After The Wedding
Genre : Romance & Drama
Rate : T
Ini FF Remake dari novel karangan Kim Ji Oh"After The Wedding". Saya hanya mengedit nama tokoh, dan sedikit mengubah bahasa cerita. Typo dimana-mana.
Pairing : Yewook. Yang lain temukan sendiri. GS
DLDR
Chapter 8
Sebuah kenyataan penting mengenai cinta yang sudah ada dari dulu. "kita takkan dapat mencintai jika takut terluka." Itu bukan salah cinta, melainkan salah seseorang yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah sosok yang sangat lemah.
.
.
.
Pagi yang cerah telah menjelang. Cahaya matahari musim panas yang menyengat menyinari seluruh desa.
"anak muda, walaupun hujan sudah berhenti, tapi genangan air ada dimana-mana. Jadi berhati-hatilah jika menyetir."
"iya paman. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku."
"ah, ada satu hal lagi. Sekali-sekali ajak istrimu ke rumah sakit. Kalau dilihat dari kejadian kemarin kau akan mendapat berita baik. Jangan menganggapku berbicara yang bukan-ukan, ajaklah istrimu kerumah sakit. Harus!"
"ah.. eum..."
Selama ini yesung tidak mempermasalahkan jika belum memiliki anak, tapi sekarang hatinya berbunga-bunga saat melihat mata paman tua itu yang penuh keyakinan. Yesung dan ryeowook kemudian pamit dan mereka mengucapkan terimakasih dan kembali ke seoul. Melewati jalan yang kosong melompong. Suangai han yang dipenuhi air bercampur tanah merah. Mulai terlihat di balik jendela mobil.
"wookie, kau mau ke rumah sakit?"
"eh? Waeyo?"
" lebih baik kita langsung ke rumah sakit."
Perasaan ryeowook tidak enak. Tangannya mulai gemetar lagi, tapi ia sembunyikan dengan berpura-pura memegang cincin nikah yang ia kenakan dan memutar-mutarnya. Ia merasa ketakutan. Ketakutan ryeowook menjadi kenyataan, handphonenyaberbunyi, pasti itu ibu mertuanya. Dan dengan cemas ia mengangkat panggilan dari ibu.
"halo."
"wookie? Ini ibu. Kamu dimana? Dirumah hanya ada ahjumma."
"apa kabar bu? Aku dalam perjalanan menuju seoul bersama yesung oppa."
"kau dari vila di Yong In?"
"ridak bu, dari sekitar sungai han bagian selatan."
Padahal, sudah dengan jelas yesung menceritakan hal kemaren kepada ibunya, tapi kenapa ibu yesung berpura-pura tidak tau? Terdengar seperti ingin mencari kesalahan ryeowook.
Ibu yesung terlihat penyayang dan tidak pernah menyudutkan ryeowook jika di depan yesung. Namun, berbeda jika sudah berada di belakang yesung. Tak seorangpun tau jika ibu yesung telah membuat hati ryeowook berdarah.
.
.
Walau ryeowook mengatakan ia baik-baik saja, tapi yesung teta menuju rumah sakit. Namun anehnya, yesung mengajak wook ke dokter kandungan untuk memeriksakan kesuburannya. Setelah melakukan tes urine dsb, hasil menunjukkan jika sang istri tercinta tengah hamil. Yesung yang menerima kabar ini hanya mengucapkan terimakasih seperti orang bodoh, walaupun dokter hanya melakukan hal-hal sederhana. Namun, yesung sangat bahagia. Dokter kemudian menasehati ryeowook suapaya ini itu dsb untuk ibu hamil. Saat dokter mengatakan anak pertama, air mata ryeowook hampir saja tumpah. Ia hanyam memandangi pinggiran meja sambil mengangguk lemah, ia menarik napas dan akhirnya mengeluarkan isi hatinya.
"aku ingin pergi kerumah keluargaku."
Dokter mengangguk dan menepukkan tangannya dengan keras. Mereka telah membuat hati yesung memburuk. Sebenarnya, ryeowook tidak ingin pergi kerumah keluarganya. Ia hanya ingin keluar dari rumah karena merasa tidak nyaman disana.
Yesung memeluk pinggang ryeowook saat mereka berjalan ke tempat parkir.
"sebaiknya kita mengabarkannya ke Seok Bok dong dan Banpho." Kata yesung.
"nanti saja, oppa."
"waeyo? Semuanya pasti akan senang mendengar kabar baik ini."
"nanti saja!"
Ryeowook mengeluarkan amarahnya. Setelah melihat reaksi keras istrinya. Yesung merasakan firasat buruk yang sempat menghilang.
'apa yang kau sembunyikan dariku, wookie-ah? Sebenarnya apa yang kau takuti?' batin yesung.
Ryeowook naik ke mobik setelah melepaskan genggaman yesung. Lalu berbicara dengan nanda tegas.
"ke Banpho sekarang."
"istirahat dulu dirumah. Besok kita kesana setelah memberskan barang-barang."
"tidak. Aku akan pergi hari ini."
"wookie, jangan begitu."
"kumohon, aku ingin pergi hari ini. Aku tidak mau berdebat tentang ini lagi. Ya?"
"iya."
Suara yesung bergetar, lalu seketika sunyi. Ryeowook menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil memejamkan mata rapat-rapat, tapi ia tetap tidak bisa menghapus bayang-bayang di kepalanya. Sosok yesung yang berterimakasih dengan suara bergetar. Yesung tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Ia sangat bahagia karena akan segera memiliki keturunan. Harapan ryeowook akan semakin besar jika terus teringat peristiwa itu. Harapan hangat yang akan menjadi luka.
Yesung melirik ryeowook saat menyetir. Ryeowook terlihat menderita, ia bereaksi sangat aneh dan sangat tidak nyaman. Ryeowook masih saja terlihat seperti hewan buruan yang berdiri di depan ujung senapan seorang pemburu. Ia bahkan tidak menutupi kegelisahannya. Atmosfer di dalam mobil yang tertutup tidak nyaman.
"a-apartmen di banpho sangat sempit. Kau tidak apa-apa disana?" tanya yesung hati-hati.
"sempit apanya? Aku hampir tinggal 20 taun tinggal disana. Pasti oppa merasa tidak nyaman, kan? Oppa bisa ke seong bok-dong."
"tidak.. akan menyulitkanku jika aku berangkat bejerja."
"ibu oppa pasti tidak tinggal diam. Pergilah sebelum ibu bicara apa-apa."
"ryeowook!"
Apakah pasangan suami-istri berbincang seperti ini yang akan memiliki akan memiliki anak setelah tida tahun menikah? Istri yang merasa tidak nyaman dirumah. Istri yang mengatakan akan menyiapkan semua sendiri. Istri yang mementingkan perasaan mertuanya daripada perasaan suaminya yang terluka.
"wookie-ah~ apa kau tidak senang mendengar kabar kehamilanmu?"
Akhirnya, pertanyaan itu keluar juga. Lama ryeowook tidak bersuara dan kemudian ia menjawab.
"tidak."
.
.
.
Banpho daerah rumah keluarga ryeowook. Apartemen sederhana yang hampir 20 tahun ryeowook tinggal disana. Bagi ryeowook ini adalah tempat yang nyaman.
"aku masuk sendiri. Oppa langsung kekantor saja. Oppa ada janji penting kan?"
"aku akan mampir nanti malam. Kau mau oppa bawakan sesuatu?"
"tidak ada."
"arraseo."
Yesung menghela nafas panjang setelah melihat istrinya dari belakang. Langkah lelah istrinya yang cantik membuat dadanya terasa berat. Baru saja yesung akan menginjak gas mobilnya, ryeowook berbalik dan memanggilnya. Yesung membuka jendela mobil dan memandang ryeowook. Ryeowook berbijara dengan wajah merona.
"me-melon. Nanti melon."
"iya akan aku belikan sayang."
Yesung senang mendengar ryeowook ingin makan melon, ini hanya melon yesung -_- satu kalimat dari ryeowook dapat merubah perasaan yesung dari neraka ke surga.
0o0o0o0
"ibu aku datang~" ucap ryeowook dengan suara lemas.
"siapa? Ryeowook kah?"
"ne~ ini aku ibu."
"ya ampun ada apa ini? Luar biasa."
"ah, aku lelah bu. Aku tidur sebentar ya?"
"iya, iya."
Ibu ryeowook memasang telinga setelah ryeowook memasuki kamarnya dulu, berjaga-jaga jika sura tangisan keluar. Yang terdengar hanya suara orang berganti pakaian dan merebahkan tubuh di atas kasur. Tenang. Ryeowook pernah datang secara tiba-tiba dan menginap empat hari tahun lalu. Babak belur. Setelah keguguran, hati ryeowook sangat sakit seperti ada bongkahan batu besar di dadanya, lalu jiwanya juga ternoda oleh dosa yang tidak termaafkan. Ibunya sangat khawatir, takur kejadian sama terulang.
Ryeowook teringat kembali saat datang pertama kali datang kerumah mertuanya. Awalnya di sambut hangat, tetapi setelah yesung pergi. Ibu yesung menorehkan luka di hatinya. Ryeowook merasa ditusuk dari belakang. Ibu yesung selalu memarahi ryeowook, tapi ryeowook hanya bisa ketakutan dan tidak melawan sama sekali. ibu yesung pun mulai memperlihatkan watak aslinya dan terus menekan ryeowook jika tidak ada yesung. Selalu menyalahkan orang tua ryeowook. Ryeowook juga mengingat bagaimana ia menyampaikan kehamilannya di awal-awal pernikahan mereka ke ibu yesung. Ibu yesung benar-benar tidak senang mendengar kabar itu, ia mengatakan hal-hal yang membuat hati ryeowook terluka lagi. Ryeowook sampai berlutut memohon kepada ibu yesung supaya ia bisa melahirkan anak pertama mereka, tapi apa yang ryeowook dapat. Ibu yesung mencengkram tangan ryeowook dan menyeretnya ke tangga. Jika ryeowook lengah, ia akan kehilangan anaknya. Dan benar ibu yesung melepas cengkramannya dan ryeowook kehilangan keseimbangannya, ia terjatuh terguling dari tangga. Hilang sudah harapan ia melahirkan anak yang ia nanti-nanti. Ibu yesung benar-benar hebat menutup rapat mulut menantunya bahkan ayah yesung dan yesung tak tau akan hal itu.
.
.
Sabtu sore, yesung datang terlambat ke kantor. Yesung duduk memandang keluar jendela sambil menyandarkan tangan di meja yang berisi tumpukan dokumen yang harus di tandatanganinya. Semakin ia menunggu, semakin jauh terasa jam pulang kerja, sampai akhirnya, ia tidak bisa melepaskan diri dari pikirinnya. Jelas-jelas ryeowook baru saja mengatakan bahwa ia mencintai yesung sore itu. Kenapa, kenapa ryeowook memasang wajah sedih dan berkata tidak senang mendengar kabar kehamilannya? Ada masalah apa sebenarnya?
Yesung hanya bisa pasrah menghela napas panjang. Ia menoleh kearah foto ryeowook yang ia letakkan di mejanya. Ryeowooknya yang dulu dan sekarang berbeda. Ryeowook sama-sama cantik baik dulu maupun sekarang, hanya sekarang mata yang dulunya bercahaya kini cahaya meredup, senyum ceria ryeowook yang dulu sering di tunjukkan pada yesung juga hilang entah kemana. Yesung mengambil patung marmer kecil buatan ryeowook. Semakin ia mengkhawatirkan ryeowook, semakin ia teringat akan ibunya. Yesung tidak tau kenapa, tapi sepertinya hubungan ryeowook dan ibunya tidak terlalu baik.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat saat yesung dan ryeowook tiba dirumah setelah dari banpho.
"oppa.. aku ingin melon lagi." Ryeowook mengutarakan keinginannya, ah ryeowook mengidam melon lagi.
"wookie mau setiap malam oppa belikan melon?"
"yak oppa." Ryeowook mempoutkan bibirnya membuat yesung gemas.
"arraseo. Oppa belikan. Wookie masuk rumah dulu."
Yesung memandangi ryeowook yang berjalan riang dari tempat parkir ke dalam rumahnya. Ia merasa senang karena sepertinya istrinya kembali ceria. Istrinya yang cantik walau hanya memakai kaus lusuh dan celana pendek. Lalu, ada nyawa baru di balik baju itu. Yesung benar-benar bahagia.
Pintu rumah terbuka. Ada apa ini? Ahjumma belum pulangkah? Aneh. "ahjumma, kenapa pintunya terbuka? Masih..."
"ternyata kau sering pulang selarut ini."
"ibu."
"penampilanmu!"
Malam sudah sangat larut, tapi ibu yesung masih tetap datang kerumah ryeowook. Entah sejak kapan ibu yesung menunggu diruang tamu yang gelap yang hanya diterangi cahaya temaram lampu meja. Ibu yesung menatap ryeowook seakan banyak yang ingin disampaikan. Seketika ryeowook merasa pusing dan mual.
"ibuu..."
"berisik! Siapa bilang aku ibumu. Berani-beraninya kau memanggilku ibu dengan mudahnya."
"ibu salah paham."
"salah paham? Kalau begitu, jelaskan keberadaanmu seharian ini kepada ibu mertuamu ini suapaya mengerti."
"aku, itu..." seketika ryeowook tidak bisa meneruskan ucapannya. Ia takut. Ia tidak bisa mengatakannya. Ia takut jia ibu yesung mengetahui akan kehamilannya. Ia takut kejadian lalu terulang lagi. Ia berharap yesung segera kembali.
"kenapa kau tidak bicara? Pasti kau menyembunyikan sesuatu, apalagi penampilanmu seperti ini. Kalau yesung tau kau berpergian dengan penampilan seperti ini pasti ia sudah marah besar padamu. Pasti ia tidak tau karena sampai saat ini ia diam saja. Kau pintar sekali. kau berencana pergi keluar dan mencari jalan pintas karena kau lelah menunggu yesung untuk mengajakmu berpisahkan? Iyakan?"
"salah paham,bu. Ini salah paham."
"diam! Aku akan menunggu yesung pulang dan menyelesaikan semua. Dasar licik!"
"aku tadi bersama yesung oppa bu, sungguh."
"bohong! Aku tadi menelponnya ia sedang berada di kantor! Memangnya kau ikut kekantornya, hah?"
"bu-bukan begitu..."
"bukan begitu? Dasar. Mengangkat anak seperti ini menjadi menantu..."
Ibu yang salah paham dan sedang menetapkan hati. Ryeowook selalu tidak bisa menjelaskan dirinya didepan ibu yesung. Hatinya serasa disayat-sayat, tidah berdaya, sesak, ingin lari, lehernya selalu sesak oleh penyesalan.
"kami takkan berpisah bu."
Airmata ryeowook mengalir. Ia berbicara dengan susah payah di sela tagisannya. Namun, seperti biasa ibu yesung menatapnya dengan tajam dan berbicara keras.
"lihat penampilanmu! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu. Kau menganggap enteng diriku, ya, karena aku dari tadiduduk dan berteriak padamu! Aku takkan membiarkan masalah ini lewat begitu saja."
Ryeowook menangis, tenggorokkannya tercekat, sementara suara tajam ibu yesung memenuhi seisi rumah.
Buk!
"ibu!"
Melon berwarna hjau menggelinding di pintu rumah yang terbuka. Yesung menatap ibunya tidak percaya. Ibu yesung menoleh kearah yesung saat mendengar teriakannya.
"apa maksud ibu? Apa.. apa ibu selalu seperti ini kepada ryeowook jika aku tidak ada?"
"yesung! Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau... duduklah disini."
Suara ibu yesung tiba-tiba melembut sambil menyeret yesung ke sofa. Sosok ibu yang selama ini yesung kenal. Ryeowook tidak percaya dengan perubahan dimatanya, sementara yesung selalu berusaha keras menenangkan hatinya.
"minta maaflah kepada ryeowook bu."
"apa?"
"minta maaf bu. Dengarkan penjelasanku dulu dan jangan salah paham lagi. Minta maaflah sekarang."
"hah? Terserah ibu mau salah paham atau tidak. Ibu ingin mencoba mendengarkan penjelasanmu, ibu sudah kehabisan kata –kata."
"ryeowook mengandung bu. Tadi aku mengantarnya kedokter dan dokter menyuruhnya untuk tinggal dirumah keluarganya... tapi kami pulang lagi karena kami tidak membawa pakaian."
"anak bodoh itu hamil lagi?"
Yesung memandang ibunya. Hamil lagi? Yesung mengerutkan keningnya, sepertinya ada yang terlewat oleh yesung. Ia memandang ibunya dan ryeowook bergantian dan keduanya tidak terlihat akan membuka mulut. Yesung memandang keduanya dengan ekspresi kacau. Ibunya menggigit bibirnya sementara ryeowook hanya menundukkan kepalanya.
"ini pertama kalinya ryeowook hamil kan bu?"
"mungkin."
Jawaban ibunya membuat yesung bingung, sementara ryeowook menatap yesung dengan takut-takut sambil menggelengkan kepalanya. Yesung kesulitan menahan pikiran-pikiran mengerikan yang berkelebat dikepalanya. Ibunya orang yang mengajarkannya bahwa nyawa hal yang paling berharga didunia ini. Tidak mungkin. Benar tidak mungkin. Yesung berkata sambil terus menatap ibunya yang selalu bersikap elegan dengan seksama.
"ibu... aku senang mendengar kabar kehamilan ryeowook. Apa ibu juga senang?"
"tidak tau."
"apa maksud ibu?"
"maksud ibu, kau harus memastikan dulu apa anak yang dikandungnya benar anakmu atau bukan, yesung-ah."
"tentu saja anakku bu."
"kau benar-benar bodoh ya. Kau memang selalu memihaknya. Lihat penampilannya. Kau pikir penampilannya cocok untuk perempuan yang sudah menikah? Mau dilihat sisi manapun..."
Yesung mempertlihatkan ekspresi jijik karena ibunya tidak kunjung mau meluruskan kesalah pahamannya. Lalu, yesung mengucapkan kalimat yang seharusnnya tidak ia ucapkan di depan ibunya. Mengucapkan kalimat itu dengan mata yang penuh amarah.
"aku yang menyuruhnya."
"apa?"
"aku yang menyuruhnya memakai pakaian itu. Apa aku perlu menjelaskan lagi apa ibu mengerti."
Ibu yesung terkejut. Kalimat yang dikeluarkan yesung sangat tajam untuk dikatakan didepan orangtua. Yesung memandangi ibunya dengan ekspresi seperti orang kesakitan. Ia berharap semuanya akan tersenyum dan masalah ini akan lewat begitu saja. Yesung kemudian menatap ibunya lembut. Ia berharap ia bisa segera keluar dari situasi ini, keran peristiwa seperti ini akan menjadi luka bagi ibunya, yesung sendiri, dan khususnya ryeowook. Ia ingin menuntaskan masalah ini untuk selamanya.
"ibu tau semuanya akan jadi seperti ini! Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, ya? Ibu telah membesarkan dan mendidikmu dengan susah payah. Ternyata kau tetap tidak bisa lepas dari bibit aslimu yang kotor dan tidak jelas asal-usulnya!"
Ibu yesung mengeluarkan seluruh amarahnya dengan suara tajam. Ia merasakan penghianatan yang amat dalam saat melihat anak angkatnya lebih memihak istrinya. Wajah yesung menjadi kaku. Kerutan baru muncul di tengah dahinya. Matanya menjadi menakutkan lagi. Ryeowook meraka sesak. Ia tidak sanggup melihat pertengkaran antar yesung dan ibu angkatnya, sehingga ia memutuskan untuk keluar ruangan. Tak seorangpun memperhatikan ryeowook. Ibu dan yesung saling menatap tajam.
Yesung tidak dapat memandang ibu angkatnya yang telah membuka aibnya yang terdalam. Aib yang ingin ia sembunyika selamanya jika bisa. Hidup dengan berpura-pura bahwa aib itu bukanlah kenyataan. Anak yang dilahirkan dan diperlukan seperti keponakan. Masa lalunya yang kotor dan menjijikkan, asalnya, akarnya. Tapi, bukan orang lain, melainkan ibunya sendiri yang mengatakan hal itu kepadanya. Yesung bahkan tidak pernah membayangkan hal ini. Ibunya benar-benar menusuknya dari belakang. Yesung masih ingat bagaimana dulu ia diangkat menjadi anak dari ibunya sekarang. Air mata yesung mengalir.
.
.
Malam sudah larut. Ryeowook keluar dengan menyetir mobil, tapi ia tak memiliki tujuan. Pikirannya kacau. Ia tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya menyetir sampai daerah olympic. Mengarahkan mobilnya kekanan, sampai akhirnya ia tiba di ujung jalan. Ia sudah berada di incheon. Entah karena sudah malam atau karena ini adalah perjalan jauh pertamanya, ryeowook tiba dibandara internasional dua jam kemudian.
Walaupun sudah larut, bandara masih tetap dipenuhi orang-orang yang akan berpergian. Ryeowook menatap langit dengan hati-hati. cahaya lampu bandara menyinari langit sehingga terlihat seperti siang. Langit yang membuat pesawat yang sangat besar terlihat sperti sebuah titik kecil.
'aku ingin pergi jauh. Bersembunyi agar tidak ada yang dapat melihatku. Jauh dari suami yang kucintai, tapi aku memang tidak sanggup jika harus berada disampingnya terus. Jauh dari ibu mertua yang tidak pernah bisapuas walau aku sudah berusaha sekuat tenaga. Aku ingin melepaskan semuanya dan bersembunyi dengan anakku.'
"apa?"
"paspor, nona. Anda tidak punya paspor?"
Ryeowook sudah masuk kebandara, tapi bukan berarti ia bisa langsung keluar negri. Ada hal-hal yang menghalangi ryeowook. Ryeowook berdiri sambil memegang tas jinjing kecil.
"jika nona butuh paspor..."
"tidak perlu,pak. Tidak perlu."
Ryeowook berjalan meninggalkan loket bandara dengan langkah gontai. Terlihat taksi yang berjejr panjang diluar. Ryeowook masuk kesalh satu taksi tersebut dan mengistirahatkan badannya.
"mau kemana nona?"
"jangan ke seoul, kesuatu tempat di incheon."
"apa nona?"
"incheon, hotel di incheon. Ah apa namanya, ya? Yang didaerah dermaga."
Akhirnya taksi tersebut melaju ketempat tujuan yang dimaksud ryeowook. Untuk sesaat, ryeowook melupakan kesedihannya. Ia tertidur didalam taksi yang melaju epat dijalanan malam yang kosong melompon. Ia membuka mata mata saat subuh menjelang. Ia melihat laut, laut di depan dermaga.. dan akhirnya ia tiba di hotel.
Setelah mendapat kamar, ryeowook memutuskan utuk tidur. Tidak lama ryeowook terbangun, ia mengeluarkan napas panjang. Ia bermimpi buruk. Ryeowook berusaha bangun dari tempatnya. Tiba-tiba ia merasa lantai di hotelnya sangat menjijikkan. Ia bangun dan berjinjit menuju kamar mandi.
"uukh... ukkhh..."
Ryeowook mengeluarkan isi perutnya dengan hebat. Ia berpegangan pada tepian kloset. Ia merasa sangat lelah, seperti berada didalam kapal yang mengarungi laut berombak tinggi. Ryeowook mengerutkan keningnya. Akhirnya, ryeowook ingat kemana ia pergi dan alat transportasi apa yang ia gunakan. Kapal malam dari incheon. Kapal yang melintasi laut kuning yang pergi menuju pulau jeju.
TBC
maap jika banyak typo, dll. saya lagi-lagi males ngedit. badan saya remuk -_-
-sjmungil-
