Disclamer © Mashashi Kishimoto
Rate : T+
Warning : Typo's(EyD), OOC, dst
Tiga
Angin Musim Semi yang Hangat
.
~o0o~
.
Kini kami duduk di salah satu sudut ruangan yang menghadap ke jendela, di sini terlihat sangat nyaman. Aku sedikit terpana dengan apa yang kulihat, semua di sini benar-benar mengagumkan. Ada beberapa lukisan yang sangat indah, dan aku sedikitnya tahu siapa orang-orang yang melukisnya. Oh, Kami-sama itu lukisan antik. Belum lagi patung, guci, dan beberapa perabotan unik. Ini menakjubkan.
Pemandangan di sini memang sangat indah. Tapi, jangan lupakan pria brengsek yang menculikku ini. Lihat saja wajah iblis itu, memandangku tanpa henti. Dia fikir dia siapa? Melihat seseorang dengan lapar seperti itu. Apa dia fikir aku wanita murahan seperti wanita-wanitanya? Oh, singkirkan fikiran busuk itu.
"Pelayan, kemarilah!" Dia memerintah sok angkuh. Lihat mata itu, sedikit saja dia tidak melihat pelayan itu dan malah asik menatapku. Kurasa aku sedikitnya bisa membaca fikiran brekseknya.
"Sayang, kau mau makan apa?" Bibirnya sedikit tersenyum. Oh, astaga sejenak aku melupakan jika dia iblis.
"Aku tidak bernafsu." Aku palingkan saja mukaku, siapa yang tidak bernafsu makan? Jika ada seorang pria tampan nan menggoda dan yang kau tahu dia iblis brengsek sedang memperhatikanmu dari tadi.
"Nicoise Salad, Foie Gras, Beef Bourguignon, Soupe A l'oignon…" Pria brengsek itu berucap lanyah. Makanan jenis apa itu? Mendengar namanya saja aku tidak mengerti.
"Sayangku yang manis," Tangan brengseknya mulai meraba tangan kananku, dia mengecupnya tanpa meninggalkan mata nakalnya memandangku. Cih, sial sekali, bergerak sedikit saja aku tak bisa. Apa pesona iblis memang seperti ini? Ini sialan!
"Wajahmu sangat manis, tanganmu sangat lembut. Oh, sial, kau manis sekali." Pria brengsek ini menyisir rambut hitam anehnya dengan jari-jari yang panjang. "Ijinkanlah lelaki yang merana ini mengetahui siapa namamu?" Dia meraih lagi tangan kananku dan menciuminya tanpa henti.
"Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku manis. Hm, kau masih marah?" Mata itu menatap penuh rasa lapar. Cih, sial. Kenapa juga pria brengsek ini harus tampan.
"Kau menculikku. Terus aku harus mengatakan apa lagi?" Aku berusaha menahan setiap kegugupan di dadaku. Sial, sial, sial! Mengapa dia tidak bosan memandangku sih? Sialan juga dengan perasaan brengsek ini, kenapa pula aku merasa nyaman dengan pandangannya itu. Ini sialan!
"Jangan menyudutkanku sayang, biarkanlah lelaki yang merana ini mengetahui nama wanita manis ini."
"Sepertinya wanita manis ini sama sekali tak tertarik dengan pria brengsek seperti Anda." Aku hanya bisa tertawa dalam hati dan memandangnya penuh kemenangan.
"Oh, kau mau mencoba bermain tebak-tebakan dengan pria kesepian ini ya." Dia memandangku dengan mata kanan yang berkedip nakal.
"Ana?"
"Angel?"
"Meirin?"
"Hikari?"
"Oh, ayolah manis, katakan siapa namamu sebenarnya? Anggaplah pria yang merana ini benar-benar ingin mengetahui nama wanita manis di depannya ini." Dia terlihat sedikit memutar otaknya. Ok, kali ini aku menang dua bung.
Aku tak pedulikan semua argumen konyol pria brengsek ini. 'Pria malang yang merana?' hahaha… ingin sekali aku ambil air minum dalam gelas salah satu tamu yang ada beberapa meter dari sini, lalu menyiramkan air warna kuning bening itu di muka brengsek pria di depanku ini. Wow, entah mengapa aku senang dengan pemikiran sok anarkisku kali ini. Aku hanya memandangnya tanpa tertarik menjawab semua pertanyaan bodohnya itu. Selamat menikmati argumen-argumen bodohmu bung! Berterima kasihlah padaku, karena setidaknya aku menikmati saat-saat kau kalah dua dari ku.
"Ok, aku kalah. Aku mengaku kalah kali ini, maka ijinkanlah pria malang ini mengetahui namamu sayang." Dia seperti memohon padaku, entah mengapa sebersit ada setitik rasa kasihan padanya.
"Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan manis. Bagaimana jika aku coba menebak namamu dari apa yang aku ketahui tentang wajah dan tubuh manis mu itu sayang." Dia merasa sok menang karena telah membuatku melototinya dengan tajam. Gila nih pria, sejauh mana dia tahu tentang tubuhku? Brengsek sekali dia berani berfikir tentang tubuhku.
"Ok, kumulai dari warna rambut manismu? Warnanya sangat indah seperti bunga sakura yang mekar. Aromamu memabukkan bagai kuncup yang baru bermekaran. Kau seperti bunga sakura yang mekar di musim semi." Aku sedikit tersentak dengan ucapan pria brengsek ini.
"Apa aku mulai bisa menebaknya sayang?" Sambil mengedipkan mata kanannya dia terlihat sangat memikat. Sialan, sekilas dia terlihat sangat memikat.
"Jangan berfikir aku akan dengan mudahnya memberi tahukan nama kepada pria brengsek sepertimu." Sial, entah kenapa sedikit saja aku ingin berteriak senang karena dia hampir bisa menebak siapa namaku.
"Bagaimana dengan nama Sakura? Kurasa nama itu cocok untukmu yang sangat manis ini." Dia mengecup lagi ujung tanganku sekilas.
"Terserah kau saja, aku tidak peduli." Aku terlihat senang sekali, rasanya benar-benar ingin berteriak dan mengatakan. Kau hebat bung! Kau benar menyebutkan namaku kali ini. Tanpa ku sadari aku tersenyum sedikit kepadanya. Ok, kali ini dia merasa senang, dia menang.
"Wow, apa aku benar kali ini? Ternyata perasaanku memang benar. Namamu Sakura."
"Kau baru menang sekali. Jadi jangan tersenyum menjijikkan seperti itu. Jangan merasa kau menang kali ini lalu kau merasa bisa mendapatkan yang kau mau dariku."
"Hm, kalau apa yang kuingin darimu belum bisa kudapat hari ini. Kurasa aku akan mendapatkannya dalam waktu dekat." Brengsek sekali dia, memandangku sambil mengusap-usap bibir dan menjilat sekilas ibu jarinya. Sialan brengsek!
Ok, hari ini berapa kali aku mengumpat? Aku tidak bisa menghitungnya. Salahkan pria brengsek di hadapanku ini.
Menepis semua perasaan brengsek tentang pria ini. Aku lebih memilih diam saja. Peduli amat nih iblis memandangku terus, biar saja matanya rabun, kuharap ada serangga hinggap di matanya. Hahaha… memikirkannya membuatku ingin tertawa, andai itu terjadi kurasa aku orang pertama yang akan bertepuk tangan.
"Oh, Sakura sayang. Sial kau sangat manis sekali jika tersenyum seperti itu." Breksek, kenapa pula aku terbawa suasana dan lupa keadaan, saking senangnya dengan fikiran konyol ini aku malah tersenyum.
"Apa kau terpesona ketampananku lagi manis?" Brengsek, sekilas ada kilatan nakal di matanya.
"Cih, mimpi saja sana." Kudengar dia sedikit tersenyum.
"Kau manis sekali dengan ekspresi itu. Kau membuatku lapar sayang." Pria ini mengusap-usap bibir tipis itu dengan ibu jari panjangnya.
Cih, sial. Ini pertanda bahaya. Mau kabur, sialan aku tidak mengenal tempat ini. Mau menelfon Ino atau Hinata. Sialan pula kenapa pulsaku tadi belum sempat kuisi. Apa aku harus merendahkan diriku dengan meminjam handphone si brengsek ini? Oh, lebih baik aku mati saja.
Kriuk.
Perutku yang lapar selalu bisa merusak suasana. Sial, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mukaku. Kurasa pria bengsek ini tersenyum lagi. "Sayangku yang manis, kelihatannya perutmu tidak mau diajak kompromi."
Ok, kali ini aku siap terjun dari lantai tiga kampusku. Demi dewa Jasin-nya Hidan sialan itu. Ok, siapa saja tenggelamkan aku sejauh mungkin ke dasar laut. Aku tidak mampu melihat wajah sialan pria ini. Malu? Ok, kau benar kali ini. Tapi, kurasa egoku lebih tinggi dari pada itu. Biarkan dia puas melihat wajah maluku. Bodoh amat, nanti sepulangnya aku dari sini. Aku akan meminjam sabun busa lavender milik Hinata dan akan meminjam lilin aroma terapi milik Ino. Aku akan berendam dalam air hangat yang nyaman.
Sial! Aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Pria ini menculikku. Berfikir tentang berendam air hangat dengan aroma terapi Itu konyol di saat genting seperti ini. Pemikiran seperti itu harus aku kesampingkan. Bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan utuh tanpa kekurangan apa pun? Nah, itu baru benar.
"Permisi Uchiha-sama. Ini makanan yang Anda pesan tadi." Pelayan itu berlalu dengan sopan.
Kurang ajar. Makanan apa ini? Mereka terlihat sangat enak sekali. Oh, astaga aku bahkan sempat menelan ludahku karenanya. "Sakura yang manis, kelihatannya kau sangat lapar. Makanlah!" Pria brengsek itu mulai memasukkan irisan daging ke mulutnya. Lihat cara makannya, dia terlihat sangat sopan. Kurasa batas kesopanan pria ini terbalik dengan otaknya yang mesum itu.
"Aku tidak bernafsu." Kurasa berbohong kali ini tidak ada salahnya.
"Kurasa tubuhmu yang kurus itu perlu nutrisi yang banyak." Kurang ajar. Aku pelototin saja mukanya yang sok malaikat itu. Brengsek sekali dia, sudah menculikku, memandangku dengan muka mesumnya itu, kini dia menghina penampilanku. Brengsek sialan!
"Ok, baiklah kau menang kali ini. Makanlah, setelah ini kuantar kau pulang." Cih, sialan pria brengsek ini. Tunggu dulu, dia bilang apa? Mau mengantarku pulang? Jadi dari tadi dia cuma mau menghina postur tubuhku saja. Trus dia merasa akan kurang puas denganku yang agak kurus ini. Oh, sial. Tidak hanya brengsek dan mesum. Pria ini juga bajingan sialan!
"Aku tidak tahu apa isi kepala manismu itu? Kurasa kau perlu makan kali ini. Kau bisa sakit. Oh, astaga apa aku harus menyuapimu dengan mulutku? Kita juga bisa bermain sedikit dengan lidah manismu itu." Bajingan mesum sialan. Mukaku yang tadinya sudah sangat malu, kini kurasa sudah bertambah lagi kadar malunya. Oh, brengsek. Muka mesum itu tetap terlihat nakal.
Kulihat dia mulai mengiris daging di mangkukku. Pandangan mata itu. Sebenarnya aku perlu juga mengutuk nenek moyangnya. Kenapa pula bajingan sialan ini memiliki pandangan mematikan? Aku sedikit tersentak dengan pandangan tajam itu.
Ah, bodoh amat. Sudah terjebur kalau tidak minum air sekaligus kurasa belum sempurna. Kumakan saja beberapa potongan daging yang di iriskan pria brengsek ini. Oh, Kami-sama. Ini makanan apa? Lembut sekali, enak sekali, belum lagi sausnya yang nikmat. Ini pertama kalinya aku memakan masakan seperti ini. Sialan, tangan dan mulutku tidak bisa berhenti memakan setiap hidangan yang tersaji di depan mataku.
Saking asiknya mencicipi semua hidangan yang tersaji, aku melupakan posisiku, melupakan pula kalau ada sesosok iblis mesum bajingan di depanku. Kurasa dia telah menghentikan makannya sejak beberapa saat yang lalu. Melihatku yang seperti orang rakus. Ok, aku sudah gila, batas kewajaran dalam otakku telah menipis. Aku sampai melupakan cara makanku yang tidak meninggalkan adat desa, dan menyantapnya tanpa rasa malu. Sekarang aku kenyang.
Dan, sialan! Salahkan mulut dan tanganku yang tidak bisa berhenti saat menikmati hidangan-hidangan nikmat di depanku, walau kini hampir semua masakan di sini tersisa sedikit karena ku. Tetap saja Dewa Jasin-nya Hidan kemarilah! Ajak aku pergi lalu tancapkan pedangmu di perutku. Sialan!
"Kurasa kau baru saja tersadar dari nikmatnya makanan di sini." Bajingan ini menertawaiku, kurang ajar. Ingin sekali aku menjambak rambut anehnya itu. Lalu mencolok mata hitamnya itu dengan kedua jari telanjangku.
"Singkirkan semua fikiran burukmu itu manis. Kurasa aku sedikitnya bisa membacanya dari pandangan mata indahmu itu." Sekali lagi seringai itu menertawaiku.
"Kurasa aku sudah sangat kenyang dan aku ingin menagih janjimu yang tadi? Kau bilang tadi ingin mengantarku pulang." Dari pada memasang ekspresi aneh lagi dan berujung pada tawa mengejek pria brengsek ini. Lebih baik aku menahan rasa maluku, berdiri dan bergegas pergi.
Kurasa ada tangan dingin yang terasa hangat. Gila, ini terjadi lagi. Jantungku tak bisa diajak kompromi. "Duduklah sebentar." Pandangan itu terlihat santai tapi menuntut.
"Jangan bilang kau berubah fikiran? Dan tidak ingin mengantarku pulang." Aku perlu memandang mata itu penuh selidik.
Kurasa aku sedikit berfantasi tentang otak mesumku ini. Sial, sejenak aku berfikir macam-macam. Lihatlah dia cuma merogoh sesuatu dalam saku jasnya. Memindahkan apa yang ada di tangannya ke arahku. "Aku membeli parfu ini waktu di Paris beberapa waktu lalu. Kurasa ini sangat cocok untukmu."
Kurang ajar, kali ini dia sangat kurang ajar, "Hei bajingan brengsek sialan! Apa kau kurang puas menghinaku. Kini kau juga menghina aroma tubuhku juga. Cih, sialan kau brengsek!" Aku menepis tangannya kasar.
"Jangan marah dulu manis. Sebenarnya aku mengajakmu ke sini memang ingin memberikan parfum ini kepadamu. Kurasa kau sangat cocok dengan parfum ini. Aroma parfum ini berbahan dasar bunga sakura, mint, dan kayu manis, ini benar-benar cocok untukmu. Lagipula namamu yang indah sama seperti salah satu bahan dasarnya. Kurasa kau sangat cocok memakainya."
Ok, aku sedikit tertarik dengan parfum itu. Kurasa parfum itu sangat mahal, jika dilihat dari bentuk dan warnanya saja. Sial, aku menginginkannya. "Sorry bung, aku bukan wanita yang bisa kau sogok dengan benda-benda sialan seperti ini. Kasihkan saja pada salah satu simpananmu." Kali ini aku senang dengan egoku yang telah kembali.
"Sakura yang manis, kurasa dari semua wanita yang kukenal. Mereka tak ada yang pantas memakai parfum ini. Parfum ini seperti kamu, wanginya memabukkan, dan juga menenangkan tapi membuat ketagihan." Sialan mata itu kembali menatapku lapar.
"Maaf saja, aku bukan wanita murahan yang dengan gampangnya kau beli dengan barang-barang mahalmu. Aku bukan wanita seperti yang kau fikirkan." Aku munafik kali ini. Aku benar-benar tertarik untuk mencoba parfum itu, tapi egoku yang tinggi ini masih bisa menguasai akal sehatku.
"Oh, ayolah terima pemberianku ini. Kau bukan bagian dari wanita-wanitaku, tapi kumohon terima hadiah dariku ini." Sekali lagi bibir tipisnya itu menyentuh jemariku. Menyalurkan rasa geli yang menggelitik, ini nyaman sekali. Kumohon Sakura kau harus menolak pemberiannya, ini demi kebaikanmu.
Pria ini berkali-kali mencium jemariku. Meyakinkanku untuk menerima tawaran yang menggiurkan ini. Oh, aku tak tahan. Sentuhan ini memabukkan. Ayolah, akal sehatku, kuasai aku terus jangan sampai aku tergoda bujuk rayu iblis sialan di depanku ini. Kurasa aku akan sangat menyesal dikemudian hari jika sampai mengikuti permainan iblis sialan ini.
"Apa dengan aku menerima parfum pemberianmu, kau akan melepaskan tanganku dan mengantarku pulang?" Kukerutkan alisku mencari jawaban.
"Ya, Oh, ya sayang. Kau manis sekali. Aku benar-benar tidak bisa bernafas. Kau memabukkan bagai anggur. Oh…" bibir itu tak hentinya mendesah dan menciumi ujung jemari tanganku. Oh, ini perasaan apa? Aku tak bisa mendeskripsikannya, ini benar-benar membuatku ingin dan ingin di perlakukan seperti ini selalu.
"Terimalah, dan aku akan mengantarmu pulang." Suara itu terdengar sangat berat. Aku lihat dari sudut mataku, dia menarik sedikit nafas dan mulai melepaskan tanganku. "Bagaimana? Kita akan tetap di sini sampai kau menerima parfum ini, atau kau terima parfum ini dan akan ku antar kau pulang secepatnya."
Sialan, bajingan sialan ini menyudutkanku. "Ok, kuterima pemberianmu ini. tapi sebagai gantinya antar aku pulang dan jangan ganggu aku lagi." Kurasa ini harga matiku.
"Ok, Honey. Aku senang mendengarnya. Kurasa aku pun juga tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi jika tidak menyentuhmu lebih dan lebih." Suaranya kali ini benar-benar serak. Matanya yang lapar itu terasa menahan sesuatu, dan kurasa aku tahu apa yang ada dalam fikiran kotornya itu. Oh, itu pun yang dari tadi menguasai sebelah akal sehatku.
"Ok, deal." Aku secepatnya mengambil parfum itu, bukannya aku terlihat matre atau apalah itu. Yang jelas aku tidak ingin merusak lebih banyak lagi otakku ini. Berada lebih lama dengannya bisa membuat daya berfikirku menjadi lebih tidak normal. Dan yang paling parahnya. Kurasa aku bisa terkena serangan jantung karena terlalu sering mendengar detak jantungku yang tak beraturan ini.
"Kau akan sangat sempurna memakai parfum itu sayangku." Kulihat dia sangat puas, "kurasa kau juga butuh istirahat. Bagaimana jika mampir ke apartemenku?"
"Tidak! Kurasa aku lelah hari ini. Dan terima kasih untuk tawaranmu, kurasa aku sedikitnya tahu apa yang ada di fikiran mesummu itu." Ku potong aja ucapannya.
Aku hanya bisa melihat dia sedikit mendesah dan kecewa mungkin. "Manis, aku sedikit kecewa kali ini. Kupikir akan sedikit terjadi sesuatu antara kita. Hm, misalnya olahraga di atas tempat tidurku mungkin." Brengsek sialan! Tatapan nakal apa itu? Memandangku dan tak hentinya mengawasiku dari atas ke bawah tanpa rasa malu.
"Antar aku pulang sekarang, Bajinga Sialan! Apa perlu aku mengatakannya dengan teriak. Ok, kurasa kau pun tidak menginginkannya bukan?" Kali ini aku tak perlu berpura-pura lagi. Menghadapi bajingan sialan seperti dia, tidak perlu sopan santun.
"Hahahaha… tepat seperti yang ku harapkan. Kau tepat sekali seperti yang ku inginkan. Kau membuat ku semakin tertarik sayang." Kulihat dia mulai berdiri dan menghampiriku. Dia berjalan membelakangiku. Kini suara dan deru nafasnya sangat terasa di lekukan leherku. Oh, astaga. Nafasnya sangat hangat.
Jantungku berdetak tak menentu lagi. Kumohon, jangan lagi. Ayolah jantungku, jangan berdetak lebih cepat lagi.
Rasa geli ini. kurasa ini lebih parah dibandingkan rasa menggelitik yang tadi. Tubuhku, oh, kenapa terasa sangat kaku. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Tapi, mulutnya yang kini menciumi lekukan leher kananku terasa sangat menyihirku. Oh, ini perasaan apa? Siapa pun tolong aku kali ini.
"Kau menikmatinya sayang." Tak henti-hentinya aku mendesah dan mengeluarkan suara aneh. Walau aku mencoba menahan suara yang keluar dari mulutku. Tetap saja ini sangat tidak nyaman untukku.
Aku tak bisa berfikir lagi. Sensasi aneh ini telah menguasaiku. Persetan dengan para pelayan yang berjalan dan mencuri pandang ke arah kami. Aku sudah tidak bisa berfikir lagi kali ini. fikiranku benar-benar kosong. "Manis, kurasa kita hentikan dulu sampai di sini untuk hari ini."
Bajingan sialan! Kali ini aku tersadar sepenuhnya dengan apa yang telah aku lakukan, setidaknya aku sedikit berterima kasih karena si brengsek ini telah mau menghentikan aksi gilanya. Tapi, tetap saja. Untuk apa aku berterima kasih? Terjun saja kau sialan ke laut, baru aku akan berkata terima kasih.
Aku tak perlu repot-repot memandang wajah si brengsek di depanku ini. Lebih baik aku berjalan lebih dulu di depannya. Semakin cepat aku sampai ke mobilnya, semakin cepat pula aku akan sampai di kos ku yang nyaman. Semua rasa malu, amarah dan benci kini bercampur jadi satu. Oh, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan si brengsek itu yang telah menodai fikiranku yang jernih ini. dan mengajariku menjadi wanita yang berfikiran tak masuk akal.
Aku kini tak mampu hanya sekedar untuk mendongakkan kepala ku. Lihatlah di sekitarku. Semua pelayan sialan itu memandangku seakan aku ini wanita murahan yang gampang sekali menjual dirinya pada bajingan sialan di belakangku itu. Kurasa kali ini aku bisa merasakan jika bajingan sialan itu tertawa puas dan bangga karena telah bisa mengerjaiku habis-habisan, serta menertawaiku seakan aku ini wanita yang bodoh dan tak punya daya fikiran.
Kali ini ku acungkan jempol untukmu iblis sialan! Sial, sial, sial, bisa-bisanya aku terbuai bujuk iblis ini dan menjadi bahan tontonan seluruh pelayan di restoran ini. Belum lagi beberapa pasangan yang dari tadi memandangku seakan mereka mengejekku. Oh, siapa pun bantu aku untuk mengenyahkan iblis sialan di belakangku. Ingin sekali kali ini aku membunuhnya dengan segera. Membuat senyuman mengejek itu enyah dari muka tampan sialannya.
Aku semakin mempercepat jalanku. Aku lebih baik tak menghiraukan tatapan merendahkan mereka. Kini aku sudah ada di lobi, berharap si brengsek sialan itu menempati janjinya untuk mengantarku pulang. Oh, Kami-sama kumohon berilah pencerahan kepada si brengsek itu kali ini, berikan dia pencerahanmu agar dia tidak mengerjaiku lebih dari ini. Hari ini benar-benar hari yang sangat menyebalkan bagiku, kumohon jangan lebih parah lagi untuk hari ini.
.
.
bersambung
