Tsuna's POV

'Gio-nii...'

Belakangan ini... sikap kakakku menjadi agak aneh. Biasanya dia santai-santai saja setiap harinya, walaupun jika memang mempunyai tugas yang banyak- dirinya tak akan mengeluh dan tetap tersenyum seperti biasa.

Tapi sekarang-

Dia menjadi lebih... serius dan tak tenang.

Pernah suatu hari di saat aku dan Gio-nii sedang menonton anime di ruang tengah, tiba-tiba dia mendapat sebuah telepon. Dan, saat dia menerima telepon itu- ekspresi mukanya berubah menjadi sangat serius sambil memicingkan matanya. Tak lama kemudian dia menjawab dengan bahasa yang tak aku ketahui- tidak, bukan inggris, bahasa yang... lebih rumit.

Setelah dia selesai dengan telefon itu, dengan cekatan dia meraih jaketnya dan kunci mobil dari meja. Karena penasaran, aku pun mencoba menanyakan hal itu kepadanya; "Gio-nii, kau mau ke mana?"

"Ada urusan mendadak Tsuna. Baik-baik di rumah ya, kalau bisa jangan keluar rumah jika itu benar-benar penting." Ujarnya sambil mengelus-ngelus kepalaku, aku hanya mengangguk pelan dan mengubur rasa keingintahuan yang besar ini dalam-dalam. Gio-nii lalu mengecup dahiku dan pergi ke dapur untuk berbicara dengan kaa-san. Setelah beberapa saat berbicara di dapur, akhirnya dia langsung pergi keluar.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara mesin mobil hidup, dan.. suara mobil itu lalu menjadi semakin jauh. Entah kenapa, tapi setiap aku melihat sosok kakakku seperti itu, hati ku tak tenang dan gelisah. Sudah kucoba tanya kepada kaa-san, tapi ia menjawab bahwa ia tidak tahu tentang itu.

Aku hanya bisa diam dengan banyak pertanyaan di kepalaku.

.

Disclaimer; Amano Akira

.

Always Loving You

9th Choice

.

By; Miharu Midorikawa

.

"Tadaima!"

Tsuna pun langsung beranjak dari sofa dan meninggalkan acara anime yang sedang di tontonnya, senyuman lebar terpancar di wajahnya saat ia berlari ke pintu depan untuk menyambut kedatangan kakaknya tercinta.

"Okaeri, Gio-nii!" Sambut Tsuna sambil memeluk si blonde dengan erat, "Aku pulang, Tsuna. Selama aku pergi kau jadi anak baik dan tidak keluar rumah 'kan?" Ucap Giotto sambil mengelus-ngelus kepala adiknya dengan lembut.

"Un! Aku tidak keluar rumah sama sekali hari ini."

"Anak baik." Giotto pun terus mengelus-ngelus kepala Tsuna tanpa bosan dengan senyuman hangat terpancar di wajahnya.

"Tsuna-"

"Ehm."

Kedua kakak-beradik itu pun langsung menoleh ke arah pintu yang masih terbuka lebar itu, rupanya seorang pria berambut ehm-pink-ehm tengah berdiri di belakang mereka sambil melipat kedua tangannya yang ia simpan dekat di dadanya. Tapi tak hanya dia, ada dua orang lagi yang berdiri di sampingnya – seorang pria berambut platinum blonde dan yang satunya lagi mempunyai gaya rambut berbentuk nanas, hanya saja warnanya indigo.

"Giotto... berani-beraninya kau membuatku menunggu di luar sangat lama." Desis si platinum blonde kesal.

"Aku sudah kedinginan di sini~ Apa harus ku pakai adikmu itu untuk menghangatkanku ya~?" Kata-kata ambigu itu pun terlontar dari mulut si nanas.

"Kalau ingin bermesraan dengan adikmu, jangan di depan publik seperti ini." Kata di pink dengan kalemnya.

"G-gomen, ayo masuk." Giotto pun mempersilahkan mereka bertiga masuk ke rumahnya, selagi itu, Tsuna berlindung di belakang Giotto sambil menggenggam ujung jaket hitam kakanya itu.

"G-Gio-nii..."

"Hm? Ah, tak apa Tsuna. Mereka hanya akan membantuku untuk mengerjakan tugas." Jawab Giotto dengan senyuman yang hanya dibalas oleh anggukan kecil dari adiknya yang imut itu.

"Lama tak bertemu ya, Tsuna." Ucap si pink sambil mengelus-ngelus kepala si brunette itu, "U-un, G-san."

"Oi oi, sudah kubilang jangan pakai suffiks '-san' padaku, rasanya aku terasa sudah tua."

(A/N: Di anime nya, pelafalan kata 'G' itu; 'Jii'. Jadi saat pakai '-san' , terdengarnya seperti 'Jii-san'. Jii-san itu artinya 'Kakek' dalam bahasa Jepang.)

Sekali lagi Tsuna hanya mengangguk dan menatap kedua orang lagi yang ikut bersama G, "Mereka... siapa?"

"Oh ya, baru kali ini kau bertemu mereka ya." 'Jujur saja, aku sendiri gak mau minta tolong ke mereka berdua- tapi karena keadaan memaksa, jadi apa boleh buat. Soalnya kalau mereka di taruh dalam satu ruangan... yang ada adalah kehancuran...' Lanjut Giotto dalam hatinya dengan lirih.

"Yang rabutnya silver itu; Alaude."

"Hn." Alaude tak menjawab apa-apa, hanya menyimpan kedua tangannya ke dalam saku trench coat hitamnya dengan nyaman.

"Yang satunya lagi; Daemon Spade."

"Nufufufufufu~ Salam kenal, panggil saja aku Daemon ya~"

"Tsuna, panggil saja dia Om Pedo." Celetuk G dengan muka datar.

"Oya oya~ Dasar tak sopan, pinky."

"Pink dari mana?! Rambutku ini MERAH!"

'Dilihat dari manapun, rambutmu/rambut G-nii itu pink...' Oh? Rupanya pikiran Giotto dan Tsuna sedang singkron dengan damai.

"S-sudah-sudah, ayo kita kerjakan tugasnya. Nanti keburu malam." Ujar Giotto sambil berjalan ke arah ruang tamu, tak lupa salah satu tangannya menggandeng tangan Tsuna. Tsuna yang tergandeng tangannya hanya bisa mengikuti kakaknya dari belakang. Sedangkan ketiga orang itu bertukar pandang satu sama lain, sebelum akhirnya memasuki rumah kediaman keluarga Sawada tersebut.

Sesampainya di ruang tamu, Giotto menyalakan pemanas ruangan- karena memang udara di luar tadi cukup membuat badannya menggigil kedinginan. Setelah semuanya masuk, mereka berempat pun duduk melingkari sebua meja kotak yang terletak di lantai. Sedangkan Tsuna membantu Nana menyiapkan teh dan camilan untuk teman-teman kakaknya itu.

Saat Tsuna sudah selesai membantu ibunya, dia pun membawa nampan yang diatasnya terletak empat buah cangkir dengan teh panas yang masih mengepul- tentu saja tak lupa sepiring kue choco chips sebagai camilan. Nana, selaku ibunya, sudah menawarkan agar ia saja yang membawanya, tapi anaknya yang satu itu bersi keras untuk membawanya. Akhirnya Nana hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya yang sangat baik hati tersebut.

Tsuna pun berjalan dengan hati-hati ke ruang tamu, tapi saat mencapai pintu ruangan itu, kakinya pun terhenti ketika mendengar suara Giotto yang sedang berbicara kepada ketiga temannya itu dengan nada yang... sangat serius dan seram. Tsuna memang tak punya niat untuk mendengar percakapan itu dengan diam-diam, tapi karena mendengar suara Giotto yang seperti itu, entah kenapa ia enggan untuk melangakahkan kakinya.

"Jadi, bagaimana Alaude?" Tanya Giotto.

Tak ada yang menjawab.

"Begitu ya..."

"Giotto, bukankah lebih baik kita cepat bertindak?"

"Ya, aku tahu G. Tapi..."

"Masalahnya adalah mereka ya?" Kali ini Daemon yang berbicara.

"Un..."

Tsuna mendekatkan tubuhnya ke dekat pintu mahogani cokelat itu, berusaha mendengar percakapan itu lebih jelas lagi. Tapi sepertinya dewi fortuna sedang tak berpihak padanya saat ini, tangannya terasa licin dan hampir saja menjatuhkan nampan yang ia pegang, untungnya saja Tsuna cepat-cepat membetulkan posisinya. Sialnya, gara-gara itu, terdengar suara logam saling bersentuhan.

"Tsuna?" Panggil Giotto dari dalam.

'Gio-nii?!'

Pintu yang menyambungkan koridor dan ruang tamu pun dibuka oleh Giotto, "Ah, G-Gio-nii." Giotto terkejut saat Tsuna berdiri di depan pintu itu sambil membawa nampan yang terlohat cukup berat, "Tsuna, sejak kapan kau ada di sini?"

"B-Baru saja tadi, tadinya aku ingin mengetuk, tapi..." Tsuna melirik kedua tangannya yang sedang memegang nampan itu.

"Sini biar kubantu." Giotto pun mengulurkan tangannya untuk meraih nampan itu dari tangan Tsuna, "G-gak usah, biar aku sediri saja." Walaupun begitu, si blonde tetap saja mengambilnya dari tangan Tsuna, lalu dielus-elus lah rambut fluffy Tsuna.

"Arigatou, Tsuna." Giotto memberikan senyuman sebelum akhirnya membalikan badan untuk masuk ke ruang tamu.

"Gio-nii!"

"Hm?" Dia menghentikan langkahnya dan melirik kepada sang adik yang memanggilnya, "Etto... Uhh... Aku akan ada di kamarku."

"Hum... baiklah." Dan Giotto pun memasuki ruang tamu, Tsuna menghela nafas lega saat dirasa Giotto tak curiga padanya. Tapi sebelum masuk ke kamarnya, dia berniat mengambil minum di dapur- entah kenapa tenggorokannya terasa kering malam ini. Setelah mengambil minum, Tsuna berjalan ke kamarnya sambil membawa segelas jus jeruk di tangannya.

Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok ibunya yang sedang menonton sebuah drama di TV, tanpa disengaja, Tsuna mendengar salah satu dialog yang diucapkan si peran utama perempuan itu.

[Apa aku mencintainya? Tapi... saat berada di sampingnya, hatiku berdegup kencang, rasanya jadi malu berada di sampinya... tapi rasanya aku sangat bahagia. Ditambah lagi saat ada seseorang yang dekat dengannya, aku menjadi cemburu...]di sela-sela dialog itu, terdengar suara ombak dari belakang, tapi tak lama, ada suara laki-laki yang berbicara;

[Bodoh. Sudah pasti kau mencintainya.]

Menggelengkan kepalanya, Tsuna pun melanjutkan perjalanannya ke kamarnya untuk beristirahat. Sesampainya di sana, Tsuna menyimpan gelas yang terisi jus itu di meja belajarnya, tanpa pikir panjang- di lemparkanlah tubuhnya ke ranjangnya yang empuk. Per yang berada di dalam ranjang itu pun berdecit karena massa yang di tompang.

"Cinta...?"

'Y-yah... hatiku sering menjadi aneh saat di samping Gio-nii, dan.. aku juga sempat cemburu saat ada orang yang dekat-dekat dengan Gio-nii...

Jadi... ini berarti, aku mencintai Gio-nii...?'

Tsuna langsung menggelengkan kepalanya keras, diangkatlah tangannya dan ditempelkan ke dadanya. Ah, rupanya degup hatinya kencang saat memikirkan tentang sosok kakaknya itu.

'Ta-Tapi, kita kan kakak-adik, mana mungkin boleh... ah, tapi... aku sudah beberapa kali berciuman dengannya...' Pemikiran Tsuna itu membuat dirinya tersipu malu dan berguling-guling di atas ranjangnya dengan semburat merah menghiasi mukanya.

'Aku... mencintai... Gio-nii...?'

To Be Next Choice

A/N;

*Geleng kepala* Tsu-chan... dirimu se-lemot apa sih...?

Things get a little more serious

Sampai berjumpa di chapter selanjutnya.