After The Wedding

Genre : Romance & Drama

Rate : T

Ini FF Remake dari novel karangan Kim Ji Oh"After The Wedding". Saya hanya mengedit nama tokoh, dan sedikit mengubah bahasa cerita. Typo dimana-mana.

Pairing : Yewook. Yang lain temukan sendiri. GS

Nb:

DLDR

Chapter 7

Malam BerhujanMata, keingintahuan, keingintahuan…yang bisa melihat menembus sisi gelapdari sebuah kenyataan dan sebuahbenda. Keingintahuan yang sudahmenjadi kebiasaan membuat kita dapatmelihat sisi baru dari sebuahkeseharian
.

.

Tuk. Tuk. Tuk tuk.

yesung langsung membuka matanya saat mendengar ketukan di jendela mobilnya. Ia melihat ke sekeliling dengan kebingungan untuk sesaat. Ah… tepi sungai, Aria, hujan deras, lalu istrinya. Istri yang masih tertidur di pelukannya.

Tuk. Tuk tuk tuk.

Terdengar suara tidak sabar dari luar. Terlihat seseorang dari kaca jendela mobil yang berembun. yesung sedikit membuka jendela mobilnya. Seorang paman tua yang memakai jas hujan dan topi terlihat sedang berdiri di tengah hujan yang masih turun dengan deras.

"Ada apa?"

"Ada apa? Ya ampun, lihat orang yang sedang tidak sadarkan diri ini! Lihat, Anak Muda. Sekarang sudah jam berapa? Kenapa masih membawa mobil dan memarkirnya di sini? Sepertinya ini mobil Seoul, cepat pinggirkan mobilmu! Gawat kalau sungainya sampai meluap! Untung aku ke sini untuk melihat jaring ikanku. Kalau tidak, mobilmu bisa terseret air sungai yang meluap! Cepat pinggirkan mobilmu, cepat!"

"Baiklah. Terima kasih."

yesung sangat berterima kasih pada paman itu, tapi juga tidak suka melihat paman yang memandangi istri yang berada di pelukannya dengan penasaran, sehingga ia cepat-cepat menutup kembali jendela mobilnya. yesung membaringkan istrinya di kursi sebelahnya dan menyelimutinya dengan jasnya. Ia pun mulai memundurkan mobil setelah merapikan bajunya. Paman tua yang baik itu menunjukkan arah kepada yesung dengan cahaya lenteranya. Mereka masih berada di jalan yang tidak terlihat seperti jalanan, tapi setidaknya mereka masih hidup. Mobil yesung pasti sudah berantakan. Walaupun begitu, yang penting mereka selamat.

"Di mana rumah Anda? Saya akan mengantarkan Anda." Yesung menghentikan mobilnya di sebelah paman tua yang telah berjasa dan menawarkan untuk mengantarnya. Paman tua yang menghentikan langkahnya, berpikir sejenak, lalu mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

"Mungkin jembatan kanal yang terhubung dengan jalan raya menuju Seoul sudah sangat
berbahaya sekarang. Daripada pergi kesana dan membahayakan diri sendiri, lebih baik kalian tidur di rumahku. Rumahku memang akan terlihat menyedihkan bagi orang sepertimu yang memiliki mobil sebagus ini, tapi rumahku adalah tempat yang paling bagus menghangatkan badan di hari seperti ini, karena aku masih memiliki sistem penghangat
tradisional. Sepertinya kau juga mengajak istrimu ke sini. Rumahku di atas sana, rumah yang lampunya masih menyala itu. Ikuti aku pelan-pelan, ya."

"Ah, terima kasih banyak. Kalau begitu, kami akan menginap sehari."

"Bagus, bagus. Ikuti aku."

yesung mengikuti penyelamatnya yang masih dapat berjalan dengan cepat. Pada saat bersamaan, yesung menelepon beberapa orang. Kantor, bibi yang bekerja di rumahnya, lalu
Seong Bok-Dong. Yesung memberitahukan keberadaannya dan alasan ia berada di sana. Sepertinya hujan tidak turun sederas ini di Seoul. Semuanya sangat terkejut. Hujan regional.

Malam masih belum terlalu larut, tapi suasana di sekitar terasa seperti sudah tengah malam saat mereka tiba di sebuah pinggiran daerah permukiman yang sangat kecil. Anak-anak paman itu telah meninggalkan rumah, sehingga hanya ia dan istrinya yang tinggal di
sana hari ini. Rumah paman itu bisa dikatakan sebagai hotel mewah jika dibandingkan
dengan rumah keluarga kandung yesung di Geo Je-Do. Kamar mandi yang terus-menerus dialiri air hangat, kamar hangat dan terlihat menyenangkan, istri paman yang tersenyum malu untuk menutupi rasa terkejutnya. Bahkan, anjing penjaga pun langsung keluar dari kandangnya yang kering dan nyaman saat melihat mobil dan orang asing yang datang.
Pemandangan yang sangat menakjubkan.

"Maaf karena saya datang tiba-tiba. Bibi, Paman telah menyelamatkan nyawa saya dan istri saya untuk menginap di sini. Saya mohon bantuannya."

"Ya ampun, bantuan apa,sih. Walau kau bersedia untuk menginap sehari, Bibi tidak bisa
menyediakan apa-apa, lho. Jangan terlalu sopan. Bibi jadi merasa tidak enak. Cepat masuk ke dalam. Kau bisa terkena flu kalau berlama-lama berada ditempat yang lembab."

yesung memarkir mobilnya di sepetak ladang kosong, lalu menggendong
istrinya. Menggendong tanpa membangunkannya, berusaha membawanya ke ruang utama
dan berusaha agar istrinya tidak kehujanan, sehingga yesung harus bergerak cepat tapi tetap lembut. Bibi rumah membantu yesung melepas sepatu ryeowook.

"Ya ampun, cantik sekali. Istrimu? Kau pintar memilih istri. Setelah dilihat-lihat, kau juga terlihat sangat elegan. Masih belum punya anak, ya? Ya ampun, anak kalian pasti cantik. Kalian harus cepat-cepat punya anak. Ya ampun, lihat jari kakinya. Jari kakinya
cantik dan panjang seperti jari tangan."

Bibi mengantar mereka ke sebuah kamar yang dilengkapi tempat tidur murahan dari besi sambil terus berbicara. Walaupun, terlihat murahan, tempat tidur itu dilengkapi selimut
cantik yang bersih dan bermotif bunga. yesung tidak perlu mengkhawatirkan udara dingin dari luar lagi karena udara hangat menyelimuti kamar ini.

"Anak lelakiku dan istrinya menggunakan kamar ini setiap mereka datang saat perayaan Myung Jeoul, tapi kau sudah membersihkannya hari ini, jadi kalian bisa menginap semalam
di sini. Aku mengeset pemanas agar mengeluarkan uap hangat, jadi kalian tidak akan kepanasan. Kalian belum makan, kan? Cepat mandi dan makanlah. Bangunkan istrimu. Bibi masak nasi dulu, ya."

"Terima kasih banyak, Bibi."

"Ya ampun, tidak usah berkata begitu."

Tempat tidur besi itu mendecit dengan sangat keras saat yesung merebahkan tubuh istrinya di atasnya. Begitu kerasnya sampai ryeowook terbangun dari tidurnya.

"oppa, ini di mana…?"

Ekspresi wook langsung mengeras saat mendengar penjelasan singkat yesung, tapi akhirnya wajahnya melembut lagi.

"Kita hampir terkena masalah besar. Untunglah. Aku akan keluar untuk menolong Bibi, kau mandi duluan, ya. Aku juga akan meminjam baju ganti kepada mereka."

yesung menggenggam tangan istrinya yang terlihat ingin buru-buru keluarkamar. ryeowook berbalik heran, dan yesung menatapnya canggung. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat, tapi yesung ingin menyelesaikan pembicaraan mereka, karena istrinya adalah orang yang sangat penting dan tidak perlu hidup dengan selalu mengkhawatirkan hal
tidak penting itu.

"wookie."

"Ya?"

yesung memeluk istrinya dan menciumnya sekilas.

"Aku juga mencintaimu."

"Iya."

"Hanya kamu. Jadi, jangan bertanya lagi… bagaimana bisa aku bersabar untuk hidup denganmu."

"Iya."

ryeowook menjawab dengan setengah hati dan bergegas keluar ruangan. yesung hanya bisa menghela napas panjang.

"Haah… wookie, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus…"

Krieeet.

Tempat tidur terus berdecit, membuat yesung khawatir istrinya tidak dapat tidur nyenyak di tempat seperti ini. yesung bangun dan melepaskan kasur di atasnya. Sepertinya masalah tidak terletak pada kasur itu. Yesung memeriksa setiap bagian tempat tidur dengan teliti.

Tak. Tak. Krieet…

yesung menekan-nekan beberapa bagian dengan seluruh tenaganya, sampai akhirnya terdengarlah suara decitan tersebut. Sesuai perkiraannya, ternyata baut tempat tidur sudah
memerlukan obeng. yesung teringat kotak perkakas di mobilnya. Lalu ia menuju ke mobilnya

Saat kembali dari mobilnya untuk mengambil obeng, yesung berpapasan dengan paman pemilik rumah yang memakai celana training kuning dan sedang duduk di lantai ruang utama sambil merokok. Sebenarnya yesung ingin langsung kembali ke kamar, tapi ia merasa itu bukan tindakan yang sopan. Yesung pun membungkuk dengan santun dan duduk di samping paman itu. Hujan masih mengguyur halaman, sedangkan bau sup tho jang memenuhi seantero rumah.

"Hujan tidak turun sederas ini di Seoul."

"Kau sudah menghubungi orang rumah? Wajar, sih, hujan memang turun lebih deras di sini dibandingkan di tempat lain. Kita tidak bisa berpatokan dengan perkiraan cuaca. Orang sepertiku sih sudah terbiasa, tapi para pendatang tidak tahu apa-apa tentang ini dan
langsung terisolasi di sini. Karena itu, aku selalu pergi keluar dan mengecek keadaan saat cuaca seperti ini untuk jaga-jaga."

"Aku ingin berterima kasih sekali lagi. Jika paman tidak ada, entah apa yang akan terjadi padaku dan istriku. Aku bahkan merinding walau hanya membayangkannya."

"Anak muda ini benar-benar sopan, ya. Walaupun begitu, tidak usah sesopan itu padaku. Setelah dilihat-lihat, sepertinya kau memiliki kedudukan yang tinggi di Seoul, walaupun orang kampung seperti kami tidak akan tahu pekerjaan seperti apa yang kau miliki, sih."

"Ah, tidak. Sepertinya Paman seumuran dengan ayah kandungku. Jadi…"

"Ayah kandungmu sudah meninggal?"

"ya begitulah."

"Walaupun begitu, kau telah tumbuh menjadi anak yang sopan. Ia pasti sangat bahagia di surga. pasti…"

Meski paman itu bilang bahwa ayah yesung ada di surga, yesung yakin ayahnya takkan pernah bisa menginjakkan kaki di sana. Namun, yesung tidak berkomentar apa-apa, karena ia tidak ingin terkesan mempertanyakan kata-kata paman tersebut. yesung tidak mau memberi tahu seorang paman bahwa orang jahat juga eksis di dunia. Ekspresi yesung berubah. Ia hanya dapat menatap jejak air hujan di halaman tanpa berkata apa-apa.

.
.

Sepertinya menu makanan di desa mana pun selalu sama. Kimchi selada yang cukup matang, mentimun musim panas yang lembut, kacang-kacangan, ikan teri, sup tho jang , nasi putih, dan ikan bass mentah (sejenis ikan kembung yang dapat di temukan di sungai Han bagian selatan) yang biasanya akan dikeluarkan saat tamu datang. Paman pemilik rumah dan istrinya duduk berhadapan dan berbagi cerita tanpa henti. Mereka bilang, sudah lama mereka tidak makan masakan seenak ini. Suara hujan deras membuat seusana menjadi lebih hangat, sehingga mereka semakin menikmati makan malam yang penuh kebebasan ini. ryeowook, yang belum pernah makan ikan air tawar, memandang piring berisi ikan bass dengan penuh sangsi. Walaupun begitu, ia tetap mengambil sepotong dan mengolesinya dengan sambal pedas manis sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Tiba- tiba ia merasa mual.

"Uh, uugh…"

"wookie!"

"Ya ampun, ada apa ini? Ikan ini masih segar, aku baru saja menangkapnya di sungai. Mungkin kau harus melihat keadaannya."

"Mungkin ada alasan lain kenapa ia muntah, suamiku."

"Haaah?"

Suami istri tua itu saling bertukar pandang, seakan mereka telah mendapatkan rezeki dari Tuhan, tanda mereka mengetahui sesuatu. Yesung hanya bisa bangun dan menyusul
ryeowook ke kamar mandi. Ia tidak punya tenaga untuk mencoba mengerti maksud kedua orang tua itu.

"wookie."

"Uuugh… mungkin ini karena ikan air tawar. Terlalu amis. Uuugh…"

" masih mual? Iya?"

"Ah, sudah membaik, kok. Maaf, bagaimana ini?"

"Jangan khawatir. Sini."

ryeowook memencet tombol flush toilet yang terlihat menyedihkan, lalu keluar dari kamar mandi menuju pelukan suaminya. yesung memeluknya dan membelai pundaknya. ryeowook menghela napas panjang, meresa lega.

"Aku tidak bisa makan lagi. Aku akan langsung ke kamar, jadi tolong sampaikan permintaan maafku kepada Paman dan Bibi, ya?"

"Iya."

Yesung menggendong ryeowook. Ia memandangi wajah pucat istrinya dengan penuh
kekhawatiran. Ia ingin segera membawa istrinya pulang ke rumah.

"Kau mau pulang? Di sini tidak terlalu nyaman, ya? Mau pulang?"

"Tidak, aku akan membaik kalau sedikit beristirahat, kok. Lagipula, aku sudah tidak apa-apa. Aneh, ya? Sepertinya perutku mual karena ikan yang terlalu amis. Turunkan aku dan keluarlah, oppa. Aku sudah tidak apa-apa."

yesung menurunkan ryeowook di tempat tidur. Kali ini, tempat tidur yang telah ia perbaiki tidak berdecit. ryeowook tersenyum tipis.

"wae?"

"Tidak, tempat tidur ini. Hmph… coba pikir, deh. Kenapa kedua orang tua yang rajin itu tidak memperbaiki tempat tidur ini? Aku jadi agak curiga. Kamar ini hanya dipakai saat anak lelaki mereka dan istrinya datang, kan? Hihihi! Pasti mereka sangat khawatir karena harus tidur di atas tempat yang terus berdecit ini. Pasti kedua orang tua itu melakukan trik ini agar menantu mereka sedikit merasakan penderitaan, kan? Kau memperbaiki ini hanya dengan obeng, kan? Paman itu juga pasti bisa melakukan hal yang sama. Konyol, ya?"

"Mungkin aneh, sih."

"Benar, kan?"

"Iya."

ryeowook melihat tempat tidur ini dari perspektif yang bahkan tidak terbayangkan oleh yesung. Ryeowook dapat melihat konflik yang dialami anak lelaki dan menantu pasangan tua yang baik hati itu. Konflik antara mertua dan menantu. Konflik yang terlihat di mata ryeowook dan Ibu yesung. Benar begitu? Akankah tempat tidur ini berdecit lagi saat kami pergi besok pagi?

TBC


maap kalo ada sesuatu yang tidak benar, typo, dll. saya males ngedit lagi. saya lagi ujian ;-; stres jadinya ;-; see you di chap selanjutnya.

kayanya ini bakal saya singkat aja. jadi chapnya gak banyak-banyak.

thanks.