"Tadaima!"

"Okaeri!" Sapa Tsuna kepada kakaknya yang baru saja pulang dari kampus. Bohong jika Tsuna bilang dia tak cemas, karena sekarang sudah jam 8 malam dan kakaknya baru pulang. Belakangan ini, Giotto sering pulang malam.

Alasannya sih, tugas kuliah yang menumpuk (lagi).

"Tugas lagi?" Tanya Tsuna kepada Giotto yang sedang melepas sepatunya, "Ya begitulah." Giotto memberikan senyum kepada Tsuna, tanda bahwa dia tak apa-apa. Giotto tak ingin membuat adiknya cemas.

"Gak kecapekan?"

"Lumayan capek sih, tapi kalau melihat mukamu itu rasanya aku langsung segar lagi."

"Gio-nii!" Teriak Tsuna dengan muka merah, Giotto tertawa kecil dan mengelus-ngelus kepala Tsuna. Di tengah-tengah ia mengelus kepala adiknya, rasanya pandangan Giotto mulai kabur dan rasa pusing menyergap langsung ke kepalanya.

'Eh... Apa aku kecapekan ya...?'

Tiba-tiba tubuh Giotto ambruk dan menimpa Tsuna, "Gio-nii?" Panggil Tsuna dengan cemas sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Gio-nii?" Tak ada jawaban.

"GIO-NII!"

.

.

ALWAYS LOVING YOU

6th CHOICE

BY: MIHARU MIDORIKAWA

.

.

Sebuah kompres hangat diletakkan di dahi Giotto.

Pipinya merah karena suhu panas di tubuhnya, keringat bercucuran dari dahi dan lehernya, nafasnya terlihat sangat berat... dan mata biru laut yang penuh dengan kehangatan itu sekarang tak terlihat karena Giotto terus menutup matanya.

Tsuna terus menatap dengan khawatir keadaan kakaknya yang sedang sakit itu, sosok kakaknya yang biasanya ceria, penuh senyum, dan kadang-kadang terserat sikap nakal darinya itu sekarang terbaring lemas di ranjangnya.

Nana sekarang sedang ke dapur untuk mencari obat demam untuk Giotto, sedangkan si brunet hanya duduk terdiam melihat keadaan kakaknya itu. Kakinya selonjoran di lantai, tangannya menggenggam erat tangan kakaknya yang panas, dan mata karamel itu terus menatap kepada muka Giotto yang terlihat sangat lemas.

"Tsu-kun, ini ada obat untuk Gio."

Mendengar namanya dipanggil, Tsuna melirik ke arah suara itu. Di sana Nana membawa sebuah obat kapsul dan segelas air untuk Giotto dan meletakkannya di atas meja kecil disamping ranjang Giotto.

"Dasar anak ini, sudah kubilang jangan memaksakan diri – eh ternyata sekarang malah kena demam." Ucap Nana.

"Ne... kaa-san."

"Ada apa, Tsu-kun?"

"Boleh aku tetap di sini? Aku ingin merawat Gio-nii."

"Tapi kamu besok 'kan sekolah."

"Gak apa-apa, aku gak akan bangun terlalu malam kok." Ucap Tsuna sambil menggenggam tangan Giotto dengan erat. Nana menghela nafas atas sifat keras kepala anaknya yang imut ini.

"Baiklah, kaa-san bawakan selimut ya." Dengan itu Nana keluar dari kamar Giotto dan berjalan menuju kamar Tsuna untuk mengambil selimut ekstra dan beberapa bantal.

"Gio-nii..." Panggil Tsuna pelan.

Tak ada jawaban darinya.

Tak ada senyuman hangat yang biasa dia berikan.

Sekarang hanya ada sosoknya yang terbaring lemas.

Genggaman Tsuna makin erat.

"Cepat sembuh, Gio-nii."

...

Tubuhnya terasa terbakar – bahkan sampai dalam mulutnya pun terasa panas. Rasa pusing yang sangat amat, terus berdenyut tak berhenti. Dan sekarang malah perutnya merasa tak enak dan mual. Tenaga yang ada di tubuhnya hilang seketika, rasanya menggerakkan satu jari pun harus mengeluarkan tenaga yang amat besar.

Perlahan, kelopak pucat yang menghalangi mata biru laut itu terbuka – melihatkan sepasang mata yang sayu. Tubuhnya terasa sangat lengket karena keringat yang terus mengucur dari tubuhnya.

'Ugh... pusing...'

Giotto melirik ke sekitarnya dengan pandangan mata yang agak kabur, lalu ujung matanya menangkap sebuah sosok berambut cokelat di sampingnya.

'Tsu...na?'

Ah, ternyata benar. Dia adiknya – Tsuna. Giotto mengangkat tangannya dan mengelus dengan pelan kepala adiknya itu. Mata biru laut melihat dengan jelih sosok Tsuna yang sedang tertidur di sampingnya itu – kaki selonjoran di lantai, selimut diletakkan di punggungnya, tapi tak cukup untuk menutupi semua anggota badannya.

Giotto terus mengelus kepala Tsuna dengan lembut.

Tsuna yang merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya, lama-lama membuka matanya dengan sayup. Pertama kali yang ia lihat tak begitu jelas, tapi sesudah agak menyesuaikan, dia melihat kakaknya yang sedang tersenyum sambil terus mengelus kepalanya.

"Gi-Gio-nii?"

"Iya, Tsuna."

Tanpa berpikir panjang, Tsuna langsung memeluk Giotto dengan erat dan mulai menangis di dalam pelukan kakaknya yang hangat itu. Giotto yang terkejut atas pelukan dari Tsuna yang tiba-tiba itu, awalnya hanya diam saja tapi perlahan membalas pelukan Tsuna.

"Gi-Gio-nii...Gio-nii...Gio-nii..." Ucap Tsuna di sela-sela tangisannya, air matanya mulai membasahi baju Giotto.

"Shh... Aku ada di sini Tsuna..." Kata Giotto sambil mengusap-ngusap punggung Tsuna – bermaksud untuk menenangkan adiknya yang terus menangis.

"A-aku cemas...Gio-nii tiba-tiba pingsan di depanku..." Giotto mengangkat muka Tsuna dengan tangannya agar Tsuna menatapnya, "Lihat Tsuna, aku baik-baik saja 'kan?" Giotto memberikan senyuman kepada Tsuna, tapi Tsuna hanya memberi anggukan kecil saja sebagai jawaban.

Giotto tetap tersnyum dan mencium Tsuna, tentu saja Tsuna awalnya terkejut dan tak tahu harus berbuat apa – tak lama, Tsuna me-rileks kan tubuhnya dan membalas ciuman Giotto.

Giotto menggit bibir bawah Tsuna dan memasukkan lidahnya saat Tsuna lengah, Tsuna berusaha untuk menjadi sedikit dominan tapi ternyata tak bisa – tenaga nya langsung menghilang sesaat Giotto menciumnya. Setelah beberapa saat, Giotto melepas ciuman itu dan mengelus pipi Tsuna yang merah.

"Heh... rasanya sangat enak menciummu seperti tadi, mulutmu terasa dingin di mulutku yang panas ini."

"Gio-nii! Apa harus dikatakan seperti itu..." Tsuna menutupi mukanya dengan selimut Giotto, dan mulai mengatakan kata-kata yang tak bisa Giotto tangkap. Sedangkan Giotto hanya bisa tertawa kecil melihat sikap adiknya itu.

"Ayo tidur." Ajak Giotto sambil menarik Tsuna kedalam pangkuannya dan menutupi badannya dan Tsuna dengan selimut, "U-un..." Tsuna menimbun kepalanya ke dada bidang Giotto, mencari kehangatan yang ada pada sosok kakaknya itu.

Giotto mendekap Tsuna lebih dekat dan mendekatkan mukanya ke rambut cokelat Tsuna yang lembut, "Selamat tidur, Tsuna."

"Selamat tidur, Gio-nii,"

'Dan semoga cepat sembuh.'

...

Pagi pun tiba.

Saat nya untuk Nana membangunkan anaknya yang terkecil dari kamar kakaknya untuk segera siap-siap berangkat ke sekolah. "Tsu-kun?" Nana mencoba memanggilnya dari lantai satu, tapi setelah menunggu beberapa saat dan tak ada jawaban sama sekali – Nana beranjak ke lantai dua.

Setelah sampai di depan pintu kamar Giotto, Nana mengetuk pintunya dengan pelan, "Tsu-kun, cepat bangun, nanti kamu telat."

Tak ada jawaban.

"Tsu-kun?" Nana pun membuka pintunya.

Dan Nana pun berharap bahwa sekarang ia membawa kamera sekarang.

Mana mungkin Nana tak ingin mengambil foto dari pemandangan yang sekarang ia lihat – sosok Tsuna dan Giotto yang sedang tertidur lelap sambil berpelukkan satu sama lain, kepala Tsuna mendekap dekat dengan dada Giotto. Tangan Giotto berada di belakang kepala Tsuna dan satu lagi ada pada pinggul Tsuna.

Tapi Nana hanya tersenyum dan kembali menutup pintunya dengan pelan. Biarlah sesekali anaknya bolos sekolah. Toh walaupun Tsuna sekolah pasti dia gak bisa konsentrasi belajar karena terus memikirkan keadaan Giotto.

"Aku harus memberi tahu sekolahnya..."

Dan Nana pun kembali ke dapur sambil sesekali bersenandung.

...

"Kenapa kamu juga ikut, yakyuu baka?!"

"Oh, gak boleh? Aku juga khawatir sama Tsuna."

"GAK BOLEH!"

"Ihhhh Gokudera jahat."

"Tch."

TOK TOK TOK

"Ha'i ha'i~ Siapa ya,- ara ara, Gokudera dan Yamamoto. Ada apa?"

"Ah, selamat sore, ooka-sama." Gokudera membungkuk dengan sopan.

"Selamat sore." Yamamoto memberikan senyuman yang biasa.

"Sore juga kalian berdua." Nana membalas dengan senyuman.

"Apa Juudaime ada?" Tanya Gokudera setelah membungkukan badannya. Rasa cemas terus meliputi Gokudera sejak di pagi hari Tsuna tak masuk sekolah – memang, Tsuna dikatakan izin. Tapi tetap saja dia cemas atas keadaan Tsuna, soalnya dia bukan orang yang sering tak masuk sekolah karena izin atau sakit.

"Ada, kok. Silahkan masuk." Nana mempersilahkan kedua teman Tsuna ke dalam rumahnya. "Ojamashimasu~" Ucap Yamamoto sambil melepas sepatunya, dan tak lama kemudia Gokudera pun mengikuti langkah Yamamoto.

Setelah selesai melepas sepatu... baru saja melangkah beberapa anak tangga untuk menuju kamar Tsuna, suara dari ibunya membuat kedua orang itu menghentikan langkahnya. "Ah, kemungkinan besar Tsu-kun sedang ada di kamar kakaknya, coba saja kalian tengok ke sana."

APA?

Kedua teman Tsuna itu terheran dengan apa yang barusan saja mereka dengar dari Nana – tapi yang paling terheran oleh itu adalah Gokudera, entah kenapa berita itu membuat perasaannya campur aduk. 'Kenapa dia ada di kamar si Giotto? Apa ada alasan khusus?'

"Baik, ooka-sama." Dengan langkah kaki yang terasa sangat berat – Gokudera melanjutkan berjalan ke arah kamar Giotto. Jujur saja, rasanya dia ingin langsung berlari dan mendobrak kamar Giotto untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Juudaime tersayangnya. Tapi tentu saja dia tak benar-benar melakukannya.

"Gokudera, kamar kakaknya Giotto yang mana?"

"Yang ini." Jawab Gokudera dengan datar setelah sampai di depan sebuah pintu kayu cokelat yang terletak tepat bersebrangan dengan kamar Tsuna. Tanpa pikir panjang, Gokudera langsung membuka pintunya tanpa mengetuk sama sekali – dan betapa terkejutnya dia saat melihat Tsuna sedang menyuapi Giotto sepotong kue dengan pipi merona.

Gokudera rasanya sangat menyesal karena tak mengetuk terlebih dahulu.

Bah. Salahkan sifat-mu yang blak-blakan tadi.

Menyadari pintu kamar telah terbuka, kedua pasangan yang sedang asyik-asyiknya menyuapi dan memakan kue itu berhenti sejenak dari kegiatan mereka dan menoleh ke arah pintu. "Ah, Gokudera-kun, Yamamoto!"

"Yo, Tsuna!"

"Juudaime... kenapa kau ada di kamar ini?"

"Eh? Etto... menyuapi Gio-nii kue?" Jawabnya dengan muka sangat innocent sambil agak memiringkan kepalanya. Ah, tanpa sadar Tsuna telah membuat ketiga orang di sekitarnya nge-blush ria.

"Gak boleh?" Celetuk Giotto yang sedang duduk dikasurnya dan menyandarkan punggungnya kebelakang yang disangga oleh beberapa bantal. Gokudera tak menjawab. Tapi dia hanya memberikan death glare kepada Giotto dengan tajam, Giotto yang menyadarinya hanya bisa menyeringai atas kemenangannya (?).

"Boleh boleh aja kok~ Apa kami ganggu?" Kata Yamamoto dengan senyuman, "Gak kok, Yamamoto." Jawab Tsuna sambil membalas senyuman Yamamoto. "

"Juudaime, kenapa kamu gak sekolah tadi?" Tanya Gokudera – tapi bukan dengan senyuman, melainkan dengan pandangan yang tajam kepada Giotto. "Gio-nii sakit, karena itu aku izin gak sekolah. Yah... awalnya aku niat untuk sekolah, tapi karena ketiduran habis merawat Gio-nii sampai malam, aku akhirnya izin sekolah."

Sekarang death glare yang ditujukan untuk si pirang Namimori itu semakin tajam dan intens, Giotto yang tak mau kalah, ikut-ikutan mengeluarkan death glare-nya kepada Gokudera. Akhirnya kedua orang yang tak tahu dengan apa yang sedang terjadi hanya bisa cengo dan memperhatikan mereka bedua.

"Oh ya, Tsuna. Kakakmu 'kan sedang sakit, kenapa malah makan kue?" Tanya Yamamoto heran sambil tak menghiraukan persaingan sengit antara Tsuna dan Giotto.

"Ah... itu..." Tsuna tak bisa bilang bahwa Giotto merengek minta kue – dan lebih parahnya dia ingin disuapi oleh Tsuna, ditambah lagi dia memintanya dengan serangan jitu, yaitu; puppy eyes. Pada saat itu, Tsuna bisa berani bertaruh bahwa dia melihat efek blink-blink di belakang Giotto.

Mana mungkin Tsuna mengatakannya 'kan?

"Yahh itung-itung keadaannya juga sudah membaik, jadi...boleh-boleh sa...ja...?" Yamamoto menanggapi jawaban Tsuna dengan santai dan berbalik arah menuju Gokudera dan menepuk bahunya pelan, "Hei, bukannya kita ke sini buat ngasih PR ke Tsuna?"

Geh, ada PR ternyata.

"Hm? Oh iya." Gokudera langsung merogoh tasnya untuk mengambil buku catatannya – mengacuhkan pandangan intens yang dilemparkan oleh Giotto kepadanya. Tak lama kemudian dia mengeluarkan dua buah buku, dan menyodorkan buku itu ke depan Tsuna.

Tsuna menaruh piring yang berisi sepotong kue itu di meja belajar Giotto dan mengambil buku i dari tangan Gokudera dan memperhatikannya sejenak, "MTK sama... IPS..." Demi mbah Titan Colossal dari fandom sebelah! Ini dua mata pelajaran adalah mata pelajaran yang Tsuna gak suka.

"Ini... serius...?"

"Yep!" Jawab Yamamoto.

"Tenang aja Juudaime! Pertanyaannya udah aku jawab semua, jadi kamu tinggal nyalin aja!" Ah, rasanya ada seorang malaikat jatuh kepada Tsuna. Dengan mata penuh harapan, Tsuna langsung memberikan senyuman terbaiknya kepada Gokudera. "Serius?!"

"Iya, Juudaime."

"YATTA!" Tsuna rasanya ingin menebar confetti sekarang juga. "Makasih ya, Gokudera-kun!" Tanpa pikir panjang, Tsuna langsung memberikan pelukkan singkat kepada Gokudera. Giotto yang melihat kejadian itu tepat di depan matanya langsung mengeluarkan aura hitam yang langsung memenuhi kamarnya.

Dan.

Keajaiban pun datang.

"Tsu-kun, apa Gokudera dan Yamamoto akan di sini lebih lama?" Tanya Nana yang muncul di depan pintu masuk kamar Giotto, "Itu-"

"Kami gak akan lama-lama kok, hanya ke sini untuk menyerahkan PR." Jawab Gokudera dengan mulus tanpa terbata-bata. "Begitu ya, lain kali mampirnya yang lama ya." Ucap Nana sebelum akhirnya pergi ke lantai bawah.

"Ummm kalau begitu, sudah dulu ya, Tsuna. Kita pulang dulu." Ujar Yamamoto dengan senyuman khas-nya, "Un. Terimakasih sudah mengunjungiku ya." Balas Tsuna dengan senyuman juga, sedangkan Gokudera melayangkan satu tatapan terakhir kepada Giotto sebelum akhirnya keluar kamar itu untuk pulang ke rumah.

"Aku antar sampai depan ya." Yamamoto dan Gokudera menerima dengan lapang dada tawaran Tsuna itu. Kemudian mereka bertiga pun berjalan bersama menelusuri koridor untuk menuruni tangga – meninggalkan Giotto sendirian di kamarnya.

Dan, asal kau tahu saja ya.

Mood Giotto benar-benar sangat buruk sekarang.

"Juudaime. Duluan saja turunnya sama si yakyuu-baka, aku ada barang yang ketinggalan di kamar Giotto." Gokudera menghentikan langkahnya, sedangakan Tsuna dan Yamamoto menatapnya dengan pandangan heran.

"U-un, kami tunggu di bawah ya, Gokudera-kun." Jawab Tsuna yang dibalas oleh senyuman kecil dari Gokudera. Setelah memastikan Tsuna dan Yamamoto benar-benar sudah turun dari lantai dua, Gokudera segera membalikkan badan dan masuk ke kamar Giotto.

"Apa?" Tanya Giotto dengan nada yang datar.

"Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Tsuna?" Giotto memicingkan matanya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh teman adiknya kepadanya. Sebelum menjawab, Giotto mengela nafas panjang dan menatap Gokudera dengan pandangan yang tajam.

"Hanya sekedar kakak-adik saja." Gokudera ingin memutarkan matanya dan mendengus atas jawaban Giotto. "Tapi aku melihat kalian jauh lebih dekat dari itu."

"Maumu apa?"

"Jauhilah Tsuna." Giotto mengangkat alisnya.

"Kenapa aku harus?"

"Walaupun kau bisa menjalin hubungan dengannya lebih dari hanya sekedar kakak-adik saja, tapi tetap saja kau ini adalah kakaknya." Giotto tak bisa berkutik saat mendengar kata-kata yang penuh fakta itu keluar dari mulut Gokudera.

"Aku permisi dulu." Dengan itu Gokudera pun keluar kamar Giotto untuk menyusul Tsuna yang sudah menunggunya di lantai bawah bersama Yamamoto. Giotto membiarkan badannya jatuh ke kasur dan menutupi mukannya dengan lengannya sambil bergumam kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Gokudera.

...

"Gio-nii?" Panggil Tsuna yang sudah selesai mengantarkan kedua temannya itu sampai depan gerbang rumahnya. Tsuna tak lekas membuka pintu kamar kakaknya karena walaupun dia sudah memanggilnya beberapa kali – terus tak ada jawaban dari dalam.

"Gio-," Tsuna tertegun saat melihat keadaan Giotto yang seperti tak berdaya terbaring dikasurnya. Dengan perlahan Tsuna berjalan kearah kasur kakaknya, berhati-hati agar tak mengeluarkan suara yang gaduh.

"Gio-nii?"

Giotto mengangkat tangannya dari mukanya, mata biru laut itu menatap dengan pandangan kosong kepada Tsuna, "Ah, Tsuna..." Ucap Giotto dengan lemas, "Gio-nii, kau kenapa?" Tanya Tsuna dengan khawatir.

"Aku gak apa-apa kok."

Melihat mood Giotto yang depresi seperti itu, Tsuna memikirkan sesuatu untuk menghibur Giotto – dan matanya menangkap sepotong kue tart cokelat yang belum habis di atas meja belajar Giotto, "Gio-nii, mau makan kue?"

"Gak usah."

"Apa suhu tubuhmu naik lagi? Ha-harusnya aku tidak memberikanmu kue itu-,"

"Tsuna." Celotehan adiknya dipotong oleh suara panggilan dari Giotto, Tsuna langsung menutup mulutnya dan menatap Giotto. "Bisa kamu keluar dulu? Aku ingin istirahat."

Rasanya Tsuna tak bisa menolak permintaan kakaknya, dan ia hanya meng-anggukkan kepalanya lalu berjalan keluar kamar Giotto. Setelah Tsuna keluar dari kamarnya, Giotto kembali terbawa oleh pikirannya.

Kata-kata dari si silverette tadi terus bergema di kepalanya – Giotto akan melakukan cara apapun untung menghentikannya, tapi sayangnya ia tak bisa melakukan apa-apa. Karena itu fakta.

"Kakaknya... ya?"

To Be Next Choice

A/N: Maaf lama update, selama dua bulan ini aku hiatus dari ff QAQ

Tp sekarang (semoga) makin cepat nge updatenya, amin u,u

P.S: Selamat Hari Raya Idul Fitri minna-san~!