Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : U. Sasuke & H. Sakura
Story © Biiancast Rodith
Rating: T
Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family
Warning: AU, OOC, Typo(s), Alur kecepetan, abal, EYD, dan masih banyak kekurangan lainnya.
DON'T LIKE? DON'T READ!
Special Thanks
kihara, birupink, Hazel Lane, Qren, sofi asat, hanazono yuri, Dhezthy UchihAruno, Hero-chan, rikkun, Hanna Hoshiko, Luca Marcell, Dijah-hime, Yola-ShikaIno, Willow
Saat ini, Itachi sudah berada dirumahnya. Tepatnya, ia berada di ruangan pribadi milik adik si matawayangnya. Ia memperhatikan adiknya sedang tiduran di atas kasur miliknya.
Sementara si pemilik kamar memberikan tatapan tajam, begitu ia tahu siapa orang yang mengganggu ketenangannya. Itachi, justru semakin dalam masuk ke dalam daerah kekuasan sang adik.
Sasuke mengabaikan sang kakak. Itachi duduk di tepi kasur Sasuke dan memperhatikan Sasuke yang sedang terpejam. Ia yakin, Sasuke sebenarnya penasaran maksud kedatangan Itachi ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun sejak kakaknya itu memasuki daerah kekuasaanya,
Karena biasanya, setiap Itachi datang berkunjung ke kamarnya, kakaknya pasti akan membuat dia jengkel dengan kata sapaan yang diucapkan sang kakak. Kali ini Itachi justru terlihat berbeda dari biasanya. Sejak awal Itachi masuk, ia hanya terdiam dan tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
Sekali lagi Sasuke melirik sang kakak dan tidak ada ekspresi yang terlihat dari wajah sang kakak.
Merasa kembali dilirik sang adik, Itachi berkata " Kau penasaran apa terjadi dengan Sakura?"
Ternyata orang yang ditanyai sepertinya cuek, seakan tidak ingin tahu.
Itachi sangat tahu. Jauh di lubuk hati adiknya Sasuke ingin tahu dan sayangnya sang adik menutupinya dengan wajah dingin miliknya.
"Sakura… " Itachi menggantung ucapannya." Tadi malam dia diperkosa orang yang tak dikenal" Itachi sejenak menghentikan omongannya dan melirik kearah sang adik untuk melihat ekspresi sang adik.
Terlihat rahang Sasuke mengeras dan kerutan muncul di keningnya. Melihat ekspresi seperti itu, membuat Itachi yakin bahwa sang adik mendengarkannya.
"Dan kau ingin tahu siapa orang yang telah melakukan itu kepada Sakura? Polisi mencurigai kau sebagai tersangka Sasuke."
~Flash Back~
Ino dan Itachi kini telah tiba di rumah Sakura. Mereka tidak membutuhkan waktu banyakla mengingat mereka berdua datang menggunakan mobil mewah Itachi.
"Bibi… Sakura dimana?"
Ibu Sakura keluar dari kamar putri tunggalnya ketika ia mendengar Ino telah tiba di rumahnya. "Kau sudah datang nak,Ino? Sakura baru saja tidur." ucap ibu Sakura sambil menutup pintu kamar anaknya dengan sangat pelan, takut mengganggu tidur putrinya.
"Apa Sakura baik-baik saja, bibi?" Melihat wajah ibu Sakura yang terlihat sendu, Ino meminta ibu Sakura untuk menceritakan apa yang terjadi saat Sakura sampai di rumahnya.
Cukup lama Ino menunggu dan betapa shock dirinya saat mengetahui bahwa ibu dari sahabatnya itu menangis dalam diam.
"Bibi, tenanglah." Ino merangkul ibu dari sahabatnya itu dan memberi sedikit elusan di pundaknya untuk menenangkan ibu Sakura.
"Sakura... ia pulang dalam keadaan yang buruk nak Ino. Dari wajahnya terlihat bahwa ia sangat menderita. Tatapannya sangat kosong dan penampilannya jauh dari kata baik."
Mendengar penuturan dari wanita cantik yang sama persis seperti sahabatnya itu membuat Ino semakin tidak sabar menunggu kelanjutannya.
"Maksud bibi apa?" tanya Ino penasaran.
"Sakuraa... dia seperti mendapat serangan dari hewan buas," Ino masih tidak mengerti apa yang dikatakan ibu satu anak itu. Tapi begitu ia mendengar kata selanjutnya, Ino seakan mendapat serangan jantung. "Sakura, diperkosa nak Ino."
Tangisan Haruno Mebuki, kini pecah. Tidak menyangka bahwa putri satu satunya itu mendapat cobaan seberat ini.
"Apa bibi sudah melapor masalah ini ke polisi?"
Hanya gelengan lemah yang diberikan Ibu Sakura, menjawab perkataan Itachi.
"Bibi di rumah saja. Biar, aku dan Ino yang akan melapor ke kantor polisi."
"Baiklah, nak."
Itachi dan Ino langsung bergegas menuju kantor polisi dan melaporkan semua tindakan criminal yang terjadi pada Sakura.
Setelah polisi menerima laporan yang diberikan, Tugas baru telah menanti mereka untuk segera diselesaikan. Tidak banyak bisa dilakukan polisi setelah mereka menerima laporan yang diberikan Itachi, selain melihat langsung tempat kejadian.
Rahang Itachi mengeras saat polisi menemukan barang bukti berupa handphone. Itachi sangat yakin, bahwa dia sangat mengenal pemilik alat komunikasih jarak jauh itu. Dan setelah polisi mengatakan pemilik benda itu, prediksi Itachi tidak meleset saat dia mendengar kepala polisi berkata 'Uchiha Sasuke, saat ini menjadi tersangka utama kasus ini. '
.
.
.
"Jangan gila, Itachi." Maki Sasuke setelah ia mendengar semua perkataan Itachi. "Aku tidak mungkin melalukan perbuatan biadap itu."
"Kau tidak mungkin melakukannya. Tapi, bagaimana bisa handphone milikmu berada di tempat kejadian kalau bukan kau pelakunya?" Itachi ikut terpancing emosi.
Bagaimanapun, dia kecewa setelah apa yang dilakukan adiknya kepada sahabat baik kekasihnya itu. Itachi tidak pernah mengerti jalan pikiran adiknya itu. Sasuke memang jauh lebih tertutup darinya, tapi dia tidak menyangka bahwa adiknya itu melakukan hal terkeji seperti ini.
Mendengar perkataan Itachi, Sasuke kembali memutar ulang memori-nya, sebelum acara perpisahan selesai. Sebelum kata sambutan dari Ketua Osis selesai, Sasuke meninggalkan tempat duduknya, karena panggilan alam.
Setelah selesai Sasuke tidak sengaja bertabrakan dengan Hidan dan kembali memasuki gedung aula. Ternyata acara perpisahannya sudah selasai, dan diganti acara bebas yang artinya; aula sudah kosong dan peserta perpisahan sibuk dengan stan-stan yang ada di halaman sekolah.
Sasuke berkeliling hendak mencari sahabat pirangnya, Naruto. Sekalian untuk menikmati menit-menit terakhirnya di sekolah ini. Untungnya, di tengah perjalanan, dia mendengar suara cempreng Naruto dari arah stan paling ujung yang menjual ramen.
Betapa jengkelnya Sasuke saat mendengar omelan Naruto karena dia tidak membalas e-mail-nya. Saat itulah Sasuke sadar bahwa handphone-nya terjatuh saat dia bertabrakan dengan Hidan.
Sasuke sangat yakin bahwa Hidan-lah yang memungut handphone-nya, karena pada saat itu, yang ada di toilet hanya ada dia dan Hidan. Dan Sasuke juga sangat yakin, bahwa Hidan jugalah yang membalas inbox dan bertemu Sakura malam itu di atap sekolah.
Jika ada seseorang yang harus dijadikan tersangka, itu seharusnya bukan dia. Melainkan, Hidan.
Sasuke bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kakinya menjauhi kasur. Tapi sebelum dia berhasil menggapai kenop pintu, Sasuke berkata "Jika kau tidak yakin kepadaku, maka aku sendiri yang akan membawa tersangkanya ke hadapanmu, Itachi."
Mendengar perkataan Itachi, membuat rasa kecewanya semakin bertambah. Kecewa karena adiknya tidak berkata jujur dan kecewa kepada dirinya sendiri karena tidak mempercayai adiknya.
.
.
Seorang gadis yang kesuciannya dirampas secara paksa, sedang meringkut di dalam selimut tebal miliknya. Sejak kepulangannya ke rumah, yang bisa dilakukannya hanya terbaring di atas kasur empuk dan dibungkus oleh hangatnya selimut.
Menangis dan menangis itu yang bisa dilakukan Haruno Sakura.
Andai saja saat itu dia tidak ingin bertemu dengan Sasuke, mungkin saja kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Sakura sangat tahu, sekarang sudah tidak ada gunanya berandai-andai karena semuanya telah terjadi.
Sakura berpikir bahwa dia sudah menjadi gadis kotor dan hina. Gadis yang sama rendahnya dengan pelacur yang ada di luar. Bagaimanapun, tidak akan ada lelaki yang akan menikahinya karena dia sudah tidak suci lagi. Tidak akan ada orang lain yang menerima dirinya apa adanya.
Dia sudah menjadi sampah dan sambah harusnya dibuang dipembakaran.
Masa depan yang sudah dirancang jauh-jauh hari, seakan hancur seketika layaknya gelas kaca yang hancur berkeping-keping.
Sakura menginjak beling-beling kaca yang berserakan di lantai. Sakit di telapak kakinya tidak seberapa dibanding rasa sakit yang ia rasakan di hatinya. Hiduppun sudah tidak ada lagi gunanya. Sakura bahkan tidak sanggup menyambut hari esok.
"Sakura… kamu baik-baik saja, nak?" Tanya ibu Sakura khawatir karena sedari siang, Sakura belum juga keluar dari kamarnya " Makanlah dulu nak."
Tidak ingin membuat ibunya khawatir, Sakura keluar dari dari kamarnya.
"Ibu, sudah memasak makanan kesukaanmu." Kata ibu Sakura saat melihat putrinya berdiri di depannya. Ia mengelus rambut panjang Sakura yang terlihat kusut.
Mendapat perhatian seperti itu, membuat air mata Sakura kembali meluncur membasahi pipi mulusnya.
"Jangan menangis sayang. Ibu tidak ingin kau menangis." Pelukkan kasih sayang nanhangat dia berikan untuk putrinya itu.
"Ibu…" panggil Sakura disela-sela tangisnya. "Maafkan Sakura, bu. Maaf membuat ibu kecewa."
"Jangan menangis, sayang. Ibu tidak ingin kau menangis. Karena anak ibu lebih cantik saat tersenyum." Bujuk Ibu Sakura sambil menghapus sisa-sisa air mata yang ada di pipi Sakura.
Saat sepasang ibu dan anak itu saling berbagi kasih sayang lewat pelukkan hangat di bawah bingkai pintu, terdengar suara bel pertanda ada tamu yang berkunjung di kediaman mereka.
"Makanlah, nak. Ibu akan membuka pintu." Senyum menenangkan terpancar di wajah cantik ibu satu anak itu.
Alangkah kangetnya Ibu Sakura saat melihat tamu yang datang berkunjung ke rumahnya mala mini.
"Kau!"
.
.
.
TBC
N/a : Hallo semuanya. :D Bii kembali menyelesaikan chapter duanya dengan sangat kilat dan sangat singkat. XD #dilemparbatako gantung banget ya? Hehe Itu sengaja sih. Biar readers penasaran siapa yang datang berkunjung kerumah Sakura. :3
siapa pelakunya? Mungkin readers sudah bisa nebak setelah baca fict di atas. :D Dan sejujurnya ane juga paling gak suka baca berita, nonton film tentang pemerkosaan gitu. T,T itu tindakan yang paling keji setelah membunuh. Ini fict bukan terinspirasi dari film sih. Hanya saja pernah nanya sama seseorang ehemmantanpacarehem, misal aku di perkosa orang, apa dia mau sama aku. Dia jawab ia. XD karena itu aku buat fictnya.
Makasih telah bersedia membaca, meluangkan waktu, mengfollow dan mengfavorite fict abal saya.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih. dan Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya minna. :*
.
.
.
Biiancast Rodith
[03232014]
