kehilangan seluruh kesadarannya, tubuh lelaki itu membeku seketika. Luhan melihat bagaimana sepasang bola mata hitam berkabut milik lelaki itu kosong beberapa detik, seolah jiwa yang merasuki tubuh lelaki itu lenyap, membiarkan tubuh itu kosong begitu saja. Hingga beberpa mili detik kemudian mata itu kembali dihinggapi kehidupan, kembali bernapas. Kabut yang menyelimuti mata lelaki itu menghilang dengan cepat. Hingga akhirnya jernih layaknya kristal, lenyap tanpa bekas. Seolah-olah kabut itu hanya ilusi, tak nyata, tak pernah menyelubunginya—imajinasinya.

Jari jemari Sehun yang mencengkram lehernya melonggar, ia tertunduk.

"Pfft…" Luhan mendengar Sehun mengatakan sesuatu, samar-samar digerus oleh napasnya yang menderu juga detak jantungnya yang tak beraturan.

Sehun mundur beberapa langkah, menjauhkan dirinya dari Luhan. Lelaki itu langsung menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja keluar dari ruang kedap udara. Luhan membiarkan tubuhnya yang masih bersandar di dinding merosot ke bawah. Kakinya yang gemetar tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya, jadi ia membiarkan tubuhnya jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Suhunya yang panas kini mulai turun, tubuhnya mulai merinding kedinginan ketika kulitnya yang basah karena keringat terpapar angin dari pendingin ruangan. Namun matanya masih tak lepas dari sosok lelaki yang berdiri di hadapannya.

"Pfft…" Ia melihat bagaimana bahu Sehun yang tengah tertunduk gemetar perlahan seraya menggumamkan sesuatu. Ia terus mendengus dan bergumam hingga akhirnya tawanya pecah begitu saja dan menggema di lorong rumah sakit.

Luhan hanya bisa mengedipkan matanya. Ia kebingungan, apa yang tengah terjadi? Kenapa lelaki itu tertawa?

Namun Sehun sama sekali tak menghiraukannya. Ia terus tertawa dan tertawa. Bahunya yang gemetar perlahan kini bergetar hebat. Ia membiarkan tubuhnya jatuh berlutut ketika kakinya tak lagi kuat untuk menopang tubuhnya. Hell, lelaki itu bahkan mulai berguling di lantai, tertawa sambil memegangi perutnya.

Luhan benar-benar bingung, ia benar-benar tak mengerti apa yang tengah terjadi. Mendengar tawa anak itu…ia tertawa dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Ia tak tertawa dengan nada dingin menusuk, ataupun penuh kekejaman seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia tertawa dengan…riang? Ceria? Lelaki itu tertawa seperti yang biasa ia lakukan—seperti yang biasa Oh Sehun yang Luhan kenal lakukan.

Cara lelaki itu tertawa membuat seolah-olah kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu hanya khayalan, mimpi, sebatas imajinasinya semata—tak pernah terjadi.

Namun napasnya yang memburu, jantungnya yang berdetak kencang, juga rasa sakit disekujur tubuhnya menjadi bukti bahwa hal itu benar-benar terjadi. Sehun benar-benar menyerangnya—koreksi—Sehun berniat untuk membunuhnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi lagi, Sehun menyatakan perasaannya pada Luhan.

"Hyung…haha, kau…hahaha." Anak itu masih berguling di lantai, ia menyeka air mata dari sudut matanya sambil terus tertawa. "Hahaha, Hyung! Kau polos sekali! Hahaha."

Luhan hanya menatap anak itu dengan kening yang mengerut kebingungan, ia benar-benar tak mengerti apa yang tengah terjadi. Tawa Sehun akhirnya mereda setelah beberapa menit berguling-guling di lantai rumah sakit yang dingin. Anak itu merangkak kearah Luhan yang masih terduduk lemah dan bersandar di dindingg masih sambil tertawa pelan. Luhan menariks napas tajam, dengan refleks menekuk kakinya dan menempatkan kedua tangannya yang masih gemetaran di depan dirinya untuk melindungi tubuhnya. Matanya terus waspada menatap kepala Sehun yang tertunduk, mengira-ngira apa yang akan Sehun lakukan padanya.

Ketika anak itu merangkak semakin mendekatinya, Luhan semakin merapatkan tubuhnya ke dinding. Napasnya kembali tak beraturan seiring rasa takut yang kembali menyiram tubuhnya yang nyaris mati rasa. Luhan menyangka bahwa anak itu akan kembali mencoba untuk mencengkram lehernya lagi dan mencekiknya hingga mati, atau menghantamkan kepalanya ke dinding hingga ia kehilangan kesadaran. Ketika anak itu mengangkat kepalanya, Luhan mengira bahwa seringai kejam yang mengerikan itu akan kembali bermain-main, menggantung di sudut bibirnya. Matanya akan kembali diselubungi kabut gelap itu, juga sorot kegilaan yang haus akan nyawanya. Namun yang tidak ia sangka adalah ketika anak itu mengangkat kepalanya, bukan seringai mengerikan atau sorot mata kejam yang ia lihat, melainkan senyuman cerah yang ceria, juga kehangatan dari ketulusan senyumannya yang sampai hingga ke matanya yang jernih.

Luhan terdiam.

"Happy Halloween, Hyung!" ucap anak itu dengan nada riang.

Luhan hanya diam, otaknya membutuhkan beberapa detik untuk memperoses kalimat yang diucapkan anak itu.

Ulang tahun Minseok…28…Oktober…..Halloween?!

Luhan kehilangan napasnya, jantungnya melewatkan beberapa detakan, dan matanya membulat. Sehun yang sudah tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi lelaki di hadapannya, kembali tertawa bahkan lebih keras dari sebelumnya. Mendengar tawa puas anak itu, tubuh Luhan yang tadinya gemetar karena aliran adrenalin kini bergetar karena amarah. Rasa takut yang sebelumnya ia rasakan kini telah lenyap, habis ditelan oleh rasa jengkel yang ia rasakan.

Anak ini…berarti sejak awal ia telah merencanakan semua itu. Anak ini…beraninya ia mempermainkannya seperti itu…

Dan lihatlah dirinya, meringkuk bersandar di dinding—benar-benar ketakutan setengah mati. Begitu bodoh dan idiot terperangkap dalam jebakan kenakanak-kanakan yang direncanakan oleh bocah seperti Sehun…

Dan sekarang lihatlah anak itu, berguling di lantai, tertawa lepas, puas karena rencana kekanak-kanakannya berjalan dengan lancar.

Luhan menyipitkan kedua matanya, menatap tajam tubuh anak itu. Napasnya kembali memburu, ia mengepalkan kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Jika Sehun berpikir ia bisa lepas begitu saja dari apa yang ia lakukan, tch! Ia salah besar.

Sehun baru saja mencoba untuk bangkit dan duduk ketika tiba-tiba Luhan menerkamnya, membuat tubuhnya kembali menghantam lantai dengan Luhan yang berada di atas tubuhnya. Anak itu terkejut, ia mengedipkan matanya beberapa kali namun Luhan menatapnya balik dengan mata yang dipenuhi amarah. "Sehun, apa-apaan semua ini?!"

Luhan berteriak di depan wajah anak itu dengan jengkel. Anak itu kembali mengedipkan matanya beberapa kali seraya tertawa kecil. "Haha, Hyung. Ternyata kau mirip banteng ketika marah. Manis sekali!"

"Sehun!" teriaknya lagi dengan suara yang serak ketika anak itu tak menanggapinya dengan serius. Matanya mendelik geram, menatap Sehun dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan jawab-pertanyaanku-atau…

Anak itu terdiam, ia kembali tertawa, namun kali ini terdengar lebih canggung. Akhirnya ia sadar bahwa Luhan benar-benar marah dan lelaki itu tak akan membiarkannya lolos dengan mudah kali ini. "Oke, oke, hyung. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan Halloween. Aku pikir kau akan menyukainya—"

"Kau mencekikku, kau menghantam tubuhku ke dinding. Tubuhku mati rasa, aku ketakutan. Bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku akan menyukainya?!" teriak Luhan memotong kalimat anak itu. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sehun, matanya menyiratkan keseriusan.

"Kau keterlaluan kali ini, Sehun."

Sehun membeku sesaat, ia menoleh ke sebelah kirinya dan memejamkan matanya untuk menghindar dari tatapan marah Luhan.

Luhan terdiam, ia bisa melihat bagaimana ekspresi anak itu berubah perlahan. Keriangan itu lenyap, ia terlihat begitu lesu, ia terlihat begitu merasa bersalah, dan lebih-lebih lagi ia terlihat seperti telah ditolak—layaknya anak anjing yang diusir oleh majikannya, dan itu nyaris membuat Luhan merasa bersalah karena telah membentaknya. Namun bagaimanapun ia telah berbuat keterlaluan, Luhan tak seharusnya merasa bersalah. Ia melakukan hal yang benar.

"Hyung, maafkan aku. Aku hanya bercanda." Ucap anak itu pelan, masih sambil menghindari tatapannya.

"Semuanya?" Tanya Luhan.

"…Ya."

Anak itu membutuhkan beberapa detik untuk menjawab pertanyaan Luhan. "Hyung, aku merasa bersalah, maafkan aku. Aku tak akan melakukannya lagi…" Katanya menambahkan. Ia kembali menoleh kearah Luhan, dan membuka kedua matanya perlahan. "Hyung…jangan marah…"

Anak itu berbisik pelan dengan matanya yang nyaris berkaca-kaca, namun Luhan bisa mendengarnya dengan jelas. Ia tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya seakan membeku seketika. Luhan hanya bisa menatapnya balik. Namun ekspresinya yang tadinya jengkel dan penuh amarah perlahan demi perlahan mulai melembut. Sehun terus menatapnya dengan sepasang bola mata jernihnya yang berkaca-kaca, membuat Luhan tak berdaya. Tch, curang…

Walau bagaimanapun, ia selalu punya soft spot untuk Sehun…

Dan anak itu benar-benar tau bagimana cara memanfaatkannya.

Ia tak bisa terus-terusan marah pada anak itu.

Tch…benar-benar curang.

Luhan mendengus dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia bangkit, menyingkir dari atas tubuh Sehun dan berdiri. Sehun memejamkan matanya dan menghela napas, lega karena Luhan memutuskan untuk membiarkannya lepas begitu saja kali ini. Ketika ia membuka matanya, senyum ramah Luhan yang terlihat lelah yang menyambut matanya.

"Aku membiarkanmu lepas kali ini Sehun. Tapi kalau kau melakukannya lagi…" Senyum ramah Luhan berubah menjadi seringai yang dingin. "aku tak akan memaafkanmu semudah ini."

Sehun menelan ludah, ia mengangguk cepat. "Tentu, Hyung! Aku berjanji!" Seru anak itu meyakinkannya.

Luhan tersenyum lagi, ia mengulurkan tangannya pada Sehun. "Baiklah, sudah larut. Ayo pulang."

Wajah Sehun yang tadinya pucat kini kembali berwarna, wajahnya mencerah seketika. Ia membalas senyuman Luhan dan meraih tangan lelaki itu lalu bangkit berdiri. "Baik, Hyung!"

Luhan ternsenyum sambil menggeleng pelan. Ia tak percaya bagaimana bisa ia melepaskan Sehun dari ocehan panjang yang sepantasnya anak itu terima seperti itu saja. Namun melihat anak itu tersenyum dengan riang dan berjalan dengan langkah yang ceria, membicarakan bagaimana rencanannya mengerjai Luhan berjalan dengan sempurna dengan bangga—melihat semua keriangan dan keceriaan itu, Luhan merasa ia telah melakukan hal yang tepat.

Ya, walaupun seluruh tubuhnya keram dan nyaris mati rasa.

Tch, ia benar-benar akan balas dendam pada Sehun…nanti.

Luhan menghela napas lelah seraya berjalan dengan Sehun yang berada di sampingnya. Suara mereka yang menggema di lorong rumah sakit semakin memudar, seiring tubuh mereka yang menghilang di balik pintu lift rumah sakit.

Disguised as lies

Beyond underneath the underneath

Look carefully you might not like what you'll see

Under the disguise, behind the facade

The true face…

The real him

END OF CHAPTER TWO

TBC

Terima kasih telah membaca!

Maafkan beberapa ketidak konsistennan di fic ini. Saya tau kok, kalau ulang tahun Minseok yang sebenarnya itu 26 Maret, tapi tadi diketik jadi tanggal 28 Oktober. Tapi sebenarnya itu sengaja, jadi anggap aja di fic ini ulang tahunnya si Minseok/Xiumin itu 28 Oktober .. *jangan lempar saya please* XDXDXD

Oh, Iya. Ini fic pertama saya di kategori screenplay~! Salam kenal semuanya~! Mohon bantuannya teman-teman reader/sesama author :D XDXDXD

Sekali lagi terima kasih telah membaca dan jangan segan-segan untuk memberikan support/dukungan dengan memberikan review, atau kalau yang mau kenalan juga boleh *plak* ^.^

Okee, sampai jumpa chapter depan~!


"Jadi semuanya hanya bercanda, bahkan saat kau bilang kau mencintaiku?" Tanya Luhan seraya keluar dari dalam lift rumah sakit.

"A-apa? Te-tentu saja, Hyung!" Sehun berdiri dengan mata yang membulat selama beberapa detik. Ia langsung berlari keluar lift, nyaris sebelum pintu lift kembali menutup.

"Semuanya?" Tanya Luhan lagi, ia terus berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Tak menghiraukan Sehun yang terengah-engah mengejar langkahnya.

"Iya, Hyung! Pelan-pelan jalannya." Seru anak itu dengan jengkel ketika akhirnya dapat kembali menyamai langkah Luhan. Lelaki itu mendengus, siapa suruh kau berlama-lama di dalam lift? Pikirnya agak jengkel. "Ternyata kau masih kesal ya, Hyung. Haaaa." Anak itu menghela napas lelah, agak kecewa bahwa Luhan belum benar-benar memaafkannya. Ia berlari mendahului Luhan menuju pintu keluar rumah sakit yang terbuat dari kaca dan membukannya dengan cengiran lebar ketika Luhan akan lewat.

"Kalau kau pikir hanya dengan membukakan pintu untukku saja sudah cukup untuk membuatku memaafkanmu, kau salah besar, Sehun." Ucap Luhan datar ketika melewati anak itu. Membuat Sehun tertenduk lesu.

Anak itu kembali berlari untuk menyusul Luhan. "Tapi, Hyung, aku aktor yang hebat kan, kan, kan?" tanyanya kembali memasang cengiran lebar itu di wajahnya.

Luhan mendengus lagi, ia menghentikan langkahnya, membuat Sehun bingung dan menelengkan kepalanya. Luhan mengangkat tangan kanannya dan meraih kepala Sehun, sebelum mengacak-acak rambutnya dengan lembut—hal yang sering ia lakukan pada Sehun seperti biasanya. Luhan tersenyum padanya "Ya."

Wajah Sehun mencerah, ia tersenyum lebar membalas senyuman lelaki itu. "Terima kasih, Hyu—argh!" Anak itu berteriak sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya karena Luhan menarik rambut anak itu dengan tiba-tiba. "Ow, Ow. Sakit! Hyung." Ucap Sehun sambil membelai kepalanya sendiri.

"Itu balas dendamku." Ucap Luhan dengan seringai jahil pada Sehun, sebelum ia mengibas-ngibaskan tangannya pada anak itu dan berbalik. "Pulang sana, sudah malam. Aku mau pulang."

"Sampai jumpa!" Sehun berteriak pada Luhan sambil melambai-lambaikan tangannya pada lelaki itu, namun Luhan tak menghiraukan anak itu. Ia terus berjalan tanpa berbalik sedikitipun. Sehun hanya menatap lurus punggung lelaki itu seraya melihat tubuh itu yang berjalan semakin menjauh darinya. Namun matanya menangkap anggukan kecil kepala Luhan, dan itu sudah cukup untuk membuatnya tersenyum senang. Namun ia terus berdiri di sana, tak bergeming seolah tengah menunggu sesuatu selama beberapa detik, sebelum akhirnya berbalik untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Semuanya bercanda, ya hanya bercanda…

Well, setidaknya sebagian besar…

Ia menyeringai.