"Ittekimasu!" Ucap sang brunet yang baru saja mau keluar rumahnya untuk ke sekolahnya- SMP Namimori. "Iterasshai!" Ucap balik ibunya yang masih di dapur sambil mencuci piring bekas sarapan tadi. Baru saja Tsuna memegang kenop pintu depan, sebuah tangan memegang lengannya dan membalikkan badannya ke belakang.

Belum sempat Tsuna berbicara apa-apa, sebuah bibir ditempelkan di bibirnya dengan lembut, Tsuna yang masih berpikir apa yang sedang terjadi itu tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa terdiam. Orang yang mencium Tsuna pun melepaskan ciumannya dan tertawa kecil melihat tingkah laku Tsuna.

"Gio-nii!" Teriaknya kepada orang yang baru saja menciumnya tiba-tiba, "Maaf Tsuna, aku hanya ingin memberi kecupan 'selamat jalan' padamu." Kata si blonde kota Namimori dengan santai. Muka Tsuna pun menjadi memerah- entah sudah berapa kali kakanya ini membuat mukanya merah padam seperti ini.

"Ya-Yasudah, A-aku pergi dulu ya." Sebelum berbalik menuju pintu, Tsuna mengecup pipi Giotto lalu berlari ke luar rumah dengan muka yang masih merah.

"Lho, Gio. Kenapa mukamu merah begitu?" Tanya Nana yang baru saja selesai mencuci piring dan kebetulan lewat koridor.

"G-gak apa-apa."

.

.

ALWAYS LOVING YOU

4th CHOICE

BY: MIHARU MIDORIKAWA

.

.

"Jadi, Juudaime. Apa kamu mau pergi ke bioskop hari sabtu ini?" Tanya si rambut silver kepada Tsuna yang sedang melamun ke arah luar jendela yang berada di sampingnya.

"Eh? Etto... Gak tau juga, aku harus bilang dulu ke Gio-nii." Jawab Tsuna, tapi pandangannya masih tak berpaling dari pemandangan luar.

"Kenapa harus bilang ke dia?"

"Um... benar juga sih..."

"Kalau begitu, ketemuan di taman Namimori ya. Aku akan menunggumu di dekat air mancur." Ujar Gokudera dengan semangat.

"Eh? Tu-tunggu dulu, siapa saja yang mau ikut?" Tanya Tsuna dengan heran sambil menatap ke arah Gokudera dengan terkejut. "Uhh... tentu saja aku dan kamu saja, Juudaime." Jawab Gokudera dengan suara kecil, pipinya sedikit merona karena malu, "Apa kamu gak mau jalan-jalan denganku?"

"G-gak kok, bukannya gak mau. Aku cuma kaget aja, aku seneng kok bisa jalan-jalan sama kamu, Gokudera-kun."

Pancaran senyuman Tsuna yang innocent dan moe itu membuat Gokudera ingin mimisan langsung di tempat, tapi Gokudera bisa menahan mimisan itu dengan kekuatannya (?). "Be-begitu ya..."

"Ayo semuanya duduk di tempat masing-masing!" Ujar sang guru yang baru saja masuk ke kelas mereka. "Kalau begitu aku ke meja-ku ya, Juudaime." Pamit Gokudera kepada Tsuna- yang hanya dijawab oleh anggukan dan senyuman.

Setelah beberapa saat guru itu menjelaskan tentang rumus matematika- yang Tsuna tak mengerti sedikitpun, akhirnya guru itu melontarkan pertanyaan kepada Tsuna dengan mendadak. Awalnya Tsuna menolak, tapi karena merasa terpaksa... akhirnya Tsuna maju ke depan untuk mengerjakan soal itu.

Dan... jawabanya pun salah.

"Aduduh... masa soal segampang ini kamu gak bisa jawab sih? Apalagi sebentar lagi sudah mau UTS lho." Ujar sang guru kepada Tsuna.

"Hai..."

Tsuna pun kembali duduk ke meja-nya yang terletak di ujung dekat jendela.

'Hari ini aku harus minta diajarin sama Gio-nii...'

...Always Loving You...

Mendengar suara pintu depan terbuka, Tsuna langsung beranjak dari sofa dan membiarkan TV di ruang tengah itu menyala begitu saja. Melihat si blonde pulang, perasaan Tsuna menjadi senang.

"Gio-nii! Aku mau minta-"

Kata-kata Tsuna terputus saat melihat sosok Giotto dari dekat, mata karamelnya mempertanyakan apa yang baru saja dia lihat. Tubuh kakaknya yang terlihat sangat rapuh, lengannya di balut oleh perban putih, dan beberapa kapas di tempelkan di wajahnya.

"Oh? Tsuna, ada apa?" Tanya Giotto dengan santai seperti tak terjadi apapun padanya.

"E-etto, Gio-nii... kamu kenapa?"

Giotto melirik tubuhnya dengan seksama, "Kejadian di kampus kok, gak usah dipikirin."

"T-tapi..." Sekarang yang tadinya berdiri dekat pintu depan, sudah berada tepat di depan Tsuna. "Oh ya, tadi kamu mau minta apa?"

"U-uhh... Gak jadi, Gio-nii istirahat saja."

"Cuma luka segini aja, aku gak apa-apa kok."

"Gak boleh, Gio-nii harus istirahat!" Perintah Tsuna dengan tegas kepada Giotto, yang dijawab oleh senyuman kecil dari Gitto, "Kalau kamu cium aku, aku akan istirahat~"

Muka Tsuna sukses menjadi merah karena perkataan Giotto, sosok Tsuna sekarang terlihat sangat menggemaskan bagi Giotto, "Aku bercan-" Tapi kata-kata Giotto terputus saat merasakan sebuah bibir menempel di bibirnya dengan lembut, tapi itu hanya sekilas, kehangatan bibir itu masih melekat pada Giotto.

"Se-sekarang cepat istirahat..."

Giotto tertawa kecil.

"Iya iya~"

...Always Loving You...

Tsuna memasukkan dompetnya ke saku celana, dan bercermin sambil memperhatikan sosoknya itu. Sweater orens putih bercorak angka 27, dan celana jeans pendek – namun tak ketat – cukup memperlihatkan kakinya yang mulus seperti perempuan itu.

Setelah dirasa semua sudah siap, Tsuna berjalan menuruni tangga untuk berpamitan kepada Giotto dan Nana. Tapi Tsuna merasakan bahwa Giotto tak akan senang dengan aktivitasnya hari ini. Tsuna melirik ke arah ruang tamu dan mendapati Giotto sedang membaca novel dengan santai dan ibunya yang sedang duduk di sofa sambil merajut.

"A-ano, aku pergi dulu ya... Kaa-san... Gio-nii." Ucap Tsuna pelan. Seketika wajah Giotto langsung berpaling ke arah Tsuna, mata biru lautnya menatap dengan tajam ke mata karamel Tsuna. "Mau kemana?" Tanya Giotto dengan suara yang... agak seram.

"E-etto, ma-mau ke bioskop..." Gawat. Tsuna mulai panik jika dilihat seperti itu oleh Giotto.

Giotto berdiri dari sofa yang didudukinya, "Dengan siapa?" Tanya Giotto dengan suara yang lebih seram.

"Go-Gokudera-kun..."

"Aku ikut." Jawab Giotto tanpa basa basi.

"E-Ehhhh? Ke-kenapa?" Tanya Tsuna heran.

"Aku-"

"Oh Gio~ Biarkanlah Tsuna pergi sendiri, dia 'kan sudah besar." Ucap Nana memotong kata-kata Giotto kepada Tsuna, Giotto yang tak terima hal ini, langsung membantah, "Kaa-san! Bagaimana nanti kalau Tsuna kenapa-napa?! Lebih parah lagi dia pergi bersama si Gokudera itu, kalau dia-"

Celotehan Giotto di-berhentikan oleh Nana yang mengangkat tangannya tepat di depan Giotto, "Oh ayolah Gio, hentikan brother-complex mu itu~"

JGEEERRR! (?)

"B-brother... co-complex...?" Ucap Giotto terbata-bata. Mukanya sudah merah padam sekarang plus mata biru lautnya itu terbelalak kaget.

"Hieeee! Kaa-san!" Jerit Tsuna yang sekarang muka bahkan sampai telinganya memerah itu.

"Ayo Tsuna, mendingan kamu pergi sekarang. Kasihan 'kan kalau Gokudera menunggu?" Ujar Nana dengan santai kepada anaknya itu. "U-un, ittekimasu!" Tsuna berlari ke arah pintu dan memakai sepatunya dengan tergesah-gesah. Mendengar suara pintu di tutup, Giotto berpaling pada Nana yang sedang tersenyum gak jelas.

"Kaa-san, apanya sih yang brother-complex..."

"Terus, kalau begitu kenapa hari itu kamu tidur bareng Tsuna di kasurnya sambil memeluknya dengan erat, hmm~?"

"I-Itu-"

"Aku punya banyak koleksi fotomu dan Tsuna yang sedang ber-adegan dengan mesra loh~ Mau lihat?"

"Kaa-san!"

...

"Gokudera-kun!"

Si silverette yang tengah memainkan handphone-nya sambil memakai headset merat itu langsung memalingkan pandangannya ketika mendengar suara angelic yang memanggil namanya, "Ah, Juudaime!" Sapa Gokudera dengan senyum plus semangat.

Pipi Tsuna memerah melihat Gokudera yang seperti itu, ini baru pertama kali dia melihat Gokudera memakai headset dengan tampangnya yang serius dan... lembut seperti itu. "Ma-maaf, apa kamu sudah menunggu dari tadi?"

"Gak juga kok, kalau gitu ayo kita pergi sekarang, nanti keburu penuh!" Tanpa sadar Gokudera menggenggam tangan Tsuna dengan erat dan mengajaknya berjalan tanpa menyadari di belakang bahwa muka Tsuna sekarang sudah merah seperti kepiting rebus.

Tak lama kemudian, Gokudera menyadari bahwa ada yang aneh dengan Tsuna karena tidak berbicara apapun atau melakukan apapun. Dia lalu melirik ke belakangnya dan mendapati muka Tsuna yang merah, "Ju-Juudaime? Kamu kenapa-" Pandangan Gokudera lalu tertuju pada tangan kirinya yang serasa memegang sesuatu, dan wajahnya pun ikut-ikutan memerah seperti Tsuna.

Dengan cekatan, Gokudera melepas tangan Tsuna. "Maafkan aku Juudaime! Aku gak sadar kalau-,"

"...apa-apa..."

"Apa?"

"Gak apa-apa kok..." Tsuna mengangkat kepalanya dan menatap Gokudera dengan mata memelas. Nafasnya ter-engah-engah, titik-titik keringat berkilauan diterpa sinar matahari yang menyeruak, dan celana jeans pendek yang memperlihatkan kakinya yang mulus.

Gokudera bisa pingsan di tempat saat itu juga.

Untung saja dia sudah mempersiapkan mental untuk hari ini.

Kalau tidak...

Gokudera sudah pingsan dari tadi karena mimisan melihat sosok Tsuna yang imutnya itu sudah kelebihan batas, bahkan sang idola SMP Namimori- Kyoko itu kalah imutnya kalau dibandingkan dengan Tsuna.

"Se-serius?" Tanya Gokudera denga tak percaya.

Tsuna mengangguk.

"Juudaime..." Gokudera dengan malu-malu dan agak ragu mengulurkan tangannya ke tangan Tsuna, "A-ayo pergi..." Ujar Gokudera yang sekarang sudah berhasil menggenggam tangan Tsuna dengan erat dan tak bermaksud melepaskannya apapun yang terjadi- walaupun nanti pasti ada orang-orang yang memerhatikan mereka berdua.

"Un!"

Untung saja orang-orang sering menyangka bahwa Tsuna itu cewek.

Dan tangan itu tak Gokudera lepaskan sama sekali.

Sama sekali...

Bahkan sampai mereka menonton di bioskop.

...Always Loving You...

"Terim kasih ya, Gokudera-kun. Sudah mengantarku sampai rumah."

"Sa-sama- Juudaime!" Gokudera membalas senyuman dari Tsuna.

"Kalau begitu... sampai nanti ya." Baru saja Tsuna membalikkan badanya untuk masuk ke rumah, ada tangan yang memegang tangannya dan seolah-olah memaksa Tsuna untuk berhenti melangkah lebih jauh.

"Eh?"

"Eh?"

Gokudera sendiri pun terheran kenapa dia tiba-tiba memegang tangannya Tsuna seperti itu.

Apa dia punya alasan untuk itu?

'Kenapa... kenapa aku menghentikannya...?'

"A-ada apa Gokudera-kun?"

"U-um.. itu." Tanpa pikir panjang, Gokudera mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Tsuna dengan lembut. Mata karamel Tsuna terbelalak oleh sikap Gokudera yang sangat tiba-tiba itu. Gokudera lalu menjauh dari Tsuna dan langsung berlari menjauhi Tsuna dengan terburu-buru dan muka yang sangat merah.

Sedangkan Tsuna diam membatu di depan rumahnya sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi padanya. Perlahan tangannya memegang pipi yang baru saja di-cium oleh Gokudera – sahabatnya. Lalu tangan yang lainnya menyentuh dadanya yang sekarang berdegup dengan kencang tak beraturan.

Kenapa jantungnya seperti ini?

Kenapa dia merasa sangat senang saat di cium oleh Gokudera?

Kenapa dia merasa bahagia saat tangannya digenggam oleh Gokudera?

Kenapa ya?"

...Always Loving You...

"Tadaima..." Sahut Tsuna kecil lalu berjalan kearah dapur, dan dia melihat sosok ibunya yang sedang memasak sambil sesekali bersenandung kecil. "T-Tadaima." Nana lalu memalingkan wajahnya saat mendengar suara Tsuna itu, "Tsu-kun, kamu sudah pulang ya!"

"U-un..."

"Bagaimana jalan-jalannya dengan Gokudera-kun tadi~?"

"U-umm...itu, seru kok...y-yah, begitulah." Sekarang pipi Tsuna sudah merona saat kejadian yang barusan terlintas di kepalanya.

"Begitu ya~ Bisa kamu lihat keadaan Gio di kamarnya tidak? Sejak kamu pergi, dia jadi pundung."

Tsuna tersentak atas perkataan Nana. Tanpa pikir panjang dia langsung berlari ke lantai dua untuk ke kamarnya, muka Tsuna sekarang sudah terpancar ekspresi panik.

Apa Giotto marah padanya?

Tidak.

Dia tidak ingin bertengkar dengan Giotto lagi.

Tsuna tak ingin merasakan sakit di hatinya yang sangat menyesakkan itu lagi.

TOK TOK TOK

"Gio-nii?" Panggil Tsuna dengan cemas. Sudah beberapa kali dia ketuk pintu kamar kakanya dengan keras, tapi tetap kakaknya tak mau membukakan pintu untuk nya. Sekali lagi dia ketuk. Tetap tak ada jawaban. Mata Tsuna sekarang sudah berlinang air mata, pandangannya mulai kabur karena air mata yang menumpuk di ujung matanya.

"Gio-nii..."

Tsuna sangat terkejut saat tiba-tiba pintu kamar Giotto terbuka. Tsuna menatap ke sosok Giotto yang seperti orang yang baru saja bangun tidur, dia memakai celana training hitam dan kemeja yang tidak dikancingkan, rambut blonde nya itu sekarang sudah sangat kusut. Dengan tatapan tanpa ekspresi dia menatap Tsuna.

"Ada apa?"

"I-itu, apa Gio-nii gak apa-apa?" Tanya Tsuna dengan suara kecil.

"Aku baik-baik saja." Jawab Giotto dengan suara yang dingin.

"Be-begitu ya..."

Dan suasana yang canggung pun muncul di antara mereka.

"Ne... Apa kamu senang jalan-jalan dengan Gokudera?"

Tsuna tersentak atas pertanyaan Giotto yang sangat tiba-tiba itu.

"Me-memangnya kenapa...?" Tsuna menatap Giotto dengan pandangan yang takut. Entah kenapa rasanya belakangan ini sangat susah untuk mendekati Giotto.

"Tch." Giotto menarik Tsuna ke dalam kamarnya dengan paksa lalu mengunci pintu kamarnya dengan cepat, lalu dia berbalik ke arah Tsuna yang sekarang sudah terlihat sangat bingung dan ketakutan. Tsuna melirik ke sekelilingnya.

Gelap.

Kamar Giotto gelap.

Hanya ada segaris cahaya yang masuk melalui celah-celah gorden yang dia tutup. Tsuna mengambil beberapa langkah ke belakang dan mejauhi Giotto. "Gi-Gio-nii..." Panggil Tsuna dengan suara yang agak gemetaran. Bukannya menjawab, Giotto malah mendekat ke Tsuna.

"Gio-" Giotto mencium Tsuna dengan paksa. Tsuna yang terkejut oleh kelakuan Giotto itu tak bisa berkutik sedikitpun. Tapi Tsuna mencoba untuk mendorong Giotto, dan hasilnya nihil. Kekuatan Giotto terlalu besar untuknya.

Saat Tsuna lengah, Giotto memasukkan lidahnya kedalam mulut manis Tsuna. Mencicipi apa yang bisa dia dapat di dalam sana dengan puas, segaris saliva keluar dari mulut Tsuna. Tak lama kemudian, Giotto melepas ciuman yang panas itu dan menatap sosok Tsuna yang mukanya sangat merah dan nafasya ter-engah-engah.

Tsuna mengelap saliva yang ada di dagunya dengan tangannya sambil mencoba mengatur nafasnya yang sangat berantakan itu, "Gio-nii..." Panggil Tsuna dengan lemas.

Giotto menarik Tsuna dan melemparkan Tsuna ke atas tempat tidurnya dengan kasar, tanpa panjang lebar, Giotto merangkak ka atas tubuh Tsuna yang sekarang sudah terkapar di atas kasurnya. Mata biru laut Giotto menatap kepada sosok Tsuna sekarang – kaki mulus yang begitu menggoda, mata yang memelas dan pipi merona.

Giotto tak bisa menahan dirinya.

Sekali lagi, dia mencium bibir ceri Tsuna, "Gi-Gio..." Desah Tsuna di sela-sela ciuman mereka. Giotto melepaskan ciuman itu dan mencium leher Tsuna dengan lembut, tak lama sesudah Giotto mencium leher si brunet, dia lalu menjilat lehernya. Tsuna hanya bisa menutup matanya dengan kencang dan pasrah.

Di sela-sela kegiatan Giotto yang sibuk menjilati dan mencium leher Tsuna, dia mengatakan ini dengan suara yang kecil – tapi tetap saja Tsuna bisa mendengarnya walupun samar-samar.

"Aku mencintaimu, Tsunayoshi."

'Apa...?'

To Be Next Choice

A/N: PENGUMUMAN~

Berhubung dengan fanfic ku banyak yang on-going, aku memutuskan untuk membuka polling di profile. Silahkan vote sesuai dengan fanfic yang kalian paling suka, top 3 yang menang update nya akan aku kerjakan duluan dibanding dengan yang lain. Yang lain akan aku lanjutkan tapi dengan pace yang lambat.

Bagi yang tak punya account (guest) atau yang malas untuk berkunjung ke profile ku, bisa voting melalui review, mungkin bisa menambah kan hastag #Voting , agar aku gak pusing. Silahkan cek profilku untuk voting, Terima kasih :)

.

Etto, maaf lama update =="

Author kehilangan koneksi internet selama sebulan lebih, oh ya, kira-kira operator apa ya, yang belum mem blokir ff .net? Yang ku tahu sekarang cuma indosat saja yang sudah memblokir ff... (T.T)

Ja nee~