Sudah hampir satu harian Sasuke berada di luar rumah mencari keberaaan Hidan. Mengingat sekarang mereka sudah tidak sekolah lagi, membuat Sasuke kesulitan mencarinya. Yang Sasuke tahu tentang Hidan hanyalah sosok laki-laki brengsek. Lelaki yang sering keluar-masuk ruangan kepala sekolah karena kebandalannya.

Sasuke tidak perduli dengan apa yang dilakukan Hidan saat itu, asalkan tidak mengganggu hidupnya. Tapi kini, pria brengsek itu telah melibatkannya ke dalam masalah yang tidak dia bikin sama sekali.

Bagaimanapun, orang yang bertanggung jawab atas kasus ini adalah Hidan. Bukan dia. Di sini, yang jadi korban Sasuke.

Berbicara tentang korban, ada satu orang lagi yang menjadi korban di sini. Korban paling menderita atas perlakuan biadab Hidan. Haruno Sakura, gadis itu mendapat perlakuan yang tidak seharusnya dia terima malam itu. Sasuke dan Sakura memang sama-sama menjadi korban atas perbuatan Hidan, Tapi, apa Sasuke tahu perasaan seorang gadis yang kesuciannya dirampas secara paksa? Tidak. Yang Sasuke tahu, dia harus menyeret Hidan ke kantor polisi karena telah merusak nama baiknya dan menggunakan handphone miliknya untuk menjebak orang lain.

Walau tidak ada didalam pikirannya untuk membantu Sakura, yang pasti setalah Hidan dia temukan dan menyerahkannya kepada yang berwajib, sudah pasti akan membantu Sakura.

Menurut informasi yang ia terima dari Naruto—sahabatnya yang memiliki rambut pirang spike—Hidan setiap malam pasti akan mengunjungi sebuah club tertutup yang jauh dari pusat kota. Saat ini tujuan Sasuke adalah club malam yang berplangkat A+ dan di club inilah Sasuke sekarang.

.

.

.

Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Biiancast Rodith

Warning!

Sekali lagi saya ingatkan kalau tokoh dalam fic ini OOC sangat. Typo(s), EYD tidak beraturan.

Apapun pairingnya, yang penting jalan ceritanya :P

.

.

.

Dunia gemerlap yang beberapa orang sangat suka datang berkunjung datang kemari karena di dalamnya terdapat minum keras dan benda-benda haram lainnya. Tempat yang menjadi surga untuk manusia-manusia brengsek seperti Hidan.

Sasuke melihat pria brengsek yang membuatnya harus menginjak tempat menjijikkan seperti ini. Saat ini, Hidan sedang asik bercumbu dengan seorang gadis murahan di tempat duduknya paling sudut.

Tidak ingin membuang waktunya di ruangan terkutuk itu, tanpa sepengetahuan Hidan, Sasuke menarik kerah baju Hidan dan membawanya keluar dari ruangan pengap itu.

"Apa yang kau lakukan!" Protes Hidan marah karena diperlakukan tidak sopan oleh seseorang.

"Jangan banyak omong, brengsek." Ucap Sasuke dengan geram dan menonjok wajah Hidan.

Hidan yang saat itu telah mabuk karena pengaruh minuman keras, tidak sempat menghindar dan harus menerima kecupan di pipinya dari tinju Sasuke. Sasuke kembali menghadiahkan tinjunya ke perut Hidan. "Rasakan ini, brengsek!"

Tidak terima diperlakukan seperti ini, Hidan melakukan perlawanan. Sayangnya, tinjunya dapat ditahan dengan mudah oleh Sasuke. Lagi dan lagi Sasuke memukul wajah Hidan sampai membuat wajah pria itu babak-belur.

"Bangun, brengsek." Sasuke memaksa Hidan berdiri dan memasukkannya ke dalam miliknya mobilnya. "Sekarang ikut denganku." Hidan yang diperlakukan sepert itu, hanya menurut saja.

.

.

Sasuke sekarang berdiri di depan sebuah rumah bercat merah muda—tidak lupa sambil menarik tangan Hidan yang kesadarannya sudah sangat minim. Sasuke melewati halaman rumah yang cukup luas sebelum ia berhadapan dengan pintu utama rumah itu. Sesampainya di depan pintu, Sasuke menekan bel.

Tiga menit setelah Sasuke menekan bel, pintu ganda yang ada di hadapannya terbuka lebar. Haruno Mebuki, ibu Sakuralah yang membuka pintu rumahnya.

Alangkah kangetnya Ibu Sakura saat melihat tamu yang datang berkunjung ke rumahnya malam ini.

"Kau!"

"Selamat malam, Bi." Ucap Sasuke sesopan mungkin.

"Apa yang kau lakukan di rumahku malam-malam seperti ini?" kata ibu Sakura garang.

Sasuke hanya bisa menghela napasnya kuat-kuat. Sasuke tidak marah diperlakukan kasar seperti ini, mengingat ibu Sakura menganggapnya pelaku atas kasus yang menimpa putrinya. Karena itulah Sasuke datang kemari untuk memberitahukan bahwa bukan dialah pelakunya, melainkan pria brengsek yang terkapar di dekat kakinyalah pelaku yang sebenarnya.

" Maaf sudah mengganggu malam anda, Bi. Tapi kedatanganku kemari untuk memberitahukan kepada bibi, bahwa dialah pelaku sebenarnya." Sasuke kembali menarik kerah baju Hidan.

Ibu Sakura sangat kanget mendengar kabar yang diberikan Sasuke. Dengan secepat kilat, Ibu Sakura menerjang tubuh Hidan yang masih terkapar dan memukul wajah Hidan dengan tinju yang lemah.

Sementara Sakura yang sedang duduk di ruang makan hanya melamun sambil memandangi makanan yang ada di hadapannya. Lamunan Sakura terusik karena mendengar teriakan sang Ibu. Rasa penasaran menghinggapi relung hati Sakura. Penasaran saat mendengar Ibunya teriak dan menangis, Sakura berlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya.

Sakura melangkahkan kakinya semakin jauh dari meja makan. Tujuannya saat ini adalah ruang tamu. Mengingat ibunya tadi permisi kepadanya karena adanya tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka.

"ibu?" panggil Sakura saat melihat ibunya memukuli seseorang yang tebaring lemah di lantai teras rumahnya.

Bukan hanya ibu Sakura saja mengalihkan pandangannya ke sumber suara, Sasuke juga ikut mengalihkan pandangannya kepada seorang gadis yang berdiri kaku di bawah bingkai pintu.

Walau jarak Sasuke dengan Sakura 2 meter, tapi Sasuke bisa melihat ada luka memar di pelipis dan sudut bibir Sakura. Sasuke sangat yakin luka memar yang ada di wajah Sakura, perbuatan Hidan.

Sakura menundukkan kepalanya karena terlalu intens diperhatikan oleh Sasuke. "Untuk apa kau datang kemari?" ucap Sakura dengan dingin. " Pergi. Aku tidak ingin melihatmu lagi."

Mendengar perkataan Sakura, dada Sasuke seakan ditusuk pisau. Terlebih lagi ia melihat air mata yang telah jatuh mengalir membasahi pipi Sakura.

"Sakura, Sasuke datang untuk—"

Tidak ingin mendengar perkataan ibunya, Sakura menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. "Masuk, bu. Aku tidak ingin bertemu lagi dengannya. Aku membencinya." Tangis Sakura kembali pecah saat mendengar nama pujaan hatinya terucap dari mulut ibunya.

Tidak ingin membuat Sakura terusik karena keberadaannya, Sasuke pamit kepada ibu satu anak itu. "Bibi, aku pulang dulu."

Melihat anggukan kecil yang diberikan ibu Sakura, Sasuke kembali membawa Hidan kembali ke mobilnya untuk diserahkan kepada pihak yang berwajib.

.

.

.

Malam semakin larut, tapi pemilik eagle eyes ini masih belum juga tidur dan larut dalam mimpinyanya. Sejak kepulangannya dari kantor polisi, tidak. Tapi sejak meninggalkan rumah Sakura, pikirannya hanya tertuju pada seorang gadis yang beberapa jam yang lalu bertemu dengannya. Anak dari pemilik rumah tersebut, Sakuralah telah mengambil seluruh pusat perhatiannya.

Sejak bertemu dan melihat Sakura menangis di hadapannya, pikiran Sasuke hanya tertuju pada gadis bersurai merah muda itu.

Sedikitpun Sasuke tidak ternah memikirkan seorang gadis, tapi kini pikirannya hanya pada seorang gadis. Sakura, Sakura, dan Sakura. Rasa bersalahkah yang ada dipikirannya sejak dia bertemu dengan gadis itu? Tidak. Yang membuat Sakura seperti itu bukan dia, melainkan Hidan. Tapi kenapa harus dia yang merasa bersalah.

Kembali terbayang wajah Sakura yang penuh dengan luka memar, membuat uluh hati Sasuke kembali rasakan sakit.

"Damn!" umpatnya kesal.

Sasuke bangkit dari tidurnya dan beranjak ke balkon kamarnya. Mungkin angin malam dapat menenangkan pikirannya. Pikir Sasuke.

Sasuke menerawang jauh ke dalam kegelapan malam. Ternyata gelapnya malam dan dinginnya angin di luar tidak membantu Sasuke. Karena ingatannya kembali teringat ke wajah Sakura yang penuh dengan derai air mata.

Rasa kecewa, marah, benci, dan menyesal, terlihat jelas dari sorot mata Sakura saat pandangan mereka berada pada garis lurus. Sasuke sangat yakin, bahwa Sakuta tahu bahwa bukan dia yang melalukan perbuatan kotor itu, tapi kenapa Sakura memandangnya demikian?

Semua ini membuat kepala Sasuke pusing. Bahkan kejeniusannya saja tidak bisa menjawab.

Merasa tenggorokkannya kering, Sasuke keluar dari kamarnya hendak mengambil segelas air. Sebelum mencapai dapur, Sasuke mendengar suara TV yang masih menyala. Di rumah ini hanya ada dia dan kakaknya Itachi. Mungkin Itachi belum tidur, piker Sasuke saat itu.

"Tidak bisa tidur, Otouto?" Tanya Itachi tiba-tiba membuat Sasuke menghentikan langkahnya.

"Hn."

"Tidak bisa tidur karena memikirkan Sakura?" Tanya Itachi lagi.

"Tch. Bukan urusanmu."

"Apa yang kau rasakan setelah melihat Sakura?" Pandangan Itachi masih tertuju pada benda yang ada di depannya. Tapi, pendengarannya seratus persen hanya tertuju pada adiknya. Tidak mendapat tanggapan dari adiknya, Itachi menekan tombol power, membuat benda yang ada dihadapnnya hitam.

"Kasihan?" Tanya Itachi menghampiri Sasuke yang masih berdiri di atas anak tangga paling bawah. "Sakura pasti sangat menderita. Wajahnya yang penuh dengan lebam, bahkan kesuciannnya yang telah dijaga selama 19 tahun, telah direbut orang lain."

Rahang Sasuke mengeras mendengar perkataan kakaknya. Apa yang dikatakan Itachi barusan, sama persis seperti yang ada dipikirannya beberapa saat yang lalu. Bagaimanapun, dia hanyalah seorang lelaki. Seorang lelaki tidak akan bisa merasakan seperti apa kehilangan kesucian seorang gadis. Berbanding terbalik dengan seorang gadis yang kesuciannya diambil oleh suaminya.

"Jika Ino mengalami hal yang sama seperti Sakura, tanpa berpikir dua kalipun aku akan menikahinya. Tidak perduli Ino sudah menjadi bekas orang lain, tidak perduli apa kata orang lain. Karena itu bukan keinginannya. Sama halnya dengan Sakura. Sakura juga ingin kesuciannya diambil oleh suami yang dia cintai. Tapi apa Sakura bisa mengelak setelah semua ini terjadi? Dia hanya bisa menangis. " Jelas Itachi panjang lebar.

" Untungnya itu tidak terjadi pada Ino, 'kan?" Ucap Sasuke jengkel memotong perkataan Itachi.

Itachi tidak menanggapi perkataan Sasuke dan tetap melanjutkan ucapannya " Baru saja aku diberitahu Ibu Sakura, untuk ke tiga kalinya Sakura mencoba untuk bunuh diri. Itu setelah dia bertemu denganmu di rumahnya tadi."

Mata onyx Sasuke melebar mendengar perkataan Itachi.

"Tidak perlu kukatakan kenapa bisa Sakura mengalami ini dan mencoba bunuh diri 'kan, Otouto?" Itachi mencoba memancing emosi Sasuke untuk melihat reaksi adiknya itu.

"Aku sudah ngantuk. Aku tidur duluan. " Sasuke tergesa-gesa memasuki kamarnya mencoba untuk kabur dari kakaknya.

"Itu karena kau Sasuke." Ucap Itachi dengan lantang, agar adiknya yang berada di dalam kamar dapat mendengarnya. "Karena Sakura mencintaimu."

"Brengsek!" Ucap Sasuke setelah mendengar perketaan kakaknya.

Kini semuanya telah terjawab. Sasuke mengerti sekarang, kenapa dia tidak bisa tidur dan memikirkan Sakura. Itu karena dia merasa bersalah kepada Sakura.

Sasuke sangat tahu apa maksud dari perkataan kakaknya itu. Bahkan sangat paham. Karena Itachi tahu, bahwa Sasuke memiliki perasaan kepada Sakura. Semua yang dia lalukan, dan inginkan, Itachi sangat tahu semua tentang dirinya.

Malam ini Sasuke hanya bisa menghabiskan malamnya dengan memikirkan perkataan Itachi dan memikirkan seseorang yang telah singgah di relung hatinya.

.

.

.

"Bibi, bagaimana keadaan Sakura?" Seorang gadis yang tidak lain adalah Ino, sudah datang berkunjung.

Hari ini, Ino kembali berkunjung ke rumah sahabatnya. Mendengar kabar yang disampaikan Ibu Sakura tadi malam, membuat Ino tidak sabaran ingin cepat-cepat bertemu dengan sahabat pink-nya itu.

"Sakura sudah jauh lebih tenang nak." Ucap Ibu Sakura sambil mempersilahkan Ino masuk. "Kau ingin bertemu dengannya? Sakura baru saja selesai mandi. Masuklah ke kamarnya."

"Makasih, Bi."

Ino berlahan-lahan masuk ke dalam kamar Sakura. Dia melihat Sakura sedang duduk di atas kamur. Dengan langkah kaki mengendap-ngendap, Ino mendekati Sakura.

Sakura kembali ke alam sadarnya saat merasakan seseorang memeluk lehernya.

"Apa kabar, Saku?"

Hanya senyuman lemah yang bisa diberikan Sakura untuk menjawab pertanyaan Ino.

"Kau kelihatan kurusan Sakura. Kau diet ya?" Tanya Ino basah-basih untuk memulai topik pembicaraan dengan Sakura.

"Hmm… tidak selera makan." Jawab Sakura alakadarnya.

Banyak perubahan yang bisa dirasakan Ino sekarang. Dulu Sakura tidak sedingin ini padanya. Bahkan Ino lebih nyaman dengan kecerewatan Sakura. Untuk memulai topik baru saja, Ino tidak bisa berpikir.

Kesunyian ini membuat Ino mulai jenuh dan bosan. Dengan tidak sabar, Ino memutar tubuh Sakura untuk menghadapnya. "Jika ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu, katakan 'lah Sakura. Aku siap mendengarnya. Aku siap menjadi sandaranmu, Saku."

Sakura tidak menanggapi perkataan Ino. Sakura lebih melihat gambar bermotif bunga-bunga kecil yang ada di seprainya. Asal tidak kepada Ino saja pandangannya.

Ino mengangkat dagu Sakura " Sakura dengarkan aku. Aku memang tidak tahu seperti apa perasaanmu saat ini. Diperlakukan seperti itu, pasti sangat sakit rasanya. Tapi, bagaimana aku bisa tahu perasaanmu sekarang, jika kau tidak ingin membaginya denganku? Biarkan aku tahu seperti apa rasa sakitnya." Airmata Ino sudah tidak bisa ditahan lagi saat melihat sahabatnya itu menangis dalam diam.

"Ambillah Sakura. Lakukan jika bunuh diri bisa membuatmu tersenyum kembali seperti dulu. Aku tidak akan melarangmu." Kata Ino sambil menyodorkan sebuah cutter ke hadapan Sakura. "Tapi… setelah kau melakukannya, bisa membuat ibumu bahagia? Kau yakin, sesudah itu ibumu tersenyum lebar melihat putri satu-satunya pergi?"

Hanya kesunyian yang menjawab semua perkataan Ino.

" Hanya karena kau, bibi Mebuki bertahan, Sakura. Beliau juga dapat merasakan sakit yang kau rasakan sekarang. Bibi Mebuki juga sakit saat meihatmu seperti ini, karena kau anaknya." Ucap Ino sambil mengguncang kedua bahu Sakura.

Ino tercengang saat Sakura tiba-tiba saja merungkuh tubuhnya. "Jangan, tinggalkan aku Ino." Suara tangis Sakura membelah keheningan yang terjadi di antara Ino dan Sakura. Ino memberikan sebuah anggukan menjawab perkataan Sakura. "Aku takut kau akan pergi meninggalkanku, karena aku sudah kotor, Ino. Sudah kotor."

Ino merengkuh kedua sisi wajah Sakura dengan ke-dua telapak tangannya yang mungil. " Bukankah sudah kukatakan biarkan aku menjadi kotor asal kau kembali seperti dulu lagi. Menjadi Sakura yang periang. Bukankah itu gunanya saha—saudara?" kata Ino meralat perkataannya.

Ino menghapus airmata yang masih mengalir di pipi Sakura. "Jangan melakukan hal itu lagi Sakura. Berjanjilah kepadaku. Pahitnya hidup, aku akan selalu ada bersamamu." Ucap ino menyemangati Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


N/a : Huff~ akhirnya chapter ini kelar juga. :3 Semoga fell-nya terasanya.? Semoga aja terasa ya. :3 #maksa. Dan semoga chapter ini tidak mengecewakan readers seperti chapter kemaren karena terlalu pendek dan TBC di tengah jalan. Hehehe…

Chapter ini, ane persembahkan untuk Sakura Haruno yang berung tahun hari ini. , Otanjoubi Omedetou ne Sakua. semoga semakin cinta sama Sasuke dan membawa Sasuke pulang untuk membuat keluarga yang bahagia. :D

Sekian dulu deh cuap-cuap dari ane. Jika ada unek-unek disampaikan lewat ripiu aja ya minna. Ane menerima segala masukan dan flame asal yang membangun. :3

Akhirnya kata saya ucapkan terimakasih banyak kepada sider dan ripiuwers karena uda meluangkan waktu membaca dan meripiu fict saya. Karena dukungan kalian, fict ane bisa sampe chapter 3. XD hehehe dan jangan lupa meninggalkan jejak ya minna. :D

.

.

.

Biiancast Rodith

[03282014]