"Walaupun kita di sini. Tak ada satu pun yang bisa kita lakukan." Tsuna seketika diam dan mengangguk lemas. Nana langsung menghela nafas kecil dan mulai mendorong kursi roda itu setelah Tsuna kembali terududuk. Jujur saja, Tsuna tak ingin meninggalkan sosok Giotto yang sedang terbaring lemas di sana. Tapi mau bagaimana lagi? Kondisi tubuhnya pun tak begitu baik untuk diam menjaga Giotto. Sosok mereka berdua pun lama kelamaan menghilang di koridor – meninggalkan ruangan dengan lampu merah menderang dengan tulisan 'ICU'.

Tetapi ada sedikit perasaan lega di dalam diri Tsuna.

Dia bisa bertemu dengan Giotto sekali lagi.

.

Disclaimer; Amano Akira

.

Always Loving You

12th Choice

.

By; Miharu Midorikawa

.

Jijik.

Tsuna sudah muak dengan masakan rumah sakit yang hampir tidak berasa ini, makanan yang penuh dengan nutrisi tetapi tidak enak untuk dikecap oleh lidahnya ini berasa sangat sia-sia. Walaupun nutrisi nya sangat baik untuk pemulihan tubuhnya – jika dengan rasa yang seperti ini siapa yang mau makan. Tsuna dengan perlahan menyingkirkan piring besi yang berisi makanan itu jauh-jauh dari dirinya – paling nanti dia akan diomeli ibunya dan para suster. Padahal sudah seminggu dia menetap di ruang putih ini, menurutnya sendiri kondisinya sudah sangat baik untuk diperbolehkan pulang kerumah.

Tumpukkan komik dan konsol game yang dibawakan oleh sahabatnya Gokudera dan Yamamoto. Ah iya, bukan hanya karena makanan di rumah sakit menjijikkan, Tsuna juga tidak ingin membuat kedua sahabatnya itu cemas lebih dari ini. Dan... soal Giotto. Well, karena Tsuna juga berdiam di rumah sakit yang sama, kapan saja dia bisa menjenguk Giotto yang sekarang sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang biasa.

Sudah seminggu.

Dan Giotto belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

Perasaan Tsuna campur aduk diantara senang dan takut. Tentu, dia senang bisa menjenguk Giotto kapan saja dia mau, dan dia cukup senang karena itu. Tetapi, setiap dia melihat sosok kakaknya yang terbaring lemas dengan berbagai peralatan medis yang mendukung Giotto agar tetap hidup. Atau... mungkin saja alat-alat itu yang memaksa tubuh Giotto agar tetap berfungsi dan membiarkannya tetap hidup walau sebenarnya tubuhnya sudah tak kuat untuk bertahan hidup. Tsuna langsung merasakan sakit di dadanya, diliriknya jam dinding yang berada tepat di depan. Tsuna pun turun dari ranjang dan memakai sendal yang dikhususkan untuk didalam ruangan.

Tsuna sangat bersyukur di tangannya sudah tak terdapat infus.

Berjalan dengan santai menuju ruangan kakaknya terdapat sambil sesekali melirik kesana-kemari ke sekitar bangsal yang dia tempati, cukup banyak suster yang berlalu lalang untuk sekedar memeriksa atau memberikan obat kepada pasien. Tak jarang juga para suster itu bergegas menuju kamar pasien karena dipanggil melalui alarm yang tersedia di masing-masing samping tempat tidur pasien. Tsuna menggelengkan kepalanya dan bergegas menuju ruangan kakaknya.

Pintu putih itu pun digesernya dan memperlihatkan sosok Giotto yang terbaring di sebrang pintu masuk, Tsuna lalu memasuki kamar itu dan menutup kembali pintu dengan perlahan. Tangan lembut dan kecil bagai perempuan milik si brunet itu diusapkan ke pipi Giotto yang hangat sesaat tiba disamping si blonde, angin sepoi-sepoi dari celah jendela – yang Tsuna berasumsi dibukakan oleh salah satu suster di sini – membuat surai emas Giotto bergerak dengan pelan. Tsuna pun duduk di kursi di tempat biasa – di sebelah kanan kakaknya.

Tangan yang tadinya mengelus pipi sekarang sudah dialihkan ke tangan kanan Giotto yang tak terpasang infus, Tsuna menutup matanya dan menenangkan dirinya – sekejap suara nafas Giotto yang lembut terdengar, dan tentu bukan itu saja. Suara yang terus menerus menghantuinya 24 jam, suara yang menandakan bahwa jantung Giotto masih berdetak. Tsuna amat takut jika suatu saat mesin itu berhenti memberikan sinyal.

Tsuna membuka matanya perlahan dan menatap sosok kakaknya, dia cukup lega karena dokter bilang bekas luka goresan maupun bakar di tubuh Giotto tak akan meninggalkan bekas. Hei, begini juga Tsuna suka ko tampang kakaknya ini. Tsuna akui kakaknya sangat tampan – jauh beda dengan dirinya yang biasa-biasa saja. Pandangan yang selalu memandang Giotto sejak lahir sampai dia duduk di kelas 2 SMP ini selalu penuh dengan iri dan kagum – tapi entah dari kapan pandangan Tsuna terhadap Giotto mulai berubah.

"Gio-nii... kumohon cepat bangun. Ada yang ingin kusampaikan..."

Tsuna mendekatkan dirinya dan mengecup dahi Giotto dengan penuh kasih sayang.

...

Dua hari kemudian Tsuna diperbolehkan pulang, tentu sebelum pulang Tsuna diberi berbagai macam obat karena masih ada beberapa masalah terkait paru-parunya yang telah menghirup terlalu banyak asap pada saat kejadian itu. Tsuna menghela nafas panjang saat melihat obat-obat yang berjajar didepannya, tetapi dia cukup bersyukur karena obat-obat itu dikemas dengan bentuk kapsul, jadi dia tak akan merasakan rasa dari obat tersebut.

Setelah beristirahat selama sehari sejak kepulangannya dari rumah sakit, Tsuna pun memutuskan berangkat sekolah di pagi hari yang cerah ini. Si brunet sekali lagi melihat penampilannya di cermin dan memastikan tak ada yang aneh dari penampilannya, dia pun mengambil tasnya dari atas kasur dan beranjak turun untuk menyantap sarapan. Setibanya di sana Tsuna langsung disambut oleh ibunya.

"Pagi, Tsu-kun." Sapa Nana dengan senyuman.

"Pagi, kaa-san." Tsuna balik sapa dengan senyuman tipis sambil menempati kursi di meja makan.

"Tsu-kun, apa kau yakin akan sekolah hari ini? Keadanmu sudah tak apa-apa?"

Tsuna tersenyum melihat ibunya yang mengkhawatirkannya itu, "Tentu. Aku tak ingin membuat Gokudera dan Yamamoto cemas."

Nana tersenyum lembut, "Baiklah, ucapkan terima kasih karena sudah menjengukmu di rumah sakit. Oh ya, kalau bisa undanglah mereka untuk makan malam di sini sebagai tanda terimakasih!"

Tsuna hanya mengangguk pelan.

...

Setelah menyantap sarapan dan berpamitan bersama ibunya, Tsuna berjalan dengan santai menuju sekolah sendirian. Tak apa. Sesekali berangkat ke sekolah sendiri karena dia pun tidak memberitahukan Gokudera dan Yamamoto bahwa dia akan sekolah hari ini. Di pikiran Tsuna penuh dengan berbagai macam hal, tentang Giotto yang akan dijenguknya pulang sekolah nanti, reaksi kedua sahabatnya saat tahu dia datang ke sekolah, betapa menumpuknya tugas yang tertinggal selama dia berada di rumah sakit, dan lain-lain. Helaan nafas keluar dari sela-sela bibir ranumnya dan berharap jika dia telat nanti Hibari tak akan memberikan hukuman yang terlalu berat.

Saat dia sampai di gerbang sekolah, Hibari yang berlaku sebagai ketua Komite Kedisiplinan berjaga di depan gerbang karena bel masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ada beberapa anak yang telat dan sedang di introg oleh anggota Komite Kedisiplinan yang lainnya. Tsuna meneguk salivanya gugup dan melanjutkan berjalan menuju gerbang.

"Sawada Tsunayoshi."

"Hi-Hibari-san..."

"Kau telat."

Tsuna makin gugup karena mata abu-abu besi milik Hibari menatap lurus kepadanya, "Y-Ya, aku tahu aku telat. Maaf..."

"Hmph. Kali ini kutoleransi karena kau baru saja keluar dari rumah sakit."

"Terima kasih, Hibari-san." Tsuna memberikan senyuman kecil.

"Jika lain kali kau telat, kau akan tahu akibatnya." Iris abu itu dilirikkan kepada dua tonfa kesayangannya yang sekarang terletak manis menggantung pada sabuk di pinggangnya. Tsuna mengangguk dan berjalan cepat menuju gedung sekolah.

...

Saat Tsuna membuka pintu, dia menghela nafas panjang karena guru belum datang ke kelasnya. Di saat pintu kelas terbuka, Yamamoto dan Gokudera yang sedang berbincang-bincang refleks langsung melirik ke arah pintu lalu terkejut mendapati si brunet datang ke sekolah.

"Juudaime!"

"Tsuna!"

"Gokudera... Yamamoto..."

Mata emerald Gokudera langsung berlinang oleh airmata, tetapi langsung dihapusnya karena dia ingat ini masih di kelas. Jika bukan kelas, mungkin sekarang dia sudah memeluk erat si brunet, "Juudaime... Apa tidak apa-apa sekolah? Bagaimana keadaanmu?" Tanya Gokudera dengan penuh kecemasan, Tsuna memberikan senyuman hangat untuk menenangkan Gokudera yang terlihat benar-benar mencemaskan dirinya.

Yamamoto tersenyum dengan bahagia dan merangkul Tsuna dengan menaruh tangan kanannya ke bahu si brunet, "Kami senang kau bisa sekolah lagi, Tsuna. Sekarang aku tak harus menenangkan Gokudera yang selalu cemas lagi."

"Oi!"

Tsuna tertawa kecil, "Ayo kembali ke bangku masing-masing, guru bisa datang kapan saja."

Gokudera dan Yamamoto tak bisa menahan kebahagiaan bahwa Tsuna telah kembali dengan sehat.

...

Tanpa Tsuna sadari istirahat siang telah tiba.

Tsuna samar-samar mengingat apa saja yang telah dia lakukan dari pagi sampai sekarang.

"Tsuna, makan siang bareng yuk!" Ajak Yamamoto yang menghampiri meja Tsuna, si brunet yang dipanggil dan diajak oleh sahabatnya itu mengangguk dan membereskan mejanya dari buku sebelum mengambil bekal yang disiapkan ibunya di tas. Tak lama kemudian Gokudera pun ikut bergabung dan berdiri di samping Tsuna sambil membawa bekal roti dan susu kepunyaannya.

"Yuk ke atap." Ajak Tsuna.

"Oi! Yamamoto!" Terdengarlah suara seseorang memanggil dari ambang pintu kelas, refleks Yamamoto melirik dan terlihat agak terkejut saat melihat wajah yang familiar baginya, "Senpai? Ada apa – ah... hari ini aku sudah janji untuk menemani senpai untuk mengecek barang-barang di gudang. Ahahahaha, aku lupa." Tsuna dan Gokudera yang melihat sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas.

"Kayaknya akan lama, jadi kalian duluan ke atap ya. Nanti ku-susul." Ujar Yamamoto.

"Oke." Jawab Tsuna dengan senyuman. Dan Yamamoto pun buru-buru keluar kelas dan mengikuti kakak kelasnya yang berasal dari klub baseball sama seperti dirinya, "Jadi, Juudaime. Ayo cepat ke atap, nanti waktu istirahat keburu habis."

"Un."

...

Seketika angin sepoi-sepoi segar langsung menerpa tubuh Tsuna yang pertama membuka pintu meuju atap. Seperti biasa keadaan atap Namimori ini sepi dari orang lain – kenapa? Bukankah atap salah satu tempat enak untuk nongkrong? Tidak, tidak. Atap sekolah SMP Namimori ini sepi karena Hibari sering menjadikan tempat ini menjadi tempat tidur kesukaannya. Makanya tak ada yang berani ke atap selain Tsuna, Gokudera dan Yamamoto yang cukup dekat dengan Hibari. Kalau soal Gokudera – dia tak takut hanya karena Hibari mempunyai pandangan mata yang seram dan selalu membawa kedua tonfa kesayangannya.

"Ayo pergi ke sebelah sana, Gokudera." Ujar Tsuna yang dijawab oleh anggukkan dari Gokudera. Mereka pun pergi ke tempat yang terkena bayang-bayang dari bangunan lain.

"Goku-"

Sepasang tangan langsung merangkulnya kedalam pelukan hangat.

"Gokudera...?"

"Juudaime..."

Gokudera terus memeluk Tsuna tanpa mengatakan apapun, Tsuna kemudian menyadari bahwa kedua tangan yang merangkulnya itu sedikit gemetaran – entah karena apa, Tsuna kurang tahu. Tapi setidaknya dia tahu bahwa sahabatnya ini mencemaskannya. Tak lama kemudian Tsuna membalas pelukan Gokudera degan lembut. Tentu, Tsuna tak tahu apa yang harus dia ucapkan sekarang, bisa saja kata-kata yang dia ucapkan akan berefek buruk bagi Gokudera. Jadi setidaknya hanya ini yang dia bisa lakukan.

"Juudaime..."

"Hm?"

"Aku mencemaskanmu..."

"...Un."

"Saat tahu kamu dibawa ke rumah sakit... aku pikir... aku takut kamu-"

"...Un. Aku tidak apa-apa."

"Juudaime..."

"Gokudera... Coba angkat kepalamu dan lihat aku." Gokudera kemudian menmberi jarak diantara mereka dan melihat sosok Tsuna yang begitu dekat dengannya. Tsuna tersenyum hangat dan mengelus pipi si silver dengan lembut, "Lihatlah Gokudera. Aku sudah tidak apa-apa. Jangan kau cemas lagi. Aku memang terlihat lemah – atau memang aku lemah. Tapi aku tak akan meninggalkanmu."

"Juudaime..." Entah sudah berapa kali mulutnya mengucapkan 'nama' yang sangat berharga baginya itu. Tak lama kemudian Gokudera tersenyum dengan kebahagian yang meluap-meluap dari dalam dirinya – tentu saja wajah seperti ini hanya dia perlihatkan kepada Tsuna seorang.

"Baiklah. Ayo makan, waktu istirahat keburu habis." Ujar Tsuna dengan senyuman.

"Un!"

...

Saat pulang sekolah, Tsuna kembali datang ke rumah sakit yang sempat dia tempati selama kurang lebih seminggu. Tapi Tsuna sekarang bisa lega dia datang sebagai yang menjenguk – bukan yang dijenguk. Tsuna sudah muak dengan pemeriksaan bertubi-tubi yang dia terima selama di sini, rasanya tak bisa bebas melakukan sesuatu. Tubuhnya pun bergidik jijik saat mengingat makanan di sini. Ah sudahlah, daripada itu, dia mencoba memfokuskan pikirannya kepada Giotto yang masih belum sadar.

Gerakan kakinya lihai menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang begitu banyak. Langkah kakinya pun terhenti saat pintu putih (semua pintu di rumah sakit ini putih sih) yang sangat familiar baginya. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari dia menjenguk kakaknya saat masih dirawat di salah satu bangsal rumah sakit. Dengan harapan penuh bahwa kakaknya sudah bangun dan menyapanya saat dia membuka pintu, Tsuna pun memberanikan dirinya untuk membuka pintu.

Suara decitan pintu pun terdengar.

Dunia memang kejam.

Dunia memang selalu kejam.

Keadaan kamar yang sepi menyambut Tsuna. Tak ada sosok yang akan menyanbut dirinya seperti yang dia bayangkan, tak ada senyuman yang akan menyambutnya disaat dia membuka pintu putih itu. Dengan langkah yang berat Tsuna mendekati sosok kakaknya yang masih terbaring dia atas ranjang butih, di ruangan yang serba putih pula dengan bau obat yang menyeruak ke hidung. Sejujurnya Tsun sudah muak dengan keadaan rumah sakit.

Tak bosan-bosannya Tsuna melihat dan meraba sosok Giotto itu, sambil berharap dengan sepenuh hati Giotto akan membuka matanya di kala dia datang. Tapi sepertinya Tuhan sedang sibuk sampai-sampai tak mendengarkan permintaannya. Tsuna pun mulai berpikir negatif. Mungkin ini efek dari stress yang terpendam didalamnya sejak kejadian yang terjadi di kampus Giotto.

"Gio-nii..."

Tak ada jawaban.

"Kumohon bangunlah."

Masih sama.

"Gio-nii..." Butiran air mata mulai memenuhi ujung mata Tsuna saking tak kuatnya melihat sosok kakaknya yang seperti ini. Dengan perlahan Tsuna mendekati sosok Giotto, mata chocolate caramel-nya menatap dalam kakaknya – kemudian ditutup dengan perlahan dan mengecup pelan dahi si blonde. Hangat. Hangat. Setitik air mata meluncur jatuh dari mata Tsuna dan terus turun sampai menyentuh wajah Giotto yang damai.

Bibir ranum itu menjauh setelah mengecup dahi orang yang paling disayangnya, begitu pula badannya yang tadi sangat dekat. Kelopak mata itu mulai dibuka dan –

Ada sepasang iris biru langit menatapnya.

'Biru...?'

Perlu beberapa saat bagi Tsuna agar benar-benar bisa mencerna apa yang baru saja dia lihat.

"Gi-Gio-nii...?"

Lidahnya kelu tanpa arti memanggil nama itu.

Sebuah senyuman tipis pun dia dapat.

"Tsuna..."

Tanpa pikir panjang, Tsuna langsung melempar dirinya kepada sosok yang sangat dirindukannya. Giotto yang baru saja bangun dengan keadaan tubuh yang kaku diamana-dimana ditambah oleh luka yang ia derita langsung merintih kesakitan saat beberapa tempat tertindih oleh Tsuna dengan keras. Dalam sisi Giotto – ia mulai mempertanyakan bahwa apa saja yang terjadi kepada kampusnya selama ia di... rawat? Memori Giotto mulai kacau balau dalam hal ini – ditambah lagi sakit yang amat sangat pada kepalanya yang menyerangnya sekarang.

Tsuna yang menyadari Giotto merintih kesakitan langsung menjauhkan dirinya dari kakaknya dengan perasaan penuh bersalah, "Gi-Gio-nii?! Ma-Maaf! Apa ini karena aku? Ta-Tapi-" Tsuna mulai salah tingkah dan berniat untuk mengambil alat yang digunakan untuk memanggil suster yang terletak di sebelah kanan. Melihat sosok adiknya yang imut itu, Giotto langsung tertawa kecil tapi langsung diberhentikan karena saat ia tertawa, tubuhnya sakit karena guncangan.

Melihat Tsuna yang sedari tadi masih mengoceh dengan tak koheren tentang kondisi Giotto yang mungkin memburuk karenanya, Giotto menggunakan segenap kekuatan yang ada dalam dirinya saat ini untuk mengangkat tangan yang kanannya yang tak terpasang infus untuk menyentuh pipi Tsuna dengan lembut, "Tsuna..."

"Gio-nii...?"

"Maaf telat membuatmu cemas."

"E-Eh? Kenapa Gio-nii yang minta maaf...? Gio-nii gak salah..."

Giotto tersenyum dengan lembut.

"O-Oh ya. Apa aku harus panggil suster? A-atau ada yang Gio-nii inginkan? Minum? A-Atau..." Tsuna pun mulai panik lagi.

"Ah, Tsuna-ku tersayang. Kenapa kau begitu baik kepadaku? Percayalah, rasanya kau yang lebih mengkhawatirkanku daripada ibu."

"Karena aku mencintai Gio-nii."

...

Apa?

"Eh...?" Tsuna mendekati Giott lagi dan menggenggam erat tangan kakaknya dengan penuh afeksi dan resolusi. Dia sudah tak akan gundah ataupun mempertanyakan perasaan yang selama ini dia simpan, dan ini adalah waktu baginya untuk mengungkapkan itu kepada orang yang paling disayanginya.

"Aku mencintai Gio-nii." Ujar Tsuna sekali lagi dengan senyuman.

"Y-Ya, aku mencintaimu juga, Tsuna."

Tsuna menggeleng kepalanya pelan.

"Bukan cinta sebagai keluarga... Aku mencintai Gio-nii sebagai seorang laki-laki, bukan adik..."

Giotto mulai salah tingkah karena adiknya yang biasanya pemalu dan tsundere itu tiba-tiba mengutarakan perasaannya dengan terbuka seperti ini. Padahal baru saja ia bangun setelah mengalami kejadian di kampusnya, entah ia harus bersyukur atau apa... tapi yang ia benar-benar rasakan adalah suatu kebahagiaan yang meluap-luap dari dirinya.

"Tsu-Tsuna... Kau tahu benar 'kan apa yang kau katakan?"

Tsuna mengangguk.

Giotto mulai merasakan pandangannya mulai kabur karena air mata sudah mulai memenuhi matanya. Betapa bahagianya ia saat ini, entah sudah berapa lama ia menantikan hal ini. Dadanya sakit, amat sakit saking bahagianya. Akhirnya perasaannya tersampaikan jelas kepada orang yang paling dicintainya – tetapi ada sedikit perasaan bersalah di dalam dirinya karena sudah menarik adiknya kepada jalan yang penuh duri ini.

Dengan tenaganya yang tersisa, Giotto berusaha bangun dan berhasil duduk dengan susah payah menggunakan salah satu lengannya. Ia sempat merintih kesakitan saat tak sengaja menggerakan tangan yang terdapat infus itu, Giotto bisa merasakan keberadaan si selang kecil yang menyalurkan cairan dari botol menuju tubuhnya itu. Dengan tangan yang bebas dari infus Giotto menarik Tsuna mendekati dirinya.

Kedua bibir itu pun bersatu.

Tsuna yang awalnya terkejut dengan perlahan menutup matanya dan mencium balik Giotto.

Ciuman itu tak lama tapi cukup untuk mengekspresikan perasaan masing-masing. Giotto kemudian memberi jarak diantara mereka dan menatap Tsuna dengan ekspresi dan senyuman penuh kebahagiaan.

"Aku mencintaimu, Tsunayoshi."

Rona pipi Tsuna pun makin merah.

"Aku juga... mencintaimu, Gio-nii."

Kedua bibir itu pun kembali bersatu.

Ya... Giotto sangat bahagia. Tetapi tetap tak bisa menyaingi rasa bersalah yang berada di sisi paling dalam hatinya – ia telah menarik adiknya ke jalan yang penuh duri namun dipenuhi rasa nikmat.

Giotto hanya bisa berharap dirinya dan adiknya bisa bertahan di jalan berduri ini.

To Be Next Choice

A/N;

Lama tak jumpa dan selamat tahun baru.

Maaf karena tak kunjung memberikan chapter baru belakang ini, author's block begitu menghantui saya. Dan entah kenapa belakangan ini saya lebih tertarik kepada digital drawing daripada lembar kosong yang menunggu untuk disiratkan kata-kata.

Terima kasih telah membaca, saya harap kalian menyukai chapter kali ini. Untuk chapter yang akan datang saya akan fokus kepada konflik yang akan datang diantara Giotto dan Tsuna dengan perasaan Gokudera yang juga mencintai si brunet.

Have a good day.