Pagi itu.

Hanya terdengar suara dari alat makan yang sedang digunakan untuk sarapan. Tak ada siapapun yang mencoba mengangkat pembicaraan, atmosfir di meja makan saat itu sangat tidak enak. Nana- ibu dari Giotto dan Tsuna khawatir akan keadaan itu, biasanya keadaan sarapannya selalu penuh dengan canda dan tawa dari kakak beradik itu.

Tapi pagi ini tidak.

Giotto dan Tsuna fokus kepada kegiatan makan mereka- ah, tidak. Lebih tepatnya, berusaha fokus agar tidak berkomunikasi satu sama lain. Sesekali mata mereka bertemu- tapi itu tak lama, mereka berdua langsung menatap kembali kepada sarapan mereka yang ada di atas meja.

Pagi yang tak enak.

.

.

ALWAYS LOVING YOU

2nd CHOICE

BY: MIHARU MIDORIKAWA

.

.

"Aku selesai."

Tsuna beranjak dari kursinya dan menempatkan piring kotor ke wastafel dan berjalan keluar ruang makan, "Mau ambil tas dulu." Katanya dengan singkat sebelum akhirnya keluar dari ruang makan tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Gio."

"Ada apa, kaa-san?"

"Apa kamu dan Tsuna bertengkar?"

Giotto menundukkan kepalanya, rambutnya menutupi sebagian mukanya- jadi Nana tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa ekspresi muka Giotto saat ini.

"Iya," Jawab Giotto dengan suara kecil, "Mungkin..."

Nana menghela nafas panjang dan menatap dengan dalam kepada anaknya tersayang itu, "Cepatlah berbaikan, aku tidak ingin kalian terlihat seperti itu terus."

"Baiklah." Giotto pun akhirnya pergi ke kamar Tsuna untuk menyusulnya.

...Always Loving You...

Tsuna menutup pintu kamarnya dengan pelan dan berjalan ke arah meja belajar untuk mengambil tasnya yang terletak di atas sana. Setelah memegang tasnya, entah kenapa dia tiba-tiba teringat kejadian kermarin sore dengan Giotto.

Hatinya merasa sangat sesak saat melihat Giotto terus memohon kepadanya.

Akhirnya pada malam itu Tsuna menangis tak ter-kontrol di kamarnya, menimbun kepalanya di atas bantal dan menangis sepuasnya sampai suara dan air matanya habis. Dan untung saja ibunya dan Giotto tak menyadari bahwa matanya sedikit merah dan bengkak- yah, moga-moga saja.

"Gio-nii..."

Apa seharusnya dia minta maaf ya?

Entahlah, Tsuna tidak tahu.

Sekarang pikiran dan perasaannya campur aduk.

Tsuna mengambil tas-nya dan berjalan menuju pintu, saat dia membuka pintu itu. Mata cokelatnya membelalak saat melihat sosok kakaknya yang sedang berdiri tepat di depan kamarnya.

"G-Gio-nii...?"

"Tsuna, aku ingin bicara." Ucap Giotto lembut sambil menggenggam tangan Tsuna, sekarang Tsuna tak bisa berkata apa-apa, pikirannya sekarang kosong. Pandangannya sekarang tertuju kepada mata kakaknya yang biru laut itu.

"Tsuna?"

"A-ah, maaf Gio-nii. Aku harus pergi sekarang, kalau tidak aku akan telat." Sekarang mata Tsuna sudah tidak menatap Giotto lagi. Giotto yang tidak senang, mengangkat dagu Tsuna untuk menatapnya. Dan Giotto terkejut saat melihat mata karamel Tsuna yang sudah berkaca-kaca.

Apa yang dia lakukan sampai membuat Tsuna menangis?

"Tsuna, apa yang-"

Kata-kata Giotto terputus saat Tsuna melepas genggaman tangan Giotto dengan paksa, "Maaf." Itulah sepatah kata yang Tsuna ucapkan sebelum akhirnya menjauh dari Giotto. Tsuna menutup mukanya dengan tangannya, "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Pertanyaan itu terus bersarang di pikirannya.

"Kenapa jadi seperti ini?"

...Always Loving You...

"Tsuna!"'

"Juudaime!"

Seketika Tsuna tersadar dari pikirannya dikarenakan suara panggilan dari kedua temannya, "A-ada apa?"

"Sebenarnya tidak ada urusan penting, Juudaime. Tapi rasanya dari tadi kamu melamun terus."

"Eh? Serius?"

"Iya Tsuna, ditambah lagi dari tadi pagi kamu lesu banget."

"Oh... begitu ya..." Jawab Tsuna dengan suara kecil, yah... mau bagaimana lagi. Mana mungkin Tsuna bisa ceria setelah kejadian tadi pagi? Itu mustahil. Walaupun bisa, pasti temannya akan menyadarinya bahwa itu adalah senyuman palsu.

"Kami khawatir dengan keadaanmu, Tsuna."

Bibir Tsuna terbentuk senyuman kecil, "Terimakasih ya, Gokudera-kun, Yamamoto."

"Ahahaha~ Sama-sama Tsuna. Bukankah itu sudah wajar sebagai teman?"

"Kata-kata itu terlalu baik untukku, Juudaime!" Sahut Gokudera, "Oh ya, mau aku belikan minuman? Siapa tahu kamu jadi agak baikkan." Seru Yamamoto dengan senyuman khasnya.

"E-Eh? A-apa tidak apa-apa?"

"Tak apa kok! Jadi, kamu mau apa?"

"Hm... milk tea?" Tanya Tsuna sambil sedikit memiringkan kepalanya, muka Gokudera dan Yamamoto langsung memerah melihat sosok Tsuna yang imutnya sudah kelewatan batas itu. "Ka-kalau begitu, aku pergi ke kantin dulu ya. Nanti keburu tutup." Yamamoto lalu berlari ke luar kelas dan berusaha meredamkan mukanya yang memerah.

"Dia kenapa?" Tanya Tsuna dengan muka innocent-nya.

"Entahlah..." Jawab Gokudera.

"Hm~"

"Juudaime, apa semua keadaanmu ada hubungannya dengan si Giotto?"

Rasanya hati Tsuna berhenti untuk sesaat.

"E-Eh? K-kok kamu tahu?" Ucap Tsuna sambil menatap ke bawah.

"Yappari. Ternyata memang dia ya." Gokudera memegang kedua bahu Tsuna dan menatap mata karamel itu dengan dalam. Pipi Tsuna menjadi merona melihat Gokudera yang memandangnya dengan tatapan serius seperti itu, "G-Gokudera-kun?"

"Dengar Juudaime. Aku tidak peduli jika orang itu adalah kakakmu, yang jelas. Jika dia membuatmu seperti ini lagi, aku tidak akan memaafkannya."

Sekarang muka Tsuna sudah dibuat merah padam oleh Gokudera. Untung saja sekarang di atap sekolah tidak ada siapa-siapa, bahkan sang ketua Komite Kedisiplinan Namimori itu tak ada di sini. Tak tahan oleh sosok Tsuna yang polos itu, Gokudera tertawa kecil.

"A-apa?" Tanya Tsuna dengan sedikit me-manyun kan bibirnya.

"T-tak apa-apa." Jawab Gokudera sambil sesekali tertawa kecil.

"Apa?"

"Tak apa-apa, Juudaime." Walaupun begitu, Gokudera masih tertawa.

"Gokudera-kun!"

...Always Loving You...

"Juudaime! Maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini, aku ada urusan dengan guru!" Ucap Gokudera sambil membungkukkan badannya, "Ti-tidak apa-apa kok, Gokudera-kun." Kata Tsuna sambil melambai-lambaikan tangannya di depan Gokudera. Tak lama kemudian Gokudera mengangkat kepalanya dan menatap Tsuna dengan pandangan puppy eyes-nya.

"Geh..." Tsuna menatap Gokudera sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Dan tiba-tiba sebuah tangan muncul dari belakang Tsuna dan merangkulnya, dengan refleks, Tsuna memalingkan kepalanya ke belakang. "Y-Yamamoto-kun!"

"Yo, Tsuna!"

"Oi yakyuu baka! Jangan seenaknya menyentuh Juudaime!" Teriak Gokudera sambil mengepalkan tangannya di depan muka Yamamoto. "Maa~ Maa~" Kata Yamamoto sambil angkat tangan.

"Mou~ Kalian jangan bertengkar!" Muka Tsuna sekarang sudah marah- yah... tapi terlihat seperti Tsuna yang sedang manyun sambil menggembungkan pipinya. "O-oh ya, Tsuna. Hari ini aku ada latihan baseball, jadi aku gak bisa pulang bareng kamu."

"Gak apa-apa kok, aku pulang duluan aja." Tsuna pun mengambil tas-nya dari atas meja dan berjalan ke arah pintu, "Aku duluan ya!" Tsuna memberikan senyuman lalu berlari keluar kelas.

"Kamu... jangan menyentuh-nya lagi."

"Eh? Apanya yang salah? Kamu 'kan bukan siapa-siapa-nya dia."

"Tch."

...Always Loving You...

Tsuna menghentikan langkahnya yang hanya beberapa meter dari gerbang sekolah, dengan tatapan kosong, Tsuna menatap ke atas langit yang sekarang berwarna orens kemerahan terbentang luas di atasnya. Entah untuk berapa lama dia menatap langit itu

Dia pun menghela nafas panjang, tiba-tiba di pikirannya muncul sosok kakaknya... Dan Tsuna merasa mukanya memanas.

"ARRGGGHH! KENAPA AKU JADI KEPIKIRAN DIA?!"

"Oi, herbivore."

Tsuna menghentikan aktifitasnya (?) yang sedang mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi, "Hi-Hibari-san...?"

Ah, ternyata benar. Orang yang memanggilnya adalah sang Ketua Komite Kedisiplinan Namimori- Hibari Kyoya. Gakuran hitam-nya melambai tertepa angin, kedua tonfa-nya digenggam kuat olehnya, dan mata hitam besi itu menatap tajam ke arah Tsuna.

"Herbivore, apa yang kau lakukan di sana tadi?"

"A-ano... itu..."

"Jangan berlagak seperti itu lagi. Aku tidak mau Namimori di bilang tempatnya orang-orang gila."

JLEB! (?)

"Aah... u-un... Sampai nanti ya, Hibari-san!" Tsuna lalu berlari menjauhi SMP Namimori tanpa melihat kebelakang lagi.

Sekarang nafas Tsuna sudah ter-engah-engah karena sudah berlari dengan kecepatan penuh dari SMP Namimori, tanpa sadar... Tsuna sekali lagi menatap ke arah langit yang terbentang luas itu.

"Gio-nii... sedang apa ya?"

...Always Loving You...

Giotto menghela nafas panjang.

"Kenapa, Giotto?"

Giotto membalikkan badannya ke arah suara itu, "Ah, G."

"Tak biasanya kau melamun seperti itu." Ucap G sambil berjalan mendekati Giotto.

"Tak apa-apa kok, G." Lalu Giotto mengalihkan pandangannya ke arah langit yang membentang di atasnya.

"Tsuna sedang apa ya...?"

...Always Loving You...

"Tadaima..." Tsuna membuka sepatunya dengan perlahan, tapi dia merasakan sesuatu yang aneh... rumahnya sepi. Biasanya selalu ada seseorang yang menyapanya sepulang sekolah. "Pada kemana ya?" Tsuna mencoba mencari ke dapur, tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Saat mencari ke sekitar dapur, Tsuna menyadari ada catatan kecil di atas meja makan.

[Tsuna, Giotto.

Ibu akan pulang malam karen ada reunian semasa ibu SMA. Makanan ada di kulkas, tinggal hangatkan saja di oven.

Oh ya, ibu harap kalian sudah berbaikan saat ibu pulang ke rumah.

Cinta, Nana.]

Tsuna meletakkan catatan itu di meja dan berjalan ke kamarnya di lantai dua- tepat bersebrangan dengan kamar Giotto. Sesaat setelah dia sampai di kamarnya, Tsuna langsung melempar tas-nya ke lantai dan merebahkan dirinya di kasur yang empuk dan nyaman itu.

"Ah... ngantuk..."

Dan Tsuna pun pergi ke alam mimpi.

...Always Loving You...

Petir menggelegar di mana-mana. Hujan disertai angin yang menyapu kota Namimori semakin besar. Dengan cepat-cepat, Giotto berlari menuju rumahnya. "Tch. Seharusnya aku naik mobil saja tadi..." Gumam Giotto dengan kesal sambil terus berlari diterpa hujan. Payung yang dia pakai pun sekarang rasanya sudah tak terlalu berguna baginya.

Giotto menatap keadaan rumahnya yang gelap gulita tanpa ada penerangan sedikitpun dari dalam rumah, "Apa tidak ada siapa-siapa di rumah?" Gumam Giotto heran sambil terus menatap ke arah rumahnya.

Dengan perlahan, Giotto memegang kenop pintunya, "Eh? Tidak terkunci..." Lalu dia membuka pintu seutuhnya. Dan ternyata memang benar, tak ada cahaya sedikitpun dari dalam. "Tsuna? Ooka-san?" Paggil Giotto dengan suara lembut, walaupun sudah beberapa lama dia menunggu tapi tak ada jawaban sama sekali. Giotto akhirnya memutuskan untuk pergi ke lantai dua.

Sayup-sayup. Giotto mendengar suara tangisan seseorang. "Hantu? Ah, mana mungkin..." Tapi rasa penasarannya begitu besar terhadap suara itu, dia menelan saliva-nya dan terkejut saat melihat pintu kamar adiknya terbuka sedikit.

"Tsuna?"

Giotto mengintip sedikit ke celah-celah pintu itu. Awalnya Giotto tak melihat apapun karena di dalam kamar itu sangat gelap. Dengan perlahan, mata Giotto bisa menyesuaikan dengan kegelapan. Dan... dia melihat... adiknya- Tsuna yang menangis terisak-isak sambil menutupi kedua telinganya dengan tangannya yang sedikit gemetaran.

Giotto langsung menyalakan lampu kamar Tsuna dan memeluk Tsuna seerat yang ia bisa, "Tsuna!" Tsuna yang terkejut hanya bisa menatap dengan kaget kepada sosok kakaknya yang memeluknya dengan erat itu, "Gi-Gio-nii...?"

"Aku ada di sini... Tsunayoshi."

Tsuna merasakan dadanya sesak karena betapa senangnya dia dipanggil dengan nama pajangnya. Walaupun begitu- air mata terus mengalir ke pipinya tak berhenti, ataupun badannya yang gemetaran itu. "Tsunayoshi... aku di sini. Kau tak perlu takut lagi..."

Kata-kata Giotto cukup menenangkan Tsuna, tangan besar Giotto terus mengelus-ngelus punggung Tsuna yang terlihat kecil dan rapuh itu. Tak lama kemudian, Giotto memisahkan sedikit jarak di antara mereka. Mata Giotto penuh dengan simpati saat melihat sosok Tsuna yang seperti itu, pandangannya tertuju pada mata Tsuna yang terus menerus mengeluarkan air mata.

Giotto mengangkat dagu Tsuna dengan lembut agar Tsuna menatapnya, "Tsuna. Jangan menangis lagi."

"T-Tapi... Air mataku tak bisa berhenti..." Ucap Tsuna dengan suara kecil di sela-sela tangisannya.

Dengan cekatan. Giotto mencium pipi Tsuna yang dibasahi oleh air mata itu, lalu mencium kening-nya, lalu kembali ke pipinya lagi. "Gi-Gio-nii...?" Pipi Tsuna sekarang sudah merona dikarenakan ciuman dari kakaknya itu.

Senyuman kecil hanyalah respon dari Giotto sebelum akhirnya mata mereka berdua bertemu dan saling memandang. "Tsunayoshi." Dan bibir mereka pun bertemu. Seluruh tubuh Tsuna langsung membeku terkejut, matanya sekarang sudah tak mengeluarkan air mata lagi. Serasa ada kupu-kupu yang beterbangan di perut Tsuna.

Itu hanyalah sekedar ciuman yang menempelkan bibir dengan bibir.

Tapi itu adalah ciuman pertama mereka.

Setelah beberapa saat. Giotto melepas ciuman itu dan tersenyum melihat sosok Tsuna yang begitu imut di depannya, "Air matamu berhenti."

Muka Tsuna pun langsung menjadi merah. Yang pertama di pikiran Tsuna adalah... "Kenapa?"

Seharusnya dia merasa jijik karena dia baru saja berciuman dengan kakak kandungnya sendiri.

Tapi tidak.

Dia tak merasa jijik sedikitpun.

Malah dia merindukan kehangatan bibir Giotto.

Giotto beranjak dari kasur Tsuna dan langsung membuka kemejanya yang agak basah karena hujan tadi, Tsuna yang terkejut karena kelakuan kakaknya yang tiba-tiba itu langsung menutupi mukanya yang merah dengan selimut. Giotto tertawa kecil melihat itu.

Setelah membuka kemeja-nya, lalu Giotto berbalik ke arah Tsuna dan menarik selimut yang menutupi sosok adiknya yang sekarang sangat imut tak tertahankan.

"Tidurlah Tsuna. Aku akan di sini menemani-mu."

Tsuna hanya mengangguk dan berkata, "Ma-maaf Gio-nii. Maaf... soal kemarin. Aku gak mau bertengkar terus sama Gio-nii..."

Hati Giotto lalu penuh perasaan penyesalan. Lalu dia menarik Tsuna kedalam pelukan yang hangat lagi, "Sudahlah Tsuna, jangan minta maaf lagi... aku yang salah." Tsuna lagi-lagi hanya mengangguk. Dan Giotto tiba-tiba mencium bibir Tsuna lagi, tapi kali ini yang anehnya... Tsuna membalas ciuman Giotto dengan malu-malu.

Giotto melepasnkan ciuman itu lalu menarik selimut untuk menutupi badan mereka berdua. Setelah mendapat posisi yang enak. Giotto mendekap Tsuna dengan erat dan menimbun kepalanya di rambut Tsuna yang lembut dan harum itu. Tsuna hanya bisa pasrah dan membiarkan mukanya menjadi merah lagi.

Tak lama kemudian mereka tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.

To Be Next Choice

A/N:

Giotto gak akan jadi yandere ya, minna-san~ yandere itu terlalu seram...

Ah etto, sorry kalo ada typo dan semacamnya ==

Ini hadiah tahun baru buat kalian, hehehehe XD

Happy new year~

Akemashite omedetou gonzaimasu, minna san~!