"Aku mencintaimu, Tsunayoshi."
'Apa...?'
.
.
ALWAYS LOVING YOU
5th CHOICE
BY: MIHARU MIDORIKAWA
.
.
Mata karamel Tsuna membelalak saat mendengar perkataan Giotto kepadanya, gestur tubuh yang tadinya terus meronta ke Giotto sekarang sudah terdiam dan tidak bergerak sedikitpun. "A-apa yang kau katakan tadi, Gio-nii...?" Tsuna berusaha untuk menjaga suaranya agar tidak terdengar gemetaran.
Seketika Giotto berhenti.
Dia lalu menjauhkan jaraknya dengan Tsuna perlahan, lalu duduk di pinggiran kasur dan menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tsuna yang bingung oleh sikap kakaknya itu hanya bisa melihat, tak lama kemudian Tsuna memberanikan diri untuk mendekati Giotto.
"Gio-nii?" Ia panggil nama Giotto dengan lembut.
Tapi tetap saja Giotto tak menjawab.
"Gio-nii?"
Tak ada jawaban lagi.
"Giotto?"
Giotto yang terkejut karena mendengar nama lengkapnya di panggil oleh Tsuna selembut itu, dengan perlahan menatap Tsuna. "Tsunayoshi..."
Sakit.
Hati Tsuna sakit saat melihat sosok kakaknya yang begitu rapuh tepat di depan matanya, 'Kenapa ekspresinya seperti itu?' Mata biru laut Giotto terlihat sangat hampa. Tidak sehangat yang biasa Tsuna lihat.
"Maafkan aku, Tsunayoshi."
"Gak apa-,"
"Maaf."
"Ap-,"
"Maaf."
Dan terus dia mengulangnya seperti itu. 'Kenapa?' Kenapa kakak yang mencium Tsuna begitu agresif tadi jadi seperti ini? Kenapa kakak yang suka overprotective kepadanya seperti ini? Tsuna yang tak tahan melihat keadaan kakaknya itu lalu memberanikan dirinya untuk melakukan sesuatu, 'Baiklah... ini untuk Gio-nii.'
"Gi-Gio-nii..." Ucap Tsuna lembut. Giotto tak menjawab Tsuna, melainkan hanya menatap Tsuna dengan pandangan yang kosong. Tsuna menelan saliva-nya lalu perlahan mendekatan jarak diantaranya dan Giotto, dengan bibir yang agak gemetaran, Tsuna menempelkan bibirnya ke bibir Giotto dengan lembut.
Sekali lagi Giotto dibuat terkejut oleh kelakuan Tsuna, bibir Giotto merasakan kehangatan yang sangat dirindukan olehnya. Giotto sempat tertegun, tapi akhirnya membalas ciuman yang sangat polos dari adiknya itu. Giotto mendekap Tsuna dengan tangannya untuk memperdalam ciuman dari Tsuna.
Yang membuat Giotto tambah terkejut adalah; Tsuna tak mencoba mendorongnya, malah membalas ciuman darinya. Tak lama kemudian, Giotto melepas ciuman itu dan menatap Tsuna ke sepasang iris karamelnya dengan dalam.
"Tsunayoshi, kenapa kamu mau menerimaku?"
"...Eh?"
"Sudah kubilang 'kan beberapa kali kepadamu, kenapa kamu tak merasa jijik sedikipun kepadaku?"
"Itu-,"
"Aku sudah tau jawabannya, tapi tetap saja aku tidak bisa tenang walaupun sudah mendengar jawabanmu dari mulutmu sendiri. Maksudku, di dunia mana ada orang yang tidak merasa jijik saat dicium seperti ini oleh kakaknya – terlebih orang yang diciumnya itu adik kandungnya sendiri."
"Gio-nii..." Mata Tsuna sudah berkaca-kaca mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Giotto. Tsuna tak menyadari bahwa Giotto berfikir seperti itu setiap saat – sedangkan dia tak terlalu memikirkannya.
"Ah... maaf sudah berkata yang aneh-aneh." Pandangan Giotto tertuju pada sosok Tsuna yang sekarang sudah berusaha menahan tangisnya – tapi sudah ada beberapa air mata yang tumpah. Lalu dia menjilat air mata itu dari pipinya Tsuna, Tsuna awalnya terkejut tapi tetap membiarkan kakaknya menjilati pipinya.
"Istirahatlah Tsunayoshi, kau pasti capek 'kan sesudah jalan-jalan seharian?"
"Tapi, bagaimana makan malamnya?"
"Bilang saja ke kaa-san aku sedang tak nafsu makan ya." Pinta Giotto dengan senyuman kecil.
"U-un..." Sebenarnya Tsuna tak ingin membiarkan kakaknya tak melahap makan malam seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi... rasanya Tsuna tak bisa menolak sedikitpun. Tsuna lalu merangkak menuruni ranjang Giotto dan berjalan menuju pintu. Sebelum Tsuna keluar dari kamar Giotto, dia melirik untuk terakhir kalinya kepada sosok kakaknya.
Giotto memberikan senyuman.
Tsuna membalas senyuman Giotto.
Lalu dia keluar dari kamar Giotto. Tsuna lalu menyenderkan punggung mungilnya ke pintu kamar Giotto dengan pelan, lalu menghela nafas panjang.
'Gio-nii..'
...Always Loving You...
Semenjak kejadian itu, jarak di antara Tsuna dan Giotto tak berubah. Tetap seperti itu. Tapi setiap mereka mencoba berbicara, selalu berkahir dengan percakapan yang sangat canggung. Sebenarnya mereka berdua ingin berbicara, tapi rasanya tak dapat waktu yang pas.
Walaupun berhasil untuk berbicara, pasti pembicaraan itu diakhiri dengan sangat singkat.
Sampai kapan ini akan berlanjut?
...Always Loving You...
Suatu hari.
Giotto membawa seorang teman cewek ke rumah – katanya sih hanya untuk sekedar membantu tugas-tugas kuliah yang menumpuk.
Dan Tsuna sangat tak suka hal itu.
Hari itu – sore itu, adalah hari yang bagus. Kediaman di rumah Sawada itu sangat damai, hanya terdengar suara senandung Nana yang sedang merajut syal dan suara TV dari Tsuna yang menonton anime dengan santai. Sore itu Giotto masih ada urusan di kuliahnya dan belum pulang, biasanya dia selalu pulang sekitar jam 1 tapi sekarang sudah jam 3 dia belum pulang-pulang.
"Tadaima!"
Mendengar suara Giotto yang menyapa dari pintu depan, Tsuna buru-buru beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu depan untuk menyapa balik Giotto yang baru pulang dari kuliah-nya.
"Okaeri! Gio-," Senyuman dari muka Tsuna pupus sudah saat melihat ada seorang cewek berdiri di samping Giotto dengan anggun. "Ah, Tsuna. Perkenalkan, dia Midorikawa Miharu." Giotto memperkenalkan cewek yang berada di samping nya itu.
"Salam kenal ya, Tsuna." Sapa-nya dengan senyuman yang manis, rambut cokelat kemerahannya yang terurai panjang sampai punggung itu terlihat sangat lembut dan mata yang senada dengan warna rambutnya itu menatap dengan lembut kearah Tsuna.
'Dia kenal aku?'
"Sa-salam kenal juga, aku Sawada Tsunayoshi – panggil saja Tsuna." Kata Tsuna canggung.
"Ayo masuk, kita mengerjakan tugasnya di ruang tengah saja." Tawar Giotto pada gadis itu – yang hanya dijawab oleh anggukkan kecil darinya. Tanpa sadar Tsuna menatap Miharu dengan pandangan... yang tidak biasa.
"Ada apa?"
Ah, rupanya dia menyadari bahwa Tsuna sedang memperhatikannya.
"G-gak apa-apa..." Tsuna pun mengikuti Giotto dan Miharu ke ruang tengah tanpa berkata apapun. Saat memasuki ruang tengah, Giotto melihat Nana sedang duduk di sofa sambil merajut syal dengan tenang. "Aku pulang, kaa-san."
"Selamat datang, Gio – ara, ada gadis cantik, pacar-mu Gio~?"
"Kaa-san!"
Nana tertawa kecil.
Giotto pipinya memerah.
Miharu tersenyum.
Tsuna merasakan dadanya sesak.
"Namaku Midorikawa Miharu, teman sekampus Giotto. Aku kesini untuk membantunya mengerjakan tugas kampus."
"Kalau begitu aku siapkan teh ya." Nana pun segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan teh untuk mereka berdua – sekalian sepotong kue untuk Tsuna yang terlihat sedang bad mood.
"Ibu-mu baik ya, Giotto."
"Biasa saja." Giotto lalu mengeluarkan buku-buku dari tas-nya ke atas meja yang terletak di tengah ruangan itu, Miharu ikut duduk di sebelah Giotto dan mulai mengeluarkan bukunya juga dan sebuah MP3 dari saku rok-nya.
Tsuna lalu menyetel kembali anime yang dia pause tadi, baru saja beberapa saat dia menikmati anime yang dia lihat, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya, "Tsuna, bisa kau kecilkan suaranya? Agak mengganggu nih." Ucap Giotto.
"T-tapi-,"
"Oh ayolah Giotto, biarkan ruangan ini jadi agak berisik- daripada kita mengerjakan tugasnya di suasana yang hening, 'kan agak membosankan."
"Baiklah baiklah, terserah kau saja." Jawab Giotto datar, "Mau minjam MP3 ku?" Tawar Miharu yang menyodongkan MP3-nya ke depan Giotto.
"Gak usah, Miha."
"Ok ok~"
Tsuna melihat kejadian yang di depan matanya penuh dengan perasaan cemburu- tunggu. Apa barusan dia cemburu ke kakaknya sendiri? Untuk apa dia merasa cemburu,dia tak punya hak apapun untuk cemburu kepada Giotto. Giotto 'kan... hanya kakaknya saja, tidak lebih dan ridak kurang.
"Ah." Tanpa sengaja Giotto menyenggol salah satu bukunya dari atas meja dan jatuh ke lantai, baru saja dia mau mengambilnya – tangannya bersentuhan dengan tangan Miharu yang juga hendak mengambil buku itu dari lantai. Pipi Giotto sedikit memerah, sedangkan Miharu hanya tersenyum biasa.
Dada Tsuna terasa sesak sekali – sampai-sampai rasanya sangat susah untuk bernafas.
'Aku ini kenapa?' Tsuna mengangkat tangannya dan menempelkannya di dadanya yang terasa sangat sesak. Dasar si payah Tsuna, masa tentang hatinya sendiri dia tidak mengerti?
Tak lama kemudian Nana datang ke ruang tengah sambil membawa teh untuk Giotto dan Miharu, sedangkan untuk Tsuna, Nana mengambilkan kue kesukaan Tsuna. Nana lalu meletakkan kedua teh itu di meja, lalu berjalan menuju Tsuna untuk memberikan kuenya.
Setelah selesai, Nana kembali ke kegiatan merajutnya yang sempat ia tinggalkan tadi sambil sesekali melirik kearah Tsuna yang sudah sangat jelas bahwa dia ini sangat cemburu pada Giotto – Nana hanya bisa tertawa kecil melihat anaknya itu.
...Always Loving You...
Sekarang sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan... akhirnya pekerjaan Giotto dan Miharu sudah selesai. Miharu meregangkan tangannya lalu bernafas lega, "Ahhh akhirnya selesai juga~"
"Iya, kupikir tugas ini tak ada akhirnya. Makasih ya, Miha." Ucap Giotto dengan senyuman.
"Sama-sama Gio~"
Tsuna tetap nyaman di posisinya yang sedang duduk di sofa sambil menonton anime – yah... sebenarnya dia tak terlalu memerhatikan anime itu, dia sibuk melihat gerak-gerik kakaknya dan temannya itu.
"Ah, aku pulang dulu ya. Orang tua-ku cerewet kalau aku pulang terlalu malam." Miharu lalu membereskan barang-barangnya dan beranjak dari tempat dia duduk tadi. "Mau aku antar?"
"Gak usah, rumahku 'kan gak terlalu jauh dari sini." Lalu entah kenapa Miharu melirik ke arah Tsuna yang masih duduk di sofa. Menyadari Miharu menatapnya, Tsuna cepat-cepat menoleh ke arah lain agar tak bertemu pandangan gadis itu.
"Tsu-,"
"Gio, bisa kamu ke sini dulu?" Panggil Nana dari arah dapur. "Ya!-," Baru saja Giotto mau keluar dari ruang tengah, dia berbalik arah, "Miha, bisa tunggu sebentar gak?"
"Un!" Dan Giotto pun pergi ke dapur.
"Tsuna." Tsuna terkejut lalu memalingkan kepalanya, dan dia terkejut saat mendapati Miharu sudah duduk tepat disampingnya. "A-apa?"
"Jangan cemburu lagi ya."
"Hieeee! Kena-" Kata-kata Tsuna terputus ketika tangan Miharu ditempelkan di mulutnya, "Ssst!" Setelah Tsuna diam, Miharu melepaskan tangannya dari mulut Tsuna.
"Lagipula, aku sudah punya orang yang kusukai kok."
"Eh? Siapa?"
"Rahasia. Tapi kurasa kamu kenal dengannya." Miharu mengedipkan matanya dan berdiri dari sofa itu, lalu dengan timing yang pas, Giotto masuk ke ruang tengah.
"Ini ada kue untukmu, permintaan terimakasih karena sudah membantuku." Giotto menyodorkan sebuah kotak kecil bewarna putih ke depan Miharu.
"Ehh? Seriuss? Asikkk!" Dengan bahagia, Miharu lalu mengambil kotak itu dari tangan Giotto. "Kalau begitu aku pulang dulu ya." Dia lalu pulang dari kediaman keluarga Sawada.
Setelah memastikan Miharu pulang dan Nana masih di dapur mempersiapkan makan malam, Giotto duduk disebelah Tsuna dan merangkulnya. "Gi-Gio-nii?!"
"Ne, Tsuna. Tadi kamu cemburu ya?" Tanya Giotto tiba-tiba.
"E-ehh? Si-siapa yang cemburu? Aku gak cemburu sama sekali kok."
"Bohong. Sudah jelas sekali kamu ini cemburu. Bahkan mungkin Miharu juga menyadarinya."
'Dia sudah sadar kok...'
"..."
"Tsuna?" Karena tak ada jawaban dari adiknya, Giotto memutuskan untuk mendekap tubuh Tsuna lebih dekat lalu menciumnya di bibir dengan lembut. Ciuman itu tak lama, hanya sekedar menempelkan bibir saja. Saat Giotto melepas ciuman itu, dia tertawa kecil melihat sikap Tsuna yang membatu dan mukanya yang sangat merah itu.
"Hei, kamu gak apa-apa?" Tanya Giotto sambil sesekali terkekeh melihat adiknya itu, dia lalu menyentil dahi Tsuna pelan.
"Gi-Gio-nii! Jangan lakukan itu tiba-tiba!"
"Oh? Jadi aku harus selalu bilang 'Aku ingin menciummu, Tsuna.' Seperti itu setiap kali aku ingin menciummu?"
"G-Gak usah-" Kata-kata Tsuna terputus karena Giotto menciumnya dengan tiba-tiba.
"Gio-" Cium.
"Tung-" Cium.
"Hei-" Cium.
"GIO-NII!"
To Be Next Choice
A/N: Tolong jangan lempar aku dengan nanas nista itu karena aku lama tak meng update fanfic ku =="
Jujur aja, aku iri dengan orang yang bisa mengupdate fanfiction mereka dengan cepat, beda sama aku yang lama nya bagaikan seekor siput QAQ
Arigatou minna karena sudah setia menunggu fanfic ini di update :'D
Arrivederci~
