Mata biru laut Giotto masih tak percaya apa yang ia lihat di depan matanya sekarang ini, dia terus menatap lurus ke sosok adiknya yang berada di depannya itu. Dengan cekatan dia langsung menutup hidungnya dengan tangannya untuk mencegah darah yang akan keluar dari hidungnya.

"G-Gio-nii?! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Tsuna panik sambil menyodorkan sebuah sapu tangan kepada si blonde itu.

"A-Ah, aku tidak apa-apa kok Tsuna." Ucap Giotto seraya ia mengambil sapu tangan itu dari Tsuna dan langsung digunakannya untuk mengganti tangannya yang sedang digunakan untuk mencegah mimisannya.

"Ng-Ngomong-ngomong, Tsuna; kenapa kau berpakaian seperti ini?" Tanya Giotto sambil memperhatikan sosok Tsuna yang memakai baju maid dengan pandangan yang heran dan... senang?

"I-Itu-"

.

.

ALWAYS LOVING YOU

8th CHOICE

DISCLAIMER: AMANO AKIRA-SAMA

BY: MIHARU MIDORIKAWA

.

.

Flashback;

"Tsuna-kun!"

"E-Eh, ada apa, Kyoko-chan?" Tanya Tsuna sambil membalikkan badan kearah suara itu, "I-itu, ano..."

"Hm?"

"MAU GAK KAMU JADI MAID KELAS KITA?!" Tanya Kyoko dengan cepat, Tsuna hanya bisa menatap teman perempuannya itu dengan pandangan kosong sambil menunggu otaknya nyambung dengan apa yang baru saja Kyoko ucapkan kepadanya.

"HIEEEEE?! Ke-kenapa harus aku?!"

"I-itu karena tak ada yang ingin menjadi maid lagi, sebagian besar perempuan di kelas kita tugasnya dibagian memasak."

"T-tapi kenapa harus aku...?"

"Karena kamu itu imut dan lucu!"

'HIIIEEEEEE!'

Flashback end.

"Ki-kira begitulah, Gio-nii..."

Giotto menghela nafas dan menempatkan tangannya di dahi nya, memang, ia akui bahwa adiknya itu dan lucu- bahkan bisa dibilang melampaui kedua kategori itu. "Nah, Tsuna."

"Hm?"

"Apa ada menu yang kamu rekomendasikan?" Tanya Giotto dengan senyuman, pipinya Tsuna langsung memerah dan sempat terbata-bata dengan kata-kata yang akan dia ucapkan kepada Giotto.

"A-aku rekomendasikan, t-teh dan kue red velvet." Mendengar kata-kata 'kue', mata Giotto menjadi berbinar-binar dan senyuman lebar terpancar dari dirinya. Oh, betapa dirinya sangat menyukai kue, makanan yang kadang manis dengan sedikit pahit di dalam rasanya. Bahkan ada yang sangat manis seperti Tsuna- ah, lupakan yang tadi.

"Kalau begitu, aku pesa itu saja."

"B-baik!" Baru saja Tsuna membalikkan badannya, tangan Giotto menghentikan langkahnya untuk menyiapkan pesanan kakaknya. "Gi-Gio-nii?"

"Tapi, aku ingin kamu yang mengantarkan pesananku ke sini- jangan orang lain." Pinta Giotto sambil menatap dalam kepada mata cokelat karamel Tsuna- sedangkan dia hanya mengangguk lalu lari ke bagian belakang kelas. Giotto menyeringai melihat sosok adiknya yang beberapa kali hampir jatuh di langkahnya.

Giotto melihat ke luar jendela dengan pandangan kosong, menatap manusia berlalu lalang di lapangan sekolah dan menganggapnya seperti semut. Di tengah-tengah lamunannya-

"KYAAAAA!"

-Suara teriakkan itu memaksa Giotto untuk sadar.

Giotto lalu berpaling kearah suara itu dan menemukan Gokudera dan Yamamoto yang memakai baju butler- dan mereka di kelilingi oleh gadis-gadis, bahkan salah satu dari mereka sibuk memfoto Yamamoto.

'Hee... pantas saja antriannya panjang...'

Setelah keributan itu agak mereda, Gokudera melirik ke sekitar, dan mata emerald nya menangkap sosok Giotto yang sedang duduk tepat di sebelah jendela. Gokudera lalu menyingkirkan para gadis di sekitarnya dengan keras dan berjalan menuju meja dimana Giotto berada.

"Kenapa kau ada di sini?"

Giotto melirik ke arah Gokudera yang sekarang sudah berdiri tepat di depan meja Giotto, "Tsuna mengundangku ke sini."

"Kenapa harus kau? 'Kan dia bisa mengundang ibunya saja." Ucap Gokudera kesal.

"Dia bilang bahwa dia hanya ingin berdua denganku." Seringai Giotto kepada Gokudera.

"Dasar kau-"

"Mau ku laporkan kepada G kalau kau berkata kasar lagi?" Tanya Giotto dengan santai sambil menatap Gokudera, "Tch, jangan kau berani. Bisa-bisa aku disungut rokok olehnya." Dengus Gokudera kesal kepada kakak Tsuna.

"Ngomong-gomong, apa G datang ke sini?" Tanya Giotto akan keberadaan teman baiknya itu, tiba-tiba mata Gokudera berubah menjadi mata yang kesal namun... sedih?

Setelah beberapa saat, "Dia ada urusan."

'Urusan? Urusan apa? 'Kan kita sedang libur, lagipula seingatku tak ada tugas yang begitu berat sampai-sampai meyebabkannya tak bisa datang ke sini.' Pikir Giotto heran.

"Tte- kenapa kau menanyakan hal itu?!"

"Memang salah?" Setelah itu Gokudera tak mengatakan apapun kepada Giotto- melainkan hanya menatap kosong ke bawah dengan pandangan seperti itu lagi. Melihat sikap Gokudera, Giotto berhasil menangkap sesuatu.

'Ah... dia berharap G- kakaknya untuk datang... ya?'

"Goku-" Kata-kata Giotto terputus saat Tsuna membawakan pesanan Giotto ke mejanya, "Ju-Juudaime?!"

"Ara? Gokudera-kun?"

"J-Ju-Juudaime..." Kata-kata Gokudera terbata-bata karena melihat sosok Juudaime-nya yang memakai baju maid, yah... walaupun dia sudah berkali-kali melihat Tsuna yang memakai baju maid hari ini- tetap saja dia belum terbiasa.

"Tsuna~"

"Ini pesananmu, Gio-nii." Ucap Tsuna sambil meletakkan pesanan Giotto di meja, "Ah, terima kasih Tsuna." Balas Giotto dengan senyuman khas-nya, pipi Tsuna menjadi merona dan menutupi mukanya dengan nampan yang ia bawa. Giotto tertawa kecil melihat ekspresi adiknya saat ini, benar-benar, adiknya ini selalu saja membuatnya tertawa.

"Gokudera! Ada pesanan!" Teriak seseorang dari arah belakang kelas- yang sekarang sudah diubah menjadi dapur.

"Che, iya! TUNGGU SANA!" Teriak Gokudera kesal sambil berjalan dengan sesekali menyumpah.

"A-ah, kalau begitu, aku permisi dulu ya, Gio-nii." Tsuna hendak berjalan untuk melayani pengunjung lain, tapi tangan Giotto menghentinkannya. Giotto hanya tersenyum dan memberikan secarik kertas kepada Tsuna. Tsuna yang kebingungan hanya bisa mengangguk dan kembali bekerja sebagai maid.

Setelah keadaan tak terlalu ramai, Tsuna menyandarkan punggungnya ke tembok. Lalu dia menyadari secarik kertas yang kakaknya berikan, dengan hati-hati dia membuka lipatan demi lipatan kertas itu.

[Bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua?

Ku tunggu di atap sekolah setelah shift-mu berakhir.

-Gio. (gambar Love)]

Muka Tsuna langsung memerah saat melihat gambaran 'love' kecil di pesan itu, lalu Tsuna melirik ke arah Giotto yang sedang memakan kue-nya dengan bahagia. Giotto yang menyadari bahwa dia sedang di perhatikan, mencari orang yang memerhatikannya, lalu mata biru lautnya menangkap Tsuna yang sedang menatap nya. Giotto melambaikan tangannya kepada Tsuna dan mendapat lambaian tangan balik dari Tsuna yang tersenyum kearahnya.

Tsuna memegang erat surat itu di tangannya, senyuman dan pipi merona tak pupus dari wajahnya sampai shift nya berakhir.

...

Tsuna terkejut saat melihat keadaan pintu yang menuju ke atap sekolah, di sana di beri pembatas agar tidak ada orang yang masuk ke atap sekolah. Tsuna heran dan mengecek kembali surat yang Giotto berikan kepadanya. Dan memang tak salah, Giotto menunggu nya di atap sekolah. Dengan tangan yang agak gugup, dia meraih kenop pintu dan mencoba membukanya.

'Terbuka...'

Angin besar langsung menerpa dirinya saat dia sampai di atap sekolah, dan di sanalah dia menemukan sosok kakaknya yang sedang tiduran di lantai sambil merentangkan tangannya ke atas langit seolah-olah hendak meraih sesuatu di langit sana. Mata biru laut itu lagsung menatap Tsuna saat merasakan ada seseorang berada di atap sekolah selain dirinya.

"Tsuna."

"G-Gio-nii..." Tangan Giotto langsung melambai ke arah Tsuna, seolah-olah mengatakan; 'Ayo ke sini'. Tsuna mengangguk dan berjalan ke arah Giotto dengan pelan, setelah Tsuna berada di jangkauan Giotto, tangannya menarik tubuh Tsuna- dan menyebabkannya menjadi tiduran di lantai bersama Giotto.

"G-Gio-nii?!"

"Tsuna, lihatlah langit ini." Ucap Giotto lembut sambil memperhatikan langit biru terlentang luas di atasnya, "Indah bukan?"

"Un." Tsuna menatap langit itu dengan pandangan yang lembut, menatap awan putih yang dengan perlahan bergerak menelusuri langit biru. Giotto memalingkan kepalanya agar dia bisa melihat sosok Tsuna yang sekarang sedang tiduran tepat di sebelahnya. Senyuman langsung terpancar dari wajah Giotto ketika melihat wajah Tsuna yang begitu imut.

"Ada apa, Gio-nii?" Tanya Tsuna yang merasakan dirinya sedang di tatap oleh Giotto.

"Tidak apa-apa," Giotto kembali mengalihkan pandangannya ke langit itu, "Setelah ini kita mau jalan-jalan ke mana?"

Mata karamel Tsuna mengedip beberapa kali dengan raut muka yang polos, "Gak tau." Ucapnya dengan pendek. Giotto tertawa kecil lalu mengusap-ngusap rambut Tsuna dengan lembut. Tak lama kemudian, Giotto duduk lalu mencium Tsuna dengan cepat di bibir. Sebelum Tsuna sempat protes, Giotto sudah berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Tsuna.

"Ayo."

"Un!"

Sepertinya ini menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka berdua.

...

Giotto melirik ke sosok Tsuna yang sudah tertidur pulas di sebelahnya, beberapa saat yang lalu, sesaat mereka memasuki mobil Giotto untuk pulang ke rumah, Tsuna langsung tertidur tanpa memperdulikan sesuatu. Senyuman langsung muncul di wajah Giotto, lalu dia mendekatkan jarak diantaranya dan Tsuna- tanpa keraguan sedikitpun, Giotto mencium Tsuna sekali lagi di bibir ceri itu.

Tapi, pada saat Giotto melepaskan ciumannya- dia langsung memicingkan matanya ke arah spion mobil. Tsuna bergumam sesuatu sebelum akhirnya membuka matanya dengan perlahan, "Gio-nii?"

"Ah, Tsuna. Maaf, aku membangunkanmu ya?"

"Gak apa-"

"Tsuna, pakai sabukmu dan pegangan yang erat." Kata-kata Giotto itu lah yang memotong perkataan Tsuna tadi. Tsuna terlihat bingung, tapi karena muka Giotto begitu serius, dia langsung memakai sabuknya tanpa berkata apa pun lagi.

Giotto cepat-cepat memakai sabuknya lalu menyalakan mesin mobil, setelah mesin hidup kembali, Giotto langsung menekan pedal gas dan mengendarai mobil itu cepat-cepat dari lingkungan sekolah adiknya. Perasaan cemas dan heran muncul di dalam diri Tsuna, sebenarnya dia agak merasa takut saat melihat sosok Giotto menyetir dengan muka yang serius sekaligus... seram.

'Gio-nii...?'

To Be Next Choice

A/N;

Maaf dan terima kasih.

Saya sendiri belum tahu betul kemana cerita ini akan berujung. Jadi selama ini saya berpikir terus dan mendapatkan jalan cerita dan ending yang saya inginkan.

Setelah chapter ini, keadaan akan menjadi sedikit serius.

See you next time.