"Taman hiburan?"

Giotto mengangguk atas pertanyaan Tsuna, "Ya, hari ini aku ingin mengajakmu ke taman hiburan." Jelas Giotto di sela-sela membaca buku novel di sofa yang terletak di ruang keluarganya, mata Tsuna sekarang sudah berbinar-binar menanggapi tawaran Giotto yang sangat menggoda itu.

"Be-beneran? Serius?!"

"Iya. Cepat siap-siap, kita berangkat jam setengah sepuluh." Tsuna lalu melirik ke arah jam dinding di sebrangnya, sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat 15 menit. "Hieeee! Aku harus cepat-cepat!" Teriak Tsuna panik dan berlari ke luar ruang keluarga. Tapi dia menghentikan langkahnya dan kembali berlari ke arah Giotto yang sedang membaca novel.

"Makasih ya Gio-nii!" Tsuna memeluknya dan kemudian mengecup pipi Giotto sebelum akhirnya kembali keluar dari ruang keluarga.

Giotto membeku.

Mukanya sekarang sudah merah padam.

Tangannya lalu menyentuh pipi yang baru saja di-kecup oleh adiknya.

.

.

ALWAYS LOVING YOU

3rd CHOICE

BY: MIHARU MIDORIKAWA

.

.

"Hmmm... pake baju apa ya?" Gumam Tsuna sambil merogoh-rogoh lemarinya untuk mencari baju yang pas. Setelah mengambil mandi cepat, Tsuna buru-buru lari ke kamarnya... dan hanya masih memakai sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Memperlihatkan kaki yang mulus dan lekukan tubuh yang imut.

Giotto yang hendak masuk ke kamarnya, langsung mengalami nosebleeding yang dahsyat saat melihat sosok adiknya yang hanya memakai handuk saja.

Ironis.

Dan sekarang Tsuna masih memakai handuk saja. "Arghhh pake baju apaaa?!" Teriak Tsuna frustasi. Tak lama pun dia mulai terdiam... "Padahal aku mau kencan sama Gio-nii... aku harus pilih baju-"

Tunggu.

Kencan?

Kencan dengan Gio-nii?

"Apa yang ku pikirkan sih? Ini hanya jalan-jalan biasa saja... bu-bukan kencan..."

Walaupun Tsuna berkata seperti itu. Pipinya sekarang merona dan senyuman tak habis terpancar di wajahnya saat mengetahui bahwa dia akan pergi ke taman hiburan bersama Giotto.

...Always Loving You ...

Giotto tersenyum sambil memainkan sebuah aplikasi permainan di smarphone-nya. Nana yang menyadari mood anaknya yang sangat gembira itu terheran dan bertanya, "Ara ara~ Gio~ Sepertinya kamu sudah baikan dengan Tsuna ya?"

Giotto hanya mengangguk.

Nana tersenyum menanggapi kelakuan danaknya yang blonde itu. Suara langkah kaki lalu terdengar dari arah lorong, mata Giotto pun terkejut saat melihat sosok yang sekarang berada beberapa meter kaos orens agak ketat yang menampilkan tubuhnya yang ramping, rompi jeans yang berukuran hanya beberapa senti di bawah dadanya, dan celana jeans dengan sabuk hitam.

"Tsu...na?"

"Ah... Gio-nii? A-aneh ya?"

"Gak, kok. Kamu cantik."

"Hei! Kenapa aku cantik?!" Kata Tsuna sambil memukul-mukul bahu Giotto dengan maksud bercanda, "Terus... Gio-nii... Ba-baju itu cocok sama kamu..." Kemeja orens, balzer hitam dan celana hitam mulus- benar-benar cocok untuk Giotto.

Giotto lalu mengelus-ngelus rambut Tsuna dan tersenyum, "Makasih ya, Tsuna." Tsuna hanya tersenyum, "Yuk kita berangkat sekarang, nanti keburu penuh loh."

"Kami pergi dulu!" Sahut Tsuna kepada ibunya, "Jangan pulang terlalu malam ya."

Tsuna mengangguk dan keluar dari rumah bersama Giotto, Tsuna lalu berjalan menuju mobil sports merah kakaknya dan membuka pintunya. Tak lama kemudian Giotto pun menyusul naik ke mobil dan menyalakan mesinnya.

Di sepanjang perjalanan Tsuna tak bisa menahan senyumannya.

...Always Loving You...

"Uwaaahhh~" Kagum Tsuna saat melihat pemandangan di depan matanya, Giotto tertawa kecil melihat kelakuan kekanak-kanakan Tsuna. "Ayo, kamu mau naik apa dulu?" Tanya Giotto.

"Umm... merry go round?"

"Eh? Bukannya kamu sudah terlalu besar untuk itu?"

"EEEHHHH~? Ayolah Gio-niii!" Tsuna lalu memberikan puppy eyes andalannya kepada Giotto. Lalu Giotto terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas dan menggenggam tangan Tsuna dengan erat. "Ayo."

"YATTA!"

Dan...

Senyuman di muka Tsuna sekarang makin lebar dan dia mulai bersenandung ria, soalnya sekarang mereka sudah hampir menaiki wahana yang Tsuna pilih, tapi...

"Maaf, kuda yang tersisa hanya satu lagi. Apa kalian ingin menunggu saja?" Ucap pegawai yang menjaga gerbang masuk wahana itu. Tsuna dan Giotto bertukar pandang, "Ah... kalau soal itu-" Ucap Giotto.

DAAAANNNN...

"Gi-Gio-nii... semua orang melihat ke sini..." Muka Tsuna sekarang sudah memerah.

"Biarlah Tsuna, jangan pedulikan mereka."

"Ta-tapi..."

"Tsuna... bisa kau geser sedikit?"

"E-eh? I-ini... A-ahh..."

Mereka memutuskan untuk naik satu kuda bersama karena malas untuk menunggu lagi. Saat mereka naik langsung banyak orang yang memperhatikan mereka, bahkan ada sekelompok perempuan memfoto mereka sambil sesekali berteriak (sekelompok grup Fujoshi).

Tsuna duduk di depan Giotto. Tangan Giotto di tempatkan di pinggang Tsuna yang ramping dan satu lagi pada pegangan yang ada di kuda itu, muka Tsuna sekarang sudah sangat merah sampai-sampai merahnya bisa mengalahkan tomat atau stoberi.

Giotto terus tersenyum selama menaiki wahana itu.

...Always Loving You...

Setelah menaiki wahana itu, Giotto mengajak Tsuna untuk masuk ke rumah hantu- tentu saja Tsuna sempat menolak atas ajakan kakaknya itu, tapi karena padangan yang diberikan Giotto kepadanya, akhirnya Tsuna pun menyerah dan masuk ke rumah hantu bersama Giotto sambil berpegangan tangan.

Sudah tak terhitung berapa kali Tsuna berteriak di dalam sana, tapi yang jelas Giotto sudah menetapkan bahwa wahana favoritnya itu rumah hantu.

Bagaimana Giotto tidak suka?

Soalnya Tsuna terus memeluk Giotto dengan erat.

...Always Loving You...

"Ahhh~ Hari ini menyenangkan sekali~" Ujar Tsuna sambil meregangkan tangannya, Giotto tersenyum dan mengelus-ngelus kepala Tsuna dengan lembut. "Pulang yuk." Tawar Giotto kepada adiknya sambil menatap langit yang sudah berwarna orens kemerahan itu.

"Ah! Aku mau naik itu dulu!" Kata Tsuna sambil menunjuk ke arah bianglala yang besar, "Itu? Boleh."

...Always Loving You...

"Uwaahhh~ Tinggi~!"

Sementara Tsuna mengamati pemandangan dari atas bianglala, Giotto diam-diam mengambil foto Tsuna dengan handphone-nya. 'Koleksi-ku bertambah lagi~'

"Hm? Gio-nii? Apa yang kau lakukan?" Tanya Tsuna penasaran lalu bergeser mendekati Giotto yang sedang sibuk dengan HP nya sambil tersenyum. "Tsuna... kamu lucu ya." Kata Giotto sambil memperlihatkan foto yang baru saja dia ambil tadi dengan diam-diam.

"E-ehh? Aku gak lucu! Hapus itu!" Tangan Tsuna mencoba meraih HP Giotto, tapi tanpa Tsuna sadari...

Mukanya sekarang sudah sangat dekat dengan Giotto.

"Gio-" Kata-kata Tsuna diputus oleh sebuah bibir yang di tempelkan di bibir Tsuna dengan lembut. Tak lama kemudian Giotto melepaskan ciuman itu dan mengelus pipi Tsuna,

"Tsuna, apa kamu membenciku?"

"Eh?"

"Apa kau membenciku karena aku menciummu seperti itu?" Mata biru laut Giotto menatap Tsuna dengan memelas, Tsuna yang melihat ekspresi Giotto yang tulus itu... rasanya dia tidak akan bisa berbohong.

"Te-tentu tidak, Gio-nii..." Giotto tersentak atas jawaban Tsuna itu, Giotto merasakan bahwa Tsuna tak berbohong padanya. "T-Tsuna... apa kau tak merasa jijik? Aku. Kakakmu, menciummu seperti ini." Tangan Giotto menggenggam tangan Tsuna dengan erat, pipi Tsuna sekarang sudah merona dan degup jantungnya sudah tak beraturan.

"Tidak... entah kenapa... aku tidak merasa jijik sedikit pun."

Ah, rasanya hati Giotto seketika luluh mendengar jawaban dari Tsuna yang begitu tulus kepadanya. "Gio-nii?" Tanya Tsuna kepada Giotto yang dari tadi diam tanpa bergerak atau mengatakan sesuatu.

Tiba-tiba tangan yang besar dan hangat menarik Tsuna ke dalam pelukan yang hangat, "Gi-Gio-nii?" Giotto tak menjawab tapi tetap memeluk Tsuna dengan erat, Tsuna yang tak tau harus apa akhirnya mendekatkan mukanya lalu mencium bibir Giotto sekali lagi.

Mata biru Giotto terbelalak atas kelakuan Tsuna itu, bibirnya yang menempel pada Giotto agak gemetaran, mata Tsuna di tutup dengan rapat, pipinya- ah, tidak, mukanya bahkan sampai telinganya sekarang sudah berubah menjadi sangat merah.

Giotto pun me-rileks kan tubunya dan membalas ciuman Tsuna, tangannya ditempatkan di pinggang Tsuna yang ramping bak seorang cewek itu. Giotto pun memberanikan dirinya untuk melangkah ke tahap yang lebih tinggi.

Giotto menggigit bibir bawah Tsuna, Tsuna yang terkejut refleks membuka mulutnya- melihat celah itu, Giotto memasukan lidahnya ke dalam mulut Tsuna denga cekatan. Lidahnya merasakan dan menyentuh apapun yang bisa diraihnya, segaris saliva keluar dari ujung mulut Giotto. Tsuna yang terkejut- menggenggam bahu Giotto dengan erat sambil sesekali mendesah.

"H-hahh... Gi-Gio-nii..."

Dan mereka berdua terus berciuman sampai turun dari bianglala.

...Always Loving You...

Giotto menatap sosok Tsuna yang tertidur lelap di bangku penumpang mobilnya, Giotto menatap muka Tsuna dan mendekatkan dirinya kepada Tsuna. Lalu mengecup dahinya kemudian berpindah ke bibir ceri Tsuna yang terlihat sangat menggoda itu.

Setelah berapa lama, Giotto memisahkan jarak antara Tsuna dan mengelus pipi Tsuna dengan lembut. Entah sudah berapa lama Giotto mengelus dan menatap adiknya itu. Dia tahu.

Giotto tahu bahwa ini salah.

Tapi... tetap saja.

Perasaannya untuk Tsuna tak akan goyah sedikitpun.

"Aku mencintaimu,Tsuna."

To Be Next Choice

A/N: Review/Favs/Follows please? :'D