"Kakaknya... ya?"

Entah sudah berapa kali kata-kata itu terulang di kepala Giotto seperti kaset rusak, Giotto melamun sambil memandang sarapannya yang berada dia atas meja – belum tersentuh sedikitpun oleh Giotto. Rasanya dia tak ada selera untuk makan.

"Gio-nii?"

Suara yang begitu disukai olehnya membuatnya sadar dari lamunannya dan langsung menatap pemilik suara itu yang sekarang sedang duduk di sebelahnya. "Ada apa, Tsuna?"

"Harusnya aku yang bilang begitu!" Kata Tsuna dengan me-manyunkan bibirnya dan menggembungkan pipinya. Giotto tertawa kecil dan mengusap-ngusap rambut cokelat Tsuna yang lembut itu, "Gak ada apa-apa kok."

"Beneran?"

"Iya."

.

.

ALWAYS LOVING YOU

7th CHOICE

BY: MIHARU MIDORIKAWA

.

.

Helasan nafas panjang keluar dari diri sang blonde kota Namimori. Sekarang dia sedang bermalas-malasan di kamarnya sambil membaca komik dengan posisi terlentang di atas kasurnya yang empuk. Tidak, hari ini bukan hari sabtu maupun minggu- hari ini hari rabu, dan kampus nya Giotto sedang meliburkan para siswanya karena sebagian gedung kampus mereka hancur.

Katanya sih, karena ada bom yang meledak.

Dan para siswa pun tak percaya, tapi tak sedikit pun yang percaya.

Memangnya apalagi yang bisa menghancurkan setengah gedung kampus mereka selain bom?

Tumpukkan buku komik menjulang tinggi tepat di samping si blonde berbaring, sudah puluhan komik ia baca untuk menghilangkan rasa bosannya ini. Mata biru laut itu melirik sejenak ke arah jam dinding yang terletak tepat di depan tembok di depan kasurnya, "12.00..."

Giotto bangung dari kasurnya dan berjalan turun untuk ke dapur- berharap menemukan beberapa cemilan karena perutnya sudah mulai lapar. Sekarang Giotto sangat malas untuk makan-makanan yang berat, jadi untuk makan siang ini cemilan saja sudah cukup baginya.

"Gio?"

"Kaa-san?" Sahut Giotto yang melihat ibunya sedang mempersiapkan segala kebutuhan untuk belanja dan memasukkannya kedalam kantung sedang berwarna pink. "Belanja?" Tanya Giotto sambil mendekati kulkas.

"Iya, barusan baru dapet info kalau ada diskon di pertokoan." Giotto pun membuka pintu kulkas yang paling atas dengan pelan, seketika udara dingin langsung menyeruak ke tubuh Giotto. Setelah beberapa detik menatap isi kulkas dengan pandangan kosong akhirnya dia mengambil sebuah es krim cup rasa cokelat dan menutup kembali pintu kulkas itu.

"Ara, Gio. Kamu gak makan?"

"Gak."

"Padalah sudah kubuatkan omelet untukmu dan Tsuna," Nana menghela nafas sambil melirik ke arah dua omelet yang sudah tersedia di meja, "Yasudah, kalau mau makan nanti tinggal hangatkan saja ya."

"Hm~" Giotto mengambil sendok kecil lalu mulai memakan es krim itu, "Ibu pergi dulu ya." Nana pun keluar dari rumah sambil sesekali bergumam tentang apa saja yang harus ia beli nanti.

Giotto duduk di sofa yang terletak di ruang tengah lalu menyalakan DVD sebuah anime yang baru-baru ini ia suka dari rekomendasi si rambut pink- G. Sambil santai memakan es krimnya, dia menonton anime itu dengan serius.

"Hmm..." Itulah reaksi Giotto saat melihat scene dimana seseorang dimakan oleh sesosok rasaksa, darah segar langsung mengalir dari tubuh itu. Giotto menonton anime itu dengan pandangan biasa-biasa saja, walalupun ada scene di mana sang tokoh utama kehilangan kaki dan tangannya.

Sejujurnya, Giotto lumayan suka anime yang ber-genre gore. Dan Giotto pun merasa berterimakasih kepada G karena sudah merekomendasikan anime itu padanya.

Saat sedang asyik-asyiknya menonton, pintu kediaman keluarga Sawada dibuka oleh seseorang. Giotto bisa mendengar suara langkah kaki kecil yang berlari menelusuri koridor. Saat Giotto berpaling, pandangannya langsung disapa oleh sebuah rambut cokelat yang sangat familiar baginya.

"Gio-nii!" Tsuna langsung melemparkan tubuhnya ke sosok kakaknya yang sedang duduk di sofa- kalau saja tidak ada sofa yang menopang tubuh Giotto, pasti dia sekarang sudah jatuh ke lantai.

"T-Tsuna?"

"Hehe~" Giotto melirik ke arah jam yang sekarang menunjukkan pukul 12.20 siang, "Tsuna, bukan seharusnya kamu sekarang masih berada di sekolah?" Giotto memegang pundak Tsuna dan menatapnya dengan pandangan heran, Tsuna melepaskan pelukkannya dari tubuh Giotto dan menatap balik.

"Ah, etto... Aku mau ngasih ini!" Dikeluarkanlah sebuah tiket yang bertuliskan 'Namimori Gakuen School Festival'. Tangan Giotto mengambil secarik kertas itu dari tangan Tsuna dan mengamatinya sejenak.

"Festival sekolah..., lusa?"

"Un!" Jawab Tsuna dengan anggukan dan pipi yang merona, Giotto yang tak tahan melihat sosok adiknya yang sangat imut itu- langsung menariknya kedalam pelukkan yang erat.

"Aku pasti datang kok, Tsuna~" Ucap Giotto sambil terus memeluk adiknya, 'Lagipula mana mungkin aku menolak tawaran dari adikku yang manis ini~?'

"Arigatou, Gio-nii!" Balas Tsuna dengan senang. Giotto pun sejenak melirik ke arah tiket yang sedang ia pegang di tangannya. Ia heran. Karena...,

Tiketnya hanya ada satu.

"Tsuna... kenapa tiketnya hanya ada satu? Kaa-san tidak diajak?"

Tsuna diam sejenak.

"Tsuna?"

"I-Itu..., k-karena aku hanya ingin berdua dengan Gio-ni..." Ucapnya dengan pelan, sekarang muka Tsuna sudah berubah merah padam- bahkan kedua telinganya pun ikut-ikutan memerah. Giotto hanya terdiam mematung karena tak tahu harus berbuat apa, karena sekarang dia sangat merasa bahagia.

Sadar dia tak mendapatkan respon apapun dari kakaknya- Tsuna menatap ke wajah Giotto dengan dalam. "Gio-" Dan kata-kata Tsuna langsung terputus oleh bibir kakaknya yang ditempelkan ke bibir ceri nya. Tentu saja, Tsuna terkejut. Tapi karena sudah terbiasa akan sikap kakaknya yang benar-benar tiba-tiba ini, Tsuna dengan malu-malu membalas ciuman Giotto.

Giotto menempatkan tangannya di pinggul dan belakang kepala Tsuna- memperdalam ciuman mereka. Setelah beberapa saat, Giotto melepas ciuman itu dan memeluk Tsuna dengan erat.

"Aku pasti datang, Tsuna..."

"Un..."

"Aku akan datang walaupun ada badai besar datang."

Tsuna tertawa kecil, "Apa itu..."

Giotto hanya tersenyum.

[Katachi no nai kimochi wasurenai you ni~

Kimari kitta layout wo keshita~]

"Uh... Tsuna, HP-mu..."

"Ah, oh." Tsuna merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah handphone touchscreen bewarna orens lalu melihat siapa yang meneleponnya, [Futo kuchizu sanda furesu-

"H-halo..."

[Oi Dame-Tsuna! Kenapa kau lama sekali? Padahal 'kan toko bangunan tak terlalu jauh dari sekolah, kita butuh cat sekarang juga.]

Giotto memicingkan matanya atas nama panggilan yang seseorang pakai terhadap adiknya itu.

"H-Hai! Ma-maaf, aku akan segera membelinya!" Pekik Tsuna sebelum akhirnya memutus panggilan itu, menghela nafas lalu dia berjalan menjauhi Giotto yang masih duduk di sofa. "A-aku pergi dulu ya, Gio-nii."

"Tsuna."

"A-Apa?"

"Hati-hari di jalan ya," Tsuna hanya tersenyum dan mengangguk, "Oh ya, sejak kapan kamu suka Vocaloid?"

"Ehehehe~" Tsuna berjalan balik ke arah Giotto dan mengecup pipi Giotto lalu berlari keluar ruangan dengan muka yang memerah. Mata biru laut Giotto membelalak, setelah beberapa saat, ia menggelengkan kepalanya dan menutupi mukanya yang merah dengan tangannya.

"Tsuna..."

...

Hari Festival Sekolah Namimori

...

Giotto mengecek penampilannya sebelum akhirnya pergi ke sekolah adiknya untuk mengunjungi festival sekolah yang sedang di adakan di sana. Dia memakai T-shirt orens dengan rompi jeans, dan dia memakai celana jeans biru tua dengan aksesoris sebuah ikat pinggang hitam.

Dia mengangguk kepada dirinya sendiri lalu berjalan kebawah tangga untuk berpamitan dengan ibunya yang sedang berada di ruang tengah, "Aku pergi dulu ya, kaa-san."

"Itterashai, Gio~"

Giotto berjalan ke arah pintu depan lalu memakai sepatunya da akhirnya berjalan keluar rumah. Dia melihat kearah langit lalu mengambil handphone touchscreen-nya dari saku celana- itu model yang mirip dengan Tsuna, hanya saja miliknya bewarna hitam.

[Gio-nii, nanti mampir saja ke kelas-ku yang berada di lantai dua ya, kelas 2A yang tepat berada di samping tangga.

Maaf ya aku tak bisa pergi bersama, aku harus melakukan beberapa persiapan :(

Oh ya, kelasku membuka sebuah cafe lho :D

-Tsuna ]

Giotto menatap pesan yang ia dapat dari adiknya beberapa menit yang lalu, senyuman kecil terpancar dari dirinya.

...

Seorang blonde keluar dari mobil Ferarri hitam-nya yang ia parkirkan tak jauh dari gerbang sekolah SMP Namimori. Rambut anti gravitasinya berkibar diterpa angin saat ia keluar dari mobilnya.

Dan.

Jangan tanya dari mana dia mendapatkan mobil itu.

"Huwaa... ganteng banget!"

"Sudah punya pacar belum ya?"

"Itu Giotto-sama!"

"Kyaaahh! Giotto-sama!"

Giotto dengan muka yang datar-datar saja berjalan masuk ke arena sekolah tanpa memperdulikan para 'fangirl' yang terus-terusan memanggil namanya itu. Dan ia pun sempat ber-sweatdrop saat mendengar namanya yag dipakai kata-kata '-sama' di belakangnya.

Sekarang Giotto sudah memasuki gedung sekolah, bahkan sampai di dalam gedungnya pun sangat ramai oleh orang-orang. Giotto melihat ke sekitar untuk mencari sebuah tangga menuju ke lantai dua, karena tidak mendapatkan apapun- dia memutuskan untuk bertanya kepada seseorang.

Ditepuklah pundak seorang gadis yang sedang kebetulan berjalan melewatinya, dia mempunyai rambut cokelat kemerahan yang panjang dan dua pasang mata cokelat yang besar.

"Permisi, kalau tangga yang menuju ke kelas 2A di mana ya?"

"A-Ah, ada di sebelah sana-" Dia menunjuk ke arah ujung lorong, "-belok ke kiri saja, di sana ada tangga menuju ke lantai dua."

"Terimakasih ya."

"Sama-sama." Dia pun tersenyum dan kembali berjalan menelusuri lorong sambil sesekali melirik kesana kemari seakan sedang mencari sesuatu. Giotto tersenyum kecil, dia tertarik dengan gadis itu karena rasanya dia tak tergila-gila dengannya seperti para fangirl yang selalu mengikutinya itu.

Dan.

Rasanya dia mengingatkan Giotto kepada seseorang.

"Ah sudahlah, daripada itu tangga... tangga..." Gumam Giotto sambil berjalan menuju tangga.

...

Giotto melihat antrian yang panjang yang terdapat di depan sebuah kelas- kelas 2A, kelas dimana adiknya membuka sebuah cafe.

"Yamamoto-kun!"

"Gokudera-kun!"

"Kyyaahh! Dia melihat kearah sini!"

Giotto terkejut dengan teriakkan dari para gadis yang sedang mengantri di depan kelas itu, karena penasaran, Giotto berjalan mendekati mereka.

"A-Anu-"

"Gi-Giotto-sama?!"

"A-ah, iya... kelas ini-" Lagi-lagi kata-kata Giotto terputus, "Giotto-sama mau masuk? Silahkan duluan!" Gadis yang berada di barisan paling depan itu mendorong Giotto masuk ke kelas. "E-Ehh?"

Dan, dia pun di sambut oleh seorang... maid? (Pelajar yang menggunakan kostum maid) "Meja untuk satu? Silahkan ke sini." Giotto hanya mengangguk dan membiarkan dirinya di antar ke sebuah meja yang terletak tepat di samping jendela.

"Mohon tunggu sebentar ya, pelayan kami akan membawakan menu."

Giotto tersenyum dan maid itu pun berjalan menjauhinya, Giotto menatap keadan kelas 2A yang sekarang sudah diubah menjadi sebuah cafe yang lucu. Meja-meja yang ditutupi oleh serbet bewarna putih bersih, dan ujung-ujung kelas dihiasi oleh beberapa pita.

"Ini dia menu anda."

Giotto memalingkan wajahnya dan... melihat-

"Tsuna?!"

-Yang memakai baju maid.

To Be Next Choice

A/N: *menghindari lemparan benda-benda gak jelas*

Maaf maaf... =='' Aku nge blank untuk fanfic satu ini... endingnya pun belum aku tentukan, gomenne minna...

By the way, Happy new year! Have a nice holiday everyone~!