Kemudian langkahnya terhenti ketika rasa sesak mulai menyerang dadanya. Perih. Perih. Kerongkongannya perih. Air mata mulai menumpuk lagi di matanya ketika dia mulai batuk tak tertahankan. Rasa pusing mulai menyerang kepalanya, dan akhirnya dia pun jatuh ke tanah. Pandangannya mulai tak fokus, begitu pula dengan pendengarannya.

"TSU-KUUN!"

Suara ibunya lah yang terakhir dia dengar di antara suara gaduh yang lain.

"Gio-nii..."

Dan semuanya pun berubah gelap gulita.

.

Disclaimer; Amano Akira

.

Always Loving You

11th Choice

.

By; Miharu Midorikawa

.

Piip... Piip... Piip...

Suara itulah yang pertama kali Tsuna dengar. Suara gaduh orang-orang dan suara teriakkan ibu yang memanggilnya itu kini sudah tidak ada, hanya digantikan oleh suara yang tak ada hentinya itu dan bau obat yang menyeruak ke dalam hidungnya. Tsuna mencoba menarik nafas yang dalam – tetapi yang ada hanyalah memperburuk keadaan, dadanya menjadi sakit, seperti ada jarum yang menusuk dari dalam. Saat dia mencoba menggerakkan tangannya, dia langsung merasakan sesuatu tertancap di tangan kanannya. Infus. Ya, ini infus. Lama kelamaan Tsuna menyadari bahwa dirinya sedang berada di Rumah Sakit.

Rumah Sakit.

Kelopak mata yang sayu itu bergerak sedikit demi sedikit dan menampakkan sepasan bola mata dengan iris cokelat karamel. Langit-langit putih yang luas adalah pandangan yang pertama kali Tsuna lihat, setelah mata nya bisa beradaptasi dengan keadaan ruangan yang serba putih itu, Tsuna menyempatkan dirinya untuk mengobservasi kamar rawat inapnya itu. Nampaknya dia sendiri, hanya ada satu sofa panjang dan dua kursi terletak di depan ranjang yang dia tempati. Tsuna juga tak melihat ibunya dimana pun.

Tsuna sendiri.

Dan saat Tsuna berpikir itu, pintu yang terletak di sebelah kanannya itu pun terbuka. Sebelum Tsuna dapat berbalik arah dan melirik ke arah pintu, suatu sosok yang sangat familiar baginya langsung menariknya kedalam pelukan erat. Tsuna langsung merasa tenang saat wangi lavender yang dia selalu sukai itu tercium oleh hidungnya.

"Tsu-kun! Tsu-kun!"

Suara ibunya yang terdengar sangat cemas dan rapuh itu entah kenapa membuat hatinya sesak. Apa yang sudah dia lakukan sampai membuat ibunya cemas seperti ini? Sudah berapa lama dia tertidur? Kepalanya mulai pusing.

"Ka-Kaa-san..."

Sakit.

Tenggorokannya amat sakit, padahal Tsuna hanya mengeluarkan suara yang tak seberapa kencang dan panjang itu. Seperti ada jarum-jarum kecil bergerak di dalam tenggorokannya seraya dia berbicara. Tsuna sangat ingin segelas air dingin. Tetapi sebelum dia berbicara, Nana melepaskan pelukkannya dari brunet itu dan mengusap dengan pelan air mata yang masih bergelinang itu.

"Tunggu ya, Tsu-kun. Akan ibu panggilkan suster." Dengan bergitu, Nana pun memencet sebuah tombol merah yang terletak tak jauh dari ranjang yang sedang Tsuna tempati. Dan sepertinya, segelas air dingin untuknya itu harus menunggu. Tak lama kemudian, dua suster dan satu dokter masuk ke dalam kamar dan segera memeriksa keadaan Tsuna.

...

Tsuna's POV

...

Pemeriksaan para suster dan dokter itu cukup lama.

Tapi dengan begini, akhirnya aku bisa meneguk segelas air mineral dingin. Aku sangat berterima kasih kepada Ibu yang sudah membawakan ku segelas air ini, itu sangat membantu. Kini hanya ada aku dan Ibuku yang berada di kamar ini. Suasana diantara kami entah kenapa sedikit canggung dan tegang. Dan aku sangat tak menyukai ini.

Pusing di kepalaku masih terasa samar-samar.

Begitu pula dengan ingatanku – masih terasa samar.

Aku mengingat bahwa aku sedang berlari mencari Gio-nii di tengah-tengah kerumunan. Kemudian jatuh pingsan karena kebanyakan menghirup asap kebakaran. Tunggu. Asap? Kebakaran? Gio-nii...?

"Kaa-san!" Tanpa pikir panjang aku langsung bangun dari ranjang tanpa memedulikan rasa sakit yang langsung menyerang tubuhku, "A-Ada apa, Tsu-kun?" Tanya Ibuku dengan nada yang cukup kaget.

"Gi-Gio-nii... Bagaimana dengan Gio-nii?"

Seketika ekspresi Ibu menjadi kelam.

Eh?

Apa maksudnya ini?

"Kaa-san...?"

Ibu hanya diam dan menyembunyikan ekspresinya dibalik surai cokelat karamel itu, semakin Ibu diam, semakin kencang degup jantungku. Kumohon... jawablah... Ibu... Kumohon. Jawablah pertanyaan anakmu ini! Apakah aku akan menghabiskan sisa hidupku tanpa adanya sosok kakakku itu? Kakakku yang selalu berada di sampingku di saat aku membutuhkannya?

"Tsu-kun..."

Jantungku berhenti untuk sesaat.

"Istirahatlah."

"Ta-Tapi, Kaa-san !"

"Istirahatlah. Akan Ibu pertemukanmu dengan Gio besok. Jadi... Ibu mohon." Melihat sosok Ibuku yang rapuh seperti itu – seberapa bodohnya aku pun, aku memutuskan untuk menutup mulutku rapat-rapat. Mata yang belinang penuh dengan air mata yang kapan saja siap tumpah membasahi pipinya, bibir nan pucat itu ditutup rapat-rapat dengan rahang yang gemetaran, begitu juga dengan kedua bahu yang kecil itu. Gemetaran dengan tak terkontrol.

Aku mengangguk lemas dan kembali berbaring di atas ranjang yang dingin ini.

"Kaa-san..."

"Ada apa, Tsu-kun?"

"Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin tidur." Ibu sepertinya langsung menangkap apa yang kumaksud dengan tak berbicara apapun lagi, yang hanya bisa terdengar olehku yang sedang menutup mata ini adalah suara decitan kursi karena ada beban yang meninggalkan tempatnya. Disusul oleh suara pintu yang digeser dan suara dentuman kecil antara pintu dan tembok. Akhirnya aku sendiri. Dengan perlahan tubuhku digerakkan untuk menghadap ke sebelah kiri, dimana jendela terletak – untung saja tangan yang terpasang infus itu berada di tangan kananku.

Keadaan di luar gelap.

Entah ini malam hari atau subuh.

Aku ingin cepat bertemu dengan Gio-nii...

Tapi aku takut.

Aku takut melihat sosok Gio-nii yang mungkin tak terlalu enak untuk dilihat dalam keadaanku yang seperti ini.

"Gio-nii..."

Malam itu aku tertidur di sela-sela tangisan yang memenuhi kamar putih ini.

...

Author's POV

...

Menyantap sarapan, sudah.

Walau tadi sempat ia berhenti beberapa saat karena perutnya menolak makanan itu, tapi itu tak mengurungkan niat Tsuna untuk menemui sosok kakaknya itu. Dengan mata lesu, rambut cokelat anti gravitasi yang kusut lebih dari biasanya, Tsuna hanya diam sambil duduk di kursi roda yang di dorong oleh ibunya. Dengan sesekali mengulum bibirnya sendiri yang kering dan pucatnya itu karena rasa gugup yang luar biasa. Hawa rumah sakit entah kenapa rasanya sangat dingin, tangan kiri Tsuna terus diusapkan ke tangan kanan yang dingin dan terpasang infus.

Suara tangisan dan jeritan pilu menyerang telinga Tsuna di sepanjang jalan yang Nana tuntun kepadanya. Tsuna tak bisa hanya diam dan menatap ke bilik-bilik lantai yang terus sama seraya dia maju, bola mata cokelatnya itu melirik ke sebuah ruangan di sebelah kanannya dan agak terkejut melihat sesosok tubuh yang ditutupi oleh kain putih bersih, tangisan pilu dari sang keluarga memenuhi ruangan tersebut. Tapi tak lama, pintu yang hanya terbuka beberapa senti itu pun di tutup oleh suster yang bersama mereka.

Perasaan Tsuna makin tidak enak.

Mual.

Entah kenapa keadaan perutnya sangat tak enak.

Suara decitan menandakan Tsuna sudah sampai di tempat tujuan. Di tempat Giotto berada. Tsuna tak kuasa untuk mengangkat kepalanya dan melihat sosok kakaknya dalam keadaan yang mungkin hanya ibunya saja yang tahu. Satu tepukan di pundak oleh tangan yang hangat seidkit membuatnya terkejut, "Tsu-kun..."

Tsuna mengepal meremas kuat piyama khas rumah sakit bewarna tosca itu, dengan bibir yang gemetar – akhirnya dia perlahan mengangkat kepalanya. Sungguh terkejut dirinya saat menemukan sosok kakaknya terbaring di atas ranjang putih bersih, mulutnya digerakkan, berusaha untuk mengatakan sesuatu yang tak pasti. Tapi yang ada hanyalah suara tenggorokannya yang serak dan seperti suara orang yang sedang terkena asma.

Kelopak mata yang sayu itu menutupi iris biru laut milik Giotto. Kulitnya sangat pucat. Tsuna tahu benar bahwa kulit kakaknya itu termasuk putih – putih susu bahkan. Tetapi ini sudah kelewat putih indah. Pucat. Pucat pasi. Tsuna berusaha berdiri dari kursi roda dan akhirnya jemari-jemari itu dia tempelkan kepada kaca tebal nan dingin yang memisahkan jarak diantara mereka.

Suara beraturan dari alat-alat yang dipasangkan kepada tubuh Giotto yang berfungsi agar ia bisa hidup itu sangat banyak. Terlalu banyak untuk Tsuna pahami. Tsuna bisa melihat dada Giotto yang perlahan turun dan naik dibalik selimut putih itu. Alat pendeteksi denyut jantung yang dipasangkan di tubuh Giotto terus menampilkan grafik yang stabil namum lemah.

Giotto hidup.

Ya Tuhan, betapa lega diri Tsuna kala itu.

Bulir demi bulir air mata hangat membasahi pipinya, dan rona muka Tsuna perlahan kembali semula. Bagaikan boneka yang sudah diberi nyawa oleh sang pencipta dan majikannya. Giotto hidup. Kakaknya hidup. Tsuna berusaha menahan suaranya agar tak menagis sejadi-jadinya, karena dia pikir itu akan mengganggu orang sekitar.

"Gi...o...nii?"

"Tsu-kun..." Ucap Nana dengan penuh kesedihan.

Tsuna membalikkan kepalanya sedikir kesamping untuk melihat sosok ibunya yang memasang muka hampir sama dengannya, "Gio ditemukan cukup lama setelah kejadian... itu. Tubuhnya tertimpa puing-puing bangunan yang runtuh. Luka bakar yang diterimanya juga cukup..." Batin dan fisik Nana sudah tak kuat untuk menjelaskan kembali peristiwa yang terjadi pada kakak dari Tsuna itu.

Tsuna kembali menatap sosok Giotto yang terbaring lemas. Banyak sekali perban yang melilit kuat di tubuhnya, Tsuna sudah tak tega melihat sosok Giotto yang seperti itu. Apalagi dengan berbagai macam alat medis yang memaksakan tubuh Giotto untuk tetap hidup bagaimana pun caranya.

"Tsu-kun, ayo kembali. Kau juga butuh banyak istirahat."

"Ta-Tapi-"

"Walaupun kita di sini. Tak ada satu pun yang bisa kita lakukan." Tsuna seketika diam dan mengangguk lemas. Nana langsung menghela nafas kecil dan mulai mendorong kursi roda itu setelah Tsuna kembali terududuk. Jujur saja, Tsuna tak ingin meninggalkan sosok Giotto yang sedang terbaring lemas di sana. Tapi mau bagaimana lagi? Kondisi tubuhnya pun tak begitu baik untuk diam menjaga Giotto. Sosok mereka berdua pun lama kelamaan menghilang di koridor – meninggalkan ruangan dengan lampu merah menderang dengan tulisan 'ICU'.

Tetapi ada sedikit perasaan lega di dalam diri Tsuna.

Dia bisa bertemu dengan Giotto sekali lagi.

To Be Next Choice

A/N;

Um, hi? Maafkan saya karena sudah lama tak mengupdate cerita satu ini. Dikarenakan sibuk benar-benar sibuk oleh program sekolah yang menyusahkan. Sungguh,rasanya waktu untuk diri sendiri saja tak ada.

Giotto gak mati ko. Tenang saja.

Dan saya sudah memutuskan untuk menaikkan rating cerita ini menjadi M. Tapi tenang, tidak dalam waktu dekat ini. Saya akan menggantinya saat chapter yang mengandung 'lemon' di dalamnya sudah dekat.

Terima kasih telah membaca,

Auf Wiedersehen!