Seorang pemuda tampan bak pangeran, baru saja bangun dari tidurnya. Rambut pantat ayam miliknya terlihat acak-acakkan, tapi itu tidak mengurangi ketampanannya. Jika fansgirl-nya melihat penampilannya pagi ini, kata keren lah yang akan keluar dari bibir mereka.
Sepertinya lelaki yang masih berusia 19 tahun ini tidak dapat tidur dengan nyenyak tadi malam. Terlihat dari lingkar kelopak matanya yang menghitam seperti mata panda. Mimpi buruk 'kah dia? Atau memikirkan perkataan kakaknya tadi malam? Tapi sepertinya, pilihan kedualah yang paling cocok jawabannya.
Jika dipikir-pikir lebih teliti, Bukankah sebelum ketemu Itachi, Sasuke sudah memikirkan seseorang? Seseorang yang ia lihat menangis di rumahnya dengan wajah penuh dengan lebam. Haruno Sakura. Dialah seseorang yang Sasuke maksud.
Jadi, yang Sasuke pikirkan bukan hanya perkataan kakaknya, tapi gadis itu juga ikut menguasai pikirannya.
Sejak memutuskan masuk kamar ketimbang harus mendengarkan omongan kakaknya, Sasuke tidak dapat tidur. Berbagai macam posisi tidur yang menurutnya nyaman, sudah ia coba. Dan hasilnya nihil.
Tiba-tiba Sasuke kembali teringat dengan perkataan sang kakak tadi malam.
'Jika Ino mengalami hal yang sama seperti Sakura, tanpa berpikir dua kalipun aku akan menikahinya. Tidak perduli Ino sudah menjadi bekas orang lain, tidak perduli apa kata orang lain. Karena itu bukan keinginannya. Sama halnya dengan Sakura. Sakura juga ingin kesuciannya diambil oleh suami yang dia cintai. Tapi apa Sakura bisa mengelak setelah semua ini terjadi? Dia hanya bisa menangis. '
'Baru saja aku diberitahu Ibu Sakura, untuk ke tiga kalinya Sakura mencoba untuk bunuh diri. Itu setelah dia bertemu denganmu di rumahnya'
'Tidak perlu kukatakan kenapa bisa Sakura mengalami ini dan mencoba bunuh diri 'kan, Otouto?'
'Itu karena kau Sasuke,'
'Karena Sakura mencintaimu.'
.
.
.
.
.
Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic
Disclaimer © Masashi Kishimoto
[Uchiha Sasuke & Haruno Sakura]
Kami hanya minjam tokoh-tokohnya saja. :3
Story © Biiancast Rodith
WARNING!
AU, OOC, typo(s), Alur kecepatan, abal, gaje, ide pasaran, DLDR
.
.
.
.
.
"Kuso!" Umpatnya kesal. Rambutnya yang sudah acak-acakkan, semakin kusut karena remasan tangannya.
Sasuke sesalkan di pagi menjelang siang ini, kenapa dia harus memikirkan perkataan Itachi? Dilihat dari manapun, Itachi dan Sasuke sangat berbeda.
Itachi berkata demikian karena dia mencintai Ino. Sementara Sasuke? Dia tidak mencintai Sakura. Terlebih Itachi dan Ino sudah menjalin hubungan cukup lama. Sasuke sendiri? Sasuke sudah menutup hatinya sejak jauh-jauh hari. Sejak dia mendengar kalau Sakura mencintai seseorang sejak Sekolah Menengah Pertama.
Sasuke, Sakura, dan Ino memang selalu satu sekolah sejak SMP. Saat itu Sasuke sudah memiliki perasaan kepada Sakura. Sakura tidak seperti Ino yang menonjol dalam bidang non-akademik. Tapi Sakura lebih menonjol di bidang akademik. Terlebih dalam mata pelajaran Biologi.
Jika anak perempuan di sekolahnya dulu menyukai berkumpul dengan teman-teman sesama perempuan untuk berbagi cerita tidak penting,—Menurut Sasuke— Sakura justru lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam pepustakaan membaca buku-buku yang berbau kedokteran.
Tapi, rasa kagum yang dia miliki kepada Sakura, berlahan –lahan memudar. Saat itu Sasuke hendak hendak akan masuk ke dalam ruang kelas. Tidak sengaja dia mendengar pembicaraan Sakura dan Ino di dalam kelas.
"Ada apa denganmu, jidat?" Tanya Ino saat itu.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Sakura malu-malu.
"Jangan coba berbohong dariku ya, Saku. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku." Kata ino garang dengan wajah kesal miliknya.
"Kau tahu Ino, SMA nanti aku akan sekolah di Ame bersama Kak Sasori. Dia sampai bermohon kepada ibu. Dan ibu mengizinkan aku sekolah di Ame." Kata Sakura girang.
"Benarkah?" Ino ikut bahagia mendengar perkataan Sakura. Karena Ino tahu, Sakura sangat mencintai sosok yang mereka bicarakan saat ini.
"Hmm." Sakura mengangguk antusias. "Aku jadi semakin mencintai Kak Sasori, Ino."
Sasuke melebarkan bolanya saat mendengar perkataan Sakura barusan. Jadi, gadis yang memikat hatinya selama 2 tahun ini, sudah mencintai seseorang yang dia tidak kenal? Hati Sasuke bagaikan di cubit mendengar semua perkataan Sakura saat itu. Sasuke kubur perasaannya sedalam mungkin agar tidak memikirkan lagi gadis berambut pink itu.
Perasaan yang Sasuke kubur saat SMP kini berbau busuk layaknya bangkai saat Sasuke melihat Sakura ikut dalam acara penyambutan murid-murid baru di Konoha Internasional High School. Bukankah saat itu Sasuke mendengar kalau Sakura akan bersekolah di Ame? Tapi, kenapa sekarang dia berada di KIHS?
Apapun yang dilakukan gadis itu, Sasuke sudah tidak perduli. Bahkan untuk melihat gadis bersurai pink itu saja, Sasuke sudah tidak perduli lagi. Terlebih Sasuke dan Sakura menjadi saingan dalam bidang Akademi. Rasa cinta yang Sasuke kubur, berevolusi menjadi rasa benci.
Kejadian yang melanda Sakura saat perpisahan kemaren, sepenuhnya bukan salah Hidan. Sasuke juga sebenarnya ikut terlibat. Kalau saja saat itu Sasuke langsung mencari handphone-nya yang hilang, pasti Sakura tidak akan mengalaminya. Ya, secara tidak langsung Sasuke memang ikut sebagai tersangka.
Sakura layak marah kepada Sasuke dan layak benci karena keteledorannya. Memikirnya, semakin membuat kepala Sasuke ingin pecah.
Dengan sangat malas, Sasuke bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Sepertinya, mandi pagi dapat membantu menenangkan pikirannya.
.
.
.
.
.
Seorang gadis cantik masih asik memandangi taman belakang rumahnya yang tidak terlalu luas tapi menimbulkan rasa nyaman dan menyenangkan. Sepulang Ino dari rumahnya, Sakura sedari tadi hanya melamun di balkon belakang rumahnya.
Penampilannya kini jauh lebih segar dari sebelumnya. Rambut merah muda panjang menutupi punggungnya kini telah pendek sebahu. Sakura menerima saja apa yang dikatakan gadis Yamanaka itu. Salah satunya, merubah penampilannya.
Sakura pernah berjanji tidak akan pernah memotong rambutnya karena Sasuke —sang pujaan hati— sangat menyukai gadis yang memiliki rambut panjang. Itu yang Sakura dengar dari fansgirl Sasuke.
Sejak Sakura menduduki bangku kelas X di Konoha Internasional High School, Sakura tidak pernah memotong rambutnya. Tapi kini rambut yang dia pelihara dan urus selama 3 tahun itu, dia potong pendek. Jika kata Ino, membantunya terlihat lebih fresh, berbeda dengan Sakura. Sakura memotong rambutnya, untuk membuang sial.
"Sedang melamunkan apa, nak?" tanya Mebuki menghampiri putrinya setelah meletakkan nampan yang berisi teh hijau dan beberapa cemilan di atas meja kecil dan duduk di samping putrinya.
Sakura terperanjat kanget saat keharian ibunya menemaninya di balkon. "Aaa… tidak melamunkan apa-apa, bu." Senyum kecil ia persembahkan kepada ibunya untuk menyakinkan kalau dia baik-baik saja. "Maaf membuat ibu khawatir beberapa hari ini."
Sakura merasakan tangan kanannya di genggam. Sakura yakin, ibunya memberi semangat melalui genggaman tangan. Sakura menghampiri ibunya dan berlutut di hadapan ibunya. Genggaman tangan mereka belum lepas, dan Sakura menumpuhkan kepalanya di pangkuan ibunya.
"Ibu, maaf membuat ibu frustasi. Maaf karena Sakura lebih mementingkan diri Saku dan tidak melihat keadaan ibu saat ini. Dan maaf karena Sakura tidak menganggap ibu ada beberapa hari ini."
Haruno Mebuki hanya bisa menangis dalam diam mendengarkan perkataan putrinya. Ia tidak mau Sakura semakin terpuruk setelah mendengar tangisannya. Bagaimanapun cobaan yang diterima putrinya saat ini sangat berat. Mebuki sebagai ibu, harisnya bisa menenangkan anaknya. Karena itu dia tangan tangisnya. Dia belai rambut pendek putrinya sebagai respon bahwa dia mendengar perkataan Sakura dan memaafkannya.
"Doakan Saku untuk lebih kuat menghadapi cobaan ini. Kuatkan Saku biar lebih kuat menghadapi besok. Ja-jangan biarkan Saku sendirian di dunia yang kejam ini." Air mata Sakura kini tumpah membasahi rok ibunya.
Sakura dapat merasakan telapak tangan ibunya yang lembut mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata.
Mebuki memnghapus jejak air mata yang membekas di pipi harus Sakura. "Ibu akan selalu ada untukmu, nak. Karena Saku, anak ibu. Seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya. Sekalipun mereka pembunuh." Kemudia dia rengkuh tubuh mungil Sakura ke dalam pelukkan hangatnya.
"Tapi… Saku takut, bu." Kembali Sakura memandang wajah ayu ibunya. "Saku takut semua orang akan mengejek Saku. Bagimana kalau mereka tahu, Sakura sudah…"
"Ssssstt~ Ada ibu di sini yang akan membungkam mulut mereka. Ada nak Ino yang selalu mendukung dan menjaga Saku."
Mendengar perkataan Ibunya, membuat Sakura yakin bahwa masih ada orang-orang yang sayang dan perduli kepadanya. Dia peluk lebih erat tubuh ibunya dari sebelumnya. Walau Sakura belum yakin sudah bisa melangkah menghadapi besok, tapi Sakura yakin ada ibunya dan Ino di sampingnya yang selalu mendukungnya.
Bukankah setelah badai dan hujan yang deras, akan ada pelangi? Mungkin saat ini pelangi belum menampakkan indahnya kepada Sakura, tapi ia yakin akan ada saatnya pelangi muncul menemani Sakura.
.
.
.
.
.
Penampilan Sasuke kini jauh lebih baik dan menarik dari sebelumnya. Rambut yang memiliki dua warna itu, sudah ia bentuk seperti biasanya.
Sesampainya di undakan anak tangga paling bawah, Sasuke menaikkan satu alisnya ke atas melihat suasana ruang tamu rumahnya terlihat sangat sepi.
Sasuke melirik jam yang menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul 11.32 siang. Pantas saja. Kakaknya sudah berangkat kuliah jam 10 pagi tadi. Sasuke mendudukkan pantatnya di atas sofa depan televisi berlayar datar dan menghidupkannya. Sasuke berulang kali mengganti chennal. Dari sekian banyak siaran, tidak satupun yang menarik perhatiannya. 'Seorang anak berusia 15 tahun, hamil karena di perkosa ayah kandungnya sendiri.' Begitulah kira-kira yang didengar Sasuke saat pembawa acara membacakan berita beberapa detik yang lalu.
Sasuke yang awalnya ingin mengganti chennal, membatalkan niatnya setelah mendengarkan breaking news. Sasuke masih menyimak dan memperhatikan layar kaca dengan tatapan mata yang dingin dan tajam.
Entah apa yang dipikirkan Sasuke saat ini, yang pasti tatapan setajam pisau ia persembahkan kepada anak perempuan yang berusia 15 tahun yang ada di dalam televisi. Sasuke memperharikan raut wajah sang gadis dengan seksama.
Sasuke mengerutkan keningnya saat tiba-tiba wajah korban kekerasaan asusila itu berubah menjadi wajah seorang gadis bersurai merah muda. Sakura.
Dengan gerakan cepat, Sasuke menggelengkan kepala untuk menghilangkan hasil imajinasinya.
"Kau sedang apa?" tanya Itachi yang saat ini berdiri memperhatikan kelakuan adiknya.
"Hn? Sejak kapan kau berdiri di situ?"
"Sejak kau menggelengkan kepalamu seperti orang linglung."
"Tch." Umpat Sasuke kesal mendengar ucapan kakaknya.
"Salahkan dirimu yang tidak mendengar salamku karena terlalu fokus sama film menjijikkan seperti itu." Unjuk Itachi dengan dagunya ke arah televisi.
Sasuke kembali mengalihkan pandangannya kea rah televisi yang menunjukkan acara reality show yang dibawakan oleh pria berambut putih panjang dalam ajang pencarian jodoh. Dia tekan tombol POWER dari remot dan membuat layar kaca seketika menjadi gelap.
"Hei… Otouto." Panggil Itachi dari arah dapur. "Kau, sudah memikirkan akan melanjut di Universitas mana?" tanya Itachi lagi sambil membawa beberapa potong buah semangka dan duduk manis tepat di samping adiknya.
"Hn."
"Jadi, kau akan melanjut kemana?"
"Bukan urusanmu, baka."
"Hmm… Biarku tebak. Kau akan kuliah di Universitas Konoha?"
Sasuke memutar bolanya mendengar perkataan Itachi. "Setiap hari melihatmu di sini saja, sudah memuakkan."
"Jadi, kau akan melanjut kemana?" Itachi menaikkan salah satu alisnya sambil menunggu jawaban sang adik.
"Ke Universitas." Jawab Sasuke malas.
Itachi yang mendengar perkataan Sasuke hanya terpelongo. Tanpa sepengetahuan Sasuke, Itachi menyentil kening Sasuke. "Kalau yang itu aku sudah tahu, baka."
"Cih" decih Sasuke saat merasakan sakit di keningnya.
"Tadi aku bertemu dengan Ino," Tidak ada pembahasan dengan Sasuke, Itachi mulai mengambil topik pembicaraan baru. "katanya, keadaan Sakura mulai membaik. Hanya saja, dia jadi lebih tertutup."
Sasuke tidak memotong perkataan kakaknya dan masih mendengarkannya dengan seksama. Sasuke masih setia menunggu kalimat panjang yang akan dia dengar dari mulut Itachi. Tapi, lelaki tampan yang ada di sampinya, belum juga melanjutkan pembicaraannya.
Sasuke yang sudah penasaran ingin mendengar kabar dari kakaknya, mulai bertanya. " Terus?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran.
Tiba-tiba wajah santai Itachi berubah menyeringai. "Jika kau ingin tahu, lihat saja sendiri."
"Tch!" Umpat Sasuke kesal.
Itachi tertawa lebar karena berhasil menjahili Sasuke. "Tapi…" Itachi menggantungkan ucapannya beberapa saat. " Aku yakin, bakalan banyak mahasiswa UK yang jatuh hati saat melihat Sakura nanti." Itachi kembali menyeringai lebar.
"Maksudmu?" Tanya Sasuke bingung.
"Kata Ino, Sakura akan melanjut ke Universitas Konoha."
'Jadi Universitas Konoha, ya?' gumam Sasuke.
"Itu juga kalau Ino berhasil menyakinkan Sakura."
Merasakan pergerakan di sebelahnya, Itachi mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke yang berdiri. "Aku mau cari angin." Kata Sasuke singkat meninggalkan Itachi.
.
.
.
.
.
"Kau sudah siap 'kan, Saku?"
Sore ini, Ino akan mengajak Sakura bimbel. Untuk masuk ke Universitas Konoha, calon anggota keluarga UK harus melakukan tes terlebih dahulu. Karena yang mencoba masuk Universitas ini, tergolong orang-orang yang memiliki keahlian khusus. Baik dalam bidang akademik dan non-akademik.
Tidak ingin membuang kesempatan emas seperti ini, Ino mengajak Sakura untuk mengikuti bimbingan belajar guna untuk mengasah dan mendalami ilmu yang mereka dapat selama ini di KIHS. Terlebih mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu libur yang mereka punya sekarang ini.
"I-ino, aku… takut." Jawab Sakura ragu-ragu saat tangannya di tarik keluar menjauhi pintu rumahnya.
"Aku'kan ada di sini Saku." Ucap gadis yang memiliki rambut pirang panjang itu kesal. Kedua tangannya ia letakkan di pinggangnya yang ramping, layaknya memarahi anaknya yang sedang bermain lumpur. "Lagian sebentar lagi akan datang supir pribadi kita." Kata Ino dengan senyum mengejek.
"Kau, membayar orang untuk mengantar kita?" Tanya Sakura bingung.
"Mobil sudah siap nona-nona." Ucap seorang pria tampan yang berdiri tepat di belakang punggung Ino.
"Ekh."
Ino membalikkan tubuhnya ke arah belakang. "Kau, sudah datang Ita-kun?"
"Supir pribadi datang sejak beberapa menit yang lalu nona." Jawab Itachi dan memberikan senyum yang menawan kepada Ino.
"Hahaha..." Sakura tertawa lepas mendengar jawaban Itachi. Sepertinya Itachi mendengar perkataan sang kekasih.
Ino dan Itachi memalingkan wajah mereka saat mendengar suara Sakura tertawa terbahak-bahak. Mendengar Sakura tertawa seperti itu, membuat sepasang kekasih itu tersenyum.
Sudah beberapa hari ini mereka hanya melihat air mata di wajah Sakura. Tapi kali ini, mereka melihat Sakura tertawa selepas itu setelah kejadian itu. Mereka berharap, mulai saat ini kebahagian selalu menemani Sakura.
"Ekh, Maaf aku kelepasan. Hehehe" Cengir Sakura.
"Tidak apa, Saku-chan. Ayo. Nanti kalian berdua bisa terlambat." Kata Itachi kepada gadis-gadis cantik yang masih berdiri di belakangnya.
Sementara itu di kantor kepolisian Konoha, seorang pria yang memiliki rambut hitam panjang sedang menggeram marah melihat anaknya berada di dalam jeruji besi.
"Uchiha Sasuke. Aku akan membalas perbuatanmu," Katanya dengan penuh amarah. "SECEPATNYA!" ucapnya dengan penuh penekanan di akhir ucapannya.
.
.
.
.
.
.
TBC
N/a : Huuff~ akhirnya chapter 4 selesai dengan tidak elitnya. Di tengah kesibukkan di dunia RL, ane menyempatkan diri menyicil chapter 4. Hehehe. Karena itu, jika chapter ini mengecewakan minna sekalian, ane minta maaf ya. :D
Ane juga mengucapkan terima kasih banyak kepada readers yang uda meluangkan waktu membantu fict ane. Terlebih mau meninggalkan jejak. :D Buat yang batu mengikuti fict ane, salam kenal ya minna. :D
Special Thanks,
Birupink, zielavienaz96, Liliani UchiHaru, Luca Marvell, Floral White, hanazono yuri, noer nino, Hanna Hoshiko, Eysha CherryBlossom (Jadi masih belum percaya hidan yang melakukannya? :D terus ikuti jika masih belum percaya :D), Gadiezt Lavender (Maunya juga Saku hamil anak Sasu, tapi kayaknya belum terwujud saat ini. Hiksu :"( ) , AoStraw, Akasuna Sakurai (Uda terjawab belum? XD ) , LeEdacHi aRdian Lau.
Maaf jika ada salah pengetikan nama. :D
Akhir kata, ane ucapkan terimakasih dan ripiu pleaseeee~
.
.
.
.
.
Biiancast Rodith
[04042014]
